lengkung

[Percakapan]

Aku        :“Yah, apakah matahari akan selalu bersinar terang seperti ini ?”

Ayah     :“Tidak putri kecilku, dia akan terbenam dikala senja”.

Aku        :“Kenapa matahari dengan senang hati bersinar terang kalau akhirnya dia akan terbenam ditelan senja Ayah?”

Ayah     :“Karena itulah bentuk cinta kasihnya kepada manusia dibumi, walaupun dengan terbenamnya dirinya merupakan hal yang ditunggu tunggu oleh kebanyakan orang dikala senja, dia rela melakukan itu demi melihat sebuah garis lengkung disetiap wajah yang menyaksikannya”

Aku        :“Lalu apakah bulan dan bintang akan selalu menerangi hari hari kita Ayah ?”

Ayah     :“Tidak nak, bulan dan bintang akan perlahan lahan menghilang dikala fajar”

Aku        :“Kenapa bulan dan bintang harus  rela rela memberikan cahanyanya kalau akhirnya mereka akan tergantikan oleh fajar yang akan menyingsing Ayah?”

Ayah     :”Karena bulan dan bintang melakukan itu tanpa pamrih, mereka akan merasa senang apabila manusia dibumi tak ada yang merasa kegelapan dengan adanya mereka. Itulah bentuk cinta kasih mereka walaupun mereka tak dianggap dan akan selalu tergantikan”.

Aku        :“Sungguh mulia sekali Ayah, kelak aku besar nanti aku ingin menjadi seperti bulan dan bintang. Ayah coba lihat pelangi disana! Begitu indah bukan?”

Ayah     :“Iya benar putriku pelangi itu sangat amat indah, tapi apakah kau tau bahwa pelangi dengan segala warnanya yang begitu indah ini hanya hadir sejenak saja”

Aku        :“Benar Ayah, lihat pelagi itu warnanya semakin memudar dan kemudian hilang. Lalu kenapa pelangi hanya memperlihatkan keindahannya sebentar saja Ayah?”

Ayah     :“Itu karena tak semua orang berhak dan bisa menonton keindahan pelangi itu Nak, hanya orang orang yang yang merasa bersyukur atas hujan, orang orang yang merasa damai ketika turunnya hujan dan orang orang tak pernah menyalahkan turunnya hujan atas tertundanya pekerjaan mereka. Sehingga Tuhan memberikan orang orang tersebut hadiah sebuah pelangi yang sangat indah”.

10 tahun kemudian

Ayah     : “Putri kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa”

Aku        : “Aku masih akan tetap menjadi putri kecilmu Ayah, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang dunia ini bahkan tentang diriku sendiri”

Ayah     :”Ayah jadi teringat waktu kecil dulu Kau sering sekali bertanya banyak hal. Sekarang bolehkan Ayah bertanya satu hal kepadamu putri kecilku?”

Aku        :”Sebisanya akan Aku jawab Ayah”

Ayah     :”Kenapa Kau masih mencintai lelaki itu padahal Kau sudah tahu bahwa Kau dan Dia tak akan pernah bisa bersama?”

Aku        :”Pertanyaan yang cukup sulit Ayah tapi Aku akan mencoba menjawabnya, itu seperti kenapa kita masih bernafas bahwa pada akhirnya kita tahu kita akan mati. Aku mencintainya sebagaimana Aku bernafas Ayah. Ayah ingatkah waktu kecil dulu aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi seperti matahari, bulan, dan juga bintang. Dan saat ini aku sedang mencoba menjadi seperti mereka”.

WM~

Aku ingin menghabiskan berjuta senja denganmu. Terserah, kau ada di hadapanku atau di sebelahku.
Menikmati perubahan langit sore; biru, jingga hingga gelap kelam dengan lengkung senyum yang sama. Dengan senyum yang hanya kau punya. Dengan gurat senyum yang kau munculkan hanya untukku saja.

Aku ingin menghabiskan bermilyar detik waktu denganmu. Terserah, apa yang akan kau lakukan. Mengajakku berbincang, sekalipun yang kita bicarakan itu-itu saja. Atau hanya sekedar berdiam tanpa sepatah kata yang kita utarakan, kamu dengan kegiatanmu, aku dengan kegiatanku; memperhatikan kesibukanmu. 

Tak apa. Tak mengapa.

Asal bersamamu.


#aksarannyta

Made with Instagram
Menyimpan lara, perempuan jagonya. Kalut di dada, lengkung senyum tetap ada. Namun jangan sekali-kali tepuk pundaknya, air mata akan mengalir tak ada hentinya.
Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?

Padamu, aku mulai jatuh.

Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?

Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.

Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.

Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.

Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.

Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.

Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.

Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.

Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.

Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?

Jangan mengulur waktu panjang.

Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.

Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.

Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.

Teduh matamu, menentramkan kalutku.

Lengkung senyummu, memperindah hariku.

Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.

Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.

Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.

Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.

Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?

Bagaimana menurutmu?

Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.

Terserah padamu.

Asal satu, kuat menahan rindu.

Sampai berjumpa di lain waktu.

Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.



Ini adalah hasil kolabo-ngawur antara @estehmanistanpagula dengan @aksarannyta.

Salam ngablu!

Akupun; Ingin Kamu Begitu

Kepadamu; aku mengadu

Selain pada Tuhan, keluarga, dan kerabatku, -tentu. Tidak ada yang aku tutupi barang hanya satu. Semua tentangku, aku pastikan kamu tau. Bahagiaku, sedihku, risauku, sampai pada hal-hal termemalukan dalam hidupku pun, merahasiakannya darimu, tak terpikirkan olehku. Akupun ingin kamu begitu

Sedang apa apa tentangmu, tak jarang mengetahuinya dari orang lain, -baru aku tau

Kepadamu; aku tak pernah menghindar meski tanpa sadar

Bercengkrama, bertukar sapa, selalu jadi hal yang aku tunggu setiap harinya. Mengabaikan chatmu tenggelam dalam sosial mediaku, aku tak mampu. Sesibuk apapun, meluangkan waktu untukmu, aku akan selalu. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, teramat gemar membiarkan kolom sapa kita berada pada tempat yang paling dasar

Kepadamu; aku rindu

Tingkah lakumu, celotehanmu, mimik mukamu, harummu, gelagatmu, semua tentangmu, aku rindu. Mata teduhmu, lengkung senyummu, aku; pengagummu nomor satu. Tidak bertemu, aku rindu. Bertemu juga aku tetap begitu. Sekarang, sebentar lagi, nanti juga saat petang. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, jangankan rindu. Bahkan hilang aku dari hidupmu, mungkin bukan perkara bagimu

Kepadamu; betah tak pernah terbantah

Berlama-lama, sama-sama. Bosan enyah dengan sendirinya. Melakukan picisan kegiatan. Tertawa, bahagia, bercanda. Berbagi segala konyol yang tolol. Aku padamu menjadi laiknya tahanan yang tabah selalu menunggu hingga waktu yang entah. Akupun ingin kamu begitu

Sedang segala hal bersamaku, nyaman tidak kamu temukan

Kepadamu; aku memohon sebisaku

Harapku, sekedar untuk tinggal meninggalkan, kita mengenal kata jangan. Saling melupakan, semoga tidak terbersit dalam pikiran. Dan berjalan beriringan, selalu menjadi apa yang diaminkan. Akupun ingin kamu begitu

Sedang jika bukan itu yang kamu harapkan, lepas aku; tak apa. Jangan biarkan aku berjuang sendirian. Aku tak suka pengabaian. Sebab pada akhirnya seseorang pasti lelah juga. 

Dan kelak jika masa itu tiba, semoga; menyesal pernah memperlakukan seseorang yang sebegitunya padamu, -dengan sia-sia, kamu bisa tetap bahagia. Tidak balik meminta. Karena sekali aku mengecap kata kecewa, aku tak akan pernah mengenal kata iba ~~~/o/

Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?
Padamu, aku mulai jatuh.
Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?
Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.
Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.
Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.
Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.
Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.
Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.
Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.
Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.
Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?
Jangan mengulur waktu panjang.
Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.
Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.
Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.
Teduh matamu, menentramkan kalutku.
Lengkung senyummu, memperindah hariku.
Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.
Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.
Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.
Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.
Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?
Bagaimana menurutmu?
Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.
Terserah padamu.
Asal satu, kuat menahan rindu.
Sampai berjumpa di lain waktu.
Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.

Ditulis : @aksarannyta & @estehmanistanpagula
Dibacakan : @afifahkhairunnisa & @mangatapurnama

Made with SoundCloud
MENYELAMI KESEDIHAN

Menyelam bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk menunjukkan bagian mana yang paling dalam, melainkan untuk kembali ke permukaan, kemudian melanjutkan perjalanan. Maka, kuajak kau untuk menyelam.

Mari menyelam pada sedalam-dalamnya kesedihan.

Kesedihan itu, kala tertawa bahagia, kita tidak tahu akan berbagi tawa tersebut kepada siapa. - @pertigaankekiri

Kesedihan bagiku adalah ketika tahu kebenaran tapi tak punya kekuatan untuk mengungkapkan. @ramen-jawa

Kesedihan bagiku adalah ketika sekelilingku riuh ramai, tapi aku merasa sendiri. @meldameldiology

Kesedihan bagiku adalah ketika dalam keadaan terpuruk, tak ada satupun uluran tangan memeluk. @wedangbajigur

Kesedihan adalah tatkala kita merasa cukup, tapi lupa bersyukur kepada-Nya. @haidarleon

Kesedihan bagiku adalah ketika Tuhan dengan baik hati mengabulkan pilihan kedua, tapi aku meratapi pilihan pertama. @lisusnayrasinna

Kesedihan adalah ketika kita harus membohongi diri dengan tawa agar mereka mengira bahwa aku sedang baik-baik saja. @senjahatimu

Kesedihan adalah saat menunggu dan berdo'a menjadi sebuah predikat yang tafsirnya tak pernah menjelma menjadi lengkung senyum. @bulangerimis

Kesedihan adalah saat kamu terlalu peduli pada yang tak pernah bisa mengerti. @jinggakalasenja

Sedih bagiku adalah saat menyadari dua hal; aku adalah anak pertama yang berada jauh dari ayah, ibu, serta adik-adik tercinta; dan aku adalah anak pertama yang belum mampu memberi apa-apa. @katakakiku

Hidup itu katanya penuh pilihan, sedih adalah salah satunya. Tapi bukan berarti kita harus terus memilih bahagia, karena dengan sedih kita jadi manusia. @fatiyatulislam

Sedih itu egois. Karena sedih hanya mengarah kepada perasaan yang mengarah ke diri sendiri. @rishajasmine

Sedih adalah ketika ketiduran sore hari dan bangun bangun sudah pagi, makan malam pun terlewatkan. @celotehtakbersuara

Kesedihan adalah ketika memiliki prasangka yang salah pada kebaikan Tuhan, padahal nyatanya hanya karena belum pandai bersyukur. @berisikdersik

Kesedihan bagiku adalah ketika menjadi diri sendiri terasa begitu sulit. @katadevi

Sedih itu, saat kita sadar bahwa kebahagiaan yang kita pilih akan berakhir pada kesedihan. @congferi

Bagiku, kesedihan adalah dia yang datang dengan tiba-tiba, tanpa menyapa ataupun bersuara. @yessukowati


cc: @tumbloggerkita, @curhatmamat

persembahan dari #KitaKedu2 masih dalam #KitaJateng

Menggenggam atau Melepaskan

Mencintaimu tak pernah kumenemui jera. Kepadamu aku jatuh sedalam-dalamnya. Entah mengapa aku sungguh terbius oleh garis lengkung yang selalu menyimpul indah diwajahmu. Sungguh kini aku teramat mencanduinya. Potret senyummu telah menetap abadi di dalam hipokampusku. Tapi semakin dalam rasa ini mengakar semakin besar pula ketidakmungkinan benihnya untuk kupetik. Entahlah, aku seakan-akan terperangkap di dalam duniamu.

Tetapi kini aku berhenti di persimpangan, antara menggenggam atau melepaskan.

Asal Bersamamu
— 

Aku ingin menghabiskan berjuta senja denganmu. Terserah, kau ada di hadapanku atau di sebelahku.  Menikmati perubahan langit sore; biru, jingga hingga gelap kelam dengan lengkung senyum yang sama. Dengan senyum yang hanya kau punya. Dengan gurat senyum yang kau munculkan hanya untukku saja.

Aku ingin menghabiskan bermilyar detik waktu denganmu. Terserah, apa yang akan kau lakukan. Mengajakku berbincang, sekalipun yang kita bicarakan itu-itu saja. Atau hanya sekedar berdiam tanpa sepatah kata yang kita utarakan, kamu dengan kegiatanmu, aku dengan kegiatanku; memperhatikan kesibukanmu. 

Tak apa. Tak mengapa.

Asal bersamamu.

Mungkin Hanya Sekelumit Keberanianku Padamu

Taksengaja pandangan kita bersitatap di antara keramaian pusat kota malam ini. Aku yang selalu menunggu waktu yang tepat untuk melipat jarak di antara kita, sadar jika kesempatan takkan datang dua kali. Selepas hujan membelah kota, kamu dengan payung birumu melangkah keluar dari kedai kopi di seberang tempatku duduk. Aku mengikuti.

Tanpa disangka-sangka olehmu, aku mencipta jarak. Sehingga apa pun yang kulakukan, kamu takkan menyadarinya. Termasuk berjalan di seberangmu. Dari jarak ini, terlihat jelas bagaimana lengkung senyummu itu bisa membuat detikdetik berhenti bergulir. Bukan, maksudku detikdetik yang bergulir di dalam hidupku. Karena hanya kamu yang mampu mengubah susunan kehidupanku.

Aku tahu, biru adalah warna kesukaanmu. Hujan adalah suasana yang ingin kamu lewati. Aku tahu segalanya tentangmu. Yang tak kutahu hanyalah perihal perasaanmu padaku. Bahkan, pun pada lelaki lain. Aku sudah menyiapkan perasaan ini sedari dulu. Sedari kita bertemu di kelas perkuliahan yang sama.

Semakin jauh kamu melangkah, semakin penasaran aku menyelami pandanganku padamu. Kamu serupa angin, tak tahu hendak ke mana menuju. Percaya pada hati ke mana membawamu berlabuh. Mungkin aku, daundaun yang berharap ditingkahi olehmu. Mungkin aku, remukan kertas di atas bangku taman yang berharap dijatuhkan olehmu ke pelukan bumi.

Jika memang hanya itu caranya untuk bisa melihatmu.

Dan kini, tepat di perempatan jalan, di salah satu lampu merah, kita saling bersitatap. Di antara barisan orang-orang hendak menyeberang. Kamu melangkah ke arahku. Dan aku menujumu.

Walaupun begitu, tetaplah ternyata angin takbisa direngkuh. Sesaat ketika detik demi detik rasanya melambat, gemuruh di dalam dada rasanya melantang, langkah demi langkah rasanya membeku, tepat ketika kita bersisian di jalan, aku membisikkan sesuatu di telingamu dalam jeda sepersekian detik.

“Aku mencintaimu.”

Lalu ketika detik, gemuruh dada, dan langkah kembali seperti biasa, kamu berlalu begitu saja. Menoleh sedikit pun tidak. Aku hanya tertawa getir. Di seberang jalan, pandanganku kembali menujumu yang mulai menghilang ke balik pertokoan. Entah kamu mendengarnya atau tidak. Mungkin hanya begitu keberanianku kepadamu. Karena aku adalah ketiadaan yang berkelindan di matamu.

Bogor,
22 November 2016

Mereka bilang mataku sendu. Menyedihkan. Tak punya kehidupan. Mereka berkata seperti itu karena tak pernah melihat lengkung senyum mataku ketika bertemu bola matamu.
—  Semenakjubkan itu, bola matamu.
Apa yang lebih membahagiakan dari mengupayakan kebahagiaan orang lain, menciptakan lengkung senyum lebar-lebar dan memberikan kenangan indah? Ada? Beritahu Minka, satu saja.
— 

Selamat malam,

Untuk mereka yang telah mengupayakan bahagiamu, jangan lupa berterimakasih. 

Yang membuat kita berbeda, salah satunya adalah kamu menemukan kesejukan pada angin-angin yang bertiup di sekitarmu, sementara aku menemukan kesejukan pada lengkung senyumanmu.
Sebab bahagiaku masih saja sederhana: seulas senyum yang kau rekam dua hari lalu. Aku sadar sekali, dari dulu, lengkung senyum itu yang sekejap mampu menggariskan juga senyum di wajahku; pun air mata, yang menetes tanpa tahu cara mendiamkan degup jantungku.
Kau hanya butuh tenang, dan memberi sedikit ruang pada dedaunan untuknya menikmati apa yang telah mereka dengar selama hujan membasahi tubuhnya.
—  sebuah lengkung bibir kepada telinga-telinga~
Berjumpa Pelangi

Aku sering bergumam, jika aku sedang merindu pelangi.

Saat hujan menemui bumi, riangku menyambutnya dengan doa.

Menunggu.

Kulihat sekeliling.

Akankah dia datang bersama perpisahan tetes air?

Akankah dia datang menyambut keceriaan mentari?

Namun sekian lama aku menunggu, dia tak kunjung menunjukkan diri depan pandanganku.

Mungkin dia sedang sibuk berjumpa dengan pandang selain aku.


Tapi sekarang, aku menemukan lengkung manis itu.

Penuh warna yang membawa pesona.

Hey, kamu tau?

Baru-baru ini aku berjumpa dia “kembali”.

Bukan dia yang ada di langit, yang melengkung dari bawah.

Namun dia yang ada di bumi, yang melengkung dari atas.

Pelangi yang membawa lengkungan manis khasnya.

Selalu melengkung bahagia, dan membuat pandangan lainnya bahagia.

Belaian Pelangi Baradiva

  @belaianpelangi ^^