losing ma mind

anonymous asked:

Terus yayangnya jawab, "Lha kan sekarang aku kerja di kantor, Mas. Mas pecat aku jadi yayang?" Indirectly, inti jawabannya kurang pro ya Mas sama akhwat kantoran :p

Jadi karena saya sedang dalam rangka belajar bercerita, saya reply pake cerita aja ya. Meskipun mungkin ceritanya masih imajinatif dan agak geli-geli gimana bacanya, tapi gak apa-apa ya :)

***
Hari itu hari Sabtu, display jarum jam tangan ala smart watch Samsung Gear S3 Classic yang ku beli beberapa waktu lalu itu menjukkan sudut 90 derajat  ke arah barat daya, jarum pendeknya mendekati angka enam.

Sambil menunggu di meja makan kecil berbahan kaca berbentuk lingkaran yang diameternya kira-kira 1 meter, ku teruskan mengetik kata-kata yang masih terus melintas di pikiran, aku fokus melihat kursor pada layar sementara jari jemariku bermesraan dengan tuts tablet hybrid ASUS J-200TA warna hitam elegan hasil buruan di Hi Tech Mall Surabaya bersama kawan karibku.

Dahiku mengernyit, alis hitamku berdekatan seakan saling menyapa satu sama lain. Aku memang seperti itu saat sedang serius mengerjakan sesuatu. Namun itu tak berlangsung lama, setelah kulihat sesosok bidadari dengan gamis merah marun datang dari arah depanku membawa nampan dengan dua cangkir putih bertuliskan namaku dan namanya.

Seorang bidadari yang biasa ku panggil adinda atau kadang dinda, sering juga kupanggil sayang atau yayang ini memang paling ngerti kalau partnernya, sekaligus ustadznya, sekaligus bodyguardnya, sekaligus temen hunting buku, temen makan, temen belanja, sekaligus supir dan tukang ojeknya ini paling demen kalau dibuatin wedang jahe atau coklat panas pagi-pagi.

“Ini mas coklat panasnya, tapi udah agak hangat kok mas, bisa langsung diminum.” Ia meletakkan cangkir itu dengan perlahan di sampingku.
“Makasih sayang,” balasku sambil menyeruput secangkir coklat hangat yang sehangat sayang dan perhatian bidadari yang membuatnya.

Sluurrp
“Yang, kayaknya coklatnya kurang manis deh, gak kayak biasanya..”
“Ah masa sih mas, takarannya sama kok. Ya udah aku ambil gula dulu ke dapur ya…”
“Eehh nggak usah, tambahin pake senyum kamu dikit boleh nggak? Biar manis, hehe.”
“Ihh mas ih, kirain serius.”
“Yee, mas dua rius kok ini,” timpalku. Dan dia pun tersenyum.
Alamak, aku selalu kehilangan fokus di bagian itu. Putaran waktu dan detak jantung seakan berhenti sekian detik saat melihat senyumnya. Every see her smile, I always lose my mind.

“Mas, aku mau nanya deh,”
“Iya sayang, tanya apa?”
“Nah mumpung ini masih di awal hari-hari kita, aku mau nanya sama mas. Kalau dilihat dari tanyaku kemarin kan mas kurang pro kalau aku kerja kantoran sementara aku sampai saat ini masih kerja di kantor sejak sebelum nikah sama mas, ya meskipun ini masih cuti sih. Mas kurang suka ya?”

Ku beri jeda sejenak seruputan coklat itu.
“Oh yang kemarin itu?” Tak lupa, sebisa mungkin aku berusaha untuk mengawali dengan senyum sebelum menjawab setiap pertanyaan dari adindaku itu.

“Hemm jadi begini adindanya mas yang paling cantik, paling imut dan paling emesh. Sebenernya, bukan tanpa alasan mas jawab itu kemarin.”

 “Terus mas?”

“Begini sayang, semenjak sebelum mas memintamu dari ayah, mas sudah berencana dan berjanji untuk senantiasa menghabiskan waktu berkualitas bersama seseorang yang kelak Allah jadikan sebagai partner. Mas ingin hidup sebenar-benar hidup denganmu, mas ingin ada sebenar-benar ada di sisimu, mas ingin jadi imam sebenar-benar imam buat kamu.”

“Terus mas..”
“Kok kamu jadi kayak tukang parkir mobil sih dari tadi ngomong terus mas, terus mas..”
“Nyimak atuh mas, ih mas mah ngeselin.”
“Hahaha, ya ya, ojo manyun.”
“Lanjut mas..”

“Mas tidak semata-mata berniat melarang yayang untuk berkarir di kantor, sehingga membuat yayang mungkin jadi bingung jika nanti tidak di kantor, apa yang yayang bisa kasih buat ayah ibu yang ada di rumah, begitukah?”

“Hemm iya ada bagian itunya juga sih mas..”
  
“Tenang aja kok yang, seseorang yang betul-betul mencintai kamu, dia juga akan berusaha mecintai keluargamu, apalagi ayah dan ibumu yang juga sudah mas anggap seperti ayah dan ibu mas sendiri. Mas ngerti kok kalau kamu masih ingin bisa betul-betul berbakti dan memberi yang terbaik untuk ayah dan ibu di tengah tanggung jawabmu sebagai seorang istri di hadapan mas, right?”
“Iya mas..”

“Boleh kok kalau adinda masih kerja di kantor untuk beberapa waktu jika memang sangat perlu untuk belajar beberapa hal dan menggali ilmu. Jangan lama-lama ya tapi, setelah itu mending kita buat kantor sendiri, kita manage dan handle berdua. Mas pilotnya, adinda co-pilotnya.
Kita manfaatkan apa yang sudah didapat dari proses belajar kita masing-masing. We two have networking, have ability to manage since we were student in our college, right? So lets practice them, building and executing the big plan together. First step, it’s about us, between me and you in a team.

“Lanjut mas…”
“Ciyeee, sekarang jadi lanjut mas ya? Gak pake terus mas lagi. Pensiun jadi tukang parkir mobil ya?”
“Iyaaa, masku yang rese bin bawel.” Dia nampak mulai kesal.
“Hahaha, maaf yaa adindaku yang imut tapi gampang ngambekan.” Balasku.

“Kamu tau nggak kenapa mas prefer kita kerja bareng aja daripada kamu kerja di tempat lain kalau memang kamu pengen bener-bener berkarir di kantor orang?”

“Kenapa sih mas?”

“Mas pengen sebelum kita memulai aktivitas harian, kita punya waktu khusus untuk sekedar ngaji bareng setelah subuh. Mas ingin nyimak bacaan Al-Qur’an dan hafalanmu. Mas ingin bisa menyampaikan satu dua hikmah, cerita atau nasihat di tengah perjalanan kita bekerja. Mas pengen urusan manage waktu benar-benar kita yang punya. Pun kita gak perlu repot-repot ijin ini itu jika suatu saat kamu lagi homesick pengen pulang ke rumah ayah ibu atau pas lagi ada sesuatu.

Pengen kemana kita bisa agendakan, gak perlu terlalu repot cari waktu untuk anter kamu jalan-jalan. Belum kalau nanti ditambah hadirnya mujahid atau mujahidah kecil kita. Mas pengen kita berdua hadir disana untuk membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang kita punya, ya dunia ya agama, biar nggak timpang. Apalagi di masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangannya. Ilmu dan hikmah yang beneran, utamanya Al-Qur’an.

Mas gak pengen kalau anak-anak nanti cuma tau tentang gerakan sholat, tapi gak ngerti esensinya. Cuma bisa baca syahadat, tapi nggak ngerti kandungan dan konsekuensinya hanya karena kita yang gak sempet menanamkannya. Mas pengen mereka bisa baik bacaan Al-Qur’annya sejak kecil dan menyetorkan hafalan pertamanya dengan fasih dari bimbingan langsung ayah atau ibunya. Mas pengen mereka bisa betul-betul meresapi pelajaran dari ayah dan ibunya sejak masa kecilnya.

Bagi masmu ini sayang, dunia ini terlalu sebentar untuk dihabiskan tanpa waktu-waktu yang sesungguhnya untuk orang-orang yang tercinta hanya karena kesibukan pekerjaan. Dunia ini terlalu sebentar jika terhabiskan tanpa punya banyak waktu dan kenangan yang kita lewati berdua, yang mas lewati sama kamu. Nah mumpung si kecil belum hadir, kita siapkan semua rencana itu dari sekarang ya.

Adinda sudah paham?”

***
©Quraners
Di tengah beduk sahur anak-anak kecil

Surabaya, 30 Mei 2017

Magnus Bane/Alec Lightwood Fanfic Rec List

As promised, I put together a list of some noteworthy malec stories. Some are based on the The Mortal Instruments book series written by Cassandra Clare and others on the new tv show Shadowhunters. I’ll update it whenever I come across a story that I feel is a must-read, but until then, enjoy! (Updated 4/08/2016)

Keep reading