mentalita

Belajar dari Rhenald Kasali

Malam ini, ketika tulisan ini dibuat, saya baru saja masuk ke kamar tidur, setelah officially hari ini pulang paling terakhir dari kantor. Melelahkan sekali. 

1 tahun yang lalu, saya resmi menjadi sarjana teknik di Telkom University, sebuah kampus swasta yang bisa dibilang cukup prestise di ujung kota Bandung, setelah berdarah-darah mengalami pasang-surut perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Tak terasa ya, udah setahun aja. Dari jalan yang tak disangka-sangka, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan lingkaran orang-orang hebat. Dari lingkungan inilah, berselang tak lama dari sidang kelulusan, saya berjodoh dengan Rumah Perubahan. Saya mendapat pekerjaan pertama saya, sebagai Business Development Staff. Rumah Perubahan sendiri adalah Social Enterprise (sebuah goal jangka panjang saya) yang bergerak di bidang Change Management dan didirikan oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sendiri adalah seorang guru besar, tokoh dan penggiat perubahan yang begitu populer di kalangan masyarakat luas. 

Di Rumah Perubahan saya sangat beruntung, tak hanya karena saya dapat belajar langsung dari seorang Rhenald Kasali, rupanya saya juga dibimbing dan disupervisi langsung oleh seorang Ivan Ahda. Pemimpin dan mentor sejati, entrepreneur, dan aktivis muda (Koordinator utama Forum Indonesia Muda). Ia mata pedangnya Rumah Perubahan, bahkan sempat dijuluki “RP 3″ (setelah Rhenald Kasali & Bunda Elisa Kasali). Betapa saya tak percaya, saya yang tak seberapa bisa ditakdirkan untuk bisa sedekat ini dengan orang-orang yang begitu hebat. 

Tentang Mentalitas

Setelah kurang lebih 1 tahun bekerja di Rumah Perubahan, saya memahami lebih dalam mengenai beberapa hal yang orang-orang biasanya hanya baca di buku-buku tulisan Prof. Rhenald. Kalau diperhatikan, semuanya membahas tentang Mentalitas. Banyak sekali istilah-istilah baru yang saya dengar, dan ternyata belakangan saya mulai merasakan bagaimana proses sebenarnya dalam membangun Mentalitas. Namun apa itu Mentalitas? Di titik ini, saya mengasosiasikan Mentalitas dengan yang namanya Mindset. It’s never been separated. Mindset adalah cara berpikir, which is adalah sesuatu yang akan mempengaruhi cara bertindak. Contoh, kita tidak akan mengambil sampah yang tercecer di jalan apabila kita terus berpikir “Pasti ada orang lain yang akan mengambil”. Atau kita tidak akan datang tepat waktu, apabila kita terus berpikir “Orang lain pasti akan mengerti mengapa saya terlambat”. It’s always been going simultaneously. Mentality is all about mindset. 

Finding Meanings

Di dalam kasus saya, saya ingin bercerita, bahwa dari awal saya berniat untuk bekerja di Rumah Perubahan, agar saya bisa banyak belajar. Dalam kamus Prof. Rhenald, ini disebut dengan istilah Meaning. Kata Prof. Rhenald, “Jangan cari uang, carilah meaning”. Itu yang selalu ditulis beliau di berbagai tulisan dan digaungkan di berbagai seminar. Bahwa kita jangan berorientasi pada uang, karena uang hanya akan membuat kita sempit dan meaningless. Sedangkan yang akan membuat kita meaningful adalah meaning itu sendiri. Meaning adalah tekad yang kuat untuk belajar, untuk improve apa-apa yang bisa di-improve, untuk mencapai apa-apa yang ingin diperjuangkan. 

Sekarang pertanyaannya, apakah ketika kita sudah berniat untuk belajar, maka kita akan dengan sendirinya mendapatkan meaning?

Jawabannya Tidak.
Karena resep utama untuk mendapatkan meaning, adalah : PAIN.

Yes, Pain. Kesakitan, kepahitan, any other things that we really don’t like to be happened to us. Why? Karena pahit yang justru akan membuat kita selalu terus mencari jalan, membuat kita terus berpikir, terus belajar menyelesaikan masalah, hingga tanpa sadar pada akhirnya kita menjadi seseorang yang pantang menyerah, tahan banting, kuat mental. Inilah yang disebut dengan Meaning. Kita BERPROSES. Proses yang akan membuat kita tumbuh berkembang, and you’ll get it only if you dare enough to really strive for it. Maka kuncinya, adalah kita harus siap menerima segala hal yang pahit.

Menikmati Kepahitan

Kurang lebih 1 tahun saya bekerja di Rumah Perubahan, saya mengalami cukup banyak hal, dari yang pahit, hingga pahit sekali. Mengapa terdengar begitu menyiksa? Banyak hal, from doing crazy multi-tasking things, talking to crazy people, dealing with crazy situation, sprinting for crazy deadlines, etc. At first, I was really really resistant to any of change to myself because I wasn’t really sure that those things could really make me to be better person. In the mean time, I started to make Excuses. Soo many excuses yang saya cari di masa awal-awal saya bergabung dengan RP. Banyak sekali mengeluh, banyak sekali blaming others. Karena biasanya tugas diberikan sangat sulit, dadakan, dan harus dikerjakan dalam waktu yang sangat terbatas. Padahal, sebenarnya memang itulah Challenge yang harus dituntaskan. Dalam hidup kita selalu punya pilihan. Ketika ada Challenge yang datang, kita bisa memilih, lari atau hadapi. That’s it. When you chose to avoid it, that’s it, end of story, you would never go anywhere. But if you chose to face it, that’s when you had your chance to GROW. This Growth Mindset keep us to learn more and more. Kepahitan justru akan membuat kita semakin kuat, so? Nikmati. Nikmati segala kepahitan-kepahitan yang datang, dan hadapi, nikmati saja prosesnya, hingga nanti ada saatnya buah akan tumbuh dengan rasa yang manis dan ranum. 

“If you want to, you’ll find the way. If you don’t want to, you’ll find excuses”

29 Januari 2016
Kranggan, Bekasi
Dharma Anjarrahman

youtube

FEDAYN, Napoli, EAM Estranei Alla Massa. Italy.