luw

Kekhawatirannya

Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.

Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.

Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.

Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.

Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.

Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.

Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi

a forgiving mother

kata ibu, saya ini orangnya cuek. dulu ibu mati-matian membuat saya menjadi anak yang selalu perhatian sama sekitar, mau memikirkan orang lain, peka. sekarang, saat giliran saya yang menjadi ibu, saya merasakan bahwa kecuekan saya hilang entah ke mana dan saya menjadi orang yang sebaliknya. saya mudah khawatir terutama apapun tentang mas yunus dan mbak yuna, mudah merasa bahwa diri saya bukan istri dan ibu yang cukup baik. lalu, kata ibu, saya perlu belajar menjadi cuek lagi. cuek yang lain, yaitu yang memaafkan.

setelah saya renungkan dan coba, ternyata, menjadi seseorang yang banyak memaafkan itu sangat penting. saat kita berhasil memaafkan, yang bahagia adalah diri kita sendiri. itulah mengapa kita harus sering berlatih memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. memaafkan itu menenteramkan. apalagi kalau sudah menjadi ibu. rasanya, memaafkan harus selalu ada dalam agenda harian kita.

dalam dua minggu terakhir, ada banyak momen istimewa terjadi. untuk pertama kalinya saya meninggalkan mbak yuna karena sekolah (padahal hanya beberapa jam saja), untuk pertama kalinya mbak yuna melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat, untuk pertama kalinya mbak yuna makan (yap, sebelum genap 6 bulan), dan untuk pertama kalinya saya sakit lumayan parah sampai kesulitan menyusui. selama dua minggu terakhir, saya benar-benar belajar untuk menjadi ibu yang memaafkan (diri sendiri).

ini adalah serangkaian usaha yang membantu saya memaafkan diri sendiri. menjadi ibu yang memaafkan.

1. miliki standar ideal tentang segalanya. namun, pilahlah mana yang benar-benar dasar, prinsipil, dan penting, lalu mana yang bisa luwes. supaya semakin pandai memilah dan memilih, kita harus punya pengetahuan luas, alias harus banyak belajar. biasanya, konflik paling sering muncul karena jaman sekarang ada banyak sekali ilmu parenting kekinian, sedangkan orang-orang terdekat kita belum mengetahui dan memahaminya. jadilah orang tua yang bijak dalam menentukan apa yang paling ideal. jangan sok-sokan kekinian tapi tidak tau dasarnya. jangan pula telan bulat-bulat metode parenting yang menurut orang tua kita atau orang-orang terdekat kita adalah yang terbaik. caranya? belajar, tentukan sendiri.

2. selalu ridho. maafkan, literally. dalam perjalanan mencapai yang kita sebut ideal, seringkali ada yang tidak tercapai. katakan kepada diri sendiri bahwa itu nggak papa. it’s OK.. kembali lagi ke poin pertama, selama masih ada alternatifnya dan alternatif tersebut sesuai dengan prinsip, it’s OK. nggak ada orang tua yang gagal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. nggak ada anak yang nakal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. menjadi orang tua artinya belajar untuk terus-terusan ridho dan harus begitu. kata lainnya, belajar terus-terusan memaafkan ketidaksempurnaan.

3. pada dasarnya kebutuhan bayi hanyalah dua: rasa aman dan rasa nyaman. itu sangat berbeda dengan keamanan dan kenyamanan. saat saya pertama kali memutuskan mbak yuna tidur bersama saya dan tidak di boks misalnya, yang ingin saya penuhi adalah perasaan aman mbak yuna karena dekat dengan ibunya. waktu itu mbak yuna baru satu bulan dan tidur bersebelahan dengan ibu tentu memiliki risiko keamanan. namun, berhubung mbak yuna selalu menangis jika tidur sendirian, sayalah yang harus ekstra memperhatikan keamanan dan mengurangi risikonya. ingat, rasa aman dan rasa nyaman–yang dirasakan bayi, bukan sekadar keamanan dan kenyamanan–yang dipikirkan orang tua.

4. semua hal baru bagi bayi bisa menimbulkan ketidaknyamanan. oleh karena itu, komunikasikan. sering-seringlah ngobrol sama bayi meskipun dia belum mengerti. bahkan, sejak dalam kandungan, ajak janin mengobrol sesering mungkin. berhati-hatilah dengan kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi karena kita sedang membentuk dirinya lewat kata-kata. saya termasuk yang sangat teliti soal kata-kata ini. ingatlah bahwa kata-kata, apalagi dari orang tua, adalah doa.

5. berusahalah untuk selalu mengikuti bayi dan anak–bukan menuruti yah, beda. ini berlaku jika bayi sudah mulai punya banyak keinginan. anak tidak bisa disuruh memahami keinginan orang tua. orang tua pun sering kali sulit memahami anak. jadi, ikutilah dunianya. pahamkan anak atas berbagai emosi dan pahamkan anak atas keinginan dirinya sendiri. kita tentu ingin anak kita tumbuh menjadi seseorang yang berempati alih-alih yang penurut. jadi, yang perlu kita berikan bukanlah pemahaman (saja), melainkan cara untuk memahami.

6. kebahagiaan tidak ada di internet dan media sosial. kebahagiaan itu adanya pada hubungan antara ibu dan anak, antara bapak dan anak–yang nggak kelihatan di mana-mana. ini penting pakai banget. orang-orang yang berbagi betapa “pintar” dan “baik” anaknya, mereka sedang merayakan kebahagiaannya. kita, jangan jadikan itu standar bahagia dan sukses kita. milikilah ikatan kuat nan tulus dengan cara kita sendiri. caranya? selalu ridho. selalu ridho. selalu ridho.

7. tidak semua properti bayi dan anak itu penting. saya yakin bahwa penyakit boros dan kalap belanja akan tiba-tiba menghinggapi para ibu baru karena ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. namun, percayalah, tidak semuanya penting dan hampir semuanya bisa ada alternatifnya. kebanyakan peralatan bayi pun dipakai hanya sebentaran saja. jadi, belanjalah apa yang penting, bukan apa yang lucu, apalagi apa yang dimiliki para ibu sejagat instagram. ajari anak kita untuk hidup hemat dan sederhana sejak dini. meskipun kita mampu, tidak berarti kita harus punya semua yang kita mau. kembali lagi ke poin satu.

***

mbak yuna baru saja enam bulan. baru lulus asi eksklusif dan (akhirnya tidak sesuai rencana) sudah memulai makan sejak 5.5 bulan karena tanda-tanda siap mpasi sudah lengkap. tantangan menjadi orang tua ternyata semakin besar berhubung mbak yuna sudah semakin mengenal emosi dan perasaan. di tengah berbagai ilmu parenting yang sangat banyak–kadang-kadang terlalu banyak sampai bingung mana yang terbaik–untuk diri sendiri, saya merangkum semuanya menjadi satu saja, yaitu menjadi ibu yang selalu memaafkan.

memaafkan, dalam kamus saya artinya: belajar, ridho, beri rasa aman nyaman, komunikasikan, ikuti dunianya, bangun ikatan, tetap sederhana.

lalu, memaafkan juga punya arti lain: bahwa apa yang dilakukan para ibu lain kepada keluarganya dan anak-anaknya adalah yang terbaik menurut mereka. jadi, kita jangaaan deh sekali-sekali terlibat dalam perdebatan dan perang tentang apa yang terbaik. cukuplah kita belajar lalu memilih yang terbaik untuk keluarga dan anak sendiri. berbagi bagaimana itu semua bekerja tidaklah apa-apa, tetapi tidak berarti hal yang sama akan berlaku bagi orang lain. standar ideal kita adalah untuk kita, bukan untuk orang lain.

semoga catatan kecil ini membantu semua ibu muda. semangat yaa. yang ingin curhat tentang menjadi ibu muda, i’m all ears yah.

Novel Kang Abik dan Mensyukuri Muzammil

Dulu, setiap kali membaca novel karya Kang Abik, saya selalu merasa bahwa tokoh yang dilukiskan kang Abik dalam novel beliau terlalu malaikat. Fahri, Azzam, Fahmi, Afif, Anna, Aisha, Husna, hingga Aina. Semuanya adalah orang-orang keren yang luwes dan memahami Islam dengan sangat baik.

Saya dulu membayangkan bahwa mereka semua adalah tokoh dongeng yang tidak akan terwujud di dunia nyata. Tapi semakin jauh saya melangkah, saya menemukan banyak profil yang shalih, cedas dan matang. Alhamdulillah Allah mentakdirkan sebagiannya hadir tidak jauh dari jangkauan saya.

Tiga dari lima murobbiyah saya zaman kuliah, saat ini sedang menempuh PhD di Eropa (satu di Bristoll, satu di Frankfurt, dan satu lagi di Aberdeen). Murobbiyah saya yang di Aberdeen bahkan sudah menghafal 30 juz. Terakhir saya mendengar kabar bahwa beliau sudah menunaikan cita-cita beliau untuk muroja’ah di Selat Bosphorus, Turki.

Sementara dua murobbiyah saya yang lain memilih menempuh jalan menjadi ibu rumah tangga yang bagi saya tidak kalah hebatnya. Ibu yang pertama punya 6 orang anak shalih shalihah. Beliau menjadi ibu rumah tangga yang juga sibuk berkhidmad di ruang publik dan aktif memberi penyuluhan tentang ketahanan rumah tangga. Ibu yang kedua punya satu anak (sekarang sedang hamil anak kedua) juga dekat dengan masyarakat dan banyak memberikan pelatihan tentang kerajinan tangan.

Melalui beliau semua, saya seolah menemukan profil wanita shalihah dan bermanfaat. Sejak itu, saya berfikir bahwa tokoh dalam novel-novel kang Abik bukanlah tokoh fiktif. Mereka bahkan bisa kita ikhtiarkan untuk ‘dicetak’ secara massal bila kita bergerak dan bersinergi dalam dakwah.

Keramaian hari patah hati nasional setelah Muzammil Hasballah menikah membuat saya geli sekaligus bersyukur. Geli melihat respon para akhwat yang minta dicubit…..bisa-bisanya udah ngaji lama tapi kok masih posting galau lihat Muzammil nikah.

Bersyukur karena kita mulai bisa mengangkat profil idola baru yang berbeda dengan idola yang lain. Sebelumnya, hari patah hati nasional ada karena Song Joong Ki dan Hamish Daud ketemu jodoh, Alhamdulillah ternyata imam muda dari ITB ini juga bisa bersanding dengan dua figure sebelumnya dimana kalau dua figure sebelumnya diidolakan karena wajah, Muzammil diidolakan sebagai sosok shalih yang kekinian.

Saya, meskipun tidak suka dengan figuritas, tetap tidak bisa menafikan bahwa figur idola di suatu zaman pastilah menjadi standard dimana kalau orang lain ingin di sebut keren, dia harus bisa merubah dirinya menjadi mirip dengan figure yang diidolakan.

Lebaran tahun lalu, anak di kampung saya mengidolakan Boy dan motornya. Saya nggak tau Boy itu siapa, soalnya saya jarang banget nonton TV ~XD Kok pas ditanya si Boy siapa, ndilalah ternyata sosok Boy itu cuma cowok kaya yang hobi motoran ngalor ngidul bersama ceweknya. Kisah si Boy ini diramu seheroik mungkin hingga tokoh yang menurut saya biasa aja malah jadi idola para remaja tanggung.

Dunia kita ini selalu penuh perang pemikiran. Maka menghadirkan sosok idola yang baik juga termasuk dakwah bagi generasi muda. Saya kadang cemburu melihat sosok-sosok yang ada di hafidz Indonesia RCTI, iri ngelihat Wirda Mansyur yang masih muda tapi hafal Al Qur’an dan berwawasan luas sementara saya masih gini-gini aja.

Tapi setiap kali melihat mereka, saya semakin sadar bahwa pekerjaan rumah kita adalah mengkondisikan lingkungan agar bisa menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan mampu memikul amanah dakwah di usia muda. Seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima di usia 17. Seperti Imam Syafi’I yang hafal Al Muwatha’ usia 9 tahun.

Kalau target kita adalah menghasilkan generasi-generasi unggul seperti Usamah dan Imam syafi’I (saya bilang generasi, bukan hanya anak kita aja), berapa jauh lagi perjalanan kita? Masih jauh banget.

Di tumblr aja umur 20 tahun masih sibuk nanya “Gimana kalau kangen sama lawan jenis ~XD” padahal udah tau kalo Islam udah ngasih tuntunan. Kalo kangen mestinya ya diberaniin ngelamar ato kalo nggak berani ya puasa terus dzikir ~XD. Saya ga ada maksud mengolok-olok recehnya pertanyaan ini. Toh bagaimanapun pertanyaan yang demikian juga ada karena lingkungan kita belum mampu untuk jadi support system buat numbuhin generasi yang matang di usia balighnya.

Jadi keinget pas ngobrol sama Bapak saya perkara usia siap nikah. Bapak saya ngejawab “Yaa mestinya orang yang udah baligh dan mukallaf (bisa membedakan yang benar dan yang salah) udah bisa dikasih tanggung jawab buat nikah”

“Tapi kan umur segitu belom kerja Pak? Malah ngerepotin orang tua yang ada”

“Itukan logika kamu yang hidup di zaman kayak gini. Logika di zaman nabi beda karena di usia baligh, orang udah matang pikirannya. Abdullah bin Umar aja ikut perang umur berapa?”

Dakwah pada dasarnya harus punya visi untuk membentuk kestabilan diri juga membentuk kestabilan lingkungan hingga menghasilkan generasi yang shalih dan menshalihkan.

Meskipun perjalanan masih sangat jauh, saya bersyukur karena generasi muslim yang shalih seperti Muzammil Hasballah, Alvin Faiz dan Wirda Mansyur banyak bertumbuhan. Mestinya kita tidak hanya memandang fenomena pernikahan Muzammil dan Sonia ini dari euphoria hari patah hati nasional saja. Tapi bagaimana kita mengamati lingkungan tempat beliau tumbuh agar kelak kita bisa punya gambaran untuk menghasilkan generasi yang minimal shalih dan cerdasnya sama. Atau bahkan lebih shalih lagi.

Jadi buat sayaa, It’s ok kalo ada ngerasa sedih pas lihat Muzammil menikah. Paling tidak, gambaran kalian tentang suami idaman udah lurus. Yang penting dijaga izzah dan iffahnya. Jangan khawatir, jodoh udah ada yang ngatur.

Dan bagi para Ikhwan, nggak perlu terlalu bahagia karena Muzammil sudah menikah terus kalian ngerasa saingan berkurang. Jodoh itu bukan piala yang harus diperebutkan. Juga bukan seperti sandal masjid yang bisa ditukar-tukar.

Yang penting bagi kita semua adalah bagaimana berusaha untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya demi bersiap menyambut jodoh yang baik, tapi juga bersiap menunaikan amanah peradaban setelah menikah kelak.

sekolah dan menikah

beberapa hari yang lalu, seorang teman perempuan yang prestasi akademisnya luar biasa menghubungi saya. katanya, ia sedang bimbang antara menikah atau melanjutkan sekolah (S2)–kebimbangan yang pernah saya alami, sebelum saya menikah.

saat itu, ayah saya mendukung saya menikah, karena ayah menilai bahwa menyegerakan itu baik dan saya tidak tergesa-gesa, sudah cukup dewasa. apalagi sudah ada yang melamar, tidak baik nantinya jika ditunda lama-lama. di lain sisi, ibu mendukung saya untuk sekolah, karena ibu mengalami sendiri betapa setelah menikah, rencana dan masa depan seorang perempuan haruslah luwes. kalau saya masih tetap pada cita-cita saya (untuk menjadi dosen saat itu), saya mau tak mau harus sekolah terlebih dahulu.

saya akhirnya memilih untuk menikah dan menyerahkan sisanya kepada Allah. untuk melegakan ibu (dan diri sendiri), saat menuju menikah, saya pun mencoba ikut seleksi beasiswa dan menjadikannya bentuk istikhoroh saya. cukup jarang terjadi bahwa saya gagal setelah benar-benar berupaya. tapi saat itu, saya tidak berhasil memperoleh beasiswa. saya tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan. cukuplah saya menjadi paham di mana Allah ingin saya melakukan pengabdian.

dalam proses menuju menikah, saya banyak berproses dengan diri sendiri. saya belajar memahamkan diri bahwa cita-cita bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah jalan. rasanya, terlalu sempit apabila saya mengukur nilai diri dari label profesi, bukan dari kebaikan yang bisa saya lakukan dan berikan. tugas manusia adalah beribadah, menjadi bermanfaat adalah tujuannya. cita-cita adalah jalannya–dan jalan itu, ada beragam sekali.

setelah menikah, keinginan saya untuk bersekolah tidak pernah hilang. tapi ada yang sangat berbeda. kalau dulu saya ingin sekolah karena itu prasyarat untuk cita-cita saya, sekaligus agar kekinian seperti kebanyakan orang, setelah menikah saya ingin sekolah karena saya ingin bisa optimal bermanfaat bagi sesama, karena saya ingin menjadi gelas kosong terus-menerus–agar tidak jumawa dan mau bertumbuh.

tidak sekali dua kali mas yunus mendapati saya mencari-cari informasi tentang sekolah. kalau S2 di surabaya, bisa belajar apa ya? biayanya berapa ya? kira-kira bisa dapat uang sekian banyak dari mana ya? beasiswa yang bisa menyokong apa ya? kalau S2 di jakarta bagaimana? kalau di bogor? beberapa kali, mas yunus mendapati browser di laptop kami penuh dengan informasi mengenai sekolah-sekolah.

“kica, kamu pingin banget sekolah ya?” tanya mas yunus kemudian.
“iseng aja mas cari-cari tau,” kata saya, “nanti kalau udah settle semuanya, mungkin aku sekolah.”

singkat cerita, saat ini kami punya mbak yuna, sehingga masa depan dan rencana hidup kami harus selalu ditata ulang. yap, di sanalah seninya. masa depan harus selalu direncanakan, tetapi tidak berarti rencananya selalu berhasil hanya dalam satu kali perencanaan. saya dan mbak yuna tinggal di bogor, menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. mas yunus di surabaya, bersekolah (dan mengabdi pada masyarakat). ini jauh berbeda dari rencana semula.

sampai sebuah kesempatan untuk sekolah datang lagi kepada saya, tanpa saya mencari-cari. tiba-tiba saya mendapat dukungan luar biasa dari ayah dan ibu–juga dari mas yunus. karena sekolah ini adalah untuk pengembangan perusahaan kami, saya diberi beasiswa. semuanya datang tanpa disangka-sangka, begitu cepat seperti nikmat-nikmat Allah lainnya.

jika Allah mengizinkan, saya akan bersekolah lagi mulai bulan Juli nanti. ini bukan sekolah dengan gelar–sekolah inkubasi ini hanya dilaksanakan seminggu sekali. tugas akhirnya bukan skripsi tesis apalagi disertasi, melainkan aplikasi-aplikasi (yang tentu akan dibuat keroyokan bersama teman-teman IDS). saya sekolah sendiri, tapi satu kantor kami akan turut belajar.

saya bersyukur sekali karena Allah membuat saya paham tentang ilmu yang bermanfaat. bahwa hakikat sekolah berada pada ilmunya bukan pada gelarnya. dan bahwa, Allah akan selalu membukakan jalan selama kita tidak putus berusaha dan berdoa.

kepada teman saya yang sedang bimbang–dan kepada teman-teman yang sedang sama bimbangnya, saya ingin berpesan:
pertama, tenanglah dulu. saat tenang, kita dapat lebih bijak membuat keputusan. utamakan ridho kedua orang tua dan (calon) pasangan dalam setiap keputusan tersebut.

kedua, pahamkan diri sendiri. saat kita telah memahami esensi dari apa yang kita cita-citakan, apa yang menjadi tujuan kita, insyaAllah kita benar-benar tau mana keputusan yang sungguh cita-cita kita, mana yang hanya terbawa suasana.

ketiga, teruslah berdoa dan berbuat baik. saya, sekali lagi mengalami betapa kebaikan itu seperti air yang menguap–tak terlihat, tak terasa. tetapi balasannya, seperti hujan yang jatuh turun ke bumi. akan datang pada waktu terbaiknya, begitu nyata, dan akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan lain.

tentang sekolah ini, saya begitu terharu dengan mas yunus yang memberikan dukungan penuh. meskipun itu berarti bahwa kami akan LDR-an lebih lama lagi (daripada rencana semula). meskipun itu berarti ada hal-hal baru lain yang akan dikorbankan.

liefs.

Ramadhan #2 : Melalui Peran

Sewajarnya remaja, kita senang melihat orang tampan atau cantik. Apalagi ketika kita mendambakan sosok yang menjadi pasangan kita itu yang cantik atau yang tampan. Layaknya artis korea semisal. Sebagai sosok-sosok yang luwes saat kita ajak ke kondangan.

Dan kini, iklan dan barisan newsfeed di instagram pun banjir dengan kecantikan dan ketampanan. Cantik dan tampan dalam definisi rupa. Semulus kulitnya, seputih kulinya, selurus rambutnya, sekeren bajunya, sehitam alisnya, dan berbagai definisi yang tampak sangat lahiriah. Sesuatu yang pasti tidak akan berusia panjang, tapi kita sangat terpesona dan ikut menikmatinya. Beberapa dari kita menjadikannya sebagai kiblat dari definisi itu, karena kita tidak memiliki definisi sendiri apa itu cantik, apa itu tampan.

Dan saya kasih sedikit rahasia. Bahwa sejak dulu, bagi saya cantik (karena saya laki-laki) adalah ketika seorang perempuan memiliki dan menyadari perannya. Perempuan yang mengambil peran secara langsung, secara nyata, terjun ke lapangan, dan memberikan dampak positif. Dan jujur, perempuan seperti itu memang sulit kita jumpai di dunia maya. Sulit menemukan fotonya dengan busana OOTD, apalagi ikutan photoshot untuk ajang-ajang tertentu.

Perempuan yang memiliki dan mengambil peran itulah yang cantik. Setiap peran yang ia ambil, layaknya perawatan kecantikan. Setiap kali ia mengajar, ia sedang merawat hatinya. Setiap kali ia membantu orang lain, ia sedang merawat empatinya, setiap kali ia duduk dalam barisan rapat membahas tentang masalah di masyarakat dan mendiskusikan solusinya, ia sedang merawat akal sehatnya. Dan semakin ia berperan, ia tampak semakin cantik.

Jujur saja, bukankah ada beberapa teman kita yang demikian? Cantiknya terpancar setiap kali ia menjalankan peran kebermanfaatannya. Auranya mengalahkan setiap serpihan bedak dan gincu. Dan arenanya bukan di instagram, tapi di tempat tempat jauh yang sinyalnya mungkin angin-anginan.

Dan pandainya teman-teman laki-lakiku adalah mereka berhasil mempersunting yang demikian. Perempuan-perempuan yang berperan, bukan baperan. Perempuan-perempuan yang berhasil mendefinisikan dirinya sendiri. Perempuan yang sigap, mau berjuang, dan tidak keberatan untuk ikut memikirkan kondisi orang lain. Tidak hanya berpikir tentang kenyamanan dan keamanan diri dan keluarganya.

Dan definisi cantik itulah yang dianut oleh sebagian besar teman laki-laki saya. Satu persatu dari mereka menemukannya. Di organisasi, di komunitas, di lingkungan-lingkungan nyata yang selama ini mempertemukan peran mereka.

Dan kalau kita mau mengukurnya dengan standar kecantikan seperti iklan di televisi, barisan selebgram, dan definisi cantik yang hanya tampak secara lahir. Mereka mungkin kalah jauh. Tapi mereka berhasil mendifinisikan dirinya sendiri, memiliki nilai-nilai yang utuh yang lahir dari dalam diri, bukan dibentuk oleh iklan, oleh dunia maya.

Dan satu hal, mereka berhasil menemukan laki-laki baik yang masih baik akal sehatnya. Sesuatu yang paling dikhawatirkan oleh perempuan di luar sana, adakah laki-laki baik? jangan-jangan laki-laki menyukainya hanya karena kecantikan?

Kalau kamu perempuan, buatlah definisi yang tampan bagimu itu seperti apa. Itulah yang akan membuatmu lebih mudah untuk mengenali, siapa orangnya.

28 Mei 2017 / 2 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Ibu dan Anak Laki-lakinya.

Jadi gini, ada seorang lelaki yang badannya tinggi, mukanya garang, barista, kumisan, kemudian mulai bulan depan memutuskan untuk keluar dari kerjaannya.
“Ohya? Mau bikin tempat ngopi sendiri?”
“Hehe pengennya. Tapi bukan karena itu. Aku mau pulang, kangen Ibu.”

Ada lagi, seorang teman yang wajahnya teduh sekali, muka yang kalau pas lagi biasa aja pun keliatan kayak senyum. Seorang teman yang aku tahu tiap hari merindukan Ibunya. Tapi rindunya sudah tidak bisa lagi dia tumpahkan dengan “pulang”.

Terakhir, seorang kawan yang tidak bisa pulang karena masalah pekerjaan. Seorang anak laki-laki yang kaku sekali. Ibunya rindu, aku yakin sang anak pun begitu. Tapi tampaknya sang anak bukan seseorang yang pandai menyampaikan rasa rindunya.Pasti berat bagi keduanya.

Apa rasanya jadi anak laki-laki yang mungkin gengsinya lebih tinggi dari anak perempuan?
Sebenarnya rindu, tapi malu untuk mengungkapkan.
Apa rasanya jadi kalian yang tumbuh dengan kata-kata “anak laki-laki tidak boleh menangis.” sedangkan menangis adalah tumpahan rasa rindu karena pelukan tak lagi dapat menghapus rasa itu.

Kami, anak perempuan, bisa saja menangis tersedu-sedu menyampaikan rasa rindu didepan bapak ibu tanpa rasa malu.
Anak perempuan mungkin lebih mudah menyampaikan perasaannya pada orang tua, pun orang tua mungkin lebih luwes berkomunikasi dengan anak perempuannya.

Semoga jarak diantara kalian di dunia justru mendekatkan kalian di akhirat.

Semoga semua perjalanan di dunia ini, yang menjauhkan kita dari orang-orang tersayang kita, adalah bekal untuk menyatukan kita kembali abadi di surgaNya.

merenung tentang keluarga yang ideal, saya pernah bertanya-tanya apakah yang kami jalani ini “sehat”. kalau boleh jujur, kami memang ngos-ngosan melakukan persiapan dan membuat rencana atas apa yang akan terjadi selanjutnya. semuanya seakan terjadi begitu cepat. tiba-tiba kami lamaran, tiba-tiba mas yunus sekolah, tiba-tiba kami menikah, tiba-tiba saya hamil lalu melahirkan, tiba-tiba kami tinggal berjauhan. baru saja nyaman dengan satu fase, kami tiba-tiba masuk ke fase lain.

dulu saya termasuk tipe perempuan yang sangat ngotot untuk menjadikan suami yang pertama. ngomong-ngomong, kalau perempuan hanya ingin jadi satu-satunya, laki-laki “nggak papa” menjadi yang pertama–malah harus! laki-laki maunya dan harus menjadi yang pertama di atas semua urusan perempuan. dalam Alquran, perempuan paling banyak disebut sebagai istri, lalu sebagai ibu, barulah sebagai individu.

saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama dan utama sampai-sampai bingung caranya. yang paling kasat mata saat kami menjelang menikah adalah, akhirnya saya melepaskan beberapa cita-cita yang tidak mungkin bisa dilakukan jika saya pindah domisili ke Surabaya. beberapa rencana pribadi pun saya tunda (ingat cerita tentang kelinci dan kura-kura? begitulah, untuk bisa menang bersama-sama, kita harus bekerja sama. dan terkadang, perlu berkorban).

saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama, sehingga saya termasuk golongan perempuan anti LDR. “kalau bisa nggak jauhan, kenapa harus jauhan? janganlah memberi peluang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pikir saya dulu. tentu saja, pikir kebanyakan orang juga begitu. tapi sekarang, kami LDRan.

berjauhannya kami sebenarnya juga bukan rencana. awalnya saya ingin melahirkan di Surabaya saja. ternyata, H-2 bulan melahirkan, mas yunus mendapat tugas belajar di Jepang. praktis saya kembali ke Bogor dan melahirkan di Bogor. entah mengapa, dalam kebingungan, seringkali Allah memberi petunjuk melalui keadaan yang pilihannya tidak di tangan kami sendiri, sehingga lebih mudah rasanya menerima jalan yang dipilihkan Allah. alhamdulillah.

sudahlah. tidak usah dibahas bagaimana rindunya kami pada satu sama lain. tidak jarang mas yunus menelepon, lalu beranjak sholat saat adzan berkumandang, lalu menelepon lagi setelah sholat. tidak jarang kami ngelindur lalu teleponan tengah malam. jangan tanya betapa girangnya saya saat mas yunus bilang, “kica tolong cariin tiket yah.”

mungkin kelihatannya, bagi beberapa orang, berjauhannya kami berarti bahwa saya tidak mengutamakan mas yunus, berarti bahwa saya lebih mengutamakan mbak yuna, juga lebih mengutamakan karir saya–yang tidak demikian adanya.

akhirnya kami berjauhan karena saya dan mbak yuna justru mengutamakan mas yunus. karena cita-cita mas yunus adalah cita-cita kami sekeluarga. karena, dengan bisa mengurus diri sendiri, kami mengurangi beban mas yunus untuk mengurus kami, sehingga mas yunus bisa lebih tenang belajar. di Bogor, saya “sendiri” tapi “banyakan”. di Surabaya, saya “berdua” tapi “sendiri” karena mas yunus sibuk sekali. seperti yang mas yunus bilang, “kica, terima kasih sudah mengurus diri sendiri.”

kesimpulannya, saya jadi memahami bahwa semua keputusan dan pilihan yang dijalani setiap perempuan adalah bentuk baktinya pada suaminya asalkan sang suami ridho. perempuan yang tidak bekerja dan perempuan yang bekerja sama mulianya ketika suaminya ridho. perempuan yang tidak bekerja atau yang bekerja juga bisa jadi tidak mulia, kalau suaminya tidak ridho. perempuan yang sekolah lagi dan membuat sang suami harus berkorban lebih banyak mulia asal suaminya ridho. perempuan yang tidak sekolah lagi dan mengurus rumah tangga juga mulia asal suaminya ridho.

saya jadi mengusahakan sering-sering minta maaf sama mas yunus–kalau-kalau punya salah. sering-sering minta ridhonya mas yunus. semoga apa yang kami jalani ini selalu diberkahi Allah. dan itu saja, setiap langkah disertai keridhoan yang dimintakan, disebutkan. alhamdulillah, mas yunus memahami bahwa yang kami jalani adalah bentuk bakti saya, tidak secuilpun mengurangi rasa cinta dan hormat saya sama mas yunus. mas yunus tetap yang pertama dan utama.

ini jadi pelajaran untuk diri saya sendiri. pertama, untuk menjadi luwes dengan masa depan dan rencana hidup–karena semuanya memang tergantung ridho suami, dan agar saya tidak kecewa jika ada yang berjalan tidak sesuai rencana. kedua, untuk jangan pernah menilai kemuliaan seorang perempuan atas apa yang dilakukannya saja. kemuliaan seorang perempuan terletak pada ridho suaminya. yang satu itu, tentu saja tidak kelihatan.

10

MUST REBLOG TO ENTER

THIS IS INNSAANEEE

HOOWWWWW

:”/

So, here it comes:

I didnt even finished drawing the prizes for the first raffle . Just wow.

This time there will be more prizes , here it goes :

6th prize : just lineart , 1-3 characters , no backroud , full bod or half

6 pepole can win this place , cuz u all dezerve it

5th place : chibi , finished , one colour backround , 1 character

full body

5 pepole can win this place

4th place : icon , finished , one colour backround

4 pepole can win this place 

3rd place : sticker , 1-3 characters , full or half body, finished

3 pepole can win this place

2nd place : 1-4 charaters , finished ,  half body , detalied backround 

2 pepole can win this place

1st place : 1-4 characters , finished , full body , detalied backround

1 person can win this place 

MUST BE FOLLOWIN

there is a reason for this reason , that i said it before

I will draw :

OCs , personas , gifs , slight gore , everything that has a reference

I wont draw :

NSFW ( thanks for all the nice pepole that corected me)

Annd , I think thats all :”/

The raffle will end : Second of June

Ya have 1 month :”)

Thank you :”)

Cus I luw ya all (exept for random pepole and the boots)

And if confused , this is the main blog of @ask-the-tall-demon .

Annnd here come the mountain of tags :

Keep reading

uneg-uneg tentang selfie (2)

gue mau lanjutin bahasan tentan Selfie di sosmed. Di tulisan sebelumnya, gue bilang kalo hukum Selfie pada dasarnya mubah. Tidak haram. Tujuan gue nulis tulisan sebelumnya adalah, biar kita bisa lebih luwes memilih pendekatan dakwah kalau sudah tahu hukum dasarnya.

Kebutuhan orang untuk pasang foto di sosial media kan beda-beda. Ada teman gue yang bikin instagram khusus buat keluarganya karena dia kuliah di luar negeri. Dan ngirim foto ke ortu lewat WA itu rawan hilang. Akhirnya dia memilih instagram sebagai media untuk membuat album foto. Buat obat kangen orang tua.

Ada juga yang hobi backpacking dan selfie terus diupload ke media sosial untuk mendokumentasikan perjalanannya. Semua tentang kenangan dan mengabadikan kenangan pun nggak ada salahnya.

Gue hobi trevelling. Tapi gue bukan tipikal traveller yang biasa motret. Gue menikmati perjalanan sampai suka lupa kalau gue belum motret, kalau nggak ada yang ngingetin. Gue juga sering banget janji ketemuan sama temen lama tapi kok lupa foto buat kenang-kenangan. Ada orang-orang yang sebenernya nggak anti selfie tapi hidupnya emang agak jauh sama kamera. Apakah itu kelebihan? Enggak juga ~XD

Kebaikan atau iman seseorang itu sama sekali nggak bisa diukur dari betapa sering dia selfie.

Hukum selfie itu mubah. Mubah di sini bermakna boleh dilakukan. Apakah yang mubah itu bisa menghasilkan dosa dan pahala? Tergantung niat dan adab. Kalo misal lo mau bantuin lembaga charity dengan selfie dan nunjukin kalo lo ikutan campaigne mereka, insya Allah selfie lo berpahala. Tapi kalo selfie lo cuma buat pamer atau nunjukin status sosial, lo sendiri yang rugi karena hidup lo cuma di dunia maya doang. Masalah niat, kita sendiri yang tahu. Dan kita punya kewajiban buat memeriksa niat kita sendiri, bukan niat orang lain.

Tentang mubah, gue paling gampang ngasih contoh lewat makanan ~XD karena makanan itu kita sentuh sehari-hari. 

Mubah itu tingkatnya macem-macem. Ada yang kayak karbohidrat, dibutuhin banyak buat tenaga. Ada juga yang kayak lemak yang kebutuhannya di tubuh kita cuma dikit banget, rasanya enak sih. Tapi kalo kelebihan bikin nggak sehat.

Apakah selfie itu seperti karbohidrat, gula, protein, ataukah lemak bagi kita? Lagi-lagi kita sendiri yang tahu.

Andaikata selfie bagi kita itu ibarat lemak, kita tahu bahwa lemak itu nggak baik buat tubuh. Tapi di sisi lain, kita tahu kalo lemak itu nggak haram. Jadi kalo ada temen yang banyak makan lemak, kita nggak bisa langsung bilang ke temen:

“Lo makan lemak banyak, mau mati lo?“

Paling yang bisa kita lakuin cuma memulai diet lemak. Ngejelasin nggak bagusnya di sisi mana. Pelan-pelan sampai temen kita tahu dimana sisi nggak baiknya lemak.

“Tulisan ini ujung-ujungnya bilang kalo selfie itu nggak baik kan? Lha ngapain sebelomnya lo pake nulis selfie itu mubah?“

“Ya karena selfie emang mubah. Tapi yang namanya boleh kan bukan berarti harus dilakuin sebebas-bebasnya“

Selfie dan ngupload di dunia maya itu punya kekurangan.

Pertama: Karena saking biasanya kita selfie. kita kadang kelewat buat ngefilter mana yang layak dishare dan mana yang tidak. Dalam bukunya pak Rhenald Kasali yang Strawberry Generation, ada cerita dimana seorang suami nungguin isteri lahiran tapi malah sibuk ngrekam momen lahiran isteri. Padahal saat seperti itu, yang mestinya diprioritaskan adalah doa untuk keselamatan ibu dan bayi.

Kedua: Karena saking seringnya selfie, kita kadang lupa menikmati suasana. Ada banyak museum yang melarang pengunjungnya untuk mengambil foto. Dan kalau di dalam sana, gue malah ngerasa lebih fokus ngelihatin benda yang ada di sana dibandingin foto-foto yang endingnya ga bakal gue lihat lagi karena besoknya gue sibuk.

Ketiga: Karena saking seringnya selfie, temen kita jadi males lihat kita ~XD Soalnya newsfeednya isi 10 foto kita dalam sehari. Lalu kita menjelma jadi duta segala macam produk.

Itu kelemahan selfie menurut gue. Kalian pasti punya sudut pandang lain tentang kelebihan dan kelemahan Selfie.

Terus kalau misal kalian itu tipe orang yang hobi banget selfie buat iseng doang, gue punya saran dikit. Nggak harus lo turutin semua sih. Tapi siapa tahu, ini bisa jadi insight.

1. Ada baiknya instagram lo tuh diprivate aja. Biar lo bisa ngefilter siapa aja yang follow. Pastikan disana nggak ada akun yang berniat jahat.

2. Berfotolah dengan tampilan seperti biasa. Jangan bermake up tebel sampe diri lo di foto beda banget sama dunia nyata. Karena yang demikian dekat dengan tabarruj.

3. Kalo lo hobi backpacking dan ngerasa selfie itu buat kenang-kenangan. Silahkan aja. Tapi lo bisa nyari opsi lain, biar timeline lo nggak berisi foto lo doang. Lo bisa simpen selfie itu untuk kenangan pribadi. Habis itu, lo bikin foto sendiri yang punya ciri khas dimana kalo orang lain lihat foto itu, dia langsung nebak kalo itu lo yang motret. Gue jarang selfie sih. Tapi gue suka banget motret taman dengan gaya cat view, ato motret sepatu gue yang pindah-pindah mulai dari hutan sampai tempat berdebu ~XD

Gue rasa, yang dibutuhin orang dari travelling kita ya kisah tentang suka dukanya. Bukan muka kita yang terpampang di seluruh halaman instagram. Boleh sih kayak gitu. Tapi jatohnya malah foto-foto itu kayak bukan kisah travelling lo, malah jadi semacam foto lo yang diganti-ganti background nya doang. Photosop aja bisa kalo itu mah.

4. Kalo lo mau wefie campuran cewek dan cowok (ini common sense banget sih), tempat lo jangan terlalu deket sama cowok biar nggak terjadi fitnah.

5. Silahkan tambah sendiri tipsnya.

Silahkan Selfie tapi jangan jadi penunggu instagram =))

saya bahagia sekali mas yunus pulang beberapa minggu lalu, dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama sekaligus tiga bulanan mbak yuna. saking bahagianya, produksi ASIP saya sampai 2.200ml dalam sehari. meskipun hanya bertemu satu malam, bagi kami pertemuan biasa adalah perayaan, pesta yang besar.

pagi itu kebetulan saya mendapat undangan untuk mengisi sesi sharing di SMART Ekselensia Dompet Dhuafa. mas yunus mengantarkan saya ke Parung sana. mbak yuna nderek ibu pula tentunya. khawatir mas yunus belum bisa menjaga mbak yuna sendirian (selama saya presentasi), saya mengajak rea turut serta. tidak tahunya, setelah saya berada di kursi pengisi acara, rea disuruh mas yunus ikut nonton. alhasil, mas yunus berdua saja dengan mbak yuna.

mas yunus baru 3 kali bertemu mbak yuna. para bapak muda yang tiap hari bertemu bayi saja belum tentu luwes “memegang” bayi. apalagi mas yunus? saya saja yang ibunya masih kagok-kagok. begitulah, saya sangat khawatir sehingga bolak-balik menanyakan keadaan mbak yuna per sms.

benar saja, mbak yuna menangis kepiyer-piyer. terakhir kali ditinggal ibu presentasi, mbak yuna menjerit-jerit sampai lidahnya bergetar, wajahnya abang ireng, air matanya deras mengalir. ini terjadi lagi saat saya meninggalkannya. mbak yuna memang anak ibu sekali, tidak (belum) mau mimik dot. semakin besar, mbak yuna semakin kenal ibu. semakin tidak mau digendong orang lain.

dan saya tidak menyangka, bahwa saat itu mas yunus berhasil menenangkan mbak yuna. selepas presentasi, saya mendapati mas yunus sedang meneliti wajah mbak yuna yang tertidur dengan sangat pulas–entah apa yang dipikirkan mas yunus saat itu. ah, ibu meleleh.

setahun menikah, saya memang sering sekali sebal sama mas yunus, gemas. kenapa sih ada-ada saja keputusan yang dipilihnya. tapi, lebih sering lagi, saya akhirnya ber-oh panjang kemudian. dan sangat lega pada akhirnya.

saya yakin sih, banyak perempuan yang juga kerap sebal kepada suaminya. sebal gemas. gara-garanya sih sama, apa yang diinginkan si perempuan keliru diterjemahkan oleh si laki-laki. laki-laki mah memang begitu. lupaan, tapi tetap sayang. nggak peka, tapi tetap sayang. suka nggak perhatian. tapi tetap sayang. hehe.

yang biasanya terjadi dan yang selalu saya ingatkan pada diri sendiri untuk “jangan begitu” adalah, saya lupa sama bagian “tapi tetap sayang”-nya dan lebih banyak menyebut yang kekurangannya. padahal, sebagai makhluk yang sangat sulit dimengerti, seharusnya para perempuan menghargai perjuangan laki-laki untuk bisa memahaminya. nggak gampang wei memahami perempuan. nah, penghargaan itu punya nama: rasa syukur.

jadi ternyata, selain rasa cinta, rasa kasih, dan rasa sayang, ada perasaan yang bisa (harus) kita berikan terutama kepada pasangan kita, yaitu rasa syukur. rasa syukur berarti penerimaan. sediterima-terimanya. seada-adanya. seutuh-utuhnya.

bisa jadi, rasa syukur adalah perasaan yang paling penting untuk diberikan–sebab dari sanalah cinta yang panjang berakar.

semoga kita langgeng yah mas, sampai akhirat kelak.

Ada Semuanya

Selamat datang di dunia paradoks yang superheterogen!

Di sini matamu akan lebih sering menjumpai warna abu-abu pada setiap sudut tempat kamu bepijak dan beranjak lalu berpijak lagi. Kamu akan jarang menemukan yang hitam saja, apalagi putih saja.

Ada yang mencacimu habis-habisan. Ada yang memujimu habi-habisan. Ada yang mencacimu habis-habisan, pada waktu yang sama ada yang memujimu habis-habisan. Ada yang memuji semanis itu, tapi beberapa waktu kemudian tiba-tiba mencacimu sekeji itu. Ada pula yang memujimu didepan, tapi mencacimu dibelakang.

Ada yang hanya ada ketika kamu sedih saja. Ada yang hanya ada ketika kamu bahagia saja. Ada pula yang selalu hadir tak peduli kamu sedang sedih ataupun bahagia. Yang lebih perih, ada yang tak pernah peduli kepadamu sekalipun kamu sudah tiada.

Ada yang berdalil untuk berdalil. Ada yang berdalih untuk berdalih. Ada pula yang berdalil untuk berdalih.

Ada yang membumikan hati sekaligus cakrawala. Ada yang melangitkan hati sekaligus cakrawala. Ada pula yang melangitkan cakrawala lalu memilih untuk membumikan hati. Lucunya, ada yang bercakrawala bumi tapi melangitkan hati. 

Ada yang kaku idealis dan berprinsip. Ada yang bak karet, begitu pandai menyesuaikan diri tapi terombang-ambing tak memiliki prinsip. Ada pula yang luwes tapi idealis sekaligus berprinsip kuat.

Ada yang begitu lihai memberimu nashihat tapi tak pandai memberimu teladan. Ada yang tak samasekali lihai memberi nashihat tapi ia selalu memberi teladan. Ada juga yang begitu lihai memberimu nashihat sekaligus pandai dalam memberi teladan. Bahkan ada yang samasekali tak memberi nashihat apalagi teladan.

Ada yang seutuhnya lembut. Ada yang seutuhnya kasar. Ada pula yang terlihat lembut tapi hatinya keras. Kejutannya, ia yang terlihat paling sarkas ternyata ia yang paling lembut hatinya.

Ada yang hanya mencintai. Ada yang hanya dicintai. Ada pula yang mencintai juga dicintai. Bahkan ada yang seolah mencintai tapi hanya berpura-pura. Kejutannya, ada yang terlihat tak mencintai samasekali tapi kenyataannya ia yang paling mencintai. Lebih kejutan lagi, yang paling mencintai dalam sunyi ternyata juga yang dincintai dalam sunyi.

Ada yang menjadikanmu satu-satunya. Ada yang menjadikanmu prioritas terakhirnya. Ada yang seolah-olah menjadikanmu satu-satunya, tapi pada kenyataannya kamu hanya pelarian saja. Ada pula yang awalnya dijadikan pelarian saja tetapi pada akhirnya malah dijadikan satu-satunya.

Ada yang hanya penasaran saja kepadamu. Ada yang benar-benar mempedulikanmu. Ada yang seolah tak mempedulikanmu tapi pada rapal do’anya namamu disebut di urutan pertama. Ada pula yang terlihat selalu peduli menghadirkan fisiknya, tapi tak pernah menghadirkan hatinya.

Ada yang menjanjikanmu masa depan tapi malah putus di tengah jalan. Ada yang tak samasekali berjanji apa-apa kepadamu tapi tiba-tiba datang memintamu kepada ayahmu. Adalah sebuah keberuntungan, yang menjanjikanmu masa depan dan yang datang memintamu kepada ayahmu berkumpul dalam satu badan.

Ada yang terlihat nyata tapi fatamorgana .Ada pula yang fatamorgana tapi ternyata  ialah senyata-nyatanya.

Ada semuanya.

Selamat kuliah di Universitas Kehidupan! Semoga seminar proposal sukses, seminar hasil lancar, kemudian lulus cumlaude dan akhirnya euforia wisuda dengan bahagia lalu masuk surga.

Bakar!

Analogi Garis

Seperti belajar menggambar, mulailah dengan melatih garis terlebih dahulu. Garis lurus, garis berlekuk, garis bengkok, garis bergelombang, satu rangkaian garis dengan berbagai macam tekanan pada pensil. Belajarlah garis terus menerus hingga tanganmu fasih menerjemahkan emosi hanya melalui tekanan garis.

Sungguh berbeda gambar dari tangan yang sudah fasih garisnya, dengan gambar dari tangan yang serampangan asal menggambar, tanpa menghayati garis itu sendiri.

Seperti juga ilmu agama, seharusnya kita belajar dari dasarnya. Seharusnya kita memaknai tauhid dari pondasinya. Sehingga benar kaki ilmunya, sehingga tidak pongah kita mendapatkannya, sehingga kita tidak tersesat dan mudah rubuh karena tidak memasang pondasi penyangga sebelumnya.

Belajarlah segala sesuatu dari dasar yang diperlukan. Jangan jumawa karena merasa sudah bisa. Menggaris terus, membuat berbagai macam garis hingga garismu luwes untuk menjadi sebuah gambar utuh. Belajar terus memahami dasar dari setiap ilmu, agar pengetahuan tak jadi sekedatr ‘tahu’.

*note for myself
bridezilla

seringkali persiapan pernikahan membuat seorang calon pengantin wanita begitu overwhelmed. pada beberapa kasus, hal ini begitu parah sampai-sampai para perempuan menjadi stres, tertekan, atau merasa sendirian, yang kemudian terwujud dalam perasaan sedih, kecewa, atau marah.

semoga saja tidak terjadi ya. ini adalah tips-tips dari saya agar kita tidak menjadi bridezilla.

1. siapkan planner
ada banyak sekali yang harus dipersiapkan, sehingga untuk tetap mawas diri dengan perkembangan persiapannya, sebaiknya kita memiliki catatan khusus. ingat bahwa persiapan pernikahan tidak hanya seputar hari pernikahannya saja, tetapi juga hari-hari setelahnya. perencana ini dapat berupa buku jurnal atau catatan digital.

2. bentuk panitia
sedari awal, mintalah bantuan kepada orang-orang kepercayaanmu untuk ikut memikirkan seluruh perintilan pernikahan. sebaiknya, kamu punya paling tidak satu orang yang bisa diajak berdiskusi tentang ide-ide. bisa jadi orangtuamu, pasanganmu, kakak adikmu, atau temanmu. bisa juga tenaga professional, yaitu wedding planner/organizer. setelah tim panitia terbentuk, jangan lupa untuk membagi-bagi tugas.

3. buka rekening khusus untuk keuangan pernikahan
pada kebanyakan pernikahan, calon pengantin wanita ditunjuk menjadi bendahara. masing-masing orangtua–biasanya–akan menyerahkan sejumlah dana untuk kemudian dikelola. pada pernikahan lain, bisa juga dananya bersumber dari para calonnya saja. intinya agar tidak tercampur dengan dana-dana lain, siapkan rekening khusus untuk pernikahan. jangan lupa melengkapinya dengan laporan keuangan, sebab hal ini sangatlah penting sebagai pertanggungjawaban. setelah acara selesai, rekening ini bisa digunakan sebagai rekening keluarga loh.

5. luangkan waktu dan cicil pekerjaan
menjalani persiapan pernikahan pada dasarnya mirip seperti jika kita mengelola suatu acara. agar persiapan lebih matang, luangkan waktu untuk mengurusinya. jika bisa, cicil pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan. tentunya, akan lebih mudah jika kamu sudah punya timeline persiapan.

6. terbuka pada kemungkinan
jadilah seorang perencana yang andal, tetapi tetaplah luwes terhadap kemungkinan-kemungkinan. sadarilah bahwa pernikahan adalah hajat banyak pihak, sehingga ada banyak keinginan yang perlu diakomodasi. jangan terlalu kaku kepada rencana diri sendiri.

7. banyak berdiskusi dan rajin mencari referensi
ada buanyaaak sekali referensi tentang konsep pernikahan yang unik. rajin-rajin browsing sebab sampai hari-H tiba, kita masih bisa terus melakukan perbaikan konsep.

8. jadikan ajang latihan
jadikan persiapan pernikahan sebagai ajang latihan berumah tangga. mulai dari membuat rencana, mengelola keuangan, merelakan keinginan diri yang sepertinya terlalu mustahil atau berlebihan, melatih menahan diri, melatih mendengarkan dan mengakomodasi keinginan banyak pihak, dan sebagainya.

semangaat! setelah ini, kita akan membahas hal-hal yang perlu ditetapkan atau diputuskan di awal–menjelang pernikahan.

Akal

hari ini sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Tapi pas di twitter nemu obrolan dengan topik bagus.

sering banget sih ada yang nanya, sebatas apa akal diizinkan untuk digunakan dalam beragama?

Akal, nafsu, hati dan indera itu semuanya alat yang dikasih Allah buat kita. Tentunya semua harus dimanfaatkan sesuai fitrahnya. Tulisan ini mungkin nggak sesuai judul. Saya cuma pengen sharing untuk nambah wawasan.

Tadi temen saya ada yang bilang kalo era emas keilmuan islam ada di Dinasti Abbasiyah. Di lain waktu, ada temen saya yang lain bilang kalo Islam di era Dinasti Umayyah itu jumud. Setelah ngobrol lama, keluarlah anggapan….

Dinasti Abbasiyah maju karena berani berfilsafat dan membebaskan akal. Sementara Dinasti Umayyah itu nggak maju karena jumud, konservatif dan tidak mengizinkan akal berperan.

Apakah benar demikian? tunggu dulu.

Tiap peradaban itu punya budaya dan corak keilmuan masing-masing. Kalo kita runut, di antara empat imam madzhab yang kita kenal, dua orang aktif di era dinasti Umayyah (Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah). Dua orang lagi aktif di era dinasti Abbasiyah (Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’i).

Kalau kita menilik fatwa beliau semuanya, kita akan menemukan corak yang berbeda. Imam Malik, bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Kalau dalil mengenai perkara tersebut tidak ditemukan, beliau akan mengatakan “Aku tidak tahu”. Sementara Imam Syafi’i bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Bila tidak ditemukan, beliau akan mengqiyaskan dengan dalil yang ada hingga terbentuklah suatu ijtihad.

Ustadz Salim A Fillah pernah menjelaskan hal yang mendasari perbedaan cara berfatwa Imam Syafi’i dan Imam Malik. Imam Malik hidup di Madinah di era tabi’in. Beliau dekat dengan sumber ilmu tentang Al Qur’an dan Hadits. Jadi kalau ditanya tentang suatu perkara, referensi beliau banyak.

Pas di twitter saya nyebut Imam Syafi’i lahir di Irak dan sewaktu besar, hijrah ke Mekkah. Tapi saya tiba-tiba keinget tentang kisah Imam Syafi’i yang ditanya tentang tafsir hadits “Biarkan burung tetap pada sarangnya”, saya jadi agak rancu. Bagaimana Imam Syafi’i yang besar di Irak memahami tradisi Quraisy?

Pas saya cek catatan saya lagi, ternyata Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Makkah kemudian aktif di Baghdad. Di Baghdad beliau produktif berkarya Karya-karya beliau selama di Baghdad kita kenal dengan Qoul qodim. Selanjutnya beliau pindah ke Mesir, di sana beliau terus memperbarui karya beliau. Fatwa yang dikeluarkan di Mesir ini kita kenal sebagai Qoul Jadid.

Imam Syafi’i dikenal sebagai Ahli Ra’yu. Ketersediaan referensi di Baghdad semasa Imam Syafi’i aktif tidak sebanyak di Makkah atau Madinah sehingga kondisi ini menuntut beliau untuk lincah berijtihad.

Tapi kita perlu tahu bahwa Imam Syafi’i adalah keturunan suku Quraisy sehingga beliau sangat mengenal budaya Quraisy yang menjadi latar belakang asbabun nuzul Al Qur’an dan Asbabul Wurud sebuah hadits. Beliau juga sudah hafal kitab Al Muwatha sebelum usia 9 tahun. Di usia 15 tahun beliau sudah dinilai layak memberi fatwa. Maka akal imam syafi’i adalah akal yang sangat mumpuni untuk berijtihad.

Kita cuma muqollid, nggak sampe di level ijtihad ~XD Pencarian kita tentang hokum suatu perkara masih harus mereferensi pandangan ulama. Tidak bisa langsung dari Al Quran dan Hadits.

Kalo ada yang bilang ulama di era Dinasti Umayyah konservatif sebenernya nggak juga. Di era tersebut, tantangannya berbeda dengan era Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah itu dekat dengan era khulafaur rasyidin. Masih banyak sahabat dan tabiin. Penyakit ummat masih didominasi perkara cinta dunia. Maka karya ulama di era itu beberapa berkaitan dengan Tazkiyatun Nafs.

Di era Dinasti Abbasiyah, Islam banyak bersentuhan dengan budaya luar termasuk budaya Yunani yang punya banyak filusuf. Wajar kalau akhirnya bermunculan ilmuwan islam yang menulis karya tentang filsafat dan ilmu sosial. Bukan karena ilmuwan kita genit untuk ikut-ikutan pemikiran para filusuf Yunani. Tapi karena ilmuwan kita merasa wajib menjawab tantangan zaman dimana.

Salah satu karya filsafat yang terkenal adalah Hayy bin Yaqdzan yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Hayy bin Yaqdzan berbicara tentang proses belajar dari seseorang yang terisolasi dari dunia luar. Orang yang suka filsafat dan baca novel ini, pasti bakal langsung membandingkan dengan pemikiran Plato dan Aristoteles.

Saya sempet su’uzon dan mikir kalo ulama di era abbasiyah ini mungkin hidup di zaman yang nyaman jadi tidak ada masalah yang dipikirkan makanya kajiannya merembet ke filsafat. Tapi ternyata tidak demikian.

Di era Abbasiyah banyak bermunculan faham-faham yang keliru. Muta’zilah dan Jabbariyah juga subur di era Abbasiyah. Imam Ahmad bahkan pernah dipenjara dan disiksa oleh khalifah Al Watsiq Billah karena waktu itu sang Khalifah menganut faham muta’zilah sementara Imam Ahmad menolak faham tersebut.

Muta’zilah itu faham yang menganggap Al Qur’an sebagai makhluk sehingga bisa bisa salah dan bisa pula benar. Mirip liberal zaman sekarang yang menganggap Al Quran sebagai produk budaya.

Kita diizinkan untuk mengkritik tafsir seseorang tentang Al Qur’an, dengan catatan kita punya bekal yang memadai dari segi wawasan serta kita menggunakan metode tafsir yang sesuai. Namun kita tidak diizinkan mengkritik ayat Al Qur’an karena syahadat mengandung konsekuensi untuk beriman pada Al Qur’an sepenuhnya. Tafsir manusia bisa salah. Sementara ayat Al Qur’an tidak.

Liberalisme dan mutakzilah menempatkan akal di atas Al Qur’an. Di titik ini, mutakzilah dan liberalism mirip. Tapi kalo di zoom out lagi akan terlihat perbedaannya.

Dari narasi ini, kita tentu bisa dapat gambaran bahwa di dinasti Abbasiyah yang kita anggap lebih maju dari dinasti Umayyah sebenernya bukan karena ulama Abbasiyah mampu menggabungkan akal dengan wahyu sementara ulama di era dinasti Umayyah tidak. Kalo kita lihat dari sudut pandang lain, tantangan dari sisi Aqidah dan pemikiran itu tumbuh subur di era Abbasiyah, bisa ditarik mundur pula tentang kemungkinan di era itu ada banyak ummat Islam yang belum memahami agamanya sehingga tergoda untuk belajar pemikiran di luar Islam lalu ulama kita bekerja keras untuk meluruskannya.

Di titik ini kita mungkin akan bingung menyimpulka, dinasti Abbasiyah itu sebenernya “maju dari sisi sains?” atau “mundur dari sisi akidah?”. Tidak usah dipusingkan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk luwes dengan zaman namun tetap memegang teguh aqidah kita.

Karya ulama banyak dibuat untuk menjawab tantangan ummat di eranya. Di Era Abbasiyah, kita mengenal Ibnu Rusyid atau Averroes (seorang filusuf, hakim sekaligus fisikawan), Ibnu Sina atau Avicena (seorang filusuf sekaligus dokter), Ibnu Khaldun (Sosiolog, Antropolog dan Ahli Ilmu Politik) serta Khalifah Harun Al Rasyid dengan baitul hikmahnya.

Khalifah Harun Al Rasyid ini memimpin tepat setelah Al Watsiq Billah. Kalau Al Watsiq menganut pemikiran mutakzilah dan menyiksa ulama yang bersebarangan, Harun Al Rasyid sangat menghormati ilmu dan ulamanya. Baitul Hikmah adalah prototype universitas di zaman sekarang. Ia merupakan tempat diskusi tentang ilmu.

Kita perlu belajar sejarah sebab ada pepatah yang bilang: “Tidak ada hal yang baru di bawah matahari”

Tantangan ummat di setiap zaman bisa berulang. Dengan mengetahui sejarah, kita akan belajar bagaimana cara menghadapi zaman ini.

Di era milenial ini, budaya kita melahirkan banyak bentuk muamalah yang baru sehingga ulama fiqih harus lincah mengkaji hal-hal kontemporer. Di sisi lain, ada banyak -isme di luar islam yang menuntut kita membedahnya sampai dalam. Selain itu….kita juga punya pilihan belajar sains untuk merancang teknologi yang memudahkan ummat.

Ada banyak ladang amal yang menunggu kita untuk berperan. You choose.

NB: tulisan ini hanyalah gambaran helicopter view yang kalau di zoom out mungkin saja kita menemukan anomali yang berbeda. Mari belajar.