menggendong

tentang ASI

saya anti sekali dan sebal sekali jika ada yang bilang bahwa ASI itu gratis. bagi saya, ASI itu sangat mahal, tidak ternilai lebih tepatnya. ASI sama dengan energi ibu dan waktu ibu. kualitas ASI akan baik jika ibu mengonsumsi makanan bergizi, di mana biasanya semakin bergizi suatu jenis makanan semakin mahal pula harganya. kuantitas ASI akan banyak jika ibu sering-sering memompa, yang jika dihitung-hitung lamanya bisa menghabiskan seperenam sampai seperempat waktu dari satu hari.

mungkin para ibu muda juga setuju bahwa peralatan ASI, terutama ASI perah, ada banyak sekali dan tidaklah murah. harus punya breastpump. kalau mau lebih nyaman, breastpumpnya pun lebih mahal. harus ada botol-botol atau plastik-plastik untuk penyimpanan. harus ada kulkas yang dinginnya cukup. harus ada listrik. harus ada air panas atau sterilizer untuk mensterilkan botol-botol dan alat pompa. juga penghangat botol, untuk menyiapkan susu sebelum diminum bayi.

setelah 3 bulan, saya mulai mengalami jumpalitannya menyusui. mbak yuna mimiknya semakin banyak, begitu pun teh riani dan dek alifa–yang mengakibatkan produksi ASI dan konsumsinya kejar-kejaran. stok ASI saya saat ini adalah terendah yang pernah ada. begitu pula produksinya–entah mengapa menurun, mungkin karena saya mulai malas makan, yang berujung pada mulai malas memompa (maafkan ibu, anak-anak). hari ini, akhirnya, saya memutuskan untuk minum ekstrak daun katuk (biasanya saya makan daun katuk saja) untuk mengembalikan produksi ASI, agar tuntas bertiga ASI eksklusif 6 bulan, insyaAllah.

adik saya beberapa kali bilang, betapa kasihannya saya (dan ibu-ibu menyusui lain) yang harus selalu memompa. kami tidak “bebas” berpergian dalam waktu lama, karena setiap 4 jam harus memompa. kami tidak bebas tidur karena saat mengantuk juga harus memompa. kadang-kadang, dilema sekali rasanya saat harus memompa sedangkan mbak yuna minta diajak main. memilih menggendong, ASI akan mengucur sampai saya seperti mandi. memilih memompa, mbak yuna akan menangis. tentu saja, menangis itu tidak baik. mitos adalah bahwa menangis melatih pernapasan bayi. yang benar, menangis itu mencegah perkembangan otak bayi.

demikianlah sehingga saya menyadari betapa mahalnya setetes ASI. saya tidak bisa membayangkan perjuangan para ibu yang harus memompa di kantor. apalagi yang pulang perginya naik kendaraan umum, terutama kereta komuter. saya saja yang tinggal di rumah dan punya manajer ASI sering kewalahan, apalagi para ibu yang mengurus semuanya sendirian. begitu pula para ibu yang ASI nya pas-pasan, harus benar-benar disiplin memompa supaya kebutuhan ASI terpenuhi.

menyusui itu perjalanan yang penuh perjuangan. sekali saja tidak disiplin menyusui, produksi ASI bisa terjun payung. salam salut saya adalah untuk ibu-ibu yang begitu tekun menyusui anak-anaknya.

sejak belajar tentang laktasi, saya diberitahu bahwa produksi ASI berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan ibu. hormon oksitosin yang memicu keluarnya ASI terproduksi saat ibu bahagia. namun, saya baru tahu akhir-akhir ini, bahwa secara natural, sumber kebahagiaan seorang ibu yang paling besar adalah ketika ia dekat dengan suaminya–baik lahir maupun batin.

Jenjang Karirku

1. Pejuang ASI-X (anak usia 0-6 bulan )

Goal : Bayikecil masih 100% bergantung pada ASI. Pekerjaannya hanya berkisar seputar menyusu-bobo-pup-pipis-menangis dan membuka mata sesekali. Karenanya, goal dari posisi ini adalah sukses secara eksklusif memberikan ASI. Dan saya sebagai Ibu baru bisa merasa bahagia dan terbiasa dengan peran baru yang diiringi rasa yang tak ada di kamus definisi.

Jobdesc : Menyusui sejam sekali (catatan : frekuensi ini bisa berubah-ubah tanpa pemberitahuan sebelumnya 😂), ganti popok 30 menit sekali, cuci popok (sebelum pake popok sekali pake) setiap hari, ‘ngejemur’ bayikecil pas baru usia 0-2 minggu tiap pagi, mandi+dandanin bayikecil biar sehat bersih cantik wangi, mengobservasi apa saja kebutuhan bayikecil dari ekspresi muka dan tangisannya, ‘memaksa’ diri supaya tetap happy demi si bayikecil, mengetahui milestone yang idealnya dilalui bayikecil, memberi stimulasi sesuai milestonenya, dan tentu saja JAGA RONDA.

Skill yang dibutuhkan:
Multitasking skill >> Note, mesti bisa gendong anak sambil nyuci, nyapu, ngepel, ngejemur, nyetrika, masak, bahkan shalat.
Kemampuan membaca pikiran dan tangisan bayikecil
Kemampuan menggendong, bercerita (baca : Ngomong sendiri), bernyanyi, menenangkan diri (baca : Ngga panikan)
Kemampuan tidur di waktu-waktu sempit.
Kemampuan autodelete komentar-komentar dari sebelah supaya ngga baper (pas awal2 masa pasca-persalinan si ibu baru ini lebih sensitif) 😄

2. Pejuang MPASI (anak 6-12 bulan)

Goal : ASI tidak lagi mencukupi 100% kebutuhan gizi. Penting untuk mengenalkan beragam menu MPASI. Tentu dengan memperhatikan faktor keseimbangan dan kecukupan gizi. Bukan asal kenyang dan bayikecil menyukai. Oleh karenanya, goal dari posisi ini adalah sukses mengenalkan makanan2 pendamping ASI yang bergizi .

Jobdesc : Jobdesc posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah job baru yakni pilih-pilih metode MPASI, mempersiapkan menu MPASI, mempersiapkan menu alternatif kalo-kalo menu pertama ngga laku, memfasilitasi ruangan dan benda-benda yang mendukung untuk kegiatan makan bayikecil, membereskan kekacauan yang timbul saat makan.

Skill :
Skill pada posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah kemampuan memasak dan mempersuasi bayikecil supaya mau makan.

3. Pejuang Berat Badan (anak 12-18 bulan)

Goal : Bayikecil sudah berubah menjadi bayibesar yang tingkat mobilitasnya tinggi. Kerjaannya bukan lagi sekadar bobok-pup-nenen-mamam dan tengok kanan kiri. Kakinya sudah lincah berlari. Tangannya sudah lihai menggapai benda tinggi. Tubuhnya butuh lebih banyak asupan energi. Di masa ini, berat badan anak pun menjadi topik pemikiran dan pembahasan yang seksi. Di sisi lain, bayibesar cepat bosan dengan makanan yang itu-itu lagi. Karenanya, goal dari posisi ini adalah memvariasikan menu makanan dan memastikan kecukupan gizi buah hati agar grafik berat badan si bayibesar membuat ibu merasa senang hati.

Jobdesc : Jobdesc posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah job baru yaitu menghias makanan semenarik mungkin supaya bayikecil lebih semangat makan.

Skill : Skill pada posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah skill baru yaitu kemampuan artistik.

4. Pejuang ‘Kemerdekaan’ (anak 18-24 bulan)

*My current position.

Goal : Bayibesar semakin senang melakukan banyak hal sendiri. Mulai ingin merdeka bahkan dari Ibu yang berjuang melahirkannya setengah mati. Mandi, memencet dispenser, pakai baju, naik tangga, pup, mengupas pisang, tak boleh diintervensi. Kata “Enggak” jadi kata paling favorit sehari-hari. Memang sudah masanya bagi bayibesar menumbuhkan otonomi. Perasaan bahwa ia pun boleh berdikari. Karenanya, goal dari posisi ini adalah mengantar bayibesar pada 'kemerdekaannya’ dengan bekal percaya diri.

Jobdesc : Jobdesc pada posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah job baru yakni memahami arti kata-kata yang diucapkannya sehingga bisa menghargai keinginan, pilihan, dan pendapatnya; menerjemahkan kata-katanya pada orang lain sehingga orang tsb juga bisa memahami dan menghargai si bayibesar; memberi kesempatan pada bayibesar untuk memilih dan melakukan beberapa hal sendirian.

Skill : Skill pada posisi sebelumnya masih berlaku, ditambah skill baru yakni menguasai kamus bahasa bayibesar, serta mampu menahan diri dari perasaan sedih yang sering muncul ketika menyadari ternyata waktu berjalan sangat cepat dan anakku sudah bukan bayi lagi….

____

Soon, akan ada promosi 'jabatan’. Insya Allah. Brace myself for the next position : Pejuang Penyapihan, lalu, posisi-posisi selanjutnya yang akan jauh lebih menantang. Karirku masih panjang!

What a career! So, who says I am jobless? 😂

Well, it’s though but honestly satisfying.
Kadang saya terlalu dangkal memaknai pengasuhan sebagai kegiatan satu arah, di mana anaklah yang menjadi fokus didikan. Padahal, di saat yang sama, anak pun secara tidak langsung sedang 'mendidik’ saya, untuk menjadi manusia yang lebih dewasa, pandai mencari solusi, cakap dalam berkomunikasi, tidak mudah marah, senantiasa bersabar, mudah bersyukur, bekerja keras, ulet, tekun, telaten, cekatan, ceria, dan banyak lagi. Cuplikan perjalanan 'karir’ di atas sedikit menjelaskan bahwa saya belajar banyak hal.

Ah, terima kasih Allah atas kesempatan 'karir’ yang Engkau anugerahkan lewat perantara guru kecilku. Hanya kepada-Mu lah hamba menyerahkan segala urusan soal “rewards dan benefits” bukan pada makhluk manapun…

P.S. Mungkin jenjang karir semacam ini tidak akan kita temukan di profil LinkedIn atau CV Applicant manapun. Inilah sebagian kecil dari karir Ibu dan Ayah kita dalam membesarkan kita. Semoga profil orang tua kita tercatat di buku tamu surga-Nya.

Bismillah,

(boleh di reshare, jangan di copy, kalau mau copy ke grup WA, mohon selalu mencantumkan nama penulis asli. by Fitra Wilis Masril)

Butuh waktu untuk memutuskan, apakah cerita ini layak kupublikasikan..

Mungkin, akan banyak yg menggumam, “ibadah kok di tulis dan disebar luaskan, nggak ikhlas, riya, pahalanya udah menguap, bak embun di sirnakan oleh cahaya”.

Urusan ikhlas, biarlah menjadi ruang antara aku dan hatiku saja.
Soal pahala, cukuplah selamanya itu menjadi hak Allah saja, aku berserah padaNya.

Semata, ingin memotivasi pembaca, agar bersegera
membebaskan diri dari RIBA.

Rumah kami beli dengan KPR, udah lunas. Motor cicilan ke leasing, udah lunas. Tinggal mobil yang masih nyicil. Aku nggak pernah punya kartu kredit, tak tertarik dengan utang KTA. Tak punya asuransi yg akadnya bermuatan ‘bunga’.

Ringkasnya, mobil kami masih RIBA.

Awal 2017. Secara serius aku mulai mendalami ilmu riba.

“segala utang yg dibayar dengan tambahan nominal, itu RIBA” aku masih santai.

“segala cicilan, KPR, leasing, kartu kredit atau apapun, yg dalam akadnya mengandung kata “bunga” itu RIBA”, aku mulai berpikir.

“melibatkan diri ke riba, berarti berperang dengan Allah dan rasulullah,” aku mulai ketakutan. Mendengar kata perang saja, aku sudah mengkerut. Apalagi berperang dengan Allah, Yang Maha Perkasa.

“Semua orang yg memperbanyak hartanya dengan jalan riba, maka ujung dari kehidupannya hanyalah kemiskinan,” aku makin panic membaca hadist sahih ini.

“dosa terkecil dari riba, setara dengan dosa menzinahi orang tua kandung sendiri,” aku mulai menangis.

“kain kafan kita bisa saja saat ini sedang ditenun, atau sudah ada di toko kain, menunggu keluarga kita membelinya untuk kita. Selesaikan segala utang secepat mungkin, apalagi utang riba,” mendengar ini, aku makin menangis.

“aku mulai dari mana?” aku mebathin. Konsultasi ke ustadzah.

Dia memberikan banyak saran baik.

Kuikuti sepenuh hati.

1. Sholat taubat, berniat sungguh sungguh, mobil ini menjadi riba terakhir. Nggak akan terlibat lagi dalam akad berbunga bunga. Sholat taubat mengiringi sholat wajibku.

2. Baca surat Al Mulk setiap hari.

“maha suci allah yang ditanganNya segala kerajaan, Dia maha kuasa atas segala sesuatu” ayat 1.

“yang menciptakan tujuh langit berlapis lapis, tidak akan kamu lihat sesuatu yg tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang maha pengasih..” ayat 3.

Oke. Menciptakan 7 langit berlapis lapis tanpa penyangga saja Tuhan mampu.

Berarti membantuku untuk melunasi 1 mobil saja, bagi Allah hanyalah urusan sejentik kuku.

Aku optimis.

3. Baca surat Al Waqiah setiap hari

“benih yg kamu tanam di tanah, kamu yg menumbuhkan atau Tuhan yang menumbuhkan?’

“kamu yg menurunkan air dari awan, atau Tuhanmu yang menurunkan?’

Oke. Artinya, semuaaaaaa terjadi hanya karena Allah campur tangan. Aku mengasuh rasa optimis.

Satu satunya cara, agar mobilku lunas segera, adalah dengan bekerja lebih keras, menabung lebih banyak dan memohon agar Allah campur tangan disini, kalau Allah nggak bantu, aku takkan pernah mampu.

4. Tunda kesenangan, sebelum mobil lunas, nggak ada jalan jalan ngabisin uang (kecuali jalan jalan sekalian mendampingi anak yatim), kurangi makan ke restoran (kecuali anak anak udah pengen banget). Nggak belanja kecuali yg pokok pokok saja (pernah beberapa beli gamis dan jilbab, itu karena aku berniat hijrah ke gamis sedari awal tahun, jadi gamis dan jilbab kumasukkan ke kebutuhan pokok).

5. Sholat dhuha 6 rakaat. Memohon Allah ridho pada usaha yg kulakukan dalam mengumpulkan rejekiNya untuk melunasi riba. Memohon kalo rejekiku masih jauh, dekatkanlah. Kalau sudah dekat, mudahkanlah. Kalau sudah mudah, berkahilah. Kalau sudah berkah, bujuk hatiku untuk ingat bersedekah.

6. “perbanyak sedekah agar utang ribanya segera lunas,” pesan ustadzahku.

Aku membantah,” aku butuh uang, harus menabung keras, kalau sedekah ya berkurang uangnya”. Ahhh…ilmu yg cetek ini memang membuatku senang berdebat, suka berbantahan.

“allah menyuburkan sedekah, memusnahkan harta riba, simpan kalkulator manusia, biarkan kalkulator Allah saja yg bekerja,”jawab ustadzah. Dan kalimat ini ada dalam alquran, di surat al baqaRAH. Al quran, tak ada kebohongan di dalamnya. Aku percaya dengan segenap jiwa. Kupatuhi sarannya.

Dalam menyalurkan donasi mukena ke mushola2, kusempatkan menyapu dan membersihkan mushola, merapikan tumpukan mukena. “semata mengharap ridhoMu saja duhai Allah,” bathinku.

“sedekah nggak selalu uang, mengalokasikan waktu dan tenaga untuk sebuah kebaikan, itu juga sedekah,”. Sedemikian indahnya ajaran agama.

Sekarang urusan inti. Gimana cara agar uang puluhan juta segera terkumpul.

1. Kutemui pihak leasing secara baik baik. Aku mau pelunasan di percepat. Aku keberatan dgn beban bunga yg melebihi pokok utang. Kami bernegosiasi. Deadlock. Merek nggak mau.
aku minta diberi kesempatan ketemu pimpinannya, logika saja, aku membayar lunas di awal, kenapa masih harus menanggung bunga 4tahun ke depan?

Aku nggak pernah seharipun ada tunggakan.

Pimpinan setuju. Yess. Bayar pokoknya saja.

Berpuluh juta bunga di hapuskan. Alhamdulillah.

Tapi… pokoknya saja pun itu masih puluhan juta. Jadi cicilan yg kami bayar selama ini hanya membayar bunga? Sementara pokok utang hanya berkurang sedikit saja. Ahh terkutuklah engkau riba.

2. Dari tgl 4 januari sampai pelunasan 24 februari, selama 50 hari, aku dan suami jungkir balik, suami bekerja lebih keras, aku menulis lebih banyak, begadang lebih sering, jualan lebih aktif, dll. Dan berdoa dalam volume lebih banyak, dalam frekuensi lebih sering.

Lalu.. keajaiban terjadi.

Secara simultan, pintu rejeki terbuka dari banyak pintu.

“mba fitra, mau ya gabung di grup kami sbg bintang tamu ngajarin nulis, sharing sharing santai saja mba,” tawarnya.

Tanpa kutetapkan tariff, tak repot repot mengumpulkan peserta.

Dia mentransfer 1 juta. Allah penggerak hatinya.

“mba, aku mau beli bukunya 15, kirim langsung ke perpustakaan keliling purawakarta ya, semua berapa?” Tanya seorang sahabat di jogya.

“700ribu mba,”jawabku.

dia mentransfer lebih dari 700ribu. Sebenarnya, Rumah sahabatku nggak jauh dari gramedia, nggak susah baginya menyuruh asisten membeli 15 buku bagus bagus di gramedia, tapi kenapa memilih bukuku yg sederhana? Allah menggerakkan hatinya.

di hari yg sama. kakak ipar di kampung juga mentrasfer uang.

“hasil panen padi di kampung,” katanya. nominal yg tak kami duga. alhamdulillah.

Lain hari.

“mba, adain kelas menulis mba, tulisan mba fitra kan di share puluhan ribu orang,”pinta beberapa orang. Sebagai penggenap kelas akhirnya memang kuumumkan aku ngadain kelas sharing menulis, dan ada biaya.

Masalahnya, tulisan di share puluhan ribu orang itu kan udah lama. Bahkan si plagiat mendapatkan share sampai ratusan ribu orang. Namun, kenapa baru sekarang ingin request kelas menulis? Dan tak sedikit perserta yg membayar lebih dari tariff 85 ribu yg kutetapkan. Allah yg menggerakkan hatinya.

Aku ke depok untuk sebuah urusan, belum makan, saat mau membelokkan mobil ke restoran, ujan deras, repot harus berpayung payung menggendong anak yg ketiduran. Akhirnya langsung pulang, nggak jadi makan. Sampai dirumah driver grab membawa 6 porsi besar bakmi. Traktiran dari seorang sahabat kesayangan. Pas banget saat aku mau membeli makan. Uangku tersimpan, menambah tabungan pelunas riba. Apa namanya kalo bukan karena Allah sayang.

“ini buat bu fitra, ada acara di rumah, tapi bikinnya dikit, buat yg akrab akrab saja,” kata seorang ibu, kubuka kotak yg dia berikan. Sepotong utuh ayam bakar, cukup buat lauk seharian.

“buat yg akran akrab saja” kuulangi dihati kalimatnya. Akrabkah kami? Tidak, aku bahkan nggak tau namanya siapa, aku hanya kenal anak kami mengaji di tempat yg sama. Kok aku terpilih sebagai yg dikasih? Allah menggerakkan hatinya.

Saat aku mau ke warung beli cemilan, ada gojek datang bawa klappertaart, bawa tekwan, roti Mariam, pempek, dll. Apakah semua ini untuk keprluan endorse? Sama sekali tidak. Pempek itu dari dokter di Palembang, pdhl kami hanya saling bertukar jempol di status fesbuk masing masing. Dari ratusan teman fesbuknya di Jakarta, kenapa aku yg terpilih dikirim pempek? Allah yg menggerakkan hatinya.

Uangku tersimpan nggak jadi beli cemilan, tabungan bertambah buat pelunasan.

Saat ujan, jalanan macet, driver nggak mau narik, mobil nganggur, nggak ada pemasukan dari usaha armada online kami. Tetiba, saudara jauh, booking buat acara keluarga. Kenapa merental mobil kami? Allah yg menggerakkan hatinya.

Mau ke JNE booking gojek, tetangga lewat, menawarkan tebengan, bahkan memaksa mengantarkan sampai tujuan.

Padahal kami berbeda arah. Akrabkah kami? Nggak, aku hanya tau kami sekomplek, berbeda RT, aku bahkan nggak tau namanya, hanya kenal dgn pembantunya karena sering menyuapi bayinya di lapangan depan rumah. Allah yg menggerakkan hatinya.

Sudah cukupkah uang kami? Belum.

Aku memutar otak. sebenarnya ada ikut arisan yg terimanya 15juta, ada juga yg 30juta, dan yg lainnya. tapi namaku belum keluar saat kocokan arisan.

Pinjam saudara? Bisaaa

Pinjam kakak ipar? Bisaaa

Pinjam ke sahabat? Bisaaa

Pinjam ke tetangga? Bisaaa

Bahkan, dengan hubungan yg sedemikian harmonis, aku yakin banyak bahu tempatku bersandar.

TAPI…

Lidahku kelu. Mendadak bisu.

Bahkan mengetik satu kalimatpun, aku nggak mampu.

Aku malu.

Berutang itu menggadaikan harga diri.

Aku nggak sanggup.

Nggak mampu.

Kuseret hati hanya untuk bergayut pada Allah saja.

Kusibukkan diri untuk berlama lama bertasbih memuja Allah saja.

Berlama lama hanyut dalam keindahan sabda Allah dalam kitabku saja. Yang tak ada keraguan didalamnya.

Lalu, seorang sahabat mentransfer. “cicil seperti mencicil mobil saja, kan selama ini juga nggak pernah nunggak, yg penting bebas riba, nggak ada sama sekali bunga,”. Semudah itu dia membungkus rasa percaya.

Kakak ipar melakukan hal yg sama.

Sedemikian mudah. Tak harus memelas.

Kami ke leasing.

BPKB mobil atas namaku, kini tergenggam di kepalanku.

LUNAS sudah utang ribaku.

Alhamdulillah, menangis dalam sujud syukur atas kemurah hatianMu, duhai Allahku.

Pulang dari leasing, mampir ke ATM. Mengecek kekayaan yg tersisa. 159 ribu.

Tak apa. Nggak perlu takut.

Aku punya Allah yang kekayaannya seluas langit dan bumi. Yang selalu memeluk hatiku sehingga tak pernah takut kelaparan. Yang telah menjamin rejekiku bahkan sejak aku masih dalam kandungan ibu.

Aku lega. Sebongkah besar dosa riba rasanya menggelinding dari ujung kepala (aamiin allahumma aamiin)

Aku bahagia.

Usai magrib, mengecek HP. Ada yg mentransfer ratusan ribu, seorang sahabat yg tak kukenal wajahnya, seorang peserta kelas menulis.

Beberapa sms banking masuk, membeli buku.

Seseorang memintaku menggarap website usaha cateringnya, aku tak menetapkan harga, karena tau dirii dgn kualitas karya goresanku yg sederhana, tapi hatiku tau dia orang yg bisa dipercaya, dia menghargai sebuah karya. Kenalkah kami sebelumnya? Tidak sama sekali. Aku bahkan nggak ngeh kalau di fesbuk kami berteman.

Seorang teman beberapa waktu lalu memintaku menulis sesuatu agar karyawan kantornya nggak cemberut saat kerja, tulisanku akan dipajang di website kantornya, dan besok pagi akan mentransfer tanda kasihnya.

Melunasi utang riba, tak membuatku bangkrut.

Rejeki datang dari arah yg tak tersangka oleh logika.

Alhamdulilah.

Semudah itu bagi Allah.

Allah, genggamlah hati kami untuk hanya beriman kepadaMu.

Bebaskan aku dari segala riba. Bebaskan juga seluruh saudara, sahabat, teman fesbuk, dan semua orang yg kukenal agar tak lagi bergelimang dalam kubangan dosa riba.

Mantapkan hati kami untuk tak memiliki ragu akan janjimu.

Tak ada sedikitpun kebohongan dalam firmanMu.

sabdaMu hanyalah kebenaran.

Dan Engkau tak pernah ingkar janji,

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

Dan aku adalah bukti.

Terimakasih duhai Ilahi Robbi.

Terimakasih. Terima kasih. terimakasih.

Sahabat, selamat bersegera bebas dari riba. Teriring doa, agar Allah memudahkan segalanya, aamiin allahumma aamiin.

Cap lunas.

Salam bahagia, salam bebas riba,

Fitra

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸

Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .


Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.


Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.


Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.


Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.


Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.


Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.


Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.


Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad .


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah .
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .


Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya :


“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu .
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya . Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin !”.


Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .


Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu .


“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak .


“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .


Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .


Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.


~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses .
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .


Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri .
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia .


Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999


Semoga terinspirasi…


✍🏻 WA BIS ( Belajar Ilmu Syar'I Akhwat )

🍂🍃Untuk para ibu dan calon ibu

kemarin saya kembali ke kantor untuk pertama kali–berhubung empat puluh hari pasca partum sudah selesai. sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar meninggalkan kantor. saat masih tinggal di surabaya semasa hamil, satu bulan saya bagi menjadi dua minggu di bogor untuk menjadi wanita karir dan dua minggu di surabaya untuk menjadi ibu rumah tangga. sejak cuti melahirkan (alias work from home karena akan melahirkan), ada staf ids yang setiap hari datang ke rumah menemani saya bekerja. begitu pun setelah saya melahirkan.

percobaan kembali ke kantor ini menyenangkan dan lumayan menegangkan. sebab, sesuai amanah mas yunus untuk menyusui langsung terus, saya membawa mbak yuna (dan sebagasi perintilan bayi) menempuh 40 km pulang pergi jika harus ngantor. dan sesuai amanah mas yunus untuk terus mengasuh mbak yuna langsung, saya tidak punya baby sitter. jadilah di kantor, saya pun tetap menyusui, menggantikan popok, menenangkan mbak yuna jika menangis, juga memompa susu.

seru dan penuh syukur. alhamdulillah saya bekerja di perusahaan keluarga sendiri, sehingga bisa lebih fleksibel mengatur waktu. alhamdulillah saya diizinkan oleh mas yunus untuk tetap berkarya begitu begini, sehingga saya tetap bisa mengaktualisasi diri sambil sementara menjadi single parent. alhamdulillah, saya ketemu caranya agar bisa tetap menjadi ibu rumah tangga dan tetap menjadi wanita karir.

ternyata caranya adalah dibalik. sebisa mungkin seluruh pekerjaan yang tidak bersentuhan langsung dengan bayi diserahkan kepada orang lain. sebaliknya, sebisa mungkin seluruh pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan bayi, saya sendiri yang melakukan.

jadilah saya tidak perlu punya baby sitter, tapi punya manajer ASI. karena dalam sehari saya harus memompa ASI enam sampai tujuh kali, dan upacara menyiapkan dan merapikan peralatan memompa sangatlah panjang, Rea saya tunjuk pula menjadi manajer ASI saya. jadilah saya tidak punya baby sitter, tapi punya sekretaris sendiri. seringkali saat bekerja, saya menggendong dan menyusui mbak yuna sementara Rea yang berada di depan layar sekaligus menghubungi staf-staf lain untuk mendelegasikan pekerjaan. saya tinggal “ngomong doang”.

alhamdulillah. bersyukur sekali rasanya. saya jadi semakin percaya: kemudahan itu selalu ada, asalkan kita mengusahakannya.

tentu saja ada satu yang paling saya rindukan: menulis buku, merampungkan proyek menulis yang masih mangkrak. semoga untuk yang ini saya segera ketemu caranya dan waktunya. rasanya, menulis selalu adalah hadiah bagi diri saya sendiri–jalan sekaligus tujuan yang layak diperjuangkan, dimenangkan.

Kuliah 2: Memahami Karakter Anak ala Rasulullah

“Pendidikan yang keras dan kasar hanya akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menumbuhkan kemalasan dan karakter dusta, sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan sikap licik. Jika hal ini menjadi kebiasaan dan akhlaknya, niscaya rusaklah nilai kemanusiaannya.”

– Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah

Bismillaahirrahmanirrahim…

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Kuliah 1. In syaa Allaah akan ditulis berkesinambungan. Semoga bermanfaat. :)


Pada dasarnya, metode Nabawiyah menekankan aspek dasar pendidikan adalah dengan kelembutan. Meski demikian, pendidikan Nabawiyah pun tidak menafikan adanya hukuman, bahkan dengan pukulan. Hal ini agaknya berseberangan dengan teori psikologi Barat yang bahkan “mengharamkan” mengucapkan kata “jangan” pada anak-anak. Padahal Al-Qur’an telah berkali-kali merangkumkan kalimat larangan dan penegasan yang diawali dengan kata “jangan”.

Namun, penetapan hukuman dalam pendidikan pun harus dilakukan dengan tahapan. Jelas tidak dapat dibenarkan ketika ada anak yang berbuat salah, kemudian tanpa tedheng aling-aling sang guru maupun orangtua memukulnya dengan dalih mengikuti sunnah Rasul. Jelas tidak dapat dibenarkan menghukum dengan keras tanpa mempertimbangkan karakter anak maupun tingkat kesalahannya. (Tentang tahapan menghukum ini, in syaa Allaah akan saya ringkaskan pada artikel selanjutnya).

Pada artikel ini, in syaa Allaah pembahasannya mengerucut pada cara Rasulullah dalam memahami karakter anak. Rasulullah adalah suri teladan final dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya begitu terkesima ketika mendengar kisah-kisah Rasulullah yang begitu lembut ketika membersamai anak-anak. Sungguh, beliau adalah seorang panglima dan punggawa di medan perang, namun di sisi lain, beliau pun telah menjadi pemenang di hati seluruh umat manusia. Maa syaa Allaah. Shalaatu wassalaam ‘alayk yaa Rasulullaah… :’)


Setidaknya ada 5 hal yang perlu kita perhatikan, sebagai orangtua, calon orangtua, maupun orang yang menggeluti dunia anak-anak; para pendidik misalnya.

1. Menjaga perasaan anak

Pernah dengar kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya saat Hasan atau Husein sedang asyik menaiki punggung beliau? Kemudian ketika para shahabat bertanya mengapa sujud beliau lebih lama dari biasanya, apa jawaban beliau?

“Sesungguhnya tadi cucuku sedang menaiki punggungku. Aku hanya tak ingin mengganggunya hingga mereka puas melakukan itu.”

Bagaimana? Terkesima? Sabar dulu. Itu baru contoh pertama di poin pertama. :)

2. Memeluk dan mencium anak

Rasulullah, sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, tentu saja beliau adalah orang yang dianugerahi kecerdasan dan keluasan ilmu yang luar biasa. Namun, di hadapan anak-anak, beliau tak pernah merasa “jaim” untuk “menurunkan derajat” keilmuannya itu. Beliau tak pernah jaim untuk berbaur bersama anak-anak. Beliau tak pernah bermuka masam kepada anak-anak. Beliau tak pelit dalam menyatakan rasa sayang. Bahkan beliau adalah orang yang paling murah dalam mengulurkan tangannya untuk menggendong, memeluk, atau sekadar mengelus kepala anak-anak.

Saya kutipkan sebuah hadits berisi cuplikan kisah yang dibawa oleh Anas bin Malik, asisten kesayangan sekaligus orang kepercayaan Rasulullah.

"Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak daripada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Nabi pun berangkat (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap, karena suami ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabi pun segera mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali.” (HR. Muslim)

Atau dalam kisah yang lain, Rasulullah di tengah kesibukannya dalam tugas kenabian ternyata sempat meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Usamah bin Zaid pernah bercerita, “Rasulullah pernah mendudukkanku di satu pahanya dan mendudukkan Hasan di paha yang satunya. Kemudian beliau merangkul kami berdua sambil berdoa,

"Ya Allah cintailah keduanya, sungguh aku mencintai mereka berdua.” (HR. Bukhari)

3. Melayani imajinasi anak

Pikiran anak-anak ibarat lemari yang berisi segudang imajinasi. Ada sebuah kisah menarik lainnya yang kali ini terjadi antara Rasulullah dan salah seorang istri tercintanya; Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kisah ini diceritakan oleh ‘Aisyah sendiri.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.”

Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?”

‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud)

Lihat, bagaimana Rasulullah menanggapi imajinasi ‘Aisyah yang kala itu masih berusia belia. ‘Aisyah berimajinasi bahwa boneka kuda memiliki sayap (dalam siroh dijelaskan bahwa imajinasi ini ternyata dibenarkan dengan dalil bahwa kuda Nabi Sulaiman memang memiliki sayap). Beliau mendengarkannya dengan seksama, bahkan menimpalinya dengan tawa. Tak sedikitpun mematahkannya.

4. Jangan pernah berbohong pada anak

Rasulullah telah mengajarkan bahwa ternyata memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersebut dinilai sebagai sebuah kedustaan, dan itu dilarang. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Ibuku pun memanggilku, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu benar-benar ingin memberinya sesuatu?”

Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.”

Rasulullah pun bersabda, “Jika saja kamu tidak memberinya apa-apa, niscaya dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Daud).

5. Menjaga lisan terhadap anak

Termasuk bentuk menjaga lisan terhadap anak adalah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak menggunakan bahasa “alay”, dan lebih baik menggunakan bahasa baku. Sebab Rasulullah telah menjadi teladan bagi kita sebagai seorang yang memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik.

(Materi ini disampaikan oleh Ust. Galan Sandy; Manajer Kuttab Al-Fatih)

Sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan disebarkan. Allaahu a’lam. :)

PENDIDIKAN KOMERSIL

Dari kecil hingga remaja saya belajar keseragaman
Dari kecil hingga remaja saya mengenakan seragam
berangkat sekolah atau sebuah tempat yang mengurung minat dan bakat

Dari kecil saya atau orang orang yang berpikiran sama terpaksa menuruti semua hal yang diajarkan baik itu kebohongan sekalipun

Buku buku yang kami bawa semua berisi ilmu dan menghasilkan uang
Semakin berat kami menggendong buku semakin banyak duit yang mengalir entah kemana

Pikiran saya terpaksa di kotak - kotakan mengikuti kotaknya pemikiran sang pengajar
Ini bukan salah siapa - siapa tapi saya merasa harus menjadi berbeda dan mengakui bahwa ini semua sama sekali tidak berguna!

Dikala semua atau yang merasa demikian menjadi berbeda dan tidak lagi seragam
Kita justru ditekan dan dicap tidak punya masa depan.

Mendiamkan kebohongan tepat di depan mata adalah kejahatan sesungguhnya!

Semua orang bersalam- salaman, indah,
Ada beberapa tamu yang datang,
Saudara jauh yang telah bertahun- tahun tak bersua,
Sepupuku yang sudah hampir 20 tahun tak bertemu, karena perbedaan jarak, hati dan lain nya,
Hari ini dikunjungi lah aku dan ibu,
Dia bawa serta ibu bapak dan istrinya serta kedua anak nya

Usia kita sama, namun dia sudah menjadi ayah dari 2 orang anak
Ibu dan bapak nya adalah adik dari ibuku,
Memeluk, bercerita tanpa jeda sambil menikmati hidangan khas lebaran,
Yang sudah aku dan ibu siapkan

Tiba di suatu pertanyaan yang tetap ditanyakan, walau nyata2nya aku menghindarinya,

,“ kapan menikah”

Ahh sungguh aku kelu menjawabnya,
,“Doa kan saja bulek dan paklek”,

Jawab ku kemudian,


Aku yakin bukan aku saja yang hari ini mengalami ini,
Terkadang terselip rasa yang entah apa namanya,
Menggendong ponakanku yang lucu,- lucu,
Kemudian bercanda, riang menyenangkan sekali rasanya, karena memang aku seorang yang amat gemar berada di antara anak- anak

Ya, semesta memiliki rahasianya
Yang terlihat sudah siap dan matang,
Justru belum ditemukan,
Yang masih keliatan nya takut dengan kompor, juga tak suka anak- anak. nyatanya sudah lebih dulu ditemukan oleh jodohnya.

Segala sesuatunya, perlu kita nikmati, syukuri, dan jalani dengan penuh bahagia, tak peduli harapan yang masih belum terlaksana, atau mimpi2 yang belum terwujud,
Kebahagian adalah tanggung jawab kita sendiri,
Kebahagian datang dari dalam diri kita, kita akan bahagia bila kita mampu mensyukuri apa- apa yang kita miliki, dan menerima diri kita, juga memaafkan diri sendiri.

—  Keyshawidya

ulynnuha  asked:

Tips-tips agar bisa kembali semangat muroja'ah hafalan ketika futur melanda...?

(Self Reminder)

Pernah mendapat pesan dari seseorang yang dikagumi, disukai atau dicintai?

Saat itu rasanya bahagia sekali, tak pernah letih dan bosan untuk dibaca meski berulang kali. Selalu diingat, hingga terbawa mimpi bahkan senyum-senyum sendiri. 

Adakah kita rasakan hal yang sama pada Al-Qur’an yang Allah turunkan?

Iman itu memang kadang naik dan kadang turun.
Saat futur biasanya saya coba ingat-ingat beberapa hal berikut :

1. Niat Awal Menghafal

    Coba ingat kembali alasan dulu hendak menghafal. Apa yang jadi sebab kita ingin menghafal? 

2. Orang tua

    Semoga dengan perjuangan menjaga, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an jadi sebab kedua orang tua mendapatkan syafa’at dan kemuliaan di akhirat. Setiap anak ingin memberikan yang terbaik untuk ayah ibunya, tidakkah demikian dengan kita? Apalagi yang kelak dibutuhkan disana saat harta benda tiada lagi berguna? Hanya amalan, kumurahan Allah, serta syafa’at yang Allah janji akan berikan, utamanya untuk para mujahid dan penjaga Al-Qur’an serta keluarga dari keduanya. 

3. Guru

Adalah tugas seorang murid untuk menyenangkan hati gurunya dan tidak membuatnya sedih atau kecewa. Ingat-ingat perjuangan dan ketulusan ustadz/ustadzah kita saat mengajar, mendidik dan membimbing kita. MasyaAllah sungguh tanpa perantara mereka, kita tak akan mampu menghafal Al-Qur’an, tak akan mampu mengenal, memahami dan mencintai sedekat ini. Bukankah guru-guru kita telah mencintai kita karena Allah? Buat mereka bangga bahwa kita telah menjaga apa yang beliau ajarkan.

4. Sebaik-baik teman dalam kesendirian

Disela-sela aktivitas harian, kita mampu tetap melantunkan hafalan meski tanpa melihat mushaf Al-Qur’an. Bukankah menyenangkan saat kita selalu memiliki kesempatan untuk menjaga hati dengan Al-Qur’an, mengingat Allah dan berdzikir kapanpun dimanapun sesuka kita?

5. Muroja’ah dalam Shalat Sunnah, utamanya Qiyamul Lail

Berbeda rasanya muroja’ah dalam duduk dengan muroja’ah dalam shalat. Akan terasa lebih nikmat dan lebih puas saat mampu membawanya dalam Qiyamul Lail. Menikmati dan menghayati ayat-ayat yang pernah kita hafal. Maka niatkan muroja’ah sebagai persiapan Qiyamul Lail.

6. Keluarga (Mujahid mujahidah kecil)

Bukankah hal yang indah dan menyenangkan saat kita bisa mewarnai keluarga kita dengan Al-Qur’an.

Bukankah indah saat kita nanti telah menikah dan Allah mengamanahi kita seorang anak, kita menggendong dan menimangnya agar tertidur sambil dibacakan untuknya ayat-ayat yang pernah kita hafal agar tenang dan lembut hatinya, agar reda tangisnya? Barangkali ini terlalu jauh, tapi saya pernah tiba-tiba terbayang akan hal itu dan itu cukup menguatkan untuk kembali semangat muroja’ah.

Dan tentu ia hanya dapat dilakukan jika hafalan yang kita punya telah benar-benar mutqin. Sedang hafalan mutqin hanyalah hasil dari kebersihan hati dan muroja’ah yang senantiasa dinikmati.   


Semoga menjawab

Quraners

Berperjalanan itu penting, bukan hanya karena banyaknya pemandangan yang kau lihat atau ilmu yang kau reguk, tapi juga syukurmu karena diizinkan menjadi manusia. #FitriyaniSyahrir


PASSPORT by Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.

Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Bagiku, ketika aku menggendong carrier dan mulai mendaki, aku seakan menyerahkan sebagian hidupku pada teman pendakianku.

Sebab, ketika aku terjatuh, tangan teman pendakiankulah yang akan membangunkan dan menuntunku untuk sampai pada puncak yang diharapkan.

Berbagi beban dipundak dengan memilih mana yang seharusnya aku bawa dan mana yang sebaiknya ada dalam carriernya.

Tidak salahkah aku jika saat ini aku rindu pendakian dan menikmati puncak penyangga bumi ini?

Selain itu, aku juga rindu berjalan beriringan dengannya. Rindu bagaimana dia memerintahku untuk membenarkan posisi berjalan, rindu yang kini harus aku telan sendirian karna dia sudah tidak perduli sebab aku melakukan kesalahan dalam menentukan pilihan.

Dia tidak akan pernah kembali. Tapi alam, carrier, bintang yang bertebaran diangkasa akan selalu mengingatkanku padanya.

Selamat penguhujung juni, aku merindukanmu selalu.

KBB 18/06/ 2017
-Putridinaryr

Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya ‘orang tua’ yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah. ‘Orang tua’ kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.

Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita, nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.

Pengusaha baja/Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan.
Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat:
“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.
Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, *“Jangan perlakukan Orang tua seperti Pembantu".

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah: mereka yang memperlakukan dan melayani orang tuanya seperti seorang Kaisar.

Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang perduli pada orang tuanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orang tua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-angan.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih BELUM TERLAMBAT untuk berbakti.

UANG bisa dicari, ilmu bisa di gali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali.

==

Pesan Ayah

Kepada: diriku sendiri entah tahun berapa nanti.

Bersabarlah. Untuk seluruh ketidakmengertian dan pengetahuan yang mengecewakan bahkan menyakitkan. Seorang itu adalah jembatan dan pintumu menuju surga. Tetaplah taat. Tetaplah hormat. Tetaplah percaya. Meskipun sulit sekali hingga harus banyak berurai air mata.

Ingatlah. Ada perjalanan panjang yang mampu meringkus cemas dan takut. Pada hari ini ketika pemberian-Nya tidak berkesesuaian dengan harapan. Menjadikan diri lebih banyak meminta dan berdoa untuk disembuhkan dan dilapangkan. Dimampukan lagi untuk membuka hati dan menerima. Diikhlaskan selalu sehingga dapat mengerti apa pun hikmah-Nya. 

Percayalah. Tatapan penuh cinta itu benar-benar ada. Meskipun terkadang memang tak tampak muka. Hanya, orang lain mungkin saja yang lebih mampu melihatnya. Sepertimu yang mengharu biru melihat seorang suami menggendong anaknya dengan tatapan terpaku penuh perhatian mendengarkan sang istri yang dengan seru sekali bercerita entah apa, di serambi Masjidil Haram kala itu. Nyatanya masih terbayang begitu jelas dan sangat menginspirasimu, meskipun kamu sama sekali tidak mengenal dan tidak pernah tahu kejadian sebenarnya dari keluarga kecil itu.

Jangan pernah menyerah. Ingat pesan ayah.

Mungkin, nasihat-nasihat ini belum kamu mengerti sekarang. Namun, pada waktunya kamu akan pahami. Bahtera rumah tangga adalah perjalanan penuh coba. Luruskan niatmu saat ini agar senantiasa mendapat petunjuk nanti. Akan banyak guncangan yang membuatmu mempertanyakan banyak hal. Maka sungguh, kecenderungan cinta bukanlah pegangan yang kuat. Ia rapuh sekali. Kecil sekali kemampuannya untuk membuatmu mampu bertahan. Sejatinya, tanggung jawab adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan. Tanggung jawab sebagai seorang hamba yang melakukan ibadah pernikahan semata untuk-Nya. 

Nantinya, akan ada keadaan ketika satu hal kecil dapat membuatmu memilih untuk menetap meski sembilan puluh sembilan alasan lain menarikmu pergi. Jelas akan banyak kesakitan dan perasaan berat, tetapi menjadi begitu nikmat dan dapat dirasa ringan. Semua karena kebersamaan yang penuh keyakinan kebenaran. Persis seperti seorang ibu yang sangat kepayahan, tetapi berseri bahagia sekali ketika mengandung si buah hati. Kamu jelas belum mengerti. Membayangkan pun masih tak sampai. Maka, ingatlah saja. Semoga mampu membuatmu lebih lega ketika waktu-waktu itu tiba.

Akan tiba saatnya di mana Timeline Facebook, twitter, dan Instagram anda akan dipenuhi oleh foto Akad Nikah dan foto seseorang yg kita kenal sedang menggendong bayi..

Soon..

Pesan dari Aleppo : “Besok Sudah Terlalu Terlambat Untuk Kami”
==========
Aleppo Timur, Suriah - Kami semua berdoa agar hujan turun. Dengan turunnya hujan, pesawat tidak bisa terbang dan pemboman berhenti untuk sejenak.

Kami berharap bahwa hujan cukup lama turun hingga Negara-Negara Besar di seantero dunia ini dapat melakukan sesuatu untuk menolong 150.000 warga sipil yang terjebak di lingkungan kecil di Aleppo ini yang tengah mencoba melarikan diri dari pembantaian.

Tidak ada yang tersisa disini selain keputusasaan.

Orang yang mencari perlindungan membanjiri daerah kecil ini, berjejal hingga sekitar 10sq km. Begitupun bayi dan anak-anak, sangat riuh karena banyaknya.

Orang-orang yang datang dengan menggendong tiga hingga empat anak di belakangnya, yang tengah mencoba melarikan diri dari pasukan pemerintah. Mereka menggunakan kereta dorong untuk membawa anak-anak, dan apa pun barang-barang lain yang mereka bisa gunakan dan manfaatkan seperti beberapa pakaian, beberapa peralatan memasak didalam kantong plastik, sangat penting.

Aku memilih untuk datang ke Aleppo beberapa minggu sebelumnya. Aku pikir aku dan dua kru-ku akan stay di sini hanya untuk beberapa hari saja. aku tak pernah berfikir jika aku akan berada di sini lebih lama dari yang aku fikirkan. Walau aku tahu bahwa datang ke tempat ini sangat berisiko.

Melaporkan berita dari zona konflik sangat berbahaya, tapi menunjukkan kebenaran kepada dunia lebih penting dari itu. Sebagian besar dari mereka yang ada di sini, bagaimanapun, tidak memiliki pilihan. Mereka terjebak dalam mimpi buruk ini walau bukan keinginan mereka.

Ditempat ini sangat dingin. Tempat di mana aku bermalam, dinding-dindingnya benar benar telah rusak, aku mencoba menutupnya dengan lembaran-lembaran plastik dan selimut, terutama sebuah lubang besar yang dibuat oleh serangan udara baru-baru ini.

Rakyat Suriah benar-benar pemurah, mereka memperlakukanku - seorang wartawan dan satu-satunya orang kulit hitam Amerika di kota - dengan sangat kebaikkan yang luar biasa. Mereka tahu, bahwa aku dapat menjembatani kisah mereka saat ini kepada dunia dengan mengijinkanku untuk mengisi daya telepon dan laptopku di salah satu tempat yang tersisa dari generator yang merekapun juga memerlukannya.

Harga makanan yang tersisa tidak terlalu tinggi, karena mereka tidak ingin mengambil keuntungan dari satu sama lain, tetapi tidak ada banyak untuk penjual, dan semua orang menderita.

[By Jurnalis Bilal Abdul Kareem]
Dialih Bahasakan oleh Chaerul WP.
=======
Source : Al Jazeera News
via Chaerul Ibn Abd Al-Wahab

“mas yunus cerita dong,” tulis saya.
sejenak tidak ada balasan dari mas yunus.
ting! sepucuk surel masuk dengan sebuah lampiran.

***

Di sebuah hutan, hiduplah yunuskelinji si kelinci dan uticakurakura si kura-kura. Suatu hari, yunuskelinji dan uticakurakura bermain lomba lari. Siapakah yang menang?

Saat lomba lari dimulai, yunuskelinji berlari dengan cepat. Sedangkan, uticakurakura berjalan lambat dan santai.

Sebelum yunuskelinji memasuki garis finish, ia melihat ada sebuah pohon rindang di tepi jalan. Yunuskelinji pun menepi dan istirahat di bawahnya. Ia berpikir uticakurakura masih jauh ketinggalan. Yunuskelinji pun tertidur.

Begitu bangun, yunuskelinji melihat uticakurakura sudah memasuki garis finish. Yunuskelinji pun menyesal karena tidur. Uticakurakura menjadi pemenangnya.

Pesan moral: Biar lambat, asal terus berusaha, kita bisa menjadi pemenangnya. Meskipun cepat, jika meremehkan, bisa jadi kita akan kalah.

Yunuskelinji mengajak uticakurakura lomba lari lagi. Uticakurakura setuju. Kali ini, siapakah yang menang?

Begitu lomba dimulai, yunuskelinji segera berlari dengan sangat kencang. Ia tidak mau mengulangi kesalahannya.

Akhirnya yunuskelinji memasuki garis finish dan menjadi pemenang lomba lari. Sedangkan uticakurakura masih jauh tertinggal di belakang.

Pesan moral: Kemenangan adalah milik mereka yang cepat dan fokus mencapai tujuan.

Uticakurakura pun berpikir. Ia mengajak yunuskelinji kembali berlomba lari. Tapi, dengan rute yang berbeda. Yunuskelinji setuju.

Begitu lomba dimulai, yunuskelinji berlari kencang. Ia dengan yakin akan kembali memenangkan lomba.

Ternyata, sesaat sebelum mencapai garis finish, ada sungai besar yang harus dilewati. Yunuskelinji tidak bisa melanjutkan lomba karena tidak bisa berenang.

Lama kemudian, uticakurakura datang, berenang menyeberangi sungai, dan memenangkan perlombaan. Sementara yunuskelinji hanya bisa terpaku di sisi sungai.

Pesan moral: Ketahui keunggulan dan potensi dirimu, maka kamu akan menjadi pemenangnya.

Yunuskelinji kembali mengajak uticakurakura lomba lari untuk terakhir kalinya. Kali ini, yunuskelinji berbisik sesuatu kepada uticakurakura. Uticakurakura mengangguk setuju.

Lomba pun dimulai. Pada tahap awal, yunuskelinji berlari dengan cepat sambil menggendong uticakurakura.

Begitu memasuki sungai, gantian uticakurakura yang menggendong yunuskelinji. Akhirnya, keduanya pun sama-sama memasuki garis finish. Keduanya sama-sama menang dengan cepat.

Pesan moral: Kerjasama dan saling mendukung itu hebat. Itu adalah sebaik-baik kemenangan.

Menangkan!

***

“aku udah pernah baca dongeng kayak gini. tapi, makasih ya mas. hehe.”
“Kica, aku yang terima kasih. terima kasih sudah mau membersamai aku. aku nggak bisa apa-apa tanpa kamu. perjuangan ini perjalanan kita. kita menangkan sama-sama.”

Tabiat Wanita

Dia yang Maha Kuasa mendekatkan yang jauh.
Dia yang Maha Kuasa melekatkan yang renggang.
Dia yang Maha Kuasa memudahkan yang sulit.

Menikah adalah Sunnah tuntunan Nabi yang begitu indah.
Menikah membuat yang buruk menjadi indah, karena cinta.
Menikah menyempurnakan separuh agama.

“Barang siapa yang diberi karunia oleh Allah, diberi rizki istri yang shalehah, maka Allah telah memberikan kepadanya bantuan di separuh agamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
Jaga wasiatku kepada wanita agar engkau selalu berbuat baik kepada wanita dan bertakwalah kepada Allah.
Kalian mengambil mereka dengan amanat dari Allah, dari orang tuanya kepadamu. Wanita yang sebelumnya haram bagimu menjadi halal karena Allah.

Tabiat Wanita :
Wanita itu tidak diciptakan dari baja, kalau dia diciptakan dari baja maka dia akan meleleh, wanita itu tidak diciptakan dari batu kalau dari batu dia sudah hancur berkeping-keping menjadi kerikil, Kenapa ? Karena tugas wanita yang begitu berat.
Karenanya Allah menciptakan mereka dari tulang rusuk yang bengkok dari dalam diri suaminya.
Wanita itu akan mendengarkan amarah suaminya, ocehan suaminya, dia akan hamil 9 bulan, dia akan menggendong anaknya, dalam kondisi hamil pun dia akan tetap melayani keperluan suaminya dan dia tidak akan mengeluh.
wanita diciptakan dari tulang rusuk untuk mendampingi lelaki.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan :
Perempuan itu di ciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok. Kalau kamu hendak meluruskan tulang rusukmu itu maka ia akan patah, jika kamu biarkan maka dia tetap bengkok. Maka jagalah dia dan berlemah lembutlah kepada istrimu.

Sebab tidak akan mungkin suami bersenang-senang terhadap wanita, kecuali dengan bersabar.

Karena tabiat Wanita itu pencemburu, perasa, dan ingin dipuji.


Dikutip dari kajian Ustadz Syafiq Reza Basalamah.
Note to : seseorang (yang entah siapa) yang akan Allah takdirkan melengkapi separuh agama :)

kalau kata arman dhani yang kata-katanya sedikit saya modifikasi, Membukakan pintu untuk perempuan itu bukan masalah emansipasi, tapi masalah kepatutan. Memberi tempat duduk pada perempuan hamil dan menyusui serta menggendong bayi bukan masalah emansipasi tapi masalah etika. Mengangkatkan galon buat perempuan bukan soal emansipasi, tapi soal tolong menolong. Bayarin makan teman perempuan juga bukan soal modus, kadang soal dompet lagi isi aja.

The Way I Lose Her: Last Hug

Jika saat itu aku berkata tidak cinta. Aku adalah pembohong paling munafik se dunia. Jika saat itu aku berkata bahwa aku tidak rindu, aku adalah pembohong paling dungu yang kau tau.

                                                             ===

.

Jika ada keterjatuhan yang paling jatuh, bulan-bulan awal gue SMA adalah keterjatuhan yang paling memuakkan dalam hidup gue. Diawali dengan kepergian semena-mena oleh Wulan, dilanjutkan dengan kepergian penuh drama yang disponsori oleh kak Hana dan pacarnya yang lebih mirip sama Dinamo Tamiya ketimbang muka manusia.

Saking capeknya gue nangis, gue tertidur lelap sore itu dengan lagu Barbarrosa - Stones yang masih terus saja diputar nggak berhenti-berhenti di kuping gue. Sampai pada akhirnya pintu kamar diketok oleh nyokap yang membangunkan gue untuk sekedar makan malam.

Gue bangun dengan pikiran yang masih gamang, menghadap kaca dan cukup kaget melihat kantong mata gue yang lebam. Ternyata gue baru tau efek nangis itu bisa kaya begini, pusing dan kantong mata lebam. Astaga, berantem ternyata jauh lebih enak ketimbang nangis kejer-kejer kaya cewek. Gue lihat ke arah jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Sudah ada banyak pesan muncul di HP gue, salah satunya adalah pesan dari kak Hana. Pesan itu hanya tertulis singkat,

“Ada yang mau aku omongin, besok ketemu di kelas.”

Dan gue nggak membalas sama sekali. Di sana juga ada sms dari beberapa nama, selain Ikhsan yang nanyain di mana tempat beli cilok yang enak di Bandung, Sms yang lain adalah sms dari si “Matematika Buku Cetak”. Lagi-lagi hari ini dia mengingatkan gue untuk mengerjakan PR yang lainnya lagi.

Karena lagi suntuk dan males buat interaksi dengan siapa-siapa, gue lempar ponsel gue ke atas kasur lalu beranjak pergi mandi. Suasana rumah sudah cukup sepi saat itu, gue makan sendirian di halaman belakang.

Ntah gue sudah makan berapa piring, namun yang jelas gue ngunyah tanpa gue sadari. Pikiran gue terbang melayang memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini. Gue berharap hari ini adalah mimpi, dan gue harap gue cepat-cepat terbangun.

Besoknya, gue benar-benar merasa suntuk untuk bisa bertemu orang-orang, hingga pada akhirnya gue memutuskan untuk cabut dari sekolah dan mabal ke warnet sebelah rumah. Nekat banget kan gue? Mabal kok ke sebelah rumah.

Di sana masih sepi, hanya ada segelintir anak kuliahan, pemilik warnet, anak SMP yang mabal, dan beberapa anak SMA yang juga lagi mabal berjamaah. Gue ambil komputer paling pojok mepet tembok, berharap tidak berinteraksi dengan siapa-siapa. Lalu diakhiri dengan mencaci maki setiap orang yang ada di game online.

Lagi main Counter Strike Online, gue malah nembakin temen sendiri sampe pada mati semua. Main game Ragnarok, gue masuk tempat PVP dan ngebunuhin orang-orang yang lagi iseng nongkrong di tempat PVP.

Lagi asik-asiknya main game Online, mendadak HP gue bunyi. Gue kira itu dari Ikhsan yang menanyakan gue lagi ada di mana, tapi ternyata itu dari si “Matematika Buku Cetak”. Beberapa kali dia mengirimkan pesan, dan tetap saja gue hiraukan. Ngapain juga gue nanggepin orang yang nggak gue kenal. Bodo amat.

Karena hari itu selasa pagi, jelas-jelas semua temen yang biasa gue ajak senang-senang maen game di warnet pada belum datang. Biasanya mereka datang di atas jam 12 semua. Dan kalau pagi gini, yang ada malah bosen kalau caw sendirian di warnet.

Gue matiin komputer gue, mengambil satu minuman softdrink dingin di kulkas, lalu pergi nongkrong di kursi bambu. Dalam keadaan masih pagi buta begini dan memakai seragam SMA, gue malah berani duduk terang-terangan di depan warnet. Padahal besar kemungkinan nyokap gue muncul di depan rumah. Tapi saat itu gue lagi butek, gue ambil HP gue dan melihat semua isi SMS yang datang dari kemarin malam.

Ada sms dari Ikhsan sebanyak 3 sms. Isinya nggak jauh dari nanyain di mana tempat cilok paling enak di bandung, nanya gue kemana kok gak masuk kelas, dan yang terakhir dia mau laporan kalau ada kak Hana yang lagi nyariin gue di luar kelas.

3-3nya nggak gue bales.

Ada sms dari kak Hana sebanyak 5 sms. Isinya nyariin gue semua dan pengen ngobrol. Nggak ada satupun kata-kata maaf gue lihat di dalam smsnya. Ngebuat gue makin dongkol luar biasa.

5-5nya nggak gue bales juga.

Dan yang terakhir dari si Matematika Buku Cetak. Nah kalau yang ini agak berbeda, udah ada lebih dari 15 SMS yang masuk atas nama tuh anak ke HP gue. Gila, nih anak ngeSMS gue lebih banyak ketimbang kak Hana.

Gue liat isi smsnya diawali dari ngasih tau PR, ngasih tau jawaban PR tanpa gue minta, Nanya gue lagi apa, nanya kenapa gue nggak jawab sms, nanya kemana gue hari ini, nanya gue sakit atau nggak, nanya gue lagi ada di mana, nanya kenapa gue nggak masuk kelas, dan masih banyak lagi.

Gue ngerasa lagi punya pacar kalau kaya gini caranya. Lagi iseng ngeliatin sms tuh anak satu persatu, mendadak ibu gue muncul di depan rumah.

Gue lupa!!

Biasanya kalau jam segini itu jam-jamnnya nyokap nyapu depan rumah. Gue mau lari ke dalem warnet udah nggak akan sempat, gue mau nutupin muka juga pasti malah mengundang kecurigaan. Pas gue mau siap-siap merangkak ke dalam warnet, mendadak nyokap gue berbalik dan terlanjur melihat gue yang lagi duduk bersila sembari ngemut sedotan coca-cola di atas kursi bambu ini.

Kita saling bertatap-tatapan. Keadaan awkward.
Asem!! Gue harus alasan apa nih, gue ketangkap basah pagi-pagi buta sudah ada di warnet sebelah. Mana gue masih pake seragam sekolah pula. Mati gue!

Ibu gue menatap gue, adik-adik gue yang masih berumur 4-5 tahun yang selalu mengikuti kemanapun ibu gue pergi langsung pada berlarian ke arah gue ketika melihat ada sosok gue lagi santai-santai di depan warnet.

“Mas Dimaaaassss~” Ucap 2 bocah cewek yang paling gue sayang se dunia ini sembari berlarian meminta pangku.

Ibu gue melihat ke arah gue.

“Ngapain kamu di sana? Nggak sekolah?” tanya nyokap gue dengan muka heran.

Gue keringat dingin, gue takut sapu yang tengah Beliau pegang dilempar dan nanclep di kepala.

“Ngg.. anu Bu… lagi suntuk aja.. hehehe”

Anjrit begok!! Kenapa gue malah jawab jujur! Kenapa nggak bilang aja kalau gurunya lagi rapat?! Aduh bego bego bego bego.

“Udah sarapan?” Tanyanya lagi.

“Ngg.. belum Bu.” gue gelagapan.

“Yaudah masuk dulu, Ibu baru masak nasi goreng, abisin sana, adek-adekmu udah kenyang katanya.” Jawab nyokap gue sambil nerusin nyapu.

Melihat dan mendengar apa yang Ibu gue katakan, gue terdiam tak bersuara. Ada rasa kagum, kaget, dan juga nelangsa. Gila, Ibu gue gahol gini, bukannya dimarahin habis-habisan karena bolos sekolah lah malah sekarang disuruh sarapan.

Bhahahahahak, kadang gue suka bingung sendiri sama Ibu gue yang satu ini. Nyokap paling yoi banget deh pokoknya. Karena memang saat itu gue belum sarapan, gue pun pulang sambil menggendong 2 adik gue ke dalam rumah.

Gue masuk ke dapur, melihat keadaan nasi goreng yang Nyokap gue buat, dan tanpa pikir panjang gue gotong itu wajan ke atas meja makan dan memakan dengan lahap seluruh nasi goreng sisa tersebut tanpa memindahkannya dulu ke atas piring.

Setiap suapan yang gue makan, setiap itu pula mood gue balik lagi. Gue buka HP, lalu kemudian membalas SMS dari orang-orang yang sudah mengkhawatirkan keadaan gue hari ini. Tapi, ntah kenapa lucunya yang gue balas siang itu cuma SMS dari si Matematika Buku Cetak doang.

Ada baiknya gue ngobrol sama orang yang nggak gue kenal dalam keadaan dongkol seperti saat ini, dengan begitu gue bebas berbicara tanpa harus merasa dihakimi.

.

                                                              ===

.

Gue pencet-pencet tombol hape butut gue ini, melihat satu-persatu sms mana yang cocoknya gue bales duluan. Namun karena gue nggak tau harus balas SMS yang mana, akhirnya gue cuma mengirim sms 3 huruf doang.

“Hoi”

Kemudian gue taruh HP tersebut dan mulai ngorek-ngorek sisa nasi goreng di atas wajan. Tapi belum ada satu suap gue makan, HP gue langsung bunyi menandakan ada SMS masuk.

“Kamu kemana aja? Nggak masuk sekolah? Terus itu PR nggak jadi dikerjain? Kamu sakit? Lagi ada masalah? Kok kemarin malam nggak bales sms?”

Buseeeeet, SMS gue yang isinya cuma 3 huruf begitu dibales sampe ada lebih dari 4 pertanyaan sekaligus. Gue udah kaya lagi interview sama HRD. Gue nggak tau nih orang siapa, dan kenapa bisa perhatian banget sama gue. Namun yang jelas nih orang pasti kalau nggak anak kelas, ya pasti seseorang yang selalu tau gue.

Apa jangan-jangan ini Wulan? Gue sempat berasumsi seperti itu melihat dari bahasa yang dia gunakan waktu mengirim SMS ke gue. Bahasanya terlihat ramah banget, malah lebih terkesan girly. Wulan? Hana? Ikhsan? Atau siapa?

Rasa-rasanya gue nggak punya kenalan yang lebih akrab ketimbang 3 nama yang baru saja gue sebutkan di atas. Eh tapi apa jangan-jangan ini pembimbing ospek gue kemarin?

TIDAAAAAAAAAAAAKKK!!!!

Memikirkan hal itu, nafsu makan gue hilang. Nasi goreng yang masih gue kunyah perlahan tumpah ruah menahan gejolak rasa ingin muntah. Gue komat-kamit menyebut kata ‘amit-amit’ sambil terus ketok-ketok meja. Berharap ini cuma sekedar mimpi buruk yang terlewat sepintas saja.

Pasti tadi pas gue mau makan, gue lupa berdoa. Makanya bisa sampe ada setan lewat yang merayu gue untuk berfikir sebuah hal yang menjijikkan seperti itu.

“Bawel ah, PR dikumpulin?”

Gue nggak tau bagaimana cara menanggapi perhatian berlebih, maka dari itu SMS balasan yang gue kirim cuma seperti itu doang. Dari semua hal yang gue lewatkan hari ini, PR adalah prioritas yang paling gue dahulukan.

HP gue bergetar, ada satu sms masuk.

“PRnya nggak dikumpulin, cuma diperiksa bersama aja. Kamu nggak sakit kan?”

Ah!!
Dari SMS yang dia balas, gue bisa menyimpulkan bahwa ternyata dia adalah anak kelas. Tapi siapa?!

“Oh bagus deh. Nggak. Btw lo siapa sih? kaga punya kerjaan lain apa? iseng amat perhatiin gue.” Balas gue.

“Emang nggak boleh merhatiin orang?”

“Ya boleh aja sih. Tapi kenapa harus gue?”

“Kenapa juga harus orang lain?”

ANJIR!!
Gue di Skak Mat!
Bahkan sama orang yang nggak gue kenal aja gue bisa dibully habis-habisan seperti ini.

“Aehlah malah balik nanya. Lo siapa sih? Lo satu kelas sama gue kan?” Tanya gue semakin penasaran.

“Iya. Kenapa?”

Sip, berarti dengan ini gue bisa menyimpulkan bahwa ini bukanlah Wulan ataupun kak Hana.

“Cewek atau cowok?”

“Cewek”

“Umur”

“Sama kaya kamu lah. Bego”

“…”

“Kenapa?”

“Kenapa harus gue?”

“Kenapa harus yang lain?”

Mendengar pertanyaan dia yang sama untuk kedua kalinya ini, gue terdiam sebentar. Gue berusaha untuk menjadi lelaki yang peka. Apakah kalau ada seseorang yang perhatian seperti ini, bisa dibilang bahwa dia itu suka sama gue?

Tapi apa iya? Kalau semisal dia ternyata nggak suka sama gue, berarti gue cuma ke-GR-an doang dong? Tapi kalau dia nggak suka ngapain juga dia ngabisin waktu cuma buat SMS-an sama gue? Saat itu gue benar-benar menjadi cowok yang tidak peka sama sekali. Dalam hal kaya beginian aja gue masih bertanya-tanya. Padahal jawabannya sudah pasti.

Gue tahan sebentar untuk tidak membalas SMS tuh anak, lalu kemudian mencoba bertanya sama Ikhsan.

“San, mau tanya. Kalau ada cewek perhatian gitu, itu tandanya dia suka sama kita gak?” Dengan sigap gue langsung nge-SMS Ikhsan siang itu.

Trrrtt…
Satu SMS masuk.

“Yaiyalah begok. Udah jelas itu. Lo sama aja nanya apa ngupil itu artinya lo lagi pengen bersihin hidung atau kaga? Btw lo kemana sih?! Dicariin noh sama kakak Keamanan favorite lo.” Balas Ikhsan.

Gue kembali terdiam di depan semua pernyataan Ikhsan melalui SMS-nya itu. Gue lagi nggak pengen ngebahas masalah kemarin, lagian gue juga nggak pengen Ikhsan untuk tau masalah ini. Mungkin nanti gue bakal cerita, tapi kayaknya untuk saat-saat ini gue nggak pengen denger pendapat dari orang yang gue kenal.

Gue pun kembali ke percakapan gue dengan seseorang yang gue beri nama “Matematika Buku Cetak Hal.17” ini.

“Eh, lo suka gue ya?”

Dengan begoknya gue malah nge-SMS dia hal begituan. Itu adalah ketololan paling parah yang pernah gue lakukan. Kadang kalau gue inget cerita ini lagi, gue selalu senyum-senyum sendiri karena sadar bahwa dulu gue adalah cowok tidak peka yang begok banget.

Selang 5 menit, nggak ada balasan dari orang yang bersangkutan. Gue gelisah, gue merasa bersalah, gue baru sadar kalau pertanyaan yang gue tanyakan tadi tampaknya bukan pertanyaan yang cocok ditanyakan kepada orang asing yang baru gue kenal.

Trrrtt…
Satu sms masuk.

“Iya. Kenapa?” Jawabnya singkat.

Gue tertegun, sekarang gue yang nggak tau harus membalas apa.

“Oh gitu toh. Tapi gue lagi suka orang lain. Gimana dong?”

Yak!
Itu adalah ketololan kedua gue hari ini. Ngapain juga gue sok-sok-an pamer?!

“Yaudah sih. Ada PR baru tuh, kerjain gih.” Balasnya singkat.

“Gue mau nanya, elo cewek kan? Lo pernah nggak sih suka sama seseorang, tapi lo nggak bisa milih dia walaupun dia adalah sosok yang selalu ada buat lo?”

Ntah siang itu ada angin apa, mendadak gue bertanya pertanyaan yang paling ingin gue dapatkan jawabannya. Gue curhat colongan sama seseorang yang nggak gue kenal sama sekali. Gue harap dengan status dia yang nggak kenal gue dan gue nggak kenal dia, gue bisa mendapatkan jawaban atas tindakan kak Hana kemarin sore di warnet.

“Pernah. Ini aku lagi ngalamin.”

“yeee malah nyindir gue. Jawab kek, gue penasaran nih.”

“Emang kamu kenapa? lagi ada masalah?”

“Hmm, gue pengen dapet jawaban, kenapa cewek lebih milih cowok brengsek ketimbang cowok baik?”

“Mungkin bagi dia, kamu mendapatkan waktunya, tapi bukan hatinya. Mungkin.”

“Hah? Maksudnya?”

“Iya, buat mengisi waktu, mungkin kamu yang dia pilih. Tapi buat mengisi hati, dia pilih orang brengsek itu. Mungkin.”

“DAMN!! Jadi gue cuma pengisi waktu doang?! Gitu?!”

“Ya mau gimana lagi. Bagi dia kamu tidak se-membuat-penasaran cowok brengseknya itu mungkin.”

Nih anak jawabnya 'mungkin-mungkin’ mulu. Lama-lama gue ubah juga nama contact dia jadi 'Mungkin Hal.17’.

“Jadi gue harus apa dong kalau gitu?” Balas gue.

“Nggak tau.”

“Lo kan cewek nih. Semisal gue yang menjadi cowok baik yang lo tolak itu. Apa yang lo pengenin dari gue?”

“Minta maaf yang pasti. Dan aku ingin kamu memaafkan.”

Hmm.. Mendengar jawaban dari anak ini, gue jadi kepikiran apa yang bakal kak Hana omongin hari ini. Mungkin benar kata anak ini, kak Hana mungkin hanya mau meminta maaf ke gue perihal masalah kemarin.

“Tapi, maaf buat apa?” tanya gue lagi.

“Kasarnya, maaf buat nggak milih kamu. Dan mungkin maaf agar kamu nggak pergi.”

“Nggak pergi?”

“Biar kamu bisa jadi pengisi waktunya lagi. Di lain hari. Mungkin.”

DEG!!
Jantung gue berpacu cepat. Mendadak ada rasa kebencian dan rasa kesal yang amat luar biasa ketika membaca pesan terakhir yang anak itu kirimkan. Jadi selama ini, keseriusan rasa yang gue berikan ternyata bagi kak Hana hanya sebatas pengisi waktu doang? Apakah gue terlalu mudah luluh terhadap setiap rasa yang kak Hana beri? Apakah yang mencintai sepenuh hati selalu berakhir dengan dicintai setengah hati?

Siang hari itu percakapan gue dengan seseorang yang belum gue kenal ini semakin lama semakin panjang. Ntah bagaimana ceritanya, gue mulai akrab dengan segala kalimat-kalimat yang ia kirimkan melalui pesan singkat. Setiap ada pertanyaan dalam benak gue mengenai kak Hana, gue langsung bertanya tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi.

Bahkan ketika hari telah beranjak sore, gue masih saja terus duduk di meja makan dan melakukan pembicaraan melalui pesan singkat. Hampir seluruh masalah yang nggak pernah gue mengerti langsung gue tanyakan kepadanya. Masalah Wulan kemarin, masalah bagaimana gue tidak menyadari Wulan yang ternyata menaruh hati sama gue, masalah kak Hana, masalah apa yang membuat gue dan kak Hana bisa sebegitu dekat.

Dan anak ini terus saja membalas setiap pertanyaan gue tanpa ada rasa canggung dan tanpa menghakimi. Ada perasaan tentram ketika ada seseorang yang mau mendengarkan dan menjawab tanpa memberi nasehat. Rasa-rasanya sudah begitu lama gue nggak bisa senyaman ini bercerita kepada seseorang, bahkan kepada Ikhsan sekalipun. Terkadang gue bosan menjadi pihak yang terus-terusan mendengar dan mencoba mengerti. Dan kadang gue ingin ada orang yang mau mendengarkan segala keluh kesah gue dan mau mengerti.

Namun kebanyakan setiap gue mencoba untuk mulai bercerita, orang-orang malah menghakimi gue, memberi pendapat tanpa gue minta, atau bahkan malah gue yang menjadi pihak yang harus mendengarkan setiap curhat colongan seseorang yang gue mau curhati pada awalnya.

.

                                                                 ===

.

Semakin lama gue berbalas pesan dengan anak ini, semakin penasaran juga hati gue untuk mengetahui siapa gerangan orang yang selalu perhatian sama gue ini?!

Keesokan harinya, gue masuk kelas seperti biasa. Perasaan gue sudah jauh lebih tenang ketimbang kemarin. Gue sudah siap apabila kak Hana datang untuk memberi penjelasan perihal masalah yang terjadi lusa kemarin.

Pagi itu pelajaran pertama adalah olahraga. Gue mengajak Ikhsan seperti biasa untuk menemani gue mengganti pakaian di WC. Sebenarnya gue bisa saja langsung ganti baju di kelas, namun gue hari ini sudah punya rencana.

“Tumben lo ngajak gue ke WC. Ganti baju doang mah di kelas juga bisa kan?” Ucap Ikhsan cemberut.

“Bawel deh. Temenin gue kek. Gue mau menjadi detektif nih nyet.”

“Hah? Mau jadi apaan?? Lo Gila?”

“Nih, coba deh lo liat sms yang datang ke HP gue dari kemarin siang.”

Ikhsan merebut HP yang gue sodorkan kepadanya dan mulai melihat isi inbox HP gue.

“Buset banyak amat sms-an lo sama orang yang namanya Matematika Buku Cetak ini?”

“Nah itu dia san yang mau gue selidiki.. Gue pengen mene…”

Belum juga menyelesaikan kalimat gue, Ikhsan langsung memotong pembicaraan sembari memegang kening gue. “Lo lagi sakit ye? Lo gila? Anak orang dengan seenaknya lo kasi nama Matematika Buku Cetak. Dasar dongo lo.”

Gue tampis tangannya yang menempel di kening gue, “Yeee denger dulu penjelasan gue. Coba deh lo baca semua isi smsnya.”

“Bentar..”

Ikhsan pun membaca semua SMS yang gue dan Matematika Buku Cetak lakukan dari kemarin siang hingga malam. Berkali-kali ketika sedang membaca sms gue, ada raut aneh tampak di wajah Ikhsan.

“Nah gimana menurut lo?” Tanya gue setelah Ikhsan selesai membaca semua pesan yang ada di HP gue.

Ikhsan menaikkan alis, melihat aneh ke arah gue. “Lo Gay ya?” Tanyanya sinis.

“Anjir, ada angin apa lo tiba-tiba nanya gue gay?” kata gue tersinggung.

“Cowok kok curhat sama orang nggak di kenal? Gay banget tau gak.. Hih..” Ucap Ikhsan sembari melepas seragamnya.

“Yeee yang jadi masalah bukan itu. Dia itu siapa san, gue penasaran.”

“Tadi kalau nggak salah pas gue baca, dia juga anak kelas kita kan?” Tanyanya lagi.

“Iya, maka dari itu sekarang gue harus menyelidikinya.”

“Serah lo deh. Btw, tadi sepintas gue baca rasa-rasanya lo lagi ada masalah ya?”

“Ah gampang itu, nanti gue ceritain deh, sekarang balik ke kelas dulu. Gue mau melancarkan rencana gue.”

.

Gue pun bergegas kembali ke kelas yang sudah kosong karena ditinggalkan penghuninya yang pada pergi menuju lapangan basket. Di sana hanya ada gue dan Ikhsan doang. Sesampainya di kelas, gue langsung memeriksa setiap tas mencari setiap HP yang bisa gue temukan.

“Lo ngapain sih nyet nyari HP orang? Ntar disangka mau nyolong baru tau rasa lo.” Ucap Ikhsan.

“Gue mau miskol HP gue pake HP mereka, gue pengen tau HP siapa yang ternyata ketika gue miskol nanti, muncul nama Matematika Buku Cetak di HP gue.” Jawab gue sembari terus mencari.

Ikhsan yang selalu menjadi partner in crime gue pun turut membantu, dia menggeledah setiap tas anak cewek, mengambil HPnya, dan langsung miskol ke HP gue.

Tapi setelah 30 menit lebih gue dan Ikhsan mencari, tak ada satupun nama Matematika Buku Cetak Hal.17 yang muncul di HP gue. Gue penasaran, apa jangan-jangan ada anak yang punya 2 HP dan kebetulan HP tersebut ditinggal di rumahnya ya?

Lagi mencoba berpikir tentang segala kemungkinan yang ada, mendadak Ikhsan mengaggetkan gue.

“Last HP nih nyet.” Jawabnya dari ujung belakang kelas.

“HP siapa?” tanya gue.

“Ngg.. Ipeh.” Jawabnya sambil mengotak-ngatik Hp tersebut.

“Wew, HP preman tuh. Coba lu miskol gue.”

“Bentar..”

Ikhsan pun melakukan perintah yang gue suruh tanpa banyak tanya. Tak lama kemudian HP gue bergetar, dengan sigap langsung gue lihat apakah Ipeh adalah seseorang yang selalu memberi perhatian ke gue beberapa hari ini?

Namun ternyata nihil. Bukan nama Matematika Buku Cetak yang muncul di layar HP gue, melainkan sebuah nomer asing. Ternyata bukan Ipeh. Terus siapa dong kalau gitu?

“Dah ah nyet, capek gue. Ke lapang nyok.” Ajak Ikhsan seraya menaruh HP Ipeh kembali ke dalam tasnya.

“Yaudah deh, yok buruan keburu di absen.” Ajak gue sembari pergi meninggalkan kelas.

Namun, ketika gue dan Ikhsan selesai mengunci pintu kelas dan hendak beranjak pergi menuju lapang basket. Mendadak ada sosok kak Hana tak muncul di ujung lorong kelas dan berjalan ke arah gue. 

Sontak gue terkejut, Ikhsan pun begitu. Dari jauh gue bisa melihat ada tangis menetes dari mata kak Hana. Namun tak ada rasa kasihan sama sekali yang muncul di hati gue. Satu-satunya rasa yang muncul ketika melihat kak Hana adalah rasa yang sama ketika gue melihat sosok dirinya muncul di kelas waktu dia masih meng-ospek gue kemarin. Sebuah rasa benci yang nggak karuan.

Kak Hana berjalan perlahan mendatangi gue. Ikhsan yang saat itu menyadari suasana sedang tidak kondisif, meminta izin ke gue untuk pergi duluan ke lapang basket. Namun belum sempat dia pergi, gue langsung menahan tangan Ikhsan, dan menatapnya dengan tatapan lo-di-sini-aja-lo-harus-tau-semua-nya-tentang-apa-yang-terjadi-antara-gue-dan-kak-Hana.

Melihat hal ini, Ikhsan membalas tatapan gue dengan tatapan traktir-makan-nasi-goreng-katsu-tapi-yak-nanti-pas-istirahat.

Astagaaa!!
Nih anak perhitungan banget!
Sambil mengeluarkan raut wajah menyeramkan, gue bales lagi tatapan minta traktir itu dengan tatapan bangsat-kaga-tau-temen-lagi-susah-ya-lo?!-bantuin-gue-bentar-ngapa-sih-nyet!

Ikhsan pun terkejut di depan tatapan gue tersebut. Ia langsung menunduk sembari mengeluarkan tatapan, gue-kan-cuma-bercanda-sob-ampuuuunn..

.

                                                         ===

.

Keadaan saat itu begitu sepi, ntah kenapa tampaknya setiap ada sebuah masalah baru, Tuhan selalu menempatkan gue pada tempat yang seharusnya. Hari itu hanya ada Ikhsan yang menjadi saksi bisu atas apa yang akan terjadi antara gue dan kak Hana.

Semakin kak Hana mendekat, semakin jelas juga gue melihat banyaknya air mata yang bertumpuk di kelompak matanya. Namun kali ini berbeda, tak ada rasa ingin memeluk, atau ingin memanjakan di setiap bulir yang perlahan terjatuh itu. Jika kak Hana bisa memilih, maka gue juga berhak untuk memilih.

Jika itu adalah jalan yang ia pilih kemarin, maka jangan salahkan gue jika ini adalah jalan yang akan gue pilih sekarang. Kak Hana mulai menghampiri gue, tak ada kata yang ia ucapkan, tak ada penjelasan yang ia utarakan, ia hanya datang dan langsung memeluk gue erat.

Gue terkejut, perasaan benci gue mendadak goyah. Tembok kebencian yang gue bangun dari kemarin lusa benar-benar bergetar hebat disetiap erat detak pelukannya terasa. Air matanya terasa membasahi seragam sekolah gue. Suara senggukannya karena menahan air mata terdengar jelas di telinga gue.

Semakin lama, gue semakin bimbang. Gue goyah, gue mengepalkan tangan berusaha untuk tidak terbawa suasana. Jika gue berkata bahwa gue tidak cinta, gue adalah pembohong paling munafik yang ada di dunia. Jika saat itu gue bilang bahwa gue tidak ingin membalas pelukannya, gue adalah orang paling tolol di dunia.

Mata gue terpejam, mencoba menahan perasaan yang perlahan berubah menjadi air mata. Gue menarik nafas pelan-pelan, menahan perih di daerah hidung karena berusaha menahan tangis. Mungkin ini yang orang-orang benci dari sebuah perpisahan yang harus dilakukan dengan cara berjumpa empat mata. Sebesar apapun mereka mencoba melepaskan, sebesar itu pula rasa perih akan terus menghujam hati mereka sendiri untuk mengingkari semua rencana yang telah mereka buat selanjutnya.

Dalam kamus Don Juan gue, fase ini adalah fase yang gue sebut sebagai fase “Ujian Akhir Nasional” atau “UAN”. Kenapa gue sebut fase seperti itu? Karena memang kejadiannya mirip seperti anak-anak SMA kelas 3 yang telah menyelesaikan Ujian Akhir Nasional. Mungkin sebelum mereka melewati UAN, mereka akan berpikir untuk cepat-cepat pergi meninggalkan sekolah karena bosan berangkat pagi dan pulang sore, ingin cepat-cepat masuk kelas tanpa harus mengenakan seragam, ingin cepat-cepat kuliah karena kuliah itu banyak liburnya.

Namun tepat setelah mereka melewati Ujian Nasional dan pada hari kelulusan, mata mereka akan mendadak berkabut karena mereka menyadari bahwa mereka tidak akan bertemu lagi dengan jadwal ketat dari jam 06.45 hingga 14.30.

Atau mereka mulai menyadari bahwa sebentar lagi mereka tidak akan mengenakan seragam kesayangan mereka lagi itu. Dan bahkan mereka akan mulai merindukan saat-saat sibuk pemantapan dan les kesana kemari di kelas tiga kemarin. Dan fase inilah yang tengah gue hadapi ketika kemarin gue harus melepas Wulan, dan kampretnya juga, rasa ini kembali muncul ketika sekarang gue hendak melepas kak Hana.

Tiap erat pelukannya membuat gue merasakan bahwa peluk ini adalah peluk terakhir yang akan gue rasakan lagi. Hangat canda suara yang tengah ia suarakan adalah hangat canda suara yang kelak tidak akan pernah gue dengar lagi. Ikhsan yang melihat ini hanya terdiam berusaha tidak menunjukkan gelagat terkejut karena melihat kakak Keamanan galaknya itu sekarang tengah menangis dan memeluk gue.

.

.

.

.

.

                                                Bersambung

Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.
.
Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab,
“sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit”.
.
Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yg sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu..
.
Ketika malam tiba, ada yg mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “siapa?”
.
Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra2mu”.
.
Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah.
.
Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah.
.
Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.
.
Kemudian Rasulullah Saw datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yg terdapat dalam bingkisan tsb.
.
Kemudian Rasulullah Saw menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dg penuh cinta dan kasih sayang.
.
Rasulullah Saw bertanya kpd Sayyidah Fathimah, “Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab:
“Iya, aku melihatnya”,
.
Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga…”
.
Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah berbahagia dan bersedih jika mereka bersedih….
.