mengucap

Rasanya ini masih terlalu cepat. Kita terlalu dini untuk mengucap selamat tinggal. Yang kutunggu lama datangnya, tak semestinya pergi sebegini cepat.

BAGUS BANGET BUAT DIRENUNGKAN:

Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.

Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mampu memikul amanah yang diberikan kepadamu,

Cara Allah menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa.

Hidup itu ………

Butuh masalah supaya kita punya kekuatan

Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras.

Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati

Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.

Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,

Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta

Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri

Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap

Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah.

Berbahagialah pada taqdir dengan penerimaan yang tulus, Sungguh mengajari hati BERBAIK SANGKA itu Indah.

Semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah,

Aamiin.

Awali dengan doa dan hati yg ikhlas

#selfreminder

17. pantulan kebaikan

alhamdulillah, jelang Ramadan kali ini kami mendapatkan berita yang luar biasa baik. dari puluhan ribu (mungkin ratusan ribu) pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia, mas uta (kakak saya) dinilai sebagai salah satu pegawai terbaik oleh kantornya. mas uta diberi beasiswa untuk melanjutkan S2 di Birmingham.

selanjutnya, ini merupakan kisah favorit ibu saya. ibu selalu menceritakan ini kepada mahasiswanya, juga kepada guru-guru dan staf di Wikrama/IDS.

mas uta–kata ibu–adalah anak yang sangat biasa-biasa saja. maksudnya, kecerdasannya biasa-biasa saja, bakatnya biasa-biasa saja, kemampuannya biasa-biasa saja. namun, sejak dulu, mas uta seringkali beruntung. mulai dari urusan sekolah, kemudian urusan karir, urusan jodoh, dan urusan sekolah (lagi). menurut ibu, semua karena mas uta adalah seseorang yang setia, terutama kepada kedua orang tuanya.

sewaktu mas uta kuliah, ibu dan ayah kerap membutuhkan mas uta untuk mengantar-antar. saat itu ibu sedang berada di puncak karir sebagai kepala sekolah sekaligus konsultan pendidikan, sehingga sering sekali wara-wiri mengisi seminar. di saat yang sama, mas uta juga sedang berada di puncak karir organisasinya–sebut saja mas uta sedang menjadi salah satu ketua organisasi di kampus.

ini adalah kebiasaan mas uta setiap hari: menelepon ibu, menanyakan apakah ibu membutuhkan mas uta hari itu. berbeda dengan anak muda kebanyakan yang kalau telepon orang tuanya minta izin untuk ini itu atau memberi kabar ini itu, mas uta menelepon ibu untuk menanyakan apa yang bisa mas uta lakukan untuk ibu di hari itu.

tidak sekali dua kali, ibu butuh diantar. tidak sekali dua kali pula, acara mengantar ibu berbenturan dengan kegiatan organisasi. yang selanjutnya terjadi? mas uta tetap mengutamakan ibu, baru kemudian hal-hal lainnya. sampai setelah menikah pun, mas uta selalu mengutamakan ibu.

mas uta itu setia, kata ibu. karena setia, mulai dari lulus kuliah sampai sekarang, mas uta tidak pernah pindah kantor. apa yang menjadi miliknya, apa yang dicapainya, disyukuri luar biasa. tidak hanya dengan mengucap alhamdulillah tentu, tetapi juga dengan kesungguhan dan keutuhan hati dalam menjalankan suatu pekerjaan. kebiasaan mas uta yang selalu bertanya “apa yang dibutuhkan? apa yang bisa saya bantu?” alih-alih “apa yang bisa saya dapatkan?” ternyata menjadikan mas uta orang yang begitu disayangi dan dipercaya.

ini menjadi pelajaran besar bagi saya–bahkan sering saya sampaikan kepada mas yunus juga, untuk jangan lupa mengutamakan ibunya. ini menjadi periksa bagi saya. kalau saya merasakan ketidakberuntungan dalam hidup, mungkin sebenarnya yang kurang bukan upaya atau kemampuan saya, melainkan “kesetiaan” saya kepada ayah dan ibu. sebab pada akhirnya, meskipun orang tua selalu mendoakan kebaikan, bisa jadi doanya terpental karena kita anaknya kurang melakukan kebaikan.

Allah sudah berjanji bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan pula (ada di surat Ar Rahman). maka kita pun belajar, bahwa kebaikan itu bisa dijemput, meskipun jika dinalar-nalar, diri kita jauh dari kesempurnaan atau kelayakan.

Semoga Dapat Yang Terbaik Ya
— 

Hmmm …. sampai saat ini saya masih selalu gemas ketika ada seseorang mengucap atau menuliskan permohonan macam itu, entah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kalimat itu selalu membuat saya gregetan dan pengin bilang; Emang kapan Allah enggak ngasih yang terbaik!?

Entah logika saya yang keblinger atau saya yang berlebihan, tapi menurut saya, permohonan macam itu justru menunjukan barangkali ada sebagian hati kita yang tidak benar-benar yakin bahwa Allah-lah sebaik-baik peramu kehidupan.

anonymous asked:

Bang, kenapa ya, akhir-akhir ini seperti ada yang hilang dari Saya. Saya futur. Saya solat, tp hny sekadar menghitung rakaat. Saya dzikir, tp hati saya fakir. Saya tidak ingin seperti ini terus. Mohon saran :'

(Self Reminder)

Mari kita selidiki lebih dalam.

Tentang shalat, bagaimana kita akan rasakan manis dan indahnya khalwat dalam shalat, jika menjawab seruan adzanNya kita sering telat. Abang tidak berkata takbir dan rekaatnya telat, akan tetapi saat adzan telah dikumandangkan, namun kita belum siap di tempat kita shalat. Tentu akan berbeda rasanya di hati saat kita datang sebelum adzan, dengan sebelum iqamah.

Tentang dzikir, barangkali sebab kenapa dzikir tidak terasa, sebab dzikir kita baru sampai di lisan, belum sampai pada azam untuk benar-benar mengamalkan dan merasakan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat istighfar, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk meninggalkan kesalahan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat tahlil nan agung, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk merasakan bahwa Allah itu Ahad (satu), hanya Allah yang kepadanya kita peruntukkan segala ibadah, hanya Allah tempat kita bersandar dan meminta.

Kita memiliki Allah, tapi menjalani hidup seakan-akan tidak punya Allah.
Kita percaya Allah, tapi bertingkah seperti orang yang tidak percaya Allah.
Beribadah semaunya, bekerja semaunya, semuanya semaunya.


Benar bahwa kita mengucap shalawat, tapi kita luput dari menghayati dan mengamalkan apa yang terabadikan dalam Al-Qur’an, serta  yang baginda Nabi teladankan dan pesankan dalam hidupnya. Kita terlalu menganggapnya ringan, daripada bersemangat mengejar sunnah-sunnah yang sejatinya memiliki keutamaan.

Semoga yang sedikit ini, mampu menjawab.

Apa yang tertulis disini, tertuju untuk penulisnya terlebih dahulu.
©Quraners
Enigma Rinai

Hanya butuh waktu sembilan belas jam sejak kali pertama Rinai bertemu dengan lelaki itu hingga akhirnya Rinai mengakui pada hatinya bahwa ia terjatuh. Hanya butuh waktu sepersekian detik sesudahnya hingga akhirnya Rinai bertekad untuk selalu berada di sebelah lelaki itu, meski tak selalu berada di sampingnya secara nyata.

Nama lelaki itu Matahari, teman-teman sering memanggilnya Ari. Perawakannya bisa dibilang kurus dengan tinggi kurang lebih 170 cm. Rambutnya berantakan dengan kacamata yang sering menghiasi wajahnya. Garis mukanya tegas dengan matanya yang tajam namun meneduhkan, setidaknya untuk Rinai demikian. Rinai selalu suka berada di dekatnya, sebab aroma vanilla dan woody dari parfum Hugo Boss yang dia kenakan selalu berhasil membuat Rinai menjadi lebih tenang.

Rinai dan Ari sudah bersahabat sejak 4 tahun yang lalu. Rinai selalu berusaha hadir di saat Ari membutuhkannya, baik dalam hal-hal yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Meski Rinai tidak pernah tahu, apakah di mata Ari kehadirannya berarti atau justru hanya sebagai penghibur yang dicari saat tengah kesepian semata. Ya, mungkin itu semua karena Rinai menyukai Ari lebih dari sekadar sahabat. Rinai tidak pernah mengatakannya, tapi Rinai tahu bahwa Ari mengerti tentang hal itu, tapi Ari ragu perihal kebenarannya.

Hari ini Sabtu, Rinai dan Rasi sedang berada di jalan menuju salah satu toko buku di bilangan Jakarta Pusat. Rasi adalah sahabat Rinai, sama seperti Ari, tapi bedanya Rasi tahu tentang perasaan Rinai pada Ari dengan pasti.

“Nay, kenapa sih lo engga berjuang dapetin Ari? Kenapa malah lebih milih diem aja? Emang engga capek mendem perasaan?” tanya Rasi pada Rinai di suatu petang.

“Gue berjuang, Ras. Tapi berjuang cara gue yang mungkin engga kayak orang-orang. Engga kayak Senja merjuangin Ari.”

“Ha? Maksud lo?” alis Rasi mengerut, dia masih tak paham kenapa sahabatnya itu betah memendam perasaan, bahkan tak pernah terlihat memperjuangkan perasaannya. “Gue makin engga ngerti. Berjuang tuh ya dimana-mana ngasih liat kalo lo ada rasa, ngasih liat kalo lo emang suka. Ditunjukkin, bukan diumpetin,” lanjutnya.

“Nah! Itu kan yang biasanya orang-orang lakuin. Kalo gue beda, Ras. Perjuangan gue cukup dengan ngebantuin dia ngegapai mimpinya, tanpa harus dia tau kalo gue ngelakuin itu atas rasa gue yang mau bikin dia setidaknya, bahagia.” Rinai tersenyum.

“Dan abis itu dia nikmatin mimpinya sama orang lain? Abis itu dia lupa sama apa yang udah lo lakuin buat dia? Gila lo! Zaman sekarang, mana ada cewek yang mau kayak gitu.” Rasi menggelengkan kepala mendengar jawaban Rinai.

“Gue masih mau, Ras hehe. Lagian ya, gue lakuin itu tulus, tanpa butuh dia inget atau bikin dia ngerasa punya hutang budi sama gue. Gue lakuin itu pure karena gue mau dia bahagia. Gini deh, Ras. Gue pake perumpamaan aja. Lo tau kan kata orang dulu kalo siang-siang bolong lagi hujan itu hujan ga baik? Maksud gue hujan orang mati.”

Rasi menoleh pada Rinai, mengangguk dan menaikkan alisnya. Meminta Rinai melanjutkan perkataannya, tanpa suara.

“Means, hujan dan matahari itu engga bisa bersatu. Karena kalo bersatu, harus ada yang dikorbanin. Sedangkan lo tau sunset, kan? Siapa yang menolak bilang sunset itu indah? Lo liat tuh matahari pas lagi senja kayak gini, gue jamin lo dan semua orang akan bilang that was a perfect time for doing a romantic moment. Buat bisa menikmati sunset apa ada yang berkorban? Justru orang-orang menantikan moment-moment itu. Iya, kan?” Rinai bertanya pada Rasi yang sedari awal masih menunggu Rinai menyelesaikan penjelasannya.

“Then?”

“Kayak gitu juga kisah gue, Ari dan Senja. Gue sama Ari ga akan bisa bersatu, Ras. Ada banyak hal yang harus dikorbanin kalo gue dan dia bareng-bareng,” Rinai menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya.

“Pertama, persahabatan gue sama Ari. Siapa yang bisa ngejamin kalo nanti seandainya gue perjuangin Ari dan katakanlah kita bisa bareng-bareng, kita akan sampai di hari bahagia itu? No one, right? Resikonya gue sama Ari akan putus, bahkan sahabatan gue sama dia juga ga akan bisa untuk sama lagi kayak sekarang. Trust me, ga akan ada yang sama lagi setelah lo memutuskan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar temen sama sahabat lo sendiri. Udah gitu, kalo gue ngaku dan berjuang belum tentu juga Ari have a same feeling with me, kalo doi malah ngejauh gimana? Then, gue engga sama kayak Senja. Gue bukan cewek dengan bibit, bebet, bobot sebaik Senja. Nyokap bokap gue divorce, ga semua orang tua pasangan bisa nerima itu, jaminannya anaknya sendiri, Ras. Trus umur gue ga semateng Senja, pengalaman hidup gue belum semampu itu untuk bisa ngurusin Ari. Dan yang terakhir, gue ga sedeket Senja dengan keluarga Ari, keluarga Ari udah sesayang itu sama Senja. So, berapa banyak yang harus dikorbanin seandainya gue memutuskan untuk merjuangin Ari?” Rinai mengakhirinya kalimatnya dengan senyuman.

“Gue ga ngerti Nay sama jalan pikiran lo! Pertanyaan gue nih, itu perasaan lo ga pernah sakit tiap nahan-nahan rasa suka? Ga pernah cemburu tiap dia cerita tentang cewek lain? Ga pernah berasa apa-apa?” tanya Rasi.

Masih dengan senyum, Rinai menjawab pertanyaan Rasi dengan tenang.

“Ras, ga semua rasa harus diungkap dan bukan berarti ketika gue ga ngomong tentang perasaan gue itu artinya gue ga ngerasainnya. Lo pernah denger ga kalo katanya kedewasaan seseorang tuh bisa keliatan dari gimana cara dia menyikapi jatuh cintanya? Dari perasaan gue buat Ari itu gue belajar banyak hal, termasuk dari mendem perasaan itu gue dapet banyak pelajaran. Sayang gue tulus, Ras. Sebelumnya gue ga pernah ngerasa setenang ini buat jatuh cinta, even gue pastilah sesekali ngerasa sakit dan cemburu. Tapi buat gue itu ga penting, selama Ari bahagia, selama Ari bisa senyum, gue lega. Walau kadang nyesek sih haha, but I know how to handle it.”

Mata Rasi membulat, seolah sudah kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Rinai.

“Nay, semoga lo bahagia, semoga lo ga terus-terusan ngorbanin perasaan lo. Gue kasih tau ya, kalo lo mau bahagiain orang lain itu emang ga salah, tapi cara lo dengan ngorbanin perasaan sendiri itu yang perlu lo kaji ulang. Perasaan itu anugerah, gabisa lo perlakukan kayak gitu, sesekali berjuang itu perlu.”

Rinai tersenyum sembari mengucap dalam hatinya, ‘Gue tau, Ras. Tau banget kalo rasa gue berhak diperjuangin, tapi biar gue perjuanginnya diem-diem aja. Biar ini semua cuma antara gue sama Dia. Sementara, biarin gue bantu Ari untuk ngegapai mimpinya aja. Sisanya biarkan itu jadi enigma buat orang lain, termasuk Ari. Kalo emang udah waktunya untuk diungkap atau ditau, semoga itu emang waktu paling tepat.’

11. menerima kebaikan

suatu malam, mas yunus baru pulang setelah hari yang panjang.
“mas yunus mau dibikinin minum?”
“nggak usah kica.”
“susu cokelat mau?”
“nggak usah kica. aku masih kenyang.”
“teh mau?”
“buat kamu aja. kamu ya yang mau?”
“yaudah air putih mau?”
“nggak deh. kamu aja.”
“mas yunus nggak boleh gituuu,” kemudian saya mengadu ini itu.

mas yunus mungkin seperti banyak laki-laki lain yang terbiasa hidup mandiri (sendiri). tidak terbiasa ada orang yang membantu pekerjaannya, tidak terbiasa ada orang yang melayaninya. alhasil, mas yunus jarang sekali meminta tolong, lebih senang melakukan semuanya sendiri. alhasil, saya sering gabut. maka malam itu merajuklah saya.

“mas yunus nggak boleh gitu. aku kan mau dapat pahala dengan melayani mas yunus. kenapa sih nggak iya aja gitu kalau ditawarin minum…”
“iya iya iyaaa…” akhirnya.

saya percaya bahwa orang yang menolong sejatinya ditolong–diberikan kesempatan untuk berbuat baik, seperti diajarkan ayah dan ibu. ayah dan ibu selalu mengucap alhamdulillah setiap melakukan sesuatu untuk orang lain. ada tamu yang datang ke rumah, kata ayah alhamdulillah. ada orang yang minta nasihat kepada ibu, kata ibu alhamdulillah. menurut ayah dan ibu, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk melakukan kebaikan. jadi, saat kesempatan itu ada, kita harus bersyukur dengan memanfaatkannya, memberikan terbaik yang kita bisa. arti di seberangnya pun sama, bahwa orang yang ditolong sejatinya menolong. 

kalau ada orang yang menawarkan kebaikan–selama itu tidak memberikan keburukan–terimalah. dengan menerima kebaikan, sesungguhnya kita pun sedang melakukan kebaikan. membuka ladang pahala untuk yang memberi, menyemai kasih sayang di antara kita. terimalah kebaikan orang lain, apalagi orang-orang terdekatmu, meskipun kamu mampu jika sendiri.

kali ini dan nanti

Kepalaku boleh saja keras melebihi batu. Menginginkanmu begitu kuatnya hingga melupa tentang orang-orang di sekelilingku, melupa tentang mencipta bahagia selain kamu. Tapi hatiku hanya sebuah cermin dengan banyak luka goresan, rapuh, dan mudah pecah. Betapa mudahnya hatiku tergores hanya mendengar cerita tentang seseorang yang dekat denganmu atau seseorang yang selalu ingin kamu jadikan rumah untuk berpulang. Kamu mungkin tak menyadari betapa banyak luka yang disebabkan cerita-ceritamu tentangnya.

Lalu,

hujan akan reda, gema takbir menghiasi malam menjelang Idul Fitri. Aku akan membuat segelas kopi lagi dan mendengarkan voice note darimu. Aku mencintaimu lahir dan batin, katamu dalam pesan suara yang kamu kirimkan menjelang lebaran tahun lalu. Kuharap di tahun mendatang, aku dapat mengucap dan mendengar kalimat seperti yang kamu sampaikan kepadaku kepada seseorang yang menginginkanku sebesar aku menginginkannya. Kepada seseorang yang mau berjuang sama hebatnya dengan perjuanganku mempertahankannya.

Tak Cukup Hanya Mengaku, Tak Cukup Hanya Merasa

Mungkin memang kesalahan kita, ketika kita merasa cukup hanya dengan mengaku-ngaku: mengaku yakin, mengaku percaya, mengaku sabar, mengaku ikhlas, mengaku berserah, dan mengaku bergantung kepada Allah. Padahal, mengaku saja belum cukup. Sebab, iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan. Kalau hanya meyakini dengan hati, apakah itu iman? Kalau hanya mengucap dengan lisan, apakah itu iman? Kalau hanya melakukan dengan perbuatan, apakah itu iman? Rasanya mungkin ada satu lagi bagi kita yang senang menulis: kalau hanya menuliskannya, apakah itu iman?

Mungkin memang kesalahan kita, ketika kita merasa nyaman dengan perasaan-perasaan diri: merasa yakin, merasa percaya, merasa sabar, merasa ikhlas, merasa berserah, merasa bergantung kepada Allah. Namanya juga merasa, biasanya tak persis sama dengan yang nyata. Ah, kita bukan hanya sedang merasa, tapi juga tengah bermain-main dengan rasa itu sendiri. Padahal, merasa saja belum cukup. Sebab, iman tentu bukan tentang suka atau tidak suka, bukan pula tentang senang atau tidak senang dalam melakukannya.

Tidak cukup hanya mengaku! Tidak cukup hanya merasa!

Sebab, tak ada keyakinan tanpa diuji, tak ada percaya tanpa diuji, tak ada ikhlas tanpa diuji, tak ada pasrah dan berserah tanpa diuji, juga tak ada bergantung tanpa diuji.

Sebab, tanpa diuji kita hanya sedang membesarkan rasa, mengatakan omong kosong, berangan-angan telah melakukan yang benar, dan berpura-pura sedang menapaki jalan yang seharusnya.

Maka, ujian datang agar kita membuktikan apa-apa yang pernah kita lisankan, kita yakini, dan kita lakukan. Ujian itu bisa dalam bentuk apa saja: kekurangan makanan, ditinggalkan teman, uang bulanan berkurang, sulitnya mencari sahabat seperjalanan, perasaan takut saat sendirian, gagalnya memperoleh apa yang diinginkan, dihadirkannya ketetapan Allah yang tak sesuai keinginan, dijauhkan dari apa yang menurut kita baik, ditundanya pengabulan atas doa-doa, atau apapun. Oleh karena itu, ayo katakan pada masing-masing diri untuk bergegas bersabar dan kembali kepada-Nya, bukan berlari dan berhenti.

Allah, kepada-Mu aku tidak ingin berhenti percaya, berhenti sabar, berhenti ikhlas, berhenti berserah, dan juga berhenti bergantung. Allah, tolong jangan tinggalkan, meski ternyata aku sedang menyadari bahwa imanku masih berantakan, bahwa apa yang terlisankan tak bersesuaian dengan apa yang ada di hati dan di perbuatan. Allah, gembirakanlah aku dengan setiap ketetapan-Mu. Semoga Engkau senantiasa menuntun dan membersamai agar aku bisa bertahan dan lulus ujian.”

Bismillah, semoga kita selalu saling mendoakan agar kita tidak berakhir sebagai manusia-manusia yang hanya mengaku dan merasa beriman kepada Allah padahal sebaliknya. Atas apapun yang sedang kamu hadapi, semoga Allah senantiasa menguatkan dan memudahkan. Baarakallahu fiikum!

Payah

Tuhan, aku tahu aku payah
Karena sudah tak kenal waktu
Meminta dan terus meminta padaMu

Tuhan, aku tahu aku payah
Kuminta Kau mendengar apa yang kukeluhkan
Namun sering lupa mengucap pujian

Tuhan, aku tahu aku payah
Terlalu memaksakan kehendak atas jalanMu yang masih entah
Padahal, aku seharusnya tinggal menunggu
Karena janjiMu, selalu tepat waktu

Tuhan, aku tahu aku payah
Dalam lemah sedemikian rupa
Masih saja sanggup kuminta Kaukuatkan jiwa dan raga
Lalu sering lupa, untuk berdiri dan menghadapmu setiap hari; lima kali

Tuhan, aku tahu aku payah
MakhlukMu yang selalu jadi tempat salah
Sebentar ingat, lalu kemudian sengaja menyerah
Ampuni aku yang ingin bertaubat, namun lebih takut pada susah

Tuhan, si payah ini mohon ampun
Karena imannya masih saja sering turun.

Medan, 24 Desember 2015

- Tia Setiawati

Aku jenis orang yang percaya bahwa sabar memiliki batas. Jika sekali bertemu seseorang yang selalu mengucap dirinya sabar di kala keadaannya yang paling sulit, menurutku itu bukan sabar, tapi ikhlas. Dia sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari sekedar sabar. Berapa banyak orang yang bisa bertahan memendam dan menahan? Lebih sedikit lagi yang bisa mengubah kesulitannya menjadi lapang. Lewat ilmu ikhlas.
—  ikhlas diabaikan misalnya~
Mungkin akan tidak mudah, mengembalikan apa yang sempat kita lepaskan, menata kembali sesuatu agar kembali pada tempatnya semula, berjanji untuk memberikan yang terbaik di tahta paling tinggi dan tak kan lagi terganti. Sebab, aku ingin kembali. Sungguh.
—  Kami berdua sama sama berjanji, dan mata kami selalu berkaca-kaca saat mengingat betapa Maha Baik Allaah dengan segala skenarionya menyelamatkan hidup kami.
Kemudian kami saling mengucap syukur “Allaah sebaik ini ya kak”.
Saya tersenyum, dan menyeruput cokelat hangat.

Saya bahagia sekali, bahagia yang menentramkan hati.
Allaah mempertemukan saya dengannya sejak hampir tiga tahun terakhir, Muslimah sekaligus seorang Mualaf, yang justru darinya saya banyak sekali belajar bagaimana menata harap dan hati hanya untuk Allaah.

Sering kita mengingatkan bahwa karena Allaah kita saling menggenggam erat, bersabar dengan perbedaan cerita dan ujian hidup kita.
Seperti ucap kakak “terimakasih sudah mau saling bersahabat di jalan ini”.
Untukmu jodohku; dengan atau tanpa nama

Aku perempuan yang beranjak dewasa, akan segera menjadi seorang wanita jika yang aku rasa bahwa aku bisa melengkapi segala hal yang aku perlukan dalam kebutuhan.

Aku akan menjadi seorang wanita yang mandiri; agar aku dapat menghidupi diriku sendiri; tanpa perlu terlalu berharap pada seorang lelaki.

Namun yang aku tahu bahwa sehebat apapun wanita; dia akan tetap membutuhkan seorang pria sebagai penyempurna.

Oleh karena itu; izinkan aku mengarungi hidup sendiri sebelum akhirnya kita bersatu. Karena ada beberapa hal yang harus ku tahu; ada beberapa jalan yang harus ku tempuh. Sebelum akhirnya aku memutuskan bahwa kamu akan menjadi yang nomor satu bagiku.

Aku perlu melengkapi diri; sebelum akhirnya aku dapat melengkapi mu nanti.

Karena sungguh! Aku ingin menjadi pelengkapmu. Yang melengkapi segalanya.

Memberikan kehangatan bahkan disaat aku sedang merasa kedinginan.

Menjadi yang pertama ada disaat kau membuka mata. Dan dengan peluk ku kau tak perlu risaukan segala. Aku ada sebab kau menginginkan aku ada.

Memberikan kebahagiaan bahkan disaat sebenarnya kau telah memiliki kebahagiaan itu. Aku ingin memberikan hal lain yang mungkin belum pernah kau rasakan. Aku ingin memberikan hal yang berbeda dari yang telah kau miliki.

Aku ingin merawatmu dari hal-hal terkecil yang tak pernah terpikir oleh orang lain.

Kita akan saling melengkapi berbagai hal yang ingin kita ketahui bersama. Walau dengan cara yang berbeda.

Dan aku seorang wanita yang kelak akan menjadi mandiri, terkadang juga butuh perhatian yang berarti. Karena tanpa aku sadari, aku bisa melakukan hal-hal diluar kendali. Yang mungkin takkan bisa aku mengerti dan dapat menyakiti diriku sendiri.

Denganmu penyempurnaku yang akan membuat segala hal menjadi terkendali.

Aku akan ada untukmu sebagai yang paling kau butuh. Dan kau akan ada untukku sebagai yang paling ku rindu! Karena rinduku akan menjadikan segalanya istimewa dan berarti untukmu.

Aku ingin menjadi sebaik-baik penglihatan, sebaik-baik pendengaran, sebaik-baik perasaan, untukmu!

Dan asal kau tahu! bayangan mengenai kecupan; membuat aku ingin segera berlabuh bersama denganmu mengucap kata janji. Hingga akhir hayat nanti.

Tapi ku tahu jika kini; saat yang kurasa waktunya belum tepat. Maka itu tak akan lebih dari sekadar nafsu birahi yang tercipta dalam sanubari.

Karena sejatinya aku perlu dan sangat perlu memperbaiki diri.

Aku berjanji untuk tetap pada keyakinan bahwa untukmu aku harus bisa menjadi manusia yang lebih berarti.

Kini doakan agar aku dapat dengan mudah melalui; segala hal yang aku jalani. Untuk bekal masa depan kita nanti.

sumber foto : Tumblr

MENGINGAT SEBUTUHNYA

3 Minggu terakhir ini, saya menemani ayah saya yang dirawat di rumah sakit.  Ayah saya dirawat di sebuah ruangan, berisikan 2 pasien. Kami berada di dekat pintu masuk, sedang pasien lainnya berada dekat jendela. Ada hal yang cukup menarik perhatian saya.

Setiap malam, sebelum saya tidur, saya selalu terganggu. Terganggu oleh erangan pasien di kamar ayah saya itu. Pasien itu mengerang kesakitan atas penyakit yang dideritanya.

“Ya Allah, mohon ampun ya Allah. Sakit sekali, sesak ya Allah. Saya ingin tidur ya Allah. Sakit sekali.” itulah erangan yang dia ucapkan. Berkali-kali dia ucapkan, terutama di malam hari, ketika kami mau tidur.

“Ya Allah, cabut penyakit ini ya Allah. Sakit, tidak tahan ya Allah. Sesak sekali ya Allah” kembali dia mengerang. Perawat kadang datang dan kembali, untuk menenangkan pasien tersebut.

Keesokan paginya, saya menanyakan apa penyakit yang diderita oleh pasien tersebut, serta apa penyebabnya. Singkat cerita, perawat menceritakan tentang penyakit tersebut, dan salah satu penyebabnya adalah karena pasien tersebut tidak menjaga makannya. Kadang dia makan secara berlebihan, dan juga tidak dikontrol.

Lalu, dari situ, saya mendapatkan suatu hal.

Kadang kala, kita mengingat Allah SWT ketika memang kita butuh. Entah itu ketika sakit atau mendapatkan kesulitan. Bahkan, semakin berat masalah yang menimpa, dijamin, semakin kuatlah ingata kita akan sang pencipta.

Tapi pertanyaannya, apakah kita mengingat Allah SWT ketika kita tidak mengalami musibah?

Saat makan, kadang kita makan secara berlebihan. Entah itu kolesterol, atau yang mengandung gula tinggi, kita tidak peduli, selama enak dan halal, maka kita lanjut saja. Padahal, kita sudah diingatkan bahwa Allah SWT tidak suka makhluknya yang berlebih-lebihan. Adakah yang mengingat Allah ketika kita berlebih-lebihan?

Padahal, jika dia mengingat Allah SWT dalam sehatnya, maka Allah SWT takkan berikan keburukan serta bencana yang berlebih-lebihan bagi hamba-Nya.

Ingatlah sang pencipta bahkan ketika kita sedang sehat sekalipun. Bersyukurlah, jika dalam sakit, kita masih bisa mengucap nama-Nya untuk meminta. Jika ternyata Allah SWT buat kita tidak bisa melakukan apapun lagi, apakah kita masih sanggup untuk meminta tolong pada-Nya?

Ingatlah tuhan kita yang telah menciptakan kita, dalam senang maupun susah. Jangan sampai, kita menjadi insan, yang hanya mengingat sebutuhnya.


MENGINGAT SEBUTUHNYA
Bandung, 16 Februari 2017

Kepada saudara-saudari kami yang berjuang di Syam; di jalur Gaza yang terisolir, di Tepi Barat yang ditahan untuk memakmurkan Al Aqsha, di Suriah yang hancur lebur oleh tentara assad. Kami mengirimkan salam mewakili saudaramu di Indonesia.

Dari anak-anak mungil kami yang menangis memikirkanmu, yang bacaan Qurannya masih meraba-raba, namun sepenuh hati bertakbir untukmu. Berlomba melukis bendera Palestina besar-besar di dinding kelas, pun bangga menempel pin bergambar Al Aqsha di tas sekolahnya.

Dari remaja kami yang sedang menuntut ilmu. Mereka lugu tentang dunia, namun jika disebut namamu seketika berkobar jiwa mereka. Mereka dengan dayanya mengumpulkan donasi di simpang-simpang jalan raya, sebagai tanda cinta untukmu. Jarak yang jauh tak membuat mereka lalai membelamu.

Dari ibunda-ibunda kami, yang sembab matanya dan berderai air mata ketika diperdengarkan kabar terbaru darimu. Mereka menunduk sembari merenung, lalu sejurus kemudian menyerahkan gelang dan kalung emasnya di kantong donasi, sebagai tanda rindu untukmu.

Dari ayah-ayah kami, yang rambutnya memutih, luluh hatinya pada bacaan Al Isra ayat 1 ketika Imam membacanya. Bertakbir sekuat tenaga menyambut seruan bebaskan Al Aqsha. Usia mereka memang menua, namun azzamnya tak kunjung reda. Tanda peduli padamu.

Engkau tidak akan sendiri, saudaraku. Walaupun para ksatria Arab telah menyarungkan pedang pada musuh, dan saling menikam dengan sembilu, namun masih ada Allah sebagai harapan, pun kami di baris belakang, siap mengambil peran.

Sebab membela Al Aqsha adalah tanggungjawab kami, dan siapapun yang telah mengucap bait syahadatain. Allah akan tanyakan setiap kita di padang mahsyar tentang pertanggungjawaban itu. Kami tak ingin jadi orang-orang yang kau adukan di hadapan Allah saat hari itu datang.

—  @edgarhamas
Bersamailah Orang Yang Membuatmu Bahagia.

21.13

Pada hidup ini, akan kita temui beragam manusia. Lalu bukankah kita dipersilahkan untuk memilih dengan siapa kita akan bersama? Mungkin sekali kita akan salah memilih karena ia tak dapat membuat hatimu tenteram, tak apa. Kau bisa mencari lagi dengan lebih hati-hati dan dengan pemahaman yang lebih baik.

Bersamailah orang-orang yang membuatmu bahagia, hingga kau paham betul bagaimana bahagia itu, paham betul bagaimana merasakannya dan pandai menuliskannya pula. Bersamailah orang-orang yang sederhana bahagianya, yang dengan mudah mengucap syukur kala hatinya lapang sedikit saja. 

Sayang, bersamailah orang-orang yang membuatmu bahagia. Yang mengingatkanmu ketika kau salah arah, mengajakmu kembali pada jalan kebaikan. Bersamailah orang yang bahagia kala berada di jalan Tuhan, karena sungguh kau akan selamat berjalan bersamanya.

Bila sampai hari ini belum kau temukan orang itu, maka jadilah seseorang yang dapat membahagiakan sekelilingnya dengan mengabarkan tentang surga. Sungguh, bersamailah orang yang dapat membuatmu bahagia. Bahagia bukan hanya di dunia tapi bahagia pula di akhirat kelak.

Jangan Terlampau Cepat Meninggalkanku, Ayah

Satu tanyaku saat melihat wujudmu perlahan mulai menua :

“Sampai detik ini, apakah anakmu ini sudah cukup membuatmu bahagia serta bangga, Ayah? Pun tidak selalu membuatmu khawatir, perihal akhirat nanti?”

Jangan terlampau cepat meninggalkanku, Ayah
Karena walau bagi semua orang aku telah matang dan mendewasa
Bagimu, kutahu, aku masih tetap gadis kecil yang pemalu

Jangan terlampau cepat meninggalkanku, Ayah
Karena walau berjauhan raga, aku sungguh masih ingin memelukmu setiap harinya

Jangan terlampau cepat meninggalkanku, Ayah
Karena aku ingin putra-putriku mengenalmu dengan baik, sebaik aku pula yang kau cintai dengan sempurna

Maafkan aku, yang mungkin masih selalu menyimpan malu
Untuk sekadar mengucap sayang padamu

Maafkan aku, yang mungkin masih belum mampu jujur
Untuk mengucap bahwa sesungguhnya aku ingin selalu berada dekat
Dan tidak kalah oleh jarak

Maafkan aku, karena baru menyadari bahwa ketika dulu aku sibuk mendewasa
Kau justru sedang bersiap menuju tua
: Keriput di mana-mana, mulai tidak sigap dan tidak siaga, serta lemah dan mudah kehilangan tenaga

Ayah,
renta dan lemahmu, seharusnya mampu menjadi sumber sabar dan sadarku
Bahwa Tuhan sedang membuatku tidak lupa
Bagaimana cinta seharusnya ditebar dan dibina.

Medan, 9 Februari 2016

- Tia Setiawati

Seringkali ucapan dan doa kita di dalam hati, bahkan yang tanpa kita sadari terbersit di hati, yang belum kita ungkapkan dengan lisan, bisa Allah dengar dan langsung Allah kabulkan.

Sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

—  Hati-hati jika mengucap keburukan di dalam hati, hati-hati dan jaga hatimu.
Lelaki yang Cukup Bagimu

Apabila kelak kamu melihatnya berdiri dengan berani ketika datang melamarmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia sedang merasa takut. Ketika dia dengan mantap mengucap ikrar sesungguhnya dia sedang gugup. Seluruh rasa takut dan gentar yang pernah dia alami semasa hidupnya seolah dijumlah dan ditimpakan sekaligus kepadanya pada hari kamu resmi menjadi tanggung jawabnya.

Dia penakut, sungguh. Tidak pula penuh percaya diri. Kini tak jarang dia iri melihat kanan kiri, jengah melihat orang lain bergelimang materi. Semenjak dia berpikir untuk melanjutkan hidupnya bersamamu, dia mulai merasa takut terhadap banyak hal. Kebutuhan materimu, bahagia hidupmu, keselamatan akhiratmu, segala tentangmu yang nantinya akan dia perjuangkan habis-habisan. Bahagia dunia akhiratmu bersamanya, menjadi definisi baru dari kata hidup untuk dirinya.

Ketahuilah, dengan segala keterbatasannya itu, tak satu pun yang berhasil menariknya mundur. Membuatnya menjauh, berpaling darimu. Meskipun tidak dititipi berbagai kelebihan yang bisa dibanggakan, perihal merelakan dirimu, dia enggan. Semenjak mengenalmu, akrab dengan jiwa dan tutur katamu, dia tahu bahwa kamulah yang dia mau.

Dia bukan lelaki terbaik. Dia tidak akan dan memang tidak pernah bisa menjadi yang terbaik. Tidak ada sedikit pun frasa superlatif yang dapat berlaku pada sifat bawaannya. Dia memahami itu dengan baik. Tetapi, bukankah untuk menggenapi hidupmu dia tidak perlu menjadi yang terbaik? Menjadi seseorang yang muncul dari kerumunan, lalu bergegas kepadamu dengan predikat “yang paling” dari sesuatu. Dia tahu, bukan itu yang kamu mau.

Dia cukup menjelma apa yang kamu butuhkan. Bahu yang kamu butuhkan sebagai sandaran. Jemari yang kelak menghapus tiap tangisan, hingga jadi cakrawala tempat kamu menggantungkan impian. Dia cukup menjadi semuanya untukmu.

Semuanya,
Untukmu.

Dan nanti kamu akan tahu,

untuk setiap momen yang kamu bagi dengannya dalam hidup, dia akan menjadi lelaki yang padanya kamu selalu merasa cukup.