membedakan

Bagian terbaik dari mencintaimu adalah; aku tahu, aku mencintai orang baik, dan tidak pernah salah mencintai orang baik. itu tandanya aku masih bisa membedakan kebaikan dan keburukan. aku masih bisa memilih dan memilah. dan aku tahu mata hatiku masih bisa mengenali orang baik.
— 

Sekalipun belum tentu cinta itu berbalas, setidaknya aku tidak pernah menyesal karena mencintai orang baik.

Kurniawan Gunadi

Novel Kang Abik dan Mensyukuri Muzammil

Dulu, setiap kali membaca novel karya Kang Abik, saya selalu merasa bahwa tokoh yang dilukiskan kang Abik dalam novel beliau terlalu malaikat. Fahri, Azzam, Fahmi, Afif, Anna, Aisha, Husna, hingga Aina. Semuanya adalah orang-orang keren yang luwes dan memahami Islam dengan sangat baik.

Saya dulu membayangkan bahwa mereka semua adalah tokoh dongeng yang tidak akan terwujud di dunia nyata. Tapi semakin jauh saya melangkah, saya menemukan banyak profil yang shalih, cedas dan matang. Alhamdulillah Allah mentakdirkan sebagiannya hadir tidak jauh dari jangkauan saya.

Tiga dari lima murobbiyah saya zaman kuliah, saat ini sedang menempuh PhD di Eropa (satu di Bristoll, satu di Frankfurt, dan satu lagi di Aberdeen). Murobbiyah saya yang di Aberdeen bahkan sudah menghafal 30 juz. Terakhir saya mendengar kabar bahwa beliau sudah menunaikan cita-cita beliau untuk muroja’ah di Selat Bosphorus, Turki.

Sementara dua murobbiyah saya yang lain memilih menempuh jalan menjadi ibu rumah tangga yang bagi saya tidak kalah hebatnya. Ibu yang pertama punya 6 orang anak shalih shalihah. Beliau menjadi ibu rumah tangga yang juga sibuk berkhidmad di ruang publik dan aktif memberi penyuluhan tentang ketahanan rumah tangga. Ibu yang kedua punya satu anak (sekarang sedang hamil anak kedua) juga dekat dengan masyarakat dan banyak memberikan pelatihan tentang kerajinan tangan.

Melalui beliau semua, saya seolah menemukan profil wanita shalihah dan bermanfaat. Sejak itu, saya berfikir bahwa tokoh dalam novel-novel kang Abik bukanlah tokoh fiktif. Mereka bahkan bisa kita ikhtiarkan untuk ‘dicetak’ secara massal bila kita bergerak dan bersinergi dalam dakwah.

Keramaian hari patah hati nasional setelah Muzammil Hasballah menikah membuat saya geli sekaligus bersyukur. Geli melihat respon para akhwat yang minta dicubit…..bisa-bisanya udah ngaji lama tapi kok masih posting galau lihat Muzammil nikah.

Bersyukur karena kita mulai bisa mengangkat profil idola baru yang berbeda dengan idola yang lain. Sebelumnya, hari patah hati nasional ada karena Song Joong Ki dan Hamish Daud ketemu jodoh, Alhamdulillah ternyata imam muda dari ITB ini juga bisa bersanding dengan dua figure sebelumnya dimana kalau dua figure sebelumnya diidolakan karena wajah, Muzammil diidolakan sebagai sosok shalih yang kekinian.

Saya, meskipun tidak suka dengan figuritas, tetap tidak bisa menafikan bahwa figur idola di suatu zaman pastilah menjadi standard dimana kalau orang lain ingin di sebut keren, dia harus bisa merubah dirinya menjadi mirip dengan figure yang diidolakan.

Lebaran tahun lalu, anak di kampung saya mengidolakan Boy dan motornya. Saya nggak tau Boy itu siapa, soalnya saya jarang banget nonton TV ~XD Kok pas ditanya si Boy siapa, ndilalah ternyata sosok Boy itu cuma cowok kaya yang hobi motoran ngalor ngidul bersama ceweknya. Kisah si Boy ini diramu seheroik mungkin hingga tokoh yang menurut saya biasa aja malah jadi idola para remaja tanggung.

Dunia kita ini selalu penuh perang pemikiran. Maka menghadirkan sosok idola yang baik juga termasuk dakwah bagi generasi muda. Saya kadang cemburu melihat sosok-sosok yang ada di hafidz Indonesia RCTI, iri ngelihat Wirda Mansyur yang masih muda tapi hafal Al Qur’an dan berwawasan luas sementara saya masih gini-gini aja.

Tapi setiap kali melihat mereka, saya semakin sadar bahwa pekerjaan rumah kita adalah mengkondisikan lingkungan agar bisa menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan mampu memikul amanah dakwah di usia muda. Seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima di usia 17. Seperti Imam Syafi’I yang hafal Al Muwatha’ usia 9 tahun.

Kalau target kita adalah menghasilkan generasi-generasi unggul seperti Usamah dan Imam syafi’I (saya bilang generasi, bukan hanya anak kita aja), berapa jauh lagi perjalanan kita? Masih jauh banget.

Di tumblr aja umur 20 tahun masih sibuk nanya “Gimana kalau kangen sama lawan jenis ~XD” padahal udah tau kalo Islam udah ngasih tuntunan. Kalo kangen mestinya ya diberaniin ngelamar ato kalo nggak berani ya puasa terus dzikir ~XD. Saya ga ada maksud mengolok-olok recehnya pertanyaan ini. Toh bagaimanapun pertanyaan yang demikian juga ada karena lingkungan kita belum mampu untuk jadi support system buat numbuhin generasi yang matang di usia balighnya.

Jadi keinget pas ngobrol sama Bapak saya perkara usia siap nikah. Bapak saya ngejawab “Yaa mestinya orang yang udah baligh dan mukallaf (bisa membedakan yang benar dan yang salah) udah bisa dikasih tanggung jawab buat nikah”

“Tapi kan umur segitu belom kerja Pak? Malah ngerepotin orang tua yang ada”

“Itukan logika kamu yang hidup di zaman kayak gini. Logika di zaman nabi beda karena di usia baligh, orang udah matang pikirannya. Abdullah bin Umar aja ikut perang umur berapa?”

Dakwah pada dasarnya harus punya visi untuk membentuk kestabilan diri juga membentuk kestabilan lingkungan hingga menghasilkan generasi yang shalih dan menshalihkan.

Meskipun perjalanan masih sangat jauh, saya bersyukur karena generasi muslim yang shalih seperti Muzammil Hasballah, Alvin Faiz dan Wirda Mansyur banyak bertumbuhan. Mestinya kita tidak hanya memandang fenomena pernikahan Muzammil dan Sonia ini dari euphoria hari patah hati nasional saja. Tapi bagaimana kita mengamati lingkungan tempat beliau tumbuh agar kelak kita bisa punya gambaran untuk menghasilkan generasi yang minimal shalih dan cerdasnya sama. Atau bahkan lebih shalih lagi.

Jadi buat sayaa, It’s ok kalo ada ngerasa sedih pas lihat Muzammil menikah. Paling tidak, gambaran kalian tentang suami idaman udah lurus. Yang penting dijaga izzah dan iffahnya. Jangan khawatir, jodoh udah ada yang ngatur.

Dan bagi para Ikhwan, nggak perlu terlalu bahagia karena Muzammil sudah menikah terus kalian ngerasa saingan berkurang. Jodoh itu bukan piala yang harus diperebutkan. Juga bukan seperti sandal masjid yang bisa ditukar-tukar.

Yang penting bagi kita semua adalah bagaimana berusaha untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya demi bersiap menyambut jodoh yang baik, tapi juga bersiap menunaikan amanah peradaban setelah menikah kelak.

Beriman Pada Logika

Manusia, semakin hari semakin mengembangkan pemikiran cerdas dan logika yang luar biasa. Di satu sisi, luar biasa sekali perkembangan ini. Kehidupan semakin berkembang, pemahaman agama semakin komprehensif dan pembuktian kesempurnaan ilmu agama (Islam) juga makin banyak.

Tapi, tanpa kita sadari, logika seringkali membutakan kita, menjadi tuhan baru yang menjadi alasan kita melakukan amal yang diperintahkan agama.

Apakah para sahabat Rasul dulu selalu tahu efek baik duniawi di dalam setiap perintah Allah? 

Apakah Umar tahu bahwa sholat tahajjud itu baik bagi kesehatan? Belum tentu. Apakah Abdurahman bin Auf tahu bahwa bersedekah dan berbuat baik akan memberikan energi positif pada semesta sehingga semesta akan mengembalikan kebaikan itu pada dirinya (lalu beliau menjadi konglongmerat yang super kaya raya sampai resah karena dia terlalu kaya)? Rasanya tidak. Apakah para sahabat tahu apa saja nama nutrisi dan vitamin yang terkandung dalam kurma? Mungkin tidak. Kita lebih tahu.

Tapi para sahabat menjalankannya semata - mata karena itu semua perintah Allah, itu semua sunnah Rasulullah. Sami’na wa ato’na.

Seperti ketika seorang alumni perang Badr berbuat kesalahan dan Umar ibn Khattab RA hendak membunuhnya namun Rasulullah melarangnya. Umar bertanya mengapa dan mengapa, namun ketika Rasulullah menjawab bahwa itu perintah Allah (karena semua alumni perang Badr diampuni dosanya), tanpa banyak bicara Umar mundur. Sami’na wa ato’na, tanpa perlu mengusungkan logikanya lagi.

Ingat perjalanan Nabi Musa yang merasa sangat pintar kemudian Allah mempertemukannya dengan Khidir yang ternyata lebih bijak? Dari kisah mereka yang diabadikan dalam QS Al - Kahfi, kita belajar untuk sami’na wa ato’na. Dengarkan dan lakukan, beriman pada apa saja yang Allah perintahkan dan larang. 

Seringnya, kita banyak membantah. Tentu saja kita boleh bertanya mengapa. Tentu saja kita boleh mencari tahu, bahkan Allah memerintahkan kita untuk mempelajari. Namun, kita harus menelisik ke dalam hati kita. Benarkah pertanyaan - pertanyaan yang kita ajukan betul - betul karena ingin tahu, atau sekedar bantahan karena kita enggan melaksanakan?

Begini. Bisa kan kita bedakan kedua pertanyaan ini.

1. Kenapa ya, wudhu kan batal kalau kita kentut? Nah, yang kentut bagian itu, kok yang dibasuh bagian lain? I want to know.

2. Kenapa sih, wudhu kan batalnya karena kentut? Kok yang dibasuh bagian lain? Gamau ah, gw mau basuh pantat aja kalo gt.

Apakah bisa membedakan keduanya? Yang pertama, meski masih bertanya, dia mengerjakan. Yang kedua, karena logikanya belum tahu, dia enggan melaksanakan. 

Tentu saja Islam adalah agama yang logis. Namun, ada beberapa hal yang memang belum bisa kita mengerti sendiri, karena itulah kita membutuhkan bimbingan dari guru dan ulama. Penyakit kita seringkali adalah sudah merasa tahu, sehingga mengedepankan logika dalam beragama.

Iman kadang belum bisa kita terima logikanya. Bukan karena tidak logis, tapi karena logika kita belum sempurna dan belum bisa mencerna. Pengalaman, pembelajaran, pemahaman, yang membantu kita memahami iman. Semakin kita mengenal Islam, semakin kita tidak akan banyak komplain terhadap aturannya kok, semakin pula logika kita akan dibimbing ke arah yang lebih benar. 

Semoga kita menjadi umat yang tunduk, sami’na wa ato’na terhadap perintah agama, sejalan dengan itu terus belajar mengapa demikian mengapa begitu.

*kegelisahan topik ini sudah mengendap selama beberapa bulan terakhir.

CMIIW

Simpan Prasangkamu untuk Dirimu Sendiri

Aufina sedang asyik menikmati es krim. Saya duduk di sebelahnya sambil membaca beberapa ayat Quran. Satu waktu, saya melirik sebentar hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Namun, seketika saya kaget melihat Aufina ‘mengobok-obok’ es krim dengan tangannya. Padahal sudah saya beri sendok sebelumnya. Tanpa berpikir lebih lama, saya pun menasihati, “Kok makan es krimnya pakai tangan? Tangannya jadi lengket dong. Kan tadi sudah dikasih sendok? Ke mana sendoknya?”

Namun seketika itu pula saya beristighfar setelah Aufina dengan jujur dan apa adanya berkata, “Sendoknya masuk ke dalam (tenggelam 'di telan’ es krim).” Sambil menunjuk lokasi 'tenggelamnya’ sendok es krim itu.

Astaghfirullah.. Saya baru paham kenapa ia mengobok-obok mangkuk es krimnya barusan.

“Oh gitu. Aufina itu tadi mau ambil sendoknya ya?”

“Iya..” jawabnya.

Astaghfirullah. Saya langsung meminta maaf. “Maafin Ibu ya, Ibu ngga nanya dulu ke Aufina. Malah langsung menasihati. Maaf ibu tadi nyangka Aufina ngobok-ngobok es krim. Padahal Aufina mau ambil sendok ya?”

Buru-buru saya bantu ia menemukan sendok yang hilang ditelan es krim itu. Sambil terus berucap maaf dalam hati.

Prasangka buruk.
Alangkah mudah hati ini berprasangka buruk. Bermodalkan ketidaktahuan dan ketiadaan keinginan untuk mencari tahu, prasangka itu tumbuh tanpa hambatan. Subur, bahkan.

Padahal, jika mau menunggu sejenak lebih lama, jika mau bertanya “Apa?” dan “Mengapa?” Prasangka itu tidak perlu keluar dari kepala.

Prasangka mungkin sangat sulit untuk dihindari. Barangkali ini berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi.

Dalam prinsip tersebut, prasangka, curiga, dapat diartikan sebagai bentuk usaha untuk mendeteksi ancaman dan bahaya sejak dini. Tentu ini berguna, misalnya ketika kita di suatu malam berhadapan dengan sekelompok orang berpenampilan preman, kebut-kebutan di jalan, sambil membawa cangkul dan arit. Secara refleks kita akan curiga bahwa mereka berbahaya dan akan langsung berpikir untuk segera melapor ke pihak berwajib. Hampir mustahil kita akan mengira mereka adalah sekelompok petani.

Prasangka buruk pada kasus ini tak lain adalah bentuk pertahanan diri. Dan dalam kasus begini tak perlu lagi ditunggu apalagi dipertanyakan, “Anda siapa? Mau apa?” Lari saja agar selamat.

Yang demikian itu (adanya kecenderungan naluriah) menurut saya membuat usaha untuk tidak berprasangka buruk bisa dikatakan hampir mustahil. Ya, kita mungkin tidak bisa mencegah prasangka buruk agar tak hinggap di pikiran kita sama sekali.

Tapi,

Kita punya pilihan untuk tidak mengungkapkannya. Menahannya agar tetap dalam kepala.

Baru-baru ini saya membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 12 Surat Al-Hujurat. Ayatnya berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika muncul prasangka buruk dalam benak, tahan lidah agar tak mengungkapkannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk tidak menyatakan prasangka kita.

“Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.“
(HR. Thabrani)

Rasulullah saw tidak secara eksplisit meminta kita untuk tidak berprasangka. Namun, jika kita memiliki prasangka buruk, beliau meminta kita untuk tidak menyatakannya.

Dalam ayat tersebut juga dikatakan "Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Bukan “Jauhilah seluruh prasangka,” karena boleh jadi ada prasangka buruk yang memang 'berguna’. Seperti prasangka soal sekumpulan orang bermotor membawa cangkul dan arit yang saya ilustrasikan tadi. Atau prasangka seorang petugas di bandara terhadap calon penumpang yang dicurigai membawa narkoba.

Poinnya adalah, secara manusiawi, kita diberi otak yang darinya kerap muncul berbagai pikiran, termasuk juga prasangka. Dan otak kita tak serasional yang kita kira. Prasangka buruk seringkali muncul karena 'kemalasan’ otak untuk mau bertanya dan berpikir lebih luas.

Meski begitu, prasangka buruk dalam kuadran positifnya dapat disebut sebagai mekanisme alamiah untuk mempertahankan diri dari ancaman dan bahaya.

Mekanisme alamiah ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan. Bahkan mungkin mendekati mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Di situlah ada peran akal, yang punya fungsi membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk. Akal berfungsi untuk menyeleksi, mana prasangka-prasangka buruk yang perlu diungkapkan, mana yang tidak. Mana prasangka yang harus diikuti, mana yang tidak.

Di sinilah 'pertarungan’ ini menjadi seru. Dorongan kodrat manusiawi kita mesti beradu kuat dengan akal nurani kita. Seperti saat kita menundukkan dorongan kodrat manusiawi kita untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri melalui shaum.

Sebagian prasangka jika diungkapkan sebelum nyata kebenarannya, hanya akan menyakiti, menimbulkan kegaduhan, dan bisa jadi menzalimi seseorang. Dan bukanlah termasuk muslim jika orang lain tidak selamat dari kejahatan lisannya.

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari)


Dari sini saya belajar kembali untuk menjadi tuan atas pikiran dan kecenderungan manusiawi saya sendiri. Untuk tidak buru-buru menyatakan prasangka, untuk mau bersabar menunggu, untuk mau mencari tahu, untuk menjaga perasaan orang lain.

Maaf atas kemalasanku untuk bertanya lebih jauh padamu. Maafkan aku jika prasangkaku pernah menyakitimu..

000. CERMIN HIDUP

Popularitas dalam pandangan Syaikh Ali Thantawi -rahimahullah-

“Aku heran dengan orang yang mengejar popularitas lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang baik.
Namun apakah popularitas itu..?
Ia tak lain hanyalah kondisi dimana semua mata tertuju padamu, kemudian mereka mengawasi gerak-gerikmu, dan akhirnya engkaupun kehilangan kemerdekaanmu.”

— 

Dzikrayaat jilid: 8 hal: 205

Ada seorang teman saya, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia termasuk salah satu orang yang memikili kemampuan menulis yang baik. Dari dialah saya mengenal sebuah nama pena.

Sampai detik ini kita masih berteman baik dan masih terlibat dalam satu atap kepenulisan yang sama. Yang membedakan dari kita berdua adalah kesetiaan kita terhadap suatu nama.

Saya tetap setia dengan nama pena saya hingga detik ini. Sementara ia tidak demikian.

“Satu amalan yang ingin aku istiqomahkan sampai nanti adalah merahasiakan identitasku, nis. aku tidak peduli jika pada akhinya setiap tulisanku ada yang mengcopy paste, memplagiasi, atau bahkan diakui sebagai hak ciptanya. Bukankah kita menulis karna kita bahagia? Harusnya kita bahagia pula jika tulisan kita menemukan tuannya (pembaca).” katanya kala itu

“Semacan Uwais Al-Qorni abad ke 21 gitu ya kak?” jawabku

“Iya,. Belajar seperti Uwais Al-Qorni. Tidak dikenal penduduk bumi tapi penduduk langit mengenalnya. Yaaa, meskipun jauh bangetlah ya. Uwais sebab baktinya pada ibunya. Lha aku apa, cuma acar yang dipakai buat hiasan di pecel lele.”

Saat mendapat faidah perihal nasihat dari Syaikh Ali Thantawi rahimahullah yang saya dapat dari Ustadz Febrian Fariansyah beberapa waktu lalu. Saya kini mulai mengerti tentang alasan dia selalu mengganti nama penanya setiap kali ia menerbitkan beberapa tulisan berupa artikel ataupun cerpen.

Padahal beberapa tawaran untuk menerbitkan sebuah buku selalu saja ia terima. Dan jawabannya tetap selalu sama. “Tidak. Terimakasih. Saya tidak siap untuk terkenal” dan tak lupa dikasih emoticon senyum.

Tidak semua orang mampu diuji dengan popularitas. Dan teman saya adalah salah satu manusia yang menghindari sebuah popularitas. Padahal jika kesempatan tersebut dia pakai, maka semua orang yang mengenalnya tidak akan meragukan kemampuannya. Namun ia lebih memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu.

“Jadi terkenal itu gak enak nis. Semua orang akan mengawasimu. Alhasil semua yang kamu lakukan tidak bisa bebas dan lillah karna-Nya. Dalam menulis contohnya. Dulu aku pernah pakai satu nama pena yang cukup bertahan lama. Ketika di satu titik aku menulis tidak sebagus menurut ekspektasi pembacaku maka beban yang aku terima malah. Padahal kita menuliskan karna kita bahagia. Bagaimana bisa bahagia kalau menulis saja kita merasa terbebani. Maka itulah kenapa jalan Uwais Al-Qorni aku tempuh saat ini. Aku gak peduli orang gak kenal aku tersebab tulisan yang aku hasilkan. Yang penting Allah kenal dengan ikhtiar yang aku lakukan.”

“Manis banget sih. Trus menurut kakak. apa perlu aku ambil project menulis ini? Tanyaku padanya

“Ambil dan pakailah nama pena yang lain. Aku nyumbang kata “impian” biar ada amal jariyahnya buatku hehe.“

Dia tertawa, aku tertawa. Dan kita larut dalam kebahagiaan pada hari itu.

Al-Fudail bin Iyaddh rahimahullah berkata: “Jika engkau mampu untuk tidak terkenal maka lakukanlah, tidak ada ruginya engkau tidak dikenal, tidak ada ruginya engkau tidak mendapat pujian, dan tidak ada ruginya engkau dicela oleh manusia jika engkau terpuji di sisi Allah Azza wa Jalla.”

Popularitas adalah salah satu bentuk ujian dari-Nya. Jika engkau mampu, engkau bisa meraihnya. Tapi jika tidak, maka memilih berhati-hati agar selamat barangkali lebih utama.

Tidak dikenal penduduk bumi tidak akan membuat kita hina. Yang hina itu justru ketika kita berada di puncak popularitas namun Allah tidak ridha dengan pencapaian kita, meski sebagian orang menganggap bahwa popularitas adalah baik.


Temaram || 19.39

Sebatas Itu?!

Jangan melulu membenarkan perasaan. Kamu waras dan cukup bisa membedakan mana nafsu dan mana yang bukan. Tidak perlu merasa takberdaya sebab alasan jatuh cinta atau jatuh hati, atau apa saja yang menurutmu di luar kendali.

Jika Tuhan hanya menciptakan hati, pembelaanmu masih bisa kuterima, sayangnya Tuhan juga menciptakan kepala, berisi otak dan saraf-saraf, yang diciptakan untuk berpikir, menimbang, memikirkan. Maka, sudah seharusnya kamu gunakan itu sebelum apa-apa kamu putuskan.

Aku kecewa. Ternyata kamu sebatas itu saja. Kalah oleh nafsu dan waktu. Kalah oleh picisan yang sah milik orang.

Kamu takbeda jauh dari para putus asa. Rindu pada yang tak seharusnya. Ah. Mual rasanya.

Ramadhan #6 - #12 : Jangan Dulu Menyerah

Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!

Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.

Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.

Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.

Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.

Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.

Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.

Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.

Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya :)

1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi

Begini, ya. 

Kalau perempuan sempat bertanya, kenapa sih cowoknya (yang udah jadi mantan) itu terasa cepat sekali move-on? Terlihatnya seperti itu, setidaknya dalam ukuran kaum hawa. 

Saya tidak akan bilang kaum hawa semuanya begini. Tapi agaknya, perempuan yang baru saja diputuskan (atau memutuskan) akan merasa sedih, entah pelampiasannya seperti apa. Di awal periode putus itu mungkin kaum hawa akan sedih, umumnya menangis atau setidaknya diam seribu bahasa. Tidak mau berkata apa-apa, tidak mau berbuat apa-apa, seperti ada “hari berkabung” khusus atas putusnya cinta yang telah dibina itu, lama harinya pun mungkin berbeda tergantung karakter si perempuan itu sendiri. 

Akan timbul pertanyaan begini :

Kenapa lelaki tidak “seharusnya sedih” seperti perempuan? Kenapa lelaki begitu cepat membuka diri ketika harusnya rasa sedih itu memuncak? 

Hebatnya lagi, sebagian lelaki juga begitu cepat mendapatkan penggantinya ketika seharusnya ia menjaga perasaan mantannya yang masih terluka!

Itulah yang sering saya dengar. Padahal, harus peduli apa dengan mantanmu itu, bukannya sudah putus (?) Bukankah itu haknya (?) 

Tapi baiklah. 

Saya juga jadi balik bertanya pada diri sendiri, kenapa lelaki tidak punya respon kesedihan yang sama dengan perempuan ketika awal cerita sendu itu ada?

Saya juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan jelas dan objektif. Tapi sebagai lelaki, saya paham dan pernah merasakannya sendiri. Tapi apalah arti pertanyaan kalau tak ada jawab, bukankah begitu?

Disini juga saya tidak merasa untuk mewakili semua jawaban kaum adam. Setidaknya secara subjektif, saya memang mengakui bahwa kaum adam jarang sekali memberikan respon sedih ketika awal putus hubungan. Dari kesekian kasus yang saya temui, yang tampak tak tegar pun kadang hanya seperti kehilangan mood, yang luar biasa hebat tentu saja seperti tidak terjadi apa-apa, seakan putus cinta baginya bukan kiamat dan hidup harus terus berjalan. Sementara di sisi lain, pihak perempuan biasanya ada di titik nadir karena kesedihan yang mendalam.

Saya, seperti lelaki umumnya, akan merespon hal itu seperti ujian yang memang harus dihadapi. Lelaki dididik untuk tidak cengeng, tidak loyo, tidak boleh terlihat lemah dihadapan siapapun, khususnya perempuan. Jadi,

……..sesakit apapun rasanya putus cinta itu, normalnya lelaki akan merespon dengan kuat (atau sok kuat), logikanya akan selalu menentangnya untuk mengungkapkan kesedihan yang terlihat cengeng, sesakit apapun itu- sepilu apapun keadaan itu……..

Tentu, perasaan tidak akan mendapatkan urutan pertama, terkecuali logika. Itu saja. Bisa jadi sebenarnya kesedihannya itu sama saja antara lelaki dan perempuan, yang membedakan hanya respon dari kedua kelamin berbeda ini. Lelaki tak mau terlihat cengeng, sesedih apapun itu.

Titik terangnya sudah jelas disini.

Lalu, apa hubungannya dengan istilah cepat move-on? Tolong garisbawahi, bahwa respon lelaki yang menolak kesedihan tidak sama dengan cepat move on. Belum tentu karena itu semua hanya terlihat secara kasat mata. Diam-diam, lelaki juga pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Merespon untuk tidak bersedih atas putusnya cinta, bukan berarti ia dengan waktu singkat dapat menyembuhkan dirinya sendiri lalu dengan cepat membuka diri.

Perempuan yang bertahtakan perasaan dapat begitu “jujur” mengatakan bahwa ia sedih pada awal waktu setelah putus cinta, sedangkan lelaki akan “sedikit berbohong” untuk mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa dan segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya. 

Gila! Padahal luka hati bisa saja sama dalamnya, kan? Setelah itu, hati butuh waktu untuk mengevaluasi dirinya kemudian perlahan menyembuhkan dirinya. Secara normal, setelah hatinya sembuh maka baru dapat membuka hati lagi pada orang baru. Bukankah begitu? 

Sayangnya, saya akui sendiri, lelaki menerapkan pola terbalik yang memungkinkannya tak tuntas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Terlalu cepat membuka diri ketika hati belum lagi sembuh, akan menyebabkan kekacauan yang dapat membuatnya “gila”.

“Kegilaan” itu membuat lelaki malah menjadi bersedih setelah peristiwa itu sudah berlalu lama. Semakin sedih karena bisa jadi ia belum dapat melepaskan kebiasaan bersama mantannya itu dan tak dapat tergantikan bahkan oleh kekasih barunya. Yang paling sedihnya, ketika ia tahu kalau sang mantan telah menjadi lebih baik dan melupakannya, bahkan ketika ia mulai merindukannya kembali!

Gila memang. Tak heran, kadang saya juga menemukan seorang lelaki yang sebenarnya sudah punya kekasih, tetapi masih rindu mantan…. Itu ada. Terjadi.

Atau, lelaki yang tiba-tiba mengajak balikan ke mantannya yang sudah mencoba melupakannya, ketika ia merasa tak mampu melupakannya. Itu juga ada. Terjadi

Mungkin setidaknya, dapat diwakili oleh gambar ini,

Saya juga tak tahu persis kenapa begini, tetapi begitulah. Pola respon yang terbalik membuat lelaki dan perempuan berbeda dalam memaknai penyembuhan diri hingga nantinya bisa move-on.

Jadi, mungkin dapat terjawab disini, kalau lelaki yang tampak cepat move-on dan membuka diri itu belum tentu hatinya dengan secepat itu sembuh dan terbiasa. Lelaki hanya tak ingin cengeng di hadapan siapapun, kecuali oleh sepi. Karenanya, respon yang berbeda akan mendapatkan efek yang berbeda. 

Setidaknya, mungkin begitu.

#10: Lillah

Katanya, nggak apa-apa lelah asal lillah. Padahal jika sesuatu itu lillah, ‘nggak ada’ kata lelah.

Kalau kata teh @jagungrebus: “Bukan sekedar keep fight, tapi keep faith yang lebih utama. Sebab iman akan membawa kepada perjuangan yang tak akan sia-sia.”

Karena memang benar, kunci utama yang membedakan antara pejuang yang satu dengan yang lain adalah ketaqwaannya. Orang-orang yang selalu melibatkan Allah untuk setiap langkah hidupnya dan keridhoan Allah menjadi tujuannya, tidak akan pernah merasa lelah. Karena dia tau, bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia.

Saya terkadang suka bertanya kepada diri, “sebenarnya apa sih yang kamu cari dengan melakukan semua ini?” karena sering kali kita terjebak dalam rutinitas yang selama ini kita tidak ketahui maknanya untuk apa dilakukan, atau mungkin bisa dikatakan; suka lupa menata tujuan, jadi wajar jika sering kebingungan.

Kalau kita sering ngeluh sama keadaan, suka males-malesan, menunda atau kurang semangat dalam perjuangan, coba cek tujuannya. Coba cek niatnya. Sudahkah sesuai dengan jalurnya? Sudahkah sesuai jalanNya? Mungkin aja belum sinkron antara hati dan jasmaninya, belum sinkron antara niat dan amalnya. Atau yang paling penting apakah semua ini sudah karenaNya?

Bandung, 14 Ramadhan 1438 H (09/06)
©Thalhah S. Robbani

Surat Tanpa Alamat

Kepada, Kamu.

Jangan menyerah meski sudah begitu lelah, ya?

Eh, maaf. Aku selalu lupa untuk lebih dulu berbasa-basi. Ah, tapi tidak penting juga. Buat apa? Kita tidak perlu saling tahu kabar masing-masing. Kita tidak pernah bertukar kabar masing-masing. Kita hanya saling tahu, kita sedang menghadapi sesuatu yang begitu besar dan memberatkan hati. Dari mana kita tahu? Kamu percaya intuisi. Aku percaya firasat. Kalau mau bahasa lebih populer dari penulis yang kita sama-sama suka, kita punya “Radar Neptunus” persis Kugy dan Keenan.

Aku rindu sekali membaca buku-buku yang ringan, tapi mendalam. Tidak seperti surat-suratku padamu yang tampak dalam, tapi sebenarnya ringan. Sejauh ini, aku masih berkutat pada mem-fiksi-kan kenyataan. Membahasakan perasaan-perasaan yang tidak dapat dijabarkan sendiri oleh yang sedang merasakan. Belum bisa sampai pada taraf menjadikan cerita fiksi seolah-olah kehidupan nyata dan benar-benar ada, bukan hanya di kepala kita.

Kamu belum bosan menerima surat-suratku, kan?

Maaf, ya, aku tidak lagi bisa menulis banyak hal untukmu, sesering dulu. Aku sedang kelelahan dengan banyak pikiran yang berkelindan di kepala. Persis sepertimu, kan? Hanya saja, bedanya, kamu terus menghadapi semua hal dengan berani. Berbeda sekali denganku yang terus melarikan diri.

Aku mulai takut sekali mengumbar kata-kata. Segalanya selalu dikembalikan padaku. Seakan aku tidak boleh salah. Seakan aku harus terus sesempurna kata-kata yang kutuliskan. Padahal, bagaimana mungkin ada dunia ideal? Segala drama itu adalah jubah kebesaran. Aku hanya mencoba menerjemahkan. Itu bukan aku. Itu hanya dunia yang ada di awang-awang. Bagaimana bisa mereka begitu buta sehingga kesulitan untuk membedakan?

Tuh, kan, kata-kataku menjadi begini kejam. Lagi-lagi, aku berusaha menghindar dari segala lemah gemulai kebenaran. Ini sungguh tidak benar. Sungguh tidak baik. Tidak selayaknya aku tidak berani menghadapi.

Hanya saja… kamu tahu bahwa hanya denganmu aku bisa menjadi aku, kan?

Manusia seringkali terlanjur hanyut dalam perasaannya, hingga sulit membedakan siapa yang sekedar mampir sebagai teman bermain, dan siapa yang sedang ingin menetap sebagai teman hidup.

Ada berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar manusia di muka bumi ini. Semua memikul masalah hidupnya sendiri-sendiri. Dengan jumlah yang sangat banyak itu tidak menutup kemungkinan bahwa pada saat yang sama, tidak hanya kamu yang sedang merasakan kekecewaan, kesusahan, dan kesedihan itu. Yang membedakan dari setiap masalah adalah cara kita menyikapinya dan hasil akhir yang akan kita dapatkan. Tapi apapun itu, semoga kita selalu membawa Allah dalam setiap langkah. Hingga sesakit apapun cobaan, hikmah baik yang akan didapatkan.

Begini,

hatiku sudah tak lagi cantik. Beberapa kali ia jatuh di tangan yang salah. Mereka tak menjaganya dengan baik. Ada beberapa goresan di sana sini. Warnanya juga tak lagi merah segar. Ada banyak sisi yang tampak biru lebam. Ada yang pernah memegangnya dengan ceroboh. Diam saja walaupun hatiku terantuk dengan keras, hingga memarnya mustahil hilang tanpa bekas. Ia juga beberapa kali patah. Ada yang dengan sengaja membantingnya hingga terbelah jadi dua. Yang ini membuatku hampir kehabisan darah. Tunggu dulu, itu bukan yang paling parah. Karena ada yang dengan wajah dingin, menginjaknya hingga hancur tak berbentuk. Aku tak lagi merasakan air asin yang meleleh hingga sudut bibir saat memunguti pecahannya. Aku memang berhasil menyatukan potongan-potongannya kembali. Jangan tanya berapa lamanya. Aku dengan sengaja tak menghitung hari, aku tak ingin gila. Bentuknya tak lagi sempurna, tapi sudah tak kutemukan lagi sisa pecahannya. Mungkin tak terlihat karena terlalu kecil, atau bisa saja masih tersangkut di sepatunya. Aku tak tahu.

Aku tak memaksamu untuk paham. Dengan kondisi seberantakan ini, aku tak sepeka dulu dalam menangkap rasa. Aku tak bisa secepat dulu mengartikan emosi. Ini cinta, atau hanya kagum semata. Ini rindu, atau sekedar ingin bercumbu. Aku kesulitan membedakan. Kondisinya tak memungkinkan untuk jatuh cinta secepat itu. Sebelum memutuskan untuk tinggal, pikirkan baik-baik.

Membenci Dengan Akal Sehat

Ditulis kembali dari tulisan berjudul “Manajemen Benci” dalam buku Happiness Laboratory : Meramu Kebahagiaan Hakiki (Quanta, 2016)

Ada mata pelajaran yang terlewat dalam ‘sekolah’ percintaan muda-mudi masa kini. Mereka asyik menikmati rumus-rumus merayu, mengatakan cinta, dan melamar. Mereka dengan mudah menjawab soal-soal mengenai seks. Mereka senang menghafalkan lagu-lagu romantis untuk dipersembahkan pada sang kekasih. Tapi mereka melewatkan satu hal yang sangat-sangat penting, yakni mereka lupa mempelajari manajemen benci. Sehingga mereka tak tahu harus berbuat apa manakala kisah cintanya kandas karena sang kekasih menolak mentah-mentah ‘tembakannya’. Cinta pun berubah jadi benci. Benci menyulut amarah. Amarah melipat ganda menjadi murka. Murka membutakan nurani. Setan pun dengan mudah menguasai.

Mempelajari benci sama pentingnya dengan mempelajari cinta, bahkan seharusnya kita lebih dulu menguasai manajemen benci sebelum memulai mencintai. Sebabnya, saat terlanjur cinta, manusia cenderung menutup mata pada sisi kodrati sosok yang dicintainya. Sehingga yang tampak di mata ialah sosok malaikat dengan sepasang sayap yang bisa membawanya terbang ke mana pun atas nama cinta.

Saat terbangun dari fantasi dan menyadari bahwa sosok yang mereka cintai adalah zat fana yang bisa menolak, mengkhianati, meninggalkan, mereka terlambat. Kebencian menguasai lebih dahulu daripada akal sehat. Jika sejak awal manajemen benci sudah dikuasai, mereka seharusnya lebih mampu mengendalikan diri saat menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu.

Sayangnya, lebih banyak motivator yang membuat pelatihan manajemen cinta ketimbang yang membuat pelatihan manajemen benci.

Apa yang membuat kita merasa benci? Rasa benci adalah ekspresi emosi, sama seperti rasa kagum, suka, dan cinta. Benci berkembang dalam rahim sakit hati. Embrio benci ialah ketidakmampuan dalam menoleransi perbedaan. Perbedaan antara keyakinannya dengan keyakinan orang lain, perbedaan antara alam ideal dengan alam realita, dan perbedaan antara harapan dan takdir.

Benci tidak selalu buruk, ada rasa benci yang sifatnya konstruktif. Contohnya kebencian seorang guru kepada kebodohan. Kebencian itu mendorong sang guru untuk mendidik dan mengajarkan ilmu pada murid-muridnya. Ia bermimpi anak-anak didiknya dapat terbebas dari kebodohan. Namun lebih sering kita melihat benci yang sifatnya destruktif. Misalnya bagaimana seorang pria membunuh seorang perempuan karena perempuan tersebut menolak cintanya.

Yang membedakan keduanya adalah keterlibatan akal sehat. Dalam contoh sang guru, ia sadar betul bahwa tidak tepat jika ia membenci murid-muridnya karena mereka bodoh. Yang membuatnya benci ialah kebodohan, bukan murid-muridnya. Maka ia berusaha menghilangkan kebodohan itu dan tetap menyayangi murid-muridnya.
Sementara dalam contoh kedua, sang pria tidak bisa menerima bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Masalahnya adalah sang pria sudah terlanjur berharap tinggi, maka ketika harapannya berbeda dengan takdir, timbullah kecewa dan sakit hati. Ia gagal mengelola sakit hati sehingga berkembanglah sakit hati menjadi benci. Benci yang tidak ditopang oleh akal sehat pun menjadi alasan cukup untuk melakukan kejahatan.

Dengan demikian, cara utama dalam mengelola rasa benci adalah memelihara akal sehat. Akal sehat adalah akal yang senantiasa digunakan untuk memikirkan hal-hal baik. Akal tidak bisa baik jika tidak diberi ‘makan’ dengan sesuatu yang baik. Makanan akal ialah apa yang kita lihat, baca, dengar, dalam hari-hari kita. Maka memelihara akal sehat berarti memelihara apa yang kita lihat, baca, dan dengar.

Jika sedikit diperluas, manajemen benci ini bukan semata soal percintaan remaja. Bisa jadi soal politik, agama, dan sosial.

Sebagian peperangan tidak akan terjadi jika manusia bisa menguasai rasa benci. Bukan tak boleh membenci, tetapi kita mesti bisa bertindak adil, bahkan pada sesuatu yang kita benci. Bukankah begitu ajaran para Nabi?

Jika bisa bertindak adil dalam mencintai, bertindak adil pulalah dalam membenci.

*Urfa Qurrota Ainy

Berikan Porsi yang Tepat Pada Simbol-Simbol Islam

Bismillah

Saya termasuk muslim yang tidak begitu hobi menggunakan simbol-simbol yang lekat dengan Islam.

Misalnya saja peci. Tentu setiap orang bisa punya alasan yang berbeda untuk mengenakan ataupun tidak mengenakan peci, dan saya menghormati itu.

Tetapi, bagi saya, peci memiliki dua fungsi:

1. Sebagai benda fungsional, yaitu untuk menutupi rambut yang mungkin acak-acakan, agar terlihat lebih sopan dan layak–terutama ketika shalat shubuh, di mana rambut kita sedang berada dalam kondisi paling tidak beraturan karena baru saja bangun dari tidur.

2. Sebagai benda simbolik, yaitu untuk (a) menciptakan experience pribadi bagi si pengguna bahwa “Saya sedang dalam mode bertakwa/super Islami/sholeh”; (b) juga sebagai alat identitas yang membuat si pengguna merasa nyaman ketika berinteraksi di dalam kelompok muslim (perasaan I belong to this group), atau merasa puas dengan menunjukkan identitas keislamannya di hadapan khalayak umum (look, I am a muslim!).

Saya masih mau menggunakan peci untuk memenuhi fungsi pertama, tetapi tidak untuk memenuhi fungsi kedua.

Masalah Dengan Simbolisme

Islam bisa mengubah dunia dan mencapai kejayaan karena mengamalkan konsep/substansi ajarannya.

Itu juga yang terjadi dengan Dunia Barat. Mereka menguasai dunia hari ini karena mengamalkan substansi. Bedanya, substansi mereka bukan berasal dari agama mereka, tetapi dari ilmu pengetahuan.

Namun, ketika para pemimpin Islam di era kekhalifahan menjadikan Islam hanya sebagai label/simbol semata–mereka bermewah-mewahan, berebut kekuasaan, di bawah bendera “khilafah”, maka yang terjadi adalah kemunduran hingga keruntuhan.

Jika demikian, perlukah kita meninggalkan simbolisme Islam?

Sama sekali tidak, sebab sebagian ajaran Islam pun berbicara tentang simbolisme. Misalnya, anjuran Nabi untuk memanjangkan janggut dan mencukur kumis, dengan maksud menyelisihi/membedakan diri dari kaum Yahudi saat itu.

Simbolisme menjadi masalah ketika energi kita begitu terfokus kepadanya, sementara kita membiarkan substansi ajaran Islam tergeletak seperti tak bertuan.

Salah Prioritas

Ada masa saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya dan sejumlah aktivis Islam di kampus begitu serius memelihara “budaya Islami” dalam organisasi kami.

Rapat selalu di masjid, pakai hijab/pembatas, dibuka dengan tilawah, tak ketinggalan taushiyah, bahasa “ane-ente”, tepuk tangan diganti takbir.

Tetapi giliran kerja, performanya medioker. Kedisiplinan buruk. Kreativitas payah. Budaya permisif tinggi. Nilai tambah dari program-program minim. Kalau bikin acara, yang hadir ya orang-orang kita juga.

Tentu dua hal tersebut–budaya organisasi dan performa kerja, sebenarnya tidak perlu tarik-menarik. Yang terbaik adalah yang menjaga budaya organisasi dan produktif mengelola program-program yang berdampak.

Hanya saja, kalau saya pikir-pikir sekarang, saat itu kami salah dalam memahami prioritas.

Kalau kita sebegitu seriusnya menjaga “ritual-ritual” simbolik, mestinya kita juga memberikan porsi keseriusan yang lebih besar untuk hal-hal yang bersifat substantif.

Mestinya, Islam yang kita pahami tidak hanya direalisasikan secara serius untuk urusan manajemen rapat, tetapi juga direfleksikan secara serius melalui dampak dari program-program yang kita kerjakan.

Membaca Qur’an Namun Diperangi Rasul

Saya teringat sebuah hadits, yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Konteks hadits itu, menurut sebagian ‘ulama, membahas tentang kaum khawarij. Tetapi mari kita fokus melihat salah satu perilaku yang digambarkan dalam hadits tersebut.

“Mereka suka membaca Al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka”

Bagaimana bisa suatu kaum rajin membaca Al-Qur’an, tetapi diperangi oleh Rasulullah? Bisa, jika mereka membaca Al-Qur’an sebagai sebuah ritual belaka, sebagai sebuah tindakan “simbolik” semata.

Hari Ini

Banyak sekali fenomena kekinian yang bisa kita letakkan dalam kacamata “simbolik - substantif”.

Misalnya, ada saudara-saudara muslim dari sebuah kelompok–lengkap dengan atribut peci dan baju koko putihnya, terlihat cukup sering mengadakan aksi yang keras nuansanya, bahkan terlibat vandalisme–sehingga kelompok ini dilabeli sejumlah media dan sebagian masyarakat sebagai kelompok intoleran.

Ada juga saudara-saudara muslim dari kelompok lainnya, mereka senang mengadakan pengajian bersama habib-habibnya di Ibu Kota. Sayangnya, sebelum dan sesudah pengajian, mereka juga punya “ritual” berkonvoi sepeda motor, dan biasanya terjadi di jam-jam pulang kerja, saat kemacetan sedang memuncak. Rata-rata mereka tidak menggunakan helm. Hanya peci “sakti” yang melindungi kepala, ditambah baju koko atau jaket majelis, juga sarung.

Saudara-saudara muslim dari kelompok yang lain konsisten menggemakan “tegakkan syariat Islam, tegakkan khilafah”, namun tidak mau ambil peran saat ada pertarungan politik antara kandidat yang mewakili kepentingan ummat Islam dengan kandidat yang punya masalah dengan ummat Islam.

Khusus yang terakhir ini mungkin perlu saya utarakan lebih jelas maksud saya.

Logika Bodoh Saya tentang Khilafah

Khilafah adalah nama dari sebuah sistem yang tidak memiliki referensi baku, sebab Al-Quran maupun hadits tidak menjelaskan detail-detailnya, seperti mekanisme pemilihan khalifah atau struktur pemerintahannya–misalnya (mohon koreksi dan beritahu saya jika saya salah).

Jika demikian, maka manusialah yang berijtihad merumuskan sistem kekhilafahan (maka argumen “demokrasi = sistem buatan manusia = sistem thaghut” kurang baik, sebab khilafah pun dirumuskan detail sistemnya oleh manusia, meskipun secara prinsip dibangun dalam koridor Islam).

Bayangkan, khilafah berdiri sejak zaman Abu Bakar menjadi khalifah pertama di tahun 632 M, hingga kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M. 13 abad jaraknya!

Dalam waktu yang sangat lama itu, kompleksitas masalah yang ditangani dari waktu ke waktu pasti  mengalami perkembangan yang luar biasa, yang menuntut penyesuaian dan perubahan pada sistem kekhilafahan.

NKRI yang usianya baru 0,72 abad saja sudah mengalami sekian banyak penyesuaian dan perubahan dalam tata kelola negara.

Artinya, sekali lagi, pasti ada ijtihad manusia di dalamnya untuk menghadirkan suatu sistem yang bisa kompatibel dengan realitas yang dinamis, sambil tetap melandaskan diri pada sumber-sumber hukum Islam. Nah, inilah kurang lebih “substansi” dari kekhilafahan, tanpa bermaksud oversimplifikasi.

Sementara itu, struktur pemerintahan, bahkan istilah “khilafah” itu sendiri, adalah metode dan “simbol”-nya, yang menurut saya mestinya bersifat fleksibel dan adaptif.

Saya bukan pembela dan pecinta demokrasi. Demokrasi punya kelemahan, disamping punya kelebihan, seperti halnya semua bentuk pemerintahan–termasuk kekhilafahan.

Namun jika ternyata hari ini bentuk pemerintahan yang paling kompatibel dengan realitas adalah demokrasi (hadirnya transparansi, adanya check and balance, disepakati masyarakat secara masif, dll), maka yang lebih produktif menurut saya adalah membuat kepentingan-kepentingan ummat Islam terakomodasi di dalamnya (ini termasuk menyelaraskan hukum Islam dengan hukum negara).

Penutup

Tulisan bodoh ini lahir secara spontan karena dinamika yang terjadi belakangan: ummat Islam seperti sedang dipojokkan. Dilabelisasi. Distigmatisasi. Diseret citranya sedemikian rupa, di rumah kita sendiri.

Ini sangat menyedihkan dan membuat saya geram, namun alih-alih “menyatakan perang”, saya rasa kita perlu mencurigai diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan-jangan, kita yang memulai?

Kita gemar memamerkan simbol-simbol Islam, namun seolah tak pernah diajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Kita lantang mengatakan “Saya bersama Islam”, namun malah membuat citra Islam tenggelam bersama buruknya akhlak kita.

Bagi saya pribadi, ini adalah lonceng untuk bekerja, membuktikan bahwa Islam dan ummat Islam bukanlah the bad guy.

Ini adalah babak untuk kita bekerja dengan cara yang keren dan cakep, berfokus untuk membumikan substansi Islam dan menempatkan simbolisme Islam sesuai porsinya masing-masing.

Sehingga, suatu hari kita tidak perlu berdebat dengan orang-orang demi meyakinkan mereka bahwa Islam adalah yang terbaik, karena mereka akan mengambil kesimpulan itu dengan sendirinya setelah mereka melihat-mendengar-merasakan Islam dari realitas yang mereka alami.


PS: Saya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, dan saya memohon ampun kepada Allah atas hal itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun, apalagi perasaan saudara sesama muslim. Mohon dibukakan pintu maaf dan ingatkan saya jika ada hal yang tidak pada tempatnya.

Menangis Dalam Diam

Berulang kali Ku katakan, diamku bukan tak berperasaan. Harusnya Ku tak perlu terus menjelaskan jika Kau punya penalaran. Mengertilah.. Diamku tak terpaku pada keegoisan, melainkan Ku mencoba menahan diriku dari logika yang menakutkan. Ku tak ingin melukai perasaanmu, hingga Ku bungkus logikaku dengan pendiaman..


Kenapa Kau belum saja mengerti? dan seolah meragukan hati ini. Yang sepenuh hati mencintai, tapi Kau buatnya seolah tak berarti. Kau coba menyakiti hati ini, hanya untuk melihat seberapa besarnya rasa yang kumiliki. Kau mainkan teka teki nurani dengan harapan Ku memohonmu kembali menjadi sebelum ini.


Jangalah Kau bercanda, dengan melakukakan hal yang diluar batasnya. Hanya untuk melihatku mengeluarkan air mata sebagai peryakinanmu bahwa Ku benar benar cinta. Jujur, ingin rasanya Ku pecahkan tangis dihadapanmu, agar meluap semua kesakitanku. Dan setiap luka-lukaku dapat Kau pahami dalam tangisku. Hanya saja Ku tak mampu melakukan itu, Ku tak ingin terlihat layu dihadapanmu. Karna Ku ingin menjadi tembok kokoh yang slalu bisa melindungimu dari hujatan, makian, dan opini klasik yang tak berpemikiran.


Tidakkah Kau punya hati ? Atau sulit bagimu untuk memahami. Sederas apa keringat yg Ku banjiri hanya untuk perjuangan menyenangi hatimu sendiri. Terlepas dari seberapa berat halangan yg Ku hadapi, tingginya tebing yg kudaki, panjangnya jalan yg Ku jajaki, dan curamnya jurang yang Ku lalui. Hingga, Ku tak pedulikan seberapa banyak luka yg kudapati. Halnya berlian keringatku ini, setiap tetesnya milik nilai dan arti tersendiri, perwujudan usaha yg tiada henti, keseriusan hati untuk membuatmu mengetahui bahwa Kau begitu berarti untuk diri ini.


Maaf, bila saat ini yang bisa Ku lakukan hanya mendiam, memendam rasa sakit ini dalam-dalam. Membungkam mulutku agar tak berteriak kesakitan dan mengundang air mata keluar dari persembunyian.


Ketahuilah air mataku begitu berharga, sekuat hatiku mencoba menahan sakit untuk bisa membendungnya. Halnya permata yang begitu luar biasa nilainya, takkan Ku biarkan Ia terurai sebegitu murahnya. Air mataku perlambangan ketangguhanku, jangan Kau buatnya mencair halnya es digunung salju, sekali menetes ada kemungkinan semuanya akan runtuh.


Berpikirlah.. air mataku ini permata ketangguhan yang Ku miliki. Harta kebanggaan yang Aku tutupi. Coba Kau pahami, jangan sampai kau menyesal setelah ini. Memaksakan diri dengan berjuta aksi agar air mataku keluar mengairi. Karena Ketika air mataku habis terurai, mungkin ku kan rapuh dan menjadi miskin kepercayaan. Yang mungkin buatku tak percaya akan apa yang diriku lakukan, terlebih pada dirimu yang slalu haus pembuktian. Cobalah mengerti sebelum kau menyesali.

Sejatinya Pria dan Wanita itu sama, memiliki perasaan yang harus dijaga, hanya saja yang membedakan saat mengekspresikan luka. Jika kebanyakan wanita mengekspresikan dengan tangisan pecahnya, sedangkan pria dengan cara menahan dalam-dalam dalam diam.


( kolaborasi dengan @haikamuku )

The Price of (Beauty) Maintenance

Ini adalah tentang perempuan yang bertemu dengan perempuan dan membicarakan masalah perempuan. Jadi, tadi selepas shalat Ashar, saya dan beberapa teman perempuan saya tiba-tiba saja membicarakan tentang sisi perempuan yang sebelumnya belum pernah kami bicarakan, yaitu tentang serba-serbi perawatan diri, ‘harga’ yang harus dibayar untuk menjadi cantik, sampai ke kesimpulan apakah kami termasuk low atau high price of maintenance, atau dengan kata lain, apakah kami tipe perempuan yang harga perawatan dirinya murah atau mahal.

Kalau dipikir-pikir, banyak sekali “ritual” perempuan dalam merawat dirinya. Dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki, perawatan dan kosmetiknya banyak jenisnya. Saking banyaknya, dulu saya sampai sangat kebingungan dengan nama-namanya dan baru di ujung tingkat akhir saya bisa membedakan mana eye-liner dan mana eye-shadow, mana pelembab mana foundation, mana hair mask mana creambath, dan seterusnya. Ah, semoga rendahnya pengetahuan saya tentang make up dan kosmetik ini tidak membuat sisi kewanitaan saya dipertanyakan. Hehe.

Sejak remaja dulu, Ibu tidak pernah mengajari saya untuk heboh perawatan sampai punya jadwal rutin ke salon, hingga saya pun tumbuh menjadi perempuan yang tidak akrab dengan salon atau bahan-bahan kimia yang sering digunakan oleh perempuan dalam perawatan dirinya. Sebaliknya, Ibu selalu mengajarkan saya untuk menjaga kesehatan, memerhatikan kebersihan, dan sebisa mungkin merawat diri dengan perawatan alami (dengan buah, sayur, atau tanaman-tanaman yang bisa dijadikan lulur, masker, atau yang lainnya). Jadi, ketika teman-teman saya punya jadwal rutin pergi ke dokter kecantikan yang harganya adalah uang makan saya sebulan, saya punyanya jadwal bikin masker alami sama Ibu.

Sebagai perempuan, kita tentu sepakat bahwa kita harus menjaga kesehatan diri dan merawat tubuh dengan baik karena tubuh adalah juga amanah dari Allah yang perlu kita perlakukan dengan benar. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa kita perlu mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak sanggup kita keluarkan, kecuali kalau memang mampu melakukannya karena biayanya selalu ada. Tapi, pun keadaannya mampu begitu, mungkin kita juga perlu melirik pos keuangan yang lain yang lebih prioritas dan lebih bermanfaat. Soal perawatan, kita bisa memilih untuk kembali ke alam. Lalu, bagaimana soal pergi ke salon? Boleh saja, itu juga penting, tapi tidak perlu sering-sering, apalagi jika misalnya harus memangkas habis biaya upgrading pengetahuan/pendidikan atau bahkan jatah makan sebulan. Hihi. Hmm, tapi ini adalah pandangan subjektif saya sebagai #teamlowpriceofmaintenance yang tak harus sama dengan pandanganmu.

Jadiiii, bagaimana denganmu, kamu termasuk #teamlowpriceofmaintenance atau #teamhighpriceofmaintenance nih kira-kira?

Bagaimana pun juga, tanpa perlu memedulikan seberapa besar atau seberapa kecil biaya yang biasanya kita keluarkan untuk perawatan kecantikan, ada satu hal yang harus kita pahami, yaitu bahwa cantik yang sesungguhnya tak pernah terletak pada fisik, make up, atau kepiawaian kita dalam memilih pakaian-pakaian dan riasan. Sebaliknya, kecantikan sesungguhnya ada pada inner beauty, dan inner beauty sesungguhnya ada pada akhlak dan cara-cara kita yang benar dalam berpikir, merasa, dan bertindak sebab iman selalu menjadi pondasi dan membersamai ketiganya dalam hidup kita sehari-hari.

Selamat merawat diri dengan lebih banyak berkaca, yaitu dengan melihat sisi-sisi mana saja yang masih perlu selalu diperbaiki. Selamat merawat hati dengan semakin banyak berlari, yaitu berlari kepada-Nya yang Maha Memiliki. Selamat merawat akal dengan semakin banyak mengenal, yaitu mengenal kebesaran-Nya yang mewujud melalui banyak hal. Selamat merawat sikap dengan semakin banyak bertindak, yaitu bertindak benar terhadap apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.

Percakapan laki-laki

“Kenapa tidak merokok?” katamu. “Bagi kaum laki-laki rokok itu menjadi candu yang susah dihilangkan. Laki-laki itu harus merokok.” Ucapmu menegaskan.

Kenapa kamu tidak membaca buku?, kataku. Bagiku membaca buku menjadi candu yang sulit tergantikan. Laki-laki itu harus bisa membedakan hal yang lebih penting, tegasku.

Mari kita menjadi laki-laki dalam perspektif masing-masing.

Tips Adil Dalam Berbicara

Kita sudah kenyang dengan nyinyiran-nyinyiran di media. Kalau nyinyir bisa dikonversi ke makanan, mungkin dunia kita sudah bebas dari bencana kelaparan. Membuat kesal, memang. Tapi, hidup di dunia, bersama miliaran manusia lain, tidak mungkin kita bisa membuat semua orang senang.

Yang kita tidak suka dari nyinyir adalah, seringkali isinya tidak adil dan berlebih-lebihan. Padahal, meskipun kita benci, kita tetap diharuskan untuk berbuat adil, bukan?

Perkara adil memang perkara yang rumit. Namun yang pasti, adil harus dimulai sejak dalam perasaan dan pikiran. Dalam berbicara, meski bermaksud nyinyir atau mengritik sekali pun, adil pun tetap perlu ditegakkan.


Sebagian besar kita sangat senang berbicara. Namun, tak banyak yang pandai berhati-hati. Sedang kehati-hatian adalah tangga menuju adil. Berikut beberapa tips untuk menjadi pembicara yang berhati-hati dan adil.

1. Menghindari penggunaan istilah yang mengandung kesan hiperbolis seperti : Selalu, nggak pernah, mana mungkin. Terutama ketika kita berbicara dengan emosi (emosi yang baik maupun yang buruk).

Contoh A :

a. “Anakku tuh ya, SELALU saja susah kalau saya ajak shalat ke masjid.”

Gimana kalau anaknya nyeletuk balik, “Ayah tuh, ya, SELALU saja melihatku buruk. Emang Ayah SELALU sempurna apa?”

b. “Suamiku NGGA PERNAH mengerti kalau aku capek mengurus rumah”

Definisi ngga pernah itu = kuantitasnya nol. Coba diingat lagi dengan lebih jernih, benar-benar ngga pernah atau ngga ingat?

c. “Apa katamu? Kamu akan berubah? MANA MUNGKIN!”

Ragu-ragu boleh, tapi jangan berlebihan juga sih. Nanti beneran ngga bisa berubah lagi.

d. “Aku SELALU suka penampilan kamu!”

Meskipun ini maksudnya memuji, tapi saya merasa ini kurang hati-hati. Selalu suka? Kalau lagi dasteran tetep suka ga?

Bandingkan dengan Contoh B:

a. Anakku sudah LEBIH DARI LIMA KALI ogah-ogahan kalau saya ajak ke masjid.

b. Suamiku JARANG bisa mengerti kondisiku yang capek karena ngurus rumah.

c. Apa katamu? Kamu akan berubah? Maaf, AKU SANGSI.

d. Aku SUKA penampilan kamu!

Coba perhatikan mana yang lebih enak dibaca dan lebih masuk akal, contoh A atau B?

Menurut saya, penggunaan istilah hiperbolis, baik dalam konteks negatif maupun positif, seperti dalam contoh A, berpeluang membuat subjek terjebak pada ketidakadilan juga generalisasi yang subjektif.

Kecuali memang datanya menunjukkan demikian. Misalnya : “Matahari ngga pernah telat terbit dan terbenam.” Ya ini mah memang objektif.

Hal tersebut bisa diminimalkan dengan memilih istilah yang lebih fair dan lebih objektif seperti beberapa contoh di contoh B.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

2. Menggunakan kata “Sebagian, sekelompok, dsb” dan lebih berhati-hati dalam penggunaan keseluruhan populasi apalagi jika tidak didasari data.

Contoh A :

a. “SEMUA laki-laki itu sama saja! Kurang ajar SEMUA!”

Eh, emangnya sudah pernah bertemu semua laki-laki dari awal zaman Nabi Adam yang jumlahnya bermiliar-miliar?

b. “Muslim? MEREKA adalah teroris!”

Shahrukh Khan muslim lho, tapi dia bukan teroris, dia artis!

Contoh B :

a. “Di antara miliaran laki-laki yang ada di Bumi, kenapa aku bertemu dengan PARA LELAKI yang kurang ajar?”

b. “Ada KELOMPOK-KELOMPOK di kaum Muslim yang senang menebarkan teror”

Hmmm.. Kesan yang terbacanya berbeda bukan?

Penggunaan kata “sebagian” alih-alih “seluruh” untuk sesuatu yang tidak dapat dipastikan kebenarannya (kecuali dengan melakukan penelitian kepada seluruh populasi), akan membuat kita lebih berhati-hati dalam melabeli seseorang.

Stereotip muncul karena ketidakhati-hatian dalam membedakan mana yang persoalan individu, mana yang persoalan kelompok, mana yang persoalan populasi. Jangan terjebak.

3. Menyebutkan dengan spesifik objek atau subjek yang dimaksud, terutama kalau bentuk komunikasinya tulisan (seperti di medsos) supaya konteks tulisan ngga melebar, supaya nggak ada yang ge-er dan salah sangka.

Contoh A :

“Yang bodoh tapi ngerasa pinter makin banyak aja nih.”

Siapa sih yang dimaksud? #sensi. Setiap kita menulis di medsos, tulisan kita akan dibaca oleh ratusan hingga ribuan orang, bahkan lebih. Kamu ngga kepengen kan orang-orang itu merasa sakit hati dan kesal karena mengira ujaran “bodoh” kamu itu ditujukan buat mereka? Bisa-bisa mereka komentar balik, “Iya setuju! Salah satunya pembuat status ini!”

Karena itu, coba lebih spesifik deh. Ya tapi ngga perlu sebut nama juga sih. Harusnya memang ngga perlu juga ya ngomong nyinyir-nyinyir begitu. Tapi kalau sudah ngga tahan ingin nyinyir, nyinyirlah secara tepat sasaran.

Contoh B :

“Banyak orang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Merasa tahu, merasa pintar, merasa benar. Padahal sebenarnya tidak.”

Sama-sama nyinyir juga. Tapi subjeknya jelas, yaitu : Orang yang berkomentar tentang apa yang tidak mereka ketahui. Nyinyir akan lebih tepat sasaran.

—-

Memang, berbicara adalah salah satu bentuk kebebasan dalam berpendapat. Tapi, jangan lupa bahwa kebebasan adalah tanggung jawab yang tertunda. Apa yang kita bicarakan bisa berdampak luas, bisa baik bisa juga buruk.

Sebelum berbicara, berhati-hatilah memilih kata-kata. Agar di hari nanti, hidup kita tidak menjadi sulit karena lisan kita sendiri. Think before speak, think before type.

Wallahu a'lam bisshawwab.