masih belajar

Untukmu

Perempuan yang kamu cintai ini adalah seseorang yang syarat bahagianya sederhana, yang ilmunya tak seberapa, yang masih selalu butuh di bimbing untuk memperbaiki dirinya, yang masih terus butuh belajar untuk menjadi baik, dari keluarga yang biasa bahkan jauh dari kemewahan. Masihkah tetap ingin memilihnya ?

Tapi dia mau berjuang denganmu, untuk sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya. Yang disana tak akan ada lagi kesedihan, kesusahan, kekurangan, kecewa atau air mata. Sebab disana kebahagiaan abadi yang akan di dapati.
Dia tak hanya ingin menemanimu disini, tapi menjadi pendampingmu di kehidupan yang sesungguhnya.

Untuk hati yang mudah terbolak balik, semoga Allah menetapkan hati kita untuk membersamai.

Penuh harap, semoga Allah karuniakan ridha Nya.
Semoga Allah menunjukkan waktu terbaik Nya.

Becandain Ukhti Kecil

“Dek, tau nggak?”

“Apa mas?”

“Ternyata bidadari itu gak selalu bersayap lho…”

“Wek, terus?”

“Tapi berjilbab lebar atau bercadar…”

“Uwuwuwu…”, *kesenengan

“Tau nggak kenapa mas membiasakan sampean untuk berjilbab lebar sejak kecil?”

“Biar syar'i kan mas, biar betul cara nutup auratnya?”

“Hmmm nggak juga sih…”

“Lha terus???”

“Biar klo lagi panas-panasnya matahari, mas bisa mumpet disitu kaya orang main barongsai~”

“Huuu…”, *nyubit pipi masnya


.:Nyemangatin ukhti yang masih belajar

©Quraners

Preparing the Unprepared

Hallo, generasi millenials! Gimana, masih rame ngomongin nikah?

Zaman sekarang, di saat akses terhadap informasi sudah sangat terjangkau, betapa beruntungnya kita karena akses belajar tentang pernikahan dan pengasuhan juga bisa dengan mudah didapat dari mana saja. Seminar pra-nikah dan kajian parenting selalu ada, paling tidak sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali. Rekaman kajian yang membahas dua hal fenomenal itu juga bisa dengan mudahnya kita download dari internet. Buku-buku juga sudah banyak ditulis oleh para pakar dengan bahasa yang chewable dan mudah dipahami. Hayooo, kalau kamu masih engga belajar juga, mau ngeles gimana lagi coba?

Disadari atau tidak, ketika kita mempersiapkan diri dengan ilmu, sedikitnya pasti akan muncul harapan ideal tertentu dari diri kita tentang kehidupan pasca menikah, salah satunya adalah harapan agar semua ilmu pra-nikah dan pengasuhan yang pernah didapat sekarang sebelum menikah bisa diaplikasikan di kehidupan rumah tangga nanti setelah menikah.

Wajar gak sih punya harapan-harapan kayak gitu? Hmm, kalau diskusi sama yang sudah menikah, mereka bilang katanya itu wajar, kok! Anak muda macam kita ini memang suka idealis terhadap banyak hal, termasuk terhadap konsep pernikahan dan pengasuhan, “Rumah tangga aku nanti akan begini dan begitu, aku akan mendidik dan mengurus anak dengan metode ini dan itu, blablabla …”

Terus, kalau semua yang kita harapkan itu gak terjadi, mau gimana?

Kemarin, saya dan beberapa teman di komunitas parenting pra-nikah yang saya ikuti sempat berdiskusi dengan teteh kami yang sudah menikah. Dalam obrolan ringan kami itu, teteh sempat bilang, “Aku salut banget sama kalian yang semangat banget belajar sebelum nikah, apalagi sama yang cowok-cowoknya, keren banget sih semangatnya! Hmm, tau engga, waktu itu aku sempat mau sharing sesuatu sama kalian di grup, pas udah aku ketik, aku hapus lagi semuanya. Tadinya aku mau ceritain pengalaman aku yang didapat setelah menikah, yang ternyataaaa beda banget sama apa yang dipelajari sebelumnya. Tapi, aku gak mau matahin semangat kalian.”

Kami pun penasaran, kemudian teteh melanjutkan ceritanya, “Aku pernah baper banget gara-gara ngeliat postingan orang di sosmed. Aku jadi membanding-bandingkan kenapa suami aku engga begini dan begitu, kenapa anak aku engga se-anteng anak orang yang dipost di sosial media dan kenapa mainan yang aku buat doesn’t really works kayak mainan yang dibuat ibu-ibu lain di Instagram. Ternyata, kunci dari semuanya adalah berdamai dan menerima diri sendiri, aware kalau apa yang akan terjadi di keluarga kita memang akan berbeda dengan apa yang terjadi di keluarga orang lain, apalagi dengan apa yang dibilang di teori. Aku sadar, ada yang belum selesai dengan diriku kalau aku terus-terusan baper begitu. Setelah aku aware dan belajar menerima, aku merasa semuanya jadi lebih baik karena aku bisa menerima diriku, pasanganku dan anakku dengan lebih baik juga.”

Noted! Poin pertama: menerima dengan penerimaan yang utuh terhadap diri sendiri, pasangan, anak dan keluarga. Hal ini bisa membuat kita sadar tentang apa yang perlu kita ubah/perbaiki, supaya kita bisa memandang rumah tangga kita kelak dengan lebih positif.

Teteh melanjutkan ceritanya, “Sebelum menikah, aku juga belajar dulu ini dan itu. Ternyata, apa yang aku hadapi setelah menikah casenya memang beda. Ini tentu bukan berarti jadinya kita gak perlu belajar, semua pembelajaran sebelum nikah itu penting banget buat bikin kita sadar dan ingat lagi. Tapi, kita juga harus banget adaptif sama keadaan.”

Noted lagi! Poin kedua: sebelum menikah harus tetap belajar, karena kesadaran bisa muncul dari adanya ilmu. Tapi, kita tetap harus adaptif sama keadaan dan harus sadar kalau studi kasus di buku atau cerita dari pakar parenting tentang kehidupan pernikahan dan pengasuhannya pasti akan berbeda dengan apa yang kita alami nanti.

Kyaaa! Tetap semangat, ya, jangan kendor semangatnya! Belajar dan mempersiapkan diri itu bagaimana pun perlu banget dilakukan! Kita memang gak bisa nebak akan seperti apa kencangnya ombak yang akan kita temui ketika berlayar nanti, tapi belajar berenang dan berlatih mengasah sikap positif terhadap kondisi-kondisi yang mungkin datang tiba-tiba tentu jauh lebih baik daripada bersikap pasrah dan hanya menunggu sampai akhirnya tenggelam. Yup! Preparing the unprepared.

Senior saya yang lain pernah bilang, katanya, “Menikah dan mengasuh itu perlu ilmu, dek! Menikah kan menggenapkan separuh agama dalam rangka ibadah, terus kamu mau ngejalaninnya tanpa ilmu? Serem kali dek kalau gitu! Terus, anak itu kan amanah dari Allah, mengasuhnya berarti menjalankan amanah dari Allah juga, masa iya mau melakukannya tanpa bekal ilmu?”

Nah lho! Yuk kita niatkan agar belajar dan persiapan diri yang kita lakukan ini menjadi bentuk persiapan untuk beribadah kepada-Nya dengan lebih baik ;)

Menghadirkan Diri Sepenuhnya

Masih belajar buat menghadirkan diri sepenuhnya.

Main bersama anak bukan hanya sekedar membawanya ke tempat bermain, tersenyum saat ia melambaikan tangan dari kejauhan, atau bantu membangunkannya saat anak terjatuh aja. Main bersama anak artinya memosisikan diri satu dunia bersamanya dengan tetap tidak menanggalkan peran ayah.

Anak butuh teman bermain yang antusias saat diajak berlari, memperhatikan dengan seksama saat diajak bercerita, menolong saat ia membutuhkan, dan memberikan apresiasi saat ia melakukan hal-hal yang menurutnya sebuah pencapaian. Memiliki orang terdekat yang juga selalu menjadi teman penuh pengertian, tentu akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri buat anak. Dan menjadi seorang teman tak tergantikan, dimana anak bisa menaruh semua rasa percayanya saat ia ingin berbagi cerita dan rahasia, adalah salah satu pencapaian besar bagi seorang ayah. Karena artinya, kehadirannya bukan cuma hanya figuran semata. Sosoknya juga menjadi tak tergantikan, karena ia telah menjadi teman nomor satu di hati anaknya.

Di saat yang sama, anak juga membutuhkan sosok teladan yang bisa menjadi sumber inspirasi dan tempat bertanya. Role model yang ketika melihatnya, anak selalu terdorong untuk menjadi lebih baik. Yang ketika bersamanya, ia selalu menemukan dan mempelajari hal baru. Dan ketika berbincang dengannya, ia selalu bisa mengambil sesuatu yang bisa ia amalkan kemudian. Menjadi sosok seperti ini pastilah tidak mudah, namun sesulit apapun itu, sungguh, anak sangat layak mendapatkannya. Karena ayah adalah benteng pelindung anaknya di era transparan seperti ini. Jika bukan sang ayah yang meletakkan pondasi keimanan, kepercayaan diri, kekokohan pola pikir, dan kemuliaan akhlak pada diri sang anak, lalu siapa lagi?

Menghadirkan diri sepenuhnya buat anak dimanapun dan kapanpun adalah pembelajaran bagi seorang ayah seumur hidup. Karena tanggung jawab ayah tak hanya memastikan anak bertumbuh dewasa hingga akhirnya menikah. Dimensi tanggung jawabnya jauh melebihi itu. Ayah juga harus memastikan sang anak mampu menjadi insan yang tak hanya bermanfaat di hadapan manusia, namun juga mendapatkan tempat terbaik di hadapan Rabbnya.

Zaky Amirullah | Seri Tulisan Singkat

Lelaki Patah yang Memilih Tidak Utuh Lagi

Darimu, aku belajar bagaimana menjalani kesendirian. Berteman baik dengan kesepian, sesekali bercerita tentang hari yang dilewati atau senja yang ditunggui. Darimu, aku belajar bagaimana rasanya duduk sendirian di bangku taman sesorean, menatapi keramaian orang-orang. Ibu yang mendorong jagoan kecilnya di kereta bayi, anak-anak kecil berlarian menyeruak gugur daun yang mulai menguning, dan pasangan kekasih yang bergandengan tangan.

Segala yang pernah kulakukan bersamamu, tampak di hadapan pelupuk mataku. Seperti kaset yang diputar berulang kali. Sudah bulan keenam dan aku masih saja belajar. Mungkin aku seseorang yang bodoh. Meskipun badai dengan lantang menghentak-hentak, aku masih saja berdiri di sini. Seolah menghadapinya adalah takdir yang harus dilewati.

Entahlah, aku sudah tidak tahu apa lagi. Semua janjiku taklangsai. Runtuh seketika. Rasanya kata-kata yang pernah kuucap untukmu rantas begitu saja. Menguap bersama udara. Aku lelaki yang selalu menepati janji. Tapi untuk yang satu itu aku takbisa melakukannya:

Menggenggam tanganmu di hari ulang tahun pernikahan kita yang ketujuh. Membawamu ke tempat yang kujanjikan.

Tujuh adalah angka kesukaan kita berdua. Atas alasan itu, kita setuju untuk dipersatukan. Takperlu menjadi kelu atau bisu. Kita cukup menjadi sederhana untuk saling mencintai. Mengerti seperti apa rasanya saling memiliki. Dan kamu mengajarkanku semua itu. Mengubah sudut pandangku yang menganggap bahwa dunia ini bergerak dengan kaku. Orang-orang terbuang sepertiku, yang takbisa berbuat apa pun untuk keberlangsungan hidup ini, hanya bisa meringkuk di antara malam dan sudut kehidupan yang gelap dan pengap.

Darimu, aku belajar bahwa hidup ini bukan sekadar sadar takbisa berbuat apa-apa. Siapa pun, termasuk aku, punya arti. Punya alasan mengapa dilahirkan ke bumi ini. Bahwa Ibu takkan sia-sia melahirkanku dari rahim bahagia yang dia damba selama ini. Aku saja yang belum paham bagaimana kehidupan ini berjalan, ucapmu dulu.

Aku mencoba percaya! Ya, aku mencobanya! Darimu aku belajar untuk percaya. Bahwa aku adalah sesuatu. Ya, sesuatu untuknya. Hingga dia takbisa kehilanganku.

Ya, aku pun takbisa kehilangannya. Dia yang mengulurkan tangan saat aku terjatuh dalam jurang sepi. Dalam neraka kesendirian yang menusuk jantungku bertubi-tubi tanpa kenal waktu. Hanya dia yang mengerti seperti apa rasanya hidup sendiri, kehilangan orangtua saat masih kecil, dan melewati hari di panti. Kamulah yang mengajarkanku bagaimana mencapai batas kesunyian.

Tapi hebatnya, kamulah yang membuatku belajar bagaimana menghadapi kesendirianku lagi.

Aku pernah berjanji, bahwa angka tujuh akan menjadi angka spesial untuk hidup kita. Maka, di hari ulang tahun ketujuh, aku berjanji membawamu ke suatu tempat yang akan membuat pipimu memerah dan berdecak kagum.

Aku ingin membawamu ke sebuah gunung, di mana kamu bisa melihat lautan langit yang tak berujung. Aku ingin membawamu menyelami kesunyian yang resap dan dalam. Aku ingin mengajakmu rebah di atas rerumputan dan menatapi langit. Jika kamu takut atau tak kuat mendaki, akan kubawa kamu ke lepas pantai. Mendirikan tenda di atas pasir, lalu kala malam tiba, kamu akan bisa menikmati senyapnya suasana dan lautan langit. Ditemani oleh debur ombak.

Selama ini kamu selalu memintaku untuk mencintaimu dengan sederhana, dengan rindu yang menggelegak dan bergemuruh di dalam dada, dengan kata yang tak bisa diberi oleh hujan di matamu, karena kutahu, aku akan selalu mencintaimu. Dalam-dalam. Hingga akhir waktu.

Dan kini, darimu aku belajar hal lain. Aku belajar memahami kehidupan lebih dalam lagi. Perihal melepaskan. Perihal kehilangan. Perihal neraka kehidupan yang lama kulupakan. Kepergianmu enam bulan lalu, di hari ulang tahun ketujuh kita, setelah sebuah kecelakaan yang merenggutmu—tidak denganku, membuatku selalu memaki diri sendiri setiap hari.

Tuhan, mengapa bukan aku saja? Aku rela mati untuknya. Aku rela berkorban agar dia baik-baik saja.

Tapi, bagaimana perasaannya jika itu benar-benar terjadi padaku? Dan pertanyaan itu muncul setelah jawabannya justru kudapatkan. Tepat, di hari kepergianmu.

Dan inilah perputaran hidup. Aku sendiri. Lalu bahagia denganmu. Lalu sendiri lagi. Akan selalu begitu sampai mati. Sampai aku sadar bahwa aku memang tak berarti apa-apa di hidup ini.

Entahlah, aku hanya ingin menikmati duduk di bangku taman ini sekali lagi. Sebelum memutuskan, bertahan atau ikut pergi.

SELESAI

Untuk setiapnya ibu ayah, terima kasih kerana selalu ada dan bersabar. Terima kasih tidak awal mengalah dengan anakmu yang degil dan kurang betah ini.

Terima kasih kerana masih sudi jadi pemeluk walau kadangkala kami ini teruk.

Maafkan kami yang masih berjiwa membentak.  Yang kadangkala degilnya bagai nak rak.

Doakan kami agar menjadi anak yang membawa kalian bergembira di syurgaloka. Kerana kami ini masih merangkak; belajar taat dan setia.

—  arnamee

anonymous asked:

Mas qur, tinggal di surabaya ya mas? Sudah dapat jodoh belum? Kalau tak perhatiin mas qur iki cocok sama mbak itu deh 😂 (anak tumblr juga) 😂

Mbak siapa? 

Iya, sementara masih di Surabaya.

Belum, saya masih harus menyelesaikan dan belajar beberapa hal selain amanah sebagai Ketua Umum Jomblo Warrior 1718, insyaAllah akhir taun depan diusahakan.

*Bukan promo, cuma ngiklan. Saya jawab gini abis kadang pusing juga ditanya-tanya : 

Junior kampus : “Mas kapan nikah? Yang lain udah noh..” *Lha terus? -_-
Senior kampus : “Ngga, ditunggu undangane…” *Ini lagi gak bosen2 -_-
Asatidzah di ma’had : “Lho kemarin darimana kok nggak keliatan, lamaran ya?” *Ustadz juga bisa nggosip ternyata -_-
Senior lain : “Mblo ngenes banget sih kamu mblo, tulisanmu dear my future terus, nikah sono… XD” *hadeh -_-

Setidaknya, Aku Belajar

Mencintaimu, aku banyak bersabar
Dicintaimu, aku banyak belajar

Berpisah denganmu
Karena alasan ini dan itu
Membuatku menyadari sesuatu

Aku belajar
Bahwa banyak melarang saat kita belum halal
Ada kesia-siaan yang tak perlu

Aku belajar
Bahwa di atas apapun yang kita anggap penting
Restu orang tua jelas masih lebih penting

Aku belajar
Bahwa ada beberapa beda
Yang memang tak bisa dimaklumi bersama
Apalagi sampai tahap keluarga

Aku belajar
Bahwa tidak menghargai perasaan
Adalah salah yang besar
Lalu, salah satu bisa meninggalkan

Aku belajar
Bahwa meski cemburu itu perlu
Ia tetap tak layak dilakukan dengan terlalu

Aku belajar
Bahwa berbicara dari hati ke hati
Sangat perlu dilakukan
Walau dengan hati-hati

Aku belajar
Bahwa tak berguna menggenggam begitu erat
Karena yang tak ditakdirkanNya
Akan tetap jauh dari dekat

Setelah detik ini
Aku akan berujar :

“Berpisah denganmu, aku tidak bahagia
Namun setidaknya, aku belajar.”

Medan, 10 September 2015

- Tia Setiawati

Tentang Masak dan Ketakutan

Sesungguhnya saya adalah tipe perempuan yang suka menabung ketakutan dan kekhawatiran. Terutama tentang masa depan, salah satunya ketika saya nanti menjadi seorang Ibu. Saya sedang dalam proses menyelesaikan studi yang masih berfokus pada Teknologi Pangan tapi khususnya bidang perikanan. Atau lebih mudahnya, saya bagian pengolahan hasil perikanan. Yang saya pelajari bukan seperti yang kebanyakan orang kira mengenai jurusan saya, “ternak ikan”, kata mereka. Salah besar. Huhu. Mungkin yang kuliah Teknologi Pangan lebih paham karena masih satu aliran. Karena belajar dibidang ini membuat saya sedikit tahu tentang makanan dan apa-apa yang berbahaya di dalam jajanan di luar sana.

Ketakutan yang saya tanam semenjak kemarin adalah saya takut anak saya jajan ‘sembarangan’. Saya khawatir dengan keadaan pangan apalagi jajanan anak-anak yang saya kira pengolahannya jauh dari standar. Orang-orang makin sembrono memasukkan bahan ini itu ke dalam makanan. Kalau sekarang saja separah ini, bagaimana nanti ketika saya sudah menjadi ibu? 

Untuk mengatasi ketakutan semacam itu, saya berprinsip saya harus bisa masak segala macam resep supaya anak-anak dan suami tidak harus jajan di luar. Mungkin masih ada perempuan di luar sana yang beranggapan, “Ah, nanti juga bisa masak kalo udah nikah.”. Tapi saya lebih memilih mempersiapkan dari sekarang. Sebenarnya awal saya belajar masak bukan karena ini, tapi karena keinginan saya sendiri untuk belajar. Sewaktu kelas 6 SD saya minta diajari masak dengan Ibu. Lalu, saya meminta ibu untuk ‘pensiun’ dari dapur. Karena saya ingin belajar dan benar-benar mempraktekkan. Hasilnya? Hehe masakan saya sering dikomentari sama alm. Oom (adik ibu) yang memang tinggal serumah dengan kami. Segala kekonyolan dalam dunia permasakan sudah saya lalui. Kadang sampai sekarang pun sering. Haha. Tapi bukankah memang itu yang namanya belajar?

Semakin kesini saya semakin paham kenapa saya harus bisa masak. Saya ingin masakan saya yang menjadi masakan kesukaan anak-anak dan suami. Karena menurut saya, mungkin salah satu kebahagiaan dari seorang ibu adalah ketika masakannya paling ditunggu-tunggu. Dan, bisa jadi nanti saya harus sedikit berkorban. Pengorbanan yang mungkin banyak dilakukan para Ibu, adalah mengutamakan menghidangkan masakan yang digemari anak-anak dan suami ketimbang dirinya sendiri. Karena yang paling penting bagi Ibu adalah anak-anak dan suami doyan dan lahap makan.

Dan, teruntuk perempuan-perempuan yang memilih prinsip seperti saya, semoga dimudahkan dan terus menabung kesabaran hehe. Karena masak selalu butuh banyaaaak kesabaran. Semoga kita semua bisa menikmati prosesnya. Untuk yang memilih prinsip lain, tidak perlu ada batas perbedaan kan? 

Selamat memasak. Selamat belajar :)

Malang, 21 Maret 2017.

KITA

Terbilang sudah kita menggenapi pijakan demi pijakan dalam kebersamaan. Meski rasanya seperti baru kemarin, namun apa yang telah kita lalui bersama tak bisa disebut biasa saja.

Ya! Sembilan tahun, sayang. Kita telah sampai sejauh ini. Apa yang dilakukan oleh waktu kepada kita? Kurasa inilah saatnya untuk menengok ke belakang, tepat disaat kita membangun mimpi agar tetap bisa berjalan beriringan dan menjadi hebat bersama.

Berpetualang denganmu, bertumbuh dan berproses mengenal diri bersamamu adalah moment yang tak pernah ingin kuganti dengan apapun. Walaupun tak selalu berujung tawa, namun tak berarti perih di nganga luka dapat menghentikan langkah.

Karena, kita adalah dua manusia yang masih terus belajar memahami diri untuk menjadi pribadi utuh. Maka, setiap langkah yang kita pilih adalah proses berharga dan pantas kita syukuri.

Untuk itu pula, tak ada kata selain terima kasih atas kesempatan ini. Aku akan menemanimu tanpa kata, ketika sunyi yang kau butuhkan. Sebab rasa yang tak terpaksa lebih mudah dalam menjembatani hati dan tak kan hilang terhisap oleh sang waktu. Pun akan kunyalakan terang, jika inginmu ialah berjalan dengan tenang untuk mencapai satu demi satu harapan-harapan kita.

Inginmu tentu inginku juga, percayalah, sayang. Jangan surut ataupun tersudut. Kita ‘kan tetap menjadi kita. Dahulu, kini dan nanti.

Belajar dari banyak hal hal untuk tidak pernah menuntut dan memaksakan kehendak seseorang.
Hanya ingin mencoba lebih tidak egois karena hal sepele dan memilih mengalah.
Apakah sikap itu benar?
Kalau salah tolong beritahu bahwa itu salah.
Tetapi disisi lain saya pernah egois dan bersifat kekanak kanakan.
Masih terus belajar sedikit demi sedikit.
Sifakir ilmu.
Masih butuh dibimbing dan diberi wejangan. Jangan diam saja itu tidak baik.
Kalau salah iya ditegur.
Sepucuk Surat Dari Ayah dan Ibu (copas)
Anakku,

Ketika aku semakin tua aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku…

Suatu ketika aku memecahkan piring.. atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku.. Orang tua itu sensitif selalu merasa bersalah saat kamu berteriak..

Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, Aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!” Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya…

Maaf, Anakku…

Aku semakin tua…, ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun… seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan..

Aku mohon, jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang kukatakan, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku… Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku….

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan..

Maafkan juga bauku tercium seperti orang yang sudah tua… Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi.. Tubuhku lemah..  Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin.. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu…

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, Aku selalu mengejar-ngejar kamu.. karena kamu tidak ingin mandi..

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku, ketika aku selalu rewel.. Ini semua bagian dari menjadi tua,…kamu akan mengerti ketika kamu tua…

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, bahkan untuk beberapa menit… Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak bicara..

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan, bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu… Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu..

Ketika Saatnya tiba.. dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku…

Maaf, kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan… Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku, aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama…

Ketika waktu kematian ku datang…,  aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian…

Ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta… aku akan berbisik padaNya untuk selalu memberikan berkah padamu karna kamu mencintai Ibu dan Ayahmu…Terima kasih atas segala perhatianmu, nak…

Jangan karena hijab dan gamismu sudah panjang dan sering datang ke majelis-majelis ilmu, lantas memandang kami yang masih belajar memakai hijab menutup dada dan masih sering menggunakan celana jeans ini sebagai seseorang yang tidak lebih baik darimu.


Setidaknya kami sedang belajar memperbaiki, tolonglah jangan menghakimi seolah kami ini tidak sholehah sama sekali.

—  Yang saya pahami, yang membedakan setiap manusia di mata Allah adalah ketaqwaannya. Dan yang menilai seseorang sholeh/ah atau tidak itu Allah, bukan pandangan matamu.
Y.O.L.O (Kekanakan)

Dewasa itu perlu, tapi jangan pernah lupakan sifat-sifat baik semasa kamu menjadi anak-anak

-Hujan Mimpi-

Umur bukanlah sebatas angka yang bertambah setiap tahunnya. Umur bukan pula hal yang dirutuki sebab kau tahu napasmu kian berkurang waktunya. Umur tak bisa menjadi acuan kedewasaan seseorang dalam bersikap, bertindak maupun melakukan pilihan. Umur memang tak bisa menjadi tolok ukur sebuah perbuatan. Itu pula sebabnya mengapa umur tak bisa menjadi dasar untukmu memberikan penilaian terhadap orang lain terkait baik-buruk atau benar-salahnya sesuatu hal.

Sebut saja ketika seseorang meluapkan rasa marah atau kecewanya dengan meninggalkan orang-orang yang saat itu sedang berhadapan dengannya, bukan berarti dia kekanakan. Bukan berarti dia tak dewasa sehingga memilih kabur padahal tahu ada masalah yang belum usai. Aku bukan sedang membenarkan sikap tersebut, tapi kau cukuplah mengerti untuk tidak langsung menilai hal tersebut sebagai sikap kekanakan. 

Sikap dan sifat seseorang terbentuk dari lingkungan seperti apa yang membangunnya, dari pelajaran apa saja yang telah dia ambil semasa hidupnya. Kau tahu hidup penuh dengan pelajaran, anggaplah dia masih belajar untuk mendewasa dengan cara yang saat ini dia ketahui. Bila memang apa yang dia lakukan adalah hal yang tak sepantasnya dilakukan ‘orang dewasa’, biarkan saja hingga ia tenang. Lantas setelahnya dekati dia dan berikan pemahaman dengan cara yang mudah untuk dia pahami. Bukan malah men-judge dia masih anak-anak karena melakukan hal-hal itu. Kau seharusnya paham betul, judgmental akan melekat pada alam bawah sadar seseorang ketika terus-menerus diucapkan.

Tak semua hal tidak baik bisa kau sebut sebagai sikap kekanakan. Memangnya anak-anak hanya memiliki sikap negatif saja? Begini, dewasa memang perlu untuk dimiliki seiring waktu yang berputar di hidupmu. Tapi, ada beberapa sikap dan sifat anak-anak yang perlu kau tanam dan kembangkan di hidupmu meski menua sudah mutlak milikmu saat ini dan keesokan hari. Semisalnya saja, anak-anak mendo'akan temannya bahkan orang lain yang tak dia kenal, tanpa mengenal pamrih sama sekali. Mereka berdo'a semata karena mereka tahu, saat tak ada hal yang bisa dilakukan untuk membantu, setidaknya do'a sudah lebih dari cukup. Mereka berdo'a tanpa berharap esok akan mendapat balasan yang setimpal atas apa yang mereka do'akan di hari ini. 

Itu terkait dengan mendo'akan, satu contoh yang kiranya sering kita abaikan karena terlalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang tidak ada habisnya. Lalu bagaimana dengan kebiasaan anak-anak ketika membantu temannya ataupun membantu sesama? Memberi tanpa tedeng aling-aling sedikitpun. Bisa pahami apa pelajaran yang dapat kau ambil lagi setelahnya? Bila belum, mungkin kiranya kau perlu menyelami sikap dan sifat anak-anak lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk tumbuh dan mendewasa, bahkan memberikan penilaian atas sikap atau pilihan hidup orang lain.

Tak ada yang salah bila kiranya kita memang harus kembali pada masa kanak-kanak kita;mengenang. Entah dengan menggali memori di benak. Entah dengan langsung berinteraksi dengan mereka–anak-anak. Agar kita cukup mengerti bahwa semua hal tak baik yang diselesaikan dengan cara instant bukanlah sikap kekanakan. Mengertilah, kita tumbuh dan mendewasa karena lingkungan yang membuat kita beradaptasi. Mengertilah bahwa hidup sejatinya selalu memberikan pelajaran. Mendewasalah dengan sikap baik anak-anak yang lekat pada pribadimu, sebab You Only Live Once :)))

Hujan Mimpi
Tangerang, 24 Mei 2016

Kepada Fajar

Selamat pagi, fajar! Jangan segera meninggi, aku lebih mencintaimu yang mengintip malu-malu di antara gugusan tulang-tulang daun pinus.

Cahayamu menjari, menembus tanah hutan yang basah. Ia menyapa hangat batang-batang lembut para cendawan, memeluk mereka yang pucat dan yang pekat.

Kau mencintai bumi dengan pelan dan sunyi, tak ramai, tak terang, tapi begitu dirindukan burung-burung dan embun yang muncul sebagai perawan; suci.

Kau yang begitu, mengingatkanku pada para pecinta yang memilih diam dalam menikmati perasaannya. Mereka, malu-malu mencintai, rindu, dan cemburu.

Mereka khatam soal perih akibat luka, dari yang biasa hingga semena-mena. Mereka khatam soal dipukultelak kenyataan yang tak selalu baik. Mereka tangguh, hangat ketika orang yang dicintainya masih jauh terlelap. Mereka belajar rela setiap harinya.

Fajar, adakah yang lebih pijar darimu setiap paginya?! Adakah yang lebih tabah darimu yang mengalah ketika matahari siang mulai menjajah langit, menyengat para pejuang gagah berbekal peluh yang tak mau kalah?!

Kepadamu fajar, hingga pagi ini, aku mengagumimu. Lengkap dengan semua yang ada di siang dan malamku.

Bila dah 25.
Masih lagi belajar,
Orang sibuk bertanya,
Bila nak kerja?
Bila nak kahwin?

Bila dah 25,
Dah ada kerjaya,
Yang tak semegah mana
Cukup sekadar apa yang ada,
Orang sibuk bertanya,
Bila nak kahwin?

Bila dah 25,
Dah kahwin.
Dah ada kerjaya,
Dah habis belajar,
Oh orang masih lagi bertanya
Perihal anak pula.

Alahai ibu ayah,
Mak cik pak cik,
Atuk nenek.
Wahai sekalian makhluk,
Meh saya nak bercerita,

Siapa yang tak nak habis belajar diusia muda?
Siapa yang tak nak dapat kerjaya yang hebat?
Siapa yang tak nak kahwin?
Siapa yang tak nak anak?
Kami nak.

Ada orang rezekinya pandai dalam akademiknya,
Tapi, lambat kerjayanya dan pernikahannya
Ada orang rezekinya hebat dalam kerjayanya,
Tapi, kurang dalam akademiknya dan pernikahannya,
Ada orang rezekinya memiliki segalanya di usia muda,
Tapi, dia diuji dengan cara berbeza.

Bukankah Dia dah tetapkan rezeki kami?
Dengan cara yang berbeza?

Bukan niat kami ingin melatah,
Apatah lagi membelakangkan kalian,
Jauh lagi ingin mempersoalkan tindakan kalian,
Kami tahu soalan itu sekadar bertanya,
Mengambil kisah dan prihatin tentang hidup kami.

Cuma kami ingin pengertian kalian,
Andai kalian membaca,
Andai kalian mengerti,
Doakanlah yang terbaik buat kami,
Semoga doa kalian membuka pintu-pintu rezeki kami,
Dari arah yang berbeza.

- Aku 25

Selama ini, aku cukup kesulitan dan masih terus belajar untuk menyayangi diri sendiri. Maka, jika aku dengan mudah bisa menyayangimu, mungkin karena aku hanya butuh sesuatu untuk disayangi selain aku.
Writing Project : Nulis Puisi Yuk

Punya tumblr buat apa sih? Nggak mungkin dong cuma buat ngutip tulisan orang (apalagi sampai lupa nyantumin nama penulisnya). Ya kalau menurut Tikcil sih, akan lebih baik kalau tumblr diisi sama tulisan sendiri. Biar apa? Biar bisa terus semangat berkarya atau biar nggak perlu pusing-pusing nyomot tulisan orang buat dijadiin caption di instagram. Ya, kan udah punya tulisan sendiri. Dipakai dong. Ya, itu cuma contoh aja sih. Tapi jujur memang dari situlah, latar belakang diadakannya writing project Tikcil ini. Pernah denger kelas inspirasi kan? Ya ini mungkin bisa jadi semacam itu tapi bedanya ini adalah tet tereeeeet … “kelas puisi.”


Kenapa puisi?

Karena puisi adalah bentuk dari ekspresi suara hati. Nah untuk menjadikan puisi bisa lebih indah dan bermakna, maka mengembangkan potensi diri untuk terus latihan menulis dirasakan sangat perlu. Diperlukan juga komitmen yang diciptakan diri sendiri untuk rajin-rajin menulis. Tikcil juga masih belajar kok. Kita sama-sama belajar yuuuk.  Tikcil pikir, memiliki teman yang memiliki kesamaan dalam sebuah hal sangatlah menyenangkan apalagi sama-sama punya keinginan untuk terus belajar menulis dan berkarya, waaaah bisa menjadi sebuah motivasi itu.


Tujuan kelas puisi apaan sih?
Biar bisa sama-sama belajar nulis puisi dan membuat diri semakin berkomitmen untuk menulis, untuk berkarya.


Bagaimana cara bergabung?
Tulislah minimal satu puisi dalam satu minggu (kalau bisa nulis lebih dari satu puisi ya malah bagus) – post di tumblr – cc in ke @rintikkecil. Jangan lupa juga kasih hestek writing projectnya ya #wptikcil dan #kelaspuisi. Setiap minggunya Tikcil akan memilih satu puisi terbaik yang akan Tikcil hadiahi puisi tulisan Tikcil sendiri dan (atau) akan Tikcil bacakan juga di soundcloud khusus buat si penulis terpilih. Jadi setidaknya dalam satu bulan kalian bisa menulis 4 tulisan, kan? Tikcil pun juga begitu. Impas kan? Seru kan?


Kapan dimulai?

Setelah diumumkannya postingan ini.


Kapan writing project ini berakhir?
Tidak ada batas waktu. Jadi sepanjang tahun. Sepanjang ia bisa bertahan. Maka dari itu, pada bulan-bulan tertentu, Tikcil akan memberikan hadiah tidak hanya puisi tetapi juga bisa hadiah lain, seperti buku.


Adakah tema-tema tulisan?
Bisa jadi begitu. Setiap minggu bisa berbeda-beda. Itu gampang, bisa diatur, bisa didiskusikan. Tapi kita bisa memulai mencobanya dengan tema bebas dulu.


Siapa yang boleh ikut?
Siapa saja yang suka nulis. Tidak ada batasan – usia, profesi, suku, agama.


Boleh ngajak temen gabung?
Boleh banget!


Mau ada diskusi?
Add aja Line Tikcil : (irayukii). Nanti bisa bergabung di grup “kelas puisi.” Tunggu apa lagi. Eh jangan lupa chat Tikcil dulu ya buat request gabung ke grup “kelas puisi.”


Any other question?

Ask aja.


Ps: sangat disarankan banget buat reblog/share postingan ini. Makacih! Semangat berkarya! :)


Salam hangat,


@rintikkecil

Kepada perempuan hebat yang selalu menangis ketika mendengar suaraku dari kejauhan…

Tahukah kau betapa aku pun merasa rindu yang tak tertahankan?
Karena kita masih belajar terbiasa
Untuk setiap hari saling tak bersua

Tahukah kau betapa aku pun menahan air mata, saat kudengar suara isakmu di sana?
Karena aku ingin menguatkan, saat salah satu dari kita melemah

Terima kasih…

Karena aku selalu tahu
Kau lah salah satu yang tak pernah berhenti mendoakanku
Kau lah salah satu yang selalu ingin aku baik-baik saja, walau mungkin kau sebaliknya

Kumohon tenanglah…
Karena pria pilihanmu dan Papa
Telah menjagaku lebih dari sekadar cinta

Tenanglah, Mama
Putri kesayanganmu baik-baik saja

Dan merindukanmu juga.

Medan, 2 Oktober 2015

- Tia Setiawati