memburu

Di Indonesia, bisa menikah cepat seringkali dianggap lebih berprestasi dari pada yang tengah berjuang agar banyak bermanfaat bagi masyarakat. Lucu.
— 

Yang sedang berjuang menuju cita-cita dan berusaha memberi manfaat diburu-buru menikah. Tapi yang sudah menikah dan leyeh-leyeh tidak diburu-buru untuk memburu ilmu.

Alibinya sunnah. Alibinya ibadah. Seakan yang sudah menikah sudah pasti lebih baik dari pada yang belum menjalani. Padahal fakta di lapangan tidak selalu begitu. Bukankah setiap manusia bisa memilih jalan ibadahnya masing-masing tanpa perlu kita ikut pusing? Bukankah yang masih sendiri juga sedang berjihad memerangi hawa nafsunya? 

Memangnya, kita yakin bahwa ketika sudah menikah nanti, kita lebih bisa beribadah dengan baik dari pada ketika sendiri? Bagaimana jika keluarga yang dibentuk tidak dengan pondasi kuat justru menjadi benalu masyarakat?

Judging bahwa saya bukan ummat Rasul karena berkomentar sinis soal pernikahan? Oh, tidak. Tentu saja menikah itu harus, dan saya akan menikah, tidak lama lagi rencananya. Yang saya tidak suka hanyalah paradigma (sebagian) masyarakat Indonesia yang kebetulan tinggal di sekitar saya, itu saja.

Menikah memang ladang pahala. Tapi menikah juga bisa menjadi ladang dosa, sebab di saat yang sama banyak kemungkinan zalim di sana. Karenanya, tidak semua dari kita punya keberanian lebih untuk memulainya segera. Tidak semua dari kita diberi kesiapan dan kelebihan untuk memperolehnya, barangkali belum kuat menjalani.

Jadi, santai saja pada takdir orang lain, tidak usah berisik. Terutama jika kita tidak bisa bantu apa-apa. Barangkali hidupnya sudah riuh oleh takdir yang dia harapkan namun belum juga datang. Jadi kita tidak usah menambahkan beban, jika takbisa memberi bantuan.

inspirasi.co
Untuk Fahd Kecil, Selamat Ulang Tahun
Untuk Fahd kecil, selamat ulang tahun. You are the reason I made this writing. Teruslah menjadi Fahd kecil yang terluka di dalam sana, biar aku saja yang menjadi tua. Seperti hari ini, ketika aku berusia 30 tahun dan kau tetap mendengus dengan nafas terengah-engah di dalam sana.
By Fahd Pahdepie

Untuk Fahd kecil, selamat ulang tahun. You are the reason I made this writing. Teruslah menjadi Fahd kecil yang terluka di dalam sana, biar aku saja yang menjadi tua. Seperti hari ini, ketika aku berusia 30 tahun dan kau tetap mendengus dengan nafas terengah-engah di dalam sana… Di dalam hatiku. Teruslah berlari. Teruslah memburu!

kenapa Ahok selalu dipersepsikan sebagai “Kekuatan baik yang jujur?” Ahok itu juga politisi biasa, tahu-kah anda, Ahok di tahun 2005 menang di Pilkada Bupati Belitung Timur, kemudian di tahun 2006 dia letakkin jabatan malah ngejar Pilkada Gubernur Babel tapi kalah telak, dia kehilangan jabatan, tanpa jabatan ahok merayu rayu PDIP untuk calonkan dia di Sumut, tapi PDIP menolak. Kemudian dia loncat dari Golkar ke Gerindra untuk memburu jabatan Wagub DKI,sebenarnya PDIP menolak Ahok sebagai wagub, calon kuat dari PDIP saat itu untuk wagub yang dipasangkan Jokowi adalah Deddy Mizwar, tapi PDIP menghormati koalisi dengan Gerindra, namun Gerindra jadilah Jokowi-Ahok, kemudian Ahok keluar dari Gerindra, ia berharap dapat dukungan independen, tapi ia blunder luar biasa, ia malah kembali ke Golkar, jadi Ahok juga player biasa dalam industri politik, hanya blow up media sajalah yang membuat seakan akan moralis besar. Tapi dia juga melakukan kesalahan politik dengan tim komunikasi yang menerapkan “Superior Verbal” ini beda dengan Jokowi dan tim suksesnya saat calon gubernur dan Presiden dimana Jokowi menggunakan kata kata “Merangkul”.
—  Kata bang anton
7

Segelintir Dajal² yg bertopengkan manusia yg aktif dari dulu lg mengambil kesempatan dgn mengunakan aplikasi sosial berhubung & memburu para² ISTERI ORANG yg sblm ini alim & berusaha sedaya boleh mempengaruhi membenci Suami sendiri & mendorong ke arah Curang, Kehancuran Rumah Tangga orang lain & menjemput Zina yg membawa hukuman MAUT semata-mata hanya utk memuaskan Nafsu Seks mereka yg dahaga hanya pd para² ISTERI ORANG lain……..
~
[ PERHATIAN ]

& INGATI wajah² segelintir ahli² DAJAL ini sblm menjadi mangsa mereka…..mereka mampu ;
~. Cuba berbual & berbaur seks cuba memesongkan akidah isteri….
-
~. Merayu damba & pelbagai teknik utk mendapatkan gmbr² bogel dr mangsa…
-
~. Berusaha utk bertemu dgn pelbagai helah….supaya pertemuan dpt mencuba nasib…..
(hati² ada jua yg guna sihir bile dpt bertemu)
-
~. Cubaan mencabul mangsa & jika berjaya menunduk kan mangsa…..akan jua cari jln merakam kan kejadian….

Sekira ahli Dajal² spt ini berjaya….dgn bukti² hidup yg ada akan di jadikan bahan ugut buat mangsa, maka akan di jadi hamba seks mereka hingga bosan, ada jua akan meminta wang & x heran jua di paksa melacurkan diri……..
#
PS:
Sedarlah, mula² shj tampak manis & baik sekali hingga xsedar…permulaaan perkenalan itu pun dh nmpk ke arah DURJANA…..& pasti pengakhiran ia akan ke arah Kehancuran hidup di Dunia hinggakan mandi wajib Isteri yg Zina ini tidak di terima….serta Express ke NERAKA JAHANAM yg smmg nya PASTI…….
Mereka mungkin masih lg berpeluang mengubah hidup dgn mudah…….tapi mangsa akan tanggung Azab menderhakai suami hingga ke Akhirat……

Astafirullah Al Azim……..

ASA - Bagian 9

Lama lelaki Itu menatapku. Ya! Lelaki yang kulihat di depan Coffee shop No 27. Lelaki yang dengan cepat membuang muka dan memasang earphone ketika aku melempar pandangan kearahnya. L-e-l-a-k-i I-t-u, termangu. Lima detik .. sepuluh detik .. aku menunggu tanpa jawaban. 

Merasa sudah ditunggu oleh Wendi, akupun segera berpaling. Lelaki Itu tak sedikitpun berusaha untuk menahanku. “Mungkin dia fikir aku teman lamanya. Ternyata cuman mirip.”, pikirku santai. Sambil bergegas menaiki sepedaku dan menjauh pergi. Kemudian berbelok ke Jalan Beo.

Aku mengerem sepeda biruku di depan rumah bercat putih dengan pagar kayu yang dihiasi tanaman rambat berbunga kuning. Mengatur nafas yang memburu setelah mengayuh sepeda. Aku sampai di rumah.  Memanggil Wendi dari balik pintu pagar.

“Wen, kamu ngapain disini?”, aku berteriak sembari mengatur nafas.

Saat itu Wendi tengah duduk-duduk di teras, memainkan ponsel. Game biasanya.

“Hai, Tar!”, jawab Wendi sambil melambaikan tangan. 

Ia berjalan menghampiri. Membukakan pintu pagar. Menertawai ku yang terlihat ngos-ngosan. Meminta sepedaku, lantas dituntunnya menuju teras. Aku mengikuti dari belakang. 

“Kenapa nggak ngabarin kalo mau ke rumah. Nggak biasanya. Kamu kan tahu, liburan gini aku biasanya sepedaan. Nggak ada di rumah.”, aku nyerocos satu tarikan nafas. 

Wendi tertawa. Membuat mukaku semakin merah padam. 

“Mendingan kamu ikut aku, yuk!”, ajak Wendi. 

“Kemana?”, tanyaku bingung. 

“Ayo ikut aja lah, Tar…”.

Wendi langsung menarik tanganku tanpa izin. Memasangkan helm bundar berwarna merah jambu yang selalu ia sediakan untukku. Terdengar bunyi “Klik”, tanda helm sudah terpasang dengan benar. Aku menurut saja setelah setengah dipaksa untuk segera naik keatas vespa. Menyusuri rute jalan persis sama dengan rute yang kulalui tadi pagi ketika naik sepeda. Rupanya, ia mengajakku ke Museum Affandi.

“Sudah lama ya kita nggak kesini. Terakhir kali kan waktu itu.”, Wendi berkata sambil tersenyum, memandangiku. Aku hanya diam. Bahkan aku belum memutuskan untuk turun dari vespa. Kami berdua tahu persis apa maksudnya.

Keep reading

Setumpu

Aku pernah menjadi tunjal dalam embara panjang yang belum menemui tampuknya
Sebelum punggung calar oleh tinjak-tinjak jemawa
Perkara kau terlampau asyik memburu hasrat lompong di depan mata

Celotehku lahir dari kerikil yang menggisil kala tapakmu menyisir siku-siku jalan
Sudi terhunjam anak panah bentala, hingga kehendak kau dekap dalam kornea
Lalu pesai segala narasi bersamaan dengan lerak tali dari kaki

Kau ialah tubuh ambisi semegah loka
Sementara aku hanya sepasang sandal lusuh; termakan susuh
Yang mengantarmu beranjak dari senyapnya desa pada keramaian ibu kota

— Firdha Indrastikha, 2016 —

Sang Pemberontak Semesta

Hidup tidak memberiku kebebasan. Mengekang didalam lilitan waktu. Memburu umurku. Menempatkan aku dalam nestapa

Aku kelelahan, terbelenggu dalam problema tanpa tepian. Langkahku gagap menyusuri setapak berbatu tak bertuan. Berat, tanpa arah tujuan, tanpa kawan. Hanya sendiri di sudut semesta berteman deras hujan.

Ingin rasanya kuteriaki dunia.
Mencaci maki alam semesta. Bukannya tak bersyukur, aku hanya memprotes kehidupan. Atas ketidakadilan yang memperlakukanku dengan semena-mena.

Tapi entahlah, dunia sepertinya menjadi tuna rungu terhadap teriakanku. Bahkan sekitar pun tutup mata tanpa jeda. Mungkin benar aku sedang jatuh, terjerembab tanpa tau cara merangkak serta bangkit. Tanpa uluran semesta yang merengkuhku.

Begitu tajamnya semesta menancapkan perih pada masaku. Memberi harap yang kenyataannya semu. Aku akan berontak, membangkang semua takdir. Siapa bilang manusia harus tunduk pada takdirnya!

Hei, dunia yang semakin congkak; mencekik napas insan tertindas hingga sesak. Aku akan terbang bebas mengepakkan sayap tak peduli jarak. Berlari meninggalkan jejak nestapa dalam setapak. Kan ku tagih bagian semesta yang masih menjanjikan harapan; lepas dari kejamnya kelelahan yang pernah membuat tersentak.

Bogor - Padang
6 Agustus 2016

Ps: Kolaborasi antara dua insan dengan keanehannya masing-masing. Terima kasih kepada Tuan @catatanpluviophile pecinta es krim mcd, kapan-kapan kita cipta temu sambil kolaborasi dan makan es krim 😁😁

Akhtaj

akhtaj : akh·taj kl n orang yg takluk

Selama ini aku terjebak di distraksi dunia.
Mana yang benar mana yang salah.
Sanggahan purnama tengah hutan.
Aku menyusuri kedalam gelap malam.

Aku kenal sekali perasaan satu ini.
Dimana selalu membuat pesona tersendiri.
Melebur bersama petikan gitar didalam padam.
Ini rumahku dengan segala hal yang runyam.
Bekas luka di lengan kiriku.
Tapi aku selalu lupa untuk satu hal itu.

Mereka selalu tumbuh dan menghantui sepanjang waktu.
Begini, “Datang, bukankah hari itu adalah kematianmu?,” katanya penuh nafsu & nada memburu.
Ruangan ini jadi terasa panas.
Semuanya, pikiranku juga sama.

Kakiku terasa lemas.
Saat itu juga, aku tahu.
Aku tahu tempat tujuanku juga akan segera terhempas.

Namun,
Orang yang takluk.
Dengan gagah beraninya
Mereka selalu tumbuh.
Membentuk monokromatik dengan kilatan karna haru.

Aku terlanjur sadar,
Ternyata hanya mimpi yang sama,
ingatan yang tak kunjung padam dan hilang
Itu hanya hidupku.

Kelopak mawar yang aku temukan di tumpukan abu.

(Gresik, 24 Juli 2016)

Aku sudah lupa seberapa lama aku berjalan bersamamu,
Bukan karena aku pikun.
Tapi karena aku mengalami tiga anomali waktu saat berjalan denganmu.
Waktu terasa cepat dan memburu saat kau disisiku,
Namun,
Waktu terasa lambat dan memilukan saat aku merindukanmu,
Dan yang paling luar biasa,
Waktu sepenuhnya kering dan membeku,
Saat aku mencium manis bibirmu.

Ah entahlah, aku tak peduli dengan waktu, aku tak merasa mengingatnya itu perlu.

—  Teruntuk yang bernama Teduh.
KKN Hari Ke 5: Pengajian

Selamat semangat pagi. Sebab tidak ada kegiatan aku males mandi, hahahaha. Gitu aja terus.

Iya beneran, sampe temen-temenku ke SD aku ga ikut dan memilih jaga posko biar ga dituntut untuk segera mandi. Aku jaga posko sendirian. Disaat temen-temen cewek lain ga berani ditinggal di posko sendirian aku malah biasa aja. Sudah biasa ditinggal di rumah sendiri, kenapa takut? Apalagi disini dekat dengan rumah warga dan aman punya disini.

Siang, serius gabut banget akhirnya aku pilih tidur, bangun tidur ternyata ada dosen yang dateng yaudah ikut bimbingan bentar. Kemudian melihat ibu-ibu bapak-bapak dan mbah-mbah yang lewat depan posko mau ikut pengajian mingguan di masjid ya aku ikut aja.

Ikut pengajian, aku salut banget disini mereka semangat banget mencari memburu ilmu. Untuk ke musholla, ke sekolah, ke posko semuanya jalan jauh berkilo-kilo meter. Bahkan jika malam, setiap orang tetap jalan bermodalkan senter. Luar biasa.

Pengajian menggunakan bahasa jawa, lagi-lagi aku gak ngerti. Diam aja menyimak siapa tau ada yang aku ngerti. Ada lah yang ngerti, 10 %aja. Hahaha.

Menjelang malam, seperti biasa banyak anak-anak yang lewat depan posko untuk ke ngaji di musholla. Lagi-lagi aku masbuk sholat maghrib di musholla, gak apa yang penting dapet jamaah. Kelar sholat maghrib, kirain aku bakal ngajar ngaji, ternyata mereka gak ada jadwal mengaji, malam minggu kebagian jadwal untuk sholawatan atau kalo di Tangerang sih seperti baca rawi.

Serius, banyak banget bacanya, lama loh. Tapi aku senang. Bahkan aku hampir menangis, sebab aku merasa malu sama warga sini. Betapa mereka penuh perjuangan untuk mencari ilmu, aku iri sama mereka yang sepanjang jalannya dipenuhi kebaikan dan jihad. Maasya Allah.

Pulang dari musholla sudah malem banget, sekitar jam 8 malem. Ada ibu-ibu yang sepertinya melihat aku tuh ngenes, udah malam minggu ke musholla sendirian ga bawa senter ga bawa hp, beliau nyuruh anaknya untuk anter sampe posko. Selamat.