lippo-group

Matahari Bagi Dividen Rp 358 Miliar

Matahari Bagi Dividen Rp 358 Miliar

foto: tempo

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), perusahaan ritel yang dikendalikan Lippo Group membagikan dividen tunai sebesar Rp 193,3 miliar atau setara Rp 36 per saham. Jumlah ini setara 35 persen dari laba bersih sepanjang 2014 sebesar Rp 554 miliar.

“Sisa laba sebesar Rp 358 miliar akan dibukukan sebagai laba ditahan. Kami akan menyampaikan info selanjutnya tentang jadwal pembayaran,” kata…

View On WordPress

Lippo Group Rambah Myanmar dan Kamboja Kembangkan Bisnis Rumah Sakit

Lippo Group Rambah Myanmar dan Kamboja Kembangkan Bisnis Rumah Sakit

KotakNews.com Lippo Group semakin mengembangkan sayapnya bisnisnya keluar negeri terutama Negara ASEAN yang dianggap potensial.

Di Myanmar, Lippo Groupberencana untuk membuka 12 rumah sakit (RS). Investasi yang disiapkan untuk ekspansi bisnis tersebut mencapai US$ 400 juta hingga US$ 500 juta, atau hingga Rp 6,5 triliun dengan perhitungan biaya untuk membuka 1 rumah sakit rata-rata US$ 50…

View On WordPress

Gebrakan Grup Lippo di Bisnis Bioskop

Posted on December 18, 2014 by Gustyanita Pratiwi

Raksasa bisnis Grup Lippo masuk ke bisnis bioskop secara besar-besaran lewat Cinemaxx. Ambisinya adalah menjadi Raja Bioskop di Indonesia. Dengan jaringan mal yang dikuasainya di berbagai sudut kota, mudah saja bagi Lippo untuk mendirikan Cinemaxx di lokasi strategis. Apa saja langkah yang ditempuh Grup Lippo dalam merambah bisnis bioskop? Brian Riady, CEO PT Cinemaxx Global Pasific menjawabnya.



Setamat dari Studi Komunikasi Politik dan Ekonomi, Universitas Texas, Amerika, Brian Riady memulai kariernya sebagai Analis Investasi Perbankan di Credit Suisse, New York. Saat kembali ke Tanah Air, pehobi badminton ini lantas didapuk sebagai Vice President divisi strategi di Lippo Group.

Sejak Desember 2013, ia kemudian mendirikan perusahaan cinema di bawah Lippo Group, Cinemaxx, dan diserahi tanggung jawab sebagai CEO. Di sinilah, dirinya bertanggung jawab untuk memformulasikan dan membangun strategi demi mengimplementasikan misi Cinemaxx untuk menjadi bioskop nomor wahid di Indonesia. Lantas apa saja langkah-langkah ekspansinya? Berikut penuturannya kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA Online.

Read more > http://goo.gl/k0ecYq

New Post has been published on The Rakyat Post

New Post has been published on http://www.therakyatpost.com/business/2014/09/08/healthcare-new-lippo-growth-focus/

Healthcare new Lippo growth focus

SINGAPORE, Sept 8:

Indonesian conglomerate Lippo Group is looking to invest up to US$5 billion (RM 15.9 billion) in healthcare, food retailing and telecoms mainly in the Philippines, Vietnam and Myanmar over the next three to five years, its top executive said.

“Partly, it’s diversification, but partly also new growth markets,” James Riady, chief executive of one of the biggest conglomerates in the country, said in an interview.

“In Asean, outside of Indonesia, we could be investing US$3-5 billion over the next three-five years. Healthcare is a big part of it and retailing, primarily food retailing,” Riady said on the sidelines of a regional conference in Singapore.

He identified Vietnam, the Philippines and Myanmar as the main markets for Lippo’s expansion strategy.

The Riady family’s listed companies include Indonesia’s biggest private hospital operator, PT Siloam International Hospitals Tbk, the biggest property developer, PT Lippo Karawaci Tbk, and Matahari Department Store.

“Indonesia is the biggest market but these countries [the Philippines, Myanmar and Vietnam] are showing good potential and many Indonesian retailers have expressed interest in entering these markets,” said Matthew Wibowo, retail analyst at Mandiri Sekuritas.

Fitch Ratings said last month that regulatory barriers will remain one of the key challenges for expansion plans for mini-markets, convenience stores and hypermarkets in Indonesia.

Lippo has targeted healthcare as one of the key industries for the group’s expansion because of rising affluence among the middle class and a lack of hospital capacity in Indonesia.

“Indonesia is large but once you start building this business, you want scale and reach,” said Riady, adding that his group is aiming for a first-mover advantage in tapping other growing Southeast Asian markets.

Financing for the regional expansion would come from internal funds and capital markets.

Siloam, which listed in Jakarta last year, plans to have 40 hospitals by the end of 2017, up from 17 as of June 30.

Riady said over seven years Lippo is looking to build 30 hospitals in the Philippines, and 15 each in Vietnam and Myanmar.

“When you bring in the idea of modern healthcare, you bring in technology, you bring in systems and you are in there for the next 10-20 years. You can really build a business,” he said.

This year, the group made its first investment in a hospital in Myanmar this year with a local partner.

Emerging economies are seeing growing demand for high-quality healthcare services but some markets such as Philippines are ripe for consolidation, Riady said.

“There are just too many players and the quality still has room for large improvement,” Riady said.

“We are looking to serve the broad-based market. The challenge would be to have a breakthrough in providing quality healthcare at very affordable and even more competitive pricing than what is available right now.”

The Lippo Group towers (also known as The Koala Towers or The Koala Tree).

This pair of two towers is located in Hong Kong. The buildings first opened in 1987 and are nicknamed “The Koala Tree” because they resemble koalas clutching a tree. The height of the taller tower is 186m.

Designed by American architect Paul Rudolph.

Hary Tanoe akui masih kepincut akuisisi saham Link Net

MERDEKA.COM. Pengusaha sekaligus pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengakui tertarik untuk mengakuisisi saham salah satu anak usaha group Lippo, PT Link Net. HT sapaan akrabnya menyebut hingga saat ini pihaknya masih menimbang harga yang cocok untuk menyelesaikan proses akuisisi ini.

“Tidak boleh kasih komentar. Dengan harga yang cocok, kita pasti tertarik,” ujarnya di Gedung MNC, Jakarta, Senin (27/7).

Direktur PT Global Mediacom Tbk (BMTR) Oerianto Guyandi menambahkan perusahaan masih memiliki minat untuk rencana akuisisi tersebut, namun apabila harga saham Link Net masih terlalu tinggi perusahaan tidak mau mengambil risiko.

“Link Net karena transaksi ada kerahasiaan. Tetapi kalau ditanya minat asalkan harganya masuk akal di kita tetapi harga tinggi kami tidak beli,” jelas dia.

Sebelumnya, beredar kabar jika perusahaan milik taipan kaya Hary Tanoesoedibjo melalui MNC Group akan mengakuisisi salah satu anak usaha group Lippo yakni PT Link Net Tbk. (Link Net). Namun, kabar itu sempat dibantah oleh Dicky Setiadi Moechtar, Sekretaris Perusahaan Link Net.

Di beberapa kesempatan di media, dirinya mengatakan hingga saat ini, perseroan tidak memiliki informasi terkait rencana akuisisi MNC Group atas saham Link Net.

Kabar ini berhembus manakala saat itu MNC tengah menyiapkan dana investasi US$ 400 juta untuk ekspansi infrastruktur Internet Protocol Television (IPTV) miliknya. Melihat strateginya itu, sudah barang tentu MNC harus melakukan akuisisi perusahaan provider internet.

Nah, dikabarkan Link Net yang akan diakuisisi. Jika memang ternyata betul adanya Link Net akan diakuisisi oleh MNC, maka Link Net akan memperkuat bisnis broadband MNC yang bernama MNC Play Media. Sayangnya, isu ini masih ditutup rapat-rapat oleh kedua belah pihak.

Baca Berita Selanjutnya:
Polisi pastikan lubang di lantai 8 MNC tower bukan bekas tembakan
Ruangan yang diduga ditembak tempat komisaris MNC berkantor
Benda diduga peluru di MNC tower besi berlapis karet
Polisi duga lantai 8 gedung MNC Tower ditembak dari jarak jauh
Like us on Facebook | Follow us on Twitter | Follow us on Google+

Sumber: Merdeka.com
Lippo gandeng Deutsche Bank-Rothschild bangun 2.000 bioskop Cinemaxx

MERDEKA.COM. Lippo Group Indonesia berambisi menghadirkan 2.000 layar dan 300 kompleks bioskop Cinemaxx di 85 kota di Indonesia selama 10 tahun ke depan. Demi memuluskan ambisinya ini Lippo menunjuk Deutsche Bank sebagai penggalang dana sebesar USD 100 juta dan perusahaan Rothschild sebagai penasihat keuangan.

“Kami telah membuat perkembangan nyata dalam mengembangkan bisnis kami, dan kami percaya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjajakinya,” kata Direktur Lippo dan CEO Cinemaxx Brian Riady dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (24/7).

Menurut dia, kerja sama itu akan menjadi platform IPO (penawaran umum perdana) selanjutnya dalam tiga tahun ke depan.

Sejak mengumumkan niat untuk memasuki industri bioskop pada 2013, PT Cinemaxx Global Pasifik telah meluncurkan pembukaan besar-besaran pada 2014 dengan rencana membangun hingga 2.000 layar.

Pembukaan agresif ini akan mengukuhkan perusahaan tersebut sebagai rantai bioskop terbesar dan paling komprehensif di Indonesia dan diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga sebesar USD 500 juta pada 2020 dan USD 1 miliar pada 2024.

Indira Citrarini, Managing Director and Head of Capital Markets and Treasury Solutions untuk Indonesia di Deustche Bank menyampaikan pihaknya akan menyukseskan penawaran tersebut.

“Ini adalah kesempatan unik untuk berinvestasi di kisah pertumbuhan konsumen Indonesia. Kami terkesan dengan rekam jejak Lippo dalam membangun perusahaan terkait konsumen yang sukses di Indonesia,” katanya.

Direktur Rothschild, Claire Suddens-Spiers, mengatakan pihaknya sangat mendukung proyek tersebut lantaran Cinemaxx telah membangun pondasi kuat untuk membangun bisnis sinema nasional.

Dengan populasi terbesar Asia Tenggara, kelas menengah yang berkembang cepat dan populasi anak muda yang melek teknologi, industri sinema Indonesia dinilai belum mengalami kemajuan dengan kurang dari USD 300 juta penjualan tiket tahunan dan jumlah layar bioskop yang hanya sekitar 1.000 unit.

Berdasarkan data Media Partners Asia, Indonesia kekurangan layar bioskop dan hanya memiliki 3,7 layar per sejuta orang dibandingkan dengan 39,9 layar di Singapura.

Di sisi lain, industri sinema Indonesia memiliki potensi yang besar mengingat adanya peningkatan konsumen kelas menengah yang haus hiburan, urbanisasi yang bertambah dan industri film lokal yang tengah berkembang.

Baca Berita Selanjutnya:
Intip gadis-gadis seksi nonton bioskop sambil berendam air hangat
Ini pengakuan penonton Doraemon, ingat mantan sampai menangis
Menikmati kenyamanan nonton bioskop di atas tempat tidur
5 Ambisi Cinemaxx saingi dominasi Blitzmegaplex dan XXI
Like us on Facebook | Follow us on Twitter | Follow us on Google+

Sumber: Merdeka.com
Ekspansi, Cinemaxx Galang Dana Lewat Deutsche Bank

Ekspansi, Cinemaxx Galang Dana Lewat Deutsche Bank

foto: wz-newsline.de Lippo Group Indonesia menunjuk Deutsche Bank untuk menggalang dana USD 100 juta bagi PT Cinemaxx Global Pasifik (Cinemaxx) dalam rangka ekspansi 2.000 layar bioskop di seluruh Indonesia. Selain itu, Lippo juga menunjuk Rothschild sebagai financial advisor (penasihat keuangan). Aksi korporasi ini sebagai upaya mendorong perusahaan melakukan penawaran umum saham perdana…

View On WordPress