liang yang

5

I Love My Family (我爱我家) Dir. Ying Da (英达). 1993 – 1994. 

I Love My Family is a 120-episode comedy sitcom about a six-member family in 1990s Beijing and their daily life and interactions with their neighbors and relatives. Known as the first multi-camera and Mandarin-language sitcom, I Love My Family was a watershed creation of director Ying Da’s career. 

Starring a veteran grandfather, portrayed by Wen Xingyu (文兴宇); his harrowed elder son, portrayed by Yang Lixing (杨立新); his operatic daughter-in-law from the countryside, portrayed by Song Dandan (宋丹丹); his spendthrift playboy of a younger son, portrayed by Tian Liang (田亮); his daughter studying abroad in the U.S., portrayed by Zhao Mingming (赵明明); and his happy-go-lucky granddaughter who frequently finds herself in trouble at school, portrayed by Guan Ling (关凌). The sitcom follows the temporal misadventures of these characters as they confront familial, educational, workplace, and interpersonal conflicts.

I Love My Family is a commentary on both the transforming intergenerational sociopolitical situation burgeoning in China and the cross-cultural influence of Western thought and ideals. It garnered immediate attention for both is comedic value and its easily identifiable relevance to contemporary Chinese life.

Kematian

Sore kemarin saya dikejutkan dengan salah satu pesan sepupu saya di WA keluarga.

“Om, tante, Ayah udah gak ada”

Singkat, padat dan tidak jelas. Akhirnya group WA keluarga kami menjadi ramai sore itu, semua anggota keluarga bertanya. Dan benar pada akhirnya sepupu saya menjelaskan ya bahwa Ayahnya (Om saya) sudah meninggal.

Kemudian hari ini saya dengan berat hati memohon maaf kepada dua orang teman saya karena seharusnya saya sudah jadwalkan hari ini akan datang ke walimah mereka, pun sepupu saya yang lain dengan berat hati harus mengadakan acara pengajian dan aqiqah putrinya tanpa kehadiran keluarga besar kami karena keluarga besar semua berfokus hari ini untuk acara pemakaman. Di detik detik ini saya mulai berpikir, dalam detik yang sama diluar sana ada orang yang berbahagia, namun diluar sana pun ada orang yang sedang meratapi kesedihan dan bersabat terhadap perihnya ujian. Mungkin itu kenapa ketika kita berbahagia harus bersyukur dan tidak boleh berbahagia terlalu berlebih, dan ketika bersedih juga harus bersabar dan tidak boleh bersedih dengan berlebih.

Singkat cerita hari ini saya mengantar jenazah om saya ke pemakaman, ini bukan pertama kalinya saya ke pemakaman dan melihat jenazah anggota keluarga diturunkan ke liang lahat. Namun kali ini entah ada yang berbeda, banyak hal yang mulai berubah dan pikiran saya yang mulai “berpikir” tentang hidup dan mati.

Bahkan ketika usia saya 14 tahun (SMA kelas X) pertama kalinya dalam hidup saya, saya turun ke liang lahat pada prosesi pemakaman kakek saya. Waktu itu tidak tau kenapa saya berdiri dibaris paling depan ketika keranda di letakkan disisi liang yang terbuka. Ketika semua anggota keluarga matanya memerah sambil menahan isak tangis, saya tidak meneteskan air mata sedikitpun. Sambil berkata dalam hati “Saya harus kuat dan tidak boleh menangis”. Dan tiba saat jenazah akan diturunkan, satu, dua anggota keluarga laki laki turun ke liang lahat untuk menerima jenazah, namun kurang 1 orang lagi yang turun (minimal 3 orang, untuk menahan bagian kepala, badan dan kaki). Tiba tiba Pak De saya menunjuk saya dan menyuruh saya turun ke lubang. Saya pun turun, bergabung bersama 2 anggota keluarga lain dan menurunkan jenazah kakek saya ke kubur. Sampai pada akhirnya 2 orang tersebut naik kembali setelah jenazah dihadapkan ke arah kiblat, tibalah saya sendiri dengan jenazah kakek saya di kubur. Apa yang saya rasakan didalam benar benar luar biasa, ada ketakutan, ada rasa tidak nyaman, ada rasa sepi menyelimuti. Saya buka satu persatu tali pengikat kafannya dan kemudian saya adzankan dan iqamahkan ditelinga jenazah kakek saya dan kemudian saya naik kembali. Dan papan mulai disusun menutup jenazah sebelum pada akhirnya tanah mulai diuruk untuk menutup kubur, doa dipanjatkan dan pesan dan titipan keluarga diumumkan ke para pengiring yang hadir.

Pun ketika umur saya 17 tahun, kedua kalinya saya masuk ke liang kubur untuk meletakkan jenazah keluarga. Kali ini nenek saya. Hal yang sama, saya tidak menangis dan meneteskan air mata sedikitpun. Bukan karena saya tidak sedih, saya sungguh kehilangan tapi saya terus memaksa diri saya untuk tidak menangis, untuk kuat dan untuk tetap sadar bahwa semua orang akan menemui ajalnya dan gilirannya.

Namun ada yang berbeda untuk kali ini, hari ini saya berdiri disudut ujung liang kubur. Ketika jenazah om saya ingin diturunkan semua orang menoleh kanan kiri, siapa yang akan turun kebawah, ke liang kubur. Beberapa anggota keluarga mulai mengarahkan pandangan ke saya seolah berkata “fizh tolong bantu untuk turun”. Namun saya tidak bergeming, saya punya alasan kuat, om saya punya 2 anak laki laki yang juga hadir. Yang satu duduk dibangku SMA dan yang satu lagi berkuliah. Saya mempersilakan kedua sepupu saya untuk turun, memberi penghormatan dan bakti untuk ayahnya untuk terakhir kali. Mereka sudah cukup umur, bukan anak anak lagi dan harus belajar mengemban amanah keluarga pikirku. Akhirnya mereka turun ke kubur dengan 1 tambahan anggota keluarga lagi. Setelah jenazah dihadapkan ke kiblat, anaknya kemudian mengadzankan dan iqomah di telinga jenazah ayahnya. Lalu papan dipasang menutupi jenazah dan tanah mulai diuruk kembali menutup kubur.

Setelah kubur tertutup rapat, Abi saya maju memberi pesan dan titipan keluarga. Dan salah satu kalimat awal yang beliau ucapkan adalah “Hari ini kita melihat keluarga dan teman kita kembali ke Pencipta-nya, dan kita disini juga akan segera menyusul cepat atau lambat. Kita disini menunggu waktu untuk dipanggil oleh Allah”. Dari awal semuanya masih baik baik saja dan saya tidak sedikiti pun meneteskan air mata, namun ketika mendengar Abi saya mengingatkan seperti itu, tidak terasa air mata saya mengalir. Saya yang tidak pernah menangis di pemakaman akhirnya menangis karena kalimat itu. Bagaimana tidak seolah saya benar benar melihat nyata pada nisan itu tertulis nama saya dan didalam kubur adalah saya yang dibalut kain putih. Bayangan inilah juga yang menjadi andalan saya menangis ketika tahajud. Saya bayangin ketika saya solat dan ternyata didepan saya persis ada jasad saya apakah saya akan mengakhirkan hidup menjadi orang yang beruntung seperti dalam Al - Quran atau saya orang yang merugi (naudzubillah min zalik) , sejauh apa bekal yang sudah disiapkan? dan akankah ketika kematian itu datang diperlihatkan surga atau neraka kepada kita oleh Allah? yang mana itu akan menandakan menjadi tempat kita nantinya. Karena kita terlahir sendiri dan akan mati, kembali pada Allah dan dihisab secara sendiri sendiri.

Kedua karena saya tertampar oleh kata kata Abi saya, dan itu menyadarkan saya bahwa cepat atau lambat mereka (Abi dan Ummi saya) akan juga menyusul om saya. Saya mulai harus bersiap kehilangan.

Ketiga karena sungguh Abi saya telah membuat payah saya sebagai anak pertama. Mungkin ini yang disebut keberadaanya berkah, tanpa perlu menjadi dikenal banyak orang atau publik figur, kehadiranya menjadi jawaban dari permasalahan orang disekitarnya. Keluarga besar saya seringkali menaruh amanah terkait hal hal seperti ini (doa, tausiyah, acara keluarga dll) biasanya ke Abi saya dan seolah setelah ini saya sebagai anak pertamanya dan laki - laki harus mulai andil untuk perkara ini umumnya dan mengurus urusan keluarga benar benar tidak main main.

Cukup saya menahan isak tangis yang berujung pada air mata yang mengalir, sambil berdiri disudut kubur dan Abi saya yang melanjutkan pesannya kepada pengiring yang hadir. Padahal saya tidak pernah menangis pada siang hari dipemakaman, didepan orang pun siang hari ketika ada masalah yang hadir. Sampai pada akhirnya saya tidak cukup kuasa menahan tangis karena otak saya tiba tiba mengingatkan saya tentang ini :

Tatkala menjelang wafat, Abu Bakar RA berkata :

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. - (Qaf : 19)

Semoga menjadi pengingat kita semua bahwa hidup ini menunggu giliran satu persatu, ditinggalkan orang - orang disekiar dan orang - orang terkasih dan pada akhirnya kita sendiri yang akan dijemput oleh giliran tersebut dan kembali pada Allah pun sendiri. Bahwa ada perkara yang lebih penting terkait mempersiapkan menjemput jodoh terbaik, mencari rezeki terbaik, dan perkara dunia, yaitu utamanya adalah mempersiapkan kematian dengan amal amal terbaik. Maka jika berbahagia, bersyukurlah dan jangan berlebihan. Ketika bersedih, bersabarlah dan jangan berlarut - larut. Semoga Allah jadikan kita orang - orang yang senantiasa mengingat kematian, sehingga senantiasa kita meningkatkan bekal baik kita menghadapi kematian dan agar dunia tidak terasa disempitkan dan dada tidak terasa disesatkan karena perkara perkara dunia yang sedang melanda kita.

7

Vive L’Amour (愛情萬歲). Dir. Tsai Ming-liang (蔡明亮). 1994.

Vive L’Amour, Tsai Ming-liang’s second feature film, focuses on three young residents of Taipei whose lives intersect around an empty apartment that they come to inhabit, unbeknownst to each other. The slow-paced, sparsely dialogued film explores the unsettling visceralities of sexual desire, the inadequacies of fleeting relationships, and the shared longing for emotional connection. Vive L’Amour hones Tsai’s signature theme of urban alienation, and with a quiet humor and careful eye, unearths the pains and pleasures of the characters’ lives.

Vive L’Amour is considered one of the defining films of the Taiwanese New Wave. The film won the prestigious Golden Lion award at the Venice Film Festival.

Cerita Syok

Setubuh Hangat Dengan Ayah

Namaku Ana.. Pertama kali aku berhubungan seks adalah tak lain dan tak bukan bersama ayah kandungku sendiri. Ceritanya begini. Saat itu umurku baru 14 tahun.. Ibuku telah meninggalkan kami sejak aku kecil lagi untuk mencari kehidupan mewah bersama lelaki lain. Ayahku pula seorang peniaga alat sukan. Aku seorang anak tunggal. Ketika umurku 14 tahun aku menpunyai tubuh seperti perempuan dalam lingkungan umur 20an. Aku mempunyai dada yang mampat. Saiz coliku pada waktu itu adalah 38C. Pinggangku masih dalam 24inch dan punggungku saiz 36. Sepanjng hidup kecilku sentiasa dengan ayah. segala permintaanku, dia akan cuba turuti memandangkan aku adalah anaknya seorang dan disayangiku bagai menatang minyak yang penuh. Saat umurku 12 tahun ayah pernah cuba berdating dengan perempuan lain tapi tak ada jodoh… ada mak janda, ada mak dara… sampai tiba masanya dia kata padaku; ‘Ana… Ana tak rasa sunyi ke tak ada Ibu atau adik beradik?'tanya Ayah 'Tak pun.. Ana happy camnie.. Kenapa Ayah taknak kahwin ngan orang lain? tanyaku balik 'Entahlah.. barangkali tak ada perempuan yang boleh ganti ibu kamu… Ayah pun lebih ok camnie.. Ada anak dara satu pon dah pening kepala..’ seloroh Ayah. Ayahku orangnya tinggi lampai dan mempunyai badan yang tegap.. maklumlah bekas seorang bodybuilder tempatan saat mudanya. Kini dia masih menjaga badannya dengan baik sebab dia menpunyai alat gym yang lengkap di rumah. Segala tentang dirinya masih lagi kelihatan muda. Setakat rambut putih kelihat sedikit. Dia mempunyai senyuman yang cukup menawan. Teman2 sekolahku pun pernah menyatakan bahawa Ayahku handsome orangnye.. Kadang aku juga berasa megah menpunyai ayah seperti Ayahku.. Sebelum hari lahirku yang ke 16, Ayah bertanya apa aku inginkan untuk hadiah.. Aku hanya meminta Ayah mengajak aku bercuti di Langkawi and seutas beg LV kerana kebetulan hari lahirku jatuh pada cuti sekolah. Ayah menyatakan semuanaya sudahpun diatur seperti yang ku mahu.. Sejak aku baligh, aku sentiasa ada teringin tahu apakah rasanya seorang berhubungan seks.. Adakah seperti buku novel romance yang aku baca di khutubkhanah? Aku sering bermimpi membayang diriku sedang hangat bersetubuh bersama lelaki yang tak ku kenali… Aku sering terasa basah seluar dalamku pada esok pagi kerana mimpiku. Tak pernahpun aku meceritakan tentang mimpiku itu pada Ayah. Pada hari lahirku kami berdua beranak tiba di Casa Del Mar.. Sangat romantis dan cantik hotel itu..Seperti yang aku bayangkan. Kami tiba di waktu senja dan just in time for makan malam. Aku dihadiahi beg idamanku dan juga kek hari jadiku yang indah.. Aku berasa sangat gembira.Di saat itu aku memakai baju off shoulder hitam yang pendek yang kelihatan seksi dibeli sebelum hari lahirku. Setelah makan malam aku dan ayah berjalan di taman open air itu sambil berbual 'Ana.. happy tak hari ni? 'Happy ayah… rasa macam puteri kayangan’ kataku ’ Ana, you have always been my princess.. Ana istimewa pada diri ayah’ kata ayahku sambil memelukku. Di saat pelukkan Ayah; aku mula dadaku berdegup dengan kuat..Seperti kejutan elektik.. Aku tak tahu mengapa. Ayah terus mencium pipiku.. Aku rasa terpegun.. Ciuman itu bukan seperti ciuman saat kecilku tapi ciuman seperti seorang lelaki dan perempuan.. Aku hanya tersenyum tapi hatiku seperti inginkan sesuatu. 'Ayahh.. ana rasa ngantuk nak tidur la ayah.. 'Mari kita pulang ke bilik masing2’ kata Ayahku Bilikku dan Ayahku adalah adjoining suite. maksudnya ada pintu antara dua bilik. Aku masuk ke bilikku laku mula membuka baju dan berbogel untuk mandi..Saat aku mula membuka shower, tiba2 aku terasa tangan memegangku.. aku berpaling dan alagkah terkejutnya apabila Ayah yang berseluar pendek datang memelukku lagi… Kali ini perasaanku tidak boleh terbendung lagi… Ayah mula mencium leherku… Aaahhh. sensitifnya tempat itu… 'Ayah… kenapa kita rasa begini…’ aku berdesah 'Ayah sendiri tidak tahu… Ana terlalu cantik seperti ibumu..Maafkan Ayah tapi Ayah tidak boleh terbendung perasaan Ayah terhadap Ana.. kata Ayahku sambil memeluk mendakap dan mencium pipiku..Tangannya mula rasa liang tubuhku yang basah.. Ayah… Ana tak tahan.. dengan ciuman Ayah nie.. Ana… Ayah sayangkan Ana.. 'Ana juga Ayah.. Ayah tak sanggup… Ana anak Ayah.. tapi… Tapi apa Ayah..?? ’ aku mengeluh… Ayah terus mendukungku lagi membaringkanku atas katilku.. Dia terus mencium mulutku bertubi- tubi… hairannya aku turut menciuminya.. Tanganya meraba buah dadaku yang montok ini.. Ayah…. I think I am in love with you Ayah!!! Ana love Ayah.. I want to be your lover Ayah… Sambil mengisap buah dadaku; ayah berkata.. Are you sure Ana??? Apa yang Ayah lakukan, there is no turning back.. Ana sanggup ayah… Ana nakkan Ayah!! Aku terus merangkul Ayah lalu menjilat lehernya.. Ayah terus membuka seluar pendeknya… Alangkan terkejutnya aku melihat senjata Ayahaku… untuk pertama kalinya.. Ana… Ana takkan menyesal.. Ayah akan bahagiakan Ana.. Ayah takkan tinggalkankan Ana.. “Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh lebih berisi.., mmpphh..”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang ‘jack’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat, kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Ayah… show me your love please… Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan koneknya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong koneknya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Tiba2 aku macam sudah rasa mcm seorang professional sedang ini kali pertama… Ayah serperti tahu apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang koneknya dalam pukiku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat kagum dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku sanggup membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. Ayah…. cepat… 'Cepat apa sayang?…. Cepatlah…. Ana nak ayah buat apa? CEPAT MASUKKAN KONEK AYAM DALAM PUKI ANA!!!!! Aku macam tak percaya dengan kata2ku itu.. Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya// inikan kali pertama Ana, kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. Aku menunggu cukup lama gerakan konek ayah memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, konek ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mampat di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat konek ayah keluar masuk dengan ketatnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Sakit mula terasa.. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku mengisi penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa pedih di seluruh dinding vaginaku. “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..”, aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Sedap tak terhingga… Ayah sedapnya rasa konek ayahhh…. Hentaklah kuat2! Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mencecah pertahananku. Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang konek yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencuba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritikal, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. “Ayah.., oohh.., Yaahh..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami”, bisik ayah dengan mesranya. “Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melepaskan kerinduan yang tersimpan selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantik. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri? Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan tenunganku kembali gairahku. Aku masih gian dengannya. Sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah dia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa diriku menjadi ghairah untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. “Akh sayang!” pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang pukiku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda liar yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya gelek bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri! Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dicubit2. Ayah lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski hotel menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lekat satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Ayahhhh….. hentakkan lagi…. Sedappppppp…. Ooohhh Anaaaa….. Katil dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeria. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina liar yang sedang birahi. “Eerrgghh.. oouugghh..!” ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Pancutan begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan bersenggama dengan ayahku. Tubuh kami bergulingan di atas katil sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari katil Untunglah katil itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terluka… Nikmatnya tak terkata…. Selama tiga hari kami di hotel… kami bersetubuh tanpa henti seperti pasangan yang berbulan madu.. Hingga sekarang aku masih bersetubuh dengan ayahku… .. Kami sudah berpindah ke laur negara agar boleh hidup sebagai sepasang suami isteri… Kami kahwin secara sivil.. Belum lagi dikurniai anak.. Aku tidak menyesal atas perbuatan kami… malah aku recommend it.. Sayng ayah tak sama seperti jejaka mcm mat rempit etc… Konek ayah sangat fantastik… Bye… Ayah sudah panggil untuk bersetubuh lagi..

10

FLOWERS OF TAIPEI: TAIWAN NEW CINEMA (Chinlin Hsieh, 2014):

Apichatpong Weerasethakul, Olivier Assayas, Martín Rejtman, Jazmin López, Gerardo Naumann, Kiyoshi Kurosawa, Hirokazu Kore-eda, Ying Liang, Jia Zhangke, Yang Chao, Wang Bing, Tsai Ming-liang, and Hou Hsiao-hsien.

miaamaaliaa  asked:

Assalamu'alaikum.. mba nai, tips biar istiqomah ngapal dong..

Wa’alaikumussalam @miaamaaliaa​ :)

Pengingat Nai sendiri, biasanya kalau Nai dah patah semangat, yang Nai lakuin menyendiri terus tafakkur, kontemplasi, banyak-banyak mikir. Tentang niat ngafal Qur’an. Tentang kekhawatiran-kekhawatiran Nai kalau misal berhenti padahal belum sampai garis finish. Soalnya kalau niat bener, biasanya mudah. Nggak selalu, tapi seringnya gitu. Terus abis itu segera nelepon orang tua minta do’a biar dikasih kekuatan sama Allah.

Toh, ngafal Qur’an itu tugas seumur hidup. Proyek besar sepanjang hidup. Berhentinya ya nanti kalau udah di liang lahat.

Ada yang bilang. Jika kita susah melakukan suatu hal, larikanlah diri dengan melakukan hal itu sendiri. Kalau jengah ngafal Qur’an, larikan diri dengan terus ngafal Qur’an. Lawan keengganan nderes dengan terus nderes. Lawan kemalasan ngaji dengan terus ngaji. Kalau udah mulai malas ngaji, larikan diri aja dengan ngaji.

Jangan sampai satu haripun ngelewatin Qur’an. Soalnya kalau udah malas dihari itu, hari besoknya semakin malas. Akhirnya memulai lagi itu susah. Apalagi kalau kesibukannya sudah menjadi alasan. Bahaya euy.

Oh iya, nyari temen-temen yang juga ngafal. Biar bisa saling ngingetin.

Terus senjata paling ampuh kalau usaha udah mentok tertahan. Do’a. Banyak do’a biar Allah permudah. Biar Allah berkahi dan biar Allah kasih kekuatan buat istiqomah ngaji. Do’a, ya.

Ditirakati. Bikin acara sendiri. Misal: riyadhoh puasa selama berapa waktu diniatin buat Qur’annya, puasa daud diniatin buat Qur’annya, atau program bersholawat sehari seribu diniatin buat Qur’annya. Trust, it works. Coba deh. Nanti rasanya beda kok, Qur’an yang ditirakati sama yang ndak. Tentu saja tanpa ninggalin nderes.

Nah, cara yang paling ampuh biar istiqomah ngafal Qur’an: MONDOK.

Karena disana ndak bakal ada bau-bau sibuk dan hal keduniawian lainnya. Disana isinya ngaji, jama’ah, ngaji, tidur, makan, ngaji, jama’ah. Dan semuanya juga gitu. Jadi mau nggak mau, kita akan istiqomah ngaji. Wes pokoknya isinya gitu aja pondok itu. Isinya ngaji sama ta’dzim kyai/ustadz/ustadzah/guru Qur’an.

SEMANGAT NGAFAL YA, MIA. DOA’IN NAI BIAR ISTIQOMAH NGAJI. SALING DOAIN POKOKE. #AyoMondok hahahaha

Iza Isteri Orang

FEB 23

Posted by mrselampit

 

 

 

Rate This


Celah pantatnya kini tampak agak lebih merah. Seluruh kelangkangnya itu nampak basah penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mmm.. Mmm.. Aku jilati seluruh permukaan bukit pantatnya itu..!

“Ooohh.. I dahh.. Tak tahan!!” rengek Iza.

Aku tidak memperdulikan erangannya. Mulut dan lidah ku terus bermaharaja lela di seluruh pantat Iza sehingga hampir lumat tempat tu mulut kukerjakan. Beberapa urat bulu pantat Iza termasuk ke dalam mulut ku dan aku rasa bibir ku panas terkena air dari pantatnya. Aku tengok jam sudah pukul 1.00 pagi.

Lidahku masih lagi bermain dengan biji kelentit yang terjojol itu dan jari ku mula nak mainkan peranan. Perlahan aku masukkan jari telunjuk ku ke dalam liang yang panas lagi berair dan aku dapat rasakan satu kemutan yang kuat menyepit jari telunjuk ku. Punggung Iza terangkat bila jari ku makin ke dalam. Aku tak tolak masuk jauh sebab aku nak batang aku meresmikannya. Aku cabut jari aku keluar dan kedua tangan ku merangkul punggung Iza dan aku tarik punggungnya naik ke atas sehingga pantatnya terdorong ke mulutku.

Sepantas kita kilat kedua-dua tangan Iza mencengkam rambut ku dan dia terbangun menahan kesedapan.. Tubuhnya masih menggil bila aku melepaskan mulut ku dari pantatnya. Aku bangun berdiri di depan Iza sambil melucutkan seluar dalam aku. Tersergamlah batang aku yang sudah keras sekerasnya. Iza senyum.

“Hmm.. Panjang..!!” kata dia tersenyum.

Aku biarkan sahaja sambil Iza mendekatkan muka dan mulut dia ke batangku. Dia membuka mulut dan memasukkan batang aku dalam mulutnya.. Digenggamnya batangku.. Dan mula menjilat-jilat kepala itu. Di dalam mulutnya aku terasa kepalaku dipermainkan oleh lidah Iza.

Aku sudah terasa batangku menegang dan tegak keras. Kulihat tangannya di bawah manakala tangan kanan di atas memegang batang kebanggaanku.. Seinci lebih terkeluar dari genggamannya. Yang itulah yang dijilat oleh Iza. Bagai nak gila aku cuba menahan sedapnya. Iza melepaskan batangku.. Ternyata sudah tegak dan keras. Lantas itu.. Dia mula menyedut.. Dan menghisap.. Sedikit sedikit..

“Mmmph.. Mmpphh.. Srrtt.. Srrt..!!” bunyi mulut Iza.

Mulutnya yang kecil itu menyukarkan Iza untuk memasukkan kesemua batang aku yang panjang dan besar itu. Beberapa kali dia mencuba tetapi baru separuh masuk sudah mengenai anak tekaknya.

Iza terus menghisap kon aku dengan mulutnya yang bercampur air liurnya.. Dia melurut lurutkan lidah dia ke atas batang aku hingga ke buah zakar. Dia kemudiannya menyedut pula buah zakar aku..

“Aduhh.. Sss.. Izaa perlahan.. Senak I..!!” kata aku pada Iza.

Dia terhenti dan menukar konsentrasinya kembali kepada kepala batang aku. Di situ dia menguak-nguakkan mulut kepala batang aku dengan menggunakan lidahnya.. Dan sesekali dia memasukkan seluruh batang ku ke dalam mulutnya.

“Mmm.. Ooo..!!” aku pula mengeluh kesedapan.

Tiba-tiba Iza berhenti mengulum batang aku dan dia membisikkan sesuatu kepadaku.

“I tak pernah buat macam ni dengan orang lain selain my husband. I tahu apa yang kita buat ni salah, tapi I sudah tak tahan.. Dan ini adalah rahsia kita berdua..!!”

Aku cuma tersenyum mengiyakan permintaannya. Aku mula membaringkan Iza dan menguakkan kakinya dan melapikkan punggung Iza dengan bantal. Pantatnya yang telah basah lencun kini terbentang indah dihadapanku.

Perlahan-lahan aku bergerak ke celah kangkang Iza dan meletakkan kepala butuhku tepat di muka bibir pantatnya yang mula berdenyut menantikan tujahan. Aku merebahkan diriku diatas perut Iza.

Untuk mengurangkan berat badan, aku sangga badanku dengan sikuku. Dalam keadaan meniarap di atas perut Iza aku mula mengisap dan menjilat puting teteknya. Dia benar-benar dalam kelazatan. Tangannya kuat merangkul kepala dan rambutku. Nafasnya berbunyi kuat. Dadanya bergelombang laksana lautan dipukul badai. Batang pelirku belum ku masukkan lagi. Namun begitu ianya sudah lama tegang dan keras.

Aku membuka bibir pantat Iza yang comel itu dan mula menusukkan zakarku ke dalam apomnya yang lencun itu.

“Aaahh.. Hhhgghh.!!” Iza merintih menahan sakit dan nikmat bila batangku mula menerobos masuk ke dalam pantatnya yang masih sempit. Aku sendiri merasa betapa nikmatnya pantat Iza. Basah dan hangat beserta kemutannya yang kuat.

Aku kembali menggomoli dan menyeludu buah dadanya. Iza mendesah menahan kegelian dan kenikmatan. Aku mulakan sorong dan tarik kat dalam pantat Iza berkali-kali.

“Argh.. Sedappnya..!!” jerit Iza bila keseluruhan batang ku telah meneroka hingga ke dasar pantatnya. Aku membiarkan seketika zakarku berendam di dalamnya.

Ketika itu diangkat tubuhnya sambil memeluk tubuhku. Kami berbalas kuluman. Batangku masih terpacak dalam lembah larangannya yang lembut dan melazatkan itu. Betapa nikmatnya kurasakan.

“Aaahh.. Ssseeddaappnya..!” rintihan Iza membuatkan aku lebih terangsang.

Akupun terus sorong tarik batangku mengesel liang pantatnya atas, bawah, kiri dan kanan mencari tempat yang membuatkan nafsunya lebih terangsang. Tangannya mencengkam erat cadar sambil matanya terbeliak dan mulutnya mengerang kesedapan.

“Lagii.. Sedappnya.. Ahh.. Aghh..!!” erangannya semakin kuat.

Aku terus menikam pantat Iza dengan sekuat hati. Batangku keluar masuk dengan laju dibantu oleh pantat Iza yang licin dan basah. Permainan kami menjadi lebih hebat kerana Iza turut membalas setiap tujahan batangku ke pantatnya dengan mengangkat-angkat dan menggerakkan punggungnya. Seketika kemudian aku mencabut batangku dan memintanya menonggeng. Iza berlutut di atas tilam dan aku berdiri di belakangnya lalu merodok masuk senjataku.

“Ohh.. Sedapnya, please do it hard to me.. Agghh.. Sedapnya macam ni..!!”Aku semakin kuat mendayung.

Agak lima minit Iza nak mencuba teknik ‘riding’pula. Aku menuruti kemahuannya. Sebelum menunggang aku, dia sudah membasahi pelirku dengan air liurnya. Aku bantu dia memasukkan batangku ke dalam lubang pukinya. Walaupun lambat sikit, tetapi dia berjaya dan tanpa rasa sakit atau ngilu.

Sebaik sahaja dia memulakan henjutan, aku juga mula meramas-ramas buah dadanya. Dua tindakan berpadu dalam satu aksi. Batangku terasa licin. Ini maknanya lendir masih banyak dalam lubang pantatnya. Kupegang erat buah dadanya. Dalam keadaan itu, aku gunakan Ibu jariku menggentel-gentel puting payudara Iza.

“Ohh.. Hngg..” rengek mulut Iza pada setiap henjutan yang dilakukan.

Ternyata dia sudah mula berahi dan penat. Apa tidaknya, nafasnya sudah mula sesak. Lubangnya terasa ketat. Tanganku masih meraba dan meramas-ramas buah dadanya. Dalam pada itu, sekali-sekala aku tujah juga batangku. Sebentar kemudian aku suruh dia gantung punggungnya. Maksudku, angkat sikit supaya aku dapat menujah lubang pantatnya. Dia bercangkung dan aku mula menujah sambil tanganku terus-terusan menggentel puting teteknya.

“Ohh.. Sedapp.. Sedapnya!!” rengeknya bertalu-talu.

Aku berhenti menujah apabila aku dapati lubang pantatnya ketat semula. Kalau aku teruskan dia akan ‘cum’dan sampai ke puncak atau climax terlebih dahulu.

“Ah..! kenapa henti. I tengah sedap nii. Please..!!” rayu Iza apabila aku berhenti menojah tadi.

“Sabar.. Sayang I terasa penatlah” jawabku berpura-pura.

Sudah tiga kali dia nak sampai ke puncak. Ketiga-tiganya aku sekat dengan berbagai cara. Sebenarnya, air maniku juga sudah nak terpancut, sekiranya aku teruskan menojah-nojah tadi. Aku mahu biar lebih lama batang pelirku berendam dalam lubangnya. Kekadang lebih enak dan menyeronokkan direndam daripada terus-terusan menghenjut.

Dia masih lagi di atas. Dengan kedua-dua tapak tangannya di atas dadaku, dia membongkok sedikit. Aku tidak jemu-jemu bermain dengan buah dadanya yang tegang dan bulat itu. Apabila kugentel-gentel puting teteknya, badannya mula mengeliat kesedapan. Pelirku juga semacam dicas semula.

“Cepatlah.. Sedap ni..!!” rayu Iza sekali lagi.

Dengan perlahan-lahan, aku mula menojah-nojah lubang pantatnya. Turun naik turun naik bertalu-talu. Kemudian semakin lama semakin laju.

“Sedapp.. Sedapp..!!” dia merintih lagi.

Aku kemudiannya mencabut batangku dan membaringkannya semula. Aku mengangkangkan kaki Iza seluasnya dan terus menjunamkan batangku ke dalam lurah larangannya.

“Agghh..!!” Iza mengerang kesedapan tatkala keseluruhan batangku memasuki pantatnya.

Batangku keluar masuk dengan laju ke dalam pantat Iza. Semakin lama semakin laju. Aku semakin melajukan dayunganku dan Iza mula mengerang kuat. Aku tahu Iza akan klimax. Aku juga sedemikian. Tahap bertahanku akan berakhir..

“I nak lepas.. Dalam!!” aku cuba mengujinya.

“Jaannggann.. Nanti.. Ngandung.. Lepass luaarr!!” Iza menjerit halus membantah permintaanku.

Dayunganku semakin laju. Apabila terasa aku hampir memancutkan air maniku dengan pantas aku mencabut batangku dari pantat Iza.. Oohh.. Dearr.. Dan serentak dengan itu aku memancutkan air maniku. Iza seakan tersentak tatkala pancutan maniku yang pekat, laju dan banyak itu terkena buah dadanya. Sepantas itu juga aku menghalakan batangku ke mukanya. Berjejes air pekat kena sebahagian pipinya yang gebu dan ditumbuhi jerawat galak itu.

Iza tersenyum kepuasan membiarkan air nikmat itu kering ditubuhnya.. Hampir lima minit barulah Iza bangun semula lalu meniarap di atas badanku. Dikucupnya bibirku sambil menggeselkan pantatnya dengan batangku. Batangku mulai mencanak semula.

Perlahan-lahan Iza turun hingga bibirnya bersentuhan dengan batang aku. Terus dijilatnya saki baki air maniku dan dikulumnya zakarku. Aku merasa ngilu bila batangku bersentuhan dengan lidah dan gigi Iza. Sekali lagi aku memancutkan air maniku tapi kali ini di dalam mulut Iza. Aku terdampar keletihan dan Iza segera berlari ke bilik air memuntahkan maniku yang bergenang dalam mulutnya.

“Tidur sini le.. I sejuk..!!” bisiknya setelah kembali dari bilik air. Aku segera memeluknya dan akhirnya kami tertidur keletihan.

Aku terjaga ketika jam menunjukkan hampir pukul enam setengah pagi. Aku bergegas keluar dari rumahnya membawa seribu kenangan.. Ohh Iza aku sayangkanmu!

Lirik

Matahari Pagi
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik : Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Bilur embun di punggung rerumputan
Langit biru, kapas awan
Sapa burung berbalasan
Bisik daun dihembus angin nan pelan
Senandungkan lagu alam
Menyambutmu tiap hari menjelang

Matahari pagi
Hangat dan menerangi
Dunia yang gelap
Hati yang dingin
Perlahan berganti menjadi bahagia

Sebagai Kawan
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Disampaikan di sebuah orasi oleh Adhito Harinugroho. Konon kutipan tersebut pertama kali diucapkan oleh Albert Camus)

Jangan berdiri di depanku
karena ku bukan pengikut yang baik
Jangan berdiri di belakangku
karena ku bukan pemimpin yang baik
Berdirilah di sampingku sebagai kawan

Pangeran Kecil
(lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Tidur, tidurlah sayang
Esok kan segera datang
Tutup buku kesayanganmu itu
Esok atau lusa kita buka kembali

Tidur, tidurlah sayang
Malam terlalu larut untukmu
Simpan buku kesukaanmu itu
Tarik selimutmu coba pejamkan mata

Beri tanda pada gambar yang kau suka
Rubah dalam gua, atau mawar dalam kaca
Beri tanda pada lembar yang kau suka
Pangeran kecil kabur terbang bersama kita

Tidur, tidurlah sayang
Lelah kan menidurkan matamu
Singgahlah ke tempat teman-temanmu
yang menyapamu di dalam lelap dan tidurmu

Pelukis Langit 
(Lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Teringat akan sebuah kisah di balik kelabu
Ketika langit tak secerah dulu
Sepekan sudah tak hadir ia menemuiku
Mungkinkah matahari sedang sendu?
Menunggang bumi, sang pelukis bergegas menuju
Mencari matahari namun tak temu
Melihat itu kupu-kupu memanggil sang angin
Titipkan warna pada setiap hembus

Pelukis langit lari terburu-buru
Hingga dia lupa warna kuning dan biru
Pelukis langit lari terburu-buru
hingga yang ada hanya kelabu

Utarakan
(Lagu dan Lirik : Ananda Badudu)

Lihatlah bunga di sana bersemi
Mekar meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari badai menghampiri
Kau cari ke mana, dia masih di sana

Walau tak semua tanya datang beserta jawab
Dan tak semua harap terpenuhi
Ketika bicara juga sesulit diam
Utarakan, utarakan, utarakan.

Dengarlah kawan di sana bercerita
Pelan ia berbisik, pelan ia berkata-kata
Dan hari ini, tak akan dimenangkan
Bila kau tak berani mempertaruhkan

Biru
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Ananda Badudu dan Bramantya Basuki)

Biru, tuk segala yang jauh
Biru, tuk semua yang luruh
Bayang resah tak kan lesap
segala pekat, kan niscaya

Biru, tuk segala yang jauh
Biru, tuk semua yang luruh
Singgah saja, kita nanti
Harap terang, kan menjelang

Bunga
(Lagu dan Lirik: Rara Sekar)

Pada akar kita tanamkan bersama, harapan
Tumbuh kembang berbagi tanah udara
Hingga ruang mulai beradu
Hingga waktu tak lagi mampu
Hari ini bukan tuk kita miliki
Tapi menjadi

Bersemilah di taman
Kawan jadilah bunga
Bunga yang mekar
Temani daun-daun
Dan terangi hidupnya
Jadilah bunga

Pada awan kita sering berumpama, berandai
Bila daun dan tangkai ini dewasa
Lahir rasa yang tak menentu
Usah melangkah dan berlalu
Tak semua yang kita tanam kita tuai bersama

Sampai Jadi Debu
(Lagu: Ananda Badudu dan Gardika Gigih; Lirik: Ananda Badudu)

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu,
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

Langit dan Laut
(Lagu dan Lirik: Ananda Badudu; Aransemen dawai: Gardika Gigih)

Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu
Dan dengarkan arus yang datang nyatakan

Langit dan laut
dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesakkan jiwa

Re: Langit dan Laut
(Lagu dan Lirik: Rara Sekar)

Biarkan saja alam yang membahasa
Biarlah saja tak akan ubahnya yang ada
Dengarkan saja pasang gelombang yang bersahutan
Rasakan getar dari kedalaman samudera

Di ambang gelap dan terang
Di batas indah dan perih
Ada, sunyi

Mewangi
(Lagu dan Lirik: Ananda Badudu)

Riuh rasa diembannya
Melewati hari
Menyeruak
Mengumbar wewangi
Menuruti rindu yang tiada habis
Mewangi
Ke mana kau menuju, anakku?
Kalah atau menang kita kan jadi
Arang dan abu
Arang dan abu
Mewangi

Derai-derai Cemara (1949) - Musikalisasi Puisi Chairil Anwar
(Lagu: Ananda Badudu; Aransemen dawai: Gardika Gigih; puisi : Chairil Anwar)

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada berapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar pertimbangan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Tini dan Yanti
(lirik: Ida Bagus Santosa; lagu: Amirudin Tjiptaprawira; Aransemen ulang : Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Tini dan Yanti, kepergianku
buat kehadiran di hari esok yang gemilang
Jangan kecewa meski derita menantang
Itu adalah mulia
Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang
La historia me absolvera!
La historia me absolvera!

Benderang
(lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Benderang jalan telah terang
Dan lapang jalan terbentang
Tuk kau dan ku lalui
Tuk berserah pada waktu

Terentang jejak di belakang
Dan hilang yang kelak di depan
Tak kau dan ku lalui
Tak menyerah pada waktu

Terang benderang

Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti 
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar; Aransemen dawai: Gardika Gigih)

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Terang di ujung sana