marake

RENCANA POLIGAMI?

Belakangan ini saya mulai sering mendapatkan komentar seperti di gambar ini. Mungkin terkait beberapa kasus yang belakangan ini marak terjadi. Hehehe :)

Bagaimana pandangan saya tentang poligami? Saya punya pandangan pribadi tentang ini yang tak perlu saya jelaskan kepada teman-teman. Semua orang punya pemahaman tersendiri tentang masalah ini… Termasuk bahwa barang tentu semua orang punya konteksnya masing-masing.

Namun, sejak bertemu dengan seseorang yang memberitahu kepada saya bagaimana rasanya berada di tengah keluarga yang ayahnya berpoligami, sejak saat itu pula saya sudah menghapus kata itu dari benak dan hati saya. Sebutlah dia Si Eneng.

Ketika Si Eneng bercerita tentang betapa sakitnya menyaksikan ayah dan ibunya bercerai karena sang ayah berpoligami, saya mendengarkannya dengan saksama. Sebagai anak, ia berusaha objektif melihat persoalan itu, ia berupaya memandang positif apa yang dilakukan ayahnya, juga keputusan ibunya untuk mengakhiri hubungan rumah tangga yang mereka bangun lebih dari dua puluh tahun—karena merasa dikecewakan secara luar biasa.

Konon, hari-hari seteleh itu adalah tentang kebingungan dan kesedihan-kesedihan. Ia harus melihat bagaimana keluarganya berada dalam guncangan yang hebat karena masalah ini. Bagaimana sang ayah jadi kehilangan keseimbangan sekaligus navigasi. Bagaimana sang ibu harus menghadapi babak baru yang penuh dengan tekanan, kekecewaan, rasa malu, dan lainnya.

Juga bagaimana anak-anak di keluarga itu harus menanggung aneka konsekuensi dari keputusan yang mereka tidak terlibat di dalamnya… Dari mulai menyesuaikan diri dengan situasi keluarga yang tak lagi berjalan sebagaimana mestinya, hingga menghadapi gunjingan tetangga dan orang lain yang berusaha secara sok tahu dan sok mengerti masuk ke kehidupan mereka hanya untuk tersenyum sinis, tertawa, atau pura-pura peduli dengan mengatakan “Yang sabar ya, semua ini ujian” tanpa benar-benar tahu bagaimana rasanya hidup di dalam semua itu.

Di atas semua tafsir dan argumen tentang poligami, di luar apapun yang bisa dijelaskan tentangnya, bagi Si Eneng ini poligami lebih banyak mendatangkan madharat daripada manfaat. Lebih banyak membuat kekacauan daripada memunculkan kesetimbangan-kesetimbangn yang tak pernah benar-benar terjadi. Bagi Si Eneng, poligami memiliki efek dan dampak jangka panjang bagi psikologis anak-anak—seperi yang ia alami.

Anda boleh jadi tidak sependapat dan menolak argumen Si Eneng dengan pemahaman atau keyakinan Anda. Anda boleh berpikir bahwa Si Eneng mengarang belaka. Anda boleh merasa bahwa Si Eneng tidak mengerti hukum poligami.

Tetapi saya begitu percaya kepadanya. Saya meyakini apa yang dia ucapkan. Saya melihat sendiri bagaimana kesedihan dan kekecewaan itu mengubah hidup Si Eneng untuk selama-lamanya.

… sebab si Eneng adalah istri saya sendiri.


Jakarta, 27 Agustus 2017

FAHD PAHDEPIE

IIP #1: Ternyata, Menuntut Ilmu Ada Adabnya

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah ilmu dengan cara-cara yang mulia.” - Institut Ibu Profesional

Kalau dihitung-hitung, lebih dari setengah usia dari hidup saya (dan kita semua) diisi dengan waktu-waktu untuk menuntut ilmu. Mulai dari TK (dulu belum marak lembaga pre-school), SD, SMP, SMA, kuliah, dan bahkan sampai pasca campus atau kelas-kelas informal. Tapi, baru dari Institut Ibu Profesional (IIP) inilah saya mengetahui bahwa ternyata menuntut ilmu ada adabnya. Apakah kamu juga baru mengetahuinya? Ya sudah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, ketika kita sudah mengetahuinya, ayo kita belajar dan menuntut ilmu dengan lebih memerhatikan adab-adabnya.

Tunggu-tunggu, sebelum membicarakan adabnya, sepertinya kita perlu sepakat dulu nih tentang definisi menuntut ilmu itu sendiri. Apakah artinya adalah sekolah, kuliah, membaca buku, ikut seminar, dan melakukan apapun supaya pintar dan menguasai suatu keilmuan? Tidak, tidak sesempit itu. Sebab, 

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku ke arah yang lebih baik, karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Tentang menuntut ilmu, saya jadi ingat pesan seorang Psikolog ketika waktu itu saya menjadi mahasiswi beliau di kelas biopsychology, beliau bilang, 

“Jangan sampai percuma belajar karena apa yang dipelajari ternyata tidak membuatmu menjadi lebih baik. Hakikat belajar adalah mengubah perilaku, kalau kamu masih begitu-begitu saja setelah belajar, berarti kamu tidak belajar.” 

Dalam kesempatan lain, guru ngaji saya sering mengingatkan, 

“Hati-hati ya, Nak. Jangan sampai kamu sibuk terus mengejar ilmu tapi ternyata hanya untuk menambah pengetahuan, bukan menambah keimanan. Buat apa kamu tau banyak kalau ternyata yang banyak itu tidak mendekatkanmu kepada Allah dan tidak mengubah polamu dalam bersikap kepada Allah sehingga menjadi benar? Buat apa kamu tau banyak jika yang banyak itu tidak menjadi cahaya dalam hatimu?”

Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa ilmu adalah prasyarat untuk amal. Tapi ternyata, ada hal lain yang menjadi prasyarat ilmu, yaitu adab yang merupakan pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal (antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu) maupun secara horisontal (antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri).

Mengapa perlu memahami adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain? Karena adab tidak bisa diajarkan. Adab hanya bisa ditularkan.

Kalau begitu, apa sajakah hal-hal yang termasuk pada adab menuntut ilmu?

Pertama, adab terhadap diri sendiri, yaitu ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk, selalu bergegas dan mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, menghindari sikap merasa sudah lebih tahu dan lebih paham ketika suatu ilmu sedang disampaikan, menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajari (dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali, dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan), dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. 

Kedua, ada adab terhadap guru atau penyampai sebuah ilmu, yaitu mendekatkan diri kepada Allah sebagai Pemilik Ilmu, menaruh rasa hormat kepada guru, tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, tidak memotong pembicaraan. memerhatikan jika guru sedang menjelaskan, dan meminta keridhoan/izin kepada guru ketika hendak menyebarluaskan ilmu yang disampaikan.

Ketiga, ada adab terhadap sumber ilmu, yaitu tidak meletakkan sembarangan (misal dalam bentuk buku, jangan disimpan dimana saja), tidak melakukan penggandaan, tidak plagiat dan asal copy-paste, dan tidak mudah percaya dengan menerapkan sceptical thinking dalam menerima sebuah informasi (meski informasinya baik, jangan mudah percaya jika tidak jelas sumber ilmunya).

Maa syaa Allah, ternyata kedudukan ilmu sangat mulia, ya! Yuk meningkatkan kemuliaan diri dengan menuntut ilmu! Sekarang, tanyakan pada dirimu, Jika hidup dan dunia ini adalah universitas kehidupan, maka ilmu apakah yang ingin saya pelajari di dalam kehidupan ini? Apa yang membuat ilmu tersebut menjadi penting untuk dipelajari? Bagaimana strategi belajar yang akan dilakukan untuk memerolehnya?” Selamat berkontemplasi. Semoga Allah menuntun kita senantiasa, agar setiap ilmu yang diterima akan menjadi cahaya yang dapat mengantarkan kita pada derajat takwa.

Referensi: Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

_____

Tulisan ini adalah resume materi perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti pada bulan Mei - Juli 2017. Semua informasi di dalamnya saya dapatkan dari kelas tersebut dan saya hanya menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. 

_____

Untuk membaca tulisan saya yang lain tentang Institut Ibu Profesional, silahkan klik disini. Untuk membaca tulisan lain terkait pranikah dan parenting, silahkan klik disini. Semoga Allah memampukan kita semua untuk memahaminya dengan benar dan menyampaikan kita pada kesempatan untuk mengaplikasikannya. Baarakallahu fiikum!

_____

Picture source: Pinterest

Bukan Malaikat Bukan Syaitan

Teringat nasihat Cak Nun, kita bukan Malaikat yang selalu benar, bukan juga syaitan yang pasti salah. Kita ini manusia yang perlu dimanusiakan tiap hal baik dan buruknya

Maka tidak perlu kita memalaikatkan manusia, hingga jadi yang dielu-elukan, bahkan saat berbuat salah kita puji, bahkan nista dan dustanya kita junjung tinggi-tinggi

Tapi juga tak bisa kita mensyaitankan manusia, hingga seolah tak ada hal baik pada dirinya, semua harus kia kritik, kita teliti tiap salah dan celanya, lalu kita publikasikan

Kita manusia, yang dalam gunungan keburukan menyimpan emas kebaikan didalamnya. Kita manusia yang dalam lautan kebaikan pun masih ada palung keburukan

Manusia bisa berubah, tapi nilai satu ide tetap. Maka pastikan kita jangan membenci atau mencintai manusia secara berlebih, tapi kita boleh mencintai ide secara tetap

Dulu saat seorang teman membagikan tautan seorang dai yang sedang marak saat itu di saat 411 dan 212, Gus Nur namanya, saya menyampaikan pada sahabat itu

“Sebelum membagikan harap berhati-hati, setahu saya beliau itu pemikirannya rada-rada liberal, saya pernah menonton beberapa ceramahnya di YouTube, lumayan masalah”

Teman saya berkata, “Beliau sudah mengubah pendapat, saat ini beliau begitu istiqamah membela barisan Islam di 411 dan 212, pandangan beliau kritis dan mencerahkan”

MasyaAllah, begitu mudah Allah menguatkan agama ini dengan para pengemban dakwah yang ikhlas di jalannya. Saya berubah salut dengan Gus Nur yang sangat berani ini

Satu kesempatan, saya mendapat kontak beliau dan meminta maaf via telpon sebab dulu tak menyukai beliau. Di kesempatan lain, saya menyampaikannya secara langsung

Manusia bisa berubah, ada yang dulu begitu membenci Rasul, kini terbaring mesra disamping beliau, ada pula yang membela Islam awalnya, lalu meninggal jauh dari itu

Tidak ada yang menjamin beliau tetap istiqamah, apalagi saya. Maka jangan cintai kami, cintai saja Islam. Maka siapapun yang mencintai Islam, pasti akan kita cintai
—  Ustadz Felix Siauw
2045, Siapkah?

Sebagai generasi muda yang di tahun 2016 ini masih berusia 20an, kita harus menyadari bahwa anak-anak kita nanti adalah calon-calon pemimpin di semua lini pada tahun 2045. Tahun yang sama bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka. Oleh karena itu, anak-anak kitalah yang di tahun 2045 nanti disebut sebagai Generasi Emas Indonesia.

Untuk mempersiapkan anak-anak yang akan menjadi Generasi Emas Indonesia, kita membutuhkan banyak persiapan dari segi keimanan dan akidah, ilmu, kesiapan psikologis, kematangan berpikir, dll. Jika orangtua dulu sering berkata bahwa tak ada sekolah untuk menjadi orangtua, rasanya hal itu kini terbantahkan dengan banyaknya bahan belajar yang tersebar melalui buku, media, seminar atau forum. Istilah parenting pun kini sudah semakin akrab di telinga. Jadi, sudah saatnya kita berpikir lebih jauh tentang mempersiapkan pernikahan dan berkeluarga, tujuannya adalah agar anak-anak kita kelak siap untuk menjadi Generasi Emas Indonesia 2045.

Permasalahannya, generasi kita saat ini sedang menghadapi tantangan sosial tentang gap generasi dan perbedaan persepsi mengenai kesiapan mengasuh. Kebanyakan orangtua kita dulu membesarkan anak-anaknya dengan pengetahuan seadanya karena menganggap bahwa pengasuhan adalah hal natural yang bisa didapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, dulu ketika orangtua kita membesarkan kita, akses informasi terhadap ilmu parenting belum marak seperti sekarang. Dampaknya, saat ini kita tidak tumbuh sebagai individu yang dipersiapkan untuk menjadi isteri, suami dan orangtua. Padahal, perkembangan zaman dan situasi dunia menuntut kita untuk siap dalam menghadapi tantangan-tantangan pengasuhan.

Pertanyaannya, apa yang membuat kita harus mencari tahu tentang pengasuhan? Mengapa parenting menjadi begitu penting bagi kita sebagai calon orangtua? Mengapa harus mempersiapkan dari sekarang ketika mungkin kita belum memiliki rencana untuk menikah dalam waktu dekat?

Kesalahan pengasuhan terhadap anak akan menghasilkan anak-anak yang bermental BLAST (Bored, Lonely, Afraid, Angry, Stress and Tired), sehingga mereka rentan terhadap bullying, peer pressure, konten dan nilai yang tidak baik, pornografi dan gaya hidup yang tidak sehat. Padahal, calon-calon Generasi Emas Indonesia 2045 ini perlu kita didik dengan baik agar mampu bermental BEST (Behave Empathetic Smart Tough). Bisakah kita menghasilkan anak-anak BEST jika kita tidak mengupayakan dan memperkaya diri dengan ilmu? Bisakah kita mendidik anak-anak agar menjadi BEST jika kita bermental BLAST dan hanya berbekal perbekalan seadanya? Tentu tidak. Oleh karena itu, kita membutuhkan banyak persiapan. Persiapan tersebut perlu dilakukan dari sekarang. Kita tidak ingin belajar dengan terburu-buru seperti pekerja yang sedang dikejar deadline, bukan?

Terakhir, dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S An-Nisa : 9)

So, ayo belajar, ayo mempersiapkan diri! Kita buat anak-anak kita menjadi anak-anak yang siap untuk menjadi Generasi Emas Indonesia 2045!
***

Tulisan ini ditulis berdasarkan hasil diskusi dengan NuParents, sebuah program yang merupakan bagian dari program SEMAI (Selamatkan Generasi Emas Anak Indonesia) 2045.

Pembaca Malas

Sejak berkenalan dengan media sosial dan terutama Tumblr, saya akui, saya jadi pembaca malas. Meskipun jika ditilik dari tulisan-tulisan sendiri yang sudah dihasilkan (sebagai efek bacaan), pada mulanya tulisan-tulisan di Tumblr jauh lebih panjang dan runtut dibandingkan di Notes FB, kecuali akhir-akhir ini, yang saya lebih suka menuliskan opini dengan beragam tema di sana dibandingkan di sini. Mungkin, karena di sana lebih sedikit pembacanya jadi merasa lebih aman dalam beropini(?). Dan, memang sejak awal laman Tumblr sengaja saya fungsikan hanya untuk menampung tulisan baper. Haha.

Kemarin lusa, saya bertemu dengan cerpenis veteran. Disandingkan untuk berbicara dengannya jelas membuat saya minder keterlaluan. Untuk kemudian saya banyak belajar dan berkaca jujur pada diri sendiri. Kami berbincang banyak tentang proses kreatif menulis pada jamannya dan pada jaman sekarang; yang memiliki atmosfer sangat berbeda. Beliau jelas menulis dengan ilmu. Beliau juga banyak mengenal penulis-penulis veteran lainnya. Sangat berbanding terbalik dengan saya.

Kami juga banyak berbincang tentang bacaan-bacaan masa kini yang sudah beda rasa dengan bacaan-bacaan pada jamannya, kecuali sangat sedikit saja. Pun, itu tidak lebih digemari dibandingkan tulisan-tulisan populer dari penulis-penulis baru yang masih muda belia.

Sepercaya apa pun saya dengan tulisan-tulisan sendiri, saya masih merasa tidak punya muka untuk menunjukkan tulisan-tulisan itu pada penulis-penulis veteran yang saya kenal. Bukan hal yang baik sebenarnya karena semakin banyak kritik yang masuk adalah upaya luar biasa untuk terus memperbaiki karya. Hanya saja, saya sudah minder duluan. Terlebih jika pembicaraan-pembicaraan sebelumnya selalu saja tentang kritik sastra atau karya-karya fenomenal yang dikupas sedemikian komprehensif. Bahkan yang lebih memalukan, saya banyak tidak tahu nama-nama yang disebutkan.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa saya pun sudah jelas termasuk sebagai pembaca malas. Kemampuan saya untuk menghabiskan satu buku dalam sehari dua hari rasanya lenyap begitu saja. Sulit sekali untuk bisa fokus membaca tanpa sedikit-sedikit melihat notifikasi di handphone atau gatal ingin langsung posting bacaan (terutama jika ada kalimat yang quote-able). Pun, sudah tidak ada lagi kepuasan untuk berfantasi dengan angan-angan sendiri atau merasa setiap tokoh masih hidup di dalam kepala meskipun buku yang dibaca jelas-jelas sudah selesai. Entah masih berapa puluh buku yang terplastik rapi belum terbaca, termasuk IEP karya Dewi Lestari yang sudah saya tunggu sejak bertahun-tahun lalu karena sudah mengikuti rangkaian Supernova-nya sejak usia SMP.

Saya sering tiba-tiba malu untuk mengaku memiliki cita-cita sebagai penulis ketika menyadari sudah begini malas untuk banyak membaca. Pun, ketika tidak bisa konsisten terus menulis setiap hari.

Untungnya, sebulan terakhir ini saya bertemu partner membaca yang sering mengaku sebagai pembaca malas. Meskipun nyatanya, buku-buku yang dia sebutkan ketika kami sedang sharing bacaan jauh lebih banyak dan berat dibandingkan buku-buku yang sedang saya baca. Untuk sejenak saya memutuskan jaga jarak dengan buku-buku populer dan memilih buku-buku yang sudah lama saya beli, tetapi belum tersentuh sama sekali. Salah satunya buku Ayah, Andrea Hirata. Selesai membacanya, saya terkagum-kagum dan kembali jatuh cinta pada buku. Kemudian saya beralih membaca The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared karya Jonas Jonasson, yang membuat saya benar-benar sadar… kualitas dan senioritas penulis memang tidak dapat berbohong.

Rasanya benar-benar tidak baik untuk tergesa-gesa berkarya; sebagaimana banyak sekali penulis-penulis senior yang menikmati proses menulisnya sehingga benar-benar matang setiapkali akhirnya menyajikan tulisan. Pun, rasanya tidak baik untuk membaca hanya apa yang sedang marak diperbincangkan dan melupakan karya-karya lama yang tidak pernah membosankan meski dibaca berulang juga memiliki banyak pembelajaran; tentang sudut pandang, pilihan kata, hingga alur cerita. Sesederhana apa pun idenya, tetap saja dapat tertangkap luar biasa. Seperti Andrea Hirata yang selalu bercerita tentang cinta buta, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Pun, Jonas Jonasson di dua bukunya (yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) sama-sama bercerita tentang sejarah dan bom nuklir, tetapi dengan penokohan yang sangat berbeda.

Mungkin itulah salah satu sebab pergi ke toko buku tidak lagi bisa menjadi upaya refreshing bagi saya. Tidak ada lagi kenikmatan memilih “asal” tetapi tidak mengecewakan. Selain karena sekarang mudah sekali mencari tahu dan membeli buku-buku bagus melalui media online dan pre-order, yang bagi saya pribadi akhir-akhir ini rasanya hanya karena perasaan “tidak ingin ketinggalan” atau “terhasut iklan” saja, bukan karena benar-benar menginginkannya.

Akhir kata, sepertinya saya harus kembali meluruskan niat dalam berkarya. Selain, saya harus lebih giat untuk benar-benar banyak membaca dibandingkan sibuk menulis di media maya dengan bahasan-bahasan yang terlalu ringan (dan dapat mengarah pada cenderung semakin membosankan). Bacaan benar-benar mempengaruhi tulisan. Akan sangat rugi jika saya terus menulis tanpa mengimbangi dengan bacaan-bacaan yang terus ditingkatkan variasi dan “level”-nya dengan cara terus jujur pada diri sendiri mengenai kualitas dan senioritas yang (jelas) ada.

Ideologi di dunia itu hanya ada 3, yakni: Sekulerisme (Kapitalisme), Sosialisme (Komunisme), dan Islam. Maka secra potensi ideologi, Islam adalah musuh alami dari Kapitalisme dan Komunisme.

Ideologi adalah cara pandang mendasar, yang melahirkan sistem kehidupan untuk menyelesaikan masalah manusia, atau sebuah pemikiran tentang kesejahteraan sekaligus jalan untuk mencapai kesejahteraan itu.

Bedanya, Islam adalah agama sekaligus ideologi yang berasal dari Tuhan pencipta alam sedangkan ideologi lain berasal dari pikiran manusia, karenanya ideologi selain Islam adalah lemah dan salah.

Lalu bagaimana komunisme yang sedang marak diperbincangkan pada hari-hari ini dan bahasannya dari sudut pandang ideologi? Disini tim @YukNgajiID berusaha membahasnya, selamat menyaksikan, “Bedah Tuntas Ideologi Komunisme” - 40 Menit

>> https://youtu.be/jKf9R_siPD0
—  Ustadz Felix Siauw

barangkali ada yang kangen.

setelah cuti dari menulis dan dunia kepenulisan sekian lama, alhamdulillah saya dapat kesempatan dan kepercayaan untuk berbagi lagi. kali ini khusus tentang self publishing, creative (curcol) writing, dan segala hal baik yang bisa didiskusikan. ah ya, rencananya saya juga akan menceritakan rahasia-rahasia self publishing: kenapa sekarang marak sekali sampai betapa ternyata self publishing bisa menguntungkan sekali–termasuk secara materi.

tentu saja, masih membahas hal-hal idealis tentang kepenulisan. tentang tanggung jawab kita sebagai pekarya, tentang misi menumbuhkan bangsa lewat aksara.

nggak sendiri, saya akan ditemani salah satu partner menulis favorit saya yang baru saja meluncurkan buku barunya, JS Khairen. teman yang satu ini adalah salah satu yang paling sehalaman sama saya bahwa tersasar itu baik.

gratis. tapi terbatas hanya untuk 100 peserta. dapat snack dan ada merchandise pula. jadi, cepat-cepat daftar yaa. sampai ketemu dengan saya (dan mbak yuna yang pasti nderek ibunya). :D

liefs.

Prestasi suami: merumahkan istri?

Di lapak sebelah lagi marak pembicaraan tentang “merumahkan istri”.

Buat perempuan macem gue, yang bahkan berencana untuk menjauh lebih dari 11.000 km dari rumah, pasti bakal dimusuhin orang-orang kali ya?

Setelah isu mana yang lebih baik, stayed home mom vs working mom, sekarang justru isu merubah status dari working mom menjadi stayed home mom dianggap sebuah prestasi.

Kadang gue jadi kasihan dengan perempuan-perempuan ini.

Mereka yang bekerja kadang disebut sebagai orang yang melanggar fitrah. Perempuan itu ya di rumah, perempuan itu ya menanak nasi, mengurus anak dan mengangkang buat suami. Bukan kerja cari duit. 

Hellooooo nggak sesempit itu juga kali. 

Gue jadi ingin sedikit share bagaimana kehidupan pribadi gue, pengalaman sebagai suami-istri yang mungkin berbeda dengan orang lain. Apalagi orang-orang yang menganggap merumahkan istri adalah sebuah prestasi.

Pertama, gue ingin cerita dulu tentang alasan kenapa gue tetap bekerja setelah menikah. Sederhana alasannya. Aktualisasi diri. Gue mencintai bidang financial inclusion dan social finance. Gue mencintai riset. Gue mencintai aktivitas berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak spoiled brat yang badung-badung.

Bisa jadi ini mengakar kuat karena gue lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh dengan akademisi. Perempuan di keluarga gue semuanya bekerja. Tante dan bude gue banyak yang berprofesi sebagai dosen, dokter, peneliti dan guru. Pun kalau mereka di rumah, mereka juga kerja. Semisal buka usaha catering. Intinya sih, semua perempuan di keluarga gue produktif. Mereka menjalankan peran yang lebih dari sekedar penanak nasi dan pemuas kebutuhan biologis laki-laki. Dengan latar belakang seperti ini, gue pun terdorong juga untuk do something, yang lebih dari sekedar menjalankan fitrah perempuan.

Alasan lainnya adalah, si Uda selalu mendorong gue untuk menjadi perempuan yang cerdas dan bisa memberi manfaat luas. Pernah suatu hari gue bertanya, “Kalau aku di rumah aja gimana?”

Mau tau respon Uda? Dia bilang, “Jangan, nanti otak kamu atrofi.”

Kedua, gue sadar seutuhnya bahwa pada setiap bidang pekerjaan atau keilmuan tetap butuh peran perempuan. Misalnya pada bidang inklusi keuangan. Banyak negara-negara yang melakukan pendekatan keuangan inklusif justru melalui perempuan, bukan melalui laki-laki meski kaum adam itu lah yang menghasilkan uang dalam rumah tangga. Agar pendekatan ini efektif, maka dibutuhkan pemahaman mendalam tentang perempuan itu pula. Kalau lah researcher-nya laki-laki, pasti akan awkward kalau harus bertanya tentang hal-hal pribadi semacam menstruasi dan perencanaan kehamilan.

Nah, dengar ya para laki-laki. Perempuan itu juga dibutuhkan di luar rumah.

Ketiga, ini yang paling penting menurut gue. Uda tidak pernah menelan mentah-mentah bahwa fitrah perempuan itu melayani dan laki-laki itu dilayani. Enggak. Gue dan Uda membagi peran di rumah. Kita sama-sama bagi tugas. Kalau Uda sudah menyapu lantai, maka gue yang mencuci piring. Kalau gue memasak makan malam, Uda membantu gue untuk membersihkan kamar mandi. Tidak semata-mata Uda bekerja, lalu sudah di rumah dia tinggal tidur. Aktivitas ngerjain household chores seperti ini adalah salah satu cara untuk menguatkan bonding di antara kita. Sehingga tercipta suatu pemahaman tentang diri kita dan orang lain. Dengan lebih memahami satu sama lain, maka potensi munculnya konflik bisa dihindari.  

Jadi, buat para suami yang menganggap merumahkan istri adalah sebuah prestasi, coba dicek dulu bagaimana peran yang dijalankan istri di luar rumah. Apakah itu suatu bentuk peran yang memang berdampak, atau sekedar aktivitas buang-buang waktu. Jangan lupa juga bahwa dunia ini butuh peran perempuan. Dan tentu saja, jangan hanya berfokus pada peran istri dan fitrah perempuan, tapi tunjukkin juga dong bahwa kamu adalah suami dan laki-laki ideal yang juga bersedia membantu dan melayani istri.

Rada' Jenuh

Saya rada jenuh sama hal ini. Jadi pengennya ditulis. Sudut pandang saya sendiri sih. Saya tahu pasti beda pemikiran. Mereka ada yang nggak tau, saya tahu. Saya ada yang nggak tau, mereka tau banyak. Begitulah hidup.

Kemarinan, saya dimintai tolong sama salah satu ukhti-ukhti dipesantren saya yang sekarang untuk jadi panitia dadakan acara seminar anak muda. Bisa nebak? Yhaaaa. Ujung-ujungnya pasti jodoh-jodohan. Nikah-nikahan. Cinta-cintaan. Bener. Kamu pinter sekali bisa nebak. Pft.

Beuh, yang dateng tuh sampe ratusan lho. Apalagi yang perempuannya. Gusti…. bikin gumun dan sekaligus jenuh.

Yang bikin saya jenuh itu… kenapa sih kajian-kajian remaja sukanya (kebanyakan/setau saya) ngambil tema bab gituan mulu? Materinya nggak jauh pasti tentang khitbah-khitbahan. Nikah muda. Menyempurnakan separuh agama. Tentang gimana menjadi istri yang patuh kepada suami. Kalau sudah terlanjur baper sama lawan jenis harus gimana. Terus gimana cara meyakinkan orang tua biar dibolehin nikah. Biar berani ngelamar akhwat yang disuka itu tipsnya gimana. Bla bla bla na na na.

Iya. Saya ya kadang juga pernah rindu-rinduan menye gitu. Pernah. Ndak menafikkan kok. Wajar banget. Saya manusia. Bukan malaikat. Tapi yo…. biasa aja sih. Diasyikin aja kalo saya. Masak harus baper terus? Kapan bergeraknya? Suruh nangis-nangis dipojokan? Dibawah shower? Apakabar yang katanya mau banggain orang tua? Di eman-eman masa mudanya nak. Percuma kalo masa muda cuma buat mikir rindu menye. Itu pemuda pemuda di Palestine, Aleppo mikir gimana biar syahid. Ndak malu tha? #AskForSelf

Saya sudah pernah bilang juga. Kalo udah terserang penyakit kayak gitu tuh harusnya dinyalakan dengan hal hal yang manfaat. Dibawa ngaji aja. Dibawa belajar aja. Dibawa asyik aja. Ndak usah dipanjang-panjangin. Nyantai. Nanti juga lupa sendiri. Inget tujuan dari rumah lagi. Belajar, belajar dan belajar. Nyari ilmu. Itu baru yoi. Ya tho?

Sebenernya saya ndak mempermasalahkan galau nikahnya. Atau rindunya. Atau bapernya. Atau cinta cintaannya ke doi, bukan. Cuman, kenapa sih tuh kajian dari yang saya tau, temanya kebanyakan berbau seperti itu mulu? Mentok pasti audiens bertanya.

“Gimana batasan-batasan komunikasi sama lawan jenis ya, sedangkan saya aktifis dikampus?”

“Gimana sih caranya biar nggak baper sama ikhwan itu, akhwat itu?”

“Ngelamar cowok duluan boleh nggak sih?”

Zzzz

Well. Bukan. Bukannya saya bosen. Lagian siapa remaja masa kini yang nggak suka ngebahas bab nikah?

Saya tuh cuma sedikit jenuh. Tau sendiri tha, kalau Islam itu luasnya sejagad raya semesta? Kenapa gitu ndak ngadain kajian yang lebih mendasar. Yang lebih kita ‘butuhkan’? Bukan yang kita ‘inginkan?’

Iya. Kita juga nggak tau niatan orang-orang yang suka ngadain kajian gituan itu buat nurutin kita gegara kalo temanya itu nanti pasti yang dateng banyak. Atau emang mau menarik orang-orang biar pada suka ikutan kajian dulu terus abis itu baru diisi kajian bab lain. Niat orang siapa yang tau kan ya? Dihusnudzonin aja tha lah.

Tapi sepertinya ada hal yang lebih mendasar lagi buat dibahas ketimbang bab nikah nikah dulu. Misal. Ngadain kajian fiqih ubudiyah kek. Semacam sholat yang bener kayak gimana fiqihnya. Sujud kayak gimana. Ruku’ yang bener tuh gimana. Kalo cuman baca begini doang boleh nggak? Mandi wajib tuh yang rukun wajib apa aja, yang rukun sunnah apa aja? Air mutlak yang kayak gimana, air musta’mal itu kayak gimana? Wudhu yang wajib mana yang sunnah gimana. Jadi tuh kita tau wudhu kita sah apa enggak. Yaaah walaupun perbedaan dari kita kebanyakan di fiqihnya. Tapi kita tuh harus paham kalo fiqih itu sedetail itu. Bener bener sedetail itu.

Apalagi fiqih wanita. Fiqih wanita itu luaaaas banget. Bahas haid doang itu satu kitab. Ada kitabnya sendiri. Haid asal usulnya gimana. Bahkan didetailin kalo darahnya warna hitam nanti hukumnya gimana. Kalo darahnya merah gimana. Kalau encer gimana. Kalo sekian hari keluar darah terus sekian hari enggak itu yang diitung istihadzoh yang mana. Yang diitung haid yang mana. Apalagi kalo kita sendiri perempuan. Wajib banget tau fiqih kita sendiri, mbak mbak. Ya beruntunglah kalo nanti dapet suami yang sholih yang paham hukum hukum. Kalo dapet bule muallaf? Kita nggak pernah tau kan?

Misal juga ngadain kajian nahwu shorof. Kenapa alhamdulillah dibaca alhamdulillahi, bukan hu atau ha? Fiil madhi yang kayak gimana, fiil mudhori’ yang kayak gimana. Masdar, masdar mim. Maf’ul bih. Dan lain lain. Pada penasaran kan kayak gitu tuh?

Memang. Belajar agama itu kalo nggak dari dasar jadi susah. Soalnya kalo ndak urut nanti bingung. Semacam puzzle yang belum kesusun. Berantakan. Sebaiknya mulailah dulu dari tauhid. Islam itu apa? Sifat wajib Allah, sifat muhal Allah, sifat jaiz Allah. Nah.. kemudian kalo iman udah tertancap barulah belajar ta’lim muta’alim. Belajar akhlak. Terus masuk ke pelajaran fiqih semacam kitab safinatunnajah, fathul qorib, fathul mu’in. Qurrotul ‘uyun dan fathul izzar (penting ini, hahaha). Lalu barulah belajar nahwu shorof, mantiq, ilmu hadist, tasawuf dan ilmu tafsir. Jadinya urut gitu lho ndak kepecah pecah kek air mataku pas lagi netes-netes. Oposiiiih, Naiiiii?!

Soalnya ini masalah ibadah men. Ambil saja contoh yang mau di hisab pas pertama kali entar. Sholat. Ribet kan kalo ndak tau fiqihnya sholat yang bener kek gimana? Misal wudhunya aja belum bener, ya apa sholatnya sah? Wudhunya aja ndak sah? Yakan yakan? Eh tapi alhamdulillah deng, sekarang sih udah mulai marak kajian-kajian bab semacam itu. Yeaaaay.

Yagitu pokoknya uneg uneg Nai. Iya setiap orang beda-beda. Ini cuma pendapat. Hehehe. Jadi gimana? Yok bareng bareng kita adakan seminar dan kajian-kajian yang lebih kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Singkirkan ego. At least, kita punya semangat menuju islam yang sepenuhnya. Siap?

Karena sekelebat kainnya, tak mampu mereka tundukkan hati kami

“Karena sekelebat kainnya, tak mampu mereka tundukkan hati kami….”

Sudah menjadi sunnaturrasul bahwa fitnah bagi kaum adam adalah antunna ukhti, antunna berjilbab atau tidak berjilbab, berjilbab gaul maupun berjilbab syar’iy, bercadar sekalipun ( teringat waktu itu para akhwat sangat takut terjun dalam tabarruj sehingga pakaiannya tidak seperti pakaian2 akhwat yg marak saat ini) maka tetap saja antunna adalah fitnah bagi kaum laki2…

bagi laki2 yang awam, maka fitnah besar mereka adalah wanita2 telanjang ( berpakaian tapi hakikatnya telanjang), yang tidak menggunakan hijab, yg berpakaian seksi…

adapun para ikhwan fitnah wanita yg berpakaian seksi itu bagi mereka besar juga, namun lebih besar lagi fitnah antunna yg sudah berpakaian dan berhijab syar’iy, mereka bisa menundukkan pandangan terhadap wanita2 seksi, namun sulit menundukkan hati terhadap akhwat yg berpakaian syar’iy, bagi kami (para ikhwan) biasa wanita yg seksi di jalan2, kami bisa menundukan pandangan dari mereka, namun yang tidak biasa bagi kami adalah mengetahui ada akhwat berpakaian syar’iy lewat di dekat kami dan sangat sulit untuk menjaga hati kami, benar kami menundukan pandangan namun hati dan pikiran kami sulit untuk ditundukkan…

melihat wanita yg berpakaian seksi lewat didepan kami, kemudian kami berpaling dan beristigfar itu tidak seberat, melihat kibasan ujung jilbab panjang dan hitam salah seorang dari antunna, itu akan terus terbayang2 dan mengganggu hati2 kami…

Maka dari itu, bantulah kami menundukkan hati kami, foto media sosial mediamu merupakan tantangan terberat kami, semoga antunna dijaga dan dirahmati Allah..

anonymous asked:

Confieso q vola me dan ganas de tirar, y como estoy sola me calienta q me vean tocandome por cam ,pero mas me calienta q la otra persona sea mina igual q yo .... estaria mal si soy hetero? Ctm jajaja porq las mas maraks tenemos nuestro lado lesbico wn jahahja

#ConfesionesCam4Cam