masjid salman itb

Generasi Muzzammil dan Sonia

Di timeline bersliweran foto-foto Muzzamil dan Sonia yang (katanya) bikin baper para gadis dan mamak-mamak. Bagian mana yang paling bikin baper mak?
Waktu Muzzammil megang kening Sonia seraya mendoakannya?
Waktu Muzzammil ngelap keringat Sonia saat di pelaminan?
Atau waktu Muzzammil (nyoba) nggendong Sonia?

Apa? Semuanya bikin baper? *Puk-puk*
Sebagai sesama wanita, saya pahamlah perasaan patah hati itu. Akhwat jomblo mana yang ga pengen dapet imam masjid bersuara merdu dan berprestasi pula. Jauh lebih berasa patah hatinya ketimbang ketika mas Siapa itu namanya dan mbak Endless love mengumumkan resepsi pernikahannya. Dan sebagai emak-emak, saya juga bisa ikut menjiwai patah hatinya para emak yang kehilangan calon mantu.

Baca undangan Muzzammil dan Sonia aja bikin merinding. Undangannya sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan akad nikah. Untuk bisa bikin kita baper sebaper-bapernya seperti ini, Muzzammil engga kaya tahu bulat yang digoreng dadakan, jadi imam masjid Salman ITB yang memikat hati semua orang. Ada proses panjang sebelum itu. Ayah Muzzammil adalah seorang kepala sekolah, ibunya seorang guru MAN. Dua-duanya pendidik, bahkan ibunya adalah seorang pendidik ilmu agama. Muzzammil belajar ngaji dari umur 4 tahun. TK udah tamat iqro’. Masuk SD (Muzzammil masuk MIN) udah bisa baca quran. SD, SMP, SMA selalu ranking satu bahkan juara umum. Jadi ga heran klo bisa masuk ITB (alumni ITB mana suaranya, kenalkan saya alumni UNS.xixixi). Jadi imam masjid Salman ITB dari semester satu. Masyaalloh….

Coba lihat anak kita mak. Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil. Atau kita pengen anak kita bisa mengikuti jejak Muzzammil. Lihat prosesnya mak. TK udah tamat iqro’. Anak saya mau masuk SD iqro’ aja belum tamat. Klo lagi ngajarin iqro’ emaknya ga sabaran. Pengennya diajarin sekali si anak langsung bisa baca quran lancar jaya.

Jadi imam masjid itu berarti hafalannya banyak mak. Ngga cukup juz 30 yang juga ngga lengkap-lengkap itu. Kita ngajarin anak buat hafalan sehari eh seminggu berapa kali? Atau biar belajar di sekolah aja lah. Emak udah capek dengan tugas domestik.

Jangankan ngajarin anak, tilawah sendiri aja belepotan. Niat tilawah, kepikiran piring kotor. Nyuci dulu. Anak numpahin susu. Ngepel dulu. Anak minta makan.nyuapin dulu. Udah sore, waktunya mandi. Mandiin anak. Nemenin belajar sambil kutak-katik hp, ngobrol seru di grup. Anak tidur, suami pulang. Nemenin suami. Tidur. Bangun udah pagi. Tilawah? Eh iya, belum jadi tilawah ya. Ibu Muzzammil udah pasti ngga kaya gitu mak.

Dan Sonia, siapa dia? Sonia adalah salah satu admin ODOLA (one day one line akhwat). Sehari ngapalin ayat quran satu baris mak. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Alloh milihin Sonia buat Muzzammil karena mereka sekufu. Satu level gitu.

Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil, maka anak kita juga harus kaya Sonia yang sekufu dengan Muzzammil. Untuk bisa punya anak seperti Muzzammil dan Sonia, kita harus kerja keras mak, ga cukup dengan mimpi dan harapan.

Lawan kantuk demi nyimak bacaan quran anak-anak. Lawan capek demi nyimak murojaah anak-anak. Klo kita juz 30 aja ilang-ilangan, maka anak kita harus bisa hafal 30 juz. Aamiin.
Berat mak. Siapa bilang enteng? Kalo enteng, akan banyak bertebaran Muzzammil-muzzammil di dunia ini dan kita ga bakalan baper hanya karena Muzzammil menemukan tulang rusuknya. Memang berat mencetak generasi Muzzammil dan Sonia. Tapi Alloh udah naruh surga di telapak kaki kita mak. Ga mungkin kan Alloh naruh surga yang diimpikan semua orang begitu aja di kaki kita. Ada harga yang harus dibayar.

Minta mak, minta sama Alloh agar kita dimampukan mencetak generasi Muzzammil dan Sonia.

Jangan lelah mak, jangan lelah mengenalkan quran ke anak-anak kita. Meskipun jalannya tak mulus, meskipun di bangku SD anak kita masih berkutat di iqro’ jilid 2, jangan lelah, Alloh melihat semua usaha kita. Jangan lelah…

*Menasihati diri sendiri di akhir liburan

JADWAL IRAMA SALMAN ITB

Saya ambil dari status teman. Soalnya belum nemu posternya yang resolusi tinggi. Saya sangat menyarankan teman - teman untuk setidaknya live streaming acara IRAMA ini. Pengisi materi bukan hanya para ustadz kompeten, tapi juga pakar - pakar yang profesional di bidangnya. Bukan hanya belajar fiqih dan ilmu agama, tapi juga bagaimana aplikasi ilmu agama di dunia, untuk menjemput keridhoan Allah. Jum,jum, belajar radikal yuk di Salman!!. 


Berikut daftar pemateri IRAMA, *Inspirasi Ramadhan 1438 H di Masjid Salman ITB*.

Insya Allah dilaksanakan tiap pukul 16.00-17.40. Live Streaming dapat disaksikan di Facebook Masjid Salman ITB. Diurutkan berdasarkan Tanggal Ramadhan.

1. 27-Mei-17
Prof. Ir. Hermawan K. Dipojono, Ph.D.
Ketua Asosiasi Masjid Kampus Indonesia
“Masjid sebagai Jantung Peradaban”

2. 28-Mei-17
Dr. dr. Endy Muhammad Astiwira, M.A., AAAU, CPLHI, ACS, FIIS,
Ketua Pokja Bisnis dan Wisata Syariah DSN-MUI
“Indonesia, Destinasi Wisata Halal Dunia”

3. 29-Mei-17
Muzammil Hasballah, S.T.
The Shift Figure
“Senandung Qur'an dalam Jiwa Pemuda”

4. 30-Mei-17
Drs. Adriano Rusfi, S.Psi.
Konsultan SDM dan Pendidikan
“Pendidikan Berbasis Fitrah”

5. 31-Mei-17
Dr. H. Abdul Wahid Maktub
Duta Besar RI di Qatar 2003-2007
“Ukhwah Bernegara”

6. 01-Jun-17
Dahnil Anzar Simanjutak, S.E., M.E.
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah 2014-2018
“Pemuda, Kekuatan dalam Kelemahan”

7. 02-Jun-17
*Dr. Ir. Pramono Anung, M.M.*
Sekretaris Kabinet Kerja Republik Indonesia 2014-2019
“Emas Milikku, Bukan Milikmu”

8. 03-Jun-17
Ir. M. Hatta Rajasa
Menteri Koordinator Ekonomi Replublik Indonesia 2009-2014 “Tantangan ekonomi masa kini”

9. 04-Jun-17
Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A.
Gubernur Nusa Tenggara Barat
“Melayani Rakyat dengan Berlandaskan Al-Quran”

10. 05-Jun-17
*Jenderal TNI Gatot Nurmantyo*
Panglima TNI
“Benteng Pelindung Umat” (Dalam konfirmasi)

11. 06-Jun-17
Dalu Nuzlul Kirom, S.T. Dan Nafizah, S.T.
Penggagas Kawasan Wisata Edukasi Dolly “Muda-Mudi Berdikari”

12. 07-Jun-17
*Dr. (H.C.) Ir. K.H. Shalahuddin Wahid (Gus Sholah)*
Kyai Pondok Pesantren Tebuireng
“Saat Toleransi Diuji”

13. 08-Jun-17
Ir. Tjatur Sapto Edy, M.T. Ketua Panitia Kerja (Panja) DPR RI Pemberantasan Mafia Pajak
“Masa Depan Sumber Daya Alam Indonesia”

14. 09-Jun-17
*Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.*
Menteri Pariwisata Indonesia Kabinet Kerja “Menilik Keberkahan dalam Dunia Pariwisata Indonesia”

15. 10-Jun-17
*Ririek Adriansyah*
Direktur Utama PT. Telekomunikasi Selular “Kemajuan Teknologi Informasi dalam Menunjang Kemajuan Masjid”

16. 11-Jun-17
*Prof Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H.*,
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), “Peran Cendekiawan Muslim dalam Kemajuan Indonesia”

17. 12-Jun-17
Ust. Tengku Hanan Attaki, Lc.
Founder The Shift Pemuda Hijrah
“Pemuda yang Dirindukan Surga”
pukul 12.30-15.00

*Ir. H. Fadel Muhammad Al-Haddar*
Menteri Kelatuan dan Perikanan Republik Indonesia 2009-2011 “Eksplorasi Kekayaan Maritim sebagai Poros Dakwah”

18. 13-Jun-17
Dr. Adian Husaini, M.A.,
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia “Pembebasan Nusantara”

19. 14-Jun-17
*H. Deddy Mizwar*
Wakil Gubernur Jawa Barat
“Dakwah Layar Kaca”

20. 15-Jun-17
Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M.
Ketua MPR RI 2014-2019
“Dakwah Parlemen”

MASJID SALMAN, RADIKAL SEKALIGUS LIBERAL. (?)

Masjid Salman ITB dikata radikal. Begitu ujar ketua PBNU, Said Aqil Siroj.

Aku tidak lekas percaya jika ia bilang persis begitu. Atau mungkin ia memang bilang begitu, tapi ada konteks yang menyertai. Misal “Hati-hati paham radikal hendak masuk ke Salman. Karena…”,

Salman adalah salah satu pemisalan dan ia tahu jika Salman tidak sepenuhnya seperti itu. Namun konteks obrolannya adalah ‘paham radikal’. Jadi memang tidak ada waktu untuk menjelaskan jika Salman ini ada sisi moderat dan tolerannya…

Kemudian media pun membuat judul cetar: Radikalisme Merambat ke Kampus TERUTAMA Masjid Salman. Mungkin jurnalis media tersebut tidak kenal Salman dan sedang trauma pada insiden bom Manchester saban hari..

Hehe. Mencoba khusnuzon.

But anyway, pemberitaan itu berpotensi membuat Salmanku ini dipandang menyeramkan.

Lucunya, beberapa tahun silam, Salman pernah dilabeli terlalu moderat, liberal..mungkin gara-gara Salman pernah undang dialog dengan pentolan JIL, atau pernah undang pastor untuk sharing filsafat ilmu.

Gila, ya. Pelabelannya bertolak belakang pisan, coi.

Yang jelas, selama 7 tahun jadi 'marbot’ medianya masjid ini, aku ingin memaparkan kenyataan yang aku alami di Masjid Salman.

Bahwa Salman mengajarkanku RADIKAL sekaligus LIBERAL. Yep. IN A GOOD WAY.

Mengapa Salman mengajarkanku radikal? Karena pertama, Salman membuatku berpikir mengajar soal pandanganku terhadap banyak hal.

Radikal, jika kau telusuri di kamus adalah cara berpikir yang mengakar terhadap sesuatu. Radikal bukanlah paham yang mudah mengkafirkan orang lain, radikal bukanlah soal bom di konser Ariana Grande dan whatsoever.

Kata radikal telah disalahkaprahi.

Aku jadi mempertanyakan kemurnian keislamanku, apa aku sudah berislam secara benar? Atau apa makna dari shalat? Apa hikmah dari tidak bolehnya meminum minuman keras?

Atau: Ketimbang berkoar-koar soal kejayaan Islam, mengapa kita tidak mencicil peradaban rahmatan lil 'alamin dari sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan yang krusial, berikut pembahasannya ialah dialog tidak tabu di masjid ini. Beragam orang di Salman, baik dari yang anaknya 'aktivis dakwah look a like banget’ atau anak 'hepi hepi’ syar'i kayak si Tristia pun bisa berkomunikasi dan berkolaborasi di sini.

We sometimes debate a bit, tapi kita bisa makan cuankie bareng terus ketawa ketiwi liat foto kucing. Serius.

Sampai ngeplesetin lagu Kesempurnaan Cintanya Rizky Fabian untuk menggambarkan susah payah tapi berkesan jadi anak asrama Salman juga sabi.

Satu hal yang menarik lagi di Salman, udah nggak kaget lagi menemukan anak majelis ta'lim baca buku Noam Chomsky, nonton film Senyap, terus rajin ngapalin Quran.

Ini dia. Karena mengalirnya diskusi dan iklim keterbukaan ini, keimanan pun makin teruji…dan ini menggiringku untuk..

Liberal.

Liberal, bagiku bukan aku muslim terus aku klabing. Atau aku berfree sex. Naudzubillah ya kali. Berpikir liberal adalah pembebasan diri dari berhala-berhala lain selain Allah. Dalam kata lain, liberal adalah cara berpikir merdeka.

Aku belajar untuk berani berbeda di sini. Di Salman, masing-masing individu atau unit digiring untuk berkontribusi.

Memang perkataan ulama dan senior aktivis sangat penting untuk diresap. Namun itu tidak menghalangi kita untuk melengkapi dan mengoreksi pendapat yang sudah ada, sekaligus berkarya sesuai potensi kita.

Kita mengenal alm Bang Imad sang ahli pidato, alm Achmad Noeman sebagai arsitek handal, Feny Mustafa founder Shafira, Busyro Muqoddas, Hatta Radjasa, kawan-kawanku yang rutin bikin pengobatan gratis, kang Iqbal Alfajri dkk yang bikin film layar lebar, astronom Thomas Djamaluddin, jurnalis Farid Gaban, dede-dede seni rupa yang 'nyasar ke masjid’ terus bikin karya-karya audiovisial yang ucul, si Tristia Riskawati yang suka nulis terus kesamber jadi entrepreneur, dann masih banyak lagi–

Akhirul kalam, tulisan ini tidak semata-mata dibuat untuk melawan Pak Said Aqil atau membela buta Salman.

Mungkin benar ada pihak-pihak yang punya pandangan Islam agak setreng, tapi itu bukan representasi Salman menurutku.

Wallahu'alam. Hanya menceritakan apa yang kualami, kupikiri, dan kurasai tentang Salman, untuk menawarkan perspektif yang lebih jernih.

Yuk main ke Salman deh. Ketemu akika and da gank. Ada teh manis gratis sembari keterbukaan diskusi bareng soal Islam yang barangkali masih ngganjel di hati!

#tehmanissalman
#aingradikalyeuh
#liberalsyari
#tersesatdijalandakwah
#maenkemesjidyuk

menikah pada perjuangan, bekerja pada perjuangan.

Melarat lebih lama. Melajang lebih langgeng.
Terdengar bak vonis menakutkan, yah? :’)

Nah. Namun bagaimana jika itu pilihan? Ralat, bukan pilihan. Namun, bagaimana jikalau itu konsekuensi dari pilihan yang ditempuh?

Sudah saatnya saya mengutarakan ini. Concern yang berjumpalitan dalam diri. Bermula dari obrolan perjalanan sepulang pernikahan kenalan baik kami.

Alkisah, teman duduk samping saya sama lajangnya. Tukang mikir, sama kayak saya. Seorang pengamat pula. Perempuan. Lebih tua (serta dewasa, tentu).  

Kami kemudian berbincang mengenai beberapa sejoli halal. Kemudian, saya agak menyayangkan semangat sejoli memajukan umat yang kunjung kendor usai menikah. Seolah-olah, ada keterpisahan antara rumah tangga dan perjuangan.

Kekecewaan yang tak baik sebenarnya. Saya tak berhak menghakimi. Semua orang punya pilihan dan prosesnya tersendiri, toh? Kamu picik, Tris. Saya balas hakimi diri.

Namun jika terjadi dengan diri, rasanya tak sudi betul.
Takut. 

Bagaimana nasib umat jikalau saya dan suami sibuk sendiri? Membentuk istana idaman sendiri, menunjukkan kemesraan serta gembal-gembil pipi anak yang jatuh secara nggemesin

Mesra, mantap, dan penuh gaya memang. Lolos sudah kami berdua dari bulian jomblo ngenes.

Namun, sudah merasa aman dan fulfilled wahai Tristi dan tuannya? Sekitarmu itu– telah terjamahkan dengan peluh juangmu?

Weks. 

Teringat akan diri yang pernah me-retweet status twitter Faisal Basri, hampir tiga tahun yang lalu.


Maka di tengah-tengah percakapan, aku berujar lugu “Aku inginnya menikahi perjuangan, Teh! Seperti anaknya Cut Nyak Dien!” Kemudian si Teteh tampak geli mendengar pernyataan si Dedek. 

Ahaha.

Namun, di satu sisi, gravitasi hampir membuat perspektifku terpental pula. 

Dari zaman SMA hingga kini, kayaknya lelucon jomblo-sial, kapan-nikah, dan model-model begitu– betah banget berseliweran. Terutama di kalangan-kalangan tertentu yang kutemui. Pecah banget, ya, lelucon jenis itu.

Awalnya diri ini cuek saja. Got to mind my own bussiness. Got to keep toughly going. Namun selepas lulus, lama-lama diri ini bertanya pada diri juga. 

Terlebih, kanan-kiri obrolan soal jodoh kian kencang bersamaan dengan dagelan laris itu. Belum lagi sejumlah rekan berkabar jika akan melepas masa lajang. Wah. 

Jadi bertanya-tanya. Apakah benar, keberhargaan dihitung dari bersanding dengan seseorang? 

Sekip soal pernikahan. Dilema ihwal karir pun kami utarakan. Si Teteh bercerita tentang kawan-kawannya yang sudah mentereng bekerja di beberapa korporasi. 

Beberapa semakin sibuk tersedot dalam karir. Beberapa terkesan kian membentuk pulau-pulau kesibukan sendiri. 


Kemudian teringat pula kisah seseorang yang diriwayatkan teman yang lain. 

Dulunya ketika mahasiswa, dikenal sebagai pejuang ekonomi syari’ah. Eh ndatau-nya, kini malah kerja di bank konvensional. Gajinya memang waw-gitu-deh. 

“Yaa, mungkin belajar dulu,” ujarnya mengingatkan agar ber-huznuzhon. 

Kemudian, suka dengar-dengar kisah mereka yang capek, merasa energi terkuras dengan pekerjaan. Penghasilan oke. Tapi pekerjaan hanya dijadikan sebagai ‘sarana dapet duit. sudah saja’. 

Bos marah, ya stres. Deadline berkelindan, ya dianggap musibah. Lantas, apa yang dapat dimaknai dari pekerjaan kita, jikalau mindset sudah begitu?

Bekerja di bidang yang kita banget, tapi nggak standar-kebanyakan-orang-banget– bisa bikin diri ini merasa ganjil. 

Ketika kenalan Mama-Papa bertanya, “Sekarang kerja dimana?”; sempat bingung lisan ini menjawab apa.

Ya, saya berkegiatan di Masjid Salman ITB, di bagian kehumasannya. Dibayar pula, alhamdulillah. Namun, tentu bayaran dan gengsinya tak seberapa dibanding bekerja di perusahaan swasta lain.

Percaya atau tidak, terkadang rasanya ‘agak malu’ ketika bilang ‘Sekarang kerja di Masjid’.

Berkali-kali saya bertanya pada diri. Karir, jodoh. Patutkah manusia dialihkan fokusnya pada dua jenis kebingungan ini?

Keep reading

Perempuan adalah kehormatan yang harus terus menerus dijaga oleh peradaban. Tidak boleh dirusak dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Zaman bisa berganti, tapi kehormatannya adalah mutlak.

Saya tidak punya televisi tapi berita hampir saya baca setiap hari, #nyalauntukyuyun adalah sebuah bentuk perlawanan kejahatan terhadap perempuan. Tidak hanya tentang yuyun, tapi tentang semua perempuan yang lahir di dunia ini.

Kalau kita masih merasa bangga bahwa kita adalah ciptaan yang paling mulia sementara kejahatan di sekitar kita abaikan begitu saja, kita sibuk dengan urusan diri sendiri. Mari pertanyakan lagi kenapa kita harus ada di dunia ini? Apakah menjadi bagian yang memperbaiki atau turut andil dalam kehancuran-kehancuran itu.

Yogyakarta, 3 Mei 2016

credit foto dari FB Masjid Salman ITB

6

Sekolah dan Impian Itu

Beberapa waktu yang lalu, saya dan rekan-rekan sevisi rapat hingga tengah malam di Yogyakarta, tulisannya saya muat dalam tautan ini, silakan klik ( X ). Salah satu pembahasan malam itu adalah tentang survey sekolah dengan basis sekolah alam yang sudah berdiri.

Akhirnya salah satu orang dari kami berangkat ke Jakarta, Bogor, Bekasi dan sekitarnya minggu ini. Tentu teman-teman ingat bila setiap pemesanan buku di sistem kami (printabook.co.id) ada kode unik setiap pemesanan, periode januari lalu kami mendapat sekitar Rp 350.000 dari kode itu, dan di Pre Order Februari ini kami mendapat jumlah yang hampir sama. Uang dari kode unik itu akhirnya kami gunakan untuk survey hampir 10 hari ini. Survey dilakukan di School of Universe, Sekolah Alam Meruyung, Smart Ekselensia milik Dompet Duafa, dll.

Pekan depan, kami akan melakukan tidaklanjut baik dari hasil survey, maupun merapikan jejaring yang sudah kami punya. Kami tidak bermimpi sendirian, ada banyak orang yang diam-diam berbaik hati membantu impian ini.

Kami di Langitlangit juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua yang telah membeli karya kami, baik Hujan Matahari, Lautan Langit, ataupun Teman Imaji. Sejak awal kami sudah berkomitmen agar karya ini tidak hanya bermanfaat untuk penulis maupun pembaca, tapi juga lebih banyak orang yang mungkin tidak ada hubungannya dengan karya-karya ini. Yaitu mereka, anak-anak yang tidak seberuntung kita hari ini.

Selain itu, Langitlangit juga bekerja sama dengan Rumah Amal Masjid Salman ITB untuk ikut program kakak asuh. Semoga kedepannya, semakin banyak adik-adik yang bisa kami bantu melalui program ini. Alhamdulillah, semua kebaikan ini berasal dari keringanan hati teman-teman ketika membeli karya-karya kami.

Buat teman-teman yang ingin menjadi kakak asuh (bisa jarak jauh), ini sangat terbuka buat siapa saja :)

Akhir kata, terima kasih atas seluruh kebaikan yang telah berkumpul. Kami hanya menjadi perantara, semoga semua ini menjadi amal baik untuk kita semua.

Doakan semoga kami tetap istiqamah dalam berkarya dan juga merangkai impian-impian yang tidak biasa ini. Aamiin.

Salam Hangat

Tim Sosial Langitlangit, di Yogyakarta.

2

Syukuran Wisuda April 2014 - Masjid Salman ITB

Tanda cinta dari Masjid Salman ITB. Terima kasih atas bingkisan al quran dan mawarnya. Terima kasih atas anugerah Allah dengan menjadi bagian dari keluarga besar Masjid Salman ITB meski saya baru masuk dan tergabung di salman saat semester 8. Hehehee …

Alhamdulillah tempat ini memberikan saya banyak ilmu dan pemahaman, juga teman-teman yang memiliki frekuensi yang sama dalam beragama.

InsyaAllah, wisuda minggu depan akan menjadi pintu untuk memulai fase baru dalam hidup sebagai seorang manusia. Alhamdulillah atas kesempatan belajar di kampus kehidupan Salman ITB ini.

salman, seperti bunga, tumbuh dan berkembang: "denyut lincah masjid, siapa sedia jadi pawang?" (part 3)

Senja makin larut. Beberapa sosok bermampiran ke perpustakaan Salman. Diskusi buku yang semula hanya dilakoni oleh tidak lebih dari lima orang, perlahan mulai riuh. Saya tengah membahas buku bertajuk “Salman, Seperti Bunga, Tumbuh dan Berkembang”. Mumpung temanya perihal Salman, bertanyalah saya kepada beberapa orang mengenai kesan mereka terhadap Salman.

“Feels like home," ujar Harun Suadi.

"Istilah kampus seberang sebagai unit, dan Salman sebagai kampus merupakan suatu istilah yang populer di zaman saya!” begitu kenang Kang Adit. –> somehow istilah ini sering saya pakai. :p

Kang Irfan Habibie, salah seorang teman se-unit berceletuk bahwa Masjid Salman adalah masjid paling baik yang pernah ia temui. Ya, yang paling mendekati ideal lah. Aikhalid menimpali, bahkan kalau masjid lain kalau tidak masuk waktu salat– malah dikunci.

Ya, Masjid Salman bukanlah kuil dingin di mana di dalamnya hanya ada alim-alim ulama bercokol memanjatkan mantra. Masjid Salman tak semata sekadar tempat rukuk dan sujudnya raga manusia. Namun, Salman seolah telah me-monggo-kan dirinya bagi ilmu pengetahuan agar bersujud demi pengabdian padaNya.

Keep reading

Katanya ngantuk seringkali jadi alasan untuk tidak melakukan muraja'ah pagi. Maka saya jawab ya akhi, jika mata tak lagi bercahaya alias ngantuk saat muraja'ah pagi mungkin itu tanda ente memang butuh teman yang setia menemani. Pun jika belum ada doi, secangkir kopi manis sudah cukup untuk menghangatkan hati~

Lagi di Bandung dan nyari kopi gratisan @Masjid Salman ITB

Kamis, 31 Maret 2016

Daftar Pemateri Kajian Sore Ramadhan Masjid Salman ITB

Untuk teman-teman yang tinggal di Bandung dan sekitarnya, silakan hadir di kajian ba'da ashar Masjid Salman ITB bertempat di paving block masjid Salman ITB selama bulan Ramadhan, berikut rinciannya :

  • 10/7 . Dr.Yani - Ahli Kesehatan (Sehat ala Rasulullah)
  • 11/7 . Adriano Rusfi - Master of Training LMD Salman (Chasing The Sky)
  • 12/7 . Dahlan Iskan )* dan Riza Muhida - Menteri BUMN dan Ahli Teknologi (Membangun Negeri Mandiri)
  • 13/7 . Salim A Fillah - Penulis (Ramadhan Bulan Kaderisasi)
  • 14/7 . Din Syamsuddin - Ketua PP Muhammadiah )*
  • 15/7 . Muhammad Furqan Alfaruqi - Pakar Motivasi Al-Quran (Motivasi diri dengan Al Quran)
  • 17/7 . Joserizal Jurnalis dan Dr.Dadang - Presidium MER-C dan Ahli Bedah (Jalan Jihad Seorang Dokter)
  • 18/7 . Hermawan K.Dipojono - Dekan FTI ITB (Be the best, not be ‘asa’)
  • 19/7 . Zulkifli Hasan - Menteri Kehutanan dan Pemerhati Lingkungan Hidup (Mencintai Lingkungan karena Allah)
  • 20/7 . Anis Matta dan Amien Rais )*
  • 21/7 . Thomas Djamaludin - Anggota LAPAN (Bijak dalam perbedaan)
  • 22/7 . Suryadharma Ali dan Mahfud MD )*
  • 23/7 . Panji Prabowo - Pengusaha (Kesabaran Pintu Keberhasilan)
  • 24/7 . Iwan Abdurrahman - Seniman

)* dalam konfirmasi

Pemateri dan materi yang akan disampaikan masih dalam proses, daftar ini bisa berubah sewaktu-waktu berdasar pada situasi dan kondisi. Silakan luangkan waktu untuk menimba ilmu selama ramadhan, semoga bermanfaat.

sumber : P3R Masjid Salman ITB