letter from my younger self

There will be times when you really want something, an exam you want to ace to get your dream college, an interview that would pave way for your first job.

And sometimes, you wanting it won’t be enough. Your efforts won’t be enough, and you’ll fail miserably. I know what you’re going to do then, you’re going to blame yourself, drown yourself in self doubt, and let that one thing define your worth. You’ll be so afraid to try again, so afraid of giving it another shot. You will run away from anything that makes you vulnerable to failure, and hide from the prospect of trying again.

“But what if I fail? What if I’m just not good enough?”

Oh honey. But what if you are?

—  Letters to my younger self//little one, if you never try, you’ll never know
a letter to myself

from my freshly-graduated-self. to my younger-self.
*terinspirasi dari tautan yang dikirim @fadlanmauli*

kata orang, dua puluhan adalah masa yang paling penting dalam satu kehidupan. kebanyakan pilihan yang diambil akan memberikan perubahan permanen. begitu besar perubahan yang mungkin ada, sehingga kita sibuk. kita sibuk mengingatkan diri kita di masa depan. kita sibuk sampai lupa mengingat diri kita di masa lalu. tulisan ini tak seperti a letter to myself yang lain. ini tak untuk kita di masa depan. ini untuk kita di masa lalu–yang beberapa kali kita salahkan, kita permasalahkan.

terima kasih sudah mau belajar. enam tahun sd, tiga tahun smp, tiga tahun sma, empat tahun kuliah. terima kasih sudah mau ikhlas menjalaninya meski sering bertanya-tanya kenapa.

terima kasih sudah mau mencoba banyak hal. ikut macam-macam organisasi (meski jadi penggembira saja), ikut macam-macam lomba (meski jadi penonton saja), bikin macam-macam karya (meski kebanyakan berakhir jadi kerangka saja). kita tak pernah tahu apakah kesempatan seperti itu masih ada.

terima kasih sudah mau pergi jauh dan lama dari rumah. terima kasih sudah mengesampingkan rindu. kita baru bisa lihat seperti apa rumah kita ketika kita berada di luar, kan? 

terima kasih sudah mau mendengarkan kata ibu dan kata ayah. terima kasih sudah mau meruntuhkan tembok sok tahu dan sok pintar. kita boleh berpikir tetapi orang tua adalah yang telah mengalami. 

terima kasih sudah mau berteman–dan menjaga teman. terima kasih untuk tak pernah membiarkan dirimu sendirian. semoga kita tak terhanyut sampai lupa siapa yang menjadikan kita–kita.

terima kasih sudah mau membuat keputusan dan mengambil pilihan. terima kasih sudah mau kuliah di sana. terima kasih sudah mau pakai jilbab. terima kasih sudah mau mengikhlaskan yang bukan untuk kita. terima kasih sudah mau nurut sama Tuhan.

terima kasih sudah mau bermimpi dan berkhayal. kalau bukan karena mimpimu, kita tak punya peta hidup sama sekali hari ini. terima kasih karena sudah membela mimpi.

terima kasih sudah selalu hampir menyerah tapi akhirnya tidak menyerah. terima kasih sudah menghapus kata menyerah dari kamus perjuangan kita. terima kasih sudah melenting setiap terpelanting. semoga setelah ini kita tak perlu jatuh lagi untuk bangkit lagi. lagi dan lagi.

terima kasih sudah mau belajar mencari uang dan mengelola uang. terima kasih sudah mau kerja. setelah ini kita akan melakukannya sendirian–untuk tidak hanya diri sendiri.

terima kasih sudah mau menabung supaya bisa jalan-jalan. terima kasih sudah JJGJ ke tempat-tempat itu. belum tentu nanti punya uang (dan punya waktu) untuk bisa melakukannya lagi. semoga kita masih mau menabung dan JJGJ lagi. 

terima kasih sudah makan macam-macam. dunia memang surga makanan! terima kasih untuk tetap makan yang halal–meski sering kurang sehat. haha. terima kasih sudah membalas dosa dengan lari-lari atau nari-nari.

terima kasih sudah mau baca buku yang kita baca. terima kasih sudah mengaji ayat yang kita kaji. terima kasih sudah menonton film yang kita tonton. terima kasih sudah mendengar lagu yang kita dengar. terima kasih sudah memberi nutrisi yang baik untuk hati dan kepala. semoga menjadikan kita cukup bijak membuat keputusan kapan-kapan.

terima kasih sudah mau menulis. terima kasih sudah menjaga diri agar tak tenggelam dari kehidupan. terima kasih sudah memaksa diri untuk mensyukuri kenyataan, bahkan kegagalan.

terima kasih sudah pernah nakal. terima kasih sudah coba yang salah. sudah kenal kan rasanya. begitu saja ternyata. menjadi orang baik jauh lebih menyenangkan. dan membahagiakan.

terima kasih sudah jatuh hati dan patah hati dan jatuh hati lagi dan patah hati lagi. terima kasih sudah menyiapkan diri untuk saling ditemukan dengan yang tersejati.

terima kasih sudah menjadi diri sendiri. terima kasih untuk kejujuran yang selalu kita menangkan. terima kasih untuk kebenaran yang selalu kita coba hadirkan.

terima kasih sekali lagi.
terima kasih sudah mengingatkan diri kita yang sekarang.
untuk mengingatkan diri kita yang akan datang.

i heart you, dear self.
i know i’m not so good in keeping you. so, don’t lose me.
keep me.

“Throughout high school, I had an eating disorder… because, you know… my mother wanted me to be thin. But I’m just a big boned person. And for some reason I just developed a fascination with the moon. That’s just like… it changes every single day and like sometimes it’s not even there, but it’s going to be whole again. Basically, I wrote a letter to my younger self from today: Like the moon, there are days you’ll feel half, there are days you’ll feel a quarter, and there are days that you won’t feel like yourself at all… but just remember that after every cycle you’ll always feel whole again. So love every phase of your body.

I just love the moon, and I didn’t know what I wanted my first tattoo to be. I knew I wanted the moon phases, but I hated the typical ‘moon phases down my leg,’ so I drew it myself and I designed it and I was like, ‘fuck it, you know what,  I’m gonna get it tomorrow!’ And I got it the next day and I was like, ‘Oh my god what did I just do? Oh noooo,’ haha.

And I love it, I remember being so in love with it for the weeks after and I’m still in love with it right now. I like it because it has the moon phases, but also because I did it myself“

I know he’s your best friend, but he already left you once and you’re going to feel like an idiot when he leaves you again. Don’t blame yourself for it. Don’t turn yourself into an empty sky just so you can put all of your stars in his hazel eyes.
You’re going to lose him, and that’s okay. Don’t feel like you’re an ocean made of fire just because he means the world to you, because he really is a universe. His thoughts are outer space and you’ll never understand how it works because you were always bad at physics and he would do your homework for you instead of helping you.
He might be a rose but all flowers wilt and his thorns are sharp. He’s not worth the blood on your fingertips no matter how many bandaids he puts on then.
He is the sun and I know you need him to live but babygirl, you’re too close and you’re going to be burnt alive.
He might be a puzzle, but he lost some pieces long before you came along, so please stop wasting your time trying to put him back together. You can’t change the fact that he only feels guilty when people die, or that his heart turned to stone when his parents got a divorce in 2011, so stop trying.
Do you remember when he told you that he loved hurting you? I know you care about him, but don’t give him that power.
Don’t forget that your heart is made of glass, because there are still cracks on it from the last time he dropped it. His hands are shaky and his heart is treacherous.
It’s been nine months now, and my hands are still scarred from putting the glass pieces back together.
—  Letters to my younger self, S.K.