lengkung

Jarak dan rindu

Malam ini aku bercengkerama dengan gerimis, yang rintiknya sejak tadi seolah memuisikan sebuah rasa yang membersamai jarak. Rindu.

Bicara soal jarak, bagi sebagian orang terdengar tak menyenangkan. Mungkin juga bagiku. Tetapi itu dulu, sebelum akhirnya kamu datang dan memberiku alasan untuk merindu.

Detik itu, masih terekam jelas di kepalaku, kali pertama aku mulai mengabadikan lengkung senyummu dalam pigura sederhana di ponselku. Senyum yang dengannya aku merasa bahagia, melantarkan mataku seolah enggan beranjak untuk luput memandanginya. Namun, lagi dan lagi semua perihal jarak, yang membatasi ruang pandangku terhadap sosokmu yang berada dalam radius tak dekat.

Terkadang bahkan seringnya aku merenungkan satu hal. Bagaimana bisa rindu memegang peran seperti itu, ia meluluhlantakkan jarak yang nyatanya terbentang di antara kita. Ia melipatnya dengan rapi tepat pada tiap sisi serta sudutnya. Lalu meniadakan ragu, yang kerap merutuk menghiasi prasangka yang sulit diredam, sebab raga tak mampu saling mendekap untuk menenangkan batin satu sama lain.

Karena jika jarak adalah suara paling lantang yang pernah ada, maka rinduku adalah bahasa kalbu paling bisu adanya. Bagaimana tidak? Ia paham betul perihal rasa antara dua manusia yang tak bisa saling bertatap netra. Ketika jarak menghadirkan jeda, maka rinduku menjelma kata yang tak memerlukan tanda tanya pada akhir kalimatnya.

Rindu ini terus menjalar, menyisir aliran jarak inci demi inci tanpa alpa. Masing-masing dari kita tak menjanjikan bahagia yang sempurna, tetapi kita percaya bahwa setia dan doa mampu meleburkan segala kegundahan jiwa. Jika rindu ini mampu dikirimkan bersama untai bait-bait doa, maka temu dan hidup bersama kelak akan jadi sebuah muara, hingga jarak antara kita hanyalah sejauh dua tatap mata yang bertemu di satu titik yang sama.

Tangerang - Yogyakarta
26 Februari 2017
@hujankopisenja & @duatigadesember

#kolaborasi #prosa #jarak #rindu #hujankopisenja #duatigadesember

Sayap-Sayap Patah

“Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin itu. Semua perkara yang dialaminya selalu baik. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan jika mengalami kesulitan ia bersabar. Hal seperti ini jelas hanya ada pada diri seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Tanpa disadari, kita memiliki ‘sayap-sayap’ yang tak kasat mata. Sayap-sayap itulah yang bisa kita gunakan untuk menyusuri setiap lengkung-lengkung perjalanan dalam hidup, tanpa peduli jarak, musim, atau medan perjalanan. Apakah itu? Adalah sabar dan syukur, keduanya bagai sayap kanan dan kiri yang bisa membawa kita terbang merendah dan meninggi. Ketika ujian-ujian menjadikan kita merasa kecil dan rendah, kepak sabar dan syukurlah yang mengangkat kita untuk tetap tegak hingga bisa tetap terbang menuju pada keridhoan-Nya. Sebaliknya, keduanya juga bisa menerbangkan kita ke arah yang lebih rendah guna menahan kita yang meninggi karena nikmat-nikmat yang didapat.

Umar bin Khaththab pernah mengatakan, “Andaikan sabar dan syukur adalah tunggangan, aku jadi tak peduli mana yang harus aku kendarai.” Seharusnya memang demikian, sebab, sabar dan syukur adalah ciri khas kehidupan seorang mukmin. Jika tidak sedang bersabar, pastilah ia sedang bersyukur. Jika tidak sedang bersyukur, pastilah ia sedang bersabar. Tapi, apakah hal itu terjadi pada diri kita dalam keseharian yang kita jalani, dalam peran hidup yang kita lakoni, dan dalam ujian-ujian yang kita hadapi?

Aku tidak tahu apa yang persis terjadi pada kalian, aku hanya tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri. Entahlah, sayap-sayap itu seringkali patah, kawan! Bukan dipatahkan keadaan, tapi aku yang sengaja atau tanpa sengaja mungkin mematahkannya sendiri. Betapa tidak, ujian kerap kali menggodaku untuk melupakan sabar, pun kebahagiaan yang juga menggodaku untuk longgar terhadap syukur. Aku kalah, pantas saja jika mungkin ternyata aku memang tidak terbang kemana-mana, sebab sayapku patah oleh ulahku sendiri. Bagaimana denganmu? 

Bagaimana pun, semoga kita terus berupaya untuk menyediakan ruang dan waktu agar bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga dalam bentuk apapun ujian itu datang, entah kesedihan atau kebahagiaan, kita tetap bisa terbang dengan dua sayap dalam genggaman. Sabar dan syukur, semoga sayap-sayap itu tak patah berkali-kali.

Risna Sanbe Days ( @risnasanbe )

Sepenggal waktu yang tersisa diantara bibir sore iyalah senja.
Iya tak lebih indah dari fajar sebenarnya, dan fajar juga tak lebih indah dari kelopak matamu yang menyilaukan pandang.
Selamat hanyalah ucap.
Dan semoga adalah harap dari doa yang mendekap.
Jadilah baik diantara hati-hati yang kau jadikan rumah. Nyamanlah hingga kau terlelap dan lupa kelak kau kan menua seperti mereka.
Bahagia selalu ya sanbe~

( @sitimasruroh )

Semburat jingga ialah binar matamu kali ini. Teduh menatap rona masa pada penapakan usia. Kala hanya sebatas angka ketika lapang menyeruak bersama takdir. Bak surya yang enggan padam meski tenggelam. Sebab esok kan datang lagi bersama sejuta mimpi yang akan kau arungi. Selamat bertambah usia kak Risna semoga puisi-puisi indahmu akan selalu kubaca dan mewarnai RA.

( @duatigadesember )

Nuansa langit merah saga menghantar batara pulang ke peraduan. Di detak waktu yang sama, alunan melodi rindu mengiringi dedaunan kering yang bergemirisik disapa angin. Raut wajah penuh suka cita tergambar jelas dari lengkung senyummu, tetap indah meski waktu tak sedikit pun melambat atau bergerak mundur. Bersama rotasi lini masa, kau tapaki jejak-jejak usia. Menggantung asa setinggi bumantara, merapal doa seluas jagat raya. Selamat mendewasa, Risna. Bersama udara yang melingkupi atmosfer semesta, kuaminkan jutaan kata semoga, yang terbaik dari rumpunan doa-doa mulia. Selamat berbahagia 😊

( @hujankopisenja )

Di setiap hadir mentari yang terus berjanji bersinar lagi. Menumbuhkan harapan-harapan sang pemimpi.
Selamat berjuang petualang sejati. Ribuan hari yang kau lalui. Dimulai fajar menyingsing hingga berganti malam yang hening. Usia bukanlah hanya sebuah angka. Tetapi juga tahap-tahap di mana dunia memintamu mendewasa. Menambahkan hal-hal luarbiasa setiap harinya. Selamat menempuh usia yang baru. Dunia yang lebih seru ka RISNA SANBE. SEmoga puisimu menjadi saksi indah dari hidupmu. Tetaplah menjadi rendah hati dalam segudang prestasi yang kau miliki.

( @rizadwi )

Hidup ibarat sebuah jalan. Ada yang lurus dan bebas hambatan, ada yang berkelok-kelok dan bergelombang, bahkan ada jalan buntu yang juga sempit. Untuk menuju suatu tempat, terkadang kau harus melewati semuanya, yang suatu waktu bisa menyesatkanmu tanpa tau arah. Selamat berulang waktu, tetaplah berjalan dalam keyakinanmu. Apapun rintanganmu, seberapapun sulitnya jalan yang kau tempuh, tetaplah bersabar dan lalui dengan penuh kesungguhan. Semoga perjalanmu selalu dimudahkan, sesuai dengan peta impianmu.

( @ibnufir )


Common @rayuanhujan @biashujan @kotak-nasi @ahmedfauzyhawi @wangsadiredja @gelangkaret @arian @putrawhillyam @tigapuluhnovember

Penghujung Sunyi

Kugariskan malam dengan ujung sunyi yang runcing,
gambar lengkung senyum manismu menyatu pada kerlip bintang.

Rinduku lantak, berteriak, tapi takberontak,
hanya terdiam, dalam gelap yang kelam.

Hanya satu yang kutakutkan, bila aku terjaga dari lelap,
maka, selesailah mimpiku pada cintamu yang selalu tetap.

_________
Serang, 8 Februari 2017

Kamu
— 

Telah kucari segala keburukanmu, telah ku koleksi segala bukti bahwa kau pantas ku biarkan pergi.

Namun, lagi-lagi aku kalah dengan butanya hati. Ia sudah tak bisa diracuni. Sebaliknya, hanya dengan lengkung bibirmu aku terjungkal sangat dalam.

Tuan, kau membuatku kesal!
(Can't) Let You Go

Ada sebuah langkah yang rapuh dan kenangan yang luruh. Bibirku bergetar. Di hadapan pualammu, aku kembali merapalkan penyesalan. Tujuh tahun sudah kamu pergi dan kita tetap dibatasi oleh tanah dan udara.

Di bawah sana, bersemayam jasadmu yang takmampu lagi kurengkuh. Dadaku sesak. Tanah yang memelukmu telah kering, tetapi tidak dengan kelopak mataku. Masih kerap digenangi lautan nestapa, yang tenang dalam ruang kesedihanku.

Dan kini, ratusan hujan sudah kulewati dan rasanya masih saja sama; mengandung kenangan tentangmu. Tentang momen-momen yang dulu kita semayamkan di dalam dada namun kini pelan-pelan memudar.

Hingga di detik ini, kutapaki jalan basah berpayung langit gelap. Senada dengan warna parka yang melekat di tubuhku, memeluk gemetarnya. Membahasakan pilu yang belum rampung seperti kala kuantar pergimu.


Aku … takbisa berkata apa-apa. Ingin rasanya memaki diri sendiri berkali-kali. Mungkin sampai mati. Sampai aku menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang begitu sayat. Mengapa … mengapa aku sepatah ini kehilanganmu? Mengapa aku selemah ini takbisa melepas kepergianmu?


Ribuan kalimat tanya terkurung dalam kepalaku, membelenggu. Takbisakah sebentar lagi kamu berada di sini, menjelaskan padaku perihal menerima sebuah kepergian. Aku, masih menunggu di sini, menagih janjimu untuk kembali. Akrab dengan sunyi, yang setia menjadi teman semenjak lengkung senyummu taklagi ada bersamaku.

Dan ketika hujan kian menderas, rinduku padamu selalu terjun bebas. Hunjam dan bertubi-tubi. Aku selalu terbada tetiap malam. Perlahan mencoba untuk melepaskan. Tuhan, ajari aku cara melakukannya.

Merelakan memang takpernah mudah. Terlebih perihal kamu yang pergi tibatiba, tanpa mengajarkan aku membiasa. Tuhan, sekali lagi kumohon, ajari aku cara melakukannya. Melepas segala yang memang sudah taklagi ada.

Namun, pada akhirnya, kala hujan mereda, jawaban itu tak kunjung kutemukan. Detik demi detik bergulir, kenanganmu seakan terus menarikku. Seperti deburan ombak yang menjauh melawan kehendak semesta; kian lama, aku terus tertelan. Hingga senyap menyelimuti diriku seutuhnya.

Mungkin jawaban yang aku cari ialah pergi menggapaimu atau bertahan di perasaan yang dalam tentangmu.

Bogor - Tangerang
April 2017
@ariqyraihan - @hujankopisenja

You’re Worth It

Suatu siang menjelang sore, di kantor….

“Menurut kamu, kenapa aku layak untuk mendapatkan beasiswa ini?”

“3B”

“Apa itu?”

“Brain, Beauty, and Behavior.”

“Haha. Kayak acara di universe aja. Serius atuh, buat daftar beasiswa ini loh!”

“Iyaa. Alasannya karena kamu itu bla…bla…bla…bla”

“Serius?”

“Yaudah kalau enggak percaya”

“Hmm…hmm. Aku tulis gitu ya, thank you”

Ada banyak persyaratan yang harus dilengkapi untuk mengajukan beasiswa. Selain IELTS, tenyata untuk menyiapkan surat rekomendasi juga butuh usaha lebih. Untuk meminta surat rekomendasi ini, seharusnya tinggal mengontak dosen yang kita kenal lalu kirim form dari penyelenggara beasiswanya dan menunggu balasan dari beliau. Namun, beberapa dosen akan meminta form yang telah diisi terlebih dahulu. Agar beliau bisa mereview, mengedit untuk menambahkan atau mengurangi sesuatu, dan selanjutnya menandatanganinya.

Sebenarnya gampang untuk mengisinya, hanya saja beberapa hari lalu terhambat oleh sebuah pertanyaan, yang buat diri ini jadi enggak efektif.

“Why should the applicant be considered for a scholarship?”

Bingung nulisnya, karena selalu kepikiran,

“Layak gak yaa? Pantes gak ya? Bisa amanah enggak ya? Se-worth it apa diri ini?”

Terus enggak jadi nulis, nutup leptop lagi. Yasalam. Gitu terus sampai deadline.

Terus semua mimpi terkubur dalam karena alasan enggak layak, dan enggak pantas!

(Alhamdulillahnya deadlinenya masih lama. Masih ada kesempatan berbenah. Jangan siakan)

***

Dalam sebuah video yang (kalau enggak salah) dibuat oleh Jubilee Project. Ada suatu cerita yang menarik.

Pada suatu hari ada seorang pelukis yang ingin membuat sketsa wajah seseorang tanpa melihat orang itu sendiri. Ia melukis appearance seseorang hanya berdasarkan cerita yang dipaparkan. Ia menggerakkan pensilnya berdasarkan apa yang ia dengar, bukan berdasarkan apa yang ia lihat.

Datanglah seseorang dihadapan sang pelukis. Antara pelukis dan orang itu hanya berbatas selehai kain yang tidak tembus pandang.

Pelukis tersebut mulai membuat sketsanya.

Orang tersebut menceritakan bagaimana lengkung bibirnya ketika tersenyum, bentuk matanya, alisnya, pipinya, hidungnya, rambutnya dan semuanya. Hingga selesailah sebuah sketsa wajah yang dibuat oleh sang pelukis.

Selanjutnya, datanglah orang lain lagi. Orang baru ini bisa bertemu dengan orang sebelumnya dan mereka diberikan waktu beberapa menit untuk bertegur sapa. Lalu, ketika orang yang pertama pergi, orang yang baru datang ini diminta untuk menceritakan tentang appearance orang pertama yang ia temui sebelumnya. Lalu sang pelukis membuat sketsa baru berdasarkan cerita dari orang baru itu.

Kemudian, setelah selesai barulah sang pelukis meminta dia menceritakan tentang dirinya sendiri.

Bagaimana rambutmu, matamu, hidungmu, pipimu, bibirmu?

Begitu terus hingga terkumpulah beberapa sketsa. Kemudian sang pelukis menyandingkan dua sketsa wajah untuk setiap orang. Pertama, sketsa wajah yang dibuat berdasarkan ceritanya sendiri. Kedua, sketsa wajah yang dibuat berdasarkan cerita dari orang lain.

Hasilnya sungguh mengesankan.

Ternyata, sketsa wajah berdasarkan cerita orang lain sangat tampak lebih baik dari pada sketsa berdasarkan cerita diri sendiri.

Ternyata, orang lain mampu melihat kita dengan lebih baik daripada diri kita sendiri.

Pernah gak sih? Kita berburuk sangka pada diri sendiri? Merasa enggak pantas gitu, merasa enggak layak untuk memperjuangkan sesuatu. Merasa enggak mampu padahal belum berjuang lebih. Merasa enggak bisa padahal belum mencoba.

Padahal orang lain aja menganggap diri kita bisa, pantas, layak dan mampu.

Tapi kenapa diri kita sendiri enggak bisa?

Terus kalau Allah melihat kita begni lama-lama, bagaimana? Kayaknya Allah enggak akan suka.

Padahal Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya. Allah sudah menciptakan kita dengan segala karuniaNYA. Masa’ sih kita mau menyia-nyiakan karunia Allah itu?

aahh, sudah saatnya berhenti berprasangka buruk terhadap diri sendiri. saatnya berhenti buat Allah enggak suka. Saatnya berbenah!

Teruntuk kamu yang istimewa, namun sedang merasa tidak layak, tidak pantas,

Teruntuk kamu yang istimewa, namun  sedang dirundung prasangka tidak baik terhadap diri sendiri,

Yuk, bangkit dan berbenah!

Because you’re worth it all, keep going :)

Bandung, 11 April 2017

SELFIE2 #3: Hidup Kita Geje (?)

Kalau sedang merasa bosan, beberapa orang seringkali memilih untuk pergi dari rumah dan berjalan-jalan tanpa tujuan. Entah itu dengan alasan mencari udara segar, melihat pemandangan, atau apapun, perjalanannya nyatanya memang tanpa tujuan. Ujung-ujungnya bisa jadi membeli sesuatu yang padahal tidak ingin dibeli, pergi ke tempat yang sebenarnya tidak ingin dituju, dan merasa menyesal ketika kembali pulang ke rumah karena ternyata perjalanannya melelahkan dan menghabiskan banyak uang. Ya memang begitu kalau tanpa tujuan, akhirnya geje alias engga jelas! Hayoooo, apakah kamu pernah merasakannya?

By the way, bagaimana kalau ternyata masalah geje karena tanpa tujuan itu juga terjadi di hidup kita? Coba dicek, apakah tujuan hidupmu di dunia ini?

Saat tingkat akhir dulu, orientasi masa depan selalu menjadi topik menarik yang tak bosan diperbincangkan oleh sesama mahasiswa. Perbincangan itu dibicarakan di berbagai tempat dalam berbagai kesempatan: di ruang kelas, di lorong-lorong fakultas, di kantin, di perjalanan pulang kuliah, atau bahkan dimana saja. Seolah-olah, mahasiswa-mahasiswa yang paling jelas tujuan hidupnya adalah yang mampu menentukan apa yang akan dilakukan atau ditempuh setelah lulus.

Tepat beberapa hari sebelum sidang akhir, dosen pembimbing saya bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?” Saat itu, saya dengan percaya dirinya langsung menjawab, “Ada tiga hal yang ingin saya lakukan setelah lulus: bekerja, menikah dan kuliah. Saya belum tau mana yang akan saya lakukan terlebih dulu, tapi kalau boleh memilih, saya lebih ingin kuliah dulu.” Standar, bukan? Rasanya setiap mahasiswa tingkat akhir yang ditanya pertanyaan serupa pun akan memberi jawaban serupa: bekerja, menikah atau kuliah. Saat itu saya bangga sebab merasa memiliki tujuan.

Kemudian obrolan pun semakin memanas ketika dosen saya bertanya, “Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin melanjutkan kuliah? Aneh, bukankah profesi ini memang menuntut akademisinya untuk melanjutkan kuliah agar bisa membuka ruang prakteknya secara pribadi? Saya yakin beliau paham akan ini, tapi mengapa masih ditanyakan? Saya pun menjawab, “Saya ingin menjadi Psikolog dan membuka klinik pribadi.” Jawaban saya ini ternyata memunculkan pertanyaan yang lain, “Wah menarik, apa yang membuatmu ingin membuka klinik pribadi?” Ini tidak sulit untuk dijawab, kemudian saya berkata, “Saya tidak ingin bekerja dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Jika membuka klinik pribadi, saya akan dapat mengontrol waktu kerja saya sendiri. Dengan begitu, saya akan bisa optimal dalam mengabdikan diri dan kehidupan saya untuk suami dan anak-anak kelak.”

Nampaknya obrolan ini belum cukup selesai, dosen saya bertanya lagi,

“Lalu, jika nanti suamimu sudah bangga memiliki isteri yang rela mengabdi sepertimu dan anak-anakmu pun sudah bangga memiliki ibu idaman sepertimu, apa lagi yang akan kamu lakukan?”

Saya pun melirik ke atap, mencoba memikirkan jawabannya, “Tidak ada.” Dosen saya tersenyum simpul seraya kembali bertanya, “Memangnya apa yang akan kamu rasakan jika semua itu sudah terjadi dan sudah kamu miliki? Saya yang semakin bingung dengan arah obrolan pun menjawab, “Ketika semuanya sudah tercapai, saya tentu akan merasa bahagia.

Saya berharap pertanyaan itu selesai, tapi nyatanya belum, saya ditanya lagi, “Jadi, apakah saya bisa menyimpulkan bahwa hidupmu pada akhirnya adalah untuk mencari bahagia? Saya hanya mengangguk-angguk perlahan sambil menjawab, “Hmm, sepertinya begitu.” Dosen saya tersenyum lagi, “Kamu yakin?” Dengan berpura-pura percaya diri, saya menjawab, “Iya. Tentu saja!” Dalam hati, sebenarnya saya merasakan kebingungan yang luar biasa. Apakah memang hidup saya adalah untuk mencari bahagia? Hmm, sepertinya ada yang salah, tapi apa? Ah, sudahlah!

Sejak hari itu, saya mulai memikirkan baik-baik tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup saya. Tapi, tidak ada jawaban lain yang saya temukan selain semua jawaban yang sudah saya utarakan. Hingga sampailah satu minggu kemudian ketika saya bertemu dengan dosen saya dan kembali ditanya, “Bagaimana, sudah terpikirkah tentang apa yang akan kamu lakukan setelah mencapai bahagia? Malu-malu saya menjawab, “Belum, Bu. Setelah bahagia, saya bingung saya mau apa lagi …”

Dosen saya pun membetulkan posisi duduknya dan lebih dekat mengarah pada saya seraya menjelaskan,

“Hidupmu bukanlah semata-mata untuk memastikan kamu jadi magister atau tidak, melanjutkan buka klinik atau tidak. Semua itu tidak akan dipertanyakan ketika nanti kamu pulang ke akhirat. Kelak, yang harus kamu pertanggungjawabkan adalah tentang bagaimana penyikapanmu ketika keduanya terjadi dan bagaimana juga penyikapanmu ketika keduanya ditakdirkan tidak terjadi. Apakah kamu akan semakin mendekat kepada Allah atau sebaliknya? Manusia boleh saja memiliki tujuan-tujuan hidup di dunia, tapi tidak boleh lupa bahwa hanya ada satu tujuan yang Allah kehendaki untuk setiap manusia.

Air mata saya mulai menggumpal di pelupuk, “Satu? Apa itu?” Sambil menunjukkan salah satu lembar yang ada di Al-Qur’an, beliau menjelaskan, “Allah menciptkan kita dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya. Itu saja.” Ah, saat itu rasanya seperti banyak petir yang menyambar! Bagaimana bisa saya tidak mengetahui bahwa ternyata hanya ada satu tujuan hidup yang dikehendaki-Nya? Saya kemudian yakin bahwa tujuan hidup yang selama ini saya kira sudah jelas adalah tujuan yang hampa, samar dan sementara. 

Eh gimana doooong? Hidup kita sebelum-sebelumnya ini ternyata geje! Kita hanya seperti orang yang menempuh perjalanan jauh sampai lelah, melewati lengkung-lengkung jarak yang sangat jauh, tapi tidak pernah tahu hendak kemana dan apa yang dituju.  Padahal, Allah telah berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Q.S Al-Bayyinah (98) : 5)

Kawan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Tenang, muslim itu hidupnya engga galau. We have to move up!  Ayo kita perbaiki semua ke-ge-je-an ini. Atas semua tujuan-tujuan dunia yang dimiliki dan (sedang) diupayakan, semoga dapat dipastikan bahwa landasannya adalah untuk menjalankan satu-satunya tujuan hidup yang dikehendaki-Nya: beribadah kepada-Nya.

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Untukmu yang pernah membahagiakan ku sebelum Kesedihanku, aku sangat bahagia bisa mengenalmu, menunggu kabar darimu adalah hal yang selalu aku suka dan lengkung senyum di bibir ku terukir ketika notifikasi dari mu tertera pada ponsel pintarku. Dan untuk mu yang pernah menerbangkan ku pada cerah nya langit sebelum kau menjatuhkan ku pada gelap nya jurang. Aku berterima kasih untuk hari-hari yang pernah kita lalui bersama. Atas segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang pernah kau berikan, aku masih sangat mengingatnya. Perlahan tapi pasti. Perhatian itu kian pudar, kasih sayang darimu tak pernah aku dapatkan lagi . Hingga aku tak pernah menemukan lagi notifikasi darimu dalam ponsel pintarku. Untuk mu masa laluku, dimana pun kau berada dan dengan siapa kau bersama satu hal yang perlu kau tahu aku tidak akan pernah melupakan mu aku pun berharap kau begitu. Biar bagaimanapun kita pernah saling membahagiakan, bukan kah begitu?.
Kedai Kopi

Riuh suasana kotaku yang istimewa. Sabtu malam bak primadona bagi kaum yang baru saja merdeka, termasuk aku. Bedanya aku lebih suka merayakan bersama seseorang yang disebut diri sendiri. Kedai kopi; tempat sepi beraroma sunyi. Di sini aku bisa dengan leluasa tenggelam dalam secangkir kelembutan. Pun biasa menikmati potret kopi melalui celah renik bernama lensa. Kali ini, manuverku terhenti pada rona wanita di meja dua tiga. Puan Ayu dengan buku kecil dan secangkir coffee latte di tangannya. Pandanganku tak kuasa lepas bergerak meski hanya sejenak.

Titik-titik air langit berjatuhan mengecup sekujur jalan kota istimewa tempatku merantau. Sabtu malam, gerimis tak mengurungkan kawula muda untuk keluar rumah, bercengkerama bersama orang-orang tercinta. Aku … sudah kali ketiga menyambangi kedai kopi di sudut kota. Ada yang berbeda kali ini, retinaku menangkap sosok tenang di meja nomor tujuh belas. Tuan berjaket cokelat tua, dengan secangkir mocca frappe di hadapannya. Ada degup yang tak biasa saat aku memandangnya. Netraku enggan beranjak, pun mengerjap dalam sekejap.

Kepada Puan, aku di sini memperhatikanmu dari kejauhan. Duduk tenang selisih beberapa meja di seberangmu. Di meja nomor dua tiga, kamu bersama buku kecil, pensil dan garis-garis asa. Kamu begitu ayu ketika sibuk dengan duniamu. Sedang kopi dimejamu itu seperti aku; diam-diam memperhatikan berharap bisa bertautan.

Kepada Tuan, aku mencuri celah-celah udara untuk dapat menatapmu. Apalah aku yang tak punya cukup keberanian untuk sekadar melempar senyuman. Pada jarak antara kita yang hanya sekian depa, aku khusyuk memperhatikanmu yang berkutat dengan kamera dan secangkir kopi yang masih mengepulkan uapnya. Sementara aku, tergugu selaiknya meja-meja kosong di sekelilingmu.

Wahai puan, tahukah kamu sekitarku mendadak mati beku. Mata yang sedari tadi sibuk mengamati sekilas tak lagi berfungsi. Lensa kamera pun tak kuasa mengabadikan lengkung indah itu. Sebab tampaknya sekarang dunia sedang mulai berotasi padaku. Ah puan, andai kamu mengerti laki-laki ini yang ingin datang menghampiri. Duduk bersama dan berbicara meski tak berkata-kata.

Duhai Tuan, aku masih terus memperhatikanmu lekat-lekat. Hingga tetiba jantungku nyaris terlepas dari tempatnya, ketika kau menyorotkan sinar matamu tepat di netraku. Aku terpaku, dengan gugup aku berpura-pura sibuk kembali dengan buku dan penaku. Ah, andai saja kamu tahu. Ingin sekali aku berada di sampingmu, menunjukkan padamu bahwa sejak tadi lembar-lembar bukuku berisi larik yang memujimu. Tapi apalah daya, aku tak punya nyali mewujudkan itu.

Lalu siapa sangka, pertemuan kita di sebuah kedai kopi sudut kota ternyata adalah konspirasi semesta. Aku tuan dan kamu puan yang dulu segan untuk menyapa kini duduk bersama. Bukan tujuh belas atau dua tiga tapi dua satu seperti dua hati yang akhirnya menyatu. Akulah tuan yang akan mengisi seluruh lembar buku kecilmu dan kamu puan ayu yang takan bosan untuk kuabadikan.

Kini, puluhan purnama telah berlalu. Meja tujuh belas tak lagi ada sosokmu yang menyendiri. Sebab kamu telah bersama seorang puan, di meja dua satu. Entah (si)apa yang mengawali, yang ku tahu saat ini setiap inci tubuh kota istimewa ini telah kutapaki, bersamamu wahai Tuanku. Akulah puan, yang mendapat kejutan bahagia dari semesta yaitu bercengkerama dengan tuan di meja dua satu.

Semesta, April 2017 @duatigadesember & @hujankopisenja

Jadi?

: untuk Esthi A. Febriani

mana lebih dulu
lengkung atau titiknya
yang kaugores-sematkan

sebuah tanda-tanya
tak mungkin menjawab
pertanyaanya sendiri

memang begitu, bahkan
pada bahasa-bahasa
yang belum diciptakan

2017

Rindu Rahasia

Kedua mataku terhenti beberapa detik, menatap senja yang mulai menua. Dari lantai 5, lagu-lagu kenangan menjadi syahdu terdengar – menjadi teman setia yang tak lelah menemani kehampaan. Aku pernah merasa dingin hanya karena takut kehilangan. Ketika kau harus singgah dari kota ini demi sebuah mimpi. Ternyata waktu begitu ringkas, sampai harus kuserukan kata patah hati. Takdir mempertemukan tapi akhirnya memisahkan kita.

Baru kali ini, aku merasakan cinta yang mendalam. Lengkung senyumanmu itu berulangkali membuatku jatuh tanpa ampun. Lalu sapaanmu menjadi dialog singkat yang kutunggu-tunggu. Sedangkan notifikasi pesanmu seperti surat cinta yang enggan kubuang begitu saja. Sikapmu yang penuh penghargaan kepada siapapun membuat hati telanjur luluh. Aku memang sudah terbiasa disakiti tetapi tidak dengan kondisi yang kurasa ini.

Kau pergi bukan menanggalkan luka. Aku hanya patah hati karena jarak merentangkan tangannya. Kita jauh, sangat jauh.

Keretamu berangkat pukul 7 pagi. Perjalanan dimulai dari hari itu. Aku pun sama, bertolak dari kota ini, membayar waktu untuk menetaskan mimpi. Melalui kaca jendela ini potongan cerita pertemuan kita, perlahan lesap.

Klandestin – rindu bersuara dalam doa. Meski entah akan bertepuk sebelah tangan atau tidak, suatu hati nanti. Meski, aku tak tahu apakah kau akan memilihku atau tidak. Aku yang egois ini tak pernah ragu-ragu merayu-Nya. Tenang saja, perasaan ini akan selalu kusimpan rapi dan biarlah menjadi rahasiaku dengan-Nya.

 …

  • Tapi, apakah takdir memberi kesempatan kita bertemu kembali? Atau bahkan menyatukan kita? Semoga.
SELFIE2 #27: Perjalanan

Assalamu’alaikum warahmatullah wabaarakatuh! Hari ini, untuk meramaikan arus mudik (padahal tanpa saya pun arus ini sudah ramai sekali, hehe), saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju sebuah desa di salah satu kota di Jawa Barat yang jarak tempuhnya hanya sekitar 4 jam saja dari rumah. Maa syaa Allah, ratusan orang seperti tumpah ke jalan. Semua orang melakukan perjalanan, menelusuri setiap lengkung perjalanan demi sampai di masing-masing tujuan. Bagaimana denganmu, apakah kamu juga sedang melakukan perjalanan? Sambil menikmati (atau menyaksikan dari linimasa) setiap perjalanan, saya ingin bercerita tentang perjalanan hidup. Sebab, hidup tak ubahnya adalah sebuah perjalanan.

Sejatinya, setiap orang sedang melakukan perjalanan. Entah bertujuan atau tidak, semua orang sedang berjalan. Entah menikmati perjalanan atau sekedar untuk menggugurkan detik-detik waktu, semua juga sedang berjalan. Hanya saja, diantara orang-orang yang berjalan itu, sedikit sekali yang dapat memahami bahwa rute perjalanan hidup haruslah dari Allah menuju ke Allah. Ya, memangnya, kemana lagi arah tujuan hidup kita jika bukan menuju Allah?

Perjalanan yang tanpa tujuan tidak akan membawa si pejalan ke arah manapun. Ia hanya akan mendapati dirinya lelah dengan kelelahan yang terus bertambah tapi tidak pernah sampai kemana-mana. Meski dunia telah digenggam oleh kedua tangannya, hatinya tak akan pernah merasa cukup. Ia terus mencari dan tak pernah menemukan apa yang sebenarnya sedang ia cari. Sebaliknya, setiap perjalanan yang bertujuan untuk meraih ridho-Nya, meski melelahkan, akan tetap ditempuh oleh si pejalan karena ia tahu kemana ia ingin mengemudikan hati dan dirinya. Tak pernah ada garansi bahwa perjalanan tersebut akan mudah, tapi akan tetap ditempuh demi hujan cinta-Nya yang indah.

Tunggu tunggu! Bagaimana dengan kita, apakah perjalanan kita ini benar-benar bertujuan?

Untuk kita yang kini sedang berjalan, tak masalah kiranya jika kita berhenti dulu sebentar. Kita perlu memastikan bahwa perjalanan ini bertujuan, yaitu untuk mencapai keridhoan-Nya semata. Kita juga perlu terus meyakinkan diri kita sendiri bahwa seterjal apapun yang akan ditempuh, di depan sana ada syurga yang kita nantikan, sebuah tempat dimana kaki kita ingin berpijak.

Di perjalanan menuju-Nya ini, semoga kita akan selalu bisa belajar menerima ketetapan-Nya, agar kita tak akan pernah takut dengan terik yang mungkin akan membakar sekujur badan. Percayalah, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama terik itu, Allah pasti memberi kebaikan. Dia akan menghujani kita dengan cinta-Nya, hujan yang menenangkan, menentramkan sekaligus membahagiakan.

Selamat menikmati setiap lengkung perjalanan, selamat menentukan tujuan dan menyiapkan bekal-bekal perjalanan. Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Aku langit.

Aku memang punya bulan purnama, bulan sabit, juga bulan setengah untuk kau pandangi dari teras rumahmu. Aku juga punya gemintang untuk selalu kita hitung dan kita amati bersama setiap malam.

Aku memang punya matahari pagi untuk menyinari dan menyambut harimu. Aku juga punya awan bertindih-tindih untuk melindungimu dari terik tengah hari.

Aku memang punya air hujan untuk membasahimu ketika kering. Akupun punya lengkung pelangi yang indah dan selalu berhasil membuatmu mengguratkan senyum manis.

Tapi kan aku punya gelegar petir dan kilat-kilat yang akan mengingatkan dan menyadarkanmu ketika kau terlena menikmati indahnya semua yang kumiliki.

Bumi, ngerti maksudku kan?

Mitos Partitur, 1

: buat Esthi Ayu Febriani

1
sebermula adalah gugu
atas hitam dan putih nasib
pada panjang bilah piano
: di warna apa ia berhenti?

2
kau jauh mengerti, tentang
partitur yang seolah puisi
nada yang seolah silabis
juga aku yang seolah aku

3
ada denting yang kauseret
entah dari mol atau kres
: itu setengah mengertiku
yang menjelma dari bunyi

4
yang tak terlacak dari siapa
dulu terpahat di baris epitaf
yang tak terlacak dari suara
kausamarkan jadi kata-kata

5
betapa tinggi-rendah nada
seperti lenting tanda tanya
mungkinkah lengkung itu
muasal bentuk daun telinga?

Kleco, 2017

2

Sejak berabad-abad lamanya, astronomi dan matematika begitu lekat dengan umat Islam. Tak heran bila sejumlah ilmuwan di kedua bidang tersebut bermunculan.

Salah seorang di antaranya adalah Abu Abdallah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Al-Battani. Ia lebih dikenal dengan panggilan Al-Battani atau Albatenius.
Buah pikirnya dalam bidang astronomi yang mendapatkan pengakuan dunia adalah lamanya bumi mengelilingi bumi. Berdasarkan perhitungannya, ia menyatakan bahwa bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Perhitungannya mendekati dengan perhitungan terakhir yang dianggap lebih akurat. Itulah hasil jerih payahnya selama 42 tahun melakukan penelitian yang diawali pada musa mudanya di Raqqa, Suriah.

Ia menemukan bahwa garis bujur terajauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan oleh Ptolemy. Ini membuahkan penemuan yang penting mengenai gerak lengkung matahari. Al Battani juga menentukan secara akurat kemiringin ekliptik, panjangnya musim, dan orbit matahari. Ia pun bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet dan menetapkan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan baru. Ini terkait dengan pergantian dari sebuah bulan ke bulan lainnya. Penemuannya mengenai garis lengkung bulan dan matahari, pada 1749 kemudian digunakan oleh Dunthorne untuk menentukan gerak akselerasi bulan.

Dalam bidang matematika, Al Battani juga memberikan kontribusi gemilang terutama dalam trigonometri.
Laiknya, ilmuwan Muslim lainnya, ia pun menuliskan pengetahuannya di kedua bidang itu ke dalam sejumlah buku.
Bukunya tentang astronomi yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari karyanya itu masih ada di Vatikan.
Terjemahan buku tersebut tak melulu dalam bahasa latin tetapi juga bahasa lainnya.   Terjemahan ini keluar pada 1116 sedangkan edisi cetaknya beredar pada 1537 dan pada 1645. Sementara terjemahan karya tersebut ke dalam bahasa Spanyol muncul pada abad ke-13.

Pada masa selanjutnya baik terjemahan karya Al Battani dalam bahasa Latin maupun Spanyol tetap bertahan dan digunakan secara luas. Tak heran bila tulisannya, sangat memberikan pengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa hingga datangnya masa Pencerahan. Dalam Fihrist, yang dikompilasi Ibn An-Nadim pada 988, karya ini merupakan kumpulan Muslim berpengaruh pada abad ke-10, dinyatakan bahwa Al Battani merupakan ahli astronomi yang memberikan gambaran akurat mengenai bulan dan matahari.
Informasi lain yang tertuang dalam Fihrist menyatakan pula bahwa Al Battani melakukan penelitian antara tahun 877 dan 918. Tak hanya itu, di dalamnya juga termuat informasi mengenai akhir hidup sang ilmuwan ini.

Fihrist menyatakan bahwa Al Battani meninggal dunia dalam sebuah perjalanan dari Raqqa ke Baghdad. Perjalanan ini dilakukan sebagai bentuk protes karena ia dikenai pajak yang berlebih. Al Battani memang mencapai Baghdad untuk menyampaikan keluhannya kepada pihak pemerintah.
Namun kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya ketika dalam perjalanan pulang dari Baghdad ke Raqqa. Al Battani lahir di Battan, Harran, Suriah pada sekitar 858 M. Keluarganya merupakan penganut sekte Sabbian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun ia tak mengikuti jejak langkah nenek moyangnya, ia lebih memilih memeluk Islam. Ketertarikannya dengan benda-benda yang ada di langit membuat Al Battani kemudian menekuni astronomi.

Secara informal ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya yang juga seorang ilmuwan, Jabir Ibn San'an Al-Battani.
Keyakinan ini menguat dengan adanya bukti kemampuan Al Battani membuat dan menggunakan sejumlah perangkat alat astronomi seperti yang dilakukan ayahnya. Beberap saat kemudian, ia meninggalkan Harran menuju Raqqa yang terletak di tepi Sungai Eufrat, di sana ia melanjutkan pendidikannya. Di kota inilah ia melakukan beragam penelitian hingga ia menemukan berbagai penemuan cemerlangnya. Pada saat itu, Raqqa menjadi terkenal dan mencapai kemakmuran. Ini disebabkan karena kalifah Harun Al Rashid, khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah, pada 14 September 786 membangun sejumlah istana di kota tersebut. Ini merupakan penghargaan atas sejumlah penemuan yang dihasilkan oleh penelitian yang dilakukan Al Battani. Usai pembangunan sejumlah istana di Raqqa, kota ini menjadi pusat kegiatan baik ilmu pengetahuan maupun perniagaan yang ramai

Imam Malik, Ka’bah, dan Menjaga Persatuan Ummat :)

Hai semuaaaa, ijin share yah materi Kulela (Kuliah Lele Lela) yang gw dapatkan dari biasaaaa, siapa lagi kalau bukan Babang Akhyar, Sabtu kemarin.

Di Kulela kemarin gw agak terharu mendengar salah satu materi yang disampaikan Babang Akhyar yaitu tentang Imam Malik dan Ka’bah. Awalnya, kami membahas tentang Filsafat, Ideologi Partai Republik vs Demokrat, Budaya Eropa, dannnnnn seterusnya hingga sampailah ke kisah-kisah para Imam. (red. Kisah-kisah para imam ini menarik sebenarnya untuk dishare, tapi gw belum dapat lengkapnya perbandingannya karena baru membahas Imam Abu Hanifah dan Imam Malik sahaja, jadi akan gw share di lain kesempatan yaaah :D).

Satu hal yang mengharukan dan menarik bagi Babang Akhyar (yang kebetulan menarik juga buat gw haha) tentang Imam Malik dan Ka’bah dannnn kaitannya dengan persatuan Ummat. Bagi gw, no wonder yah, Imam Malik is an Imam, he just get every quality to be an Imam dannnnn sebagai Ummat Muslim kita wajib banget-banget-banget meneladaninya :)

(Red. tulisan gw ini gw tambahi juga dengan referensi yang gw baca setelah mendengar Kulela yaaah biar lebih komprehensif aja, hehe).

Jadi, dahulu lima tahun sebelum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, Mekkah mengalami musibah banjir yang besar. Akibatnya dinding-dinding Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail di atas pondasi aslinya pun rubuh. Al Walid ibn Al Mughirah selaku pemimpin Quraisy di Mekkah pada saat itu membangun kembali dinding-dinding Ka’bah. Akan tetapi, karena keterbatasan dana, maka Ka’bah pun dibangun dengan bentuk persegi (seperti yang kita lihat saat ini), bukan segiempat seperti bentuk aslinya. Hijr Isma’il yang letaknya sebenarnya ada di dalam Ka’bah pun menjadi ada di luar Ka’bah (seperti yang kita lihat saat ini). Selain itu, kaum Quraisy pun meninggikan pintunya agar mereka bisa mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam ka’bah.

Jauh setelah itu, setelah Rasul menguasai Islam hingga sebelum Rasul wafat, Rasul pun memiliki salah satu keinginan yang beliau sampaikan kepada Aisyah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut, “Kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kesyirikan, niscaya aku perintahkan untuk membongkar dan meratakan Ka’bah, serta membangunnya kembali di seperti yang dibangun Ibrahim. Kemudian pintunya aku buat menjadi sejajar dengan tanah setelah dulu kaummu meninggikannya dan membatasi siapa yang boleh masuk ke dalamnya. Dan aku akan membuat dua pintu baginya; pintu sebelah timur dan pintu sebelah barat. Lalu akan aku tambahkan untuk Ka’bah dari Hijir Isma’il sebanyak 6 hasta, karena sesungguhnya mereka menguranginya di saat membangunnya.” (H.R. Muslim)

Wasiat Rasulullah ini kemudian disampaikan oleh Aisyah. Akhirnya, berdasarkan hadits ini, Abdullah bin Zubair, di masa kepemimpinannya pun memugar Ka’bah sesuai dengan hadits yang disampaikan Rasul (sesuai dengan apa yang dibangun Nabi Ibrahim). Akan tetapi, setelah itu, di bawah kepemimpinan Hajjaj bin Yusuf, beliau pun menghancurkan kembali Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana Ka’bah di masa Rasulullah karena dia memandang bahwa bentuk Ka’bah saat itu tidak sesuai dengan apa yang ada di zaman Rasulullah.

Roda sejarah pun berputar lagi. Kali ini Khalifah Harun Ar Rasyid memegang pucuk pimpinan di Kota Mekkah. Berpikir untuk mengembalikan bentuk Ka’bah sesuai dengan bentuknya di masa Nabi Ibrahim, maka Harun Ar Rasyid pun menghadap Imam Malik,

Bagaimana pendapatmu Ya Imam, sekiranya kubangun kembali Ka’bah sesuai binaan Ibrahim, sesuai wasiat Rasulullah, dan sesuai bangunan paman kami ‘Abdullah ibn Az Zubair?”

Imam Malik menjawab dengan berat, “Jangan lakukan itu Ya Amirul Mukminin.”

Mengapa?”

Aku khawatir setelahmu nanti datang penguasa lain yang membencimu, lalu dia robohkan Ka’bahmu dan bangun lagi berbeda, lalu datang lagi yang lain dan begitu seterusnya. Aku takut Baitullah ini akan menjadi permainan para penguasa.”

Jadi?”

Biarkanlah ia seperti ini. Agar tidak makin berkurang atau hilang wibawanya di dalam hati manusia.”

Fatwa Imam Malik ditaati oleh Harun Ar Rasyid. Maka jadilah Ka’bah itu seperti hari ini, yang dibangun sesuai bangunan Al Walid ibn Mughirah, bukan di atas bangunan Ibrahim dan tidak juga sesuai dengan cita-cita Rasulillah. Ia dibiarkan “salah” demi mencegah hal yang lebih buruk (membuatnya menjadi permainan para kuasa) dan demi niat yang lebih besar (demi menjaga wibawanya di hati manusia).

Hingga kini, fatwa Imam Malik ini diterima sebagai ijma’ kaum muslimin. Tidak ada yang mempersoalkannya kecuali sebagai catatan saja. Tidak ada pula yang beliau “menyelisihi sunnah”

—————————————————–

Subhanallah :”””””””””””””), pelajaran guysssss, pelajaran! Mari kita catat dan kita pikirkan. Kita mungkin sering banget adu jotos untuk membela hal-hal yang kita anggap benar karena memang ada di ajaran/sunnah Rasulullah. Tapiiiii, terkadang mungkin kita perlu step back dan menimbang-nimbang apakah perlu benar-benar adu jotos dengan saudara sendiri perihal sesuatu perkara atau lebih baik menahan ego sedikit demi persatuan :””””””””””””””””)

Dari cerita di atas yang menginspirasi tentu saja:

1. Imam Malik, dengan fatwanya yang sungguh bijaksana dan mengutamakan kemuliaan Ka’bah :””””)

2. Harun Ar Rasyid, pemimpin yang bertanya dan meminta dulu pendapat ulama/yang lebih berilmu sebelum ia mengambil keputusan (betapa jarangnya pemimpin model seperti itu saat ini)

3. Tentu sajaaaaaaa Rasulullah :”) Karena beliau pun tidak mengubah bentuk Ka’bah tersebut di masa beliau memimpin Mekkah :”””””) Suri tauladan!

Dannn, dari diskusi dengan Babang Akhyar, ada lagi satu hikmah yang indah bahwasanya Ka’bah ada di bentuknya saat ini, bahwa kita dapat sholat di dalam Ka’bah tanpa perlu memasukinya. Dan semua orang dapat dengan lebih leluasa sholat di dalam lengkung Hijir Ismail karena ia terbuka untuk semua. Subhanallah! Semua pasti ada hikmahnya!

Sekian sharing-nya, semoga bermanfaat yaaaa! :)

BerSEMANGAT!!