masjid an nabawi

Tiga alasan ini mengapa kita bersama Al Aqsha;
— 

1. Karena kita rakyat Indonesia: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan [pembukaan UUD 1945]

2. Karena kita muslim dan rindu masjid mulia: Janganlah kalian bersusah payah dalam bepergian kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjidin Nabawi dan Masjidil Aqsha [HR. Bukhori Muslim]

3. Karena kita manusia: Tak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina. Cukup kau menjadi manusia [Recep Tayyip Erdogan]


Inspired by: Puisi HTR

Kamu, Ada yang Kangen

Ternyata, di jauh sana ada yang kangen sama kamu. Rindu kedatanganmu, sentuhanmu, derai air mata doa dan tasbih-tasbihmu yang melangit. Sayangnya kamu mungkin terlalu sibuk dengan hari-harimu yang keras. Padahal, jika kamu menyambut rindunya, hidupmu akan jauh lebih berwarna. Percaya.

Kamu, Ada yang kangen

Dia mungkin akan iri, kenapa dia ditelantarkan dari yang lain. Ketika kamu bangga bisa selfie di depan ka'bah nan gagah, atau bisa update story ketika kamu melihat kubah hijau Nabawi. Dia, jarang kau sebut, dan akhirnya turis-turis tak berpakaian yang mendatanginya, itupun sambil melafaz ayat talmud yang ia tak tahu maknanya apa.

Padahal Rasulullah menyebutnya sedaftar sebagaimana beliau menyebut Al Haram dan Nabawi.

Kamu, Dia menunggumu

Dia ingin lagi kau datangi, kau peluk dengan mesra, kamu belai hamparan tanahnya dengan sujud khusyu, kamu tenangkan setiap dindingnya dengan ayat al isra. Setiap hari ia diraba tangan-tangan durjana, ia terlantar dan nyaris dibinasakan. Datanglah, atau paling tidak, kangenlah juga, padanya.

“Kamu tahu anak yatim itu siapa?”, tanya Syaikh Raid Shalah pada umat Islam, “anak yatim itu adalah Al Aqsha, yang kamu lupakan ketika Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ramai dikunjungi orang.”

Kamu, iya kamu, ada yang kangen. Namanya Al Aqsha. Semoga suatu hari nanti kerinduannya kita obati, bershaf-shaf gagah sembari sembari bertakbir gempita.

—  @edgarhamas
KALAU RASUL DAN SAHABAT HIDUP LAGI

Hari ini saya sedang ngawang, apa jadinya jika orang-orang terdahulu kembali hidup di zaman sekarang.

Kalau para sahabat rasul hidup di zaman sekarang. Kira-kira mereka bakal share-share foto kehidupan mereka sehari-hari gak yah? Kan kebayang tuh, foto pas pergi ke masjid, captionnya “OTW masjid bray”

Atau foto pas lagi saling belajar agama, captionnya “Abis mentoring, sama 10 orang yang dijamin masuk syurga”

Atau foto banyakan depan masjid nabawi, captionnya “depan masjid”

Atau beres ikut ceramah rasul, mereka ngerubunin Rasulullah SAW, terus selfie bareng, diupload pake caption “yeaaah, ketemu Nabi Terakhir euy”

Atau kalau para sahabiat hidup di zaman sekarang, Kira-kira mereka bakal foto-foto selfie terus upload-upload di sosmed ga yah? Kan kebayang tuh, foto selfie, bikin caption “Lagi nemenin suami, dakwah. Semoga masuk surge ya say”.

Atau foto sendiri dengan pemandangan padang pasir, dengan gaya seperti model, terus upload dan bikin caption yang isinya hadits nabi “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat nanti selain akhlak mulia. (HR. at-Tirmidzi)”

Atau upload foto salah satu pria yang sholeh dan bacaan ngajinya bagus, sambil pake caption “Ikhwan pujaan, tilawahnya bagus, semoga berjodoh dengan dia”

Pada zaman dahulu, rasul mengatur segala tata kehidupan yang ada, mulai dari cara berperilaku, cara bersosialisasi, cara menghukum orang yang salah, cara berpakaian, cara beribadah, cara menghadapi masalah, cara menjalani hidup, dan berbagai hal lainnya. Dan setiap sahabat tak segan untuk bertanya “Ya Rasul, apa yang harus saya lakukan?” Karena mereka ingin mengikuti apa anjuran dari Rasulullah. Dan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah, itulah yang dianjurkan oleh Allah SWT.

Kalau Rasulullah SAW hidup di zaman sekarang, kira-kira beliau bakal mengizinkan para sahabat serta keluarganya untuk melakukan hal tersebut gak yah? Kira-kira, apa yang Rasul perintahkan untuk bisa memanfaatkan sosmed untuk bisa menyebarkan islam dengan cara yang baik? Wallahua’lam bisshawab.

Saya hanya mengawang-ngawang saja. Karena kalau zaman dulu, umat muslim dilemahkan dengan menggunakan kekuatan fisik. Kini? Kita dilemahkan dengan gaya hidup, sehingga kita kadang terlalu sibuk menghabiskan waktu kita untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup kita.

Wallahua’lam bisshawab.