luar*

anonymous asked:

Bagaiman tanggapan kak jagung tentang kegaduhan natal di gedung sabuga bandung ?

Baik Kang Emil maupun Bpk. Lukman Saifuddin selaku Menteri Agama sudah menyampaikan pandangan mereka dengan sangat bijak. Saya rasa, saya bukan pihak yang berhak menanggapi masalah itu. 

Karena pertama, saya tidak di tempat. Kedua, saya capek dengan kegaduhan orang2 perihal Islam vs Kristiani yang sebenarnya ga ada msalah apa2. Ketiga, saya bukan orang yang berwenang. Keempat, saya ga mau jadi orang yg sok tahu.

Tapi saya mau kasih tahu. Bapak saya polisi, muslim, sholat 5 waktu, sering di mesjid juga. Dan every year, hampir ga pernah absen, Bapak saya ngejagain (minimal SIAGA 1 yang berarti harus bersiap ketika dipanggil dan ga boleh pergi ke luar kota) Natal, misa paskah, perayaan tahun baru China di Kwan Sing Bio, dan ga ada masalah apa2 gitu. Bahkan dia ga pernah ngeluh. Jadi, yg nganggep minoritas dianaktirikan gara2 kasus Ahok, ngapppaaiiiinnnn kapolres yang muslim itu ngirim anak buah2nya yang muslim juga utk menjaga peribadatan umat Budha, Kristen, dan lain2? 

Kalo lagi2 ujung2nya ini diinspirasi oleh kasusnya Ahok, gw ga ngerti lagi gimana musti jelasin ke orang2 bertelinga kaku kalo 411 dan 212 bukan dipicu perbedaan agama, tp cm karena mulut Pak Ahok yang mungkin sering bolos pas dia sekolah. Aa Gym udah berbusa2 menjelaskan di beberapa media dan diulang2.

Justru saya masih simpati sama Ahok karena dia non muslim, it’s mean dia ga paham Islam. Kalo muslim yang ngomong kayak gitu, saya pasti jauh lebih kesel. 

Gini loh, kita kan sama2 ingin hidup tenang ya. Kita tahu ga sih kalo demo anti Islam di luar negeri itu banyak? Kalo muslimah2 berkerudung di Amrik itu sering dilecehkan? Temen gw sendiri kerudungnya ditarik2 dipaksa lepas sama seorang yang ngaku udah PhD, bayangin!!! Gw nangis tuh denger cerita2 kayak gitu. That’s why, beside of bahwa beribadah adalah hak semua orang (lepas dari ijin yg belum lengkap, tp gw curiga itu diada2kan, CMIIW), gw ga pgn deh kita sebagai muslim gangguin non muslim yg beribadah (kecuali aliran sesat). Karena GW GAMAU SODARA MUSLIM GW DI LUAR SANA DIGANGGU JUGAKKKK. 

Ah, jadi panjang deh tuh. Padahal cuma mau jawab 2 kalimat.

3

dan kembali ke dunia maya setelah menghilang sepekan karena anak ketiga ini, alhamdulillah “Menentukan Arah” jilid 2 sudah selesai dan sudah dikirim sama tim Langitlangit kepada para pemesannya.

Sekarang tim langitlangit lagi sibuk mau entri resi pengiriman ke sistem printabook. Mungkin, ada beberapa paket yang justru sudah diterima sebelum resinya dikirim. Paket-paket berhasil dikirim pada 7-8 Desember 2016. Alhamdulillah tepat waktu.

Selebihnya ada beberapa paket yang dikirim tanggal 9 Desember yaitu paket-paket dengan alamat tidak lengkap. Tentu yang menerima SMS/Telp/WA dari kami untuk perbaikan alamat, paketnya baru terkirim hari ini.

Yay, selamat menunggu semuanya. Terima kasih atas apresiasinya yang luar biasa. Setelah ini akan kembali duduk manis merangkai kata :)

Aku pernah mematikan total hapeku selama 10 hari. Selama itu, aku tidak berhubungan dengan dunia luar sama sekali.

Hanya dari situ kau bisa mengamati apa yang gadget dan koneksi internet telah renggut selama ini.

Katakanlah aku terjebak dalam sudut pandang yang menggelikan.

Katakanlah aku salah menyikapi kemajuan, tapi hal-hal ini yang telah kupelajari dalam 10 hari. Sudahkah kau mencoba sendiri sebelum menjustifikasi?

Melalui layar 4 inchi ini, aku memang melihat dunia tanpa batas yurisdiksi.

Namun, kata orang bijak, “You are what you eat”.

Belakangan aku tahu bahwa hal itu tidak hanya berlaku untuk makanan perut, tapi juga “makanan pikiran”.

Apa yang telah kita masukkan dalam pikiran, jiwa, dan hati kita selama ini menentukan seperti apa diri kita.

Lalu pernahkah bertanya, yang aku telan selama ini lebih banyak racun atau gizinya? Pantas kalau diri kita masih gini-gini saja.

Ternyata ini sebabnya.

Perhatikan, kondisi “sumber makanan pikiran” kita semakin tercemari.

Aku lelah menjelaskan pada satu persatu orang tentang negatifnya menyebarkan hoax dan kebohongan.

Kita juga tidak pernah kehabisan alasan untuk saling membenci. Apa-apa dijadikan ‘amunisi’.

Sama-sama manusia, kalau beda negara rusuh. Sama-sama Indonesia, kalau beda agama rusuh.

Sama agamanya, beda pandangan juga rusuh. Terus gimana nih maunya?

Padahal, kalau bukan Tuhan, lalu siapa lagi yang menciptakan SEMUA perbedaan ini?

Kalau Dia mau, Dia bisa saja menjadikan semua manusia ‘serupa’ dalam segala hal.

Lalu, kenapa kita lancang menentang Tuhan dengan meludahi perbedaan?

Aku sendiri tidak pernah mengunfriend yang beda pandangan, aku dan kamu bisa bersahabat walaupun kita tidak sepakat.

Pernah lihat orang yang penuh permusuhan hidupnya tenang?

Bagaimana kita berharap ada bunga yang tumbuh di atas kawah berapi?

Yang dirahmati Tuhan adalah hubungan, bukan permusuhan.

Unity in diversity.

Yang aku heran, apa-apa dijadikan perdebatan.

Seperti ritual medsos tahunan, mulai dari ucapan natal, perayaan valentine, bahkan juga jumlah peserta unjuk rasa!

Diri ini merasa lebih baik karena pihak lain terlihat lebih buruk.

Kita merasa senang atas ketidakbaikan orang.

Tuhan mana yang mendukung karakter seperti itu?

Padahal, this too shall pass.

Semua hal pasti akan berlalu sendiri silih berganti.

10 tahun lagi, apakah yang kita pertengkarkan ini lebih berharga daripada hubungan baik kita?

Padahal, kata “musuh” hanyalah ilusi, sebuah sekat yang kita buat sendiri.

Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia hanya dekat dengan pembuluh nadi orang beragama X dan bersuku Y, Tuhan dekat dengan pembuluh nadi semua orang.

Sudah lupa, ya?

Yang aneh adalah, jika tidak pro pokoknya salah! Kontra salah, netral pun juga disalahkan.

Tidak ada hal lain yang ditunjukkan kecuali sifat kekanak-kanakan.

Boikot terhadap produk perusahaan raksasa tidak akan berpengaruh sedikitpun pada owner-owner atas yang sudah kaya raya, yang kalian bahayakan adalah penjual-penjual kecil yang masih bingung cari makan tiap harinya, yang mereka bahkan tidak tahu apa-apa tentang kebijakan perusahaan.

Ada sebuah peribahasa Cina yang layak untuk kita renungkan. “Menyimpan dendam seperti meminum racun tapi berharap orang lain yang mati.”

Buddha pun berkata, “Anda tidak dihukum KARENA kemarahan Anda, Anda dihukum OLEH kemarahan Anda.”

Jika tetap tidak bisa mengendalikan kemarahan? DIAM!

Setidaknya kemarahan kita tidak akan menjadi sebab kemarahan orang lain.

“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501)

Dan aku tahu,

Memang ada saatnya memproteksi diri. Ada saatnya mempertahankan kenyamanan pribadi.

Tapi bagiku, ada juga saatnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Karena itu, aku tidak akan pergi dari sini .

– Afi Nihaya Faradisa

ada halnya mengapa kau tak meyukai dunia luar, antaranya diluar sana ada banyak mawar yang berduri yang tak kau sadari telah menusuk mata hingga hati karena tak tergenggam.. maka menyendiri adalah hal paling aman
—  jadi begitu.