mankon

Teknik Sipil: Selalu Bekerja dalam Tim

Pernahkah kamu memerhatikan sekitar, beragam bangunan, jalan raya, jembatan, pelabuhan, bandara, dan berbagai infrastruktur yang ada. Percaya tidak, ada satu jurusan yang ngurusin itu semua?

Percayalah saudara-saudari, semua ini bisa kamu temukan di Teknik Sipil! #jengjengjeng

Apa Itu Teknik Sipil?

Mungkin belum banyak anak SMA yang paham mengenai isi jurusan ini sebelumnya. Sewaktu tahun pertama kuliah, seorang teman pernah bercerita, “Iya, jadi temen gue nggak tahu apa itu teknik sipil. Dia malah nanya, ‘masuk teknik sipil buat jadi apa sih, PNS ya?’”. Nah, jika kamu termasuk yang belum mengerti… Teknik Sipil adalah program studi yang belajar tentang membuat apapun yang merupakan infrastruktur kehidupan manusia. Rumah, gedung, pabrik, jaringan jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, bendungan, irigasi, sebut deh semuanya! Itu semua dipelajari di Teknik Sipil. Seru? Pastinya. Pusing? Pasti banget, hohoho…

Sebagian orang masih belum paham bedanya Teknik Sipil dan Arsitektur. Analogi sederhana supaya mudah dimengerti:

Perhatikanlah suatu bangunan. Arsitek merancang bentuk bangunan tersebut, sementara insinyur Teknik Sipil merancang kekuatan bangunannya. Insinyur Teknik Sipil dan Arsitek bekerjasama dalam membuat berbagai macam infrastruktur. Kecuali untuk jembatan ya, baik rancangan bentuk maupun kekuatannya, semua dikerjakan oleh Teknik Sipil B-)

Di Universitas Indonesia (kampus saya), pada tahun pertama semua yang dipelajari adalah mata kuliah dasar universitas dan mata kuliah dasar teknik. Baru di tahun ke dua mulai masuk mata kuliah khusus jurusan. Di tingkat tiga, kamu sudah bisa memilih mata kuliah sesuai peminatan yang diinginkan, kemudian diperdalam dengan mata kuliah pilihan di tingkat empat.

Mahasiwa Teknik Sipil juga dibiasakan untuk bekerja dalam kelompok, baik melalui praktikum, tugas besar, dan mata kuliah spesial. Hal ini penting untuk pascakampus karena memang engineer Teknik Sipil pasti bekerja dalam tim. Mengutip kata dosen saya,

“Tidak ada seorang engineer Teknik Sipil yang hebat, yang dikenal adalah sekelompok engineer Teknik Sipil yang hebat,”.

Peminatan Teknik Sipil

Di zaman orangtua kita kuliah dulu, mahasiswa Teknik Sipil belajar semua-muanya. Saat ini, tidak sekompleks itu. Kurikulum di kampus-kampus membagi Teknik Sipil menjadi beberapa peminatan yang bisa dipilih oleh para mahasiswanya.

- Struktur

Sebenarnya, ini inti dari ilmu Teknik Sipil. Di peminatan struktur, kamu akan belajar lebih serius tentang merancang kekuatan infrastruktur, bangunan, jembatan, dan sebagainya agar sanggup menahan beban yang ada di atasnya. Kekuatan betonnya, material bahan bangunan dari bawah sampai atap, Juga belajar bagaimana merancang bangunan yang tahan gempa, dan meneliti material-material komposit (campuran) yang hemat namun tetap kuat. Segala sesuatu tentang kekuatan bangunan ada di peminatan ini.

- Geologi Teknik (Geotek)

Masih berbicara soal kekuatan infrastruktur, di peminatan geotek kekuatan yang dibahas lebih spesifik lagi yaitu bagian yang ada di dalam tanah: pondasi. Di geotek banyak belajar tentang perancangan pondasi dan perilaku tanah. Juga mendalami bagaimana merancang ‘perangkat bawah tanah’ yang lain seperti dinding penahan tanah, dan bagaimana merekayasa tanah agar mampu mendukung bangunan yang akan didirikan di atasnya. Mengutip kata senior saya, orang-orang geotek adalah mereka yang rendah hati karena meski kerja mereka tak terlihat namun pondasi di dalam tanah itu berperan penting pada kekokohan suatu bangunan,

- Manajemen Sumber Daya Air (MSDA)

MSDA mengkhususkan diri pada bangunan infrastruktur yang berhubungan dengan keairan, seperti bendungan dan irigasi. Air punya perilaku dan sifat-sifatnya sendiri yang berbeda dibanding beton atau tanah, sehingga di peminatan MSDA belajar khusus bagaimana merekayasa aliran air agar bermanfaat bagi kehidupan manusia. Saya pribadi beranggapan bahwa orang-orang MSDA itu adalah manusia-manusia jenius, karena sesungguhnya mekanika fluida itu lebih rumit daripada mekanika struktur dan mekanika tanah (saya tidak mengatakan dua yang terakhir ini mudah lho, tapi semua bisa dipelajari sih :D).

- Manajemen Konstruksi (Mankon)

Jika kamu tidak terlalu tertarik soal merancang kekuatan, mungkin kamu akan tertarik mendalami manajemen konstruksi. Di peminatan ini, kamu tetap harus memahami logika struktur, namun yang dipelajari lebih detail adalah ilmu manajemennya–bagaimana manajemen SDM, waktu, biaya, dan sumber daya lain agar suatu proyek pembangunan berjalan sesuai target. Orang-orang yang masuk ke peminatan ini biasanya mereka yang rajin, soalnya meskipun ‘beban’nya lebih ringan daripada peminatan lain, namun tugas-tugas kuliahnya yang paling banyak.

- Manajemen Transportasi

Kalau kamu merasa tidak cocok dengan empat peminatan sebelumnya seperti saya, kamu bisa melarikan diri ke peminatan transportasi. Eh, tapi transportasi sendiri sudah cukup menarik tanpa harus jadi tempat pelarian sih. Ketika saya masih mahasiswa baru, saya bertanya ke seorang senior transport kenapa beliau mengambil peminatan ini dan jawabannya,

 “Kalau beton dari zaman dulu sampai sekarang kan gitu-gitu aja, sementara transportasi itu dinamis, berubah-ubah sepanjang waktu.

Cakupan transportasi sangat luas dari perkerasan jalan, bentuk geometrik jalan, dan jaringan jalan. Tidak melulu soal jalan, transportasi juga mempelajari ekonomi, keselamatan, dan beberapa topik khusus seperti jalan rel, transportasi barang, sampai perancangan pelabuhan dan bandar udara. Karena banyak bersinggungan langsung dengan perilaku manusia, transportasi bisa dikatakan bidang yang paling banyak sisi sosial dan lebih dinamis dibanding peminatan lainnya.”

Setelah Lulus Bisa Jadi Apa?

Dengan gelar S-1 Teknik Sipil, kamu bisa jadi apa saja dan bekerja dimana saja, serius, selama pembangunan masih terus berlangsung, maka selama itu pula insinyur Teknik Sipil diperlukan. Lulusan Teknik Sipil bisa bekerja sebagai developer, kontraktor, konsultan, Kementrian Perhubungan atau Pekerjaan Umum, berbagai BUMN, dan profesi lainnya yang sesuai bidang keilmuan ini. Insinyur Teknik Sipil juga dibutuhkan di perusahaan tambang, oil and gas, dimanapun yang butuh infrastruktur untuk dibangun.

Jika ingin mengejar mimpi yang tidak sejalan dengan latar belakang keilmuan nantinya, kamu masih tetap bisa melakukannya, bekerja di bank misalnya, karena S-1 Teknik Sipil (paling tidak di kampus saya) menekankan pada logika berpikir, bukan semata teknis penggunan rumus atau hal yang lebih praktikal lainnya. Ketika kuliah dosen-dosen saya pernah bilang,

“Dalam mendesain kalian harus paham betul filosofi desainnya. Jadi bukan cuma bisa merancang bentuk geometrik tikungan, tapi kalian harus bisa menjelaskan kenapa tikungannya di tempat itu, bukan di tempat lain. Atau jika merancang bangunan, bukan hanya soal kekuatan betonnya, tapi harus punya argumen mengapa meletakkan kolom (tiang bangunan) di sana.”

Teman-teman yang kuliah di D-3 Teknik Sipil biasanya akan lebih jago dalam teknis lapangan di dunia pascakampus karena kurikulumnya memang menyiapkan mereka untuk itu. Namun, para lulusan S-1 lah yang (harusnya) lebih memahami alasan-alasan dibalik keputusan desain yang ada.

Negara ini terus berkembang dan butuh banyak ahli untuk ikut membangunnya. Tidak hanya mereka yang mahir, namun juga memiliki moral yang kuat. Bidang pekerjaan Teknik Sipil menjanjikan materi yang besar, sebanding dengan godaan yang besar pula untuk mengambil yang tidak halal. Sudah bukan rahasia bahwa banyak terjadi permainan uang dalam proyek-proyek pembangunan, dari mulai proses lelang sampai konstruksinya. Maka dari itu, bidang ini butuh orang-orang yang pandai, berkarakter, dan sungguhan peduli pada kehidupan yang dibangun lewat infrastruktur yang dirancangnya. Kamu merasa mampu? Ayo masuk jurusan ini! :)

(*)

Ilma Alyani | @ilmaalya

Teknik Sipil, Universitas Indonesia

ilmaalya.tumblr.com