mata ego

₪ STATUS SIMONE E SIMARIA ₪
  1. Hoje eu não tô boa pra beber, hoje eu tô excelente. 🍺💛
  2. Toda jura feita será perdoada. 🔓🔃
  3. Quando a saudade maltratar, vai lembrar da boca que era sua. 👄❌
  4. Tô negociando com a solidão. 💰⚠️
  5. O amor falou mais alto outra vez. 🎙❣️
  6. Você deixou marcas pra todo lado. 💔❌
  7. Foi embora outra vez, como da última vez. 🏃💨
  8. Gostar de você é meu pior castigo. 🙍💔
  9. O teu cheiro ficou em meu corpo. ❣️👫
  10. Quê que isso menino? Você veio do céu. 👏❤️
  11. Se o nosso amor se acabar eu de você não quero nada. 👌
  12. Pensei que fosse um anjo, mas foi pura ilusão. 👼👌
  13. Eu vejo a mentira estampada em tua cara. 👊🤔
  14. Quando eu te dei valor você não tava nem aí. 👋✅
  15. Amor profundo foi o meu. 💟🔄
  16. Você não deu valor e agora perdeu. 👋🔄
  17. Essa saudade ao invés de morrer, me mata. ❤️🔫
  18. Esquece esse teu ego e vem me procurar. 🔎💙
  19. Falta desse amor, aquele amor, o nosso amor. 🔀💟
  20. Sinto que nossa história ainda não morreu. 💭💕
  21. Amor não se encontra em qualquer esquina. ❤️❌
  22. Amor verdadeiro só existe um. ❤️🔑
  23. Só quero ser feliz. 🚺💞
  24. Vai valer a pena, mudar essa cena. 🎬⚠️
  25. Sem me dar conta, eu regresso, paro e penso. ✋💭
  26. Eu só queria te ver, ficar com você. 🙍💔
  27. Chora não, coleguinha! 💧🙆
  28. O seu olhar tá me dizendo, que você tá me querendo. 👌🔞
  29. Dinheiro nós num tem não, mas paixão nós tem com força. ❤️🔥
  30. Garoto vem provar do meu veneno. 🔞🔥
  31. Se enrosca no meu corpo e vem fazer amor, neném. 🔞👌
  32. Vem papai, vem. 🔞🔥
  • Se gostar/pegar dê like.
Sekisah Sehari: Terlarut Tapi Bukan Berlarut

Hanya sekedar ingin bertanya, pernahkah terlintas di benak kalian untuk sekedar menghentikan hari? Bukan cuma detik waktu, tapi sehari penuh sebab terlalu penuh saja rasanya. Terlebih ketika seluruh orang-orang yang dipercaya mulai menghilang, satu demi satu. Tak ada yang tersisa, sama sekali. Dan akhirnya kepercayaan diri mulai mengikis.

Saat ini yang tersisa tinggal pena di atas kertas. Masih tak tahu mau menulis apa. Sedikit rumit dengan perkara yang tersisa. Akhirnya hanya menyalakan laptop dan mulai tenggelam dalam beberapa kejadian. Beberapa waktu lalu, aku menghabiskan waktu di sebuah cafe yang kerap ramai bila sore menjelang. Duduk saja diam membaca buku. Melepaskan seluruh alat komunikasi yang terlalu sering digenggam. Ingin membunuh waktu tapi nampaknya aku yang sedang dibunuh oleh waktu. 

Di tengah-tengah ramai yang teramat nyata. Sudut mataku terpaku pada anak kecil–mungkin usianya sekitar 5 tahun–yang sedang asik berceloteh dengan ayahnya. Binar matanya tak mampu disembunyikan. Dia sedang bahagia, teramat sangat. Mungkin menceritakan hal apa saja yang dia alami di sekolah, pikirku. Senyumku mengembang tapi perlahan memudar. Ada yang menyentak di relung hati. Aku memalingkan muka, enggan untuk sekedar menoleh lagi. Bukan tak turut bahagia, tapi entah mengapa ada yang diam-diam membuat nyeri. 

Bagaimana rasanya bercerita dengan riang seperti itu? Bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki pertama yang kamu temui di muka bumi? Bagaimana rasanya memiliki kenangan atas masa kanak-kanak yang tak perlu banyak pikiran untuk memahami? Di tengah beragam pertanyaan yang menyambangi kepala, ada yang tertahan di sudut mata. Ingin jatuh, tapi ego terlanjur menjadi juara.

Aku rindu, merindukan hal lalu yang tak pernah aku rasakan. Aku tersenyum getir, menertawai diriku sendiri, bagaimana bisa rindu jika merasakan saja tidak. Kerap kali berpikir untuk tidak melakukan hal yang sama bila kelak menjadi orang tua, tapi tetap saja manusia hanya bisa berencana, penentu sepenuhnya adalah Dia.

Bila ingin, bisa saja aku murka dengan segala kesedihan yang datangnya bertubi-tubi. Dengan segala semesta yang seolah berkonspirasi membuatku iri setengah mati. Tak memiliki orang tua yang utuh. Tak tahu rasanya disayang dan memiliki sayang yang seperti anak kecil tadi. Kekecewaan yang kadang dipendam seorang diri, rasa iri yang diam-diam kerap menghantui atau bahkan hal lainnya yang susah untuk dijelaskan. Tapi untuk apa marah atas apa yang sudah tergariskan? Untuk apa membuang energi dengan menyimpan amarah serta dengki berkepanjangan? Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Bukan munafik, hanya saja memang rasanya tak perlu menyalahkan siapa atau apa. Sebab yang sudah digariskan oleh-Nya tetap akan terjadi meski sekuat apapun kamu mencegahnya.

Lalu kembali dibuat bertanya, apa yang paling menyedihkan dari sebuah kehilangan sebab kepergian? Apa yang paling membuat rindu dari sebuah kepunyaan tapi tak pernah tergenggam sempurna? Jadi apa yang paling menyedihkan dan sesekali membuat rindu? Orangnya? Memori kenangan akannya? Atau waktu yang berlalu saat dia masih ada di sekitar? Atau bahkan kesempatan yang seharusnya ada tapi tak pernah diwujudkan?

Atas sebuah kehilangan sebab kepergian akan selalu hadir rindu yang tak berkesudahan. Tentang orangnya, tentang momen kebersamaan, atau juga tentang sebuah kebiasaan, dan bisa jadi tentang hal-hal yang belum pernah terjadi tapi terlalu sering diinginkan terjadi.  Perihal mengikhlaskan adalah kewajiban yang memang sudah sepantasnya untuk dilakukan. Sebab apa? Kita terlahir sendiri, memilih jalan kehidupan dan serangkaian pilihan di dalamnya atas alasan diri sendiri (meski pihak luar tak mungkin tak memengaruhi), dan pada akhirnya muara dari segalanya adalah kita kembali kepada-Nya pun sendirian dan pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan pun hanya seorang diri.

Kehilangan boleh dihargai dengan kesedihan, jika dan hanya jika ada batas waktu yang kamu tetapkan untuk sedih itu sendiri. Jika bahagia saja tak selamanya, maka begitu juga dengan duka yang sedang dirasa. Sedihmu bukan selamanya, dia datang sesekali, jika kamu mengijinkannya menyelimuti harimu. Tapi perihal mengikhlaskan sudah ada kewajiban yang tak bisa ditanggalkan akannya. 

Remember the time you thought you never could survive? You did, and you can do it again -Margret L

Untuk mengakhiri segala kisah yang tertulis ini aku hanya ingin berkata satu hal, boleh sesekali terlarut tapi jangan sampai berlarut. Sebab hari esok masih butuh untuk dinikmati dengan bahagia! Selamat membaik bersama :)

nb : tak usah diambil pusing dengan menerka-nerka ini kisahku atau bukan, sebab kau tahu, apapun bisa kujadikan aku dalam sebuah tulisan.