maskot

The Way I Lose Her: Falling In Love With People We Can’t Have

Terkadang hidup begitu tidak adil. Orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.

                                                       ===

.

Akan ada suatu keadaan di mana tanpa perlu ada pembicaraan atau penjelasan pun kau sudah tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dari bagaimana caranya memperlakukanmu, dari bagaimana cara matanya tidak menatapmu. Dekat tapi tidak mendekap. Saling melihat di depan mata tapi terasa tidak berjumpa. Yang dulu dekat sekali, sekarang rasa-rasanya menjadi begitu asing.

Gue sebenernya males banget untuk ikut acara ulang tahun Nurhadi di kelas nanti, tapi apa daya. Masalah gue ini ya masalah antara Ipeh dan gue, nggak baik melibatkan orang lain hanya karena masalah pribadi. Jadi, dengan berat hati gue menurut saja waktu teman-teman ngajak pergi ke dalam kelas.

Gue sengaja memilih jalan paling belakang, dari sini gue bisa melihat tubuh yang sudah tidak melihat gue lagi. Menyedihkan, dia yang pergi, gue yang disakiti, dia yang seharusnya gue benci, tapi kemana pun keadaan menempatkan kami berdua, mata gue tetap terus mencarinya.

Nyet.” Ikhsan tiba-tiba berhenti dan menengok ke belakang.

“Paan?”

Kemudian Ikhsan mendekat, menarik seragam gue agar suaranya tidak terlalu terdengar sama teman-teman yang lain.

“Lo bawa hadiah?” Tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Alis gue naik satu.

“Hadiah begok. Malah hah hoh hah hoh lu kaya orang lagi naik haji terus salah muterin ka’bah.

“…”

“Yang lain pada bawa hadiah tuh buat Nurhadi.”

“Aduh mana kepikiran gue. Tau si Nurhadi bisa ulang tahun aja baru kemarin.”

“Anjir tega amat lo. Jelek-jelek-bau gitu juga temen kita.”

“Gue jadi ngebayangin gimana dulu emaknya ngelahirin dia. Kayaknya seluruh dosa emaknya selama hidup langsung dihapus sama Tuhan deh saat itu juga.”

“Kok bisa?” Ikhsan memasang wajah penasaran.

“Udah disiksa ngeluarin anak segede nangka gendong gitu pasti udah termasuk ujian dunia akherat. Makanya langsung suci lagi tuh emaknya Nurhadi.”

“Emaknya sih suci, tapi anaknya baru lahir langsung penuh dosa. Tuhan waktu bikin Nurhadi lagi ngelamun. Salah nyampurin warna kulit sama tinta spidol.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..”

Gue dan Ikhsan ketawa keras bareng-bareng udah kaya paduan suara, sontak anak-anak di depan langsung pada nengok semua termasuk Ipeh juga. Gue langsung menyenggol tangan Ikhsan agar berhenti tertawa, tapi kami berdua nggak bisa. Rasanya nikmat banget kalau lagi galau gini terus ngetawain temen sendiri. Ya Robb maafkan kami.

“Yaudah deh lo, pikirin sekarang buat cari kado.” Celetuk Ikhsan lagi.

“Buset mendadak amat.”

“Mau gimana lagi.” Ikhsan mengangkat pundak.

“Emang lo dah dapet ide mau ngasih kado apa?”

“Sudah dong~”

“Anjir gue curiga, pasti nggak akan bener.”

“Yeeee curigaan mulu lo sama temen. Lo sendiri gimana?”

“Belom, ntar aja sambil jalan deh. Kalau nggak ada juga yaudah gue ambil aja tanaman obat di kebun sekolah.”

“Anjing temen lagi ulang tahun malah dikasih temulawak. Hahahahah goblok lo!”

“Hahahahaha..”

Selama perjalanan menuju kelas yang ada malah kami berdua di belakang sama-sama ngomong makin ngelantur. Dari yang awalnya mau ngomongin kado buat Nurhadi, malah berakhir jadi ngomongin apakah Robocop pernah sholat selama hidupnya atau tidak. Benar-benar diskusi yang Syariah. Calon Khilafah.

Sebelum memasuki lorong kelas, kami semua berkumpul sebentar. Dila kembali membahas rencana apa saja yang akan dijalankan hari ini sekaligus menyalakan lilin-lilin ulang tahun. Tapi emang dasarnya anak-anak kelas itu pada brengsek semua, lilin yang dipakai di atas kue pun bukan lilin ulang tahun. Melainkan lilin putih gede yang dipakai orang kalau tiap mati lampu. Pas orang-orang nanya sama gue kenapa lilinnya pake lilin itu, dengan polosnya gue menjawab,

“Lilin ulang tahun harus identik sama badan orang yang bersangkutan.”

Setelah mendapatkan kode dari salah satu teman di dalam kelas, akhirnya kami semua berjalan perlahan menuju pintu kelas. Sebelum tiba-tiba pintu ditendang keras oleh Bobby disertai nyanyian ulang tahun dengan nada Asma Ul-Husna serentak dari anak-anak kelas.

Nurhadi yang tadi masih asik ngerjain tugas (itu pun nyontek punya Tasya) langsung kaget melihat teman-temannya yang tadi menghilang kini malah datang beramai-ramai membawa kue disertai lilin gede satu biji doang di tengahnya itu. Nurhadi terkejut, ada haru terlihat di rona wajahnya, tapi ketika ia mau nangis sontak ditahan sama teman sebangkunya.

“Di jangan nangis Di. Serem ah. Gue takut puasa tahun ini malah jadi mundur 10 hari kalau lo nangis.”

Ya begitulah temen-temen gue di kelas. Temannya lagi bahagia dan mau nangis terharu aja masih dihina dulu. Nurhadi memang cocok jadi maskot kelas kita.

Teman-teman satu kelas langsung berkumpul mengelilingi Nurhadi yang badannya tetap paling gede sendiri. Abnormal banget.

“Ayo, Di!! Tiup lilinnya!” Terika Dila.

“Tiup, jangan sedot.” Celetuk Ikhsan diselingi tawa gue.

“Acieeee ulang tahun ke 2 bulan!” Bobby menanggapi.

“WOI LU KIRA GUE JANIN APA?!” Nurhadi tidak terima.

“Tiup tiup tiup tiup~” Teman-teman yang lain menyorakki.

“Buka buka buka buka buka..” Gue dan Ikhsan beda sendiri.

“Woi ini serius dong. Masa lilinnya pake lilin babi ngepet gini? Kagak ada lilin yang lebih normal apa sih?” Lagi-lagi Nurhadi protes. Udah untung ulang tahunnya dirayain, sekarang malah banyak maunya. Dikasih hati minta jantung, dikasih temulawak malah minta buyung upik.

Pasti ide si Galing ye? Dimas!” Nurhadi nabok pundak gue sampe tulangnya geser.

“Yaudah, elo mau lilin ultah yang normal?” Tanya gue.

“Yaiyalah!”

“Yowes..” Gue mencabut lilin putih itu, lalu menggantinya dengan lilin berbentuk angka. Lalu menaruhnya tepat di tengah kue tart tersebut.

“…”

“Lah dia malah diem. Udah gue ganti tuh lilinnya.” Tukas gue.

“YA ANJING GANTI LILIN SIH GANTI LILIN, TAPI NGGAK JADI 72 JUGA ANJING ANGKANYA. EMANG MUKA GUE SETUA ITU APA?!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA LAHIR DIBETOT PAKE PINSET AJA BANYAK PROTES LU GORILA.”

Teman-teman kelas langsung pada ketawa semua. Akhirnya daripada meniup lilin dengan angka 72 itu, Nurhadi lebih memilih meniup lilin satu biji doang yang besar warna putih itu. Dia takut umurnya cuma sampe 72, makanya dia nggak mau niup lilin angka itu. Padahal kura-kura juga tau, Nurhadi ini nggak akan mati dalam waktu dekat, umurnya kaya keris Mpu Gandring; Awet. Toh dia aja lahir dari semenjak gunung Krakatau meledak dulu sampai sekarang.

Untuk berhasil meniup lilin saja kayaknya sudah menghabiskan banyak waktu banget, Nurhadi memejamkan mata sebelum meniup lilin, berdoa dan berharap agar doanya suatu saat dikabulkan. Padahal gue tau malaikat ngedeketin dia aja nggak mau. Baunya mirip bau kerikil sungai.

Setelah lilin berhasil padam, Nurhadi mulai memotong kuenya. Kue pertama dia berikan kepada Putri, salah satu wanita yang tampaknya sedang ditaksir berat oleh Nurhadi di kelas. Anak-anak yang lain langsung bersorak sorai, sedangkan Putri langsung Istigfar.

Berikhtiar atas ujian yang Tuhan berikan ini.

Kemudian potongan selanjutnya diberikan untuk Dila, primadona sekolah sekaligus ketua acara dalam event mubadzir ini. Gimana nggak mubadzir? Ulang tahun Kingkong kok dirayain. Ipeh selanjutnya yang mendapat kue sebagai balas jasa atas pertolongannya setiap ada ulangan termasuk ulangan fisika, tak lupa juga Tasya. Sedangkan gue dan Ikhsan? Dapet lilin yang dipotong dua.

Keparat!

“Nih buat lu berdua. Makan dah tuh lilin. Biar putih sekalian gigi lu pada.” Katanya ketus.

Bangsat emang Nurhadi ini, pinter banget kalau soal urusan balas dendam. Tapi nggak papa deh, toh gue juga nggak terlalu suka kue, gue paling nggak suka makan makanan manis. Beda dengan Ikhsan yang omnivora alias apa aja masuk. Termasuk batu kecubung.

Acara kembali dilanjut dengan pemberian kado. Seperti yang sudah gue tebak sebelumnya, semua orang mempunyai kado yang bermakna untuk Nurhadi. Namun tidak dengan gue dan Ikhsan. Ketika semua sudah memberikan kado, kini giliran Ikhsan maju ke hadapan Nurhadi. Dengan polosnya Ikhsan langsung mengeluarkan sepotong tanaman yang dia colong langsung dari kebon sekolahan. Sebuah tanaman entah apa itu, masih ada akar, daun, dan juga batangnya. Terlihat masih segar.

“Ya Allah Ikhsan lo kira gue kambing apa apaan sih?!” Nurhadi mulai terlihat bete. Sedangkan Ikhsan cengengesan dibarengi tawa teman yang lain.

“Yeee suduzon lu jadi orang. Ini tanaman suatu saat bakal berbunga. Jadi anggap aja gue ngasih bunga. Romantis kan?”

“Romantis gigi lu salto.”

Sambil masih ketawa, Ikhsan mundur kebelakang dan mempersilakan gue untuk maju memberikan kado. Kali ini gue sama Ikhsan kompak begoknya. Ketika tadi dia bawa tanaman hasil nyolong, gue juga bawa hal yang sama, tapi yang ini jenisnya berbeda.

Gue keluarkan sebuah gelas Aqua yang di dalamnya terdapat kapas basah + calon benih toge yang udah pada muncul tunasnya. Sontak melihat hal itu semua teman-teman gue pada ketawa ngakak.

“Anjir Dimas! Lo ngasih gue bahan praktek pelajaran PLH?! Itu tugas praktek siapa yang elo colong dah?” Kata Nurhadi sambil berusaha menerima kado gue itu dengan Ikhlas.

“Hahahah gue ambil dari kelas sebelah.” Balas gue polos.

“Parah! Nanti kalau jadi masalah gimana anjir?”

“Yaudah, toh udah jadi hak milik elo ini. Jadi kalau ada masalah ya masalah sama elo. Gue rasa anak kelas sebelah juga bakal lebih milih nanem lagi itu toge dari awal ketimbang cari masalah sama elo, Di.”

“Bener juga.” Kata Nurhadi tanpa pikir panjang.

Acara itu kami tutup dengan banyak tawa. Semua orang di dalam kelas tertawa riang seakan tidak ada sedikitpun masalah di dalamnya. Di balik tawa teman-teman ini, sebenarnya gue menyadari ada banyak rasa perih yang mereka tahan masing-masing di dalam hati. Termasuk gue sendiri. Namun, pagi cerah yang menyenangkan seperti ini rasanya terlalu rugi untuk dilewatkan dengan cara menangisi sesuatu yang telah pergi.

Sambil masih suasana merayakan Ulang Tahun, Ipeh yang juga mempunyai turut andil dalam ramainya acara ini langsung mengajak Nurhadi dan teman-teman yang lain untuk main ular tangga di belakang kelas. Nurhadi, Ikhsan, Dila, Mai, dan banyak teman-teman yang lain langsung kompakan pada ikut di sana. Sedangkan gue? Gue lebih memilih duduk di kursi depan sambil menikmati pelan-pelan kue yang sebenarnya nggak begitu gue suka ini.

Bukannya nggak mau ikut rame-rame, tapi di sana ada Ipeh. Gue juga harus tahu diri, jika kehadiran gue hanya akan menyebabkan suasana awkward bersama Ipeh yang kemudian bisa menyebabkan suasana teman-teman yang lain juga jadi ikutan tidak enak, lebih baik gue tidak usah gabung di sana.

Gue merasa hari ini sudah cukup. Bahagia bersama teman-teman kelas hari ini sudah cukup untuk membayar rasa haus gue untuk tertawa bersama mereka. Sudah saatnya gue kembali ke OSIS, pergi meninggalkan kelas ini, meninggalkan orang-orang di dalamnya.

“Dim..”

Tiba-tiba ada yang menghampiri gue yang kala itu tengah duduk di atas meja sambil nyemilin kue yang tinggal seperempat ini sambil menatap ke arah pintu kelas.

“Napa, Bob?” Tanya gue.

Bobby kemudian menepuk pundak gue sekali dan duduk di kursi dekat situ.

“Nggak gabung sama yang lain?” Tanyanya.

Gue geleng-geleng, “Kagak ah.”

“Kenapa?”

“Dih kepo amat dah.”

“Ipeh yak? Hehehe.” Bobby cengengesan sambil nyolokin garpunya ke sisa kue punya gue dan langsung memakannya bulat-bulat tanpa sisa.

“…”

“Masih berantem lu? Belum beres?”

“…”

“Gak usah heran gitu. Cerita lu hujan-hujanan itu udah nyebar di antara anak-anak kelas.”

“Hah?!” Gue kaget.

“Nggak ke semua sih. Cuma ke anak-anak band kita aja.”

“Lah band kita kan Cuma 3 biji. Elu Ikhsan sama gue?”

“Nah iya.”

“YA ITU BERARTI NGGAK NYEBAR NAMANYA, GENDUT!!! ITU SIH ARTINYA CUMA ELO DOANG YANG TAU SELAIN SI IKHSAN!!”

“Hahahahah ya maap~”

“Gabung sono. Suasananya lagi enak tuh.”

“Enak? Lu nggak liat suasana gue sama Ipeh pas di kantin?”

“Gue sadar kok.”

“Nah itu elu tau.”

“Iya gue sadar kok. Tapi elo-lah di sini yang sebenarnya nggak sadar.” Bobby menaruh garpunya di atas tatakan piring kertas kepunyaan gue.

Gue langsung nengok secepat kilat ke arah si beruang air.

“Hah? Gue?”

“Hahaha seperti yang sudah gue tebak. As usual ah elo mah.”

“Emang apa yang nggak gue sadarin?”

Bobby ngeliatin gue sebelum kemudian dia pergi, ngambil potongan kue yang lain dan kembali duduk di tempat yang sama.

“Doi merhatiin elo terus tuh dari tadi. Nyadar nggak?”

“Apaan?! Gue merhatiin dia terus dari semenjak datang di kantin dan dia nggak pernah sedikitpun ngeliat gue ah!”

“Masa?”

“Iya!”

“Yakin?”

“…”

“Tuh kan. Ya terserah elo mau percaya atau enggak. Sana gih gabung sama mereka, siapa tau suasana hati elo jadi enakan lagi. Atau bahkan suasana kalian berdua jadi kaya dulu lagi.”

Gue menaruh piring kertas tempat kue itu ke atas meja, lalu turun dan berjalan ke arah meja guru.

“Nggak deh, Bob. Gue udah nyoba pilihan itu lebih dari dua kali dari dulu, tapi hasilnya lo tahu sendiri gimana kan? Jadi, mending kalau harus selesai ya selesai aja. Lagian, cuma tinggal beberapa bulan lagi sebelum kita semua naik kelas terus pisah. Jadi, gue rasa ini sudah baik kok. For me and her.” Gue berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bobby.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di meja guru, yang gue lakukan di sana hanyalah melihat ke arah segala kertas perizinan maupun kertas hasil nilai ulangan yang berserakan di atas meja guru. Menjelang Bazzar begini emang biasanya semua guru jarang banget ada yang masuk kelas jadi sudah dapat dipastikan berantakan banget ini meja guru. Gue ambil beberapa kertas nilai yang berserakan di sana dan memembaca isinya, hanya untuk membunuh waktu menunggu temen gue selesai main ular tangga lalu nemenin gue balik lagi ke ke gerbang depan buat jualan tiket Bazzar.

Walaupun sebenarnya gue pengin banget gabung sama anak-anak yang lagi pada ketawa-ketawa di ujung belakang kelas, tapi setidaknya gue juga harus tahu diri. Gue menghela napas panjang, tempat yang dulu sangat akrab buat gue ini entah bagaimana ceritanya hanya karena menjaga perasaan satu orang membuat gue merasa menjadi turis di negara sendiri. Alias asing sekali. Sambil masih membuka-buka tumpukan kertas, tak sengaja mata gue menatap ke arah dua meja di depan meja guru.

Yang mana gue tau bahwa itu adalah meja tempat di mana Ipeh biasanya duduk.

Gue taruh kertas yang sedang gue pegang itu lalu berjalan perlahan ke sebelah meja Ipeh. Mejanya seperti biasa, rapih banget. Di sana ada tas kucel Ipeh yang sudah jadi ciri khasnya, dengan berbagai macam buku cetak ada di laci bawah meja. Di atas meja ada satu botol minum disertai tempat pensil yang isinya banyak bener.

Kalau gue nggak salah inget, tempat ini adalah tempat di mana gue ketemu Ipeh untuk yang pertama kalinya. Dulu gue takut banget sama Ipeh, selain karena tomboy, dia juga anak karate tingkat akut. Ototnya ada di mana-mana. Rasanya cukup kaget juga kalau pertemuan tidak sengaja yang terjadi ketika ulangan matematika dulu itu akan membawa gue ke keadaan yang benar-benar besar di hidup gue sekarang ini.

Gue perlahan membuka tempat pinsil yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan yang biasanya ditaruh Ipeh di atas pinsil. Gue nggak tahu apa gunanya ini mainan, ah tapi Ipeh orangnya emang gitu, kalau ada barang unik pasti dibawa-bawa walau nggak penting juga.

Kalau gue tidak lupa, dulu sambil memainkan robot-robotan ini kami berdua berbicara tentang beberapa hal menyenangkan, tentang sebuah janji juga. Tentang sebuah teori kacangan yang dengan seenak dengkulnya gue ucapkan begitu saja. Teori Filosofi Donat. Tentang sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak salah. Kesalahan yang mengarahkan kita pada sesuatu yang besar dan benar. Tapi tanpa disangka, seluruh kejadian itu malah membawa gue ke lubang besar seperti ini. Ke sebuah keterpurukan yang menyedihkan ini.

Tanpa gue sadari, gue yang masih memainkan robot-robotan mini di atas meja itu dikagetkan oleh sosok yang ternyata selama ini sudah berdiri cukup lama dan memperhatikan gue dari arah meja guru. Begitu melihat ada sosok Ipeh yang memperhatikan gue dari tadi, gue langsung dengan buru-buru memasukkan robot-robotan itu ke dalam tempat pensilnya lagi. Tapi bukannya cepat, yang ada justru isi tempat pensil itu jadi buyar semua kaya janin waktu pecah ketuban.

Sontak gue rusuh dong. Suasana yang tadinya hening malah jadi ribut banget gara-gara gue rusuh masukin semua isi tempat pensil yang pada keluar itu. Ipeh yang melihat hal itu langsung mendekat.

“Udah.”

Ipeh menggenggam lengan gue yang masih rusuh masuk-masukin pulpen dan pensil ke dalam tempatnya.

Karena tidak sempat menyadari Ipeh yang berjalan ke arah gue itu, sontak gue jadi kaget lalu menengok ke arahnya. Namun Ipeh tidak melihat ke arah gue. Dia langsung melepaskan genggamannya tadi dan membereskan pulpen beserta pensil yang berserakan di atas meja tanpa sedikitpun berbicara lagi.

“Maaf.” Kata gue pelan sambil mundur perlahan.

Gue ambil salah satu pulpen yang jatuh di lantai lalu menaruhnya di atas meja sebelum kemudian gue berjalan pergi meninggalkan Ipeh pelan-pelan.

“Dim..” Tiba-tiba Ipeh memanggil gue.

Langkah kaki gue terhenti. Gue langsung menengok ke belakang.

“8 Permen Milkita sama dengan segelas susu loh..”

Ah engga, seinget gue Ipeh nggak ngomong gitu.

“Bisa ke sini sebentar?” Pintanya.

Gue terdiam cukup lama di depan permintaannya tersebut. Lalu tanpa sadar langkah kaki gue berjalan ke arahnya. Meskipun gue ingin sekali menolak permintaan itu, entah bagaimana ceritanya kaki gue rasa-rasanya jadi berjalan sendiri memenuhi permintaan Ipeh.

Cinta memang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali pun, kehadirannya tetap mampu membuat hati menjadi pemaaf yang paling diri sendiri benci.

.

                                                ===

.

BLETAK!!

“Woi!! Ngelamun aja lu. Kesurupan nanti. Hahaha..”  

Ada sebuah Teh Kotak melayang menghajar kepala gue dari belakang.

“Nih, buat elu. Kapan lagi gue traktir kaya gini. Jangan lupa bilang terima kasih.” Tukasnya lagi sambil menaruh Teh Kotak itu di depan gue.

Gue yang daritadi masih ngelamun ini cuma ngeliatin dia doang lalu kembali melihat ke arah depan. Ikhsan kemudian duduk di sebelah gue sambil menikmati Teh Kotak miliknya sendiri. Sedangkan gue masih diam saja sambil sesekali menghela napas panjang.

“Woi, mana ucapan Terima Kasihnya?!”

Gue melirik sinis, “Gumawooo bebeb.”

“Nah gitu dong.” Kata Ikhsan cengengesan yang kemudian mengeluarkan sepotong kue yang entah dia dapet dari mana.

“Lah kue dapet dari mana lu?”

“Ini?” Ikhsan nunjuk ke potongan kuenya, gue angguk-angguk. “Gue dapet dari kelas kok. Kue ultah si Gorila. Nyisa cukup banyak. Mau lo?”

Gue geleng-geleng, “Nggak ah. Kagak suka manis gue.”

“Yowes~”

“Btw lo kok bahagia banget sih keliatannya?”

“Elo sendiri? Kok kucel banget keliatannya? Ada kejadian apaan di kelas?”

“Ah males cerita ah gue.”

“Yeee yaudah gue juga nggak mau cerita.” Balasnya sambil noyor-noyor kepala gue pake garpu plastik yang udah penuh sama cream kue.

Keadaan menjadi hening cukup lama. Suasana siang yang sudah hampir memasuki waktu Dzuhur itu membuat meja Stand Tiket jadi agak sedikit panas. Tapi walaupun begitu, keadaan sekolah yang dikelilingi oleh pohon besar membuat udaranya tetap terasa sejuk.

“Eh Dim Dim Dim.. Tau nggak..”

“Katanya nggak mau cerita!”

“Hahahaha biarin dong. Gue mau cerita nih. Boleh yak boleh yak?”

“Apaan emang?”

“Tapi sebelum itu gue mau nanya dong sama mas Dimas selaku suhu tentang perwanitaan di kelas kita.”

“Paan sih lo? Mau nanya apaan?” Gue melirik curiga.

Ikhsan lalu menggeser kursinya agar duduk lebih dekat, ia melihat ke arah kiri kanan sebentar memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ, lalu ia menarik kuping gue agar lebih mendekat.

“Ajarin gue ciuman dong, Dim..”

Sontak gue langsung loncat dari tempat duduk gue dan pergi menjauh sambil memegangi mulut gue karena ketakutan. Sedangkan Ikhsan langsung sambil memasang wajah bête.

“Anjing kenapa lo pake acara kaget gitu sih, Setan?”

“APAAN SIH LO?! UDAH NGGAK NORMAL YA?!” Gue makin menjauh.

“Yee kuya mau kemana lo?! Sini anjir! Dengerin gue dulu. Jangan main ambil kesimpulan aja kampret!”

Gue geleng-geleng.

“Sini anjir! Tolong ajarin gue! Sahabat macam apaan lo nggak mau bantu temennya kaya gini?!”

“Lah ngapain juga yang begituan pake diajarin segala sih, Anjir?! Latihan sendiri aja sana lo sama duren!” Gue kemudian kembali duduk di kursi yang tadi setelah merasa Ikhsan mulai normal lagi.

“Makanya dengerin dulu penjelasan gue.” Ikhsan menyuruh gue mendekat tapi gue tetap mencoba menjaga jarak.

“Gini, Nyet. Cerita ini diawali ketika gue di kelas lagi mainan Ular Tangga..”

“Langsung intinya aja anjir!”

“Ya Robb, basa basi dulu ngapa sih?! Orang lagi lahiran aja pake pembukaan dulu!”

“…”

“Tapi yaudah deh, intinya gini, ajarin gue cara ciuman yang baik dan benar dong.”

“Ini tuh elu nanya serius?”

“YA MASA GUE BOHONG SIH?!”

“Elo belum pernah ciuman emang?”

“Pernah sih. Sama emak paling dulu waktu bocah.”

“…”

“Belom kalau sama cewek tulen.”

“Astagfirullah, ciuman itu harom, bukan muhrim.”

“Alah Dim ngomong lu sok Ustad. Terus kemarin waktu lo ciuman sama si Hana di UKS juga elo nikmatin kan? Dua kali malah ciumannya.” Sindir Ikhsan.

“Bangsat! Jangan diungkit-ungkit lagi sih!”

“Yaudah, gue juga pengen dong ngerasain kaya lo gitu. Gue pengen masa SMA gue jadi berharga sekali-kali.” Ikhsan memelas.

“Ya terus apa yang harus dipelajari sih?”

“Ajarin gue tata cara dan tekhnik ciuman. Gue takut salah. Kan serem juga kalau misal gue lagi ciuman terus bibirnya kegigit. Atau bulu hidung gue nyangkut di behel-nya.”

“Bah, serem juga kalau gitu.”

“Nah. Maka dari itu. Ajarin gue, Suhu!”

“Terus kalau udah diajarinnya elu mau latihan sama siapa?”

“Ngg.. Sama bantal aja deh gapapa.”

“HAHAHAHAHAHAH TAI!”

“Ayo dong, mumpung stand tiket masih sepi nih. Gimana-gimana, langkah pertama apa yang perlu gue lakukan kalau mau ciuman, Suhu?”

“Hmm.. baca bismillah.”

“Ya mana sempet, Setan. Mau buat dosa kok tobat dulu. Nanti aja di akhir ciuman baru bilang Astagfirullah.”

“Bener juga. Yaudah deh ganti, langkah pertama adalah kita harus membangun kimia dulu.”

“Chemistry maksudnya?”

“Nah iya!”

“ITU KAN JOKE GUE SETAN!”

“Hahahah, setelah dapet kimia, baru deh elo mulai maju perlahan, mendekat hingga elo bisa mendengar suara hembusan napasnya.”

“Beuh, puitis banget kata-kata lo. Oke gue catet.” Ikhsan langsung nyobek kertas dari dalam buku dan mencatat wejangan gue barusan.

“Terus dah gitu nanti lo bakal masuk ke tahap Drum Roll.” Sambung gue lagi.

“Apaan tuh? Nama kue?”

“Itu Egg Roll kampret. Drum Roll. Sejenis aba-aba sebelum ciuman. Biasanya di sini adalah saat yang paling bikin grogi nih.”

“Wuoh! Mantap!” Ikhsan terlihat antusias banget sambil terus mencatat.

“Nah nanti kalau udah ciuman, ati-ati, do not use so much tongue. Jangan pake lidah. Kecup-kecup aja. Kalau kecupnya lama, baru deh pelan-pelan keluarin noh lidah ular.”

“HAHAHAHAHA ANJIR!! GUE KOK GETEK YA DENGER PENJELASAN ELO!!”

“Ah anjing yaudah deh gue masuk ke kantin aja kalau gitu.”

“Hahahahaha maaf Suhu! Maaf! Hamba tidak kuat membayangkan.”

“Lagian emang lo mau ciuman ama sapa sih?”

“Sama pacar gue lah!”

Gue kaget, “Eh? Tasya? Kok? Ada apa nih ada apa?”

Ikhsan menyeruput Teh Kotaknya sambil kemudian bersandar di kursinya. “Makanya tadi waktu gue mau jelasin, elo jangan main potong aja. Jadi nggak ngerti kan.” Lanjutnya.

“Emang ada cerita apa?”

“Jadi, belakangan ini hubungan gue sama doi kan bisa dibilang lagi agak renggang tuh. Rasanya gue sama dia akhir-akhir ini ngeributin hal-hal sepele mulu. Gue takut dia bosen, atau mungkin dia udah capek. Oleh karena itu gue pikir hubungan ini butuh udara segar. Sampai sini ngerti nggak lu gue ngomong apa?”

Gue cuma angguk-angguk doang padahal nggak tau dia lagi ngomong apaan.

“Mungkin hubungan ini perlu ada bumbu-bumbu erotik dikit.” Sambungnya lagi. “Nah, nanti pas acara Bazzar pas mau penutupan, gue pikir itu saat yang tepat untuk ngajak dia ke tempat sepi terus kecup-kecup basah gitu..”

“Najis ah. Getek gue denger lu ngomongin beginian.”

“Ah elu kagak pernah dukung temen ah.” Ikhsan menghabiskan sisa kuenya di atas meja, lalu kemudian menunjuk ke arah Teh Kotak yang belum gue buka sama sekali, “Kagak diminum tuh? Udah gue beliin masa nggak lo minum sih?”

Gue menghela napas panjang. Ikhsan kelihatan bingung.

“Tadi di kelas, waktu kalian masih sibuk main ular tangga di belakang, gue sama Ipeh ngobrol di deket meja guru.”

“EH?!” Ikhsan terlihat kaget. “Bukannya tadi di kantin dia nggak ngegubris elo sama sekali ya, Dim?”

“Nah maka dari itu, gue juga sempat kaget, Nyet. Bener deh gue nggak pernah ngerti apa sih yang cewek pikirin tuh.”

Ikhsan angguk-angguk mantap seakan mengiyakan semua perkataan gue barusan.

“Terus dia ngomong apa?”

“Kamu apa kabar?” Kata gue sambil menirukan ekspresi Ipeh ketika menanyakan hal itu sama gue di kelas pagi tadi.

“Gitu doang?” Dahi Ikhsan mengkerut.

“Enggak. Gue cuma bales, ‘Aku pernah jauh lebih baik. Itu waktu beberapa bulan yang lalu.’, gitu. Dia nggak jawab apa-apa, sebelum kemudian dia nanya lagi sama gue. ‘Kamu bahagia sekarang?’ tanya dia polos.”

“Wuih! Terus lo jawab apa?” Ikhsan makin penasaran.

Gue menggoyang-goyangkan Teh Kotak di depan gue itu. “Gue jawab aja dingin, ‘Kamu pikir aku bahagia?’,  pas gue ngomong gini, dia langsung nengok dan ngelihat ke arah gue gitu.”

“Anjir seru nih kaya FTV! Terus terus?”

“Dia natap gue gitu aja. Seperti ada perasaan marah, nyesel, ingin minta maaf, tapi benci juga. Yaudah daripada tatap-tatapan nggak jelas, gue balik nanya dia aja. ‘Kamu bahagia sekarang?” Gue bercerita sambil terus menatap kosong ke arah jalanan di depan.

“Asem! Elu punya cerita seru gini tapi malah ngebiarin gue cerita tentang tata cara ciuman. Bangke ah, tau gini elu cerita duluan nyet. Kan jadi nggak klimaks gini caranya.” Protes Ikhsan.

“Yeee malah ceramah. Gue lanjut jangan nih?”

“JUTKAN!!” Kata Ikhsan seraya membalikkan kursinya hingga mengarah ke gue.

“Saat itu gue sama dia nggak banyak bicara lagi, Nyet. Seperti tiba-tiba ada hening panjang yang menyelimuti kami berdua. Diamnya dia saat itu entah kenapa membuat gue jadi emosi, segala rasa kesal atas kejadian dua hari yang lalu itu seakan mau meledak di mulut, tapi untungnya gue masih bisa tahan. Gue cuma bilang saat itu, ‘Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi.’.”

“Beuh galak amat lo. Terus dia nahan elo nggak?”

“Enggak, dia cuma ngomong ‘Maaf.’, itu pun tanpa berani menatap ke arah gue. Dan gue yang mendengar hal itu langsung membalas, ‘Maaf? Siapa yang salah? Nggak ada kok.’ gitu.” Gue langsung menengok Ikhsan yang ada di sebelah gue, “Kejam nggak sih gue kalau ngomong gitu, San?”

Ikhsan menatap gue, lalu geleng-geleng, “Enggak kok. She deserve that. Setelah apa yang dia lakukan sama elo kemarin itu, dia pantas terluka kalau menurut gue.”

Gue termenung menatap Teh Kotak di hadapan gue, “Gue juga berpikiran sama kaya yang elo bilang barusan, kata maaf belakangan ini tampaknya hanya sebuah pelarian yang dipakai orang-orang pengecut yang sudah melakukan kesalahan untuk meminta kesempatan yang sama dua kali. Mereka menggunakan maaf hanya sebagai kata pembuka saja. Tidak tulus. Mereka bukannya ingin meminta maaf, melainkan ingin meminta kesempatan sekali lagi. Tapi bukannya membiarkan gue pergi, dia malah kembali mengucapkan kata maaf pas gue mau jalan lagi.”

Ikhsan mendengarkan dengan serius.

“Karena saat itu emosi gue sudah terlanjur tinggi, di kata maaf yang terakhirnya itu gue langsung berbalik, menatapnya sebentar kemudian bilang, ‘Daripada minta maaf, baiknya doakan aku agar bahagia. Minimal, doakan aku punya pendengar dan tempat pulang seperti kamu. Kita sama-sama terluka, tapi bedanya, aku terluka lalu jatuh sendirian, dan kamu terluka lalu pulang ke pelukan orang yang cintanya tak lebih besar dari cintaku.’, lalu setelah ngomong kaya gitu gue langsung pergi deh.”

Ikhsan geleng-geleng dengan rasa tidak percaya, “Gila gila gila, hubungan yang menurut gue simple di antara kalian itu kalau dilihat dari sudut pandang para pemeran aslinya itu ternyata rumit banget ya. Gue kira hubungan lo ini hanya sebatas lo suka sama pacar orang, Dim, tapi ternyata enggak kaya gitu. Sabar ya sob..” Ikhsan menepuk-nepuk pundak gue. Gue kira dia mau prihatin sama gue, tapi ternyata dia cuma mau ngelapin tangannya yang bekas makan kue tart itu ke baju seragam gue.

Brengsek.

“Slogan We falling in love with people we cant have itu ternyata bener ya.” Kata gue.

“Yeee itu mah elo doang, buktinya gue sama Tasya enggak kok.” Sanggah Ikhsan.

“Iya, tapi slogan ini pas buat Tasya maksud gue.”

“Anjir jadi lo pikir gue bukan cintanya Tasya gitu?”

“Hahahah inget sob, 83% kisah cinta di dunia ini itu mengatakan bahwa orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.”

“…”

Gue lalu mengambil sedotan plastik yang melekat pada Teh Kotak itu dan kemudian nyolokin ke Teh Kotaknya. Namun baru saja gue mau nyedot itu Teh Kotak, tiba-tiba minuman gue disamber sama seseorang.

Sontak gue terkejut, mulut gue udah monyong gini siap buat nyedot Teh Kotak tapi tiba-tiba sedotannya ilang.

“Siapa yang ngebolehin minum beginian?!”

Gue dan Ikhsan kaget, Cloudy dengan galaknya menyambar Teh Kotak gue lalu marah tanpa sebab di depan kami berdua. Gue sama Ikhsan liat-liatan dalam keadaan masih shock karena kedatangan si nenek sihir ini secara tiba-tiba.

Belum juga gue sempat membalas ucapannya, Teh Kotak gue yang lagi dia pegang itu dia lempar ke dalam tong sampah di depan sekolah. Gue kaget, Ikhsan lebih kaget. Gue merasa sayang banget ngeliat minuman masih utuh gitu dibuang ke tempat sampah, sedangkan Ikhsan merasa menyesal banget uang 3500 dalam bentuk minuman kemasannya dibuang tanpa sempat diminum.

Emang kejam si Cloudy ini.

“Lu ngapain sih ke sini? Di dalam aja sana gih! Ini mah urusan anak kelas satu. Sekretaris mah ngurusin yang lebih penting aja.” Ikhsan ngedumel.

“Heloooo! Gue juga kelas satu kali. Lagian apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Jualan tiket juga tugas gue kan?”

“Siapa?”

“Gue!”

“YANG NANYA~”

“IH!!!” Cloudy menggebrak meja di depan Ikhsan sebelum kemudian mengambil kursi dan duduk agak jauh dari kami berdua.

Ikhsan melirik Cloudy dari jarak jauh dengan tatapan bete. Ia kemudian menyenggol tangan gue.

“Nyet, si Cloudy ngapa sih selalu ada di sekitar kita mulu?” Katanya sambil bisik-bisik.

“Tau dah.”

“Dulu padahal gue sempat kagum loh bisa deket sama orang sekelas doi. Tapi sekarang malah pengen menjauh rasanya.”

“Hahahahaha sama gue juga.”

“Orang-orang yang deket sama elu kayaknya istimewa semua ya. Istimewa dalam hal negatif maksud gue.” Tukas Ikhsan.

“Ah elu juga sama.”

“Gue? Siapa?”

“Tuh Nurhadi. Dia kan temen lo. Istimewa tuh dia.”

“HAHAHAHA ANJING! Abstrak-abstrak gitu juga dia temen lo juga kampret.”

Lagi asik-asiknya kami tertawa begini, dari jauh ada satu mobil berhenti di depan stand tiket. Gue sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Memang biasanya banyak banget anak-anak kuliahan atau anak SMA senior yang bawa mobil dan mampir buat beli tiket Bazzar. Tapi saat itu begoknya gue tidak sadar mobil siapa itu di depan yang mampir ke stand penjualan tiket kita sebelum kemudian dari pintu belakang mobilnya turun seseorang.

Gue dan Ikhsan yang masih cengengesan ini mendadak diam melihat sosok yang turun dari mobil tersebut. Ikhsan memandang gue dengan tatapan kaget. Begitupun gue.

“LOH? KAK AI?!” Teriak kami berdua kompak.

“Loh kalian? Wah wah wah kebetulan banget nih kalian yang jualan tiketnya. Hehehehe, apa kabar hei kalian berdua temen-temennya Ifa?” Balasnya manis seperti biasa.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here

2

TÜRKİYE GERİ KALMIŞ BİR ÜLKEDİR!

Türkiye bugün neden böyle ?
Böyle olmasına saşmamalı, Türkler Hun ve Göktürk dönemlerinde başladılar bilimi bilmeye. O dönemde “Takım yıldızları” “Gezegenler” gibi bir çok şey keşfediliğini ve adlandırıldıklarını görüyoruz.
**
Yakın tarihe baktığımızda Selçuklular, Semerkand ilim, bilim yuvası olmuş, Medreseler çağın ilerisinde bir eğitim kapasitesi varmış.
**
Keza Timur İmparatorluğu da öyle.
**
Ve en kritik yere geliyoruz CİHAN DEVLETİ OSMANLI!
Bir nevi öyle ama ne zamana kadar ?
1299′da kurulan beylik, kısa zamanda devlet ardından imparatorluk oluyor.
Selçukludan kalma ilim ile devlet yapısı, eğitim, sağlık alanları şekilleniyor.
1500′lü yıllara kadar olan gelişme süreci, saray şakşakcıları, yobazlar ve yobazları tetikleyen sahte imamlar neticesinde duraklıyor ve 1600′lü yıllarda Avrupa Rönesansı tamamladığı için çağın gerisinde kalmaya başlıyor.
Atılımlar yapılmıyor değil Tophane’ye Gözlemevi (Rasathane) yapılıyor, yapımından kısa bir süre sonra doğal afetlerin gerçekleşmesinden dolayı gerici yobaz tayfa Gözlemevi yapıldığı için “Allah belamızı verdi, Rasathane’de Meleklerin bacaklarına bakıyorlar.” düşüncesine giriyor ve saray şakşakcıları padişahı tetikliyor, padişah emir çıkarıyor ve UZAY GÖZLEMEVİ TOPA TUTULUYOR! şaka gibi değil mi ? Türkiye’nin böyle olmasına şaşmamalı.
Avrupa şaha kalkarken, biz kafamızı Arap kumuna gömmüşüz.
Osmanlı’nın 1600′lü yıllardan sonra Saray olaylarını gericiliklerini yobazlığı yazmaya kalksak cilt cilt kitap olur.
**
Osmanlı böylesine dipsiz bir kuyuya düşmüşken Atatürk devrimleri ise Türk milletine ilaç gibi gelmiştir. Olayı daha iyi anlamanız için şunu söyleyeyim;

  • Kur’an-ı Kerim’i yırttı kız maymuna dönüştü!
  • Uzaydan Ezan sesi duyuluyor, Astronot duymuş!
  • Ünlü Ateist Stephen Hawking Müslüman oldu!
  • Sabah Ezanında gök yarıldı bir göz belirdi!
  • Ev yandı sadece Kur’an yanmadı!
  • Rusya’da kazı çalışmalarında yerin altından çığlık sesleri duyulmuş!
Günümüzde böyle hurafelere, uydurmalara tanık oluyoruz ve BİLİM ÇAĞINDA BÖYLE SAÇMA SAPAN ŞEYLERE KAYNAK GÖZETMEKSİZİN İNANIYORLAR!
Ki siz bunun Atatürk devrimlerinden öncesini düşünün halk arasında nasıl hurafeler geziyordu bir düşünün..
**
Atatürk sayesinde Avrupaya gönderilen yüzlerce öğrenci ve Avrupadaki o dönemin savaşlarından kaçan bilim adamlarını Türkiyeye getirme çabaları taktire şayandır, Atatürk’ü sırf bu yüzden bile sevebilirsiniz. Sağlık alanında bir çok yeni dal açıldı, Eğitimde çağın seviyesine ulaşıldı ve sonra..
**
Menderes, Özal ve Erdoğan: Bermuda Şeytan Üçgeni
İslamcı propaganda ile iktidara gelmiş bu kişiler, iktidarları boyunca Camii’ye, İmam hatiplere parayı gömdüler. Cemaatsiz camiiler inşa edildi, Okulun olmadığı mahallelerde 2 mescit 1 camii yapıldı. 
17 bin mahalle, 36 bin köy varken 86500 camii’miz var. Mescitler hariç.
133 Fen lisesi varken 1017 İmam Hatip Lisesi var.

TÜRKİYE’NİN BÖYLE OLMASINA ŞAŞMAMALI!
Biz bu kafa ile gidersek Astronot’u ancak “maskot” olarak görürüz.

Türkiye acilen Diyanete harcadığı paranın büyük bir kısmını kesmeli, İmam hatipleri Fen-Anadolu ve Meslek liselerine çevirmeli, Fizik-Kimya-Biyoloji dersleri formül ezberleme sisteminden öğretici ve sevdirici bir sisteme geçilmeli Popüler bilim dersleri kurulmalı belediyeler bilim seminerleri düzenlemeli Bilim çağına ayak uydurulmalı. Sanayi siteleri kurulmalı fabrikalar yapılmalı,  bilinçli çiftçiliğe geçilmeli, yerli üretim arttırılmalı.

Geçmişimiz ile övündüğümüz kadar, geleceğimiz ile de övünebilmeliyiz.

9

Da vi alligevel kommer til at sidde det meste af dagen valgte vi at købe en masse forskelligt Japansk slik, dog mest chokolade da vi er bange danskere, haha 😆

1. Gutetama (en meget populær ægge maskot i Japan) slik af en art? Kan IKKE anbefales 😖😆 konsistensen er meget underlig og det smager af… Jeg er ikke sikker?
2. Chokolade kugler med nødder og knas 👌👌👌👌 virkelig lækkert!! 👌👏
3. Meget tynde pocky (en form for kiksepind med chokolade) også virkelig gode, 👍
4. Små… Toppe? Træer måske? Smager lidt som små vafler med chokolade?
5. Samme som før, bare med is(?) og chokolade smag? Bedre end de andre 😃😃
6. Omvendt pocky?
7. Digestive kiks med chokolade, meget standard 😊

Camilla tror vi har slik nok til imorgen også, men det er jeg nu ikke så sikker på 😁😁

Jadilah Yang Banyak Dibutuhkan

Kupikir kemauan lelaki itu sangatlah jelas, ia mencari apa yang benar kebutuhannya.

Jika kau manja, pemalas, teledor, hobi ngatur, tempramen, cerewet berlebih, dan sangat susah diingatkan akan kebaikan, lalu ada orang yang mau bertahan sekalipun anjurannya sering kau sepelekan, ia sering kau rendahkan, bisa jadi yang dia butuhkan darimu hanya fisikmu. Bisa jadi ia bangga dengan kecantikan dan kemolekanmu, yang padanya ia rela jatuh dan luluh.

Itu gawat, berhati-hatilah jika seseorang terlalu mengagumi kecantikanmu, memilih mengorbankan yang benar impiannya untuk memenuhi tingkahmu yang sebenarnya amat bertentangan dengan dirinya.
Bisa jadi ia bersamamu hanya ingin menjadikanmu maskot, yang dengan itu ia memiliki kebanggaan lebih saat memamemerkanmu pada teman seperkumpulannya.

Hati-hati, jika lelaki hanya butuh akan fisikmu, kemungkinan besar ia akan tergoda pada yang lain setelah kecantikanmu mulai tersedot waktu, atau ada yang lebih dari kamu.

Ah, barangkali aku memang sok tahu, tapi percayalah, jika kau terlalu bangga pada kecantikanmu dan dengannya kau yakin akan menaklukan lelakimu, kau harus siap jika sewaktu-waktu ia mulai bosan dengan cantik yang kau punya.

Karena pada akhirnya orang-orang terus bertahan karena benar saling membutuhkan. Lalu jika yang ia butuhkan darimu sudah mulai menghilang, apalagi alasan ia untuk bertahan?

Jangan terlalu bangga dan bertumpu pada kecantikan fisik semata, jika kau tak mau terus belajar menambah kapasitas-kapasitas, bisa saja yang datang padamu hanya ingin memuaskan nafsunya saja. Tapi tak masalah juga, jika seperti itu yang kau harapkan dari kehidupan.

Lagi-lagi, itu hidupmu, kau berhak memilih apa pun dan bagaimanapun caramu menjalaninya.

Jadilah yang banyak dibutuhkan, karena dengan itu seseorang punya lebih banyak alasan untuk tetap bertahan, segila apa pun badai mencoba menggelitik komitmen yang tengah sama-sama dijaga.

The Way I Lose Her: Truth or Dare

I wish that we could be something, I wish that you needed me like I do, but basically, I wish that I dont have to wish for you.

                                                             ===

.

Ipeh mulai memutarkan botol beling itu dengan cepat, semua wajah anak-anak terlihat bahagia sekaligus khawatir. Dalam benak masing-masing orang, mereka mulai merencanakan pertanyaan-pertanyaan dan tantangan-tantangan jahat apabila kepala botol itu berhenti dan menunjuk seseorang yang mereka incar. Nurhadi sudah jelas ingin agar botol tersebut berhenti dan mengarah ke Dila, begitu juga dengan Bobby. Mereka ingin bikin tantangan yang menguntungkan untuk mereka berdua.

Peraturannya simple, siapa yang memutarkan botol ini terlebih dahulu, maka ia yang berhak memberikan tantangan kepada orang yang ditunjuk ketika putaran botol itu berakhir. Dalam hal ini, berarti Ipeh adalah yang berhak menentukan apa tantangan atau pertanyaan pada babak pertama.

Perlahan botol tersebut mulai sedikit demi sedikit melambat, kita semua mulai fokus melihat dan berdoa berharap botol itu tidak berhenti dan menunjuk ke diri kita masing-masing. Ipeh yang duduk di sebelah gue terus-terusan memegang lengan gue erat karena tegang setiap kepala botol itu melaluinya.

3… 2… 1..

Akhirnya botol itu berhenti.
Semua orang bersorak gembira sambil tertawa ngakak. Sedangkan ada satu orang yang terdiam menahan rasa benci dan tidak percaya ketika kepala botol itu menunjuk kepadanya. Siapa lagi kalau bukan maskot kelas kita, Ikhsan.

“Anjing! Botolnya sensi ke gue kampret!” Ucapnya sambil memecingkan mata.

“Nah lo mau pilih apa, Truth or Dare?” Tanya Ipeh penuh bahagia.

“Udah Truth aja san, lo tau kan Ipeh kaya gimana kalau lo milih Dare.” Kata gue.

“Ih mending Dare aja, San. Ipeh pasti nanya hal-hal pribadi kalau lo milih truth.” Tukas Nurhadi.

“Ah kalian nggak ada yang bener sarannya. Udah udah, sebagai lelaki sejati, gue memilih Dare!” Ucap Ikhsan sembari menghempaskan nastar nanas.

“Oke kalau begitu. Tantangannya mudah..” Ipeh mulai senyum menyeramkan.

“Anjir firasat gue buruk.”

Ipeh tersenyum lebar, “Lo harus cium pipi salah satu cowok di sini.” Tukas Ipeh lagi.

“APAAAAAAAAAA?!?!” Sontak seluruh anak laki-laki yang ada di sana terkejut bukan main.

Ini sih namanya bukan tantangan perorangan, tapi tantangannya double. Kesialan buat Ikhsan, dan kesialan buat orang yang Ikhsan cium pipinya. Dan gue juga langsung merinding mengingat bahwa gue adalah orang paling dekat dengan Ikhsan selama ini. Ini mengartikan gue kemungkinan besar bakal dipilih sama si monyet.

Bener-bener kurang ajar si Ipeh, tau aja cara nyiksa anak orang. Sekali ngelempar batu, 2 burung langsung terkapar. Sekali ngasih tantangan, 2 orang langsung terkena rabies. Berbeda dengan anak-anak cewek yang lain, mereka malah tertawa bahagia sambil ada yang mengeluarkan Hape Nokia N-73 nya untuk memotret kejadian langka ini. Sembari terdiam, gue dan anak-anak cowok yang lain berusaha untuk tidak melakukan eye contact terhadap Ikhsan, soalnya bahaya, nyawa taruhannya. Gue yakin bibir Ikhsan dan pipi orang yang kurang beruntung itu bakal tidak suci lagi. Mereka nggak akan bisa Naik Haji. Sebelum mereka turun di bandara Mekkah, mereka langsung dipaksa masuk ke ruangan karantina karena pipi dan bibirnya mengandung koreng.

Gue sempat melirik Ikhsan, dan Ikhsan tampak sedang menelaah siapa laki-laki yang paling bersih pipinya agar bisa Ia cium. Karena tidak mau mengalami hal buruk, dengan sigap gue langsung mengambil sedikit tanah yang ada di pot bunga, lalu mengoleskannya di pipi secara diam-diam biar Ikhsan tidak memilih pipi gue.

“Hmm.. gue sudah tentukan pilihannya..” Jawab Ikhsan murung seperti orang yang baru saja kehilangan ¾ nyawanya.

“Siapa?” Tanya Ipeh penasaran.

“Bobby aja. Soalnya pipinya empuk.” Kata Ikhsan malu-malu persis kaya anak SD lagi nembak cewek.

“ANJIR TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!” Saking terkejutnya, Bobby langsung terjungkal ke belakang dan meronta-ronta berharap ini semua hanyalah mimpi buruk belaka.

“BANGUNGKAN AKU DARI MIMPI BURUK INI!! BANGUNKAN AKU!!” Bobby terus-terusan meronta ketika anak-anak yang lain mulai memegangi kaki dan tangannya, mirip kaya orang lagi kesurupan.

“OKEH!! PERSIAPAN BERES KOMANDAN!!” Ucap Nurhadi yang memegang kedua tangan Bobby.

Ikhsan secara perlahan mulai berjalan ke arah Bobby, menatap matanya pelan, lalu jongkok di sebelah Bobby yang keadaanya sedang terduduk dan tangannya dipegangi oleh Nurhadi di belakang punggungnya. Ikhan mengelus pipi Bobby, sontak Bobby langsung teriak sambil menggeliat. Air mata Bobby keluar mencoba menahan rasa geteknya. Anak-anak yang lain malah semakin ngakak nggak karuan melihat situasi langka seperti ini.

“Bob..” Ikhsan mengelus pipi Bobby, “Kartu Jamsostek masih ada kan di rumah? Siapa tau lo nggak sadarkan diri sehabis kejadian ini, jadi setidaknya masih ada asuransi.” Ucap Ikhsan menakut-nakuti.

“Tenang Bob, kalau lo pingsan, nanti gue kasih nafas buatan.” Gue menambahkan.

“ANAK DEMIT KALIAN SEMUA!! Kalau gue mati, gue pasti bakal gentayangin lo-lo pada! tiap kalian boker, gue cabut aliran listriknya biar nggak bisa cebok!” Bobby meronta-ronta.

“OKEH!! SIAP?! 1… 2… 3…”

CUP!!
Sebuah ciuman manis mendarat di pipi Bobby. Kita yang melihatnya sontak tertawa ngakak dan melepaskan pegangan kita yang sedari tadi memegangi Bobby. Ikhsan yang bertindak sebagai eksekutor ciuman manis di pipi, seketika itu juga langsung berdiri meninggalkan kita dan berlari ke arah dapur buat mencuci mulut. Sedangkan Bobby yang pipinya habis dikecup Ikhsan tadi langsung menggeliat di lantai balkon mengusap-usap pipi pake bajunya sendiri lalu 2 menit kemudian hening sambil tengkurap. Kayaknya nyawa Bobby baru saja ditarik oleh Malaikat Izrail. Innalillahi.. Allahuma la tahrimna..

Permainan pun di mulai lagi ketika Bobby sudah siuman dari mimpi buruknya, dan Ikhsan sudah kembali dari dapur. Sekarang yang mendapatkan kesempatan untuk memutarkan botol adalah Ikhsan. Putaran botol semakin kencang, muka anak-anak kembali terlihat tegang. Dari semua orang yang terlihat tegang dan berwajah pias. Ipeh adalah orang yang paling terlihat menggigil ketakutkan. Dari semenjak Ikhsan mau memutarkan botol, Ikhsan sudah menatap benci ke arah Ipeh yang memberikan Ikhsan sebuah tantangan menjijikan. Ipeh sadar, bahwa jika dirinya sial dan kedapatan untuk memilih Truth or Dare, semua tantangannya yang akan Ikhsan beri akan benar-benar menyakitkan harga diri.. Buat Ipeh, putaran botol kali ini bagaikan keputusan hidup atau mati.

Selang 30 detik, akhirnya putaran botol itu mulai melemah dan perlahan-lahan berhenti tepat di depan seorang anak cowok lagi. Senyum dan tertawa terbahak-bahak yang baru saja ia keluarkan ketika turut menyiksa Bobby kini menjadi sirna. Nurhadi adalah cowok beruntung kedua yang sekarang tengah dihadapkan pada pilihan Truth or Dare. Namun tanpa pikir panjang, Nurhadi langsung lebih memilih dare ketimbang harus jujur di depan semua pertanyaan yang gue yakin bakal memalukan. Ikhsan berpikir sebentar, Ia tak menyangka bakal memberi tantangan kepada Nurhadi, padahal Ikhsan berharap Ipeh lah yang bakal ia siksa selanjutnya.

“Yaudah lah Di gue mah simple tantangannya, lo cuma gue tantang buat melakukan tari perut di depan anak-anak.” Ucap Ikhsan

“Anjir tari perut gimana? lo mau ngegambar muka di perut si Adi?” Tanya Bobby.

“Iya, kenapa emang?”

“Mau ngegambar pake apaan? Spidol? Ya nggak akan keliatan lah, kulit dia aja udah mirip sama spidol gitu.”

“Anjir gembrot banyak cingcong lo!” Tukas Nurhadi kesal.

Pada akhirnya, Ikhsan berinisiatif mengambil Tip-X di salah satu tempat pensil anak-anak cewek dan mulai menggambar wajah di perut nurhadi yang hitam legam itu. Dengan malu-malu dan merusak harga diri, akhirnya Nurhadi melakukan tari perut sebelum pada akhirnya anak-anak yang lain mengucapkan kalimat Takbir dan Tahmid gara-gara imannya serasa terbakar.

Ya lo bayangin aja, Hitam, Buntal, Item, mirip gendruwo, terus dia ada di depan lo nunjukin udelnya goyang-goyang sambil joget. Awalnya anak-anak sih pada ketawa, tapi akhirnya rumah gue digrebek sama polisi karena dianggap sedang mengadakan kegiatan prostitusi dan asusila. Nurhadi ditangkap polisi karena dilaporkan oleh Kak Seto dengan dakwaan telah mendzolimi mata anak-anak kelas satu SMA yang masih suci.

Btw, ntah kenapa gue masih suka ngerasa aneh dan janggal kalau nulis kata-kata ‘Asusila’. Asu itu kan artinya Anjing. Sedangkan Sila kan artinya duduk sendakep. Lha asusila artinya berarti anjing yang lagi nongkrong dong.

Sungguh gambar yang sangat asusila! Astagfirullah..

.

                                                            ===

.

Setelah anak-anak yang lain menghapus air mata karena kebanyakan tertawa, Nurhadi mulai memutarkan botol softdrink tersebut sekali lagi. Kini botol beling bekas itu kembali diputar cukup cepat lalu perlahan-lahan melambat, gue bisa melihat banyak wajah tegang sekaligus wajah pengen balas dendam berharap ujung botol ini berhenti tepat di hadapan orang yang mereka maksud. Sebelumnya sudah ada Ikhsan dan Nurhadi yang kena duluan.

Akhirnya perlahan-lahan botol beling tersebut mulai berputar tak kencang lagi, membuat teman-teman yang melingkar di sekitarnya mendadak terdiam dan terfokus mencari siapa yang bakal dikerjain selanjutnya. Botol itu melewati gue, melewati Ikhsan, melewati Ipeh, dan akhirnya berhenti di depan seorang wanita.

Mai.

Seorang cewek yang sempat gue suka ketika gue pertama kali menginjakkan kaki di SMA ini kemarin. Seorang cewek yang dengan mentah-mentah menolak kenalan dan malah mengusir gue agar menjauh tepat ketika kita baru saja pertama kali bertemu hari itu.

Begitu botol beling berhenti di hadapan Mai, sontak seluruh anak-anak pada tertawa riang dan bahagia karena mereka lolos dari ancaman Truth or Dare. Berbeda dengan Mai, gue melihat ada perasaan was-was di wajahnya berharap apapun tantangan yang akan diberikan oleh anak-anak tidak akan memalukan untuknya.

Melihat Mai yang mendapatkan giliran untuk di Bully, Nurhadi langsung mengajak Bobby dan Ipeh untuk berdiskusi perihal tantangan apa yang enak untuk diberikan kepada Mai, dan sudah tentu diskusi ini dipimpin oleh Ipeh sang promotor. Pokoknya kalau semua hal sudah dipegang sama Ipeh, jangan harap itu bakal menyenangkan. Mengetahui Mai yang terpilih untuk dieksekusi, gue dan Ikhsan sedikit terdiam, kita sempat berpandang-pandangan agak serius karena beberapa hal yang sempat kita bicarakan di dapur tadi.

“Oke, Mai mau pilih Truth or Dare?!” Ancam Ipeh sambil tersenyum menyeramkan.

“Ngg.. a-aku pilih Dare aja ah. Truth mah nggak akan bener pertanyaanya kalau dari kalian.” Jawab Mai grogi.

“Oke kalau begitu. Sebentar kita diskusi lagi.” Ipeh pun mengajak teman-teman yang lain untuk berdiskusi.

Sedangkan gue dan Ikhsan cuma ikut nongkrong doang. Gue menyadari Ikhsan juga terlihat agak tegang menunggu tantangan apa yang akan diberikan untuk Mai. Begitu Nurhadi, Ipeh, dan Bobby sudah menetukan pilihan tantangan buat Mai, kini mereka semua duduk di hadapan Mai.

“Nih!” Ucap Ipeh menyodorkan satu buah permen berbentuk Lipstik.

“Loh, ini buat apa?” Tanya Mai heran.

Mendengar pertanyaan Mai, sontak Bobby dan Nurhadi tersenyum penuh muslihat. Gue belum tau tantangan apa yang akan diberikan oleh mereka, namun yang jelas jika melihat senyum Nurhadi dan Bobby, pasti tantangan kali ini akan menyangkut tentang hubungan yang melibatkan 2 orang, sama halnya kaya tantangan pertama yang Ikhsan berhasil selesaikan. Karena kalau gue boleh jujur, sebagai cowok, gue mengakui kalau Mai ini orangnya manis juga.

“Tantangannya adalah, lo harus pilih salah satu cowok di sini, setelah itu lo harus ngemut itu permen lipstik 30 detik, terus cowok yang satunya lagi gantian ngemut permen listik itu 30 detik. Setelah itu lo emut lagi itu permen dan harus ngitung sampe 30 detik!” Ucap Ipeh dengan nada jahat.

“AAAAAAAAAAAA APAAAN?!” Mendadak Mai terkejut mendengar tantangan super gila yang Ipeh dan anak-anak yang lain berikan.

“IH JANGAN GITU ATUH, yang LAIN AH TANTANGANNYA!!” Tambah Mai lagi.

“Maaf Mai, ini sih persetujuan anak-anak yang lain juga.” Jawab Bobby, “Gimana gaes? kalian pada setuju nggak?” Tambahnya lagi.

“Setujuuu…” Semuanya berteriak setuju, bahkan semua cewek yang ada di sana pun setuju sama ide gila hasil garapan Ipeh, Nurhadi, dan Bobby ini.

“Yaudah cepet pilih jangan pake lama. Atau kalau kelamaan, itu durasi ngemut permennya bakal gue naikin lagi!” Ancam Ipeh.

Mungkin bagi Mai, tantangan seperti ini tuh bisa disebut malapetaka. Karena tantangan ini mengartikan Mai bakal melakukan indirect kiss via permen lipstik. Namun bagi para anak-anak cowok, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Bisa gue lihat dari yang namanya Nurhadi, Bobby, Ikhsan, sampe temen cowok gue yang lain juga terlihat antusias dengan nafas yang menderu-deru.

Sedangkan gue? Gue sih biasa aja. Tapi di dalam hati gue juga terus berdoa semoga gue yang Mai pilih. Bhahahahahak.

“ngg… yaudah deh..” Akhirnya Mai memutuskan mau menerima tantangan itu dan mulail memilih siapa cowok beruntung yang bisa dapat indirect kiss-nya Mai. Semua cowok pun langsung terlihat tegang dan berdoa menurut kepercayaanya masing-masing.

“Aku pilh…”

Mai mulai menelaah setiap anak cowok yang ada di sana satu persatu. Gue banyak melihat wajah-wajah mesum yang berusaha ditahan tapi tetap terlihat. Nurhadi pura-pura sok cool, Bobby tersenyum malu-malu, Ikhsan pura-pura tidak melihat, gue garuk-garuk telinga, dan masih banyak hal salting lainnya

“Aku pilih Dimas aja.” Ucap Mai sambil menunduk.

DEG!!
Mendengar nama gue disebut oleh Mai, sontak jantung gue semakin berdetak kencang dan nggak karuan. Damn! Ternyata gue yang dipilih! Anjir gue bahagia banget bhahahahahahak, pengen rasanya langsung goyang Dumang saking bahagiannya, tapi gue merasa ada tatapan-tatapan tidak enak yang terlontar ke arah gue dari anak-anak yang lain ketika Mai menyebut nama gue tadi.

Ada 3 Hal ganjil yang gue rasakan ketika Mai menyebutkan nama gue sebagai sesorang yang ia pilih. Yang pertama adalah karena gue pria yang dipilih dari sekian banyak pria yang ada di sana oleh seorang anak cewek bernama Mai—cewek yang sudah sempat gue taksir dari lama, Ekspresi teman-teman lain yang terkejut, dan yang terakhir adalah ekspresi Ikhsan yang memandang sinis ke arah gue.

Gue bingung harus ngapain.

Keadaan sempat menjadi hening sejenak bagi beberapa anak-anak saja. Sedangkan anak-anak yang lain langsung pada bersorak ricuh. Yang saat itu gue lihat ikut terkejut adalah Gue, Ikhsan, Nurhadi, Bobby, anak-anak cowok yang lainnya, dan yang terakhir..

Ipeh.

Gue sempat terdiam, sebelum pada akhirnya tangan gue disentuh oleh Bobby dengan maksud agar gue mengambil permen lipstik yang ada di depan gue itu. Sebenarnya gue ragu, gue sangat ragu untuk mengambil permen tersebut. Tidak ada yang lebih gue khawatirkan perasaanya selain Ikhsan. Dia yang duduk di sebelah gue tak henti-hentinya menatap gue dengan tatapan yang seakan mengatakan kenapa-harus-elo.

Namun, gue menatap Ikhsan sebentar, menghela nafas, lalu kemudian mau tidak mau harus melaksanakan tantangan yang baru saja diberikan. Gue ambil permen tersebut, membuka bungkusnya, memutar bagian bawah permennya agar permen tersebut timbul keluar, lalu memberikannya kepada Mai.

Kita sama-sama terdiam, anak-anak yang lain pun ikut terdiam. Tapi anak-anak yang lain terdiam karena menahan rasa pengen ketawa dan pengen nge-cie-cie-in, sedangkan gue terdiam karena menahan perasaan awkward antara gue dan Ikhsan.

Dengan meneguk ludah sekali, Mai secara pelan-pelan mulai mencicipi permen tersebut sembari dibarengi dengan hitungan mundur oleh Ipeh. 30 detik kemudian, Mai melepaskan permen itu dan memberikannya ke arah gue dengan menunduk malu.

Posisi duduk Mai dan gue tidak terlalu jauh, hanya terpisah oleh Ikhsan yang ada di antara kita berdua. Gue awalnya sengaja membiarkan Ikhsan duduk di sebelah Mai setelah mengetahui Ikhsan ada rasa kepadanya, tapi ketika mendapat tantangan seperti ini, gue malah jadi merasa nggak enak sama Ikhsan. Ketika permen yang Mai berikan ke gue itu melewati depan mukanya, mata Ikhsan terus tertuju kepada batang permen tersebut yang sudah terlanjur basah.

Gue yakin nih anak pasti pengen banget ngemut tuh permen, bisa gue lihat dari tarikan nafasnya yang mulai nggak beraturan. Tapi konyol juga si monyet ini, ngeliat batang permen basah bekas Mai kaya gitu aja udah horny duluan. Bhahahahak namanya juga cinta anak SMA, wajar. Secara perlahan gue mengambil permen tersebut, melihatnya sebentar, lalu menarik nafas dalam-dalam. Gue lirik ke arah Ikhsan terlebih dahulu sebelum mencicpi indirect-kiss kepunyaan Mai tersebut.

Pasrah, marah, iri, cemburu, emosi, semua menjadi satu di dalam tatapan Ikhsan. Tapi mau gimana lagi, namanya juga tantangan, yasudah daripada ini permen keburu kering sehingga jejak bibir Mai menghilang, gue langsung memasukan permen tersebut ke dalam mulut. Melihat hal itu, anak-anak yang lain langsung pada teriak sambil menutup mata, begitu juga Mai yang masih saja tertunduk tak mau melihat.

30 detik berlalu.

“Udah 30 detik hoi!” Ipeh terlihat emosi ketika gue masih menikmati permen tersebut.

“Aduh Peh, nambah 10 detik lagi boleh nggak?”

“NGGAK BOLEH!! CEPET SELESEIN TANTANGANNYA!!” Ipeh mencubit tangan gue keras.

“Aduuuuh duh duh, iya iya.”

Sebelum gue lepas permen tersebut, gue emut sekali lagi dalam-dalam lalu kemudian memberikannya lagi ke arah Mai. Gue masih ingat saat itu wajah Mai merah padam, gue nggak tau kenapa. Berbeda dengan gue, Mai langsung menyambar permen gue secara cepat dan memasukannya ke dalam mulut bahkan sebelum Ipeh sempat memulai hitungan. Mungkin Mai mau agar tantangan ini cepat selesai.

“Oke beres. 30 detik selesai!” Ucap Ipeh yang langsung diiringi tepuk tangan dan gelak tawa anak-anak yang lain.

Tapi seperti yang gue bilang, dari semua anak-anak yang gembira, ada beberapa anak-anak yang terlihat tidak senang atas kejadian ini. Siapa lagi kalau bukan dia, dia, dan dia.

.

                                                                ===

.

20.00
Permainan masih saja terus berlanjut dengan penuh tawa. Gue kena sekali, Ikhsan 2x, Ipeh 1x, Dila 1x, Bobby 2x, Nurhadi 1x dan masih banyak hal-hal yang lain lagi. Tantangannya pun dari yang awalnya cuma iseng-iseng malah jadi yang aneh-aneh. Bobby sampai pernah kebagian tantangan makan nugget mentah-mentah sebanyak 3 biji.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, beberapa anak-anak ada yang izin pulang terlebih dahulu, sehingga lama kelamaan hanya ada tinggal beberapa orang saja yang di balkon gue. Dila izin pulang duluan karena sudah dijemput, Bobby juga ikut izin pulang karena disuruh emaknya buat ngejaga adik-adik kecilnya, dan Nurhadi juga izin pulang cepat dengan alasan mau main PS yang baru saja bokapnya belikan hari ini.

Hingga pada akhirnya mahluk-mahluk tengil yang masih setia nongkrong di balkon gue cuma 2 orang. Siapa lagi kalau bukan Ikhsan sama Ipeh. Sebenarnya Ipeh juga sudah mau izin untuk pulang duluan, namun karena rumahnya jauh dan Nuggetnya belum dia makan sama sekali, akhirnya Ipeh memilih untuk tinggal sedikit lebih lama. Selain itu mereka juga gue paksa untuk membantu membereskan balkon yang sudah terlihat berantakan sekali mirip kaya alis mahasiswi yang dipakein pensil alis.

Selama membersihkan balkon, Ikhsan masih terlihat bete sama gue. Hahaha tapi sudah berulang kali gue meminta maaf sama Ikhsan dan pada akhirnya Ikhsan setuju untuk melupakan kejadian tersebut. Ya mau gimana lagi, ini kan keputusannya Mai, gue nggak bisa nolak– walau sebenarnya gue emang nggak mau nolak.  

Setelah cukup bersih, kita bertiga duduk di sofa favorite gue itu ditemani dengan 3 gelas es teh hangat yang baru dibuatkan oleh mba-mba di rumah gue. Kita ngobrol seputaran hal-hal nggak penting yang biasa dibicarakan oleh anak SMA. Hingga pada suatu ketika, ucapan Ipeh kembali meng-skak-mat kan gue.

“Btw san, emang si Bobby beneran jago main drumnya?” Tanya gue.

“Iya, kemaren waktu di rumah dia, gue iseng nantangin Bobby main drum, dan ternyata hebat juga, apalagi waktu mainin double pedal.”

“Yaudah kapan-kapan suruh ke sini lagi aja dia.”

“Iya, tadi sebelum balik dia juga bilang suruh ngehubungin kalau mau iseng-iseng jamming.”

“Btw san.. Nomer telepon polisi tuh 911 bukan sih?” Gue menyenggol tangan Ikhsan.

“Eh?”

“911 kan?!” Gue memicingkan mata berharap agar Ikhsan mengerti tanda kode yang sudah kita sepakati dari dulu.

“AAAAAAAAAAHHH 911 TOH!!!” Ikhsan baru sadar.

“911? ada apa emang sama 911?” Tanya Ipeh memotong.

“Kaga, bukan apa-apa. Noh si Dimas nanya nomer telepon polisi.”

“Dih kurang kerjaan banget sih lu Mbe.”

“Bawel ah.” Ucap gue.

“Kenapa emang Dim?” Ikhsan langsung menengok ke arah gue.

“Dila cantik kan yah hari ini?” Tanya gue.

“Iya.” Ikhsan menuruti kode etik yang kita sepakati.

“Lebih cantik dari Mai kan ya?”

“Iya.”

“Kalau disuruh milih antara Dila dan Mai, lo pilih Dila kan?”

“Ngg… i-iya..” Ikhsan tampak tak mengerti.

“Oi Peh, Kalau disuruh milih, Ikhsan lebih milih Dila ketimbang Mai, menurut lo gimana tuh, Peh?”

“Eh? menurut gue? hmm wajar sih, Dila emang lagi cantik banget hari ini.” Jawab Ipeh sembari meniup-niup teh panasnya.

“Oh sip deh kalau begitu.”

“…” Ikhsan terdiam tak mengerti. Kemudian ia mengambil HP-nya lalu mengirimkan pesan singkat ke HP gue.

“Maksudnya apa sih gue nggak ngerti?” Tulis sms Ikhsan. Setelah membacanya, gue langsung membalas, “Cuma memastikan aja, berarti Ipeh belum tau soal lo yang suka sama Mai. Maka dari itu daripada gue keceplosan ngomong tentang kalian, gue mau cek dulu.”

Setelah membaca sms balasan gue, Ikhsan cuma manggut-manggut doang. Kemudian kita bertiga sempat terdiam sebentar menikmati Teh Manis yang sudah mulai hangat ini.

“Mbe..” Mendadak Ipeh menepuk paha gue.

“Apaan?”

“Dila cantik yah hari ini?” Tiba-tiba Ipeh menanyakan hal yang sama seperti apa yang sempat gue tanyakan kepadanya tadi.

“Hah? Ah nggak ah, biasa aja.”

“Lha? seriusan? Lo nggak naksir Dila?” Tanya Ipeh penasaran.

“Kaga. Lagian biasa aja ah, nggak cantik-cantik amat kok.” Gue menjawab sejujur-jujurnya.

“Alah begok emang lo mah. Gue kadang selalu heran sama tipe-tipe cewek lo Dim, yang cantik dibilang biasa aja, yang biasa aja dibilang cantik. Kambing pake piercing di kupingnya aja lo bilang cantik.” Tukas Ikhsan.

“Lha bagus dong kalau gitu, dengan adanya gue, semua cewek yang merasa biasa saja dan tidak cantik jadi nggak usah takut kalau mereka nggak akan punya pacar. Gue bersedia kok.” Gue ngeles sebisanya.

“Gileee licin amat ngeles lo, udah kaya jendela angkot.” Jawab Ikhsan sembari tertawa.

Melihat kita berdua yang tertawa polos seperti ini, Ipeh menyenggol tangan gue, “Eh elo berdua nyadar nggak sih ada yang aneh pas tadi kita lagi ngumpul?” Ucap Ipeh memotong.

“Hah? Aneh apaan?” Kita berdua kompak bertanya.

“San, nyadar nggak kalau cewek-cewek pada kebanyakan nanya ke si Dimas mulu?”

“Hah? Iya gitu? Rasa-rasanya nggak ah.”

“Coba lo inget sekali lagi deh. Sebelum kita maen Truth or Dare.” Tukas Ipeh.

Ikhsan pun berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat lagi kejadian yang baru saja terjadi. Sedangkan gue cuma bisa termenung nggak mengerti maksud Ipeh apaan.

“yang masalah kenal sama si Dimas waktu ospek contohnya.” Tukas Ipeh.

“Terus waktu ngomongin pelajaran fisika juga. Dimas beberapa kali ditanya-tanya tentang nilai ulangan, soal yang berhasil dia jawab, sama masalah ikut les sama Bu Lily atau enggak, oleh orang-orang yang berbeda.” Tambah Ipeh lagi.

“Eh iya juga ya.” Ikhsan langsung menatap Ipeh.

“Nah kan, elo sendiri Mbe? Nyadar kaga?” Tanya Ipeh.

“Kaga… Gue fokus sama Teh Kotak gue pan waktu kalian lagi sibuk ngomongin guru. Gue malah lebih kebanyakan diemnya. Paling juga gue ngobrol tuh pas ada yang…” Gue tiba-tiba terdiam.

“…”

“…”

Gue mendadak teringat apa yang memang sempat terjadi waktu kita lagi kumpul-kumpul bersama di tempat ini tadi. Gue baru sadar, satu persatu kepingan ingatan dan rasa peka mulai memenuhi otak gue.

“Kok diem? lo ngobrol waktu ada yang apa?” Ucap Ipeh sambil tersenyum pelan.

“Waktu…”

“Hayooo..”

“Waktu ada yang nanya ke gue doang, Peh..” Gue menjawab pelan.

“yang nanya ke elu banyak nggak?”

“Ngg… Banyak Peh.”

“Cowok?”

“…”

“Cowok? atau cewek?” Tanya Ipeh lebih tegas.

“Ce..cewek..” Gue mulai tertunduk lesu.

“Nah mulai ngerti kan pertanyaan gue tadi tuh tentang apa?” Ipeh memukul pelan pundak gue.

“Eh bentar, emang kenapa peh kalau banyak cewek yang nanya ke si Dimas?” Ucap Ikhsan tak mengerti.

“Astagaaa, kalian berdua tuh begok atau emang pada dasarnya polos sih?!” Ipeh memukul kepala kita berdua pake kardus bekas snack Astor.

“Lhaaa, emang ada apaan sih? Dim lo ngerti kaga?”

“Kaga bro. Otak kita kaga nyampe sama pemikiran Ipeh. Beda OS-nya.”

“Aduuuuuhhh… Mbeee, gini deh gue jelasin. Lo dengerin ya baik-baik.. Please peka makanya jadi cowok tuh!” Tukas Ipeh kesal.

“Emang ada apa sih?” Gue semakin penasaran.

“Lo inget sebelum mereka banyak nanya sama lo, lo melakukan tindakan apa?” Tanya Ipeh lagi.

“Ngg… apaan ya? nggak tau Peh.”

“Aduuuh, jadi lo lakuin hal itu tuh emang spontan begitu aja gitu?”

“Eh yang mana sih?! Lo ngomong apaan sih peh, gue kaga ngerti.”

“Waktu cowok-cowok bangke ini..” Ipeh noyor-noyor jidat Ikhsan, “Dan mahluk yang lainnya lagi caper sama Dilla, lo ngapain?!” Tanya Ipeh lagi.

“Ngg… diem aja sih..”

“Lo nggak diem Mbe, lo nggak diem. Lo ngerti kan apa maksud gue ini?” Ipeh mendekatkan mukanya ke muka gue.

“Iya sih.. gue tau kok.. Emang kenapa Peh? gue salah ya ngelakuin kaya gitu?” Tanya gue memelas.

“Aduuuuuh udah ah capek gue ngomong sama lo Mbe. Begoknya kebangetan! Makanya kalau pas lagi gosok gigi, kumur-kumurnya jangan terlalu keras, ntar otaknya ikut kebawa keluar ke wastafel!” Jewer Ipeh. “Yaudah ah lagian udah malem, gue mau balik nih. Anterin dooong San.” Tambah Ipeh lagi.

“Loh, kok tumben sama Ikhsan. Sama gue aja, sekalian gue masih mau nanya tentang hal yang tadi. Gue masih nggak mudeng, Peh.” Gue menawarkan diri untuk mengantar Ipeh pulang.

“Nggak! Gue mau sama Ikhsan aja. Ayo cepet San..” Ipeh menarik tangan Ikhsan.

“Aduh males Peh, rumah lo jauh. Sama si Dimas aja lah ya.. Gue kayaknya sakit nih..” Tukas Ikhsan lemas.

“Lha sakit apaan lagi? perasaan tadi masih sehat?!”

“Rasa-rasanya kalau udah malem gini, mata gue kok berat ya Peh..” Jawab Ikhsan lagi.

“YA ITU NAMANYA NGANTUK BEGOK!! WAJAR ITU!! AYO IH CEPET!! NANTI GUE KENALIN KE KAKAK GUE DEH!!” Rayu Ipeh.

“Wuih serius?! Oke! Dim, gue pamit duluan yak!” Ikhsan langsung bangkit dari sofa dengan cepat.

“Dasar, disogok bakal dikenalin sama cewek aja langsung sehat lagi. Nanti kalau ada event kebiri masal di dokter hewan, gue bakal daftarin nama lo.” Jawab gue bete.

Akhirnya gue mengantarkan 2 orang teman gue ini turun ke lantai bawah. Ini cuma perasaan gue aja atau emang Ipeh terlihat lebih dekat dengan Ikhsan ya? bahkan tumben-tumbenan Ipeh lebih memilih di anter sama Ikhsan ketimbang sama gue. Setau gue Ikhsan tuh musuh bebuyutan Ipeh dari lahir sampe ntar di-interview Malaikat Izrail di alam kubur.

Ikhsan menyalakan motor, dan Ipeh mulai memakai helm bersiap mau menaiki jok belakang motor Ikhsan. Ada perasaan ganjil perihal hal ini, terutama perihal ketidakpekaan gue yang Ipeh ceramahi tadi. Dari semenjak kejadian Wulan, gue mencoba untuk berubah menjadi cowok yang lebih peka. Oleh karena itu kejadian seperti ini rasa-rasanya sangat melukai harga diri gue, ini mengartikan bahwa gue belum cukup peka untuk menjadi seorang pria beneran.

Ketika Ipeh telah menaiki motor Ikhsan dan hendak pergi, gue bertanya sekali lagi ke Ipeh.

“Peh, jelasin dong Peh sebelum elo pergi. Gue penasaran.” Gue memohon.

“Tanya aja tuh gih sama si siapa itu temen kelas kita yang lo kasih nama Buku pelajaran di contact HP lo itu?”

“Buku Cetak Matematika?” Jawab gue.

“Iya, tanya aja dia. Tanya dia seberapa begoknya elo hari ini. Yuk ah San keburu malam.”

“…”

“Oi sarang tawon, gue pergi dulu ya. Waalaikum salam!” Tukas Ikhsan.

“Assalamualaikum.” Jawab gue.

Perlahan motor Ikhsan menghilang dari pandangan gue, meninggalkan gue sendirian dengan segudang tanda tanya yang ada di kepala. Gue keluarkan HP gue, berpikir apakah bertanya kepada seseorang yang nggak gue kenal itu bisa membuat gue mengetahui ada masalah apa hari ini? Tapi kalau semisal dia yang nggak tau kejadiannya dan cuma mendengar dari cerita gue saja bisa mengerti di mana ketidakpekaan gue, maka itu mengartikan gue ini begoknya emang udah kebangetan. Gue bimbang, antara curhat dengan orang yang belum gue kenal, atau berusaha mengetahui semuanya sendirian.

Gue menarik nafas, lalu kemudian menutup pagar dan mematikan seluruh lampu di halaman. Gue pergi ke belakang mengambil anduk dan mandi air hangat. Di bawah guyuran shower, gue terdiam mencoba berpikir lagi secara lebih gamblang. Jika pria kebanyakan berpikir menggunakan logika, maka sekarang gue mencoba berpikir menggunakan hati. Gue kembali mengulang semua kejadian di atas balkon tadi dalam kepala, menempatkan diri gue sebagai Ipeh atau sebagai cewek lain yang ada di sana.

Banyak orang bilang kalau ketika diguyur oleh air, pikiran kita bisa jauh lebih terbuka, pikiran kita jadi jauh lebih gamblang dalam mengulang kembali semua kenangan. Sekarang gue jadi ngerti kenapa orang yang galau lebih memilih untuk duduk di bawah guyuran Shower ketika lagi nangis kejer-kejer. Sedang asik-asiknya mencoba berpikir secara sistematika layaknya Sherlock Holmes yang lagi melawan Jim Moriarty, tiba-tiba pintu kamar mandi digedor keras dari luar.

“DIMAS!! MAU SAMPAI KAPAN KAMU DI DALAM!!” Teriak nyokap gue dari luar kamar mandi.

“Cepetan kalau mandi! Ibu nggak bisa nyuci piring, airnya kamu pake di kamar mandi semua!! Udah hampir sejam ini hoi!!”

Astaga ternyata sudah hampir lebih dari satu jam gue diguyur oleh air shower di kamar mandi, gue melihat ke arah cermin dan terkejut, semua onderdil gue kisut. Astagfirullah, gue langsung mengambil handuk, mengeringkan diri, dan buru-buru pergi ke kamar. Selama hampir satu jam gue bertapa di kamar mandi, gue hanya bisa mengambil satu kesimpulan. Yaitu memutuskan untuk bertanya kepada si Matematika Buku Cetak perihal kejadian hari ini. Karena seberapa lama pun gue berpikir di bawah guyuran Shower, gue tetap tidak mengerti dengan semua ucapan yang Ipeh maksudkan tadi.

Hmm wanita memang mahluk yang paling sulit dimengerti.
Huft..

.

.

.

.

.

                                                               Bersambung

Previous Story: Here