masakalli

4

Masakalli is the name of the dove in the film and it is very symbolic of my character.” - Sonam Kapoor

Cerpen : Bila Dia

“Nak, bila dia mampu membuatmu lebih rajin beribadah. Mampu membuatmu menjadi orang baik. Ibu tidak akan ragu untuk ikut membantumu memperjuangkannya untukmu.”

“Bila dia bisa membuatmu menjadi bermakna dan berguna. Bila melaluinya kamu merasa lebih dekat kepada kebaikan. Maka jangan sekali-kali berhenti memperjuangkannya sampai dia mengatakan kepadamu bahwa dia tidak ingin diperjuangkan olehmu.”

Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Ibu mana lagi yang tidak lagi memikirkan siapa dia dan apakah dia bisa masak, cantik atau tidak, dan lain-lain. Selain ibuku.

“Nak, perempuan manapun ingin mendapatkan laki-laki yang paling bisa menghargai dan menghormatinya, bukan yang paling mencintainya. Karena rasa cinta itu buah dari penghargaan dan penghormatan. Kalau kamu bisa melakukan keduanya, maka perempuan manapun bisa mencintaimu. Kamu jangan membuatnya jatuh cinta saat ini. Kamu hanya perlu menghargai dan menghormatinya. Kalau kamu jatuh cinta kepadanya, tidak serta merta kamu boleh membuatnya jatuh cinta kepadamu. jadilah laki-laki yang baik”, ujar ibu.

Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Yang paling paham perempuan, yang mengajarkanku tentang perempuan. Selain ibu.

“Nak, bila dia mengijinkanmu untuk memperjuangkannya. Maka lakukanlah dengan tulus, karena itu tidak berarti dia akan menjadi milikmu akhirnya. Karena tugasmu adalah mengupayakan, selepas itu jangan pernah lupa berserah pada keputusan-Nya.”

Ku rasa ibu mana lagi yang yang demikian, yang nasihatnya begitu dalam. Selain ibu.

“Nak, berjuanglah dengan cara-cara yang terhormat. Jangan sekali-kali menjatuhkan kehormatan orang lain juga kehormatanmu”

Itu pesan terakhir, sebelum ibu meninggalkan percakapan.

Rumah, 14 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

Persiapan Menjadi SuperWife SuperMom

PERSIAPAN CALON ISTRI

Penting untuk para gadis [atau JOMBLO, #ops‬! hihihi]

1. Istri… hmmm, wanita hebat di belakang suami| Hebatnya karena tempaan diri | Madrasah pertama bagi anak-anaknya pula #PersiapanCalonIstri‬

2. Menjadi istri itu mudah | Tanpa ilmu pun bisa| Tapi masa’ mau jadi istri yang biasa-biasa saja? Tentu tidak kan? #PersiapanCalonIstri

3. Sejak muda, asahlah bakat keibuan dan kedewasaan mu |Karena anak kita layak mendapat ibu yang dewasa#PersiapanCalonIstri

4. Hafalan Qur'annya jgn lupa ditingkatin | Kelak saat hamil, si anak bakal seneng banget dilantunkan bacaan Qur'an dari ibunya. #PersiapanCalonIstri

5. Berlatihlah sabar sejak sekarang | Karena engkau akan sering bangun malam kelak saat anakmu menangis. #PersiapanCalonIstri

6. Belajarlah mengatur keuangan | Istri itu manajer keuangan rumah tangga | Biarkan suamimu berfokus pada mencari, engkau yg mengelolanya. #PersiapanCalonIstri

7. Kemampuan mempercantik diri itu penting | Berikan yang tercantik untuk suami seorang | Jangan sering kumel di depannya #PersiapanCalonIstri

8. Bisa masak itu nilai plus | Menunjukkan rasa
cinta pada suami lewat perutnya | Dijamin suami betah makan di rumah #PersiapanCalonIstri

9. Biasakan jangan suka curhat pada lain jenis sejak muda | Itu tanda kesetiaanmu pada suami kelak #PersiapanCalonIstri

10. Olahragalah sejak sekarang| Semakin langsing, semakin. lincah gerak mengurus rumah dan suami kan ? #PersiapanCalonIstri

11. Spesialkan dirimu untuk suami mu saja | Jika ada masa lalu, lupakan | Insya Allah suamimu akan melupakannya juga. #PersiapanCalonIstri

12. Bangunlah sholat malam, saat ini tak apa sendiri dulu| Kelak, bakal ada suamimu yg akan mengimami, tanda kesyukuran kalian.#PersiapanCalonIstri

13. Puasa sunnah jadi tameng diri mu | Kelak, itu akan jadi benteng kesabaran saat urusan rumah tangga begitu pelik. #PersiapanCalonIstri

14. Jaga rahimmu sejak sekarang | Itu akan jadi tempat bermula bagi anak-anakmu kelak #PersiapanCalonIstri

15. Belajarlah memaafkan setiap salah | Karena rumah tangga itu tempat saling mengoreksi yang salah, berjalan membenarkan bersama #PersiapanCalonIstri

16. Buang jauh-jauh ego| Ego tak akan menang dalam rumah tangga, malah memperkeruh suasana | Mendengar lebih banyak.#PersiapanCalonIstri

17. Belajarlah tersenyum, walau masalah begitu berat | Karena perlu kau tahu, bahwa senyuman utk suami, adalah peneduh hatinya. #PersiapanCalonIstri

18. Tak apa lemah & bermanja di depan suami, itu jadi kekuatan suami menguatkan | Tapi kuat dan tegarlah didepan anak-anak dan orangtua.
#PersiapanCalonIstri

19. Kodrat wanita suka belanja | Mumpung masih belum nikah, coba lebih kontrol | Pisahkan mana kebutuhan, mana keinginan
#PersiapanCalonIstri

20. Belajarlah menahan amarah | Jika harus marah pada suami, lakukan tanpa org lain tahu selain berdua. Terutama anak. #PersiapanCalonIstri

21. Istri itu layak berpendidikan tinggi, atau setidaknya punya kemauan belajar tinggi | Karena engkau akan jadi guru untuk anakmu
sendiri.#PersiapanCalonIstri

22. Belajarlah ilmu agama| Kelak, jangan serahkan pendidikan agama anakmu pada asisten rumah tangga | Ia anakmu, bukan anak
org lain. #PersiapanCalonIstri

23. Belajarlah kata2 romantis, namun jangan keluarkan sekarang | Suami juga senang loh diberi hal yg romantis #PersiapanCalonIstri

24. Rendahkan suaramu di depan lelaki lain, lembutkan suaramu hanya pada suami saja | Itu wujud kecintaanmu padanya kelak.
#PersiapanCalonIstri

25. Teruslah doa ke Allah utk sosok lelaki misteri yg bakal menjadi suamimu kelak | Doa dalam diam, kelak Allah yg akan menyampaikan

26. Biarkanlah rasa cinta yg membuncah itu tertahan di dada mu | Hingga saat halal menanti, baru engkau ungkapkan semuanya. #PersiapanCalonIstri

27. Jika saat ini berpacaran, minta ia mendatangi walimu, atau sudahi hubungan yg tak halal itu | Engkau begitu berharga

28. Jemput jodohmu melalui cara yg Allah ridho| Taaruf lah | Sambil menunggu, persiapkan diri jadi istri super. #PersiapanCalonIstri

#copas via group sebelah 😊 #bantungesharedoang #ciyusanbukankode

Perempuan memiliki semacam sinyal. Sementara lelaki punya radar. Dimanapun berada, perempuan setia menunggu dan lelaki sigap mencari.
— 

Saya pernah bertanya kepada dosen saat belajar Biore (biologi reproduksi), “pak, kalo dalam sebulan perempuan hanya mengeluarkan satu sel telur, lalu bagaimana dengan saluran tuba fallopinya? Saluran tuba fallopi perempuan kan ada dua”.

“Memang, perempuan memiliki dua saluran tuba tapi luar biasanya, hanya satu sel telur yang dihasilkan ovarium dan menghuni salah satu saluran tuba untuk menunggu ‘pangerannya’. Dan itu gantian, seakan ada kesepakatan diantara keduanya”.

Duh, saya semakin terkesima dengan desain penciptaan. Masya Allah.

Perempuan memiliki sepasang (kiri-kanan) ovarium (tempat produksi sel telur), fimbria dan saluran tuba. Semua terhubung dengan rahim. Setiap bulan ovarium akan menghasilkan satu sel telur yang telah ‘masak’. Sel telur ini keluar ditangkap oleh fimbria dan menghuni salah satu saluran tuba sambil menunggu spermatozoa untuk 'dibuahi’ (jika tdk ada proses pembuahan, inilah yang menyebabkan tamu bulanan).

Dengan sabar, sel telur ini menunggu. Sementara, jutaan spermatozoa berlomba-lomba menghampirinya. Sebagai 'makhluk asing’ spermatozoa terus mencari. Pertanyaannya, bagaimana caranya jutaan spermatozoa itu bisa tau kalo sang ratu (sel telur) berada di saluran tuba yang kiri atau kanan?

Nah, ternyata sang ratu memiliki semacam sinyal, magnet atau sejenisnya yang dengan mudah dapat dideteksi oleh radar sang pangeran untuk ditemui.

Dalam kompetisi mencari sang ratu, banyak pangeran yang gugur. Hanya ada SATU pangeran yang jadi pemenangnya. Hebatkan? Setelah bertemu, mereka menyatu, membelah sambil berjalan menuju rahim tempat tumbuh dan membentuk manusia baru. Akhirnya jadilah saya, kamu, dia, dan mereka. Ya, kita adalah pemenang unggul sejak dialam rahim.

Perempuan itu memang sifatnya anggun. Menunggu dalam ikhtiarnya tanpa mengumbar pesona, sebab ia tahu bahwa dirinya adalah mahkota tak ternilai. Lelaki terbaik akan berlomba dengan terhormat untuk menjemput ratunya melewati jalan yang terbaik.

Ada kausalitas (sebab-akibat) yang diciptakan-Nya untuk saling menjemput dan dijemput. Aturannya ada, seperti kutub berlawanan yang akan selalu mencari dan menyatu.
Aturan Pencipta memang luar biasa. Ikuti rambunya, Insyaa Allah selamat sampai tujuan.

Selamat berjuang menjemput sang Ratu.
Selamat ikhtiar dalam menunggu.
Selamat menuju perayaan kemenangan cinta.

Saat si ayah berkata,

“ Adalah saya ayahnya, wali kepada pengantin perempuan, Dari saat ini menyerahkan tanggungjawab nafkah, pemeliharaan keselamatan, kasih sayang, cinta, pengorbanan dan perjuangan, serta tanggungjawab agama islam kepadamu sebagai suami yang sah, semoga diberkati Allah swt ke atas kamu dan orang dibawah tanggungan kamu serta zuriat keturunan kamu.”

Maka dari itu, pasti bercucuran linangan air mata dari insan yang selama ini menjagamu, memeliharamu, mendidikmu dan menyayangimu. Can you imagine that?

Lelaki,

Penyerahan ‘tanggungjawab’ bukan bermaksud 'kau bebas’ bermain dengan nafsu semata-mata walaupun si dia halal, tetapi penyerahan tanggungjawab ialah kau sedia cari makanan saat si dia lapar, kau sedia cari ubat saat si dia sakit, kau sedia jadi budak riang, saat si dia stress dengan masalah, kau sedia pujuk saat si dia merajuk, kau sedia pinjamkan bahu saat si dia nangis, kau sedia masak, basuh kain, kemas rumah, basuh pinggan dan lain-lain saat si dia berpantang dalam bersalin, kau sedia menahan lapar saat si dia perlukan kewangan untuk zuriatmu dalam rahimnya, kau sedia terjaga malam saat si dia sakit menanggung perutnya yang memboyot, kau sedia membelai saat si dia lemah tidak punya kekuatan untuk bersalin, kau sedia balik awal ketika kerja untuk memastikan si dia sentiasa selamat tanpa diganggu orang jahat, kau sedia bimbing ilmu fardhu ain, dan ilmu-ilmu yang lainnya sehinggalah si dia benar-benar faham.

Pendek kata kau sedia untuk menjadi sahabat, murabbi, dan kekasih buat dia.

Kerana dia permata yang kau pilih. Maka kenapa perlu 'berhenti’ walhal kau memilih jalan itu ? Kalau hendak berhenti kenapa perlu bermula ?
Bukankah ia perlu diakhiri ?

Ya, diakhiri dengan syurga dan redha Allah.

😊

Biar gambar berbicara.
Photoby : Faisal Hafiz

“Nak, bila dia mampu membuatmu lebih rajin beribadah. Mampu membuatmu menjadi orang baik. Ibu tidak akan ragu untuk ikut membantumu memperjuangkannya untukmu.”


“Bila dia bisa membuatmu menjadi bermakna dan berguna. Bila melaluinya kamu merasa lebih dekat kepada kebaikan. Maka jangan sekali-kali berhenti memperjuangkannya sampai dia mengatakan kepadamu bahwa dia tidak ingin diperjuangkan olehmu.”

Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Ibu mana lagi yang tidak lagi memikirkan siapa dia dan apakah dia bisa masak, cantik atau tidak, dan lain-lain. Selain ibuku.


“Nak, perempuan manapun ingin mendapatkan laki-laki yang paling bisa menghargai dan menghormatinya, bukan yang paling mencintainya. Karena rasa cinta itu buah dari penghargaan dan penghormatan. Kalau kamu bisa melakukan keduanya, maka perempuan manapun bisa mencintaimu. Kamu jangan membuatnya jatuh cinta saat ini. Kamu hanya perlu menghargai dan menghormatinya. Kalau kamu jatuh cinta kepadanya, tidak serta merta kamu boleh membuatnya jatuh cinta kepadamu. jadilah laki-laki yang baik”, ujar ibu.


Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Yang paling paham perempuan, yang mengajarkanku tentang perempuan. Selain ibu.


“Nak, bila dia mengijinkanmu untuk memperjuangkannya. Maka lakukanlah dengan tulus, karena itu tidak berarti dia akan menjadi milikmu akhirnya. Karena tugasmu adalah mengupayakan, selepas itu jangan pernah lupa berserah pada keputusan-Nya.”


Ku rasa ibu mana lagi yang yang demikian, yang nasihatnya begitu dalam. Selain ibu.


“Nak, berjuanglah dengan cara-cara yang terhormat. Jangan sekali-kali menjatuhkan kehormatan orang lain juga kehormatanmu”


Itu pesan terakhir, sebelum ibu meninggalkan percakapan.

Rumah, 14 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

💐🍃 tulisan mas @kurniawangunadi di atas keren, jadi banyak menginspirasi, atas bagaimana ‘harusnya’ lelaki berupaya mendekati apa yang ia inginkan, apa yang ingin ia perjuangkan ~

kedepan memang masih gaib, semoga kamu memperjuangkan ku dengan cara yang baik yaa, cara dan jalan yang Ia ridhoi ~

🍃 oiya, untuk mas gun dan istri,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ‬ “

“Semoga Allah memberi barakah bagimu, dan semoga Allah memberi barakah atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan…”

selamat menempuh hidup baru mas, sakinnah mawwadah warrohmah, bahagia dunia akhirat, sehidup sesurga ~ barakallahufiikum :)

biasanya, laki-laki yang baru menikah tubuhnya menggemuk karena ada yang merawat, makan enak bergizi dan teratur lebih banyak. biasanya, laki-laki yang baru menikah tubuhnya menggemuk karena hidupnya menjadi lebih mudah, lebih menyenangkan, lebih bahagia.

tapi mas yunus, selama ramadan ini, kebalikan–malah mengurus. itu… gara-gara saya.

saya bisa masak. selama hidup ngekos di depok, saya masak untuk diri sendiri dan teman sekamar saya. kadang-kadang, untuk teman-teman di kampus. masak ala-ala saja yang penting bisa makan.

namun entah ke mana kebisaan memasak saya hilang. pernah suatu kali mas yunus melihat saya memasak, tanyanya sambil bercanda, “kamu kapan terakhir kali masak sih? kaku amat. haha.”

seketika saya ingin meneke’ kepala mas yunus (itu loh, yang dilakukan ibunya sinchan kepada sinchan kalau lagi kesal). nggak tau aja mas yunusnya perjuangan masak seperti apa. huhu.

tapi tentu saja saya tidak meneke’ mas yunus. kenyataannya, masakan saya memang seringkali sekacau itu. kemanisan, keasinan, kebanyakan lada, kebanyakan jahe, anyep nggak ada rasanya, kurang mateng, kegosongan, dan segala drama dapur lain yang mengakibatkan makanannya memang tidak bisa dimakan. belum lagi kalau masak nasinya kurang air sampai keras dan pera tak keruan, atau malah kebanyakan sampai njebeber bak nasi bayi.

kadang yang lebih parah, saya bablas tidur sampai tidak sempat menyiapkan sahur. alhasil mas yunus hanya sahur buah, kurma beberapa biji, atau susu–tidak sempat makan. pernah juga kebablasan tidurnya sampai shubuh, mas yunus tidak sahur sama sekali.

buka puasa pun sama saja. jadwal morning sickness saya dimulai sore-sore selepas ashar. di seberang rumah kami ada yang berjualan sate setiap sore dan ternyata asapnya menjadi pemicu rasa mual yang luar biasa. seringkali rencana masak saya bubar jalan karena berada di luar kamar membuat perut saya bergejolak habis-habisan. alhasil, kerap mas yunus harus mengurus dirinya sendiri hanya perihal makan.

saya sepayah itu soal memasak tapi mas yunus nggak pernah marah. kalau saya ketiduran, mas yunus tertawa saja. kalau lagi kesakitan menahan mual, mas yunus justru mengusap-usap punggung saya.

“kica sabar ya. kica masih kuat nggak? aku bisa aja sih ngeresepin obat antimual tapi selama bisa nggak pakai obat sebaiknya jangan.”

“mas bukanya gimana?”

“gampang nanti aku masak nasi terus goreng nugget.”

saya sepayah itu soal memasak tapi mas yunus nggak pernah menyerah sama saya. setiap pagi sebelum pergi ke rumah sakit, mas yunus mengantarkan saya belanja ke pasar, sekalian supaya saya belajar belanja dan belajar berbahasa jawa. mas yunus selalu tanya apa yang kurang dan selalu semangat untuk melengkapinya–bahkan jika itu sekadar lada hitam padahal lada putih sudah ada. mas yunus ikhlas makan apapun yang saya masak–selama masih bisa dimakan–padahal saya tau mas yunus sangat pemilih soal makan, sampai-sampai sering sekali saya bertanya pada ibu mas yunus kira-kira mas yunus mau makan atau tidak kalau dibuatkan ini itu.

saya sepayah itu tapi mas yunus nggak pernah menyerah. kebaikan mas yunus semacam memberikan energi bagi saya untuk terus belajar. di setiap “makasih ya kica” dan cium kening selepas makan, saya tau mas yunus lebih dari sayang saya.

Repotnya Jadi Suami [Intermezzo]

Istri : Mau dimasakin apa nanti malam?
Suami: Terserah..
Istri : Jangan bilang terserah donk, bikin bingung yang mau masak aja..
Suami: ya udah.. opor ayam
Istri : Tapi ayam lagi mahal..
Suami: Oreg tempe kalau gitu
Istri : Tempe di Mang Soleh ngga enak. Kedelainya hancur
Suami: Atau sambel sama telor juga aku udah seneng
Istri : Cabe harganya gila-gilaan
Suami: ya udah beli aja di warung padang, praktis
Istri : *sensitif*
Kamu tuh ngga bisa menghargai aku. Aku pingin masakin buat suami, malah disuruh beli. Bilang aja masakanku ngga enak. Iya kan?
Suami: ‪#‎putusasa‬
‪#‎gigitwajan‬

Istri : Ayam ungkep enaknya pake sambel nih pah, mau disambelin apa?
Suami: *belajar dari pangalaman. Pantang bilang terserah*
Sambel tomat aja..
Istri : Tomatnya ijo-ijo nih..asem..
Suami: Sambel terasi deh kalo gitu
Istri : Yaa…terasinya habis pah
Suami: Udah sambel mentah aja..
Istri : Ih papah..bikin sakit perut tauk..sambel teri aja ya? enak
Suami: Kan aku alergi teri mah..yang lain deh
Istri : Papah nih susah banget sih, mau dibikinin sambel aja protes mulu..
Suami: ??????
‪#‎nelenterihiduphidup‬

Istri : Pah, libur panjang nih..enaknya kemana ya?
Suami: *tetap pada prinsip anti bilang terserah*
Ke pantai aja yuk mah
Istri : jangan ah..banyak ubur-ubur
Suami: Atau kita nyewa villa di puncak?
Istri : Musim ujan..jalanan licin
Suami: ke kebun binatang?
Istri : Capek muterinnya… panas
Suami: *sambil elus rambut istri* gimana kalau di rumah aja..nyobain resep baru mamah?
Istri : Tuh kan..kalau diajak liburan pasti ujungnya di rumah aja..ngga modal banget sih pah nyeneng-nyenengin istri?
Suami: ‪#‎ngunyahbukuresep‬

Istri : Pah, itu pasangan njomplang banget deh
Suami: Mana? *antusias*
Istri : Itu.. yang lagi belanja baju..istrinya cantik menjulang kaya model, suaminya kok bantet gitu ya pah.. Kalau menurut papah, suaminya beruntung ngga?
Suami: ya jelas donk..
Istri : *drama dimulai*
Papa sepertinya ga beruntung ya punya istri aku..udah ngga tinggi, ngga putih, ngga cantik..iya kan?
Suami: ya engga donk sayang..papa beruntung banget punya istri kamu..
Istri : Kalau beruntung, lalu kenapa papa ngeliatin wanita itu mulu?
Suami: loh katanya suruh ngeliat?
‪#‎diare‬

Istri : Ish, pasangan itu engga banget deh
Suami: *trauma*
Istri : Papaaah.. kok melengos sih..lihat donk..itu lhoo suaminya ganteng imut kaya sahrul gunawan, istrinya kok tua bener ya pah?
Suami: *nengok sekilas*
Hmm…
Istri : papah kok nggak komentar sih? Pasti papah ngerasa senasib kan sama bapak-bapak itu? Iya kan? Papah ganteng, imut, awet muda, sedangkan mamah cepet tua. Iya kan? Udah deh ngaku aja..
Suami: #‎stroke‬ 

Dialog di atas ditulis oleh : Wulan Darmanto

Pelajaran

Perempuan itu rumit yak(?)
Ya Rabb, jika nanti sudah tiba saatnya, jadikan kami-kami yang laki-laki ini seseorang yang paling sabar dengan tingkah polah istri yang mungkin kadang bikin gemes dan bikin pengen gigit bantal >.<. Lembutkan tutur kami saat menasehatinya, saat berusaha memahami perasaannya, juga mampukan kami untuk hadirkan senyum di wajahnya saat dia lagi sensi dan suka manyun.

Surabaya, 6 Februari 2016

Menikah itu tak harus menunggu kita pandai masak, pandai rapih rumah, pandai dandan, pandai benahi sikap.

Bila diri ini sudah baligh, sudah memiliki hasrat janganlah menunda.

Menunda menikah bila tak ada alasan yang syar'i tidaklah baik.

Segeralah kita menikah bila dirasa sudah cukup untuk belajar ikhlas

“Mengapa belajar ikhlas ukhty ? ”

Karena… Ketika menikah kita sebagai perempuan tidaklah sama seperti dulu yang masih sendiri.

Kita harus ikhlas bangun lebih awal daripada suami.

Kita harus ikhlas siapkan bekal untuknya bekerja.

Kita harus ikhlas bersihkan rumah, menata ruangan, menjaga hartanya dan kehormatannya.

Kita harus ikhlas melayaninya ketika ia sedang ingin dimanja, meski kita sedang tidak ingin. Jangan sampai kita menolaknya. Sebab ini wajib.

Kita harus ikhlas bila suami melarang berpergian bila tak penting. Jangan bantah ia.

Kita harus ikhlas merawat, mendidik dan menyayangi anak-anak.

“Lalu bagaimana bila saya belum siap untuk semua itu ?”

Bila semua perempuan berpikir menikah itu harusnya bisa semua itu, tidak akan ada yang siap.

Menunggu sempurna itu hanya kesia siaan.

Bila ada jodoh yang sudah datang, dan siap meminang mengapa harus ditahan ? Meski masih kuliah, tetap bisa menikah. Bukan menjadi penghalang untuk menyempurnakan separuh Agama. Segala kekurangan yang ada pada diri, akan dibenahi ketika perjalanan berumahtangga. Mintalah agar suami dapat membantu memperbaikinya.

Bagi laki-laki janganlah langsung kabur. Ketika tahu calonnya banyak kekurangan.

Mungkin Allah pertemukanmu dengan ia, karena Allah ingin amalanmu bertambah. Istrimu adalah salah satu jembatan menuju jannah-Nya.

Dengan segala ketidaktahuannya akan ilmu agama atau sikapnya yang masih banyak lalainya. Dengan begitu suami bertugas dakwahi istri. Dan dengan itu pula cara Allah memasukanmu ke Jannah-Nya. Ma Syaa Allah

Jadi kamu sudah siap untuk menikah ?

:3

Source : likeislam

2

More cast for Live action film “Gintama” revealed!

(top left to right)
Oguri Shun as Sakata Gintoki
Suda Masaki as Shimura Shinpachi
Kanna Hashimoto as Kagura
Masami Nagasawa as Shimura Otae
Masaki Okada as Katsura Kotarou
Tsuyoshi Muro as Hiraga Gengai
Yuuya Yagira as Hijikata Toushirou
Ryo Yoshizawa as Okita Sougo
Nakamura Kankurou as Kondou Isao

src: http://mantan-web.jp/2016/…/04/20160803dog00m200038000c.html

#dokterfinaxRamadhan - Bu, Calon Isteriku Gak Bisa Masak

Di Subuh yang dingin…ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.

“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”

“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.

“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”


“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.


“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe”


“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?”


Aku menatap Ibu dengan tak paham.


Lalu beliau melanjutkan, “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri.” katanya sambil menyentil hidungku.


“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”


Aku masih tak paham juga.


“Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami.” kata Ibu.


“Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya”


Saya makin bingung Bu.


“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.”


Beliau berbalik menatap mataku.


“Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Ibu.


“Iya tentu saja Bu..”


“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami.”


Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.


“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”


“Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.”


Aku hanya diam terpesona.


“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri.”


“Iya Buu…”


Aku mulai paham,

“Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”


Ibuku tersenyum.


“Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”


“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga”


“MasyaAllah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?”


“Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya.”

Sumber : Line Dakwah Islam

Medan, 20 Ramadhan 1436 H

 dokterfina

Ditolong Untuk Menolong

Beberapa waktu yang lalu, Oknum E mengirim saya Whatsapp.
“Dokter, makan di rumaah. Ada dendeng masakan Oknum M.”
Saya membalas, “Saya udah beli ayam buat buka. Mantap nih masak-masak terus.”

Di NTB ini, saya tinggal satu pekarangan dengan para dokter internship. Mereka ada 11 orang, termasuk Oknum E dan Oknum M. Mereka suka sekali memasak. Sudah dua kali mereka mengundang saya makan. Kebetulan hari itu, saya memang sudah mempersiapkan makanan. Ditambah sifat dasar saya yang ga enakan atau tidak mau merepotkan orang, saya berpikir kedatangan saya ke sana pun rasanya akan membuat mereka repot. Saya menolak dengan halus. Tetapi kemudian Oknum E kembali mengirim Whatsapp.

“Serius ni gak mau, nyesal loh, ato mau kami antar, biar buka pake dendeng, jadi pahalanya kami juga dapat.”

Membaca pesan itu, saya langsung berubah pikiran.

Selama ini saya berpikir bahwa ditolong itu kurang baik. Jika berdaya, bukankah lebih baik jika kita hanya menolong? Bukankah dengan ditolong kita akan merepotkan orang lain? Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Bukankah dengan ditolong akan membuat orang lain tersita tenaga, waktu, dan mungkin dananya?

Namun kemudian saya sadar, jika saya ingin menolong tapi tidak ada orang lain yang ingin ditolong, bukankah saya jadi tidak bisa menolong? Bukankah ditolong itu adalah perwujudan menolong? Kita menolong orang lain untuk menolong. Kita menolong agar kebaikan di atas bumi tercipta, tersebar, dan tertularkan.

Sejak saat itu, jika ada orang lain yang menawarkan bantuan, meskipun saya mampu melakukannya seorang diri, saya akan tetap menerima bantuannya. Karena ditolong tidak menunjukkan ketidakmampuan kita, tapi sebagai tanda bahwa kita ingin membantunya untuk berbuat amal kebaikan.

Dialog Sore tentang Memasak

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah tulisan yang aku buat, ada komentar yang bilang gini :

Hanya pria-pria yang sedang jatuh cinta yang bisa nulis hal-hal manis tapi ga realistis kaya gini. Seumur-umur baru tau ada pria yang ga mempermasalahkan kalau calon pasangannya ga bisa masak.

Tidak 100% salah, dan tidak 100% benar. Teman baik saya membaca komentar itu dan tertawa. Dia bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Gun?”

Aku?

Aku memastikan pertanyaan temanku itu. Tidak masalah. Maksudku, tidak masalah pendamping hidupku nanti tidak bisa memasak. Itu bukan hal yang sangat utama dalam rumah tangga, namun tidak bisa disangkal bahwa di Indonesia, paradigma seperti itu (seorang perempuan/istri harus bisa memasak) telah menjadi pandangan umum dan dianggap benar. Jadi, jika ada sesorang istri yang tidak bisa memasak, dianggap kesalahan fatal oleh masyarakat umum.

“Aku tanya,bagimu sendiri bukan secara umum?”, dia menegaskan.

“Aku tidak masalah”, aku menegaskan jawabanku.

Temanku diam. Lalu menanyakan alasan.

Dalam alasan ini, aku harus berbagi sedikit cerita. Kalau tidak salah, salah satu cerita dari mbak Asma Nadia. Pada satu hari dia memasak untuk suaminya dan ketika selesai, keduanya telah dimeja makan. Suaminya bertanya. Untuk memasak ini dia butuh waktu berapa jam. Dijawabnya dua jam. Suaminya bertanya lagi. Dalam dua jam, berapa cerpen yang bisa ditulis. Dia menjawab kira-kira dua cerpen. Suaminya tersenyum dan bilang, besok-besok lebih baik menggunakan waktunya untuk menulis saja agar lebih produktif. Memasak biar diurus yang lain.

Ada cerita lain. Seorang perempuan yang dinikahi oleh pemuda lalu diajak ke luar negeri. Di sana, masih dengan paradigma yang dibawa. Sang perempuan memasak, mencuci, membersihkan rumah sepanjang waktu, menyetrika. Lalu pada suatu hari suaminya melihat itu dan bersedih. Dia mengatakan kepada istrinya agar besok istrinya tidak perlu lagi melakukan semua itu dan meminta istrinya untuk melanjutkan sekolah. Belajar untuk masuk ke sekolah S2 lanjutan di negeri itu. Istrinya bingung mendengar perintah suaminya. Bukankah itu tugas istri di rumah. Pikirnya begitu. Suaminya menjawab, tidak itu bukan tugas istri. Dia mengatakan, istrinya harus memiliki waktu untuk hal yang lebih produktif dan lebih berkualitas untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya. Kebetulan istrinya juga seorang ‘tukang gambar’ saat itu. Suaminya memintanya agar bisa memanfaatkan waktunya untuk melatih keahliannya itu. Urusan rumah tangga, suaminya memutuskan menyewa pembantu. Istrinya yang masih bingung itu menangis. Menangis bahagia tentunya. 1001 laki-laki yang berpikir seperti itu saat ini.

Temanku manggut-manggut. Bertanya lagi, jadi kamu ingin menjadi laki-laki yang berpandangan seperti itu?

“Iya”, jawabku.

“Lalu bagaimana dengan paradigma yang sudah ada?”, tanyanya.

Mmmm …. memang sulit mengubahnya. Aku memang tidak menjadikan pandai memasak sebagai kriteria, meskipun aku suka makan nantinya. Pun, nantinya kalau aku mendapati istriku tidak bisa memasak, tidak akan menjadi masalah besar. Kalau aku mendapati istriku bisa memasak, anggap saja itu anugerah. Dia boleh menentukan waktunya. Kalau memang dia senang dan asyik memasak, tidak perlu dilarang juga kan.

“Jadi intinya apa, Gun?”.

“Intinya sih, bisa atau tidak soal memasak. Tidak menjadi prioritas bagiku. Biar nanti istriku menggunakan waktunya lebih produktif. Untuk hal-hal yang lebih bemanfaat besar bagi keluarga dan orang lain. Sekolah untuk meningkatkan ilmunya misalnya, atau melakukan keahliannya/kesukaannya. Mengembangkan potensinya.”

“Yakin nih?”, tatapnya tidak percaya.

“Kita buktikan saja nanti. Oh iya, ini bagiku ya dan ini pemahaman yang aku miliki. Jadi, tidak ada yang boleh protes. Haha. Di luar sana mungkin orang lain berpikir berbeda denganku. Keahlian memasak bukanlah hal yang harus dan wajib bagi perempuan, tapi laki-laki juga bisa memilikinya. Intinya adalah bagaimana menjadikan waktu yang dimiliki istri nanti tidak habis untuk hal-hal yang kurang produktif. Dan ini tidak hanya menyangkut soal memasak, tapi aktivitas lain yang dalam paradigma yang ada.Jika memasak baginya adalah kesukaan dan menjadikannya produktif, tentu lain masalah kan?”

Pembicaraan ini ditutup oleh adzan ashar.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Bandung, 14 Januari 2014

©kurniawangunadi

setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam masalah ini, tidak ada salahnya kan :)