medschoollife

6

on another note, this past week at school, we had a photographer come for a special lecture. now what would a photographer be doing at a medical school, you ask? well you see, his name is rick guidotti and he used to be a high fashion photographer. he has since then embarked on photographing beauty elsewhere, specifically in people who have genetic disorders. the way it happened is kind of long to explain, but basically, he saw a girl with albinism (people who have no color pigments) and thought she was gorgeous. he couldn’t get a picture of her so he looked up what she had and saw all of these depressing pictures of people who are affected with albinism. he wanted to photograph them in a more positive, humanistic light and so he partnered with a group to do this and has since then gone on to photograph so many other people with different disorders. his pictures really gave us lives to identify our future patients with and not just people who are sick. you really see the beauty in each and every one of them and i wanted to share it with all of you. these are his pictures above.

if you want to learn more, you can go to his website: http://www.positiveexposure.org/
or if you have the time, check out his ted talk on youtube: http://www.youtube.com/watch?v=yIKM7_rgUXU

Sharing

Udah lama ga nulis sesuatu yang berguna, mumpung wifi kos lagi kenceng, obrak-abrik draft dulu deh :3

Ini post dari blok Basic Medical Pratice kemarin.

This is what I learn today in our Tutorial session:

Tahu kan kalau rumah sakit itu terbagi atas rumah sakit kelas A, B, C? kelas per rumah sakit itu bukan berdasarkan mahal/engganya biaya ya (walaupun itu mungkin merupakan salah satu variabelnya) tapi dibagi atas kelengkapan dan kualitas rumah sakit tersebut.

Misal di suatu distrik ada rumah sakit umum daerah, ada rumah sakit umum pusat. Udah jelas kan hirarkinya? Rumah sakit umum pusat macam RS Sardjito Jogja atau RSCM Jakarta masuk rumah sakit kelas A.

Nah, di tutorial barusan saya menanyakan tentang ‘bagaimana jika suatu ketika kita mendapatkan pasien tanpa ID, dan kita harus melakukan medical actions padanya? Misal pasien tersebut kecelakaan, kita jelas akan melakukan pertolongan pertama walau tanpa persetujuan keluarganya. Tapi jika pada perawatan selanjutnya misalnya pasien itu membutuhkan ventilator (alat bantu nafas) untuk menstabilkan kondisi, bagaimana? Apakah rumah sakit akan membiayayai hal tersebut? Atau kita akan melakukan operasi pro bono (biaya tidak ditanggung pasien lah intinya), itu birokrasinya masih sulit?’

Jawaban dosen tutor saya adalah; tergantung kebijakan rumah sakitnya masing-masing. Ada rumah sakit yang memberlakukan semua biaya akan ditanggung si pengantar (dan kelompok tutor saya langsung rame: ‘Ya keleus kalo gitu ga akan ada yang nganter korban kecelakaan dong!’) ada pula rumah sakit yang hanya akan menanggung sampai si pasien sadar/kita menemukan ID pasien/keluarga. Tapi ada pula rumah sakit yang mempunyai dana untuk kegawatdaruratan medik semacam ini; mereka punya kebijakan sendiri perlakuan medis apa-apa saja yang bisa diberikan secara medis ke si pasien sampe pasiennya stabil dulu.

Dokternya tadi menyebutkan salah satu contoh rumah sakitnya, tapi tidak saya sebutkan ya disini. Ntar kebanjiran pasien lagi. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit tipe A. Rumah sakit swasta sih sebenernya. Umumnya memang Rumah sakit tipe A yang punya alokasi dana macem gini. Jadi di sini Dokternya menggarisbawahi kalau medical policy itu emang rumit sebenernya, tapi sebagai dokter kita lakukan aja apa yang kita bisa. Kalo nemuin kasus orang tanpa ID dan butuh medical action yang lebih rumit dari CPR dan butuh biaya besar, coba antar aja ke rumah sakit tipe A (dengan kondisi bahwa pertolongan pertama sebelumnya sudah dilakukan ya. Jangan sampe pasiennya mati di tengah jalan).

Sebenernya masih ada satu pertanyaan menggantung sih di kepala saya; nanti kalo pasiennya udah sadar terus bakal kita kasih tagihannya ga? Apa udah aja direlain? kayanya itu kembali ke kebijakan rumah sakitnya masing-masing…

Terus ada pertanyaan lagi dari teman saya; kalo misalnya si pasien butuh diamputasi dan sedang tidak dalam kondisi mampu memberikan inform consent (surat persetujuan) dan keluarganya ga bisa dihubungi, gimana? Padahal itu menyangkut nyawa pasien?

Salah satu teman saya menjawab; jadi sebelum medical action itu legally kita lakukan, kita harus punya semacam saksi pihak ketiga netral yang bisa me-legal-kan keputusan medis kita. Misal kita dapet pasien pendaki gunung tuh. Terus kecelakaan dan ga punya ID sama sekali. Harus diamputasi. Supaya ntar pas si pasien sadar ga marah-marah dan nuntut kita, kita harus diskusi dulu sama orang yang punya pengetahuan medis juga bahwa keputusan kita mengamputasi itu udah jalan paling akhir. Pokoknya jangan ngelakuin sesuatu yang riskan berdasarkan opini kita sendri doang. Bisa aja ternyata opini kita salah dan ada jalan lain yang lebih baik.

Misalnya kita diskusi sama kepala bagian bedah, gitu. Jadi nanti pas si pasien sadar dan tahu kakinya diamputasi, dia ga akan marahin kita karena melakukan medical action tanpa persetujuannya dulu. Si kepala bagian bedah ini nanti bisa membantu kita menjelaskan bahwa apa yang kita lakukan itu untuk yang terbaik, untuk menyelamatkan nyawa si pasien. Jadi misal kalo si pasien masih ga terima dan mau membawa kasus kita ke ranah hukum, kita punya defendan dan orang yang legally bisa membantu kita bertanggungjawab atas keputusan yang kita ambil waktu itu.

Jogjakarta, 19 Maret 2015

Forgot to post this yesterday, but it was coming up regardless! My wonderful mother made me breakfast in bed since I am on break finally! She seriously is the sweetest and most loving mother, yet she also is my rock. I love you mom. I hope to be like you someday.