luar*

Para mahasiswa aktivis sebaiknya memperhatikan lima hal berikut :
1. Jangan pernah menyepelekan academic skills. Jangan sekali-kali meremehkan IPK! Seringkali para mahasiswa aktivis menjadikan kesibukannya di organisasi sebagai alasan untuk bolos kuliah dan tidak mengerjakan tugas. Padahal tugas utama mereka sebagai mahasiswa adalah belajar. Bukan berarti harus mendapatkan IPK luar biasa. Tapi harus menjaga agar kita tetap memiliki IPK yang sesuai standar, minimal menunjang untuk masa depan. Belajar dan berorganisasi bukan menjadi hal yang perlu dipertentangkan.
2. Harus memiliki wacana ilmiah. Jangan takut salah!
3. Harus aktif terlibat dalam aktivitas sosial politik. Aktivis mahasiswa jangan hanya menjadi kutu buku saja, tetapi harus terjun langsung ke masyarakat dan memberi solusi bagi permasalahan masyarakat.
4. Harus membangun networking dari sekarang. Jangan baru mulai membangun networking setelah lulus, justru harus dimulai sejak masih aktif berorganisasi.
5. Harus terlibat dalam kegiatan keagamaan. Jangan jadi aktivis mahasiswa yang kuat di luar, tapi rapuh di dalam! Harus kuat luar dan dalam, caranya dengan selalu meningkatkan ibadah dan aktif di kegiatan keagamaan.

Mudah-mudahan para mahasiswa aktivis bisa mengaplikasikan dan menyeimbangkan kelima hal ini. Insya Allah kalian bisa jadi aktivis teladan dan penggerak perubahan di masyarakat!

anonymous asked:

assalamualaikum saya mau minta saran, saya berniat memakai jilbab syar'i seperti yg diperintahkan Allah kpd muslimah. tapi, niat saya terbentur di Mama saya, beliau kurang mengizinkan keputusan saya untuk mengenakan pakaian syari tsb. saya berusaha pelan-pelan menjelaskan kpd beliau dalil-dalilnya, Mama saya sebenernya tau akan hal tsb tp beliau bilang 'yg kamu pakai kan jilbab juga namanya, yauda gapapa itu' saya jelaskan bahwa yg saya pakai slama ini hanya penutup kulit saja. mohon sarannya:(

Walaikumsalam, semoga bisa membantu

SAYA MAU BERUBAH, TAPI ORANGTUA TAK MENGIZINKAN

Setiap hari, tentu kita bertambah ilmu yang baru. Dan ketika ilmu bertambah, maka bertambah pula keimanan kita. Dan ketika iman kita bertambah, maka akan terjadi perubahan dalam hidup kita. Entah itu mulai dari perubahan perilaku, perubahan berpakaian, perubahan bersosial, dan lain sebagainya.

Namun, terkadang, yang namanya perubahan itu tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk pihak luar. Kadang kala, ada yang setuju dengan perubahan kita, adapula yang tidak setuju dengan perubahan kita. Pertanyaannya, bagaimana jika orangtua kita yang tidak setuju dengan perubahan kita?

Dari yang saya pahami, sesungguhnya dalam melakukan ibadah atau kebaikan, kita tidak perlu meminta izin pada siapapun, bahkan pada orangtua kita sekalipun.

Pada dasarnya, ibadah itu adalah tanggung jawab pribadi. Kita solat atau tidak, berhijab atau tidak, sodaqoh atau tidak, itu semua akan ditanggung oleh diri sendiri. Bahkan, ketika kita tidak melakukan ibadah karena orang lain, maka kedua pihak menanggung dosa tersebut, karena di satu sisi yang satu menyarankan untuk tidak melakukan ibadah, dan yang satu tidak melaksanakan ibadah tersebut.

Karena di hari akhir kelak, setiap orang akan berlari dan sibuk dengan urusan masing-masing. Seorang ibu meninggalkan anaknya. Seorang suami akan meninggalkan istrinya. Seorang istri akan meninggalkan keluarganya. Seorang anak akan meninggalkan orangtuanya. Semua tidak ada yang peduli dengan orang lain, karena semua hanya peduli dengan amalan dirinya masing-masing.

Cerita sedikit, saat saya pertama kali belajar keutamaan shalat di masjid, saya mulai mencoba mengubah kebiasaan shalat di rumah saya. Tentu hal ini juga menjadi aneh, karena tidak seperti biasanya ketika adzan, anaknya pergi keluar, biasanya di rumah. Bahkan, pada awalnya orangtua bilang “Udahlah, shalat di rumah saja, kan sama saja”. Karena saya meyakini apa yang saya jalani ini benar, maka saya tetap berkomitmen menjalankan prinsip saya, sambil menjelaskan kepada orangtua, alasan ini diambil karena banyak keutamaannya. Dan sekarang, justru terbalik, jika adzan berkumandang dan saya masih di rumah, orangtua saya menyuruh saya dan adik saya untuk segera pergi ke masjid.

Saya hanya menjelaskan kenapa prinsip saya begitu, tapi saya tidak meminta izin harus ke masjid atau tidak, karena melakukan ibadah itu kewajiban masing-masing, tidak terikat oleh siapapun.

Maka saran saya untuk anon, jika berencana untuk menggunakan jilbab syar’i (karena memang perintah yang benarnya itu seperti ini), langsung saja mengenakan jilbab syar’i tersebut. Yang harus dibicarakan kepada orangtua bukanlah masalah izin, tapi berikan pernyataan pada orangtua, bahwa sejak saat ini, insyaallah saya mau berubah lebih baik lagi, dan keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan matang. Semoga setelah melihat hal  tersebut, orangtua menjadi terinspirasi dengan perilaku anon.

Saya jadi ingat pepatah tua

Mau kemanapun arahnya, baik atau buruk, yang namanya perubahan itu tidak mudah.

semoga bisa membantu ya anon. Dan semoga orangtuanya juga segera bisa segera satu frekuensi dengan anon.