lo tek

Bayramda hazır baklava yufkalarından baklava yapmayalım, bayram ziyaretlerimizde bize sunulacak baklavaların, elle açılmış olduğundan eminsek yiyelim, aksi takdirde mümkün oldukça (fitneye sebep olmayacağımız ve kalp kırmayacağımız sürece) uzak duralım ve ev sahibini de bu konuda güzel bir dille uyaralım, kötülükten nehyetmiş olalım. Hazır baklava yufkalarında sistein tehlikesi çok yüksektir. Ber­ber­ler­den top­la­nan in­san sa­çı ve do­muz kıl­la­rın­dan üre­ti­lebilen L-sis­te­in ay­rı­ca kaz-ördek tüy­le­ri ve boy­nuz­dan da üre­ti­le­bil­mek­te­dir. Son za­man­lar­da ise mik­ro­bi­yal fer­man­tas­yon tek­no­lo­ji­si kul­la­nı­mı az da ol­sa baş­la­mış­tır. Fa­kat ne ya­zık ki şimdilik tehlike büyüktür, bu nedenle, hazır yufka ve hazır baklava yufkalarından gerçekten güvenilir bir marka var oluncaya kadar kaçınmamız en güzeli olacaktır.

Siapa Bilang Jadi Dokter itu Enak?

Mungkin sudah sangat banyak tulisan yang menjelaskan bahwa jadi dokter itu enak, menyenangkan, dan seterusnya. Sehingga pada akhirnya makin banyak anak sekolahan yang cita-cita tertingginya adalah masuk FK lalu jadi dokter. Seakan jadi dokter segampang bikin indomie goreng. Jarang ada anak sekolahan yang berpikir panjang ke depan, apakah benar-benar siap jadi dokter, atau cuma sekadar terbawa ego, terbawa suasana. Bahkan beberapa lingkungan pendidikan seolah-olah meletakkan fakultas kedokteran sebagai salah satu pilihan jurusan wajib bagi siswa-siswi yang berada pada ranking tiga besar, seperti membuat stigma bahwa anak “pintar” harusnya jadi dokter.

Stigma itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sebaliknya. Dokter bukan sekadar harus pintar. Tapi juga tangguh, sabar, tulus, dan tidak menye-menye.

Tulisan ini bukan mau pengaruhin lo supaya tidak jadi dokter dan ngurang-ngurangin saingan gue di masa depan atau mau nakut-nakutin lo biar ga masuk FK dan ngurang-ngurangin saingan adek gue yang mau masuk FK. Tulisan ini supaya mata teman-teman semua bisa terbuka lebar, bahwa jadi dokter itu ga cuma tentang dapet gaji besar, citra keren, dan gengsi selangit. Yang sering terlupakan (overlooked) bahwa dokter itu amanahnya luar biasa, tanggung jawabnya berat ga kira-kira, Indonesia butuh dokter yang bener-bener pengen jadi dokter dan bukan yang pengen kaya atau semata pengen dihormatin doang.

Semua itu dimulai dari jadi mahasiswa.

Euforia lulusnya seorang anak SMA yang keterima di FK umumnya lebay luar biasa. Orang rumahnya bisa bikin hajatan besar segala… dari Pak RT sampai Pak Bupati kalau bisa diundang sebagai ucapan syukur. FK udah kayak pencapaian paling hebat dan membanggakan. Padahal, begitu nama tertulis di pengumuman kelulusan sebagai mahasiswa FK, saat itulah kita resmi masuk ke dalam suatu “penjara” baru bernama… ilmu kedokteran.

Kalau modal lo masuk FK hanya karena lo suka atau ahli biologi, PRET!! Udahlah ke laut aja… atau ikut audisi artis FTV.

Ilmu kedokteran bukan cuma biologi, bukan cuma tentang kepala pundak lutut kaki. Tapi…

1) tentang isi dari kepala pundak lutut kaki itu mulai dari yang paling luar sampai ke inti selnya

2) tentang fungsi normal dari setiap isi kepala pundak lutut kaki itu

3) tentang hubungan fungsi antara kepala pundak lutut kaki

4) tentang bagaimana proses kepala pundak lutut kaki yang normal bisa jadi tidak normal (sakit)

5) tentang bagaimana ngobatinnya, ngerawatnya, dan nyegahnya.

Dan bagian tubuh manusia bukan Cuma kepala pundak lutut kaki.

Lo kira gampang, ngapalin bagian anatomi dan struktur tubuh manusia sealaihumgambreng ini? Lo tau ga, buku teks ilmu kesehatan mata aja—yang bahas mata DOANG, secuprit itu, bisa setebel empat jilid Harpot ditumpuk. Itu baru mata doang. Belum THT, belum paru, jantung… belum kalau dihubungin dalam satu rumpun ilmu kayak bedah atau anestesi. Bedah kan ada lagi bedah mata, bedah tulang. Anestesi juga gitu. Belum lagi ilmu kesehatan anak, ada juga ilmu kesehatan mata anak, ilmu jantung anak… mampus lo, mampus!

Itu baru pre-klinik, baru teori.

Kalau soal tugas dan kehidupan perkuliahannya mah ga jauh beda sama fakultas lain, sama-sama hectic, sama-sama susah kalau ga belajar, sama-sama serem ujiannya kalau ga nguasain, sama-sama stressful kalau tugas lagi banyak. Ya gitu lah, semua kan bergantung dengan daya tahan fisik dan mental masing-masing orang. Tapi yang pasti, anak FK ga cuma diharapkan hapal, tapi juga ngerti, paham, dan updated. Sehingga sekarang atau lima puluh tahun lagi, ilmunya masih nempel plek, ga boleh salah, ga boleh lupa, dan ga boleh ketinggalan jaman.

Begitu lo masuk koass, it’s another “penjara”.

Lo akan dituntut mampu menerapkan apa yang sudah lo dapet di pre-klinik. Pasien ujug-ujug dateng mana peduli lo koass baru atau dokter senior, pokoknya taunya lo harus bisa nanganin doi sampai kelar. Dan lo ga mungkin kan ngobatin doi sambil ngebentang kitab-kitab textbook lo di samping kasur pasien sampai tumpeh-tumpeh ke lantai?

Belum lagi waktu istirahat lo dan waktu makan lo jadi terbengkalai. Bahkan waktu bermain dengan teman dan kekasih. Udah banyak ceritanya yang pacaran menahun akhirnya putus. Yang tadinya gendut bisa turun belasan kilo. Yang tadinya cerah-ceria berbinar indah jadi kuyu bermata cekung, pucat, dan lesu. Waktu istirahat minim, waktu makan minim, tapi lo terus diharapkan sehat jiwa dan raga, karena kalau lo sakit, lo sendiri yang akan susah.

Pernah kebayang rasanya jaga 24 jam nonstop, tidur cuma golerin kepala aja di atas meja konter di IGD, itupun kebangun-bangun terus, sedangkan paginya harus presentasi laporan kasus? Pernah kebayang rasanya tidur di lantai cuma beralaskan kardus, di bawah kolong meja pula, di saat lagi jaga malem dan lagi gantian giliran tidur sama temen, bangun-bangun dimarahin perawat karena dibilang males? Pernah kebayang rasanya capek seharian berdiri di ruang operasi, besoknya harus ujian sama dokter killer?

Belum lagi serangan mental berupa teriakan keluarga pasien yang meninggal, keterbatasan fasilitas rumah sakit daerah padahal pasien yang kita urus lagi sekarat, keribetan birokrasi yang bikin pasien kita nangis-nangis minta tolong, caci-maki segenap staf rumah sakit mulai dari dokter senior sampai OB untuk setiap kesalahan si dokter muda—dari yang sepele sampai yang signifikan.

Pas kita koass, sebagian temen-temen sekolah kita yang memilih fakultas lain sudah pada mulai kerja, punya penghasilan sendiri, beli rumah, beli kendaraan, keliling dunia, menikah… sedangkan kita? Masih juga sekolah. Bolak-balik rumah sakit-rumah, rumah-rumah sakit. Pulang-pulang taunya cuma tidur, dikit-dikit ngantuk, dikit-dikit pengen tidur. Padahal, harusnya belajar.

Kelar koass, masih ada UKDI dan internship.

Udah jungkir balik-salto nyelesein 6 sampai 7 tahun total pendidikan untuk jadi dokter umum, kata siapa bisa langsung kaya bahagia yeyeyelalala? Justru perjuangan hidup baru dimulai. Pergolakan batin—melawan idealisme mau menolong sesama atau ngutamain dulu prioritas memupuk pundi-pundi rupiah karena sudah habis-habisan untuk biaya sekolah—baru dimulai.

Belum lagi bagi kita yang perempuan. Diri kita akan jadi milik suami, anak, dan keluarga. Siapa yang peduli kalau lagi ada pasien gawat pagi-pagi buta dan membutuhkan kita? Siapa yang peduli anak kita sakit keras atau suami kita baru pulang kerja, sedangkan kita dapat panggilan ke IGD karena ada pasien luka tusuk sedang sekarat? Menjadi dokter adalah siap mewakafkan sebagian hidup kita untuk orang lain. Menjadi dokter bukan profesi, apalagi cara menimbun materi.

Sebegitu berat menyelesaikan pendidikannya, sebegitu mahal biayanya, ujung-ujungnya yang menikmati ilmu kita adalah orang lain, orang-orang yang percaya kita bisa menolong mereka.

Jadi, jangan sampai memilih FK hanya karena ingin diakui pintar, dipuji keren, atau berharap bergaji besar—muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga. Apalagi masuk FK hanya karena disuruh orang tua. Jangan! Jadi dokter tidak sesederhana itu. Terlalu banyak tuntutannya dan besar tanggung jawabnya, bergelut dengan nyawa setiap hari, dan hidup berpacu dengan waktu.

Memilih fakultas apapun ada resikonya. Profesi apapun ada untung dan ruginya, ada sulit dan mudahnya. Yang terpenting memang balik lagi ke bagaimana kita menjalaninya. If we love it already, we’ll live it easily.

Jangan terjebak, karena Indonesia tidak butuh dokter yang lulus karena jebakan =)

(*)

Rizki Amy Lavita

Kedokteran 2010, Universitas Sriwijaya

crescenthemum.tumblr.com

youtube

Moving images of ladies of ‘70s/’80s punk & post-punk, part thirty-two: Lo Tek - “Running Dog”

youtube

Black Rain - Lo Tek

bout to be re-released on Blackest Ever Black!! former member of ike yard & some other guy doing a [nerfed] soundtrack to the Johnny Mnemonic movie & a Neuromancer audiobook!!!!