luar*

Mulut-mulut itu masih saja labil bicara soal rindu. Saya hanya bisa mesem di meja bagian pojok ruangan. Kami berempat memang ahli ngecuwes dalam bidangnya masing-masing. Jangan tanya saya bisa apa. Mulut ini tidak pernah benar-benar berbusa kecuali saat sedang gosok gigi. Kalau rahang saya terasa kaku itu amunisi dari seringnya saya tersenyum, bukan bicara panjang lebar memberikan penjelasan dan masukan.

Hari ini tanaman di luar kafe sudah terlihat ayu-ayu. Pertama kali kenal dan bertemu, saya sangsi tanaman itu bisa beradaptasi dengan baik. Kota yang keras lebih mematikan daripada kota yang tidak pernah hujan. Di sini jumlah kafe berbanding lurus dengan jumlah anak mudanya. Meski saya sangsi uang yang mereka gunakan untuk ngopi adalah bukan hasil banting tulang orang tuanya.

Saya masih nggandol orang tua. Kalau alasan kenapa saya bisa ngafe dengan tiga kue putu ini adalah karena mereka ayu dan wangi. Sebut saja mereka kue putu, karena menyebut mereka nagasari juga kurang mantesi. Lagipula, dibanding nagasari, saya lebih suka dengan mendut. Sama-sama dibungkus daun pisang, tapi mendut lebih legit.

Peh, kenapa jadi membicarakan makanan. Memang benar kata bapak kalau perut itu tidak boleh jauh-jauh dari kata wareg. “Pak, kenapa terang bulan, kenapa angsle, kenapa jagung bakar, kenapa weci dan gedang goreng?” Pertanyaan masing-masing panganan itu selalu saya ajukan setiap kali bapak ngajak malam mingguan dan yang dituju selalu makanan. “Sebab alasan utama kita bekerja adalah untuk makan.” Bapak hanya beralasan supaya tidak dibilang doyan makan.

Sudah 17 menit melamun dan saya melewatkan putu ayu terakhir. Sudah dingin. Kalau ada yang penasaran kenapa di kafe ini menjual putu ayu, penasaran-lah pada saya yang tidak tahu caranya jadi modis dan kekinian. Saya mendapatkan putu-putu ini saat perjalanan menuju kafe. Jangan katakan saya sendirian sebab saya bersama ketiga putu yang masih anget dan ayu. Dengan bedak dan gincu dan maskara dan parfum dan hak tinggi dan barang-barang branded yang melekat di tubuhnya.

Sementara mereka memesan bahagia, saya justru memesan tabah. Sesungguhnya saya heran dengan ketidak-bahagiaan di tengah-tengah hidup terjamin itu apa. Sementara saya yang hidup pas-pasan tak sempat memikirkan kesedihan.

Mereka suka dekat dengan saya karena saya nyleneh. Selebihnya tidak ada. Dibanding kelebihan, saya lebih banyak kurangnya. Barangkali lebih saya hanya satu, saya orangnya ngangeni. Ndak terima? Nanti kita bisa adu argumen, cangkruk di belakang panggung sambil makan konsumsi dari sponsor. Atau sampeyan boleh gabung dengan kami, ndusel di sela-sela anget dan wangi. Kita bisa ngobrol hal lain selain rindu dan sangat rindu.

Kesini, nanti saya dongengi masa lalu yang ndak senyinyir punyamu. Saya punya setoples sejarah untuk diseminarkan, meski saat ini aromanya sudah tak sesegar palawija. Kesini, saya bisa pesan putu satu lagi, atau kalau kau tidak suka kue putu saya bisa belikan kacang godog. Atau apa saja asal jangan yang bermicin dan bernatrium bikarbonat. Sebab saya pernah SMA dan saya pernah mempelajari Biologi.

Sebenarnya putu-putu ini bukan makanan, apalagi perempuan. Jadi jika tadi ada yang sudah berniat ingin nge-chat saya untuk menanyakan contact person mereka, mohon jangan kecewa sebab sampeyan salah orang. Kami ndak pakai gadget. Kami hanya pakai telepati untuk menemukan jodoh kami. Lah njebuse.

Malang, 28 September 2016

🍃 BERANI MEMULAI TANPA ‘TAPI’ 🍃

Ketika diri merasa tak sanggup menjalani sesuatu,
Ingatlah bahwa Allah selalu bersamamu,
Keluargamu bersamamu,
Sahabatmu bersamamu,
Semua orang ada disekitarmu,
Pasti akan ada yang membersamai diri dalam setiap langkahmu.

Ketika merasa tak sanggup untuk survive,
Ingatlah bahwa Allah memberikan kita kemampuan yang luar biasa untuk menjalani segalanya.

Setiap langkah yang kita ambil, semua berawal dari bagaimana kita memulai.
Memulai untuk mengambil keputusan.
Memulai untuk berkarya dan bekerja.
Memulai untuk mencintai orang yang tepat.
Memulai untuk menanggung segala pilihan kita.
Semua #adakisahsendiri

Semua pilihan ada dalam genggamanmu.
Mulailah untuk berani,
'Berani memulai tanpa kata tapi’ 😊
.
.
📝 @adakisahsendiri @nuraidaafirani

@duniajilbab
#motivasidiri #berbagisemangat #reminder

Made with Instagram
Yakin Kamu Gak Kreatif? Kata Siapa?

Tulisan ini disarikan dari materi Digital Creative yang dibawakan oleh kang Ahmad Sa’ad Ibrahim.

Menurutmu, seperti apakah orang kreatif itu?

Selama ini, kebanyakan orang menganggap bahwa orang kreatif itu adalah sebutan khusus untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia seni, seperti misalnya artist, desainer, pelukis, penulis, atau bahkan orang-orang yang membuat kerajinan tangan dari barang-barang bekas dan daur ulang. Apakah memang benar demikian? Apakah orang-orang di luar profesi-profesi tersebut tidak bisa disebut kreatif?

FYI, kreatif adalah tentang pola berpikir. Orang-orang dengan pola berpikir kreatif akan selalu mencari cara-cara alternatif yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Jadi, kreativitas sama sekali tidak bisa hanya disandingkan dengan kegiatan-kegiatan seni. Melalui konsep tersebut, maka jelas sudah bahwa kreatif bukanlah gelar yang diperuntukkan bagi orang-orang dengan latar belakang atau profesi tertentu.

Tahukah kamu? Setiap orang terlahir dengan memiliki potensi kreatif. Artinya, semua orang bisa menjadi kreatif tanpa memandang siapa dan apa profesinya. Jika pun ketika dewasa potensi kreatif itu terus menipis, sebabnya bukanlah karena ketiadaan potensi untuk kreatif, tapi karena kreativitas yang tidak diasah atau tidak mendapat ruang untuk dikembangkan.

Untuk menjadi kreatif, kita bisa melakukannya dengan melalui banyak cara yang sesuai dengan diri kita. Tidak semua orang harus menjadi penulis, animator, penyanyi, desainer atau pekerjaan-pekerjaan yang memang ada di dalam lingkup industri kreatif. Sebaliknya, semua orang dengan latar belakang apapun bisa memunculkan potensi kreatifnya. Apakah dokter, akuntan, ibu rumah tangga, guru, mahasiswa, MC, dan orang-orang dengan profesi lainnya bisa menjadi kreatif? Tentu!

Sekali lagi, kreatif adalah tentang pola berpikir. Kalau begitu, apa yang masih membuatmu berpikir bahwa kamu tidak kreatif? Yuk munculkan kembali potensi-potensi kreatif yang kita miliki sejak lahir. Dengan kreativitas, ayo bersama-sama melakukan kebaikan dan kebermanfaatan :)

Sekarang timeline dan notifikasi media sosial adalah distraksi paling ampuh dari menghabiskan satu buku bacaan berkualitas. Belum lagi ditambah kepo-kepo dan stalking-stalking si mantan. Kamu luar biasa bila kamu tidak setuju. Iya, tidak terdistraksi oleh media sosial sekarang adalah sesuatu yang luar biasa.

Gosto de quem me arranca sorrisos
E põe vida no meu olhar
Que me transmite alegria
Sem ao menos me tocar
Que inlumina minha vida
Como a luz de um luar
Que chega mete o pé na porta
E diz:
É aqui quero ficar, é de você que vou cuidar!