masakalli

“Nak, bila dia mampu membuatmu lebih rajin beribadah. Mampu membuatmu menjadi orang baik. Ibu tidak akan ragu untuk ikut membantumu memperjuangkannya untukmu.”


“Bila dia bisa membuatmu menjadi bermakna dan berguna. Bila melaluinya kamu merasa lebih dekat kepada kebaikan. Maka jangan sekali-kali berhenti memperjuangkannya sampai dia mengatakan kepadamu bahwa dia tidak ingin diperjuangkan olehmu.”

Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Ibu mana lagi yang tidak lagi memikirkan siapa dia dan apakah dia bisa masak, cantik atau tidak, dan lain-lain. Selain ibuku.


“Nak, perempuan manapun ingin mendapatkan laki-laki yang paling bisa menghargai dan menghormatinya, bukan yang paling mencintainya. Karena rasa cinta itu buah dari penghargaan dan penghormatan. Kalau kamu bisa melakukan keduanya, maka perempuan manapun bisa mencintaimu. Kamu jangan membuatnya jatuh cinta saat ini. Kamu hanya perlu menghargai dan menghormatinya. Kalau kamu jatuh cinta kepadanya, tidak serta merta kamu boleh membuatnya jatuh cinta kepadamu. jadilah laki-laki yang baik”, ujar ibu.


Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Yang paling paham perempuan, yang mengajarkanku tentang perempuan. Selain ibu.


“Nak, bila dia mengijinkanmu untuk memperjuangkannya. Maka lakukanlah dengan tulus, karena itu tidak berarti dia akan menjadi milikmu akhirnya. Karena tugasmu adalah mengupayakan, selepas itu jangan pernah lupa berserah pada keputusan-Nya.”


Ku rasa ibu mana lagi yang yang demikian, yang nasihatnya begitu dalam. Selain ibu.


“Nak, berjuanglah dengan cara-cara yang terhormat. Jangan sekali-kali menjatuhkan kehormatan orang lain juga kehormatanmu”


Itu pesan terakhir, sebelum ibu meninggalkan percakapan.

Rumah, 14 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

💐🍃 tulisan mas @kurniawangunadi di atas keren, jadi banyak menginspirasi, atas bagaimana ‘harusnya’ lelaki berupaya mendekati apa yang ia inginkan, apa yang ingin ia perjuangkan ~

kedepan memang masih gaib, semoga kamu memperjuangkan ku dengan cara yang baik yaa, cara dan jalan yang Ia ridhoi ~

🍃 oiya, untuk mas gun dan istri,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ‬ “

“Semoga Allah memberi barakah bagimu, dan semoga Allah memberi barakah atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan…”

selamat menempuh hidup baru mas, sakinnah mawwadah warrohmah, bahagia dunia akhirat, sehidup sesurga ~ barakallahufiikum :)

Perayu.

Kita semua ini punya bakat sebagai perayu. Tukang rayu. Sebaik-baiknya perayu, adalah perayu Allah.

Wezzzzeh.

Salah satu kenalanku, pandai sekali merayu. Baru menikah 2 tahun lalu, dan tampaknya Allah kasih waktu buat mereka merasakan pacaran setelah menikah. Berdua saja.

Sebut saja namanya Mbak Cici. Gombal banget anaknya. Tukang rayu! Dia rayu siapa saja. Semuanya. Semuanya dia sayang. Senyum terus. Lembut sekali. Tapi yang paling kelihatan adalah caranya merayu Allah, agar dirumahnya tak lagi berdua saja.

Kita lupakan bagaimana mbak Cici menjaga ibadahnya. Biarlah itu urusannya dengan Allah.

Mbak Cici merayu Allah dengan berbagai cara. Dari segala arah.

Caranya?

Mbak Cici berusaha menjadi istri yang taat pada suaminya, istri shalihah. Kemarin, sempat ada plester di salah satu jarinya, kata Mbak Cici, “Namanya juga ibu rumah tangga. Hasil atraksi di dapur.” Gilak. Pahala tuh. Hasil atraksi masak buat suaminya. Untuk menyenangkan suaminya.

Mbak Cici telfon suaminya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, “Cintaku, sudah makan belum?” Dan aku yang denger harus nahan napas. Memutar bola mata berkali-kali, “Mbak! Plizzzz…kamu dak sadar ada aku disini?? Bisa-bisanya cinta-cintaan didepanQ!” Wkwk

Mbak Cici sayangi Ayah Ibunya. Romantisnya maasyaaAllah. Mbak Cici tadi dak ragu ngambil tisu dan membersihkan sisa pasta gigi di dekat mulut Ayahnya yang baru selesai mandi. “Maap Pah…” sambil membersihkan dengan sungguh-sungguh. Kalau aku mungkin cuma bilang, “Pak, ada apa tu pak di dekat mulut Bapak?” Wkwkwk

Mbak Cici jaga silaturahmi dengan teman-temannya. Kemarin Mbak Cici sempatkan bertemu dengan salah satu temannya sebelum temannya kembali ke Toli-toli. Mbak Cici beri hadiah. Mbak Cici doakan temannya disela-sela pelukannya. Pelukan yang cukup lama menurutku. Lama kali malah. Doh. Kan aku awkward gitu nungguin mereka pelukan di tengah mal wkwk

Mbak Cici rangkul aku yang bahkan belum lama ia kenal, tapi udah kayak adiknya sendiri. Selain karena akunya yang adik-able, ehem, juga karena Mbak Cicinya yang ramah. Kita jadi akrab. Hehe hehe akrab gak ya. Kayaknya sih akrab.

Errr…kembali ke merayu Allah.

Kondisi akan berdua lebih lama setelah menikah sudah diketahui Mbak Cici dan suaminya. Ada masalah yang bisa dijelaskan secara medis. Tetapi mbak Cici dan suami bersikap positif sekali. Bahkan dokternya bilang, “Kamu kalau bisa hamil itu mukjizat banget…”

“Bukannya mengandung, punya anak, itu memang mukjizat ya? Bukan cuma buat aku, tapi juga buat semua wanita” kata Mba Cici kemarin.

Iya jugak.

Yang jelas, Mbak Cici gak lelah merayu Allah. Dan Allah pasti terayu dengan semua rayuannya. Yakin deh! Tapi mungkin Allah ingin dirayu sebentar lagi saja. Allah sedang menyusun dan menumpuk nikmat untuk Mbak Cici dan keluarga. Allah pasti memberi sesuatu yang istimewa dengan segala rayuan yang ada. Allah tak akan biarkan rayuan itu sia-sia.

Teruslah merayu Allah. Caramu udah paling romantis mbak! Jangan putus asa!

Ingat pesanku, test pack nya jangan dibuang. Dikumpulin, terus disusun, bisa buat frame. Tengahnya nanti foto usg. Wkwk biar anakmu nanti tahu, bagaimana dia ditunggu.

pis laf en gawl.

“This year has come to an end and it will take away all the pain and mistakes. Now you have a brand new beginning to look forward to.”

Wishing you all good things on this New year. Have fun, joy, peace, love, care, luck and success ahead!

@clearlysillysalad@thequietkiddo@hugoterongmakata@peppermintchuuxx@engrhobbit@kinghippolytus@zeuskonaman@mrdoctor-love@mapangarap@lostininfinitespace@la-ragazza-che-hai-distrutta@lovelettersfromthedead@tangangnagmamahal@chescarriffic@anaventurer@hey-its-kiffxr@kaelbondoc@nikolngbuhaymo@medyo-gaga@medyomaginoo@inhinyerang-pinaasa@dakilanggerlpren@dakilangboyyfriend@dakilang-option@tataynigavin@bernardtheexplorer@batangsuplado@babaengloyal@cjisinlove@thousand-miles-lovestory@thebipaular@ultimate-false-hope@ary-stark@cmsg-writes@airaslvdr@darkangel-kate@masakate@bumbaynanilalang@a-rain-nako@asdfghjmcuevas@idontdeservetobeyourromeo@sawi-lagi-sa-pagibig@betweenlionandwolf@mjpp@the-lois-mags@narsnguniverse@kayamoyanikawpaba@huwagmoakonghanapin@motherofpuppiez@mother-of-dragonsss@itsmezarm@babaengpusangmatapang@babaengtourismo@qwertyuiopaauuu@sikolohistang-baliw@foureyedmonsteryeahx@hindichinita@heeeymich@samconcepciondaw@ecoology@wayahemsmood@jamilayana@xbabaengprogrammer@ex-masbitterpasakape@xscizors@notyourplanb@notyourkenji@currymeat@cuddlets@vincoolero@her-broken-pieces@lizasobraganda@kinikimkeem@walanghumpaynaligaya@singko-girl@reynanghugot@unwantedjuliet21@ditonalangako@findingherlostsoul@nagtataengbolpen@wintermelonely@nakakabighani@zealoushy@engrjuana@personificationofnight@ekasinamaneh@brenclaridad@hapiharty@im-here-for-you-anytime@masarapnaloyalpa101@tinkerclang

Sorry sa mga hindi ko nabati. “HAPPY NEW YEAR” to all of you guys again. Salamat sa mga naging kaibigan ko nitong 2016 at sa mga concern sa akin kapag malungkot ako at sana maging kaibigan ko kayong lahat! Take Care Everyone & Godbless you all!

Obrolan Meja Makan (2)

Dulu, setiap pulang sekolah, Ibuk selalu nemenin makan siang.

Aku pulang sekolah jam 2 siang. Biasanya itu jam tidurnya Ibuk. Cuma karena aku ga bawa kunci rumah, tiap kali pulang harus ngetuk pintu, minta bukain pintu sama orang rumah.

Bahkan sampai sekarang masih ingat gelapnya rumah yang perlahan terang pas baru masuk. Karena diluar teriknya warbiyasah. Masih ingat bau matahari yang nempel diseragam sekolah. Masih ingat jelasnya batas belang kaos kaki karena panas. Masih ingat leganya bahu saat melepas tas. Masih ingat sepinya rumah kalau siang. Masih ingat gerakan Ibuk buka songkok (tudung saji) kemudian duduk di satu kursi paling pojok dekat tembok. Nunggu aku nyusul ke meja makan.

“Masak apa Buk?” Padahal udah bisa lihat sendiri ada masakan apa.
“Ibuk udah makan?” Padahal tahu jawabannya pasti “Udah tadi sama Bapak”
“Buk, tadi di sekolah…” aku mulai cerita, bahkan sebelum Ibuk nanya.

Gak jarang Ibuk keliatan ngantuk. Beberapa kali hampir ketiduran. Kadang aku anteng, makan. Kadang aku tetep aja cerita, entah Ibuk perhatikan atau enggak, aku tetep aja nyerocos.

Aku kurang ngerti tujuan Ibuk nemenin aku makan tiap siang kala itu. Antara ingin tahu cerita atau kegiatan anaknya hari itu, nemenin makan supaya gak kesepian, atau buat mastiin anaknya yang gak suka makan ini makan siang.

Tapi, duduknya Ibuk bersamaku siang itu, membuat aku lebih deket sama Ibuk. Membuat aku gak merasa kesepian di rumah yang sepi. Membuat aku mau ga mau langsung makan karena udah ditungguin di ruang makan. Membuat aku punya tekad melakukan hal yang sama nantinya.

Oh, mungkin ini salah satu alasan kenapa dulu aku sempat bilang “rumah itu yang ada meja makannya”

4

Masakalli is the name of the dove in the film and it is very symbolic of my character.” - Sonam Kapoor

Aku ini...wanita bukan ya?

Di satu acara makan-makan sederhana di Gresik kemarin, Mbak Cici sibuk menanyakan resep masakan yang dihidangkan siang itu.

“Ini bumbunya apa aja Buk? Bahannya apa aja? Cara masaknya gimana? Lebih banyak bawang merahnya atau bawang putihnya?”

Blablabla.

Aku nguping. Sambil makan dengan tenang.

Sampai Ibuk bilang, “Oh yang ini beli…”

APA?! ADA YANG DI BELI. BELI DIMANA????

wkwk jadi aku lebih tertarik menanyakan “Makanan kayak gini bisa didapat dimana? Dimana belinya?” Daripada menanyakan bahan dan cara masaknya.

Karena aku gak suka makan. Aku gak penasaran sama makanan. Eh, kecuali cemilan, atau kue-kue gitu. Hehe

Berada di dapur itu kayak ada di luar negri. Asing. Memasak itu kayak suatu hal yang misterius, yang aku biarkan menjadi misterius. Aku gak akan melunturkan kekagumanku pada seseorang yang jago masak. Kalau aku jago masak juga, nanti aku malah mikir “Heleh, gitu aja. Aku juga bisa.”

Makanya aku biarkan orang-orang itu tetap hebat dimataku.

*ALASAN YANG KREATIF*

Aku…ternyata masih gadis. Belum wanita. Eh, mbuh apa hubungannya. Wkwkwk

Berbahagialah kalian saudari-saudariku yang hobi memasak dan masakannya enak.

Idaman pria! Didamba mertua!

Adakah wanita berusia 25 diluar sana yang belum bisa masak? Bikin geng yok.

Perempuan memiliki semacam sinyal. Sementara lelaki punya radar. Dimanapun berada, perempuan setia menunggu dan lelaki sigap mencari.
— 

Saya pernah bertanya kepada dosen saat belajar Biore (biologi reproduksi), “pak, kalo dalam sebulan perempuan hanya mengeluarkan satu sel telur, lalu bagaimana dengan saluran tuba fallopinya? Saluran tuba fallopi perempuan kan ada dua”.

“Memang, perempuan memiliki dua saluran tuba tapi luar biasanya, hanya satu sel telur yang dihasilkan ovarium dan menghuni salah satu saluran tuba untuk menunggu ‘pangerannya’. Dan itu gantian, seakan ada kesepakatan diantara keduanya”.

Duh, saya semakin terkesima dengan desain penciptaan. Masya Allah.

Perempuan memiliki sepasang (kiri-kanan) ovarium (tempat produksi sel telur), fimbria dan saluran tuba. Semua terhubung dengan rahim. Setiap bulan ovarium akan menghasilkan satu sel telur yang telah ‘masak’. Sel telur ini keluar ditangkap oleh fimbria dan menghuni salah satu saluran tuba sambil menunggu spermatozoa untuk 'dibuahi’ (jika tdk ada proses pembuahan, inilah yang menyebabkan tamu bulanan).

Dengan sabar, sel telur ini menunggu. Sementara, jutaan spermatozoa berlomba-lomba menghampirinya. Sebagai 'makhluk asing’ spermatozoa terus mencari. Pertanyaannya, bagaimana caranya jutaan spermatozoa itu bisa tau kalo sang ratu (sel telur) berada di saluran tuba yang kiri atau kanan?

Nah, ternyata sang ratu memiliki semacam sinyal, magnet atau sejenisnya yang dengan mudah dapat dideteksi oleh radar sang pangeran untuk ditemui.

Dalam kompetisi mencari sang ratu, banyak pangeran yang gugur. Hanya ada SATU pangeran yang jadi pemenangnya. Hebatkan? Setelah bertemu, mereka menyatu, membelah sambil berjalan menuju rahim tempat tumbuh dan membentuk manusia baru. Akhirnya jadilah saya, kamu, dia, dan mereka. Ya, kita adalah pemenang unggul sejak dialam rahim.

Perempuan itu memang sifatnya anggun. Menunggu dalam ikhtiarnya tanpa mengumbar pesona, sebab ia tahu bahwa dirinya adalah mahkota tak ternilai. Lelaki terbaik akan berlomba dengan terhormat untuk menjemput ratunya melewati jalan yang terbaik.

Ada kausalitas (sebab-akibat) yang diciptakan-Nya untuk saling menjemput dan dijemput. Aturannya ada, seperti kutub berlawanan yang akan selalu mencari dan menyatu.
Aturan Pencipta memang luar biasa. Ikuti rambunya, Insyaa Allah selamat sampai tujuan.

Selamat berjuang menjemput sang Ratu.
Selamat ikhtiar dalam menunggu.
Selamat menuju perayaan kemenangan cinta.

10 Facts about me

Thanks kuya @hey-its-kiffxr @mifushika @the-lois-mags @a-rain-nako for tagging :)

  1. Mahilig magluto
  2. Mabilis magbago ang mood ko
  3. Sobrang takaw lalo na if seafoods ang pagkain (specially sushi)
  4. Mahilig kumanta
  5. Sobrang drama
  6. Sweet & friendly
  7. Mahilig kumain ng gulay lalo na ang ampalaya
  8. I hate rats & snake
  9. Madali akong magalit pero mabilis naman din akong magpatawad
  10. Sobrang daldal

Tagging: @narsnguniverse @aetherione @binatilyongmakaladyot @xscizors @masakate @peppermintchuuxx @ab-normalisme @supladitang-maldita @dakilangkyut @ary-stark @klershampoo

Pekeh (2)

Loncat ke masa sekarang, aku dan Pekeh tinggal di satu rumah sejak tahun 2012 (kira-kira). Setelah mbak No nikah, aku sendirian di rumah, Pekeh yang kuliah di Jogja diminta untuk pindah aja ke rumahku. Biar aku ada temennya. Jadilah Pekeh di kamar atas, aku di bawah.

Bertahun-tahun satu atap, aku sama Pekeh jarang banget ketemu! Karena pada sibuk kuliah masing-masing. Tapi kalau lagi sama-sama libur, kami sempatkan masak bersama. Masak kangkung, sambel tempe, ayam goreng. Hahaha sambil mengingat jaman kecil “Ndeh dulu kita masak pakai lilin, sekarang pakai kompor”

Pekeh anak yang baik.

Se-absurd apapun masakanku, tetap dia makan. Sambil ketawa, “agak asin ya hahaha tapi dakpapa. Kan kita-kita aja yang makan.”
Aku aja mikir dua kali mau makan masakanku.
Setiap kali aku masak bareng dia, aku berdoa, semoga besok istrinya yang jago masak. Wkwkwk

Pekeh ini, anak yang mandiri, gak mau nyusahin orangtuanya. Pagi-pagi dia bikin sandwich atau bikin roti tawar diisi meses untuk dijual di kampus. Bahkan Pekeh pernah jualan nasi goreng. Pagi-pagi betul dia masak nasi goreng, di masukkan ke mika segi empat, dikasih sendok plastik, terus dijual. Pernah juga jual donat. Donat dia beli di pasar, kemudian di plastikin lagi satu-satu, baru dijual lagi.

Alhamdulillah. Tiap pulang ke rumah, aku liat wadah jualannya tadi pagi udah ganti jadi duit. Hehe hebat Pekeh.

Dulu, motor Pekeh itu Honda kuno, warna hitam, duh aku ga apal serinya (seri?), bekas punya Opa. Tapi suara motornya udah kayak suara motor tua gitu, yang bahkan kalo mau dinyalain harus di-engkol karena starternya terkadang macet, kayak motor Bapakku yang warna merah dulu.

Pekeh ini rajin solat, lima waktu, berjamaah. Di masjid. Dari subuh sampai isya. Plus baca Al-Qur'an kalau udah sampai rumah.
Bahkan yang jadi alarm pagiku ya suara motornya Pekeh kalau mau berangkat ke masjid pas subuh. Belum lagi selalu puasa sunnah senin kamis.

Pernah suatu saat Pekeh pulang ke rumah, tapi motornya dituntun, ternyata kehabisan bensin. Mau beli bensin, uangnya harus disimpan untuk yang lain. Bulik Puji (Ibuknya Pekeh) juga pernah cerita, tiap kali ditanya soal kondisi keuangan, dia selalu jawab “ada”, sekalinya Bulik cek, di dompetnya hanya ada uang 2000 rupiah. Ya dia ga bohong sih, ada duitnya. Tapi 2000 bisa buat apa?

Pekeh gak pernah mengeluh tentang apapun.
Pekeh selalu bilang “Alhamdulillah”, sehingga kita yang mendengarnya pun merasa lapang.

Pekeh adalah salah satu contoh bagaimana Allah melapangkan dan memudahkan segala urusan hambaNya yang senantiasa bersyukur.

Pekeh sekarang kerja di Net Jogja. Sudah punya bekal 1 drone miliknya yang siap disewakan jika ada yang membutuhkan. Motornya sudah baru. Suaranya jauh lebih merdu dari motornya yang dahulu. Alarm subuhku.

Eh, sekarang alarm subuhku suara pagar rumah yang udah mulai seret ding. Suara motor Pekeh terlalu alus, sampe ga kedengeran bunyinya.

Hehe.

Semoga Allah selalu melindungi Pekeh.

@la-ragazza-che-hai-distrutta@ary-stark@cmsg-writes@dakilanggerlpren@hey-its-kiffxr@airaslvdr@darkangel-kate@masakate@jintanxn@bumbaynanilalang@a-rain-nako@asdfghjmcuevas@idontdeservetobeyourromeo@sawi-lagi-sa-pagibig@betweenlionandwolf@mjpp@dodongnibabe@dakilangboyyfriend@the-lois-mags@dakilang-option@narsnguniverse@kayamoyanikawpaba@huwagmoakonghanapin@motherofpuppiez@mother-of-dragonsss@miiladyy@babaengpusangmatapang@babaengtourismo@nikolngbuhaymo@tangangnagmamahal@cjisinlove@qwertyuiopaauuu@sikolohistang-baliw@hugoterongmakata@foureyedmonsteryeahx@hindichinita@heeeymich@samconcepciondaw@ecoology@wayahemsmood@jamilayana@xbabaengprogrammer@ex-masbitterpasakape@xscizors@notyourplanb@notyourkenji@jilliannoreen@currymeat@cuddlets@conzenokaman@vincoolero@her-broken-pieces@lizasobraganda

Merry Christmas sa lahat.❤️😊😘💕 I hope that your Christmas would be enjoyable & may the essence of Christmas remains always with you.

Pekeh (3)

Apa yang bikin makanan enak selain rasa lapar?

Bukan.

Gratis belum tentu enak. Buatku, sushi walaupun gratisan tetep aja ga enak.

Apa? Karena haram? Astagfirullah…
Iya sih, kata orang daging babi enak. Tapi jangan ya. Sapi belum punah.

Yang bikin makanan enak itu, selain rasa lapar, adalah kata “alhamdulillah.”

Eh? “Bismillah” kalikkkk…pasti kalian bilang gitu kan? Atau endak? Tapi beberapa dari kalian pasti ada yang mbatin gitu.

Pasti. Eh. Kok maksa. Wkwkwk.

Apa hubungannya Pekeh dengan makanan dan kata alhamdulillah?

Pekeh kalau makan apa aja, rasanya jadi enak. Makan bareng pekeh, makan apa aja, jadi enak. Karena Pekeh selalu bilang “alhamdulillah.”

Pas jaman kita masak bareng, pas sayur atau lauk sudah terhidang lengkap di atas meja makan, Pekeh bilang, “Alhamdulillah…”

Seketika terbayang enak dan nikmatnya masakan. Walaupun ternyata tetap aja ada rasa yang kurang atau bahkan keasinan, kita cuma ketawa. Tapi tetep aja setelah selesai makan, Pekeh bilang, “Alhamdulillah.”

Seketika rasa masakan yang absurd berubah jadi nikmat.

Nah, biasanya abis makan, Pekeh langsung nyuci piringnya. Setelah ditaruh di rak piring, Pekeh bilang lagi, “Alhamdulillah.”

Seketika pedihnya mata karena ngupas bawang hilang, pegelnya tangan karena nguleg cabe pun tak terasa.

Ya iya sih…soalnya biasanya yang bagian nguleg Pekeh. Hehe hehe hehe

Pokoknya kata-kata alhamdulillah itu menambah nikmat.

“Alhamdulillah bisa makan. Alhamdulillah kenyang. Alhamdulillah bersih.”

Pernah suatu saat, kita beli kerang.

Eh, sebentar, cerita dulu. Jadi, penyakit orang rumah ini (eh, aku sih lebih tepatnya), sekalinya nemu tempat makan enak, pengennya makan disitu terus. Sampai bosan. Contohnya aja, makan kepiting di The Krebis kemarin (nama agak disamarkan ya).

Balik ya. Pernah suatu saat kita nemu tempat jual kerang enak. Tendaan gitu, deket GSP. Yang bertugas beli kesana aku sama Ade. Soalnya ga mungkin bonceng tiga sama Pekeh. Kita beli, bungkus, buat makan di rumah.

Sesampainya di rumah kita makan bareng. Luarbiasa enaknya! Enak kali! Dak ada lawan! Pekeh makan sambil ngoceh, “Enak kali…ya Allah…alhamdulillah…enak yaa…enak kali…alhamdulillah.”
Aku sama Ade juga ribut mengiyakan.

Besoknya, aku sama Ade beli itu lagi. Pekeh dak ada. Jadilah kita makan berdua aja. Tapi gak senikmat kemarin. Aku sama Ade mencoba mencari-cari apa bedanya. “Salah mbaknya ni. Salah bumbu kayaknya. Kerangnya udah dak segar ni.” Dan sebagainya.
“Padahal pas sama Pekeh kemaren enak kali ya…”
“Iyaya…ini ntahapa rasanya.”
“Jangan-jangan yang bikin enak tu si Pekeh. Gara-gara dia semangat kali makannya.”
“Hah…iya kayaknya…”

Sekian.

Hehe

Dah gitu aja.

Yea. Apalah yang mau diharap dari dunia ini. Tak ada yang bisa dimiliki. Tak ada kesenangan tak bertepi. Allah cuma lagi ngetes. Lalu kita berkerumun seperti ikan-ikan yang sedang diberi makan. Ribut. Berdesakan. Masuk ke hati kalau ngga dapet yang ini dan yang itu. Padahal apa yang datang kepada kita ngga begitu penting. Yang penting dan vital adalah apa yang Allah saksikan dari kita saat diintervensi. Kalau ikan, wajar ngga pernah mikirin bagaimana tuannya menyaksikan tingkah laku mereka. Tapi, kita, masak ngga bisa mikir bahwa kita sedang diobservasi?

Jadi gini.

Jogja lagi hujan deres banget. Dari siang sampai sore. Padahal menjelang magrib itu jam rawan lapar. Sebagai anak motor yang lebih suka mendengar suara hujan bertemu atap rumah dibandingkan suara hujan yang menerpa kaca helm, aku putuskan untuk di rumah aja.

Tapi lapar.

Tapi gak ada makanan.

Beklah.

Bikin bakwan aja. Pakai bahan-bahan yang ada di rumah. Tepung, telur, kol, bawang, garam, merica. Mantap. Ini bakal ena.

Oh

Dan daun jeruk. Karena daun jeruk itu entah berapa lama ada di kulkas, diikutsertakan aja. Pasti ada suatu daerah di pelosok Indonesia ini yang masak bakwan pakai daun jeruk.

Ronde pertama kayak-kayaknya terlalu encer. Sambil nggoreng ronde pertama, aku tambahin tepung ke adonan sisa.

Ronde kedua kebanyakan tepung.

Dan gosong.

Tapi ena.

Karena dimakan sendiri. Jadi mau gak mau dimakan wakakakaka.

Btw, itu minumannya es teh. Teh jahe gitu. Tadi bikin teh jahe anget, terus ga habis. Terus di kasih es. Enak.

Semua enak.

Kalau kita yakin itu enak.

#dokterfinaxRamadhan - Bu, Calon Isteriku Gak Bisa Masak

Di Subuh yang dingin…ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.

“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”

“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.

“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”


“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.


“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe”


“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?”


Aku menatap Ibu dengan tak paham.


Lalu beliau melanjutkan, “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri.” katanya sambil menyentil hidungku.


“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”


Aku masih tak paham juga.


“Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami.” kata Ibu.


“Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya”


Saya makin bingung Bu.


“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.”


Beliau berbalik menatap mataku.


“Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Ibu.


“Iya tentu saja Bu..”


“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami.”


Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.


“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”


“Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.”


Aku hanya diam terpesona.


“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri.”


“Iya Buu…”


Aku mulai paham,

“Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”


Ibuku tersenyum.


“Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”


“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga”


“MasyaAllah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?”


“Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya.”

Sumber : Line Dakwah Islam

Medan, 20 Ramadhan 1436 H

 dokterfina