lengkung

[Percakapan]

Aku        :“Yah, apakah matahari akan selalu bersinar terang seperti ini ?”

Ayah     :“Tidak putri kecilku, dia akan terbenam dikala senja”.

Aku        :“Kenapa matahari dengan senang hati bersinar terang kalau akhirnya dia akan terbenam ditelan senja Ayah?”

Ayah     :“Karena itulah bentuk cinta kasihnya kepada manusia dibumi, walaupun dengan terbenamnya dirinya merupakan hal yang ditunggu tunggu oleh kebanyakan orang dikala senja, dia rela melakukan itu demi melihat sebuah garis lengkung disetiap wajah yang menyaksikannya”

Aku        :“Lalu apakah bulan dan bintang akan selalu menerangi hari hari kita Ayah ?”

Ayah     :“Tidak nak, bulan dan bintang akan perlahan lahan menghilang dikala fajar”

Aku        :“Kenapa bulan dan bintang harus  rela rela memberikan cahanyanya kalau akhirnya mereka akan tergantikan oleh fajar yang akan menyingsing Ayah?”

Ayah     :”Karena bulan dan bintang melakukan itu tanpa pamrih, mereka akan merasa senang apabila manusia dibumi tak ada yang merasa kegelapan dengan adanya mereka. Itulah bentuk cinta kasih mereka walaupun mereka tak dianggap dan akan selalu tergantikan”.

Aku        :“Sungguh mulia sekali Ayah, kelak aku besar nanti aku ingin menjadi seperti bulan dan bintang. Ayah coba lihat pelangi disana! Begitu indah bukan?”

Ayah     :“Iya benar putriku pelangi itu sangat amat indah, tapi apakah kau tau bahwa pelangi dengan segala warnanya yang begitu indah ini hanya hadir sejenak saja”

Aku        :“Benar Ayah, lihat pelagi itu warnanya semakin memudar dan kemudian hilang. Lalu kenapa pelangi hanya memperlihatkan keindahannya sebentar saja Ayah?”

Ayah     :“Itu karena tak semua orang berhak dan bisa menonton keindahan pelangi itu Nak, hanya orang orang yang yang merasa bersyukur atas hujan, orang orang yang merasa damai ketika turunnya hujan dan orang orang tak pernah menyalahkan turunnya hujan atas tertundanya pekerjaan mereka. Sehingga Tuhan memberikan orang orang tersebut hadiah sebuah pelangi yang sangat indah”.

10 tahun kemudian

Ayah     : “Putri kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa”

Aku        : “Aku masih akan tetap menjadi putri kecilmu Ayah, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang dunia ini bahkan tentang diriku sendiri”

Ayah     :”Ayah jadi teringat waktu kecil dulu Kau sering sekali bertanya banyak hal. Sekarang bolehkan Ayah bertanya satu hal kepadamu putri kecilku?”

Aku        :”Sebisanya akan Aku jawab Ayah”

Ayah     :”Kenapa Kau masih mencintai lelaki itu padahal Kau sudah tahu bahwa Kau dan Dia tak akan pernah bisa bersama?”

Aku        :”Pertanyaan yang cukup sulit Ayah tapi Aku akan mencoba menjawabnya, itu seperti kenapa kita masih bernafas bahwa pada akhirnya kita tahu kita akan mati. Aku mencintainya sebagaimana Aku bernafas Ayah. Ayah ingatkah waktu kecil dulu aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi seperti matahari, bulan, dan juga bintang. Dan saat ini aku sedang mencoba menjadi seperti mereka”.

WM~

Menyimpan lara, perempuan jagonya. Kalut di dada, lengkung senyum tetap ada. Namun jangan sekali-kali tepuk pundaknya, air mata akan mengalir tak ada hentinya.
Ya aku masih cinta kamu. Masih ada rasa nyaman mendengar suaramu, melihat indah lengkung senyummu. Tapi menerima kau kembali? Maaf, aku tidak sampai hati.

Mantan

Mantan. Satu kata paling menyebalkan yang ingin aku punahkan dari bumi. Terlalu mengganggu. Terlalu meresahkan lebih tepatnya. Karena bagiku melihat maupun mendengar satu kata itu hanya akan membawaku pada lengkung senyummu dulu saat masih dengan rasa cinta kau berikan padaku.

Mantan. Satu kata paling berisik yang ingin aku sumpal sepenuh tenaga agar bukan gaduh yang diciptakan dalam hatiku. Bukan pula kenangan dalam hatiku. Namun damai.

Mantan. Satu kata paling melelahkan untuk diucapkan yang rasanya ingin sekali aku pintai pertanggungjawaban atas segala yang kulalui karenanya.

Kata mereka kau lebih cantik saat ini. Kata mereka pula kau lebih bahagia. Ada begitu banyak kabar tentangmu beberapa hari ini. Padahal aku tak mencari, tak meminta, bahkan tak ingin tahu. Karena bagiku mengingatmu terlalu menakutkan selepas segala upayaku melupakan tentang kita.

Butuh lebih dari sekedar berhari-hari agar aku bisa bernapas damai tanpa kamu. Namun nyatanya alam memberiku waktu satu detik untuk kembali bernapas tercekat ketika namamu kembali terdengar.

Baru kusadari bahwa sejatinya aku belum benar-benar bisa hidup damai. Entah sampai kapan. Namun yang pasti hingga saat ini masih kupelajari bagaimana cara mengikhlaskan kamu berlalu, agar damai dapat kutemukan dengan mudah.

Dan jika saat itu tiba, akan kusapa kamu dengan hati bahagia dan akan kutanyakan padamu “bagaimana caramu bahagia selama ini?.”

Ditulis: @langitkuitukamu
Dibacakan: @mangatapurnama

Teruntuk kamu, yang pernah aku bahagiakan, namun memilih pergi meninggalkan~

Akupun; Ingin Kamu Begitu

Kepadamu; aku mengadu

Selain pada Tuhan, keluarga, dan kerabatku, -tentu. Tidak ada yang aku tutupi barang hanya satu. Semua tentangku, aku pastikan kamu tau. Bahagiaku, sedihku, risauku, sampai pada hal-hal termemalukan dalam hidupku pun, merahasiakannya darimu, tak terpikirkan olehku. Akupun ingin kamu begitu

Sedang apa apa tentangmu, tak jarang mengetahuinya dari orang lain, -baru aku tau

Kepadamu; aku tak pernah menghindar meski tanpa sadar

Bercengkrama, bertukar sapa, selalu jadi hal yang aku tunggu setiap harinya. Mengabaikan chatmu tenggelam dalam sosial mediaku, aku tak mampu. Sesibuk apapun, meluangkan waktu untukmu, aku akan selalu. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, teramat gemar membiarkan kolom sapa kita berada pada tempat yang paling dasar

Kepadamu; aku rindu

Tingkah lakumu, celotehanmu, mimik mukamu, harummu, gelagatmu, semua tentangmu, aku rindu. Mata teduhmu, lengkung senyummu, aku; pengagummu nomor satu. Tidak bertemu, aku rindu. Bertemu juga aku tetap begitu. Sekarang, sebentar lagi, nanti juga saat petang. Akupun ingin kamu begitu

Sedang kamu, jangankan rindu. Bahkan hilang aku dari hidupmu, mungkin bukan perkara bagimu

Kepadamu; betah tak pernah terbantah

Berlama-lama, sama-sama. Bosan enyah dengan sendirinya. Melakukan picisan kegiatan. Tertawa, bahagia, bercanda. Berbagi segala konyol yang tolol. Aku padamu menjadi laiknya tahanan yang tabah selalu menunggu hingga waktu yang entah. Akupun ingin kamu begitu

Sedang segala hal bersamaku, nyaman tidak kamu temukan

Kepadamu; aku memohon sebisaku

Harapku, sekedar untuk tinggal meninggalkan, kita mengenal kata jangan. Saling melupakan, semoga tidak terbersit dalam pikiran. Dan berjalan beriringan, selalu menjadi apa yang diaminkan. Akupun ingin kamu begitu

Sedang jika bukan itu yang kamu harapkan, lepas aku; tak apa. Jangan biarkan aku berjuang sendirian. Aku tak suka pengabaian. Sebab pada akhirnya seseorang pasti lelah juga. 

Dan kelak jika masa itu tiba, semoga; menyesal pernah memperlakukan seseorang yang sebegitunya padamu, -dengan sia-sia, kamu bisa tetap bahagia. Tidak balik meminta. Karena sekali aku mengecap kata kecewa, aku tak akan pernah mengenal kata iba ~~~/o/

Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?

Padamu, aku mulai jatuh.

Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?

Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.

Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.

Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.

Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.

Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.

Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.

Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.

Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.

Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?

Jangan mengulur waktu panjang.

Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.

Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.

Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.

Teduh matamu, menentramkan kalutku.

Lengkung senyummu, memperindah hariku.

Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.

Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.

Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.

Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.

Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?

Bagaimana menurutmu?

Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.

Terserah padamu.

Asal satu, kuat menahan rindu.

Sampai berjumpa di lain waktu.

Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.



Ini adalah hasil kolabo-ngawur antara @estehmanistanpagula dengan @aksarannyta.

Salam ngablu!

Di setiap inci lengkung wajahmu aku mencintainya. Di setiap lekuk tubuhmu aku begitu memujanya. Sebegitu hebat aku mencintaimu. Di depanku sayang, kau bisa setelanjang mungkin dan kau masih terlihat sempurna.

Jatuh - Rindu - Temu

Tentang cinta, tertimpa olehnya siapa yang bisa mengelak?
Padamu, aku mulai jatuh.
Segalamu, menuntut pandang untuk kutaruh.

Kamu tahu kebenaran mutlak saat ini dalam hidupku?
Ialah aku yang sedang berusaha mengelak bahwa aku telah jatuh.
Iya, jatuh kepadamu.

Tak usah kau sanggah.
Segala rasa yang ada jangan kau titah untuk berkilah.
Mulai menyayangiku kau tak salah, tak pernah menjadi suatu masalah.
Tuan, mari membuat kita menjadi kisah!

Bukan berkilah, terlebih menyanggah.
Aku hanya takut dengan rasa yang aku buat sendiri.
Takut menyakitimu di kemudian hari.

Belum memulai kau sudah ketakutan.
Layaknya pencinta hujan takut kebasahan.
Jangan jadi pecundang. Mengapa tak kita mulai saja dari sekarang?
Jangan mengulur waktu panjang.
Rasaku bisa saja hilang.

Jangan dulu menghilang.
Aku sedang menikmati hangatnya genggaman tanganmu.
Sungguh, itu menenangkan segala gemuruh dalam kepalaku.

Tenang, aku masih ingin bertahan lebih lama.
Teduh matamu, menentramkan kalutku.
Lengkung senyummu, memperindah hariku.
Aku padamu, tertarik begitu saja.

Urusan siapa yang paling merindu, aku pikir aku adalah juaranya.
Rasa tertarikmu masih kalah jauh tertinggal dibanding rinduku yang bertubi-tubi hingga menggunung.
Dan aku bingung, harus aku apakan rindu-rindu ini, Nona.

Mari rancang temu, Tuan.
Pertemuan berikutnya bisa saja kucintai kau sejadi-jadinya.
Rindumu yang bertubi-tubi, bisa mati berdiri.

Bukankah lebih baik melihat dan menunggu Semesta bekerja sebagaimana mestinya, Nona?
Bagaimana menurutmu?
Apakah kita perlu turut campur dalam andil-Nya?

Jika inginmu begitu aku ikut.
Terserah padamu.
Asal satu, kuat menahan rindu.
Sampai berjumpa di lain waktu.
Pastikan hatimu masih untukku.

Akan kupastikan itu tanpa perlu kamu pinta.

Ditulis : @aksarannyta & @estehmanistanpagula
Dibacakan : @afifahkhairunnisa & @mangatapurnama

MENYELAMI KESEDIHAN

Menyelam bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk menunjukkan bagian mana yang paling dalam, melainkan untuk kembali ke permukaan, kemudian melanjutkan perjalanan. Maka, kuajak kau untuk menyelam.

Mari menyelam pada sedalam-dalamnya kesedihan.

Kesedihan itu, kala tertawa bahagia, kita tidak tahu akan berbagi tawa tersebut kepada siapa. - @pertigaankekiri

Kesedihan bagiku adalah ketika tahu kebenaran tapi tak punya kekuatan untuk mengungkapkan. @ramen-jawa

Kesedihan bagiku adalah ketika sekelilingku riuh ramai, tapi aku merasa sendiri. @meldameldiology

Kesedihan bagiku adalah ketika dalam keadaan terpuruk, tak ada satupun uluran tangan memeluk. @wedangbajigur

Kesedihan adalah tatkala kita merasa cukup, tapi lupa bersyukur kepada-Nya. @haidarleon

Kesedihan bagiku adalah ketika Tuhan dengan baik hati mengabulkan pilihan kedua, tapi aku meratapi pilihan pertama. @lisusnayrasinna

Kesedihan adalah ketika kita harus membohongi diri dengan tawa agar mereka mengira bahwa aku sedang baik-baik saja. @senjahatimu

Kesedihan adalah saat menunggu dan berdo'a menjadi sebuah predikat yang tafsirnya tak pernah menjelma menjadi lengkung senyum. @bulangerimis

Kesedihan adalah saat kamu terlalu peduli pada yang tak pernah bisa mengerti. @jinggakalasenja

Sedih bagiku adalah saat menyadari dua hal; aku adalah anak pertama yang berada jauh dari ayah, ibu, serta adik-adik tercinta; dan aku adalah anak pertama yang belum mampu memberi apa-apa. @katakakiku

Hidup itu katanya penuh pilihan, sedih adalah salah satunya. Tapi bukan berarti kita harus terus memilih bahagia, karena dengan sedih kita jadi manusia. @fatiyatulislam

Sedih itu egois. Karena sedih hanya mengarah kepada perasaan yang mengarah ke diri sendiri. @rishajasmine

Sedih adalah ketika ketiduran sore hari dan bangun bangun sudah pagi, makan malam pun terlewatkan. @celotehtakbersuara

Kesedihan adalah ketika memiliki prasangka yang salah pada kebaikan Tuhan, padahal nyatanya hanya karena belum pandai bersyukur. @berisikdersik

Kesedihan bagiku adalah ketika menjadi diri sendiri terasa begitu sulit. @katadevi

Sedih itu, saat kita sadar bahwa kebahagiaan yang kita pilih akan berakhir pada kesedihan. @congferi

Bagiku, kesedihan adalah dia yang datang dengan tiba-tiba, tanpa menyapa ataupun bersuara. @yessukowati


cc: @tumbloggerkita, @curhatmamat

persembahan dari #KitaKedu2 masih dalam #KitaJateng

Menggenggam atau Melepaskan

Mencintaimu tak pernah kumenemui jera. Kepadamu aku jatuh sedalam-dalamnya. Entah mengapa aku sungguh terbius oleh garis lengkung yang selalu menyimpul indah diwajahmu. Sungguh kini aku teramat mencanduinya. Potret senyummu telah menetap abadi di dalam hipokampusku. Tapi semakin dalam rasa ini mengakar semakin besar pula ketidakmungkinan benihnya untuk kupetik. Entahlah, aku seakan-akan terperangkap di dalam duniamu.

Tetapi kini aku berhenti di persimpangan, antara menggenggam atau melepaskan.

Asal Bersamamu
— 

Aku ingin menghabiskan berjuta senja denganmu. Terserah, kau ada di hadapanku atau di sebelahku.  Menikmati perubahan langit sore; biru, jingga hingga gelap kelam dengan lengkung senyum yang sama. Dengan senyum yang hanya kau punya. Dengan gurat senyum yang kau munculkan hanya untukku saja.

Aku ingin menghabiskan bermilyar detik waktu denganmu. Terserah, apa yang akan kau lakukan. Mengajakku berbincang, sekalipun yang kita bicarakan itu-itu saja. Atau hanya sekedar berdiam tanpa sepatah kata yang kita utarakan, kamu dengan kegiatanmu, aku dengan kegiatanku; memperhatikan kesibukanmu. 

Tak apa. Tak mengapa.

Asal bersamamu.

Senja dan Hujan Bagiku (2)

Tentang senja yang aku suka,
@eunheesa

Sudah banyak aku menuliskannya. Tentang perasaan terdalam yang kuleburkan bersama jingganya. Tentang segala kecewa serta luka yang kusembunyikan dibalik keindahannya. Maka itu aku setia.

Apakah senja itu selalu menggantikan? Aku tidak tahu.
Yang aku yakini, selama matahari itu satu, senja tidak akan berganti. Hal indah apa yang bisa menggantikan senja? Coba sini perkenalkan padaku.

Senja bukan hanya perihal dipenghujung waktu. Tapi lebih kepada, ketika kau mempercayai sesuatu itu akan berakhir indah maka akan indahlah ia.

Seperti hatimu yang merasa tenang ketika hujan turun. Seperti itu juga aku bahagia ketika menatap senja. Tumpah segala resah, tumpah segala semoga. Yang ada hanya pasrah menerima.

Ketika kosong terasa, kubiarkan mataku menatap lengkung jingga itu. Kubiarkan hatiku mengartikan semua yang tak bisa aku artikan. Tentang senja sungguh, aku menyukainya.

Biarlah aku menyukai senja, biarlah kamu menyukai hujan. Mungkin suatu waktu Tuhan bersedia menghadirkan keduanya bersama-sama. Agar aku bisa menikmati hujanmu, kamu menikmati senjaku.

Senja bagiku, lukisan terindah yang Tuhan ciptakan bagi semesta kehidupan.

**********

Mengenai hujan yang kucinta,
@catatanpluviophile

Tak jemu bagiku mengungkapkan betapa aku begitu mengaguminya. Mungkin kamu akan berpikir aku gila setelah membaca pengakuanku ini.

Aku menyukai sifat hujan. Selalu tabah meski dijatuhkan berkali-kali, namun tak pernah mengeluh kepada Tuhan. Selalu bersedia terjatuh demi melepas rindu pada sang bumi, apa yang lebih romantis dari ini?

Aroma hujan yang begitu menggoda. Kamu mungkin tidak akan mengerti apa yang kubicarakan, tapi aku benar-benar kecanduan pada Aroma hujan. Aku tak tau bagaimana cara mengungkapkannya, begitu sulit untuk kugambarkan dengan kata-kata. Percayalah, jika saja kamu mampu mencium aroma hujan, kamu akan merasa hal yang sama sepertiku.

Aku menyukai suara rintik hujan yang jatuh ke bumi. Seperti musik di telingaku. Suara hujan itu teramat sendu,begitu syahdu. Hujan akan memainkan lagu rindu bagi siapapun yang mencintainya.

Aku hanya tidak menyukai sikap manusia yang acapkali menjadikan hujan sebagai kambing hitam, penghalang bagi kegiatan mereka. Hujan juga kerap disalahkan atas banjir, kenapa manusia seringkali sombong dan tidak mencoba bercermin pada diri sendiri.

Aku berpesan kepada kamu dan siapapun yang membaca ini :
“Berhentilah mencela hujan.
Berhentilah menyalahkan hujan.”

Cukup bagiku mencintai hujan.
Cukup bagimu menyukai senja.
Kelak, Jika Tuhan berkehendak, senjamu dan hujanku akan muncul disaat bersamaan.

**********

Diluar itu semua, Allah Maha Romantis menciptakan keduanya, hujan dan senja.

Mereka bilang mataku sendu. Menyedihkan. Tak punya kehidupan. Mereka berkata seperti itu karena tak pernah melihat lengkung senyum mataku ketika bertemu bola matamu.
—  Semenakjubkan itu, bola matamu.
Apa yang lebih membahagiakan dari mengupayakan kebahagiaan orang lain, menciptakan lengkung senyum lebar-lebar dan memberikan kenangan indah? Ada? Beritahu Minka, satu saja.
— 

Selamat malam,

Untuk mereka yang telah mengupayakan bahagiamu, jangan lupa berterimakasih. 

Pagi itu, dia pergi. Katanya, ada beberapa hal di masa lalu yang perlu diselesaikan. Tentang seseorang yang pernah mengisi hatinya dulu. Perempuan yang pernah ada di hatinya, yang pernah dicintai begitu dalam olehnya. Ah mungkin bukan pernah, tapi masih. Aku menyebutnya, perempuan yang beruntung.

Pagi itu, aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya. “Semoga berhasil!”, teriakku. Tampak deretan gigi putih menghiasi lengkung senyum manis miliknya. Wajahnya terlihat bersemangat. Ah ya, dia pasti bahagia.

Pagi itu juga, kuputuskan untuk melepasnya. Bagiku bahagianya; adalah bahagiaku. Untuk memikirkan apakah ada aku di hatinya atau tidak; rasanya tak terlalu penting untukku. Terlalu naif, bukan? Ah biar saja. Mau bagaimana lagi, aku terlanjur mencintainya. Mereka bilang, aku bodoh. “Bukan. Ini perihal ikhlas”, bantahku.

Pada pagi berikutnya, kuputuskan untuk melangkah manyambut bahagia yang lain. Senyum lain yang akan menghiasi hari-hariku nantinya. Seseorang yang menjadikanku rumah -tempatnya berpulang. Bukan sekedar persinggahan untuk melepas penat. Ia yang tak pernah berpikir untuk membiarkanku sendirian. Ya. Bersamanya; aku pasti lebih bahagia. Selalu ada rencana terbaik milikNya -selepas segala lelah dan sabar, bukan? Tentu. Aku percaya itu.

Yang membuat kita berbeda, salah satunya adalah kamu menemukan kesejukan pada angin-angin yang bertiup di sekitarmu, sementara aku menemukan kesejukan pada lengkung senyumanmu.
Dua Ribu Enam Ratus Kilometer

Dari lengkung jarak sejauh dua ribu enam ratus kilometer, aku belajar untuk melepaskan semua urusan yang biasa kugenggam di tanah kelahiran: tentang apa-apa yang menjadi urusanku secara pribadi, keluarga, pekerjaan dan semua yang berkaitan dengan segala yang biasanya aku lakukan. Ternyata ini tidak mudah, karena raga yang pergi seringkali tidak turut serta membawa seluruh hati untuk juga pergi bersama-sama. Tapi, belajar melepaskan ternyata melegakan, menenangkan dan memudahkan untuk bisa menikmati perjalanan.

Dari setapak langkah-langkah sejauh dua ribu enam ratus kilometer, aku belajar untuk percaya pada teman seperjalanan: bahwa dalam perjalanan ini ada yang akan saling menjaga, menyemangati dan membuat suasana terburuk sekalipun bisa jadi lebih baik. Bagaimanapun, ini menguatkan pemahaman bahwa jika bersama-sama, perjalanan yang jauh akan terasa dekat, terik terasa sejuk, dan keragu-raguan hilang jadi keberanian.

Dari luasnya dataran dan lautan yang berjarak dua ribu enam ratus kilometer, aku belajar untuk bersyukur pada setiap keindahan yang disuguhkan alam. Lukisan-Nya ada pada setiap satuan paling kecil jengkal-jengkal pemandangan, pada tutur kata orang-orang dengan berbagai bahasa, juga pada semua yang terlihat melalui lensa mata.

Dari dua ribu enam ratus kilometer, ternyata ada cara lain untuk belajar mengenal: mengenal diri sendiri juga mengenal sekitar.

Penawar Hati Penawan Waktu

Bagai malam yang terlalu cepat bertukar.
Kepada fajar yang terlalu pelan menyingsing.
Seperti itulah roda waktu yang lemah berputar.
Rebah terbujur, kala langkah ini membawa aku menatapmu.

Perlahan,
Memelan,
Terhenti.

Kelopak bunga yang sedari tadi gugur.
Tak sanggup ia mengirim aroma di udara terbaur.
Gusar ingin segera menyentuh tanah.
Tapi ia tak mampu di kala alam pun menyerah.
Pasrah, melambat mengikuti pusaran waktumu.

Aku pun ikut terhanyut,
Kala angin mulai mendesir menyimpul.
Di ujung bibirmu berarak terkumpul.
Patuh ia mengikuti isyarat.
Saat lengkung indah itu mulai terpahat.

Halus,
Pelan,
Lekat,

Angin pun mulai membisik riak imaji.
Melepas letih menghapus sunyi.
Memulih luka yang mencandu hati.
Ia menghantarkan salam, di bibir yang terbalut senyummu terbungkus rapi.

Senyum yang kembali menyenyumkanku.
Kembali memantul harap di kala tertatap.
Kembali membebaskanku dari belenggu ratap.
Namun sayangnya tak ingin menetap.

Ia mulai lepas dari pandangan.
Seketika pergi begitu cepat.
Pergi mengikuti langkah kaki pemiliknya.
Yang tak sedetik pun sudi hendak pelan melambat.

Kau tahu?

Alam sekitar kini tak berdaya untuk kembali sama.
Waktunya kini telah kering teresap kau serap.
Tersapu terkikis habis bersama jiwaku.
Lantah terbelah diujung langkah yang tega menculik senyum itu.

Dingin,
Beku,
Sunyi.

Wahai gadis yang merubah waktu kala kita bersinggungan.
Sampai kapan kiniku kan menungu tercairkan?
Waktu yang beku terhenti kala kau tiada di tatapan.