mahasiswa kedokteran

Menantang Mimpi adalah buku mengenai perjuangan seorang pelajar SMA dalam meraih mimpi tertingginya (seperti halnya mimpi banyak anak muda lainnya dari dulu hingga kini), yaitu menjadi seorang mahasiswa kedokteran, di FKUI. Perjuangan Iyan sang tokoh utama dalam meraih mimpinya itu tidaklah mudah. Meskipun ia memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi dokter, tetapi nyatanya nilai akademiknya tidak terlalu bagus. Misalnya saja, dalam sebuah ujian fisika, hanya ia satu-satunya siswa di kelas yang harus remedial. Kemudian, apakah Iyan mampu membuktikan bahwa ia bisa menjadi mahasiswa kedokteran dengan nilainya yang seadanya itu? Faktanya, untuk menjadi mahasiswa kedokteran, kecerdasan bukanlah faktor penentu utama. Ada faktor-faktor lain yang berkontribusi dalam kelulusan seseorang di ujian SBMPTN. Penulis membocorkannya untuk kita di dalam buku ini.
Ada banyak mahasiswa kedokteran yang membaca, lebih sedikit lagi yang menulis. Tetapi, mahasiswa kedokteran yang bercerita melalui tulisan, jumlahnya langka. Ihsan Hamdani salah satunya. Poin ini bisa menjadi pertimbangan kenapa Menantang Mimpi layak untuk dibaca. Hubungi Ihsan di ihsanhamdani(at)hotmail(dot)com.

“Karena kami, orang-orang yang dipaksa berusaha lebih”

Bagi kalian, yang ingin masuk menjadi mahasiswa kedokteran, maka perhatikanlah.

Bagi kalian, yang memiliki keluarga berupa mahasiswa kedokteran, maka simaklah.

Bagi kalian, yang memiliki sahabat dan teman mahasiswa kedokteran, naka pahamilah.

Kami orang-orang yang dituntut untuk rajin lebih dari yang lain.
Belajar atas ilmu yang bisa menyelamatkan manusia, bukanlah perkara mudah. Bukan perkara sedikit.
Menyangkut urusan orang lain. Urusan yang tak ada hubungannya dengan urusan kami.
Taruhan kedepan kami adalah nyawa, adalah seorang bapak bagi anaknya, seorang suami bagi istrinya.
Ketika kami tak mau ditendang untuk rajin belajar sekarang, harus bisa menjawab dikemanakan nyawa tersebut nanti. Harus mau yang disalahkan atas bodohnya ilmu kami.

Kami orang-orang yang berlatih tak istirahat.
Mainan kami kedepan adalah takdir, walaupun tak ada yang bisa mengatur selainNya, kami menjadi orang yang bersentuhan langsung dengannya, atas apa yang kami lakukan, kami bersinggungan atas hidup-mati nya seseorang.
Atas apa yang telah Allah berikan kepada kami, kami bertanggung-jawab mempertahankan ruh tak berpisah dengan jasadnya, agar manusia dapat bertahan menatap kehidupannya, mempersiapkan pertemuan denganNya sebaik-baiknya nantinya. Jika kami tak bisa? Maka salahkan belajar kami yang sedikit, istirahat kami yang masih terlalu lama.
Akan kebiasaan yang biasa tak tertidur, sudah biasa tak beristirahat, kami harus belajar itu dari sekarang.

Kami orang-orang yang tak diberikan pilihan untuk memilih keegoisan.
Kami akan dihadapkan dengan sesuatu yang bukan menjadi pilihan, melainkan keharusan.
Tak peduli apapun urusan sendiri, atas dasar prinsip kemanusiaan, kami harus rela mengabaikan ego pribadi, apapun itu.
Sesuatu kegiatan pribadi, harus mau dikorbankan atas telefon operasi penyelamatan nyawa di IGD. Suatu rencana pribadi, harus mau ditimpa dengan panggilan Rumah Sakit, apapun konsekuensinya.

Kami orang-orang yang kedepan tak boleh memikirkan hidup sendiri.
Kami diajari bagaimana mengabdi. Memberikan hidup kami demi orang lain. Bagaimana berkorban, membantu, serta menolong mereka yang membutuhkan.

Terimakasih.

Kami bahagia disini, memilih jalan ini. Semoga Allah kuatkan kami.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

MEREKA CARI JALAN, BUKAN CARI UANG by Prof. Rhenald Kasali

Duduk di depan saya dua perempuan muda. Sarjana Hukum lulusan UI. Wajah dan penampilan kelas menengah, yang kalau dilihat dari luar punya kesempatan untuk “cepat kaya”. Asal saja mereka mau bekerja di firma hukum papan atas yang sedang makmur, seperti impian sebagian kelas menengah yang memanjakan anak-anaknya.

Tapi keduanya memilih bergabung dalam satgas pemberantasan illegal fishing yang dipimpin aktivis senior: Mas Achmad Santosa. Dari foto-foto yang ditayangkan Najwa Shihab, tampak mereka tengah menumpang sekoci kecil mendatangi kapal-kapal pencuri ikan. Dari Ambon, mereka menuju ke Tual, Benjina, dan pusat-pusat penangkapan ikan lainnya di Arafura.

Itu baru permulaan. Sebab, pencurian besar-besaran baru akan terjadi dua-tiga bulan ke depan. Dan mereka, para pencuri itu, datang dengan kapal yang lebih besar. Bahkan mungkin dengan “tukang pukul” yang siap mendorong mereka ke laut menjadi mangsa ikan-ikan ganas.

Uang atau Meaning?

Di luar sana, anak-anak muda lainnya setengah mati cari kerja. Ikut seleksi menjadi calon PNS, pegawai bank, konsultan IT, guru, dosen dan seterusnya.

Seperti kebanyakan kaum muda lainnya, mereka semua didesak keluarga agar cepat mendapat pekerjaan, membantu keuangan keluarga, dan menikah pada waktunya. Cepat lulus, dan dapat pekerjaan yang penghasilannya bagus.

Tak sedikit di antara mereka yang beruntung bertemu orang-orang hebat, dari perusahaan terkemuka, mendapatkan pelatihan di luar negeri, atau penempatan di kota-kota besar dunia.

Tetapi semua itu akan berubah. Sebab atasan yang menyenangkan tak selamanya duduk di sana. Kursi Anda bisa berpindah ke tangan orang lain. Kaum muda akan terus berdatangan dan ilmu-ilmu baru terus berkembang. Bulan madu karier pun akan berakhir. Mereka akan tampak tua di mata kaum muda yang belakangan hadir.

Sebagian dari mereka juga ada yang menjadi wirausaha. Tidak sedikit yang tersihir oleh kode-kode yang dikirim sejumlah orang tentang jurus-jurus cara cepat menjadi kaya raya. Bisa saja mereka berhasil meraih banyak hal begitu cepat. Tetapi benarkah mereka berhasil selama-lamanya?

Pengalaman saya menemukan, orang-orang yang dulu begitu getol mencari uang kini justru tak mendapatkan uang. Di usia menjelang pensiun, semakin banyak orang yang datang mengunjungi teman-teman lama sekedar untuk mendapatkan pinjaman. Sebagian lagi hanya bisa sharing senandung duka.

Kontrak rumah dan uang kuliah anak yang belum dibayar, pasangan yang pergi meninggalkan keluarga dan serangan penyakit bertubi-tubi. Padahal dulu mereka begitu getol mengejar gaji besar, berpindah-pindah kerja demi kenaikan pendapatan.

Saya ingin membeitahu anda nasehat yang pernah disampaikan  oleh Co-Founder Apple: Guy Kawasaki kepada kaum muda ia pernah mengatakan begini: 

“Kejarlah meaning. Jangan kejar karier demi uang. Sebab kalau kalian kejar uang, kalian tidak dapat ‘meaning’, dan akhirnya tak dapat uang juga. Kalau kalian kejar ‘meaning’ maka kalian akan mendapatkan position, dan tentu saja uang.”

Lantas apa itu meaning?

Meaning itulah yang sedang dikerjakan anak-anak perempuan tadi yang saya temui dalamtapping program televisi Mata Najwa edisi hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei beberapa hari ke depan. Menjadi relawan dalam team pemberantas illegal fishing.

Dan itu pulalah yang dulu dilakukan oleh para mahasiswa kedokteran di STOVIA yang mendirikan Boedi Oetomo yang menandakan Kebangkitan Nasional Indonesia. Bahkan itu pula yang dijalankan oleh seorang insinyur lulusan ITB yang merintis kemerdekaan Indonesia, Ir. Soerkarno. Itu pula yang dilakukan para CEO terkemuka saat mereka muda.

Di seluruh dunia, para pemimpin itu lahir dari kegigihannya membangun meaning, bukan mencari kerja biasa. Dalam kehidupan modern, itu pulalah jalan yang ditempuh para miliarder dunia. Mereka bukanlah pengejar uang, melainkan pengejar mimpi-mimpi indah. Seperti yang diceritakan oleh banyak eksekutif Jerman yang dulu menghabidkan waktu berbulan-bulan kerja sosial di Afrika. “Tidak saya duga, apa yang saya lakukan 20 tahun lalu itulah yang diperhatikan pemegang saham,” ujar mereka.

Saya jadi ingat dengan beberapa orang yang mencari kerja di tempat saya, baik di UI maupun di berbagai aktivitas saya. Ada yang benar-benar realistis, datang dengan gagasan untuk membangun meaning dan ada yang sudah tak sabaran mendapatkan gaji besar.

Kelompok yang pertama, sekarang bisa saya sebutkan mereka berada di mana saja. Sebagian sudah menjadi CEO, pemimpin pada berbagai organisasi dan tentu saja wirausaha yang hebat atau Ph.D lulusan universitas terkemuka.

Namun kelompok yang kedua, datang dengan tawaran yang tinggi. Ya, mereka menilai diri jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka. Dan tak jarang ada yang diminta berhenti oleh keluarganya hanya beberapa bulan setelah bekerja, demi mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar. Amatilah mereka yang baru menikah. Kalau bukan pasangannya, bisa jadi orangtua atau mertua ikut mengubah arah hidup dan merekapun masuk dalam pusaran itu.

Padahal, semua orang tahu orang yang mengejar meaning itu  menjalankan sesuatu yang mereka cintai dan menimbulkan kebahagiaan.  Dan bahagia itu benih untuk meraih keberhasilan. Orang yang mengejar gaji berpikir sebaliknya, kaya dulu, baru bahagia. Dan ini tumbuh subur kala orang dituntut lingkungannya untuk mengkonsumsi jauh lebih besar dari pendapatan.

Sebaliknya, mereka yang membangunmeaning, tahu persis, musuh utama mereka adalah konsumsi yang melebihi pendapatan.

Potret Diri

Kalau saya merefleksikan ke belakang tentang hal-hal yang saya jalani dalam hidup saya, maka dapat saya katakan saya telah menjalani semua yang saya sebutkan di atas. Sementara teman-teman yang 30 tahun lalu memamerkan kartu kreditnya (saat itu adalah hal baru bagi bangsa ini), pekerjaan dengan gaji besar, jabatan dan seterusnya, kini justru tengah mengalami masa-masa yang pahit.

Seorang pengusaha besar mengatakan begini: “Uang itu memang tak punya mata, tetapi mempunyai penciuman. Ia tak bisa dikejar, tapi datang tiada henti pada mereka yang meaning-nya kuat.”

Di dinding perpustakaan kampus Harvard saya suka tertegun membaca esay-esay singkat yang ditulis oleh para aplikan yang lolos seleksi. Dan tahukah Anda, mereka semua menceritakan perjalanan membangunmeaning. Maka saya tak heran saat Madame Sofia Blake, istri duta besar Amerika Serikat di sini berkunjung ke Rumah Perubahan minggu lalu, ia pun membahas hal yang sama untuk membantu 25 putra-putri terbaik Indonesia agar bisa tembus diterima di kampus utama dunia.

Meaning itu adalah cerita yang melekat pada diri seseorang, yang menciptakan kepercayaan, reputasi, yang akhirnya itulah yang anda sebut sebagai branding. Anda bisa mendapatkannya bukan melalui jalan pintas atau lewat jalur cara cepat kaya.

Meaning itu dibangun dengan cara yang berbeda dari yang ditempuh pekerja biasa. Dari terobosan-terobosan baru. Dan kadang, dari bimbingan orang-orang besar yang memberikan contoh dan mainan baru. Ya, contoh dan mainan itulah yang perlu kita cari, dan terobosan-terobosan yang kita lakukan kelak memberikan jalan terbuka.

Selamat mencoba. Selamat hari Kebangkitan Nasional. Jangan lupa pemuda yang dulu membangkitkan kesadaran berbangsa di negri ini adalah juga para pembangun meaning.


Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers.

Jack of All Trades

Kemeja putih plus dasi dengan balutan jas hitam atau blazer, keliling dunia sampai bosan, menghadiri acara kenegeraan, terus apalagi? Hubungan Internasional (HI) itu beyond your expectation, di luar perkiraanmu. Sebagian mungkin tahunya kalau anak HI bakal jadi diplomat atau duta besar.

Mungkin judul cerita ini agak berlebihan, tapi saya bisa bilang program studi ini mempelajari hampirseluruh cabang ilmu sosial. Mulai dari Politik dan Keamanan beserta isu-isunya, Ekonomi, Hukum, Administrasi, Sastra (Jerman, Perancis, Rusia, Mandarin, Jepang, dll.), Filsafat, dan tentunya fenomena hubungan internasional dari dulu hingga saat ini.

Jadi, HI nggak fokus dong?

Errr.. istilahnya kita itu Jack of All Trades (bisa semua). Coba bayangkan, teman-teman bisa paham banyak hal sekaligus dan nyambung mengobrol sama teman-teman lintas ilmu. Contohnya, dengan temanmu yang belajar Hukum. Anak HI juga belajar Pengantar Ilmu Hukum, Hukum Internasional, Hukum Perdata, dan Hukum Humaniter.

Bayangkan lagi ketika kamu sedang berdiskusi dengan temanmu dari jurusan Ekonomi. Kamu bisa nyambung dengan diskusi mereka karena anak HI juga mempelajari Pengantar Ilmu Ekonomi, Kewirausahaan, Bisnis Internasional, dan Hubungan Perdagangan Global.

Begitu juga ketika kamu ketemu teman-temanmu yang kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan, Administrasi, Ilmu Politik, atau Administrasi Negara. Setidaknya kamu sudah punya dasar-dasar keilmuan mereka, karena anak HI juga dapat kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik, Dasar-dasar Ilmu Sosial, dan Pengantar Ilmu Administrasi.

Selain itu, HI juga mempelajari fenomena yang ada di lingkungan kita saat ini seperti Resolusi Konflik, Migrasi Internasional, Gender dan Feminisme dalam hubungan internasional, kerjasama regional, Organisasi Internasional, sejarah dan perkembangan HI di Eropa, Amerika, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Pasifik.

Semua bakal epic pas kejadian kamu lagi temu kangen sama teman-teman lama dimana kamu bisa nyambung sana-sini dan mengalir kayak air. Tapi jangan jadi sombong juga ya! Semakin banyak ilmu yang kamu dapet bakal lebih baik kalau dipakai untuk berbagi daripada disombongkan, betul?

Hubungan Internasional memang sepantasnya mempelajari hal-hal yang sudah disebutkan di atas. Karena bila kita berbicara soal “hubungan” maka tentu ada interaksi antara aktor-aktor yang terlibat dimana aktor-aktor tersebut sifatnya “internasional”. Dulu, “internasional” ini diartikan sebatas hubungan antarnegara saja, namun sekarang tidak hanya antarnegara bisa terjadi interaksi lintas batas kewilayahan, melainkan termasuk aktor-aktor yang lebih kecil seperti perusahaan, organisasi non-pemerintahan (NGO), hingga individu sekalipun.

Oleh karena itu, dengan mempelajari hampir semua ilmu sosial, setidaknya kita memiliki pengetahuan untuk membaca interaksi yang terjadi dan setidaknya mempermudah untuk menjelaskan interaksi tersebut dari berbagai sisi.

Bagaimanapun, tidak semua anak HI bakal otomatis jadi diplomat dan duta besar. Actually, it’s a long way to go. Karena kita mempelajari kulit dari cabang-cabang ilmu sosial, kita akan berpengetahuan sangat luas. Setidaknya, apapun profesi kita nanti, kita tidak mudah diperdaya orang lain.

Mengutip perkataan dari Irman G. Lanti, Assistant Country Director/Team Leader Democratic Governance Unit UNDP Indonesia, dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional Se-Indonesia,

“Sebaiknya para lulusan Hubungan Internasional tidak hanya berpikir untuk menjadi diplomat. Ada banyak profesi lain di luar itu. Jika semua lulusan fokus untuk menjadi diplomat atau bekerja di Kementerian Luar Negeri, maka sangat mungkin akan banyak tercipta pengangguran terpelajar.”

Terkadang yang ingin masuk HI awalnya menginginkan jadi diplomat namun faktanya justru lulusan-lulusan HI lebih banyak yang terserap di sektor lain selain bekerja di Kementerian Luar Negeri. Banyak yang menjadi peneliti, bekerja di instansi pemerintah di bagian Kerjasama Luar Negeri, ada juga yang menjadi Staff Ahli Kepresidenan, dan masih banyak lagi.

Yang terpenting adalah tidak berpikiran sempit, dan bebaskan semua potensi dirimu! Semua hal yang kamu pelajar di HI adalah proses penemuan panggilan jiwa dan yang menentukan apa yang jadi setelah itu tetaplah diri kita sendiri. HI mempermudah dirimu untuk “mewarnai” perjalanan hidup. Karena kamu punya pandangan yang luas dan global

(*)

Mahran Ghalib Affandi | @mahrangaffandi

Hubungan Internasional 2013, Unpad

mahran_ghalib@yahoo.com

Baca dan reblog cerita dari jurusan lainnya disini ya :)

#ChapelHillShooting dan Hipokrisi Media Barat


Kita tahu dunia ini tak adil ketika tiga mahasiswa muslim, Deah Shady Barakat, Yusor Mohammad Abu-Salha, dan Razan Mohammad Abu-Salha, ditembak mati di rumah mereka di Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat, pada rabu petang 11 Februari 2015, tetapi media dan masyarakat dunia tak bereaksi serupa seperti ketika Muslim menjadi pelaku pembunuhan di tempat lainnya.

Hampir tidak ada kecaman yang dilontarkan pemimpin dunia, tidak ada tangis dan kesedihan berlebihan di media-media, dan nyaris tak ada kehebohan di Facebook atau Twitter—tak seperti ketika kita meratapi tragedi penyanderaan Sydney atau saat dunia ramai-ramai menjadikan tagar #JeSuisCharlie untuk tragedi penembakan di kantor redaksi sebuah majalah satir di Paris bulan Januari lalu.

Media-media dan pemimpin dunia seolah tak bereaksi apa-apa karena kali ini yang menjadi korban adalah tiga mahasiswa Muslim. Barangkali, dunia merasa tak perlu melihat kejadian ini sebagai ‘hate crime’ yang dilandasi motif agama karena pelakunya kebetulan tidak beragama Islam. Media-media di Amerika Serikat lebih memilih untuk mengatakan bahwa peristiwa tersebut hanya pembunuhan biasa yang dilakukan seorang ateis berusia 46 tahun, Craig Stephen Hicks, sebagaimana pernyataan kepolisian Chapel Hill, “Ini kejahatan biasa… yang dilatarbelakangi oleh perselisihan antar-tetangga mengenai tempat parkir!”

Keep reading

Kedokteran: Asal Senang dan Sehat

Menjadi mahasiswa kedokteran menyadarkan saya akan banyak hal. Melalui tulisan ini, saya ingin adik-adik memahami benar bahwa pilihan apapun yang kita buat dalam hidup merupakan hal yang harus diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan. Mungkin sekali waktu kita akan membuat pilihan yang salah, tapi tak jadi masalah selama kita terus berjalan memperbaikinya. Dengan demikian kita akan belajar banyak dari apa yang direncanakan Tuhan.

Berawal dari masa SMA, seperti kebanyakan anak-kutu-buku mainstream lainnya, saya mulai dihadapkan pada beberapa pilihan oleh orang tua. Belum genap sehari-dua saya menginjakkan kaki di bangku kelas sepuluh ketika itu, mama papa sudah membicarakan ini dalam rapat keluarga. Haha. Meski suasananya akrab dan penuh nostalgia masa muda mereka, jelas bahwa semua perbincangan ini sarat akan makna: “Ayo kamu pilih jurusan yang ‘benar’… | “Benar ini bagaimanakah, Pa, Ma?”  Sederet contoh mereka paparkan. Uniknya mereka tidak merekomendasikan profesi mereka sendiri, katanya tidak usah meniru-niru, tanyakan pada hati, yang penting kamu senang dan sehat. How blessed I am :”)

SEHAT!

Dari SD saya memang penggila pelajaran IPA. Hal ini karena ibu guru privat matematika saya, curi-curi mengajarkan ilmu hidup ini pada anak murid bandelnya yang baru kelas tiga. Belum genap kelas tiga saya sudah hafal rantai biokimia fotosintesis, belum genap kelas lima saya sudah dipinjami ibu ini mikroskop yang bikin saya jatuh cinta. Sepanjang sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas pun saya habiskan untuk ikutan lomba-lomba MIPA khususnya biologi. Ketika ditanya alasannya, si cupu dan lugu ini menjawab, “Kita kan makhluk hidup, jadi kenapa engga kita belajar tentang makhluk hidup juga? Kita harus senang belajar tentang diri kita.” Narsistik kah?

Pertimbangan begitu dalam selama kelas sepuluh dan sebelas membawa saya kepada sebuah jurusan—FK sajalah, tak apa. Saya tidak mengalami pergolakan batin seperti yang lainnya. Tidak pula lama bertanya-tanya ketika akan menentukannya dan alhamdulillah diterima di kampus yang saya puja.

Pendidikan di FK rata-rata ditempuh dalam waktu 5 sampai 5,5 tahun. Universitas saya mengambil kebijakan 5 tahun pendidikan. Masa pendidikan yang panjang ini dibagi menjadi dua fase;

1). Preklinik—Rugi kalau enggak senang-senang… :D

Pada fase ini, kita akan dihadapkan pada ilmu biomedik yang dibutuhkan ketika nanti menghadapi dunia klinik. Ilmu biomedik ini dikemas dalam bentuk modul yang rata-rata berdurasi enam minggu. Mulai dari yang benar-benar “ini emang buat apa sih?” seperti sel dan genetika, biomolekuler, dan riset, sampai yang “gila ini susah banget, kayak buat dokter spesialis aja nih ilmunya” seperti hemato dan onkologi. Adapula yang dari “ini seru banget luar biasa!” kayak reproduksi dan kardiologi, hingga yang ini ga penting, please, malas banget belajarnya” seperti ilmu kedokteran berbasis bukti dan ilmu kedokteran komunitas.

Metode belajarnya terdiri atas kuliah, keterampilan klinik dasar, praktikum, dan diskusi. Di universitas saya, satu modulnya bervariasi 15-35 kuliah yang dikebut tiap harinya. Memang terkadang bosan dan kantuk melanda. Tak ayal buku coretan pun menjadi tempat kabur saya. Habis buku catatan saya gambari doodle macam-macam. Tapi tak jarang pula, hadir pendidik yang luar biasa. Ya, pendidik, bukan pengajar biasa, yang begitu ia membuka suara, kamu merasa belajar banyak dan terinspirasi karenanya, membuat kamu yakin bahwa kuliahnya amat berharga, sampai-sampai tak ada yang rela ke toilet untuk meninggalkannya.

Keterampilan klinik dasar ini yang paling saya suka. Pada metode ini kita akan diajarkan berbagai keterampilan klinik yang akan sangat berguna ketika kita menjadi dokter muda atau bahkan ketika kelak menjadi dokter “sungguhan”. Mulai dari yang simpel seperti anamnesis, pemeriksaan fisik dari kepala, tangan, kaki, hingga dada, sampai yang keren dan terlihat umpama dokter sungguhan seperti basic surgical suture, persalinan kala dua dan tiga, hingga memasang bidai pada ekstremitas yang terluka. Ah, ini seru sekali, sungguh.

Praktikum dan diskusi seperti biasa. Praktikum biasanya dilakukan di laboratorium dan banyak jumlahnya. Biokimia yang penuh rumus dan warna-warna. Histologi yang terus-terusan menggambar dan mereka-reka. Biologi yang menyenangkan seperti biasanya. Dan fisiologi/faal yang menyeramkan dan penuh beban, haha. Diskusi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk menentukan inti permasalahan dari pemicu yang diberikan. Sesi kedua memaparkan tinjauan pustaka yang telah masing-masing direnungkan. Sekali-dua dalam seminggu dilaksanakan pleno untuk menjelaskan ke seluruh angkatan mengenai hasil perbincangan.

Di akhir masa preklinik, kita akan diberi hak untuk menggunakan baju kebanggan, Sneli! Ini sangaaat menyenangkan. Pada hari yudisium, kita dilantik dan diminta mengucapkan sumpah. Sumpah ini benar-benar mengharukan sampai pada bagian “berjanji menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain….” Here we come, young doctors :)

Oiya tentang senang-senang, menurutku rugi kalau selama masa ini kamu tidak senang-senang. Meski diisi oleh begitu banyak tugas dan pikiran, menurutku masa ini adalah waktu yang paling tepat buat cari banyak pengalaman dan pelajaran. Hindari pemikiran mentang-mentang anak kedokteran, tak bisa ikut organisasi atau kegiatan bermanfaat. Ayo ikutan! Cari minat kamu, temukan passion dan manfaatkan waktu karena nanti kalau sudah memasuki masa klinik, untuk meluangkan waktu makan saja harus benar-benar diperjuangkan.

2) Klinik—Harus sehat dan menyehatkan

Ini seru pakai banget. Klinik di universitas saya dibagi menjadi dua fase yakni fase rotasi kecil selama 1 tahun dan fase rotasi besar selama 1 tahun pula. Selama rotasi kecil ada 11 stase yang akan kamu jalani bersama kurang lebih 20-25 orang teman-teman kesayangan. Selama rotasi besar kalau tidak salah ada 5-6 stase besar yang akan kamu jalani bersama 50-60 orang teman-teman kebanggaan. Saya masih rotasi kecil jadi mungkin tidak dapat bercerita banyak mengenai rotasi besar, tapi mari kita coba.

Rotasi kecil yang berlangsung masing-masing selama tiga minggu ini terdiri atas dermatovenerologi/kulit dan kelamin, ophtalmologi/ilmu kesehatan mata, telinga hidung tenggorok, anestesi, instalasi gawat darurat, kardiologi/jantung, pulmonologi/paru, ilmu forensik, ilmu kesehatan jiwa/psikiatri, neurologi/syaraf, geriatri/ilmu kesehatan lansia *tidak ditulis sesuai urutan*. Metode belajar yang digunakan lebih bervariasi dibandingkan masa preklinik antara lain kuliah, tutorial, kerja poliklinik, kerja bangsal, presentasi kasus, dan the most awesome experience… jaga malam! Begitu pula dengan ujian, kalau dulu preklinik hanya ujian tulis atau praktikum, kali ini di minggu terakhir setiap stase kecil kami akan dilanda ujian mulai dari ujian tulis, ujian praktikum (sesekali), ujian portofolio, OSCE, hingga ujian kasus.

Beda paling signifikan antara preklinik dan klinik adalah pasien. Ketika klinik, alih-alih buku bahan bacaan, kamu akan diminta berinteraksi banyak dengan pasien sebagai pelajaran. Meski harus berhadapan dengan pasien anak yang riweuh, tapi menggemaskan atau pasien lansia yang cerita panjang ,tapi sulit mendengarkan, pengalaman bersama pasien akan benar-benar, amat sangat, menjadi pelajaran besar. Saya senang diberi kesempatan untuk berperan dalam kehidupan orang lain, kecil maupun besar. Dan ketika menjadi dokter muda, saya yakin inilah jalannya.

Rotasi besar terdiri atas ilmu kesehatan anak/pediatri, ilmu penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, ilmu bedah, dan ilmu kesehatan komunitas. Kadang ada juga modul elektif yang jumlahnya bermacam rupa bahkan bisa kamu ambil di luar negri sana. Mulai dari IPD yang penuh tekanan tiap harinya, anak yang pengujinya penuh ekspektasi, obstetri ginekologi yang jaga malamnya alamak dahsyat terus terjaga, hingga bedah yang katanya gabut aja dokternya galak tak terkira.

Sigap, jangan berleha. Fokus, jangan terlena. Kamu sebagai dokter muda memang harus menyehatkan mereka. Nyawa mereka sedikit banyak bisa diselamatkan dengan ada perananmu di dalamnya. Satu pula yang tak boleh lupa, kamu harus menyehatkan diri. Klinik benar-benar menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Tak jarang beberapa teman saya mengalami guncangan jiwa hingga harus dibantu obat psikotropika untuk menghadapinya. Saya bahkan pernah makan bakwan di kamar mandi pada sela-sela jam kerja poliklinik karena saya belum makan apa-apa dari kemarin siangnya dan tak ingin dilihat pasien makan tak sehat sejenisnya. Yuk jadi dokter sehat dan menyehatkan :)

Pada akhirnya, kamu harus menjalani semua pilihan dengan perjuangan dan pertanggungjawaban. Di awal masa pendidikan, saya dan beberapa teman kerap berpikir mungkin ada yang salah dengan pilihan. Akan tetapi, setelah diperjuangkan selama empat tahun belakangan, begitu indah dan benar rencana Tuhan.

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa menjadi dokter tak sedemikian populer dan menyenangkan. Dengan berbagai tuduhan serta gaji yang tak sebanyak profesi sekawan, dokter dituntut tetap profesional bahkan bekerja di pelosokan. Tak mau? Dianggap tak manusiawi. Tak bisa? Nanti diadukan ke pengadilan. Tapi nanti kamu sendiri yang rasakan, semua perjuangan dan pertanggungjawaban akan berbuah manis pelajaran.

Menjadi dokter benar-benar menyadarkan saya banyak hal.

(*)

Tiara Kemala Sari | @tiaraksari

Kedokteran, Universitas Indonesia

tiarakemalasari@gmail.com

Dokter Nggak Melulu Kerja di Klinik

Kalo teman teman adalah seorang siswa kelas XII SMA, pasti hampir setengah angkatan mendambakan Fakultas yang satu ini… Kedokteran. Kalo teman teman melihat buku beberapa bimbel yang menampilkan passing grade, di hampir setiap universitas memperlihatkan satu program studi yang memiliki passing grade  yang paling tinggi… Pendidikan Dokter. Dan juga kalau teman teman masuk ke bimbel, terus disuruh mengisi formulir dan tertera “program studi pilihan” Saya yakin, program studi yang paling diminati adalah… Kedokteran. Well, bukan saya sombong, atau meninggikan derajat sebagai mahasiswa kedokteran, tapi hal-hal diatas lah yang melatar belakangi tulisan saya ini, karena saya ingin bercerita bagaimana sih sebenarnya kuliah di Fakultas Kedokteran itu?  Ini ceritanya….

Masa preklinik

Masa Preklinik adalah masa dimana seorang mahasiswa kedokteran mengenyam pendidikan selayaknya mahasiswa program studi lain. Yep, Kuliah, praktikum,organisasi, nongkies di cafe-cafe setempat, galau ujian, galau skripsi dan hal yang umumnya dikerjakan oleh mahasiswa. Trus bedanya dimana? Nah ini… Masa preklinik ini sudah ditentukan lama studinya oleh Fakultas, sehingga kita diprogram untuk selesai dalam 8 semester, tidak bisa ngambil SKS lebih walaupun IP 4.00 , tidak bisa ngatur jadwal, dan tidak bisa milih dosen. Jadi ya seperti layaknya anak sekolah, kuliah, praktikum dan skill dan ujian sudah ditentukan oleh bagian akademik FK. Nah, di masa preklinik ini juga tidak lurus –lurus saja jalannya, banyak jalan berliku serta naik turun yang harus ditempuh. Misalnya, ketika semester awal, mahasiswa kedokteran dikenalkan dengan kulit luar hal-hal yang berhubungan dengan kedokteran seperti melakukan penyuluhan kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah, menyuntik manekin, dan lain lain. Saat itu mahasiswa kedokteran tingkat awal berpikiran, “Woooh, gue udah siap jadi dokter!”, tapi ketika di tengah perkuliahan dan menuju semester akhir dan berhadapan dengan berbagai macam ujian, dan berbagai kesialan lainnya pasti berfikiran “kampreeet, kapan gue tamatnya ini kuliah, masih lama banget kayanya.” Nah, berhubung disini gak bisa milih mata kuliah, gimana belajarnya? Pake per sistem tubuh, mulai dari sistem gerak, pernapasan, dll. Belajarnya juga sebenernya simpel sih, dari Gejala, Pemeriksaan apa yang dilakukan, Diagnosis, Terapi, Manajemen, dan KIE (Komunikasi-Informasi-Edukasi). Tapi guys , trust me, gak sesimpel itu. Di masa preklinik ini apa yang kita harus mengerti itu banyak sekali guys, dan dosennya juga dengan senyum manis penuh harapan berkata, “Jangan dihapalin dek, Tapi dimengerti! :3” Nah, setelah selesai kuliah 8 semester ini dan Tugas Akhir teman teman selesai, maka teman teman sudah mendapat gelar pertama Sarjana Kedokteran (S.Ked.). Dan juga, sebagian kecil ada yang menyudahi studinya hanya sampai jenjang Sarjana Kedokteran ini, lalu bertujuan menjadi akademisi, peneliti atau apapun profesi lain. Tapi biasanya tujuannya masih sama, meningkatkan derajat kesehatan bangsa melalui pendekatan promotif-preventif.

Masa Klinik (Koass/Dokter Muda)

Oke, masuk di masa ini, ini yang bikin kuliah kedokteran (dan ilmu kesehatan lainnya) sedikit berbeda dengan kuliah di prodi lain, ini adalah bagian pemantapan profesi. Setelah di Yudisium dan mendapat gelar Sarjana Kedokteran, biasanya ada pemantapan skill terlebih dahulu, kenapa? Karena yang kita hadapi itu pasien, pasien itu datang bukan hanya bagian tubuhnya yang sakit, tapi dia adalah manusia seutuhnya seperti kita, lebih jauh lagi, pasien pasien itu adalah guru kita, yang membuat kita jadi lebih terampil, mahir , dan profesional. Oleh karena itu, saya sangat ingat ketika pertama masuk sampai saat ini satu hal utama yang diajarkan Primum non Nocere, artinya adalah “First, Do No Harm.” Jangan sampai niat baik untuk menolong pasien, menjadi malapetaka buat pasien dan buat kita. Dan juga, karena selama 4 tahun di dunia preklinik kita lebih diutamakan untuk mempertajam pengetahuan kita di teori , maka sebelum masuk koass ini saatnya kembali mengulang skill dan kecakapan tangan kita dalam melakukan tindakan medis. Nah, setelah dinilai cakap dan mampu melakukan tindakan medis, maka para Sarjana Kedokteran ini dilepas oleh kampus dan mulai bekerja (sekaligus belajar) sebagai seorang dokter muda. Nah, kalau di masa preklinik tadi yang kita hadapi adalah manekin, yang kita hadapi saat ini adalah pasien sungguhan, dengan penyakit sungguhan, dan juga tentunya kita harus mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama 4 tahun itu untuk melakukan tindakan ke pasien tersebut. Di masa koass ini, kita dibimbing oleh Supervisor (Dokter Spesialis) dan bila ada juga dibimbing oleh kakak kita, PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Tergantung Rumah Sakitnya, ada yang ada PPDSnya, ada yang tidak. Kalau kata teman-teman yang sudah masuk sebagai koass, ada 3 hal yang benar benar dilihat bagi seorang koass yakni : Attitude, Knowledge,Skill. Kenapa attitude duluan yang disebut? Yak karena seperti yang dibilang di paragraf awal, kita memanusiakan manusia, karena pasien juga manusia. Oiyah, satu hal lagi yang paling penting, Inspanning Verbintenis, Artinya? Menjanjikan bahwa yang kita lakukan adalah usaha terbaik, karena kita tidak bisa melakukan Resultaat Verbintenis , menjanjikan suatu hasil. Oleh karena itu, anak kedokteran pasti sangat familiar dengan kata kata ini, To Cure Sometimes, To Relieve Often, To Comfort Always. Makanya, karena kita gak selalu bisa membuat pasien itu sembuh, yang paling penting itu membuatnya nyaman dengan pelayanan yang ramah dan sopan serta memberikan usaha terbaik yang kita miliki. Nah, dek koass ini selain bekerja, ia juga sedang menempuh masa pendidikannya untuk menjadi seorang dokter umum, jadi gak cuman sembarangan megang pasien, koass ini juga ada ujian tulis nya, mengerjakan tugas ilmiah, dan ujian megang pasien disamping mereka harus melakukan pelayanan pada pasien di siang hari dan jaga rumah sakit di malam harinya. Kebayang kan? Nah, untuk masa koass ini masa pendidikannya kira-kira 2 tahun lah. Selain itu, pada masa koass ini juga salah satu dinamika mahasiswa kedokteran, dimana mereka menemukan passionnya masing-masing. Mainstreamnya mereka semakin mantap untuk menjadi dokter yang kerja di klinik atau menemukan passionnya di bidang apa. Namun, ada juga yang setelah masa koass ini passionnya bergeser. Misal, waktu koass ada yang menikah, lalu lebih fokus dan enjoy menjadi ibu rumah tangga. Atau yang punya usaha, lalu lebih fokus dalam mengembangkan usahanya. Ada juga yang memang dari awal memang ingin mengembangkan diri di bidang riset dan mengembangkan ilmu kedokteran, ada juga yang menjadi pengajar. Bahkan, ada yang berkarir di bidang politik/birokrasi. Tidak ada yang salah, asalkan tujuannya baik, dan dilakukan dengan cara yang baik, InsyaAllah bermanfaat. Yeah, follow your passion! :D

UKDI dan Internship

Apaan lagi nih? Yak, ini adalah bagian setelah menyelesaikan masa rotasi klinik seorang dokter muda. UKDI adalah singkatan dari Uji Kompetensi Dokter Indonesia. Jadi, Dokter Muda yang telah lulus di setiap lab selama dia koass diperkenankan untuk mengikuti UKDI. UKDI terdiri dari dua tes, Ujian Teori dan OSCE. Ujian Teori adalah berisikan materi yang dimasukkan kedalam golongan 4A SKDI, yang artinya seorang dokter umum harus menguasai. Sedangkan OSCE adalah Ujian Clinical Skill, yakni kemampuan menangani pasien, dari pasien datang dengan keluhan hingga melakukan pemeriksaan fisik/lab dan menegakkan diagnosis (kurang lebih begitu, hehehe). Nah, setelah dinyatakan lulus UKDI, barulah kita boleh disumpah dan dilantik dan dilantik sebagai seorang dokter. Perjalanan selesai? Tunggu dulu… masih ada internship, internship adalah semacam pengabdian yang wajib dilakukan oleh seorang dokter yang baru lulus. Mereka akan ditempatkan di puskesmas-puskesmas/rumah sakit di daerah tertentu selama satu tahun, dan mendapat gaji (nominal tidak disebutkan karena masih terjadi dinamika dalam menentukan nominal gaji dokter internship). Setelah selesai , Barulah dokter internship dapat menentukan masa depannya sendiri, entah itu buka klinik, lanjut PPDS, kuliah lagi dan lain-lain.

Frequently Asked Question

Q: Kak, dokter itu artinya apa sih?

A: Dokter itu berasal dari bahasa latin, docere yang artinya adalah untuk mengajarkan. Jadi, selain melakukan terapu, dokter harus bisa menjelaskan apa alasannya kenapa terapi itu diberikan dan mengajarkan kepada pasien tentang efek samping dan apa yang harus dilakukan.

Q: Sebenernya kenapa sih kok banyak yang mau masuk FK?

A: Banyak alasan kenapa mau kuliah di FK , ada yang karena disuruh orangtua, ada yang karena melihat dokter itu keren (iya ini alesan gue, dokter jaga IGD itu keren), ada yang mau jadi orang kaya, dll. Butfirst, let me tell you… kalau tujuannya mau jadi orang kaya, mending cari profesi lain, karena pasien itu bukan berjalan, dan sebenarnya pendekatan kedokteran akhir akhir ini adalah kedokteran pencegahan. Selain itu memang bukan rahasia lagi, kalo selama kuliah di kedokteran, memakan banyak biaya. Selama tujuannya untuk masuk FK baik, InsyaAllah berkah kok kedepannya.

Q:  Selama kuliah di kedokteran dapet apa aja kak?

A:  Banyak! Kalo dari segi ilmu sih aku dapet ini : Bioetika, Kesehatan masyarakat, Biokimia dan biomolekuler, Anatomi-Fisiologi- Patologi,Radiologi, Onkologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Imunologi, Farmakologi, Siklus Hidup, Muskuloskeletal,Hematologi, Dermatologi, Endokrinologi, Neurologi, Mata-THT, Metodologi Penelitian, Kardiologi, Repirasi, Urologi, Gastroenterohepatologi, Kedokteran Tropik Infeksi, Reproduksi, Forensik, Anestesi, Patient Safety. Banyak kan? Nah, yang lebih berkesan itu adalah ketika pengalaman ikut pengobatan gratis suatu lembaga, disana terlihat bahwa seorang dokter itu sangat dibutuhkan di daerah terpencil, masih banyak daerah yang belum ada dokternya, jadi kalo ikut pengobatan gratis gitu, warga juga respek ke kita, bagaimana kita bisa membuat mereka tersenyum dan berkata, “Nanti kalo sudah jadi dokter beneran, jangan lupa balik kesini lagi ya!” Itu dalem banget. Itu alesan kenapa aku tetap konsisten dan ga menyesal masuk kedokteran J

Q: OSCE sama praktikum itu bedanya apa kak?

A: Jelas beda! OSCE itu ujian megang pasien. Ya seperti apa yang dokter itu harus lakukan kepada pasiennya, kaya melakukan wawancara (anamnesis), komunikasi efektif, keterampilan klinis (kaya nyuntik, menjahit luka, pasang bidai, resusistasi jantung paru), menggunakan alat-alat medis (kaya oxygen mask, elektrokardiografi, baca foto rontgen, kateter), dan yang sangat penting melakukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan nyeri ketok, colok dubur, periksa mata), nulis resep dan masih banyak lagi. Kalo praktikum itu ya penting karena itu sangat fundamental, praktikum anatomi dan histologi contohnya, penting sekali karena tanpa mengetahui susunan tubuh manusia, gak mungkin kita bisa paham sama  penyakit yang mungkin nanti terjadi disana. Ya praktikumnya semacam menghafalkan letaknya dimana, fungsinya apa, dsb.

Q: Trus nanti kalo udah jadi dokter gimana kerjanya? Ada pendidikan lanjutannya gak?

A: Nah ini, pertanyaan paling penting. Seperti yang di judul, tentunya teman teman sering melihat dokter yang kerjanya di klinik. Tapi, ada juga kok dokter yang kerjanya di bidang lain, dan ada keilmuannya juga. Seperti S-2 Biomedik nanti bergelar M.Biomed, ya itu nanti mereka kebanyakan kerja di laboratorium buat meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran, prospeknya peneliti ini juga bagus loh. Terus ada lagi MPH (Master of Public Health) itu adalah mereka yang kerjanya di bidang kesehatan masyarakat, yang bagian promosi kesehatan dan meneliti tentang persebaran penyakit ya disini ini. Terus ada lagi yang mendalami ilmu pendidikan kedokteran gelarnya M.Med.Ed. (Master of Medical Education) mereka yang akan mengembangkan sistem pendidikan kedokteran sehingga dokter yang dicetak adalah dokter yang berkualitas. Dan juga yang ngambil bidang Health Economy (belum ada prodinya di Indonesia) yang nanti akan meneliti masalah ekonomi kesehatan, erat kaitannya dengan BPJS. Terus tentunya juga buat kamu yang ingin jadi dokter spesialis, bisa ikut Program Pendidikan Dokter Spesialis. Melayani pasien sekaligus belajar, intinya begitu. PPDS ini macam macam lama studinya berkisar 7-10 semester. Nanti gelarnya ya Sp. A, Sp. PD dll. Selain yang disebutkan diatas, ada juga yang berkarir di bidang wiraswasta, dan juga birokrasi-politik (jadi caleg mungkin hehehe). Jadi, banyak kan pilihan kerjaannya kalo mau jadi dokter? Bisa jadi klinisi, peneliti, akademisi, birokrasi, dan juga enterpreneur.

Q : Kok ceritanya panjang banget kak?

A : Ya karena memang masa studi di dunia kedokteran itu panjang hehehe. 4 tahun preklinik, 2 tahun koass, 1 tahun internship plus kalo mau tambah masa studi PPDS/S-2, hehehe. Ini kalo mau baca rangkuman perjalanan selama masa kuliah saya à http://dhityoprima.tumblr.com/post/81213946019/cerita-masa-preklinik

Terimakasih kalo sudah mau baca cerita saya yang panjang ini J

 (*)

Primadhityo, S.Ked. | @dhityoprima

Kedokteran 2010, Universitas Brawijaya

Dhityoprima.tumblr.com

primadhityo23@gmail.com

Salah satu benda yang saya sangat bersyukur telah memilikinya adalah passport. Dokumen hijau 48 halaman itu merupakan pengantar diri saya terhadap dunia selama 3 tahun terakhir. Sejak memiliki passport, banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, banyak tempat baru yang saya jelajahi, banyak hal-hal baru yang berguna bagi pengembangan diri dan karakter saya.’

Saat itu Agustus 2010, saya bersama Oknum F, Oknum N, Oknum S, Oknum G, dan Oknum E membuat passport di kantor imigrasi Jakarta Selatan. Kami saat itu membuat passport karena sebelumnya telah dengan impulsifnya memesan tiket AirAsia ke Phuket di bulan Januari 2011. Karena telah memesan tiket, maka kami pun membuat passport seharga 270 ribu rupiah itu. Saat itu kami masih belum memiliki pengetahuan apa-apa soal perjalanan luar negeri. Saking polosnya, sampai-sampai petugas imigrasi mewajibkan kami semua untuk membuat surat izin orang tua untuk perjalanan luar negeri sebagai salah satu syarat pembuatan passport, sebuah syarat yang tidak diwajibkan kepada pembuat passport lainnya. Kemudian setelah passport didapat, saya tidak pernah akan menyangka dunia seluas apa yang akan saya datangi beberapa tahun ke depan.

Thailand ternyata bukanlah negara tujuan pertama saya. Pengalaman pertama saya ke luar negeri adalah ke Macau, saat itu bersama Oknum F dan Oknum N. Secara epik kami mendapatkan tiket 296 ribu pulang-pergi (ya, saya masih ingat harganya yang begitu murah) dengan maskapai Mandala (yang belum diakuisisi oleh Tiger Air saat itu). Seperti halnya pengalaman pertama terhadap apapun, pengalaman pertama ke luar negeri saya terasa menarik di setiap saatnya. Perjalanannya, orang-orangnya, budayanya, makanannya (saya berkali-kali makan Macau Eggtart yang enak itu!), tatakotanya, bahasanya, sistem transportasinya, destinasi wisatanya, nyaris semuanya. Sejak saat itu, saya ketagihan untuk bepergian.

Dengan adanya passport, beberapa kali saya melakukan perjalanan luar negeri di saat-saat genting. Saat ke Macau, saya sempat bolos kuliah dan saat itu sebenarnya saya sedang diminta untuk menjadi juri sebuah kompetisi di kampus (sehingga saat itu saya mampir cukup lama ke Apple Store di The Venetian untuk menumpang koneksi internet gratis hanya untuk melakukan komunikasi dengan panitia acara). Saat ke Jepang, saya dalam masa-masa menjelang ujian kompetensi dokter Indonesia, sebuah ujian akhir bagi mahasiswa kedokteran yang sangat penting. Di saat teman-teman yang lain sedang belajar intensif bahkan sampai ikut les untuk menghadapi ujian, saya justru jalan-jalan selama 7 hari di Jepang. Saat itu saya berlibur sambil membawa buku kuliah dan membacanya di saat senggang, misal saat dalam kereta atau saat istirahat di hotel. Saat berlibur ke Kuala Lumpur, saya dalam masa deadline pengumpulan laporan riset/skripsi, yang saya baru ketahui saat sudah berada di KL. Ibu saya sempat ngomel-ngomel saat itu, tapi untungnya semua bisa teratasi dengan baik. Sekarang, di tahun 2014, jika saya melihat lagi ke belakang, saya bersyukur telah memilih untuk tetap melakukan perjalanan di saat-saat genting itu. Ada memori yang bisa saya kenang, ada pengalaman yang bisa saya ceritakan kepada banyak orang (terutama kepada anak saya nantinya), tidak melulu soal kuliah dan belajar.

Hampir di setiap lokasi perjalanan, saya bertemu dengan orang yang memiliki passport hijau garuda (itu artinya orang Indonesia ada di mana-mana, nyaris sama dengan China). Saat di pesawat menuju Phuket, saya berkenalan dengan Oknum A (yang saat ini dikenal sebagai seorang penulis dan backpacker). Saat akan shalat di Masjid satu-satunya di Macau, saya dan teman-teman disapa oleh mbak-mbak asal Indonesia dengan logat medoknya. Di dalam subway di Hongkong, saya mengobrol dengan orang Surabaya yang juga ingin menaiki cable car di Ngong Ping seperti saya. Bahkan di kota antah-berantah seperti Colombo sekalipun, saya juga bertemu orang Indonesia yang menjadi manager restoran cepat saji lokal di sana.

Perjalanan dengan passport membawa saya bertemu dengan orang-orang baru. Saya masih ingat betapa kagetnya saya saat supir taksi di Phuket yang membawa kami dari bandara ke Patong bernama Bandit. Pengalaman lain yang tidak kalah mengagetkan adalah ketika saya dan Oknum K sedang naik lift di hotel Mikado, Osaka, hendak menuju kamar masing-masing dan begitu pintu lift terbuka, yang kami dapatkan adalah sosok seorang pria paruh baya lengkap dengan brewoknya, tetapi memakai seragam Sailor Moon. Di bandara LCCT Malaysia, saya berkenalan dengan Oknum A, teman kuliah Oknum K, yang bekerja sebagai staf counter check in AirAsiaX. Dari pertemuan itu, saya mendapat priority baggage for free. Di Macau, saya berkenalan dengan Oknum T yang sedang dalam perjalanan menuju Guangzhou mengejar kekasih hatinya. Perjalanan ke luar negeri juga mempertemukan saya dengan wajah-wajah lama. Di Hongkong, saya menginap di apartemen seorang teman di organisasi kampus yang sekarang berprofesi sebagai flight attendant Cathay Pacific. Saat perjalanan seorang diri di Seoul, saya disambut oleh tiga orang teman lama yang sedang studi S2 di sana dan diajak jalan-jalan bareng. Saat tiba di Osaka, saya juga langsung disambut Oknum H yang mengajak keliling Kobe dan mentraktir saya Udon.

Beberapa pengalaman tak terduga juga saya alami dari perjalanan menggunakan passport. Di bandara Haneda, Jepang, saya terpaksa shalat (secara diam-diam) di ruang menyusui yang ada di bandara karena tidak ada fasilitas mushalla di sana. Di Macau, saya dan Oknum N memakan McMuffin yang kami tahu kemudian isinya adalah daging babi. Di perjalanan Manila menuju Hongkong, saya, Oknum A, dan Oknum W, mengalami near death experience karena pesawat Cebu Pacific kami terbang di saat typhoon Hongkong menunjukkan level 10. Di sebuah masjid di Phuket, saya dengan teman-teman saya secara absurd diceramahi oleh orang Indonesia untuk menumbuhkan jenggot. Berbagai lokasi tidur pernah saya rasakan, mulai dari apartemen orang asing yang tidak dikenal, apartemen teman, hostel murahan, hotel bintang lima, hingga lantai airport yang dingin. Lokasinya yang saya kunjungi pun beragam, dari kuil hingga kuburan, dari Disneyland hingga pasar malam, dari hutan beton seperti Hongkong hingga mengintip surga dunia seperti Maldives. Semuanya terbentang dari kota maju seperti Seoul dan Tokyo, hingga kota busuk seperti Manila dan Colombo.

Pengalaman ke luar negeri membuat wawasan saya bertambah dan faktanya, seseorang akan lebih menghargai orang lain yang pernah berkunjung ke negaranya. Saat berbincang dengan perwakilan WHO dari Thailand, saya mengatakan kepadanya bahwa saya pernah ke Phuket. Saat berbincang dengan salah satu peserta Global Health True Leaders asal Filipina, saya mengatakan kepadanya pernah ke Manila. Berbekal pengalaman perjalanan, obrolan menjadi terbuka, suasana menjadi cair, dan, percaya atau tidak, saya merasa mereka menaruh respect lebih terhadap diri saya.

Dalam sebuah diskusi di Whatsapp, Oknum L berkata, “Kok gue kayaknya belum berminat ya buat ke luar negeri. Masih mau eksplor Indonesia dulu.” Kemudian Oknum N membalas, “Itu karena lo belum punya passport kali, L? Coba deh bikin.” Pendapat Oknum N saya aamiini. Jika buku adalah jendela dunia, makan passport adalah pintu ke mana saja. Kita memang bisa mengetahui banyak hal tentang negara lain dengan membaca, tetapi dengan passport, kita bisa membuktikan apakah tulisan tentang negara tersebut yang ada di buku adalah benar atau justru sebaliknya. Passport mengantarkan kita untuk lebih dari sekedar tahu, tetapi memberikan pengalaman nyata yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

tapi kita calon ibu

kita mungkin bukan guru,
tapi ibu harus menjadi pendidik di keluarganya
kita mungkin bukan mahasiswa kedokteran,
tapi ibu harus tau cara menjaga kesehatan anggota keluarganya
kita mungkin bukan ahli gizi,
tapi ibu harus bisa mengatur asupan gizi keluarganya
kita mungkin bukan konsultan keuangan,
tapi ibu harus pandai mengatur keuangan keluarga
kita mungkin bukan peserta master chef,
tapi ibu harus mampu menyajikan makanan paling enak untuk keluarganya
kita mungkin tidak pernah ikut training menjadi cleaning service,
tapi ibu harus mampu menjaga kebersihan rumah setiap hari
kita mungkin bukan mahasiswa jurusan tata busana,
tapi ibu harus mampu menjaga penampilan keluarganya dengan baik
kita mungkin bukan……….,
tapi ibu,harus……

:)