lengkung

Ingkar

Aku pernah berada di ujung batas seorang teman yang membersamai
Lalu hilang ditelan arus yang sudah lagi tak dibutuhkan

Aku pernah berada di garis tepi seorang wanita yang begitu mengharapkan
Lalu melangkah sebab menjadi tahu adalah kepahitan yang abadi

Aku pernah berada di lengkung indah senyuman yang diidamkan
Lalu tenggelam bersama rindu yang ternyata milik pribadi

Aku pernah menjadi percaya pada kisah yang terus-menerus dibagikan
Lalu tersapu oleh angin yang katanya sedang meragu

Aku pernah untuk ada, tapi aku tak cukup untuk menjadi ada

Aku pernah, aku sudah, dan kemudian kembali mengulangnya lagi

Hingga lupa jika janji sudah berada sejajar dengan ingkar

Hujan Mimpi

Teruslah Berjalan!

Teruslah berjalan!

Perjalanan ini masih panjang, kita tak akan pernah sampai jika kita memutuskan untuk berhenti di tengah jalan dan memilih untuk pulang. Sejak awal, bukankah kita mengantongi pemahaman bahwa perjalanan ini sama sekali tidak menawarkan kemudahan? Hanya saja, memang ada janji kemenangan bagi yang mau benar-benar berjuang dan mengupayakan. Ini baru tanjakan pertama, kawan! Kita belum tahu akan ada berapa tanjakan lagi yang perlu kita tempuh agar bisa benar-benar sampai ke tujuan.

Teruslah berjalan!

Di setiap lengkung jarak yang kita lewati, ada hikmah bertebaran yang lebih dari sekedar layak untuk kita bawa pulang. Kelak suatu hari nanti, kita akan dengan bangga menceritakannya kepada semua orang, bahwa ada sesuatu yang membuat kita tangguh dan bertumbuh di balik setiap proses yang kita alami dengan susah payah, bahwa ada kerelaan yang dipelajari dibalik tangisan-tangisan karena kelelahan, dan bahwa selalu ada pembelajaran di balik setiap ujian yang diberikan-Nya sebagai bentuk kasih sayang.

Teruslah berjalan!

Perjalanan ini mungkin menjadi berat karena kita terlalu banyak membawa beban: luka-luka masa lalu yang belum berhasil termaafkan, keinginan yang disejajarkan dengan kebutuhan padahal tak pernah sejajar, kekhawatiran akan masa depan yang terus dipertanyakan tanpa menemukan jawaban, juga ketakutan-ketakutan dalam menjalani hari ini yang datang dari hati yang ternyata berisi dengki yang tertawan. Lepaskanlah semuanya, lepaskan! Kita butuh berdamai dan meringankan persoalan untuk bisa tetap berjalan.

Teruslah berjalan! Tak perlu ada yang ditakutkan selama ada sabar dan syukur di dalam genggaman, sebab, kalau saja kita tahu bahwa Allah sudah menyusun rencana-rencana terbaik-Nya di depan sana, kita pasti akan kebingungan untuk memilih cara yang paling tepat untuk berterimakasih kepada-Nya dan tentu akan berhenti mengeluhkan betapa panjang dan terjalnya perjalanan kita.

Penghujung Sunyi

Kugariskan malam dengan ujung sunyi yang runcing,
gambar lengkung senyum manismu menyatu pada kerlip bintang.

Rinduku lantak, berteriak, tapi takberontak,
hanya terdiam, dalam gelap yang kelam.

Hanya satu yang kutakutkan, bila aku terjaga dari lelap,
maka, selesailah mimpiku pada cintamu yang selalu tetap.

_________
Serang, 8 Februari 2017

[Percakapan]

Aku        :“Yah, apakah matahari akan selalu bersinar terang seperti ini ?”

Ayah     :“Tidak putri kecilku, dia akan terbenam dikala senja”.

Aku        :“Kenapa matahari dengan senang hati bersinar terang kalau akhirnya dia akan terbenam ditelan senja Ayah?”

Ayah     :“Karena itulah bentuk cinta kasihnya kepada manusia dibumi, walaupun dengan terbenamnya dirinya merupakan hal yang ditunggu tunggu oleh kebanyakan orang dikala senja, dia rela melakukan itu demi melihat sebuah garis lengkung disetiap wajah yang menyaksikannya”

Aku        :“Lalu apakah bulan dan bintang akan selalu menerangi hari hari kita Ayah ?”

Ayah     :“Tidak nak, bulan dan bintang akan perlahan lahan menghilang dikala fajar”

Aku        :“Kenapa bulan dan bintang harus  rela rela memberikan cahanyanya kalau akhirnya mereka akan tergantikan oleh fajar yang akan menyingsing Ayah?”

Ayah     :”Karena bulan dan bintang melakukan itu tanpa pamrih, mereka akan merasa senang apabila manusia dibumi tak ada yang merasa kegelapan dengan adanya mereka. Itulah bentuk cinta kasih mereka walaupun mereka tak dianggap dan akan selalu tergantikan”.

Aku        :“Sungguh mulia sekali Ayah, kelak aku besar nanti aku ingin menjadi seperti bulan dan bintang. Ayah coba lihat pelangi disana! Begitu indah bukan?”

Ayah     :“Iya benar putriku pelangi itu sangat amat indah, tapi apakah kau tau bahwa pelangi dengan segala warnanya yang begitu indah ini hanya hadir sejenak saja”

Aku        :“Benar Ayah, lihat pelagi itu warnanya semakin memudar dan kemudian hilang. Lalu kenapa pelangi hanya memperlihatkan keindahannya sebentar saja Ayah?”

Ayah     :“Itu karena tak semua orang berhak dan bisa menonton keindahan pelangi itu Nak, hanya orang orang yang yang merasa bersyukur atas hujan, orang orang yang merasa damai ketika turunnya hujan dan orang orang tak pernah menyalahkan turunnya hujan atas tertundanya pekerjaan mereka. Sehingga Tuhan memberikan orang orang tersebut hadiah sebuah pelangi yang sangat indah”.

10 tahun kemudian

Ayah     : “Putri kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa”

Aku        : “Aku masih akan tetap menjadi putri kecilmu Ayah, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang dunia ini bahkan tentang diriku sendiri”

Ayah     :”Ayah jadi teringat waktu kecil dulu Kau sering sekali bertanya banyak hal. Sekarang bolehkan Ayah bertanya satu hal kepadamu putri kecilku?”

Aku        :”Sebisanya akan Aku jawab Ayah”

Ayah     :”Kenapa Kau masih mencintai lelaki itu padahal Kau sudah tahu bahwa Kau dan Dia tak akan pernah bisa bersama?”

Aku        :”Pertanyaan yang cukup sulit Ayah tapi Aku akan mencoba menjawabnya, itu seperti kenapa kita masih bernafas bahwa pada akhirnya kita tahu kita akan mati. Aku mencintainya sebagaimana Aku bernafas Ayah. Ayah ingatkah waktu kecil dulu aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi seperti matahari, bulan, dan juga bintang. Dan saat ini aku sedang mencoba menjadi seperti mereka”.

WM~

anonymous asked:

Hujan selalu disini, di pipiku. Bahkan ketika kamu mencoba menumbuhkan bunga dari kedua mataku, tetap takkan kau tuai pelangi dari seluruh rasa kecemburuanku.

Tak masalah. aku hanya harus terus mencoba menanam bunga. lalu meredakan hujan kecemburuan agar bisa menuai pelangi lewat lengkung senyuman. Ah ini bahkan bukan pertanyaan 😅

Mencari dan Menemukan

Pada akhirnya, mencari adalah tentang berjalan menempuh lengkung-lengkung jarak. Tak selamanya selalu tepat menuju tujuan, sebab pada suatu ketika kita bisa saja berhenti dan menyadari bahwa jalan yang ditempuh adalah salah, yang jika dilanjutkan kita tidak akan menemukan apa-apa. Lalu, kita pun berbelok dan memutar, menuju jalan yang benar dan mengantarkan kita pada tujuan.

Pada akhirnya, mencari adalah tentang terbuka pada setiap kemungkinan baik dan menerima segala yang telah dituliskan-Nya, sebab jauh sebelum hari ini takdir-takdir baik tentang apa yang akan kita temukan di depan telah selesai dituliskan dan pena telah mengering.

Pada akhirnya, mencari berarti berpasrah dan menyerahkan segala yang terbaik kepada-Nya saja, sebab hanya Dia yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Hari ini, kita semua sedang berjalan, mencari untuk kemudian menemukan: tentang siapa diri kita sebenarnya, apa peran kita di dunia, bagaimana dan kemana kita ingin pulang, juga pencarian-pencarian lainnya.

Allah, buatlah kami peka terhadap petunjuk-Mu. Terserah pada-Mu bagaimana baiknya ;)

Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?

Padamu, aku mulai jatuh.

Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?

Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.

Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.

Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.

Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.

Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.

Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.

Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.

Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.

Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?

Jangan mengulur waktu panjang.

Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.

Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.

Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.

Teduh matamu, menentramkan kalutku.

Lengkung senyummu, memperindah hariku.

Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.

Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.

Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.

Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.

Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?

Bagaimana menurutmu?

Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.

Terserah padamu.

Asal satu, kuat menahan rindu.

Sampai berjumpa di lain waktu.

Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.



Ini adalah hasil kolabo-ngawur antara @estehmanistanpagula dengan @aksarannyta.

Salam ngablu!

Menggenggam atau Melepaskan

Mencintaimu tak pernah kumenemui jera. Kepadamu aku jatuh sedalam-dalamnya. Entah mengapa aku sungguh terbius oleh garis lengkung yang selalu menyimpul indah diwajahmu. Sungguh kini aku teramat mencanduinya. Potret senyummu telah menetap abadi di dalam hipokampusku. Tapi semakin dalam rasa ini mengakar semakin besar pula ketidakmungkinan benihnya untuk kupetik. Entahlah, aku seakan-akan terperangkap di dalam duniamu.

Tetapi kini aku berhenti di persimpangan, antara menggenggam atau melepaskan.

MENYELAMI KESEDIHAN

Menyelam bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk menunjukkan bagian mana yang paling dalam, melainkan untuk kembali ke permukaan, kemudian melanjutkan perjalanan. Maka, kuajak kau untuk menyelam.

Mari menyelam pada sedalam-dalamnya kesedihan.

Kesedihan itu, kala tertawa bahagia, kita tidak tahu akan berbagi tawa tersebut kepada siapa. - @pertigaankekiri

Kesedihan bagiku adalah ketika tahu kebenaran tapi tak punya kekuatan untuk mengungkapkan. @ramen-jawa

Kesedihan bagiku adalah ketika sekelilingku riuh ramai, tapi aku merasa sendiri. @meldameldiology

Kesedihan bagiku adalah ketika dalam keadaan terpuruk, tak ada satupun uluran tangan memeluk. @wedangbajigur

Kesedihan adalah tatkala kita merasa cukup, tapi lupa bersyukur kepada-Nya. @haidarleon

Kesedihan bagiku adalah ketika Tuhan dengan baik hati mengabulkan pilihan kedua, tapi aku meratapi pilihan pertama. @lisusnayrasinna

Kesedihan adalah ketika kita harus membohongi diri dengan tawa agar mereka mengira bahwa aku sedang baik-baik saja. @senjahatimu

Kesedihan adalah saat menunggu dan berdo'a menjadi sebuah predikat yang tafsirnya tak pernah menjelma menjadi lengkung senyum. @bulangerimis

Kesedihan adalah saat kamu terlalu peduli pada yang tak pernah bisa mengerti. @jinggakalasenja

Sedih bagiku adalah saat menyadari dua hal; aku adalah anak pertama yang berada jauh dari ayah, ibu, serta adik-adik tercinta; dan aku adalah anak pertama yang belum mampu memberi apa-apa. @katakakiku

Hidup itu katanya penuh pilihan, sedih adalah salah satunya. Tapi bukan berarti kita harus terus memilih bahagia, karena dengan sedih kita jadi manusia. @fatiyatulislam

Sedih itu egois. Karena sedih hanya mengarah kepada perasaan yang mengarah ke diri sendiri. @rishajasmine

Sedih adalah ketika ketiduran sore hari dan bangun bangun sudah pagi, makan malam pun terlewatkan. @celotehtakbersuara

Kesedihan adalah ketika memiliki prasangka yang salah pada kebaikan Tuhan, padahal nyatanya hanya karena belum pandai bersyukur. @berisikdersik

Kesedihan bagiku adalah ketika menjadi diri sendiri terasa begitu sulit. @katadevi

Sedih itu, saat kita sadar bahwa kebahagiaan yang kita pilih akan berakhir pada kesedihan. @congferi

Bagiku, kesedihan adalah dia yang datang dengan tiba-tiba, tanpa menyapa ataupun bersuara. @yessukowati


cc: @tumbloggerkita, @curhatmamat

persembahan dari #KitaKedu2 masih dalam #KitaJateng

Akhir Cerita

Aku pernah merajut aksara denganmu dalam dua keping hati yang padu. Bahagia kurayakan di antara letupan nyala kembang api yang melangit. Kita dimabuk asmara saat itu; merasakan nyenyaknya tidur panjang bersama puisi dan lagu cinta.

Kita saling bersitatap; mempersilahkan kedua mata menggelung peluk. Hingga merasa dunia milik berdua. Tak peduli dengan cemooh orang yang mengatakan kita ini masih bocah belasan tahun - dengan mudah memainkan arus perasaan tanpa menerka kemungkinan lain.

Bodohnya aku menandaskan rasa dalam-dalam, seakan tak pernah salah. Sebab hidupku menjadi merona, serupa musim semi; tiada akhir.

Aku tak pernah berpikir jauh tentang sakit hati. Kupikir selamanya aku akan menjadikanmu puisi paling indah. Semua luruh oleh waktu. Perihal perasaan nyatanya mampu membelenggu jadi siksa. Bersikap kuat tapi rapuh - bersikap acuh tapi cemburu.

Perempuan itu, katamu lebih cantik dariku. Lengkung senyumnya hangat; mengalahkan dinginnya tempias hujan. Matanya teduh; mengalahkan teriknya matahari. Seketika aku seperti arca; diam mematung. Sebuah pengakuan dari mulutmu datang ibarat petir di pagi hari -  yang memaksaku menggenggam ujung pisau di tangan.

Apakah selama ini kau hanya melarikan perasaan dari seseorang di masa lalumu? Seolah, aku adalah tempat singgah sementara. Kau sengaja lupa ingatan tentang kita dulu, bukan?

Aku telanjur percaya; menganggap rasamu selamanya utuh. Sayang, janjimu kelewat palsu yang terbungkus rapi; ketika aku mendapatinya sebagai dusta. Percuma bila esok kau mengemis maaf, karena telah kau muntahkan sia-sia kepercayaanku.

Biarkan aku pergi membawa rempelan perasaan yang tersisa; terbaca di matamu sudah tidak ada aku di sana. Pun rasa yang pernah kita rangkai bersama. Sungguh aku berterimakasih. Kau telah mengenalkanku bagaimana merasakan kali pertamanya jatuh cinta sekaligus sakit hati.

Terimakasih telah menjadi bagian masa lalu yang tak terlupa.


90% Fiksi - 10% curhatan

Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?
Padamu, aku mulai jatuh.
Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?
Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.
Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.
Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.
Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.
Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.
Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.
Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.
Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.
Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?
Jangan mengulur waktu panjang.
Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.
Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.
Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.
Teduh matamu, menentramkan kalutku.
Lengkung senyummu, memperindah hariku.
Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.
Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.
Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.
Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.
Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?
Bagaimana menurutmu?
Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.
Terserah padamu.
Asal satu, kuat menahan rindu.
Sampai berjumpa di lain waktu.
Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.

Ditulis : @aksarannyta & @estehmanistanpagula
Dibacakan : @afifahkhairunnisa & @mangatapurnama

Made with SoundCloud
Asal Bersamamu
— 

Aku ingin menghabiskan berjuta senja denganmu. Terserah, kau ada di hadapanku atau di sebelahku.  Menikmati perubahan langit sore; biru, jingga hingga gelap kelam dengan lengkung senyum yang sama. Dengan senyum yang hanya kau punya. Dengan gurat senyum yang kau munculkan hanya untukku saja.

Aku ingin menghabiskan bermilyar detik waktu denganmu. Terserah, apa yang akan kau lakukan. Mengajakku berbincang, sekalipun yang kita bicarakan itu-itu saja. Atau hanya sekedar berdiam tanpa sepatah kata yang kita utarakan, kamu dengan kegiatanmu, aku dengan kegiatanku; memperhatikan kesibukanmu. 

Tak apa. Tak mengapa.

Asal bersamamu.

Akupun; Ingin Kamu Begitu

Kepadamu; aku mengadu

Selain pada Tuhan, keluarga, dan kerabatku, -tentu. Tidak ada yang aku tutupi barang hanya satu. Semua tentangku, aku pastikan kamu tau. Bahagiaku, sedihku, risauku, sampai pada hal-hal termemalukan dalam hidupku pun, merahasiakannya darimu, tak terpikirkan olehku. Akupun ingin kamu begitu

Sedang apa apa tentangmu, tak jarang mengetahuinya dari orang lain, -baru aku tau

Kepadamu; aku tak pernah menghindar meski tanpa sadar

Bercengkrama, bertukar sapa, selalu jadi hal yang aku tunggu setiap harinya. Mengabaikan chatmu tenggelam dalam sosial mediaku, aku tak mampu. Sesibuk apapun, meluangkan waktu untukmu, aku akan selalu. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, teramat gemar membiarkan kolom sapa kita berada pada tempat yang paling dasar

Kepadamu; aku rindu

Tingkah lakumu, celotehanmu, mimik mukamu, harummu, gelagatmu, semua tentangmu, aku rindu. Mata teduhmu, lengkung senyummu, aku; pengagummu nomor satu. Tidak bertemu, aku rindu. Bertemu juga aku tetap begitu. Sekarang, sebentar lagi, nanti juga saat petang. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, jangankan rindu. Bahkan hilang aku dari hidupmu, mungkin bukan perkara bagimu

Kepadamu; betah tak pernah terbantah

Berlama-lama, sama-sama. Bosan enyah dengan sendirinya. Melakukan picisan kegiatan. Tertawa, bahagia, bercanda. Berbagi segala konyol yang tolol. Aku padamu menjadi laiknya tahanan yang tabah selalu menunggu hingga waktu yang entah. Akupun ingin kamu begitu

Sedang segala hal bersamaku, nyaman tidak kamu temukan

Kepadamu; aku memohon sebisaku

Harapku, sekedar untuk tinggal meninggalkan, kita mengenal kata jangan. Saling melupakan, semoga tidak terbersit dalam pikiran. Dan berjalan beriringan, selalu menjadi apa yang diaminkan. Akupun ingin kamu begitu

Sedang jika bukan itu yang kamu harapkan, lepas aku; tak apa. Jangan biarkan aku berjuang sendirian. Aku tak suka pengabaian. Sebab pada akhirnya seseorang pasti lelah juga. 

Dan kelak jika masa itu tiba, semoga; menyesal pernah memperlakukan seseorang yang sebegitunya padamu, -dengan sia-sia, kamu bisa tetap bahagia. Tidak balik meminta. Karena sekali aku mengecap kata kecewa, aku tak akan pernah mengenal kata iba ~~~/o/

Mantan

Mantan. Satu kata paling menyebalkan yang ingin aku punahkan dari bumi. Terlalu mengganggu. Terlalu meresahkan lebih tepatnya. Karena bagiku melihat maupun mendengar satu kata itu hanya akan membawaku pada lengkung senyummu dulu saat masih dengan rasa cinta kau berikan padaku.

Mantan. Satu kata paling berisik yang ingin aku sumpal sepenuh tenaga agar bukan gaduh yang diciptakan dalam hatiku. Bukan pula kenangan dalam hatiku. Namun damai.

Mantan. Satu kata paling melelahkan untuk diucapkan yang rasanya ingin sekali aku pintai pertanggungjawaban atas segala yang kulalui karenanya.

Kata mereka kau lebih cantik saat ini. Kata mereka pula kau lebih bahagia. Ada begitu banyak kabar tentangmu beberapa hari ini. Padahal aku tak mencari, tak meminta, bahkan tak ingin tahu. Karena bagiku mengingatmu terlalu menakutkan selepas segala upayaku melupakan tentang kita.

Butuh lebih dari sekedar berhari-hari agar aku bisa bernapas damai tanpa kamu. Namun nyatanya alam memberiku waktu satu detik untuk kembali bernapas tercekat ketika namamu kembali terdengar.

Baru kusadari bahwa sejatinya aku belum benar-benar bisa hidup damai. Entah sampai kapan. Namun yang pasti hingga saat ini masih kupelajari bagaimana cara mengikhlaskan kamu berlalu, agar damai dapat kutemukan dengan mudah.

Dan jika saat itu tiba, akan kusapa kamu dengan hati bahagia dan akan kutanyakan padamu “bagaimana caramu bahagia selama ini?.”

Ditulis: @langitkuitukamu
Dibacakan: @mangatapurnama

Teruntuk kamu, yang pernah aku bahagiakan, namun memilih pergi meninggalkan~

Made with SoundCloud

Pagi itu, dia pergi. Katanya, ada beberapa hal di masa lalu yang perlu diselesaikan. Tentang seseorang yang pernah mengisi hatinya dulu. Perempuan yang pernah ada di hatinya, yang pernah dicintai begitu dalam olehnya. Ah mungkin bukan pernah, tapi masih. Aku menyebutnya, perempuan yang beruntung.

Pagi itu, aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya. “Semoga berhasil!”, teriakku. Tampak deretan gigi putih menghiasi lengkung senyum manis miliknya. Wajahnya terlihat bersemangat. Ah ya, dia pasti bahagia.

Pagi itu juga, kuputuskan untuk melepasnya. Bagiku bahagianya; adalah bahagiaku. Untuk memikirkan apakah ada aku di hatinya atau tidak; rasanya tak terlalu penting untukku. Terlalu naif, bukan? Ah biar saja. Mau bagaimana lagi, aku terlanjur mencintainya. Mereka bilang, aku bodoh. “Bukan. Ini perihal ikhlas”, bantahku.

Pada pagi berikutnya, kuputuskan untuk melangkah manyambut bahagia yang lain. Senyum lain yang akan menghiasi hari-hariku nantinya. Seseorang yang menjadikanku rumah -tempatnya berpulang. Bukan sekedar persinggahan untuk melepas penat. Ia yang tak pernah berpikir untuk membiarkanku sendirian. Ya. Bersamanya; aku pasti lebih bahagia. Selalu ada rencana terbaik milikNya -selepas segala lelah dan sabar, bukan? Tentu. Aku percaya itu.

Menyimpan lara, perempuan jagonya. Kalut di dada, lengkung senyum tetap ada. Namun jangan sekali-kali tepuk pundaknya, air mata akan mengalir tak ada hentinya.
Ya aku masih cinta kamu. Masih ada rasa nyaman mendengar suaramu, melihat indah lengkung senyummu. Tapi menerima kau kembali? Maaf, aku tidak sampai hati.
Di setiap inci lengkung wajahmu aku mencintainya. Di setiap lekuk tubuhmu aku begitu memujanya. Sebegitu hebat aku mencintaimu. Di depanku sayang, kau bisa setelanjang mungkin dan kau masih terlihat sempurna.