mencintai-dalam-diam

Kita akan dipertemukan dengan campur tangan Tuhan. Tersadarkan bahwa nama kita pernah bertemu di catatan sebelum kita dilahirkan dengan isyarat. Isyarat yang nantinya juga akan kita temukan sekarang ataupun nanti. Hingga kemudian kita sadar betapa berharganya pertemuan sampai kita disatukan. Dan saat nanti perpisahan akan memainkan perannya, ingatlah betapa indahnya Tuhan mempertemukan kita.
—  dalam sebuah perjalanan

Seberapa kuat kita tetap berada diposisi seperti ini? Saling berdoa, saling mengagumi, saling mengetahui. Meski tanpa ucapan, tanpa tindakan, tanpa tatapan.

Jika rasamu mulai luntur, tetap ingatlah aku sebagai wanita yang pernah menyayangimu. Bukan wanita yang menyakitimu lalu baru menyadari betapa tulusnya dirimu waktu itu.

Jika suatu saat kita bertemu kembali pada waktu yang tidak pernah kita ketahui, anggaplah aku sebagai sebagian dari masa lalu yang selalu berdoa untuk kebahagian di masamu yang akan datang.

Karena kata-kata ini tercipta pun karena aku masih menyimpan suatu perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa artinya. Mungkin itu cinta mungkin itu sayang mungkin itu kekaguman dan yang pasti itu semua hanya kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah aku tahu kapan dan dimana aku akan menemukan jawabannya.

Tetapi tetap, aku menginginkanmu baik-baik saja seperti dirimu meminta-Nya agar selalu menjagaku.

Ada rindu dari balik punggungmu.

Apakah Diam adalah Cara Terbaik dalam Mencinta?

Apakah diam adalah cara terbaik untuk mencintai?
Aku belum tahu tepatnya.
Apabila jawabannya iya, maka aku akan tetap pada posisi ini diam-diam mencinta, tanpa ada tanya, tanpa dusta, tanpa terka, tanpa pura pura. Hanya diam dan tetap selalu menyebut namanya di setiap doa yang terpanjat.

Pun jika jawabannya tidak, aku akan tetap begini. Diam-diam mencinta. Entah ini cara terbaik atau tidak, karena ini adalah satu-satunya caraku untuk jatuh cinta pada apa yang ada padamu.

Aku cinta bukan karena sengaja jatuh untukmu, tapi karena Tuhan yang mengirimkan rasa ini tiba-tiba dari kekaguman yang ada di awal pertemuan. Maka dalam diam ini aku menanti jawaban Tuhan, akankah kamu yang benar untukku ataukah aku ternyata adalah tulang rusuk dari orang disana yang juga mengagum diam-diam.

Mungkin jodohku nanti belum tentu kamu yang kucinta diam-diam, tapi yang pasti jodohku nanti adalah yang akan ku cinta dalam gelap atau terang, dalam suka atau duka, dalam lisan atau tulisan, dalam mimpi atau pasti. Karena mencintai dia adalah kewajiban perasaanku.

Tapi kini aku masih menanti, dan kini hatiku masih diam diam mencinta dia yang namanya kusebut dalam doa, tapi belum ku tau akankah di masa depan aku mencintanya terang-terangan atau justru menguburnya dalam-dalam.

Aku tahu, seberapa seringpun aku berdoa untukmu. Seberapa seringpun aku menyebut namamu dalam dialogku pada Sang Pencipta. Untaian doaku tak kan pernah sampai padamu, bahkan menyapamu pun tidak. Tapi paling tidak aku tetap boleh meminta satu hal ini bukan? Aku berharap doa yang ini tidak sia-sia. Semoga Allah menyapamu dengan cahaya hidayah-Nya, sehingga aku bisa leluasa berharap doa-doaku bisa mencapaimu, tak lagi sia-sia. Itu saja. :-)
Dan ada saatnya ketika bulan justru yang akan merindukan pungguk. Karena mungkin Allah telah mengabulkan doa-doa panjangnya ketika menatap rembulan dari kejauhan, karena mungkin sudah saatnya dia mendapat sinar rembulan yang ia kagumi setiap malam dari sudut yang sama sekali tidak pernah rembulan tahu. Percayalah, itu mungkin. Karena Allah malu untuk tidak mengabulkan doa hamba-hamba yang selalu setia bersimpuh memohon pada-Nya. Bila tidak kini mungkin nanti, dan waktulah yang akan menyibak misterinya. Percayalah :-)