media offline

We Are What We Post

Saat itu saya bersama Oknum I dan Oknum A sedang makan malam di Roppan Ciwalk. Kami baru aja dateng ke acara wisuda Oknum N di Sabuga siangnya. Kali itu adalah kali kesekian kami bertemu. Kami adalah orang-orang yang dipertemukan melalui tumblr. Kemudian saat lagi ngobrol-ngobrol, Oknum A tiba-tiba nyeletuk kepada saya, “Dulu gue pikir lo orang macam anak mushola pake celana di atas mata kaki.” Kesan pertama Oknum A mengenai saya adalah melalui sosial media. Dan kesan orang dengan postingan islami menurut Oknum A adalah seperti yang dijelaskan olehnya barusan. Lain lagi dengan pendapat salah satu pembaca tumblr saya. Dia berpikir bahwa saya adalah tipikal manusia paruh baya dengan jenggot panjang yang doyan membaca buku sastra dan filsafat. Betapa terkejutnya ia bahwa (saat itu) saya adalah seorang mahasiswa. Sejak itu saya sadar, you are what you post. Di masa di mana perkenalan pertama lebih banyak diawali dengan impresi melalui layar komputer, pendapat seseorang terhadap orang lain benar-benar didasari atas apa yang ia asumsikan melalui sosial media.

Dari kenyataan tersebut, saya belajar satu hal bahwa menjadi orang yang sama secara online dan offline adalah hal yang penting saat ini. Jika saya melihat profile sosial media Oknum X, membaca blognya, melihat postingan Youtube-nya, melihat twit-twitnya, maka saya memiliki ekspektasi yang sama terhadap Oknum X jika suatu saat saya bertemu tatap muka. Ketika saya bertemu dengan Oknum X dan ternyata kenyataan yang ada adalah sebaliknya, dari lubuk hati yang terdalam saya akan merasa tertipu. Ironisnya, perasaan tertipu itu sering kali terjadi karena sosial media menawarkan hal-hal yang indah saja. Sesuatu yang tidak ingin ditampilkan oleh seseorang, sulit untuk kita ungkap melalui sosial media.

Kita ada secara offline dan online di hari ini. Konsekuensinya, ada dua pribadi yang melekat pada diri kita, pribadi offline dan pribadi online. Pribadi offline adalah apa yang kita lakukan sehari-hari di lingkungan rumah, lingkungan bermain, dan lingkungan sekolah atau kerja. Pribadi offline adalah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan dalam melaksanakan rutinitas harian dan mengejar mimpi. Pribadi offline sifatnya lebih mudah dikontrol karena semuanya kitalah yang menjalani, kita menentukan sepenuhnya untuk bertindak sesuatu atau untuk tidak bertindak sesuatu, dan komentar orang lain mengenai pribadi kita ada pada lingkup pembicaraan yang terbatas. Berbeda halnya dengan pribadi online yang merupakan produk pencitraan sosial media. Pribadi online sifatnya superfisial, informasi yang beredar adalah informasi permukaan yang tidak sepenuhnya benar (atau tidak sepenuhnya salah). Kita seringkali tidak bisa mengontrol pribadi online kita. Pendapat orang lain mengenai pribadi kita yang diposting si dunia maya dapat beredar secara tidak terkendali. Satu postingan seseorang mengenai diri kita dapat dibaca oleh siapapun di seluruh dunia. Karena siapa pun di mana pun kapan pun dapat menulis apa pun mengenai diri kita. Dan siapa pun di mana pun dapat mengetahui informasi mengenai diri kita kapan pun (termasuk diri kita di masa lalu). Dunia maya pun akan menjadi terasa lebih indah ketika semuanya yang ada masih berupa avatar dan anonimitas, bukan percampuran antara online dan offline seperti saat ini.

Menjadi pribadi secara online berarti menjadi pribadi yang murni dan transparan di mata banyak orang. Jika kita memposting sesuatu secara online, maka kita harus konsekuen terhadap apa yang kita posting tersebut secara offline. Kita harus menjadi pribadi yang hidup sama nyamannya di kedua dunia dan orang lain pun memiliki ekspektasi yang sama terhadap diri kita. Tetapi umumnya apa yang kita lakukan dan apa yang orang lain pikirkan tidak selalu sama. Satu postingan saja bisa memiliki interpretasi yang sama sekali berbeda bagi orang yang berbeda. Misalnya saya memposting listening to One More Time, One More Chance (sebuah lagu dari film tergalau sedunia, 5 cm/s) di path. Saya memposting itu karena memang sedang mendengarkan lagunya. Orang lain mungkin memposting lagu itu sebagai sebuah #kode untuk teman Path-nya. Orang yang lain lagi bisa saja mempostingnya karena sedang galau. Lalu orang yang melihat postingan tersebut bisa menginterpretasi macam-macam: ada yang frowned karena memiliki kenangan pahit akan lagunya, ada yang berkomentar mengira bahwa saya sedang galau, ada yang menambahkan emoticon senyum karena suka dengan lagunya, ada juga yang menambahkan emoticon love karena suka dengan orangnya.

Kita tidak pernah bisa memprediksi latar belakang seseorang dalam memposting sesuatu. Ada yang memposting lagu sedih padahal sedang tertawa-tawa, ada yang memposting check in lokasi sedang liburan di suatu kota padahal ia tidak benar-benar ke sana (teman saya, Oknum F, pernah melakukan ini menggunakan aplikasi fake GPS), ada yang  memposting ucapan ulang tahun untuk ayahnya padahal ayahnya tidak memiliki sosial media (mungkin motif utamanya agar teman-temannya tau bahwa ayahnya sedang ulang tahun, mungkin juga tidak, who knows?), namun ada juga yang memposting dengan maksud yang sama seperti apa yang dia tuliskan.

Kita juga tidak bisa memprediksi respons orang lain terhadap postingan kita. Komentar baik dan buruk, reaksi pro dan kontra, semuanya bisa muncul. Tapi, kita bisa memprediksi dampak yang mungkin timbul bagi diri kita dan terutama bagi lingkungan sekitar kita jika kita memposting sesuatu, terutama postingan-postingan negatif dan tidak berguna. Untuk itu lah, kesadaran yang ada bukan lagi berupa you are what you post, tetapi we are what we post. We, merujuk pada kita semua para pemilik kepribadian ganda, online dan offline, beserta lingkungannya.

Di sisi lain dunia, tepatnya di Meksiko, you are what you post sudah menjadi kampanye nasional. Saya mengetahui itu ketika saya dan teman-teman dari Lendabook bertemu dengan Oknum R di Colombo. Oknum R adalah penggagas Eres lo que publicas (you are what you post dalam bahasa Meksiko). Eres lo que publicas sendiri adalah gerakan kampanye sosial untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan sosial media yang tidak pada tempatnya. “Ignorance leads to the great problems of humanity. Internet can break the giant wall that separates millions of people, form the empowerment that brings knowledge. Social Media have the potential to unite knowledge and youth to collaborate with organizations and government. It can prevent youth as bystanders to the violence, indignity, and persecution suffered around the world,” ujar Oknum R dalam salah satu statementnya. Ancaman atas hal-hal negatif tidak hanya ada di dunia nyata, tetapi juga dunia maya. Sehingga, kita selaku pelaku aktif dunia maya, harus turut aktif berjuang menyebarkan hal-hal positif di sosial media.

Berbicara tentang konten sosial media, postingan-postingan negatif ternyata adalah jenis postingan yang paling jarang dishare oleh para pengguna sosial media, diikuti postingan jenis leisure, work-related, dan media, Postingan terkait pembelajaran (learning) atau pengetahuan (knowledge) dan postingan-postingan positif menempati urutan postingan yang banyak dishare. Tetapi di atas itu semua, postingan terbanyak dalam konteks shareable adalah sex-related. Oleh karena itu, peran kita untuk mengikis postingan-postingan tidak bermutu dengan hal-hal baik dan positif menjadi penting untuk dilakukan. Memposting hal-hal baik sehingga dunia maya menjadi dunia yang layak tinggal.

Postingan-postingan negatif, jika pun ada, cukup disimpan untuk diri sendiri saja. Karena publik membutuhkan lebih banyak lagi hal-hal positif di sekitar mereka. Postingan negatif pun, secara langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi nilai profesionalisme dan integritas diri kita. Mari kita sempatkan untuk memikirkan ulang sebuah postingan sebelum mempostingnya. Sadari bahwa setiap orang bisa membaca postingan kita tersebut, setiap orang bisa salah interpretasi atau merasa direndahkan terhadap postingan kita tersebut, postingan kita adalah hal yang mungkin saja buruk bagi orang lain dan lingkungan, postingan kita mungkin juga terlalu vulgar dalam membahas mengenai diri kita (yang orang lain tidak butuhkan), dan kita mungkin sedang dalam kondisi emosi yang berlebihan saat memposting sesuatu.

Do your posts really define you?

1. Sebelum memposting sesuatu ke ranah maya, berpikirlah (THINK): Apakah postingan tersebut benar (True)? Apakah postingan tersebut berguna (Helpful)? Apakah postingan tersebut Inspiring? Apakah postingan tersebut perlu/penting (Necessary)? Apakah postingan tersebut baik (Kind)? Jika semua kriteria terpenuhi, maka dengan mempostingnya, kita ikut berkontribusi terhadap perilaku internet positif.

2. Mungkin kita bisa bilang bahwa to post is to express, not to impress. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencegah kita untuk memposting apapun. Tapi cobalah untuk peduli terhadap konsekuensi negatif yang mungkin timbul dari postingan kita terhadap diri dan lingkungan sekitar kita.

3. Kita mungkin tidak ingin membuat orang lain terkesan dengan postingan kita (atau mungkin juga ingin). Tetapi itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk bisa memposting sesuka hati di sosial media. Orang tua kita, sahabat kita, keluarga kita, dan orang-orang yang kita peduli bukan termasuk orang lain, bukan? Mereka bisa setiap saat melihat postingan kita di sosial media.

4. Coba buka halaman Facebook atau situs jejaring sosial lainnya yang kita miliki sekarang. Bacalah postingan-postingan yang pernah kita post. Jika kamu adalah orang lain, bagaimana pendapat “kamu” terhadap diri kamu di jejaring sosial? Pada kenyataannya, begitulah generasi sekarang melakukan penilaian terhadap diri kamu.

5. Jadilah pribadi yang baik secara online dan offline, apapun kata mereka.

Offline Media VS Online Media

Peter and I hardly go to bed before 2 at midnight and usually wake up around 9 o'clock in the morning, just because we choose to work for our passion. That is what it is, A PASSION. Not some sort of stupid business model. Might sound weird. Let me explain.

Over the past couple of days, we’ve been picked up by several offline platforms such as television, newspapers or radio, all with one goal: using us as an example of ‘young rich boys’, which really pisses us off. One newspaper literally wrote that 'The Cinemates bought a house in Amsterdam’, which is absolutely untrue. We’re renting the first floor from a friend of ours. Here’s just a message for once and for all, the financial side of this thing we are doing is NOT our reason to do it. There’s a reason we stand up early and go to bed late, not to earn more and more money, but to improve our own film-making-qualities and ALWAYS be there on time to upload new videos so YOU can watch them! An hour ago, some dude from a radio station literally asked me (ON AIR!) to give up my personal income. Am I the only one finding this really really really odd? Offline media just doesn’t get it.

Anyway, the last thing I want is that you guys don’t start to see us as sell-outs. I’m going to be really honest, we DO earn money with youtube. But it’s NOT the reason we’re doing this, and it’s definitely not enough to buy cars, expensive suits or complete houses. We’re passionate filmmakers, not business men. 

We’re growing so fast at the moment, and we both just want to thank every single one of you for supporting us! Can’t explain in words how much we appreciate everything the cinemators do.

x

ghost-princen  asked:

Thank you so much for doing what you're doing. These are issues people need to be informed on so we can become better allies to the Native population in this country. I hope you continue your work for years to come 💜

You might remember our last years’ campaign to promote Native history and culture, #WagingWithWords.

We’ve been planning for some time on expanding so that we could travel to folks throughout Indian Country especially for important events like #NoDAPL. There’s a number of things that we have been wanting to report on that are being censored in mainstream media outlets.

Unfortunately, sending correspondents across the country would require us to ask you, our supporters for support. With three years under it’s belt, we’re ready to expand our media presence on- and offline. 

But we need your help to do it. If you’re interested in making unbiased, real-time, Native reporting a reality, please check out our Patreon page, NativeNews.

Make non-profit Native reporting a reality. Let us know what type of content and rewards you want to see!

If each of our followers donated a single dollar, we could send out a team to #NoDAPL within days of its inception. 

Privasi Di Sosial Media

“Jangankan Path, conversation di grup WhatsApp aja suka discreenshot terus ditaro di blog,” begitu tulis Oknum F dalam suatu diskusi di grup WhatsApp.

Saya hampir tersedak membacanya.

“Gue ga ngomongin elo ya, Yun. Gue juga sering screenshot dan taro di tumblr kok,” Oknum F menambahkan. Sepertinya dia sadar kalau takut menyindir saya.

Pada kenyataannya saya memang relatif “rajin” meng-capture hal-hal di grup WhatsApp yang  menurut saya dapat dibagikan ke khalayak ramai.

Saat itu topik perbincangan kami di grup WhatsApp adalah soal privasi di era sosial media. Perbincangan terjadi dipicu oleh sebuah postingan milik seseorang di Path yang curhat akan ketidaksediaannya untuk memberi tempat duduk kepada seorang ibu hamil di KRL Commuter Line. Ia kemudian dibully di sosial media. Postingan tersebut tersebar akibat salah seorang temannya meng-capture postingan tersebut dan membagikannya ulang di Path. Postingan tersebut kemudian tersebar tidak hanya di Path, tetapi juga di sosial media lain seperti Facebook, Twitter, Tumblr, Instagram, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, postingan tersebut akhirnya naik menjadi berita di salah satu portal berita online bahkan televisi nasional. Mungkin si pelaku sendiri kaget mengetahui bahwa postingannya itu bisa menjadi berita nasional. Ia, sama seperti kebanyakan orang, pasti menganggap bahwa Path adalah sosial media yang cenderung tertutup. Postingan-postingan di sana hanya bisa diakses oleh orang-orang terdekat yang jumlahnya (saat itu) dibatasi hanya 150 orang. Bagi sebagian orang Path dianggap menjanjikan rasa aman akan privasi penggunanya di sosial media. Tetapi kejadian ini meruntuhkan kepercayaan bahwa masih ada privasi di sosial media. Kejadian ini membuktikan bahwa privasi di sosial media adalah mitos belaka.

Saat saya sedang tiduran bersantai di sebuah hostel, Oknum N mengirim message di Facebook kepada saya. Saat dia menyapa dan saya membalas pesannya, dia kemudian bertanya, “Lo lagi di Kyoto, Nus?” Saya langsung heran bagaimana dia tau saya ada di Jepang karena sebelumnya saya ga pernah kontak dengan dia dalam waktu yang lama dan kepergian saya ke Kyoto sama sekali tidak saya publikasikan ke sosial media. Kemudian saya tau bahwa dia melihat geo location dari pesan yang saya kirimkan. Privasi saya pun secara otomatis terbongkar dengan mudahnya hanya dengan berbincang di sosial media.

Tidak ada privasi di sosial media. Sebagai malaikat digital (meminjam istilah Nukman Luthfie), aktivitas kita terekam dengan detail di sosial media. Foto yang kita upload di instagram, lokasi tempat kita berada melalui check in Foursquare, isi hati dan pikiran kita lewat tweet di Twitter, percakapan kita di messenger, resume kita di LinkedIn, status relationship kita di Facebook, sampai kapan kita tidur dan bangun via sleep/awake di Path, semuanya tersimpan dengan baik di sosial media. Tanpa disadari, seringkali kita sendiri lah yang menginginkan kehidupan tanpa privasi melalui sosial media. Kegemaran bersosial media membuat kita lupa bahwa kita butuh kehidupan pribadi.

Kita butuh kehidupan pribadi. Kita butuh privasi. Tetapi apa yang dimaksud dengan kehidupan pribadi itu? Apakah kehidupan peribadi itu berarti kehidupan sendiri tanpa ada orang lain yang mengetahui atau kehidupan tentang diri sendiri yang bisa saja diketahui oleh orang lain? Di era orang-orang hobi melakukan selfie dan bernarsis ria di sosial media seperti sekarang ini, definisi kehidupan pribadi dan privasi terasa buram. Data pribadi kita obral, sosial media kita jadikan tempat paling nyaman untuk kehidupan pribadi. Sedangkan, kehidupan bersama orangtua, misalnya, dianggap sebagai ancaman terhadap privasi. Misalnya saja, sebagian remaja lebih memilih Twitter, Instagram, dan Tumblr dibandingkan  Facebook karena alasan tidak ada orangtua mereka di sana.

Ada satu perbedaan mendasar antara interaksi online melalui sosial media dengan interaksi offline yang tidak disadari banyak orang. Interaksi di dunia nyata sehari-hari bersifat private by default dan bersifat public through effort. Contoh sederhananya, di kehidupan nyata akan lebih mudah bagi kita dalam berbicara atau mengumumkan sesuatu secara individual (kepada satu orang tertentu) dibandingkan kepada khalayak ramai. Hal ini berbeda dengan interaksi online yang bersifat sebaliknya, public by default, private through effort. Ketika kita memposting tweet di twitter, artinya kita sedang berbicara kepada sekian ratus atau ribu follower twitter kita, sekaligus jutaan orang lain di luar sana yang tidak menjadi follower kita tetapi bisa mengakses tweet kita melalui internet. Di dunia nyata, perlu usaha agar suara kita didengar oleh banyak orang, sedangkan di dunia maya, perlu usaha agar suara kita didengar hanya oleh orang-orang tertentu saja. Privasi, sekali lagi, bukanlah sifat alamiah dari dunia maya.

Sosial media dan privasi adalah sebuah dilema tersendiri. Bukankah sosial media is all about sharing? Sharing dan privasi adalah dua kutub yang bertolak belakang. Artinya, jika seseorang sudah memutuskan untuk terjun ke sosial media, maka dia sudah siap untuk membuka dirinya kepada semua orang. Jika mau privasi, maka jangan bersosial media. Di sosial media, the less you share, the safer you might be. Selain itu, jika sudah terlanjur kecanduan sosial media, kita bisa mencegah agar tidak setiap orang mengakses data pribadi kita, yaitu dengan melakukan pengaturan privasi di account sosial media. Sayangnya, tidak semua orang memahami benar bagaimana melakukan pengaturan privasi di sosial media. Sebanyak 68% pengguna Facebook tidak mengerti cara pengaturan privasi di sosial media tersebut. Seringkali pengguna sosial media juga tidak menyadari atau lupa bahwa sosial media mereka dapat diakses hampir oleh siapa saja dan apa yang mereka posting cenderung terekam untuk selama-lamanya. Data dari sebuah survey menunjukkan bahwa 55% remaja memberikan informasi pribadinya kepada orang asing di Facebook dan 24% remaja mempersilakan data dirinya dapat diakses oleh umum sewaktu-waktu. Di masa kini, banyak orang merasa kesulitan dalam mengontrol beredarnya informasi mengenai diri mereka di dunia maya, informasi yang mereka berikan sendiri secara sukarela kepada sosial media.

Selamatkan privasi diri kita di sosial media:

1. Review data diri kita di sosial media secara berkala. Pastikan data tersebut hanya bisa diakses oleh orang-orang terdekat saja.

2. Gunakan friend list atau filter untuk mengontrol siapa saja yang bisa melihat postingan tertentu, siapa saja yang bisa melihat postingan yang lain. Oknum K menandai inner circle terhadap seluruh temannya di Path, kecuali bosnya. Jadi jika Oknum K ingin memposting hal-hal yang ia tidak ingin bosnya tau, ia posting menggunakan inner circle. “Lah, kalau kayak gitu kenapa lo temenan sama bos lo di Path?” tanya saya. “Abisnya dia yang ngeadd gue. Masak gue reject?” jawabnya. Pertemanan dan privasi di sosial media sudah sampai level yang begitu rumit.

3. Review postingan-postingan lama kita. Kadang, postingan yang sangat ingin kita posting 2 tahun yang lalu adalah postingan-postingan yang tidak kita ingin orang lain tau sekarang. Lebih penting lagi, pikirkan matang-matang jika kita ingin memposting sesuatu di sosial media. Postingan kamu akan terekam selamanya di sosial media (apalagi jika ada orang lain yang share postingan tersebut di sosial media). Postingan kamu bisa jadi catatan amal baikmu, bisa jadi catatan amal burukmu kelak.

4. Hindari tindakan-tindakan yang dapat membuat sosial media kamu dapat diakses oleh orang lain. Jangan mengakses wifi dari jaringan unsecured, ganti password secara berkala, dan jangan gunakan password yang sama di semua sosial media.

5. Kita ingin privasi kita terjaga di sosial media, demikian pula orang lain. Jangan memposting sesuatu dengan melakukan tag pada orang lain jika postingan tersebut dirasa kontroversial atau dapat merugikan dirinya. Jika tetap ingin melakukan tag, minta izinlah terlebih dahulu atau persilakan dirinya sendiri yang melakukan tag tersebut.

6. Jangan berteman dengan orang yang tidak dikenal di sosial media, terutama jika ada informasi di sosial media kita yang tidak kita ingin orang lain tau.

7. Jika ingin mendapatkan privasi yang sesungguhnya, berhentilah memposting apapun di sosial media. Karena tidak ada jalan lain untuk menjaga kerahasiaan diri selain berhenti dari sosial media

The Cold and Callous Response to the Death of Korryn Gaines and Why It Reinforces Why I Don’t Frequent Social Media (Too often) or March or Protest

I’m hardly ever on social media, but when I am, I’m working on my business pages to promote my business. Business social media or positive black woman social media is the only social media platforms I can stand. I have a twitter account named after my original black woman blog which I hardly ever be on. I thought about deleting it, but then again maybe I won’t cause there are some black women on there I love to follow.

Much of Black social (hotep) media (like the physical offline black “community”) is a digital cesspool of backwardness, anti-blackness and  misogynoir. Just utter chaos and dysfunction. Since I don’t be on my original black woman page much I only hear about the anti-blackness on social media through posts and tweets that my sista bloggers posts conversing about the rampant anti-blackness.

It  angers me to read about the cold and callous responses from Negro coon males (and probably some of there mammy handmaidens too) on social media concerning the untimely, tragic death of 23-year-old mother, Korryn Gaines, but unfortunately its expected and I’m not surprised. This is why I’m not on social media much and I suggest that black women stay away from Black social media, especially hotep twitter/facebook. But I know some of you frequent there to keep us updated on what’s going on. It’s a dirty job, but somebody’s gotta to do it, right? Well, I know I’m not the sista for that job. I have to keep my sanity.

Social media has also opened many black women’s eyes, such as myself who have been sleeping or oblivious to the widespread contempt within the “community” towards black women and girls. I guess we can say that it is a blessing and a curse. Coupled with the backwardness  I’ve seen with my own eyes in black people over the last decade to the open unapologetic anti-blackness and anti-black woman-ness online, I decided that I will not be supporting a “community” that hates, despises, and disrespect my humanity and femininity. Which why I no longer want to be participating in marches and protests, which are ineffective and outdated anyway (boycotting is more effective).

While some of you Black Women are making picket signs for the next march and protest, some negro male somewhere on or offline is viciously demeaning and disrespecting you. I just don’t know how ya’ll continue to want to do it? All of your protesting and marching is for naught. Constantly putting yourself in the sacrifice seat for the black “community” will not win you love, favor, or accolades. You will not go down in history as a martyr (God forbid if you get killed if a protest goes violent). They’ll say you asked for it. They’ll will say you deserved it.

If you continue to insists on sista soldiering for a “community” that hate you, go right ahead at your own risks. Nobody can’t stop you.

I’ve stated a month or two back that only support black people individually who have earned my support and respect.

In closing, this tragedy and the response to it just reinforces why I personally don’t frequent social media and why I no longer march or protests for an ungrateful black “community.”

antisemitism in SJ circles is a glaring problem on tumblr, but it’s also an issue in other media outlets/offline. which is obvious, the internet reflects offline reality, but SJ discussions are a lot more concentrated here, a lot less distilled than they would be in person. people don’t censor themselves nearly as much online and most people wouldn’t talk about the evils of capitalism by the water cooler, but every so often it’s the same.