mark buku

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)