meliar

I’ve been really busy with work lately, but I managed to find some time to do a quick paint of Melia® from Xenoblade.

I still haven’t finished the game, but I’ve gotten the “seventh character” in my party, and I’m all worked up because of how complicated this makes things for Melia®.

I really, really like monolith studios games. I can’t wait to hear more about the new project they are working on for the Wii U that looks to be a bit of a mix between Xenogears and Xenoblade. I’m keeping my fingers crossed that it will go to Europe first for localization again because the VA work in Xenoblade is SO AMAZING.

Pagi ini berada didalam sebuah ruangan bernama Instalasi Radiologi… Menjadi saksi dari hasil sebuah karya mesin media rekam untuk mengetahui isi dalam tubuh… Cepat sembuh cees terbaik kami… Secepatnya kita meliar bersama lagi…

Kenangan 2012

Kadang kala. Aku rindu kenangan itu. Disaat kau nyanyikan aku lagu rindu. Disaat kau gembira bilang kau suda tahu bermain gitar. Hmm. Aku rindu kenangan itu. 

Saat pertama kali kau ingin kenal aku. Entah macammana kau punya idea untuk itu. Aku pun tak pasti. 

Ingat lagi? Masa kita sama-sama duduk di pantai. Minta teman ambilkan gambar yang paling romantis. 

Masih juga aku ingat, kau beri aku jaket itu. Minta dijaga sepenuh hati. Tapi, kau ambil kembali atas sebab cuma alasan mahu berjumpa. 

Sekali lagi, saat kita beli frame gambar bersama. Konon nanti itu dijadikan bukti ikat setia. Nanti bila jauh dimata, kita punya kenangan untuk dihadap.

Tapi,

Kenangan itu terus hilang. Bila kau sendiri yang terusan bercerita tentang kekasih lama. Sedang  kita sering bertengkar, kembali bahagia, akhirnya bertengkar lagi. Sedang kau sendiri tak pernah faham yang aku juga seorang wanita, yang perlu dihormati dan juga punya rajuk dihati. Dan sedang kau juga sibuk meliar mata melihat mereka yang lainnya untuk kau isikan lagi ruang kosong di hati. 

Terima kasih untuk kenangan itu. Aku sudah pun memaafkan dan takkan aku terima lagi. Kerana aku tahu, aku layak dapat yang lebih baik dari kamu - seperti dia. 

28 juni 2015

Pangeranku bertemu dengan Ibuku..
Untuk pertama kalinya.

Malam itu sebetulnya sudah larut, pukul sembilan malam lewat.

Mama, (kusebut ibuku dengan panggilan itu).

Ia keluar dari kamar menghampiri tamuku, tamunya juga.

Pangeranku dan wajahnya yang sedikit khawatir. Ya, aku tahu ia khawatir meski ia sembunyikan dibalik polesan senyumannya. Senyuman khas yang takkan bisa kulupa.
Entah apa yang pikirkannya. Tak hanya ia, akupun ikut berkecamuk dalam hatiku. Pikirku meliar, banyak hal yang aku takutkan. Sangat banyak, bagaimana jika ia terfikir “berhenti lalu mundur” ?!
Bagaimana jika …. Argh! Membayangkannya sungguh aku tak sanggup. Sungguh!

Aku terlalu mencintainya kali ini!

——————-

Hingga akhirnya, setibanya ia memberiku kabar.
Suaranya dari sana terdengar lemah dan tak bersemangat.
Malam ini aku kehilangan jiwanya pada percakapan 2menit malam itu.

Aku takut ia putus asa.

——————–

Percayalah, ibuku tak berucap aneh.

sebuah tanya

Setelah semuanya coba kuakhiri, kau hadirkanku begitu banyak pertanyaan. Membuatku penasaran. Membuat akalku meliar mencoba menjawab semua keingintahuan.
Hingga semua terwakili dalam satu tanya : Apakah itu untukku ?

Bila kau membuat tulisan-tulisan indah, apakah itu untukku ?
Setiap do'a- do'a pengharapan yang kau panjatkan padaNya, apakah itu untukku ?
Deretan pujian yang kau lontarkan, apakah itu untukku ?
Bahkan ucapan selamat tinggal pun, apakah itu untukku ?

Sebenarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan. Yang berkumpul memenuhi otakku, menjadi satu. Satu hal yang mengganjal. Semacam beban.

Lewat pertanyaan ini, aku hanya ingin meluruskan.
Meluruskan dugaanku yang bercabang.
Memendekkan dari panjangnya khayalku.
Menepiskan sebuah perangkap rasa yang telah syaitan persiapkan.

Jika kau menemukan tulisan ini. Aku harap kau bersedia untuk menjawabnya. Menjawab satu tanya yang mewakili semua. Satu tanya yang mewakili rasa.

(Iseng sambil nunggu sahur, hehe)