lengkung

Aku menengadahkan wajahku,
Kata Ibu di ataslah letak surga bukan di lengkung senyummu.

Telapak tanganku menimbang, seberapa pantas air mataku jatuh di hadapan altarmu.

Apakah kau sang pembawa cahaya yang paling rajin menjerumuskanku dalam dosa?

Aku terus bertanya pada Ibu “seberapa keras kepala kah Tuhan itu?’

Made with Instagram
Writing Project - Pelangi

Langit mendung
tak lagi berkabung.
Indah lengkung
warna-warni tergantung.

Berganti sudah tumpah tangis
Lengkung warna menghias
Indah memukau
Lupa sudah kelabu

@bekuankenangan

Kelabu pun berlalu
Berganti warna
Lengkung demi lengkung menyatu
Hati pun terpana​

@aquamari-ne

Terpana akan indahmu
Terpikat oleh gradasinya
Namun sedih
Ujungmu tak sanggup kugapai

@komaniak

Aku hanya mampu menatap
Mengagumi penuh harap
Melukis pun aku tak mampu
Pelangiku, maukah jadi jembatan rindu?

@eunheesa

Maukah kau menjadi satu dari sekian bukti bahwa tangan-tangan langit membantu?
Kali ini, biarkan kuanggap bisumu sebagai tanda setuju
Karena menunggumu–yang kulihat hanya hilangnya ronamu satu-satu
Hanya membuatku kembali membatu bersama rindu

@ayisafarillah

Kelunya rindu membuatku menangis tiada henti.
Menahan raga yang ingin didekap oleh cintanya.
Dan kupeluk erat-erat lutut kakiku demi menggantikan dekap hangatnya.
Perih, namun tak mengapa, ini akan menjadi hal yang kelak biasa hatiku terima.

@tyaudhitkd

Biasa, aku sudah terbiasa dibuat menunggu tanpa jeda
Menantimu yang belum tentu nampak eloknya
Meski tangisan cengeng langit selalu menjadi pembuka
Yang membuatku mengigil gila karena dinginnya rindu penuh nestapa

@ibnumafruhin

Kamu tega sekejap mencuri perhatian
Memberikan senyummu pada semua orang
Namun indahmu hanya tersentuh oleh mata
Tanpa pesan kau menghilang

@iffanf

Menghilang di kaki langit dan seperti itu caranya berlalu
Menghilang pada batas waktu, untuk terunduh
Kembali dari kanvas biru
Lalu, apa kalian masih tak punya ragu untuk menautkan rindu disitu?

@budimch

Bagaimana bisa aku ragu menautkan rindu di kehadiranmu.
Jika kehadiranmu selalu saja menciptakan senyum simpul di wajahku.
Warna-warnimu di semesta biru
Mengundang rindu yang memburu.

@traumrahmen

Begitulah cara pelangi melangit
Meninggi tanpa beban ia harus tinggi
Seperti dirimu yang semakin indah setiap hari
Membuatku tak bisa berpaling barang sedetik

@bintangayu

Aku memburu langit
Ingin menggapai warna-warnimu
Tangan ini mungkin takkan sampai
Tapi kaki ini akan menuju warna-warnimu

@hijaudibawahujan

Langit terkadang menjadi pembohong ulung
Birunya seketika berganti mendung
Namun tetiba, ia memaksaku menutup payung
Menikmati pelangi dengan dominasi warna lembayung

@missklise

Pelangi yang pergi
setelah isak tangis bumi
Pelangi yang menepi
bersiap menghapus airmata semesta, lagi.

@tehochaa

Memberi warna,
pada gelapnya angkasa
Memberi harapan,
pada setiap tetesan hujan.

@lalatkata

Bening biru menyibak sebak
Ungu hanya menyisakan sendu
Aku menatapmu pada diam yang dalam
Ketika kelabu telah berlalu

@zeahameeda

Aku ingin berteriak
Aku ingin dia

Aku harus berbisik
Semua orang harus merelakannya

Agar semua harap terbingkai dalam niatnya
Agar pelangi tercipta di tangannya

@indrapria

Terlepas dalam khayalan
Tersadar dari lamunan
Kukira cuma angan yang memberatkan
Ternyata ada kenangan yang tak bisa kulepaskan

@misaqh

Ingatan itu masih ada
Melengkung indah bersama bias warna
Satu masa berjuta warna
Kini tersimpan menjadi rahasia

@andinest

Bukan kamu yang seharusnya dipuji,
Karena kamu hanya biasan yang tercipta,
Tuanmulah yang seharusnya dipuji,
Karena Dia sang Maha Pencipta.
@adoasme

Hanya dari bias Kau mampu menggurat langit kelam
Hanya dari bias Kau mampu menghibur dunia
Hanya dari bias Kau mampu melengkungkan senyum
Hanya dari bias Kau mampu melukis bahagia

@pertigaankekiri

Tak ada gemuruh yang tak dapat direda
Dengan segala kuasa yang Engkau punya semburat warna menghiasi angkasa
Hujan mereda pelangi menyapa
Sempurna tanpa ada cela

@aarinarin


Sebuah Writing Project dari Bujang-Dare KITAKalimantan. Selamat menikmati~
@tumbloggerkita@kitasumatera@kitajabar@kitajabodetabek@kitajateng@kitajatim@kitasulawesi@curhatmamat

Setelah sekian lama, kita membungkam satu sama lain.
Seakan-akan ada sebuah problema membelenggu kita.
Hari ini semesta mengizinkan kita bertukar cerita lagi. Walau tak sampai satu jam perbincangan.
Banyak yang berubah dari kamu. Rambutmu tak begitu gondrong seperti awal perkenalan itu. Lebih rapi, walaupun aku tak terlalu suka. Kumis itu, kini begitu lebat menghiasi lengkung bibirmu.
Entah mengapa, sekarang kamu juga lebih memilih diam. Tidak seperti dulu, kamu selalu mencari obrolan hingga larut malam. Sampai kita tertidur satu sama lain, walaupun kita masih terhubung via telepon.
Namun ada satu yang tak berubah dari kamu. Hingga sampai saat ini, kamu selalu bilang ‘aku gereja dulu, ya’ di tengah perbincangan manis kita
untuk engkau yang pandai menyembunyikan

aku bukan orang yg hebat menebak kata bukan juga orang yang ahli membaca mimik wajah. tapi aku tahu di balik sumringahmu tersembunyi sesuatu.. engkau memang sangat pandai menyembunyikan.

sampai tidak ada orang yang sadar bahwa segaris lengkung di wajahmu berisi irama hujan di belakangnya. toh siapa yang akan peduli. dunia hanya peduli dengan kemahsyuran, kegembiraan, dan matahari terbit.

aku tahu tertawamu menghilangkan gelap tapi aku tak yakin itu bisa menghilangkan gelapmu. engkau hanya berusaha menghapus kelabu orang banyak tapi engkau terlalu egois dengan hujanmu sendiri. tidak ingin berbagi, engkau memang pandai menyembunyikan.

bersamamu seperti labirin.. penuh jebakan, penuh tebakan, penuh perhitungan..

jika aku menemukan pintu yg satu engkau sudah berpindah ke pintu lainnya. aku tidak bisa menebak pintu yang mana. memang engkau sangat pandai menyembunyikan.

aku khawatir engkau bersembunyi terlalu lama. aku khawatir pintu yang aku tuju tertutup terlalu rapat. aku khawatir engkau terlalu hebat menyembunyikan.

aku akui engkau memang pandai menyembunyikan.

Garis, segitiga, separuh lingkaran, garis lagi, lingkaran sempurna, garis, segitiga, persegi, sebuah lengkung, garis, garis, segitiga


Lalu titik.

Tanganmu berhenti, tak sanggup lagi menari-nari. Segala kau sudahi. Kau lipat, rapi. Taruh di tempat paling sembunyi. Kau langkahkan kaki. Pergi.


Selesai.
Meski tangan dan kakimu sesekali rindu menari, rindu kembali.

Made with Instagram