memuja cinta

Masyarakat Sakit

Kita ini masyarakat euforia, masyarakat yang merayakan hal - hal baru dan heboh dengan cara yang tidak selalu menyenangkan.

Kita ini masyarakat dualisme, yang mudah mengikuti ide - ide yang kadang tidak kita evaluasi lagi kebaikannya. Sepanjang menyenangkan, ide itu kita sepakati sebagai gurauan. Jika tidak asik meski benar, kita menolak atas nama kebebasan.

Kita ini masyarakat sok tahu, yang mudah menghakimi orang lain dengan kata - kata buruk lalu disebarkan dengan penuh kebencian. Kita berkomentar buruk tentang agama lain bahkan tanpa pernah menanyakan pada pemeluk taatnya mengapa begini mengapa begitu.

Kita ini masyarakat yang menanggung terlalu banyak masalah di dalam rumah, sehingga bahagia mendengar masalah orang lain yang membuat pikiran kita teralihkan sebentar. Kita senang jika orang lain sedih, kita sedih jika orang lain senang.

Kita ini masyarakat sakit, yang mudah terjangkit virus oknum - oknum yang mengaku jurnalis dan menyusun cerita fiksi, tentang kebenaran yang disulap jadi kejahatan, dan keburukan yang disulap jadi kehebatan. Stigma - stigma bodoh ditanamkan agar kita enggan untuk menyeluruh meyakini agama.

Kita ini masyarakat latah, yang serba ikut pada keramaian karena suatu masalah. Kita sekedar mengulang dan bercuit tentang yang kita baca sekilas, tanpa kita dalami maknanya. Kita ingin dianggap pintar, lalu berpartisipasi dalam setiap komentar.

Kita ini masyarakat dongeng, yang memuja kisah cinta indah tentang Cinderella mendapatkan cinta sang pangeran. Kita dijejali drama - drama mendayu tentang kesabaran yang seakan harus dimanifestasikan dengan diam.

Kita sedang sakit, tapi enggan mengaku bahwa kita sedang sakit.

Yuk ah, sadari penyakit kita, dan bertekad untuk sembuh. Untuk masyarakat yang lebih baik.