meliar

Cerpen: Peduli

Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Drrrrrt. Drrrt.

Getar notifikasi Whatsapp diponselku. Ada satu pesan masuk. Eh, ternyata dari dia. Aku memanggilnya, Mas Kafa. Ka-fa-bi-hi.

“Ara, kamu bisa bantuin saya? Saya sedang butuh bantuan.“

"Iya Mas, bantuan apa?”

“Saya ada tugas Reliability. Ada lima soal yang harus saya selesaikan. But, im freez. Sepertinya kepala saya sudah tertahan. Kamu sudah expert materi ini, kan? Bisa minta tolong bantuin mengerjakan? Nanti minta penjelasan sekalian via telepon. Bagaimana?”

Duh, lagi pusing berat nih, Mas. Nggg. Tapi, gapapa deh. Kapan lagi aku bisa bantuin kamu, Mas? Hehehe.

“Boleh. Mana soalnya?”

Kemudian dia mengirim foto-foto tugasnya. Satu persatu.

“Untuk kapan?”

Besok.”

"Nanti malam ya. Sekalian ngerjain tugasku yang lain. Sekarang aku mau istirahat dulu. Pilek berat. Pusing. Demam.”

“Okay!”

Hah? Gitu aja? Iya… Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Aku menutup ponsel dengan muka terlipat. Dia selalu begitu, terlihat tidak peduli. Bahkan ketika aku demam seperti ini. Kadang aku bertanya, kenapa aku masih saja menaruh rasa kepadanya? Yang jelas-jelas tidak mau tau semuanya tentang aku? Yang sejak dulu tak pernah menampakkan sama sekali kepedulian. Yang sejak dulu selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh. Kenapa? Hah?

Toh seandainya dia peduli sama aku, paling bakal bilang, “Nggak usah manja! Latihan menguji mentalitas diri. Beli obat sendiri dong!”

Hafal. Aku sampai sebegitu hafal dengan sikap-sikap khasnya. Ah, sudahlah.

Aku menepuk angin di depan muka.

Kubuka ponselku kembali. Mengetik pesan lagi,“Nanti malem ambil saja sekitar jam setengah sembilan. Aku titipin Pak Man. Biasanya jam segitu beliau masih jaga di gerbang kost,”

Setelah agak reda pusingku, aku mulai mengerjakan tugasnya. Juga tugasku sendiri untuk besok.

Beberapa menit terlewat. Kepalaku mulai pening lagi. Duh, padahal baru menyelesaikan satu nomor. Yaudahlah, ya. Tak ada jalan lain selain: aku memutuskan untuk tidur lagi karena semakin parah peningnya. Aku tak sempat makan, tak sempat ke kamar mandi, tak membuka ponsel samasekali. Kalau sakit seperti ini, seolah semuanya tidak berarti kecuali kesehatan. Kapok, deh, nyepelein penyakit flu. Ternyata flu saja bikin produktifitas menurun drastis.

“Aku selesaiin abis ini deh.” Gumamku sambil menutup buku-buku.

Aku merebahkan diri diatas kasur. Kupejamkan mata. Tidak bisa tidur. Kumembuka mata kembali. Menatap kosong langit-langit kamar. Air-air tak jelas mulai tertahan pada binar mataku. Kemudian tumpah. Terbawa perasaan. Berandai-andai. Pikiran meliar. Andai dirumah, mamah pasti sudah beliin obat. Diambilin makan. Dibelai-belai rambutnya. Didoain supaya cepat sembuh. Huhuhu. Disini kosong, tak pernah ada yang benar-benar peduli. Hanya mamah yang peduli.

Pun dia. Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Pukul setengah sembilan malam tiba-tiba, “Mbak Ara, dapet titipan dari Pak Man,” Seorang teman kamar lain menyodorkan kresek putih berisi sesuatu.

Karena penasaran, aku segera membuka tas kresek putih itu. Ada sepaket obat. Ada sebungkus nasi padang. Ada sebotol susu penambah daya tahan tubuh dan sebotol air mineral. Ada sekotak tisu. Terakhir, ada sesobek kertas coklat bertinta merah menyembul dari dasar kresek bertuliskan seperti ini:

Yang tablet warna silver obat demam sama pusing, diminum sehari tiga kali. Yang tablet warna kuning obat pilek. Juga diminum sehari tiga kali. Sebelum diminum, makan dulu nasinya. Terus tisunya buat lap ingusmu. Pasti mbeler terus, kan?  Hahaha. Cepat sembuh, ya.

(Kafabihi)

Aku tidak mampu menahan lagi air-air tak jelas dari mata. Menetes lembut pada pipi tembamku. Ternyata ada yang masih mempedulikanku ditengah lautan manusia yang mengandalkan keegoisan-keegoisannya sendiri. Ternyata ada yang masih mau memahamiku disaat aku merasa tak ada satupun yang mempedulikanku. Ada.

Aku membuka ponselku. Niatnya ingin berterimakasih banyak-banyak ke dia. Eh, ternyata ada pop-up pesan Whatsapp darinya. Dikirim barusan tadi waktu pukul delapan lewat beberapa menit. Sebelum ada titipan kresek putih dari Pak Man.

“Nggak usah ngerjain tugas saya. Biar saya sendiri yang ngerjain. Mudah-mudahan saya bisa. Saya tau kamu pening. Istirahat gih.”

Sesegera mungkin kubalas pesannya.

“Beneran Mas? Hahaha. Terimakasih, ya. Peningnya sudah agak mendingan kok.” Aku berusaha menghibur diri sendiri. Dan entah kenapa semangatku tiba-tiba melesat drastis. Tiba-tiba saja aku senyum.Tiba-tiba saja perasaanku bahagia.

Tuhkan. Perempuan mudah sekali diganti perasaannya, ya?

"Oh iya, kata mbak-mbak apotek tadi, kamu tidak boleh makan gorengan sama minum es dulu. Kan pilek,”

Aku benar-benar tidak mampu menahan air-air tak jelas ini lagi.

“Iya. Makasih, ya?”

“Oh iya. Eskrimnya ditunda dulu, kamu sembuh dulu aja.”

Eh. Ternyata Mas Kafa masih ingat. Kukira lupa.

Tumpah. Air air tak jelas dimata tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Kini aku tau, dia peduli.

**

Lima hari setelah kejadian ini. Aku membuka akun twitterku–yang dari dulu memang jarang-jarang kubuka. Seperti biasa. Hal pertama yang kulakukan adalah membuka timeline twitternya. Membaca kicauan-kicauannya–yang walaupun isinya kebanyakan catatan-catatan kampus yang tak kupahami maksudnya. Sejauh ini, ia belum tau kalau ternyata salah satu followernya adalah aku. Yang memakai nama lain. Hahaha.

Sekrol-sekrol-sekrol. Hey, ada tiga kicauan terpencil yang membuatku merasa nggg… GR. Tertanggal tepat setelah aku dititipi obat dan makanan sama dia.

“Dingin bukan berarti tak ingin, Nona.”

“Ada yang diam-diam bahagia disebabkan karena kehadiranmu disaat kamu merasa tidak ada satupun yang mempedulikanmu.”

“Cepat sembuh, ya. :)”

Buru-buru aku menutup laptopku. Lalu menggigit bibir.

Aduh, bagaimana ini? Mas Kafa benar-benar peduli, ya, ternyata?

**

Cerpen ini ditulis untuk memenuhi tugas dari Kak @prawitamutia​ pada Kelas Menulis Literaturia, 15 September 2016 yang lalu di Surabaya.

CIKGU KALSOM

AKU mendapat kerja sementara sebagai guru sandaran. Aku mengajar matematik di sebuah sekolah rendah. Di sekolah, aku meminati seorang guru yang mengajar subjek bahasa melayu. Kalsom namanya dan dia berumur dalam lingkungan 42 ketika itu. Suaminya promoter dan pemandu van rokok. Mempunyai 2 orang anak. Cikgu Kalsom memiliki wajah yang cantik, hidungnya yang sedikit mancung itu menampilkan dirinya seperti seorang berdarah kacukan melayu-mamak. Kulitnya yang putih dan cerah itu memberikan pandangan yang menawan. Meskipun tubuhnya agak besar, maksud ku tidak gemuk, cuma besar dan tidak mempunyai shape yang menarik namun dia memiliki ciri-ciri yang ku geramkan.

Pehanya yang gebu dan betisnya yang membunting seringkali memberikan debaran di dada ku setiap kali aku memandangnya. Lebih-lebih lagi jika dia memakai pakaian favourite ku iaitu baju kurung hijau berkain satin kuning yang terbelah di hadapan, baju kurung satin putih dan baju kurung bunga-bunga hijau. Wajahnya yang cantik itu juga seringkali menaikkan nafsu ku. Dengan tudungnya yang kemas membalut kepalanya, aku seringkali tewas melancap sendirian di bilik air sambil membayangkannya. Namun, ada satu lagi yang benar-benar membuatkan aku begitu teringin sekali untuk memiliki dirinya. Sesungguhnya cikgu Kalsom memang bertuah memiliki buah dada yang besar. Buah dadanya seringkali mencuri tumpuan guru-guru lelaki dan aku tidak terkecuali. Sudah bergelen air mani aku bazirkan gara-gara keberahian ku kepadanya tidak dapat ditahan. Keinginan ku untuk memilikinya telah mendorong ku untuk menjadi lebih gentleman dan berani melakukan maksiat.


Aku memang gemar berbual dengan guru-guru yang sedang free di bilik guru. Pada hari itu, aku memang bernasib baik kerana hanya aku dan dia sahaja di bilik guru sementara kebanyakkan guru lain masih mengajar dan ada juga yang mengikuti acara sukan antara sekolah di sekolah lain. Untuk menuju ke meja ku, aku akan melalui mejanya dimana aku akan melalui belakang tubuhnya yang sedang duduk di kerusi. Dari pantry, aku mencuri-curi pandang sambil buat-buat membuat air, namun mata ku tidak lepas dari memandangnya. Aku kemudian tersedar bahawa dia ingin bangun dari kerusi dan dengan segera aku buat-buat menuju ke meja ku.


Sebaik sampai di belakangnya, cikgu Kalsom yang tidak sedar aku melalui belakangnya terus bangun dan memusingkan badannya membuatkan kami berlaga dengan kuat. Memang timing aku tepat pada masa tu. Akibat dari perlanggaran tubuh kami yang kuat tubuhnya hampir rebah ke belakang. Aku yang memang sudah penuh dengan akal lantas memautnya dan terus memeluk tubuhnya erat. Dalam keadaan tubuhnya yang hampir terlentang itu, dia juga turut memaut tubuhku dan ini membuatkan pelukan kami semakin erat dan rapat. Tubuh gebunya yang licin dibaluti baju kurung satin putih itu aku ramas penuh geram. Kemudian aku menarik tubuhnya supaya dapat berdiri tegak dan stabil dan kemudian aku melepaskan pelukan ku.

“Cikgu Kalsom, maaf, saya tak dapat nak elak tadi. Cikgu Kalsom tiba-tiba je bangun dan pusing mengadap saya” aku berpura-pura meminta maaf.

“Ohh, tak pe. Saya juga minita maaf. Sepatutnya saya tengok-tengok dulu tadi. Awak ok?” tanya cikgu Kalsom penuh innocent.

“Saya ok, cikgu Kalsom ok?” aku pula bertanya dan berbuat baik seperti malaikat, sedangkan tanduk dah sebesar dunia atas kepala time tu, cuma tak nampak je.

“Saya ok, saya nak ke pantry tadi. Maaf ye..”cikgu Kalsom kembali meminta maaf.

“Tak pe cikgu.. ” aku terus menuju ke meja ku setelah mengetahui bahawa dia ingin ke pantry.

Dari meja, aku perhatikan tubuhnya berjalan menuju ke pantry. Baju kurung yang licin membalut tubuhnya kelihatan sendat mengikut bentuk tubuhnya yang mampat dan gebu. Aku serta merta menggosok batang ku dari luar seluaar dan membangkitkan rasa ghairah semakin mengembang. Aku nekad, aku mesti dapatkannya. Aku mesti pancut di tubuhnya yang dibaluti baju kurung satin putih itu hari ini juga. Bukan senang nak dapat line clear dan berdua sahaja dengan dia macam tu. Aku terus bangun dari kerusi dan menuju ke pantry.


Di pantry, aku lihat cikgu Kalsom sedang mengisi air panas di dalam mug. Dia menyedari kehadiranku. Dia menoleh dan tersenyum kepada ku yang sedang tercegat memerhatikannya di pintu. Kemudian dia kembali menumpukan kepada aktivitinya membuat air. Aku berjalan perlahan-lahan menghampirinya dalam debaran yang semakin kencang.


“Nak air ke? Nak saya buatkan?” tanya cikgu Kalsom tanpa memandang ku yang sedang berdiri di sebelahnya.

“Err.. tak apa cikgu Kalsom. Saya baru lepas minum tadi. Sebenarnya saya nak minta maaf pasal tadi.” kata ku gugup.

“Ehh.. tak ada apa-apalah. Saya tak kisah, lagi pun bukan salah awak. ” kata cikgu Kalsom sambil memandang ku.

“Bukan pasal itu cikgu, tapi pasal tadi masa cikgu nak terjatuh, saya…. err… ” aku gugup hendak meluahkan kata-kata.

“Apa dia, cakaplah..” cikgu Kalsom meyakinkan ku sambil membancuh minuman tanpa memandang ku yang sedang berdiri di sebelahnya.

“Saya peluk cikgu Kalsom. Bukan tu je, tapi saya raba sekali tubuh cikgu.. Maaf ye cikgu Kalsom..” aku meminta maaf perangkap dalam debaran.


Cikgu Kalsom terdiam, sudu yang mengacau air di dalam mug terhenti serta merta. Kemudian tanpa memandang ku, dia kembali mengacau minumannya sambil tersenyum sendirian.


“Tak pe.. saya tak kisah. Lagi pun bukan ada sesiapa nampak kan.. ” kata cikgu Kalsom membuatkan aku bersorak girangan di dalam hati.

Nampaknya aku ada peluang, perangkap sudah semakin mengena sasaran nampaknya. Memang bijak betul aku mencari helah untuk menikmati tubuhnya.

“Betul ke cikgu tak kisah saya pegang-pegang tadi?” tanya ku lagi.

“Ye, tak apa.. ” jawabnya ringkas.


Aku hampiri cikgu Kalsom serapat yang boleh tanpa menyentuhnya. Perlahan-lahan aku usap-usap lengannya. Kelicinan daging gebunya yang dibaluti baju kurung satin itu membuatkan aku semakin ghairah. Sesekali aku ramas-ramas lengannya.


“Zin.. awak nak buat apa ni?” tanya cikgu Kalsom sambil tersenyum memandang ku.

“Cikgu cantiklah, saya tak dapat tahan untuk peluk cikgu tadi. Lagi pun cikgu tak kisahkan? Sementara tak ada orang lagi ni, bagi saya pegang tubuh cikgu sekali lagi ye… ” suara ku lembut seperti berbisik ke telinganya.

“Awak suka saya ke? Saya ni kan dah tua. Anak dah 2 orang dah. Bini orang pulak tu. ” cikgu Kalsom cuba menguji nampaknya.

“Saya tak kira, saya nak juga… saya nak juga… Kalsom…… ” tangan aku terus merangkul tubuhnya dan bibirku terus melekat di bibirnya.


Tanpa mengelak, cikgu Kalsom terus menerima kucupan dari ku dan memberikan tindak balas yang mengasyikkan. Kami kemudiannya berpelukan sambil berkucupan di dalam pantry. Tangan ku puas meraba seluruh pelusuk tubuhnya hingga aku akhirnya berjaya meraba tubuhnya dari dalam bajunya. Hook branya ku buka, buah dadanya yang besar itu akhirnya membuai-buai terdedah dari baju kurungnya yang ku selak ke atas. Berkali-kali aku menelan air liur melihat buah dadanya yang aku geramkan selama itu akhirnya berada di hadapan mata. Aku usap buah dadanya dan ku ramas-ramas perlahan. Selama ini, sepanjang pengalaman aku bersetubuh dengan wanita, tidak pernah aku menikmati buah dada sebesar milik cikgu Kalsom.


Seperti betik yang sedang mengkal, putingnya yang sederhana besar dan berwarna kehitaman itu aku hisap seperti bayi kecil gamaknya. Cikgu Kalsom membiarkan perbuatan ku. Sambil tersenyum, dia menetek sambil memandang ku. Aku yang sedang sedap menghisap tetek cikgu Kalsom yang besar itu lantas mengeluarkan batang ku dari zip seluar yang telah ku buka. Aku hunuskan batang ku yang keras berurat itu ke arah peha cikgu Kalsom. Oleh kerana kedudukan ku yang membongkok itu, maka sukar untuk aku merapatkannya secara berhadapan. Lalu aku terus beralih ke bahagian kiri tubuhnya. Dengan mulutku yang masih tak mahu lepas dari teteknya, aku merangkul pinggang cikgu kalsom dari tepi lalu aku rapatkan batang ku ke pehanya.


Kelicinan kain satin yang dipakai cikgu Kalsom menyentuh kepala batang ku dan ianya membuatkan batang ku semakin mengeras dan nafsu ku semakin berahi. Tangan kiri ku pula meraba perut dan tundunnya yang tembam dan masih terselindung di balik kain yang dipakainya.


Tekanan dan geselan batang ku di pehanya yang dibaluti kain yang licin itu telah membuatkan cikgu Kalsom menyedari akan tindakan ku yang semakin berani itu. Dia terus meraba-raba mencari batang ku dan akhirnya dia menggenggamnya erat.


“Awak ni.. dah tak tahan ye?” bisik cikgu Kalsom kepada ku.

Aku memandangnya, kelihatan matanya meliar melihat keadaan di luar pantry. Takut ada orang datang. Lalu aku lepaskan teteknya dari mulutku. Aku kembali berdiri tegak mengadapnya dari sisi sambil terus merangkul dan merapatkan tubuh ku ke tubuhnya.

“Saya tak tahan cikgu.. Cikgu Kalsom pegang apa tu?” aku sengaja menguji cikgu Kalsom.

“Saya pegang burung yang dah gatal ni. Kerasnyaaa… hmmm… ” jawab cikgu Kalsom sambil menggenggam batang ku geram.

“Suami cikgu punya ada macam saya punya?” tanya ku untuk menambah berahinya.

“Lebih kurang, cuma awak punya.. mmm… keras sangat laa… ” jawab cikgu Kalsom tersipu-sipu.

Aku yakin cikgu Kalsom sudah semakin bernafsu ketika dia memegang batang ku itu. Reaksinya sama seperti ketika aku bersetubuh dengan kak Sue dahulu. Hembusan nafasnya semakin kuat, seiring dengan tangannya yang menggenggam batang ku semakin kuat. Aku kemudian mengucup bibirnya sambil tangan ku meraba-raba punggung dan perutnya yang membuncit itu. Tundunnya sesekali aku ramas dan usap penuh geram. Kelicinan kain satin putih yang membalut tubuhnya membuatkan nafsu ku semakin membara. Cikgu Kalsom mengucup bibirku penuh nafsu. Tangannya sudah mula merocoh batang ku dan sesekali dia menggosokkan kepala batang ku di peha gebunya yang licin itu.


“Saya nak cikgu Kalsom… ” kata ku berbisik kepadanya.

“Nak apa” jawab cikgu Kalsom sambil tersengih.

“Saya nak cikgu… Please… ” pinta ku seperti menagih simpati.

“Sini tak boleh, bila-bila masa je cikgu-cikgu lain boleh masuk… Lain kali ye.. ” cadangnya kepada ku.

“Cikgu lancapkan pun tak apa. Sekurang-kurangnya saya tak kempunan hari ni. Boleh ye sayang… “pinta ku kepadanya.

“Ok… ” jawab cikgu Kalsom sambil tangannya terus melancapkan batang ku.


Sambil dia melancapkan batangku, aku kembali membetulkan pakaiannya. Hook branya ku kancing semula dan baju kurung yang ku selak tadi ku turunkan semula menutupi tubuhnya. Kemudian aku kembali meramas dan mengusap seluruh tubuhnya yang gebu itu.


“Cikgu… saya suka cikgu pakai baju kurung satin ni. Buat saya tak tahan.. ” aku merintih kenikmatan dilancap oleh cikgu kalsom.

“Ye ke.. suka kain satin yang licin ni? Ok, kalau cam tu, macam mana kalau.. saya buat macam ni… ” kata cikgu Kalsom sambil tangannya membaluti batang ku dengan kain baju kurung satinnya yang licin itu.

“Sedap tak?” tanya cikgu Kalsom sambil tangannya melancapkan batang ku menggunakan kain baju kurungnya.

” Ohhh… sedapnya cikguuu….. “aku semakin berahi tatkala cikgu Kalsom melancapkan batang ku.

“Cikgu… saya nak terpancutt… uuhhhh… ” aku memberi amaran kepadanya.

Cikgu Kalsom nampaknya terus melancapkan batang ku tanpa menampakkan tanda-tanda hendak berhenti. Aku yang semakin kekejangan hampir ke puncak itu memeluk tubuh cikgu Kalsom penuh nafsu.

“Hmm.. keras betul lah awak punya ni… Sayang rasanya nak saya lepaskan… ” cikgu Kalsom nampaknya betul-betul geram dengan batang ku.

“Cikgu Kal… Sommmm….. OOhhhhhh….. Kalsommm… sayangggg… ” aku merintih serentak dengan pancutan air mani yang memancut keluar.


Cikgu Kalsom melancap batang ku yang berdenyut-denyut di dalam genggamannya. Wajahnya yang cantik itu aku tatap penuh berahi. Kemerah-merahan wajahnya menerima pancutan air mani ku yang banyak di tubuhnya itu. Batangku seperti diperah-perah tangannya.


“Banyaknya air mani awak Zin.. ” Cikgu Kalsom seperti terkejut sebaik dia melihat batang ku yang selesai memancutkan air mani di dalam genggamannya.

Air mani ku yang terpancut itu kelihatan meninggalkan kesan basah yang amat besar dan banyak di baju kurungnya. Oleh kerana baju kurungnya berwarna putih, jenis satin plain pula tu, maka ianya dapat dilihat dengan jelas.


“Macam mana cikgu, nanti cikgu nak cakap apa kalau orang tegur kesan basah ni.” aku bertanya ingin tahu.

“Takpe, saya cakap je air tumpah.. Balik nanti saya cuci lah. Lagi pun bukan ke kejap lagi habis waktu sekolah.” cikgu Kalsom menerangkan kepada ku.


Aku menangguk setuju. Selesai sahaja perbuatan terkutuk itu, segera kami pergi ke meja masing-masing. Pada waktu pulang, aku terlihat cikgu Kalsom menunggu kehadiran suaminya di porch sekolah. Dia ternampak kelibat aku memerhatinya. Dari jauh aku lihat dia tersenyum kepada ku dan sambil itu dia memandang ke bawah, menunjukkan dia menggunakan fail sebagai penutup kesan tompokan air mani ku di baju kurungnya. Aku mengangguk memahami taktiknya dan terus berlalu dari situ menuju ke tempat letak motorsikal.

Liar
South Club
Liar

Liar playing from another room

You’re sitting across from me
Excitedly talking about yourself
But I can’t understand what you’re saying
You’re telling me about yourself
Passionately, as you spit
But I’m sorry, I’m sorry
I don’t care about you
You’re so pretty
Don’t spend time with a person like me
It’s too wasteful for a hot person like you
To be in the same place as me
Liar, whenever you open your mouth
Lies are engraved on your lips
Liar, my head hurts, stop it, liar
You Are Liar

Sekedar Membayangkannya Saja, Ia Tidak Berani

Gadis itu dari dulu memang tak pernah berani mengatakannya. Ia simpan dalam-dalam perasaannya. Karena ia khawatir hal itu akan membuat pikiran dan hatinya meliar tanpa arah tanpa kendali.

Perasaan gadis itu memang sudah sangat  jauh. Tapi fisiknya tidak sama sekali dekat. Sebut saja, lelaki pencuri setengah hatinya–belakangan ini.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan pagi yang cerah di emperan belakang rumah. Menyiapkan kopi hangat dan sepiring pisang goreng  lalu ditambah perbincangan hangat bersama dengan lelaki itu, ia tak pernah berani sedikitpun.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan ia sedang merapalkan kalam-kalam  Allah, huruf demi huruf. Ayat demi ayat. Lembar demi lembar.  Bahkan juz demi juz, untuk disimak oleh lelaki itu. Membenarkan jika ada yang kurang benar. Sambil bareng-bareng mentadabburi kemudian diaplikasikan bersama dalam kehidupan sehari-hari, pun tak pernah berani ia coba.

Jangankan  mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berdua memuthola’ah kitab-kitab yang telah dipelajari dari kyai-kyai dan guru-guru masing-masing–yang satu membacakan kemudian yang satu mendengarkan sambil mencatat. Lalu bergantian, sambil bercanda sesekali. Samasekali ia tak berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berjalan kaki berdua ditrotoar diwaktu senja, sambil bergandengan tangan dengan harapan dosa-dosa kecil berdua akan luruh satu demi satu, tidak sama sekali ia berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Membayangkan menjadi model kamera kebanggaan si lelaki itu dengan latar belakang pantai, gunung ataupun rerumputan dilapangan saja, ia tak berani.

Intinya, gadis itu benar-benar tidak berani membayangkan akan menjadi lebih dari sekedar pertemanan biasa selama ini.

Meski kebaikan-kebaikan selama ini masih membekas. Basa-basi yang paling basi masih tertempel direlung. Canda tawa yang-meskipun tidak sering dan terkadang garing-masih terngiang. Harapan-harapan tak pasti itu masih melekat. Juga rasa yang bercampur aduk layaknya rujak dengan berbagai rasa buah.

Ia benar-benar tak ingin menelan kekecewaan atas manusia.

Lelaki yang sedari awal sudah ia prediksi akan mengusik ketenangan-ketenangannya. Lelaki yang sedari awal sudah ia duga akan membuatnya tersenyum tak mempedulikan sekitar setiap kali kebaikan si lelaki muncul secara tiba-tiba–tanpa ia nanti sebelumnya. Lelaki yang didalam doanya tak pernah absen untuk disebutkan.

Yang ia berani harapkan sekarang hanya satu. Lelaki itu memberikan kabar setiap hari. Tidak harus lewat sms atau telepon. Tidak harus lewat pembicaraan singkat. Juga tidak harus lewat titipan salam dari teman. Bisa jadi lewat semilir angin, hembusan udara malam yang dingin, air-air hujan yang turun dari langit bersama malaikat penjaganya. Juga balasan do’a-doa. Mungkin jika seperti itu bisa lebih terjaga.

Jangan tidak ada kabar, do’amu sepertinya sampai. Do’aku sampai kan?

Batinnya menyeruak lembut, sekali lagi.

I’ve been really busy with work lately, but I managed to find some time to do a quick paint of Melia® from Xenoblade.

I still haven’t finished the game, but I’ve gotten the “seventh character” in my party, and I’m all worked up because of how complicated this makes things for Melia®.

I really, really like monolith studios games. I can’t wait to hear more about the new project they are working on for the Wii U that looks to be a bit of a mix between Xenogears and Xenoblade. I’m keeping my fingers crossed that it will go to Europe first for localization again because the VA work in Xenoblade is SO AMAZING.