maker: amal

Jangan meninggalkan amal

Jangan meninggalkan amal karna takut  tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik dari tidak beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan dzikir karna ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari dzikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berdzikir.

Jangan meninggalkan tilawah. karna tidak tau maknannya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firman-Nya.

Jangan meninggalkan dakwah karna kecewa. Kesabaran kita bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang-orang yang tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karna berat. Beratnya amanah yang kita emban insyaAllah sebandingdengan beratnya timbangan amal yang akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karna terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan

Jangan meninggalkan kesantunan karna lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.

“ Ya Allah yang memalingkan hati manusia, palingkanlah hati diatas ketaatan kepada-Mu. Wahai yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Renungan Tarbiyah Dzatiyah
-Taujih ODOJ18

Amal’s invitation to the OC Ball apparently came with a heap of cash designated “FOR TAILORED FORMALWEAR ONLY.” He didn’t mind going for it.

He likes sherwanis, but feels self-conscious when wearing one, because the traditional length on his build… well, it makes him look pretty squat. So I guess he took the opportunity to get a custom cut! :O

What did TJ get?  Oh… oh lord. I guess we’ll find out later.

youtube

Amal Albaz clears some misconceptions

Jangan Percuma

oleh: Ahmad Fuady

Saat pertama kali saya ke luar negeri karena mendapat fellowship studi riset, Ayah saya cemas luar biasa. Bukan karena saya tak punya uang, tapi lebih karena Ayah tak pernah melihat saya bicara dengan bahasa Inggris di rumah. Kecemasan itu lantas membuat kesehatannya turun drastis dan saya menemukan satu hal yang baru saya sadari: saya gagal belajar bahasa Inggris.

Nilai bahasa Inggris saya tak pernah kurang dari angka delapan, bahkan nilai ujian akhir SMA saya hampir menyentuh angka sembilan. Tapi, belajar bukan sekadar persoalan angka. Belajar adalah perkara amal –praktik. Peristiwa kecemasan Ayah itu cermin kegagalan pembelajaran saya. Percuma saja belajar dan ujian dengan angka tinggi, tapi tak pernah sedikitpun mempelihatkan jejas pembelajarannya dalam keseharian.

Ayah telah menggedor keresahan saya. Tiba-tiba saya seperti mendapat nasihat yang lebih banyak. Percuma nilaimu bagus, tapi amalmu miskin. Percuma kau mengaji dan paham keutamaan shalat sunnah dan jamaah, tapi langkah kakimu jarang ke masjid. Percuma suaramu bagus melantunkan Al Qur’an, tapi ia tak hadir dalam kesendirianmu. Percuma kau hafal seribu kisah tentang nabi, tapi tak juga bisa singkirkan kebohongan dalam hari-harimu. Percuma kau tahu fadhilah infaq, tapi kantongmu kau kunci dengan kekikiran. Percuma kau hafal ribuan hadits, tapi tontonanmu tak sedikitpun menyisakan ruang bagi Rasul menjadi teladanmu. Percuma kau berdebat tentang apakah bersentuhan dengan lawan jenis membatalkan wudhu-mu, tapi kau tak pernah risih saling bersentuhan ketika tanpa wudhu. Percuma kau menulis jejeran artikel dan kritik ilmiah, tapi kau sendiri tak mampu mengkritik dirimu. Percuma kau melagukan shalawat, rawi dan barzanji, tapi kau tak juga kau bersikapasyidda-u ‘alal kuffar dan ruhamaa-u baynahum. Percuma nilai matematikamu sempurna, tapi kau tak paham bagaimana menggunakan logika. Percuma kau dalami biologi dan kedokteran, tapi tak menambah rasa syukurmu kepada Tuhan. Percuma kau menyebut 10 malaikat di luar kepala, tapi tak pernah merasa hidupmu terawasi. Percuma kau mengangguk-angguk ketika disampaikan kepadamu bahwa pernikahan akan menjagamu dan melancarkan rizkimu, tapi kau lebih suka berlama-lama pacaran. Percuma kau mengerti bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang meluaskan dan menyempitkan rizki, tapi doamu hanya rutinitas dan hafalan, bukan sungguhan. Tapi, shalatmu hanya kelaziman, bukan persembahan. Tapi, dzikirmu hanya berakhir di lisan, bukan penghayatan.

Peristiwa itu begitu membekas, seolah bernasihat dengan jelas: Ayah tak butuh nilai sekolah saya. Ayah hanya butuh saya mengamalkan apa yang saya pahami. Apalagi, Allah.

Rotterdam, Mei 2013

2

We shot two or three days in the Sept. Jonathan Pryce is a lot of fun; I’ve enjoyed working with him this season. I was also with Finn Jones, who plays Loras, all that time. It was very moving and fitting that Finn and I should be together for those last three days and the brother and sister should go to their fate together, because you see the brother and sister relationship so beautifully over the years. They go to their deaths physically holding each other.
- Natalie Dormer for Harper’s Bazaar, June 2016.