ma hah

akkame-chan  asked:

That Man by Caro Emerald for the art challenge !! :3

‘‘Know something about Swing, boy?’‘
‘‘i believe i do, Madame.’‘

HE DOESN’T

also those are spy and scout’s ma. and sorry i tried to do something graphic but …i failed. T_T
ALSO THANK YOU FOR PARTICIPATING! 

first piece of the art challenge 

Te Rerenga Wairua - Prologue

Title: Te Rerenga Wairua
Summary: Found by the gods drifting at sea, Maui always assumed he had been thrown in it to drown. When that assumption is challenged, there is only one way to find closure: speaking to his long-departed family. But it’s never a smooth sail to the Underworld, and he’ll need help from a friend - plus a token that fell in the claws of an old enemy long ago.
Characters: Maui, Moana, Tamatoa
Rating: K

A/N: This fic is mostly based on the legend according to which Maui’s mother believed him to be stillborn and therefore meant to bury him at sea - not abandon him as Maui says in the movie. Then again, how would he know? He was a baby. He may have made the wrong assumption. I liked the idea, and this fic happened.
This is a prologue; the next chapters - see below - will be set shortly after the movie.

***

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12

***

There were things Tamatoa knew he wasn’t supposed to do. Leaving the cave and getting to the surface on his own was one of them; getting close to the humans was another.

“You’re still too small and soft, and this won’t help you,” his grandmother had said, knocking on the seashell he was using until he grew old enough to harden his own shell. “Humans, birds, bigger crabs. If they catch you they’ll pull you out of the shell, crack you open and eat you up.”

“Like when we ate Ma?”

“Hah! Much more easily than that. Her shell was tough. Your tiny little pincers couldn’t even scratch it. Tinytoa,” Gran had mocked him, one eyestalk inching closer. 

Keep reading

hari itu adalah hari besar untuk mas yunus dan saya, sebab mas yunus akan melaksanakan tes masuk ppds bedah saraf di unair. sebelumnya, mas yunus telah belajar berminggu-minggu. mas yunus bahkan minta dikirimi buku-buku tpa–karena di dompu tidak ada gramedia.

jam 8 pagi rangkaian tes dimulai. jam 12nya, saya mendapatkan pesan dari mas yunus.

“kica, di tengah tes aku ragu-ragu banget. aku mau nggak nerusin tesnya.”

“HAH? kenapa mas? tesnya susah banget?”

“belum, tadi baru tpa. belum tentang bedah sarafnya. kica, aku mau mengusahakan spesialis di ui aja.”

“mas yunus yakin? di ui berarti kapan daftarnya? LPDPnya bisa kepakai kalau di ui?”

“januari 2016. berarti aku akan tetep PTT sampai desember di dompu. baru daftar ppds. dengan risiko, bisa jadi LPDPnya expired. bisa jadi juga nggak keterima dan harus coba lagi.”

“terus gimana kalau LPDPnya expired?”

“sejak aku memutuskan jadi dokter, bapak sama ibu sudah nyiapin dana buat aku sekolah sampai spesialis. kalau LPDPnya expired, berarti pakai beasiswa bapak ibu.”

“mas yunus yakin?”

“tapi kalau aku sudah spesialis, kita nabung untuk gantiin uang bapak ibu yang kepakai selama ppdsku ya kica, nggak papa kan? aku nggak mau ngerepotin bapak ibu.”

“nggak papa mas. mau spesialis pakai LPDP pun, kita akan tetep punya kewajiban ngaturi bapak ibu. tapi mas yunus yakin? kita sudah di tengah jalan loh mas.”

“kica, aku kepikiran kamu. gimana kamu kalau harus pindah ke surabaya. gimana ids-mu. gimana mengajarmu. gimana ibu ayahmu. aku nggak tega.”

“mas yunus, sejujurnya ayah ibuku pasti lebih lega kalau mas yunus residennya di ui. tapi aku nggak papa kok. aku ikhlas di mana aja.”

“kica, aku akan nerusin semua tes hari ini. tapi aku akan langsung pulang ke dompu. aku nggak ikut wawancara ya.”

“aku bingung. tapi menurutku, karena ini sudah setengah jalan, gimana kalau istikhorohnya menjalani tes dengan sebaik-baiknya aja? kalau keterima, berarti kita di surabaya. kalau enggak, berarti kita di tempat lain. mungkin di ui.”

“aku semacam yakin keterima kica. di setiap departemen ppds itu ada kultur dan karakter umum residennya sendiri-sendiri gitu kica. salah satu alasan kenapa aku milih unair adalah karena aku merasa bisa sesuai dengan itu. apalagi aku beasiswa kan. ada jaminan bahwa aku nggak mungkin berhenti kuliah karena nggak punya biaya. aku malah semacam takut keterima sekarang.”

“mas yunus, makasih ya sudah mikirin aku segitunya. tapi aku beneran nggak papa kalau kita di surabaya.”

“kica, aku mikirin bukan hanya masa depan kamu. yang paling deket, aku mikirin gimana persiapan pernikahan kalau aku di surabaya. aku pasti nggak bisa bantu apa-apa. kalau di ui kan, paling enggak bisa curi-curi waktu.”

“mas yunus, mas yunus sudah bilang sama ayah ibu semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. mas yunus juga sudah bilang sama aku.

aku ikhlas kok. aku ikhlas bukan dalam arti aku menderita terus mencoba bahagia. aku ikhlas dalam arti aku bahagia sedari mula.”

“kica makasih yaa. sabar yaa sama aku. aku sayang kica.”

lalu mas yunus sungguhan pulang ke dompu. mas yunus telepon ibunya. kata ibu, mas yunus nggak boleh ragu-ragu. mas yunus kemudian telepon saya, kami diskusi panjang sekali.

keesokan harinya, mas yunus memutuskan meminta penjadwalan ulang wawancara. mas yunus kembali ke surabaya untuk wawancara. lalu setelah wawancara–

“kica, aku sudah di bandara tapi mau balik lagi ke unair. aku diminta tanda tangan kontrak bahwa aku tidak akan tinggal dan praktik di surabaya selepas ppds. aku diterima. kica nggak papa?”

“ALHAMDULILLAH. mas yunus aku berkaca-kaca.”

“kica makasih ya. kica, ini semua untuk kamu dan keluarga kita besok.”

“nggak mau. aku nggak mau mas yunus melakukan ini untukku. aku mau mas yunus melakukan ini sama aku. bismillah ya mas. ini perjuangan kita berdua.”

“ :’) ”

My parents watching the 60 minutes interview
  • *5SOS come on the screen with SLSP in the background*
  • Mum: Oh they sing this?! I love this song
  • Me: Ok mum, calm down...
  • *Luke and Calum begin answering questions*
  • Mum: *talking about Luke* What's that thing in his lip?! I just want to rip it out...
  • Me: Um, excuse me, that's part of his sex appeal.
  • Dad: How else do you expect him to get laid Janet?
  • Me: OMFG *begins cackling*
  • *Michael and Ashton come on*
  • Mum: *referring to Michael* He looks like that guy from that movie... What's it called?
  • Dad: Beetle Juice?
  • Mum: That's the one! *points at Ashton* He's cute. You marry him El. He'll treat you right.
  • Me: Ok mum, ok.
  • Dad: No Ellen. You marry the Kiwi, what's his name?
  • Me: Calum?
  • Dad: Yeah, him. I like the look of him. He's cool. If your next boyfriend isn't him I'll be very disappointed.
  • *The mums come on*
  • Mum: Aw I wish you were more talented El.
  • Me: Thanks.
  • Mum: Then you could fly me all over the world.
  • Me: Yeah ok...
  • Dad: Just remember us when you and Calum are married and jetting around the world with your six kids and bags of money.
  • Me: SIX KIDS?! You better believe that I will not be pushing six babies out ma hoo hah. Try two....
  • Dad: What if Cal wants six? What are you gonna do?
  • Me: Dad we won't ever meet, calm down hahaha
  • Dad: Don't jinx it Ellen. You need to believe.
  • Me: Ok dad...
  • *Don't stop starts playing*
  • Mum: *gets up and starts playing air guitar and singing*
  • Me: I'm so out... I'll watch the rest in my room. You guys are fangirling way too hard...
6

tagged by jihoongi & stseungri <3 


tagging these beautiful people: 

eirianerisdar, hironechan, youngbaebae, zeydaddy, thirstyfortaeyang, gdbiasedaf, hoeyang, happy-daesbeezysbae, yjms, daeseungie, creepygenitals, monstralization, koreanghetto, officialyanghyunsuk, seungribubus, seung-whores, melldraven, seungri-yay


obv you don’t have to do this but i would love some beautiful on my dash. 

Cemburu Itu Seru Atau Saru?

Kamu kalau lagi cemburu itu serem loh, Mas.

Hah, emang kapan aku cemburu?

Tadi, barusan.

Bah, enggaklah, aku mah ndak cemburu, cuma takut kamu suka dia saja.

Halah, itu ya namanya cemburu, Mas.

Oh, gitu ya.

Mbo ya kalau ada yang ngeganjal itu ditayaken langsung loh. Jangan suka main persepsi sendiri. Kan, jadi susah sendiri itu hati.

Malu.

Dih, kenapa pula harus malu.

Malu saja, ntar kamu jadi ge'er.

Hmmm … kamu itu loh Mas, sama orang lain bisa garang, sama aku kok mlempem gitu.

Cintamu telah menjinakanku.

Yey, kalau begini mah enggak jinak, tapi lemah. Kamu sadar nggak si Mas, kalau kamu itu kadang kayak perempuan.

Hah, maksudnya?

Kamu itu kadang suka over perasaan, suka khawatir berlebih, ya kayak perempuan gitu. Kayaknya kamu perlu dirukiyah deh.

Hah, rukiyah?

Iya, kayaknya di tubuhmu ada jin perempuannya deh.

Ah, enggak kok, di tubuhku hanya ada kamu.

Pffffttt …
Aku serius Mas, jangan sering-sering nuruti persepsi gitu yah. Bukan hanya aku yang resah, tapi kamu malah membuat diri kamu sendiri jadi resah.

Aku usahakan.

Janji ya?

InshaAllah.

Janji loh.

InshaAllah. :)

:)
Peluk dong.

Enggak mau. :p

hmm…

Bercanda … :)
Terima kasih ya sudah begitu sabar mengingatkan. Maaf, saya juga nggak tahu kenapa tiba-tiba bisa begitu. Saya bakal berupaya terus, terus dan terus. Bantuin yak?

Enggak mau. :p

with f.

“aku nggak siap tahun 2016 datang.”
“karena akan 25? i lost your 25 things before 25 ngomong-ngomong. di hape yang lama. huhu.”
“iya salah satunya. salah duanya, aku nggak siap ditinggal kamu nikah.”
“wk. aku kan nggak ke mana-mana.”
“nanti aku makan sama siapa? jalan-jalan sama siapa? nonton sama siapa?”
“cari pacaaar. calon istri deng.”
“nggak bisa. kesepian nggak bisa jadi alasan untuk punya pasangan.”

***

with g.

“aku pasti nangis pas akadmu.”
“nangis bahagia?”
“kalau ada apa-apa di perjalanan, kamu selalu punya aku.”
“…”
“perempuan yang mau nikah itu, artinya mau berkorban, mau mengalah, mau mengabdi, mau menurut, mau menunggu, mau bersabar tanpa batas.”
“ng, iya. bener.”
“aku pasti nangis karena kamu harus semua itu.”
“…”
“tapi itu akan jadi surgamu. insya Allah. aku doakan.”

***

with dek ute.

“mbak, aku sedih kalau mbak nggak di sini lagi.”
“kayaknya mbak juga.”
“tiap aku ngebayangin akad nikah mbak, aku pasti nangis.”
“mbak juga…”
“aku nggak kebayang jadi mbak uti.”
“mbak aja nggak kebayang dek, apalagi kamu…”
“apalagi ibu ya mbak? pasti sedih banget.”

***

with k.

“mut, kalau aku ini kakakmu, aku nggak akan bolehin kamu nikah kalau kamu nggak bahagia.”
“iya aku bahagia kok tenang.”
“pret.”
“pret juga.”
“haha kamfret.”

***

with l.

“mut, maaf ya aku lancang. aku ngejadiin foto keluargamu yang ada mas yunusnya display picture bbm-ku. terus ada yang nanyain itu foto mas yunus bukan. dia fans berat mas yunus.”
“hah? kamu jadiin display picture? ya ampun.”
“iyaa. aku bahagia sekali untuk kebahagiaanmu, mut. pokoknya aku wajib datang akad dan mau berdoa sebanyak-banyaknya untukmu.”
“ :’) ”

***

with r–anak ids.

“mbak ngajar lagi semester ini.”
“oiya mbak? sampai kapan?”
“juni kayaknya.”
“mbak masih di bogor sampai juni dong?”
“bisa jadi.”
“yeaaaaayyy!”
“seneng amat.”
“mbak aku pusing mbak kalau nggak ada mbak uti.”
“ya iyalah kan mbak bosnya. bzt.”
“hahaha.”

***

with f (again).

“kamu itu disayang sekali.”
“iya. bagaimana bisa aku takut tidak disayang sementara Allah adalah Maha Penyayang? wk. ikut-ikut pedagang di Arab.”
“kamu itu disayang sekali.”