melows

Hoy es un hermoso día para el amor y la visibilidad de las parejas entre chicas <3

No soy una graaaan fan de Melow, la conocí gracias a Elvisa, he visto sus vlogs, sus actuaciones en CMF y bueno, siempre me cayó muy bien, pero como parte del colectivo LGBT+ no puedo NO EMOCIONARME con la confirmación de esta linda pareja TuT ¡Ay Melow y Maria!

Es que ellas no saben lo importante que son para parejas como Takame y yo, que día a día luchamos por la aceptación y como ellas mismas, queremos hacer presente nuestro amor en la sociedad.

Doy las gracias a las chicas por confirmar Melepe y las adoro, de verdad, la emoción es enorme, y a todos los shippers de Melepe.. ¡FELICIDADES POR TENER UN SHIP TAN BONITO Y CANON!

Son adorables, creo que ahora no podré sacármelas de la cabeza TuT

Ay! que felicidad!

Sumayya turns 1 yo

Menejelang sumayya berusia satu tahun, entah kenapa saya jadi suka memperhatikan sumayya ketika sumayya tidur.
Tubuhnya secara signifikan sudah terlihat jauh berbeda dibandingkan ketika sumayya baru lahir.
Ketika sedang bermain dengannya-pun kadang iseng-iseng saya ukur badan sumayya,
“Ini kalo dimasukin ke perut lagi muat ga ya?” Mamak mamak iseng apa melow ini?

Kadang saya suka bilang ke abang,
“Bang, liat deh sumayya. Udah panjang ya dia kan? Tuh liat tuh” pertanyaan dan pernyataan yang selalu diulang-ulang. Entah karena takjub menyaksikan sumayya bertambah tinggi, sedangkan saya nggak tinggi-tinggi *paansik*. Takjub karena ternyata saya bisa membesarkan anak dari sekecil dan serentan itu sampe segede dan sekuat sekarang.

Abang kadang kadang cuma jawab “iya ya” karena sedang sibuk. Sesekali abang mengiyakan sambil berterima kasih “iya, makasih ya, Nda.. udah merawat sumayya sampe segede ini.. nda hebat” wadaww kebalik, Bang!

Harusnya saya yang berterima kasih, tersebab selama ini abang yang lebih banyak mengingatkan dan mengajari untuk bersabar menghadapi bayi yang belum bisa bicara, sehingga perlu kesabaran ekstra untuk memahami kemauannya. Juga untuk bersyukur, karena setelah menikah banyak orang orang di luar sana yang terus menanti kehadiran buah hati.
***
Kalau selama ini kata orang-orang, saya terlihat tenang dan baik-baik saja mengurus satu bayi dan kuliahnya juga lancar. Percayalah semua hanya bungkusnya saja. Tampak luar.

Mungkin abang yang tau bagaimana keluhan-keluhan dan kelabilan saya setelah melahirkan. Capek lah, bosen lah, pengen jalan berdua aja lah, pengen ke jakarta, pengen ini pengen itu.. ini bawaan hormon ibu menyusui apa emang ibunya yang rese?

10 bulan. Saya membutuhkan waktu 10 menuju 11 bulan sejak sumayya lahir untuk benar-benar bisa menangkal bisikan-bisikan syaithan yang ternyata luar biasa efeknya bagi saya dan sumayya.

“Enak ya temen-temen, bisa jalan bareng, ke pantai, makan di luar suka suka, belajar sampe malem, bisa nginep-nginepan, bisa nongkrong dimana mana bebas. Gak terikat kayak aku. Punya bayi. Ga bisa kemana mana. Mau berangkat kuliah aja susah, harus tidurkan dia dulu. Selesai kuliah buru-buru pulang, belajar ujian harus nunggu dia tidur dulu, ga bisa maksimal bantu pemira BEM dan amanah-amanah lain”

Ujungnya akan bermuara ke sini, “kenapa sih Allah harus ngasih sumayya sekarang? Kenapa gak nanti aja pas aku udah jadi dokter? Pas aku udah lega, pas aku udah gak labil kayak sekarang. Kenapa gak kayak kakak x yang punya anak setelah jadi dokter? Kenapa gak kayak kakak y yang udah lulus dan bijaksana baru punya anak? Kan dia enak jadi bisa fokus ngurus anak nya *lah kenapa nikah cepet-cepet?*”

Iya, ujung-ujungnya jadi banding-bandingin diri sendiri sama orang lain.

Pada titik ini abang menasihati saya panjanggg kali lebar kali daleeemm. Dalem. Tembus ke hati terdalam.

Ternyata selama ini saya kufur. Tidak bersyukur sama nikmat bayi lucu dan (sebenarnya) tidak menyusahkan ini. Maka karena itu, bertambah sesaklah dada saya dengan kesal dan kemarahan-kemarahan. Bertambah penuh-lah kepala saya dengan pikiran-pikiran negatif. Sehingga saya sama sekali tidak bisa benar-benar menikmati hidup, apalagi ketika PMS.
Mungkin karena standar senang saya masih seperti dulu, bisa qtime kapan aja sama abang, bisa aktif di sana sini, bisa jalan ke sana sini, bisa belajar kapan aja, bisa nginep kapan aja, bisa keluar rumah seharian"

“…ولإن كفرتم إن عذبي لشديد”
Mungkin itulah salah satu azab kecil Allah pada saya yang kufur. Kesempitan dalam menjalani hari-hari menjadi bunda.

“واستعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين”
Setelahnya, saya mulai memperbaiki ruhiyah saya, yang pasca melahirkan memang harus saya akui, berantakan. Pun mencoba menata hubungan-hubungan dengan orang-orang terdekat yang selama ini ikut berantakan.

Alhamdulillahh.. terimakasih Allah.. terima kasih abang yang kalo dicuehatin selalu ngeluarin dalil lengkap sama tafsirannya.

Memang kalau kita bersyukur, hati jadi lapanggg.. bawaannya happyyy terus. Jadi bisa terus ‘waras’ menjadi bunda, menjalani takdir-takdir yang mungkin gak kita sukai padahal siapa yang tau kalo takdir itu ternyata baik untuk kita?
Siapa yang bisa jamin kalau saya sampai saat ini belum menikah atau belum punya anak, saya bisa bahagia? Tak dak!

Dan setelah gagal membisikkan ketidak-syukuran pada anak kecik-ku, sepertinya setan mulai beralih membisikkan-ku
“Udah, gausah koas. Kan enak ngurus anak. Udah di rumah aja”
Hahahaha, mari kita lihat.
Apa setan gak tau kalo aku udah bayar dp jahit baju jaga dan jas dokter muda? Hmmm
***
Teruntuk sumayya cintaku, putri kecilku sayang
Bayi yang sudah membuatku lebih dewasa, lebih mendalami makna syukur.
Usiamu baru satu tahun, Nak.. bahkan kakimu belum kuat untuk kau langkahkan sendiri.

Tumbuhlah menjadi Sumayya Husna Najiyya
Sumayya yang bangga dan berani berkorban dengan keislamannya.
Sumayya yang menjadi penyelamat terbaik. Penyelamat bagi sesiapa yang membutuhkan. Penyelamat ayah dan bunda di akhirat kelak.

Terima kasih, sudah menjadi contoh terbaik dalam bab ‘memaafkan’.

Jakarta, 25 mei 2017

Sebenarnya udah sejak sebelum tanggal 15 mei mau nulis tentang ini. Tapi selalu berakhir di draft dan kemudian selalu dirombak ulang sudut pandang dan gaya bahasnya *gayamu*

Kakak.

Beberapa hari ini usai menuntaskan seminar hasil (dan kisah cinta) saya menjadi tiba-tiba dekat dengan keluarga. Ukuran kedekatan ini saya nilai dari intensitas komunikasi kami. 

Biasanya saya jarang menelpon ibu, mendadak jadi lebih hobby nelpon timbang sms. Kemudian dari yang biasanya ngomong di telpon cuma ga lebih dari semenit sama ayah, sekarang kalo nelpon jadi ga kurang dari tujuh menit, Peningkatan. Terus dari yang dasarnya cuek bebek kalo komunikasi sama kakak kedua saya, Mas Dede, sekarang jadi lebih terbuka nyeritain pengalaman-pengalaman dan perasaan saya.

Kalau dipikir-pikir, lumayan ga tau diri banget saya ini. Giliran sudah ada diakhir cerita, lagi terpuruk, baru deh inget keluarga. Sebenernya ngga gitu juga sih, saya selalu ingat jasa-jasa seluruh anggota keluarga saya. Tapi berhubung sekarang sudah mau beranjak ke tahap kehidupan yang baru (lulusan maksudnya), saya jadi lebih melow dan mendadak homesick aja.

Well, beberapa waktu lalu ada kejadian kakak saya meminjam laptop saya untuk mengerjakan tugasnya. Saya iyakan saja, toh juga belum butuh. Di tengah bermain hp di kamar, saya ingat harus segera mengerjakan revisi tugas akhir saya. Lama menunggu kakak saya yang meminjam laptop, saya pun berkeinginan untuk memintanya dan seketika itu pula ia muncul di kamar saya mengembalikan laptop tanpa diminta. Usai laptop saya kembali, ternyata 3 jam setelahnya baru saya gunakan si laptop untuk melakukan revisi. Saya pun langsung berpikir sejenak, ngapain tadi pengen ngeburu-buru mas dede dong, kalo dipakenya baru jam segini. Singkat cerita, saya merasa bersalah pada Mas Dede dan mulai mengingat kebaikan-kebaikannya dengan haru.

Mas Dede adalah kakak kedua saya yang selalu menempatkan saya di perioritas pertamanya. Beberapa kejadian misalnya, 

Dulu saat saya dan dia sama-sama butuh laptop, dia bilang ke ayah untuk membelikan saya dulu. Dulu juga kita punya kebiasaan dibelikan jajan atau mainan yang sama dan bila ada jajan yang tidak sama, dia selalu membolehkan saya untuk memilih yang saya inginkan. Dan pernah ditahun-tahun awal dia part time, dia bercerita ingin membeli salah satu sepatu dengan brand yang diinginkannya. Namun, setelah mendapatkan gaji bulan itu, yang ia bawa pulang adalah sepatu lari wanita karena saat itu tahu saya lagi semangat-semangatnya jogging. Dan akhirnya baru bulan depan, ia membeli sepatu yang dia mau

Mengingat-ingat kejadian bersama kakak saya membuat saya terenyuh dan berpikir. Pada akhirnya seberapapun saya jatuh hati pada seorang pria, lelaki yang akan pertama kali berdiri didepan untuk melindungi saya adalah kedua kakak saya. Bukan cuma kakak kedua saya, hal-hal memprioritaskan saya diatas kepentingannya juga sering dilakukan kakak pertama saya. Sungguhan deh, buat kalian yang tidak punya kakak lelaki saya bisa sedikit sombong kalau punya kakak apalagi lelaki itu enak banget :’)

IT RAIN

Seseorang yang menyukai bau darah, membunuh saat hujan. Karena pada saat hujan, bau darah tercium segar.

Dia bergerak di bawah rinai hujan. Penciumannya tajam untuk mampu menemukan korban terbarunya. tak perlu berlama-lama untuknya beraksi. Malam terus menggelap.

Pisau berukuran 18 cm ia simpan dibalik jaket hitamnya. Dia berjalan menelusuri jalan, mencari siapa saja yang tengah berjalan sendirian. Mengikuti dari belakang, lalu tanpa aba-aba, pisau itu menari bahagia menusuk bagian mana saja. Darah segar bercucuran, dia ambil botol kaca dalam sakunya, menadah darah untuk dia simpan sesampainya di rumah. Semua pakaian yang ia kenakan dia basuh dengan air yang mengalir. Lalu disiram dengan bensin. Untuk menghilangkan bukti-bukti. Untuk menghilangkan sidik jari.

Dia berjalan perlahan menuju sebuah lemari yang terletak di sudut kamarnya. Dia membuka dengan mata yang berbinar-binar sembari terus memegang botol di tangannya. Ia menciumnya, merasakan aroma yang manis perlahan menjalari seluruh indera perasanya. Seperti obat ini membuatnya semakin candu. Seperti obat ini membuatnya semakin sehat.

Pikirannya melayang kembali ke masa silam. Dimana awal semua naluri ini muncul. Kala itu, dua hari setelah dia menyaksikan dengan matanya sendiri, kekasih hatinya tengah berciuman mesra dengan seorang laki-laki lain di sebuah taman kota. Hatinya panas setiap kali adegan itu terputar dalam ingatannya. Dibawah guyuran hujan yang sangat lebat, dia memeluk mesra kekasihnya. Mengulum lembut bibir wanitanya. Mengalirkan rasa hangat ditenggorokannya, lalu tiba-tiba kekasihnya tersedak. Melotot menatap matanya. Dia tersenyum membalas tatapan mata kekasihnya. Perlahan-lahan kekasihnya jatuh bersamaan darah yang meleber ke tanah. Bau amis tercium disekitarnya. Ada perasaan bahagia yang begitu terlalu meledak dalam dadanya. Dia usap wajahnya dengan tangan kirinya yang berlumuran darah kekasihnya.

Dia tersenyum karena ternyata dia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Botol-botol itu diletakkan dengan sangat baik seperti harta berharga yang harus ia jaga dengan nyawanya. Dia berpaling ke arah pintu yang berada persis di bawah tangga rumahnya. Pintu yang selalu terkunci rapat. Dia perlahan menuju pintu tersebut, membukanya dengan sebuah kunci yang sudah tampak tua namun masih berfungsi dengan baik. Knop pintunya perlahan terbuka, diiringi suara reot yang berasal dari pintunya. Dia memasuki ruangan tersebut dan berjalan menuju sebuah kasur yang terletak di tengah. Seperti memang di persiapkan untuk seseorang. Apakah untuknya?
“Hai, sayang. Aku pulang. Apa kamu merindukan aku? Kenapa rambutmu berantakan seperti ini? Aku bantu sisirkan ya.”

Sambil merapikan rambut kekasihnya dan menatap lembut wajah kekasihnya, dia bercerita “hari ini hujan turun lagi dan memori lama itu tidak bisa aku cegah untuk tidak muncul dalam kepalaku. Kau pasti sangat tahu aku, kan? Ketika hujan turun aku akan sangat merasa terluka sebelum aku mencium obat penenangku aku tidak mungkin bisa baik-baik saja. Kenapa dulu kau lakukan itu? Apa salahku? Tidak kah kau merasa bahwa aku begitu mencintaimu? Mengapa kau tidak menjawab, hah? MENGAPA?”. Teriakannya menggema keseluruh ruangan. Telapak tangannya kencang menekan wajah kekasihnya.

“Kamu thau sayang, aku ini benar mencintai kamu. Tapi kenapa kamu bisa-bisanya melakukan hal itu.”

Dia tertawa bahagia namun sedih. Dia memeluk erat kekasihnya. Dingin. Tak bernyawa. Dia melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut, melangkah mengarah ke dapur. Pisau yang di gunakannya kemudian dicuci dengan sangat hati-hati sambil memikirkan kapan waktu yang tepat untuk kembali beraksi.

*******

Sore hari di kedai kopi miliknya, ketika dia tengah menikmati segelas espreso dingin sambil mengamati sekeliling, tatapan matanya menemukan sepasang kekasih yang tengah mengobrol mesra duduk pas satu meja dihadapannya. Dia jadi teringat akan dia dan kekasihnya dulu, terlihat saling cinta tapi ternyata ada dusta. Pandangannya jadi tidak bisa lepas untuk terus mengamati sepasang kekasih itu sampai mereka beranjak meninggalkan kedai.

Selang beberapa hari setelahnya, ketika dia sedang menikmati segelas espreso dingin sambil mengamati sekelilingnya, tatapan matanya kembali menemukan sepasang kekasih yang tengah bercanda bahagia duduk dimeja yang beberapa hari lalu diduduki sepasang kekasih yang lain. Matanya menatap tajam ke arah wanitanya. Ada perasaan tak asing yang tertangkap oleh kedua matanya. Wanita itu adalah wanita yang sama dengan beberapa hari yang lalu tapi lelakinya berbeda. Dia pergi bersama laki-laki lain dibelakang lelakinya. Ada perasaan nyeri dalam dadanya ketika dia menyadari hal itu. Sesak sampai membuatnya susah bernafas. Tangannya terkepal kuat ketika dia menyaksikan wanita berkhianat itu mengecup mesra selingkuhannya.

Pukul tengah malam ketika lelaki itu mengantarkan wanitanya pulang. Senyum masih tak bisa lepas dari bibir si wanita. Dia merasa begitu bahagia. Dia merasa begitu dilimpahi cinta oleh dua orang laki-laki yang sangat mencintainya. Sambil bersenandung bahagia dia berjalan menuju pintu rumahnya, memasukkan kunci lalu memutar knop pintu tanpa tahu bahwa lama sebelum dia pulang, ada seseorang yang menunggunya di rumah.

Dia memasuki rumah, mencari sakelar di dinding ingin menyalakan lampu, tapi gerakannya kalah cepat dari seseorang yang langsung menarik rambutnya hingga dia terjatuh menghantam lantai dengan sangat keras. Dia meringis dan berteriak “kamu siapa?!” Tapi tidak ada yang menjawabnya. Dari remang lampu jalan yang masuk melalui jendela, dia bisa melihat ada sesosok orang dengan pakaian serba hitam berdiri dihadapannya. Jantungnya berdegup kencang beradu dengan suara nafasnya yang menjadi tak keruan.

Cepat-cepat dia berlari menuju dapur, ingin segera keluar dari rumah melalui pintu belakang. Sosok baju hitam masih terus mengikutinya, berjalan dengan tenang. Pintu belakang berhasil dia buka dan secepat mungkin dia berlari menuju jalan raya yang sepi. Rintik-rintik hujan mulai turun satu-satu. Dia tak bisa berpikir harus kemana dia lari. Yang dia tahu, dia harus lari sampai tidak bisa ditemukan lagi.

Dia berhenti di taman kota, duduk dibangku sambil mengatur nafas yang sudah tak berasa, sungguh lelah karena dia sudah berlari jauh. Hujan mulai melebat. Dia menangis mengingat apa yang akan terjadi pada dirinya. Namun tiba-tiba saja, dari arah belakangnya, sebilah pisau tajam langsung menyayat lehernya hingga dalam. “AAAAAAAAA” Teriaknya hingga hilang suaranya diguyur hujan deras.

Laki-laki itu berjalan kehadapan si wanita, menatap seorang wanita yang ada dihadapannya. “Kenapa kau berkhianat? Tak cukupkah satu cinta dari satu pria?” Katanya sinis. Sedang wanita dihadapannya, dengan leher yang hampir putus, sudah tak bernyawa.

Mata wanita itu terbuka lebar seakan mengutuki pembunuhnya. Tidak menampakan rasa takutnya, si pembunuh justru mengecup kening wanita yang telah berhadapan dengan maut.

“Kamu tahu. Aku sungguh benci dengan wanita sepertimu yang dengan gampangnya mempermainkan hati lelaki.”

Perlahan dia berjalan meninggalkan mayat sang wanita tergeletak begitu saja terguyur hujan. Darahnya terus mengalir dari sayatan pisau di lehernya. Derasnya hujan menjadi saksi bisu.

Sesampainya dirumah, dia menuju ruangan yang berada di bawah tangga rumahnya. Memutar kunci pada pintu yang sudah tua. Membuka lalu memasukinya dan langsung menuju jantung ruangan. Menemui kekasihnya. Ditatapnya wajah mayat yang ada di hadapannya itu, “hari ini aku bertemu seorang wanita sepertimu. Seorang wanita yang merasa bahagia jika dicintai banyak pria. Tanpa tahu bahwa ada hati yang terluka karenanya. Mengapa satu cinta saja tidak cukup memenuhi hati wanita sepertimu?”.

Mayat itu tentu hanya diam membisu, tak bisa menanggapi perkataannya. Ditatapnya lekat-lekat mayat wanitanya. Di ambilnya kapak yang berjejer di dinding ruangan. Tanpa hitungan, dicincangnya tubuh dihadapannya itu. Tanpa ampun.

*************
Kolaborasi pertama bersama kakak goyang psikopat @secangkirasa

Psikopat tidak sama dengan gila karena psikopat sadar betul akan semua yang diperbuatnya.

Cerita di atas hanya fiksi belaka. Selingan di antara cerita cinta menyek-menyek dan melow drama. Karena cinta mempunyai sisi untuk melukai.

*gambar dari @goyangibabysoul0135

@kitakalimantan @pertigaankekiri @secangkirkemudian @bekuankenangan @capekngetik @budimch @ayisafarillah @mawar-merahmuda @tyaudhitkd @sepatupudar @tyassiyess @firahalam @aarinarin @ibnumafruhin

Rin Due

06:07
Aku merindukannya sejak terakhir kali aku menyapanya. Yang berarti itu sudah sekitar sebulan yang lalu. Maka tanpa bisa kutahan lagi, aku mengirim pesan kepadanya.

“Hai aku merindukanmu! Sangat!”


06:15
Aku barusaja selesai menyiapkan sarapanku. Tiba-tiba satu notifikasi muncul di smartphoneku. Ternyata sebuah pesan, dari dia. Aku membacanya sebentar, berdesir perasaan aneh di hatiku. Aku ingin sekali membalasnya, tapi aku tak bisa. Sungguh aku tak bisa membalasnya, walau aku ingin.

Kuhabiskan sarapanku, tapi aku tak bisa menikmatinya.


07:36
Teman-teman mengajakku pergi untuk sarapan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan. Aku mengambil dompet, lalu memacu motorku menuju tempat makan yang sudah kami rencanakan.

Disana aku bisa bercanda, membahas hal-hal ala remaja. Hingga untuk sementara mungkin aku lupa, bahwa aku merindukannya.


08.00
Sedari tadi, aku masih terdiam di kamar. Setelah sarapan tadi, aku tidak mood untuk melakukan aktivitas apapun. Aku hanya berbaring di kamar, menghimpit kepalaku dengan bantal. Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa.

Aku tak peduli apapun, bahkan saat berkali-kali smartphoneku berbunyi. Aku hanya takut jika itu adalah pesan darinya, dan aku akan semakin kalut karenanya.


13:00
Karena tak ada kuliah hari ini. Aku dan teman-temanku berencana pergi berenang. Untuk sekadar melepas lelah, penat, suntuk juga galau. Saat ini kami sudah sampai di Umbul Nila, tempat biasa kami berenang.

Disini aku ingin melupakan bahwa aku merindukannya. Ya, karena sejak tadi sepertinya memang rinduku terabaikan.


15:00
Aku mengurung diri di kamar. Aku tonton kembali beberapa film melow agar aku bisa menangis. Seperti kebanyakan orang bilang, rindu itu memang berat. Sangat berat.

Dan aku sedang mengalaminya.


18:00
Malam ini aku ingin makan di luar. Tapi membosankan jika harus dengan teman-temanku lagi. Maka aku mencoba mengajak seseorang. Aku kirimkan pesan kepadanya.

“Tidak merindukanku ya? Sedaritadi pesanku diabaikan. Yasudah, biar aku saja yang rindu. Tapi tanggung jawab dong, kamu udah bikin aku rindu. Malam ini aku tunggu di tempat makan biasa ya? See you there”


19:00
Aku masih menonton film. Teman sekamarku belum juga datang, dia izin pulang dan akan kembali sore ini tapi ia belum kembali. Untuk memastikan, akhirnya aku mengambil smartphoneku. Ada banyak pesan, dari teman sekamar katanya ia akan datang besok pagi.

Ada juga pesan darinya, dan aku semakin merasa getir dibuatnya. Tapi bagaimanapun, aku harus mengabaikannya.


21:09
Aku kembali ke kamar dengan kesal. Selama 2 jam aku menunggunya, namun ia tak datang. Padahal aku sudah mengirimkan puluhan pesan juga puluhan panggilan untuknya. Sesampainya di kamar, aku merebahkan badanku. Lelah tubuh juga lelah hati karena rindu yang diabaikan. Aku mengirimkan pesan padanya.

“Terimakasih untuk pesan yang diabaikan, rindu yang ditelantarkan juga terimakasih sudah membuatku menunggu sendirian selama 2 jam. Tapi bagaimanapun, aku masih merindukanmu”


22.00
Aku semakin kalut malam ini. Kuabaikan smartphoneku, kututup laptopku dan aku menangis sejadi-jadinya diatas kasurku. Dia jahat! Dia menganggap aku tidak merindukannya. Padahal aku juga sangat merindukannya, bahkan aku menangis karenanya.

Sialan, rindu memang sangat menyiksa.


00:00
Aku Due, yang sejak tadi pagi mengirimkan pesan pada seorang wanita. Mengajaknya makan malam, mengirimkan puluhan pesan dan membuat puluhan panggilan namun ia abaikan. Tapi masa bodoh, rindu ini urusanku, aku tak ingin membebaninya.

Biarlah, malam ini aku akan tertidur dengan memeluk rindu-rindu itu.


00:00
Aku Rin, yang sejak tadi pagi kalut dan mengurung diri di kamar. Semua itu hanya disebabkan satu pesan yang dikirimkan oleh seorang pria. Pria itu adalah mantan kekasihku, yang sekitar sebulan yang lalu kami berpisah karena sebab yang entah aku tak ingin mengingatnya. Dia bilang bahwa dia merindukanku, sore tadi dia juga mengajakku makan malam. Tapi aku tak bisa membalas pesannya, tak bisa juga menemuinya. Aku tak ingin kembali mendekatinya, aku takut menjadikan harapnya tumbuh lagi. Padahal di akhir kita hanya akan temui kemustahilan.

“Hai Due, aku juga merindukanmu!” itu kata yang terakhir terngiang-ngiang di banakku sebelum aku ketiduran dalam tangis. Rindu itu berat, berpura-pura tidak rindu jauh lebih berat.

3tsp  asked:

Au where the otp are finally married and face marriage problems/struggles

Sure! :)

  • my in-laws despise me GREAT but around you they’re super nice so you don’t believe me
  • low on cash stress
  • unexpected pregnancy
  • ex calls up saying they have an STD
  • house/apartment burns down
  • one gets fired/laid off from their job
  • i have constant tension with your sibling because they’ve never liked me and doesn’t hesitate to show it
  • arguing over who’s family to spend the holidays at
  • lots of work/school stress

I hope these work for you! :)

~Karissa

#AbsurdChat: Kangen!
  • 👨: Hoooiii.. Aku kangeen!! Kamu sadar gak sih!!?
  • 👩: *received
  • 👨: Ah semmm.. Kekirim ig.. 😖😖 sekalian aja kalau gitu, aku kangen kamu.. Kangen banget!!
  • 👩: *read
  • 👨: Di read doang nih? Gak dijawab? Kamu gak kangen aku gitu?
  • 👩: *read
  • 👨: Beneran di read doang ig, makasih lho ya..
  • 👩: *read
  • 👨: Makasih, karena dengan rinduku yang kau abaikan, juga perasaanku yang tak kau acuhkan, aku bisa menciptakan ratusan puisi..
  • 👩: *read
  • 👨: Ah, ngapain aku jadi lebay gini yaa..
  • 👩: *read
  • 👨: Maaf jika aku mengganggumu, maaf jika aku membuatmu kembali mengingatku.. Ah, melow neh..
  • 👩: *read
  • 👨: Yaudah, mberitahu aja kalo aku kangen kamu. Semalem aku buka-buka pesan lamaku sama kamu, buka-buka foto-fotomu, dengerin rekaman suaramu, juga ngulang-ulang videomu, ujung-ujungnya pagi ini aku jadi makin kangen parah. Udah, mberitahu doang. Kamu gausah rindu aku, berat. Apalagi kalau harus pura-pura gak rindu, huh berat banget. Gausah..

OPAL : STEVEN UNIVERSE

The first time I saw Opals scene in Steven Universe I was just… amazed, I love her theme. love her look. love her attitude and many MANY MORE! 


This wasn’t something I worked on for a long time, more of a speedpainting. it took about an hour and a bit!

shes going to most likely be my fav Gem Fusion just because shes kinda like a stealthy assassin/acrobat gem stone and her VOICE IS JUST. SO MELOW and PERFECT! She reminded me of Sheik or Impa from the Zelda games!

I think after this one Ill do the other two gems! 

Done in Photoshop CC 2014

JOMBLO MELOW

Jadi, tadi Bandung ujan gede, gw lagi dijalan dan macet dan randomly si playlist ipod muter lagunya Melly, Bimbang.
Sebagai jomblo, keimanan gw diuji.
……

Di perjalanan pulang dengan kondisi agak ngantuk, gw voice call-an lah sama @hujanmimpi biar ada temen ngobrol dan sebagai distraksi biar gak ngantuk.
Dan ternyata, doi juga abis diuji keimanannya :))

Jadi jomblo (untuk beberapa orang) memang menyenangkan, apalagi buat gw dengan asas kebebasannya.
Tapi terkadang, gw bisa sangat melow (dalam keadaan tertentu). Maksudnya, gw juga kadang rindu rasanya menyayangi dan disayangi (oleh pihak tertentu / seseorang). Sebut saja, pacar. Kaya tadi dijalan pas ujan terus macet dan denger lagu melow. Ekekekek
Semacam butuh objek khusus (seseorang) yang bisa disayangi, gitu. HAHA

Literally, untuk menyayangi dan disayangi (seseorang) itu tidak melulu harus sama pacar. Bisa sama keluarga, temen-temen, temen deket atau siapapun.
Dan gw juga sangat bersyukur punya keluarga dan temen-temen yang bisa support gw dalam banyak hal. Bayarin dulu gorengan atau nitip beli minuman di ****mart, misalnya :))

Namun, karena ada anggapan pacar adalah hal yang spesial, jadi kasih sayang dari / kepada keluarga atau temen-temen jadi hal yang biasa aja (untuk beberapa orang). Temen gw pernah bilang, kalo punya pacar itu bisa bikin kita ngerasa sangat berharga, ngerasa dibutuhkan, dan ngerasa bisa sangat berguna untuk orang lain. Ya itu, sebetulnya karena anggapan bahwa pacar itu hal yang spesial. Padahal kalo mau itung-itungan nih ya, kita juga (harusnya) bermanfaat dong bagi keluarga dan temen-temen di sekitar kita. Padahal menurut gw, keluarga sama temen-temen sudah jadi hal yang jauh lebih spesial, hanya kadang jarang kita sadari / akui.

Nah ngomongin itu semua, ini jadi menarik kalo diperhatikan. Beberapa orang punya kebutuhan yang berbeda-beda akan pacar (read: tentang menyayangi dan disayangi secara khusus oleh seseorang).
Gw juga kadang rindu kaya gitu, tapi tetep gak sembarangan untuk membuat hubungan (yang serius) dengan seseorang. Enggak mau hanya demi memenuhi “kebutuhan” itu bikin gw “gampang” serong kiri serong kanan. Ada perasaan anak orang yang harus dipertanggung jawabkan, oey.

Kadang ada yang tidak bisa menahan keinginan untuk memenuhi “kebutuhan”nya, jadi kayanya gak bisa banget hatinya kosong gitu.

——-

Kesimpulannya, jangan terlalu ngebet punya pacar demi (yang katanya) memenuhi kebutuhan.

Gak apa-apa sesekali melow, ya gak @hujanmimpi ?
ekekekekek :))

anonymous asked:

I just imagined your brother as Sans for the pudding answer and my stomach started hurting from laughing.

NO NO YOU HAVE NO I DEA ME AND MY BROTHER ARE LITTERALLY SANS AND PAPYRUS THE PARALLELS ARE ALMOST SCARY (even tho my bro doesnt knows what undertale is…)

LIKE REASONS BEING:

my bro is

  • older that me
  • chill to the mAX and kinda lazy (well i mean he’s high a lot but i know some people are like “is sans high 24/7 or is he just sleepy?????”)
  • shorter than me
  • low / high key cares about me (idk it fluctuates with him)
  • kinda dealing with some internal stuff that he never seems to talk about
  • pretty popular and social but only within his group of friends but is still willing to meet someone new (sans at grillby’s + meeting the human)
  • probably types in a normal person
  • sEND ME WEIRD PICTURES OUT OF NO WHERE LIKE WHAT THE HELL??????
  • doesnt really care about anything (kinda goes with the flow y’know?)
  • is actually really smart
  • a jokester

i am

  • the younger sibiling
  • pretty energetic and loud (almost annoying)
  • tOL and lOng
  • low key cares about the bro
  • very expressive and find it hard to supress my emotions 
  • IS READY TO BE FRIENDS WITH LITERALLY ANYONE LIKE “OH HEY U TALKED TO ME AND ACKNOWLEDGED MY EXSISTENCE WE’RE BFF’S NOW!!!!!!!!!” (and im A COOL ONLINE GUY)
  • types in caps…. a lot
  • pretty much cares abOUT EVERYTHING AND EVERYONE
  • pretty confident in myself!!!
  • LITERALLY SYNPATH WITH PAPYRUS LIKE DOES THAT NOT SAY SOMETHING???????

and we pretty tight yo!!

FALTA POCO PARA QUE MELO LLEGUE AL MILLOOOOOOOOOOOON.

Madre míaaaaaaaa… Melo es mi vlogger favorita dfshgfdghkjdflglslfgkslhjfkghsljfghsjkfghsdjklfhgdkjghdkfjghkdjfghdsgfjkglshjgshldfgfjghdfk

La conozco casi como me conozco a mi misma… Tres años ya viéndola *-*


Es impresionante… de las pocas personas que considero merecen muchos más suscriptores de los que tienen… Muchos no, MILLONES.


En fin. asdkjsdkfjñskdjfksdf
*Se muere de la emoción*


(SI no están suscritos…. SUSCRÍBANSE…. Sería un buen regalo de navidad para ella, DE VERDAD HACE MUY BUENOS VÍDEOS… ¿Y SUS VLOGS? PFFF NI LES CUENTO)