lengkung

Aku lupa menyampaikan ini; izinkan aku menemanimu mengobati segala luka bukan justru menambahnya. Perbolehkan saja aku membuat lengkung bulan sabit pada bibirmu yang ranum. Dan terakhir, bersedialah jalan beriring dneganku. Sekali lagi, beriring. Bukan digiring.

Dia penikmat tatapanmu.
Sepasang mata indah yang tidak pernah berdusta, di dalamnya dia menemukan semua hal yang ingin dia ketahui. Tatapan teduh yang selalu dia inginkan mengarah padanya, namun nyatanya selalu menatap ke arah yang lain. Biarlah dia tidak pernah beradu pandang denganmu, keberadaannya masih tetap dia nikmati.

Dia penggila tawamu.
Garis lengkung indah, tipis, namun menakjubkan dan tampak manis terkalahkan oleh ekspresi lepas tidak ada batas. Wajah bahagia itu dengan suara tanpa nada acap kali membuat dia gila, terhipnotis akan tawa yang tidak berpura-pura. Semoga tawa itu pernah karenanya.

Dia pemuja suaramu.
Gerakan bibirmu yang mendengungkan nyanyian tanpa nada, ah ternyata itu hanya kamu yang sedang berbicara. Dia selalu terbuai, terpana, mendengar bunyi berisik yang terucap dari bibirmu. Itu candu untuknya, tidak bisa tidak, kerinduan seraya terasa jika lama tidak mendengarnya.

Dia pengagum punggunggmu.
Hanya di posisi ini dia dapat dengan bebas memandangi sekujur tubuh milikmu, dari belakang. Dia bisa memperlambat kedipan matanya ketika mendapati dataran itu di hadapannya, seakan tidak mau melewatkan sedetikpun memandangi hal favoritnya. Sayang punggungmu tidak pernah menjadi tempat dekapannya berlabuh. Ingin sekali rasanya, tapi ya sudahlah.

Dia pecinta segalamu.
Apa yang dia tidak suka darimu? Anggaplah tidak ada, karena memang tidak ada. Bukan karena kamu sempurna, hanya saja kekuranganmu pun dia sanggup terima. Ya, apapun yang ada padamu dia cinta. Silahkan tidak percaya tapi begitulah dia.

Untuk kamu yang tidak pernah tahu, betapa dia selalu berada di dekatmu meskipun kamu berusaha menjauh, bahwa dia selalu berjalan ke arahmu meskipun kamu berlari meninggalkannya.

Jika suatu hari kamu tahu, carilah dia. Jangan banyak bicara, kecuplah bibirnya, dan dekap erat tubuhnya. Rasakan suka duka penantiannya untukmu selama ini, sembuhkan lelahnya. Saat itu kamu akan mengerti betapa sangat berharganya kamu untuk dirinya.


*Picture: http://febiolacitra.blogspot.com/2011/09/iseng-belaka.html?m=1

Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict

Bandung, 23 Mei 2015 21:50.


This is yours athaisatha

Dari sini nih~

Dia penikmat tatapanmu.
Sepasang mata indah yang tidak pernah berdusta, di dalamnya dia menemukan semua hal yang ingin dia ketahui. Tatapan teduh yang selalu dia inginkan mengarah padanya, namun nyatanya selalu menatap ke arah yang lain. Biarlah dia tidak pernah beradu pandang denganmu, keberadaannya masih tetap dia nikmati.

Dia penggila tawamu.
Garis lengkung indah, tipis, namun menakjubkan dan tampak manis terkalahkan oleh ekspresi lepas tidak ada batas. Wajah bahagia itu dengan suara tanpa nada acap kali membuat dia gila, terhipnotis akan tawa yang tidak berpura-pura. Semoga tawa itu pernah karenanya.

Dia pemuja suaramu.
Gerakan bibirmu yang mendengungkan nyanyian tanpa nada, ah ternyata itu hanya kamu yang sedang berbicara. Dia selalu terbuai, terpana, mendengar bunyi berisik yang terucap dari bibirmu. Itu candu untuknya, tidak bisa tidak, kerinduan seraya terasa jika lama tidak mendengarnya.

Dia pengagum punggunggmu.
Hanya di posisi ini dia dapat dengan bebas memandangi sekujur tubuh milikmu, dari belakang. Dia bisa memperlambat kedipan matanya ketika mendapati dataran itu di hadapannya, seakan tidak mau melewatkan sedetikpun memandangi hal favoritnya. Sayang punggungmu tidak pernah menjadi tempat dekapannya berlabuh. Ingin sekali rasanya, tapi ya sudahlah.

Dia pecinta segalamu.
Apa yang dia tidak suka darimu? Anggaplah tidak ada, karena memang tidak ada. Bukan karena kamu sempurna, hanya saja kekuranganmu pun dia sanggup terima. Ya, apapun yang ada padamu dia cinta. Silahkan tidak percaya tapi begitulah dia.

Untuk kamu yang tidak pernah tahu, betapa dia selalu berada di dekatmu meskipun kamu berusaha menjauh, bahwa dia selalu berjalan ke arahmu meskipun kamu berlari meninggalkannya.

Jika suatu hari kamu tahu, carilah dia. Jangan banyak bicara, kecuplah bibirnya, dan dekap erat tubuhnya. Rasakan suka duka penantiannya untukmu selama ini, sembuhkan lelahnya. Saat itu kamu akan mengerti betapa sangat berharganya kamu untuk dirinya.

Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict. Bandung, 23 Mei 2015 21:50.

*Picture: http://febiolacitra.blogspot.com/2011/09/iseng-belaka.html?m=1

Seperti ini maksudmu? Secangkir cinta yang ditatakkan di atas cawan, menebar aroma asmara. Selingkup hirup setelah uapnya kita tiup, maka ia seperti memberi jeda pada nafas kita. Jeda yang begitu kita nikmati seteguk dua teguk lengkap bersama kue panekuk. Tidak usah tambahkan sirup maple atawa pemanis sintetis. Lengkung senyummu yang irit sudah bikin legit. Sungguh.

Aku merindukan masa dimana kita duduk pada sisi meja yang sama. Menekuri kopi sampai tuntas tinggal ampas. Karena tidak hanya hangat cangkirnya yang kita rasai diantara genggaman jemari, ada ‘kita’ yang lain disana. Bicara tanpa kata, semata-mata bahasa netra. Tapi aku dan kamu sama-sama mengerti, bagaimana menata hari agar lebih berarti.

Kolabo(nimbrung)rasi; Balada Kanda Dinda

Aku mengibarkan benderaku, sebagai tanda aku sudah tidak kuat menahan rindu.

Bersabarlah Dinda, awal kemarau akan kulipat jarak yang membentang. Merapatkan rindu pada temu yang syahdu.

Kanda, kemarau sudah hampir berlalu, tapi pelukmu tak jua datang menghampiriku.

Kembali pada kata awal di kalimatku tadi; bersabarlah. Akan tiba waktuku berpulang, pada rentang pelukmu yang hangat dan nyaman.

Kanda, rasanya sabarku sudah hilang bersama musim penghujan yang dilahap kemarau. Lantas aku harus menantimu dengan bekal apa?

Dengan bekal percayamu saja, kurasa sudah cukup. Percaya saja aku akan datang, walau entah kapan. Kuharap sabarmu diperlebar, kuatmu diperluas. Aku padamu, Dinda.

Entahlah Kanda, sudah puluhan purnama kulewati, tapi janjimu tak jua kau tepati. Sampai aku nyaris mati, dimakan sepi.

Bagaimana jika aku tawarkankan untuk lebih tabah dalam dua kali lengkung sabit? Saat lengkungnya sempurna serupa senyummu, kau akan melihatku di depan ke dua mata.

Jangan bercanda, sekarang sedang purnama. Tidak akan bisa kutemui sabit di sini. Jangan menyenangkan hatiku dengan ucapan yang mengada-ngada.

Kau hanya tersulut emosi, Dinda. Sabar menungguku sepertinya kau sudah muak. Dan Dinda, kau seolah lupa; sabar itu tak berbatas.

Kanda, bagaimana aku tak muak. Setiap hari hanya bermenu sepi dengan bumbu-bumbu harapan yang tak tahu diri. Saban hari aku dilahap rindu yang makin lama makin menggunung.

Jika menungguku sememuakkan itu bagimu, Dinda. Aku undur diri dari kini. Kau ingin pergi, silakan pergi. Jika kau hilang ingat, aku beritahu sekali lagi; pulangku padamu itu pasti, karena sehangatnya rumah kutemui pada senyum berlesung pipit milikmu.

Kanda, katamu gunung kan kau daki, tapi hanya karena tak tabah menanti, kamu sudah memutuskan undur diri.

Aku hanya tak ingin kau tersakiti karena titahku menanti dengan berbalutkan sunyi, berselimutkan sepi. Kini memang tak bisa aku berada di sisi. Namun nanti ketika kau kuikat dengan janji suci, barang satu kali tak akan aku biarkanmu sendiri.




Kolabo(nimbrung)rasi lainnya bersama pintuajaibkemanasaja. Dinda, terima kasih sudah berujar kata, bergulat isi kepala dengan Kanda. Buahahahahak kalau dibaca lagi rasanya geli, secara yang saut-sautan cewek sama cewek. 

Sampai ketemu di nimbrung-nimbrungan lainnya. Jangan menyesal :)

Satu, dua, seribu!
Kedipanmu kuhitung satu-satu. 
Satu koma 5 senti!
Lebar lengkung senyummu ke samping kiri.
Sate, martabak, goreng tahu!
Makanan kesukaanmu.
Ayo apa lagi? Aku tahu semua~
Si Anggrek Layu

Padahal dia (mungkin) telah bertahan dengan sebegitunya. Berjuang agar tetap tampak indah. Berharap atas lengkung senyum bahagia bagi mereka yg memandang. Seolah layu tak digubris barang sejenak. Rapuh disimpan sedemikian rapi olehnya. Kelopak indah miliknya lah yg ingin diperlihatkan.

Satu pinta tulus nya pada Tuhan. Kelak saat dia benar-benar pergi dari dunia, buat mereka yg dicintai tetap tersenyum kala dirinya tak ada lagi. Pun saat mengingatnya.

Setelah kau terpejam, aku ingin meminjam lengkung senyum bulan sabitmu, boleh? Langit kotaku butuh pencerah, gemerlap bintang-bintang di atas sana padam.
Mari berbicara tentang apapun?

Aku masih terjaga
Mataku belum ingin memejam
Ajak lah aku bicara
Aku ingin kita berbincang panjang malam ini
Tentang apa saja
Boleh juga tentang sesuatu yang bukan tentang kita

Tentang bagaimana kumulus awan hari ini?
Bagaimana langit yang nampak dari jendela kayumu siang tadi? Bagaimana rasa udara sore ini?

Ah! Kau tahu, kemarin malam dan malam ini bulan terlihat sabit dan cantik tapi tidak manis

Karena yang lengkung sabit dan manis, ternyata hanya ada pada senyummu

Hahaha aku tidak sedang menggodamu, percaya lah..

Ah.. aku rindu kamu..
Aku ingin berbicara banyak hal denganmu… Bisa kah kita melakukannya? Kapan saja? Entah ketika aku menginginkannya atau kau..

ingatan tak pernah berdusta

sebuah ketidaksengajaan yang membuat ingatan berjalan mundur. samar-samar terlihat sepasang mata dengan lengkung bibir yang sepertinya tak asing. ya, aku ingat. tatapan dan senyum itu yang selalu kau tunjukan padaku saat kalimat “aku sayang kamu” terdengar di telingaku. aku sudah tak berharap lagi, apapun darimu, kembali di hadapanku. namun pada kenyataannya, ingatan tak pernah berdusta.

Ceritaku pada lengkung sabit

Ku ceritakan pada manisnya lengkung sabit. Pernah ada dia yang padanya ku bukakan pintu tanpa diminta. Pernah ada dia yang sapanya membuatku seperti orang gila, senyum-senyum sendiri setelahnya. Pernah ada dia yang kata- katanya membuatku melambung ke angkasa. Pernah ada dia yang menumbuhkan debar tak biasa. Pernah ada dia yang ku cari wajahnya di segelintir hari-hari. Pernah ada dia yang mengenalkanku pada rindu nan malu-malu. Pernah ada dia yang selalu ku sebut namanya dalam do'a. Pernah ada dia yang membuatku menaruh harap semoga Tuhan mempertemukan kita hari ini. Pernah ada dia yang padanya aku menaruh peduli. Pernah ada dia yang karenanya aku menjatuhkan air mata. Pernah ada dia yang karenanya aku berani jatuh. Pernah ada dia yang padanya aku rela jatuh sejatuh-jatuhnya. Pernah ada dia: kamu.

Estetika Humanis Romo Mangun

Estetika Humanis Romo Mangun

Sebuah kritik Buku Wastucitra

Ketika kita terperangkap dalam permainan bentuk , mulai dari adisi dan reduksi saling tabrak geomteri, atau liuk lengkung yang menggoda, hanya untuk mendefinisikan imago (pancaran diri) kita pada bangunan yang kita bangun. Serta dengan angkuhnya menganggap kreasi diri adalah pancaran keindahan. Sebuah buku usang yang sudah terbit sejak tahun 1988 memberikan pencerahan, bahwa keindahan bukanlah melulu mengenai bentuk.

Buku itu berjudul Wastucitra, karya Y.B. Mangunwijaya. Buku dari seorang arsitek dan sekaligus budayawan yang dikenal sebagai Romo Mangun ini menjelaskan mengenai suatu hal yang lebih dalam, lebih berhubungan dengan mental, kejiwaan, kebudayaan arsitektur. Wastucitra mengambil nilai-nilai di dalam diri manusia sebagai analogi dalam berarsitektur.

Wastu citra menjelaskan bahwa manusia akan lebih menjadi manusia ketika tidak hanya bergumul pada hal-hal teknis saja, manusia akan menjadi manusia ketika dalam dimensi citra memiliki kualitas. Karena citra penting dalam tata pergaulan untuk menunjukan siapa kita. Sama halnya seperti makan serta berpakaian,  dalam bangunan pun ada suatu usaha untuk melambangkan nilai-nilai yang lebih dalam serta melambangkan jati diri. Namun jati diri yang seperti apa? Inilah yang akan dijabarkan melalui dialektika yang cantik oleh Romo Mangun dalam buku Wastucitra.

Kritik ini akan mencoba menjabarkan latar belakang dari nilai estetika yang dipilih oleh Romo untuk mendefinisikan citra arsitektur Indonesia. Pertama tama kritik ini akan menjelaskan mengenai konten dari Wastucitra secara singkat. Penjabaran ini diharapkan dapat mengenalkan mengenai konten yang saya garis bawahi dari pemikiran Romo yang akan saya kritik. Kemudian akan diterangkan pula mengenai preferensi, atau kecondongan Romo dalam filsafat yang dipilih untuk mendefinisikan arsitektur Indonesia. Dengan mengetahui preferensi diharapkan kita dapat mengetahui nilai apa yang menurutsaya lebih ingin ditonjolkan pada tulisan ini oleh Romo.  Terakhir, kritik ini akan membahas mengenai mengapa nilai tersebut menjadi preferensi dari Romo.

Selayang Pandang Wastucitra

Perjalanan mengenal citra dimulai dari penjelasan mengenai bahasa ungkapan. Manusia tidak hanya berbahasa mengenai cakap lidah, tapi juga dengan gerakan. Tubuh ini adalah sarana yang menghubungkan antara batin dengan alam semesta. Maka dari itu, tubuh adalah wadah atau ruang untuk memancarkan jiwa.

“tubuh adalah kendaraan kehadiran kita di dunia. Untuk mahluk hidup, tubuh berarti bergumul di dalam suatu lingkungan tertentu, berhadapan dengan hal-hal tertentu dan melibatkan diri dengannya tanpa henti… Tubuh dalam arti mulia dalah ruang yang mengungkapkan diri.”

Namun begitu pula sebaliknya, semakin kita berinteraksi dengan alam, semakin kaya jiwa kita. Romo menjelaskan hal ini terjadi karena tubuh dan jiwa bukan merupakan dualisme, namun satu kesatuan.

Ruang berhubungan erat dengan arsitektur. Monty menjelaskan bahwa manusia berbeda dari ruang-ruang yang lain. Tubuh manusia adalah karya seni yang mencoba menampilkan sesuatu , menampilkan sesuatu yang lebih dari hanya mengenai gunanya saja. Dalam berbicara, kita tidak hanya menyampaikan melalui kata kata, namun kita meliuk-liuk dalam aksen, tinggi rendah, serta nada dalam berbicara.

Citra yang sebagai pancaran jiwa, tentunya ingin dikenal sebagai sosok yang indah. Romo Mangun percaya bahwa keindahan bukan trend mutakhir, serta material yang mahal belaka. Tapi lebih kepada kejujuran, kewajaran.

Dalam membahas keindahan, tentu satu sama lain akan saling bersilang pendapat. Dalam melihat seseorang tentu dalam lingkungan yang sempit kita dapat mengatakan bahwa mana pria dan wanita yang ganteng dan cantik. Namun dalam tataran yang lebih luas tentu kita akan melihat perbedaan yang terpampang dengan nyata, dan menyadari bahwa ternyata definisi keindahan pun ternyata berbeda dalam hal melihat manusia. Apalagi yang lain. Maka dari itu kita tidak dapat menyamakan pendapat nilai estetis satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lainnya. Maka dari itu kita perlu mempelajari budaya sebelum menilai keindahannnya.

Hal yang paling awal dalam pemahaman ke-aku-an dalam budaya manusia adalah “cita rasa dalam penghayatan kosmis dan mistis atau agama”. Pertama-tama cita rasa diri manusia bukan mengedepankan keindahan mata belaka, namun wujud penghambaan terhadap hal yang lebih tinggi. Penghambaan kosmologis ini berkembang melalui pemahaman-pemahaman manusia akan wahyu tuhan yang diterapkan ke dalam bangunan.  Namun bentuk penghambaan ini tidak menjadikan suatu bentuk menjadi monopolistik. Bentuk-bentuk bercampur baur menjadi satu, demi mengejar penghambaan kepada tuhan masing-masing.

Dari berbagai kebudayaan yang ada, kita dapat melihat bahwa banyak agama atau kepercayaan yang menempatkan suatu titik di muka dunia sebagai pusat dunia. Pusering jagat bagi orang Bali, Mekkah bagi orang Islam, dan Gunung Golgotha bagi orang India. Kesadaran akan suatu pusat dunia menurut Romo sangat lah wajar. Karena manusia membutuhkan orientasi, untuk menempatkan dimana diri (pengkiblatan diri).

Orang India memandangan dunia sebagai cerminan dari sang esa. Semua yang dialami adalah semu belaka, maya, oleh karena itu orang yang pintar adalah orang yang mampu mengetahui bahwa yang benar-benar nyata adalah ketunggalan itu sendiri. Pembebasan akan kehidupan  yang maya ini adalah tujuan hidup bagi orang India. Proses pengekangan diri ini sangat panjang dan penuh perjuangan agar terbebas dari keadaan yang maya. Kebenaran yang dianut oleh arsitektur India adalah usaha untuk mengingatkan diri bahwa kehidupan ini hanyalah hal yang maya. Pencarian arsitektur dengan jenis ini dikenal sebagai pendekatan mitologis.

Pandangan berbeda datang dari barat, yang mempercayai bahwa realita adalah dunia ini. Estetika adalah pemuas kebutuhan duniawi untuk saat ini. Peperangan gaya yang terjadi sebenarnnya  pemusatannya adalah pada keinginan untuk mencari bentuk yang dapat memuaskan kebutuhan duniawi untuk saat ini.  Kebenaran yang dianut oleh Arsitektur Barat adalah bagaimana cara mencari enteleki dari suatu barang, agar mencapai titik trensendensi tertingginnya. Pencarian arsitektur dengan jenis ini dikenal sebagai pendekatan ontologis.

Romo Mangun mengatakan bahwa perhelatan antara yang mitologis dan ontologis selalu ada di dunia ini. Antara tari jawa yang kalem, dan tari bali yang gemerlap. Antara jawa yang lebih suka memperdalam diri melaui uraian uraian mendalam , ningrat, dan penuh pengekangan diri. Bali disisi lain lebih konkret, ekspresif dan merdeka. Perlambangan Arjuna dan Rahwana, Apollo dan Dynisios. Bukan masalah benar salah, namun memposisikan diri untuk memilih yang mana. Sifat Arjuna yang tenang muncul dalam fungsi fungsi yang tenang pula, seselarasan bentuk simetri muncul sebagai perlambangan Arjuna. Begitu pula bangunan dengan fungsi yang lebih ekspresif akan mengambil Rahwana sebagai acuan. Perhelatan antara barok dengan klasik ini terus berulang di berbagai kebudayaan yang lain. Maka yang perlu kita sadari bahwa keduannya memiliki posisinya masing masing.

Memaknai arsitektur, dalam artinya yang miskin akibat pemahaman murni ontologis orang yunani membuat  arti dari kata arsitektur hanya sebatas  'tukang ahli bangunan’ semata. Dalam kebudayaan India arsitek disebut sebagai sthapati. Dalam pemahaman arsitektur India, atau vastuwidya, vastu memiliki pemahaman yang lebih mendalam yaitu selain ilmu, juga norma, tolak ukur hidup susila, pegangan normatif semesta. Maka dari itu vastu memiliki nilai yang lebih dalam dibandingkan architektoon.

Kiblat kita yang murni pada architektoon membuat kita ikut dalam pemahaman estetik yunani yang murni ontologis lepas mitologis sehingga hilang pula aspek penghayatan. Pemahaman vastu menilai bahwa hakekat arsitektur adalah bangunan bukan suatu yang lepas dari sisi manusia. Fungsi vastu adalah mentransformasikan ‘ke-ada-an’ manusia, sehingga muncul pemahaman total akan diri dengan kondisi sekitarnnya.

Untuk manusia modern menangkap dan mengkristalkan maksud mistik kedalam bangunan bukan lagi jadi persoalan. namun sisi penghayatan pada suatu hal yang lebih dibandingkan sisi materi tapi lebih jauh dari itu.

Pemahaman konkret dari vastu-sebagai bangsa yang merebut kemerdekaan demi kesejahteraan- adalah usaha untuk melihat yang lebih lemah, menciptakan karya tata ruang yang lebih indah dan manusiawi bagi mereka. Dari perdebatan mengenai Rahwana dan Arjuna tadi, yang hanya sebatas perhelatan belaka seharunnya kita dapat melihat sesuatu lebih dalam lagi, membuka realita yang lebih kompleks dibandingkan hanya sekedar mengedepankan 'norma estetika yang antik’  namun melihat realita yang sebenarnya dan memahami keutuhannya dengan penghayatan yang baru bahwa norma estetika tidak didapatkan dari kulitnnya belaka.

Preferensi India

Pada bagian awal Romo menganalogikan arsitektur dengan tubuh manusia. Tubuh manusia sebagai ruang yang menghubungkan jiwa dengan semesta bukanlah dua hal yang terpisah, namun satu kesatuan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut.

“Dari sebab itu, segala indera dan cira rasa yang tergetar oleh suatu situasi atau penggairahan fisik alami, langsung itu menyentuh juga ke dalam perasaan menimbuklan reaksi dan sikap kejiwaan.

"hati kita berdendang bersama dengan kicau riang burung-burung di pagi hari yang cemerlang”

Maka dalam berarsitektur saya rasa Romo mengininkan bahwa dalam menciptakan ruang-ruang yang ada, kita harus memahami bahwa ruang-ruang itu tidak hanya melambangkan jiwa kita, namun juga dengan ruang-ruang tersebut jiwa kita semakin terisi. Ruang  tidak hanya menjadi entitas terpisah dari jiwa 'si pembuat’ yang berusaha memamerkan diri, namun satu kesatuan yang apabila ruang tersebut berinteraksi buruk dengan sekitar tentu akan merusak citra dari sang pembuat pula.  Sehingga apabila membangun kita harus bisa membuat ruang yang tidak hanya berusaha pamer namun semakin memperkaya diri kita.

Walaupun konsep ini dapat dapat diterima di kedua sisi Barat dan India, namun saya rasa hal ini menunjukan bahwa Romo memiliki preferensi khusus pada arsitektur India. Arsitektur India yang reliefnya bukan usaha untuk  memamerkan diri dan pemuas nafsu belaka namun sebagai usaha untuk berkomunikasi dengan diri agar selalu ingat bahwa diri ini adalah fana, sangat mirip dengan konsep analogi manusia sebagai satu entitas antara jiwa dan badan.

Apabila ditelaah lagi, pengaruh India sangat kuat melekat dalam Wastucitra. Usaha untuk meredefinisi arsitektur Indonesia berpusat pada vastu yang terkandung dalam arsitektur India. Kedekatan atau preferensi Romo terhadap kata vastu yang memiliki definisi luas sebagai 'pengatur norma dalam membangun’, dibandingkan arkhitektoon sebagai 'kepala tukang’  menunjukan bahwa pendekatan India dalam mendefinisikan arstitektur lebih mengenai nurani Romo. Usaha pendekatan diri kepada tuhan, serta usaha mengingatkan diri bahwa kebahagiaan duniawi adalah hal yang fana pada aristektur India sesuai dengan latar belakang Romo Mangun sebagai pemuka agama.

Arsitektur India sangat berhubungan erat dengan candi-candi yang ada di Jawa. Pertanyaannya adalah mengapa hanya unsur India yang dimasukan ke dalam buku ini. Padahal apabila kita lihat, indonesia bagian timur tidak begitu terpengaruh dengan arsitektur India. Indonesia Timur lebih terpengaruh pada arsitektur Australia dan Portugis. Saya rasa hal ini terjadi karena latar belakang Romo yang berasal dari Jawa. Serta pengaruh citra yang lebih kentara terjadi pada Kebudayaan India yang lebih tua serta terdokumentasi dengan baik, sehingga dapat dilihat pola pikir budaya yang terjadi ketika pembangunan bangunan.

Kegelisahan Massa Transisi

Pada tahun 1951, Y.B. Mangunwijaya masuk ke Seminar Menengah di Kotabaru. Setahun kemudian, ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang. Ia melanjut ke Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Di sinilah ia bertemu mentornya, Uskup Soegijapranata, SJ., sosok yang juga menjadi tokoh Nasional. Uskup Soegijapranata, SJ. merupakan uskup agung pribumi pertama di Indonesia. Tidak hanya mengajar, Soegijapranata pulalah yang menasbiskan Romo Mangun sebagai imam pada tahun 1959.

Meski telah menjabat sebagai imam, cita-cita Romo Mangun sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, ia justru melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB, juga pada tahun 1959. Dari ITB, ia melanjutkan studinya di universitas yang sama dengan B.J. Habibie, yaitu di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966.

Kemudian pada tahun 1988, Romo Mangun menulis Wastucitra. Pada saat penulisan Wastucitra terjadi banyak pergolakan pemikiran Arsitektur. Mulai dari Robert Venturi, melalui bukunnya Complexity and Contradiction in Architecture pada tahun 1966 Hingga kemunculan pergerakan Deconstruksi yang memuncak pada keikutsertaan dari Derrida dan  Eisenman pada tahun 1982 di Parc de la Villette Design Competition. Saya rasa pada tahun-tahun ini terjadi pula pergolakan pemikiran pada diri Romo Mangun. Ketika pertannyaan mengenai fungsi/guna menjadi suatu hal yang coba dilawan pada pergerakan post modernisme. Serta keserampangan bentuk yang terjadi pada proses perancangan dekontruksi yang sangat tidak linear. Membuat Romo Mangun mempertannyan mengenai apa realita keindahan yang sebenarnnya.

Pertannyaan mengenai Citra Keindahan juga di laterbelakangi isu panas yang terjadi pada tahun 1960-an, ketika muncul konsepsi Soekarno mengenai New Emerging Force atau Nefo. Perang dingin yang terjadi antara Blok Timur dan Barat membuat Soekarno merasa bahwa harus ada blok kekuatan yang menyeimbangkan kedua kekuatan tadi. Oleh karena itu pada tahun 1963 terjadi pembangunan besar-besaran demi menyelenggarakan Ganefo (games of new emerging force) serta menyelengarakan Conefo. Bangunan bangunan megah bermunculan dengan langgam Modern di Ibukota Jakarta. Berusaha menjadi mercusuar, yang terlihat dari seluruh penjuru dunia, berharap menjadi negara yang dapat bersanding dengan negara-negara besar lainnya.

Sedangkan pada massa Soeharto, Indonesia kembali mencari jati dirinnya. Pembangunan besar-besaran pun terjadi pada massa ini. Mulai dari TMII, Patung Arjuna Wijaya, hingga Masjid At-Tien. Kita dapat melihat bahwat terdapat karakter post-modernisme yang muncul pada bangunan pada massa Soeharto. Namun lagi-lagi Romo melihat bahwa pembangunan-pembangunan ini lupa bahwa masih banyak masyarakat miskin yang tidak tersentuh bahkan hancur karena arsitektur.  

Pemahaman Romo Mangun ini semakin dalam akibat keterlibatannya pada proyek-poroyek sosial mulai dari Kedung Ombo hingga Kali Code. Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi pemukiman yang dilakukan pada rezim Soeharto, oleh warga karena tanahnya akan dijadikan waduk. Penolakan warga ini diakibatkan kecilnya jumlah ganti rugi yang diberikan. Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja'far, pengasuh pondok pesantren Pebelan Magelang mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau.  Begitu pula dengan Kali Code yang tidak layak huni, kedekatan Romo dengan Kali Code terjadi akibat bencana banjir yang melanda Kali Code. Kondisi yang mengenaskan membuat Romo tergerak untuk membangun serta menata kembali kawasan Kampung Code yang kumuh menjadi baik. Keduannya melambangkan bahwa usaha untuk memperindah wajah bangsa ini sebenarnnya hanyalah topeng yang tidak memperhatikan kemisikinan yang terjadi (sebagai realita yang sebenarnya)

Romo Mangun yang terlibat dalam permasalahan yang terjadi pada masyarakat kecil yang masih tinggal dipinggir sungai kotor merasa bahwa Indonesia buta akan reallita, memamerkan citra sebagai negera besar, dengan bangunan-bangunan megah jalan-jalan besar di Ibukota. Sedangkan diri masih bobrok. Segala bentuk dan gaya yang ada tidak pernah beranjak pada usaha 'pamer’ serta mencitrakan diri sebagai bangsa yang besar. Namun pancarannya tidak berkomunikasi kebalikannya pada diri sendiri, pada jiwa yang ada didalamnya yang ternyata masih gersang.

Permasalah ini menurut saya menjadi salah satu titik balik dalam pemikiran Romo Mangun mengeai keindahan. Karena walaupun terjadi  pembangunan besar-besaran pada massa pemerintahan soekarno dan soeharto tapi ternyata tidak benar benar menyelesaikan realita yang ada. Arsitektur yang ada tidak memeancarakan kebenaran yang terjadi disekitarnya. Pertarungan antara Arjuna Soekarno dengan Rahwana Soeharto hanyalah dagelan belaka, karena keduannya lupa akan realita yang terjadi. Sehingga Walaupun bangsa ini mencitrakan diri sebagai bangsa yang besar, tetap terlihat bobrok karena keindahan adalah pancaran kebenaran.

Kritik Berselubung Citra

Saya tidak menyangkal bahwa buku ini hadir untuk kembali merunutkan estetika apa yang ingin tampilkan, layaknya gentle manifesto Robert Venturi. Buku ini menelaah satu persatu perjalanan bangsa-bangsa dalam pengolahan estetikanya masing masing. Namun terlepas dari semua itu, buku Wastucitra ini menurut saya adalah kritik yang implisit mengenai kondisi pembangunan pemerintah massa Soekarno dan Soeharto yang buta realita.

Buku ini perlahan-lahan memperkenalkan mengenai bagaimana estetika dilatarbelakangi oleh berbagai macam hal mulai dari kosmologis, mitologis, hingga filsafat. Kemudian kita disadarkan bahwa selalu terjadi perhelatan antara arjuna dan rahwana, Apollo dan dynisios,clasic dan baroque, menjelang penghujung buku pemahaman kita seakan utuh, dengan satu kesimpulan di kepala bahwa, banyak latar belakang yang mewarnai pembentukan citra estetis dari tiap budaya. Kutipan Aquinas mengenai 'Kebenaran adalah pencaran kebenaran’ menjadi landasan bahwa kebenaran dapat sangat prulal, dan tergantung preferensi masing masing. Namun dengan cantiknnya penghujung bab Romo Memberikan satu pertannyaan cantik mengenai kondisi realita bangsa yang masih tidak menikmati Arsitektur, masih tinggal di hunian yang tidak layak dan menderita. Maka pemahaman akan kebenaran yang prulal pun seketika berubah.

Kebenaran yang ingin disampaikan oleh Romo Mangun bukan semata-mata kejujuran bentuk, maupun pencarian transendensi belaka. Kebenaran adalah realita yang ada disekitar kita. Membangun bangunan harus melihat dampak bangunan kepada pengguna, juga sekitarnnya. Dengan
Gaya rahwana, ataupun gaya arjuna, keduannya harus bertolak pada pemahaman kebenaran adalah penyelesaian masalah di sekitar kita.

Romo Mangun tidak secara eksplisit, berkoar-koar dengan menuliskan hujatan dari awal bab saya rasa karena menyampaikan kritik mengenai kondisi pemerintahan serta negara ini sangat tidak bebas pada saat itu. Pada 1988, ketika Soeharto berkuasa media memiliki ruang gerak yang terbatas, sehingga Romo harus menampilkan kritik ini dengan lebih halus.

Hari ini aku mendapat satu pengalaman lagi. Betapa satu pesan masuk bisa mengubah lengkung bibirmu. Entah senyum menjadi muram. Atau murung menjadi sumringah.