masih belajar

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

tanya: thread perempuan

assalamualaikum teman-teman tersayang semuanya. beberapa waktu yang lalu, sahabat saya @dokterfina mengajak saya untuk bergabung dalam sebuah grup kecil tentang kehamilan dan perintilan kewanitaan lainnya. sejak saat itu, sesungguhnya saya teringat sesuatu.

berhubung sering ada yang menanyakan, ceritanya, saya merasa punya hutang tulisan (banyak sekali) tentang pengalaman saya seputar:
1. persiapan pernikahan dan pernikahan
2. persiapan kehamilan dan masa-masa kehamilan
3. masa-masa menyusui ASI eksklusif
4. (soon) masa-masa MPASI
dan sebagainya, yang intinya adalah soal kewanitaan dan keibuan. tapi bukan yang melibatkan perasaan begitu ya (wkwk), lebih kepada hal-hal yang teknikal. misalnya, bagaimana mengurus pendaftaran KUA, tips dan trik memilih pemompa ASI, dan teman-temannya.

beberapa kali saya ingin menulis dan membagikannya di akun Tumblr ini. namun, kok ya rasanya kurang pas berhubung pembaca di sini kan ada laki-laki ada perempuan, ada yang belum butuh dan sudah nggak butuh informasi-informasi macam itu. jadi, saya berpikiran untuk membuat akun Tumblr lain yang isi tulisannya akan seputar kewanitaan tersebut.

harapan saya nantinya, Tumblr tersebut akan menjadi wadah diskusi. teman-teman bisa saling berbagi cerita di kolom reply postingan-postingannya, bertanya lewat fitur ask, atau bisa juga ikut menjadi kontributor, men-submit cerita.

kenapa sih di Tumblr? padahal kan banyak pelantar obrol-obrol kewanitaan yang lain. karena, pertama supaya bentuknya tulisan (sekalian saya membiasakan menulis terus). kedua, karena kalau bentuknya grup what’s app atau grup-grup lain, saya merasa eman sebab tulisannya seringkali tenggelam. ketiga, karena saya sayang sama teman-teman di Tumblr semua (hueee #ciegitu). pinginnya sih, sesekali lah kita ngobrol yang agak-agak teknikal dibandingkan yang emosional. supaya kita lebih berdaya gitu.

jadi…
kalau teman-teman (terutama yang perempuan dan yang merasa membutuhkan) setuju dan mendukung proyek menulis kewanitaan ini, mohon jawab di kolom reply ya. “mau” atau “ayok mbak bikin” atau apapun bentuknya. kalau ada 50 orang yang bilang mau, insyaAllah proyek ini saya realisasikan sehabis lebaran nanti. kalau nggak sampai 50? ditunggu dulu deh, sampai lah ya 50 mah.

tentunya, saya bukan expert masalah kewanitaan ini. saya pun masih harus banyak belajar. saya berencana nantinya mengundang teman-teman lain yang sudah lebih berpengalaman untuk juga membagi tulisan, atau akan saya wawancarai mereka–kemudian hasilnya saya tulis.

gimana? mau nggak?
liefs.

(Tidak Lagi Ada) Foto

“Nov, kok di Menata Kala engga ada fotomu? Terus, di media sosial juga kok sekarang engga ada foto-foto wajah lagi sih? Paling dari poster-poster kegiatan, itu juga ga jelas. Apa yang membuat kamu take out foto-fotomu dari media sosial? Serius deh, aku penasaran banget!”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja dilontarkan oleh sahabat saya saat kami bertemu dua pekan lalu di salah satu tempat jajan di dekat ITB. Mendengar pertanyaan itu, sejujurnya saya kaget bercampur senang. Senang karena ternyata sahabat saya ini memperhatikan saya meskipun kami sekarang jarang sekali bertemu. Tapi, saya juga kaget karena ia adalah orang pertama yang dengan serius menanyakan pertanyaan itu kepada saya. Saya mengawali jawabannya dengan tawa, “Hahaha, apaan sih kamu? Dateng-dateng pertanyaannya serius! Hari ini pengennya ngobrol yang lucu-lucu aja sebenernya. Tapi, yaudah deh kalau mau deep discussion.” Lalu, apa yang menjadi jawaban saya kala itu?

MENGAPA TIDAK ADA FOTO WAJAH DI SOSIAL MEDIA?

Sejak hampir satu atau dua tahun ke belakang, saya mulai menghapus foto-foto saya di sosial media. Sebelumnya, banyak sekali foto saya bertebaran disana, termasuk juga foto-foto selfie yang jika saya lihat lagi sekarang rasanya malu. Awalnya, saya menganggap bahwa memajang foto yang wajahnya terlihat super-jelas itu wajar saja, toh semua orang juga melakukannya. Tapi, setelah saya memahami bahwa tampilan wajah seorang perempuan bisa menjadi fitnah bagi laki-laki, saya mulai menghindarinya. Jangankan saya yang tampilannya masih biasa-biasa saja, perempuan yang bercadar sekalipun ternyata bisa menjadikan laki-laki berangan-angan tentang kecantikannya. Lho? Saya tau dari mana? Dari cerita teman-teman saya yang laki-laki di komunitas ketika kami mendiskusikan tentang kasus kejahatan seksual. So, tidak memposting foto di sosial media ini saya lakukan untuk menjaga diri: menjaga diri saya dan juga menjaga orang-orang yang mungkin melihat foto saya.

TERUS, KAMU MERASA KAMU CANTIK?

Bukan, ini sama sekali bukan karena saya merasa cantik lalu saya takut kecantikan saya menjadi konsumsi publik. Saya mengakui kalau standar cantik seperti perempuan-perempuan yang menjadi model di iklan shampoo, lotion, pelembab, atau trend perempuan kekinian itu memang tidak bisa saya penuhi. Saya hanya perempuan biasa-biasa saja yang bahkan tidak punya tool kit make up dan minim skill dalam memoles wajah. Tapi, tentu bukan ini poinnya. Lalu apa? Poinnya adalah, ketika foto kita terposting di sosial media, kita tentu tidak bisa lagi mengontrol apa yang orang lain lakukan dengan foto-foto kita, kan? Bisa saja foto itu membuat orang lain merasa rendah diri karena membanding-bandingkannya dengan kita, atau bisa juga foto kita menjadi celah syaitan untuk memanjangkan angan-angan lawan jenis. Paham kan? Na’udzubillah.

LALU, BAGAIMANA DENGAN MENGABADIKAN MOMEN?

Ya, saya mengakui bahwa banyak sekali momen-momen penting yang memang tidak bisa diulang dan hanya bisa diabadikan dengan sebuah foto. Tapi, itu tidak lantas membuat foto (yang di dalamnya ada wajahmu terlihat jelas itu) menjadi wajib diposting di sosial media, kan? That’s why, saya lebih suka membagikan cerita di balik momen hanya dengan menyertakan foto ramai yang mungkin tidak terlihat juga sayanya ada dimana. Hehehe.

Begitu, teman-teman! Saya masih terus belajar dan mendidik diri tentang masalah ini. Mohon maaf jika ternyata masih ditemukan foto-foto lama saya di sosial media, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya. Kita belajar bareng-bareng, yuk! Saya yakin, Allah pasti akan memudahkan kita untuk bisa mengutuhkan pemahaman dan tindakan tentang sebaik-baik menjaga diri. Minta tolong terus sama Allah yuk, saudari-saudariku! Oiya, ini adalah opini pribadi, silahkan ambil yang baiknya, tak masalah kok jika ternyata kita berbeda pendapat. Bagaimana menurutmu?

Eh, kemarin Hari Kartini, ya? Selamat berjuang, perempuan-perempuan. Sebab, perjuangan yang sulit dan banyak godaannya adalah perjuangan untuk menjaga diri. Menangkan!

Mencari Mutiara Terpendam di Samudera Tumblr

Saya selalu senang menjelajahi samudera Tumblr untuk menemukan blog dan konten yang menarik.

Menarik dalam definisi yang luas dan subjektif; bisa berarti menginspirasi, mengharukan, menyemangati, menambah wawasan, menampar, menohok, membuat terbahak-bahak, dan lain-lain.

Sebagian bisa saya dapatkan dengan mengikuti blog yang sudah populer. Namun lebih menyenangkan rasanya ketika saya bisa menemukan mutiara yang terpendam; blog atau konten yang belum terkena sorotan panggung, namun tepat mengenai hati-pikiran saya.

Setelah saya amati, saya mendapatkan kesimpulan, bahwa blog dan konten yang seperti itu memiliki benang merah: (1) ditulis apa adanya dari seseorang yang berkarakter dan orisinil; (2) orang itu telah melalui banyak proses, baik berupa perjalanan hidup secara umum maupun berupa kebiasaan menulis secara khusus.

Saya sendiri masih belajar untuk menerapkan kedua prinsip tersebut–orisinalitas dan kemauan untuk berproses, dan saya menemukan banyak sekali manfaatnya, baik dalam kehidupan secara umum maupun dalam kehidupan tulis menulis (yang belum ada apa-apanya ini).

Nah, pertama saya ingin mengajak teman-teman yang membaca ini untuk tidak malu tampil orisinil dan rela menjalani proses.

Artinya kita harus mau tampil apa adanya sebagai anak ingusan yang karyanya masih jelek. Tidak masalah, semua yang sekarang keren pernah jelek dahulu kala, hanya saja kita tidak pernah melihatnya. Ini adalah proses yang harus ditapaki terus menerus, tidak bisa dilompati.

Kedua, saya dengan senang hati mau mem-follow kamu yang berusaha orisinil dan mau berproses–dan saya yakin ribuan pengguna Tumblr lainnya juga mau. Saya percaya kita bisa saling berbagi gagasan, hikmah, cerita, inspirasi, atau apapun yang menarik.

Bagi kamu yang satu frekuensi, silakan tanggapi postingan ini dengan komentar apapun (ingat, orisinil dan berproses). Bisa dengan reply atau reblog, agar pembaca lainnya bisa terpicu untuk mengunjungi blog kamu.

😁
Gimana kesannya ngga pakai Instagram ? Pastinya lebih tenang, Lebih menghargai waktu, Lebih sederhana memaknai kilaunya dunia sosmed, lebih menghargai setiap moment yang di lalui, lebih berkurang rumitnya rasa ingin dilihat dan ingin memperlihatkan.
—  Ini kata maya yang masih belajar memaknai prioritas mana yang manfaat mana yang rasanya perlu di kesampingkan :)
Apresiasi

Dear my dear self,

Enggak apa-apa. Silahkan sesenggukan dipojokan kamar nggak apa-apa. Sudah sejauh ini melangkah. Kamu kini hanya perlu tau satu hal, bahwa proses lebih berharga daripada hasil. Bukankah kamu sudah tahu bahwa dunia kini memang seganas itu? Kamu sekarang sudah kuat, kan? Kamu sekarang sudah paham betul kan cara menghadapinya? Setidaknya kamu sekarang sudah tak banyak ngerepotin orang lain lagi. Sudah mau belajar mandiri dan berani. Sudah mau mencoba berdiri diatas kaki sendiri. Sebab katanya mau tak mau, menjadi kuat adalah tanggung jawab pribadi.

Bersyukurlah. Ini bisa menjadi cerita hebat dan menarik untuk anak-anakmu kelak. Maka ketika mereka kamu ceritakan tentang hal-hal seperti ini, mereka akan dengan bangga menjadikanmu sebagai guru besarnya. Sebagai teladan terdekatnya. Sebagai cahaya didalam hatinya. Bahwa kamu adalah perempuan hebat dan kuat untuk mereka.

Ini tentang sebuah apresiasi untukmu. Agar kamu tak mudah lagi untuk mengeluh dan menyerah. Agar kamu tidak pesimis lagi dalam mencoba suatu hal. Agar kamu tau bahwa kamu superhebat. Agar kamu bisa lebih mudah memperbaiki masa lalumu yang sering sekali kamu permasalahkan. Dan kamu besar-besarkan. Agar kamu memiliki banyak alasan bersyukur dan mengikhlaskan. Menerima dan melepaskan.

Terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah bersedia mencoba berkali-kali dalam banyak hal. Terimakasih sudah memutuskan bangun lagi dari jatuh. Terimakasih sudah mencoba bangkit dari rasa hampir menyerah. Terimakasih sudah menghapus kata lelah untuk menghadapi semuanya. Pada setiap waktu, setiap detik, setiap keadaan dan setiap musim.  Ah, ternyata kamu sekuat itu bukan?

Terimakasih sudah mau belajar sejak taman kanak-kanak hingga diperguruan tinggi. Terimakasih sudah mau menjalaninya dengan sabar. Meski terkadang masih suka ngeluh, sesekali putus asa. Tapi kamu hebat, setidaknya hingga kini kamu tidak menyerah. Kamu masih ingin terus belajar.

Terimakasih sudah mau nurut orang tua dengan belajar ilmu statistika. Dengan belajar ilmu yang menurutmu bukan passionmu. Sudah mau memahami bahwa perkataan, saran dan nasihat dari seorang ibu adalah yang utama. Meski kadang juga masih bertanya-tanya, kenapa harus belajar ini dan itu?

Terimakasih sudah berusaha ta’dzim, hormat dan berakhlak baik kepada mamah bapak, kepada guru-guru, kyai, ustadz dan ustadzah. Kepada orang-orang yang lebih tua darimu. Terimakasih sudah mau belajar menyayangi kakak, menyayangi adik, menyayangi sepupu-sepupumu. Walaupun terkadang masih suka ngerepotin.

Terimakasih sudah mau mencoba berteman dan berbuat baik kepada teman. Semoga kamu hanya akan selalu mengingat kebaikan-kebaikannya dan cepat melupakan keburukan-keburukannya dimatamu—kepadamu.

Terimakasih sudah mau nurut sama Allah, sudah menjadikan Rosul sebagai panutan meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya sepenuhnya kamu telah mencoba. Terimakasih sudah mau belajar hidup sederhana dipondok pesantren, semoga kamu selalu istiqomah dan tidak tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dizaman milenial seperti ini. Terus dan seterusnya.

Terimakasih sudah mau mencoba menyelami, menghadapi kemudian memaknai lingkungan yang serba heterogen seperti ini. Dimana warna abu-abu selalu ada setiap saat. Dimana baik dan buruk bisa saja berkumpul dalam satu badan. Meski kadang merasa tidak cocok, merasa risih, merasa takut dan merasa tidak mampu, setidaknya kamu masih bertahan sampai sekarang, bukan?

Terimakasih telah memutuskan keputusan yang paling besar di dunia ini. Terimakasih sudah dengan mantap dan yakin telah menceburkan diri ke dalam dunia Al-Qur’an. Terimakasih untuk tetap bertahan hingga kini. Meski kamu tau bahwa menghafal itu konsekuensinya sangat berat jika tidak diperjuangkan hanya karena Dia. Meski jalannya terjal, curam dan berbatu. Tapi kamu yakin, jalannya pasti lurus. Semoga kamu tetap bisa bertahan sampai 30 juz. Semoga teman-teman seperjuanganmupun bisa bertahan sampai selesai juga. Dan bisa menjaganya dengan baik sampai nafas tak dikandung badan lagi.

Terimakasih sudah mau makan apapun asal halal. Tidak memilih-milih. Ah, dunia memang restoran terbaik dengan menu apapun! Tapi jangan banyak-banyak makan, ya. Nanti hatinya mati. Jadi ilmunya susah masuk.

Terimakasih sudah  bersyukur dilahirkan ditengah keluarga yang sederhana dengan caranya sendiri seperti ini. Meski kadang tak cocok dengan keputusan mamah, tak cocok dengan keputusan bapak. Tapi dengan kamu yang mencoba meruntuhkan ego-ego diri, kamu telah berhasil patuh kepada keduanya. Katanya anak boleh mikir, tapi orang tua lebih berpengalaman.

Terimakasih sudah mau bermimpi, memperjuangkan mimpi-mimpi juga meladeni mimpi-mimpi. Diluar sana banyak yang tidak berani bermimpi, banyak yang sudah menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat, kamu memiliki Tuhan yang hebat sejagad semesta. Yang menggenggam mimpi-mimpimu, lalu akan dilepaskan pada saat yang tertepat. Tugasmu hanya berdo’a, berjuang dan butuh sedikit menunggu lagi.

Terimakasih sudah mau membaca banyak buku. Meski kadang tidak sepenuhnya paham, setidaknya kamu sudah sepenuhnya mau memahami. Suatu saat kamu pasti akan dipahamkan oleh-Nya. Semoga hasil membaca-baca sekarang tak hanya sekedar menjadi bacaan, tetapi akan bermanfaat dikemudian.

Terimakasih sudah mau menulis. Menuliskan cita-cita. Menuliskan cinta. Menuliskan semuanya—menuliskan kehidupan. Semoga arah penamu yang berisi jatuh-bangun, semangat-menyerah, senang-sedih, kecewa-bahagia, dan pembijakan untuk diri sendiri bisa menjadi amal baik yang tak putus hingga ke negeri akhirat kelak.

Terimakasih sudah bersedia patah hati, bersedia menikam setiap rindu yang merasuk kedalam diri, bersedia menyimpan rasa-rasa aneh yang terkadang menganggu pikiran. Terimakasih sudah  mempersiapkan diri menjadi perempuan yang lebih baik untuk untuk kelak ditemukan dengan yang tertepat diwaktu yang paling tepat.

Terimakasih sudah mencoba menjadi diri sendiri disaat yang lain memakai bermacam-macam topeng pada wajah mereka. Terimakasih sudah berusaha memaknai setiap kejadian, setiap peristiwa yang kamu alami dan mengambil hikmahnya. Karena tak semua orang diberi ilmu hikmah.

Terimakasih sekali lagi. Ah, kamu ternyata sehebat ini.

Sudah selesai sesenggukannya? Dihapus, ya, air matanya. Yuk ah, bangkit lagi! Ngaji lagi!

Sudah disuruh senyum sama Allaaaah. Senyuuuuum. :))

Menghadapi Masa Lalu

Saya pernah berada di suatu forum pelatihan yang membuat sesenggukan, pasalnya di forum tsb bapak trainernya meminta semua peserta forum untuk berdamai dengan masa lalu sebelum merancang masa depan yang kita harapkan.

“Kunci dari menghadapi masa lalu adalah mengikhlaskan, bukan hanya memaafkan, atau melepaskan.”

“Kalau anda masih merasa kesal, benci, sedih, berarti anda belum sepenuhnya mengikhlaskan.”

Waktu itu kami diminta melingkar berlima. Perempuan dan laki-laki dipisah. Kami bergandengan tangan, dan memejamkan mata. Sedangkan bapak trainer masih saja memberi wejangan.

Saya menangis tak henti, sesenggukan sampai lemas ingin duduk. Karena jujur pada saat itu saya sedang mencoba berdamai dengan masalah-masalah saya saat ini dan yang terjadi di masa lalu. Rasanya bayang-bayang itu terus datang dan mengacak-acak lagi pikiran positif saya. Saya bahkan sempat pergi ke psikolog sebelumnya. Tapi tetap saja, tidak ada perubahan berarti. Saya masih sering menangis sendirian.

Saat itu, saya begitu merasa tertampar. Berarti selama ini saya belum mengikhlaskan takdir itu terjadi kepada saya. Saya belum mengikhlaskan cara Allah untuk menyampaikan hikmah kepada saya. Saya belum benar-benar baik-baik saja. Seolah memaafkan, tapi masih memupuk benci.

“Mintalah izin kepada Allah, mintalah bantuanNya, untuk meringankan dan mengikhlaskan semuanya. Karena barangkali kita terlalu sombong seakan bisa menyelesaikan semuanya, padahal tidak sama sekali.”

Sejak saat itu saya minta sama Allah. Supaya saya lebih ikhlas. Supaya saya bisa…mengikhlaskan semua masalah-masalah saya di masa lalu. Meski makan waktu bertahun-tahun, bahkan sampai saat inipun saya masih belajar.

Tapi saya yakin, pada satu titik saya akan benar-benar bisa mengikhlaskan semuanya. Dimulai dari memaafkan, dipupuk dengan syukur, dijalani dengan sabar.

Ternyata, ikhlaspun butuh diperjuangkan.

Jadilah Diri Sendiri Dalam Versi Terbaik

Semakin hari, semakin saya menyadari fakta bahwa barangkali kita hidup di zaman : menjadi orang lain adalah sah dan pantas dilakukan selama kita akan disukai, dicintai, dielu-elukan.

Pernahkah terpikir sebentar saja dalam benak kita bahwa :
1. Yang kita lakukan dengan menjadi orang lain adalah sungguh tidak perlu
2. Mereka yang menyukai kita belum tentu benar menyukai kita.
3. Mau sampai kapan memakai topeng?

Sungguh, bila tiga pertanyaan itu setidaknya bisa kita jawab, maka kita bisa mulai bertindak dan berubah.

Menjadi orang lain yang bukan kita, hanya agar disukai adalah kesia-siaan. Karena siapa yang tahan menjadi orang lain? Dalam waktu berapa lama kita tahan menjadi orang lain? Dan ketika kita mulai jenuh, apakah sosok kita yang sebenarnya, yang baru saja dikenal orang, akan dengan mudah diterima karena mereka telanjur mengganggp kita sebagai seorang pembohong?

Salah satu rahasia berbahagia di dunia ini adalah sederhana. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Dan bersyukur yang nampak paling mudah meski sebenarnya sulit adalah bersyukur atas diri sendiri. Sepenuhnya, seutuhnya, dan sesadarnya. Bagaimana kita hendak bersyukur terhadap apa adanya diri sendiri bila kita memutuskan menjadi orang lain?

Mencintai diri sendiri dimulai dengan bersyukur. Itulah mengapa masih banyak orang sulit mencintai dirinya sendiri, karena ia tidak dengan penuh, utuh, dan sadar, bersyukur atas dirinya sendiri, atas semua yang diberikan Tuhan pada dirinya.

Percayalah, pada satu titik dalam waktu hidupmu, kau hanya ingin dicintai sebagai dirimu sendiri, bukan yang lain.

Jadilah diri sendiri, dalam versi terbaik yang kau bisa. Tentu saja, menjadi manusia tidak boleh menyerah saat sadar bahwa diri masih perlu banyak belajar. Maka belajarlah. Jadilah versi terbaik dirimu sendiri.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 9 Februari 2017

Ketika Palestina Menyentuhmu

Sudah sejak sepuluh hari lalu, kami berkeliling Bandung Raya, menemani imam muda Mustafa Hussein Muthair bersafari membuka mata umat Islam tentang kondisi saudara mereka di Palestina. Beliau, didatangkan oleh NGO Aman Palestin, organisasi penyalur donasi yang telah masyhur di Malaysia dan akan membuka gerbangnya di Indonesia tahun ini.

Dari sekian kunjungan dihelat, dari sekian masjid yang kami singgahi, sekian lembaga kami datangi, selalu saja ada beberapa bapak dan ibu serta hadirin lainnya yang meneteskan air mata, tak sanggup menahan haru. Sesekali menunduk dengan mata yang sembab, ada juga yang bertakbir kemudian tangisnya pecah.
Ada rasa agung yang mempertemukan antara jiwa ksatria pejuang Palestina dan jiwa lembut penuh empati bangsa Indonesia. Jarak yang jauh memang tidak bisa membuat kami berada di lini depan perjuangan, namun dalam sebuah pasukan, akan selalu ada pasukan di lini belakang, dan itu jua penting.

Ketika permasalahan Palestina menyentuh hidup bangsa kita, itu rasanya kita seperti membayangkan sesuatu yang kita tidak tega hanya untuk memikirkannya. Rumah-rumah hancur, dan mereka masih bertahan. Sekolah dibom, dan anak-anak masih belajar di bawah reruntuhannya. Desa-desa ditenggelamkan air bendungan, dan mereka masih tetap kokoh melawan.

Musim panas tanpa atap, mereka biasa. Musim dingin tanpa selimut, mereka berusaha tegak membela. Untuk kesemua itu, kita akhirnya menyimpulkan; betapa lemahnya kita disini. Yang makanan ada, malah mudah membuang. Yang bangunan mewah, malah membuat malas. Yang masjid bertebar kokoh, namun malah ditinggal.

Ketika Palestina menyentuh hatimu, kamu akan sadar hidup ini terlalu mahal untuk terlena saja. Kita menangis untuk Palestina bisajadi bukan karena kita kasihan, tapi karena kita malu. Bukan karena kita iba, tapi karena kita cemburu. Cemburu, untuk menggantikan posisi mulia mereka, tapi kemudian menangis lagi, karena pertanyaan selanjutnya adalah; apakah kita sanggup melakukannya?

Jangan linglung setelah tahu. Bukan masanya bingung berbuat apa setelah paham apa kondisi mereka. Selalu, doa dan bantuan materil, itu yang jadi kelebihan kita, yang bisa kita lakukan untuk menguatkan mereka di garda depan.

Allah akan tanyakan pada kita kelak di padang mahsyar, satu persatu, tentang apa yang telah kita perjuangkan untuk Al Aqsha. “Apakah kamu sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan-Nya di hari itu?”, narasi DR Amal Khalifah, Aktivis Palestina.

@edgarhamas

3 Rahsia Yang Ditutup Rapat-Rapat adalah:

1. Jodoh

Takde siapa tahu siapa jodoh kita dan boleh tentukan siapa jodoh kita. Tak guna kita fikir sedalam-dalamnya macam mana berjumpa jodoh dan bila berjumpa jodoh. Kenapa eh? Lagi banyak kita fikir lagi pening dan lost lah kita. Kenapa eh? Jodoh itu rahsia yang ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu, banyak berdoa pada Allah dan yakinlah bahawa jodoh yang ditentukanNya pasti yang terbaik dan pada masa yang kita dah bersedia dan mampu memikul tanggungjawab rumahtangga. Setiap hari sedekahkan al-fatihah dan doa yang terbaik buat bakal jodoh. Jadilah yang solehah, dapatlah nanti suami yang soleh. Yang dah bertemu jodoh, peliharalah ia dengan iman dan ihsan. Hiaskan perkahwinan itu dengan kasih sayang.

2. Rezeki

Rezeki pun rahsia yang ditutup rapat-rapat. Ada orang cacat tubuh badan dan derianya tapi, mampu membina empayar yang besar. Ada orang usaha satu hari, esok dah berjaya. Belajar main-main tapi result gempak. Baca sekali dah hafal and faham. Ada orang sempurna tubuh badan, satu kerja pun susah nak buat.Ada orang pula kerja bagai nak gila, masih sama. Belajar pagi petang siang malam, result biasa2. Baca berpuluh puluh kali pun susah nak faham. Kejayaan,keluarga, harta, ketenangan dan banyak lagi adalah rahsia Allah. Sebab tu bila kita rasa kita boleh menentukan rezeki kita, otak boleh jadi gila dan rasa nak pecah. Bila kita rasa kita boleh tentukan rezeki kita, hati tak tenang dan selalu dalam kerisauan. Rezeki kita, Allah yang tentukan. Yakin lah orang berusaha pasti berjaya. Hidup susah itu bukan selamanya.Orang bijaksana belajar daripada kesalahan. Orang bersyukur tenang hatinya. Rezeki itukan rahsia Allah. Apa yang kita dapat hari ini adalah yang terbaik untuk membersihkan hati dan selalu bersyukur.

3. Ajal maut.

Sakit bukan punca meninggal dunia. Ada orang sakit kronik, hidup bertahun-tahun. Ada yang sihat walafiat, meninggal dalam tidur. Hidup mati itu rahsia Allah yang ditutup rapat-rapat. Selagi hidup, usahalah menjaga kesihatan dan kehidupan yang dipinjamkan Allah dengan bersungguh-sungguh kerana pastinya ajal akan menjemput di mana sahaja dan pada bila-bila masa. Fikirkan kematian dan dosa sudah cukup untuk buatkan kita menjadi insaf kerana syurga dan neraka itu benar. Semoga diberikan pengakhiran yang terbaik di syurga.

Santapan rohani hari ini..

Curhat : Kehidupan Pascamenikah  (Adaptasi)

Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan. 

Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)

Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. 

Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p

Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.

Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani. 

Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk. 

Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya). 

Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi. 

Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi. 

Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu. 

Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?

Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!

Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi. 

Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi. 

Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan. 

Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.  

Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)

Purworejo, 2 Februari 2017.

Copas dari group wa, tulisan Bunda Kaska untuk direnugi para ibu:

Seorang IBU tanpa bekal Agama ,

Seorang ibu insyaallah ga akan ada NIAT menjerumuskan anaknya ke sesuatu yg mudharat apalagi SENGAJA ingin mencelakakan dunia akherat anak anaknya.

Tapi…seorang ibu tanpa bekal agama saat mendidik anak sangat mungkin melakukan hal yg sebaliknya.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg menyuruh anaknya yg masih kecil belajar naik motor atau naik mobil dan bangga saat kecil2 udah bisa anter2 ke pasar.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg menyuruh anak gadisnya dandan cantik setiap keluar rumah dan bangga saat anaknya memiliki pacar.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg mengantar anaknya ikut lomba2 kontes model umbar aurat dan bangga saat anaknya menjadi artis.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg sengaja menyuap ke kantor2 supaya menerima anaknya bekerja dan bangga saat anaknya memegang jabatan yg tinggi dengan hasil yg curang.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg dengan rasa kasihan dan tidak teganya enggan membangunkan anaknya untuk shalat subuh dan isya meskipun sudah baligh tanpa berfikir gimana nasib anaknya kelak di neraka.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg membujuk suaminya untuk membelikan anak2nya gadget laptop maupun tivi di kamar masing2 spy anak tidak ketinggalan informasi nyatanya benda2 tsblah yg menjadi jalan anaknya mengenal pornografi dan kecanduan game.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg lebih senang mengajarkan anaknya nyanyian2 dan tarian2 yg sebenarnya dilarang dalam islam dibanding khusus mengajarkan lafadz2 Quran dan bangga saat anaknya masih kecil fasih meniru2 lirik dan gerakan orang dewasa.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg menjejali anaknya dengan aneka les2 pengetahuan dunia tapi enggan mengajarkan perkara shalat ngaji dan ibadah lain pada anak2nya dan bangga anaknya menjadi orang “bergelar” tapi bahkan ga tau doa masuk wc.

Berapa banyak justru seorang ibulah yg mendoakan anaknya supaya jadi orang yg berguna bagi umat tapi saat ujian mencari2 bocoran jawaban UN untuk anaknya, atau bangga jika anaknya lulus meskipun dia sadar telah melakukan kecurangan.

Dan “kejahilan2” seorang ibu yg dilakukan krn minimnya agama.

Anak anak itu amanah.

Hanya boleh dididik sesuai keinginan yg Menitipkan.
Bukan sesuai hawa nafsu kita.

Rem hawa nafsu kita yg sifatnya duniawi.
Ingat untuk apa kita dan anak2 kita diciptakan.

Dan kelak pasti semua kembali pada kita.
Hisab detail akan apa yg telah kita ajarkan.
Kebaikan akan kembali.
Keburukan akan kembali.

Perbanyak istighfar.
Belajar dan kaji ilmu agama.
Jadikan Quran dan Hadits sbg pedoman hidup.
Amalkan sedikit2 dan ajak seisi rumah amalkan juga.

Kita ga bisa lolos dari hisab dengan alasan “maaf saya ga tau kalo harus ajari ini itu”
Karena perintah menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Tidak terhenti saat kita menikah, tidak terhenti saat kita jadi nenek kakek, terus smpe kita meninggal.

Jadikan diri kita setiap harinya pencari ilmu.
Ada rasa ingin tau yg besar thd hukum2 islam.
Bukan untuk mendebat dan merasa paling tau, tapi untuk diamalkan dalam hidup kita sehari2.

Barakallahu fiikum.
Semoga bermanfaat🙏

Tahun InI Masih Panjang

Tahun ini saya awali dengan bekerja keras, pelan - pelan menuju apa yang saya sebut sebagai cita - cita kehidupan. Saya berkenalan dengan banyak orang yang hebat di bidangnya masing - masing; orang dan kondisi yang mengajari saya bagaimana bersikap tenang ketika kondisi sudah hopeless; orang yang bahkan tanpa dia sadari menjadi contoh saya untuk memperbaiki kesalahan dengan elegan; kenal dekat dengan keluarga baru; punya komunitas baru yang bermanfaat sekali; bahkan berkesempatan bertemu Pak BJ Habibie. Hidup saya berantakan untuk sementara waktu karena kesibukan luar biasa, tapi pelan - pelan akan teratasi. After all, semua kesibukan ini mengarah pada tujuan juga.

Tahun ini, saya awali juga dengan bekerja keras melepaskan sesuatu yang teramat saya inginkan, sangat berharga, dan entah apakah saya bisa mendapatkannya lagi atau tidak. Tapi, jika hal itu masih saya genggam hingga sekarang, pasti saya masih dihantui perasaan yang sama : saya belum siap mati sebab belum melepaskan yang jelas - jelas dosa. Hati saya juga teramat berantakan dan luluh lantak, tapi saya yakin pelan - pelan Allah akan mengembalikan kekuatannya. Entah pada akhirnya memilih untuk menyepi, atau kembali mengeja cerita lagi.

Tidak mudah mencintai pagi ketika kau terbangun dari tidurmu dengan perasaan hampa. Tidak mudah melewati malam ketika rasanya gelap begitu menyiksa. Terutama ketika semakin hari kau menyadari bahwa semua hal buruk yang menimpa, adalah karena kesalahanmu semata.

Tapi, tahun ini masih panjang. Masih ada waktu untuk terus bekerja keras, memperjuangkan apa yang selama ini harus diperjuangkan. Memperbaiki setiap kesalahan pada Tuhan. Meyakini bahwa apa yang akan ditakdirkan untukmu, tak akan luput darimu.

Tahun ini masih panjang. Masih ada waktu untuk memperbaiki passport, mengisi visa, lalu melarikan diri entah kemana. Masih ada waktu untuk membuang dirimu jauh, hingga sinyal tidak menyentuh.

Tahun ini masih panjang. Masih ada waktu belajar lebih tekun; lebih fokus menata cita - cita; lebih ramah berkawan akrab dengan orang - orang yang dengan murahnya membagi - bagi ilmunya.

Tahun ini masih panjang. Masih ada waktu untuk menyusun kembali semangat. Masih ada waktu untuk mempersiapkan tenaga, meraih target selanjutnya.

Tahun ini masih panjang. Masih ada waktu untuk kembali memeluk diri sendiri, fokus pada diri sendiri, belajar mencintai diri sendiri, memperbaiki kekurangan diri sendiri, dan melepaskan hal - hal yang memang tak bersedia dipertahankan.

Tahun ini masih panjang. Masih ada waktu untuk melangkah dengan hati riang.

Konsep Syaitan

Suatu hari, jika Anda sedang sangat marah, cobalah rasakan kemarahan Anda sendiri.

Dada sesak bergemuruh? Kepala ingin meledak? Kepalan tangan terasa panas?

Nah, persis setelah Anda berhasil memunculkan kesadaran di tengah kemarahan, bayangkan satu, dua, atau tiga syaitan sedang membisiki Anda. Menaiki Anda dari belakang. Menggenggam jantung Anda. Semuanya menyeringai licik.

Sekarang, apa yang Anda pikirkan dan rasakan? Kalau itu saya, saya akan tersadar: “Tunggu dulu. Ada yang sedang berusaha memanipulasi saya agar saya melakukan keburukan. Enak saja, saya tidak mau dikendalikan oleh mereka.”

Dengan melakukan teknik tersebut, saya merasa jauh lebih kuat dari amarah saya. Saya merasa mampu mengontrol diri sendiri–meski karena saya masih belajar, terkadang kontrol tersebut terlepas juga barang beberapa detik.

Orang-orang psikologi mungkin punya penjelasan mengenai hal yang semacam ini–silakan berbagi jika Anda yang membaca mengetahuinya.

Yang ingin saya ketengahkan adalah bagaimana Islam memperkenalkan konsep “syaitan”.

Menurut guru-guru saya, ia lebih berupa sifat daripada “spesies” makhluk tersendiri. Ia bisa dimiliki manusia dan jin.

Dalam banyak literatur Islam, kurang lebih kita diajarkan untuk menjaga diri dari syaitan, mengidentifikasi kehadirannya, hingga melawan gangguannya.

Jika memang syaitan bukanlah makhluk, melainkan sifat yang bisa ada pada diri kita, berarti Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dari diri kita sendiri, mengidentifikasi kehadiran sifat kita sendiri, hingga melawan diri kita sendiri.

Jadi, masalahnya bukanlah pada sesosok makhluk gaib yang sentuhannya membuat kita lupa diri–yang kita sebut syaitan, karena kemungkinan sosok makhluk tersebut tidak ada. Masalahnya adalah diri kita sendiri.

Ketika kita marah, kemarahan itu dijaga dan diperbesar oleh diri kita sendiri. Ketika kita bermaksiat, maksiat itu terwujud karena pilihan kita sendiri.

Namun, Islam memberikan sebuah alat untuk mengendalikan diri kita sendiri, melalui konsep “syaitan”.

Kita diajak mundur sejenak dari kondisi kita saat marah, mengisolasi kemarahan kita dengan mengatakan bahwa itu datang dari syaitan, sehingga dengan sisa kesadaran yang ada, kita tidak mengizinkan kemarahan menguasai seluruh bagian diri kita.

Begitu pun ketika godaan kemaksiatan datang. Dengan sisa kesadaran yang masih bekerja, melakukan pemisahan “ini diriku” dan “ini dari syaitan” membuat kita–yang masih memiliki kebersihan hati, merasa perlu melawan bisikan itu habis-habisan.

Silakan coba metode ini, jika Anda baru mendengarnya (mungkin sebagian Anda sudah memikirkan dan melakukannya juga). Tetapi, mohon jangan jadikan ini sebagai referensi. Saya bukan ‘ulama. Saya hanya orang biasa yang senang mengobservasi dan memungut pelajaran.

Mohon luruskan jika ada kesalahan.
Wallahu'alam bi-shawab.

LALAI

“Yuk shalat”
“Ah, kalem lah, kerjaan dulu ini, ntar aja, paling sejam lagi kira-kira beres.”

Dalam sebuah kajian kemarin, seorang teman saya mengingatkan saya dalam perjalanan pulang.

“Tau gak choq, apa yang lebih celaka daripada orang yang meninggalkan shalat?”

“Entahlah, bukankah tidak shalat juga udah celaka yah nasibnya di akhirat?” jawab saya

“Bukan choq, yang lebih celaka nasibnya dari orang yang meninggalkan shalat, adalah yang me-lalai-kan shalat. Coba deh baca surat al-ma’un.”

Jujur, saya pikir yang celaka itu yang meninggalkan shalat. Karena penasaran, lalu sesampainya di rumah, saya langsung membaca surat Al Ma’un, yang berbunyi.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat | (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” Q.S. Al-Ma'un : 4-5

Lalu, saya mencari, apa sebenarnya arti dari lalai itu sendiri. Dan akhirnya saya menemukannya, menurut KBBI,

Lalai adalah tidak mengindahkan; lengah; tidak ingat karena asyik melakukan sesuatu; terlupa:

Astaghfirullahaladzim, pernyataan singkat dari teman saya itu benar-benar memberi saya tamparan. Karena saya menyadari, seringkali kita tidak mengindahkan perintah-Nya, lengah akan ajakan shalat, keasyikan urusan duniawi, dan akhirnya lupa akan kewajiban kita.

Seringkali, makna adzan bagi kita telah berubah, bukan lagi sebagai panggilan shalat, tapi adalah sebagai pengingat waktu.

Ketika adzan dzuhur, maka bagi orang kantoran, itu adalah jam istirahat. Dan ketika adzan ashar tiba, maka itu sudah saatnya mau pulang.

Makna adzan kadang bagi kita sudah bukan lagi panggilan ibadah, atau waktu menghadap kepada sang pencipta, tapi bagi kita, tak lebih sebagai alarm yang dibunyikan oleh suara manusia dengan bantuan toa masjid.

Karenanya, banyak dari kita yang akhirnya menjadi lalai terhadap shalat.

Seberapa sering kita melalaikan shalat? Yang lebih mengerikan adalah, seberapa sering kita secara sengaja melalaikan shalat?

Menunda karena ada kerjaan kantor yang bisa dikerjaan nanti. Menunda karena tanggung nonton film yang seru padahal bisa di pause. Menunda karena membalas comment-comment di social media padahal belum tentu orang lain juga langsung membalasnya. Menunda karena merasa waktu masih lama, jadi tidur sejenak. Menunda karena merasa rentang waktu terhadap adzan berikutnya adalah benefit kita untuk menunda shalat.

Padahal, sisa waktu yang ada bukanlah untuk dipakai berleha-leha ria, tapi sebagai waktu tambahan jika ada urusan darurat yang memang tak bisa ditinggalkan.

Apa mungkin karena kita ini sudah terbiasa dengan deadline, maka kita juga biasa mendeadlinekan ibadah kita?

Sebanyak 5 kali dalam sehari, kita mendengar adzan. Sebanyak 5 kali dalam sehari pula, kita diajak untuk menuju kemenangan. Pertanyaannya, berapa banyak dalam sehari, kita langsung menjawab panggilan tersebut? Berapa banyak dalam sehari kita memenangkan pertarungan antara diri kita dengan rasa malas kita?

Padahal panggilan adzan itu tidak berbeda dengan panggilan telepon, ketika ada panggilan masuk ke handphone kita, maka langsung kita jawab panggilan tersebut. Bukankah kita tak pernah menunda untuk menjawab panggilan dari orangtua, bahkan dari bos yang darinya kita butuh gaji untuk hidup? Bahkan kita begitu semangat menjawab panggilan dari gebetan kita yang padahal dia cuman salah pencet nomor?

Tapi, kadang ada dari kita yang menunda atau bahkan mereject ketika panggilan itu masuk ke handphone kita, yakni ketika kita tidak mengenali, panggilan siapa yang masuk.

Maka bisa jadi, kita juga menunda shalat, bahkan menolak panggilan shalat, karena kita belum mengenal, siapakah yang memanggil kita. Padahal shalat, adalah panggilan Allah SWT, untuk menghadap-Nya.

Semoga, kita semua bisa memperbaiki diri, agar tidak menjadi makhluk yang lalai akan perintah sang pencipta. Sama, penulis juga, masih belajar. Mari saling mengingatkan.


LALAI
Bandung, 11 Januari 2017

anonymous asked:

Mas Angga, boleh dong dibagi pemikirannya ttg rencana dan lompatan dakwah apa yg diinginkan setelah menikah? Ditunggu jawabannya, klo bisa sih segera, matursuwun..

Ada dua hal yang tidak bisa saya tinggalkan..

1. Al-Qur'an, baik belajar dan mengajarnya
2. Menulis, sebab ia mampu menggerakkan hati dan menyalakan pikiran

Jika nanti Allah beri umur panjang dan satu fase Al-Qur'an yang saya tempuh beberapa waktu kedepan selesai, insyaAllah saya coba tekuni keduanya dengan lebih serius sebagai sarananya insyaAllah.

Masih pengen belajar banyak hal sampai mahir sebenernya, semisal berkuda dan memanah mungkin akan masuk agenda tambahan. Agar ummat bisa makin menikmati hiburan dan olahraga yang sunnah dan berpahala, sekaligus dapet esensi i'dad sejak dini.

Kadang pengen juga mencicipi dakwah di luar negeri dengan jadi imam disana beberapa waktu, kalau memang ada peluang dan tawaran. Tapi ini masih opsional.

Seminimal-minimalnya yah bikin TPQ di rumah buat ngajar anak-anak tetangga sekalian ngeramein rumah. Sebab suara ngaji dan cerianya mereka itu paling bikin terharu dan bahagia, jadi flashback juga ke masa kecil dulu. Atau mungkin juga bikin rumah tahfidzh kecil di samping rumah, inginnya.

Doakan semoga Allah mudahkan dan berkenan memberikan seseorang yang tangguh sebagai teman perjalanan~
Semoga yang mendoakan dan mengaminkan mendapat pantulannya dan berkahnya.

Menjadi baik itu tidak sulit. Namun tak juga mudah. Menjadi baik itu unik, dimana kita yang dilahirkan bersih masih rendah hati belajar baik. Karena kita berupaya sadar, tak selamanya kita terhindar dari noda.
Apa kita masih bisa terima kalau teman terdekat kita ngaku dia HIV(+) ?
— 

Itu masih pertanyaan terbesar gue. I’m fine with everyone and who he/she is. Tapi kalau dia sampai ngasih tau dark secret (baca : open status HIV (+)) apa iya gue msh bisa melihat dia dengan cara pandang yang sama seperti dulu?

Gue masih harus-dan-terus belajar melapangkan dada.

Sepucuk Surat Dari Ayah dan Ibu (copas)
Anakku,

Ketika aku semakin tua aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku…

Suatu ketika aku memecahkan piring.. atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku.. Orang tua itu sensitif selalu merasa bersalah saat kamu berteriak..

Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, Aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!” Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya…

Maaf, Anakku…

Aku semakin tua…, ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun… seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan..

Aku mohon, jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang kukatakan, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku… Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku….

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan..

Maafkan juga bauku tercium seperti orang yang sudah tua… Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi.. Tubuhku lemah..  Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin.. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu…

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, Aku selalu mengejar-ngejar kamu.. karena kamu tidak ingin mandi..

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku, ketika aku selalu rewel.. Ini semua bagian dari menjadi tua,…kamu akan mengerti ketika kamu tua…

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, bahkan untuk beberapa menit… Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak bicara..

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan, bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu… Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu..

Ketika Saatnya tiba.. dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku…

Maaf, kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan… Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku, aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama…

Ketika waktu kematian ku datang…,  aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian…

Ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta… aku akan berbisik padaNya untuk selalu memberikan berkah padamu karna kamu mencintai Ibu dan Ayahmu…Terima kasih atas segala perhatianmu, nak…