madrasahs

1

saya punya adik. cowok. cerdas tapi gak suka foto. pendiam di banyak orang kecuali sama saya.

umurnya 16 tahun. beda 3 tahun dari saya. tapi beberapa pemikiran dan kecerdasan dia bisa melampaui saya di beberapa hal. yha aku mah apa dia anak olimpiade fisika jauh sama aku yg cuman remah-remah nastar ini.

dibanding dengan adik saya yang lain, saya lebih dekat dan terbuka sama dia. kami dibentuk dari rasa sakit yang sama, punya permasalahan yang sama, punya kesialan yang sama, dan beberapa keapesan kami juga sama. mungkin itu yang bikin kita benar-benar dekat.

saya masih ingat, dulu sewaktu masih SD kami selalu apa-apa bareng. tidur dan baca al-fatihah bareng, pergi ke madrasah bareng, main bareng, sampai foto kecil kami dengan ekspresi ceria ala-ala anak kecil pun barengan. sampai sekarang, apa yang dipengenin dia pasti bilang ke saya. kami memang gak terbuka sama orang tua. karena itu kami lebih sering sharing bedua aja. kecuali masalah….. cinta.

diskusi mulai dari hal serius dan kontroversial sampai masalah receh, beranjir-anjir ria bersama, sampai ke perkara masakin dia makanan jam setelah 11 malem. 

suatu ketika, dia buat saya kesal. kesal parah. sampai saya banting charger laptop. saya masuk ke kamar buat nenangin diri. tapi entah gimana dia selalu bisa buat saya luluh dan melupakan gitu aja hal yang bikin saya kesal tadi.

segimana pun saya kesal sama dia, saya gak bisa benar-benar marah sampai mengabaikan dan gak peduli sama dia. saya gak bisa lihat dia kelaperan pulang sekolah dan akan langsung buat makanan untuk dia sekalipun saya lagi mager superparah.

saya tahu, sejak dulu kami memang sudah dibersamakan pada banyak hal. sehingga terbiasa menghadapi apapun yang kami takuti itu bersama. sampai sekarang, semenyebalkan apapun dia, saya tidak pernah benar-benar marah.

yaudalah ki, sebawel apapun aku nyuruh kau ngerjain kerjaan di rumah, semenyebalkan apapun tingkahku yang katamu terlalu bocah ini, segimanapun kita berdebat dan beradu pendapat, kita pernah tidur pelukan dibalik guling tiap siang pulang sekolah dengan seragam putih-merah.

gausah baca tulisan ini. gak perlu. baik-baik sekolahnya. aku gak minta kau juara 1 terus. aku minta kau untuk belajar dengan nyaman dan damai. gausah terlalu kepikiran masalah. masih SMA. jangan lupa refreshing. yang penting nanti bisa kuliah di luar kota ini kayak maumu ya. aku tau kau pintar. aku gak kepo kau single atau gak kok itu privasimu. yang penting, gausah gengsi dan segan mau cerita samaku.

terima kasih sudah mau nunda nyelesaiin tugas demi benerin laptop aku.

Untukmu ukhti,
.
Ingatlah, | Mungkin banyak lelaki sholeh yang kamu dambakan itu begitu berusaha menjaga pandangannya dengan tidak melirikmu barang sedikit. | Maka jangan kecewa. | Justru bersyukurlah ia begitu berusaha menjaga dirinya dan dirimu agar tak saling memandang yang tak seharusnya.
.
Untukmu muslimah,
.
Pahamilah, | Lelaki sholeh itu pun tak terlepas dari godaan. | Maka bantulah mereka dengan tidak bersikap bermanja-manja didepannya. | Mengumbar senyum yang membuat hatinya meleleh. | Ataupun berlenggak-lenggok berjalan didepannya. | Bantulah ia menjaga pandangannya.
.
Untukmu calon madrasah anak,
.
Mengertilah bahwa kecantikan fisik itu tak selamanya jadi tolak ukur dalam berbagai hal. | Maka cobalah berganti orientasi. | Ketika jilbab sudah dikenakan, maka perbanyaklah belajar agamanya, bukan model jilbabnya.
.
Untukmu yang ingin dicemburui bidadari syurga,
.
Jangan tanggalkan identitasmu sebagai seorang muslimah. | Jilbab itu adalah identitas kita ukhtiku. | Jilbab yang sederhana tanpa lilitan. | Jilbab yang longgar dikenakan. | Dan syarat syar'i lainnya. | Maka kenakan itu dan taati Rabb kita dengan sebenar-benarnya.
.
Taat itu memang susah. Tapi syurga pun tidak dicapai jiwa yang bermudah-mudah.
.
Semoga bermanfaat | dari @aayufuji |@islamiqpedia #islamiQpedia
.
#duniajilbab

Made with Instagram
Apa lucunya? :o

Pewawancara: jadi apa cita-cita kamu?

Sarah: IRT yang baik

Pewawancara: hahahahaha, saya serius nanyanya

Sarah: *poker face*

Pewawancara: eh maaf. Kamu serius?

Sarah: iya saya serius :)

Pewawancara: kenapa mau jadi IRT?

Ini serius. Sejak kecil di mindset sarah, ketika saya sudah punya anak kelak, saya mau saya yang pertama kali membentuk karakternya, bukan orang lain. Bukan pengasuh, atau bahkan PRT. 
Saya mau saya yang membekalkan hidupnya. Saya adalah madrasah pertamanya dan saya ingin totalitas dalam hal tersebut. Ini gak main-main.

Tapi saya selalu ditertawakan bahkan sama temen temen sendiri. Kenapa ya? ._.

Indeed, wanita mandiri yang bekerja terlihatnya lebih wah gimana gitu bagi sebagian orang. Bisa bantu finansial atau minimal punya tabungan sendiri lalalala. Gak salah, tenang.
Cuma sarah gak tertarik masa. Lebih tertarik ngabisin semaksimal maksimalnya waktu sama anak kelak. So emang cita-cita sarah jadi IRT yang baik.

Kenapa?

Saya mau anak saya ngerasain jadi saya.
Yang ketika berangkat sekolah dibikinin segelas susu hangat, cium pipi kanan kiri tanpa buru-buru.

Yang ketika pulang sekolah selalu saya dapati ibu saya di rumah, jadi pas pulang pasti teriak
“Miiii?”
“Iyaaa umi di dapur”
Terus nyamperin doi dan cipika cipiki lagi.

Yang kalo makan malem masak-masak bareng meski aku banyakan ngerecokinnya HAHAHA.

Yang kalo diajak belanja yoi banget kapan aja. Ugh ❤️

Yang kalo bingung sama PR bahasa arab langsung nyamper ke kamar umi jam berapa aja, karna umi jago bahasa arab. Dan yang kalo bingung sama PR mtk fisika beduaan nunggu abi pulang lalu baru nanya ke doi :(

Yang dulu pas kecil kalo abis solat magrib setoran tilawah sama umi barang sehalaman.

Yang kalo saya lagi main siang siang sama temen kecil, umi sambil nyuapin makan siang. Doi suka diem diem masukin sayur gitu btw, hih -_-

Dll. Banyak banget.

Saya mau jadi sosok seperti itu. Seperti umi.
Umi memenuhi masa kecil saya, abang-abang saya dan adik saya dengan hadir dirinya dengan utuh. Meski memang gak jarang pas udah sekitar SMP umi sibuk berpolitik, but saya dari kecil udah paham. Maka jangan heran kenapa saya dan saudara saya yang lain cinta banget sama umi. Abi juga deh ya kasian dia :“)

Umi IRT yang sangat amat baik. Akan jadi suatu prestasi kalau saya bisa kayak beliau~

Nah. Saya gangerti deh tuh dibagian mana lucunya dari cita-cita sesulit dan semulia itu ._.v

Mengikuti pakaian sesuai zaman adalah kewibawaan,selama tidak termasuk kepada sesuatu yang dilarang. Menyelisihi pakaian (yang biasa dipakai orang-orang di zaman tersebut -pent) adalah termasuk memakai pakaian syuhrah (ketenaran).” (Ibnu Jarir al-Tabari)
— 

@jamaz55 - Syeikh Jamaz al Jamaz, Pengajar di Madrasah Imam Ashim, Syaqra. Situs beliau aljamaz.com.

18/5/2016

perempuan,

menjadi perempuan bukan berarti tidak punya kesempatan untuk berkembang. menjadi perempuan adalah pesan Tuhan untuk menjadi manusia paling bisa diandalkan: oleh orangtua dan keluarga untuk selalu menjaga baik namanya, juga oleh imam dan keturunannya dimasa depan, supaya diandalkan kekuatannya; kekuatan hati untuk selalu membersamai dalam segala kondisi, kekuatan batin untuk selalu menyisipkan nama yang tercinta sebelum setiap amin-nya, kekuatan raga untuk selalu siaga menjadi istri dan ibu tanpa asisten rumah tangga, juga kekuatan mental dan kecerdasan untuk menjadi madrasah terbaik bagi anak-anaknya.

tentang masa depan, sudah bukan saatnya sesama perempuan mencibir dan menggunjing masa lalu, karena seiring waktu berjalan selalu ada perubahan dan kesempatan baru; untuk menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. walaupun saya belum jadi manusia benar, setidaknya dengan berkaca dari masalalu, saya tau apa yang selanjutnya harus saya benahi.

dari saya untuk perempuan disana, silahkan jika anda masih mau mencari tau dan memperebutkan masalalu. saya tidak ikut terlibat, karena bagi saya: melihat kedepan lebih menjanjikan masa depan, karena saya selalu memegang kepercayaan bahwa Tuhan selalu punya ketepatan takaran bagi setiap mahluk-Nya yang berjuang dan beriman. amin.

(Metridewi, 12 Agustus 2016)

Kadang orang yang usil berkata, untuk apa wanita sekolah tinggi? Toh kerjaannya nanti hanya menjadi ‘ibu rumah tangga’.

Ibu rumah tangga yang seperti apa? Bisa jadi dia sedang menyiapkan rumah tangga dan madrasah yang terbaik untuk anak-anaknya kelak.

Karena wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak.

Dan ketika madrasah pertama itu dapat memberikan yang terbaik, bukankah anak-anaknya pun akan tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang terbaik pula?


- Ketika wanita sekolah tinggi, berarti dia sedang berusaha untuk menjadi madrasah yang terbaik -

—  Salam super dari calon Ibu.