maidah

CATATAN RINGKAS, apabila ditanya anak/cucu tentang Al-Quran: (tanya jawab)

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah
S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran?
J : 30 Juz
S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?
J : 60 Hizb
S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran?
J : 6236 Ayat
S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran?, dan Berapa Jumlah Hurufnya?
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf
S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran?,
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.
S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?
J : 14 Sajdah
S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : 25 Nabi
S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran?, sebutkan.
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.
S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? sebutkan.
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.
S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran?
J : 29 Surah.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyyah?, sebutkan 10 saja.
J : Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyyah? sebutkan lima saja?
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.
S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa’, Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.
S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.
S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.
S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.
S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.
S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.
S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas
S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk
S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Khafi
S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255
S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.
S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)
S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.
S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.
S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.
S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 hSurah al-Baqarah…

Silakan "Share” agar ilmu ini bermanfaat.

Surat Al-Maidah [Bag.20/24]

Surat ke-35 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


20. Jangan Mengekor

Ayat berikut ini berisi aturan yang lain di antara aturan-aturan halal dan haram. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yan gberiman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” - Al-Maidah: 105

Suatu ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. berkhutbah di hadapan para sahabat, “Sesungguhnya kalian menempatkan ayat ini bukan pada semestinya”. Ia berkata seperti itu karena orang-orang mengira bahwa makna firman Allah, “’Alaikum anfusakum (Jagalah dirimu)” adalah janganlah kalian menyeru seseorang menuju pintu hidayah, barangsiapa yang menghendaki kesesatan maka ia akan tersesat. Pemahaman mereka yang keliru semacam itu bisa menyebabkan orang meninggalkan dakwah kepada Allah.

Akan tetapi makna ayat tersebut adalah jika seandainya semua orang di sekelilingmu telah mengubah (batasan) halal dan haram serta tidak menunaikan akad sebagaimana mestinya, jagalah diri kalian wahai orang-orang yang beriman. Tetap teguhlah kalian di atas kebenaran dan janganlah sekali-kali kalian mengubah hukum-hukum agama. Makna tersebut sejalan dengan hadits Nabi saw.,

“Janganlah seseorang di antara kalian berlaku imma’ah (ikut-ikutan atau mengekor), jika orang lain berlaku baik, maka kamu menjadi baik, dan jika orang lain berlaku jelek, maka kamupun melakukannya. Akan tetapi yang harus kamu lakukan adalah, jika orang lain berlaku baik, maka berlaku baiklah seperti mereka, dan jika mereka berlaku jelek, maka janganlah kalian berbuat zhalim”

Dengan demikian, maka ayat 105 ini berkisar pada dua seruan terkait perintah dan larangan. Pertama, larangan untuk tidak mempersulit diri sendiri. Kedua, larangan supaya tidak terpengaruh oleh keburukan orang lian atau lingkungan di sekitar kita.

>> Index pembahasan surat Al-Maidah <<

Serial lainnya:

وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

And there are not for the wrongdoers any helpers.

— Surat al Maidah : 72

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.
—  QS Al-Maidah : 9

Yang Allah Tunjukkan Melalui Al-Maidah 51

Bila ada satu kejadian besar di Indonesia di 2016, pastilah itu kasus penistaan Al-Qur'an. Sebab dari situ kita diperlihatkan rentetan peristiwa lain yang sama pentingnya

Dari situ kita mampu melihat apa isi rezim ini dan komplotannya, siapa yang ada dibelakangnya, dan apa yang menjadi dasar dan tujuan perjuangannya, yang pasti bukan Islam

Dari situ juga kita bisa melihat ternyata ummat Islam masih punya harga diri, kecintaan yang tersisa pada agamanya, terlepas masih banyak yang harus dibenahi

Dari situ juga kita bisa melihat siapa yang berpura-pura dalam ke-Islamannya, tapi hatinya condong pada kekufuran dan mesra bergandeng dengan penista agamanya sendiri

Dari situ pula kita tahu mana kelompok yang mengaku Muslim tapi justru membela penista agama dan malah menyulitkan kaum Muslim yang teguh pada agamanya

Allah buka pada kita pula bagaimana strategi kaum yang tak suka pada Islam ini untuk menjauhkan agama dari ummat Islam, yaitu sekulerisasi, memisahkan agama dari negara

Kita dicekoki, seolah memperjuangkan Islam adalah makar, seolah menginginkan tegaknya syariah itu anti-NKRI, seolah menginginkan pemimpin Muslim itu anti-pancasila

Padahal yang mencintai negeri ini tahu, bahwa yang membela Nusantara adalah para mujahid dan ulama, bahwa penjajah negeri ini justru 100% kafir, itu kenyataannya

Pancasila, UUD, juga menjamin bahwa beragama adalah hak tiap warga Indonesia. Pertanyaannya, mengapa seolah Muslim tidak boleh punya pemimpin seperti syariatnya?

Sementara di kubu kekufuran, mereka dibebaskan berteriak bahwa keberagaman adalah meninggalkan agama dalam urusan politik, mereka bebas mengajak kufur

Dan kita saksikan perlindungan, keberpihakan, dan tidak adilnya pihak-pihak yang berwenang dalam penuntasan kasus penistaan Al-Qur'an ini, sangat terang dan jelas

Semua ini jadi hikmah dan pelajaran bagi kita, bahwasanya ada satu hal yang kita syukuri. Bahwa Islam betul-betul jalan yang benar, bahwa hanya pada Allah kita berharap

Yang jadi tantangannya pada saat ini adalah, memastikan tiap langkah kita itu di dalam Islam. Walau kita pasti akan hadapi orang, kelompok, dan kekuatan besar dibalik kekufuran ☺️☺️☺️

Ramon Damora

MASALAHNYA,
GUE BUKAN AHOK

sorry men
gue baca yasin
bukan black campaign

gue cuman zikir
pengen diam
ngapain lo mikir
macam-macam

gue datangin
majelis taklim
lo sinis, ngeklaim
kampanye hitam

kasian lo, bro
bentar-bentar kepo
masjid masjid gue
qur'an qur'an gue
udah, jangan rese

sejak lahir
gue diazanin
islam haqqul yakin
lakum dinukum
waliyadin
stop ngerecokin

imam gue takbir
gue takbir
imam gue ngingetin
bahaya “waladhdhaallin”
semua kompak amin
simple, men
nggak usah cemen

nggak perlu juga kale
cari-cari simpati
bikin pencitraan
korban penzaliman
ayat-ayat suci

baru surat al maidah
satu ayat
lo udah marah-marah

ge-er amat

santai dong
jangan gotong-royong
nodong-nodong

jakarta perlu
orang super
bukan gubernur
bentar-bentar baper

gue pake songkok
pengen sujud rukuk
mencari ridho ilahi
buat nabung pahala

sayang gue bukan ahok
yang berani nyeletuk
kalau dia mati
langsung masuk surga

2016

Saya suka dan merupakan salah satu paporit saya karena menurut saya Dr Zakir Naik itu cerdas… Semoga Allah selalu menjaga Beliau dan keluarganya

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang.
Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam.

Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung.
Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris (1)

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan.

Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris.
Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah.
Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”
(QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.
Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…”
(QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik.
Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu.
Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M.
Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan.
Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali.
Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi.
Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran.
Di Surat Al Baqarah 13 kali,
di Surat Ali Imran 1 kali,
di Surat An Nisa’ 2 kali,
di Surat Al Maidah 3 kali,
di Surat Al An’am 2 kali,
di Surat Al A’raf 18 kali,
di Surat Yusuf 7 kali,
di Surat Hud 3 kali,
di Surat Ibrahim 3 kali,
di Surat Al Isra’ 2 kali,
di Surat Al Kahfi 2 kali,
di Surat Maryam 1 kali,
di Surat Thaha 16 kali,
di Surat AL Anbiya’ 1 kali,
di Surat Al Hajj 1 kali,
di Surat Al MU’minun 2 kali,
di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali,
di Surat An Naml 3 kali,
di Surat Al Qashash 17 kali,
di Surat AL Ankabut 1 kali,
di Surat As Sajdah 1 kali,
di Surat Al Ahzab 1 kali,
di Surat Ash Shafat 2 kali,
di Surat Ghafir 5 kali,
di Surat Fushilat 1 kali,
di Surat Az Zukhruf 1 kali,
di Surat AL Ahqaf 2 kali,
di Surat Adz Dzariyat 1 kali,
di Surat An Najm 1 kali,
di Surat Ash Shaf 1 kali, dan
di Surat An Naziat 1 kali.

Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?

Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam.
Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52,
Ali Imran ayat 55,
Ali Imran ayat 59, dan
Az Zukhruf ayat 63.

Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam.
Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru.

Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia”
(QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan.
Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan,
Efraim adalah anak Tuhan,
Ezra adalah anak Tuhan.
Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan.
Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan.
Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.”
Niscaya tidak akan pernah ketemu.

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”

“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.
Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.
Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah.
Nabi Isa mengakuinya sendiri.
Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah.
Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”.
Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.
Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku”
(Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati.
Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia),
Nabi Ilyasa (Elisa),
Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan
Petrus.

Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati?
Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an.
Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.

Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

Pertanyaan Kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup”

“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Jawaban atas Pertanyaan Kelima

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib.
Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus.
Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut.
Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini.
Jadi Anda meyakini yang mana?
Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib?
Anda pasti akan bingung sendiri.

Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat.
Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal.
Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa.
Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah.
Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning.
Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah.
Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah”
(HR. Abu Daud; shahih)

Surat Al-Maidah [Bag.18/24]

Surat ke-35 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


18. Hati-hati Menghadapi Cobaan

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biar pun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih” - Al-Maidah: 94

Ayat ini mengingatkan kepada seorang muslim akan cobaan yang terkadap menimpanya, sebagai ujian yang diturunkan Allah kepadanya atas keimanan dan kebenaran dalam menjalankan aturan halal dan haram.

Ayat tersebut turun sewaktu para sahabat tengah melaksanakan umrah, dan Allah menguji mereka supaya tidak berburu binatang dalam situasi apapun yang menimpa diri mereka.

Oleh karena itu, ayat berikutnya mengatakan,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram…” - Al-Maidah: 95

Ayat tersebut memberikan penegasan terhadap makna yang sama. Di sana terdapat korelasi yang jelas antara awal dan akhir surat. Jika dilihat lebih fokus, keduanya menjelaskan tentang hukum-hukum binatang buruan.

>> Index pembahasan surat Al-Maidah <<


Serial lainnya:

Sisi negatif era milenialis: Adu pendapat yang tidak terarah

Ditulis tiap habis sahur, Insya Allah setiap hari sampai tanggal 20 ramadhan.

Sebenernya hari ini saya mau menulis tentang Syumuliyatul Islam. Tapi karena beberapa buku referensi saya tertinggal di Surabaya, akhirnya hari ini saya isi dengan sharing sedikit hasil pengamatan saya tentang dunia kita sebagai muslim milenialis. Anyway sebagai bocoran, saya lagi punya projek riset kecil-kecilan tentang muslimah milenialis. Jadi mungkin beberapa bulan ke depan, saya bakal mewawancara teman-teman di tumblr secara acak. Insya Allah kalau riset ini selesai, hasilnya bakal saya susun menjadi buku.

Sebelum mengerjakan projek ini, saya melakukan study literatur dan wawancara pendahuluan tentang marketing dan lifestyle generasi milenial. Di antara buku-buku yang saya baca, saya merekomendasikan buku Generation M: Young Muslims Changing The World karya Shelina Janmohamed. Buku ini menarik. Isinya tentang gambaran gaya hidup muslim milenial global. Meskipun nggak semuanya sesuai dengan kondisi di Indonesia, tapi buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi aktifis dakwah yang sedang mendapatkan amanah untuk menangani marketing dakwah.

Zaman sekarang kan era terbuka banget. Sosial media menjamur. gaya hidup masyarakat urban kelas menengah sangat konsumtif. Reaksi kita pun bermacam-macam. Ada yang happy banget karena bisa punya peluang jualan online. Ada yang ngerasa jengah kalau kejebak drama sosial media yang entah itu isinya gegalauan anak usia dua puluhan ato jenuh lihat gaya hidup zaman sekarang yang gemerlap dan bikin lupa akhirat.

Saya sendiripun kadang galau. Iman suka naik turun. Saya memang introvert. Tapi pada dasarnya, saya suka berpetualang. Bukan petualangan dalam artian travelling. Saya itu suka random banget nyobain hal-hal baru, plus suka ngikutin isu-isu kekinian. Positifnya sih, saya jadi tahu kabar ummat. Negatifnya, kadang saya juga ikut-ikutan keseret gaya hidup yang berlebihan. Konsumtif, nggak zuhud dan suka mubadzirin barang. Huft…semoga nggak selamanya begini ya :D

Kita nggak bisa ngelihat zaman ini dari sisi negatif doang ato sisi positifnya doang. Setiap hal itu datang sepaket dengan sisi positif dan negatifnya. Nah di tulisan ini, saya pengen ngebahas satu sisi negatifnya dulu. Besok Insya Allah akan disambung dengan ulasan yang lain. Soalnya pas saya coba breakdown semua sisi positif dan negatifnya, tulisan di Microsoft Word jadi sekitar dua puluh halaman A4. Panjang banget. Nanti belum dibaca, udah bosen duluan.

Well, ini sisi negatif yang pertama.

Adu pendapat yang sangat ramai dan tidak terarah di media sosial

Hari ini banyak orang jengah membaca twitwar di twitter atau berita-berita hoax yang bertebaran di timeline. Setiap orang merasa berhak berbicara, berhak memaki-maki orang yang tidak mereka kenal, dan kadang banyak juga orang yang nggak nyadar keseret ke perbuatan penghinaan agama atau ras tertentu.

Di dunia maya, ada banyak sekali artikel yang terbit di setiap harinya. Sementara di dunia nyata, ada banyak buku baru yang terbit setiap hari. Sayangnya, banyaknya informasi yang tersaji dalam bentuk buku maupun artikel di media sosial ini menjadikan dunia kita terlihat sebagai semacam paradoks. 

Banyaknya informasi yang tersaji tidak berbanding lurus dengan penambahan wawasan karena ternyata generasi zaman ini lebih doyan bersuara dan berbicara dibandingkan membaca. Akibatnya sesuatu yang mereka tulis rata-rata memiliki penalaran yang dangkal dan hasil asumsi pribadi. Bukan sebuah pemikiran yang melalui studi literatur dan proses nalar yang matang. Sayang banget, padahal topik yang dibahas cukup menarik dan kekinian. Tapi kalo nggak kegarap dengan matang, ujungnya malah menghabiskan waktu untuk membaca tapi tidak menambah life skill si pembaca.

Kalo dulu buku dan bacaan sering digambarkan sebagai jendela dunia, sekarang buku dan tulisan kadang malah bikin pikiran kita jadi sempit kalau kita ngebaca judul yang salah dengan niat yang tidak tertata pula.

Berat sih pas nulis paragraf di atas. Saya sendiri jadi ngerasa kalo diri saya sinis gara-gara tulisan ini. Tapi insya Allah, saya nulis ini buat nyoba jujur tentang kondisi yang saya temukan dan siapa tahu kita bisa nemu treatment yang tepat terkait masalah ini. Hijrah berjamaah dari media sosial, jelas tidak efektif. Ini mungkin dapat menyembuhkan kejenuhan kita. Tapi tidak bisa menjadi pencerahan bagi yang lain. Sebab akar masalahnya bukan terletak pada adu pendapat. Ramainya adu pendapat ini hanyalah salah satu efek keterbukaan informasi. Mau menutup keran informasi untuk mengurangi adu pendapat? Adanya malah bikin rugi karena kita tak juga siap menyambut keterbukaan.

Kita harus memandang keramaian ini sebagai proses yang harus kita kelola. Bukan sebagai sumber masalah yang harus kita benci.

Generasi zaman sekarang mendewasa dengan internet. Hampir semua informasi beredar di sana. Dari yang kualitasnya baik sampai yang hoax pun ada. Saking banyaknya informasi, untuk mendapatkan informasi yang bagus, kita nggak cukup cuma scrolling layar, Kita harus menyelam dalam dan membandingkan banyak sekali artikel. Terlebih ketika algoritma mesin pencari zaman sekarang ngasih rekomendasi berdasarkan preferensi, kita harus bekerja keras untuk mencari banyak sekali informasi agar informasi yang masuk ke otak kita bukan cuma informasi yang ‘sesuai dengan keinginan kita’ saja.

Hal lain yang menjadi dampak banjir informasi di internet adalah terbukanya peluang bagi semua orang untuk belajar banyak hal secara otodidak. Saya termasuk orang yang terobsesi untuk bisa memberi peluang sebanyak-banyaknya bagi masyarakat untuk belajar secara otodidak dan gratis. Namun saya juga memahami potensi negatif dari metode belajar otodidak melalui internet ini. 

Penyedia materi pembelajaran memang banyak. Tapi sebagian besar hanya menyajikan materi tanpa ada kurikulum. Sehingga pembaca membaca artikel dan informasi secara random. Mereka pada akhirnya nggak bisa ngelihat body of knowledge dengan jelas. Padahal untuk mempelajari sesuatu, kita butuh tahapan yang harus diatur sedemikian rupa agar pemahaman kita utuh. Nggak berlubang di sana-sini. Bayangin aja ya, sekarang ada banyak orang yang belajar perbandingan pendapat sebelum belajar akhlak. Akhirnya banyak yang secara serampangan mengkritik ulama. Ini kalo yang dipelajarin ilmu agamal. Kalo yang dipelajari ilmu teknik seperti teknologi informasi? Disiplin ilmu teknik itu berkembang dengan pesat. Tutorial berserakan di internet. Kalo mau belajar otodidak gampang banget. Tapi efeknya, banyak orang yang skill kodingnya bagus tapi design thinkingnya amburadul minta ampun.

Dulu sempet ada kolega yang nanya ke saya: “Kalo semua informasi tersedia di internet, apa gunanya kampus?” Awalnya saya bingung menjawab pertanyaan ini. Tapi akhirnya saya nyadar bahwa kampus berfungsi untuk menjaga pengembangan sebuah bidang keilmuan agar memiliki kurikulum yang mendukung mahasiswa untuk memiliki pemahaman utuh dan sesuai dengan zaman.

Tanpa itu, proses pembelajaran akan berantakan. Akibat penyerapan informasi yang acak banget, akan ada banyak sekali orang yang baru membaca puluhan artikel tentang suatu topik tiba-tiba merasa menjadi pakar dan berhak bicara tentang topik tersebut. Padahal meskipun artikel yang dibaca banyak, bisa jadi ia hanya mewakili sebagian kecil dari sebuah topik atau disiplin ilmu. Belum mewakili secara keseluruhan. 

Saya nyoba survey kecil-kecilan ke beberapa netizen di twitter yang mengadakan kuliah tweet tentang beberapa topik random dengan menanyakan buku yang mereka baca, background akademik mereka serta background profesi. Lebih dari 60% memberi gambaran bahwa sebenarnya mereka tidak punya bekal yang memadai tentang apa yang mereka tulis selain hasil googling di internet. 

Konyol sih sebenarnya kalo ada orang yang nggak pernah baca tafsir tiba-tiba menulis tafsir Al Kafirun dan Al Maidah. Ada orang yang background akademik dan profesinya di bidang ekonomi tapi bicara perkara Telematika atau Keamanan jaringan. Tapi realita kita hari ini seperti itu. Lebih parah lagi bahkan, banyak orang yang baru dua atau tiga menit membaca artikel hasil googling lalu tiba-tiba merasa pakar di bidang itu.

Hal seperti inilah yang membuat dunia kita hari ini menyedihkan. Semua orang merasa pakar, semua orang merasa berhak bicara dan didengarkan. Lha kalo semua bersuara, pendengarnya siapa? :p

Saya mencoba merangkum gambaran solusi jangka panjang untuk permasalahan ini. Actually, solusi ini masih gambaran general dan belum detail. Saya masih berusaha memperdalam lagi. Tapi tetap saya share, siapa tahu saya bisa dapat feedback dari pembaca.

Pertama, membangun kembali budaya ilmu di generasi kita.

Dunia kita hari ini memang belum seimbang. Informasi tersedia banyak namun budaya ilmu belum terbangun dengan baik. Ada beberapa pondasi budaya ilmu yang tidak hadir di tengah-tengah kita.

Salah satunya adalah pemahaman dasar tentang konsep ilmu dan ulama. Di dalam islam, ilmu itu dipelajari untuk diamalkan. Ia tidak hanya selesai sebagai judul penelitian di dalam seminar saja. Memahami ilmu sebagai sekedar teori tanpa perlu diamalkan akan mencetak generasi-generasi ensiklopedi yang tahu banyak hal namun kepribadian mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Menanamkan pengetahuan sebagai sesuatu yang perlu diamalkan itu sangat penting. Sebab tanpa penanaman ini, semua akan berantakan.

Di era sahabat dan tabiin, kita mengenal konsep ulama yang bermakna orang yang berilmu. Orang yang berilmu di zaman itu memahami suatu perkara secara mendalam lalu mempraktekkan ilmu tersebut dalam kesehariannya. Maka tak heran bila pencari ilmu di zaman itu memenuhi sebagian waktunya dengan mengamati keseharian sang guru (ulama). Karena keilmuan sang guru benar-benar tercermin dalam akhlak sehari-hari.

Sekarang? Ijazah seseorang tidak benar-benar mencermintkan tindakan. Bagaimana tidak? Ada banyak sarjana agama yang justeru mengkritik Al qur’an, merokok, mengolok-olok orang shalih dan masih bangga menyebuat diri sebagai muslim scholar karena merasa sudah mempelajari sesuatu padahal belum mempraktekannya secara tuntas. Tidak semua muslim scholar demikian. Tapi keberadaan orang-orang yang demikian tidak bisa ditutupi. Akibatnya, ummat bingung untuk mencari siapa saja yang bisa diteladani. Otoritas ulamapun turun. Setiap orang jadi merasa berhak bicara apapun tentang Al qur’an dan hukum islam meskipun hanya dengan sedikit bekal.

Pondasi lain yang mulai hilang dalam budaya ilmu adalah menjaga kelurusan niat dalam belajar serta menjaga kejujuran di setiap proses. Dalam membahas ini, saya tidak membatasi bahwa istilah mencari ilmu adalah belajar mengajar di sekolah formal. Mencari ilmu yang dibahas di artikel ini mencakup semua ikhtiar kita dalam menambah wawasan termasuk di antaranya membaca buku, membaca artikel di internet, melihat video di youtube atau berinteraksi dengan expert.

Niat dalam belajar adalah mencari kebenaran. Niat ini harus terus menerus diperiksa dan diluruskan agar kita tidak terjebak pada nafsu yang mempengaruhi kita untuk mencari pembenaran. Menjaga keadilan dalam setiap proses pembelajaran juga penting. Yang dimaksud adil di sini adalah berani menerima informasi dan mengakui kebenarannya bila memang informasi tersebut benar meskipun ia tidak sesuai dengan selera kita. Generasi salaf adalah generasi yang tunduk pada dalil. Mereka membedah ayat Alqur’an untuk dibreakdown menjadi SOP yang dapat diimplementasikan tanpa pandang bulu. 

Hal lain yang hampir saya lupakan dan merupakan hal yang penting adalah budaya sanad. Yang saya kagumi dalam khazanah keilmuan islam adalah keistiqomahan para ulama untuk menjaga budaya sanad sehingga setiap informasi bisa ditelusuri sumbernya dangen jelas dan lengkap. Dalam dunia keilmuan islam tidak dikenal informasi yang bersumber dari anonymous. Hal ini yang dulu memotivasi saya untuk mengganti nama tumblr dari littleschwan menjadi deamahfudz.tumblr.com. Agar tumblr ini tidak anonim dan sebagai deklarasi juga: dengan menulis identitas asli, saya bertanggung jawab dengan apa yang saya tuliskan.

Dalam ulumul hadits bahkan terdapat beberapa kitab yang khusus membahas biografi perawi hadits. Sebab hal ini penting untuk memverifikasi keabsahan hadits. 

Di dunia akademik sebenarnya budaya ini tidak pudar sama sekali. Sebagai contoh, untuk mendapatkan pendanaan penelitian, seorang peneliti harus bisa dipastikan background penelitiannya. Untuk menulis paper, referensi juga harus benar-benar jelas.

Namun di dunia pembelajaran di luar sekolah dan kampus, budaya ini mulai ditinggalkan. Kita tidak lagi terbiasa memverifikasi background dari seorang penulis ketika ia membahas sesuatu. Akhirnya, setiap hal yang menurut kita masuk akal dan mengagumkan, langsung kita amini. Padahal yang mengagumkan belum tentu benar :p Dan terkadang baik kita atau penulis buku tidak mengenali kesalahan sebuah pendapat karena wawasan yang kita punya belum sampai untuk memverifikasi kebenaran pendapat tersebut.

Kalau budaya sanad dibangun lagi, setidaknya kita bisa memverifikasi sebuah pendapat dengan membandingkan pendapat dari beberapa pakar. Budaya sanad memudahkan kita untuk melacak keilmuan seseorang serta melacak para pakar di sebuah bidang ilmu.

Saya sempet mikir sih, langkah awal untuk membangun budaya sanad adalah dengan mengurangi budaya anonim dalam bertukar opini, serta mempublikasikan kepada khalayak tentang buku apa saja yang sudah pernah kita baca. Setidaknya dengan modal ini, para pembaca blog kita bisa memverifikasi tentang sejauh apa tulisan kita dapat dijadikan landasan. Anyway, yang mau tau buku apa saja yang pernah saya baca, id goodreads saya littleschwan (masih belum ganti) :D

Sejujurnya saya masih belum punya gambaran tentang bagaimana caranya mengkampanyekan budaya ilmu ini secara massive. Selama ini yang sudah pernah saya lakukan adalah membentuk kelompok belajar untuk membedah buku secara bergiliran. Paling tidak, dengan membedah buku bergiliran, kita belajar membedah background penulis, plus merangkai penjelasan beberapa buku dengan daftar pustaka yang jelas.

Kedua, selain membangun budaya ilmu, langkah yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki sisi negatif ini adalah dengan belajar fiqih jurnalistik. Di era sosmed, semua orang dapat menjadi penyalur dan penyaji berita. Sesuatu yang dulunya hanya dapat dilakukan oleh jurnalis.

Oleh karena itu, fiqih jurnalistik yang dulunya nggak begitu populer, sekarang bisa dibilang menjadi kebutuhan pokok generasi milenial. Dalam fiqih jurnalistik, kita diajarkan untuk memverifikasi informasi serta bagaimana menyikapinya. Dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, kita diajarkan untuk menyaring informasi apa saja yang bisa kita bagikan dan bagaimana cara mengemas informasi tersebut agar bisa sampai ke ummat tanpa menghadirkan kegelisahan, ambiguitas atau kontroversi. Belum banyak buku yang membahas fiqih jurnalistik. Satu-satunya buku yang pernah saya temukan adalah buku Fiqih Jurnalistik yang disusun Faris Khairul Anam dan diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar.

Demikian sharing saya tentang salah satu sisi negatif era milenialis hari ini. Semoga bermanfaat. 

10

Terrorism and Islam :

  1. Who started the 1st world war? Not Muslims.
  2. Who started the 2nd world war?  Not Muslims.
  3. Who killed about 20 millions of Aborigines in Australia?  Not Muslims.
  4. Who sent the nuclear bombs of Hiroshima and Nagasaki?  Not Muslims.
  5. Who killed more than 100 millions of Indians in South America?  Not Muslims.  
  6. Who killed more than 50 milions of Indians in North America?  Not Muslims.
  7. Who took about 180 millions of African people as slaves and 88% of them died and were thrown in Atlantic Ocean?  Not Muslims.

Muslim is not a terrorist :

  1. When America takes 1 million lives in Iraq for oil? Not terrorism?
  2. When Serbs rape Muslims women in Kosovo / Bosnia? Not terrorism?
  3. When Russians killed 200.000 Chechens in bombings? Not terrorism?
  4. When Jews kicked out the Palestinians and took their land? Not terrorism?
  5. When American drones kill entire family in Afghanistan / Pakistan? Not terrorism?
  6. When Israel killed 10.000 Lebanese civilians due to 2 missing soldiers?Not terrorism?

First of all, you have to define terrorism properly.

“Because of that, We decreed upon the Children of Israel that whoever kills a soul unless for a soul or for corruption [done] in the land - it is as if he had slain mankind entirely. And whoever saves one - it is as if he had saved mankind entirely. And our messengers had certainly come to them with clear proofs. Then indeed many of them, [even] after that, throughout the land, were transgressors.” (Surah Al - Maidah verse 32)

Negasi

Kita mengerti bahwa seharusnya semakin berpendidikan, semakin banyak buku yang dibaca, maka semakin luaslah cakrawala berpikir seseorang.

Kita tengah hidup dikerumunan orang-orang yang berpikir pendek. Tidak menggunakan pikirannya untuk menimbang terlebih dahulu tentang sebuah hal yang diterima. Orang-orang yang malas berpikir dan menerima jadi. Sedihnya, banyak sekali yang militan dalam meyakini sesuatu yang belum dipikirkannya.

Saat ini, kita tengah menyaksikan betapa masyarakat di negera ini begitu mudah terpancing, tersulut, terprovokasi, dan berbagai kenyataan yang membuat kita berpikir, dimana akal dan pikiran masyarakat kita? Saya sendiri menemukan begitu banyak kekeliruan cara berpikir, kesalahan logika, dan berbagai hal yang membuat saya sendiri bingung bagaimana menghadapi orang-orang seperti itu. Beberapa waktu yang lalu, saya membaca status yang ditulis oleh adik tingkat saya di ITB yang membuat saya merenung, kemudian berpikir.

Banyak sekali perpecahan terjadi karena seseorang salam dalam memahami konsep negasi.

Dia mengatakan bahwa tidak hujan bukan berarti cerah. Bisa jadi mendung, bisa jadi terjadi angin kencang, bisa jadi juga gempa bumi. Tidak lapar juga bukan berarti kenyang, bisa jadi memang biasa-biasa saja, bisa jadi mual, bisa jadi juga sedang kebelet ingin buang air besar. Tidak kaya juga bukan berarti miskin. Tidak pintar juga bukan berarti bodoh.

Kita tengah terjebak dalam kerumunan yang membuat negasi yang keliru; Jika kamu tidak mendukung saya, berarti kamu tidak bersama saya. Jika kamu bukan golongan kami, maka kamu salah. Jika kamu tidak setuju dengan gerakan ini, berarti kamu mendukung gerakannya.

Sepertinya banyak sekali masyarakat kita yang tidak pernah berjalan jauh, bertemu dengan lebih banyak orang, merasakan menjadi mayoritas, menikmati menjadi minoritas, mengelilingi berbagai tempat, berdiskusi dengan pikiran terbuka, juga mengkaji berbagai ilmu, dan yang paling banyak adalah orang yang jarang menggunakan akal dan pikirannya.

Kalau mau menyadari dan memahami, kita tengah berusaha dipecah belah dengan konsep-konsep negasi yang keliru semacam itu. Kita sibuk membahas perbedaan-perbedaan padahal perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak akan pernah menjadi sama semua, satu golongan semua. Sebagaimana Allah menegaskan dalam kitabNya bahwa sebenarnya mudah bagi-Nya untuk menjadikan kita satu golongan, tapi Allah tidak menghendaki seperti itu ( Q.S Al Maidah : 48)

Sadar atau tidak sadar, beberapa peristiwa akhir-akhir ini yang sering saya baca berhasil membuat saya khawatir. Apabila semakin banyak orang yang tidak berpikir panjang dalam menangkap gejala, informasi, dan berbagai hal. Semakin mudah orang mengkafirkan orang lain hanya karena beda pendapat, semakin mudah orang mengatakan kebencian hanya karena perbedaan sikap.

Renungan ini bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri saya sendiri. Kesadaran bahwa saya memiliki sikap jangan sampai membuat saya menjadi salah dalam memposisikan orang lain yang berbeda sikap dengan saya. Jangan sampai juga karena berbeda sikap dan pandangan membuat saya menjadi bersikap tidak adil terhadap orang lain.

Hidup semakin membutuhkan kewaspadaan.

Yogyakarta, 14 Desember 2016 | ©kurniawangunadi

Ucapan Terimakasih Dari Seorang USTADZ Untuk Pak AHOK

Kepada ;
YTH Bapak Ahok
Di-Tempat

Salam Kedamaian Teruntuk mereka yang mengikuti petunjuk Allah

Bpk Ahok, mungkin akhir akhir ini anda merasa tertekan karena saudara saudara kami banyak melakukan demo dan tentunya membatasi ruang gerak anda sebagai calon gubernur, hingga anda seorang Gubernur harus naik angkot demi menyelamatkan diri dari kejaran masa, sejujurnya saya turut prihatin dan nggak tega, semoga anda diberikan kesabaran …
Di saat saudara kami banyak yang menyudutkan anda, saya mencoba untuk BERTERIMAKASIH pada anda, yaa setidaknya saya mencoba memandang dari sudut pandang yang berbeda..

Bpk Ahok, pertama-tama saya ingin mengucapkan Terimakasih sebesar besarnya …

1. Karena anda sudah memotivasi umat Islam untuk mencintai kembali kitab suci mereka yang sudah lama mereka tinggalkan… alQuran alKarim
Bahkan bukan hanya sekedar cinta, taukah anda mereka juga kini semangat mempelajari tafsirnya. Jujur, Akhir-akhir ini jamaah saya banyak yang meminta kajian tafsir kembali dihidupkan di pengajian mereka. Ini kereeen pak Ahok!, percayalah pada saya, saya berulang kali menyadarkan mereka akan pentingnya mempelajari tafsir al Quran, mereka tidak memperdulikannya, tapi anda .. hanya dengan menghina 1 ayat saja, membuat mereka kini penasaran tentang keindahan alquran dan tafsir-tafsirnya dan kembali mempelajarinya…

2. Bpk Ahok, Terimakasihku juga untuk anda…
Karena anda sudah mengajarkan arti TOLERANSI yang sesungguhnya, menyadarkan bahwa toleransi bukan maknanya membiarkan setiap orang untuk menghina agama orang lain dengan sesuka hatinya. Al quran kami mengajarkan kami untuk tidak menghina tuhan siapapun, kitab apapun, tapi tindakan anda membodohkan kitab kami, menyadarkan kami siapa sebenarnya yang tidak mengerti arti toleransi?
Di Eropa berapa banyak demo anti Islam, tapi Demi Allah sebenci apapun muslimin kepada anda, belum pernah terjadi demo anti Kristen atau Cina.
Kaum Kristen dan Para Pendeta di Amerika pernah melakukan pembakaran alQuran, tapi kami tidak berniat sedikitpun untuk membakar Bible anda
Di Prancis mereka mengkarikaturkan Nabi Muhammad dalam keadaan hina, di Indonesia kami belum pernah mengkarikaturkan Yesus terlebih menistakannya
Bahkan di Negri ini, negri muslim terbesar di dunia, anda bisa menghina kitab kami sebagai alat pembohongan, tapi sampai saat ini belum ada ulama yang berkata “bapak ibu mungkin ada yang bilang Yesus anak tuhan, itu terserah bapak ibu, tapi jangan mau dibohongin pakai Bible atau macam-macam itu”
Ilmu terbesar yang anda berikan, anda menyadarkan kami sebenarnya yang RASIS itu siapa ya?

3. Bpk Ahok, Terimakasihku juga…
Karena anda sudah menunjukkan kepada kami, mana muslim sejati dan muslim munafiq yang selama ini tidak terlalu jelas dibedakan. Sayangnya anda cuma menghina al Maidah ayat 51 saja. Sebenarnya kalau anda sedikit saja melanjutkan ayatnya, anda akan menemukan di ayat 52 Allah berfirman
“Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana, ” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka"
Jadi esensi ayat 51 itu ada di ayat yang ke 52, akan munculnya orang-orang mengaku muslim, tapi lebih mencintai anda dari pada alQurannya sendiri hanya karena mengharapkan jabatan dari anda.
Ada kyai tega-teganya menafsirkan hadis “unsur akhooka” (tolonglah saudaramu) dengan memplintir tolonglah akhook. Entah apa yang ia pikirkan? Tapi bagi saya untuk seorang kyai dg titel Doktor, sungguh itu lelucon yang nggak lucu, maafkan saya jika rasa humornya tidak terlalu bagus
Ada tokoh ormas Islam, yang matanya yang melotot, menunjuk-nunjuk ulama yang jauh lebih tua darinya tanpak akhlak dengan menyampaikan argumentasi-argumentasi lemah yang bahkan tidak perlu sekaliber mbah dan kyai MUI, sayapun yang bodoh siap menjawabnya dg mudah.
Ada Partai yang mengaku berbasis wong cilik, tuntutan dari DPD membawa aspirasi rakyatnya untuk tidak mendukung anda, tapi oleh ketumnya tidak dihiraukan, hanya karena survei anda melonjak di atas 80% saat itu, mereka mungkin tidak menyangka sekarang anda akan terjun ke angka 30% dan bisa jadi akan terus turun dengan adanya kasus ini.
Ayat al Maidah 52 ini membuat saya bergetar, seakan ayat tersebut menggambarkan realita anda. Ayat ini telah turun 14 abad yang lalu pak Ahok…

4. Bpk Ahok, Terimakasihku juga…
Karena anda telah menjadi inspirasi persatuan ummat Islam yang fantastis. Kalau boleh sedikit curhat, saya berdakwah belasan tahun, mendambakan orang NU & Muhammadiah bisa akur, sungguh bukanlah hal yang mudah pak, tapi mata saya berkaca-kaca ketika saya menyaksikan mereka bersatu dalam satu pertemuan demo yang begitu besar yang tentunya itu terjadi karena ulah kreatif anda. Ini mengagumkan pak Ahok..
Ketika melihat FPI yang pro maulid bersatu dengan Muhammadiah yang tidak maulid bergandeng tangan
Ketika melihat HTI yang nggak pernah akur dengan IM (Baca ; PKS) dalam konteks perpolitikan bisa bersatu saling membahu
Ketika meliat salah satu ormas besar melarang pengikutnya ikut demo, tapi instruksi itu dianggap angin lalu, mereka tetap mengibarkan bendera. WOW ini panggilan Tuhan, tidak ada yang menggerakkan, membiayai, dan memerintahkan mereka.
Sahabat jamaah tabligh, Hidayatullah, MUI, GMJ, Ust Arifin Ilham, Ust Bahtiyar Nasir, Pak Amin Rais bahkan AA Giem yang santun turut bangkit bersatu padu. Inilah persatuan yang saya impikan sejak saya kecil, persatuan yang pernah terjadi di perang Badar kini terjadi kedua kalinya, di Negri NKRI tercinta Allahuakbarrr, sekali lagi terimakasih pak Ahok..

DAN Akhirnya saya menyadari, di balik bencinya anda dengan ISLAM banyak hikmah yang anda berikan. Sebagai balas budi atas kebaikan anda, saya AGUS KHOIRUL HUDA mendoakan anda dengan hati yang tulus, mudah-mudah Allah SEGERA memberi anda HIDAYAH untuk memeluk Islam sebagai agama anda. Saya yakin di dalam hati anda ada titik hikmah yang akan membawa anda masuk ke dalam hidayah Allah. Banyak orang berkata itu nggak mungkin, anda keras tempramental kepala batu, tapi sadarkah anda seorang Umar bin khottob memiliki sifat tempramental yang jauh lebih besar dari anda. tapi Allah pemilik hati, yang bisa merubah hati, Saya Agus Khoirul Huda, siap terbang ke Jakarta (GRATIS) Untuk berdiskusi tentang kebenaran hidayah Allah, semoga Allah memberi hidayah pada anda, saya menunggu anda di pintu hidayah, dan saya yakin anda akan menjadi UMAR yang dinantikan Islamnya oleh Rasulullah

Balikpapan, 3 November 2016
Agus Khoirul Huda, Lc (Alumni al Ahgaff - Yaman)
Pengasuh SQ KALTIM

Sumber:
FB ; Agus Khoirul Huda
Instagram ; Aguskhoirulhuda1

Surat Al-Maidah [Bag.22/24]

Surat ke-35 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


22. Tujuan Syariat Secara Umum

Mengingat surat Al-Maidah adalah surat yang menjelaskan halal dan haram dalam Islam, maka ini adalah satu-satunya surat yang memuat tujuan syariah yang lima, yaitu: 

  1. menjaga/memelihara agama (hifzhud diin),
  2. menjaga jiwa (hifzhun nafsi)
  3. menjaga akal (hifzhun ‘aqli)
  4. menjaga kehormatan (hifzhun ‘ardh), dan
  5. menjaga harta (hifzhul maal).

Dalam surat ini terdapat firman Allah yang menyatakan,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” Al-Maidah: 50

Ayat tersebut hendak memberikan arahan bahwa syariat Allah merupakah syariat terbaik yang memberikan kemaslahatan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut dapat diketahui dari penjelasan berikut ini.

1. Menjaga/memelihara agama (hifzhud diin)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya…” - Al-Maidah: 54. Hal yang pertama kali menjadi perhatian syariat adalah kewajiban memelihara agama dan meninggalkan kekufuran

2. Menjaga jiwa (hifzhun nafsi)

Allah berfirman, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siap ayang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” - Al-Maidah: 32. Ayat tersebut sebagai dalil tentang haramnya membunuh.

3. Menjaga akal (hifzhun ‘aqli)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah…” - Al-Maidah: 90. Tujuan dari pengharaman khamar adalah menjaga akal.

4. Menjaga kehormatan (hifzhul ‘ardh)

Allah berfirman, “Tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundak-gundik…” - Al-Maidah: 5. Ayat ini menjelaskan tentang larangan melakukan hubungan lawan jenis di luar penikahan.

5. Menjaga harga (hifzhul maal)

Allah berfirman, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah…” - Al-Maidah: 38

Tujuan lima syariat dalam surat Al-Maidah ini untuk menegaskan bahwa semua perintah dan larangan yang harus ditunaikan adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia.

>> Index pembahasan surat Al-Maidah <<


Serial lainnya:

instagram

✨What will we find in Jannah?✨ “Allah will say: This is a day in which the truthful will profit from their truth. Theirs are gardens, with rivers flowing beneath - their eternal Home. Allah is well-pleased with them, and they with Allah. That is the great salvation” [Surah al Maidah 5:119]

May Allah ﷻ grant us Jannah in these blessed nights. Ameen.

Tag your friends and family and everyone else who can benefit.

The Prophet Muhammad ﷺ said: “The one who guides to something good has a reward similar to that one doing it.” [Muslim]

Made with Instagram

KEMATIAN BUKANLAH AKHIR

Banyak orang beranggapan bahwa setelah ia mati, maka berakhirlah sudah segala hal dalam hidupnya. Nyatanya, hal ini salah besar. Kematian adalah sebuah permulaan dari kehidupan baru yang abadi.

Seorang penyair berkata:

ولو أنا إذا متنا تركنا لكان الموت غابة كل حي
ولكنا إذا متنا بعـــثناونسأل‏
‎“Kalaulah saja jika kita mati kita akan dibiarkan begitu saja maka kematian adalah ‎tujuan setiap orang yang hidup.Tapi jika kita mati kita akan dibangkitkan dan ditanya ”.‎

Di kehidupan selanjutnya, setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban akan apa yang ia perjuangkan di dunia. Setiap manusia yang telah mati akan dibangkitkan kembali, digiring ke padang Mahsyar, dihisab, berjalan di atas shirat dan melihat apakah ia akan mendapat surga karena amalnya ataukah masuk neraka karena maksiatnya.

KEMATIAN YANG BERUJUNG PENYESALAN

Sejatinya, kematian adalah musibah. Allah berfirman,

فَأَصَابَتْكُم مُّصِيبَةُ الْمَوْتِ
‎“Maka datang kepada kalian musibah kematian”. (QS. Al Maidah: 106)

Ketika ia datang, maka habis sudah waktu beramal. Banyak orang menyesal dengan apa yang telah dilakukan di dunia. Seorang ahli ibadah saja menyesal mengapa ia tidak banyak beramal dalam hidupnya, apalagi orang kafir dan munafik yang memimpikan untuk dapat dikembalikan ke dunia hanya agar dapat beribadah pada Allah semata.

Namun apa daya, sesaat kembali pun tak mungkin apalagi setahun dua tahun lamanya. Telah jelas firman Allah,

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
‎لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم ‏بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

‎“Hingga tatkala kematian datang kepada salah seorang mereka, (dengan segala ‎penyesalan) mereka berkata, “Wahai Rabb, kembalikan aku (ke dunia) agar aku beramal ‎sholeh yang dahulu kutinggalkan”, sekali-kali tidak itu hanyalah ungkapan mereka saja, ‎dan dibelakang mereka ada pemisah hingga hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-‎Mukminun: 99-100.)

SERINGLAH MENGINGAT KEMATIAN
Oleh karena itu saudaraku, sering-seringlah mengingat kematian yang merupakan pemutus semua kelezatan. Ingatlah bahwa gemerlap dunia ini hanya semu semata. Dunia hanya pemberhentian sementara sebelum kehidupan yang hakiki.

Maka, jadilah orang yang cerdas. Yaitu orang yang senantiasa menggunakan waktu dunia untuk beribadah dan beramal. Serta orang yang terus mengontrol diri agar tak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhu dia berkata:
”Aku datang menemui ‎Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam satu dari sepuluh orang sahabat, maka berdirilah seorang lelaki dari ‎golongan Anshar dan bertanya:
” wahai Nabi, siapakah gerangan orang yang paling cerdik ‎dan bijak? Maka beliau menjawab:”‎

أكثرهم ذكراً للموت، وأكثرهم استعداداً للموت، أولئك الأكياس، ذهبوا بشرف الدنيا وكرامة الآخرة‎ ‎

‎"Mereka adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan yang paling banyak ‎berbekal untuk kematian, merekalah yang pergi meninggalkan dunia ini dengan mulia dan ‎kemulian di akhirat.”
(HR. Thabrani dan di hasankah oleh Al-Munziri.)

_____

“Jangan menjadi Tuhan”

Sudah begitu banyak tulisan yang terkesan benar tetapi jelas kekeliruannya, salah satunya tentang: “JANGAN MENJADI TUHAN”.

Saya merasa perlu menyampaikan ini bagi saudara-saudara saya sesama muslim, agar tidak ‘terjebak’ dengan retorika mereka yang katanya ANTI Mengkafirkan orang lain dengan pemahaman yang keliru. Berikut pernyataan-pernyataan mereka, dan akan saya luruskan agar mencegah dari PEMBATAL ke-Islaman.

1. “Jangan menjadi Tuhan, Jangan memvonis kafir selain yang beragama Islam.”

Padahal Al-Qur'an mendefinisikan kafir adalah mereka yang menolak dan yang mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah, menyandingkan Allah dengan makhluk Ciptaan-Nya dan mengingkari Rasul Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya dan juga mengingkari kitab-Nya (Al-Qur'an). Silakan dilihat di surat Al-Maidah ayat 17, ayat 72, surat Al-Kahfi ayat 100-102. Didukung dengan banyak ayat lain.

2. “Jangan menjadi Tuhan, kok berani-beraninya bilang orang lain yang mati tidak dalam keadaan Islam masuk neraka.”

Al-Qur'an yang menyebutkan orang-orang yang mati dalam keadaan kafir kekal dalam siksa neraka. Silakan baca kembali surat Al-Maidah ayat 72, lalu surat Al-Bayyinah ayat 6. Bahkan tidak hanya kaum kafir, yang mengaku sebagai seorang MUSLIM saja, bila mati dalam keadaan berbuat SYIRIK maka semua amalannya sia-sia, benar-benar telah merugi. (surat Az-Zumar ayat 65)

3. “Jangan menjadi Tuhan, kita tidak boleh mengklaim kebenaran hanya ada pada Islam. Semua agama sama, mengajarkan yang benar.”

Padahal Al-Qur'an yang menyampaikan bahwa agama YANG BENAR dan diridhai Allah hanyalah Islam, yang berpaling dari Islam akan celaka. Silakan buka surat Ali Imran ayat 19, lalu ayat 85, dan Surat Al-Baqarah ayat 111-112.

4. “Jangan menjadi Tuhan, seks bebas dan LGBT adalah ekspresi cinta, dan hak masing-masing orang. Jangan dilarang”.

Padahal dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa zina dan liwath (penyuka sesama jenis) itu haram dan perilaku yang sangat buruk. Jika tidak ada yang mengingatkan, maka azab ALLAH akan turun seperti kaum Sodom. Silakan buka surat Al-Isra ayat 32, Al-Furqan ayat 68, surat Al-Ankabut ayat 30-31, lalu surat Hud ayat 82-83.

Diterangkan juga bahwa pelakunya adalah orang-orang fasik dan orang-orang yang melampaui batas (surat Al-A'raf ayat 81, surat Al-Anbiya ayat 74). .

Siapa yang sebenarnya sedang memposisikan dirinya sebagai Tuhan? Saat Al-Qur'an yang merupakan Kalamullah menyatakannya SECARA TEGAS tentang hal ini.

Jika anda bukan seorang MUSLIM, maka saya tidak merasa heran, SANGAT WAJAR. Karena anda tidak beriman kepada Al-Qur'an. Namun jika anda seorang MUSLIM, maka saya sangat MENYESALKAN. Berarti anda TIDAK PERCAYA pada Al-Qur'an. Dan anda TIDAK PERCAYA itu firman Allah Ta'ala, anda telah MENGINGKARI kitab anda sendiri.

Seorang MUSLIM yang mengingkarinya, maka jelas artinya bahwa anda sedang ingin berbantah-bantahan dengan Tuhan. Allahu yahdik!

Surat Al-Maidah [Bag.19/24]

Surat ke-35 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


19. Jangan Mempersulit Diri

Seruan berikutnya mengatakan,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” - Al-Maidah: 101

Ayat tersebut merupakan aturan yang telah dibuat Allah dalam masalah halal dan haram. Banyak orang keliru memahaminya dengan melontarkan banyak pertanyaan dalam urusan yang mubah.

Ini mempersulit diri sendiri dan orang lain untuk bertanya sehingga berakibat urusan tersebut ditinggalkan karena banyaknya pertanyaan. Yang demikian itu termasuk ke dalam kategori yang diharamkan.

Ayat ini menyeru kepada kita untuk bersikap seimbang (tawazun). Meskipun Allah memerintahkan kepada kita untuk memenuhi janji, tetapi hal itu tidak lantas mempersulit diri kita sendiri. 

Dalam ayat tersebut terdapat hubungan yang menakjubkan dengan surat Al-Baqarah tentang kisah penyembelihan sapi oleh Bani Israil.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya” - Al-Maidah: 102

Ayat ini mengisyaratkan bahwa banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh umat terdahulu justru mempersulit diri mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka tidak mau mentaati hukum yang ditetapkan.

Terkait dengan mereka yang disebutkan dalam kisah penyembelihan sapi, Allah berfirman,

“… Dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu” - Al-Baqarah: 71

Keadaan seperti itu disebabkan mereka banyak bertanya tentang hakikat sapit iu, termasuk warnanya. Padahal hal semacam itu tidak semestinya mereka pertanyakan, sehinga akhirnya hukum yang luas berubah menjadi sempit.

Sehubungan dengan makna di atas, Rasulullah saw. dan para sahabatnya memberikan contoh teladan yang baik bagi kita semua.

Suatu ketika, Rasulullah saw berkata kepada para sahabatnya, 

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian untuk melaksanakan haji.”

“Apakah ia dilaksanakan setiap tahun wahai Rasulullah?”, tanya para sahabat.

Rasulullah saw diam sejenak, kemudian beliau bersabda, “Kalau aku katakan ya, tentu ia menjadi wajib”

Dengan demikian, dalam surat Al-Maidah terdapat arahan supaya berlaku seimbang (tawazun). Komitmen dalam menjalankan semua perintah, larangan, dan menepati janji, dengna tidak mempersulit diri dalam hal-hal yang tidak diperintahkan Allah.

>> Index pembahasan surat Al-Maidah <<


Serial lainnya:

PENDAPATAN KELUARGA

Assalamua’alaikum moms and dads… Pernahkah moms and dads berpikir siapa sih sebenernya yang wajib mencari pendapatan keluarga? Atau moms and dads wannabe masih bingung, boleh ga ya besok nyari istri yang bekerja atau punya suami yang ngebolehin istri kerja? Nah yuk simak supermom’s note kali ini.

Ketika Rasul menikahkan Fathimah dengan Ali, beliau berwasiat kepada menantunya, ”engkau berkewajiban bekerja dan berusaha sedangkan ia berkewajiban mengurus (me-manage) rumah tangga” (H.R. Muttafaq ‘alaih). Dari hadits ini sudah jelas bahwa yang paling wajib mencari nafkah untuk keluarga adalah suami, baik itu dalam bentuk makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, pendidikan, atau kebutuhan umum lainnya yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Lalu apakah boleh seorang istri bekerja dan membantu mencari nafkah? Jawabannya adalah boleh seperti dalam Q.S Al Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”.

Namun apakah wajib bagi seorang istri mencari nafkah? Tidak, telah dijelaskan dalam wasiat Rasul kepada Ali di atas, bahwa istri berkewajiban me-manage rumah tangga termasuk di dalamnya mengurus anak. Hal pokok inilah yang harus diperhatikan baik oleh suami maupun istri. Suami tidak boleh memaksakan kepada istrinya untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab atas nafkah keluarga. Suami dan istri harus sama-sama memastikan jika kewajiban seorang istri sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya tidak terbengkalai sebelum memilih untuk bekerja atau tidak. Jangan sampai rumah tidak terawat, berkunjung ke tetangga jarang bahkan anak tidak tau soal aqidah hanya karena istri sibuk bekerja.

Karena hal-hal di atas akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak, seperti dalam hadits berikut, “setiap kalian adalah pengayom dan setiap pengayom akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang harus diayominya. Suami adalah pengayom bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas anggota keluarga yang diayominya. Istri adalah pengayom bagi rumah tangga rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas asset rumah tangga yang diayominya” (HR. Bukhori).

Demikian #financefriday kali ini. Sampai jumpa di #financefriday berikutnya ya… (nyv)

- Sumber: Buku Keluarga Muslim Cerdas Finansial karya Yuria Pratiwi Cleopatra, S.T., M.Si

SUPERMOM’s NOTE
Edisi #FinanceFriday 30 Desember 2016

♡ Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
♡ Fanpage FB: Supermom Wannabe
♡ Twitter & Instagram: @supermom_w
♡ Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com

🌸 *Siapakah satu-satunya nama wanita yang disebut namanya dalam Al-Quran?*

💖 _MARYAM BINTI IMRAN_


🌸 *Apakah nama Surah yang bernilai sepertiga Al-Quran?*

💖 _SURAH AL-IKHLAS_


🌸 *Siapakah satu-satunya nama Sahabat yang disebut namanya dalam Al-Quran?*

💖 _ZAID BIN HARITSAH_
( _Rujuk dlm Surah Al-Ahzab ayat 37_)


🌸 *Berapa jumlah Surah Madaniyah dalam Al-Quran?*
💖 _28_
( _Surah, al-Baqarah,al-Imran,al-Nisa,al-Maidah,al-Anfal,al-Tawbah,al-Ra’d,al-Haj,al-Nur,al-Ahzab,Muhammad,al-Fath,al-Hujurat,al-Rahman,al-Hadid,al-Mujadilah,al-Hasyr,al-Mumtahanah,al-Shaf,al-Jum'ah,al-Munafiqun,al-Taghabun,al-Thalaq,al-Tahrim,al-Insan,al-Bayinah,al-Zalzalah,al-Nashr_)


🌸 *Berapa jumlah Surah Makkiyah dalam Al-Quran?*

💖 _86_
( _Surah selain daripada senarai Surah Madaniyah_)


🌸 *Apakah yang dimaksud dengan Surah Madaniyyah?*

💖 _Surah Madaniyah adalah Surah yang diturunkan di Madinah setelaj Hijrah_


🌸 *Berapa jumlah Nabi yang disebut dalam Al-Quran?*

💖 _25Nabi_


🌸 *Apakah yang dimaksud dengan Surah Makiyyah?*

💖 _Surah Makiyyah adalah Surah yang diturunkan di Makkah sebelum Hijrah_


🌸 *Berapa jumlah Sajadah(ayat Sujud) dalam Al-Quran?*

💖 _14 Sajadah_


🌸 *Apakah nama Surah yang dibaca tanpa Bismillah?*

💖 _Surah At-Tawbah_


🌸 *Apakah nama Surah yang bernilai seperempat Al-Quran?*

💖 _Surah Al-Kafirun_

🌸 *Berapa jumlah ayat dalam Al-Quran?*

💖 _6,236 ayat_

🌸 *Apakah ayat yang paling Agung dan dalan Surah apa?*

💖 _Ayatul Kursi,dalam Surah al-Baqarah ayat No.255_

🌸 *Apakah nama Surah yang memiliki dua Bismillah?*

💖 _Surah al-Naml_

🌸 *Apakah nama Surah yang apabila dibaca pada hari Jumaat akan menerangi sepanjang pekan?*

💖 _Surah al-kahfi_

🌸 *Apakah nama Surah yang menyelamatkan dari seksa kubur?*

💖 _Surah al-Mulk_

🌸 *Berapa jumlah Hizb dalam Al-Quran?*

💖 _60 Hizb_

🌸 *Berapa jumlah Surah dalam Al-Quran?*

💖 _114 Surah_

🌸 *Dalam beribu ayat Quran ayat apakah yang boleh mendorong kita masuk ke Syurga*?

💖 _أَشْهَدُ ألا إله الا الله و أشْهَدُ ان مُحَمدا رَسُوْل الله
_Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah.” artinya Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah_

_Barangsiapa dapat mengucapkan Kalimah Syahadah di Akhir Kalamnya Wajib Syurga ke atasnya._

AIDIT LEBIH DULUAN
@rendygunardy

Kalo Aidit masih hidup… mungkin dia yang duluan ganti profile picture di FB sambil ngasih hastag #SayaPancasila

Kalo sekedar klaim, Aidit udah duluan mengklaim sebagai pembela Pancasila 53 tahun lalu.

Intinya, klaim itu mudah.. Pembuktiannya yang pengen kita lihat.

Gak perlu semua sila, Kita tes masalah sila ke satu aja dah…

Jangan ngaku Pancasila kalo masih menempatkan Ketuhanan (agama) di belakang pemikiran (liberal). Pengennya misahin agama dan urusan negara, seolah agama itu beban dan gak bisa beriringan untuk mengatur hajat hidup pemeluknya. Baru dikasih satu ayat Al-Maidah: 51 aja udah ‘kepanasan’ lontarkan penolakan.

Ibarat dalam Islam itu ada manusia yang ngakunya Islam tapi sebetulnya merasa berat dan gak mau menjalankan ajaran Islam. Kata Allah subhanahuwata'ala kalo mati tempatnya di kerak neraka satu kavling sama kaum kuffaar. Atau istilah tenarnya disebut MUNAFIK.

Sekali lagi, klaim boleh saja asalkan diiringi penghayatan dan bukti nyata. Bukan sebagai simbol belaka apalagi jadi bahan politisasi. Seolah situ paling Pancasila sedangkan yang lain nggak.

*Tulisan ini tidak ditujukan kepada mereka yang ber-pp dan berhastag #SayaPancasila namun BETULAN menjalankan Pancasila nya. Untuk mereka, saya menghargainya.