masih belajar

telan saja

saya pernah punya cita-cita bekerja di perusahaan besar. ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya menjadi “budak korporat” yang sesekali dapat tugas sulit nan banyak sampai lembur, lalu bisa misuh-misuh di media sosial tentang betapa rumitnya pekerjaan saya, betapa susahnya–sambil mengisyaratkan betapa hebatnya diri saya bisa mempunyai pekerjaan semacam itu.

selang dua tahun saya lulus kuliah dan bekerja, saya semakin sadar bahwa ternyata mengeluh tentang pekerjaan tidak elit sama sekali. norak dan malu-maluin malah.

“telen aja,” begitu pesan mas uta kepada kami adik-adiknya. di dalam dunia yang mengembangkan diri kita, baik sekolah, kuliah, maupun bekerja bahkan berkeluarga, selalu ada hal yang tidak enak, tidak sesuai keinginan dan harapan, tidak pas menurut kita. terhadap hal-hal seperti itu, kata mas uta, telan saja.

pertama, apapun pekerjaan yang kita miliki, sadar nggak sadar, pekerjaan kita juga adalah jawaban dari doa diri kita sendiri, diri yang sebelumnya. pekerjaan kita juga adalah buah dari upaya-upaya kita yang sebelumnya. misalnya, seseorang yang berprofesi sebagai dokter tentunya telah melalui pendidikan menjadi dokter. menjadi dokter itu doanya sendiri, hasil usahanya sendiri.

kedua, percayalah di luar sana ada banyak sekali manusia yang menginginkan, berusaha dan berdoa, untuk bisa memiliki pekerjaan yang kita miliki.

ketiga, daya juang dalam bekerja–dalam hidup–itu pentingnya luar biasa. setiap kali kita menelan ketidaknyamanan, kita sedang menjadikan diri kita lebih kuat, lebih hebat. tapi yang terutama, seharusnya ketidaknyamanan bisa menjadikan kita lebih bijak, lebih baik dan dewasa. masa iya daya juang kita segitu-segitu saja. di dunia ini ada banyak sekali orang yang tidak kunjung berkembang karena terhadap masalah yang segitu-segitu saja, cara dirinya merespon juga begitu-begitu saja. jangan jadi yang demikian.

keempat, menjadi bermanfaat itu artinya menyelesaikan masalah, bukan menjadi bagian dari masalah atau nambah-nambahin masalah. semakin banyak dan besar masalah yang bisa kita selesaikan, semakin bermanfaat diri kita artinya. kita bekerja, dibayar orang, intinya adalah untuk menyelesaikan masalah. itulah mengapa kita tidak boleh mengecilkan diri di depan masalah. yap, jadilah lebih besar daripada masalah yang ada!

kelima, diri kita di hari ini memang merupakan akumulasi dari diri kita yang sebelumnya. tapi, diri kita di masa yang akan datang ditentukan oleh diri kita di hari ini pula. semua prestasi kita di masa lampau, termasuk gelar atau di mana kita sekolah, hanyalah nilai yang berharga sesaat saja. saat kita ikut kontes mahasiswa berprestasi, misalnya. saat kita baru pertama kali mendaftar kerja, misalnya. kalau sudah bekerja, semua itu berkurang nilainya. yang terus bernilai adalah kecakapan nyata diri kita. plus, attitude bekerja kita, sikap dan perilaku kita.

keenam, prinsip ke-aku-an hanya boleh berlaku kalau kita sudah menjadi orang besar. definisi orang besar? silakan diartikan sendiri. yang jelas, masih muda begini, nggak perlulah kita gengsi apalagi malas untuk melakukan hal-hal yang menurut kita kurang berkelas. jadi, tinggalkanlah semua cara berpikir “ya kali gue bla bla bla”. anggaplah selalu bahwa diri kita ini masih belajar, masih remah-remah, masih belum ada apa-apanya.

disuruh nunggu dosen sampai bosen? telen aja. bikin laporan capek-capek eh cuma dibaca gitu doang? telen aja. udah gaya-gaya magang di perusahaan keren nggak taunya cuma disuruh motokopi? telen aja. harus kerja di pabrik, kotor-kotoran, becek-becekan? telen aja. intinya, terhadap apapun yang menurut kita nggak enak (apalagi yang enak), telen aja!

ketujuh nih, nggak ada pekerjaan yang remeh atau kecil. yang ada, orang yang melakukannya, yang meremehkan atau mengecilkan. segala sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh selalu akan bermakna besar, dan sungguh-sungguh dapat membuat seseorang menjadi besar.

terharu nggak sih sama Allah. ada dosa-dosa yang hanya bisa terhapus atau terampuni dengan lelahnya mencari nafkah. jadi, kalau lelah bekerja atau berupaya apapun dalam hidup, ingat saja itu sambil tagih janjinya Allah. berdoa, minta diampuni dan dihapus dosa-dosa kita. bukannya misuh-misuh di media sosial. yang begitu, ternyata norak kan.

dan jangan lupa, telen aja. sambil ngetawain semuanya juga boleh. mendingan kita yang ngetawain hidup daripada hidup yang ngetawain kita. bersyukur dan berbahagialah!

RTM : Fase-fase dalam Pernikahan

Pagi ini saya menghadiri sebuah kajian Ustadz Cahyadi Takariawan di Jogja, mungkin bagi yang mengikuti buku-bukunya, beliau memang concern dalam topik-topik terkait pernikahan. Di kajian ini hampir seluruh pesertanya adalah ibu-ibu, utamanya yang memang lebih tua daripada saya, karena memang ini pengajian keluarga. Tapi rasanya, saya juga banyak mendapat ilmu dari kajian ini dan masih harus banyak belajar. 

Supaya temen-temen juga bisa dapat ilmunya, ini saya resume kan isi kajian tadi hehe. Semoga bermanfaat yaa, tentu sudah saya edit dikit-dikit dengan bahasa saya, semoga nggak merubah maknanya. 

Ustadz Cahyadi menyampaikan bahwa ada beberapa fase dalam pernikahan.

  • Romantic Love : fase ini adalah  tahun-tahun pertama pernikahan (3-5 th) biasanya. Di fase ini masih terasa sekali manis-manisnya pasangan. Yaaa, bisa dibilang anget-angetnya lah ya :D
  • Disappointment/Distract :setelah fase romantis, akan ada berbagai penurunan dalam kualitas hubungan karena adanya beberapa missed. Nah fase ini bisa menjadi lama bisa juga menjadi singkat, tergantung bagaimana usaha pasangan untuk meredam konflik. Karena di fase-fase ini yang tadinya berbagai kesalahan bisa ditolerir, bisa berada di titik jenuh dan menjadi gampang tersulut. 
  • Knowledge & awareness : di fase ini, pasangan yang dengan cermat dan ingin segera lepas dari fase sebelumnya, akan mencoba untuk meredam konflik-konflik yang ada dengan niteni, mengamati, dan mengenali lebih detail kondisi pasangan dan hubungan mereka. Di fase ini, kedua belah pihak baiknya sama-sama berjuang dengan semangat positif agar lebih memahami lapis-lapis kepribadian dan bahasa cinta pasangannya
  • Transformation : Fase ini adalah fase yang penuh dengan penerimaan, penerimaan yang jauh lebih luas dibanding di awal pernikahan. Di fase ini tiap-tiap pasangan mulai bisa berdamai dengan keadaan bahkan mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri pasangannya. 
  • Real Love : ini adalah fase puncak, fase paling dewasa dari mencintai. Pasangan bukan hanya sekedar suami istri, tapi juga sudah sejiwa. Cinta dalam fase ini tidak lagi menggebu-gebu seperti anak muda, justru sangat mendalam. Memang eskpresi fisik makin berkurang, tetapi ikatan emosional satu dengan yang lainnya makin bertambah. 

Saya mengamati sekaligus belajar, bahwa apa yang terjadi pada hubungan saya dan suami masih sangat-sangat awal dan perjalanannya masih membutuhkan nafas panjang. Masih jauuuuuuhhhh syekaliiiiii. Mungkin kami masih berada di tahap romantic love, pun teman-teman yang ada di sosial media. Rata-rata yang mengunggah manisnya kisah mereka, mungkin adalah mereka-mereka yang sedang di fase yang sama seperti saya. Nggak papa, semoga menjadi catatan perjalanan dan pengingat bahwa kita pernah ada di fase ini dan segera bertumbuh ke fase-fase selanjutnya. 

Saya jadi disentil, betapa masih banyak sekali yang harus saya pelajari dan pelan-pelan saya lakukan untuk menyeimbangkan hubungan saya dan suami. Masih banyak bahasa-bahasa cinta #tsah, yang perlu saya mengerti. 

Dan di luar sana, mungkin banyak yang perlu dipahamkan, bahwa pernikahan bukan hanya soal bahagia-bahagia aja. Karena kalau itu yang dicari, nihil, pernikahan model apapun nggak ada yang lepas dari masalah dan konflik. Tapi, menurut saya pribadi, kalaulah yang kita cari itu ketaatan dan ketakwaan kepadaNya dalam pernikahan, kita bisa membuat hubungan ini jauhhhh lebih manis dari apa yang kita pikirkan. Asheeeqqqq wkwkk. 

Semoga ini menjadi catatan buat saya pribadi untuk lebih semangat lagi belajar. Karena dalam hidup berumahtangga, tiap harinya kita mendapat hal baru yang harus kita pelajari. 

Kita Perlu Belajar

Kita perlu belajar,

Untuk menerima nasihat dan meredam rasa ingin terlihat tinggi dalam diri kita. Supaya kita tak melulu merasa direndahkan ketika ada yang menginginkan perbaikan dalam diri kita.

Untuk menerima bahwa kita masih perlu banyak belajar. Sehingga sebelum menulis kita mesti banyak membaca. Sebelum berbicara kita mesti banyak merenung.

Untuk belajar diam meski kita tahu. Saat berbicara justru memperkeruh keadaan. Untuk belajar diam meski kita yakin benar. Saat bersuara justru menjatuhkan harga diri seseorang.

Untuk belajar menerima bila dianggap bodoh, bukan siapa siapa. Agar mengajari riya tak tumbuh subur mengakar ketika ilmu telah kita miliki. Sebab pengetahuan tak memiliki arti tanpa pemahaman dan kebijaksanaan. :)

©Alizeti

Pendidikan memang mahal, tapi siapa yg harus menanggungnya?

Sebanyak 31 murid kini mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM) di SMP Islam An-Nahala. Mereka telah resmi menjadi bagian dari angkatan pertama di sekolah yg baru didirikan di tahun 2016 ini. Semangat baru dan optimisme tinggi tercermin dari setiap langkah mereka menuju sekolah.

Namun memasuki pekan ke-2 kegiatan belajar mengajar, ada ketidak-wajaran yang terlihat di sekolah ini. Para siswa masih belajar tanpa menggunakan buku. Sarana penunjang belajar yg paling dasar ini justru belum mampu terfasilitasi.

SMP Islam An-Nahala bukanlah sekolah negeri yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Dana BOS juga belum bisa terjangkau karena statusnya yg masih baru. Para siswa disini juga bukan berasal dari keluarga yang berpunya.

Sekolah ini memang berprinsip menyelenggarakan pendidikan yang terjangkau untuk semua kalangan. Hal ini tercermin dari biaya pendidikannya yg jauh lebih murah dari sekolah² lainnya, atau bahkan digratiskan. Sebagian siswanya merupakan anak² yang penghuni panti asuhan.

Meskipun begitu, kualitas pendidikan tetaplah yang utama. Sebagai insan akademis yg pernah mengecap bangku pendidikan, tentunya kita ingin para adik2 merasakan kesempatan yang sama. Yaitu mendapatkan pendidikan terbaik yang didukung oleh guru-guru yang berdedikasi, buku-buku pelajaran terkini, dan fasilitas penunjang aktivitas baik di dalam maupun di luar kelas. Darimanapun mereka berasal, harapan dan cita2 para siswa merupakan hal yang harus diperjuangkan.

Karena kami percaya, bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar, dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil. - Turbo

Bantu adik-adik di SMP An-Nahala mendapatkan buku pelajaran dengan cara berdonasi melalu rekening BCA 0240371821 a.n Risma Suryani.

Donasi juga bisa berbentuk buku bacaan yang dikirimkan ke alamat Jl. Delta Barat XI No C.135, Perumahan Delta Pekayon Jaya, 17148, Bekasi Selatan.

Konfirmasi donasi dapat melalui chat WA personal ke 085891880744 dengan format Nama ; Asal ; Nominal transfer beserta foto bukti transfer.


EDUKASI UNTUK NEGERI
Mendidik Diri Membangun Negeri

Oleh, Komunitas Wahana Karya

Berfokus Pada Hakikat

Ini untuk kamu, dan siapapun yang berazam untuk menjajaki tangga kehidupan bernama pernikahan. Syaitan, ialah makhluk yang senantiasa bertempur menciptakan rasa was-was pada diri setiap pemuda yang ingin menjalani azamnya, pun ia akan munculkan was-was pada setiap orang dekatnya, sehingga pada akhirnya tujuannya tercapai; pernikahan yang gagal, tertunda, atau memang tetap terlaksana namun dengan cara-cara yang tak sesuai dengan bingkai titah-Nya.

Maka, satu tameng paling utama untuk mengarungi semua godaan itu adalah; mengilmui dan memahami hakikat lebih dalam, daripada memusingkan teknis-teknis sepele.

Hakikat pernikahan adalah menggenapkan agama, menyempurnakan dien, mengokohkan ibadah, maka tempatkan posisinya di tempat nan agung. Yakini, bahwa jika menikah adalah perintah Allah, maka Dia sekali-kali takkan pernah menyia-nyiakan ikhtiar kita.

“Jika memang tekadmu menikah adalah untuk menyempurnakan dan menyucikan jiwamu, sungguh Allah takkan mengabaikanmu”, kata Ustadz Sholihin Abu Izzuddin. Makan jangan kaget kemudian, jika Allah menolong kita dengan cara-Nya yang sangat surprising.

Bagaimana cara mengilmuinya dan meyakini adanya pertolongan Allah? Izinkan saya menyampaikan usulan ini; pahami bagaimana para salafus shalih menikahkan anak-anaknya, betapa pentingnya menjaga kesucian anak-anak muda muslim dengan pernikahan daripada merepotkan tetek bengek yang benar-benar furu.’

Dan untuk meyakini adanya pertolongan Allah; jangan sekali-kali utamakan hawa nafsu kita melewati batas-batas syar'i yang Allah tetapkan. Mari menjaga hati dan pandangan, meminimalkan ikhtilath dan memaksimalkan penjagaan diri. Jemput cintamu dengan mengutamakan cinta-Nya, niscaya semua cinta akan tertuju padamu.

Tulisan ini juga adalah peringatan bagi saya, yang senantiasa masih harus terus belajar dan memperbaiki diri. Maka, bersama-sama, mari menjemput takdir kita dengan cinta-Nya.

@edgarhamas

Apresiasi

Dear my dear self,

Enggak apa-apa. Silahkan sesenggukan dipojokan kamar nggak apa-apa. Sudah sejauh ini melangkah. Kamu kini hanya perlu tau satu hal, bahwa proses lebih berharga daripada hasil. Bukankah kamu sudah tahu bahwa dunia kini memang seganas itu? Kamu sekarang sudah kuat, kan? Kamu sekarang sudah paham betul kan cara menghadapinya? Setidaknya kamu sekarang sudah tak banyak ngerepotin orang lain lagi. Sudah mau belajar mandiri dan berani. Sudah mau mencoba berdiri diatas kaki sendiri. Sebab katanya mau tak mau, menjadi kuat adalah tanggung jawab pribadi.

Bersyukurlah. Ini bisa menjadi cerita hebat dan menarik untuk anak-anakmu kelak. Maka ketika mereka kamu ceritakan tentang hal-hal seperti ini, mereka akan dengan bangga menjadikanmu sebagai guru besarnya. Sebagai teladan terdekatnya. Sebagai cahaya didalam hatinya. Bahwa kamu adalah perempuan hebat dan kuat untuk mereka.

Ini tentang sebuah apresiasi untukmu. Agar kamu tak mudah lagi untuk mengeluh dan menyerah. Agar kamu tidak pesimis lagi dalam mencoba suatu hal. Agar kamu tau bahwa kamu superhebat. Agar kamu bisa lebih mudah memperbaiki masa lalumu yang sering sekali kamu permasalahkan. Dan kamu besar-besarkan. Agar kamu memiliki banyak alasan bersyukur dan mengikhlaskan. Menerima dan melepaskan.

Terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah bersedia mencoba berkali-kali dalam banyak hal. Terimakasih sudah memutuskan bangun lagi dari jatuh. Terimakasih sudah mencoba bangkit dari rasa hampir menyerah. Terimakasih sudah menghapus kata lelah untuk menghadapi semuanya. Pada setiap waktu, setiap detik, setiap keadaan dan setiap musim.  Ah, ternyata kamu sekuat itu bukan?

Terimakasih sudah mau belajar sejak taman kanak-kanak hingga diperguruan tinggi. Terimakasih sudah mau menjalaninya dengan sabar. Meski terkadang masih suka ngeluh, sesekali putus asa. Tapi kamu hebat, setidaknya hingga kini kamu tidak menyerah. Kamu masih ingin terus belajar.

Terimakasih sudah mau nurut orang tua dengan belajar ilmu statistika. Dengan belajar ilmu yang menurutmu bukan passionmu. Sudah mau memahami bahwa perkataan, saran dan nasihat dari seorang ibu adalah yang utama. Meski kadang juga masih bertanya-tanya, kenapa harus belajar ini dan itu?

Terimakasih sudah berusaha ta’dzim, hormat dan berakhlak baik kepada mamah bapak, kepada guru-guru, kyai, ustadz dan ustadzah. Kepada orang-orang yang lebih tua darimu. Terimakasih sudah mau belajar menyayangi kakak, menyayangi adik, menyayangi sepupu-sepupumu. Walaupun terkadang masih suka ngerepotin.

Terimakasih sudah mau mencoba berteman dan berbuat baik kepada teman. Semoga kamu hanya akan selalu mengingat kebaikan-kebaikannya dan cepat melupakan keburukan-keburukannya dimatamu—kepadamu.

Terimakasih sudah mau nurut sama Allah, sudah menjadikan Rosul sebagai panutan meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya sepenuhnya kamu telah mencoba. Terimakasih sudah mau belajar hidup sederhana dipondok pesantren, semoga kamu selalu istiqomah dan tidak tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dizaman milenial seperti ini. Terus dan seterusnya.

Terimakasih sudah mau mencoba menyelami, menghadapi kemudian memaknai lingkungan yang serba heterogen seperti ini. Dimana warna abu-abu selalu ada setiap saat. Dimana baik dan buruk bisa saja berkumpul dalam satu badan. Meski kadang merasa tidak cocok, merasa risih, merasa takut dan merasa tidak mampu, setidaknya kamu masih bertahan sampai sekarang, bukan?

Terimakasih telah memutuskan keputusan yang paling besar di dunia ini. Terimakasih sudah dengan mantap dan yakin telah menceburkan diri ke dalam dunia Al-Qur’an. Terimakasih untuk tetap bertahan hingga kini. Meski kamu tau bahwa menghafal itu konsekuensinya sangat berat jika tidak diperjuangkan hanya karena Dia. Meski jalannya terjal, curam dan berbatu. Tapi kamu yakin, jalannya pasti lurus. Semoga kamu tetap bisa bertahan sampai 30 juz. Semoga teman-teman seperjuanganmupun bisa bertahan sampai selesai juga. Dan bisa menjaganya dengan baik sampai nafas tak dikandung badan lagi.

Terimakasih sudah mau makan apapun asal halal. Tidak memilih-milih. Ah, dunia memang restoran terbaik dengan menu apapun! Tapi jangan banyak-banyak makan, ya. Nanti hatinya mati. Jadi ilmunya susah masuk.

Terimakasih sudah  bersyukur dilahirkan ditengah keluarga yang sederhana dengan caranya sendiri seperti ini. Meski kadang tak cocok dengan keputusan mamah, tak cocok dengan keputusan bapak. Tapi dengan kamu yang mencoba meruntuhkan ego-ego diri, kamu telah berhasil patuh kepada keduanya. Katanya anak boleh mikir, tapi orang tua lebih berpengalaman.

Terimakasih sudah mau bermimpi, memperjuangkan mimpi-mimpi juga meladeni mimpi-mimpi. Diluar sana banyak yang tidak berani bermimpi, banyak yang sudah menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat, kamu memiliki Tuhan yang hebat sejagad semesta. Yang menggenggam mimpi-mimpimu, lalu akan dilepaskan pada saat yang tertepat. Tugasmu hanya berdo’a, berjuang dan butuh sedikit menunggu lagi.

Terimakasih sudah mau membaca banyak buku. Meski kadang tidak sepenuhnya paham, setidaknya kamu sudah sepenuhnya mau memahami. Suatu saat kamu pasti akan dipahamkan oleh-Nya. Semoga hasil membaca-baca sekarang tak hanya sekedar menjadi bacaan, tetapi akan bermanfaat dikemudian.

Terimakasih sudah mau menulis. Menuliskan cita-cita. Menuliskan cinta. Menuliskan semuanya—menuliskan kehidupan. Semoga arah penamu yang berisi jatuh-bangun, semangat-menyerah, senang-sedih, kecewa-bahagia, dan pembijakan untuk diri sendiri bisa menjadi amal baik yang tak putus hingga ke negeri akhirat kelak.

Terimakasih sudah bersedia patah hati, bersedia menikam setiap rindu yang merasuk kedalam diri, bersedia menyimpan rasa-rasa aneh yang terkadang menganggu pikiran. Terimakasih sudah  mempersiapkan diri menjadi perempuan yang lebih baik untuk untuk kelak ditemukan dengan yang tertepat diwaktu yang paling tepat.

Terimakasih sudah mencoba menjadi diri sendiri disaat yang lain memakai bermacam-macam topeng pada wajah mereka. Terimakasih sudah berusaha memaknai setiap kejadian, setiap peristiwa yang kamu alami dan mengambil hikmahnya. Karena tak semua orang diberi ilmu hikmah.

Terimakasih sekali lagi. Ah, kamu ternyata sehebat ini.

Sudah selesai sesenggukannya? Dihapus, ya, air matanya. Yuk ah, bangkit lagi! Ngaji lagi!

Sudah disuruh senyum sama Allaaaah. Senyuuuuum. :))

tanya: thread perempuan

assalamualaikum teman-teman tersayang semuanya. beberapa waktu yang lalu, sahabat saya @dokterfina mengajak saya untuk bergabung dalam sebuah grup kecil tentang kehamilan dan perintilan kewanitaan lainnya. sejak saat itu, sesungguhnya saya teringat sesuatu.

berhubung sering ada yang menanyakan, ceritanya, saya merasa punya hutang tulisan (banyak sekali) tentang pengalaman saya seputar:
1. persiapan pernikahan dan pernikahan
2. persiapan kehamilan dan masa-masa kehamilan
3. masa-masa menyusui ASI eksklusif
4. (soon) masa-masa MPASI
dan sebagainya, yang intinya adalah soal kewanitaan dan keibuan. tapi bukan yang melibatkan perasaan begitu ya (wkwk), lebih kepada hal-hal yang teknikal. misalnya, bagaimana mengurus pendaftaran KUA, tips dan trik memilih pemompa ASI, dan teman-temannya.

beberapa kali saya ingin menulis dan membagikannya di akun Tumblr ini. namun, kok ya rasanya kurang pas berhubung pembaca di sini kan ada laki-laki ada perempuan, ada yang belum butuh dan sudah nggak butuh informasi-informasi macam itu. jadi, saya berpikiran untuk membuat akun Tumblr lain yang isi tulisannya akan seputar kewanitaan tersebut.

harapan saya nantinya, Tumblr tersebut akan menjadi wadah diskusi. teman-teman bisa saling berbagi cerita di kolom reply postingan-postingannya, bertanya lewat fitur ask, atau bisa juga ikut menjadi kontributor, men-submit cerita.

kenapa sih di Tumblr? padahal kan banyak pelantar obrol-obrol kewanitaan yang lain. karena, pertama supaya bentuknya tulisan (sekalian saya membiasakan menulis terus). kedua, karena kalau bentuknya grup what’s app atau grup-grup lain, saya merasa eman sebab tulisannya seringkali tenggelam. ketiga, karena saya sayang sama teman-teman di Tumblr semua (hueee #ciegitu). pinginnya sih, sesekali lah kita ngobrol yang agak-agak teknikal dibandingkan yang emosional. supaya kita lebih berdaya gitu.

jadi…
kalau teman-teman (terutama yang perempuan dan yang merasa membutuhkan) setuju dan mendukung proyek menulis kewanitaan ini, mohon jawab di kolom reply ya. “mau” atau “ayok mbak bikin” atau apapun bentuknya. kalau ada 50 orang yang bilang mau, insyaAllah proyek ini saya realisasikan sehabis lebaran nanti. kalau nggak sampai 50? ditunggu dulu deh, sampai lah ya 50 mah.

tentunya, saya bukan expert masalah kewanitaan ini. saya pun masih harus banyak belajar. saya berencana nantinya mengundang teman-teman lain yang sudah lebih berpengalaman untuk juga membagi tulisan, atau akan saya wawancarai mereka–kemudian hasilnya saya tulis.

gimana? mau nggak?
liefs.

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

pertemanan (?) pacaran (?)

“Udah selesai ngabisin egonya, De? Jadi kapan berani nikah? Masih muter-muter aja?”

Gue ketawa pas denger pertanyaan ini pas baru pulang dari Jogja. Banyak orang nyuruh gue nikah sementara sampe sekarang gue masih kelihatan sibuk sama diri gue sendiri. Yang katanya “mau buang ego tapi nggak selesai-selesai”, yang katanya “belum berani berkomitmen dan sampe kapanpun nggak akan berani berkomitmen ”. Tulisan ini bukan buat nyari pembenaran ato ngeyel “prestasi gue udah bagus tapi kalo nggak nikah dianggep nggak punya apa-apa”, sebab buat gue, yang menilai prestasi manusia itu cuma Allah. Bukan manusia. Jadi gue nggak pernah ngerasa perlu mendengarkan sugesti negatif yang kebetulan mampir di sekitar gue.

Di inbox, banyak yang nanya perspektif gue tentang pertemanan, cinta, jodoh, dll, dsb. Moga tulisan ini cukup bisa mewakili.

Gue baru mengenal pertemanan pas kuliah. SD sampe SMA nggak punya temen. Makanya gue nggak nyaman kalo dapet pujian atau perhatian berlebih karena gue biasa jalanin hidup sendiri tanpa banyak sorotan. Pas kuliah, ada kejadian yang akhirnya bisa memecahkan gunung es dalam hati gue. Akhirnya gue mutusin untuk berusaha melembutkan hati. Memperlakukan orang di sekitar gue dengan baik, tulus dan tanpa syarat.

Gue udah terlalu sering ngelihat banyak orang yang mikir bahwa kebaikan itu harus bersyarat makanya mereka “nggak menjadi diri sendiri” hanya karena pengen dihargai orang lain. Ada orang yang jadi benci sama fisiknya, pura-pura kaya, mengarang banyak bualan hanya untuk dihargai orang. Padahal bukan begitu caranya. Gue berharap dengan ngasih kebaikan yang tanpa syarat, orang-orang di sekitar gue nyadar bahwa manusia berhak dihargai karena mereka manusia bukan karena mereka cakep, kaya, atau pintar.

Pernah nggak sih, ketulusan gue dibalas dengan hal yang nggak baik sama orang?

Pernah. Dan gue sampe sekarang belum sanggup duduk lama-lama deket orang tersebut. Menyembuhkan diri itu butuh waktu. Gue berusaha memperlakukan orang tersebut dengan baik tapi gue menghindari hubungan profesional sama dia agar hubungan kami nggak tambah memburuk. Mencintai itu wajib, sama wajibnya dengan mencegah agar diri kita tidak didzalimi orang.

Tiap kali gue survey tentang akhlak baik, kebanyakan orang di sekitar gue ngasih jawaban bahwa akhlak baik itu:

“Ikhlas”, “Pemaaf”, “Sabar”, “Qona’ah”

dan pas gue denger penjelasannya, semua itu berasa terlalu Plegmatis sampe gue itu ngebayangin bahwa orang yang berakhlak baik itu selalu lemah lembut yang kalo diinjek-injek orang itu diem aja. Padahal nggak gitu. Mencintai itu wujudnya banyak. Kadang cinta itu berwujud kelembutan. Tapi ada kalanya cinta itu berwujud keberanian untuk meluruskan ketika orang yang ada di hadapan kita tidak berjalan di tempat yang benar. Gue sendiri sampai sekarang masih belajar kapan gue harus lembut dan kapan gue harus tegas.

Cinta itu adalah tanggung jawab yang butuh kecerdasan. Kalo kata pak Habibie:

“Kecerdasan tanpa cinta itu berbahaya, Cinta tanpa kecerdasan itu tidak cukup”.

Sejalan dengan yang dikatakan oleh ustadz anis matta:

Mencintai -dengan begitu- adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pencinta sejati selalu mengembangkan kepribadian mereka secara terus menerus. Sebab hanya dengan begitu mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka mencintai. Cinta dan kepribadian adalah dua kata yang tumbuh bersama dan sejajar. Makin kuat kepribadian kita makin mampu kita mencintai dengan kuat. Mengendalikan perasaan saja dalam mencintai hanya akan melahirkan para pembual yang menguasai hanya satu keterampilan menebar janji.

Perkara pacaran…..

gue milih buat nggak pacaran karena gue nggak mau mengikat diri pada komitmen di luar pernikahan. Mungkin ada temen-temen yang nggak mau pacaran untuk menghindari potensi zina. Tapi andaipun gue bisa pacaran tanpa zina, gue tetep milih nggak pacaran. Kata temen-temen gue, gue itu orang berjiwa bebas yang takut komitmen dan egois karena nggak mau memperjuangkan hubungan. Perspektif orang beda-beda ya. Buat gue, komitmen untuk menjalin hubungan itu bukan main-main. Jadi kita nggak bisa gitu aja “icip-icip terus kalo nggak cocok buang aja”. Gue menghargai manusia, makanya gue ga berharap terjebak sama hubungan yang demikian.

“Lo bilang kayak gitu tapi lo sering PHP”

“Susah hidup zaman sekarang, kalo lo baik dan ramah ke orang, lo bakal dikira flirting ato PHP”

Gue nggak pengen pacaran karena fokus gue hari ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada ummat. Moga tulisan ini nggak termasuk Riya’. Buat gue, modal pernikahan itu bukan sekedar membuang ego tapi bagaimana kita bisa mencintai ummat secara utuh. Maka ketika Allah ngasih gue waktu tunggu, hal yang pengen gue lakuin adalah menenggelamkan diri dalam mencintai ummat. Karena mencintai ummat itu nggak mudah. Ada kalanya, kita ketemu orang yang ngeselin, yang kita baik-baikin malah marah, yang benci banget sama dakwah, yang nggak mau sholat, yang judgemental dan banyak lagi.

Kalo gue pacaran dan fokus gue cuma ke pacar gue doang, kapan gue belajar melayani ummat?

Pernikahan itu titik kritis. Kalau kita ketemu pasangan yang mencintai ummat, kita mungkin kebawa cinta sama ummat. Tapi kalo kondisi keimanan dua-duanya sama-sama turun, kita hanya akan fokus ke diri sendiri, keluarga sendiri dan lupa sama ummat. Gue nggak berharap pernikahan gue kayak gitu.

Kalo nggak pacaran, kapan dapet jodoh?

Gue percaya sama takdir. Kalo ditanya temen, gue suka iseng jawab “Tenang, gue sering naik kereta kok. Kali aja jodoh gue di stasiun” ~XD

Kenapa istilah pacaran tidak dikenal dalam Islam?

Karena para sahabat dulu sibuk melayani ummat dan ketika mereka memutuskan berkomitmen pada suatu hubungan, mereka akan langsung menikah. Untuk mengenal, jalannya bukan cuma lewat pacaran. Mungkin gue kelak bakal dipertemukan dengan jodoh karena banyak bermuamalah, atau kejadian-kejadian random lainnya yang gue nggak ngerasa perlu sibuk nebak. Cukuplah Allah sebaik-baik pembuat skenario.

“De, biasanya kalo ada orang umur 27 ke atas belom nikah itu kalo bukan karena kepribadiannya bermasalah yaa berarti dia punya masa lalu yang nggak baik. Kamu nggak takut dapet suami yang kayak gitu?”

Wajarnya manusia punya rasa insecure masing-masing. Gue sendiri pun kadang insecure kalo nikah udah ga bisa bebas backpacking kemana-mana lagi, atau dapet suami yang unexpected. Tapi semua gue tutup dengan kesadaran bahwa Allah maha memberi kebaikan. Apapun yang terjadi pada hari ini dan masa depan, gue berharap kebaikan dari Allah yang selalu menjaga gue. Dan doa gue sehari-hari adalah andai jodoh gue datang kelak, Allah tetap menjaga hati kami agar bisa ngasih yang terbaik buat ummat.

“Jadi kapan selesai buang ego De?“

“Sampai nikah dan punya cucu pun, manusia masih butuh ngebuang ego“

(Tidak Lagi Ada) Foto

“Nov, kok di Menata Kala engga ada fotomu? Terus, di media sosial juga kok sekarang engga ada foto-foto wajah lagi sih? Paling dari poster-poster kegiatan, itu juga ga jelas. Apa yang membuat kamu take out foto-fotomu dari media sosial? Serius deh, aku penasaran banget!”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja dilontarkan oleh sahabat saya saat kami bertemu dua pekan lalu di salah satu tempat jajan di dekat ITB. Mendengar pertanyaan itu, sejujurnya saya kaget bercampur senang. Senang karena ternyata sahabat saya ini memperhatikan saya meskipun kami sekarang jarang sekali bertemu. Tapi, saya juga kaget karena ia adalah orang pertama yang dengan serius menanyakan pertanyaan itu kepada saya. Saya mengawali jawabannya dengan tawa, “Hahaha, apaan sih kamu? Dateng-dateng pertanyaannya serius! Hari ini pengennya ngobrol yang lucu-lucu aja sebenernya. Tapi, yaudah deh kalau mau deep discussion.” Lalu, apa yang menjadi jawaban saya kala itu?

MENGAPA TIDAK ADA FOTO WAJAH DI SOSIAL MEDIA?

Sejak hampir satu atau dua tahun ke belakang, saya mulai menghapus foto-foto saya di sosial media. Sebelumnya, banyak sekali foto saya bertebaran disana, termasuk juga foto-foto selfie yang jika saya lihat lagi sekarang rasanya malu. Awalnya, saya menganggap bahwa memajang foto yang wajahnya terlihat super-jelas itu wajar saja, toh semua orang juga melakukannya. Tapi, setelah saya memahami bahwa tampilan wajah seorang perempuan bisa menjadi fitnah bagi laki-laki, saya mulai menghindarinya. Jangankan saya yang tampilannya masih biasa-biasa saja, perempuan yang bercadar sekalipun ternyata bisa menjadikan laki-laki berangan-angan tentang kecantikannya. Lho? Saya tau dari mana? Dari cerita teman-teman saya yang laki-laki di komunitas ketika kami mendiskusikan tentang kasus kejahatan seksual. So, tidak memposting foto di sosial media ini saya lakukan untuk menjaga diri: menjaga diri saya dan juga menjaga orang-orang yang mungkin melihat foto saya.

TERUS, KAMU MERASA KAMU CANTIK?

Bukan, ini sama sekali bukan karena saya merasa cantik lalu saya takut kecantikan saya menjadi konsumsi publik. Saya mengakui kalau standar cantik seperti perempuan-perempuan yang menjadi model di iklan shampoo, lotion, pelembab, atau trend perempuan kekinian itu memang tidak bisa saya penuhi. Saya hanya perempuan biasa-biasa saja yang bahkan tidak punya tool kit make up dan minim skill dalam memoles wajah. Tapi, tentu bukan ini poinnya. Lalu apa? Poinnya adalah, ketika foto kita terposting di sosial media, kita tentu tidak bisa lagi mengontrol apa yang orang lain lakukan dengan foto-foto kita, kan? Bisa saja foto itu membuat orang lain merasa rendah diri karena membanding-bandingkannya dengan kita, atau bisa juga foto kita menjadi celah syaitan untuk memanjangkan angan-angan lawan jenis. Paham kan? Na’udzubillah.

LALU, BAGAIMANA DENGAN MENGABADIKAN MOMEN?

Ya, saya mengakui bahwa banyak sekali momen-momen penting yang memang tidak bisa diulang dan hanya bisa diabadikan dengan sebuah foto. Tapi, itu tidak lantas membuat foto (yang di dalamnya ada wajahmu terlihat jelas itu) menjadi wajib diposting di sosial media, kan? That’s why, saya lebih suka membagikan cerita di balik momen hanya dengan menyertakan foto ramai yang mungkin tidak terlihat juga sayanya ada dimana. Hehehe.

Begitu, teman-teman! Saya masih terus belajar dan mendidik diri tentang masalah ini. Mohon maaf jika ternyata masih ditemukan foto-foto lama saya di sosial media, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya. Kita belajar bareng-bareng, yuk! Saya yakin, Allah pasti akan memudahkan kita untuk bisa mengutuhkan pemahaman dan tindakan tentang sebaik-baik menjaga diri. Minta tolong terus sama Allah yuk, saudari-saudariku! Oiya, ini adalah opini pribadi, silahkan ambil yang baiknya, tak masalah kok jika ternyata kita berbeda pendapat. Bagaimana menurutmu?

Eh, kemarin Hari Kartini, ya? Selamat berjuang, perempuan-perempuan. Sebab, perjuangan yang sulit dan banyak godaannya adalah perjuangan untuk menjaga diri. Menangkan!

3 Rahsia Yang Ditutup Rapat-Rapat adalah:

1. Jodoh

Takde siapa tahu siapa jodoh kita dan boleh tentukan siapa jodoh kita. Tak guna kita fikir sedalam-dalamnya macam mana berjumpa jodoh dan bila berjumpa jodoh. Kenapa eh? Lagi banyak kita fikir lagi pening dan lost lah kita. Kenapa eh? Jodoh itu rahsia yang ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu, banyak berdoa pada Allah dan yakinlah bahawa jodoh yang ditentukanNya pasti yang terbaik dan pada masa yang kita dah bersedia dan mampu memikul tanggungjawab rumahtangga. Setiap hari sedekahkan al-fatihah dan doa yang terbaik buat bakal jodoh. Jadilah yang solehah, dapatlah nanti suami yang soleh. Yang dah bertemu jodoh, peliharalah ia dengan iman dan ihsan. Hiaskan perkahwinan itu dengan kasih sayang.

2. Rezeki

Rezeki pun rahsia yang ditutup rapat-rapat. Ada orang cacat tubuh badan dan derianya tapi, mampu membina empayar yang besar. Ada orang usaha satu hari, esok dah berjaya. Belajar main-main tapi result gempak. Baca sekali dah hafal and faham. Ada orang sempurna tubuh badan, satu kerja pun susah nak buat.Ada orang pula kerja bagai nak gila, masih sama. Belajar pagi petang siang malam, result biasa2. Baca berpuluh puluh kali pun susah nak faham. Kejayaan,keluarga, harta, ketenangan dan banyak lagi adalah rahsia Allah. Sebab tu bila kita rasa kita boleh menentukan rezeki kita, otak boleh jadi gila dan rasa nak pecah. Bila kita rasa kita boleh tentukan rezeki kita, hati tak tenang dan selalu dalam kerisauan. Rezeki kita, Allah yang tentukan. Yakin lah orang berusaha pasti berjaya. Hidup susah itu bukan selamanya.Orang bijaksana belajar daripada kesalahan. Orang bersyukur tenang hatinya. Rezeki itukan rahsia Allah. Apa yang kita dapat hari ini adalah yang terbaik untuk membersihkan hati dan selalu bersyukur.

3. Ajal maut.

Sakit bukan punca meninggal dunia. Ada orang sakit kronik, hidup bertahun-tahun. Ada yang sihat walafiat, meninggal dalam tidur. Hidup mati itu rahsia Allah yang ditutup rapat-rapat. Selagi hidup, usahalah menjaga kesihatan dan kehidupan yang dipinjamkan Allah dengan bersungguh-sungguh kerana pastinya ajal akan menjemput di mana sahaja dan pada bila-bila masa. Fikirkan kematian dan dosa sudah cukup untuk buatkan kita menjadi insaf kerana syurga dan neraka itu benar. Semoga diberikan pengakhiran yang terbaik di syurga.

Santapan rohani hari ini..

Pasukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Sedikit tausiah Hubabah Ummu Salim kemarin (istri habib umar) ada salah satu jama'ah yg pingsan.. pas di liat dia nangis histeris karena hubabah nur sedang ngebahas ‘nanti di padang mahsyar nabi muhammad nyediain onta. Dan sayidah fatimah naik.. pengikut di bawahnya adalah fatimah2 yang dia punya rasa malu yg tinggi… seperti tidak menampakkan kecantikannya.💕💕

‪Lalu hubabah nur engga mau ngelanjutin tausiah kalo masih ada yg ngerekam suaranya, memfotonya… dan bilang yg melanggar berarti dia berhianat.. sampe pada bilang “Ya Allah” semua yg dateng.

‪Biar kita jadi fatimah2 yg ikut di bawah unta sayyidah fatimah.. pesan hubabah nur solat 5 waktu, banyak ngaji al-qur'an.. engga banyak keluar rumah.. juga haus akan ilmu agama..

Sekitar seminggu yang lalu, screenshot yang berisikan tulisan di atas ‘berseliweran’ di Instagram saya. Ya, karena saya banyak mem-follow akun-akun yang berhubungan dengan Tareem, Habib Umar, habaib, dan kalam ulama. Sejak kedatangan Habib Umar bin Hafidz di Indonesia, instagram saya penuh dengan berita, info, maupun quote dan nasihat Habib Umar dalam rangkaian Tabligh Akbar-nya di beberapa kota di Indonesia. Istri Habib Umar, Hubabah Ummu Salim, juga mengisi beberapa Tabligh Akbar di beberapa kota di Indonesia yang dilakukan secara tertutup. Keesokan harinya, saya mendapat tulisan di atas versi lengkapnya. Ada seorang muslimah yang men-share tulisan tersebut di grup WhatsApp Muslimah Ahbaabur Rasul (Huhu.. makasih untuk mbak Khoirunnisa yang sudah masukin saya di grup ini, saya jadi banyak dapat ilmu).

Dalam setiap tabligh akbar-nya, istri Habib Umar selalu menekankan bahwa muslimah harus meneladani akhlak, perilaku, dan sikap Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Muslimah harus mencontoh para wanita di Tareem (Hadramaut) yang perilakunya meneladani Sayyidah Fatimah. Muslimah harus memiliki rasa malu yang tinggi. Malu berarti tidak gemar memamerkan kecantikannya di hadapan lelaki yang bukan mahromnya, menutup aurat secara sempurnya, dan tidak sekalipun memajang/mem-posting foto dirinya di media sosial. Kemudian ada lagi seorang muslimah yang men-share hasil ceramah istri Habib Umar di grup WA Muslimah Ahbaabur Rasul seperti berikut:

“Hindarkan untuk tidak menjadi hobi mengambil foto wajah kita. Karena apa? Flash/cahaya kamera akan menghilangkan nur dari air wudhu kita.
Sedangkan Rosululloh Shollallaahu alaihi wasallam di yaumil qiyamah nanti mengenali kita dari bekas air wudhu. Sebab alasan itu ahsan seorang muslimah tidak suka berfoto dan MAJANG foto untuk tatapan publik.”

Habib Umar bin Hafidz juga mengatakan:

“Perempuan yang memamerkan dirinya di media sosial ibarat menjual dirinya sendiri.”

Lebay???

Hingga saat ini tidak ada ulama yang mengharamkan posting wajah/foto muslimah di media sosial. Namun Sayyidah Fatimah berkata pada Rasulullah SAW. bahwa sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak memandang dan tidak dipandang lelaki.

Seorang teman mengatakan, “Hakikat jilbab adalah menutup perhiasan (keindahan) dari tubuh seorang perempuan. Jika seluruh tubuh wajib ditutup, maka seharusnya wajah lebih wajib untuk ditutup karena wajah merupakan bagian utama yang menunjukkan kecantikan pada diri seorang perempuan. Minimal yang harus dilakukan muslimah yang tidak bercadar adalah tidak memasang foto di media sosial yang dapat dilihat banyak orang.”

Lalu, apakah muslimah yang bercadar (berniqob) bisa bebas memasang foto dirinya di media sosial?

Dear muslimah bercadar, periksa kembali apa niat dan tujuanmu menggunakan cadar. Bercadar artinya siap untuk tersembunyi dari segala bentuk pengeksposan diri. Bercadar bukan berarti bebas mem-posting/memasang foto-foto diri di media sosial. Tetap milikilah RASA MALU. Justru perempuan-perempuan bercadar yang fotonya bersepahan di media sosial membuat hati para laki-laki shalih berdesir.

“Lha, itu banyak kok selebritis dan selebgram yang bercadar tapi sah-sah aja posting foto dirinya di media sosial! Yang mengatakan posting foto itu terlarang, berarti terlalu lebay!!!” 

Hehe, iya barangkali memang terlalu lebay. Mungkin juga banyak yang tidak setuju terhadap postingan saya ini. Tapi bagi saya, yang menjadi panutan dan role model saya tetaplah Fatimah Az-Zahra, bukan selebgram ataupun selebritis. :) Salah satu bentuk malu perempuan jaman now adalah tidak memasang foto dirinya di media sosial.

Saya bahkan masih belajar dan sangat perlu memperbaiki diri. Saya ingin di akhirat kelak saya bisa memandang wajah Sayyidah Fatimah Az-Zahra, si pemimpin surga bagi kaum wanita. Wanita yang kelak di akhirat bisa berjalan di belakang Fatimah, paling dekat dengan Fatimah, dan bisa memandang wajah Fatimah adalah wanita-wanita yang selama di dunia paling sempurna menutup auratnya, meneladani pakaiannya, meneladani akhlaknya, dan meneladani perilakunya.

Kemarin pagi saya membaca sebuah postingan di instagram, kira-kira seperti ini, “Kasih sayang Sayyidah Fatimah begitu besar kepada para muslimah, asalkan muslimah itu mau meneladani beliau, maka dia akan jadi wanita yang beruntung. Karena wanita yang tidak bisa melihat Sayyidah Fatimah di sirath, dia tidak akan melihat Rasulullah SAW.

Semoga di akhirat kelak kita termasuk pasukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Aamiin. :’)

Menghadapi Masa Lalu

Saya pernah berada di suatu forum pelatihan yang membuat sesenggukan, pasalnya di forum tsb bapak trainernya meminta semua peserta forum untuk berdamai dengan masa lalu sebelum merancang masa depan yang kita harapkan.

“Kunci dari menghadapi masa lalu adalah mengikhlaskan, bukan hanya memaafkan, atau melepaskan.”

“Kalau anda masih merasa kesal, benci, sedih, berarti anda belum sepenuhnya mengikhlaskan.”

Waktu itu kami diminta melingkar berlima. Perempuan dan laki-laki dipisah. Kami bergandengan tangan, dan memejamkan mata. Sedangkan bapak trainer masih saja memberi wejangan.

Saya menangis tak henti, sesenggukan sampai lemas ingin duduk. Karena jujur pada saat itu saya sedang mencoba berdamai dengan masalah-masalah saya saat ini dan yang terjadi di masa lalu. Rasanya bayang-bayang itu terus datang dan mengacak-acak lagi pikiran positif saya. Saya bahkan sempat pergi ke psikolog sebelumnya. Tapi tetap saja, tidak ada perubahan berarti. Saya masih sering menangis sendirian.

Saat itu, saya begitu merasa tertampar. Berarti selama ini saya belum mengikhlaskan takdir itu terjadi kepada saya. Saya belum mengikhlaskan cara Allah untuk menyampaikan hikmah kepada saya. Saya belum benar-benar baik-baik saja. Seolah memaafkan, tapi masih memupuk benci.

“Mintalah izin kepada Allah, mintalah bantuanNya, untuk meringankan dan mengikhlaskan semuanya. Karena barangkali kita terlalu sombong seakan bisa menyelesaikan semuanya, padahal tidak sama sekali.”

Sejak saat itu saya minta sama Allah. Supaya saya lebih ikhlas. Supaya saya bisa…mengikhlaskan semua masalah-masalah saya di masa lalu. Meski makan waktu bertahun-tahun, bahkan sampai saat inipun saya masih belajar.

Tapi saya yakin, pada satu titik saya akan benar-benar bisa mengikhlaskan semuanya. Dimulai dari memaafkan, dipupuk dengan syukur, dijalani dengan sabar.

Ternyata, ikhlaspun butuh diperjuangkan.

Mencari Mutiara Terpendam di Samudera Tumblr

Saya selalu senang menjelajahi samudera Tumblr untuk menemukan blog dan konten yang menarik.

Menarik dalam definisi yang luas dan subjektif; bisa berarti menginspirasi, mengharukan, menyemangati, menambah wawasan, menampar, menohok, membuat terbahak-bahak, dan lain-lain.

Sebagian bisa saya dapatkan dengan mengikuti blog yang sudah populer. Namun lebih menyenangkan rasanya ketika saya bisa menemukan mutiara yang terpendam; blog atau konten yang belum terkena sorotan panggung, namun tepat mengenai hati-pikiran saya.

Setelah saya amati, saya mendapatkan kesimpulan, bahwa blog dan konten yang seperti itu memiliki benang merah: (1) ditulis apa adanya dari seseorang yang berkarakter dan orisinil; (2) orang itu telah melalui banyak proses, baik berupa perjalanan hidup secara umum maupun berupa kebiasaan menulis secara khusus.

Saya sendiri masih belajar untuk menerapkan kedua prinsip tersebut–orisinalitas dan kemauan untuk berproses, dan saya menemukan banyak sekali manfaatnya, baik dalam kehidupan secara umum maupun dalam kehidupan tulis menulis (yang belum ada apa-apanya ini).

Nah, pertama saya ingin mengajak teman-teman yang membaca ini untuk tidak malu tampil orisinil dan rela menjalani proses.

Artinya kita harus mau tampil apa adanya sebagai anak ingusan yang karyanya masih jelek. Tidak masalah, semua yang sekarang keren pernah jelek dahulu kala, hanya saja kita tidak pernah melihatnya. Ini adalah proses yang harus ditapaki terus menerus, tidak bisa dilompati.

Kedua, saya dengan senang hati mau mem-follow kamu yang berusaha orisinil dan mau berproses–dan saya yakin ribuan pengguna Tumblr lainnya juga mau. Saya percaya kita bisa saling berbagi gagasan, hikmah, cerita, inspirasi, atau apapun yang menarik.

Bagi kamu yang satu frekuensi, silakan tanggapi postingan ini dengan komentar apapun (ingat, orisinil dan berproses). Bisa dengan reply atau reblog, agar pembaca lainnya bisa terpicu untuk mengunjungi blog kamu.

😁
Takut Allah Engga Ridha

Tidakkah kita akan bersedih hebat jika kita mengetahui bahwa semua yang kita lakukan berakhir menjadi tak bernilai bagai debu-debu yang beterbangan?

Selepas macetnya Bandung di Senin sore, akhirnya jalan menuju pulang sebentar lagi terlihat. Tapi ternyata, waktu Maghrib untuk shalat di awal waktu sudah hampir terlewat. Akhirnya, saya memutuskan untuk mampir ke rumah seorang sahabat, “Assalamu’alaikum, Om! Laila (nama samaran) hari ini libur, ya? Ada di rumah?” Si Om yang sudah tidak asing lagi melihat saya pun langsung menyuruh masuk, “Ada di atas, Nov. Langsung aja kesana, ya. Laila libur, kok, dari tadi ada di rumah.”

Dengan terburu-buru, saya pun naik ke atas, “Lailaaaa! Lagi apa, beb? Aku mau ikut shalat, takut ketelatan.” Saya mendapatinya sedang duduk di atas sajadah, “Eh ada kamu, sini masuk! Ayo cepetan shalat dulu.” Saya menangkap sesuatu dari matanya, tapi saya menahan diri untuk langsung bertanya, khawatir waktu tiba-tiba sampai di Isya. Saya pun shalat, sambil sesekali terbersit di pikiran tentang apa yang mungkin sedang dihadapi Laila. Setelah selesai, saya bertanya, “Laila, ada apa? Kok sedih, sih? Sini aku peluk.” Tanpa berkata apa-apa, Laila terisak dalam pelukan saya. Saya menemaninya mengatur nafas sambil mengusap-usap punggungnya, “Masih soal kemarin itu? Engga seburuk yang kamu kira, kok. Maa syaa Allah, kamu lagi disayang banget sama Allah. Malam ini makan bareng aku yuk biar bisa cerita banyak.” Dalam isaknya, Laila hanya mengangguk dalam isyarat.

Tak lama kemudian, kami pun pergi berjalan ke luar rumah. Laila pun bercerita, 

“Nov, aku masih sedih banget soal masalah kemarin itu. Tapi ternyata ada yang bikin aku lebih sedih. Aku takut banget kalau Allah engga ridha dengan apa yang aku lakukan. Aku takut Allah engga ridha sama aku karena kemarin-kemarin aku begitu.”

Deg! Mendengarnya, rasanya seperti anak-anak panah berjatuhan di atas kepala saya. Dengan cepat, banyak hal berkelebat di pikiran saya. Subhanallah, saya pun takut kalau-kalau ternyata tidak ada keridhaan Allah dalam segala yang saya lakukan, saya perjuangkan. Padahal, semua lelah bisa musnah jika Allah tidak ridha dengan apa yang kita lakukan, bukan? Saya mendadak gelisah, “Lailaaa, aku juga takut Allah engga ridho sama aku. Apalagi, Ya Allah, kemarin-kemarin aku lagi ngerasa salah banget!” Hati pun mendadak gerimis, yang percikannya sampai ke pelupuk mata.

Sesaat kemudian, saya mendadak kembali ingat dengan apa yang dikatakan (seseorang yang saya anggap sebagai) Ibu kemarin siang saat saya berkunjung ke rumahnya di waktu libur. Ketika menanggapi cerita saya, beliau berkata,

“Nov, kamu tau engga galau yang elegan itu apa? Galau elegan itu adalah galau karena takut Allah engga ridho terhadap kita. Bukan masalah lagi itu mah, tapi masalah banget! Kalau galau-galau receh engga penting mah ya udah lah engga usah dibuat jadi besar. Masalah besar itu adalah kalau ternyata Allah engga ridha sama kita, udah deh lasut semua.“

Ah! Gerimis di pelupuk mata menderas menjadi hujan lebat. Iya banget engga, sih? Kita, hmm saya maksudnya, rasanya masih sering punya tangis dengan sebab-sebab yang lain: yang hanya tentang dunia, diri saya sendiri, dan dinamika diantara keduanya. Lalu, masih juga galau karena sebab-sebab recehan, mengkhawatirkan sesuatu yang tidak layak dikhawatirkan. Padahal, ada satu hal yang paling penting, yaitu tentang memastikan bahwa Allah ridha terhadap kita.

Allah, meski masih terseok-seok belajar dan tertatih-tatih mendekat ke arah-Mu, semoga Engkau senantiasa ridha atas apapun yang dilakukan. 

Robbanaa taqobbal minnaa innaka antassamii'ul ‘aliim. Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Doa dalam Q.S Al-Baqarah : 127)

Jadilah Diri Sendiri Dalam Versi Terbaik

Semakin hari, semakin saya menyadari fakta bahwa barangkali kita hidup di zaman : menjadi orang lain adalah sah dan pantas dilakukan selama kita akan disukai, dicintai, dielu-elukan.

Pernahkah terpikir sebentar saja dalam benak kita bahwa :
1. Yang kita lakukan dengan menjadi orang lain adalah sungguh tidak perlu
2. Mereka yang menyukai kita belum tentu benar menyukai kita.
3. Mau sampai kapan memakai topeng?

Sungguh, bila tiga pertanyaan itu setidaknya bisa kita jawab, maka kita bisa mulai bertindak dan berubah.

Menjadi orang lain yang bukan kita, hanya agar disukai adalah kesia-siaan. Karena siapa yang tahan menjadi orang lain? Dalam waktu berapa lama kita tahan menjadi orang lain? Dan ketika kita mulai jenuh, apakah sosok kita yang sebenarnya, yang baru saja dikenal orang, akan dengan mudah diterima karena mereka telanjur mengganggp kita sebagai seorang pembohong?

Salah satu rahasia berbahagia di dunia ini adalah sederhana. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Dan bersyukur yang nampak paling mudah meski sebenarnya sulit adalah bersyukur atas diri sendiri. Sepenuhnya, seutuhnya, dan sesadarnya. Bagaimana kita hendak bersyukur terhadap apa adanya diri sendiri bila kita memutuskan menjadi orang lain?

Mencintai diri sendiri dimulai dengan bersyukur. Itulah mengapa masih banyak orang sulit mencintai dirinya sendiri, karena ia tidak dengan penuh, utuh, dan sadar, bersyukur atas dirinya sendiri, atas semua yang diberikan Tuhan pada dirinya.

Percayalah, pada satu titik dalam waktu hidupmu, kau hanya ingin dicintai sebagai dirimu sendiri, bukan yang lain.

Jadilah diri sendiri, dalam versi terbaik yang kau bisa. Tentu saja, menjadi manusia tidak boleh menyerah saat sadar bahwa diri masih perlu banyak belajar. Maka belajarlah. Jadilah versi terbaik dirimu sendiri.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 9 Februari 2017

LALAI

“Yuk shalat”
“Ah, kalem lah, kerjaan dulu ini, ntar aja, paling sejam lagi kira-kira beres.”

Dalam sebuah kajian kemarin, seorang teman saya mengingatkan saya dalam perjalanan pulang.

“Tau gak choq, apa yang lebih celaka daripada orang yang meninggalkan shalat?”

“Entahlah, bukankah tidak shalat juga udah celaka yah nasibnya di akhirat?” jawab saya

“Bukan choq, yang lebih celaka nasibnya dari orang yang meninggalkan shalat, adalah yang me-lalai-kan shalat. Coba deh baca surat al-ma’un.”

Jujur, saya pikir yang celaka itu yang meninggalkan shalat. Karena penasaran, lalu sesampainya di rumah, saya langsung membaca surat Al Ma’un, yang berbunyi.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat | (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” Q.S. Al-Ma'un : 4-5

Lalu, saya mencari, apa sebenarnya arti dari lalai itu sendiri. Dan akhirnya saya menemukannya, menurut KBBI,

Lalai adalah tidak mengindahkan; lengah; tidak ingat karena asyik melakukan sesuatu; terlupa:

Astaghfirullahaladzim, pernyataan singkat dari teman saya itu benar-benar memberi saya tamparan. Karena saya menyadari, seringkali kita tidak mengindahkan perintah-Nya, lengah akan ajakan shalat, keasyikan urusan duniawi, dan akhirnya lupa akan kewajiban kita.

Seringkali, makna adzan bagi kita telah berubah, bukan lagi sebagai panggilan shalat, tapi adalah sebagai pengingat waktu.

Ketika adzan dzuhur, maka bagi orang kantoran, itu adalah jam istirahat. Dan ketika adzan ashar tiba, maka itu sudah saatnya mau pulang.

Makna adzan kadang bagi kita sudah bukan lagi panggilan ibadah, atau waktu menghadap kepada sang pencipta, tapi bagi kita, tak lebih sebagai alarm yang dibunyikan oleh suara manusia dengan bantuan toa masjid.

Karenanya, banyak dari kita yang akhirnya menjadi lalai terhadap shalat.

Seberapa sering kita melalaikan shalat? Yang lebih mengerikan adalah, seberapa sering kita secara sengaja melalaikan shalat?

Menunda karena ada kerjaan kantor yang bisa dikerjaan nanti. Menunda karena tanggung nonton film yang seru padahal bisa di pause. Menunda karena membalas comment-comment di social media padahal belum tentu orang lain juga langsung membalasnya. Menunda karena merasa waktu masih lama, jadi tidur sejenak. Menunda karena merasa rentang waktu terhadap adzan berikutnya adalah benefit kita untuk menunda shalat.

Padahal, sisa waktu yang ada bukanlah untuk dipakai berleha-leha ria, tapi sebagai waktu tambahan jika ada urusan darurat yang memang tak bisa ditinggalkan.

Apa mungkin karena kita ini sudah terbiasa dengan deadline, maka kita juga biasa mendeadlinekan ibadah kita?

Sebanyak 5 kali dalam sehari, kita mendengar adzan. Sebanyak 5 kali dalam sehari pula, kita diajak untuk menuju kemenangan. Pertanyaannya, berapa banyak dalam sehari, kita langsung menjawab panggilan tersebut? Berapa banyak dalam sehari kita memenangkan pertarungan antara diri kita dengan rasa malas kita?

Padahal panggilan adzan itu tidak berbeda dengan panggilan telepon, ketika ada panggilan masuk ke handphone kita, maka langsung kita jawab panggilan tersebut. Bukankah kita tak pernah menunda untuk menjawab panggilan dari orangtua, bahkan dari bos yang darinya kita butuh gaji untuk hidup? Bahkan kita begitu semangat menjawab panggilan dari gebetan kita yang padahal dia cuman salah pencet nomor?

Tapi, kadang ada dari kita yang menunda atau bahkan mereject ketika panggilan itu masuk ke handphone kita, yakni ketika kita tidak mengenali, panggilan siapa yang masuk.

Maka bisa jadi, kita juga menunda shalat, bahkan menolak panggilan shalat, karena kita belum mengenal, siapakah yang memanggil kita. Padahal shalat, adalah panggilan Allah SWT, untuk menghadap-Nya.

Semoga, kita semua bisa memperbaiki diri, agar tidak menjadi makhluk yang lalai akan perintah sang pencipta. Sama, penulis juga, masih belajar. Mari saling mengingatkan.


LALAI
Bandung, 11 Januari 2017

Curhat : Kehidupan Pascamenikah  (Adaptasi)

Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan. 

Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)

Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. 

Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p

Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.

Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani. 

Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk. 

Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya). 

Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi. 

Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi. 

Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu. 

Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?

Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!

Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi. 

Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi. 

Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan. 

Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.  

Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)

Purworejo, 2 Februari 2017.

Sedekah Tanpa Beban

Motivasi orang untuk sedekah itu bervariasi. Ada yang ingin dapat pahala, ada yang agar dibalas berkali-lipat rezekinya, ada yang minta didoakan segera menikah atau dapat momongan, ada yang agar bisnisnya berkah, dan sebagainya. Ini wajar dan sah.

Nah, yang paling unik menurut saya, adalah mereka yang tidak punya motivasi apa-apa. Sedekah begitu saja. Dia tidak berpikir apa-apa, tidak berkata apa-apa. Linier. Tanpa basa-basi; menyegerakan kebaikan.

Dari sampel beberapa orang yang saya pantau, mereka ini termasuk yang berkarakter ceria dan bahagia. Tidak banyak mengeluh atau menuntut ini-itu—setidaknya itu yang nampak di sosial media. Sepertinya, dengan sedekah yang tanpa motivasi apapun itu, mereka tidak punya beban meskipun dalam bentuk harapan.

Sampai sekarang saya masih belajar untuk hidup tanpa beban; pikiran, harapan, perasaan—sebab semua itu pada akhirnya yang mengendalikan. Agar saya bisa terbang bebas ke manapun saya mau tanpa ada yang mengendalikan.