madrasah

[UNTUK KALIAN YANG RINDU PERUBAHAN]

Salah satu momentum terbaik yang meyakinkan saya untuk terus menulis demi kebenaran adalah buku pertama ini, yang tadinya bertajub “Perform to Reform”, kemudian bermetamorfosis menjadi “Untuk Kalian Yang Rindu Perubahan”, sebuah surat cinta untuk teman-teman sebaya dan umat Islam secara umum, dari diri saya yang saat itu masih serba meledak-ledak dalam menulis.

Buku ini adalah kumpulan dari 32 tulisan teraktual dari 65 tulisan yang lahir dari lintasan fikiran saya selama masa Madrasah Aliyah. Karena ini kumpulan lintasan fikiran, maka mesti ada judul bab yang merangkainya hingga tertata, makanya saya bagi ke empat bab besar; tentang hidup, pengetahuan, perubahan, dan aksi.

Dan menurut saya, empat kata itu jadi tema umum yang tepat untuk membagi lintasan idea saya kala itu. Yang namanya pemuda, itulah saat dia mencari hakikat HIDUP, lalu terjun dalam ranah PENGETAHUAN yang makin dalam, kemudian berbekal keduanya ia akan punya idealisme untuk membentangkan PERUBAHAN, tentu dengan AKSI yang ia lakukan berdasar dengan keyakinan yang ia perjuangkan. Itulah “masa muda, masa yang berapi-api, kata pak Haji Rhoma.

Saya barengi lintasan-lintasan sederhana dalam buku ini dengan referensi yang serba terbatas, sebab saya masih berada dibalik dinding pondok. Akan susah mencari rujukan kelas atas dan buku-buku pijakan untuk menambah kaya buku ini. Akhirnya terciptalah 240 halaman buku ini, yang saya yakini kaya akan pesan tokoh bangsa, kisah teladan, renungan ringan sampai tragedi-tragedi memilukan.

Buku ini bukan buku yang seratus persen ilmiah. Namun Ia lebih menunjukkan ledakan emosional pemuda dengan dibingkai fakta-fakta yang ada, sehingga bahasanya seperti dialog antara penulis dan pembaca; ada pertanyaan, hentakan dan ajakan. Ada pesan, ada gagasan dan bahkan curhatan.

Penasaran? Silahkan kunjungi Penerbit Favorit saya, proumedia.co.id/belanja-buku atau kontak (082327376000) dan belanja online agar bukunya sampai di rumahmu, atau sambangi Gerai Pro-U di dekat Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Sudah banyak teman-teman yang bertestimoni dan terinspirasi dengan buku ini. Kamu mau?

@edgarhamas

One thing that struck out to me the most in today’s seminar is something Dr Shafiur Rahman said-

‘When I was 7 years of age, my parents sent me to Madrasah, and when we went there, we had to memorise small Surahs and recite it back to the Ustadh and then after that was done, my friends and I just played, chucked pens at one another, wrestled one another and then got bored. You see this is the root of the problem. When we are young, we were only taught to MEMORISE and we were never taught to UNDERSTAND the tafsīr of those ayats. To me ‘Laa ilaa ha illaAllah’ meant - “either you memorise it or get beats from the Ustadh”, it never meant anything else’.

I was pondering over this point and how true it is. Majority of us (especially from south Asian heritages) went to such establishments or got taught by ‘Islamic tutors’ just to plainly memorise the Qur'aan. Subhanallah. The Qur'aan must be read with reflection and we (speaking more on a personal term here) missed out big time as children. May Allah allow us all to give our children the knowledge of everything we missed out on as kids.

Allah akan membimbingmu jika kamu memang siap untuk dibimbing.

Allah akan mempertemukan jika kamu memang siap untuk dipertemukan.


Allah akan meneguhkanmu menjadi sebenar-benar Imam jika kamu memang sudah siap dengan atribut yang melekat pada diri seorang Imam.


Begitu juga dengan cita-citamu menjadi madrasah terbaik.
Allah akan jadikanmu salah satu yang terbaik diantara ibunda penerus generasi ulama dan mujahid, jika kamu meneguhkan hatimu untuk senantiasa bersiap, tanpa mencari alasan bahwa esok atau lusa adalah waktu yang tepat untuk bersiap.

—  ©Quraners

Al-Mustansiriya University - Baghdad, Iraq

The university was established in 1963 on the site of the Mustansiriya Madrasah which dated back to 1227 CE

HIKMAH JUMAT
:::: KABURNYA SEJARAH KITA ::::

Berkali-kali dalam bukunya, baik Jihad Turbani dalam “Mi'ah Udzama Ummati al Islam Ghayyaru Majra Tarikh” dan ceramah-ceramah intelektual DR Musa Syarif, disebutkan bahwa; ada pihak yang berusaha mengaburkan sejarah Umat Islam hingga runtuhlah kepercayaan diri kaum Muslimin. Sebab jika sejarah kabur, kita akan bertanya-tanya; siapa nenek moyang kita, pahlawankah dia, ksatriakah dia, penggulir sejarahkah dia?

Ya. Kita dibuat lupa, akhirnya kita benar-benar lupa. Maka saya coba buktikan salah satu statement Jihad Turbani. Beliau menuturkan dalam buku sejarah madrasah-madrasah bangsa Arab, ada bab khusus yang mengisahkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun sayang, dengan nada sinis bab itu berjudul “Masa Penjajahan Turki atas Arab”, bukan “Masa Emas Kekhalifahan Utsmaniyah.” Kemudian menggunakan kata “ihtalla” bermakna menjajah daripada kata “hakama” yakni memimpin.

Dalam buku ‘An Nawazil fi Tarikh Al Islam’, DR Fathi Zagrut mengisahkan masa-masa sebelum bencana keruntuhan Kekhalifahan Utsmani, “Yahudi mengibas-ibaskan tiupan kebencian pada Arab dalam dada orang Turki dalam satu sisi, sedang di sisi lain juga mengobarkan kebencian pada Turki dalam dada orang Arab”, dan hal ini mengkristal menjadi kebencian yang diabadikan dalam buku sejarah mereka.

Akibatnya setelah itu, kini kita melihat berpuluh negeri umat Islam berpecah, hanya karena kita salah memahami benang merah sejarah kita nan agung. Akhirnya sampai kini, banyak bangsa Arab membenci Turki, India tak sadar mereka berjaya di masa keislamannya, orang Spanyol seenaknya mengklaim kemajuan peradaban mereka karena Alfonso atau Isabella, bukan karena Abdurrahman Ad Dakhil atau Al Mutawakkil bin Aftasy dan umat Islam.

Sejarah yang kita baca, seenaknya mencantumkan Christopher Colombus sebagai penemu Benua Amerika, padahal ia tak lebih dari pelaut kesasar yang berniat mencari India. Sedangkan Kapten Muslim kita; Piri Reis sejatinya penemu -bahkan- telah memetakan Amerika seluruhnya dengan cermat sebelum kedatangan Colombus.

Ada “keretakan” dan “benang putus” yang harus kita rangkai kembali untuk melihat sejarah kita sebagai Umat besar yang legendaris. Engkaulah bagian dari Umat, pemilik ksatria yang tak pernah kalah bertempur, anak cucu pelaut handal yang memetakan dunia bahkan sebelum Eropa mulai berlayar. Keturunan ilmuwan besar yang mengukur diameter bumi secara tepat ketika dunia masih meyakini bumi berbentuk meja.

Begitupula Indonesia kita, tidak lepas sejarahnya dari pihak yang ingin membuat kita amnesia masalalu. Sejatinya tidaklah tepat untuk memisahkan bab “Sejarah Kemerdekaan Indonesia” dan “Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia”, karena keduanya adalah kesatuan yang saling beriringan takkan terpisah.

Ini tadabbur singkat kita, mari untuk tidak menilai sejarah sebatas angka dan nama-nama usang, mari pula untuk tidak memandangnya sebagai ilmu melihat kenangan dan bias-bias masalalu yang dramatis untuk jadi bahan tangisan. Sejarah adalah satu cara bagi kita membaca hari ini, untuk kemudian memetakan masa depan. Sejarah juga membuatmu menjadi insan yang “tidak kagetan” melihat fenomena dunia, sebab kamu akan tahu bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru di bumi ini, “sejarah itu mengulangi dirinya sendiri”, kata Toynbee.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu untuk hari esok”, Al Hasyr ayat 18.

Wallahu A'lam
@edgarhamas

Referensi :
- Jaudah, Muhammad Gharib. Muujaz Tarikh Al 'Âlam, Maktabah Al Usrah, Kairo 2000
-Najib, Mustafa. Humaat Al Islam, Maktabah Al Madâ'in, Kairo 1992 M.
- Turbani, Jihad. Miah Udzamâ Ummah Al Islam Ghayyaru Majra At Tarikh, Maktabah Dar El Takoa, Kairo 2010 M.
- Zaghrut, Fathi, Dr. An Nawazil fi Tarikh Al Islam, Maktabah Dar Al Andalus, Kairo 2009 M.

Madrasah pertama.

Kirana udah bisa pake baju sendiri, pake celana sendiri, dan pake sepatu sendiri.

Awalnya aku ga “ngeh” kalau setiap kali dia melakukan itu, semua dimulai dengan bagian kanan.

Agak “ngeh” ketika aku bantu dia pake baju atau pake sepatu. Sebelum aku menyodorkan bagian kanan, dia udah melakukan itu duluan.

Oh mungkin kebetulan. Tapi kebetulan itu terjadi berulang. Oh, berarti kebiasaan.

Jadilah suatu saat setelah mbak No pulang, mbak No yang memakaikan sepatu ke Kirana. Tapi mungkin itu Kirana lupa. Dia sodorkan kaki kirinya. Kata mbak No gini, “Kaki kanan dulu. Kalau pakai apa-apa tu kanan dulu ya Kirana.”

OH. BAIKLAH. You ternyata yang membiasakan itu, sambil menatap tajam ke mbak No.

Sederhana ya? Biasa aja ya? Tapi, aku yang menyaksikan itu agak terharu.

Memakai baju mulai dari sebelah kanan adalah hal biasa, kalau dibiasakan. Tapi itu sunnah. Sekali lagi, sunnah. Apabila kita lakukan kita mendapat pahala.

Terbayang bagaimana pahala juga mengalir bagi yang mengajarkannya.

Tiba-tiba inget apa yang pernah dikatakan temenku, “Kalau bisa yang ngajarin surah Al-fatihah ke anak itu Ibunya. Itu dibaca setiap kali solat seumur hidup lho. Sayang kalau yang ngajarin anak kita gurunya di sekolah atau orang lain, ntar pahalanya ngalir ke mereka. Ya gapapa sih, tapi sayang aja. Hehe”

Bukan berarti mengharapkan imbalan. Tapi anak itu investasi. Investasi akhirat. Siapa tau ajaran paling sederhana itu yang bahkan bisa mengantarkan kita ke surga.

Errr…aku bukan muslimah yang alim-alim banget sih. Jadi, correct me if im wrong ya. Sebelumnya, maafkan aku yang fakir ilmu ini. Aku juga lagi belajar. Melihat banyak hal yang bisa diajarkan seorang Ibu pada anaknya adalah peluang besar untuk mengumpulkan bekal kebaikan. Ini agak membuatku merasa cemburu pada Mbak No karena dia udah jadi ibu, dan membuatku harus lebih berhati-hati dalam berperilaku untuk Bapak Ibukku.

Yang sudah jadi Ibu, jangan sia-siakan statusmu. Yang akan menjadi Ibu, persiapkan diri untuk menjadi madrasah pertama untuk anak-anakmu. Dan untuk orang yang kayak aku, manfaatkan waktu “menunggumu” dengan memperbanyak ilmu.

Aeeh, semacam berpuisi. Ini Hana apa Cinta?? Wkwk

This is so beautiful :’(

“Tell Us : What Are You?”

Written by : Dr. Muhammad Akram al-Nadwi ; Oxford

They said, “You’ve written on Islamic Fiqh through the school of Imam Abu Hanifa (may Allah have mercy on him) and gathered (in your writings) proofs from him. Additionally, you’ve written a biography about him. So you’re a Hanafi. But then we see that you combine between prayers during travel, and give fatwa declaring the permissibility of wiping over socks. And you don’t mind if your students follow a specific Imam (in taqleed) or if they don’t follow anyone – so you’re a ‘ghayr-muqallid’ (someone who doesn’t adhere to one of the schools of thought).”

And they said, “You’re an Ash’ari because you graduated from Dar ul-Uloom Nadwatul Ulama, and the madrasahs in India generally follow the Ash’ari creed. But we see that you hold Allamah Shibli Noumani in high regard, you heap praise upon him, extol his virtue, and have respect for him. And he was Maturidi. So you must then be Maturidi. But then we see you teach Aqeedah al-Tahawiyyah, and you refute the Ash’aris and the Maturidis while giving preference to the methodology of the ‘salaf’ (predecessors), so you must be Salafi.”

And they said, “You pray in the Oxford mosque, and that’s a mosque for the Barelwis. So you must be a Barelwi. But then we see you sitting with the elders of Deoband and their senior scholars, so you must be a Deobandi. And then we see you praying Jumu’ah with the Arabs, mixing with them, being friendly with them while they’re being friendly with you. And they’re Wahhabis, so you must be a Wahhabi.”

And they said, “You go with Jama’ah al-Tableegh (in their outings), so you must be a Tableeghi. But then we see you criticizing their (use of) false, and weak narrations – so you must be from ‘Jamaat-e-Islami’ – many of your friends also belong to it, you visit their centers, and give lectures and classes there. And then we see you love Hasan al-Banna al-Shaheed, and you praise his book ‘Mudhakkirat al-Da’wah wal-Da’iyah’ and you’re a fan of the books ‘al-Tasweer al-Fanni fi’ al-Qur’an’ and ‘Mashahid Yaum il-Qiyamah’ of Sayyid Qutb, and ‘Duaa’t la-Qudaat’ of Hassan al-Hadibi, so you must be Ikhwani.”

And they said, “You read ‘Ihya Ulum al-Din’ of Ghazzali, and you relate stories from it to people. And you also peruse through ‘al-Mathnavi’ of Rumi and cite lines of poetry (from it), and express emotion through it – so you must be a Sufi. But then we see you vilifying Ibn Arabi’ and those who express (the ideology of) Wahdatul-Wujud (the Unity of Existance). And you criticize the ‘mystical states’ of the people of Sufism, and their ‘stations.’ And you deny their ‘conversations’ and ‘invocations’ (the divinely inspired statements claimed by Sufis to be made during their mystical state). So you must be from the followers of Imam Ibn al-Taymiyyah - we see you exalting him and encouraging your colleagues and students to read his books.”

They said, “So we’ve become confused by you. Tell us, what are you? Do you belong to any of these groups yet cajole with others hiding behind Taqiyya (dissimulation)’? Or are you without any school of thought at all? Or are you (being) political, and diplomatic (in order to) protect your interests and benefits by associating with the many diverse groups out there? Just tell us, what are you?”

I said, “I believe in Allah, and His Angels, and His Books, and His Prophets, and in the Day of Judgement and in destiny – that the good and the bad is from Allah and that there is resurrection after death.”

They said, “We’re not asking you about that. All of us believe in that, rather we’re asking you about your affiliation, the name (from the groups) that you choose for yourself.” I said, “Allah says : ‘…And He named you ‘Muslims.’’ (Surah al-Hajj : 78). So I am a Muslim, the son of Islam, brother of the Muslim.” They said, “You’ve increased us in even more confusion about yourself. And we’ve never been more confused about you than we are today.”

Nggak semua laki-laki baik. Makanya jangan jatuh cinta sembarangan, nanti nyesel. Apalagi ketergantungan. Apalagi sampe kegila-gilaan. Apalagi sampe terlalu berharap. Dan apalagi ke orang yang jelas-jelas bukan suaminya. Rugi ah!

Makanya, sekarang waktunya perbaiki diri aja. Jangan terlalu sibuk jatuh cinta kalo emang belum siap bertanggung jawab membuatnya jadi halal. Bener kata tulisan-tulisan, cinta itu di halalin atau di ikhlasin, gak pake toleransi lain.

Lagi, jadi perempuan gak boleh lembek. Jangan sampai gegara “laki-laki” merubah semua prinsip yang ada pada diri. Jadi perempuan jangan gampang ke goda. Karena kehormatan harus selalu dijaga. Laki-laki yang baik bakal jaga kehormatan perempuan yang dicintainya, bukan malah diajak ini dan itu yang berujung segala maksiat.

Inget, perempuan bakal jadi seorang ibu. Madrasah pertama buat anak-anaknya. Jangan mau jadi ibu yang gak berilmu, gimana caranya mau menciptakan generasi yang baik kalo gak berilmu? Suatu saat, perempuan yang akan menjadi arah, laki-laki yang mengendalikan. Masih mau jadi ibu yang buta arah? Nggak tau mau dibawa kemana diri dan keluarganya kelak. Jadi, banyak-banyakin nuntut ilmu. Kan tuntutlah ilmu hingga liang lahat.

Yuk sama-sama belajar!

Surat Kelima

Jakarta, 05 Januari 2017

Dear, Bapak

Tiba-tiba jadi kangen ngobrol berdua sama Bapak di luar rumah sambil nikmati sore menjelang maghrib. Trus waktu itu Bapak ngomong kan, kalau udah gede katanya aku harus jadi orang yang bermanfaat. Sepertinya kata-kata itu belum sepenuhnya aku laksanain pak. Masih harus mencoba dan banyak belajar.

Aku pernah berfikir gini. Lelahmu seperti apa pak yang ditahan? Pagi ke Sawah, siang ke Kebun, sore ngajar madrasah, selepas maghrib udah ngajar ngaji di mushola. Kadang habis isya bapak pergi lagi karena ada keperluan. Nggak jarang banget setiap pagi sebelum bapak berangkat ke Sawah udah ada yang bertamu ke rumah meski cuma sekedar mampir, ngobrol, silaturahmi, atau ada urusan yang bikin aku menyimpan banyak sekali pertanyaan untuk Bapak.

Aku inget waktu diajak silaturahmi ke salah satu sahabat bapak di pesantren dulu yang sampai hari ini masih terus berlanjut. Itu pas bapak masih muda dan belum nikah. Eh sekarang Bapak udah punya empat anak dan dua cucu. Yang gantiin kunjungan stiap lebaran sekarang jadi anak-anaknya ya. Aku juga inget, waktu lebaran dua tahun lalu ada laki-laki yang datang kerumah dengan istri dan empat anaknya juga kerumah. Saat aku mempersilahkan tamu masuk, dan laki-laki itu mengusap-usap kepalaku. Sedang Bapak sama Ibu masih bingung tamu ini siapa? Lalu bapak tersenyum dengan haru tangis saat menjabat tangannya, karena teringat ternyata beliau adalah sahabat bapak dulu mondok yang sudah 25 tahun tidak bertemu. Aku sama ibu cuma ngeliatin sambil nahan air mata. Aku bisa lihat senyum bahagianya Bapak waktu itu.

Laki-laki yang nggak pernah nunjukin marahnya di depan anak-anak itu ya bapak. Suara ibu lebih menang dari Bapak, tapi ketegasan Bapak yang selalu bikin anak-anaknya diem tiap kali dinasehatin. Ada yang persis sifatnya seperti Bapak sekarang, tentu saja anak laki-laki bapak satu-satunya. Mungkin tahun ini atau tahun depan mas ud udah ada pendampingnya pak, doakan ya. 

Lebaran kemarin bapak nanya kan, kenapa aku lebih milih jalan berdua sama bapak daripada sama teman-temanku yang lain? Karena waktu aku selama satu tahun itu sangat kurang untuk bisa berdua-duaan dengan Bapak. Waktu makan bakso berdua bareng di pinggir jalan swadaya dan orang-orang yang asing ngeliat aku ini siapanya Bapak, aku sebenernya sedang ingin nunjukin aja. Kalau berduaan sama bapak itu justru lebih bikin seneng.

Kalau aja aku berani nulis surat kedua secara langsung ke Bapak ya, buat bilang kalau aku sayang sama bapak. Tapi sayangnya aku takut bikin bapak nangis lagi setelah peristiwa surat pertama yang sengaja aku tulis waktu aku masih sekolah di Bogor. Aku tahu bapak kurang cerewet dari ibu tapi aku selalu faham bahwa sayang bapak ke kami persis seperti sayangnya ibu ke kami.

Terimakasih pak, sudah menyediakan pundak dan bahu untuk kami dan aku terutama. Terimakasih selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam bentuk nyata maupun yang tak kasat mata untuk kami. Semoga cita-cita bapak yang belum tercapai bisa kami capai satu persatu ya. Suami terbaiknya ibu Fatonah dan Bapak terbaiknya Mbak Ida, Mas Ud, Siti, Ima, serta kakek teristimewanya Fajar dan Izza. Maaf jika aku belum bisa menjadi putri yang baik untuk Bapak. Doaku selalu teriring disetiap harimu, semoga Bapak sehat dan dilindungi Allah selalu.

Kucukupkan sampai disini dulu ya pak.

Dari yang diam-diam mendoakanmu - putri keduamu
Rur

Peranan Wanita Membentuk Keluarga Sakinah

“Wanita adalah asbab utama terciptanya sakinah dan ketenangan di dalam rumahtangga/keluarga. Tiada faktor yang lebih kuat yang boleh mempengaruhi seorang lelaki untuk lebih bertaqwa melebihi pengaruh seorang wanita solehah. Ibu itu adalah madrasah. Bilamana kamu menyempurnakan madrasah tersebut, maka akan lahirlah generasi yang baik dari madrasah tersebut..” — al-Habib Umar ben Hafidz

8 Mac 2016
Masjid al-Falah, USJ 9
Subang Jaya.

Lanjut Postingan yg Kemarin…“Kami adalah 2 insan pembelajar yg disatukan oleh Allah dalam Pernikahan…”
.

Yg namanya kelebihan setiap orang pasti mudah utk menerima…Tetapi Menikah adalah bersatunya dua insan yg samasama memiliki banyak kekurangan.

Jadi yg punya ekspektasi mendapatkan pasangan yg sempurna, tarik nafas…Dan segera ralat persepsi tsb lalu turunkan ekspektasinya agar kamu nggak kecewa “berlebih” nantinya.

Faktanya, tidak ada manusia yg sempurna…Kekurangan itu pasti ada, bahkan…banyak!

Setelah menikah akan ketauan semuanya…Ngga ada yg bs kamu sembunyikan dari pasanganmu. .
.

Tetapi, disitulah seninya…dan letak perjuangannya.

Bagaimana kita bisa bersabar dgn kekurangan masing2, saling mendoakan dan berkomitmen utk sama2 trs belajar - memantaskan diri setiap hari.

Ya justru setelah menikah…Kita hrs lebih semangat utk trs belajar & memantaskan diri…:)
.

Belajar terus bagaimana jd suami yg baik, istri yg baik, ayah ibu yg baik…Sehingga keluarga kita menjadi tempat kita bertumbuh…Menjadi Madrasah Ilmu.
.

Kalau kita sama2 tumbuh menjadi pribadi yg semakin berkualitas, ada saat kita mengakui kesalahan masing2 sehingga…Ngga ada cerita kita saling menyalahkan atau malah mencari2 kesalahan/kekurangan…Malah jadinya saling menertawakan kekurangan/kesalahan yg dilakukan oleh masing2 dimasa lalu…Kalaupun saling mengingatkan bs dilakukan dgn baik dan penuh strategi misalnya memilih waktu yg tepat sehingga gak berujung “esmosi”.
.

Ada saatnya Kekurangan2 pun menjadi pengalaman yg lucu dan mengundang senyuman…Bahkan ada saatnya kita merindukan hal2 yg kurang dr pasangan kita…Kangen marahnya, cerewetnya, nyebelinnya, ngeselinnya haha.
.

Indah bgt kan kalau kita mendapati pasangan kita menjadi seseorang yg berubah menjadi lbh baik trs menerus
.

Itulah Cinta sebenarnya.

Cinta yg menggerakan dua insan utk mau berubah dan belajar menjadi lebih baik.
.

Sampai kapan kita hrs Memantaskan Diri?

Jawabannya adalah sampai Mati, sampai Allah ridho.

Itulah Cinta tertinggi yg kita harapkan.
.

Yg masih dlm penantian tulisan ini dibaca sambil senyum aja…In syaa Allah ada saatnya nanti mengalami.

Selamat memantaskan diri!
.

#KeluargaMuda #CintaPositif