memudahkan

Ada Allah yang akan memudahkan apa apa yang Dia rela dan ridhoi atas kita. Maka menerima keadaan setelah bersusah lelah adalah rejeki yang sering terlupa. Maka menerima apapun jenis keputusan yang Allah kasih setelah jerih payah perjuangan kita, adalah rejeki yang tidak semua orang bisa rasakan.

Yang banyak adalah yang terus mengeluh. Yang sedikit, yang menerima dengan hati lapang.
Yang banyak adalah yang protes dan mencaci takdir.
Yang sedikit adalah yang memperbaiki lalu berbahagia dengan yang belum.

Jadikan kita golongan yang sedikit, yang selalu rela dan paham betul bahwa hidup kadang bukan selalu tentang menang atau kalah, tapi tentang menerima.

Menerima apa apa yang kita tidak mengerti tapi percaya sepenuhnya, jika itu dari Allah, maka pasti baik.

Selamat berjuang sampai menang ya sayang. Dalam setiap tangis itu, Allah, tidak pernah tidak lihat ( ・ิω・)ノ ิ

Made with Instagram
Bicarakan, Tuliskan.

Mengenal diksi dan aksara tanah sendiri memenangkan banyak hal untuk saya.

Yang asing bisa jadi memang memudahkan penjelasan dan membuka pintu-pintu serta jalan, tapi yang terbicara oleh ibu sejak lahir lah yang menawarkan makna.

Ini saya yang harus banyak meminta maaf, Bahasa Indonesia.

anonymous asked:

Abang kayagimana misalnya kalo pas masih sayang2nya terus pacar abang minta dilepasin gitu karna dia pergi ke luar kota lama dan katanya komunikasi susah? Tapi abang masih sayang bgt nih misal? Nah kygimana bang?

segimana susahnya sih komunikasi di jaman sekarang? agaknya kalo mau usaha mah bisa aja. laen hal kalo itu emang alesannya aja. karena dia butuh seseorang yang bener bener ada di dekenya dia, yang ngga cuma ngasih perhatian lewat chat, telpon, atau semacamnya. teknologi emang memudahkan, tapi ngga bisa menggantikan kehadiran juga kan? kalo emang alesannya gitu, aku ngga bisa bilang apa apa. haknya dia, ngga bisa maksa.

PFA: Daily life

Ceritanya kemarin saya secara iseng datang ke kuliah umum salah satu partner riset professor saya. Temanya cukup menarik, tentang pengalaman beliau, yang seorang perawat senior sekaligus peneliti, turut andil dalam penanganan bencana di dunia, terutama di Jepang. Yang menarik, salah satu sub-temanya adalah Psychological First Aid, tentang bagaimana relawan dan relief team menangani survivor yang mengalami PTSD, goncangan mental, dll. Tertarik dengan dunia psikologi sejak kuliah, saya pun sangat excited mendengar kuliah beliau, apalagi beliau bilang, selain diterapkan di kondisi emergensi, PFA bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, di lingkungan sosial sekitar kita.

PFA pada dasarnya bertujuan mengurangi stress yang dialami seseorang setelah mengalami guncangan atau kejadian traumatik, misalnya bencana. Tujuannya juga untuk mengurangi  kemungkinan seseorang mengalami masalah kesehatan mental, dan memudahkan proses trauma-healing. Meskipun pada dasarnya PFA memang untuk kejadian emergensi, ada banyak hal yang saya akui bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, missal ketika melihat teman mengalami stress dan mencari tempat bercerita, mencari bantuan solusi atau trauma-healing untuk diri sendiri.

Dari modul PFA, ada banyak hal yang bisa dipelajari, misalnya bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bahwa untuk mendapat kepercayaan dari orang lain, kita harus mau mendengarkan, mampu menenangkan, sabar, peka, dan responsif. Hmm..sulit juga sih jadi orang seperti itu, mengingat setiap manusia memiliki ego. Berarti ego pribadi juga harus ditahan.

Misal seseorang punya masalah dan cerita ke kita, untuk membantunya mengurangi rasa stress atau trauma, ternyata baiknya kita tidak fokus ke detail kejadian (a.k.a kepo bertanya) -padahal kebanyakan secara tidak sadar pasti kita melakukannya, kan?- melainkan lebih fokus untuk encourage dia bahwa things will get better dan kita ada untuk menemani mereka.

Termasuk tentang self-healing, atau membantu orang lain dalam proses trauma-healing, hasil terbaik didapatkan dari rasa optimis dan pikiran yang positif, penerimaan, dan keyakinan bahwa semua yang terjadi memiliki sisi baik. Things will work out as well as can reasonably be expected. Proses healing sendiri bukan tentang proses melupakan, tapi menerima dan lama-lama menjadi biasa. Ibaratnya hal buruk yang terjadi merupakan garis merah di memori yang terpetakan dalam otak kita, dan hal baik merupakan garis biru, maka saat kita berhasil menjalani proses healing, semuanya menjadi garis biru dalam memori kita.

Menarik banget modul PFA ini, dan jadi bikin ingin belajar lebih banyak, tapi sayang belum ada riset yang berhubungan dengan PFA. At least modulnya bisa dibaca di sini.

Menjadikan Malu sebagai Pemicu

“Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, sedangkan orang-orang yang diberi ilmu (Allah angkat) beberapa derajat.” (Al Mujaadilah 11).

“Barang  siapa menempuh jalannya untuk mencari ilmu, maka Allah mempermudah kepadanya jalan ke surga.”  (H.R.Muslim)
—–

Tadi, sebelum tidur siang,selesai membaca artikel tentang seorang Mba Dewi yang menjalani kuliah S2 dan S3 di luar negeri dalam keadaan hamil kemudian mengasuh anak. Saya jelas malu, karena perjuangan saya jelas belum apa-apa dibanding beliau.

Tapi, setelah saya scrolling artikel2 beliau, saya jadi paham bagaimana beliau bisa menjadi seperti demikian, menjalani hidup yang luar biasa. Beliau berasal dari keluarga sederhana yang terbiasa berjuang bersama. Kembali, saya makin malu karena saya merasa dilahirkan ke dunia dalam keadaan serba mudah. Waktu melahirkan saya, orang tua masih bekerja tetapi sudah lebih anteng dibandingkan dengan saat melahirkan kakak-kakak saya. Jadi saya terbiasa menerima semuanya dalam kondisi mudah dan memudahkan.

Mental saya tidak setangguh mereka, para pejuang.

Tapi lalu kini, saya sadar bahwa kehidupan yang nantinya dijalani, akan mensyaratkan kematangan pribadi dan kemampuan bekerjasama, minimal dengan pasangan hidup. Karena yang lebih luas, kita harus mampu bekerjasama dengan baik bersama masyarakat yang heterogen.

Gemblengan selama saya menjalani pendidikan, saya rasa masih sangat kurang bagi saya untuk menjalani hidup. Sampai suatu saat, datanglah seseorang (yg sekarang jadi suami saya), untuk menguji iman, tekad saya yang masih kuliah, serta keinginan2 terpendam yang dulu sempat saya utarakan pada yang Maha Kuasa.

“Allah, nanti, saya ingin memiliki suami yang besar karena kerja keras, yang mampu berperan di tengah kesederhanaan hidup, dan mau mengajari saya arti berjuang” begitu kurang lebih pinta saya padaNya.

Entahlah, saya berhusnudzon saja padaNya, bahwa Allah adalah benar-benar Maha Mendengar dan Maha Mengerti. Saya dihadapkan pada pilihan fokus melanjutkan penelitian dan amanah di kampus tanpa gangguan apapun, atau menerima seseorang yg tiba2 datang saat saya sedang semangat2nya menyelesaikan amanah kampus, untuk lalu membersamai saya.

Dengan mantap, di tengah bermacam urusan yang harus segera saya selesaikan, saya memutuskan untuk menikah. Mungkin banyak yang mengira saya terlalu terburu-buru dan gegabah. Tapi, insyaallah saya tahu konsekuensinya. Saya sedang ingin menjadi perempuan yang lebih kuat dari sebelumnya. Saya ingin lebih bermanfaat dengan kemampuan yang ada.

Meski hari-hari berikutnya adalah hari yang sangat penuh tantangan dan kejutan. Saya harus terus bersyukur. Tidak banyak yang diberi kesempatan seperti ini.

Hingga di umur pernikahan kami yang baru genap sebulan di awal Juni lalu, saya mendapati diri saya positif hamil. Allah, ada lagi? Saya sempat berkecamuk waktu itu, karena pesan ibu, kalau bisa, tunda dulu kehamilan, selesaikan kuliahnya..

Tapi, saya dan suami tidak berani berucap, “Ya Allah, ijinkan kami selesaikan urusan kami dulu, dan anugerahkanlah kami anak saat semuanya siap..”. Kami tidak berani berucap begitu. Doa kami ketika sudah bersama adalah, “Mampu dan kuatkan kami untuk menerima segala ketetapanMu”. Dan qadarullah, saya hamil, sebelum saya selesai dengan bermacam urusan.

Saya lalu meyakinkan diri dan suami bahwa kami bisa melewati semuanya bersama. Meyakinkan ibu dan bapak bahwa insyaallah saya akan selesaikan semuanya meski pelan-pelan. Meyakinkan dosen pembimbing bahwa kehamilan bukanlah halangan untuk saya menyelesaikan studi, meskipun beliau pesimis karena dari awal saya lamban bergerak.

Dan kini, setelah berminggu-minggu dihadapkan dengan kecemasan, ketakutan, keraguan, dan segala hal yang membuat badai dalam diri (haih, badainya dibuat sendiri, cemen sih). Saya berusaha mengumpulkan semangat dan keberanian untuk maju menyelesaikan studi. Semangat ini belum boleh surut. Semangat ini masih harus berapi-api. Meskipun tidak secemerlang langkah Mba Dewi di atas, setidaknya saya, kita, mampu melalui segala tantangan yang ada.

Semangat lah teman2 yang sedang kuliah bersamaan dengan menikah, hamil, bahkan membesarkan anak. Saya yakin teman2 jauh lebih tangguh dibanding saya.

Motivasi yang dituliskan Mba Dewi dalam artikelnya, adalah dari Al Quran dan Sunnah. Seperti di awal tulisan ini.

Lebih lengkapnya, silakan baca kisah beliau di link ini https://dewinaisyah.wordpress.com/2015/03/25/being-a-student-mom-you-can-do-it/

Semarang, 18 Juli 2016

JODOH itu seperti KEMATIAN..
Yang tak akan salah sasaran..

Bersabarlah..
Sebab ada banyak cara yang Allah berikan..
Untuk mempertemukanmu dengan jodoh yang Dia pilihkan..

Halalkan atau tinggalkan..
Karena yang bawa bunga pada akhirnya akan kalah dengan yang membawa ke Surga..

Tetaplah ta'at dalam kesendirian..
Tetap bertaqwa dalam penantian..
Semoga Allah memudahkan..

Wallahu ta'aala a'lam bishshawab

Daripada Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersada yang maksudnya, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan orang yang beriman daripada kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melapangkan orang itu satu kerumitan dari kerumitan akhirat. Dan siapa yang memudahkan orang yang susah, Allah akan memudahkannya didunia dan diakhirat. Siapa yang menutup keaiban orang Islam, Allah akan menutup keaibannya didunia dan diakhirat. Dan Allah sentiasa menolong hamba itu selagi hamba itu mahu menolong saudaranya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Dalam segala hal (urusan akhirat) Rasulullah SAW telah contohkan cara terbaik. Cara terbaik yang mudah dan memudahkan serta dicintai Allah. Siapa saja yang mencontohnya berarti dia telah bersungguh meraih cinta Allah.

*IAY