menggunakan ponsel

Me Me Me Generation

Tahun lalu, Majalah Time menulis judul di atas sebagai berita utama untuk salah satu edisinya. Judul lengkapnya “The Me Me Me Generation: Millennials are lazy, entitled narcissists who still live with their parents”. Saya mengetahui edisi Time tersebut saat sedang main-main di Periplus PIM bersama Oknum F, Oknum V, dan Oknum N. Saat Oknum F menunjukkan majalah Time tersebut kepada saya, saya langsung tersenyum-senyum melihatnya, merasa tersindir. Bahan yang sebenarnya tidak penting itu diangkat menjadi satu bahasan khusus oleh Time. Berarti ada suatu masalah yang penting pada generasi Millennials ini.

Siapakah generasi Millennials? Mereka adalah saya, kamu, dan orang-orang di sekitar yang sebagian besar waktu kita habiskan bersamanya. Seperti model yang digambarkan dalam cover majalah tersebut (gambar seorang perempuan remaja berbaring sambil berpose narsis menggunakan ponsel), mereka adalah generasi yang lahir di kisaran tahun 1980-2000. Generasi Millennials biasa juga disebut generasi Y (sebagian menyebut juga generasi Z, merujuk pada sebutan generasi X untuk orang-orang yang lahir sebelum generasi ini), generasi Echo Boomers (karena generasi Millennials adalah anak-anak dari para generasi Baby Boomers), generasi Net (generasi yang tidak bisa hidup tanpa internet), generasi Boomerang (disebabkan kecenderungan generasi ini untuk hidup kembali bersama orang tua setelah lulus kuliah), generasi Peter Pan (kecenderungan generasi ini mengalami fase remaja yang lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya, akan dijelaskan kemudian). Generasi Millennials, untuk mudahnya, adalah para remaja masa kini hingga mereka yang berusia 20 tahunan. Mereka inilah yang dalam hidupnya memiliki 4 kebutuhan pokok: sandang, pangan, colokan, dan internet. Mereka adalah golongan yang percaya internet sama pentingnya dengan makanan dan air sehingga hampir seluruh dari mereka tidur bersama ponsel di sisinya. Merekalah penguasa utama (penyedia konten, kritikus, komentator, penonton, konsumen) di jagat dunia maya. Generasi Millennials selalu terkoneksi ke dalam dunia maya dan percaya bahwa hidupnya akan menjadi sulit tanpa aplikasi-aplikasi yang mereka download di Playstore atau Apple App Store. Generasi Millennials memiliki telepon genggam, tetapi jarang menggunakannya untuk bertelepon. Mereka adalah spesies pertama di dunia ini yang menjadikan ngetweet sebagai bagian dari aktivitas sosial sehari-hari. Bagi para Millennials, kebutuhan papan tidak terlalu penting. Ada tiga alasan: harga properti tidak terjangkau kantong mereka, mereka masih tinggal dengan orang tua (bahkan hingga mereka sudah menikah sekalipun), dan kebutuhan mobilitas yang lebih besar (sehingga membeli mobil adalah pilihan yang lebih rasional bagi mereka).

Dalam memandang diri mereka, generasi Millennials percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang supel, open-minded, cerdas, bertanggung jawab, peduli, mandiri, kreatif, dan antusias. Namun, data yang ada menunjukkan insidens gangguan kepribadian narsisistik (atau mendekati narsisistik) pada generasi Millennials mencapai hampir 3 kali lipat dibandingkan generasi Baby Boomers (mereka yang lahir pasca perang dunia kedua hingga tahun 1960-an). Sehingga, generasi Millennials cenderung untuk menilai diri mereka lebih, jauh dari realita diri sebenarnya. Generasi Millennials adalah pemuja ketenaran. Dalam sebuah survey, banyak remaja di US memiliki keinginan untuk bekerja sebagai asisten pribadi seorang tokoh terkenal atau memiliki pekerjaan yang memiliki potensi dikenal banyak orang. Ada tiga masalah utama yang dihadapi oleh generasi Millennials ini, yaitu narsisistik, materialisme, dan ketergantungan pada teknologi.

Hidup di era yang kompetitif, generasi Millennials harus bersaing dan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik. Salah satu modal yang mereka andalkan adalah kepercayaan dan penghargaan diri. Mereka percaya bahwa dengan memiliki penghargaan terhadap diri sendiri yang baik, mereka akan dihormati oleh masyarakat. Sayangnya, dengan mencoba meningkatkan nilai penghargaan diri, mereka secara tidak sadar juga meningkatkan nilai-nilai narsisistik di dalam diri. Bukannya mendaki gunung untuk tujuan melihat dunia secara luas, mereka justru berusaha mendaki gunung tertinggi supaya dapat dilihat oleh dunia, untuk menjadi pusat perhatian. Ketika mereka sudah berhasil mencapai gunung yang tinggi dan, ternyata, penghargaan dunia tidak sebanding dengan apa yang mereka harapkan, mereka lantas jatuh dalam kekecewaan. Tidak heran angka depresi pada generasi ini begitu tinggi.

Angka narsisistik meningkat seiring dengan bantuan berbagai aplikasi sosial media yang mempermudah setiap orang menjual dirinya sendiri. Istilah selfie pun muncul. Perangkat tongsis menjadi primadona di mana-mana. Bayi dan anak-anak saat ini sudah belajar narsis sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga serta media. Seorang bayi usia 1 tahun di masa kini memiliki foto diri yang lebih banyak dibandingkan seorang tokoh terkenal di abad ke-19.

Melalui sosial media, generasi Millennials mengubah diri mereka sebagai sebuah merk atau barang dagangan dengan teman dan follower sebagai konsumennya. Mereka berusaha keras mendapatkan penerimaan dari banyak orang melalui sosial media sehingga fokus pandang mereka adalah diri sendiri. Kemampuan mereka pun menjadi rendah dalam hal memahami sudut pandang orang lain. Kemampuan empati mereka menunjukkan penurunan yang signifikan sejak tahun 2000an akibat semakin berkurangnya interaksi tatap muka dan semakin parahnya derajat narsisistik.

Sebagai pemain utama dalam dunia teknologi dan internet, generasi Millennials seolah membangun dunia baru untuk generasinya dengan keahlian yang mereka miliki, berhadap-hadapan dengan industri yang telah lebih dulu mapan. Misalnya saja, bloggers (berhadapan dengan media cetak), artis youtube (berhadapan dengan musisi profesional), pembuat aplikasi mobile (berhadapan dengan industri IT), dan twitter-famous (berhadapan dengan selebriti infotainment). Melalui dunia teknologi dan internet yang mereka bangun ini, mereka menjadi begitu tergantung dengan teknologi, jika tidak mau disebut kecanduan. Mereka hidup di dalamnya, di dunia maya. Mereka nyaman dan bertahan di sana.

Setiap orang di setiap generasi memiliki fase hidup yang sama, anak-anak, lalu remaja, lalu dewasa. Generasi Millennials memiliki fase remaja yang lebih panjang dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Hal ini diakibatkan, kemajuan teknologi dan pendidikan mengakibatkan mereka dengan mudahnya dapat berinteraksi dengan teman sebaya. Interaksi dengan teman sebaya yang intens meningkatkan potensi tekanan sosial teman sebaya (peer pressure) dalam hidup mereka. Padahal, peer pressure ini bersifat anti-intelektual. Untuk bisa mencapai kedewasaan dalam hal intelektual, seseorang harus sering berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua usianya. Akibat peer pressure ini, generasi Millennials lebih terlambat mencapai kedewasaan. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya di mana teknologi IT masih belum menemukan bentuknya dan akses terhadap pendidikan sangat terbatas sehingga generasi tersebut banyak berinteraksi dengan orang yang lebih tua di keluarganya atau di tempat kerjanya.

Generasi Millennials berinteraksi hampir di sebagian besar hidupnya melalui ponsel. Tujuh puluh persen dari mereka mengakses ponsel setiap jam. Interaksi yang terjadi di antara mereka adalah interaksi melalui layar kaca di permukaan gadget. Mereka sangat giat bersosial media dan teradiksi oleh dopamin yang meningkat di dalam diri mereka ketika seseorang menambahkan like atau merespon postingan mereka. Padahal, akibat adiksi ini, lama-kelamaan kreativitas seseorang bisa menjadi semakin tumpul. Diketahui, angka kreativitas generasi Millennials semakin rendah sejak tahun 1998.

Beberapa waktu lalu, Oknum G memberikan link sebuah artikel dari Huffington Post kepada saya tentang analisis yang memaparkan kenyataan mengapa generasi Millennials ini menjadi generasi yang tidak bahagia. Jika zaman dahulu kita mengenal istilah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, hal itu terjadi ketika kita membandingkan kekurangan diri kita dengan kelebihan orang lain. Tetapi di masa pencitraan media yang begitu kuat saat ini, tingkat depresi, frustasi semakin meningkat. Ini terjadi karena kita membandingkan kelemahan diri kita dengan kelebihan orang lain yang sudah dicitrakan puluhan kali lebih baik dari yang sebenarnya.

Selain sifat-sifat yang negatif yang dipaparkan di atas, ada banyak juga hal positif yang dimiliki oleh generasi Millennials dibandingkan generasi pendahulu mereka, di antaranya mereka adalah tipe family oriented (menganggap keluarga sebagai elemen penting dalam hidup mereka), berpendidikan (memiliki akses pendidikan tinggi yang lebih besar), memiliki nilai toleransi yang tinggi (akibat terbiasa hidup di lingkungan multi-etnis, ras, dan agama), optimistik, menyukai tantangan baru, dan memiliki visi jauh ke depan (terbiasa berpikir 2-3 langkah ke depan).

Pada akhirnya, generasi Millennials bukanlah generasi yang anomali, bukan pula sebuah spesies baru di muka bumi ini. Setiap generasi memiliki caranya tersendiri untuk beradaptasi dengan keadaan lingkungan di masanya agar dapat bertahan hidup. Demikian pula generasi Millennials, setiap hal yang mereka lakukan adalah sebuah upaya bagi mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan. Di masa generasi Millennials ini, informasi adalah kunci. Informasi adalah segalanya. Seperti yang pernah dituliskan Oknum A di status jejaring sosialnya bahwa saat ini ada banyak pribadi unggul di muka bumi, tetapi tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Untuk itulah akses terhadap informasi menjadi pembedanya, mana orang-orang yang akan melesat jauh ke depan, mana yang akan tertinggal di belakang. Informasi atau mati, mungkin itu semboyan hidup saat ini. Hidup para Millennials.

Menjadi generasi Millennials yang tidak memble, tapi kece:

1. Tidak semua hal bisa kita Googling. Hal-hal seperti pengalaman dan kebijaksanaan hidup akan didapat dengan berguru kepada orang-orang yang berasal dari generasi sebelum kita. Belajarlah menjadi dewasa bersama mereka.

2. Tidak semua hal ada di Playstore atau Apple App Store. Tuhan tidak punya situs jejaring sosial. Masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan update status. Dengan terkoneksi ke internet, tidak berarti semua hal akan kita ketahui. Dunia maya tidak selalu memberikan solusi untuk masalah dunia nyata.

3. Karena informasi adalah sesuatu yang berharga, maka salah satu perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh generasi Millennials adalah berbagi informasi kepada sesama: informasi yang benar, informasi yang baik, dan informasi yang berguna.

4. Kita adalah bagian dari generasi narsisistik. Kita tidaklah sespesial yang kita kira. Untuk saat ini. Kita adalah bagian dari orang yang biasa-biasa saja. Kita akan menjadi spesial, seiring dengan waktu dan seiring dengan usaha keras yang kita lakukan.

Menghargai Orang Lain Ala Si Pulan

Saya lagi mau ngomongin orang. Silakan jika dirasa tidak perlu-perlu amat bisa dilewati.

Saya punya seorang teman. Si Pulan. 

Si Pulan ini sedikit unik dibandingkan teman-teman saya yang lain. Termasuk bila dibandingkan dengan saya sendiri. Saya mengenalnya sejak zaman perkuliahan dulu. Mulai dekat sejak semester satu entah dua. Saya agak lupa. Tapi saya sangat ingat bagaimana cara dia menghargai saya juga teman-teman saya. Jangankan sedang mengobrol berdua empat mata, sedang berkumpul dengan dua bahkan beberapa kepala lainnya dia jarang sekali memainkan ponselnya. Sekalipun yang diobrolkan adalah hal-hal konyol–yang jika orang selewat dengar akan meng-apaan sih-kan kami. Obrolan bego, kalau kata anak-anak grup anu. 

Saya sudah berteman dengan Si Pulan ini dari zaman ponselnya masih Nok*a, berganti Sams*ng yang macam orang-orang Korea itu loh (tau ga yang buka tutup gitu, namanya apaan sih?), sampai dengan sekarang sudah menggunakan ponsel yang lebih canggih dan lebih pintar. Tapi apa coba? Itu semua tidak mengubah sikapnya, masih sama saja; jarang sekali membuka HP jika tidak penting-penting amat saat sedang bersama dengan orang lain. Hal penting yang bisa dijadikan sebagai pengecualian ia membuka HP adalah keluarganya menghubungi. Bagaimana dengan pacar, teman tapi ngarep, sahabat pria, teman tapi yaudah, dan lain sebagainya? Dari zaman dia jomblo ngenes sampai sekarang sudah mau dilamar anak orang, berchat ria dengan pacar dan turunan lainnya tidak masuk ke dalam hal genting yang bisa dijadikan pengecualian. 

Lalu kapan dia membuka ponselnya? Ketika sedang tidak ada yang bicara, ketika ia sedang sendirian mungkin teman-temannya sedang shalat dan ia sedang berhalangan, mungkin teman-temannya sedang ke kasir untuk membayar pesanan, atau ketika sedang santai tidak ada yang harus diobrolkan atau tidak ada bercandaan yang perlu ditertawakan, ketika semua sedang hening dan memilki kefokusan sendiri-sendiri seperti saat teman-temannya mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Begitulah cara ia menghargai lawan bicara. Tidak peduli notifikasi chat dari Whatsapp, Line, BBM masuk dari berbagai grup chat hingga chat pribadi biasa, selama itu bukan keluarga akan dia abaikan sementara. Tidak peduli mantan tidak sengaja ngelove postingan Instagram tahun lalu. Tidak peduli dia lupa update Path untuk check in sedang di mana, bersama siapa, berbuat apa. Tidak peduli di tempat tongkrongan ada wifi gratis atau tidak. Baginya, selama bisa bertatap muka, memalingkannya jangan sampai. Begitulah cara sederhananya menghargai orang lain, menghargai keberadaan orang lain, menghargai waktu orang lain. 

Saya seringkali malu, kalau kedapatan oleh kedua matanya saya sedang mengecek notifikasi atau sekedar menuntup-buka kunci HP hanya untuk melihat ada apa. Dia sesekali ngedumel ‘sibuk amat~’ kalau salah seorang dari kami asyik sendiri dengan ponselnya. Tapi itu pun jarang, bisa dihitung jari selama kurang lebih 6 tahun pertemanan kami. 

Sekarang, setelah saya pikir kembali menghargai orang lain itu mudah, kalau dirasa sulit ya dipermudah. Semudah yang dilakukan Si Pulan ini, misalnya. Ambillah bertemu teman 1-2 jam di akhir pekan, setelah kurang lebih 1-2 bulan tidak pernah ber-haha-hihi, cerita itu-ini, curhat sana-sini. Lalu kerjaan hanya memainnkan HP, asyik dengan layar menyala sepanjang pertemuan. Mau emang 2 jam dihabiskan dengan menunduk terus, menghabiskan makanan dan minuman? Tidak mau gitu memperhatikan apa yang tengah teman itu bicarakan, apa saja yang telah berubah dari sikap atau parasnya? Mau emang melawatkan kebahagiaan yang bisa ditularkan? Tidak mau gitu bertanya tentang apa saja, bukan bermaksud kepo, mengorek informasi untuk disalahgunakan, namun membagi peduli sebagai teman? Mau gitu menyia-nyiakan waktu orang lain seperti itu?