melaju

Lalu?

Aku, adalah orang pertama yang nyaris membuatmu kembali jatuh cinta setelah sekian lama. Kemudian kamu bertemu dengan orang kedua dan ketiga.

Aku tahu, dibandingkan keduanya, aku tidak ada apa-apanya. Perkara jarak, aku kalah. Perkara cantik, aku jauh. Perkara menurutimu, aku tidak pernah. Hanya saja, kamu tahu bahwa aku adalah orang pertama dan satu-satunya yang mampu membuatmu terbuka untuk bercerita apa saja. Aku juga seorang saja yang membuatmu mampu merasa benci sekaligus rindu di waktu yang sama.

Kamu menolak untuk menerima segalanya apa adanya. Pun, aku, tidak pernah bisa yakin bahwa kamu adalah jawaban yang benar.

Kita, sama-sama selalu menginginkan orang lain. Dalam kasusku, aku tidak pernah berani dan merasa pantas untuk orang yang selalu kuharap dan doakan. Dalam kasusmu, sepaket lengkap dari orang ketiga tidak juga mampu membuatmu bergerak sejauh denganku. Kita, terus saja menyangkal dan berusaha menjalani semua tanpa harus banyak rencana. Menikmati waktu yang terus melaju dengan berulangkali meyakinkan diri bahwa kita tidak akan terlambat sampai pada satu tuju itu.

Aku sudah begitu ingin pergi, tetapi kamu terus saja datang.
Sama seperti dulu, ketika kamu ingin pergi dan aku tidak bisa melepaskan.

Lalu?

Aku tidak tahu.

Bukan Kita.

Saat itu.
Saat pertama kali mataku menemukanmu, aku merasa seperti berada pada sebuah skenario kecil yang romantis nan manis.
Saat langkahmu dan langkahku melaju, waktu mendadak ringkih hingga detiknya terseok-seok lalu melambat, kaki kita tak kunjung sampai untuk berpijak.
Aku menikmati setiap detik yang sengaja diperlambat ini dengan menangkap sebanyak mungkin sketsa wajahmu.

Saat itu.
Saat pertama kali aku menyadari adanya dirimu, aku merasa udara menjadi sejuk padahal musim sedang kemarau.
Aku mulai bisa melukis wajahmu dalam benakku, lalu kemudian entah dari mana asalnya, sekelilingku menjadi sesak bertaburan bunga padahal tak ada pohonnya.

Saat itu.
Saat aku mulai menyadari keberadaanmu.
Aku memutuskan menjadi pengagummu.
Aku menantimu dalam putaran waktu, menjadi si detik yang tetap berdetak demi mempertemukan menit dan jam pada angka yang sama.
Aku menunggumu dalam persimpangan jalan, menjadi halte bus yang tetap setia berdiri hingga dirimu datang untuk mengangkut semua harapanku.

Kamu belum mengenalku.
Tak apa, nanti pun kamu akan tahu adanya diriku dan rasa yang ku bawa serta untukmu, begitu pikirku.
Kamu masih nampak mengagumkan walau senyummu tak kunjung sampai kehadapanku.
Kamu masih nampak manis walau kerlingan matamu seringnya bukan untukku.
Kukira, kamu butuh waktu untuk menatapku.
Biar begitu, kamu masih memeluk hatiku.

Walau akhirnya waktu semakin menua.
Kamu belum juga tersentuh oleh cinta yang kukirimi setiap saat.
Hatiku dan hatimu bukan menit dan jam yang akan bertemu pada satu titik.
Rupanya, untuk membuatmu cinta adalah perkerjaan yang rumit.

Saat itu.
Saat pertama kali aku menyadari kita tak bisa saling mengaitkan jemari.
Aku ingin mempercepat waktu yang sempat kuperlambat untuk menikmati dirimu.
Agar langkahmu dan langkahku cepat berpijak dan segera berpindah tempat.

Rupanya, hanya aku yang berada dalam skenario ini. Sedang dirimu berada pada skenario yang lain.
Ya.
Kukira kita bukan lagi drama korea seperti yang sore tadi kutonton seorang diri.
Kita bukan tentang tentara dengan dokternya atau goblin dengan pengantinnya, tapi hanya tentang aku dengan hatinya.

10:51pm. Tuesday. January 17. 2017.

Surat Ketujuhbelas

Jakarta, 17 Januari 2017

Dear Bunda @tandatanya

Apakabar bunda? semoga sehat selalu ya

Waktu terus melaju, dan masa lalu tlah tertinggal di tempatnya. Selamat melangkah di angka dalam tahun yang baru ya, semoga segala yang baik yang diucap dalam sengaja maupun tak sengaja, dalam lisan maupun tulisan Allah berkenan.

Semoga tetap menjadi kakak yang baik, yang lembut lagi tegas. Yang penyayang lagi santun. Yang ramah lagi murah senyum.

Aku bahagia dan bersyukur bisa mengenal kakak :)

Semoga Allah senantiasa melindungimu. aamiin

Salam rindu,
Dari aku
Rur

Cerpen : Untuk Kakak Terbaik

Sepeda motor melaju kencang, aku memeluk erat kakakku dari belakang. Aku benci betul dengan motor sport kakakku ini karena sangat tidak nyaman untuk duduk dibelakang. Itu membuatku harus memeluk kakakku, mungkin orang mengira kami adalah sepasang kekasih.

“Hai Adik sayang, jangan tidur!”kakakku tiba-tiba menyentak.

“Eh enak aja! Kakak jangan ngebut, pegel nih dibelakang,”jawabku ketus.

“Salah sendiri gak bisa pakai motor kakak ini,”ujarnya.

“Yeee, jual aja ganti yang matic biar bisa gantian,”aku semakin ketus.

Kami berhenti diperempatan dekat sekolah SMA kami dulu. Sebuah mobil berhenti disebelah kami. Terlihat di dalamnya ada sepasangan suami istri juga orang tuanya. Terlihat begitu bahagia, meski aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Aku tersenyum. Aku menghela nafas.

Mobil itu berjalan, kami pun. Aku memerhatikan kakaku dari belakang, memerhatikan kepalanya yang tertutup helm full-face, memerhatikan tangannya yang memegang stang motor, memerhatikan bahunya. Tiba-tiba aku merasa sayang dengan kakakku ini, aku tersenyum.

Aku memeluk kakak dari belakang.

“Kak, pelan-pelan dong,"aku merajuk.

Sekalipun kami bertengkar, sebenarnya kakakku ini sulit menolak keinginanku kecuali urusan sepeda motor ini.

"Kak, kakak kalau nyari istri nanti yang baik ya, Kak.”

“Eh, ngomong apaan?” kakakku kaget.

“Iya, kalau nyari perempuan buat jadi istri kakak. Nyari yang baik.”

Ia tidak menghiraukanku. Aku terus berbicara.

“Kak, kemarin adik kan ngaji. Kalau udah nikah, adik harus lebih taat sama suami daripada sama ayah dan ibu. Lalu adik mikir, berarti sebenarnya tanggungjawab buat ngurus ayah dan ibu itu ada sama menantu perempuan dan anak laki-lakinya. Kalau laki-laki menikah, ketaatan dengan orang tuanya tidak berpindah, berbeda dengan perempuan. Adik pengen kakak kalau nyari menantu buat ayah dan ibu, cari yang baik ya Kak. Perempuan yang sayang sama mereka, yang bisa membantu kakak buat ngurus ayah sama ibu nanti. Karena mungkin adik tidak bisa berada lebih banyak untuk mereka.”

Kami terdiam.

“Adik kadang berpikir, mengapa perempuan harus seperti itu. Namun, adik mengerti dengan melihat bagaimana ibu selama ini ketika menjadi istri ayah.”

Kakakku diam saja, aku masih memeluknya, berbicara di dekat telinganya yang tertutup helm. Aku tahu dia masih bisa mendengar.

“Kak, berjanjilah untuk mencari perempuan yang baik. Tidak hanya baik kepada kakak, tapi juga sama ayah dan ibu. Perempuan yang sayang sama mereka, yang menghormati mereka, yang lembut dan menghargai mereka.”

Tiba-tiba kakakku menepi, menghentikan sepeda motornya. Aku melepas pelukan, heran. Dia membuka helmnya lalu menoleh. Dia tersenyum, mengelus kepalaku yang masih memakai helm.

Kami melanjutkan perjalanan. Aku memeluk kakaku semakin erat, seolah-olah takut kalau dia diambil sama orang lain. Tapi aku sadar bahwa suatu hari kakaku pasti akan diambil orang lain. Perhatiannya kepadaku mungkin tidak akan seperti hari ini lagi.

“Kak, aku sayang kakak. Cariin suami yang baiknya kayak kakak dong.”

Rumah, 21 April 2016 | ©kurniawangunadi

The Way I Lose Her: Almost is Never Enough

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain– 

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

                                                           ===

.

Hari sudah menyentuh pukul setengah 11 malam. Karena merasa sudah terlalu lama nongkrong di luar, kami bertiga setuju untuk kembali ke sekolah. Tapi sebelum pulang, Ikhsan meminta Cloudy untuk mengantarkannya beli martabak dulu di sekitar daerah Kosambi Bandung, karena dia baru inget kalau punya janji beliin martabak buat anak-anak panitia yang lain. Tolol emang.

Karena jalanan sepi banget, Cloudy jadi tidak perlu terlalu was-was membawa kendaraannya melaju menembus udara Bandung yang dingin banget kalau udah malem gini. Kami berdua berhenti tepat di depan pasar Kosambi. Di sana ada cukup banyak jajanan malam seperti tukang martabak, roti bakar, gorengan, lupis, kue pasar, surabi, juga tukang bubur 24 jam yang paling terkenal di Bandung. Bubur Bejo. 

Ikhsan memesan martabak, sedangkan gue berjalan menunju salah satu kios rokok di sana.

-Gue nggak nemu foto Bubur Bejo yang bagus nih. Btw kapan-kapan kita Night Culinary di Bandung bareng yuk!!-

 .

Ada lemari es kecil di kios tersebut, gue buka dan melihat-lihat isi di dalamnya. Seperti biasa, tanpa sadar gue mengambil Teh Kotak dingin walau sekarang Bandung lagi dingin banget. Sejenak setelah mau membayar, gue baru inget kalau ternyata gue sudah berjanji untuk tidak menyentuh minuman ini lagi.

“Bikin penyakit nih minuman.” Tukas gue dongkol dalam hati.

Tapi, untuk mengembalikannya ke dalam kulkas pun gue juga enggan. Gimana ya, rasa-rasanya melepaskan karena dipaksa keadaan padahal masih nyaman itu berat banget rasanya. Seperti sengaja nyisain kulit ayam Kiepsi buat dimakan di akhir, tapi ternyata malah dicolong temen. Bete banget rasanya.

Gue puter-puter itu Teh Kotak dingin, beberapa kali menghitung jari sambil bergumam, “Beli? Jangan? Beli? Jangan? Beli? Jangan?”, pengen beli tapi bikin bete. Pengen nggak beli, tapi dingin-dingin begini enaknya minum Teh Kotak. Bener deh malem-malem itu enaknya sambil minum Teh Kotak dingin. Sambil jalan-jalan di mobil, buka kaca, atau naik motor. Bawaanya adem kaya kipas angin kosmo-wadesta.

Karena masih sibuk merhatiin Teh Kotak di tangan, tanpa gue sadari Cloudy membuka kulkas yang ada di hadapan gue itu, mengambil Aqua dingin lalu dengan tiba-tiba merebut Teh Kotak yang sedang gue pegang dan menggantinya dengan Aqua dingin

Gue langsung menengok. Dan Cloudy hanya diam mengembalikan Teh Kotak itu ke tempatnya.

“Jangan minum itu lagi.” Ia kemudian menatap gue dan menunjuk ke arah Aqua yang lagi gue genggam, “Minum ini aja. Teh Kotak itu nggak baik buat kesehatan badan,” Kata Cloudy sambil membayar minuman dingin itu ke akang-akang di dalem kios rokok,

“..Juga nggak baik buat otak.” Sambungnya lagi.

Gue tidak menjawab. Gue hanya manggut-manggut aja dinasihatin gitu sama ini orang. Yaudah deh toh dia ada benarnya juga. Mungkin yang gue butuhkan sekarang adalah orang yang memang berani dengan terang-terangan memukul gue ketika gue hampir aja melangkah ke jalan yang salah lagi.

Gue mengelupasi plastik di tutup botol itu. Gue lihat dari jauh Ikhsan masih menunggu antrian martabaknya dibuatkan. Karena warung martabaknya penuh dan banyak yang antri, gue sama Cloudy lebih memilih berdiri di depan kios rokok ketimbang nemenin si Anak Tukang Duku itu ngantri beli martabak.

“Are you okay?” Kata Cloudy tiba-tiba setelah melihat ke arah Ikhsan juga.

“Ngg?” Gue menengok ke arahnya, “Honestly.. I don’t know,” Balas gue jujur sambil meminum Aqua dingin itu lalu menutupnya kembali.

“You feel…” Ada jeda sedikit di mulut Cloudy,“…different.” Lanjutnya lagi.

Gue menengok ke arahnya, lalu kembali melihat ke depan.

“Ya, aku juga merasanya begitu.”

Kami berdua masih berdiri saling bersampingan dan melihat ke arah yang sama, ke tukang martabak yang jaraknya tak jauh ada di depan kami berdua. Jalanan yang lenggang serta percakapan-percakapan para muda-mudi yang nongkrong malam-malam seakan menjadi backsound tersendiri buat kami berdua malam ini.

“Padahal sebelumnya, aku bisa merasakan semuanya loh.” Tukas gue sambil memainkan plastik tutup botol Aqua itu.

“Maksudnya?” Tanya Cloudy tanpa melihat ke arah gue yang ada di sampingnya.

“Aku sempat merasa ini semua itu nyata, seperti akan berhasil, seperti hanya tinggal bertahan sedikit lagi dan tidak mungkin gagal. Seperti sudah berlari panjang, lalu tiba-tiba kau melihat garis finish di depan sana. Meski sudah tergopoh-gopoh, rasanya aku pasti bisa menyelesaikan ini semua dan keluar menuju garis Finish,” Gue kembali meneguk Aqua dingin itu dalam-dalam, “Tapi sekarang? Aku masih merasakan perasaan itu, tapi entah kenapa rasa-rasanya jadi berbeda.”

“Berbeda gimana?”

“Asing.”

“Asing?”

“Iya, Asing. Seperti menjadi turis di kotamu sendiri.”

“Seasing itu kah?”

“Entah, tapi rasanya seperti tidak diterima di lingkungan yang kau buat sendiri.”

Gue menghela napas panjang dan melihat jauh ke arah jalanan di depan.

“Kalau tau jadi seperti ini, kalau tau malah berakhir seperti ini…”

Belum sempat melanjutkan kalimat, tiba-tiba Cloudy bersenandung,

“And I never meant to cause you trouble, And I never meant to do you wrong, And I, well, if I ever caused you trouble, Oh no, I never meant to do you harm.” Katanya sambil melantunkan salah satu Reff dari lagu Coldplay – Trouble.

Gue langsung ketawa kecil, “Nah! Iya kaya gitu!”

Cloudy juga tertawa kecil. Tumben, ini pertama kalinya kami bisa akur kaya begini. Biasanya di setiap gue ngomong, pasti aja jadi dosa di muka dia. Kayaknya semua yang gue omongin itu mirip sama orang lagi makan mie rebus terus bersin sampe mie yang dia makan keluar semua dari hidung. Alias dihina abis-abisan.

Ada hening sebentar sebelum kemudian gue kembali melanjutkan cerita lagi,

“Ini seperti.. Aku tau semua ini salah, iya aku sadar. Aku hanya akan mengulang-ngulang kesalahan yang sama lagi dan lagi. Tapi bukannya merasa kecewa, aku malah merasa sakit seperti ini hanya mirip sebuah cubitan kecil. Entah karena aku yang makin kuat, atau memang aku sudah kebal dikecewakan seperti ini?” Ujar gue,

“Dan kamu tau apa yang paling menyebalkan dari itu semua?”

“Apa?” Tanyanya.

“Aku takut aku nggak masalah sama sakit ini. Seperti kecanduan. Kecanduan untuk disakiti. Dan itu yang paling menakutkan. Aku jadi merasa tidak akan takut lagi kehilangan, meski tau bakal disakitin lagi, bakal dilukakan lagi, aku tidak peduli. Aku akan terus mengejarnya. Dan itu tuh benar-benar menakutkan.”

“Pathetic banget sih jadi cowok.”

“Maybe I am.”

“Can I give my opinion?”

“Sure.” Jawab gue meski tahu pendapatnya bakal nyakitin banget.

“Di mata wanita, laki-laki seperti ini itu menyedihkan sekali. Gimana ya, tapi rasanya sudah tidak menarik lagi. Kehilangan jati diri menariknya di mata perempuan. Mungkin analoginya seperti ini, kamu tau kan kalau perempuan seneng banget belanja lipstik? Nah seseneng-senengnya perempuan belanja lipstik tapi kalau lipstiknya patah, mau mahal juga itu perempuan ogah buat dapetin lipstik itu lagi. Walaupun ya sebenarnya ya masih bisa dipakai sih itu lipstik.”

Gue mendengarkan pelan-pelan sambil mencoba elus-elus hati.

“Laki-laki di mata wanita itu menarik karena dia memang berdiri sendiri, angkuh, teguh, tidak mudah didapatkan, tidak mudah ditaklukkan, memimpin jalan, membuka ruang, tak mudah kalah oleh pendapat perempuan, berkepribadian, punya tujuan, dan tau ke mana dia akan melangkah. Walaupun aku nggak mau mengakui ini karena aku bisa melakukan itu semua sendiri tanpa harus bergantung sama laki-laki, tapi ada kalanya aku juga seneng kok pendapatku dipatahkan. Keinginanku ditolak. Permintaanku diabaikan. Disuruh mengikuti tujuannya. Disuruh diam saja dan membiarkan ia yang memegang kendali. Aku sebenarnya nggak mau ngakuin ini, tapi most of all woman will agree with my words tonight.” Katanya lagi.

Gue menengok menatapnya.

“Dan dari perkataan aku barusan, apakah kamu masih mempunyai sifat-sifat itu di mata wanita?” Tanyanya.

Gue berpikir sebentar sambil garuk-garuk dagu, “Masih kok!” Kata gue nggak mau kalah.

“Iya mungkin masih. Tapi mungkin di mata orang lain. Kalau di mata cewek yang pergi ninggalin kamu itu? Masihkah?”

Deg!
Jantung gue serasa ditusuk sama sendok nyam-nyam.
Cenut-cenut tapi perkataan itu ada benernya juga.

Di depan Ipeh, rasanya gue selalu mengalah hanya agar ia senang. Selalu mengikuti kemana pun ia pergi hanya agar ia nyaman. Jangan-jangan, karena itulah Ipeh tidak memandang gue ada?

“See? Like I said before, you feel different. And now I know why..” Cloudy mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, “Now you know why I’m glad you two got separated. Finally, you get over her. The Pill which you think can cure you, silently it’s killing you.”

Seseorang yang kau pikir hadir untuk menyembuhkanmu, ternyata adalah seseorang yang melukaimu dalam-dalam dengan cara memelukmu erat agar belatinya menancap lebih tajam.

Mungkin itu yang Cloudy maksud. Gue tidak membantah pernyataan Cloudy malam ini, rasa-rasanya semua yang ia katakan itu tidaklah salah, dan gue mengakui itu. Mungkin gue selama ini sudah kehilangan jati diri. Sebagai laki-laki yang menarik, sebagai laki-laki yang berdiri, bukan yang tunduk.

Ikhsan datang menghampiri kami berdua.

“Bentar ya bapak ibu, dua antrian lagi nih baru dibuatin pesenan gue.” Kata Ikhsan cengengesan. Kayaknya nih anak kagak punya beban hidup sama sekali deh.

Walau saat itu dia ada masalah sama Tasya, kok dia keliatan seneng-seneng aja ya? Gue kadang iri sama nih anak.

“Lamaan dikit juga nggak papa.” Bales Cloudy yang kemudian di-oke-in sama Ikhsan dan ia kembali ke tukang martabak meninggalkan kami berdua.

“How did you lose her?” Tanya Cloudy setelah memasukan telapak tangannya ke dalam lengan sweaternya lebih dalam.

“I didn’t,” Jawab gue sambil sedikit tersenyum.

“Aku tidak kehilangan dia. Tidak. Tidak sama sekali.” Gue melanjutkan.

“Kok gitu?” Tanyanya.

Gue melihat ke arah Cloudy, “Because.. She was never mine.”

Ada mimik kaget gue lihat di wajah Cloudy ketika mendengar perkataan gue barusan. Sebuah kalimat singkat yang gue balur dengan senyuman, yang padahal gue tercekik hebat ketika mengatakannya. Seperti sedang mencekik leher sendiri.

“Dia adalah analogi paling tepat dari sebuah kata Hampir. Hampir bahagia, hampir bersama, hampir dimiliki, dan hampir berhasil.” Tukas gue sambil meminum kembali air yang  sudah tinggal sedikit ini,

“Tapi.. entah kenapa, aku tetap merasa kehilangannya.”

Cloudy hanya diam memeluk dirinya sendiri. Mungkin angin malam sudah membuatnya malas berkata panjang-panjang dan lebih memilih bungkam ketimbang menyanggah semua perkataan gue barusan.

“Kamu tau? Dia hampir saja berhasil, bukan dia, tapi kami berdua. Entah hampir atau tidak, tapi yang jelas aku juga sadar bahwa dia juga punya rasa. Dan dia tau kalau aku juga mencintainya. Meski tau dia sudah dimiliki orang lain, dulu aku masih tetap mencintainya sebesar aku masih memiliki kemungkinan untuk memilikinya. Tapi yaaa, semua berakhir di kata-kata Hampir, bukan di kata-kata Berhasil.” Gue memasukkan tangan kiri gue ke dalam saku celana.

“Sekeras apapun mencoba, apapun yang aku lakukan kemarin itu kayaknya semua akan berhenti di kata-kata ‘bagus, tapi bukan itu yang dia cari.’, ‘Good, but Im not Enough’, kamu ngerti nggak?”

Cloudy masih saja diam.

“And damn! That hurt so much,” Gue kembali mengingat segala perjuangan yang sempat gue lakukan untuk mendapatkan Ipeh dulu.

“Kalau saja.. Kalau saja kami berdua berhasil melewati semua kata hampir itu, mungkin walaupun berpisah, semuanya nggak akan sesakit ini. Nggak akan semembingungkan ini. Setidaknya jika semua jelas, berpisah pun rasanya akan punya alasan yang pasti. Tapi kami tidak berhasil, benar-benar tidak berhasil. Kami hanya menyentuh kata Hampir.”

Ada hening yang lama menyelimuti kami berdua.

“Kami hampir bersama,” Gue mulai cerita lagi, “Dan mungkin karena hal itulah rasa-rasanya perpisahan ini sakit sekali. Lebih dari semua sakit yang pernah aku lalui kemarin.”

Gue menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ke angkasa.

“Aku hampir menjadi orang yang pertama di hidupnya, tapi ternyata tidak. Dia hampir mencintai aku dengan seluruhnya, tapi semuanya luruh begitu saja. Bahkan terkadang sampai detik ini aku selalu berpikir salahku itu apa. Apa yang kurang? Aku salah di mana? Di hari apa aku kehilangannya? Di kesempatan yang mana hingga aku benar-benar tidak bisa lagi menjangkaunya? Waktu mana yang salah? Dan benar-benar menyakitkan menyadari bahwa kami berdua hampir sedikit lagi mencapai garis akhir yang disebut dengan bahagia, namun tiba-tiba takdir membuat kita berjalan saling bersebrangan. Hahahaha takdir memang brengsek banget ya.”

Gue terkekeh mengingat betapa bodohnya gue. Berjuang kuat-kuat padahal tahu apa yang sedang gue perjuangkan itu adalah sebuah kesalahan. Gue masih berpikir bahwa akan ada sebuah harapan kecil di mana kami akan berhasil melalui semua mimpi buruk ini. Tapi sialnya, karena bergantung di harapan kecil itulah yang sekarang malah membuat gue sangat terluka seberat ini.

Setelah ucapan gue yang panjang lebar tersebut, Cloudy tetap saja diam di samping gue tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Gue awalnya nggak curiga, sebelum tiba-tiba dia memukul lengan gue keras.

Buk!
Gue sontak terkejut sambil memegangi lengan gue.  Tapi bukannya berhenti, Cloudy malah memukul lengan gue lagi dan lagi.

“Aduh aduh, oi apaan nih?!” Kata gue sambil masih melindungi tangan gue dari pukulan Nenek Lampir ini.

“BEGO!! BEGO!! BEGOOOOOOOOOOOO!!!!!” Dia terika sambil masih terus mukulin lengan gue.

“HAH?! Gue salah apa lagi sih, Wajan?!”

“ELO ITU BEGOK!!” Sekali lagi ada tonjokkan keras di lengan gue sebelum kemudian dia diam dan menatap ke arah depan lagi sambil masih memasang wajah kesel.

Gue yang nggak ngerti apa-apa ini cuma bisa diem sambil masih mengelus-ngelus lengan gue yang sudah dizolimi sebelah pihak doang. Pukulannya nggak sakit sih, pukulannya masih termasuk dalam kategori lemah lembut jika dibandingkan dengan pukulan Ipeh yang isinya otot semua. Tapi tetap saja gue kaget pas dia tiba-tiba mukul gue kaya begitu. Kesurupan setan Kosambi kali nih bocah.

Cloudy mengatur nafasnya, sedangkan gue masih sedikit menjauh karena kaget akan tingkah lakunya yang tiba-tiba tadi itu.

Belum sempat ada penjelasan, pesanan Ikhsan ternyata sudah selesai dan kini ia berjalan menghampiri kami berdua.

“Woi Beauty and The Beast, gue udah beres nih. Yok balik ke sekolah.” Katanya cengengesan sambil menunjukkan martabak yang ada di dalam kresek yang ia bawa.

Cloudy mengangguk mengiyakan ajakan Ikhsan lalu menyenggol tangan gue pelan,

“Ayok pulang.” Katanya dingin sambil berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari gue.

Cloudy menyebrang duluan bareng dengan Ikhsan. Namun sebelum sempat gue nyebrang jalan juga, HP gue berbunyi, ada sebuah SMS masuk. Otomatis gue diam sebentar untuk membacanya.

From: Ipeh

“I Still want you.”

Tulis SMS-nya singkat. Dari beratus-ratus SMS yang dia kirim ke HP gue seharian ini, hanya sms ini yang gue baca, sisanya langsung gue hapus tanpa dibaca terlebih dahulu. Di depan kata-kata singkatnya itu, gue semakin terpaku di sisi jalan sepi ini.

I still want you too, Peh. Sebenarnya gue juga tersiksa di sini. Bahkan kalau malam ini atau besok lo datang ketemu gue terus memeluk gue erat meminta dimaafkan, gue pasti memaafkan elo. Gue nggak pernah sanggup untuk membenci lo sedikitpun. Setelah semuanya yang kita lalui bersama, benci seharusnya bukanlah jalan akhir dari cerita ini. Jika dibandingkan dengan luka yang kita berdua derita, bahagia yang pernah kita lalui dulu itu jauh lebih banyak. Jadi, benci bukanlah jalan akhir yang pantas dari cerita ini.

Gue akan keluar dari OSIS kalau itu adalah taruhan yang harus gue bayarkan hanya agar gue dan Ipeh bisa memperbaiki ini semua. Apapun berani gue pertaruhkan for her. Namun, sudah begitu terlambatkah ini semua?

Sudah tidak bisa diperbaiki lagi kah kisah kami berdua?

Bagimana aku bisa membencimu, Peh? Jika alasanku untuk bahagia masih namamu juga? Aku masih menginginkanmu, masih menginginkan kita. Meski kau telah benar-benar menghancurkan semua, meski kamu telah memotong urat nadiku hingga aku terkapar kesakitan dan memilih untuk mati saja, aku masih tetap menginginkanmu.

Apakah kita harus berakhir seperti ini?
Apakah ini memang akhirnya?
Apakah dari semua bahagia di awal cerita, dari semua takdir yang membawa kita di banyak ketidak=-sengajaan hingga kita bisa begitu saling menyayangi seperti dulu itu, inilah akhir  yang harus kita derita bersama?

Biar bagaimanapun, aku tetap tidak bisa membencimu.
Bahkan mungkin jika kau datang menemuiku malam ini sambil membawa tangis di kedua bola mata indahmu itu, aku akan langsung memelukmu erat dan melupakan semua hal keparat yang kita lalui sore tadi.

Meski kau hancurkan hatiku hingga tercerai-berai, aku masih berharap kau akan datang dan menyatukan semua kepingannya lagi. Sama seperti dulu waktu kita pertama bertemu, sama seperti ketika aku patah lalu kau datang mengisi penuh ceritaku.

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah yang seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain–

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

“Dimas?”

Tiba-tiba gue dikagetkan oleh suara lembut yang membuat gue kembali sadar dari lamunan gue barusan. Cloudy ada di sana. Dia kembali datang menyebrangi jalan hanya untuk menemui gue di sisi yang satunya. Dia datang.

Dia mencariku.

Dia bertanya, memanggil nama gue berulang kali sambil memegang pundak gue. Gue yang tadi masih tertunduk melamun menatap tulisan di HP gue tersebut langsung melihat ke arahnya.

“Sometimes, the person that you’d take a bullet for is behind the trigger.” Ucap Cloudy pelan ketika gue menatapnya.

Cloudy kemudian menggandeng tangan gue dan menariknya menyebrangi jalanan yang sebenarnya sudah sepi dari kendaraan sama sekali. 

Sebelum masuk ke dalam mobil, Cloudy membalikkan badannya dan menatap gue sekali lagi. Kali ini tatapannya berbeda, lebih sendu ketimbang biasanya.

“Lets go home.”  Ucapnya pelan sekali. 

Gue hanya mengangguk mengiyakan tanpa menjawab sepatah kata apapun sebelum kemudian kami berdua masuk ke dalam mobil.

Love..
Love shouldn’t be like this.
Because Almost,
Almost is never enough for love.

.

.

.

                                                       Bersambung

Previous Story: Here                                                

Lakukanlah Kebaikan Sejak Lintasan Pikiran Pertama

Ada satu penyakit yang saya ingin sembuhkan pada diri ini, yaitu penyakit terlalu lama berpikir untuk berbuat kebaikan.

Misalnya, sepulang kantor beberapa hari yang lalu, di balik kepadatan lalu lintas saya dapati ada mobil mogok. Si Bapak pengemudi terlihat berusaha mendorong mobilnya sambil memegangi stir, sendirian. Kondisi sedang hujan. Saya hanya punya waktu sekian detik untuk mengobservasi apa yang terjadi, lalu memutuskan apa yang ingin saya lakukan.

Sejujurnya, dalam sekian milidetik, saya bisa memproyeksikan diri saya menepikan motor, lalu membantu si Bapak mendorong mobilnya. Tapi saya malah terus mengizinkan lintasan pikiran berseliweran, “Mobilnya besar (mobil off-road), apakah tenaga saya cukup untuk mendorongnya?”, “Ini kok ngga ada yang bantuin ya?”, “Kalau aku menepi, motorku aman ngga ya?”, dan sebagainya sambil motor terus melaju.

Hati dan pikiran saya berkonflik, “Ayo turun! Itu belum jauh”, “Yakin nih? Nanti juga ada yang bantu”, “Ayo bantu, masih belum terlambat!”, “Kamu kan pakai sendal jepit, nanti slip dan putus lho”, “Ayo ngga apa-apa udah agak jauh juga, kamu kan mau berbuat baik, ngga ada kata terlambat”, “Ini udah jauh loh, sudah ikhlaskan saja, nanti lakukan kebaikan yang lain.”

Akhirnya, saya tidak mengambil keputusan dan saya sudah benar-benar jauh dari si Bapak yang membutuhkan bantuan.

Satu peristiwa kecil lagi baru saja terjadi siang ini. Sekembalinya saya membeli makan di jam istirahat siang, saya berpapasan dengan seorang Ibu yang bisa dibilang mulai tua, memikul satu karung besar yang entah apa isinya. Pakaiannya lusuh, jelas bukan kelas menengah yang sedang bekerja formal. Sementara itu, saya membawa nasi dan lauk-pauknya dalam bungkusan.

Sekian milidetik pertama, saya simpati. Sekian milidetik selanjutnya, saya ingin berbuat baik terhadap beliau. Sekian milidetik setelah itu, saya memikirkan apa yang bisa saya lakukan. Lalu muncul opsi: memberikan makan siang di tangan saya atau memberikannya sejumlah uang untuk makan siang.

Hati dan pikiran pun kembali berkonflik, sementara kami terus berjalan ke arah masing-masing. Hingga akhirnya, si Ibu sudah tak terlihat, dan saya pun hanya bisa mencela diri saya sendiri.

Peristiwa-peristiwa itu memang kecil, yang kalaupun saya eksekusi niat baik saya saat itu, hasilnya tidak akan mengubah dunia. Namun saya begitu menyesali diri sendiri ketika mengingat:

1. Tindakan-tindakan spontan kita merefleksikan siapa sesungguhnya diri kita, seperti apa sesungguhnya akhlak dan karakter kita.

2. Jika bahkan daun yang jatuh saja berada dalam takdir dan pengawasan Allah (Al-An’am, 59), maka mungkin saja semua peristiwa seperti itu adalah cara Allah melihat sebaik apakah amal kita (Al-Mulk, 2); seberapa layakkah Allah menolong kita di saat kita kesulitan suatu hari nanti, atau juga mungkin Allah ingin melihat apakah status Facebook kita, post Tumblr kita, broadcast Whatsapp kita yang bicara soal iman dan amal shalih benar-benar bagian dari diri kita, ataukah hanya jargon omong kosong semata.


Maka, inilah nasihat untuk diri saya sendiri: 

Lakukanlah kebaikan sejak lintasan pikiran pertama.

Tak Perlu Menjadikan Saya Kompetitor

Saya memang tidak terlalu suka berkompetisi, apalagi jika harus berkompetisi dengan orang-orang terdekat saya. Saya akan lebih suka memilih mundur, lalu mencari kabahagiaan jenis lainnya.

Tentu pada satu masa saya akan menemui satu hal yang berat, saat saya harus memutar jalan padahal sudah sejauh itu ditapaki, sebab tidak memungkinkan untuk tetap sejalan.

Tapi tak apa, jika mengalahkan saya justru membuat seseorang yang hidup di dekat saya jauh lebih senang. Saya lebih tertarik untuk mundur, kemudian memilih jalan lain bila memang masih bisa. Rasanya itu lebih membuat nyaman dari pada ketika tengah berjalan bersama ternyata diam-diam ada yang tengah kesusahan memikirkan bagaimana caranya agar bisa lebih di depan.

Bukan, bukan berarti takut kalah, tapi saya tak suka melihat seseorang yang dekat dengan saya kesusahan hanya untuk membuat dirinya merasa menang.

Kelak, jika kau bertemu dengan saya, dan kau menghendaki beberapa langkah lebih maju, tak perlu jadikan saya kompetitormu, katakan saja. Saya akan berupaya memberikan kemenangan untukmu dengan percuma.

Tak perlu sungkan, katakan saja, saya tak suka berkompetisi dengan orang-orang terdekat saya. Apalagi jika itu membuatnya harus kesusahan demi memenuhi hasratnya sendiri.

Sudah, tidak perlu repot-repot lagi menemuiku.
Teruslah melaju dan berlalu.
Semenjak kamu memutuskan melangkah pergi, aku menutup diri dari semua tuturmu.

Yang perlu kutahu, kamu jahat (bagiku).

Aku berdiri di tengah keramaian. Sementara orang-orang tenggelam dalam pesta. Entah mengapa, tak satupun orang yang mengingat hari itu. Aku memang tak peduli, hanya saja aku merindukan sesuatu yang teramat sederhana.
— 

Aku semakin menjauhkan diri dari berbagai khayalan dan omong kosong. Bahkan semakin lama aku mengira bahwa kebahagian yang pernah ada memang tercipta sementara. Seolah ingin mengajakku bercanda. Sebab, orang-orang sekitarku maupun seseorang sekalipun pandai mengaduk-aduk perasaan dengan bermain kata-kata. Lalu kini, semua itu bukanlah apa-apa seperti masa lalu.

Biarlah, bukankah takdirku berteman dengan dingin dan sepi? Toh, kita tak akan mungkin bisa melaju mundur lagi, merasakan nikmatnya menjadi anak-anak yang bahagia tanpa batas.

Mengakui kesalahan pada diri sendiri tidaklah cukup jika kamu masih menyalahkan orang lain atas kebenciannya padamu.

Sebenar apapun dirimu, musuh punya hak untuk menjatuhkanmu. Tapi kamu masih punyak hak dan wajib untuk terus melaju.

—  Self reminder; banget.
Ganbatte!!!

n-novi  asked:

kak, bagaimana cara mebuang perasaan cinta kepada sahabat? aku takut dia tidak memiliki rasa yang sama denganku dan aku selalu saja berhara dia punya rasa yang sama.

Dibuang atau diutarakan, perihal perasaan tentu saja ada risikonya. Dan kalau sudah memutuskan, jangan menyesal, tetapi belajarlah.

Dalam semua hal, ketakutan enggak akan membawamu ke mana-mana. Jadi kalau enggak bisa berperang melawan rasa takut sendiri, agak susah mau melaju. Lebih baik belajar dulu melawannya. Karena menerima kenyataan juga butuh perlawanan terhadap rasa takut, @n-novi .

Marah?
—  Tentu saja boleh. Tapi, seketika aku terdiam. Untuk apa? Aku tidak menemukan alasan yang tepat. Ingin marah, tapi tidak bisa. Maka, kubiarkan semua melaju seperti yang kamu mau. Aku tetap begini dan kamu tetaplah begitu.
Perempuan yang Hidup di Masa Lalu

Perempuan itu tak pernah berada di masa kini. Masa sekarang di mana aplikasi chatting menggantikan surat-surat dan sepeda pak pos yang setia, jalan-jalan dihubungkan oleh rel-rel panjang dan rangkaian besi yang melaju berkecepatan seratus kuda, sinyal internet yang tak dipahami orang-orang namun mereka sangat membutuhkannya. Perempuan itu tak pernah ada di sana. Tak pernah ada.

Biarlah. Barangkali kau merasa sangat nyaman di dalam masa lalu. Masa-masa lelah yang telah kau coba menghindari getar dan getir perihal masa depan. Berharap suatu pagi terbangun dari tidur panjang dan tiba di masa yang sebelumnya tak pernah kau duga. Pikiranmu lebih nyeri dari palung luka paling dalam. Harumnya selalu mampu menandingi parfum-parfum bermerek koleksimu dari negeri Eropa. Parfum itu yang selalu kau gunakan kemana saja. Saat kau pergi ke kantor, pergi berlibur dan bahkan saat kau sedang terbenam di dalam pelukan seorang lelaki yang tak jelas asal-usulnya.

Sejak lama kau membunuh waktu dan membutuhkan banyak sekali uang, aku sudah letih menjadi tombak mesin yang bekerja seperti buruh yang dibayar murah. Hanya untuk menyakinkan sekali lagi: Mimpi ini tak akan meraksasa jika kau hanya berdiam diri. Keluarlah! Ini sudah hampir pagi!

Sering kali aku bermimpi ingin sekali pergi ke suatu pagi menyodorkan sehelai kertas berisi surat permohonan berhenti. Ingin pergi ke tempat jauh yang sebelumnya tak mampu kujangkau, minum anggur dan membaca puisi-puisi penyair kesayanganku. Mengasingkan diri beberapa hari di awal bulan April dan merayakan ulang tahun sendiri.

Aku ingin tertawa dari dasar kepedihan di jantungku. Sekeras apa pun aku tertawa tak akan sampai ke ujung telingamu. Jika kau bertanya, “Bagaimana hari ini?” aku dan telepon genggamku akan meledak sesaat lagi.

Kau percaya hidup ini adalah berisi serangkaian pencarian-pencarian. Bahagia, katamu, adalah harta karun yang sengaja disembunyikan oleh para pelaut. Percayalah: sekeras apapun kau mencari, bahkan hingga ke ujung dunia, tak akan pernah kau temui aku lagi dalam diri siapa pun.

Kini perempuan itu tak berada di masa kini. Juga di masa lalu. Perempuan itu tak pernah ada di mana-mana. Juga di dalam hatiku.

Bekasi, 2016

putar posisi duduk, nyamankan. atur arahmu memandang, lekatkan. berikan ruang kosong, sekat. pastikan hanya ada kamu dan udara di dalam sana. pastikan hanya ada nafasmu & nafas-Nya di dalam sana.

meletakkan ego. mengurai isi kepala, memilah dan memilih kata-kata, menyelaraskan dengan apa yang ada di dalam dada. merasa. lebih dalam. menarik benang. melepas simpul. keluar dari pusaran. menyimak. mendengar. memahami. memejamkan mata.

menyatu dengan rintik hujan, hembusan angin, percikan air, daun yang gugur, bunga-bunga yang mekar, langit yang teduh, matahari yang terik, bulan yang hangat, bintang yang jatuh, deburan ombak; mereka bicara.

kereta yang melaju, kendaraan yang berderu, asap yang memburu, jalan yang berdebu, kisah yang syahdu, dongeng yang rindu, ramai yang tak kenal jenuh; mereka bercerita.

bicara pada diri sendiri. membisikannya ke dalam hati. pelan-pelan. dalam bahasa apapun. mengejanya. merapalnya. meresapinya. berkali-kali. berulang-ulang. menariknya ke dalam darah. mengalirkannya. membekukan. meneguhkan. meyakinkan. menjadi pelajaran.

putar keran pancurannya. basahi pelan-pelan menuju samudera kata-kata. biarkan mengalir.

hingga baris ke-sekian tulisan ini, kamu telah melakukannya (lagi): menulis.

© colorious | 30 desember 2016

Waktu Kutahu Hakikat Waktu

Telah ratusan purnama membulan
Sejak aku mampu menapak berjalan
Namun tak pernah kau sekalipun akan
Hendak menggaris ulang arah pusaran

Berputar berpusar tiada memelan
Melaju menggebu tiada alasan
Teguh engkau tak tergoyahkan
Bergeser tak sejengkal pun kau jalan

Pada rentatan bahagia inginku memelan
Pada tumbukan kesedihan inginku percepatan
Namun tiada ditanganku kuasa Tuhan
Tak mampu engkau aku kendalikan

Sialan!

Aku hanya mahkluk rendahan
Yang tak pernah bisa melawan
Tergulung aku terbawa pusaran
Ke ceruk terdalam tempat perjanjian

Ke tempat janji yang telah terikrarkan
Terdengar namun tak membekas di pikiran
Kau giring aku perlahan di luar kesadaran
Menuju kejadian nyawaku terpisah badan

Disitulah kau melambaikan tangan
Bukan untuk perpisahan namun pertemuan
Di tempat baru yang menjadi perhitungan
Kemana kau telah habis aku gunakan

Wahai waktu.


Diva Pramudhya
Pekanbaru, 08/01/2017
23:35 WIB

Decit gesekan roda besi dengan rel mengiringi perjalanan kita pagi ini. Hijau dedaunan tumbuhan tropika mewarnai lereng perbukitan di balik jendela. Orang-orang masih tertidur, beberapa hanya memandang sendu pemandangan di luar sana. Deru mesin diesel sama sekali tidak mengganggu khidmatnya pagi di gerbong ini.

Peron demi peron terlewati. Penjaga-penjaga di tiap stasiun dengan setianya berdiri menyambut datangnya kereta, meski rangkaian ini hanya menyapa dengan satu klakson panjang tanpa sekalipun berhenti di stasiunnya.

Mentari semakin tampak percaya diri. Hangat mulai terasa dari berkas-berkas sinar yang diteruskan kaca ke bangku penumpang. Sesekali kereta tertahan di stasiun, menunggu kereta lain yang melaju dari arah berlawanan. Terbitnya sang surya ternyata berkorelasi dengan semakin ramainya lalu lintas sepur hari ini. Namun setidaknya, penjaga stasiun tidak berdiri sendiri lagi.

Suara masinis yang menggema dari pengeras suara membangunkan lebih banyak penumpang. Beberapa orang bertanya, sudah berapa stasiun terlewatkan dalam semalam. Tak lama, obrolan dan tawa mulai menyatu dengan deru angin yang dibelah laju kereta. Kita hanya tersenyum dalam diam, memandang ke luar jendela.

Kita sama-sama tahu kemana kereta ini melaju.

Di balik lahirnya Menata Kala, ada sahabat-sahabat yang meluangkan waktunya untuk membaca naskah mentah buku ini. Salah satunya adalah Kak Satria Maulana, tulisan-tulisannya di satriamaulana.tumblr.com sangat sarat akan makna dan pembelajaran hidup. Apa kata Kak Satria tentang Menata Kala?

Ini dia pendapatnya, “Baca Menata Kala tuh kayak ngumpulin kepingan anugerah yang terserak dan selama ini terabaikan: waktu. Memahami dan mengamalkan kebaikan dari halaman-halaman di dalamnya jadi pengingat sederhana buat siapapun untuk sadar bahwa waktu memang karunia yang mutlak enggak ternilai harganya. Sebesar apapun tebusan, tak akan pernah bisa membuat waktu berhenti melaju atau mundur kembali. Wajib baca buat mereka yang lagi belajar memperbaiki kualitas proses pengisian sisa umur di masa mendatang.” – Satria Maulana

Terima kasih, Kak @svatria!

Yuk kita cari apa saja sih anugerah yang terserak tentang waktu dalam buku Menata Kala! Mohon doanya agar semua prosesnya dilancarkan, ya! Tunggu tanggal pre-ordernya di timeline kami.

Salam,
@novieocktavia dan @khairunnisa_sy

#menatakala #selfpublish #collaborationproject

Selamat Ulang Tahun, Jun

Kau adalah pemenang, dalam rahim yang mengandung sembilan bulan. Kini beranjak mendewasa tanpa bimbang. Beri wangi semerbak lewat puisi pada setiap insan. Aduhai Tuan, aksaramu adalah hidup yang tak pernah redup. Melesak dengan cepat pada dada yang sesak. Kemudian menjadi penawar segala ketar. Teruslah begitu, teruslah melaju. Dirgahayu!

- @aporsiapsika

Segeralah beranjak dari tempat tidurmu
Lewati pintu itu, hirup udara sejuk nan hangat di luar sana
Langkahkan kakimu perlahan, penuh keyakinan
Kunjungi setiap cita yang sudah tercatat
Tersenyumlah pada semesta
Tebarkan harapmu, jinakkan usiamu!

- @manifestasirasa

Siapa gerangan dirimu penuh tanda tanya, masjun?
Ternyata Syukri Jundi terlahir ke dunia melalui rahim seorang ibu

- @awansenja

Waktu berjalan tiada henti 
Mengiring rembulan dan mentari 
Dari pagi bertemu pagi lagi 
Tapi tak lupa mengiring usiamu hingga kini
Selamat ulangtahun untukmu.

Semoga kebahagiaan dan cinta mendampingimu setiap hari.

- @meeeong

Mungkin kau tak pernah ingat bentuk rahim ibumu
Membentukmu dari air yang hina
Tapi tak ada airmata ibu yang hina
: Dan kau adalah mata air bagi pemilik rahim

- @filosofihujan

Ada yang lahir dari perjuangan seorang ibu
Sesosok bayi mungil nan lucu dipangkuan syahdu
Kini ia telah dewasa, sudah saatnya mencumbu waktu
Berpetualang ke dunia dan menggapai mimpi baru

- @pemudabiasa

Di dalam Maret, kau akan mengenang, kau akan temukan. Cerlang, keistimewaan malam.

- @rintikkecil

25 pualam telah kau pijak. Menoreh ribuan cerita yang menjadi rekam jejak. Meski wajahmu tak pernah kulihat. Tapi malam ini aku bermunajat :

“ Semoga Tuhan slalu memelukmu erat dan menjadikanmu penyair hebat.”

- @ranauliya

Semesta tersenyum kala jemari-jemari kecil lelaki hadir bersama harap yang terpatri di kedua mata Ibunda.
Kau; aksara cerah tak kenal pudar pada semangat Ayahanda.
Kelak tangisan nakalmu akan menjadi kebanggaan paling debar keluarga
saat tangan kanan mengapit erat perempuan yang kau cinta.
Dan kemaslah hidupmu bersama Ia; bahagia.

- @aliceputriprawira

Bermuaralah pada semua mimpimu
Lewat do'a yang menjadi dua sayap
Kemudian kau bolehlah menangis di sana
Perihal lalu yang sempat tergugu

- @leedywd

Serangkaian doa
Sejumput bahagia
Selaksa pinta penuh harap
Bahwa diri-Nya takkan pernah lupa
Akan doa yang terucap, lewat ratusan kata yang sesekali berbalut tawa. Selamat berbahagia.

- @rainharein

Usia semakin berkurang dan tetaplah menjadi pemenang
Untuk lelaki setangguh dirimu
Aku percaya kau bisa meraih mimpi meski dunia berkata kau tidak mampu
Dariku untukmu ; berjuanglah

- @hujanberteduh

Hujan, kemarau, hingga kembali hujan.
Berliku hari yang tetap berjalan.
Hingga kini,
Berhentilah sejenak.
Ingatkan bahwa,
25 tahun silam, ibu menangis bahagia.

- @taraaudria

Selalu ada rahasia antara raga dan usiamu
Bagi semesta kau adalah cerita dari sang waktu
Bagi sang ibu kau anugerah yang dirindu
Maka biarlah ada misteri yang tetap menjadi kamu
Selamat menghidu kebahagiaanmu

- @tersesatrasa

Janjikan bahagia yang berkurang usianya
Dalam selimut mimpi
Temukan pagi bersama kuncup dan embun fajar
Sekali lagi, mentari tersenyum

- @limamaret

Saat lilin mulai menyala
Seketika itu pula membentuk ruang sunyi
Menjadi tubuh paling khusyuk
Merenungi masa ganjil angka-angka di kalender
Lalu di tubir harap doa-doa baik dilangitkan
Membawa kesalahan lebur menyatu
Bersama lilin yang kau tiup setelahnya
Semoga alam merestui
Dan lekas terkabul segala pinta yang belum terpenuhi

- @alimnurudin

Di padang Maret, bunga-bunga mekar begitu saja, menyambut Si Kumbang yang baru tiba.
Lalu, seorang tua renta merogoh dadanya, menyodorkan sekeping do'a pada
Si Kumbang yang akan kembali berkelana.
karena hanya do'a, yang sekepingnya mampu menepis turangga.

- @katakakiku

Tanggamu semakin meninggi
Berharap dikokohkan langkah ‘tuk menapaki
Perjalananmu belum berhenti
Bahagialah dengan berbagi
Pada hati-hati yang menanti
Selamat hari lahirnya diri
Semoga ketenangan menyelimuti

- @bebraveyou

Waktu silih berganti mengiringimu tumbuh pesat
Tak kenal jeda apalagi berdetak lebih cepat
Kamu, si bocah kecil penuh angan
Jadilah lelaki penakluk mimpi masa depan
Pelihara sabar kau jadikan pelengkap
Banyak bahagia menanti untuk didekap

- @dewiihana

Berbahagialah. meski usia tak lagi merengek
Dari balik kelambu meminta jatah susu atau
Duduk manis mendengar nasehat guru.
Berbahagialah.
Barangkali kau lupa, ada do'a dari jauh yang
dikirim ke tempat yang sama dengan namamu
Di dalamnya, berharap senyummu senantiasa.
Berbahagialah.

- @jemarikanan

Dua puluh lima tahun lalu
Saat matamu menyergap, tangispun pecah,
Tanganmu mengepal banyak “semoga”
Kuhadiahi sejumput kata

Selamat hadir di dunia

- @es-kacang-merah

Tik… tik…tik
Waktu pun terus berdetik
Memutar nyawa kehidupan
Mengantarkan sang khalifah pada pijakan baru
Yang lebih menantang
Juga lebih menawan
Teruslah berjalan hingga berlari, jadikan mimpi bagian hidupmu :)

- @penakertas

Usia sering menyelinap di kertas-kertas. Sesekali ia menjadi hiasan di etalase warung kopi. Namun hanya sekali ia akan berbisik kepadamu, untuk kauingat selamanya: bulan mana yang tak purnama?

- @narasibulanmerah

cc: @yourpatheticjoke

Aku bukan mahasiswa (lagi)

Kemarin, saat hak istimewa sebagai pemuda resmi lepas
Bersama lelah dan ribuan tanda tanya yang menyertainya
Aku sangsi.. aku kah mahasiswa?
Empat tahun begitu cepat
Tanpa aba-aba selesai sudah pada titik ini
Sarjana

Duhai diri…
Katanya presiden takut pada mahasiswa
Apakah presiden pernah takut pada mu dulu?
Katanya garda terdepan dalam membela nasib jelata adalah mahasiswa
Bagaimana dengan mu dulu? Pernah kah kau maju melaju membela mereka?
Katanya, mahasiswa itu kaum intelektualis kritis
Tahukah engkau dulu, kebijakan apa yang bercokol di negara mu?

Ah.. Sia-sia hidup mahasiswa mu
Kasian jiwa mahasiswa mu
Sayang beribu sayang, hanya sekedar status
Cukup kah hanya dengan ikut BEM?
Merasa penuh dengan duduk di parlemen DPM?
Puas stagnan pada laboratorium dan perpustakaan menjulang?
Bangga masuk OMJ?
Apa yang kau kejar dulu?
IPK tinggi?
Anak hits kampus?
Gelar aktivis?

Apapun itu…
Kau tak gunakan jiwa mahasiswa mu bukan?
Malu lah pada leluhur mu yang telah mengagungkan gelar sebagai MAHAsiswa jika kau tak ada beda dengan mereka yang duduk pada bangku-bangku sekolah

Kini.. Sudah.. Sudah..
Tak ada masa untuk kembali
Rakyat pun tak meminta mu lagi untuk aksi
Mereka sudah muak dengan apa pun yang media dendang beritakan
Kenyang dengan jejalan-jejalan aturan larangan arahan yang tak pasti mereka butuhkan adanya

Hai sarjana
Selamat bergabung pada dunia kerakyatan, dunia kejelataan, dunia kedigdayaan penguasa


Arjuno, 30 juli 2016
Hari pertama seorang sarjana

Tulisan: Pemberhentianku

Mungkin ini tempat pemberhentianku, sementara kau boleh melaju. Biar aku tetap disini sementara waktu, mengintrospeksi diri untuk mengevaluasi mana yang salah dan mana yang benar.

Mungkin ini tempat pemberhentianku, sementara kau boleh meninggalkanku. Biar aku duduk dan mengistirahatkan diri sebentar, sambil menikmati pemandangan alam sekitar.

Mungkin ini tempat pemberhentianku, sementara kau boleh melupakanku. Biar aku sendiri yang memutar balik waktu, sekedar mengingat dan menikmati hal-hal baik yang pernah kita jalani.

Mungkin… ini tempat pemberhentianku, tapi hanya untuk sementara waktu. Jika memang sudah ditakdirkan, nanti kita akan kembali bertemu; di tempat yang seharusnya.

Medan, 27 Agustus 2016
— Catatan Sederhana