marahan

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

anonymous asked:

Assalamu'alaikum mas.. Mas gimana nanti menghadapi istri yg sedang ngomel atau istri yg lagi ngambek??? Kalau dinasehatin istri ngerasa disalahkan Kalau diam istri ngerasa ndak dipedulikan Complicated banget mas.. akan sangat membantu kalau mas mau jawab.. Syukron ☺

Wa’alaykumussalaam wr wb, Ladhalah, lha ini gimana to? Yang ditanya aja belom punya istri kok ya ditanya gimana menghadapi istri, *disitu kadang saya tersadar bahwa sepertinya memang sudah terlalu lama sendiri :(

Tapi sebenernya, udah punya beberapa amunisi dan rencana strategis untuk menghadapi hal itu, hhe~
Tak kasih beberapa aja, jangan banyak-banyak, cari sandiri lah…

Perihal perselisihan atau marahan di dalam keluarga itu udah pasti bakal ada. Tinggal bagaimana kita menikmati dan menyikapinya. Asalkan tau adabnya, saya yakin bahwa marahan itu gak akan berlangsung lama, tapi bakal jadi tempat untuk saling memaafkan setelahnya. Ini beberapa hal yang mungkin kelak coba dilakukan.

1. Buat MoU di awal pernikahan 

Di awal mungkin baiknya kita mohon maaf, jika nanti ada suatu hal yang tidak mengenakkan di hatinya, entah karena kata-kata yang salah, atau emosi yang kurang terarah. Namanya manusia sebaik apapun pasti ada aja khilafnya dan salahnya.

Jika nanti kita tersadar dari khilaf dan kesalahan, maka tidak perlu sungkan atau gengsi untuk segera dan saling meminta maaf. 

Perjanjian ketika marah :

a. Nanti kalau marah gantian, gak boleh barengan.
    Kalau satu marah, yang lain dengerin dulu sampe selesai. 

b. Kalau marah ndak boleh melewati lebih dari satu waktu shalat
c. Jangan marah di depan anak-anak
d. Jangan bawa-bawa keluarga
e. Ndak perlu ungkit-ungkit yang sudah-sudah, marah untuk hal itu saja

2. Saat si dia marah

a. Dengerin dengan baik, jangan dijawab, jangan dinasihatin atau dibalas marahnya, karena percuma, orang yang lagi marah emosinya gak terkontrol, dikasih tau apa juga gak bakal masuk.

Gimana klo kita pandangi aja wajahnya dengan pandangan teduh penuh pengertian, lalu kalau udah selesai bilang..

“Udah selesai ‘yang’ marahnya? Kamu tau gak? Kamu makin cantik klo lagi ngambek, makin imut klo lagi manyun :)” ~

b. Klo beberapa saat setelahnya masih ngambek juga, godain aja, “Ciee yang lagi ngambek, ciee yang lagi sewot..uhuk..” ~

c. Senyumin, deketin, pencet idungnya, lalu suruh dia berdoa..

Rasulullah biasa memijit hidung Aisyah r.a, jika istrinya marah. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah  diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR.Ibnu Sunni) *Coba yang ini dicari redaksinya, saya belum sempet cek lebih jauh klo yang ini

Masih ada beberapa strategi sebenernya, tapi itu dulu aja~

Nomer 2 Poin A sama B udah saya coba ke ukhti kecil wkwk~

Masa Kecil

Sebuah masa dengan segudang cerita yang tidak akan habisnya untuk diceritakan bukan?

Masa dimana tidak akan kamu temukan sebuah sandiwara. Tentang masa yang penuh tawa dan kegembiraan yang lepas. Tingkah-tingkah aneh kekanakan, pertanyaan polos nan menyebalkan, dan rangkaian kelakuan yang tak akan pernah bisa direka ulang.

Masih ingat dengan permainan-permainan yang biasa dulu kita mainkan?
Gobak sodor, boy-boyan, polisi-maling, lari-larian, bermain layangan, ataupun permainan sepak bola, kumpulan permainan yang berakhir kala adzan berkumandang ataupun ibu yang memanggil untuk pulang. Oiya, dan juga permainan petak umpet yang terkadang membuat kita marahan, namun esoknya kita bermaafan dan permasalahan itupun dengan sekejap terlupakan!

Sebuah kesederhanaan akan bahagia yang tidak akan mungkin kita bisa unduh atau didapatkan di dalam layar-layar sentuh kekinian.

Ah, saat itu kita tidak perlu memikirkan tentang perasaan kan? Jangankan itu, memikirkan baju yang telah kotor aja tak terpikirkan, apalagi menggalaukan perasaan-perasaan yang bukan-bukan. Kelucuan tingkah masa kecil kita sudah cukup menjadi bekal yang dikenang untuk ditertawakan hingga sekarang. Sebuah kebahagiaan yang selalu dirindukan.

Ih, aku jadi rindu masa itu..
Rindu memanggil namamu di depan teras rumahmu untuk diajak bermain kala sore itu, rindu menyembunyikan sandalmu di masjid dulu, rindu berebut warna power rangers merah atau biru, rindu dimarahi karena pulang saat senja oleh ibu…

Iya, tentu aku rindu dengan ibuku. Rindu yang teramat sangat. Kerinduan yang tak akan pernah menemukan puncak. Rindu menikmati hidup bersama seseorang dengan panggilan yang begitu indah, ibu.

Btw, kalau kamu, apa yang kamu rindukan dari masa kecilmu?


on 30days Writing Challenge with :

@febrianimanda @alfianzack @hiboki @isasetiawan @swcoollepool
@dyahayucintya @inbakus @ageovani @afsabila @zgalangb @milhanfah @fahrizal182

The Way I Lose Her: Stand Tiket

Apakah pertemuan kita ini hanya untuk berpisah lagi? Kelak jika kau punya waktu, kumohon bantu aku menjawab tentang apa yang harus kupunya agar cintaku bisa sekali saja kau balas? 

                                                    ===

.

Mungkin benar, meskipun kita selalu berkata bahwa kita mampu melewati semua masalah ini sendirian. Sebenarnya kita tak bisa. Kita tetap butuh orang lain. Jika bukan untuk mendengarkan, setidaknya untuk ada dan membuat kita lupa tentang beratnya masalah yang sedang kita derita.

Malam itu, kami kemudian melanjutkan lagi perjalanan untuk pulang menuju sekolah. Di sepanjang perjalanan, wangi martabak yang Ikhsan beli memenuhi mobil Cloudy hingga wangi Pandan-nya berangsur-angsur hilang. Kami bertiga terdiam, tidak ada yang berbicara. Ikhsan sendiri yang biasanya banyak ngomong sekarang lebih milih untuk diam. Gue hanya melihat lurus ke depan menahan kantuk, Cloudy masih duduk tegap di posisi yang sama, serius banget pegang stirnya kaya orang lagi lamaran kerja.

“Dim..” Tiba-tiba Ikhsan manggil gue dari belakang.

“Paan?”

“Sekarang jam berapa?”

Gue melihat ke arah jam tangan, “Setengah dua belas. Kenapa?”

“Kasian ya..”

“Apaan?”

“Dulu jam-jam segini, jam-jamnnya Sangkuriang degdegan candinya nggak siap-siap.”

CKIIT!!!
Tiba-tiba mobil Cloudy oleng.

“IKHSAN!!!”

JLETAK!
Cloudy langsung memukul Ikhsan dari depan menggunakan kaleng plastik warna kuning buat wadah kanebo itu.

“EH APAAN NIH KOK GUE DITEMPELENG?!” Ikhsan protes.

“Ngomong yang serius sekali-sekali kenapa sih?! Bikin nggak konsen aja!”

“Yeee terserah gue dong, ribut amat lu.”

“Udah diem!”

“Iye, bawel ah.”

Dan gue cuma bisa ketawa di kursi depan sendirian. Temen gue kenapa gini-gini amat ya otaknya. Kami melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa belokan lagi sebelum pada akhirnya kami sampai di sekolahan. Karena saat itu Cloudy memilih memakai AC sehingga kaca mobilnya tidak dibuka, wangi martabak yang Ikhsan beli kian memenuhi mobil.

“Oi Clow.” Ikhsan nyeletuk lagi dari belakang, gue langsung geleng-geleng sambil nahan ketawa karena ada firasat nggak bener.

“APA?!” Jawab Cloudy galak sambil masih fokus melihat jalan yang sudah gelap itu.

“Buka jendela boleh ya?”

“NGGAK!!”

“Yaelah, nanti mobil lu bau martabak loh.”

“…”

“Boleh ya?”

“Yaudah dikit aja tapi. Gue matiin AC deh.”

“Oke.”

Ikhsan langusung membuka kacanya sampe bawah hingga angin Bandung yang super dingin malem-malem begini masuk semua ke dalam mobil.

“Ahhh… Segar….” Tukas Ikhsan sambil ngeluarin kepalanya ke luar jendela.

“SEGAR NENEK LO GONDRONG! DINGIN MONYET! TUTUP!” Kini gantian gue yang mukul Ikhsan pakai boneka Dashboard yang kepalanya bisa goyang-goyang itu.

“Rempong anjir elo! Lebih seger udara malam daripada udara AC.”

“Ya nggak harus dibuka semua juga setan.”

“Yang punya mobil aja kagak protes ah.” Balas Ikhsan.

Gue tidak membalas lagi ucapan Ikhsan, makin malem kayaknya Ikhsan makin nyebelin. Jadi lebih baik gue diam aja deh sambil menaikkan kerah jaket semakin tinggi biar nggak masuk angin.

“Dim.. Dim..” Lagi-lagi Ikhsan manggil gue.

“Paan sih? Lama-lama gue tabok nih!”

“Gue jadi kepikiran deh.”

“Apa?”

“Kira-kira Bard Pitt pernah nawar duku juga nggak ya?”

“HAHAHAHAHAHAHA..” Gue cuma bisa ketawa di depan sedangkan Cloudy di samping gue cuma bisa geleng-geleng.

“Ah bosen gue!”

“Napa sih elu rusuh banget malem ini?” Tanya gue heran.

“Banyak pikiran cuy.”

“Masalah wanita lagi?”

“Hooh. Btw udah jam segini, lo mau nginep di sekolahan?”

“Kagak ah, nggak bawa baju ganti. Lagian gue pengin istirahat banget. Capek seharian ini sumpah deh.”

“Balik dong?”

“Iya kayaknya.”

“Rumah lo kan jauh dari sekolah. Ke rumah Ipeh aja gih.”

“BANGSAT LO NGAJAK BERANTEM HAH?!”

“Hahahaha gitu aja marah lu. Sensitif amat kaya klitoris.”

Sedang asik-asiknya ngobrol berdua, tanpa sadar ternyata kami sudah sampai di depan sekolahan. Begitu mobil Cloudy datang, supirnya yang daritadi menunggu di depan gerbang sekolah langsung nyamperin. Kasian amat supirnya Cloudy, padahal Bandung malem ini kan dingin banget, tapi dia rela nunggu Cloudy pulang di depan gerbang.

Supir Cloudy langsung mengambil alih untuk memarkirkan mobil, sedangkan kami bertiga langsung turun. Depan gerbang yang tidak begitu terang lantaran lampionnya hanya sedikit membuat sekolah terlihat lebih seram malam-malam begini. Dari jauh gue masih melihat beberapa anak panitia Bazzar lagi asik nongkrong sambil rokok-an di warung jongkok sebrang sekolah. Beberapa lagi ada yang masih sliweran di sekolah gara-gara sibuk ngurusin dekor yang udah mepet.

Yang lain kerja, lah kami bertiga malah asik jalan-jalan. Benar-benar luar biasa. Tapi nggak papa deh, kalau jalan bareng Cloudy pasti nggak akan kena semprot sama senior. Pasti aman.

Kami bertiga masih berdiri di depan gerbang. Ikhsan masih setia menjinjing dua keresek martabak, Cloudy menangkupkan tangannya di depan dada agar tidak kedinginan, dan gue sendiri malah bawa banyak banget kertas serta berkas-berkas Bazzar kepunyaan Cloudy. Gue makin mirip kaya pembantu kalau gini terus caranya.

Malam itu tidak ada salah satupun dari kami yang memilih masuk duluan ke dalam sekolah. Tanpa obrolan disertai hening yang panjang, kami bertiga hanya berdiri begitu saja. Gue lirik tampaknya Cloudy makin kedinginan malam-malam begini. Nih anak apa mau nginep di sekolah ya?

“Dee..” Gue akhirnya memberanikan diri bertanya.

Dia tidak menjawab.

“Lo mau nginep?”

Cloudy geleng-geleng.

“Terus?”

“Gue habis ini langsung pulang.”

“Oooh…”

“Kalian sendiri?” Cloudy melihat ke arah kami berdua.

Ikhsan dengan sigap langsung mengangkat keresek yang berisi martabaknya itu, “Gue harus nganterin makanan dulu buat anak-anak. Tapi kayaknya nggak nginep deh.”

“Gue juga. Paling nemenin Ikhsan, terus nginep deh di rumahnya.”

“Lha?! Apa-apaan ini kok elo tiba-tiba mau nginep di rumah gue? Izin aja kagak!”

“Nanti kita bobonya bisa berdua loh beb.”

“Ah, oke deh setuju kalau begitu.”

Cloudy hanya menampilkan ekspresi muak ketika mendengar percakapan kami berdua barusan.

“Yaudah kalau gitu, gue duluan ya. Ngantuk.” Cloudy bersiap pergi sambil mengambil seluruh berkas yang sedang gue bawa.

“Yap yap. Ati-ati dijalan wahai Ibu Tiri.”

“Makasih traktirannya, Dee.”

Tanpa membalas ucapan kami, ia langsung berlalu begitu saja berlari menuju mobilnya. Setelah Cloudy pergi bersama supirnya, kini tinggal kami berdua yang masih berdiri mesra di bawah cahaya rembulan.

“Masuk nyok.” Kata Ikhsan sambil nyenggol tangan gue.

“Kagak ah gue di luar aja, cepetan. Nggak akan lama kan di dalem?”

“Ih udah ngebet pengen bobo bareng ya kamu?”

“Iya nih. Butuh sensasi tusukan.”

“Yaudah, gue cuma bentar kok cuma ngasih makanan doang, tungguin di parkiran aja yak.”

“Sip-sip.”

Tak lama kemudian Ikhsan pergi meninggalkan gue. Setelah menunggu lebih dari 10 menit sendirian di gerbang luar, akhirnya gue lihat Ikhsan kembali sambil sudah lengkap memakai helm dan jaket.

“Yuk caw.” Katanya.

Gue cuma angguk-angguk doang sambil berjalan di belakangnya. Begitu dia sudah mengeluarkan motor, gue langsung loncat tanpa bilang-bilang dan duduk di jok belakang motornya. Sontak Ikhsan kaget, motornya oleng, kita berdua jatuh nabrak pohon palem di pakiran.

“WOI GOBLOK MAKSUD LO APA SIH BARUSAN?!”

“ELO YANG GOBLOK! BISA NAIK MOTOR KAGAK?!”

“EH ANAK SETAN!! NGAPAIN JUGA LO NAIK DI MOTOR GUA DAH?!”

“Huss jangan ngomongin setan, udah malem, masih di lingkungan sekolah lagi.”

“Oh iya lupa. TAPI ELO NGAPA NAIK DI MOTOR GUE?! PAN ELO PUNYA MOTOR SENDIRI BANGKE!!”

“Males bawa motor gue, San. Nebeng elu aja ya. Motor gue nginep sehari di sekolah. Toh besok juga elu sekolah kan?”

“Anjir nyusahin orang sumpah. Buruan bantu gue ngangkat ini motor. Tai lu! Ngomong kek dari tadi jadi gue bisa lebih siap. Elo kan tau motor gue kalau mesinnya udah mati susah lagi buat dinyalain.”

“Hahaha motor sama orang sama. Jual aja ini motor butut, tuker sama Nutrisari Blender.”

“Malah ngehina lagi!”

“Ya lagian elo naik motornya lemes amat kaya kangkung baru mateng.” Kata gue sambil ketawa sebelum kemudian gue dilempar sama kunci Inggris yang berceceran dari dalam jok motornya.

Sembari masih saling marahan, kami berdua bareng-bareng ngangkat itu motor yang udah terlanjut tergeletak gara-gara nabrak pohon. Dan ternyata bener, motornya emang perlu waktu lama buat dinyalain lagi. Malam-malam gini Ikhsan jadi keringetan buat nyelah motor biar nyala lagi. Sedangkan gue cuma jongkok tidak jauh dari motornya sambil nyalain lagu Senam Aerobik ibu-ibu dari HP gue. Kini gerakan Ikhsan jadi seirama sama gerakan Ibu-ibu senam.

Meski bisu, kalian pasti bisa mendengar suara khas lagu Senam Aerobik dari foto ini.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di rumah Ikhsan, Ikhsan langsung naik ke kamar buat tidur. Sedangkan gue sendiri menyempatkan diri masuk ke dapur, ambil piring dan nasi, terus menghampiri meja makan. Ya, gue dan Ikhsan punya satu kebiasaan yang sama. Menganggap rumah kami berdua adalah rumahnya sendiri. Saat itu Tante Ikhsan yang tinggal bersamanya sudah tidur duluan. Jadi gue bisa bebas makan tanpa harus salam formal sama tantenya.

Dari lantai dua, Ikhsan melemparkan celana kolor beserta baju ganti.

“Pake noh.”

Gue cuma angguk-angguk doang dengan mulut masih penuh nasi. Setelah selesai, gue langsung bergegas menuju kamar Ikhsan. Di sana dia sudah tidur duluan munggungin gue. Karena kami berdua sama-sama capek, akhirnya gue juga langsung tidur di sebelahnya tanpa banyak cingcong. Mesra banget, walau di pertengahan malam kami berdua berantem gara-gara rebutan selimut doang.

Paginya, gue bangun lebih dulu dari Ikhsan karena mendengar suara alarm dari HPnya yang keras banget. Ikhsan ini aneh, suara alarm kenceng begitu aja dia nggak bangun-bangun. Kalau gue suara sedikit aja pasti langsung bangun. Itu sebabnya gue kalau tidur paling nggak bisa satu ruangan sama orang yang ngorok, gue kalau tidur harus gelap total dan hening total. Berkali-kali Ikhsan ngorok di tengah malam pun gue langsung terbangun untuk sekedar nabok mukanya, nutup hidungnya pake kapas, atau juga naroh bantal di mukanya sampai dia sesak napas.

“Nyet bangun. Sholat kagak lo?” Gue mencoba membangunkan Ikhsan.

“Ngg?” Ikhsan melek sedikit, “Sholat?”

“Iya, subuhan dulu lah.”

“Kemarin udah.”

“…”

Tae, katanya ilmu agamanya tinggi. Disuruh Sholat subuh malah tidur lagi. Pas gue mau keluar kamar untuk ngambil air wudhu, ternyata Tante Ikhsan udah bangun. Aduh, gue paling males sebenarnya buat salam, lagian doi juga nggak tahu kalau gue nginep hari ini. Tanpa pikir panjang gue langsung nyamperin Ikhsan lagi.

“Nyet, Tante lo di luar noh.”

“Hah?” Ikhsan masih dalam kedaan tidur, “Terus kenapa?” Sambungnya lagi.

“Malu gue, temenin lah.”

“Ogah, salam aja sono.”

“Kan gue kemarin belum bilang kalau nginep di sini. Malu gue.”

“Kaya sama siapa aja ah. Gue aja sama ibu lo udah nganggap ibu gue sendiri.”

“Gue mau wudhu nih.”

“Yaudah nggak usah.”

“Gitu ya?”

“Iya, tidur lagi aja.”

“Oke deh kalau gitu.”

Alhasil gue tidur lagi di sebelah Ikhsan hingga kemudian kami berdua jadi terlambat datang ke sekolahan. Meski saat itu kami sudah mendapat surat Dispen, tapi kami juga sudah dapet mandat untuk jaga stand tiket pagi-pagi di depan gerbang sekolahan dari ketua OSIS. Maka dari itu pagi ini kami berdua udah rusuh rebutan kamar mandi gara-gara hampir terlambat.

Di perjalanan naik motor, berkali-kali kami hampir ditangkep polisi karena nerobos lampu merah. Tapi walau ini motor udah hampir almarhum, kecepatan larinya kalau lagi kepepet boleh juga. Tak ayal tukang cuanki hampir kita tabrak tapi beruntungnya motor Ikhsan bisa ngedrift.

Tak perlu waktu lama akhirnya kami berdua sampai di sekolahan. Ketika motor kami baru saja datang, stand jualan tiket Bazzar ternyata sudah dibuka. Sebenarnya itu tidak bisa dibilang stand sih, di sana cuma ada dua meja anak sekolahan yang dijejerkan, lalu di belakangnya juga ada kursi-kursi anak sekolahan biasa. Hanya bermodal poster dan banner yang bertuliskan “JUAL TIKET BAZZAR SMA XXXXX” yang dipajang di sebelahnya, maka segitu saja sudah cukup dibilang sebagai stand jualan tiket Bazzar.

Minimalis.
Kaya otak temen gue.

Di sana sudah ada beberapa anak logistik yang nongkrong sambil ketawa-ketiwi. Begitu gue dan Ikhsan datang naik motor berdua sambil peluk-pelukan begini, mereka semua yang lagi jaga di stand tiket langsung pada nge-cie-cie-in. Bangsat emang. Gue sama Ikhsan kayak udah nggak punya martabat banget di sekolahan ini.

Begitu beres parkirin motor, kami berdua langsung cabut pergi ke ruang OSIS buat ngisi absensi sama sekretaris. Soalnya kalau ada yang terlambat dari mengerjakan tugas, kami bakal kena denda sekitar 5ribu rupiah yang pada jamannya itu lumayan besar. Itu kata kang Ade beberapa hari yang lalu.

“Romantis banget elu berdua dateng barengan.” Sindir kang Acil melihat gue dan Ikhsan rusuh ngisi absensi.

Kami berdua cuma cengengesan aja. Setelah absensi beres, gue langsung bergegas pergi lagi ke depan gerbang. Sambil masih benerin rambut, baju, dan jaket yang masih gue pake ini, gue sempatin diri mampir ke kantin buat jajan dulu. Lumayan sarapan. Ikhsan juga begitu, pagi-pagi dia udah beli nasi kuning. Katanya mau dia makan sambil jaga stand tiket nanti.

“Btw si Cloudy mana ya?” Tanya Ikhsan sambil ngambil minuman di dalam kulkas.

“Eh iya juga ya. Apa jangan-jangan dia telat lagi?”

“Hahaha anjir, salah lo tuh ngajak dia keluar malem. Siap-siap mampus aja kalau dia telat. Lo tau sendiri tabiatnya kaya gimana.”

“…”

Anjir gue jadi deg-degan. Kemana tuh anak, masa sih dia telat bangun? Bahkan di depan gerbang juga gue nggak ngeliat ada dia. Kemana ya. Tapi pikiran itu tiba-tiba hilang ketika gue sudah sampai di depan gerbang. Sekarang sudah pukul tujuh pagi. Gerbang utama sudah ditutup menyisakan gerbang kecil doang di pinggirnya yang dibuka untuk keluar masuk siswa. Di depan post satpam gue lihat sudah ada beberapa anak sekretaris yang lagi sibuk nyatet-nyatet segala hal perihal penjualan tiket yang mau dilakukan sebentar lagi. Di sana gue lihat ada Lisa juga. Dia sibuk memilah-milah tiket yang siap dijual. Kacamatanya yang tebel banget menjuntai di hidung kecilnya.

“OI LIS!” Sapa gue dari jauh.

Lisa hanya menengok lalu tersenyum.

“Udah siap?”

“Bentar lagi.” Balas Lisa.

“Yaudah, gue tata dulu aja meja di depan gerbang biar lebih aesthetic yak.”

“Okeee.” Lisa langsung mengiyakan.

Dengan modal membawa taplak meja sekaligus bunga-bungaan yang gue colong dari mushola, gue sama Ikhsan langsung menghias meja yang ada di sana agar terlihat sedikit lebih formal. Anak-anak logistik yang tadi nongkrong sudah pada pergi mengingat sekarang para panitia yang bertugas sudah datang.

Sebenarnya saat itu yang jual tiket bukan cuma gue sama Ikhsan doang, ada hampir 10 anak kelas satu di sana. Beberapa anak-anak di sana tanpa gue sadari akan menjadi sohib gue juga di tiga tahun mendatang selama menjabat sebagai anak OSIS. Mereka-mereka yang sekarang belum terlalu akrab sama gue itulah yang nanti bakal menjadi teman sejati ketika angkatan gue membuat acara besar lainnya. Dan karena mereka juga lah, gue tiba-tiba bisa dikenal satu angkatan karena satu kejadian naas.

Tapi itu nanti ketika gue kelas dua dan tiga.
Sekarang balik dulu ke cerita.

Anak sekretaris yang bertugas saat itu harusnya adalah si-siapa-lagi-kalau-buka-primadona-kakak-kelas- Cloudy. Tapi dia sekarang entah lagi ada di mana. Alhasil Lisa lah yang bertanggung jawab memegang penjualan tiket Bazzar walau status dia hanyalah Bendahara 3.

Di sana ada 5 tempat duduk. Yang wajib duduk adalah anak-anak cewek, tapi gue malah dengan seenaknya duduk di kursi paling tengah sambil menikmati udara Bandung yang super duper sejuk banget pagi ini. Sekolah gue ini tepat ada di tengah kota. Dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tepat di depan gerbang sekolahan gue ini adalah sebuah perlimaan jalan. Alhasil banyak juga kendaraan yang berlalu-lalang.

Meski depan gerbang ini adalah jalan raya, tapi kendaraan tidak ada yang berjalan melewati daerah gerbang, selain karena memang itu daerah siswa-siswi berlalu-lalang, di situ juga banyak gerobak jajanan yang nongkrong.

Tak lama kemudian, para anak-anak kelas satu berkumpul di meja yang sama untuk sekedar rapat sebentar. Rapat dipegang oleh Sekretaris kelas dua yang kebetulan sedang ada di sana pagi itu. Setelah semua oke, kami semua kini menyiapkan segala peralatan tulis beserta hal-hal apa saja yang diperlukan untuk penjualan tiket pagi itu.

Ketika anak-anak cowok yang lain lebih milih ngumpul agak jauh dari tempat jualan tiket, gue sama Ikhsan malah dengan polosnya ngambil dua tempat duduk di sana. Gue duduk di sebelah Lisa, dan Ikhsan duduk di sebelah gue. Sudah bukan rahasia lagi kalau penjual Tiket seharusnya adalah cewek-cewek cantik biar lebih menarik. Tapi ini malah kursi di tengah diisi sama gue dan Ikhsan. Dua orang yang wajahnya nggak jauh beda sama kapur papan tulis Primagama.

“Lis, gue duduk di sini dulu ya.” Gue ngerayu Lisa.

Lisa cuma angguk-angguk mengiyakan. Kayaknya Lisa ini nurut-nurut aja kalau gue ngelakuin hal yang aneh-aneh juga. Karena waktu masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi, penjualan saat ini masih belum membuahkan hasil. Lisa masih fokus menulis. Entah sedang menulis apa, begitu juga dengan cewek-cewek yang lain yang jualan tiket di sebelah Ikhsan dan Lisa.

Ikhsan menyenggol kaki gue dengan kakinya, “Nyet, pada nulis noh. Nulis gih elu juga. Biar keliatan kerja.” Ucapnya bisik-bisik.

“Anjing, gue aja nggak tau kampret mereka lagi nulis apa.” Bales gue sambil bisik-bisik juga.

“Sama, yaudah pura-pura nulis aja dah. Nggak enak diliatnya, yang lain nulis lah elu sama gue malah asik ngobrol.”

“Ya elu yang juga ngajak gue ngobrol, Setan. Sini-sini pinjem bolpoint dong. Gue mau gambar DragonBall ah biar keliatan kerja.”

“Gue nggak bawa bolpoint, Dim.”

“Hahahahahaha sama!! Tolol banget dah kita. Terus gunanya kita di sini ngapain sih?”

“Nggak tau. Gue cuma ngabisin jatah dispen doang.”

“Memang murid berbakat banget kita berdua ini. Calon pemimpin Indonesia.”

“Hooh. Btw btw mumpung suasananya lagi enak nih, gue penasaran mau nanya sama elo, kemarin malem ngomongin apaan aja sama si Cloudy?”

“Nggak banyak, cuma masalah Ipeh sih.”

“Gimana? Dapet pencerahan nggak cerita sama dia?”

“Apaan gue malah dihina.”

“Hahahahaha sudah ketebak. Lo nggak mau nih cerita sama gue?” Rayunya.

“Cerita apaan? Kayaknya lo juga udah tau semuanya tanpa gue cerita juga.”

“Ya cerita dong pas sebelum hujan-hujanan. Elu juga ngapain waktu itu sampai nggak bawa motor segala sih? Bego kok dipamer-pamerin begitu.”

“Ya Robb jangan dibahas ngapa, gue aja ngenes ngingetnya.”

“Yaudah ceritain dulu.”

“Iye iye.. Jadi ceritanya dimulai waktu gue lagi duduk sendirian di bawah pohon kersen di lapangan basket. Kebetulan saat itu lagi hujan besar.”

“Lu pacaran sama setan sampai diem di bawah pohon gitu?”

“Nah terus pas anak-anak yang lain masuk ke kantin buat neduh, lah gue malah makin asik aja. Terus tiba-tiba hujan makin deres. Terjebaklah gue di sana.”

“Tolol banget sih jadi orang. Udah tahu hujan malah diem di lapang. Kesamber gledek jadi mirip Ponari lu nanti.”

“Tak lama kemudian, gue liat Ipeh keluar dari kantin sambil kaya lari gitu. Dari jauh gue udah ngeliat kayaknya dia nangis deh. Makanya gue samperin dia saat itu.”

“Oi Lis, kalau ada yang beli tiket perlu dijelasin nggak kalau tiketnya harus dituker jadi tiket asli di hari H nanti?”

“WOI BANGSAT GUE LAGI CERITA SERIUS INI!!! AH JEMBUT SOTONG!!”

Ikhsan malah ketawa-ketawa ketika gue marah-marah karena nggak diperhatiin waktu ngomong.

“Sssstt!! Dimas! Berisik!” Kata Lisa di sebelah gue.

“Ini Lis, dia jahat Lis..” Gue nunjuk ke arah muka Ikhsan yang lagi ketawa tanpa dosa di sebelah gue sambil memasang wajah memelas.

“Lanjut woi, gue lagi mendengarkan dengan seksama nih.” Kata Ikhsan sambil nempeleng kepala gue pake kertas tiket yang dikaretin.

“SEKSAMA SEKSAMA! GUE COLOK BIJI MATA LO MENCAR SEMUA NANTI NIH!”

“Hahahah serius-serius, terus pas elu samperin, ada kejadian apa lagi?” Lanjut Ikhsan lagi.

“Terus..”

Akhirnya gue menceritakan juga semua kejadian yang terjadi sama gue dan Ipeh sore kemarin itu. Kali ini, Ikhsan mendengarkan dengan serius, sesekali memijat dagu sambil mengelus jenggotnya yang padahal di sana cuma ada sehelai rambut doang di dagunya. Setelah gue selesai bercerita, Ikhsan menepuk pundak gue pelan seperti layaknya gue habis jadi korban bencana alam.

“Kata gue juga apa. Nggak nurut sih lu.”

Gue cuma angguk-angguk pelan.

“Elu sendiri? Sama Tasya udah baikan?” Gue balas bertanya.

Ikhsan yang tadi masih asik corat-coret meja di depannya dengan gambar terong-terongan itu langsung menengok ke arah gue, “Baikan? Belum..” Jawabnya singkat lalu kemudian ngelanjutin ngegambar lagi.

“Putus aja udah..”

“Seenaknya lu ngomong. Gue sayang nih sama dia! Ya meskipun…” Ikhsan berhenti sebentar,

“Meskipun apaan?”

“Kemarin waktu gue bilang, ‘Tasya, cium dong.’ dia malah bales, 'Cium Hajar Aswad aja biar lebih syariah.’. Bangsat! Ini pacaran atau umroh?!”

“HAHAHAHA PASANGAN GOBLOK.”

“SSST!! DIMAS IH! BERISIK!!!” Lisa menyenggol tangan gue sedikit lebih keras.

“Hehehe maaf-maaf, btw Lisa lagi ngapain sih?” Tanya gue yang pada akhirnya penasaran juga sama apa yang lagi dia kerjakan.

“Iya-iya, gue juga penasaran. Lagi ngapain sih Lis?” Tanya Ikhsan ikutan nimbrung

“Ini.. Lagi nulis jumlah total pendapatan yang didapat kalau tiket kita semua terjual hari ini.”

“Nanti aja atuh itu mah pas jualan tiketnya udah beres.” Balas Ikhsan.

“Bukan gitu, ini buat acuan aja. Kita harus dapet uang segitu hari ini. Biar ada goalsnya ini tuh.”

“Wuih, hebat. Pemikirannya visioner, nggak kaya elo, Nyet. Mundur ke jaman peradaban Megalitikum.” Gue ketawa sebelum kemudian Ikhsan nabok gue lagi pake gulungan tiket yang sama yang dia pake buat nabok gue sebelumnya.

“Eh eh Lisa, Lisa ada turunan Cina ya? Matanya segaris gitu.” Sekarang Ikhsan nyeletuk, dan gue ketawa.

“Ih! Ngeledek mata aku! Tapi iya kok, keturunan dari mamah.”

“Hooo, mamahnya Barongsai?”

“BUKAN IH!! MAMAHKU KETURUNAN CINA MAKSUDNYA!”

“Oooh gitu toh maksudnya.” Ujar gue, dan Ikhsan angguk-angguk berlagak mengerti.

“Tapi kalau diliat-liat Lisa ini manis juga ya, San? Betul nggak?”

“Akur.”

“Ih apaan sih, nggak usah ngomong gitu ih.”

“Eh tapi bener deh.”

“Iya Lis, sampai denger-denger si Yogi anak kelas D naksir elu tuh.”

“Apaan sih Ikhsan.”

“Bener, Lis. Tanya aja si Dimas.”

“Bener Lis kata mahluk Megalitikum ini. Yogi dulu sempat curhat.”

“Curhat apa?” Tanya Lisa penasaran.

“Curhat masalah game online sih. Acieeee kenapa kok kamu jadi penasaran gitu? Seneng ya ada yang naksir?” Goda gue.

“Ih Dimas ih! Apaan sih ah!”

“Kamu asli mana sih, Lis?” Tanya gue lagi.

“Ngg?” Lisa memberhentikan aktivitas nulisnya dulu dan melihat ke arah gue. “Aku? Aku asli Padang.”

“Oh pantes orang Sumatra toh. Orang Sumatra emang cakep-cakep ya. Btw Ikhsan juga dari Padang loh.”

“Oh ya? Ikhsan asli Padang juga?” Lisa terlihat antusias.

BUK!
Gue pukul pundak si Ikhsan yang lagi asik ngelanjutin gambar terong-terongan di atas meja itu,

“Woi, ditanya tuh.”

“Eh apa apa apa? Ada apa Lis?” Tanya Ikhsan kaget.

“Kata Dimas kamu asli Padang juga ya?”

“Hah?!” Ikhsan kaget, wajah dongonya keluar.

Ekspresinya mirip begini

.

“Kamu asli Padang?” Tanya Lisa sekali lagi.

“PADANG APAAN?! PADANG MAHSYAR?! Ya Tuhan Lisa, kalau si Dimas lagi ngomong mah elu jangan percaya deh. Dia itu tukang kibul! Yang keluar dari mulutnya kagak berfaedah semua.”

“Ih Dimas jadi yang tadi tuh bohong?!”

“Hahahahahahahaha…” Gue cuma ketawa puas ngeliat mereka berdua.

Akhirnya bukannya kembali mengerjakan tugasnya masing-masing, kami bertiga malah sekarang asik ngobrol. Kemudian beberapa anak yang lain juga ada yang ikutan nimbrung. Akhirnya kami rame sendiri sambil nunggu ada pembeli pertama datang. Yang awalnya ngobrolin serius hingga kemudian pembicaraan jadi ngalor ngidul karena bahasan Ikhsan sama gue nggak pernah pada tempatnya.

“Lisa Cita-citanya terpuji sekali ingin jadi dokter, cita-cita Ikhsan juga nggak kalah unik loh.” Ucap Ikhsan.

“Apaan emang?” Tanya Lisa dibarengi sama yang lain juga.

“Pengen buat burung gereja bisa bilang Assalamualaikum..”

“Hahahahahahaahaha apaan sih!! Kok pemikiran kalian tuh nggak ada yang bener.”

“Ya tapi bener juga cita-cita si Ikhsan ini.”

“Iya, Lis. Itu namanya Jihad. Mengajak orang berbondong-bondong untuk masuk memeluk ajaran Islam.”

“Hahahaha tapi itu kan burung..”

“Nggakpapa, pahalanya sama. Terus kamu kuliah bakal di mana rencananya?”

“Aku nggak tahu sih, lagian itu kan masih lama. Tapi keluargaku keturunan dokter semua. Jadi aku mau nggak mau harus jadi dokter.”

“Hmm.. Gue jadi kepikiran, elu kalau kuliah mau ambil jurusan apaan, Dim?”

“Hukum.” Bales gue singkat.

“Wew serem.”

“Hukum karma.”

“ANJING NYESEL BAT GUE NANYA.”

“Hahahaha.. Lagian sekarang mana kepikiran gue untuk milih jurusan kuliah. Palingan juga masuk IT lah biar jaga warnet nanti kerjanya.” Jawab gue polos.

“Ya Allah mulia banget, Dim impian elu.”

“Tai.”

Lagi asik-asiknya ngobrol nggak jelas begini, tiba-tiba dari jauh ada mobil yang gue kenal datang dan masuk ke parkiran mobil di sebelah gerbang sekolah. Gue senggol tangan si Ikhsan buat ngeliat ke arah mobil tersebut juga.

“Mobil si mak lampir kan tuh?”

“Hooh hooh. Si Mobil bau coco pandan. Bau ale-ale.”

“Baru dateng dia?” Tanya gue, Ikhsan cuma menaikan pundak tanda tidak mengerti. “Lis.. Itu mobil si Cloudy kan?” Gue nanya ke Lisa.

Lisa angguk-angguk mengiyakan.

“Lah dia baru dateng? Telat dong?”

“Eh? Iya juga ya. Aku baru sadar.” Jawab Lisa yang emang pada dasarnya otaknya lemot bener, “Jarang-jarang Cloudy telat. Tumben banget. Kenapa ya?”

“Dim dim..” Ikhsan menarik pundak gue sambil bisik-bisik, “Jangan-jangan gara-gara kita culik dia malem-malem kemarin.” Tukas Ikhsan.

“Eh? Serius? Gimana dong ini?”

“Aduh gue nggak ikut-ikutan deh. Pasti dia dicariin sama kang Ade, terus nanti dia ngadu kalau diajak keluar sama elo. Mana kemarin kan dia dipanggil buat rapat, terus elu malah yang ngajak dia buat bolos rapat.”

“Anjir. Kok gue sih?! Elo juga kali, Nyet.”

“Yeee.. gue mah beli martabak yeee. Ada saksi-saksinya anak-anak dokumentasi.”

“Ah anjir nggak sohib ah lu.”

“NOH TUH DIA KELUAR TUH DARI MOBIL!”

“ANJIR GIMANA INI?!”

“Tau ah tau ah.. Gue ngobrol sama Lisa aja. Urus sendiri tuh.”

“WOI CURANG LO!!”

“Tuh kan, Dim dia dateng kan. Dia nyamperin kan. Mati dah lu mati..”

Gue makin kelabakan.

“San San San.. Sini temenin gue anjir, jangan jauh-jauh. Sumpah gue mending ketemu hantu usus kucing di rumah Ipeh dulu dah daripada disemprot dia.”

Gue tarik seragam Ikhsan biar kembali duduk di sebelah gue. Dari jauh Cloudy keluar dari mobilnya sambil membawa beberapa berkas yang dimasukkan ke dalam goodiebagnya. Tas ransel dengan gantungan tamagochi, dan botol air minum di samping tasnya. Ciri khas Cloudy banget. Rambutnya panjang digerai dengan poni menyamping. Kulitnya putih banget kaya remote AC, dari jauh ketika teman-temannya menyapa, dia tersenyum. Gigi kelincinya langsung terlihat kentara sekali.

Lambat laun, dia makin mendekat. Semakin mendekat. Semakin mendekat. Gue sama Ikhsan udah perlahan-lahan mundur dari tempat duduk takut kena semprot yang bakal nyelekit sampai ke hati; hingga pada akhirnya kini dia berdiri di depan kami berdua.

.

.

.

                                                        Bersambung

Previous Story: Here

putriandromeda  asked:

Hai kak. Kak aku balikan lagi dg mantan, lalu kumat marahan lagi dan saling diam. Aku mengalah dan menanyakan dulu padanya, namun tanggapannya dia bilang "malas ujung2 nya pasti gitu aja, kaya kemarin." Aku bingung sebenarnya apa yg dia mau dari aku

See? Sepertinya aku sudah pernah bilang, kembali pada masa lalu hanya akan mengulang-ngulang kesalahan yang sama.

Kecuali, kalian berkomitmen untuk memperbaiki diri, atau setidaknya memperbaiki kesalahan yang dulu menjadi penyebab kalian berpisah.

Kalau masalahnya perselingkuhan, mungkiiin, bisa saja si pelaku perselingkuhan tinggal tidak melakukan kesalahannya lagi, jika memang alasan ia berselingkuh adalah “khilaf”.

Tapi, kalau alasan kalian berpisah karena perbedaan prinsip, perbedaan kebiasaan, perbedaan cara berpikir, itu yang sulit.

Karena salah satu dari kalian harus ada yang mau mengalah, harus ada yang mau menerima, harus ada yang mau berubah. Demi perdebatan- perdebatan kemarin tidak terulang lagi. Dan mengubah diri, watak, apalagi pembawaan diri tidaklah mudah.

Makanya, mungkin memang ada beberapa pasangan yang seharusnya tidak bersama, sebesar apapun rasa sayang mereka. Selama mereka memiliki perbedaan-perbedaan dan sulit untuk dikompromikan, hanya akan membuat mereka berdebat, dan tidak jarang saling menyakiti.

Terkadang, kita hanya dibutakan oleh salah paham. Yang satu memendam amarah, yang satu memendam rasa bersalah. Yang satu maunya diperhatiin, yang satu mintanya dingertiin. Hingga akhirnya meledaklah diri yang tak lagi mampu diredam dengan hati. Kemudian segalanya hancur berkeping-keping dan masing-masing hanya mampu menyesali
— 

Makanya, mending apa-apa di omongin. Mending tengkar kecil sekarang daripada marahan hebat nanti. Komunikasi sama siapa aja itu penting :)

HOBINGETIK

shimmervee  asked:

moz & multiples of 5?

5. What’s their full name and does it have a meaning? Do they have any nicknames and how did they get em?

marahan ortiz - marahan means gentle/deliberate in filipino :) her nickname around her family/tribe was maan (mah-an), bc her brother couldn’t pronounce her name when he was a kid. she’s moz everywhere else because she thought it sounded cool when she first started out on her own, and it stuck

10. What do they fear the most?

losing her family and friends. moz may travel alone most of the time but she does so knowing that she has people to come home to, that there’s a friendly face waiting for her. this is mainly why she makes friends in every settlement that she visits, so she’d be assured of a friend everywhere

15. What’s their Myers–Briggs Type? (ex. ENTP, ISFJ)

the test i literally just took for her said enfp

20. Do they have any hobbies? What are they?

she tans and sews various wasteland animal hides in her downtime. she likes hunting down new recipes to try out, too

25. Are they a leader or a follower?

neither? she doesn’t like being responsible for everything and she doesn’t like following other people either - though she’d be a great leader if she put her mind to it. she has the ideas, the know-how to execute those ideas, and just enough charisma to get people to like her and follow her. she’s the only one in her way

30. Do they flirt often? How easily do they fall in love?

moz is a very flirty person; it helps when you’re fishing for information or maybe a bar discount lmao. it takes a lot for her to fall in love though. years of companionship, a strong foundation of friendship and trust, at least.

35. Their most prized possession?

her earrings, which the women of her tribe made for her when she was born

40. Thoughts on death if any? (ex. Fear it, accept it)

there’s a tiny bit of her that believes she’s immortal after surviving two shots to the head, the sierra madre, those surgeries at the big mt, the battle of hoover dam…. tho death isn’t something that she thinks about a lot, to be honest. it’ll happen to her when (if) it happens to her

45. Are they the type to get distracted and go off to an unknown nearby location or do they stay on track?

moz is the queen of getting sidetracked and it annoys her companions to no end. she gets back to the original task right after exploring, though if the quest is time-sensitive she’ll just take down the location of the place and check it out on the return trip

50. Do they have any tag skills?

yep! speech, unarmed and repair

The Way I Lose Her: I'm Belong To You

Akhirnya aku menemukan. Tempat pulang yang pada matanya aku tak dapat berpaling. Hanya saja sayang, matanya tak berpulang kepadaku.

                                                        ===

.

Tanpa pikir panjang gue langsung meminta izin sebentar sama anak-anak yang lain untuk mengangkat telepon dari Ipeh. Sebisa mungkin gue menjauh dari tukang nasi kuning biar bisa berbicara dengan bebas. Gue pergi menuju pohon rindang dan duduk jongkok di bawahnya, udah mirip sama pedagang judi ager-ager yang biasanya nongkrong di SD-SD itu.

“Eh Peh? Lu kenapa Peh?” Tanya gue khawatir.

“Dim.. Dimas, kamu di mana?” Ucap Ipeh dengan suara yang tersengguk-sengguk.

Wait!
She call my name? Seriously?
Ada angin apa ini sampai-sampai nih mahluk tumben banget memanggil gue dengan nama asli dan bukan nama panggilan. Pikiran gue semakin nggak karuan, ada banyak tanya muncul di benak gue. Ipeh kenapa?

“Yaudah yaudah bentar dulu, kamu tenang dulu. Kamu di mana sekarang? Aku kesana sekarang juga.” Gue tidak peduli lagi Ipeh kenapa, yang gue tau sekarang hanyalah keadaan Ipeh yang saat ini sedang membutuhkan gue. Gue nggak peduli apa alasan dia menangis, yang gue pikirin sekarang cuma sebisa mungkin gue ada untuk dia secepat yang gue bisa.

“Aku.. Aku..” Ipeh masih terlihat sesenggukkan.

“Di mana?!” Gue membentak Ipeh.

“Aku di depan rumah kamu..”

“What?! Di depan rumah gue? Lu naik ap.. ah persetan, bentar lo tunggu di sana, gue ke sana sekarang juga. Udah tenang ya jangan nangis lagi.”

Tanpa pikir panjang gue langsung menutup sepihak telepon gue itu dan langsung bergegas menuju tempat teman-teman baru gue lagi sarapan tadi. 

“Eh sorry, gue mendadak ada urusan penting yang nggak bisa ditinggal nih, maaf banget yaaa gue harus pergi sekarang.” Ucap gue sambil meneguk es jeruk yang baru saja datang ke meja gue itu. Lumayan, mubazir udah terlanjur gue beli.

“Loh nyet mau kemana?” Tanya Ikhsan.

“Urusan penting bro, nanti gue ceritain deh.”

“Ih Dimas kok udah pergi lagi, baru juga ketemu.” Tukas Wulan.

“Iya Lan, ini penting banget soalnya.”

“Ada apa sih Dim?” Tanya Claudya menimpali.

“Hehehe bukan apa-apa Dee.” Jawab gue seraya hendak pergi meninggalkan mereka, sebelum tiba-tiba Claudya memanggil lagi.

“Dimas!” Teriak Claudya.

Gue berhenti sebentar lalu menengok, “Ya?”

“Kapan-kapan main ke rumah atuh.” Ucapnya.

“Hahaha iya nanti deh sekalian bawa orang tua aku buat nemuin orang tua kamu.” Jawab gue bercanda seraya pergi meninggalkan mereka.

Setelah percakapan basa-basi tadi selesai, gue langsung bergegas berlari ke rumah, nggak peduli lagi siapa yang gue tinggal di sana, entah itu Wulan, entah itu Claudya yang nyatanya lebih cantik daripada Ipeh, entah itu si monyet yang padahal statusnya lagi nginep di rumah gue. Namun ketika Ipeh meminta gue agar ada untuknya, gue nggak segan-segan untuk meninggalkan apa yang sedang gue kerjakan saat itu juga.

Setelah mengitari beberapa blok, akhirnya gue sampai juga di rumah. Dari jauh gue sudah melihat ada sosok wanita dengan kaos oblong beserta jeans bolong-bolongnya lagi bersandar di pager rumah gue, dan juga seseorang pria paruh baya di atas motor yang diparkirkan tepat di sebelah rumah gue. 

Ada yang janggal saat itu pada diri Ipeh, matanya lebam, entah Ipeh sudah menangis dari kapan hingga ia bisa terlihat babak belur seperti itu. Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat gue langsung menghampirinya.

“Peh?” Ucap gue.

Ipeh terkejut, ia melihat gue sebentar, terdiam, lalu tiba-tiba air matanya menetes lagi, Ipeh langsung menangis ketika melihat gue. Buset lo kira gue kuburan baru apa pake acara ditangisin segala. Belum sempat gue bertanya ada apa ini, Ipeh langsung berlari dan memeluk gue erat. 

Gue terkejut dan cuma bisa diam dan tak tau harus berbuat apa, masalahnya seorang wanita yang biasanya gue kenal sebagai sosok wanita yang kuat dan slengean kaya Ipeh gini sekarang sedang menangis layaknya wanita-wanita yang gue kenal lainnya. Rasanya ganjil sekali.

“Peh, Ipeh kenapa?” Gue peluk erat tubuhnya dan mengusap kepalanya.

Ipeh masih terdiam, ia masih terus menangis, ada banyak air keluar dari mata beserta hidungnya. Baju basket gue udah mirip kaya sapu tangan, ada bermacam-macam air berwarna di sana. 

“Yaudah, duduk dulu yuk. Nggak enak kalau pelukan di luar kaya gini. Ntar tetangga mikir yang nggak-nggak. Masa gue meluk cowok coba?! Ntar gue disangka homo lagi.” Kata gue bercanda.

Ipeh yang tadi masih menangis kini malah semakin memeluk gue erat sambil mencubit punggung gue keras lantaran gue bercanda di saat yang tidak tepat. Namun bukannya kesakitan, gue malah ketawa ketika Ipeh melakukan hal ini. Ini mengartikan bahwa Ipeh masih menjadi Ipeh yang gue kenal, hanya bedanya kali ini cubitannya tidak terasa begitu menyakitkan.

God!
I really love when i hug your tiny body, Peh.

Seandainya gue boleh meminta, gue ingin lo tetap menangis seperti ini. Egois sih, namun dengan ini akhirnya gue jadi punya alasan untuk bisa memeluk lo erat tanpa harus canggung siapa sebenarnya kita berdua ini.

Suara tangisan Ipeh masih saja terdengar seperti suara tangisan cewek-cewek yang biasanya. Sesekali ia sesenggukkan karena nafasnya tidak beraturan. Setelah agak sedikit tenang, gue pegang kepalanya dengan kedua tangan dan memundurkannya sedikit sehingga gue bisa melihat wajahnya yang sedari tadi terbenam di dada gue itu.

Wajah Ipeh bener-bener berantakan. Poninya lepek kena air mata, hidungnya merah, bibirnya pecah-pecah dan ada gelembung-gelembung dari air ludah karena menangis, kantong matanya berat dan hitam kaya pak SBY. Dan ya, Ipeh benar-benar jelek sekali saat itu. Niatnya tadi gue mau menghapus air matanya dengan kedua ibu jari, namun setelah melihat wajah Ipeh yang mirip wajah Sylvester Stallone waktu maen di film ROCKY, gue malah jadi ketawa..

.

“Bhahahahahahahak anjing jelek banget lu Peh.” Gue berusaha menahan tawa.

“AAAAAAAAAAAAA!!!!” Ipeh menggoyang-goyangkan kepalanya keras sehingga tangan gue yang sempat memaksa wajahnya agar terlihat itu akhirnya terlepas. Lalu kemudian ia membenamkan lagi wajahnya di dada gue.

“Maluuuuuu!!” Jawab Ipeh sambil sedikit menangis.

“Hahahah iya maaf maaf, ayo duduk di halaman dulu yuk. Nggak enak kalau dilihat orang” Gue menuntun Ipeh untuk duduk di kursi bambu halaman rumah gue. 

Namun belum terlalu jauh menuntun Ipeh masuk ke dalam halaman rumah, tiba-tiba langkah gue terhenti sebentar. Dari pertama gue datang dan langsung dipeluk Ipeh tadi, ada satu hal yang benar-benar mengganjal banget di hati gue. 

gue masih terdiam.

“INI KENAPA DARI TADI ORANG YANG ADA DI ATAS MOTOR NGELIATIN GUE TERUS?!” Gue marah-marah dalam hati ketika menyadari bahwa dari pertama Ipeh datang ke rumah gue tadi, ini orang terus saja melihat ke arah kita berdua. Gue sama Ipeh diliatin terus udah kaya anak ayam dipilok yang ada di SD-SD aja.

Gue orangnya emang paling nggak suka kalau lagi dalam keadaan serius gini terus ada orang yang ikut campur. Bawaanya pengen ngusir orangnya terus gue slepet pake tali BH. Dengan memasang muka gue yang terlihat menyebalkan, gue langsung melihat ke arah orang tersebut yang lagi nongkrong di atas motor.

“Ada apa liat-liat? Anda ada perlu sama saya?” Jawab gue dengan nada yang menyebalkan.

“Ngg.. nggak mas bukan.. Anu.. Maaf” Jawabnya gelagapan.

Gue melihat ke arah orang tersebut sebentar, lalu kemudian beranjak pergi menghampiri Ipeh lagi. Sebelum berbicara dengan Ipeh, gue suruh doi minum Teh Kotak dulu yang sudah gue ambil dari di dalam kulkas sebagai emergency food. Ipeh terlihat meminumnya sambil terus sesenggukkan. Gue jongkok di depannya lalu menghapus sisa-sisa air mata yang masih saja menetes membasahi pipinya tersebut.

“Sudah enakkan?” tanya gue.

Ipeh cuma mengangguk-angguk kaya orang lagi tripping.

“Mau cerita?” Tanya gue lagi.

Ipeh mengangguk lagi kaya anak metal lagi nonton konser.

“Kenapa? Kok nangis? Tumben kamu nangis?” Tanya gue sambil ikutan angguk-angguk.

“Kamu kenapa malah ikutan angguk-anggukan juga.”

“Hahaha nggak tau lucu aja mau ngobrol sambil angguk-angguk.”

“Haha apasih.” Kata Ipeh.

“Nah gitu dong, ketawa kek, wajah lo kalau nangis jelek soalnya. Ada masalah apaan sih sampe ke rumah gue segala?” Tanya gue serius.

“Kakak aku..” Jawab Ipeh pelan.

“Kak Ai? Mba Afi?”

“Dua-duanya.”

“Duo semok lagi kenapa emang?”

“Aku berantem sama kakak, karena kamu.” Ipeh memandang gue.

Hah?
Karena gue?
Gue terdiam sebentar mencoba mendengar lebih jelas lagi penjelasan Ipeh.

“Salah gue? Emang gue salah apaan? Lo nggak hamil kan?” Tanya gue mendekatkan diri lagi.

“Yaelah, emang kita habis ngapain? paling pegangan tangan doang. Emang pegangan tangan kaya kemarin bisa hamil apa?!” Ipeh mulai bete.

“Ya siapa tau masa subur lu bener-bener subur. Gue lempar kolor aja bisa hamil.”

“Ih DIMAS seriusan!!”

“Iya iya ada apaan sih? lagian lo ngejelasin sama gue juga setengah-setengah, nanggung amat kaya kemben melorot.”

“Mereka tau kejadian yang sebenarnya kalau kita itu nggak pacaran, awalnya mereka bercanda, tapi lama kelamaan mereka makin serius untuk memaksa gue ngenalin pacar beneran ke Ayah sama Ibu. Gue kan emang lagi nggak sreg ya Mbe buat pacaran, kalaupun ada calon, itu pasti cuma elo doang. Terus akhirnya gue marahan sama kakak sama mba juga.” Tukas Ipeh.

Mendengar penjelasannya itu, gue langsung tersenyum.

“Kenapa senyum?” Tanya Ipeh.

“Akhirnya lo manggil gue pake sebutan Mbe lagi. Gitu dong. Itu baru Ipeh yang gue kenal.” Gue mencubit pipinya. 

“Hehehehe iya” Ipeh tersenyum manis.

Maaf Peh, gue bohong. Saat itu gue bohong ketika gue tersenyum. Gue tersenyum bukan karena lo manggil gue dengan panggilan ‘Mbe’ lagi, tapi kalimat setelah lo manggil gue dengan panggilan 'Mbe’ itulah yang sejatinya benar-benar membuat gue bahagia setengahg mati. Seandainya jalan waktu bisa terulang, gue mau kita kembali lagi ke hari itu, mengatakan yang sejujurnya, dan memperbaiki semuanya.

.

                                                          ===

.

“Jadi sekarang lo marahan sama kakak-kakak semok lo itu?” Tanya gue lagi setelah mengambil Teh Kotak untuk diri gue sendiri dari dalam kulkas.

“Iya.”

“Ah elo, harusnya elo bersyukur punya kakak semok dan cantik kaya gitu. Kalau gue punya juga sih gue nggak bakal keluyuran keluar rumah setiap hari." 

"IH MBE APASIH?! BERCANDANNYA NGGAK LIAT SUASANA AH!!” Ipeh terlihat kesal.

“Kok elo jadi sensian gini sih Peh?” Tanya gue tidak peka. Ya iyalah cewek kalau lagi bete ya sensian. Cewek kalau pake kutek terus nggak rapih-rapih aja bisa berimbas pada jadwal futsal cowoknya yang mendadak harus di-cancel. Apalagi kalau lagi bete. Huft..

Ah kalau itu sih gue curhat.

“Tau ah” Ipeh masih terlihat kesal.

“Yaudah, mumpung cuacanya lagi bagus, jalan-jalan ke taman komplek yuk. Biar lo nggak sedih lagi.” Gue mencoba menghibur Ipeh.

“Serius? Ada apa aja di sana? Rame nggak? Kalau nggak rame gue nggak mau ah.”

“Banyak tukang jajanan di sana, nanti kita bisa main ayunan. Ada tukang pop-ice juga. Kita duduk-duduk sambil jajan es cingcau atau beli baso di bawah pohon. Gimana? Tertarik?”

“IKUUUUTTT!!” Ipeh mulai terlihat ceria lagi.

“Hahahaha ayo deh, gue ajak Ikhsan ya?” Tukas gue yang baru sadar kalau motor Ikhsan ternyata masih ada di rumah gue sampai sekarang.

“Ih kenapa harus aja Ikhsan sih ih? Berdua aja emang nggak bisa?” Ucap Ipeh memberikan kode tapi gue tetap nggak peka.

“Kan klau ada dia malah lebih rame, bisa ketawa-ketawa kita. Ikhsan kan dongo, otak dia sama otak bekantan aja IQ-nya beda tipis.” Kata gue mencoba memuji Ikhsan dari sudut yang berbeda.

“Gue lagi nggak pengen ketawa!” Kata Ipeh bete. Lagi dan lagi. Gue benar-benar kehabisan tenaga kalau gini terus caranya.

“Loh kalau lo lagi nggak pengen ketawa,ngapain lo datang ke sini dong? Galau aja di rumah, kan nggak akan ketawa.”

“Nggak tau ah males!” Ipeh kesal.

Tanpa gue sadari, tiba-tiba ada air mata menetes lagi di wajah Ipeh. Melihat hal ini sontak gue terkejut. Apakah sebegini begoknyakah gue? Apakah ada yang salah dengan apa yang baru gue ucapkan tadi?

Setelah diam sejenak, akhirnya gue mengerti segala arti percakapan yang baru saja kita lakukan dan segala kode yang Ipeh berikan. Sejenak gue sempat menggoblok-goblokkan diri sendiri karena terlalu tolol dan tidak menyadari sedari awal. Tanpa pikir panjang, gue langsung memeluk Ipeh.

“Maaf ya, maafin cowok yang nggak pekaan ini yaaa. Janji, nanti jajan di taman aku semua yang traktir deh.”

Ipeh cuma mengangguk-angguk kan kepalanya yang lagi bertumpu di dada gue.

“Oke sebentar gue ganti baju dulu ke dalem, baju olahraga yang ini udah nggak karuan bentuknya. Banyak noda air mata sama ingus lo.”

Ipeh tertawa sedikit mendengar penjelasan gue.

“Bentar ya.." 

Ketika gue hendak pergi meninggalkan Ipeh masuk ke dalam rumah, mendadak Ipeh menghentikan langkah gue.

"Mbe!” Ipeh teriak.

“Apaan?” Jawab gue.

“Itu..” Ipeh menunjuk ke arah seseorang di atas motor yang masih saja melihat ke arah kita berdua.

“Apaan?”

“Bayarin ojek aku dulu itu.. Aku lupa nggak bawa dompet.”

“HAH?! OJEK?! JADI SELAMA INI ORANG YANG GUE BENTAK DAN NGELIATIN KITA DARI TADI TUH TUKANG OJEK YANG NGANTERIN ELO?!”

“Iya hehehe.”

“ASTAGAAAAAAA!! KENAPA KAGA BILANG DARI AWAL NYET!! BIKIN MALU AJA AH LO DASAR KERUPUK KULIT!!” Puncak kekesalan gue sama Ipeh sudah memuncak.

“Maaf ih maaf, tadinya aku mau langsung bilang, tapi nggak tau kenapa ngeliat kamu aku malah langsung nangis lagi.”

“AH ALASAN!! HIH!! YAUDAH BENTAR!!” Gue berjalan menghampiri tukang ojek tersebut dengan wajah bete sebete-betenya.

“Maaf ya a’ saya kira orang iseng tadi ngeliatin kita berdua mulu.” Gue meminta maaf terlebih dahulu, “Berapa totalnya A?” Tanya gue lagi.

“46 ribu mas” Jawabnya.

“HAH?! APAAN?! EMPAT PULUN ENAM RIBU RUPIAH?!" 

"Iya mas" 

"Wanjing gila Peh rumah lo sejauh apa sih sampe segini mahal ongkos ojeknya?! Ini sih harganya lebih mahal dari harga sepaket ayam kaepsi!!” Gue makin bete nggak karuan.

Akhirnya dengan sangat berat hati, gue keluarin dompet gue dan membayar tukang ojek tersebut dengan uang 50ribuan yang cukup buat uang jajan sekolah gue selama seminggu.

Sore itu setelah melihat stabilitas dompet gue, entah kenapa tiba-tiba terbesit di otak gue untuk membawa pulang kotak amal yang ada di masjid dekat rumah. Subhanallah..

#cowokSyariah.
#sayangKamuBanget.

.

                                                                ===

.

Setelah berganti baju dan cibang-cibung sebentar, gue langsung bergegas mengajak Ipeh pergi ke taman komplek untuk sekedar menghiburnya. Letak tamannya tidak begitu jauh, dan untungnya taman komplek bisa dilewati tanpa harus melewati daerah lapang basket, bisa runyam ceritanya kalau gue ketemu Wulan dan teman-temannya ketika gue lagi jalan berdua sama Ipeh.

“Gue mau beli goyobod, mau kaga?” Tanya gue.

“Nggak ah, aku nggak begitu suka. Kamu aja, nanti aku minta." 

"Yaudah, gih pesenin gue batagor sana, jangan pake pedes ya. Perut gue sensitif.”

“Ih cowok apaan nggak suka pedes?! Cemen.” Ledek Ipeh.

“Cowok yang didatengin cewek perkasa ketika doi lagi nangis.” Jawab gue dingin sembari pergi meninggalkan Ipeh yang lagi duduk di kursi taman.

“…”

Sembari menunggu pesanan goyobod gue dibuat, gue menyempatkan diri melihat ke arah Ipeh yang masih duduk di area taman. Ipeh akhirnya terlihat lebih ceria, sekali-sekali ia berdiri dari tempat duduknya, melihat ke area sekitar, atau bahkan mencoba ayunan yang biasanya dipakai oleh anak-anak di sekitar komplek.

Gue bener-bener kaya lagi ngerawat bocah aja kalau gini caranya.

“Ayo makan dulu, gue belum sarapan dari tadi.” Kata gue membawa sepiring goyobod dingin.

“Loh tadi darimana emang?” Tanya Ipeh.

“Maen basket.”

“Sendirian?”

“Nggak.”

“Sama siapa?”

“Siluman Ular.”

“Ih serius ih!” Ipeh mengeluarkan cubitan saktinya ke arah perut gue.

“IH PEH TUMPAH NANTI INI GOYOBODNYA!! ELO MAKAN AJA BATAGORNYA!!” Ucap gue kesal.

Akhirnya Ipeh menurut dan melahap habis batagor yang ia pesan untuk dua orang itu. Karena kehausan, Ipeh meminta sedikit goyobod sama gue. Awalnya sih cuma satu sendok doang, tapi karena merasa enak, akhirnya piring goyobod gue disabotase sama tuh anak. Anjir emang nih bocah kaga tau diuntung bener. Makannya udah kaya anak cowok, tapi badannya nggak pernah gendut-gendut. Dasar cewek murtad! Lahirnya pasti dari batu sungai.

Ketika kita berdua lagi rebutan es goyobod, tiba-tiba terdengar suara lantang bapak-bapak dari area taman di belakang kita.

“Hei jangan main di situ, ada tanaman bapak di situ!!" 

Sontak kita berdua menengok ke arah sumber suara. Ternyata itu Haji Harun, salah satu dedengkot DKM di masjid komplek gue, tapi biarpun Beliau anggota DKM, Beliau ini paling ditakuti oleh anak-anak kecil di komplek. Mungkin karena selain galak, Beliau juga kalau lagi ngajar ngaji pasti bawa sapu lidi. Serem pokoknya.

"Itu siapa Mbe?” Tanya Ipeh penasaran.

“Haji Harun. Maskot komplek.” Jawab gue sambil nyeruput sisa goyobod gue.

“Ih lucu ya, kaya mario bros gitu ada kumisnya dikit..”

“Huss!! nggak sopan kamu ngomong gitu.”

“Eh emang kenapa?” Tanya Ipeh heran.

“Dulu pernah juga ada yang ngomongin doi, besoknya meninggal!” Jawab gue bercanda.

“IH kok serem gitu sih Mbe?” Ipeh terlihat serius menanggapi bercandaan gue. Karena melihat Ipeh yang penasaran, timbulah sedikit niat iseng di benak gue.

“Iya, Haji Harun itu serem pokoknya. Dia minum air putih aja dikunyah!”

“…”

“Itu, gelar Haji yang dia dapet itu tuh dia dapet waktu Manasik Haji pas dia SMA. Serem kan?! Denger-denger juga kalau Haji Harun lagi marah, telor ayam aja dia bentak netes langsung.”

“…”

“Kamu tau ikan paus yang nelen Pinokio sama paman Gepeto? Nah itu piaraan Haji Harun.”

“Lo mulai ngelantur deh Mbe.”

“Bhahahahahak abisnya dongo amat sih lo percaya aja sama mulut gue.”

“Gue kira lo serius tadi. Kan serem juga kalau beneran ada yang ngomongin dia langsung besoknya meninggal.”

“Ya lo kira dia apaan? Masa Malaikat Izrail aja harus izin ke dia dulu kalau mau cabut nyawa?”

“Bego ah. Btw kalau sore begini balkon rumah elo kosong Mbe?” Tanya Ipeh.

“Iya, jarang ada keluarga yang doyan nongkrong di sana. Kenapa?”

“Ke sana aja yuk. Pengen sambil nyender atau tiduran gitu.” Pinta Ipeh lagi.

“Kaga ah males, enakan di sini ngeliatin ibu-ibu muda lagi jogging sore.”

“iih genit lah sumpah. Ayo dong Mbe, pulang yuk.” Ipeh mulai merengek-rengek.

Gue menghela nafas panjang,

“Iya deh iya, bentar, gue mau balikin piring goyobod dulu. Tuh elo juga balikin gih piring batagornya.” Tukas gue.

“Janji ya.”

“Iya.”

Akhirnya Ipeh bangkit dari duduknya dan bergegas mengembalikan piring batagor yang tadi ia sempat pesan. Selelah apapun gue, seletih apapun gue, entah kenapa rasa-rasanya sulit sekali untuk menolak keinginan Ipeh. Gue seperti terikat sama dia, entah dalam hal apa. 

Trrt…
Tiba-tiba ada satu sms masuk.
Gue lihat siapa pengirimnya, ternyata dari “Ikhsan Ganteng Beudh.”
Gue buka isinya.

“Kemana lo? Wulan ngajakin caw nih, kita semua mau nyusul ke rumah lo.”

DEG!!
Anjrit, mati gue.
Ya Tuhaaaan, kenapa harus ada lagi aja masalahnya sih?! :((

.

.

.

                                                                Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Escape Plan

Dalam kehilangan yang luar biasa, Aku menjadi tahu luar biasanya Tuhanku.

                                                         ===

.

Pertama gue masuk ke dalam kelas, beberapa mata anak-anak langsung tertuju ke arah gue. Tidak ada lagi ceria yang muncul di rona muka gue, semuanya sirna seakan gue terlihat malas sekali untuk masuk kelas hari ini. Gue jalan ke dalam kelas dengan keadaan yang tidak seperti biasanya.

Baju keluar, muka masih setengah ngantuk, bawa helm motor di tangan kiri, bawa tas slempang di pundak kanan, tangan kanan masuk ke dalam baju buat garuk-garuk udel. Udah kaga ada rapih-rapihnya banget gue pagi itu. Kalau biasanya gue datang berpakaian rapih sebagaimana seharusnya, sekarang gue lagi males mikirin apa yang orang lain lihat dan apa yang orang-orang pikirkan.

Gue berjalan ke barisan dekat jendela, menaruh tas di pojok lalu bersandar di tembok sambil berpangku dagu di atas meja.

“Darimana aja lu seminggu ini?” Tanya Ikhsan yang duduk di sebelah gue.

“Sakit.” Jawab gue singkat.

“Hooo, gue kira cuma orang doang yang bisa sakit.”

“…”

“Eh Tasya, malam ini ada acara?” Tiba-tiba Ikhsan berbalik badan dan mulai berbicara dengan Tasya di meja sebelah tanpa mempedulikan gue lagi.

“Oi san..” Gue menyentuh punggung Ikhsan.

“San..” Kata gue lagi.

“Jawab woi…”

Asem! Gue dicuekin gitu aja. Mentang-mentang di depannya lagi ada cewek yang dia suka, eh gue nggak dianggap sama sekali. Awas aja nih monyet.

“Halo Tasya..” Tiba-tiba gue bangun dari tempat duduk dan menggeser bangku ke sebelah Ikhsan sambil memasang wajah manis di depan Tasya.

“Hai, Dim. Kemana aja?” Tanya Tasya yang buntet mirip sama Doraemon.

“Ada kok di Rumah. Btw selama gue nggak masuk kemarin, ada berita apa aja, Tas?” Tanya gue lagi.

Ikhsan yang mendengar hal ini langsung memandang sinis ke arah gue.

“Kan lo bisa nanya ke gue, ngapain juga lo nanya ke Tasya?!” Tanya Ikhsan kesal.

“Katanya ada ulangan Geografi ya?” Tanya gue lagi tanpa mempedulikan temen gue yang mukanya mulai bete kaya kanebo kering.

“Iya ada. Banyak yang remed, Dim. Kamu juga kemana sih?! Waktu pas lagi ada Ulangan Geografi eh malah ngilang. Jadi aja nggak ada yang dicontekin sama kita-kita!”

“Loh emangnya Tasya remedial juga?” Tanya gue lagi.

“Alhamdulillah enggak. Pas banget sama KKM.”

“Emang susah ya?”

“Susah banget!! Pake banget!! Mana ada hitungan-hitungannya segala lagi!”

“Lha, kan paling perhitungan suhu sama perhitungan rotasi bulan aja kan? Gampang itu.” Tukas gue.

“Iya menurut kamu gampang, menurut aku sih enggak! Sama aja kaya kalau kata aku rumus perhitungan gerak yang terjadi antara benda dengan sudut lingkaran 2 setengah Phi terus benda itu mu…”

“Aduh aduh aduh, udah cukup udah, jangan bahas Fisika di depan gue. Mual.”

“Hahahaha nah kaya gitu yang aku rasain.”

“Mau aku ajarin Geografinya nggak? tapi nanti tukeran, kamu ajarin aku Fisika.” Ucap gue sambil menaikkan alis kiri.

“Wah boleh tuh..” Jawab Tasya.

“Eh gue tau juga tentang Geografi loh, kemarin walaupun nilai gue remed, tapi setidaknya gue ngerti sama Bab Planet yang lagi diulanganin.” Tiba-tiba Ikhsan ikutan nimbrung.

“…”

“…”

“Mau belajar bareng kapan, Tasya?” Tanya gue tanpa mempedulikan si Monyet yang udah terlanjur nyengir tapi nggak ada yang nanggapin.

“Lusa deh sekalian pas pelajaran Geografinya.”

“Okeee, nanti aku duduk di sebelah Tasya aja gimana?”

“Boleh, makasih ya, Dim.” Ucap Tasya.

“Harusnya aku yang berterima kasih loh, Tasya. Makasih yaa…”

“Hehehe iya sama-sama.”

Setelah selesai percakapan itu, gue berdiri, menaruh kursi yang sempat gue bawa tadi kembali ke tempatnya, dan melihat ke arah Ikhsan sebentar dengan tampang, gue-menang-satu-kosong-njing-bahahahahahak.

Sedangkan Ikhsan cuma bisa melihat gue geram gara-gara gebetannya malah asik ngobrol sama gue ketimbang ngobrol sama doi.

Karena waktu masuk bel pelajaran pertama masih ada 30 menit lagi, gue memutuskan untuk pergi ke kantin sebelum pada akhirnya langkah gue terhenti ketika melihat sosok Mai lagi nulis serius di bangku paling depan.

“Mai..” Sapa gue.

“Kemana aja kamu.” Jawabnya yang melihat gue sebentar, lalu kembali menulis.

“Bete gue, Mai.”

“Kenapa?”

“Biasa lah, lagi ada masalah aja. Btw nulis apaan lu?”

“Uang Kas sama uang iuran renang. Kamu masih nombok banyak, Dimas. Kurang 50 ribu lagi!” Ucap Mai sembari mengacungkan pensilnya ke arah muka gue.

“Buset, salah kayaknya gue nyapa lo tadi. Lagi bokek nih gue, Mai.”

“Lagian kamu juga renang nggak pernah dateng, cuma bayar doang. Rugi tau.” Tukas Mai ketus.

“Hahahaha gue alergi air. Paling males renang gue tuh orangnya. Apalagi kalau di tempat renangnya itu banyak orang. Hih.. Belum nanti ada yang pilek terus ingusnya keluar, terus ada yang panuan, terus airnya kena selangkangan, terus keminum. Anjir jijik banget!!”

“JOROK IH!!!”

“Ya abisnya, emang kaya gitu kan kalau renang tuh. Lagian gue nggak terlalu ahli kalau renang. Ajarin dong, Mai..” Ucap gue yang mulai kembali ganjen.

“Apaan sih. Genit.”

“Hehehe, Mai Mai.. Masih jomlo aja?” Tanya gue lagi.

“Berisik!”

“Sama gue aja gimana, mau nggak?”

“Apaan ah. Jayus.”

“Yeee serius gue. Rumah kita juga sejalur kan, jadi bisa berangkat sekolah bareng nanti..”

“…”

“Gimana gimana gimana?”

“…” Mai cuma terdiam sambil masih terus menulis.

“Yaaah dicuekin lagi. Btw ini gue bayar 10 ribu dulu deh buat renang, nanti sisanya gue cicil 12 bulan ke depan.”

“KEBURU NAIK KELAS KALAU 12 BULAN!!”  Jawab Mai sambil mencubit tangan gue yang lagi bertengger di senderan kursi.

Lagi asik-asiknya ngobrol sama Mai di meja depan, tiba-tiba gue tanpa sengaja melihat sosok Ipeh yang baru saja datang dan berada di pintu kelas. Sejenak mata kita sempat bertemu, namun gue hanya melihat ke arahnya dingin lalu kembali melihat ke arah Mai dan berbicara dengannya.

Ipeh sempat melihat gue sebentar, lalu kemudian berjalan dingin melewati gue dan Mai begitu saja.

“Lagi marahan?” Tiba-tiba Mai bertanya ke arah gue setelah sempat melihat apa yang Ipeh dan Gue lakukan sebelumnya tadi.

“Eh? Ah iya. Lagi ada something gitu lah.” Jelas gue.

“Kenapa sih?”

“Dia bete waktu dia tau kalau ternyata gue suka sama lo, Mai. Hmm..” Jawab gue seenaknya yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan Mai sendirian ke kantin.

Dari jauh, Mai cuma terdiam saja melihat gue yang pergi keluar kelas tanpa menengok lagi ke belakang. Saat itu gue benar-benar nggak memikirkan apa yang gue ucapkan, apa yang gue maksudkan. Semuanya keluar begitu saja dari mulut gue tanpa gue pikirkan akibatnya. Gue yang sekarang tampaknya memang lagi benar-benar bebal dengan yang namanya perasaan orang. Mau mereka merasakan apa kek gue nggak peduli.

Beberapa minggu ini gue benar-benar hanya mementingkan diri sendiri, gue nggak peduli apa yang terjadi sama orang lain. Selama gue nggak merasa kesepian, gue bakal melakukan apa saja asalkan gue bisa lepas dari perasaan perang antara kepala dan hati gue sendiri yang masih luar biasa kecewa mendengar kabar perihal orang yang gue sayang seminggu yang lalu itu.

.

                                                              ===

.

Beberapa minggu ini gue benar-benar merasakan apa yang namanya kesepian. Gue merasa  minggu ini gue nggak punya teman banget. Kemana-mana gue sendirian. Ikhsan sekarang lagi sibuk sama Tasya yang katanya mau dia tembak dalam waktu dekat. Bobby juga lagi asik sama adik kelas SMP-nya. Nurhadi lagi fanatik banget sama yang namanya basket. Sedangkan gue kerjaannya cuma diem doang di kelas, menatap guru lagi ngomong nggak jelas, lalu istirahat, masuk ke kelas lagi, terus pulang deh. Dan begitu aja seterusnya.

Jam pelajaran pertama sudah dimulai. Namun gue masih diem di kantin sambil iseng nongkrong di salah satu warung kepunyaan penjaga sekolah. Gue tampaknya bakal skip untuk pelajaran pertama ini. Lagian gue lagi males sekolah. Apalagi kalau ngeliat ada Ipeh di kelas.

Kehilangan tanpa ada kata sepakat dari salah satu pihak memang terkadang menghadirkan sakit hati sepaket dengan benci. Apa yang sempat dia lakukan dulu dan terlihat indah di mata gue, kini rasa-rasanya gue malah nggak suka aja kalau dia melakukan itu. Segala humornya di kelas yang dulu terlihat lucu, sekarang malah terlihat jayus banget di mata gue. Mengetahui bahwa gue masih belum bisa benci dengan dia karena masih terlanjur sayang, juga membuat gue benci sama diri gue sendiri.

Gue benci bagaimana gue harus menyibukkan diri dengan segala hal yang nggak penting hanya agar kepala gue berhenti memikirkan Ipeh. Gue benci bagaimana gue haus akan perhatian seakan berharap Ipeh memperhatikan gue. Gue benci bagaimana cara gue melampiaskan kekesalan kepada orang lain seakan jika Ipeh melihatnya, Ipeh akan cemburu. Dan yang paling gue benci adalah kenyataan bahwa ketika Ipeh kehilangan gue, Ipeh benar-benar tidak merasakan kehilangan sama sekali. Sedangkan gue? bahkan ketika gue telah kehilangan Ipeh sekalipun, entah kenapa gue masih tetap takut kehilangan dirinya.

Seakan dirinya terpaku di hati. Menghilangkannya berarti meninggalkan lubang menganga di dalam hati. Seakan kenangan indah bersamanya terukir di dinding hati. Menghapusnya sama saja menyakiti diri sendiri. Seakan untuk menguburnya, gue harus menggali begitu dalam agar ia tidak kembali ke permukaan. Walau pada akhirnya gue harus tertimbun oleh tanah yang gue gali sendiri.

Begitulah kehadiran orang yang benar-benar gue cinta ketika ia dipaksa pergi ketika gue belum mengizinkannya sama sekali. Setiap hal yang gue lakukan untuk menghapusnya, tampak malah semakin mendekatkan gue ke setiap kenangan indah bersamanya.

Gue tahu, bahwa mencoba melupakan seseorang itu malah bisa mengakibatkan gue semakin mengingat dia. Bagaimana tidak? ketika seseorang ingin melupakan orang lain, secara otomatis dia harus bisa mengingat dulu siapa orang yang ingin dia lupakan. Lha terus bagaimana bisa lupa? kalau ternyata untuk melupakan saja kita harus ingat dulu orangnya.

Bagi Ipeh, gue itu seperti mobil yang sedang ia kendarai. Dia membawa gue melaju kencang hingga menghajar berpuluh-puluh lubang di jalan pun gue tetap melaju untuknya. Dan dengan bodohnya gue nggak tahu kalau ternyata dia tidak peduli seberapa sakitnya gue ketika melaju membawa dirinya.

Lantas siapa yang egois? Gue? Dia? Ah pasti gue lagi. Dia merasa kecewa karena masa lalu gue sehingga dia kini bersama orang baru. Lalu apa itu berarti gue yang salah?

Oh oke. Gue yang salah.

Mungkin karena baginya meninggalkan itu mudah. Semudah ketika ia sudah tahu bahwa gue cinta, dan dia pergi begitu saja karena takut terluka. Bukankah cinta sejatinya memang tercipta untuk melukai? Dan kehadiran dua pihak inilah yang seharusnya bekerja sama untuk menyembuhkannya. Lantas jika sekarang gue sendirian dan gue terluka karena cinta, siapa yang harus membantu gue untuk menyembuhkan luka ini? Orang lain? Atau gue sendiri? Apa gue harus mencari orang baru untuk membantu gue menyembuhkan luka menganga ini di dalam hati? Ah salah ya?

Oke, gue salah lagi.

Lo selalu benar. Lo terlahir untuk tidak disalahkan. Lo terlahir untuk benar. Benar-benar gue cintai, dan benar-benar bisa dalam hal melukai.

Gue mendengus kasar sambil meremas habis kemasan Teh Kotak yang sedang gue genggam ini. Selama masa transisi hati seperti ini, gue tidak pernah mempunyai tempat khusus di sekolah untuk menyendiri. Ketika gue ingin pergi ke UKS, eh pintunya di kunci. Dan untuk mendapatkan kuncinya pun gue harus konsultasi dulu ke guru BP perihal gue sakit atau enggak.

Gue tiduran di Mushola, tiba-tiba ada orang yang lagi sholat di belakang gue. Buset lo kira gue mayat apa pake acara sholat di belakang gue segala?! Alhasil gue langsung cabut pergi dari Mushola.

Lalu ketika gue memutuskan untuk nongkrong-nongkrong ganteng di kantin, eh banyak orang sliweran masuk ke dalam kantin buat beli makanan.

Gue pernah mencoba diam di lapangan basket buat ngisi waktu. Tapi pas waktu telah menyentuh pukul 12 siang, kulit gue matang. Muka gue serasa berubah jadi opak. Gosong nggak jelas. Gue benar-benar nggak punya tempat untuk menyendiri tampaknya. Huft..

Lagi pusing-pusingnya mencari tempat buat nongkrong sendirian, mendadak dari luar warung kantin gue melihat sesosok Ikhsan datang menghampiri.

“Nah ketemu juga nih si sarung remote.” Ucapnya yang langsung masuk ke dalam warung dan mengambil seonggok bala-bala tak berdosa di atas meja.

“Ngapain lu kemari? Kaga ngurus gebetan baru lo?” Tanya gue.

“Serah gue dong. Bini gue aja bukan udah main ngelarang-ngelaran gue aja lo. Hih!”

“Yeee gue kan cuma nanya, Setan! Lo cabut pelajaran juga?”

“Iya. Lagi disuruh diskusi nggak jelas tentang Undang-Undang Dasar. Yaudah daripada bosen, gue kesini deh. Eh kebetulan ketemu elo.” Jawabnya.

“Bagus deh gue akhirnya jadi ada temen. Btw kapan rencana lo nembak Tasya?” Tanya gue yang pada akhirnya ikut-ikutan ngambil bala-bala di atas meja.

“Hmm.. kisaran minggu ini deh kayaknya. Bantu gue cari ide dong nembak yang asik gimana. Kan elo banyak pengalamannya tuh.”

“Surprise gitu?”

“Hooh. Yang nggak mainstream tapi.”

“Keluar dari dalam Gehu aja..” Jawab gue polos.

“YA LO KIRA GUE TOGE?! SERIUS NJING!!”

“Eh tapi daripada jadian sama lo, mending Tasya jadian sama gue aja. Gimana?” Goda gue.

“BANGSAT!! KAGAK RELA GUE TASYA JADIAN SAMA WALANG KEBON!!” Ikhsan melemparkan cengek ke muka gue.

“EH BALAKUTAK!! MUKA GUE JAUH LEBIH TAMPAN KETIMBANG MUKA LO!! TIDAK BERHAK ANDA MENGHINA GUE DENGAN SEBUTAN WALANG KEBON!! MUKA KAYAK SABUK SUNAT AJA SOMBONG!” Gue menggebrak meja. Bala-bala di mulut gue terbang semua ke muka Ikhsan.

“I DONT CARE, BITCH!!”

“Yaudah jalan damai aja deh. Kalau gue nembak Tasya terus gue diterima, kita bagi dua aja Tasya-nya.” Ucap gue makin nggak pake otak.

“Mata lo soek! Gimana cara bagi duanya?! Dikira Tasya getuk lindri apa pake acara dibagi-bagi..” Ucapnya kesal.

“Hueuheuheuheuhe..”

“Kenapa lo ketawa?”

“Tai ah gue jadi ketawa. Masa Tasya disebut getuk lindri. Huheuheuhe..” Ucap gue sambil ketawa nggak jelas memikirkan Tasya yang buntet kaya gitu disandingkan dengan Getuk Lindri yang warna-warni.

“Btw mau sampe kapan lo cabut? Kagak ke kelas?”

“Entar deh pas pelajaran Sejarah.”

“Giliran pas pelajaran yang lo suka aja lo balik ke kelas.”

“Btw Ipeh lagi apa?” Tiba-tiba pertanyaan gue membuat Ikhsan berhenti tertawa.

Ikhsan menaruh bala-bala sepotongnya itu kembali ke atas meja dan menatap gue dalam-dalam.

“Lo masih mikirin tentang hal ini?” Tanyanya dengan wajah serius.

“Iya. Mau berbohong bagaimanapun, gue nggak bisa denial ke diri sendiri kalau ternyata gue masih mikirin dia.”

“Terus? Apa lo mau ngerebut dia?”

“Enggak, gue lagi males buat mainan hati lagi. Masih terlalu dini untuk patah hati lagi. Setelah dulu ada kejadian Hana, kejadian Wulan, dan sekarang ada kejadian Ipeh. Semuanya terjadi bener-bener cepet banget, Nyet.”

“Hmm.. gue ngerti gimana sakitnya elo. Yaudah sih kalau gitu semangat kek, jangan lembek gini. Jlemat-jlemet lo kaya uler pisang. Semangat jadi laki-laki tuh, yang kuat, strong, jangan lemah kaya bubur rumah sakit.

“Ngomong lo sok aksi banget. Dikira gampang apa. Gue colok biji mata lo loncat semua baru tau rasa.” Gue mendengus kesal.

“Hahaha gue balik ke kelas ya. Lo bener mau di sini aja?”

“Iya gue lagi pengin sendirian. Gih sono balik, makanin noh kertas ulangan di dalam kelas.”

“Lo kira gue kambing apa makan kertas. Dah ah, caw yak.”

“Yoi.”

“Dadah, Mbe~”

“Bangsat!” Gue melemparkan sisa bala-bala yang tadi dia sempat simpan di atas meja kantin.

Setelah Ikhsan pergi, gue kembali duduk sendirian sambil terus memegangi kemasan Teh Kotak yang sudah lusuh ini. Gue keluarkan dompet gue, membayar makanan yang udah gue ambil, lalu beranjak pergi menuju ke lapangan basket.

Namun, belum sempat gue melangkah terlalu jauh meninggalkan kantin, mata gue mendadak menangkap ada satu sosok yang lagi asik makan Mie Yamin Asin di deretan meja kantin yang bisa dibilang masih cukup sepi. Tanpa pikir panjang, gue langsung menghampiri dia.

Gue berjalan perlahan, lalu duduk di depannya. Dia menatap gue sebentar, lalu kembali serius memakan Mie Yaminnya. Namun tiba-tiba, dia berdiri dan membawa mangkoknya pergi meninggalkan gue sendirian. Dia berjalan tidak cukup jauh dan duduk di meja kantin yang lain.

Anjir!
Dikira gue wajik basi apa pake acara dijauhin segala?!
Nih anak sumpah nyebelin banget.

Tanpa pikir panjang, gue juga beranjak berdiri dan menghampiri dia lagi lalu kemudian duduk di depannya sama seperti yang sempat gue lakukan tadi. Dia menatap gue sebentar, lalu mengambil gerakan untuk berdiri dan pergi lagi..

“Emang gue salah apa sih sampai dijauhin gini?” Kata gue sebelum dia pergi.

Dia menatap gue sebentar, lalu duduk kembali di tempat yang sama.

“Lo nyebelin.” Jawabnya dingin.

“Lha, emang gue salah apa?” Tanya gue lagi.

“Pikir aja sendiri.”

“Rasa-rasanya gue nggak salah deh.”

“Oh.”

“…”

Dia kembali diam sambil sesekali melihat ke arah ponselnya.

“Mau ngapain sih? ganggu orang makan aja.” Ucapnya tiba-tiba.

“Gue mau nanya, lo anak OSIS kan?” Tanya gue.

“Ya lo pikir?”

“Iya anak OSIS.”

“Terus ngapain nanya kalau udah tahu?”

“…”

“Gue mau masuk OSIS juga.” Ucap gue lagi.

“HAH?! MASUK OSIS?! NGGAK! NGGAK USAH!! NGGAK MAU GUE KALAU ADA LO DI OSIS.”

“Lha, GR amat, lo pikir gue masuk ke situ karena ada elo?”

“Ya mana gue tahu. Nggak usah so akrab deh.”

“…”

“Cara masuknya gimana? gue mau daftar dong.” Ucap gue lagi.

“Cari tahu aja sendiri.”

“Lha ini kan gue lagi cari tahu makanya nanya ke elo juga.”

“Emangnya gue pikirin.” Tukasnya ketus lalu berdiri dan pergi meninggalkan gue sendirian.

Astaga, baru kali ini gue nggak berkutik sama sekali menghadapi satu orang cewek seperti ini. Sumpah, kalau gue nggak lagi nyari tempat biar gue nggak kesepian kaya gini, gue kagak akan pernah mau satu organisasi sama tuh cewek sengklek!

Gue makin ngedumel sendirian di kantin. Sekarang gue bener-bener makin dongkol dibuatnya. Setelah kepala gue pening karena urusan Ipeh, kini gue makin dibuat pusing gara-gara cewek tadi.

BRAK!!
Lagi asik garuk-garuk kepala, tiba-tiba meja di depan gue digebrak oleh seseorang.

“Ini formulir masuk OSIS, Udah nggak usah banyak tanya. Gue disuruh ketua OSIS untuk ngajak anak-anak kelas satu yang lain biar masuk OSIS karena bentar lagi bakal ada kegiatan yang membutuhkan banyak anak panitia. Isi cepet, gue mau masuk kelas.” Ucapnya yang tiba-tiba menyuguhkan selembaran formulir pendaftaran OSIS.

“Eh, i..ini syarat dan prasyaratnya harus apa?” Tanya gue kaget.

“Mau masuk nggak sih?!” Tanyanya ketus.

“I..iya ma..mau.”

“Yaudah isi aja jangan banyak tanya.”

“…”

“Gue nggak bisa lama-lama. Kasiin formulir ini sepulang sekolah ke gue lagi. Gue tunggu di depan kelas.”

“I..iya.”

Tanpa banyak bicara, cewek itu langsung berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan gue.

“HEI CLOUDY!!” Tiba-tiba gue berteriak memanggil namanya.

Langkah Cloudy terhenti dan berbalik melihat ke arah gue.

“Thanks ya..” Ucap gue seraya mengacungkan lembaran formulir OSIS yang dibawanya tadi.

Cloudy hanya terdiam menatap gue, lalu membalikkan badan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Buset, dingin amat nih anak. Bapaknya pasti tukang es batu.

Pagi itu gue dihadapkan pada sebuah lembar formulir OSIS yang sebenarnya nggak gue butuhkan sama sekali. Sebenarnya gue mau masuk OSIS hanya karena ingin numpang tidur di ruang OSIS-nya doang. Gue hanya mencari tempat pelarian dari kesepian gue ini karena ditinggalkan oleh orang-orang yang gue sayang. Namun ternyata saat itu Tuhan berkehendak lain.

Awal mula pulpen gue mengguratkan segala data diri gue di kertas formulir ini ternyata menjadi awal banyaknya kisah cinta gue yang baru. Tanpa gue sadari, OSIS yang gue pilih sebagai tempat pelarian gue dari segala kesepian ini ternyata akan menjadi asal muasal dari segala cerita cerpen-cerpen gue sebelumnya. Akan ada banyak cinta baru yang gue temui di sini, dari kegiatan panitia yang membuat gue harus menginap di sekolah, hingga cerita sakit hati - sakit hati lainnya yang gue temui semasa SMA.

Tempat yang gue pilih sebagai pelarian dari rasa sepi ini, ternyata akan menjadi tempat yang membuat gue belajar bahwa sendiri itu ternyata tidak selalu mengartikan sepi selama kita bisa mencintai diri kita sendiri.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here

Leona (Part 11)

ANDAI BUKAN AKU

Tidurku tidak begitu nyenyak semalam. Cemas hati ini memikirkan keadaan Leona. Dari sepulangnya aku dari rumah sakit hingga pada siang hari ini aku dalam perjalanan ke kampus, tak kunjung kudengar kabar dari Leona. Yang kuharapkan, semoga sakitnya tidak parah, semoga Leona lekas sembuh, semoga dia cepat mengabariku. Aku ini bukan orang yang pandai menunjukkan kepedulian. Hati ini bertanya-tanya, tetapi aku malas bertanya langsung. Nanti juga Leona akan memberi kabar. Dia pasti akan mengabariku. Jika ia belum memberi kabar, itu bukan berarti dia melupakanku. Mungkin belum sempat saja, atau mungkin dia sedang istirahat.  

Di bus, kududuk di kursi paling belakang, dekat jendela. Tumben dapat tempat duduk. Biasanya kalu di bus, aku suka memerhatikan sekitarku. Siapa yang duduk di sebelahku, menebak permasalahan satu persatu wajah yang kujumpai di bus. Namun, kali ini berbeda. Mataku hanya terus memandang ke luar, namun perasaanku memikirkan banyak hal tentang Leona.

Leona sakit apa, ya? Perut Leona kenapa, ya? Leona kok belum ngabarin, ya? Mamanya Leona komentar apa, ya? Abang-abangnya Leona bilang terima kasih tuh ikhlas, nggak, ya? Yang jenguk Leona sakit siapa aja, ya? Yang jenguk Leona bawa apa aja, ya? Leona mana, ya? Kok Leona nggak SMS, ya? Leona kangen aku nggak, ya? Leona lagi di rumah kan, ya? Apa Leona dirawat di rumah sakit, ya? Sakitnya parah nggak, ya? Leona udah mandi belum, ya? Leona kayak apa ya kalo lagi mandi?

Di sisi lain, aku masih terkesan oleh keramahan mamanya Leona. Kesan pertama aku bertemu mamanya Leona adalah membanggakan. Ya bangga dong! Beliau menyambutku bak pahlawan yang sudah menolong anak perempuan satu-satunya yang sekaligus paling bungsu itu. Kuingat berulang kali dia berkata kepadaku terima kasih. Abangnya juga bilang thanks. Aku sungguh merasa sudah diterima, seakan-akan mamanya itu calon mertuaku, seakan-akan abang-abangnya itu calon abang iparku. Tiba-tiba saja jadi kepikiran, ada hari di mana aku bisa makan malam bersama keluarganya. Di meja makan, aku bercerita ini dan itu, dan mereka tertawa. Sebab aku masih ingat betul senyum mamanya. Aku ingat betul suara abangnya. Di dalam hati kecilku ada harapan, supaya keluarga Leona dapat menerimaku apa adanya. Aku ingin mereka mengerti, kalau bersamaku Leona baik-baik saja, tidak ada lecet sedikit pun. Aku memang nakal tapi kan bukan penjahat. Ah, andai aku tidak sama dengan Joshua yang orang-orang ceritakan, andai aku sama seperti Joshua yang Leona pandang.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju kelas padahal biasanya langsung ke kantin. Dan padahal belum waktunya masuk kelas. Kulihat kelasku masih sepi, hanya ada 5 orang, semuanya cewek, tampang-tampangnya pada kutu buku. Lalu kudu aku duduk sendirian di dekat kelas, di lantai sambil selonjoran, barangkali bisa melanjutkan lamunan.

Leona kalo mandi kayak apa, ya? Hahahaha.. mesum!

Duduk selonjoran di sini, pemandangan terasa berbeda dengan di kantin. Di sini terasa lebih tenang, tidak bau asap rokok, tidak ada yang main kartu. Kulihat seorang mahasiswa di dekatku sedang duduk khusyuk membaca buku. Ada juga kelompok yang lagi mendiskusikan politik, sepertinya. Ada juga yang lagi pacaran, ngobrolnya pelan-pelan. Jadi kepikiran, kalau selama ini aku menghabiskan waktu kuliah lebih banyak di kantin itu sebenarnya kerugian. Mereka yang ada di sekitarku sekarang ini semacam punya semangat yang jauh lebih tinggi untuk menjadi sarjana, menggapai masa depan. Aku ingin punya semangat yang sama. “Situ mahasiswa, loh!” Kataku dalam hati, spontan saja ngomong begitu ke diri sendiri. Sudah sebegini beruntungnya hidupku. Banyak orang yang sama miskinnya denganku, tetapi hanya mampu sampai SMA, bahkan SMP. “Seharusnya situ bisa lebih menghargai keadaan, sesulit apapun keadaan itu.” Kataku lagi dalam hati.

Sementara di beberapa hari belakangan ini, suara Leona seperti menghantui pikiran. Kuingat waktu dia bilang, “Aku yakin kamu pasti punya sesuatu.” Tak banyak aku diberikan rasa yakin seperti itu. Aku saja tidak yakin sama diriku sendiri. Yang kupercaya dari dulu, aku beruntung. Aku hanyalah orang yang bergantung pada keberuntungan. Bilamana aku mendapatkan hari yang sial, maka itu hari yang wajar. Memang sudah nasibku sial. Tadinya kupikir begitu. Leona seperti menyadarkanku, bahwa menjadi apa kita nanti, itu tergantung pada kita, pada tekad yang kita pegang. Aku, sebetulnya aku harus yakin akan masa depanku, atau paling tidak aku mengharapkan sesuatu, lebih dari karena aku beruntung, tetapi karena aku mampu.

***

Dan saya meminta kamu.
Untuk menjadi pendamping saya.
Melawan diri saya sendiri.
Saya pikir demikian cara terbaik tuk mengambarkan.
Saya tidak bisa melawan diri saya.
Mencintai kamu.

Gambar-gambar saya.
Semuanya tentangmu.

Aku belum mengalah. Sebenarnya rindu ini sudah menjelaskan satu hal, bahwa jangan terus melawan diri yang sudah jelas butuh untuk menyayangi. Namun, aku masih keras hati, gengsi. Kupikir, tenang saja, Leona pasti akan memberi kabar. Pasti.

Sekitar jam 5 sore, apa yang kuyakini itu menjadi kenyataan. Ya, akhirnya Leona mengirim SMS juga. Tuh kan, bener!

Leona:
Joooooshhhh, makasih yaaaa kemarin udah nganter Nana ke rumah sakit.. Aku sakit usus buntu, Josh.. huhuhuhuhu…. Ini baru selesai operasi… Tadinya mau nelpon kamu tapi susah nih lagi ada mama… Nanti kalo udah nggak ada mama, aku telpon kamu yaaaa.. Kamu di mana Josh?? Kuliah, kan? Awas ya nggak masuk kelas….

Josh:
Usus buntu? Wow.

***

Malam harinya, sekitar jam 7 lewat, Leona meneleponku. Waktu mendengar suaranya, hatiku lega sekali. Kudengar dia berbicara tidak sesemangat biasanya seberisik Leona Permata. Terasa sekali bahwa dia sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan perut habis dijahit.

“Josh, huhuhu atit…. Huhuhu… mau disayang-sayang sama kamu… huhu…”
“Syukur deh, operasinya lancar.”
“Amin, Josh… Ih ampun deh Josh, baru ini loh aku ngerasain usus buntu.. Sakit banget astaghfirullah….”
“Yaelah, Le.. emang maunya berapa kali?”
“Ih sebelumnya belum pernah..”
“Bebas, Le. Belum ada sih aku denger orang dua kali kena usus buntu.”
“Eh iya ya, hahaha aduh, aduh, aduh, sakit perutnya Josh kalo ketawa..”
“Ya makanya jangan ketawa.”
“Ih nggak tau, ketawanya nggak sengaja.”
“Yaelaaaah…”
“Josh di mana nih?”
“Di rumah.”
“Loh katanya kuliaaah? Ya ampun Josh, pemalas banget sih duuuuh…”
“Yeee, tadi kuliah. Sekarang udah di rumah.”
“Ih tumben banget kamu jam segini udah di rumah??”
“Iya, tadi selesai kelas langsung pulang.”
“Loh, nggak nongkrong di kantin?”
“Males.”
“Kenapa? Lagi marahan ya sama Ronny?”
“Enggaaak..”
“Trus?”
“Ya emang mau pulang aja..”
“Ih hebat… gitu dong.. lagian ngapain sih kamu lama-lama di kampus? Entar malah judi lagi, trus duitnya abis lagi..”
“Iya, Le.”
“Josh, aku mau cerita.. Mama kemarin nanyain kamu ke aku.”
“Oya? Nanya apa?”
“Mama nanya kamu siapa, kata mama kamu orangnya baik, sopan.”
“MAMA BILANG GITU? Hahaha, nggak nyangka.”
“Iya.. tapi abis itu mama marah, karena aku bilang kalo kamu itu Josh.”
“Yeeee… kok kamu bilang??”
“Abis aku bingung, Josh.. mama nanya kamu namanya siapa, aku bingung jawabnya.”
“Trus?”
“Aku bingung, Josh. Aku disuruh jauhin kamu. Katanya kamu anak nggak bener, dan udah gitu kita beda agama. Mereka nggak mau kamu sama aku deket, pacaran.”
“Loh, kita kan nggak pacaran!”
“Ya gimana, Josh, Nicky udah ngadu semua tentang kita.. Aku bingung. Papa kayaknya udah tau juga soal kamu. Abang-abang aku juga udah heboh. Aku sedih banget, mereka itu nggak tau siapa kamu. Nicky nggak tau siapa kamu.  Yang tau kamu itu aku, Josh. Aku tau kamu baik. Kamu itu baik, Josh. Kamu itu sayang sama aku. Aku tau itu. Aku ngerasain. Aku tau kamu nggak mungkin ngejahatin aku.”
“Le, kamu nggak usah pikir-pikir soal ini dulu, lah. Kamu lagi sakit. Apa yang mama bilang, iyain aja.”
“Iya, Josh. Aku cuma sedih aja, aku nggak mau jauh dari kamu.”
“Ya, mau gimana, Le.”
“Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku tuh sayang sama kamu, Josh. Sayang banget.”
“Haha, emang aku bakal diapain?”
“Aku takut kamu kenapa-napa. Takut abang-abang aku nyamperin kamu.”
“Nyamperin aku? Ngapain?”
“Nggak tau, Josh. Aku juga bingung mereka sampe segininya.”
“Keluarga kamu seprotektif itu ya sama kamu?”
“Nggak tau makanyaaaa… huhuhu…”

Aku terdiam. Aku bingung harus berkomentar apa.

“Josh?”
“Ya?”
“Kok diem?”
“Iya, kepikiran.”
“Maaf ya, Josh..”
“Loh kok maaf?”
“Nggak tau, mau minta maaf aja. Hehehe..”
“Kamu itu nggak salah kok, Le. Kalo kamu menganggap aku sayang kamu, kamu nggak salah.”
“Iya kan? Hihihihi, Nana tuh tau..”
“Pede banget ya lu.”
“Kan kamu yang ngajarin. Kamu kan kepedean, Josh, orangnya.. Haha.. aduh.. lupa nggak boleh ketawa. Sakit. Haha.. Aduh.”
“Kadang-kadang, aku juga minder sih.”
“Ih, minder dari mana!”
“Ya aku tahu siapa aku, Le. Aku ya gini.”
“Ih, apa sih kamu ngomongnya..”
“Hehe, ya aku nyadar sih, siapa aku dan siapa kamu. Biar gimana, kita beda. Coba kamu bayangin, andai kita merawat perasaan ini terus, andai sampai seterusnya kita menjaga hati kita masing-masing, lalu mau sampai kapan? Suatu saat kita akan menemukan ujungnya, Le. Dan ujungnya itu pasti nggak menyenangkan. Hehe..”
“Maksudnya?”
“Hehe, nggak paham ya? Dasar.”
“Ih bahasa kamu lagian.”
“Aku cuma bisa bilang, aku nggak mau ada ujung di antara kita. Dari kamu, aku menemukan keseriusan menilai hidup. Kamu itu kayak jendela, Le.”
“Maksudnya?”
“Jendela untuk aku melihat diri aku berharga, berarti.”
“Hihihihihi, manis banget sih. Aku ngerti, aku ngerti..”
“Hehehe..”
“Josh, bikinin aku puisi, dong!”
“Hah? Puisi? Hahahahahaha…”
“Iya, kamu kan suka bikin puisi. Perasaan kamu nggak pernah nulis buat aku deh, huh..”
“Emang kalo aku bikin, kamu bakal ngerti?”
“Ih ya Allah kesannya aku bego banget.”
“Hahaha.. Kamu adalah puisi itu, Le. Kamu itu indah, tetapi sulit dimengerti.”
“Kamu bisa, Josh.”
“Apa?”
“Ngertiin aku.”
“Emang iya?”
“Nggak juga sih, hahahaha… aduh… sakit..”
“Yeee, dia geli sendiri, hahaha…”
“Hahaha aduh.. aduh..”
“Hahaha.. eh mama belum dateng?”
“Belum.”
“Trus kamu kapan pulang?”
“Nggak tau ih, Nana udah males di rumah sakit..”
“Sabar. Nanti juga sembuh.”
“Iya tapi udah nggak tahan ih… Mau cepet-cepet ngampus, ketemu Josh, jalan-jalan.. eh kita belum ke Ragunan, kan. Nana mau deh ke Ragunan, Josh..”
“Iya, sembuh dulu dong.”
“Iya makanya doain…”
“Iya, udah kok.”
“Doain gitu, Al-fatiha..”
“Hahahahahaha… Al-fatiha gimana sih?”
“Nih Nana ajarin..
Bismillah Ar-Rahman Ar-Raheem
Al-hamdu lillahi Rabb il-‘alamin”
“Haha, udah, udah..”
“Ih, dengerin…”
“Haha, gimana-gimana..”
“Ar-Rahman Ar-Raheem
Maliki yawmi-d-Din
Iyya-ka na'budu wa iyya-ka nasta'in
Ihdina-sirat al-mustaqim
Sirat al-ladhina an'amta ‘alai-him
Ghair il-Maghdubi 'alai-him wa la-d-dallin
..”
“Hahahaha…. Udah, ah..”
“Amiiiiiiiiiin…”
“Oh, udah? Haha..”
“Ih parah banget ya, nggak rispek banget orang doa malah ketawa..”
“Kan ceritanya aku tuh ketawa kagum.”
“Yeee alesan.”
“Hahaha.. Leona, Leona.”
“Joshua, Joshua.”
“Leona.”
“Joshua.”
“Leona Permata.”
“Joshua Zani.”
“Leona cantik.”
“Joshua ganteng.”
“Hahaha..”
“Hahahaha aduh… Ih, Josh, jangan lucu dong, sakit nih kalo ketawa…”
“Hahaha…”

***

Bila cinta itu satu, tiga perempatnya itu percakapan. Bagiku, percakapan dengan Leona adalah senyata-nyatanya kasih dan sayang. Bercanda dan berdebat dengannya, rasanya indah sekali. Mendengar ia bermanja-manja, aku ingin setiap hari. Dari percakapan, aku bisa sangat-sangat mengerti, bahwa ada seseorang yang sedang menyayangiku dengan tanpa keluhan. Lebih lagi daripada itu, aku pun menyadari, kalau ada yang sedang peduli dengan tidak hanya hadirku, tetapi juga tentang hidupku. Demi seseorang, aku ingin menjadi aku yang lebih baik.

Ya, aku jatuh cinta, tepat di hari aku mulai merasa mungkin suatu saat akan kehilangan. Aku tidak pernah takut kehilangan Leona. Aku hanya tidak mau. Seseorang bisa datang dan pergi, tetapi cinta tidak berubah. Sifatnya selalu sama: kuat. Sementara perpisahan hanyalah bukti, bahwa manusia itu lemah. Aku dan Leona, kami bukan mahluk yang lemah. Kami sama-sama cinta, maka kami merasa kuat. Dari sini, demi diriku sendiri aku mulai ingin melupakan, bahwasanya ada cinta yang lebih besar daripada cinta manusia kepada manusia.

Kuliahku masih jauh dari selesai, aku masih muda dan berapi-api. Aku merasakan, bahwa ada begitu banyak hari yang bisa kulewati bersama Leona, lalu untuk apa aku menggusarkan keyakinan? Tanpa perlu bahas agama, aku dan Leona sudah banyak perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan itu, justru aku menemukan cinta. Tidak sekali aku merasakan cinta, tetapi yang kepadanya rasanya lain.


Ingin sungguh aku bicara satu kali saja
Sebagai ungkapan kata, perasaan kupadamu

Telah cukup lama kudiam di dalam keheningan ini
Kebekuan di bibirku, tak berdayanya tubuhku

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta


Lagu berjudul Ternyata Cinta ini kuyakini tercipta untuk mewakilkan perasaan orang yang merasa kuat karena cinta. Bukan suatu kebetulan aku mendengar dan mengenal lagu ini. Saat yang tepat aku mendengarkannya. Di saat-saat seperti ini, aku membutuhkan lagu-lagu cinta. Aku butuh ada yang mengerti perasaan ini.

Sekitar 9 hari aku tidak bertemu Leona. Ya, 9 hari. Selama 9 hari itu, aku dan dia hanya berkomunikasi via SMS, telepon. Sekali lagi, bukankah kita butuh berjarak untuk melihat perasaan dengan lebih jelas? 9 hari itu jarak yang jelas untuk aku teramat sangat sadar kalau aku cinta dia, rindu dia. Tidak bertemu selama 9 hari adalah suatu pencapaian, bukan penderitaan. Nanti jika bertemu, aku telah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku ingin merayakannya dengan ciuman. Aku akan mencium bibir Leona, berkali-kali dan bermenit-menit.

Teman-teman kampusku, terutama yang terdekat yaitu Ronny dan Andhika, mereka sampai heran. Aku tidak lagi nongkrong di kantin, aku tidak lagi main judi. Asal ke kuliah, aku masuk kelas. Selesai kelas, aku pulang. “Lo kesambet ya?” Ronny sampai bilang begitu.

Malam kemarin Ronny ajak aku clubbing, katanya bareng Dinda dan Karin, tetapi aku menolak. Kubilang, “Nggak, Brur, gue mau di rumah aja. Di rumah lagi ada nyokap. Kasih kenal aja Karin ke Andhika. Gue udah ada Leona.” Waktu kubilang begitu, dia tertawa sambil bilang, “ah, taik.”

Kalau ada teman yang mendadak menghilang dari tongkrongan karena perempuan, aku orangnya. Aku tidak malu bilang begitu. Aku orang yang menganut suatu kepercayaan, bahwa kekasih itu lebih penting daripada teman. Kekasih bisa menjadi sekaligus teman, sedang teman belum tentu.

Iya, Leona memang belum kekasih secara ‘resmi’, lagian apa ‘nembak’ itu kewajiban? Sama-sama tau kalau saling sayang, bukankah itu cukup? Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya ‘nembak.’ “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Yaelah, itu bukan Josh banget kalo harus bilang begitu.

Sebenarnya yang paling aku tunggu-tunggu itu besok. Leona bilang dia sudah sehat, udah di rumah, dan besok hari senin akan ke kampus. Besoklah yang paling kutunggu, tidak sabar rasanya. Tekad untuk menciumnya besok itu sudah bulat, sudah ingin sekali. Besok aku cuma ada satu mata kuliah, jam 9 pagi. Sisanya aman. Leona juga. Jadi pas sekali. Setelah kelas, aku dan Leona sudah sepakat untuk pergi nonton. “Josh jangan tidur malem-malem, biar nggak telat ngampusnya. Nanti Nana jemput ya.” Begitu kata Leona di telepon yang baru saja kututup. Oke, aku akan tidur cepat, Le, aku akan bangun pagi. Yes!

***

Di mobil, perjalanan ke kampus

“Mana coba liat bekas jahitannya?”
“Ih jangan malu..”
“Dih, apaan sih..”
“Hihihihihi…”
“Mana liat?”
“Ih, Josh.. sebel tau nggak, jelek banget ada bekas jahitan gini… Nih, tuh, liat..”
“Panjang juga ya, garisnya..”
“Makanyaaaaaaa…”
“Nggak apa, kok. Seksi.”
“Ih Josh.. hahaha..”
“Coba sini pegang.”
“Ih nggak boleh pegang-pegang.”
“Eh nggak boleh, ya?”
“Boleh deh boleh..”
“Hahahaha, jangan deh..”
“Ih apaan sih Josh… hahaha…”

Sumpah, hati ini senang sekali bertemu dia. Setelah berhari-hari tidak bertemu, kulihat cantiknya bertambah 9 kali lipat. Bisa begini, ya, bingung..

“Mama ada ngomong apa lagi sama kamu?”
“Ih Josh.. bahas yang lain aja kek, lagi kangen gini bahasnya mama.”
“Haha, emang kenapa?”
“Ya nggak usah ditanyainlah mama ngomong apa, biarin.”
“Kamu nggak mau aku mendengar hal-hal yang kamu tahu aku bakal sedih dengernya, ya?”
“Hehehehehe, iya…”
“Mama kamu itu baik, Le.. Cuma khawatir aja kamu sama aku. Aku kan gini. Kristen.”
“Ih, Josh.. makanya masuk Islam ajaaaa..”
“Hahahahahahahaha, jangan, dong…”
“Hahahahaha.. Islam bagus tau.”
“Iya, tau.”
“Yaudah makanya ayo… Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah, ayo Josh, terusin…”
“Hahahaha..”
“Hahahahahahahahaha….”

Sesampainya kami di kampus, kami keluar dari mobil dengan terkejut, karena tiba-tiba kami melihat Fajar, Robby dan Benny sedang duduk persis tak jauh dari parkiran. Entah, tiap bertemu mereka, aku ada rasa tidak enak. Aku pernah memukul wajah Nicky, sahabat mereka. Namun, karena aku tahu biar bagaimana aku dan dia pernah berteman akrab, aku menghampiri sambil menggandeng tangan Leona. Sementara Leona seperti panik.

“Bro, kelas pagi?” Tanyaku ke Fajar.
“Yoi.. eh, Nana.. Udah sembuh?” Jawab Fajar, dilanjutkan menyapa Leona.
“Iya, Jar.” Jawab Leona, singkat.
“Lo pada kelas di lantai berapa?” Tanyaku ke mereka bertiga.
“Empat.” Jawab Benny.
“Sama. Naik yuk, bareng.” Tawarku.
“Duluan, Josh.” Jawab Fajar.
“Nana kelas pagi juga?” Tanya Benny ke Leona.
“Iya, di lantai 3. Ih kalian pada mau bolos ya? Ayo masuuuk..” Jawab Leona.
“Hehehe.. Duluan gih.” Jawab Fajar.
“Iya, duluan aja.” Sambung Robbie.
“Ngusir nih?” Tanyaku, sensitif.
“Yaelah sensi amat lo, Josh.” Kata Robbie.
“Tauk. Sensi lo ah.” Kata Benny.
“Hahaha, yaudah gue duluan ya..” Kataku.
“Oks, Bro..” Kata Fajar.
“Dadaaaaahh…” Leona melambaikan tangan ke mereka.

Aku dan Leona berjalan meninggalkan mereka. Sekitar 10 langkah, Fajar teriak. “Nana.. dapet salam.” Aku dan Leona menoleh ke belakang. “Dari Nicky.” Mendengar hal itu, aku tersinggung. Aku berputar, lalu berjalan kembali ke arah mereka. “Josh, udah sih, diemin ajah..” Leona menahanku, namun tak berhasil.

“Bilang Nicky, salam balik dari Joshua.” Kataku, wajahku sejengkal dari wajah Fajar.
“Dih apaan sih lo, Josh, norak.” Ledek Robbie.
“Nyolot lo lama-lama.” Kata Benny.
“Cemburu, Josh?” Tanya Fajar.
“Ih udaaaaah….” Leona bermaksud melerai.
“Haha, lo pada kenapa sih? Nggak suka sama gue?” Tanyaku.
“Santai kali, Josh.. Jangan kayak jagoan.” Kata Fajar.
“Ih Fajar, udah dong..” Kata Leona.
“Ciye Leona, dijenguk Nicky dibawain bunga.” Kata Robbie.
“Ih jangan nyebelin ya, Robbieeeee…” Kata Leona.
“Kamu dijenguk Nicky?” Tanyaku ke Leona.
“Kita semua jenguk kali, Josh. Lo nggak jenguk Leona? Paraaaah..” Kata Benny.
“Iya, Le?” Tanyaku lagi ke Leona.
“Iya, Josh…” Jawab Leona.
“Kok nggak bilang?” Tanyaku.
“Ya takut lo cemburu, lah…” Fajar memotong.
“Diem.” Kataku ke Fajar. Sambil menunjuk wajahnya.
“Lo jagoan?” Tanya Fajar, tangannya menangkap tanganku.
“Lepas.” Kataku.
“Ih Fajar udahh, Josh udahhh…” Leona melerai.
“Enak ya Josh, pulang pergi kuliah dianterin, makan dibayarin..” Kata Robbie.
“Hati-hati mulut lo, Rob. Gue masih mandang lo temen.” Kataku.
“Nicky juga temen gue, Josh.” Kata Robbie.
“Trus?” Tanyaku.
“Lo bukan kayaknya.” Kata Robbie.
“Pergi sana, Josh.” Kata Fajar.
“Josh, udah yuk, kelas. Diemin aja mereka.” Kata Leona.
“Kamu diem.” Kataku ke Leona.
“Ciye Leona, dapet bunga..” Kata Benny.
“Benny apaan sih!” Kata Leona.
“Jar, gue kasih tau. Gue mukul temen lo karena dia mukul Leona. Kalo lo jadi gue, mungkin lo bakal ngelakuin hal yang sama.” Kataku. “Dan sekarang, gue sama Leona. Keberatan?”
“Nope.” Kata Fajar.
“Lo keberatan Josh, Nicky jenguk Leona?” Tanya Benny.
“Yaelah lo kenapa lagi sih, Ben?” Kataku.
“Jawab aja, Josh..” Kata Benny.
“Benny udah dong, Josh juga udah..” Kata Leona.
“Udahlah, gue nggak mau ribut sama kalian. Bagi gue, lo semua masih temen.” Kataku. Kemudian aku berjalan meninggalkan mereka.
“Oh iya, abangnya Leona nyariin lo.” Kata Benny. Tak kuhiraukan.

“Kamu kenapa nggak bilang Nicky jenguk kamu?”
“Maaf, Josh.. aku cuma nggak mau kamu mikir yang enggak-enggak.”
“Duh, Le. Santai aja kalo kamu ngomong sih. Males aja aku taunya dari orang lain.”
“Iyaaaa.. maaf…..”
“Dia dateng sama Fajar?”
“Iya, sama Fajar, Benny, Robbie, berempat.”
“Bawa bunga?”
“Iyaaaa… ih Josh, maaf…”
“Hmmm… Yaudah, aku kelas ya. Daaaa…”
“Iya… Josh jangan marah ya.”
“Iya.”
“Ah bohoooong..”
“Bete sih.”
“Joshh… Maaf…..”
“Hmm.. Nicky ada hubung-hubungin kamu lagi?”
“Duuuh, Joshh….”
“Iya?”
“Iyaaaa…”
“Nelpon? SMS?”
“Iya, suka SMS..”
“Kamu bales?”
“Iyaaaa.. seadanya.”
“Hmm..”
“Josh, tapi aku nanggepinnya cueeeek….”
“Kapan terakhir dia SMS?”
“Tadiiii.. tadi pagi..”
“Bilang apa?”
“Ya gitu…. Selamat pagi, hati-hati kuliahnya…”
“Kamu bales apa?”
“Bales, bilang iya makasih. Udah gitu doang, Josh..”
“Kamu sayang aku?”
“Iyaaaa, Josh… sayang banget… ya ampun kamu jangan marah dong, Josh… Takut tau nggak, liat mata kamu…. Duhh…”
“Sayang?”
“Iyaaaa, Josh…”
“Aku juga. Yaudah, aku kelas ya. Kamu masuk gih. Daaaaa…”

Kuusap rambutnya, lalu aku pergi dengan perasaan, hmmm, sedikit kecewa. Aku pergi tidak ke kelas, tetapi ke kantin.

*bersambung*

Isa, Dalawa, Tatlo

Lihim na pagbulyaw ko ng mga numero sa utak ko. Mabagal. Banayad. Marahan. Umaasang sa pangatlo'y lilingon ka. Iyon ang aking nakasanayan— sa tuwing yayaon ka'y binibilang ko ang segundo bago ka muling humarap at kumaway, kasabay ng pag-ngiti mo at pagsigaw ng “sa susunod na pagkikita.”

Noon ay ni hindi ko pa man nasasabi ang ‘tatlo’ ay nakaharap ka na. Iwinawagayway ang kamay mong may mapupulang palad. Pag tapos nito'y tatalikod ka at hahawiin ang buhok mong sumusuklob sa mga mata mo. Iyon ang mga gawain mo. Gawaing naitatak ko na sa utak ko.

Isa
Dalawa
Tatlo…

Sa paglisan mo ngayo'y bakit patuloy pa din ang paglakad mo?

Isa
Dalawa
Tatlo..

Bakit hindi mo ako binalikan ng tingin? Napansin kong matulin ang bawat hakbang ng mga paa mo. Nagmamadali. Dalus-dalos. Walang tigil. Saan ka ba patungo? Bakit ayaw mong lumingon?

Isa
Da… La.. Wa
Tat…
Tat…

Ayaw kong tapusin ang pagbibilang ko.

“Lumingon ka! Lumingon ka at kawayan mo ako! Sabihin mong paalam at sa susunod sa pagkikita!”

Tatlo..

Kasabay ng pagbigkas ko ng numerong ito ay ang mga luhang patuloy na pumapatak mula sa mga mata ko.

Wala ka na.
Hindi mo na ako binalikan.
Kahit pa sabihin ko ang,

Apat. Lima.

Wala ka na.

The Way I Lose Her: Broken Vow

Hidup terkadang begitu lucu. Kau pergi dariku untuk seseorang yang meninggalkanmu. Dan aku diam menunggu seseorang yang dengan jelas-jelas telah meninggalkanku.

                                                                       ===

.

Angin Bandung malam ini begitu dingin sekali. Mungkin buat orang-orang lain rasanya tidak begitu dingin, tapi buat gue entah kenapa terasa begitu mencekam. Pasti karena sekarang gue sedang diam di keadaan yang cukup menegangkan. Di sebelah gue sekarang ada cewek galak lagi diem. Cewek biasa aja waktu diem udah keliatan menakutkan, lah ini cewek udah galak terus tiba-tiba diem ketika gue baru berbicara hal yang krusial di depannya. Seremnya melebihi penguji skripsi. Mungkin ATM aja kalau dia bentak langsung minta maaf.

Cloudy melihat lurus ke arah gue, gue cuma bisa menatapnya tanpa bergerak sedikitpun. Seperti tidak ada jurang pemisah di antara kami berdua saat itu. Seperti tidak ada Dimas dan Cloudy yang seperti biasanya. Yang saling ejek, yang saling jutek-jutekan. Ada banyak tanda tanya dan tanda seru di tatapan kami yang tak bersuara itu. Entahlah, gue tidak tahu apa yang sedang Cloudy pikirkan tepat setelah gue mengeluarkan kalimat itu beberapa saat yang lalu.

Mungkin dari sekian banyaknya gue berlabuh di hati para wanita yang sempat datang lalu memaksa gue pergi lagi kemarin, ini adalah kali pertama di mana gue mengatakan kalimat krusial itu secara gamblang. Mungkin sekarang gue sudah belajar untuk tidak menunda lama-lama lagi untuk menyatakan. Tidak lagi menunggu saat yang tepat, dan justru menciptakan saat-saat yang tepat itu sendiri. Dan sudah tentu ada pengorbanan besar untuk mengatakan hal itu. Gue terpaksa harus melawan janji gue sendiri kepada Cloudy beberapa hari yang lalu. Janji untuk tidak melangkah lebih dari ini dengannya. Janji untuk tetap menyenangkan seperti ini tanpa ada status apa-apa.

Tapi jujur nggak sanggup rasanya kalau gue jadi pihak yang kehilangan lagi. Ada rasa tidak nyaman ketika melihat Cloudy mesra-mesraan dengan orang lain, rasa tidak nyaman yang sama seperti yang gue rasakan ketika melihat Ipeh, kak Hana, dan Wulan bermesraan dengan orang-orang yang mereka pilih. Dan karena merasa seperti itulah gue yang awalnya ragu ini menjadi yakin kalau selama ini gue menaruh hati kepada Cloudy.

Kami berdua masih sama-sama diam. Perlahan-lahan tatapan Cloudy tidak lagi menatap ke arah gue dan kini menatap kosong ke arah jalanan depan. Sedangkan gue masih diam menatapnya. Mengetuk-ngetukan jari ke atas meja menunggu kata-kata pertama yang akan ia ucapkan.

Cloudy menengok lagi ke arah gue, dia membuka mulut, namun kata-katanya tertahan dan kemudian kembali membuang muka. Begitu saja terus sampai-sampai gue mengira dia lagi kesurupan Boneka Dashboard.

Gue menghela napas panjang. Masih setia di sini menanti sebuah jawaban.

“Bukannya kamu sudah janji?” Tiba-tiba Cloudy melihat dalam-dalam ke arah gue.

Gue masih menatapnya. Keringet dingin mendadak ngucur dari mata juga dari idung. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut gue. Seakan semuanya tertahan begitu saja. Iya, memang gue sudah janji untuk tidak mengatakan hal tabu itu, tapi apa gue nggak boleh menyatakan perasaan gue kepadanya? Ini adalah kali pertama di mana gue benar-benar kehabisan kata-kata. Gue bingung harus jawab apa. Cloudy masih terus menatap gue seakan memaksa gue untuk menjawab secepatnya.

Sejenak gue pengen ngomong, tapi nggak jadi, terus pengen ngomong lagi, tapi nggak jadi lagi. Ujung-ujungnya gue jadi mangap-mingkem-mangap-mingkem persis kayak ikan Mujaer.

“Dee..” Gue angkat bicara.

Cloudy menengok.

“Aku seb-“

“NAH KETEMU JUGA NIH KUTU AER!! MOJOK MULU LO BERDUA KAYA BAKIAK. KAGAK PELUKAN SEKALIAN APA BIAR ANEUDH? BHAHAHAHAHAK..

Mendadak ada suara tidak asing teriak dari kejauhan.

‘Anying kenapa ini mahluk harus dateng sekarang sih?! Ya Tuhan kenapa ada aja peganggu di saat-saat genting kaya gini!’ Gue ngedumel di dalam hati.

Baru saja gue nemu kata-kata yang tepat untuk membicarakan masalah penting ini sama Cloudy eh tiba-tiba entah dari mana datangnya nih mahluk bajingan satu itu muncul begitu aja di depan muka kami berdua. Dia jalan berduaan bareng kang Acil. Tampaknya mereka berdua lagi mencari keberadaan kami karena mengingat waktu sudah terlalu larut.

YA TAPI KENAPA HARUS PAS SAAT-SAAT KAYA GINI DATANGNYA?!
APA KAGAK BISA MUNDUR 5 MENIT LAGI AJA GITU?!

Si Ikhsan ini bener-bener udah kaya Billing Warnet, selalu muncul di saat yang tidak tepat. Lagi asik-asik browsing bokep yang bagus di komputer, eh mendadak Billing abis, terus komputer harus di restart dan web yang baru dibuka tadi terpaksa harus ilang.

Biadab!

Gue memasang wajah galak ketika Ikhsan datang dan duduk di kursi kosong sebelah gue sambil menaikan kaki. Melihat muka gue udah serem banget kaya garpu somay, Ikhsan pelan-pelan mundurin mukanya lengkap dengan ekspresi keheranan. Mulut sama lobang idungnya kebuka, balapan siapa yang paling besar bolongnya.

“Kalian berdua ngapain masih di sini? Lagian ini Supermaket juga udah pada tutup. Sana kumpul dulu sama anak-anak panitia yang lain. Ada yang mau diomongin sama si Ade.” Kata Kang Acil ke arah kami berdua.

Mendengar perintah kang Acil barusan, Cloudy langsung bergegas berdiri dan berjalan begitu saja dibarengi dengan kang Acil yang menyusulnya. Sedangkan gue ditinggal berdua doang sama ini Kuman. Gue mengehela napas panjang. Baru juga dapet kesempatan untuk nembak, eh harus kepotong sama kejadian kaya begini. Emang kayaknya gue ini nggak boleh pacaran sama Tuhan deh selama kelas satu SMA ini.

“Napa lo? Lecek amat kaya kembalian angkot.” Ikhsan menyenggol tangan gue.

“Napa mesti datang sekarang sih lu?!” Gue keplak tangan Ikhsan yang lagi megang HP sampai HP-nya loncat dan masuk ke saos Ka Ep Si :(

“Lha emang kenapa? Pan elu sendiri yang ngasih tahu posisi lu ada di mana tadi waktu sms gue. Gimana sih lo?!”

“Ya kenapa datengnya harus sekarang, njing?! Mundur 2 menit lagi kek.”

“Emang ada apaan? Lagi mau ciuman ya? Atau lagi mau grepe-grepe?”

“Ah bangke, otak lo itu isinya apaan sih?! Makanya nanti-nanti kalau makan ayam itu belinya bagian dada, jangan beli bagian selangkangan! Udah ah gue mau ke tempat panitia.” Gue mendengus kasar sambil beranjak pergi.

Namun belum juga tiga meter gue pergi, Ikhsan memanggil gue lagi.

“Oi oi oi, ini bunga mau lo biarin aja di atas meja? Kagak lo bawa?” Tukas Ikhsan sambil menunjuk ke arah bunga yang tergeletak di atas meja.

Gue menengok ke belakang sebentar, “Udah biarin aja. Udah kagak penting lagi.” Balas gue dingin.

Ikhsan hanya mengangguk-angguk ketika gue berkata seperti itu. Ia kemudian menyusul gue dan terus saja bertanya tentang apa yang terjadi tadi di antara gue dan Cloudy barusan. Sedangkan gue hanya menjawab asal-asalan. Entahlah, untuk yang satu ini rasanya gue nggak mau curhat ke siapa-siapa dulu. Bahkan kepada Ikhsan sekalipun.

.

                                                        ===

.

Gue dan Ikhsan sekarang sudah sampai duluan di tempat para panitia yang lagi duduk-duduk di satu meja kayu yang sama. Sedangkan Cloudy masih berbicara dengan kang Acil dan kang Ade di tempat yang berbeda.

Gue duduk di kursi sebelah Ikhsan yang kebetulan sisi satunya lagi kosong. Tak menunggu cukup lama, kang Ade beserta kang Acil dan Cloudy berjalan menuju meja ini. Tatapan gue tidak lepas dari Cloudy, gue terus menatapnya seakan ingin berkomukasi lewat telepati kaya peserta Uji Nyali. Cloudy juga sering ketangkap basah sedang melihat ke arah gue tapi kemudian dia langsung membuang muka.

Ketika kang Ade dan Kang Acil sudah duduk, Cloudy masih berdiri mencari tempat.

“Noh sebelah si Dimas kosong.” Kata kang Acil sambil menunjuk ke arah kursi kosong sebelah gue.

Cloudy melirik ke arah gue lalu berjalan ke arah salah satu anak panitia cowok di dekatnya.

“Tukeran tempat duduk dong, kamu yang di sana. Aku mau di sini.” Katanya dingin.

Tiba-tiba keadaan mendadak jadi awkward.

Kang Acil menatap ke arah Cloudy dan gue terus-terusan. Ikhsan juga memasang wajah penuh tanya. Mungkin ini adalah kejadian yang sangat janggal di mata mereka. Ya bagaimana tidak? Cloudy yang di setiap rapat selalu bareng gue ini mendadak tidak mau duduk di sebelah gue. Apalagi di kalangan anak-anak OSIS gue sama Cloudy sampai punya julukan khusus sendiri. Mereka menyebut kami berdua pasangan Beauty and the Beast.

Nggak perlu gue jelasin lagi siapa yang Beauty dan siapa yang The Beastnya, kan? Bikin sakit hati aja. Pfft..

Kang Acil yang masih penasaran tentang apa yang terjadi di antara gue dan Cloudy itu secara diam-diam memanggil Ikhsan tanpa suara. Dan Ikhsan langsung melihat dari jauh sambil menaikan alis tanda bertanya ada apa.

“Itu si Dimas berantem sama Cloudy?” Tanya kang Acil tanpa suara.  

Ikhsan cuma geleng-geleng, “Nggak tau, kang. Coba saya tanya dulu.” Jawabnya tanpa suara juga.

“Dim. Ditanya kang Acil tuh. Lo lagi marahan ya sama si Cloudy?” Tanya Ikhsan polos dengan suara yang cukup keras sehingga semua orang langsung mendengar.

Si anying!
Goblok banget nih anak bukannya nanya bisik-bisik malah blak-blakan di depan orang-orang! Kang Acil yang ngelihat hal ini juga langsung geleng-geleng menahan ketawa. Otomatis suasana di sana pun semakin terasa awkward.

Cloudy masih pura-pura sibuk dengan HP-nya, sedangkan kang Ade, kang Acil, dan semua panitia yang lain pura-pura so sibuk padahal gue tahu mereka semua pada mau ketawa gara-gara pertanyaan Ikhsan barusan.

Sialan!
Temen gue yang satu ini emang gue yakin kapasitas otaknya cuma sesendok teh. Dikit banget!

Malam itu kami rapat sebentar mengenai hasil hari ini dan juga apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ternyata selama gue pergi mencari Cloudy tadi, anak-anak panitia yang lain telah membuat divisi baru, yaitu divisi perdagangan. Udah kaya VOC aja ada divisi perdagangan segala. Divisi ini akan mengurusi biaya yang masih kurang untuk Bazzar kami yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

Pengaturan jadwal jualan kue-kue diatur seperti piket, gue sebenarnya nggak kebagian untuk jualan karena gue anak keamanan. Sambil masih rapat menentukan garis besar apa yang harus dilakukan senin nanti, gue diam-diam melirik ke arah Cloudy yang masih terus fokus menulis. Ketika yang lain ribut dan ketawa-ketawa, gue hanya diam menatapnya seperti ada yang belum selesai di antara kami berdua.

Gue lihat dari tadi Cloudy masih berkali-kali melihat ke arah HP-nya sebelum kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah kang Ade.

“Kang, aku sudah dijemput. Aku pulang duluan ya.” Ucapnya.

“Oke oke, hati-hati di jalan ya, Clow.” Balas kang Ade.

Gue masih melihat ke arahnya, dan sebelum pergi Cloudy sempat melihat ke arah gue sebentar. Kali ini dia tidak langsung membuang muka, ia menatap gue begitu lama. Walau kami tidak berbicara, gue merasa ada sesuatu di antara kami berdua lewat tatapan itu. Pernah nggak sih lo merasakan hal seperti itu? Ketika seseorang yang kalian tahu ada sesuatu di antara kalian itu menatap kalian, kalian nggak butuh kata-kata untuk merasakan bahwa saat itu terjadi komunikasi di antara kalian berdua.

Dan itu yang lagi gue rasakan sekarang.

Setelah itu Cloudy pergi begitu saja ke jalanan depan Mall. Gue coba SMS doi tapi tetap tidak dibales juga. Rapat akhirnya selesai pukul 1 malam. Anak-anak panitia yang lain langsung memacu kendaraannya masing-masing menembus pekatnya Bandung malam ini. Gue yang memarkirkan motor di sebelah motor Ikhsan ini dari tadi masih tidak banyak bicara seperti biasanya, dan sepertinya Ikhsan menyadari ada yang berbeda dari gue.

“Napa lu? Jadi pendiem gini?” Kata Ikhsan sambil mengancingi tali helmnya.

“Enggak. Ngantuk aja.”

“Kaya orang aja lo bisa ngantuk segala. Ngaku deh ada sesuatu yang terjadi di antara lo sama si Cloudy tadi malem.”

“Kagak ada apa-apa. Bawel banget lu malem ini udah kaya ibu-ibu aja.”

“Yeee ditanyain malah ngambek. Gimana? Jadi nginep di rumah gue malam ini? Udah terlalu malam nih, nanti dirampok di tengah jalan baru tahu rasa lo.”

“Enggak deh, kayaknya gue pulang aja. Lagian nginep di kamar lo gue takut pantat gue makin bolong.”

“SI ANYING!! Lagian kalau gue homo juga gue milih-milih, setan!”

“Kalau misal lo homo, emangnya lo nggak mau sama gue? Kurang apa coba gue? Pengertian? Iya. Ganteng? Lumayan lah. Mengerti lo? Banget. ”

“Hmm..” Ikhsan terlihat berpikir. Goblok emang, ginian aja pake dipikir serius segala. “Boleh deh boleh, tapi gue bagian nyolok ya, elo bagian nungging.”

“BADJINGAAAN!!! PERCAKAPAN MACAM APA INI!! GUE PULANG AJA AH!” Balas gue bete sambil teriak-teriak sebelum kemudian motor gue melaju kencang meninggalkan dia yang tadi sempat colek-colek pantat gue.

.

                                                                  ===

.

06.15
Senin.

Selama perjalanan menuju sekolah, otak gue masih terus aja kepikiran tentang Cloudy. Pelan-pelan gue makin merasa bahwa keputusan gue untuk mengatakan perasaan gue sama Cloudy dua hari yang lalu itu adalah sebuah kesalahan. Gue takut hubungan gue dan Cloudy bakal mendadak renggang seperti hubungan gue dan Ipeh ketika dulu ada lomba Vocal Group di sekolah. Astaga! Ini berarti gue harus melewati masa-masa seperti itu sekali lagi?

Ah Dimas begok!
Dulu kan gue milih untuk jadi anggota OSIS juga biar ada tempat pelarian dari masalah gue sama Ipeh. Tapi kenapa gue sekarang malah ngerusak tempat pelarian gue ini?! Aduh! Gue makin merasa menyesal banget pagi ini. Seharusnya gue juga sadar sih, mana mungkin gue bisa bersanding sama dia. Nggak pantes banget. Kasta juga beda jauh. Kaya Pizza disandingin sama Kol Goreng. Nggak serasi banget.

Ah begok lo, Dim!

Sepanjang perjalanan menuju sekolah tak henti-hentinya gue memarahi diri gue sendiri atas apa yang gue lakukan sabtu malam kemarin. Sesampainya di sekolah, gue langsung pergi ke ruang rapat tanpa masuk ke kelas lebih dahulu. Di sana sudah ada banyak orang termasuk Ikhsan yang sudah datang duluan.

Gue berdiri di depan pintu mencoba melihat ke sekitar. Dan seperti yang gue duga, gue melihat ada Cloudy yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya di meja depan. Dia merapikan berkas-berkasnya dan bergegas meninggalkan ruang rapat sebelum tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat ada gue di depan pintu. Gue melihat ke arahnya, dan ia melihat ke arah gue.

“Hei De-“

Dug!

Belum sempat gue menyapa, Cloudy sudah berjalan begitu saja melewati gue tanpa berbicara apa-apa lagi. Di pintu yang kecil begini, dia berjalan cepat sekali hingga badannya terpaksa membentur gue walau tidak begitu keras. Gue termenung. Pandangan gue masih tidak melepas kemana punggungnya pergi. Ia pergi ke arah kelasnya begitu saja tanpa kata-kata.

Ikhsan yang melihat hal ini perlahan ikut berjalan ke luar pintu dan berdiri di samping gue.

“Masih marahan lu?” Tanyanya.

“Waaah langitnya cerah ya…” Balas gue mengalihkan pembicaraan sambil berlalu masuk ke dalam ruang rapat.

Hari itu gue berpikir karena ada banyaknya acara rapat penting yang harus kami lalui, maka sikap ke-preofesionalitas yang dijunjung Cloudy itu akan menghancurkan dinding yang tengah menghalangi kami berdua ini. Tapi ternyata gue salah besar! Semuanya malah menjadi lebih parah. Hari ini gue bisa melihat semuanya berubah. Cloudy benar-benar seperti sengaja menjauh dari gue.

Dia benar-benar mengacuhkan gue sama seperti apa yang dia lakukan ketika sedang mengacuhkan orang-orang yang sering ngajak dia kenalan di kantin. Gue benar-benar menjadi orang asing di matanya. Kejadian di depan ruang rapat pagi tadi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan banyaknya kejadian kampret yang dia lakukan sama gue hari ini.

Saat itu gue dan anak-anak keamanan yang lain lagi duduk di pojok kursi belakang mencoba mengatur titik-titik keamanan selama Bazzar. Kang acil duduk di atas meja sedangkan anak-anak anggota yang lain duduk di kursi memperhatikan. Anak-anak divisi yang lain pun lagi pada sibuk dengan urusannya masing-masing.

Dari depan kelas, Cloudy yang daritadi sedang berbicara dengan kang Ade kini mendatangi divisi keamanan. Dia datang lalu kemudian berbicara dengan kang Acil sebentar sebelum kemudian pergi lagi meninggalkan kami semua begitu saja. Sontak kang Acil heran, biasanya tuh anak kalau datang ke divisi keamanan pasti minta izin buat ngajak gue pergi, tapi sekarang dia bahkan nggak menyapa gue sama sekali.

Alhasil kang Acil melihat penuh tanya ke arah gue, begitu juga anak-anak keamanan yang lain.

Gue keringat dingin. “Eh denger-denger anaknya guru ekonomi cakep loh! Udah pada liat belum? Udah pada liat belum? Bohai loh, kalau dia lagi jalan genteng kelurahan pada turun semua. Gimana gimana gimana?” Tanya gue mencoba mengalihkan perhatian dengan memasang senyum lebar tapi semua anak memandang gue dengan tatapan dingin.

Tak berhenti di situ saja, ketika siang hari sudah menjelang, tugas para panitia semakin banyak. Mereka kelihatan sibuk hilir mudik di dalam kelas termasuk gue juga. Gue mencoba membantu semua yang gue bisa, hari ini gue lebih fokus buat bantuin anak-anak dekor dulu. Jadi berkali-kali gue keluar masuk ruang rapat buat ngambil barang-barang dekor di kardus perkakas.

Lagi sibuk ngodok-ngodok kardus di bawah meja belakang buat nyari paku sama palu, kang Ade yang duduk di meja guru memanggil gue.

“Dim!” Teriak kang Ade dari depan kelas.

“Hadir!” Jawab gue yang kemudian kepalanya nongol setengah dari bawah meja.

“Kosong nggak? Temenin si Clow dulu mau nggak lo?”

“Eh?” Mendengar hal itu gue langsung berdiri dengan sikap sempurna.

Cloudy yang tadi ada di sebelah kang Ade sama terkejutnya kaya gue ketika mendengar kang Ade tiba-tiba berkata seperti itu.

“Enggak usah, kang. Ngerepotin. Aku bisa sendiri kok. Yaudah daripada lama-lama biar aku kerjain sekarang aja. Pergi dulu ya, kang.”

“Loh Clow?” Kang Ade cuma dibuat keheranan sama keputusan Cloudy barusan. Kemudian setelah Cloudy pergi, dia melihat ke arah gue. “Lo lagi berantem sama tuh anak ya, Dim?” Tanyanya.

“KANG INI PALU NGGAK ADA YANG LEBIH BESAR YAH??” Gue mencoba pura-pura tidak mendengar ucapan kang Ade sambil kemudian berlalu keluar begitu aja.

Asem!

Perlahan-lahan gue merasa semua orang di kepanitiaan jadi makin kepo sama apa yang tengah terjadi di antara gue dan Cloudy. Oleh karena itu daripada ditanya-tanya mulu, sebisa mungkin gue tidak berlama-lama di ruang rapat guna menghindari pertanyaan-pertanyaan bajingan dari anak-anak panitia yang lainnya. Gue sekarang memutuskan lebih fokus kerja di lapang untuk benerin panggung dan masang soundsystem bareng sama anak logistik yang lain.

Jam hampir menunjukkan pukul 11 siang. Buat gue jam-jam segitu adalah jam yang paling pas buat jajan atau makan siang di kantin karena biasanya kantin lagi sepi-sepinya. Jadi gue bisa makan dengan bebas dan nggak perlu ngerasa diburu-buru karena banyak yang pengen duduk juga. Gue menaruh semua peralatan tukang yang lagi gue pegang lalu izin sebentar sama anak-anak yang lain buat makan dulu di kantin.

Siang-siang begini paling enak makan katsu 2 porsi. Lengkap dengan semangkok kuah soto. Beuh sabi banget dah. Emang kalau lagi laper abis kerja rodi gini perut perlu di isi sampe penuh. Di kantin saat itu cuma diisi sama anak-anak panitia lain yang lagi istirahat juga. Gue bergegas pergi ke tukang katsu untuk memesan makanan yang udah gue incar dari tadi.

“Dim!”

Lagi jalan sambil fokus ke makanan, tiba-tiba dari jauh ada yang manggil gue. Sontak gue nengok ke arah sumber suara. Di sana gue melihat ada temen-temen panitia gue yang kemarin ikut ngamen lagi pada makan juga.

“Makan di sini aja rame-rame.” Ajaknya.

Wah boleh juga tuh tawarannya. Gue sempat hampir mengganti arah langkah gue dan berjalan ke arah mereka sebelum kemudian gue baru menyadari bahwa di sana juga lagi ada Cloudy. Dia lagi makan bareng temen-temen yang lain. Gue berpikir sebentar, kayaknya kalau gue ke sana yang ada nanti malah jadi awkward lagi. Lagian Cloudy udah ada duluan di sana. Yaudah deh daripada bikin dia nggak nyaman, lebih baik gue tahu diri dengan tidak ikut gabung sama mereka.

Gue geleng-geleng menanggapi temen gue yang udah lambai-lambai dari tadi itu, “Gue makan di sini aja, Sob!” Gue menunjuk meja panjang di depan gue. “Gue juga harus buru-buru nih. Sorry yak hehe.” Sambung gue mencoba tetap ramah.

Akhirnya gue memilih duduk di pojokan sendirian. Bener-bener kaya orang kena wabah kolera; dikucilkan. Ketika teman-teman yang lain makan sambil ketawa-ketawa, gue di sini makan sambil sesekali pura-pura liat HP biar keliatan lagi sms-an padahal HP gue nggak bunyi sama sekali.

Karena meja panjang ini ada di arah jam 1 dari meja makan Cloudy beserta teman-teman yang lain, maka gue sesekali bisa mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun ketika ia merasa sedang diperhatikan lalu kemudian melihat ke arah gue, gue langsung pura-pura melihat ke arah yang lain. Begitu juga kebalikannya. Gitu aja terus berkali-kali.

Setelah selesai makan, gue kembali pergi ke lapangan untuk melanjutkan pekerjaan dekor yang sempat tertunda tadi tanpa pamit dulu kepada Cloudy. Gue sekarang lagi ada di lapangan Voli sekolahan, lagi bantuin buat merangkai ornamen yang terbuat dari anyaman bambu. Gue nggak sendirian di sana, ada beberapa anak panitia yang lain. Sambil masih sibuk ngerangkai dekor, sesekali mereka ketawa-ketawa, sesekali gue ngelucu, juga beberapa kali gue mencoba stand up di depan mereka. Rasanya senang sekali bisa ketawa bebas kaya gini setelah sempat harus menekuk hati dari pagi tadi.

Dari sejak awal gue ke sini, kebetulan tadi gue nemu anak kucing Yatim Piatu di sekitaran semak-semak, nggak tahu emaknya kemana. Mungkin karena nih anak kucing udah jadi yatim, makanya gue sempat memberi makan dia pake katsu yang sengaja gue ambil dari kantin tadi. Karena gue sadar bahwa 2,5% harta kita adalah hak untuk anak yatim.

Tapi pas udah gue kasih makan sekali, nih anak kucing malah jadi ngintilin gue terus ke mana-mana. Bahkan ketika gue lagi ngerjain dekor, ini anak kucing tidur begitu aja di pangkuan gue. Teman-teman cewek yang lain pada langsung histeris dan ngelus-ngelus kucing di pangkuan gue. Dan saat itu juga gue langsung berharap kalau mereka tetap ngelus-ngelus walau di pangkuan gue nggak ada anak kucingnya. Bhahahak.

“Kok dia akrab bener sama lo, Dim?” Kata salah satu anak cewek sambil masih ngelus-ngelus kepala anak kucing warna oren yang gue kasih nama Naruto ini.

“Tau nih, tadi gue sempat kasih katsu sih. Eh dia jadi ngintilin gue terus.”

“Ya namanya juga anak kucing. Kalau udah dibaikin terus jadi akrab, pasti diikutin ke mana-mana.”

“Tapi jadi ganggu juga lama-lama. Si Naruto ini udah dikasih hati malah minta jantung. Harusnya tahu diri kek kalau gue lagi sibuk terus pergi nggak ganggu gue lagi.  Lama-lama risih juga sih kalau diintilin terus begini. Mana dia lemes banget lagi nih kaya perangko sobek.” Gue ngedumel.

“Hahahahaha lagian anak kucing mana tahu tentang tahu diri sih, Dim!” Balas anak cewek yang lain sambil tertawa.

“Abisnya. Risih nih gue. Awalnya sih nih anak kucing lucu, tapi lama-lama jadi ilfeel jug..”

Tiba-tiba gue terdiam. Anak-anak yang tadi lagi memperhatikan gue langsung keherenan.

“Kenapa lo, Dim?” Tanya mereka.

“Ah enggak gapapa. Ini dekor kalau udah selesai mau ditaruh di mana?” Tanya gue.

Setelah gue bertanya seperti itu, kini mereka semua kembali sibuk berdiskusi tanpa melanjutkan pertanyaan mereka barusan; Membuat gue jadi ada kesempatan berpikir. Berpikir tentang kata-kata yang gue baru keluarkan untuk si anak kucing yang lagi tidur di pangkuan gue ini.  Tanpa sadar kata-kata tersebut seakan sedang menasihati diri gue sendiri. Bisa diumpamakan gue ini Cloudy, dan anak kucing yang gue kasih nama Naruto ini adalah diri gue sendiri.

Mungkin benar, ada kalanya gue harus tahu diri. Jika gue ada di keadaan seperti ini terus, yang ada nanti bisa membuat Cloudy ilfeel sama gue, yang mana itu bisa membuat dia memandang gue seperti bagaimana dia memandang gue dulu waktu pertama kali bertemu di pendopo sekolah.

Mungkin seharusnya gue tahu diri. Baiklah kalau begitu, mulai hari ini gue akan mencoba sekuat mungkin untuk tidak berada di tempat-tempat yang mana membuat Cloudy harus merasa terganggu akan kehadiran gue. As long as she don’t need me.

.

                                                              ===

.

Jam 12 ketika isitrahat kedua berkumandang sebagaian besar para panitia kelas satu, dua, dan tiga pada melakukan ISHOMA (Istirahat Sholatin Mantan). Dengan begini segala kegiatan dekor dan lain-lain yang menyangkut tentang Bazzar terpaksa ditunda sebentar untuk istirahat. Ketika yang lain pada ke kantin untuk makan, gue dan Ikhsan lebih memilih duduk-duduk di ruang rapat.

Keadaan sepi seperti ini gue pakai untuk gitaran sama sohib gue yang satu itu. Selain nyanyi, terkadang gue selingi juga dengan curhat tentang apa yang Ipeh lakukan sabtu malam kemarin. Beberapa anak panitia ada yang makan di kelas, ada juga yang masih tetap sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Sambil masih asik dengan nada gitar lagunya Iwan Fals – Bento, Ikhsan yang duduk di atas meja menyenggol tangan gue dengan kakinya.

“Nyet, ngomong-ngomong soal Ipeh, gue jadi takut masalahnya kagak bakal selesai di situ aja.”

Gue angguk-angguk setuju, “Iya sob, itu yang gue takutin juga. Kalau elo atau gue yang punya masalah sih ya oke lah, tapi kalau Ipeh sih gue takut dia kenapa-napa, San.”

“Bener, orang-orang kaya begitu mah kagak bakal datang sendiri kalau balas dendam, Dim. Pasti bawa temen-temennya.”

“Aduh khawatir nih gue. Gimana dong? Walau Ipeh bisa jaga diri, biar bagaimanapun dia juga cewek. Elo balik ke kelas gih, jagain dia.”

“Ah emangnya gue siapa, bokapnya juga bukan. Tapi tenang aja, selama Ipeh di kelas mah gue jamin aman. Satu angkatan kita nggak ada yang berani sama Nurhadi kok.”

“WOIYA!! Kelas kita kan punya pawang hewan yak! Gue ampe lupa. Hahahaha. Gue SMS bentar deh si Gorila, gue jelasin dulu tentang kejadian kemarin malem.” Dengan sigap gue mengeluarkan HP dari saku celana.

“Udah gue jelasin kok. Tenang aja. Yang jadi masalah sih bukan itu. Tadi pas gue lagi di parkiran gue dipanggil noh ama anak-anak kelas sebelah. Bilangnya gue sama elo dicariin sama si siapa itu namanya? Mantan si Cloudy?”

“Kembang tahu?”

“NAH ITU!! Hahahaha si Kembang Goyang udah mulai bergerak kayaknya. Gimana?”

“Biarin aja. Jangan gerak duluan, entar dimarahin kang Acil baru tau rasa lo.”

“Ah iya juga ya. Kalau kang Acil sampai marah bisa-bisa gue nggak dapet Updatean bokep terbaru lagi. Berabe. Kesejahteraaan sabun batangan di rumah gue bisa terganggu.”

“Emang ada updatean baru apa?”

“Udah tahu belom tentang kabar ada anak SMA *** yang videonya bocor?”

“WAH ANJRIT LO PUNYA VIDEONYA?!”

“Punya dong. Baru bluetooth kemarin sama kang Acil.”

“MINTAAAAA!!!!”

Begitulah percakapan yang terjadi ketika gue dan Ikhsan sedang dalam keadaan waras. Kami membicarakan hal yang selayaknya para anak laki-laki bicarakan kalau lagi ngumpul sama teman-temannya.

Gue yang tengah bercakap-cakap asik sama Ikhsan ini tanpa menyadari kalau sedari tadi ternyata ada Cloudy di dalam kelas lagi beresin mukenanya. Tampaknya doi baru balik dari Mushola. Walaupun gue sempat melihat ketika dia masuk ke dalam ruang rapat, gue tetap pura-pura tidak tahu. Gue sudah janji sama diri gue sendiri untuk tahu diri. Selama gue nggak dia panggil dan nggak dia ajak ngobrol, itu berarti gue nggak berhak untuk mendatanginya.

Gue takut apabila gue memaksa dan berusaha untuk memperbaiki ini, dia malah makin merasa terganggu. Itulah yang gue pikirkan saat itu. Sebuah pemikiran yang ternyata tanpa gue sadari akan membuat semua masalah ini semakin besar di kemudian hari. Seharusnya gue sadar, apa yang pria pikirkan biasanya kerap menjadi apa yang diinginkan oleh perempuan. Itu sebabnya banyak pria yang disebut nggak peka.

Di satu sisi pria berpikir untuk tahu diri, tapi di sisi lain perempuan berpikir bahwa laki-laki itu tidak berjuang. Benar-benar pemikiran layaknya dua kutub yang sama-sama saling menolak. Dan dari beberapa hari ke depan nanti, gue belajar satu hal yang penting dalam sebuah hubungan. Yaitu komunikasi.

Kembali lagi ke cerita.

Ketika gue lagi ngumpul sama Ikhsan, biasanya gue jadi suka asik sendiri dan lupa keadaan. Seperti sekarang ini, Ikhsan duduk di atas meja sambil bermain gitar, gue duduk di kursi sambil bernyanyi dan menaikan kaki. Lagu Bento menjadi lagu tema kami hari itu. Orang-orang yang ada di sana pun jadi pada ikut-ikutan nyanyi lagu ini gara-gara kami berdua.

Masih asik menyelenggarakan konser mini. Kang Ade mendatangi kami berdua, dengan sigap kami berhentikan dulu nyanyi-nyanyi ini.

“Lagi pada nganggur yak?” Tanya kang Ade sambil senyum. Membuat gue dan Ikhsan berpandangan curiga.

“Iya, kang. Lagi nunggu anak-anak dekor yang lain.” Jawab Ikhsan.

“Ada apa, kang?” Tanya gue.

Tapi bukannya menjawab pertanyaan gue, kang Ade malah memanggil Cloudy.

“Clow, sini dulu deh.” Kata kang Ade.

Gue lihat Cloudy enggan untuk ke sini, tapi dia juga tidak bisa menolak perintah ketua OSIS begitu saja hingga mau tidak mau dia sekarang ada di sebelah kang Acil menghadap ke arah gue dan Ikhsan.

“Begini, salah satu dari kalian temenin si Cloudy buat cairin dana dong. Tadinya gue mau minta si Acil, tapi ruang rapat lagi pada kosong begini. Yang keliatan nganggur juga cuma kalian berdua. Anterin dia yak.” Tukas kang Ade.

Ikhsan melirik ke arah gue, “Sama si Dimas aja, kang. Saya mau sholat dulu.”

Mendengar ucapan si kampret barusan sontak gue terkejut, “Sholat apaan lu jam segini kuya?!”

“Sholat minta hujan. Mau tau urusan ibadah orang aja ah lu. Dosa tahu nggak. Riya nanti jatuhnya.”

“Lhaaa malah pada berantem. Siapa nih jadinya?” Kata kang Ade lagi.

Gue diam sebentar, sesekali melirik Ikhsan yang lagi pura-pura benerin gitarnya padahal gitarnya sehat walafiat. Yaudah deh, kalau kaya gini apa boleh buat. Gue mulai merapihkan baju untuk bersiap berangkat.

“Aku sama Ikhsan aja, Kang.”

Eh?
Tiba-tiba gerakan gue terhenti. Gue, Ikhsan, dan kang Ade serentak melihat ke arah Cloudy.

“Aku sama dia aja. Yuk, San. Gue tunggu di depan pendopo ya.” Katanya seraya pergi begitu saja.

Ikhsan melihat ke arah gue dan kang Ade. Gue mengangguk tanda setuju dan Ikhsan cuma bisa membalas mendengus kasar sambil menaruh gitarnya lalu beranjak pergi ke luar kelas.

.

                                                            ===

.

Walaupun ini bukan urusan gue, tapi gue gelisah banget siang ini. Gue kepikiran tentang Cloudy dan Ikhsan terus. Mereka lagi apa ya sekarang? Aduh gue penasaran banget! Gue nggak bisa duduk tenang, gue dari tadi mondar mandir di luar ruang rapat hingga kemudian gue melihat ada sosok Cloudy terlihat berjalan dari arah kantin.

Nggak mau membuang kesempatan, gue langsung menghampirinya.

“Dee!” Kata gue sambil berlari ke arahnya, tapi mendadak dia mengganti haluan sebelum kemudian gue kejar lagi lalu berdiri di depannya.

“Dee aku mau ngomong.”

Cloudy tetap tidak menghiraukan, dia pergi begitu saja. Namun dengan sigap gue genggam tangannya.

“Dee! Dengerin dulu!”

“APASIH?!”

Deg!
Gue kaget. Gue dibentak kasar. Hati lemah gue terluka :(

“Dee.. mau sampai kapan kaya gini?” Gue masih menggenggam tangannya.

Cloudy melihat penuh emosi ke arah gue. Seperti gue ini telah melakukan kesalahan besar padahal gue dari tadi belum ngobrol sama sekali dengannya.

“Dee?”

Namun tiba-tiba tangan gue dia hentakkan begitu keras hingga genggaman gue terlepas dan kemudian ia pergi meninggalkan gue dengan langkah terburu-buru. Meninggalkan gue sendirian dengan banyak sekali tanda tanya di kepala. Namun belum 10 detik gue berdiri, pucuk dicinta ulam pun tiba! Gue melihat Ikhsan keluar dari lorong lobi sekolahan sambil muter-muterin kunci motornya.

“WOI ANAK SETAN!!” Teriak gue keras sambil berlari menghampirinya.

Ikhsan berhenti dan menengok ke arah gue.

“Nyet! Tadi di jalan ngapain aja sama Cloudy? Dia ngomong apa? Dia cerita apa? Dia ke mana aja? Terus tadi dia ngomong sesuatu tentang gue nggak, Nyet?!” Gue menyerang Ikhsan dengan pertanyaan bertubi-tubi, sedangkan Ikhsan masih santai begitu saja menanggapi pertanyaan gue barusan.

“Cloudy nanya tentang lo tadi sama gue.” Jawab Ikhsan singkat.

.

.

.

                                                            Bersambung.

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Start From Here...

Apakah kau tahu? Hatiku terpaksa harus kulipat dalam bentuk yang sangat kecil ketika kau menceritakan seseorang yang menarik hatimu.
Dan apakah kau tahu? Telingaku lebam ketika mendengar kau kini sedang bahagia. Dan bukan karena aku penyebabnya.

                                                                    ===

.

“Bentar-bentar, otak gue masih nggak konek nih.” Dengan tergesa-gesa Ikhsan langsung berdiri meninggalkan meja kantin dan memesan satu minuman di salah satu warung yang kebetulan masih buka sore itu.

Gue cuma terdiam. Gue tahu Ikhsan pasti nggak setuju dengan usulan gue tadi, tapi gue juga nggak bisa terus-terusan begini. Benar kata dia dulu, apabila gue masih terus ada di posisi ini bisa-bisa salah satu dari kami ada yang tersakiti.

Selang 5 menit menunggu, Ikhsan kini kembali ke meja gue dengan membawa segelas milkshake coklat dengan taburan meses di atasnya. Dia menatap gue dengan pandangan serius, sedangkan gue mencoba untuk tidak melihat ke arahnya.

“Lo tuh gimana sih nyet?! Ini sih sama aja kaya lo cari mati tahu nggak? Lo demen amat sih buat masalah yang nggak seharusnya ada.” Ikhsan nyolokin sedotannya ke jidat gue.

“…”

“Walaupun kita temenan baru setahun, tapi gue udah akrab sama sifat keras kepala lo yang satu ini. Walaupun gue sekarang ngewanti-wanti biar lo nggak melakukan hal ini, lo pasti tetap melakukannya diam-diam di belakang gue. Serius lo, Nyet? Resikonya tinggi tahu nggak?!”

“…” Gue masih terdiam mendengarkan pendapat dari sahabat gue yang satu itu.

Percakapan di atas tadi terjadi tepat beberapa hari setelah kejadian gue dan Ipeh yang memutuskan untuk kembali menjadi teman baik lagi. Demi memperjelas kejelasan cerita di atas, ada baiknya kita kembali ke beberapa hari sebelum hari ini terjadi dulu.

.

                                                        ===

.

2 Days Before Disaster.

Jarum panjang di jam tangan kesayangan gue ini sekarang sudah menunjukkan pukul 06.15, walaupun ini masih terbilang cukup pagi tapi hari ini gue sudah berada di perjalanan menuju sekolah. Selama perjalanan di atas motor, tak henti-hentinya gue tersenyum mengingat betapa indahnya kemarin sore. Pada akhirnya setelah beberapa bulan menjalani perang dingin dengan Ipeh, akhirnya hari ini kita resmi memperbaiki hubungan lagi.

Sesampainya di sekolah, dengan cepat gue bergegas pergi ke dalam kelas dengan langkah yang ringan. Di kelas sudah ada Ikhsan yang datang lebih pagi lantaran belum mengerjakan PR. Gue taruh tas di bangku sebelahnya lalu dengan isengnya mukul kepala si Monyet pake gulungan buku.

“Pagi-pagi udah nyontek lagi aja lo. Otak kalau emang nggak dipake mendingan disewain aja ke Cipaganti.” Kata gue iseng.

“Datang-datang ngajak berantem lu, kuya. Udah ngerjain PR belum lo?” Tanyanya bete.

“Udah dong. Beres!” Kata gue bangga yang padahal PR gue diselesaikan oleh Ipeh sebelum pulang dari rumahnya kemarin.

Ikhsan tampak tidak mempedulikan dengan ucapan gue barusan, dia masih serius menyalin seluruh tulisan-tulisan yang ada di buku yang gue yakin itu buku pacarnya. Tak lama kemudian, Bobby datang ke kelas bersama Nurhadi. Tampaknya mereka bertemu di Kantin sebelum masuk ke kelas. Melihat Ikhsan yang lagi serius nyontek PR, Nurhadi langsung teringat kalau dia juga belum mengerjakan PR. Hingga pada akhirnya di meja gue terjadi nyontek berjamaah. Ikhsan nyontek punya Tasya, Nurhadi nyontek punya Bobby.

Bel pelajaran pertama berbunyi, sekarang pelajaran Bu Nina; Guru Bahasa Indonesia. Beliau terkenal jarang masuk tepat waktu sehingga walaupun bel pelajaran sudah berbunyi, anak-anak kelas masih pada ribut seenak udelnya sendiri.

“Gimana kemarin?” Tiba-tiba Ikhsan bertanya ke arah gue sambil membereskan peralatan nyonteknya.

“Apaan?” Tanya gue heran.

“Itu.. Gimana hubungan lo sama si Rambo?” Tanya Ikhsan yang kemudian membuat Bobby dan Nurhadi melihat ke arah gue juga.

“Apanya yang gimana?” Tanya gue masih pura-pura nggak ngerti.

“Eh ember tinju. Jangan pura-pura nggak ngerti deh lo. Sekarang lo sama si kuntilanak itu gimana? Masih marahan? Masih dingin-dinginan?”

“Ipeh?”

“Iya. Kemarin di rumah si Rambo lo ngapain?”

BLETAK!!
Tiba-tiba ada satu pukulan keras menghampiri kepala Ikhsan hingga ia tersungkur ke atas meja.

“Siapa yang kata lo rambo hah?!”

“Loh, Peh?!” Bobby terlihat heran.

“Apa?!” Ipeh melotot ke arah Bobby, “Eh, Mbe, kantin yuk. Laper nih gue belum sarapan. Gue traktir deh.” Ucap Ipeh lagi sambil mencoba duduk di sebelah gue.

Melihat hal ini, Ikhsan, Bobby, dan Nurhadi mendadak hening. Mereka benar-benar kaget melihat apa yang terjadi di antara gue dan Ipeh. Setelah sekian lama Ipeh tidak terlihat akrab lagi dengan gue, kini Ipeh menjadi Ipeh yang dulu pernah mereka kenal. Ipeh yang urakan dan easy going dengan geng anak-anak cowok.

“Eh, jadi jadi jadi?! Lo sama si Dimas udah baikan?!” Tanya Ikhsan sambil masih meringis kesakitan.

“Hehehe.” Ipeh hanya tertawa.

Sontak melihat ekspresi Ipeh itu mereka semua bukannya marah atau bete, tapi mereka malah menyoraki kita berdua, merangkul Ipeh dan mengacak-acak rambutnya. Bobby terlihat gembira sekali, begitu juga dengan Ikhsan dan Nurhadi. Tak henti-hentinya Nurhadi dan Bobby menepuk-nepuk pundak gue dan Ipeh memberi selamat. Ipeh yang masih di-uyel-uyel sama Ikhsan pun cuma bisa tertawa bahagia tanpa membalas sama sekali. Tak lupa dengan Bobby yang langsung menyalami gue dan Ipeh layaknya kita berdua adalah dua orang yang telah lama berpisah.

“Wah harus dirayain nih!” Ucap Nurhadi antusias.

“Setuju gue, Di.” Balas Ikhsan.

“Oke deh, ayo ke kantin semuanya. Gue yang traktir!” Ajak Ipeh dengan rambut yang mendadak acak-acakan karena habis di-uyel-uyel sama Ikhsan.

Mendengar ada kata traktiran, mereka bertiga langsung teriak kegirangan sambil rusuh mencoba keluar dari meja kelas. Tak peduli sekarang sudah masuk jam pelajaran pertama, kami berlima pergi ke luar kelas sambil tertawa kegirangan. Sebelum ke luar kelas, Ipeh menggenggam tangan gue sambil tersenyum manis sekali.

“Makan yuk.” Ucapnya.

“Yuk!” Kata gue semangat dan membalas genggaman tangannya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya kita berlima sekarang sedang duduk di kantin sambil masih ribut tertawa. Ikhsan pergi memesan Yamin Baso. Nurhadi pesan ayam katsu. Bobby pergi ke lapangan basket untuk memesan Lontong Kari di luar gerbang. Gue dan Ipeh memesan menu yang sama, nasi kuning.

“Gini dong dari dulu lo berdua. Bosen gue liat keadaan kelas yang kaga ada rame-ramenya.” Sindir Ikhsan.

“Hehehe maaf ya, gaes. Selama ini gue udah bertindak egois sama kalian. Sebagai permintaan maaf, pagi ini gue traktir kalian makan. Semoga dengan ini, kalian bisa maafin apa yang gue lakukan dulu sama kalian.” Balas Ipeh.

“Apologies accepted!” Jawab mereka bertiga kompak.

“Btw, gimana ceritanya nih bisa jadi kaya gini? Cerita dong!” Tanya Bobby sambil masih nyeruput kuah lontong karinya.

“Mbe! Ceritain gih! Tapi awas jangan kelepasan!” Kata Ipeh sambil mencubit pinggang gue.

“Eh bentar-bentar, kelepasan apa nih?! Anjir curiga gue. Jangan-jangan kalian…” Ikhsan melihat ke arah kita sambil mengambil satu buah donat manis di atas meja lalu memasukan sumpit ke lubang donat tersebut.

“GOBLOK!! YA ENGGAK LAH!!!” Ipeh tampak menyadari arti kiasan yang Ikhsan lakukan itu dan langsung meleparkan botol Aqua kosong ke arah Ikhsan.

“Tai lo, nyet! Otak lo isinya apaan sih?! Pagi-pagi udah ngebahas yang begituan lagi.” Balas gue.

“Iya gimana sih lo, San. Si Dimas ini mana mungkin kaya gitu. Pegangan tangan aja udah mimisan dia.” Balas Nurhadi.

“Yeee ini toren air pake acara ikut-ikutan segala lagi. Mau gue ceritain kaga?!” Kata gue bete.

“Hahahaha gih cerita-cerita, tapi sebelum itu, Ipeh harus tahu dulu dong awal kejadiaan kenapa lo bisa dateng ke rumahnya.” Bobby memotong.

“Emang ada cerita apa, Bob?” Tanya Ipeh penasaran.

“Eh anjir jangan diceritain juga kali!” Gue mulai gelagapan.

“Ih ada apaan?! Ceritain atau makanan ini pada bayar sendiri!”

“….”

“Yaudah yaudah, demi keberlangsungan hidup dompet kita, gue ceritain aja deh ya. Jadi gini, Peh.. Semua cerita ini diawali dari waktu gue dan Ikhsan memutuskan untuk curhat sama si Dimas di rumahnya kemarin sore…”

Kemudian Bobby mulai menceritakan semua hal yang terjadi sebelum gue memutuskan untuk pergi ke rumah Ipeh, Ikhsan juga sesekali ikut menambahkan bumbu-bumbu cerita sambil diselingi lawakan garingnya. Ipeh yang mendengarkan cerita Bobby cuma bisa menahan malu sambil tangannya mencubit tangan gue di bawah meja sehingga tidak terlihat oleh teman-teman yang lain. Setelah Bobby beres bercerita, kini giliran gue menceritakan semua yang terjadi di rumah Ipeh kemarin.

Tentunya tidak semua hal gue ceritakan, beberapa cerita sengaja gue simpan untuk gue pribadi. Kejadian pelukan di atas balkon, dan kejadian di kamarnya Ipeh gue anggap sebagai kenangan terindah selama gue kelas satu SMA yang nggak ingin gue bagi dengan teman-teman gue saat itu. Akhirnya pagi itu kami berlima tanpa sadar bolos pelajaran Bahasa Indonesia bersama-sama. Nurhadi, Bobby, dan Ikhsan menceritakan banyak sekali cerita-cerita yang terjadi di sekitar kami selama Ipeh tidak ada. Ipeh yang mendengarkan mereka bercerita juga terlihat antusias. Beberapa kali Ipeh mencela dan memberi pendapat dari sudut pandang perempuannya, dan kami berempat pun mengangguk-angguk tanda mengerti.

Sudah sekian lama sejak Ipeh pergi, kami berempat kumpul dan ngegosip tanpa campur tangan mulut perempuan. Terkadang pendapat yang dikemukakan Ipeh yang notabenenya perempuan sama sekali tidak pernah terbesit di benak kami para laki-laki. Kehadiran Ipeh benar-benar seperti angin segar. Ipeh memberi pendapat kepada Ikhsan mengenai hubungannya dengan Tasya yang sudah agak renggang, juga Ipeh memberi nasihat kepada Bobby sama pacar SMP-nya itu. Ipeh juga mencoba mengenalkan Nurhadi dengan anak cewek di eskul basket lantaran Ipeh tidak tega melihat Nurhadi yang tiap hari pacaran mulu sama bola basket. Sedangkan gue? Gue diam-diam memperhatikan Ipeh yang terus nyerocos tiada henti. Melihat betapa kebahagiaan ternyata bisa begitu dekat, betapa kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk sederhana. Mendengarkan orang yang disayang bercerita dengan ceria.

“Eh eh, bentar lagi kan kita mau kenaikan kelas nih. Kita nggak tahu masih bisa sekelas atau enggak. Beberapa dari kita mungkin bakal ada yang masuk ke kelas IPA, ada juga yang bakal pergi ke kelas IPS, nah sebelum semuanya berakhir, gimana kalau kita bikin acara perpisahan kelas?” Ucap Ipeh di sela-sela pembicaraan kami.

“Wuih ide bagus tuh!” Gue langsung menyetujui pendapat Ipeh barusan.

“Mantap! Ayo banget! Tapi enaknya kemana nih yang bisa ngabisin waktu bareng-bareng?” Tanya Ikhsan.

“Anyer aja gimana?” Usul Bobby.

“Jangan, itu kan di Jakarta, jauh ah, lagian bakal susah di transportasi.” Jawab Nurhadi, “Mending Dufan aja.” Tambahnya lagi.

Gue yang mendengarkan pernyataannya barusan itu cuma bisa nganga.

“Badan doang yang gede. Otak nggak lebih besar dari bola beklen. Dufan itu juga ada di Jakarta, Nyet!” Kata gue.

“Nilai Geografi lu berapa sih, Di?!” Ikhsan ikut-ikutan ngeledek Nurhadi.

KENAPA JADI PADA NGEBULLY GUE?!” Nurhadi terlihat bete.

“Hahahaha gimana kalau ke Villa aja? Ayah aku punya Villa di daerah puncak.” Kata Ipeh.

“SERIUS, PEH?!” Kami berempat tercengang mendengar hal itu.

“Iya bener, nanti deh aku izin dulu ke ayah boleh dipake nggak ya Villanya.”

“Anjir setuju-setuju! Sekarang mending kita atur dulu jobdescnya masing-masing, siapa bagian ngurus apa.” Kata Ikhsan.

“Bob, elo bagian ngurus kendaraan gih, Bob, kalau kendaraan nggak cukup, kita sewa mini-bus aja.” Ucap Ikhsan.

“Dimas bagian ngurus anak-anak, dari absensi, keuangan, dan segala tetek bengek masalah anak-anak lo yang pegang, dengan begini otomatis Bobby kalau minta data anak-anak ketika mau nyewa bus dia harus datangin lo dulu.” Tambah dia lagi.

“Roger that.” Kata gue.

“Ipeh, seperti halnya yang sudah dikatakan tadi, lo bagian ngurus Villanya, semua hal yang bersangkutan dengan Villa dan segala hal rundwon di Villa, itu tugas lo.”

“SIAP KOMANDAN!” Jawab Ipeh sambil hormat bak tentara mau ke medan perang.

“Lo sendiri?” Tanya gue.

“Gue bantu Ipeh deh ngurus apa-apa di Villa, perizinan dan segalanya nanti gue yang urus ya, Peh.” Balas Ikhsan sambil menunjuk ke arah Ipeh dan Ipeh tampak setuju.

“Lha terus tugas gue apaan?!” Mendadak Nurhadi protes gara-gara nggak dipanggil.

“Lo diem aja. Segala yang lo pegang kaga pernah beres. Atau mending lo nggak ikut perpisahan kelas aja.” Jawab Ikhsan enteng yang lalu semua ikut tertawa.

Tidak terasa jam pelajaran ke dua telah berbunyi, ini menandakan kelas gue sekarang sudah berganti pelajaran. Nurhadi dan Bobby izin cabut duluan ke kelas karena mereka ada sesuatu yang harus dikerjakan. Ipeh masih asik sms-an, sedangkan gue dan Ikhsan ngobrol ngalor ngidul seperti biasanya. Tanpa kita sadari, Ipeh yang sedari tadi duduk di sebelah gue itu kini ngeloyor pergi ke warung sebelah dan tiba-tiba balik membawa sekantong plastik Nutrisari blender.

“Loh, Peh. Kok cuma beli satu?!” Kata Ikhsan yang mendadak jadi pengin juga.

“Ya masa gue harus minum langsung dua bungkus?” Jawab Ipeh bego.

“Yeee bukan gitu. Gue juga mau maksudnya.”

“Lha kenapa jadi nyalahin gue? Siapa suruh tadi pas gue beli lo ga bilang.”

“Ya elo kagak nanya. Maen nyelonong pergi aja kaya angkot.”

“Udah-udah cuma gara-gara Nutrisari sebungkus doang aja pada ribut lo bedua. Elo juga nyet, beli sendiri sono.” Kata gue. “Beli dua jangan lupa.” Kata gue lagi.

“Lha masa gue minum langsung dua bungkus, Dim?”

“Buat gue satunya lagi, setan!”

Melihat hal ini Ipeh cuma tertawa. Gini nih kalau kita udah ngumpul bertiga seperti biasanya lagi. Mulai pada duel otak semua, siapa yang paling begok dia yang menang. Setelah Ikhsan datang dan duduk lagi di meja kantin dengan 2 bungkus Nutrisari Blender rasa Jeruk Manado, Ipeh langsung berdiri dan bergegas pergi.

“Gue ke kelas duluan yak. Ada urusan bentar.” Ucapnya singkat lalu pergi meninggalkan kami berdua.

Gue dan Ikhsan cuma saling melirik tanda tak mengerti.

“Ke kelas juga yuk, Nyet. Udah mau masuk nih.” Kata gue.

“Bentar, mumpung tinggal kita berdua, duduk dulu sebentar ada yang mau gue tanyain.”

Sebenarnya gue udah bosen juga duduk di kantin, tapi ketika Ikhsan berbicara seperti itu, gue langsung nurut dan duduk di depannya seperti posisi semula. Gue tahu nada bicara Ikhsan yang seperti ini, ada hal serius yang mau dia tanyakan.

“Kenapa?” Tanya gue penasaran.

“…” Ikhsan hanya melihat ke arah gue.

“Iya gue tahu lo mau nanya apa. Tapi, gue rindu kita yang kaya gini, Nyet.” Kata gue lagi.

“Iya gue ngerti lo kangen sama suasana kaya gini, gue juga ngerti lo udah ngebet banget untuk bisa deket sama dia lagi. Tapi, apa lo yakin? Lo nyiksa diri sendiri kalau gini caranya.”

“…” Gue hanya menunduk, semua yang Ikhsan katakan benar.

Ketika kita jatuh cinta, kita rela melakukan hal apa saja walau itu terdengar gila sekalipun. Hal ini juga terjadi sama gue. Gue sudah memikirkan hal ini semenjak perjumpaan terakhir gue dengan Ipeh kemarin sore. Hal ini sebenarnya begitu mengganggu, dan Ikhsan tampak menyadari hal ini. Seceria apapun gue atas hubungan dengan Ipeh yang kembali baik, gue tampak tidak sebawel biasanya. Dari semua teman yang ada, cuma Ikhsan yang sadar akan hal ini.

Jatuh cinta dengan seseorang yang telah dimiliki orang lain itu seperti menanam bunga palsu di dalam hati sendiri dan berharap itu akan tumbuh. Awalnya mungkin kita berniat untuk memperindah bentuk hati sendiri dengan menanam bunga tersebut, tidak akan layu, pun juga tidak akan tumbuh walau sudah dirawat sedemikian rupa. Tapi lambat laun, bunga tersebut juga akan berdebu dimakan waktu, berdebu dalam bentuk yang masih sempurna.

Itulah yang akan dirasakan para pihak yang mencintai cinta orang lain. Suatu saat mereka akan dipaksa merasakan kenyerian yang luar biasa dalam indahnya cinta yang mereka bangun sendiri. Dalam indahnya cinta mereka, cinta mereka tidak bisa tumbuh, hanya menjadi usang dalam bentuk yang masih sempurna. Tepat seperti bunga plastik yang sengaja di taruh di sudut ruangan.

Kau akan dimakan pemikiranmu sendiri perihal apa yang sedang dia lakukan bersama pacarnya sekarang? Apa yang mereka bicarakan? Apakah dia memikirkanmu ketika sedang bersama pacarnya atau tidak? Kau ini siapa? Bolehkah kau mencintainya?

“Gue yakin lo masih sayang sama Ipeh, begitu juga dengan dia. Tapi kalau dia bukan milik lo, apa lo bisa hidup dekat dengan dia sambil menahan perasaan lo yang seperti ini? Cinta diam-diam kaya gini lambat laun bakal menghancurkan lo sendiri. Melihat diam-diam, menyukai diam-diam, mencintai diam-diam. hingga pada akhirnya, lo terluka pun masih secara diam-diam.”

“Iya, gue tahu. Cepat atau lambat gue nggak akan bahagia lagi.” Kata gue yang masih diam mengelap butir-butir air yang menetes dari plastik Nutrisari Belnder gue.

“Lo masih sayang sama dia?”

“Iya.”

Sebagai teman?”

“Nope.”

“Sebagai lebih dari seorang teman?”

“Iya.”

“Astaga! Yaudah berhenti kalau gitu. Stop untuk sayang sama dia.” Ikhsan membuka bungkus sukro lalu meleparkannya ke arah gue.

“Gue bukan robot, San! Gue nggak punya tombol On Off gitu aja. Emang gue juga mau hidup kaya gini? Sebisa mungkin gue ingin menghilangkan perasaan ini. Tapi apa daya, rasa sayang gue sama tuh bocah udah terlalu besar. Segagah apapun gue mencoba denial, tapi di depan dia semua usaha gue runtuh begitu saja. Seakan senyumnya itu hujan dan hati gue ini sudah kering kerontang. Seakan mendengarnya berbicara adalah bunyi indah setelah sekian lama gue tuli tidak mendengar.”

“…”

“Gue bosan mencintai diam-diam. Gue iri melihat lo bahagia, gue iri melihat Bobby punya pacar. Apa lo sadar?! Gue sebegitu inginnya seperti kalian, yang bisa mendapat bahagia tanpa harus melalui bermacam luka hanya dalam kurun waktu setengah tahun dari semenjak gue pertama kali menjejakkan kaki ke sekolah ini. Gue siapa sih?! Gue nggak ganteng, gue nggak kaya, gue nggak neko-neko soal tipe cewek yang gue suka. Tapi kenapa semua orang yang ingin gue jadikan orang yang gue sayang harus pergi tanpa sempat gue miliki?!”

“Hana?”

“Iya.”

“Wulan?”

“Iya.”

“Ipeh?”

“Iya.”

“Cloudy?”

“…”

“Cloudy??”

“…”

“FOR GOD SAKE!! Lo juga punya rasa sama tuh anak?! Wah ngayal lo. Ini sih sama aja kaya kodok berharap jadi pacar tuan putri. Ngarep lo ketinggian. Daripada sama dia, gue lebih setuju lo sama Hana lah.” Ikhsan terlihat kesal.

“Enggak kok! Gue nggak punya rasa sama dia. Seriously.”

“Bener?”

“Iya!”

“Bagus deh, sekali aja lo baper sama tuh anak, gue tabrak lo sampe pingsan, gue ambil otak lo, terus gue taroh di bawah sinar matahari biar ngembang.”

“Lo sangka otak gue kerupuk apa.”

“Lupain masalah Cloudy kita balik dulu ke masalah Ipeh. Gue sampe capek ngeliat temen gue sakit hati terus. Kapan lo mau berhenti jatuh cinta sama tuh anak?” Tanya Ikhsan lagi.

“Secepatnya.”

Ikhsan cuma geleng-geleng kepala mendengar jawaban gue. “Dim..”

“Hmm?”

“Ceritain apa yang nggak lo ceritain tadi di depan temen-temen sama gue.”

“Eh? Gue udah cerita semuanya kok.” Jawab gue gelagapan.

“Ha ha ha ha, lo pikir gue percaya? Itu sama aja kalau lo pikir gue bakal percaya kalau tukang martabak di depan rumah lo itu punya kekuatan mistis.” Ikhsan menggebrak meja.

Ah iya gue lupa cerita, kenapa Ikhsan bisa mengira tukang Martabak di depan rumah gue punya kekuatan mistis? Jadi gini ceritanya. Dulu waktu Ikhsan nginep di rumah gue dan kita lagi duduk-duduk berdua di pekarangan, tukang martabak yang buka di depan rumah gue ini kebetulan lagi sepi-sepinya pelanggan. Malam itu sudah menunjukkan pukul 11 malam, jalanan di depan sudah tampak lenggang. Hingga suatu ketika, si tukang martabak ini mukulin penggorengannya 3 kali lalu berteriak “ASU~”, mendadak setelah melakukan hal-hal aneh tersebut, ada satu pelanggan datang membeli martabak yang dia beli. Ini serius! Sampai sekarang tuh tukang martabak masih jualan di depan rumah gue. Dan beberapa kali gue masih sering beli martabak buatannya juga. Awalnya Ikhsan biasa aja, menganggap ini cuma kebetulan, tapi karena saat itu gue lagi jail, gue bilang sama Ikhsan kalau tukang martabak itu pake aji-ajian khusus buat manggil pelanggan. Dan begoknya si Ikhsan percaya. Tiga kali si tukang martabak melakukan ritual yang sama, dan 3 kali juga ada pelanggan baru datang membeli martabak buatannya. Semenjak saat itu, Ikhsan yakin praduga gue yang menyatakan tukang martabak di depan rumah gue itu punya kekuatan mistis adalah benar.

Setelah kejadian itu, tiap gue lagi tidur dan mendengar ada ketukkan 3 kali di wajan martabak dan teriakan “ASU~” si tukang martabak, gue mendadak ketawa mengingat betapa gobloknya teman gue yang satu itu.

Oke balik lagi ke cerita.

“…” Gue hanya melihat ke arah Ikhsan.

“Eh, bener kan? Tukang martabaknya nggak punya kekuatan mistis kan?”

“…”

“Eh serius, Dim. Gue jadi kepikiran nih!”

“Gue sama Ipeh ciuman.” Tiba-tiba gue angkat bicara.

Mendengar pernyataan gue, Ikhsan yang lagi nyedot Nutrisari Blender itu mendadak menyemburkan Nutrisarinya.

“HAH?! SERIUS?!”

“Bukan ciuman sih. It’s merely a peck, not even a kiss.” Jelas gue.

“Gimana gimana? Gue nggak ngerti?”

Akhirnya gue menceritakan semua hal benar-benar terjadi di rumah Ipeh. Dan Ikhsan yang mendengarkan cuma bisa melongo begitu saja. Beberapa kali ia geleng-geleng karena tak percaya dengan apa yang gue ceritakan. Setelah gue selesai menceritakan semuanya, Ikhsan menghela napas panjang.

“Dim.”

“Hmm?”

“Lo nggak bisa gini terus.”

“Iya gue tahu. Tapi mungkin inilah kita, yang diam-diam saling tahu, yang diam-diam saling menaruh perasaan, yang diam-diam saling curi-curi pandang. Dan yang diam-diam saling mencintai— dalam diam.”

Melihat diam-diam, menyukai diam-diam, mencintai diam-diam. Hingga pada akhirnya, terluka pun masih secara diam-diam.”

“…”

“Kalian nggak bisa kaya gini terus. Ketika dua orang yang saling mengetahui perasaan masing-masing memilih untuk diam dan tidak menentukan ke mana arah hubungannya berjalan, pada akhirnya selalu akan ada seseorang yang tersakiti.” Ucapnya lagi.

Dan ternyata pernyataan Ikhsan siang itu benar-benar terjadi. Seseorang menjadi sangat tersakiti karena hubungan ini. Tapi gue bakal menceritakan hal itu nanti.

“Iya gue janji bakal secepatnya berhenti seperti ini. Biar bagaimanapun, 90% gue adalah pihak yang bakal tersakiti itu. Thanks bro, gue sekarang udah makin mantap buat mengambil keputusan.”

“Oke, bagus kalau begitu. Bentar gue mau bayar minuman ini dulu, dah gitu kita masuk ke kelas.” Kata Ikhsan yang menepuk pundak gue lalu kemudian pergi membayar minuman yang dia ambil barusan.

Seharusnya gue sadar, mencintai secara diam-diam tidak akan merubah apapun kecuali perasaan hati yang semakin kelam. Kecuali jika salah satu dari pecinta diam-diam ini berani menyatakan diam-diamnya dalam setegas-tegasnya tindakan. Gue nggak mau menjadi duri dalam hubungan Ipeh, gue nggak mau merebut seorang wanita dari tangan pria. Jikapun harus, gue tidak akan merebut, tapi menyelamatkan dia dari orang yang salah.

Om gue pernah bilang, jangan pernah berkelahi demi seorang wanita. Pria sejati tidak pernah melakukan hal itu, karena pria sejati akan membiarkan wanitanya memilih, dan jika pilihan itu tidak jatuh kepadamu berarti wanita itu bukanlah wanita yang tepat. Pergi saja, cari yang lain. Banyak orang yang akan merasa beruntung karena memilikimu, dan jangan sampai rasa keberuntungan itu pudar di mata wanita yang lebih baik ketika kau memilih memperjuangkan wanita yang salah.

Lantas itu bisa disebut tidak memperjuangkan dong? Bodoh, itu sejatinya sudah termasuk berjuang. Buat apa mempertahankan dia yang pergi? Memohon dan meminta ia memilihmu hanya akan merendahkan hargamu di mata orang yang tepat. Jadi buat apa sibuk-sibuk cemburu ketika wanitamu dekat dengan pria lain, jika dia memang berharga dia akan menjaga hatinya. Jika tidak, berarti dia sudah menunjukkan kepadamu bahwa hatinya begitu murah karena hanya dengan rayuan sedikit, dia melepaskan yang telah lama bersama demi seseorang yang baru saja dia kenal. Dia melepaskan matahari, demi secercah cahaya kunang-kunang. You lose her, you lose nothing.

.

                                                                  ===

.

Ketika hendak pergi meninggalkan kantin, mendadak gue dan Ikhsan berpapasan dengan primadona angkatan kita saat itu. Siapa lagi kalau bukan Cloudy. Dan seperti biasa, di setiap Cloudy ada, pasti ada banyak mata lelaki melihat ke arahnya.

“Dimas!” Tiba-tiba Cloudy berjalan cepat menghampiri kita berdua.

“Noh, rejeki lo noh.” Kata Ikhsan bisik-bisik sebelum kemudian gue tabok perutnya pake sikut.

“Kenapa?” Tanya gue pada Cloudy.

“Hari ini ada rapat besar tentang Bazar! Dan awas aja kalau lo kabur kaya kemarin lagi!”

“Yeee itu sih salah lo sendiri ngebohongin gue!”

“Kok lo jadi nyalahin gue sih! Pokoknya sore ini jangan pulang! Gue laporin sama kang Acil nanti!

“….”

“Jangan lupa juga bentar lagi KM kelas kamu harus ngumpul di lobby sekolahan.” Balas Cloudy lagi.

“Ada apaan emang?”

“Siapa yang ngebolehin lo nanya?”

“…” Bangke emang nih anak nyebelinnya.

“Ketua kelas lo siapa?”

“Nih..” Gue menunjuk ke arah Ikhsan.

“Hah? Si Leonardo DiCaprio ini ketua kelas lo?” Kata Cloudy yang ternyata masih nyangka nama Ikhsan itu benar Leonardo DiCaprio.

“Iya, kenapa? Nggak cocok ya mukanya?” Kata gue.

“Masih mending dia daripada lo.”

“….” Anjing gue gondok abis ngedenger ucapan dia dan ngeliat Ikhsan yang tertawa ngakak di sebelah gue.

Gue nggak mau berlama-lama ngobrol sama Cloudy, bukan karena gue kesel dan gondok lantaran dia rese abis, tapi karena gue males aja ngeliat banyak mata cowok melihat ke arah gue dengan tatapan benci. Tak mau berlama-lama, gue langsung izin ke arah Cloudy dan bergegas pergi ke kelas.

Dan ternyata perkataan Cloudy di kantin barusan benar-benar terjadi, menjelang istirahat ke dua ada pengumuman yang bergema di setiap sound system kelas.

“Assalamualaikum. Untuk semua ketua kelas kelas 10 diharapkan berkumpul di lobby sekolah pada waktu istirahat jam ke dua nanti. Terima kasih.”

Mendengar hal itu, Ikhsan cuma bisa melihat ke arah gue. Karena hal ini juga ada sangkut pautnya dengan Cloudy yang berarti ada hubungannya dengan OSIS, mau tidak mau gue jadi harus ngikut Ikhsan kumpul di lobby sekolah selepas istirahat nanti.

.

.

.

                                                      Bersambung

Malam ini gue ada acara dulu sama temen kampus, kalau sempat sekitaran jam 11-12 malam nanti gue post lagi kelanjutannya. Hehe see you..

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Awkward Moment

Kau pikir aku tidak terluka? Hanya karena aku tidak menunjukkannya, bukan berarti aku tidak merasakannya. Kau seharusnya sudah mengenal aku lebih dari itu.

                                                              ===

.

Kalian tahu Nastar Nanas? Kue kering favorite banyak orang di tiap bulan puasa itu? Nah, keadaan gue saat ini sudah seperti Nastar Nanas, tapi sayangnya bukan di bulan puasa, tapi di malam Natal. Gimana tidak, kehadiran gue kayaknya salah banget hari ini. Seharusnya gue tidak datang tadi ketika kak Ai menyuruh gue untuk mampir. Dan seharusnya kak Ai juga tidak membiarkan hal ini terjadi. Tapi mau dikata apa, semua sudah terjadi.

Kita bertiga duduk terdiam. Ada rasa penasaran muncul di benak cowok yang Ipeh bawa, mungkin dia heran gue ini siapa, soalnya tadi Ipeh sempat memanggil gue dan itu menandakan Ipeh kenal sama gue. Sedangkan Ipehnya sendiri juga terlihat penasaran perihal kehadiran gue di sini tuh dalam rangka apa, tapi Ipeh tetap terdiam.

Satu menit, kak Ai masih juga belum datang. Kita bertiga masih terdiam. Daripada nggak ada kerjaan, tangan gue entah ada angin apa mendadak mengambil toples Nastar yang disediakan di meja tamu. Namun karena bentuknya tidak seperti toples-toples di kampung pada umumnya, gue jadi kesusahan sendiri untuk membukanya. Biasanya toples orang-orang tuh simple cuma dari kaca, lha ini selain dari kaca, juga ada sejenis manik-manik dan bermacam-macam kawat nggak jelas di sekitarnya. Emang orang kayanya mah bebas ye, toples aja beda sendiri dari toples kebanyakan.

Gue puter ke kiri, kagak kebuka juga. Gue puter ke kanan, jari gue lesot. Gue tarik, juga kaga kebuka-buka. Mau gue balikin lagi ke meja tamu, tapi malu dong. Anjir naas banget. Gue dilecehkan oleh toples nastar. Nanti kalau gue punya CV, gue bakal nulis di kolom pengalaman kerja, “Gagal membuka toples Nastar.”

Hih!

Gue masih konsentrasi untuk bisa membuka toples Nastar Nanas kampret ini, sedangkan di sebelah gue Ipeh sudah melirik-lirik ke arah gue sambil nahan ketawa. Tai banget tuh anak emang. Gue udah mirip kaya orang lagi mau boker, ngeden saking berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka toples bajingan ini.

Setelah 3 menit berusaha, gue terdiam tak bersuara lagi. Gue menengok pelan ke arah Ipeh.

“Peh.. Bukain..” Gue mencoba menahan rasa malu dengan bersuara sepelan mungkin.

Ipeh menengok ke arah gue. Mukanya sudah nahan ketawa banget. Bibirnya tertutup tapi bergetar karena ingin ketawa ngakak. Gue tahu Ipeh menyadari kekampungan gue seperti ini, dulu aja ada makanan yang namanya salad eh malah gue sebut lotek. Jadi wajar kayaknya kalau sekarang gue kagak bisa ngebuka toples aneh seperti ini. Namun Ipeh sepertinya mengerti keadaan gue sekarang, dia mengambil toples yang sedang gue pegang, dan menggeser sebuah tuas kecil di pinggir mulut toplesnya, lalu dengan mudahnya toples itu terbuka begitu saja.

Melihat hal itu, muka gue langsung terkejut. Anjir gampang banget ternyata. Bangke! Gue ditipu sama toples. Gue sudah terlanjur malu, benar-benar malu. Sambil terus melihat ke arah Ipeh, gue ambil toples itu pelan-pelan dari tangannya. Ipeh menutup mata, mencoba tidak melihat gue karena mungkin kalau dia lihat gue dia bakal ketawa ngakak sore ini.

Pelan tapi pasti, gue lahap dengan ganas satu demi satu Nastar Nanas di dalam toples tersebut sambil menunggu kak Ai datang kembali ke ruang tamu. Karena tadi siang sepulang sekolah gue ikut rapat OSIS, gue jadi lupa untuk menyempatkan diri makan siang, alhasil siang ini gue laper banget. Hingga tanpa sadar, Nastar Nanas yang tadi masih setengah toples itu kini habis tak bersisa.

Gue tahu dari tadi tampaknya Ipeh melirik terus ke arah gue, ada gelagat sesekali kepalanya menengok sedikit untuk melihat gue yang ada di sebelahnya, terus pura-pura melihat lurus ke depan lagi. Gue yang saat itu masih sibuk mencari remah-remah sisa Nastar Nanas di dasar toples, ternyata sedang diperhatikan oleh Ipeh.

“Lapar, pak?” Bisik Ipeh pelan sekali.

Gue kaget, gue langsung melihat ke arahnya dengan tatapan bete.

“Tai lu!” Balas gue tanpa suara lalu kemudian Ipeh menutup mata lagi mencoba menahan tawa.

Sesaat setelah pembicaraan singkat tadi, cowok di sebelah Ipeh tampaknya sadar dan tiba-tiba mengajak Ipeh berbicara. Walaupun suaranya berusaha dikecilkan sebagaimanapun, gue masih bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tampaknya si cowok penasaran banget gue ini siapa, sedekat apa hubungan gue sama Ipeh. Tapi gue tidak peduli, gue lebih mempedulikan nasib perut gue yang sekarang benar-benar melilit.

“Maaf, kamu siapa ya?” Tiba-tiba cowok di sebelah Ipeh bertanya ke arah gue.

Gue melihat ke arahnya sebentar, lalu memalingkan pandangan lagi ke depan tanpa menjawab sedikitpun. 

“Hei kalau ditanya jawab dong!” Tambahnya lagi. Kini nadanya lebih tinggi.

Gue tetap diam tidak menjawab. 

“Si anying budek ternyata.” Kata cowok itu sambil mendengus kasar.

Mendengar kata-kata terakhirnya barusan, entah kenapa emosi gue langsung meledak-ledak di kepala. Muncul kembali kebencian yang teramat sangat di dalam otak gue mengingat gara-gara orang inilah gue jadi nggak bisa dekat lagi sama Ipeh.

Gue menengok ke arah cowok tersebut. Cowok tersebut juga melihat ke arah gue. Tangan gue sudah mengepal, namun gue masih bisa tahan karena gue juga harus sadar bahwa sekarang gue lagi ada di rumah Ipeh. Kalau nanti ada satu guci pecah, bisa-bisa tabungan gue buat naik haji ludes disuruh ngegantiin. 

Ipeh yang tahu sepak terjang gue dalam hal berantem langsung menahan pundak gue. Gue melihat ke arahnya, Ipeh tampak khawatir. Gue mendengus kasar lalu kembali memalingkan wajah ke depan. 

Tidak lama kemudian, kak Ai datang dari dalam rumah membawa beberapa minuman di dalam gelas.

“Maaf lama nunggunya.” Ucap kak Ai.

“Silakan diminum.” Tambahnya lagi.

Kak Ai mempersilakan kita untuk bersantai terlebih dahulu. Dia duduk menghadap ke arah kita bertiga.

“Jadi.. Dimas, apa kabar?” Tiba-tiba kak Ai melontarkan pertanyaan yang aneh sekali ke arah gue.

“Eh? Dimas, kak? Ngg.. baik kok..” Gue kaget.

“Kemana aja, kok udah jarang main lagi ke rumah kaya dulu?”

DEG!!
Mendadak setelah mengucapkan kata-kata seperti itu, hawa di sekitar gue jadi nggak enak. Walaupun gue tidak tahu apa-apa, tapi kalau gue ada di posisi cowoknya Ipeh dan mendengar bahwa ada satu cowok yang sering main ke rumah ini dulu, pasti gue langsung sakit hati.

Ngg.. sibuk, kak, hehehe..” Jawab gue spontan.

“Kangen deh. Mba Afi juga nyariin Dimas tuh. Terus papah mamah juga nanyain Dimas, katanya mana pacar Ifa yang dulu kok jarang main ke rumah lagi?” Tambah kak Ai.

DEG!!
Ipeh di sebelah gue mulai panik. Bagaimana tidak, semua perkataan yang diucapkan kak Ai tadi benar-benar bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih lagi buat hubungan Ipeh dan cowoknya.

“Kak! Apasih! Jangan ngomong yang nggak-nggak deh!” Kata Ipeh kesal.

“Loh kakak kan cuma nanya ke Dimas aja, emang nggak boleh?” 

“…”

“Dimas, makasih yah dulu udah jagain Ifa.”

“I..iya, kak.”

“Apalagi waktu Ifa lagi marahan sama kakak, sampe ngerepotin Dimas dan keluarga. Bukanya pulang ke rumah, eh Ifa malah nginep di rumah kamu.” 

JEGER!!
Ucapan kak Ai tadi benar-benar membuat keadaan makin nggak enak. Kita bertiga terdiam. Ipeh cuma bisa tersenyum dengan sangat dipaksakan. Gue cuma bisa menarik napas pelan-pelan. 

“Maaf, kak, dia siapa ya?” Mendadak si cowok memecah keheningan.

Kak Ai menatapnya, “Wah kurang tahu ya, coba kamu tanya Ifa.” Jawab kak Ai dingin. “Dimas, temenin kakak duduk di luar yuk.” Tambahnya lagi sembari berdiri dan langsung pergi meninggalkan kita bertiga.

Suasana mendadak hening. Awkward.

Kalau saat ini gue ada di posisi cowok Ipeh, mungkin gue sudah naik pitam mendengar semua yang diucapkan kak Ai tadi. Apalagi waktu terakhir cowok ini mencoba dengan sopan bertanya, kak Ai malah menjawabnya dengan dingin dan langsung pergi begitu saja. Seakan tindakan kak Ai tadi menempatkan gue sebagai cowok yang diterima di keluarga ini, sedangkan dia tidak.

Tidak mau berlama-lama di ruang tamu, gue langsung berdiri dan mengambil tas gue yang sedari tadi ada di lantai. Sebelum pergi, gue menyempatkan untuk menengok ke arah cowoknya Ipeh. Rasa kesal karena sempat dihinanya tadi membuat gue benar-benar emosi. Ingin rasanya gue pukul nih Kamper WC sampai terkapar, tapi kayaknya bukan hari ini. Namun gue juga nggak boleh pergi dengan begitu saja tanpa balas!

“Peh, gue pulang sekalian ya. Sampai jumpa besok, titip salam buat mamah sama papah.” Ucap gue seraya mengusap-usap rambut Ipeh lalu pergi ke halaman depan.

Ipeh bengong. Dia tidak bergerak sama sekali ketika gue mengusap-usap rambut pendeknya itu. Si cowok tadi yang melihat hal itu langsung emosi. Dia berusaha mencengkram tangan gue namun keburu Ipeh tahan. Sebelum pergi gue sempatkan menatapnya sambil tersenyum sinis. Seakan saat itu gue sudah menang telak dari dirinya. Gue nggak peduli status gue dengan Ipeh saat ini apa, tapi yang jelas tujuan gue cuma ingin membuat si Kamper WC di sebelahnya Ipeh itu merasa sakit hati. 

Gue meninggalkan mereka berdua sendirian lalu bergegas pergi ke halaman depan. Di sana sudah ada kak Ai duduk di sofa halaman sambil serius bermain dengan ponselnya.

“Kak, Dimas pulang aja deh ya kayaknya. Nggak tahu kenapa jadi males banget rasanya di sini.” Kata gue.

“Yaudah gih, aku juga sebenarnya nggak tahu mau ngomong apa kalau kita ngobrol di sini. Hahaha.”

“Yeee ternyata cuma alasan doang toh tadi tuh?”

“Gimana? Tadi bagus kan?” Tanya kak Ai tersenyum licik.

“Parah banget tadi, tapi diam-diam aku kasih pujian deh, kak. Hahahaha.”

“Hahahaha sama aja ya kamu, tapi tenang aja, Dim. Aku sama mbak Afi lebih setuju Ifa sama kamu kok ketimbang sama dia.” Jawab kak Ai.

“Hehe makasih, kak. Kalau gitu Dimas izin pulang dulu yaa.” Tukas gue yang langsung pamit dan berjalan menuju parkiran motor.

Sesampainya di motor, gue melihat ada motor si Kamper WC lagi mejeng di sebelah motor gue. Masih nggak terima lantaran sempat dihina olehnya, tanpa pikir panjang langsung gue cabut busi motornya dan menaruhnya di kolong jok. Biar tahu rasa tuh monyet, motornya kaga bisa nyala nanti. Bhahahahak.

.

                                                                ===

.

Keesokan paginya ketika pelajaran Sejarah sedang dikumandangkan di dalam kelas, mendadak ada satu surat datang diantar oleh seseorang ke dalam kelas. Kita yang dari tadi sedang memperhatikan mendadak pandangannya teralihkan kepada satu orang yang sedang mengantarkan surat itu ke dalam kelas. 

Bu Eva–Guru sejarah gue– membaca surat itu sebentar sebelum pada akhirnya menatap ke arah gue.

“Dimas, tuh kamu dapet surat dispen dari OSIS.”  Ucapnya.

Mendengar ada kata-kata sakral, “Dispen”, semua mata anak-anak langsung tertuju ke arah gue. Terutama mata anak-anak geng keledai. Siapa lagi kalau bukan Ikhsan, Bobby, sama Nurhadi.

“Kok elo dapet dispen sih, Nyet?” Tanya Ikhsan.

“Mana gue tahu.” Jawab gue sekenanya.

“Tukeran sama gue dong, males nih gue laper pengin ke kantin.” Mendadak Bobby yang duduk di depan gue ikutan nimbrung.

“Ambil aja gih, lagian kalau pelajaran sejarah mah mending gue di dalem kelas.” Jawab gue.

“Anjir, manusia aneh dasar! Sama Sejarah doyan amat lo.”

“Maklum, Bob, mahluk purba. Lahirnya aja dicudahin sama Ki Hadjar Dewantara.” Kata Ikhsan yang langsung kembali tidur-tiduran sambil nyender di tembok.

Gue nggak tahu ada dispen apa hari ini, tapi gue lebih memilih untuk tidak menghiraukan surat panggilan itu. Gue sekarang lebih nyaman dengerin Bu Eva cerita tentang sejarah Indonesia. 

30 menit berselang, mendadak pintu kelas diketuk. Ada seorang wanita cantik masuk ke dalam kelas. Dia berambut panjang, dengan bibir tipis, kulitnya putih langsat, hidungnya kecil, matanya belo, wajahnya oriental, tapi ada sedikit keturunan bulenya. Ikhsan yang sedari tadi terlelap langsung mendadak bangun ketika insting hewannya mengatakan bahwa ada mahluk hidup nan semok gemulai masuk ke dalam kelas.

Perempuan itu sopan sekali, dia mengetuk pintu sekali dan meminta izin sebentar ke guru sejarah.

“Ya, ada apa?” Tanya bu Eva.

“Maaf, bu, saya perwakilan dari OSIS mau bertanya, apa Dimas masuk sekolah hari ini?” Tanyanya anggun.

“Dimas? Ada kok. Tuh yang paling keriting di deket jendela.” Kata Bu Eva.

“Ah iya makasih, bu. Ngg.. Dimas, bisa ikut saya sebentar?” Ucapnya santun sekali, benar-benar mencurigakan.

“Ngg.. Tapi.. Tapi..” Gue masih ragu untuk meninggalkan pelajaran sejarah hari ini.

“Dimas..” Suaranya mulai meninggi. Daripada ada kejadian apa-apa, akhirnya gue nurut juga.

“Bu, saya izin keluar dulu ya.” Gue pamit.

Setelah gue berjalan ke luar kelas, pintu ditutup oleh perempuan itu. Dia menengok pelan ke arah gue, senyum wanita sopan yang tadi ditunjukkan di hadapan anak-anak kelas mendadak sirna. Wajah cantik yang sempat gue puji tadi sekarang sudah mirip sama wajah grandong.

CYUT..

Ada cubitan pedas mendarat di pinggang gue. Sontak gue meringis kesakitan.

“Aduh, Dee!! Kenapa harus nyubit sih!” Gue meringis kesakitan.

“Tadi surat Dispen udah dateng lebih dari 30 menit. Terus kenapa lo nggak keluar sih?! So Sibuk banget jadi orang!”

“Lagi pelajaran sejarah tadi..”

“So what? Nggak bisa diandelin banget sih jadi cowok!”

“Yaudah maaf maaf, tapi nggak usah pake acara nyubit juga kale.” Gue masih meringis kesakitan sembari mengelus-elus pinggang gue.

“Kenapa? Nggak suka?”

“…”

Lagi berdebat kusir dengan Cloudy, dari belakang gue jendela kelas tiba-tiba dibuka.

“Heh berisik! Kagak tahu kalau ada orang yang lagi tidur apa hah?!” Ucap Ikhsan yang kepalanya muncul setengah dari jendela.

“Eh Tali Opak! Orang lain lagi belajar lah elo malah molor!” Balas gue yang langsung menengok ke arah belakang.

“Udah sana pergi. Bikin iri aje, udah dapet dispen, eh terus sekarang elo lagi pacaran sama cewek cakep.” Kata Ikhsan lagi.

Mendengar hal itu, gue dan Cloudy langsung saling bertatapan awkward. Tapi tak lama kemudian Cloudy langsung bergegas pergi meninggalkan gue sendirian. Gue mengacungkan kepalan tangan ke arah Ikhsan sebentar lalu kemudian berlari dan menyusulnya.

Hari itu ternyata gue baru tahu kalau ada rapat OSIS. Beberapa para senior OSIS sudah lebih dulu nongkrong di ruangan OSIS. Ada yang gitar-gitaran, ada juga yang baru datang dari kantin sehabis jajan. Biasanya anak-anak OSIS memang pada kaya gini kalau lagi dapat dispen. Intinya cuma mau rapat sebentar aja sih, tapi izin di surat Dispennya suka nggak kira-kira, dari pertama jam masuk sekolah sampai nanti jam 2 siang baru kelar. Benar-benar para murid yang berbakti semua.

“Kemana aja lu, Dim?” Kata Acil, senior keamanan gue.

“Hehe iya kang, suratnya telat datang.” Kata gue berdalih.

“Yaudah duduk dulu aja, anak-anak yang lain lagi pada jajan dulu di kantin.”

“Ngg.. kakak ketua Osisnya kemana ya, kang?” Tanya gue lagi.

“Lagi main Futsal di lapang. Habis ngasih dispen ke ruang Piket, doi malah langsung main Futsal sama yang lain.” Jawabnya sambil cengengesan.

Anjir! Ketua OSIS-nya aja lagi main futsal. Bhahahahahak memang ya kalau masa SMA itu kagak pernah ada yang serius, bahkan ketua OSISnya aja sekarang bukannya buka rapat tapi malah asik di lapangan.

Selang 20 menit, ketua OSIS beserta anak-anak yang lain datang mengisi ruang rapat. Baju mereka keluar semua, penuh keringat, dan banyak bekas tanah lantaran sehabis main Futsal.

“Nah sudah pada ngumpul semua. Yuk dimulai rapatnya.” Ucap kakak ketua OSIS yang langsung berdiri di depan.

Hari itu kita rapat untuk membahas semua seluk beluk tentang jalannya acara jalan-jalan ke Museum yang diadakan besok khususnya untuk anak-anak kelas satu. Kang Jawa selaku logistik membicarakan barang-barang apa saja yang diperlukan, terus Cloudy yang bertindak sebagai sekretaris masih terus serius mencatat semua perihal rapat hari ini. Kakak Pembimbing ospek gue yang nggak jelas kebagian sebagai panitia apaan juga lagi sibuk berbicara serius dengan anak buahnya.

Sedangkan gue, kang Acil, dan semua anak kemanan malah asik ketawa-ketiwi di pojok belakang. Kang Acil ini badannya kecil tapi kekar, namun siapa sangka, di luar perawakannya yang menyeramkan itu, ternyata kang Acil ini adalah penikmat bokep sejati. Dia selalu update tentang bokep terbaru. Dari yang Jepang, Lokal, sampai yang Bule. Selama jalannya rapat, tak henti-hentinya kang Acil menyombongkan koleksi bokep di hapenya kepada anak keamanan yang lain. Judulnyapun macam-macam, ada yang judulnya “ASD-Ambar”, “Gladys Anak BPI Indonesia”, “ABG dalam Rumah”, “ABG WOT Mantaf”, “Abg_toge_cakep_diemprit_bokapnye_berkali-kali”, “AyamKampusPasrah”, “Daunmuda_Pasundan”, “Daleman Serba Ungu”, “Bersama Selly Di Malam Tahun Baru”, dan masih banyak lagi.

Selain video bokep, kang Acil ini juga terkenal sebagai informan paling update kalau tentang bokep, hampir seluruh anak OSIS tahu keahlian kang Acil ini. Dari yang namanya forum apa saja yang paling bagus buat download bokep, sampe ke situs apa saja yang bisa ngasih dowloadan paling anyar. Bener-bener juara deh, juara dosanya. 

Karena panitia keamanan tidak mendapatkan banyak Jobdesc, alhasil kita semua pada santai-santai tidak sibuk seperti panitia yang lain. Tapi tetap saja ada beberapa hal yang harus dilakukan para anak-anak keamanan. Kita dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk dikhususkan mengawasi anak-anak kelas satu yang akan berjalan arak-arakan dari sekolah ke museum. Segala masalah yang terjadi di sana akan dipertanggung jawabkan kepada anak-anak keamanan.

Semisal kalau ada yang kecelakaan, keseleo, atau ada huru-hara di jalan, semua jadi tanggung jawab anak keamanan. Dan agar semuanya bisa terkordinasi dengan baik, maka kak Acil membagi anak buahnya ke beberapa kelompok. Gue kebagian ngurus kelompok kelas A alias kelas gue sendiri. Acara akan dimulai besok jam 7 pagi. Dan para panitia diwajibkan datang jam 5 pagi untuk rapat sebentar dan menyiapkan beberapa persiapan yang lainnya. 

.


                                                                     ===

.

Sabtu jam 05.00

Gue memacu motor gue perlahan menyusuri jalanan kota Bandung yang masih sepi. Dinginnya Bandung subuh-subuh kaya gini benar-benar menyiksa tulang. Bulu-bulu di tubuh gue pada berdiri semua. Dari bulu kuduk di ubun-ubun, sampe bulu selangkangan pada berdiri semua. Saat itu di sekolah masih benar-benar gelap dan sepi, hanya terlihat beberapa panitia yang sudah datang dan menunggu di sekolah, ada juga yang lagi berdiri di depan gerbang.

Ketika hendak memasuki gerbang sekolah, mata gue sempat mencari tahu panitia siapa yang sedang berdiri sendirian di depan gerbang itu. Setelah gue mendekati, ternyata itu Cloudy. Dia memakai jaket tebal sekali, tangannya di lipat ke dalam dada tanda kedinginan.

“Hoi Bawel, ngapain lo di sini?” Tanya gue yang memberhentikan motor gue di sebelahnya.

“Kepo.” Jawabnya dingin tanpa menoleh.

“Masuk gih, yang lain udah pada ngumpul tuh. Diem di luar mulu, beku entar lo lama-lama. Cewek manis kalau beku nanti kaga ada bedanya sama es bon-bon.” Kata gue.

“Apasih. Nggak lucu.” Cloudy tetap terdengar jutek.

“IH! Kesel gue lama-lama! Dah ah kagak peduli lagi gue!” Kata gue dongkol.

“Bodo amat.” Jawabnya tetap tanpa menoleh ke arah gue.

Tanpa pikir panjang gue pacu motor gue ke dalam sekolahan dan memarkirkannya. Namun sebelum gue sempat pergi ke dalam sekolah, entah kenapa gue masih tetap melihat ke arah cewek jutek itu. Walau ngeselin, tapi gue juga kagak tega kalau ngebiarin dia tetap sendirian di luar kaya gini. Secara pelan-pelan gue langsung menghampiri ke arahnya dan langsung menarik tangannya.

“NGAPAIN SIH?!” Tiba-tiba Cloudy menghempaskan tangan gue sehingga pegangan gue terlepas dari lengannya.

“Masuk! Ngapain sih lo di luar kaya gini?!” Gue mulai kesal.

“Urusan gue kali. Nggak usah mau tahu terus kenapa sih?!”

“Setidaknya kasih tahu gue alasan lo berdiri sendirian di sini kaya patung pancoran!”

“…”

“Kalau nggak mau jawab, gue bakal tetap paksa lo masuk ke dalam!” Gue mulai menggenggam lengannya lagi.

“Aku lagi nunggu supir aku! Puas?!” Tukasnya sambil terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman gue.

“Lha ngapain?”

“Berkas Rundown aku ketinggalan. Sekarang lagi mau dianter supir!”

Gue terdiam. Ini gue yang begok atau otaknya dia yang emang lembek kaya opak kesiram Ekstra Jos sih?

Gue melihat ke arahnya dengan tatapan heran.“Kan elo tinggal nunggu di dalem aja! Supir elo kan bisa masuk ke dalam sekolah buat nganterin. Ngapain juga lo diem di sini kaya pinguin!” Kata gue kesal.

Mendengar nasehat gue barusan, Cloudy terdiam. Kayaknya dia juga baru sadar kalau saat ini dia sedang berlaku bodoh. Tapi emang pada dasarnya cewek gengsian, nih bocah kagak pernah mau ngaku dan ngerasa salah. Dia tetap keukeuh sama pendiriannya.

“Kalau akunya mau nunggu di sini kenapa? Masalah buat lo? Udah sana masuk, ngapain sih di sini. Urusan aku gimana aku!” Ucap Cloudy bete.

“ARGH!!” Gue mendengus kasar dan pergi begitu saja ke dalam sekolah meninggalkan dia sendirian di luar.

Dasar cewek! Gengsinya gede banget, udah tahu saran gue bener, eh masih aja nggak mau ngaku salah. Gue berjalan cepat-cepat menuju ke arah kantin lalu menggedor pintu kantin yang baru buka setengah. 

“Bu, Milo panas dua!” Tukas gue.

Setelah menunggu 2 menit, gue langsung buru-buru pergi lagi ke gerbang mendatangi cewek jutek yang masih berdiri di sana. Dari belakang gue lihat kakinya bergetar tanda kedinginan. Beberapa kali badannya bergoyang karena menggigil.

“Nih!” Gue menyodorkan satu milo panas di dalam kemasan cup plastik yang dibungkus plastik putih.

Cloudy hanya menatap ke arah gue. 

“Ambil! Jangan bikin gue kesel lagi! Setidaknya kalau lo nggak mau ngikutin saran gue, nih ambil. Bandung dingin banget kalau jam segini, gue bawain minuman anget biar lo nggak terlalu kedinginan.” Ucap gue kesal

“Nggak usah ditolak, ambil aja! Kalau lo nggak ngambil, berarti lo nggak ngerhargain apa yang udah gue beli! Cepet ambil!” Tambah gue lagi.

Akhirnya dengan muka masih cemberut, Cloudy mengambil Milo Panas yang gue berikan. 

“Makasih..” Ucapnya pelan.

Gue cuma melihat ke arahnya tanpa sedikitpun menjawab ucapan terima kasihnya itu lalu bergegas kembali masuk ke dalam sekolah.

.

.

.

                                                                  Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Transisi

Entah apa maksudnya. Tapi tak sadarkah kau bahwa sejauh apapun kita mencoba untuk jauh dan tidak akrab lagi, Tuhan selalu menempatkan kita pada satu kesempatan yang memaksa kita untuk terus bertemu sapa. Lantas, siapakah kita di mata Tuhan? 

                                                               ===

.

Gue melihat jam yang ada di tangan gue dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Dengan buru-buru gue beresi segala formulir yang berserakan di atas meja dan bergegas masuk ke dalam kelas. Sekarang pelajaran Sejarah, salah satu pelajaran yang paling gue suka. Daripada diem di luar sendirian nggak jelas kaya gini, gue lebih baik ngikutin pelajaran Sejarah sama Geografi selama  1 hari penuh.

Kelas masih terlihat ramai lantaran belum ada guru yang masuk. Ketika gue hendak masuk dan duduk di sebelah Ikhsan, ternyata tempat duduk gue sudah dipake sama Nurhadi yang lagi ketawa-ketawa mesum sambil nyolokin earphone ke kupingnya. Pasti kalau nggak lagi nonton film DedekJanganTeriakYa.3gp, ya paling lagi dengerin lagu Lengser Wengi. Emang kalau turunan kuntilanak mah lagunya religi semua..

Gue celingak-celinguk sebentar mencari tempat duduk. Gue sempat melirik ke Ipeh dan ternyata tempat di sebelahnya kosong. Tapi ya masa gue duduk sama tuh anak. Pffft bikin emosi aja mikirinnya juga.

“Mai..” Ucap gue seraya menaruh kertas formulir pendaftaran OSIS di atas mejanya.

“Apa? bikin kaget aja.” Ucapnya sambil main hp.

“Gue duduk di sebelah lo ya.” Balas gue lagi.

“Lha tumben, ada angin apa? lagi marahan sama homoan kamu?” Tanya Mai.

“Iya tuh. Gue diselingkuhi sama Duren Nigeria..”

“Siapa? Nurhadi?”

“Iya.”

“HAHAHAHAHAHA DASAR!! TEMEN SENDIRI IH KAMU TEH!”

“Biar ah. Gue di sini ya.”

“Yaudah.” Mai mengambil tas yang ada di kursi sebelahnya dan mempersilakan gue untuk duduk.

Sambil nunggu pelajaran, gue ngobrol ke sana kemari dengan Mai. Dengan segala macam hal-hal yang nggak jelas tapi ya ngalir gitu aja. Dari yang namanya ngomongin baso karena Mai juga doyan sama yang namanya baso, sampai ngomongin gosip terbaru yang lagi marak di kalangan anak-anak cewek.

Mai ini nggak terlalu pinter orangnya, sama kaya gue, jadi kalau ngomongin pelajaran juga kita jarang nyambung.

“Mai, Fisika remed nggak?” Tanya gue mendadak.

“Iya anjir.”

“HAHAHAHAHA GUE KIRA LU LOLOS.”

“Kayak yang nggak remed aja kamu.”

“Wuih jangan tanya. Remedial banget dong gue..” Tukas gue bangga.

“Eh btw kan katanya kamu udah belajar bareng Ipeh, gimana sih?”

Mendengar Mai menyebut nama Ipeh, gue langsung terlihat sedikit bete.

“Kenapa? kok jadi bete pas aku nyebut Ipeh?”

“Lagi nggak akrab gue. Biasa lah.”

“Bukannya kalian tuh jadian ya?”

“Kata siapa. Ipeh doang kali yang jadian.” Jawab gue dingin sambil berpangku dagu menatap kosong ke arah papan tulis.

“Eh Ipeh udah jadian?!” Tanya Mai antusias.

“Hooh, nape? bahagia amat keliatannya lu.”

“Nggak papa sih.”

“Tapi denger-denger sih, Ipeh banyak yang nggak suka deh.” Ucap Mai bisik-bisik.

“Eh? Gimana maksudnya?” Mendengar perkataan Mai tadi, gue langsung duduk tegak dan fokus melihat ke arah Mai.

“Iya, gosipnya sih gitu. Jadi Ipeh kan anak karate tuh, nah dia juga kan tipe anak yang gampang akrab sama cowok alias supel gitu anaknya. Nah terus gue nggak tahu ada masalah apa, tapi anak-anak dari kelas sebelah sih kayaknya pada nggak suka aja sama dia.”

“Terus terus? Gara-gara masalah apa?”

“Iya, cowok yang disukain anak-anak cewek sebelah ternyata deket sama Ipeh gitu. Temen Ipeh karate.”

“Hooo..”

“Kamu tahu kan kalau anak cewek mau ngegencet anak cewek yang lain kaya gimana?” Mai semakin mendekat ke arah gue.

“Ditindih-tindih gitu? Mau dong ditindih sama anak cewek..”

“SERIUS DIMAS!!”

“LHA YA IYA GUE SERIUS. MAU GUE KALAU DITINDIH CEWEK MAH LAH!! REJEKI JANGAN DITOLAK!”

PLAK!!
Kepala gue dipukul pake tupperware.

“Maksudnya tuh, dibully gitu. Tapi nggak fisik sih, mental.”

“Kagak ngerti gue, maksudnya gimana?”

“Ah begok ah. Ngeselin!”

Lagi kebingungan gara-gara dimarahin Mai, tiba-tiba dari belakang ada orang yang ikutan nimbrung.

“Cieee ada yang lagi PDKT kilat nih setelah ditinggal Ipeh..” Ucap Ikhsan sambil nusuk-nusuk pipi gue pake pensil inul.

“APAAN SIH LO!! MULUT EMBER AMAT KAYA CEWEK!!” Gue keplak kepalanya pake botol Aqua kosong.

“Lagi ngomongin apaan sih. Kayaknya serius banget.” Tanya Ikhsan.

“Ini.. masalah Ipeh, San.. Jadi Ipeh itu..”

“Kertas apaan tuh, Dim?”

“ANJIR GUE NGGAK DIWARO!! OKE FIX!!” Mai terlihat bete ketika ucapannya dipotong sama Ikhsan.

“Hahahaha baru dateng udah pada berantem aje lu kayak kalajengking.”

“Nyet itu kertas paan?”

“Formulir pendaftaran OSIS.”

“Lu mau masuk OSIS?” Tanya Ikhsan penasaran.

“Iya, daripada bete sendirian di sekolah. Lagian elo juga lagi apet banget sama Tasya. Ikut gabung yok di OSIS, temenin gue bro..” Gue memohon-mohon.

“Hmm.. kayaknya asik ya ikut organisasi..” Ikhsan mulai berpikir.

“Nah, bareng gue aja, kita daftar sore ini.”

“Gue mau ikut Organisasi ah, tapi nggak mau OSIS.” Tukasnya.

“Lha, apa dong? Futsal? Basket?”

“DKM..”

“…”

“…”

Mendengar ucapannya, Mai yang tadi lagi memperhatikan kita mendadak memalingkan muka dengan wajah mual. Gue yang mendengarkannya pun langsung terdiam tak bersuara lagi.

“Lagak lo, Nyet, ikut DKM. Baca Iqro aja belum khatam. Sunat dulu sana baru boleh ikut DKM.”

“EH ANJIR MENGHINA!! Gini-gini gue sholeh yee! Mayat aja gue sholatin langsung bangun lagi gara-gara kagum!”

“Lo kira lo pawang Vampir Cina. Udah OSIS aja, kebetulan kita lagi butuh Fotografer.” Kata gue asal ngomong.

“Iya nanti gue pikirin deh. Tapi gue dari pertama masuk sekolah emang udah pengin ikut DKM sih, Dim.”

“Eh? Ini tuh serius? gue kira lo bercanda lah..”

“Serius gue. Akhlak gue itu kalau dibandingkan sama elo mungkin jauhnya kaya Bumi dan Langit. Jauh banget.”

“…”

“Mai, elo sendiri ikut organisasi apa?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

Akhirnya kita bertiga larut dalam pembicaraan sambil menunggu guru sejarah masuk ke kelas. Gue sesekali nimbrung, sesekali juga ikut ngelawak sama Ikhsan bareng. Kita bercengkrama akrab sekali. Sambil berpangku dagu, mata gue sempat beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah Ipeh. Suara tawa Ikhsan dan Gue yang menggelegar ini tak ayal sering membuat Ipeh melirik diam-diam ke arah kita bertiga. Dan sering kali juga gue melihat Ipeh sedang melihat ke arah kita bertiga dengan tatapan sinis.

Gue yang lagi tertawa pelan karena guyonan Ikhsan, mendadak sedikit terhenti ketika Ipeh berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri kita. Dia berjalan dengan wajah yang terlihat kesal dan berdiri di depan meja gue. Dia sama sekali tidak menatap gue. Dia hanya menatap ke arah Mai.

“Mai.” Ucap Ipeh Singkat.

“Eh Ipeh, kenapa Peh.” Jawab Mai.

“Gue mau bayar uang kas sama Uang Renang.” Kata Ipeh lagi dingin.

“Sebentar..” Mai langsung membuka kembali catatannya. “Kalau uang Kas sih kamu udah kumplit, Peh. Uang renang juga.” Ucap Mai menjelaskan.

“Gue mau bayar renang untuk 2 bulan ke depan.” Jawabnya sinis sambil memberikan uang 50 ribu.

Buset, orang kaya mah beda ya. Gue aja bayar paling banter cuma sepuluh ribu, itu juga dicicil 12 bulan. Lha ini Ipeh langsung bayar 2 bulan ke depan, mana uangnya 50 ribuan pula.

Setelah menyerahkan uang renang, Ipeh kembali pergi dan duduk di tempatnya lagi. Hal ini membuat gue dan Ikhsan saling berpandang-pandangan dengan tatapan yang penuh tanya.

“Tuh kan, kalian liat kan? elo sih Dim..” Tiba-tiba Mai memukul tangan gue pelan.

“Hah?! Gue?! Kenapa? gue salah apa?!” Gue kaget.

“Masa nggak ngerti juga sih? Peka dong. Tuh Ipeh liat tuh jadi kaya gitu.”

“Hah?! Elo ngomongin apa sih?! Ngomong yang jelas jangan kaya orang lagi kumur-kumur gitu ah!”

“Peka dikit makanya jadi cowok tuh!”

Gue yang nggak tau apa-apa ini langsung menengok ke arah Ikhsan.

“Lha. Nyet, emang lo ngerti apa yang Mai omongin?” Tanya gue.

“Kaga. Gue juga kaga ngarti.” Ikhsan menggaruk-garuk kepala.

“Ah cowok di mana-mana sama aja. Nggak peka. Hih!” Tukas Mai ketus.

“…”

Pagi itu gue benar-benar nggak mengerti apa yang Mai maksudkan. Berulang kali gue bertanya tentang hal ini, Mai malah terus saja menyuruh gue untuk peka dan mencari tahu apa artinya sendiri. Bahkan hingga pulang sekolah pun gue melihat dari jauh Ipeh terlihat sinis sekali melihat ke arah kita berdua.

.

                                                               ===

.

Sepulang sekolah, gue langsung bergegas pergi ke depan kelas Cloudy untuk menyerahkan beberapa formulir pendaftaran OSIS yang sudah banyak Tip-X nya. Gimana tidak, gue akui gue orangnya emang ceroboh, maka dari itu ada beberapa kali salah mengisi pernyataan di lembar formulir ini.

Salah satunya adalah pernyataan di kolom Jenis Kelamin. Waktu gue lagi asik mengisi data diri berupa alamat lengkap. Ikhsan yang sedari tadi memperhatikan gue yang tengah serius ini mendadak bertanya ke arah gue. Katanya sih dia mau bantu gue buat ngisi ini formulir ini karena waktunya senggang. Alhasil daripada ngedengerin tuh anak ngomong nggak jelas, gue izinin aja dia buat bantu gue ngisi formulir.

Tapi emang pada dasarnya dia itu anak Anjing, ya pada akhirnya gue harus menelan penyesalan karena pernah mengizinkan dia untuk membantu gue melakukan hal-hal yang serius dan critical kaya ngisi formulir ini. Ketika orang-orang normal pada umumnya akan mengisi dengan isian “Pria” atau “Wanita” pada kolom Jenis Kelamin, Ikhsan mah beda. Bukannya mengisi dengan isian yang seharusnya, eh dia malah menggambar jenis kelamin pria di sana.

Dan yang lebih gobloknya lagi, dia menggambar pakai pulpen, plus gambaran Kelamin yang dia gambar itu lengkap dengan urat-urat beserta tetek bengek lainnya.

Anjir gue kaget banget ketika melihat di formulir gue ada gambar terong balado kaya gitu! Diawali dengan nyolok lubang hidung Ikhsan terlebih dahulu pake garpu popmie karena kesal, gue langsung buru-buru menghapusnya dengan Tip-X. Mana gambaran yang dia buat gede banget lagi ukurannya, ini sih bukan terong lagi, tapi Timun Suri! Alhasil lembar formulir gue becek penuh sama Tip-X. Setan!

Setelah setidaknya itu Timun Suri tidak terlalu terlihat jelas lagi di formulir OSIS, gue langsung bergegas lari menuju ke depan kelas Cloudy sesuai janji gue tadi siang. Gue menunggunya dengan sabar sembari duduk di tembok depan kelas. Beberapa anak-anak kelasnya tampak sudah pada bubar sekolah, hingga lambat laun kelasnya kini mulai sepi. 

Sudah hampir 45 menit gue menunggu sendirian di sini, sebelum pada akhirnya gue menjumpai sosoknya berjalan terburu-buru ke luar kelas sambil sibuk memasukan buku ke dalam tas kecilnya.

“Eh, Cloud. Ini Formulir gue..” Ucap gue yang langsung memberhentikan gerak langkah cepatnya.

Cloudy sedikit terkejut, ia melihat ke arah gue sebentar dan langsung mengambil kertas formulir yang gue suguhkan tanpa melihatnya lebih dahulu. Tanpa basa-basi, Cloudy langsung pergi begitu saja dengan langkah yang terburu-buru. Namun selang 30 detik, dia berbalik dan menggenggam lengan gue lalu menariknya.

“Ikut gue. Ada rapat sekarang.” Ucapnya tanpa menengok.

“Loh, gue kan baru ikut OSIS, masa udah ikut rapat lagi. Kagak enak ah, Cloud.” Kata gue sambil menahan langkahnya.

“IH BAWEL!! Lo itu cewek atau cowok sih, mulutnya nyerocos aja kaya petasan jangwe! Udah pokoknya ikut aja, rapatnya udah dimulai daritadi.” Tukas Cloudy marah-marah di depan muka gue.

“…” 

Buset nih cewek, dia tau juga tentang Petasan Jangwe toh? Hahahaha canggih juga.

Selama perjalanan menuju ruang OSIS, tangan gue masih dia genggam erat seakan gue sama sekali nggak tahu di mana arah ruang OSIS tersebut.

“Eh, Dee. Emang OSIS lagi buat acara apa sih?” Tanya gue.

“…”

“Acara besar ya? Kok gue belum lihat ada pengumumannya di mading sih?”

“…”

“Buset gue dicuekin. Elo sendiri di acara ini kebagian jadi apa, Dee?”

“…”

“…”

“…”

“Jam dinding pun tertawa~ karena ku hanya diam dan membisu, ingin kumaki, diriku sendiri, karena tak berkutik di depa….”

“BERISIK!!!” Tiba-tiba Cloudy menghentakkan tangan gue sehingga pegangannya lepas.

“Salah lagi. Salah lagi.” Kata gue sambil terus ngedumel. Nih cewek kayaknya emang terlahir untuk benci banget sama gue ye.

Setelah menaiki anak tangga, akhirnya kita berdua sampai di depan pintu ruang OSIS. Sebelum masuk, Cloudy mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan merapihkan pakaiannya sebentar. Sedangkan gue yang nggak tahu apa-apa malah asik mainan Tamagochi yang dijadikan gantungan kunci di sleting tasnya Cloudy.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu diketuk oleh Cloudy lalu ia menarik tangan gue untuk mengikutinya masuk ke dalam. Karena ruangan OSIS ini tidak terlalu besar, walaupun anggotanya tidak banyak, ruangan ini tampak sesak sekali. Banyak dari mereka yang duduk di lantai, ada beberapa yang pangku-pangkuan di sofa, ada juga yang sampai duduk di meja komputer. Buset udah kaya rumah Yatim Piatu aja nih organisasi.

Cloudy menarik tangan gue agar duduk di belakang, sedangkan ia langsung beranjak pergi ke depan, berdiri di sebelah seseorang yang lagi duduk di meja komputer. Cloudy berbisik sebentar kepadanya lalu kembali diam.

“Oke, kita lanjutkan lagi ya. Sebelumnya kita perkenalkan dulu anggota OSIS kita yang baru, kebetulan dia temannya Cloudy. Siapa namanya?” Tanya dia ke arah gue yang masih duduk dengan wajah cengo ini.

“Ngg.. Dim.. Dimas, Kak.” Jawab gue.

“Oke Dimas, perkenalannya dilanjut nanti dulu ya. Sekarang kita mau lanjutin rapatnya.”

“Iya, Kak.” Ucap gue nurut.

Selama hampir satu sampai dua jam, anak-anak OSIS yang ada di ruangan ini pada ribut dan berdiskusi tentang acara yang akan mereka buat dalam waktu dekat ini. Selama mereka berbicara, gue mencoba berbaur seakrab yang gue bisa, gue mencoba mendengarkan dan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dari tadi. Setelah cukup lama mendengarkan, gue menyimpulkan bahwa acara mereka selanjutnya adalah acara sejenis Study Tour kecil-kecilan untuk anak kelas satu ke Museum-Museum di Bandung.

Sebenarnya ini acaranya anak kelas satu sih, tapi entah kenapa para kakak-kakak kelas yang jadi ketua sekbid pada terlihat bersemangat sekali. Karena penasaran, akhirnya gue mencoba bertanya..

“Kak permisi mau nanya..” Tanya gue kepada seorang cowok di depan gue yang sedari gue masuk tadi, doi masih aja fokus nulis. Entah nulis apa, lirik proklamasi mungkin.

Setelah gue sentuh-sentuh bahunya, dia langsung berbalik. 

Namun nggak gue sangka-sangka, begitu dia berbalik, kita berdua langsung sama-sama terkejut karena merasa sudah saling kenal sebelumnya. Bahkan mungkin bukan kenal aja, tapi akrab!

“LOH DIMAS?!?!” Ucapnya keras sekali.

“LHA, KAKAK?!” Gue ikut terkejut.

Astaga!! Ternyata yang ada di depan gue ini adalah kakak pembimbing ospek gue yang dulu. Yang terkenal ngondek seantero jagat sekolahan. Pantesan aja waktu gue colek pundaknya tadi, dia langsung bergelinjang sambil mendesah. Dasar!

“Kamu anak OSIS juga sekarang?” Tanya dia antusias sambil langsung berbalik dan mencubit pipi gue.

“Aduuuuh.. duh.. Iya kak. Baru masuk 2 jam yang lalu.”

“Kok aku nggak liat sih?!” Ucapnya sambil nyubit pinggang gue.

“Kakak nulis terus sih daritadi..”

“Oh iya, Ikhsan mana Ikhsan? Ikut OSIS juga nggak dia?”

“Enggak, dia ikut DKM, kak.”

“BAH!! Jin Ifrit salah masuk organisasi tampaknya. Hahahaha.”

“Eh kakak juga anak OSIS toh? kok aku baru tahu ya..” 

“Iya, kebanyakan dari mereka yang kemarin menjabat di salah satu posisi waktu OSPEK itu ya anak-anak OSIS juga.”

“Oh gitu…”

EH?!?
Kebanyakan yang menjabat di salah satu posisi waktu ospek itu ternyata anak OSIS juga?! Bentar-bentar.. Jangan bilang.. Jangan bilang kalau kakak keamanan cewek yang dulu pernah marahin gue dari pertama gue masuk sampai di hari akhir itu ternyata anak OSIS juga?!

Anjir!
Kenapa gue harus selalu hidup dalam satu lingkungan bareng dia sih?!

.

.

.

                                                              Bersambung

Previous Story: Here

Kanina sumigaw ako ng “Para!”
At ang jeep na aking sinasakyan ay huminto na.
Mabilis ngunit marahan akong bumaba.
Tatawid na sana.
Ngunit may mensahe na nabuo bigla:
“Sana parang pag-sigaw nalang ng “Para!”
Ang nararamdaman ko para sa’yo, sinta.
Madali na gawin, kontrolado ko pa.”