lpcr

Dirimu (juga) Spesial

Catatan Akhir Kuliah day #1

Bismillah…
Kemarin menghadiri Talkshow KeIMMan di Food Court UIN SuKa yang diselenggarakan PK IMM Dakwah UIN.
Banyak hal yang nyatanya belum aku ketahui tentang ikatan ini, bagaimana ia bisa ada dan terus eksis hingga hari ini.
Ya, tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini.

Anggaplah ini sebagai pena pertama yang aku tulis, yeay!
Kali ini benar-benar akan direalisasikan gerakan menulis setiap hari di tumblr.
Mari kita mulai hari ini, Ahad, 7 Mei 2017. Yeee!

Oke, kembali ke topik awal, tentang Talkshow kemarin. Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam agenda tersebut, Ayahanda Syahrir Syah selaku Ketum DPP IMM periode 1995-1997, Ayahanda Ahmad Norma Permata Ketua LPCR PP Muhammadiyah yang sekarang, dan Kakanda Kadarisman Kabid TKK DPP IMM yang sekarang juga. Ketiganya memaparkan kisah yang mengagumkan, saling melengkapi satu sama lain.
Tapi, kali ini bukan tentang IMM yang akan ku ceritakan.

Menarik menurutku untuk mengulik sepenggal kisah Ayahanda Norma. Beliau, seperti yang kemarin disampaikan, merupakan lulusan tercepat dan terbaik di Kampusnya di Jerman (kemarin lupa nggak nanya nama kampusnya apa, hehe).

Terbaik karena lulus satu strip di atas cumlaude, tercepat karena studinya selesai hanya dalam waktu 2,5 tahun. Daebak!
Aku jujur sangat penasaran bagaimana masa muda beliau, walaupun sampai sekarang Pak Norma masih tetap kelihatan muda, hehe


Dan, ternyata, beliau tumbuh dari tempaan yang kuat. Prestasi akademik beliau saat lulus SMA rata-rata di bawah 5. Diceritakan beliau mendaftar dimana-mana tidak diterima, sampai akhirnya oleh Ibunda dan Bu Dhe beliau yang aktivis ‘Aisyiyah disarankan untuk mendaftar di UMS yang kala itu sedang membuka beasiswa untuk kader Muhammadiyah dari daerah. Ya, meskipun prestasi akademik beliau seperti itu, beliau memiliki prestasi di bidang olahraga, nah itu jadi nilai tambah saat beliau mendaftar di UMS.


5 tahun kuliah di UMS hingga akhirnya mendapat beasiswa studi lanjut di Jerman, berawal dari prestasi yang biasa-biasa saja.
Tapi, coba kita lihat apa yang dilakukan Pak Norma ketika S1.


Menurut beliau, setiap manusia adalah manusia, manusia hanya akan unggul karena kemampuan yang diusahakan. Ulul Albab yang beliau pahami adalah orang yang menghujung, menghabiskan seluruh potensi hingga titik paling ujung.
Pak Norma katakan beliau pernah membaca 24 jam. Waw
Dari situ bisa diambil kesimpulan bahwa ternyata dirinya bisa melampaui batas-batas mampunya. Pak Norma yang berangkat dari titik nol, dipertemukan dengan teman-temannya saat S1 yang kemampuan akademiknya jauh di atas Pak Norma kala itu. Apa Pak Norma menyerah? Tidak. Beliau terus belajar dari orang-orang pintar dan hebat di sekelilingnya, dan ternyata beliau bisa. Amati dekati, tiru sikap belajar mereka.


Bahkan mungkin pencapaiannya saat ini melebihi kawan-kawannya yang lain. Karena kemauan yang keras dan usaha tiada henti beliau mampu lulus dalam waktu 2,5 tahun dengan bekal membaca dari jam 4 pagi hingga 10 malam setiap hari.
Meskipun, setiap bulan Pak Norma harus pergi ke dokter, hehe
Dan kata sang dokter beliau sejatinya tidak sakit, hanya butuh istirahat saja. Ya, karena kesungguhan melakukan sesuatu kadang memang membuat kita lupa waktu. Kesungguhan beliau memang sangat luar biasa!

Nah tuh, Kuasa Allah siapa yang bisa nentang? Setiap diri itu spesial. Tinggal kita mau atau tidak menjadi yang spesial.
Dari kisah Pak Norma, mengingatkanku pada satu pesan, istirahatlah ketika sudah selesai, jangan istirahat ketika lelah datang.
Ya, berjuang hingga ujung adalah cara terbaik memaksimalkan potensi.
Selalu kagum dengan perjuangan orang-orang dalam lingkaran ini.

Pesan Pak Norma, mari kita berjuang menjadi intelektual mandiri namun tidak sendiri.

Tuh, nggak sendiri. -_-

(desain dari folder pribadi)


Laely Nurokhmah
Jogja, 7 Mei 2017