lengkung

Lengkung senyumku malam ini berterimakasih padamu. Ia merengek memaksaku menyampaikannya padamu; ‘Terima kasih sudah membuatku merekah, esok atau jika boleh aku sedikit lancang, boleh menjaga lengkungku selamanya saja?’ Begitu yang ingin ia sampaikan.
—  Terima kasih dan selamat malam, Lanang. Jangan mimpi, tidur yang nyenyak saja.

normalkp asked:

halo mas jees, salam kenal!! bisa kau memberiku alasan bagaimana kau membuatku jatuh cinta pada tulisanmu? atau beri tahu aku, bagaimana kau pandai memancing lengkung senyumku lewat aksaramu? :))))

Hallo juga normalkp salam kenal balik. :)

Entahlah daku kurang tahu, daku hanya mengikuti silir-silir angin yang membisikan cerita. :D

cukup lama kaunanti
kicau burung di malam kelam
kokok ayam jago kala dunia terlelap
lengkung pelangi pada rangkulan gemintang

cukup lama kaunanti
tarian kunang-kunang dini hari
gelora bintang jatuh di pangkuan matahari
dan surya tertelan cerahnya pagi

tepatkah semua yang kau nantikan?
haruskah pagi merantau pada malam
dan malam berhijrah pada siang
agar kau menjabat tangan keadilan?

Katamu, senyumku yang paling manis kedua setelah ibumu.
Katamu, tawaku aneh tapi ngangenin.

Aku selalu ingat setiap kalimat yang terucap olehmu, sedikitpun aku tidak pernah lupa. Hmm ya sedikit suka lupa, aku kan juga manusia, ingatanku agak terbatas.

Kamu bilang lengkung yang terlihat di wajahku adalah bagian favorite-mu. Aku juga suka memperlihatkannya padamu, karena saat itu aku juga melihat bahwa kamu semakin menyayangiku.

Mudah sekali membuatmu terpikat olehku, aku menjadi sombong karenanya. Kamu seseorang yang memang tidak pernah membuatku penasaran, namun selalu menyuguhkan hal yang menakjubkan di hadapanku. Tentu saja kamu pantas mendapatkan lengkung indah di wajahku itu, bahkan kamu pantas menerima lebih.

Romantis caramu adalah bayaran pantas untuk setiap senyumku. Aku selalu memberikannya cuma-cuma, namun kamu tidak pernah membuatku merasa percuma. Nih, aku kasih kecup di pipimu sebagai bonusnya, kemudian kamu malah mengejekku genit dan tersipu malu.

Manisnya priaku, dengan rona merah di pipimu dan senyuman lucu itu. Aku mencintaimu, selalu.

Malam ini, lengkung senyum si ratu malam sudah hampir setengah. Bagaimana dengan milikmu? Tersenyumlah selagi punya bibir. Hehe, selamat malam.
—  d.

Ada semacam rasa yang hadir ketika menatap senyum yang ditujukan padaku. Ada juga perasaan meluap-luap ketika rindu dilepaskan pada si empunya. Rasa yang tercipta bila mendengar suara yang diimpi-impikan. Cinta tak begini lengkap jika tak ada rasa ini. Ah, aku sedang tidak ingin bermain tebak-tebakan. Padamu, Tuan. Sumber segala rasa yang sedang kubicarakan ini. Pada Tuan bermata indah dan senyum lengkung yang namanya selalu aku sebutkan pada Tuhan. Kunamai saja rasa ini sendiri, boleh?

Rasa ini namanya

:Bahagia

Karena Kata

08/2013

Karena kata-kata tidak berguna sudah jika kita terperangkap dalam dunia tanpa tatap muka dan nada bicara. Karena kamu tidak mengenalku dan aku tidak mengenalmu dan aku melupakan wajahmu setelah kita pertama kali bertemu kamu harus tahu itu. Karena saat itu aku jatuh cinta dengan suara notifikasi ponselku sambil mengingat keras bagaimana bentuk lengkung senyum bandelmu dan matamu yang konon memperhatikan lamunanku dan bagaimana wajahku tertimpa sinar matahari siang itu.

Dan aku tidak tahu mau memakimu dengan nama apa lagi. Karena seluruh kata makian sudah aku lontarkan untukmu di setiap pembicaraanku dengan semua orang kecuali kamu. Karena seluruh lagu tentang jatuh cinta –atau ketidak jatuhan cinta –sudah aku mainkan, membanting kunci-kunci piano yang tidak bersalah demi menyampaikan pesan keras-keras untuk kamu yang semoga tidak bisa mendengarnya. Aku malu.  

adolescentia

Kamu menemukan kata tersebut pada suatu hari, di tengah lembaran-lembaran kuning berbau apak yang nyaris tak tersentuh. Sebuah kesederhanaan dalam empat karakter kana yang berhasil mendefinisikan hal yang paling kamu senangi.

Komorebi.

Artinya, momen ketika sinar matahari menerpa pohon-pohon—seperti sekarang. Bagaimana cahaya keemasan menyelinap dari celah-celah daun pinus, menjadikan cokelat pada kuncir kudamu satu tingkat lebih cerah dan memberikan kenyamanan tambahan pada hamparan rumput yang menjadi alasmu duduk. Biasanya, kamu akan menyambut keramahan Tuan Senja dengan lengkung bersahabat di bibir, menikmati segala kehangatan yang sanggup diberikannya sambil memejamkan kedua mata. Namun hari ini, kamu urung membuka pintu, padahal sudah berkali-kali sang surya mengetuk. Sejak awal ketibaan, kau membenamkan wajah, menangis dalam keheningan hingga titik-titik air membasahi rok yang kau kenakan.

Ada beberapa orang yang lewat, dan kamu akan mulai meraung marah apabila mereka mendekat sebagai tanda bahwa ia tidak mau didekati siapa-siapa. Pikirmu, mereka tidak akan membantu. Mau bagaimanapun juga, mereka tidak akan pernah mengerti.

Pukul empat sore, dan auld lang syne mulai mengalun pelan dari tiap pengeras suara yang ada di Shinjuku Gyoen, mengikuti pengumuman akan penutupan taman dalam setengah jam ke depan. Akan tetapi, kamu menolak untuk beranjak—toh, masih banyak orang yang duduk-duduk santai di sekitarnya. Bahkan, kamu tidak punya rencana untuk kembali. Apabila bisa, kamu akan menyelinap masuk ke paviliun di seberang kolam ikan, menjadikan tas sekolah sebagai bantal tidur dan bermalam di sini sampai waktu yang belum ditentukan.

Hingga akhirnya, sesuatu menyentuh tengkukmu tanpa permisi.

Kamu tidak paham bagaimana lembut dan tajam bisa dirasakan dalam waktu bersamaan; makanya kamu menoleh untuk memeriksa. Dahimu mengernyit kala menemukan lipatan kertas berbentuk pesawat tidak jauh dari ujung sepatu merahmu. Kamu memalingkan wajah begitu merasakan ada bayangan tambahan yang meneduhinya, dan di sanalah berdiri seorang anak laki-laki dengan tas sekolah warna hitam tersampir di bahunya.

“Tamannya akan tutup sebentar lagi. Kita harus keluar.”

Kamu kembali membenamkan wajah, sedikit banyak karena malu mata sembapmu tepergok orang asing. “Pergi.”

“Nggak bakal sebelum kamu juga pergi.”

“Kenapa kamu begitu peduli?”

Anak laki-laki itu diam saja. Yang berikutnya terdengar adalah suara hardikan bapak petugas keamanan yang sedang berkeliling, pada dasarnya mengusir siapapun yang tersisa. Ada suara krasak yang terdengar, mendorongmu untuk mengintip. Si orang asing sudah membawakan tasmu.

Dengan demikian, hancur sudah rencanamu untuk memberontak. Kamu bangkit, memberikan tepukan-tepukan ringan pada bawahan, lalu merebut tasmu begitu saja. Anak laki-laki itu menolak untuk meninggalkanmu, berjalan di sampingmu tanpa berkata apa-apa. Setibanya di gerbang, ia mencegahmu untuk berjalan lebih jauh. “Biar kuantar sampai rumah.”

“Iie. Aku bisa naik kereta sendiri.”

“Sudah malam. Bahaya kalau anak perempuan jalan sendiri.”

Dalam pertemuan sesingkat itu, kamu berhasil menarik sebuah kesimpulan bahwa anak laki-laki itu gigih. Dia bahkan masih mengikutimu sampai di bawah rel Sendagaya, menuntun sepedanya sambil memberi senyum yang mengintimidasi dalam cara yang kau tidak bisa pahami. Mungkin karena senyumnya terlihat begitu tanpa beban, dan kamu tidak menyukainya. Lantas Kami-sama menyentilmu dengan karma; setibanya di stasiun, kamu mendapati kartu langganan tak bersaldo dan lima puluh yen terakhirmu telah habis digunakan untuk tiket masuk gyoen. Bakayaro.

Ketika kau berbalik, anak laki-laki itu masih bertahan dengan tersenyum—sekilas kelihatan seperti mengejek. Kamu mendengus tidak suka, tetapi ini pilihan paling baik. Rumahmu berjarak lima stasiun, dan tenagamu sudah dikuras habis oleh bendungan air mata yang kau biarkan bobol. Berat hati kamu menduduki sadel. Ketika ditanya dimana rumahmu, kau menjawab seadanya (“Naka-Meguro.”), tetapi anak laki-laki itu tampak antusias merespons bahwa rumahnya dekat dari sana.

“Memangnya rumahmu di mana?”

“Roppongi.” Wah, kawasan elit.

Kalau ada hal yang bisa diapresiasi dari anak laki-laki itu adalah bagaimana ia tetap gigih mengayuh tanpa mengeluh sama sekali. Kamu bisa melihat ada keringat menggantung di sekitar lehernya, tetapi dia tidak peduli dan tetap berusaha mengantarmu sampai depan rumah—dan ia berhasil. Kamu menatapnya begitu turun dari sepeda, mulai merasa kasihan. Namun senyum yang awalnya terlihat mengejek itu kini terlihat sangat bersahabat di matamu. Kamu salah. Yang ada di senyum itu bukan sindiran, melainkan keikhlasan.

“Ini untukmu.” Anak laki-laki itu memberikan pesawat kertas dari taman tadi, membuatmu kembali mengerut tidak paham.

“Buat apa?”

“Itu bisa membantumu melewati masa sulit.”

“Eh—”

“Jaa! Sampai jumpa besok, ya!” Ia bahkan tidak memberikanmu kesempatan untuk berbicara; langsung saja ia melengos dengan sepedanya. Kamu lantas terdiam di depan rumah, menatap pesawat kertas dalam genggaman dengan keheranan. Ilmu anak kelas 2 SD-mu tidak bisa membuat korelasi.

.

.

Sampai jumpa esok, katanya kemarin. Maka hari ini kamu datang lagi ke gyoen, dan kamu menemukan anak itu duduk di gazebo. Ia menyambutmu dengan cengiran yang begitu lebar, kelihatan puas sekali. Segera kamu duduk di sampingnya dan menyadurkan pesawat kertas yang kemarin dia berikan. “Gimana?”

“Apanya?”

“Bagaimana bisa sebuah pesawat kertas bisa membantu?”

Melihat tingkahmu yang menuntut, anak laki-laki itu makin merasa geli. “Aaah, kamu nggak mengerti, ya?” Ia mengambil origami sederhana itu dari tanganmu. “Terbangkan pesawat ini,” ia melempar pesawat tersebut, menukik sampai masuk ke dalam kolam—dan mulutmu membulat, “dan selagi pesawatnya terbang, anggap saja pesawatnya adalah bintang jatuh, jadi kamu bisa bikin permohonan agar masalahmu selesai.”

Kamu menatap anak laki-laki itu, merasa ditipu. Harusnya kau tidak membuang 50 yen lagi untuk menemuinya.

“Atau,” ia melanjutkan, “aku lebih suka cara lain.” Dia mengeluarkan buku tulisnya, mencabut dua kertas dari sana dan menyerahkan salah satunya kepadamu. “Tulis saja apa yang mengganggu pikiranmu di sana, lalu kita bentuk pesawat dan kita terbangkan jauh-jauh supaya itu nggak bakal mendarat di pikiranmu lagi.”

Harus kamu akui caranya aneh sekali, tetapi entah bagaimana, kamu menurut. Kamu berputar memunggunginya agar dia tidak bisa melihat apa yang kau tulis. Namun ketika kamu menyelesaikan kata terakhir, kertasmu ditarik dan kamu tidak sempat mempertahankan diri. “Kembalikan!” Kamu lancarkan pukulan ringan ke bahunya, tapi tak ada pengaruh.

“`Aku nggak suka jadi anak angkat`? `Aku nggak suka ibu yang pemabuk`…?”

Tinju-tinju kecil itu berhenti secara gradual, lalu kau menunduk. Malu, malu sekali. Semua aib hidupmu dibaca oleh orang asing yang bahkan kau tidak ketahui namanya. Kamu bahkan tidak mau peduli dengan bunyi krasak-krasak yang timbul. Lantas, kamu kembali merasakannya; sensasi tajam dan lembut dalam waktu bersamaan, kali ini di pipi, dan ketika matamu melirik, ada pesawat kertas lagi.

“Ayo kita terbangkan.” Anak laki-laki itu tersenyum—tidak selebar yang biasanya, tetapi tidak menghakimi. Seolah-olah dia tidak peduli dengan masalah memalukan yang baru saja ia baca. Yang ia pedulikan hanya bagaimana pesawatnya dapat terbang dengan baik.

Masih segan, kamu menerima pesawat terbang tersebut. Ia mengajakmu untuk berdiri mendekati tepian kolam. “Dalam hitungan ketiga, ya.” Lalu dia menghitung dengan semangat, dan ketika `san` diucap lantang-lantang, tanpa disadari tanganmu mendorong lipatan kertas itu dengan sekuat tenaga. Pesawatmu yang melesat lebih jauh, sebelum keduanya sama-sama berakhir menyentuh permukaan air yang hijau. Kamu menyaksikan bagaimana kertas itu pelan-pelan basah, lalu tidak sanggup lagi hingga akhirnya jatuh ke dasar. Detik dimana pesawat itu hilang dari pandanganmu; ada sesuatu yang mencelos. Seolah-olah bebanmu berubah menjadi riak yang sedikit demi sedikit memudar. Lalu tahu-tahu saja kau merasa—

“Lebih baik, kan?”

Kamu mengangguk. Anak laki-laki itu senang, kamu pun begitu.

“Oh, iya. Siapa namamu?” Kamu menjawab `Tomomi`, tetapi dia menginterpretasikannya lain. “Tomochan! Namaku Seulong, yoroshiku ne.”

“Surong?”

“Bukaaan. Seul-ong.”

“Su-rong…?”

Si bocah mencibir tidak senang sebelum wajahnya kembali cerah, seolah lampu di atas kepalanya kembali menyala. “Kamu kelas berapa?” Dua SD, kau menjawab. “Nah, karena aku lebih tua daripada Tomochan, panggil saja aku `Oppa`.”

“Op…pa?”

“Iya. O-ppa. Itu kayak Niisan di sini.”

“O-ppa…” Panggilan yang aneh. Namun siapa yang peduli? Kamu dapat teman. Itu sudah cukup.

.

.

Kamu tidak menyangka bahwa pada akhirnya kalian akan menjadi sangat akrab. Pulang sekolah, kalian akan bermain kemanapun yang kalian bisa. Kalau sedang tidak malas, gyoen akan kalian sambangi. Kalau ingin yang dekat-dekat saja, maka keliling Minato juga sudah cukup. Kerap kali kalian menikmati ramen di kedai yang katanya punya kuah paling enak, atau ke Harajuku buat lihat kostum-kostum aneh yang diam-diam ingin kalian coba. Sekali waktu kamu kesepian di rumah, dan dia akan datang, membuat dekorasi jendela dengan pesawat kertas kebanggaannya dan origami-origami lainnya.

Suatu hari, kalian akan pulang dari gyoen ketika seorang berjas hitam mendekati Seulong, berbicara dengan bahasa yang tidak kamu mengerti—Korea, sepertinya. Kamu ingat Seulong memang anak pindahan. Pria serbahitam itu tampak bersikukuh, sementara Seulong mulai meninggikan nada bicaranya, tetapi tetap sama kamu tidak paham.

Kemudian, “Tomochan, pulang sendiri nggak apa-apa, ya?”

“Yaaah, tapi kenapaaa?”

“Ano, aku….” Ada yang tidak beres?

“Aku mau ikut!”

“Nggak boleh. Tomochan nggak boleh ke rumahku.”

“Tapi kenapa?” Padahal kamu sudah berbaik hati mengundang anak itu ke rumahnya. Kenapa kamu tidak boleh mendapat hal yang sama?

Anak laki-laki itu cuma menunduk dan berucap `gomenasai`, sebelum akhirnya melengos naik ke sedan hitam bersama pria yang ternyata berprofesi sebagai supir tersebut. Dari balik jendela yang gelap, kamu melihat bocah itu masih menundukan kepala, menolak untuk paling tidak melambaikan tangan. Gurat risau yang terlukis di wajahnya membuatmu khawatir. Kamu sangat ingin tahu mengapa, bahkan kau merenungkannya hingga tanpa sadar kamu melewatkan stasiun tempat seharusnya kamu turun. Kamu jadi pulang larut sekali.

“Tomomi kemana saja? Kok, baru pulang jam segini?” Okaasan menyambut ketika kau baru saja melepas sepatu.

“Aku—” Kamu tidak sempat melanjutkan. Sosok yang baru saja muncul di belakang sana cukup untuk membuatmu kehilangan kata-kata. Itu Okaasan—yang sebenarnya. Bukan Kozakura Kaoru, tapi Igarashi Erika. Yang melahirkanmu, yang membesarkanmu, hingga pada satu titik wanita itu merasa lelah hingga melarikan diri pada hal-hal yang seharusnya ia jauhi. Karena itu, kamu membencinya. Karena itu, kamu segera lari naik ke kamar dan mengunci diri. Tidak satupun ketukan pintu kau gubris. Malam itu kau lewati dengan membenamkan kepala di bantal dan kembali membenci dunia.

.

.

Namun, dia kembali menyelamatkanmu.

Keesokan harinya adalah akhir pekan. Tidak ada lagi bunyi tok tok yang mengganggu kecuali Okaasan—Kozakura—yang mengajaknya pergi. Sepertinya Okaasan—Igarashi—sudah pergi, semalam hanya bertamu. Kamu menolak dengan dalih mau mengerjakan pekerjaan rumah. Lalu rumah kembali sepi. Demi membuang pikiran-pikiran negatif, kau memutuskan untuk sungguh mengerjakan PR matematika. Namun setengah nyawamu langsung hilang pada detik pertama kau duduk di depan meja belajar. Kepalamu jatuh ke meja, sementara jemari menari dengan pensil. Bosan.

Sejurus kemudian, matamu melebar kaget.

Dari jendela yang terbuka, masuk sebuah pesawat kertas tanpa permisi, mendarat di atas rentetan angka yang membentuk perkalian-perkalian sederhana. Sontak kau bangkit dari tempat duduk, melongok keluar, dan di sanalah anak laki-laki itu berada: berdiri di depan pagar rumah dengan senyum terbaiknya sambil melambaikan tangan.

Dan semudah itu, senyummu kembali.

.

.

“Nee, Oppa. Apa yang terjadi kemarin?”

Kalian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, tujuannya sungai dekat rumah. Lawan bicaramu tersenyum kecil.

“Cuma masalah kecil di rumah.”

“Masalah apa? Ayo Oppa, ceritaaa.” Namun dari air mukanya, kau tahu Seulong tidak akan bercerita. Lantas kamu mendapat ide ketika melirik pamflet yang terinjak oleh sepatumu. Kau memungutnya, menyerahkan kertas itu bersama dengan pensil yang tidak sengaja masuk ke kantungmu. “Kalau begitu, tulis masalah Oppa! Habis ini, kita terbangkan.”

Anak laki-laki itu memandangimu, sepertinya kurang suka idenya dicuri. Namun akhirnya ia mengambil dua benda tersebut, mulai menuliskan apa yang mengganggu pikirannya. Senyum jahilmu terbit. Tanganmu diam-diam merangkak, mencoba menarik kertas itu dan membaca isinya sebagaimana yang pernah dilakukan anak laki-laki itu terhadapmu.

“—nani suru?!”

Sialnya, kamu kalah cepat.

“Oppaaaa, kemarikan!” Kamu berusaha menggapai kertas yang diangkat tinggi-tinggi, tapi apadaya tinggimu bahkan tidak sampai seratus empat puluh sentimeter.

“Nggak boleh, ini rahasia.”

“Aku mau lihaaat!”

Dalam pertarungan kecil itu, yang laki-laki menang. Dia berhasil melipat kertasnya jadi sebuah pesawat paling buruk yang pernah dibuatnya, lalu buru-buru melemparnya. Alih-alih terbang, pesawat itu lebih tepat disebut jatuh ke sungai dan menghilang. Itulah yang membuatmu cemberut dan memukul lengannya. “Aduh!”

“Oppa jahat! Apa isinya?”

“Rahasia, bwek.”

“Iiih!”

Singkat cerita, hari itu ditutup dengan kau dan dia yang berlari mengejar satu sama lain di antara kesibukan Tokyo di akhir pekan. Namun kenyataannya, persahabatan kalian tidak pernah sesingkat itu, kan?

Lengkung

Dibalik lengkung senyummu ada pucuk-pucuk kebahagiaanku
Itu, alasan mengapa aku selalu tertawa disampingmu
Didalam lengkung matamu, ada hati yang ingin berteduh
Itu, alasan mengapa aku selalu menikmatinya
Jangan ajarkan aku tentang kehilangan, aku sudah paham benar
Sekali ini, aku letakan baik-baik apa yang telah jatuh,
pada lengkung hangatmu.

Hanya Lupa...

mungkin kamu memang lupa untuk bersiap,

ketika kamu memutuskan untuk datang dengan mendung yang sengaja kamu sembunyikan dibalik lengkungan senyum. nyatanya itu adalah jalan bagi sang hujan yang sudah sejak lama mengintai di kejauhan…

kemudian kamu tidak menyadarinya, mendung yang kamu sembunyikan menjelma menjadi hujan yang meneduhkan… kamu tahu itu keliru, ketika membiarkan dirimu terhanyut dalam melodi rintik yang kian lama kian deras, lantas menggenangi sekeping hati, milikmu satu-satunya.

memang dari sejak awal kamu lupa,

bahwa hujan yang turun itu akan melahirkan pelangi yang membingkai langit-langit kamarmu, lengkung senyuman yang dulunya lebih mirip seringaian itu pun menjelma menjadi warna indah yang mengudara.

terakhir,

“lupa” yang menjadi awal dari perjalananmu, ternyata menjadi jalan bagimu untuk memilih jatuh dan kemudian tersesat…

hingga akhirnya kamu lupa pada mendung yang dulu pernah kamu sembunyikan.

Harga Asus Zenfone 5 dan Spesifikasi, Layar 5.0 inchi

Harga Asus Zenfone 5

Harga Asus Zenfone 5 terbaru- Asus Zenfone 5 dirilis bersamaan dengan Asus Zenfone 4. Kedua ponsel pintar tersebut tentunya memiliki perbedaan. Pada Asus Zenfone 5 terbentang layar seluas 5.0 inchi, lebih luas 1 inchi dari Asus Zenfone 4.

Disain yang elegant dengan keempat sudutnya berbentuk lengkung. Selain itu juga tersedia beberapa pilihan warna chasing Asus Zenfone 5 terdiri dari Charcoal Black, Pearl White dan Cherry Red.

Review Spesifikasi dan Harga Asus Zenfone 5

Ponsel pintar Asus Zenfone 5 mempunyai ukuran 148.2 x 72.8 x 10.3 mm dengan berat 145 gr. Pada layar seluas 5.0 inchi, Asus Zenfone 5 tersebut telah tersemat teknologi layar sentuh IPS capacitive touchscreen. Tampilan Asus Zenfone 5 makin bening dengan 16juta varian warna, 720 x 1280 pixels, dan kerapatan 294 ppi.

Asus Zenfone 5 telah melengkapi layarnya dengan lapisan anti gores jenis Corning Gorilla Glass 3.  Sehingga pengguna tak perlu kawatir ponselnya akan tergores benda tajam atau goresan akibat penggunaan.



Asus Zenfone 5 dipacu oleh mesin prosesor Dual-core 1.2 GHz dan bersanding dengan RAM 2Gb. rakitan chip Intel Atom Z2520 menambah kecetan multitasking. Sedangkan system operasi dari ponsel pintar Asus Zenfone 5 menggunakan Android OS, v4.3 (Jelly Bean), dan dapat di upgradable menjadi v5.0.2 (Lollipop).

Harga Asus Zenfone 5

Harga Asus Zenfone 5 pada saat perilisan diumumkan Rp 1.775.000,00 untuk unit new. Sedangkan Harga Asus Zenfone 5 untuk unit second dilepas pada angka Rp 1.400.00,00.

Saat ini Harga Asus Zenfone 5 turun menjadi Rp 1.650.000,00 untuk unit baru. Dan untuk unit bekas Harga Asus Zenfone 5 menjadi Rp 1.300.000,00.

Harga Asus Zenfone 5 di atas dapat mengalami kenaikna atau penurunan. Hal tersebut karena Harga Asus Zenfone 5 juga dipengaruhi oleh permintaan pasar atau adanya series baru.

Semoga informasi Harga Asus Zenfone 5 dapat menginspirasi anda.

 

�������!�:

7 Smartphone Gahar Yang Masih Dinantikan

Jakarta - Banyak model smartphone telah dirilis tahun ini. Sebut saja produk papan atas seperti Galaxy S6, Xperia Z4 sampai LG G4. Tapi para penggemar smartphone masih akan disuguhi beberapa smartphone gahar yang pantas dinantikan.

Sebut saja Samsung yang sedang mempersiapkan jagoan barunya. Atau Xiaomi yang siap meluncurkan flagship terbarunya. Simak prediksinya berikut ini yang dihimpun dari berbagai sumber.

1. Galaxy Note 5

Demi menghadang kehadiran iPhone 6S, Samsung berencana merilis generasi terbaru Galaxy Note lebih awal. Tersiar kabar Galaxy Note 5 bakal melenggang pertengahan Agustus mendatang di New York, Amerika Serikat.

Dua hari setelah diperkenalkan di New York, Samsung kabarnya bergerak cepat dengan langsung akan memboyong Galaxy Note 5 ke beberapa pasar utama mereka. Lantas seperti apa speknya?

Galaxy Note 5 dirumorkan memiliki layar lengkung berukuran 5,7 inch dengan resolusi QHD. Tidak diketahui apakah jenis lengkungannya seperti S6 Edge atau LG G4. Penerus Galaxy Note 4 itu kabarnya akan memiliki bodi dengan bahan material kaca pada sisi belakang. Hal ini tentu mengekor dari kesuksesan Galaxy S6 dan S6 Edge.

Di dapur pacunya ada prosesor Exynos 7422 SoC (System-on-Chip) dan RAM 4 GB. Kamera utamanya 16 MP dengan OIS (Optical Image Stabilization) dan pengambilan video 2160p. Sedangkan kamera depannya 5 MP. Note 5 turut dilengkapi solusi wireless charging yang akan kompatibel dengan standar WPC dan PMA. Baterainya sendiri dilaporkan sebesar 4.100 mAh.

2. Galaxy S6 Edge+

Samsung kabarnya akan merilis versi baru smartphone andalannya, Galaxy S6 Edge. Namanya diduga adalah Galaxy S6 Edge+. Bocoran penampilannya pun sudah beredar di dunia maya.

Sesuai namanya, S6 Edge+ lebih besar dari Galaxy S6 Edge versi biasa, kemungkinan layarnya seluas 5,7 inch. Sedangkan soal bentuk persis sama, dengan layar lengkung di kedua sisi. Dalam bocorannya, Galaxy S6 Edge+ disandingkan Galaxy Note 4 dan ukurannya tidak jauh beda. Galaxy S6 Edge+, kabarnya dipersenjatai SoC (System on Chip) Exynos 7420 dengan chipset prosesor Snapdragon 808 di atasnya. Sedangkan besaran RAM yang dipakai masih sama seperti Galaxy S6 Edge, yakni 3 GB.

Peluncuran resmi Galaxy Note Edge+ kemungkinan berbarengan dengan Galaxy Note 5 pada pertengahan Agustus.

3. Xiaomi Mi5

Saat ini, ponsel terbaik Xiaomi adalah Mi4 yang sudah beredar cukup lama. Produsen asal China yang sedang naik daun itu pun tengah mempersiapkan penerusnya, Xiaomi Mi5 yang mungkin rilis resmi jelang akhir tahun ini.

Mi5 kabarnya akan diperkuat oleh prosesor buatan Qualcomm, Snapdragon 810, dengan RAM 3 GB. Kamera depan dan belakang akan beresolusi 13 dan 16 megapixel, baterai 3.000 mAh dengan OS MIUI yang berbasis Android 5.1.

Xiaomi Mi5 dibekali layar LCD 5,2 inch dengan Gorilla Glass 2.5, resolusi 2560 x 1440 pixel. Sementara versi yang lebih besar, Mi5 Plus, akan dibekali layar 5,7 inch dengan resolusi QHD.

Prosesor Mi 5 Plus juga akan menggunakan prosesor yang lebih kencang, yaitu Snapdragon 820. Termasuk baterainya yang akan berkapasitas 3.500 mAh. Mi 5 kabarnya akan dijual dengan harga USD 386 atau sekitar Rp 5,1 juta (USD 1 = Rp 13.000), dan Mi 5 Plus akan dijual dengan harga USD 600.

4. Motorola Moto X 2015

Moto X generasi terbaru terlihat mempunyai layar berukuran 5,5 inch dengan kamera depan yang dilengkapi flash. Dan konon kabarnya Motorola akan menyematkan sensor sidik jari yang terintegrasi di speaker bawah.

Motorola sendiri telah menyebar undangan untuk peluncuran produk barunya pada tanggal 28 Juli. Ponsel lain yang juga akan diluncurkan di acara tersebut adalah Moto G 2015. Acaranya sendiri akan diadakan secara serentak di tiga kota berbeda. Yaitu London, Sao Paulo, dan New York.

“Your relationship status is about to change,” demikian sapaan dalam kalimat pembuka di undangan acara tersebut. Tagline tersebut kemudian diikuti pula dengan ‘XOX, Moto’ yang bisa menjadi petunjuk salah satu atau lebih dari satu perangkat yang akan dirilis.

Kabarnya di acara tersebut Motorola akan meluncurkan beberapa ponsel sekaligus. Antara lain adalah dua jenis Moto X, yaitu seri biasa serta seri Sport. Moto X Sport disebut-sebut akan mempunyai layar lebih kecil (5,2 inch) namun punya bodi yang lebih tahan banting.

5. OnePlus 2

OnePlus 2 akan dirilis resmi 27 Juli mendatang. Jika dirangkum dari bocoran spesifikasi yang sudah diberikan oleh OnePlus, OnePlus 2 akan dilengkapi dengan prosesor Snapdragon 810, RAM 4 GB, kamera belakang 16 megapixel dan kamera depan 5 megapixel.

Baterainya berkapasitas 3.300 mAh, mempunyai layar 5,5 inch namun mempunyai dimensi bodi keseluruhan yang lebih kecil. Harganya disebut tak akan melebihi USD 450 alias di bawah Rp 5,85 juta (USD 1 = Rp 13.000).

OnePlus mengaku tahu masalah overheat yang ada di prosesor buatan Qualcomm itu. Namun mereka mengklaim kalau masalah panas berlebih itu tak akan terjadi di OnePlus 2, seperti dilansir Phone Arena, Kamis (18/6/2015).

Itu karena OnePlus menggunakan Snapdragon 810 v2.1, yang kabarnya sudah disetel sedemikian rupa baik dari segi hardware maupun software. Selain itu, OnePlus 2 akan dilengkapi dengan lapisan gel penghantar panas, juga material graphite di dalamnya

6. Xperia Z5

Baru juga seumur jagung dirilis di Indonesia, Sony Xperia Z3+ dilaporkan bakal segera punya penerus. Adalah Xperia Z5 yang konon bakal meluncur pada bulan September mendatang.

Nah kini, bocoran penerus Z3+ ataupun Z4 sudah kasak-kusuk diisukan di dunia maya. Perangkat yang diyakini bernama Z5 itu disebutkan bakal punya spesifikasi yang lebih bertaji. 

Mulai dari prosesor 820 SOC, RAM 4 GB serta baterai dengan kemampuan 4.500 mAh. Pemindai sidik jari juga dilansir GSM Arena bakal menjadi fitur 'pemanis’ di perangkat ini. Dari sisi kamera, Xperia Z5 konon bakal mengandalkan sensor 21 MP Sony Exmor RS IMX230 CMOS dengan kemampuan 4K video recording dan kapabilitas HDR.

DDan seperti yang sudah-sudah, di samping versi reguler, Sony diproyeksikan juga akan membawa versi mini (compact) dan Ultra (phablet) dari Z5.

7. iPhone 6S

Apple dipastikan merilis penerus iPhone 6 menjelang akhir tahun ini. Kemungkinan bernama iPhone 6S, handset ini kabarnya sudah memasuki masa produksi awal oleh pabrikan rekanan Apple.

Meski belum tampak sepenuhnya, mulai beredar penampakan desain yang akan diusung oleh iPhone 6S. Tapi kelihatannya tak ada yang berubah pada desainnya, karena sekilas tampak bentuknya masih sama saja dengan iPhone 6.

Rumor yang beredar menyebut iPhone 6S akan dibenamkan prosesor Apple A9 dengan pabrikasi 14nm buatan Samsung. Sementara itu besaran RAM-nya disebut sudah mencapai angka 2 GB. Termasuk juga bagian kamera yang mendapat sentuhan, konon kamera iPhone 6S kemampuannya meningkat jadi 12 MP.

iPhone 6S sepertinya juga akan dilengkapi dengan layar berteknologi Force Touch. Teknologi yang sama sebelumnya digunakan Apple di Apple Watch dan MacBook generasi baru. Force Touch bisa mengenali tingkat kekerasan tekanan yang diberikan ke layar. Dan data tersebut bisa digunakan untuk menambah pengalaman penggunanya.

Luka Yang Tak Laku

Luka yang kau ciptakan
Sedang bersembunyi
Di ketiak kata-kata masam,
Menyesali dirinya dilahirkan
Oleh sepasang bibir hitam
Yang kehilangan lengkung–dicuri
Dan dibuang waktu
Yang terburu-buru

Kau pencipta luka
Masih tinggal disana
Di hari lalu.

Saat pagi masih muda
Aku bergegas pergi ke pasar
Menjajakan anak-anak luka
Berharap dibeli seorang saudagar
Yang bosan membeli kebahagiaan

Kutemukan diriku sendiri
Sebagai penawar tertinggi.

Andi, 2013

Tanda tidak berjodoh

Apa kamu tahu beberapa tanda ketika dua orang itu tidak berjodoh?

Ketika yang satu sudah berlari, sedang yang satunya masih diam saja..

Karena pada dasarnya seseorang berjodoh itu ketika dia mampu berjalan bersama beriringan..Ketika sudah masanya dan keduanya memiliki kecepatan yang berbeda maka sulit bertemunya.. namun ada juga ketika seseorang itu menurunkan kecepatan dan menunggu, sedangkan seseorang lainnya memacu sehingga mereka bisa bertemu..

Tanda berikutnya ketika sudah berbeda arah dan berasal dari titik yang sama serta masing membentuk garis lurus..

mustahil bisa dipertemukan dalam satu titik ekuilibrium.. karena jodoh pasti membentuk titik keseimbangan.. tak perlu dalam banyak hal, sudah cukup ketika tingkat chemistry mereka sama.. bisa jadi dari titik yang sama.. memisah.. membentuk garis lengkung dan bertemu kembali.. bisa jadi dari dia titik dari asal yang berbeda dan bertemu di titik ysng sama..

Tanda berikutnya adalah “bobot” yang tak seimbang, hal ini mampu mengurangi kecenderungan..

Pada dasarnya seseorang itu mencari seseorang yang setara, ketika bobot mereka sudah berbeda seringkali rasa pesimis itu mendera, apakah aku bisa pantas dengannya? Banyak orang merasa tak pantas memilih untuk mundur teratur.. namun ada saja yang maju, karena dia percaya diri dengan usaha dan doa yang menjadi kesehariannya untuk bisa setara dengan pujaan hatinya..

Bisa jadi ketika kamu dekat dengannya, namun terasa “jauh” mungkin dia bukan jodohmu.. bisa jadi ketika kalian berjauhan namun terasa “dekat” mungkin dia juga bukan jodohmu.. karena yang kamu rasakan bisa jadi itu hanya sekedar perasaan.. terus jodohmu siapa? Ya si dia yang sudah kamu ikat dengan akad.. karena segala kemungkinan tentang jodoh akan terhenti ketika sudah mencapai di pelaminan.. saran saya berhentilah menebak nebak, berharap sih boleh, karena berharap adalah salah satu partikel kecil dari doa.. yang penting jangan lupa berusaha dan berdoa supaya pantas dengannya serta dia mau ketika kamu meminta izin untuk bisa hidup bersama dia..

Luwar

Luwar – DraconisChantal

thesonderchronicles.tumblr.com

Luwar—(verba) Bebas; terbebas

               Namanya Niskala. Dia adalah gadis lima belas tahun yang menjalani harinya dalam rutinitas. Rambutnya disisir rapi dan diikat satu setiap pagi, tampak tanpa cacat sampai penghujung hari. Tulang tangannya kecil dan kulitnya pucat, tak peduli sesering apa ia menghabiskan waktu di bawah siraman terik mentari.

               Namanya Niskala. Entah sejak kapan, ia selalu berada di dekatku. Aku ingat bermain bersamanya ketika aku berada di tempat penitipan anak. Taman kota adalah tempat kesukaanku. Aku dapat bercerita panjang lebar di sana, dan Niskala tak pernah mengeluh. Ia juga ada ketika aku diharuskan pergi mengunjungi Nara—seorang wanita paruh baya berwajah kaku yang tak pernah tersenyum—setiap hari Sabtu selama tiga bulan berturut-turut. Ketika kunjungan wajib itu berakhir, aku menghabiskan kebanyakan waktu senggangku dengan berbincang bersama Niskala, gadis yang tak pernah kesulitan menarik kedua sudut bibirnya menjadi lengkung kurva kecil.

               Namanya Niskala. Sama sepertiku, ia tak ingat di mana dan kapan kami pertama kali bertemu. Ketika aku menanyakan hal ini kepadanya, ia hanya mengendikkan bahu seraya berkata, “Tak tahu. Tiba-tiba saja kamu ada di hadapanku.”

               Entah aku yang tiba-tiba ada di hadapannya, atau dia yang tiba-tiba ada di hadapanku. Kedua hal itu sama membingungkannya, dan aku serta Niskala tak pernah benar-benar memikirkannya.

               Namanya Niskala. Meski senyum nyaris tak pernah absen dari wajahnya, mata hitamnya selalu tampak redup, indolen. Aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Selama ia menemaniku, aku tak akan mempermasalahkan apa pun.

Niskala—(adjektiva) Abstrak; tidak berwujud

-oOo-

               Kalau ada hal yang paling kubenci, akan kukatakan bahwa hal itu adalah warna putih.

               Menurut Niskala yang tak pernah lelah membaca, warna putih identik dengan kesucian dan kebersihan. Fakta baru itu tak mengubah pandanganku.

               Entah sejak kapan, dengan aku yang telat menyadari, aku sudah dikelilingi oleh warna putih. Aku tak yakin sudah berapa lama aku mendekam di sini. Cukup lama hingga aku membenci warna yang seolah mengepungku.

               Perkenalkan, namaku Saru. Aku tak ingat berapa umurku. Selain umur, aku juga mulai melupakan wajahku sendiri. Bukan sepenuhnya salahku. Ruangan tempatku melakukan segala aktivitas—tidur, mandi, makan—tidak menyediakan cermin. Menurut Niskala, wajahku tak banyak berubah. “Masih sama seperti kali terakhir kau melihat cermin,” begitu katanya. Akan lebih mudah kalau aku ingat bagaimana rupaku di dalam cermin dulu.

Pada satu titik dalam hidupku, orangtuaku, yang wajah dan namanya tak kuingat, membawaku menuju sebuah bangunan besar, memberitahuku bahwa, “Sayang, ini adalah rumah barumu,” dan menghilang di balik pintu. Pada beberapa bulan pertama (atau yang kupikir adalah beberapa bulan), mereka mengunjungiku dengan rutin, hanya untuk sekedar mengucapkan satu, dua kalimat tak penting. Kadang, mereka membawakanku beberapa pak makanan ringan.

Pada salah satu kunjungan, di saat hujan turun dengan lebat di luar, aku meminta mereka untuk membawa beberapa buku bacaan.

“Untuk apa?” tanya Ayah. Kantong matanya semakin jelas terlihat saat ia berbicara. “Bukankah membaca membuatmu mengantuk?”

Aku tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi kecil berantakan di balik bibir. “Untuk Niskala,” aku menjawab. “Dia bosan di sini. Menurutnya, kalian tak benar-benar menyayangiku, makannya aku dikirim ke sini. Tapi hal itu tidak benar, kan?”

Ibu, yang kuingat senang memakai gaun musim panas, memaksakan diri untuk tersenyum. Rambutnya, yang tak kuingat warnanya, tampak kusam. “Maaf, Sayang,” katanya perlahan, “kami tak tahu apakah kami boleh membawakanmu beberapa—“

“Niskala,” koreksiku.

“Ya, Niskala. Kami tak yakin apakah kami boleh membawakan Niskala,” suaranya tercekat di kerongkongan, seolah menyebut nama Niskala membuat tenggorokannya terbakar, “beberapa buku.”

“Memangnya, siapa yang akan melarang?”

“Oh, well…”

Aku tak ingat bagaimana kunjungan itu berakhir, tapi masih kuingat saat Ayah menggumamkan sesuatu, dan Ibu menepuk-nepuk terusannya berkali-kali.

Sejak saat itu, mereka berhenti mengunjungiku.

“Mereka tak senang karena kau bergaul denganku, kau tahu,” kata Niskala flegmatis. “Itu sudah jelas.”

“Kau tak membawa pengaruh buruk, kenapa mereka tak menyukaimu?”

Niskala mengangkat bahu, kembali mengepang rambutnya yang tak pernah tumbuh lebih panjang seinci pun.

Pada suatu hari, pintu ruanganku terbuka. Seorang wanita berpakaian serba putih maju tak lebih dari dua langkah dari pintu, dan meletakkan kantong plastik besar di lantai. Ia memandangku sebentar, tertegun entah karena apa, kalakian bergegas untuk meninggalkan ruangan.

Kantong plastik itu berisi buku. Buku-buku dalam jumlah yang banyak. Niskala tak pernah tersenyum begitu lebar sebelumnya.

Aku, yang tak pernah dibacakan cerita pengantar tidur sebelumnya, dengan mudah terlelap begitu suara halus mulai mengisi kesenyapan, dan perlahan menjadi pusat kosmosku.

               “Mimpi indah, Saru.”

Saru—(adjektiva) Samar, tidak dapat dibedakan

-oOo-

               Niskala mempunyai sesuatu yang magis di dalam suaranya. Caranya bercerita begitu ajaib. Suaranya akan mengisi telingamu dan menyerap seluruh perhatian yang kau miliki. Ia dapat menciptakan sebuah atmosfer yang berganti dengan cepat. Mendadak, kau akan berada di sebuah negeri antah berantah, sebuah utopia yang kau pikir tak nyata eksistansinya.

               Kata-kata yang menyelinap keluar dari bibirnya seperti sebuah mantra yang menyihir. Mau tak mau, otakmu akan menciptakan ilusi. Hanya butuh beberapa saat sampai sebuah imaji bukanlah imaji lagi. Sebuah ilusi perlahan melebur dengan realita.

               “Bagaimana caramu melakukannya?”

               “Melakukan apa?”

               “Yang selalu kau lakukan saat membacakanku cerita. Seperti sebuah sihir yang berbahaya.”

               Niskala menarik ujung bibirnya seperti apa yang selalu ia lakukan. “Aku tak melakukan apa pun,” jawabnya tenang.

-oOo-

               “Sayang, dengan siapa kau berbicara?”

               Aku tak mengingat masa kecilku dengan jelas, tapi ada beberapa keping memori yang selalu ada di sana, menolak dihapus waktu.

               Saat itu aku berada di dalam kamar. Niskala dan aku duduk di atas karpet. Buku-buku berserakan di segala tempat.

               “Niskala,” aku menyahut ketika ditanya oleh Ibu. Ia masuk setelah mengetuk pintu kamarku pelan. “Ada apa?”

               “Niskala? Di mana ia saat ini?”

               “Dia ada di sini,” kataku, agak bingung. Bukankah sudah jelas Niskala ada di sana?

               “Oh, benarkah? Ibu tak melihat orang lain selainmu di dalam kamar ini. Apakah kau yakin, Sayang?”

               “Ia ada di sini, Bu,” jawabku sekali lagi, kali ini dengan telunjuk yang mengarah lurus ke depan, tempat di mana Niskala berada. “Dia tak pernah meninggalkanku. Ia bilang, aku akan pergi ke tempatnya suatu saat nanti. Menyenangkan, ya?”

               Wajah Ibu seputih dinding ruanganku. Lalu, yang terdengar hanyalah jeritan panjang yang melengking,

-oOo-

               “Niskala?”

               “Ya, Saru?”

               “Aku ingin berada di tempat yang kau ceritakan setiap malam.”

               “Kau dapat berada di sana selamanya, kalau kau mau.”

               “Selamanya? Tapi selamanya terdengar begitu lama.”

               “Oh, ya, memang lama. Bukankah itu berarti kau dan aku dapat bersenang-senang lebih lama? Banyak tempat yang belum kuceritakan kepadamu. Kita dapat mengunjunginya bersama.”

               “Bagaimana caranya? Apakah aku dapat kembali ke sini?”

               “Pertama-tama, kita harus memecahkan kaca jendela itu. Kedua, kita melompat. Bersama.”

               Bersama, untuk selamanya.


Ditulis untuk tugas Kelas D (01): Cerpen bertema bebas