megapals

#37

Ini pertanyaanmu yang belum ada jawabannya:

“Apa kamu mencintaiku dengan membiarkan jarak ribuan detik tetap mengganggu?”

Kuikuti langkah Pak Sapardi, untuk mencari, di balik dan jeda pertanyaanmu. Kuturuti Payung Teduh untuk mencari di tiap-tiap malam. Tak ada apa-apa, kecuali kehilangan pada tautan batin kita.

Malam ini, aku ingin mendengar detak jantungmu di beranda. Menyalin rekaman suaramu di kabut paling dingin. Atau merebahkan tubuh tanpa resah esok ada atau tiada. Kuingin menjadi kalender yang abadi, nir waktu. Dan menyelesaikan guratan wajahmu di dinding hati.

Aku berteman serigala yang memiliki cicilan KPR. Belajar mengenai kegagalan demi kegagalan. Bertahan di atas ombak, setelah lupa bahwa aku adalah putra duyung. Semua ilusi membikin kulitku mengelupas, terus-menerus. Dan akhirnya tinggal hati, megap-megap, kehilangan darahnya.

Sayang sekali, waktu tak bisa dimampatkan ke bentuk mekanisasi mesin. Barangkali waktu bersifat sosialis. Tapi kadang menunjukkan kuasa penuh pada nasib anak-anak manusia. Seperti yang pernah kukatakan.

Sekali lagi, pertanyaanmu tak memiliki jawaban. Ia adalah rahasia dalam sebutir kapsul keemas-emasan, yang tercipta dari air matamu. Ditambah adonan roti favoritmu. Maka, apa lagi yang bisa kita tunggu, kecuali luka yang terkena garam.

Kamu adalah komedian yang manis. Menertawakan kegelisahanku di suatu pagi sebelum Mata kuliah pertama. Dulu begitu berwarna.

Itulah mengapa, aku malah hidup dalam kuasa waktu yang berjalan mundur; demi mencarimu.

For My Lovely.

Fakta vs Candu

Apakah wacana menaikkan cukai rokok akan ‘membunuh’ buruh pabrik rokok? Mematikan petani tembakau? Ijinkan saya menjawabnya dengan fakta. Dan jika kalian tidak sependapat, tolong jawab juga dengan fakta.

Apakah cukai rokok naik, maka buruh pabrik rokok akan dipecat? Jawabannya, bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, buruh pabrik rokok memang sudah dipecatin. Tahun 2014, Sampoerna mem-PHK 4.900 buruhnya, Bentoel menutup 8 pabriknya (dari 11, sisa 3), juga mem PHK ribuan karyawan, Gudang Garam mem-PHK 4.000 lebih buruhnya. Belum terhitung pabrik2 lainnya. Perusahaan beralih ke mesin. Yang tidak perlu digaji tiap bulan, yang produktivitasnya tinggi, yang cepat dan efisien. Itu fakta semua, loh. Perusahaan rokok peduli sama buruh? Hehe, kalian naif jika percaya 100%. Di mana mana, bisnis adalah bisnis. Dulu, klaim tentang 6 juta tenaga kerja bekerja di industri rokok mungkin masuk akal, tapi please, silahkan buka data terbaru, berapa persen yg telah di PHK dan digantikan oleh mesin?

Apakah cukai rokok naik, maka petani tembakau akan kehilangan pekerjaan? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, petani tembakau Indonesia memang perlahan tapi pasti telah tersingkir. Tahun 2011, menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), impor tembakau Indonesia hanya 64,8 ribu ton. Setahun kemudian, 2012, nilainya melesat tidak terkendali 104,4 ribu ton. Dan naik lagi tahun 2013, sebesar 133,8 ribu ton. Kebutuhan industri tembakau Indonesia itu ada di angka 250rb ton per tahun, itu berarti, separuh lebih tembakau diimpor dari luar negeri. Bisnis adalah bisnis, jika tembakau luar negeri lebih murah, ngapain pabrik rokok harus beli tembakau petani Indonesia?

Harga tembakau? Wah, ijinkan saya memberitahu, di China, harga tembakau bisa 1-2 dollar/kg. Di Indonesia saat ini diangka 34.000 - 47.000/kg, dan petani sudah megap-megap dengan harga segitu. Dulu, idealnya harga tembakau adalah 80.000-120.000/kg. Tapi bagaimana mau jadi 120rb? China mau dilawan? Silahkan lawan harga tembakaunya yang hanya 14.000/kg. Tambah biaya logistik, dll, itu tembakau sampai di Indonesia cuma 20-30rb/kg. Pembela rokok itu koar-koar bilang ada 6 juta petani tembakau di Indonesia. Ah masa’ sih? Kok bisa produksi tembakau-nya cuma 170.000 ton per tahun saja? Lahan tembakau saja semakin berkurang, paling tinggal 190.000 hektare, karena petani mulai mikir menanam tanaman lain.

Jadi ijinkan saya memberitahu kalian masa depan industri rokok ini :
1. Mereka akan semakin beralih ke mesin utk memproduksi rokok
2. Mereka mencari tembakau murah (bahkan jika itu di planet Mars sekalipun).

Apakah pabrik rokok memang peduli dengan petani Indonesia? Peduli dengan buruh pabrik? Waduh, saya lebih suka melihat faktanya saja. Yang saya tahu, sejak jaman dulu, hingga jaman mobil terbang, juga kejadian di negara-negara maju (sebelum pabrik rokok terpaksa menyingkir ke negara berkembang karena perokoknya berkurang), ‘petani’ dan ‘buruh’ memang menjadi argumen yang paling seksi sebagai tameng. Hingga kita lupa, Sampoerna, untung setahunnya bisa 10 trilyun loh. 10.000.000.000.000, tuh nol-nya banyak banget. Kalau gaji kalian dikantor ‘cuma’ 10 juta per bulan, kalian butuh 1.000.000 bulan untuk dapat uang ini.

Pemilik perusahaan rokok tajir super gila, sekali tepuk dapat untung 10 trilyun, nasib ‘6 juta’ petani tembakau cuma dapat remah-remahnya, ‘6 juta’ tenaga kerja pabrik rokok cuma dapat ampasnya saja.

Kita bahkan belum bicara tentang berapa besar biaya kesehatan yg harus dikeluarkan gara-gara rokok. Kita bahkan belum bicara jutaan remaja usia SMP, SMA, tergoda merokok. Kita belum bicara tentang jomblo, eh, maaf ngelantur, maksud saya biaya-biaya berobat akibat penyakit rokok. Saya tahu, kalian tidak akan percaya rokok itu penyebab penyakit kanker, jantung, dll. Saya tahu banget, setahu bahkan ada perokok yang percaya merokok itu baik untuk kesehatan.
Tetapi lewat tulisan ini, ijinkanlah saya berterus-terang: Saya tidak peduli kalian mau terus merokok atau berhenti (bahkan i dont care kalian mau mati atau sehat gara-gara rokok). Yang saya peduli, di page ini, 2/3 anggotanya adalah remaja, merekalah tujuan sy menulis. Saat mereka memikirkan tulisan ini, akan lahir jutaan generasi baru yang tahu persis jika merokok itu tidak bikin jantan, macho, cowboy, dan sebagainya, merokok itu justeru bikin impoten. Jadi tidak perlu GR ngamuk-ngamuk nulis komen marah, tulisan ini bukan untuk kalian.

:)

© Tere Liye

Ga Pake Syarat, Ga Perlu Bawa Apa-Apa

Saya sebenarnya orangnya ga bisa ngopi. Maksudnya minum kopi yang beneran kopi, misalnya kopi hitam atau yang namanya macam-macam seperti Arabica Gayo, Mochiatto, atau Latte Americano. Pokoknya yang kopi beneran kopi pahit. Kalo kopi manis semacam kopi susu ABC atau Luwak White Coffee - yang kata pecinta kopi bukan beneran kopi - saya masih bisa.

Masalahnya ada di lambung saya yang sensitif dan karena kopi berat beberapa kali membuat saya megap-megap. Tapi sejujurnya, saya selalu menikmati obrolan hangat yang tercipta ketika ngopi. Dengan menjamurnya warung kopi di mana-mana, saat ini istilah ngopi mengalami pergeseran makna menjadi nyeruput minuman sambil nongkrong dan berdiskusi. Minumannya sendiri bisa apa saja, dan sebenarnya itu justru hanya sebagai pelengkap. Aktivitas utamanya adalah interaksi dan berdiskusi.

Tumblr dan sosial media membuat saya berkenalan dengan banyak orang. Tapi saya tidak pernah mau menganggap kenal hanya karena pernah berinteraksi di layar kaca. Saya harus bertemu di dunia nyata.

Itulah mengapa, tiga bulan terakhir saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk meetup dadakan. Bertatap muka dan berdiskusi langsung dengan orang-orang yang sebelumnya hanya kenal di layar kaca.

Meetup dadakan pertama waktu ada pekerjaan yang mengharuskan saya ke Depok. Lalu langsung kepikiran untuk bikin meetup bareng @prawitamutia dan mengajak siapapun yang mau ikutan. Dengan ajakan H-1, terkumpul 8 orang yang ternyata wanita semua, saya pria sendiri. Berasa Abdel di pengajiannya Mama Dedeh. 

Di diskusi kecil ini, Mutia cerita banyak soal tulis menulis dan bukunya Teman Imaji. Kami juga saling berbagi cerita tentang kuliah dan persiapan memasuki dunia setelahnya.

Saat ada pekerjaan yang mengharuskan saya ke Bandung, saya langsung terpikir untuk melakukan hal yang sama. Saya ajak @satriamaulana ketemuan dan saya buat undangan terbuka untuk siapapun di Bandung ikutan. Akhirnya pagi itu kita ngopi berlima bareng @aksarannyta, @hiperbolakata, dan @eleftheriawords.

Obrolannya dimulai dengan aktivitas, bisnis, pilihan setelah kuliah, melawan plagiarisme dalam berkarya, lalu ujung-ujungnya diisi dengan petuah Satria tentang separuh agama.

Beberapa waktu kemudian, juga di Depok, saya juga diajak untuk ketemuan dengan duo seniman Tumblr yang baru pertama kali ketemuan, @kurniawangunadi dan @dokterfina. Hadir juga @albertashendy@ilmaalya, dan beberapa teman masgun dari FIM. Masgun mengisi acara di RIK UI dan setelah itu kita ngopi. Secara harfiah yang minum kopi hanya masgun, tapi kami semua diskusi hangat di meja makan yang sama.

Well, semuanya dadakan, ga ada yang benar-benar direncanakan.

Tapi semuanya memberikan perkenalan yang menggembirakan dan diskusi yang menghangatkan. Pertemuan-pertemuan kecil seperti ini perlu diperbanyak, agar kita bisa mengenal manusia di ujung sana sebenar-benarnya. Agar kita tidak terperangkap dalam asumsi-asumsi di balik layar kaca.

Kalau ada rencana ketemuan, jangan ragu ajak-ajak kita ikutan. Dan kalau nanti saya bikin lagi meetup dadakan, siapapun welcome to join; ga pake syarat, ga perlu bawa apa-apa. 

Salam ngopi!

#28

Rindu,

Aku tahu kamu menitipkan suaramu pada camar putih yang menumpahkan nelangsa dari kilat rindumu ke pasir-pasir putih yang tiada pernah lagi disentuh jemari gadis kecil yang sudah bosan menunggu kebebasan tatkala matahari sedang cemerlang menghujani pantai seolah tiada lagi kegelapan di malam yang megap-megap tanpa cahaya sebab iblis mulai bermain-main dengan tanduknya yang menyimpan kesedihan paling dalam dari ketidakberdayaanmu merengkuh mata air bening sebagai caramu menghilangkan dahaga rindu di suatu hari ketika kamu sendiri sementara aku bertarung melawan nasib yang wajahnya rupawan namun menggenggam cambuk atau bongkahan kayu yang siap dilecut ke tubuhku yang renta dirayapi serangga berwarna ungu pembawa wabah rindu sampai aku tak mengenal diriku yang larut dalam telaga di pulau tempat nyiur merayu di ujung laut dekat suaramu yang dibawa seekor camar putih itu.

Keep reading