memantau

Gaun Jakarta

Untuk kota yang damai kunikmati
dari jendela, di gedung tinggi
lantai lima belas.

-

Pernah mendengar istilah: orang-orang mendefinisikan ruang?

Anakku bertanya semalam, Ayah, seperti apakah ruangan tempat Ayah bekerja? Pertanyaan wajib yang ia lontarkan tiap sore sehabis mandi. Pertanyaan yang ia bawa dari sekolahnya untuk pekerjaan rumah; pertanyaan yang berbeda setiap hari. Malam lalu pertanyaannya baru untukku, karena untuk apa gurunya tahu mengenai ruang kerjaku? Tapi ternyata ia hanya penasaran, anakku itu. Katanya, hari itu sekelasnya dibawa pergi melihat sebuah proyek konstruksi bangunan. Mereka melihat para buruh bangunan yang bergotong royong bekerja penuh semangat. Mereka juga melihat “mesin-mesin raksasa dengan cakar yang kuat”—begitu anakku mendeskripsikannya—lalu lalang. Selesai dari situ, mereka dibawa ke ruang kerja lantai 20 di sebuah gedung, yang rupanya adalah “ruangan tempat para bos memantau pekerjaan buruhnya”. Ternyata “bos” dari proyek tersebut adalah ayah dari teman anakku, dan ruangan itu adalah ruang kerjanya. Aku jadi tidak heran; sepulang dari sana mungkin hampir semua anak bertanya-tanya apakah ruang kerja ayah mereka sekeren ruangan yang baru mereka lihat.

Anakku, yang wajahnya putih terpulas bedak dan rambut wangi yang tersisir rapi, masih melekatkan matanya padaku, menunggu. Aku letakkan cangkir kopiku dan siap menjawab. Aku mengawali kalimatku: di ruang kerja Ayah, suasana ruangan ditentukan oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya. Anakku memicingkan mata, kebingungan. Aku tarik napas sebelum melanjutkan.

Keep reading

Sahabat, Apa Kabar dengan Imanmu Hari Ini?

SAHABAT, pernahkan ada orang yang bertanya kepadamu mengenai Imanmu? Jika pernah, mungkin itu adalah salah satu teguran dari Allah bahwa kita harus mulai menatap keimanan kita.

Berbicara mengenai keimanan memang tidak akan pernah melelahkan, sebab inilah yang akan membawa kita menemui Rabb Yang Mulia. Sebagai manusia biasa, kita akui bahwa keimanan kita masih sangat jauh seperti orang-orang shalih terdahulu. Keimanan kita sangat mudah untuk berubah-rubah. Mungkin hari ini kita menjadi manusia yang penuh maksiat, tapi bisa jadi esok lusa kita akan menjadi manusia yang paing taat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan keimanan kita esok hari.

Sahabat, apa kabar dengan Imanmu Hari ini? Masihkah kita merasakan bahwa Allah itu dekat dan melihat apa yang kita lakukan? Ketika iman ini menemui goresan, seringkali kita lupa bahwa ada cctv Allah yang tidak pernah lepas memantau kita setiap detiknya. Mungkin orang-orang menganggap kita shalih, tapi Allah tahu sejauh mana tingkat keikhlasan kita dalam beribadah.

Sahabat, apa kabar dengan niatmu hari ini? Masihkah terbesit dalam segumpal daging itu rasa ingin dipuji orang lain? Jika masih, mungkin kita harus pertanyakan kembali, bagaimana dengan kondisi hati kita saat ini. Mungkin kita mulai mengubah jarak dengan Dia Yang Maha Melihat, hingga kita mulai menjadikan selain Dia sebagai niatan kita.

Sahabat, apa kabar dengan tangisanmu di sepertiga malam ini? Masihkah tangisan itu melumer ketika memori ini sengaja beranjak pada dosa yang pernah menjadi tradisi? Jika dahulu, setiap malam sunyi kita mengadu kepada-Nya perihal dosa-dosa kita, lalu apa kabar dengan tangisan penuh penyesalanmu kini? kita memang manusia biasa yang mudah lelah, mungkin lelah dalam menangisi dosa-dosa kita. Tapi sahabat, percayalah bahwa Allah tidak pernah lelah untuk membuka pintu ampunan-Nya. Maka menangis lagi lah, meminta ampun kepada-Nya. Karena Allah menyukai hal itu.

Sahabat, apa kabar dengan tilawahmu hari ini? Sahabat yang dimuliakan Allah, salah satu amalan yang dapat mendekatkan kita dengan Rabb Yang Mulia adalah interaksi kita dengan surat cinta-Nya. Jika hari ini kita lupa dengan surat-Nya, lalu apa kabar dengan keimanan kita hari ini? Mungkin hati ini mulai redup dan tak dapat merasa lagi, bisa jadi karena interaksi kita yang mulai memudar dengan Al-Quran.

Sahabat, apa kabar dengan tujuan hidupmu hari ini? Masih kah kita jadikan akhirat sebagai tujuan kita? jika akkhirat mulai memudar dari jiwa kita, mungkin kini dunia mulai menempati sedikit ruang kosong di jiwa kita. Sahabat, semoga Allah selalu ingatkan kita bahwa tujuan Allah menciptakan kita di dunia ini bukanlah hanya sekadar untuk tertawa dan menangis. Namun lebih dari itu, Allah ciptakan kita untuk beribadah dan mengenal-Nya lebih dekat.


Sumber : Islampos.com