lengkung

Lupakah kau bahwa aku adalah satu-satunya yang selalu percaya bahwa kau mampu?

Satu-satunya yang sabar di tiap jatuhmu?

Satu-satunya yang menemani di tiap jejak gontaimu?

Satu-satunya yang tiap malam mengusap air mata gagalmu?

Satu-satunya yang ikhlas kau marahi hanya karena saat itu sedang buruk harimu?

Lalu sekarang di suksesmu, mengapa kau pilih dia?

Padahal dulu di setiap hitam putih kelamnya hidupmu, aku adalah satu-satunya pria yang mampu melihat warna pelangi di lengkung bibirmu.

Ingatan pertamamu tentang kecewa mungkin tertumbuk pada sebuah sepeda roda dua. Saat itu, usiamu masih berbilang satuan, lalu kamu melihat sepeda-sepeda lucu tengah terparkir di setiap halaman rumah milik teman-temanmu. Seketika, tak ada apapun di pikiranmu selain ingin memilikinya juga. Kamu pun pulang ke rumah, berlari menggebu-gebu untuk bertemu dengan ayah dan ibumu, lalu meminta untuk dibelikan sebuah sepeda, agar sama seperti teman-temanmu.

Tanpa diduga, ayah dan ibumu hanya tersenyum. Kamu yang saat itu masih kecil mungkin memang belum paham arti menunggu dan menunda sesuatu. Lalu kamu pun menangis di pangkuan ibu. Ayahmu diam saja, tapi lama-kelamaan beliau menawarkan sebuah cara, “Bagaimana jika kamu ayah belikan sebuah celengan saja dulu agar bisa menabung untuk membeli sepeda nanti di awal tahun depan?” Sebagai anak kecil, kamu begitu kecewa sebab merasa tertolak dan ah entah apa. Ibumu diam saja, meski ia ingin segera menyisihkan banyak uang belanja agar sepedamu segera didapat, tapi kepatuhannya pada ayah membuatnya tidak cukup berani untuk melanggar sebuah kesepakatan.

Tak ada pilihan lain, kamu pun menurut saja: menabung setiap hari meski tak tahu kapan tabungan itu akan cukup. Hingga suatu hari, tibalah pada hari yang dijanjikan untuk membeli sepeda. Kamu kaget, karena ketika celenganmu dipecahkan, isinya tak cukup, jauh sekali dari cukup. Tapi ternyata, ayah tersenyum bangga kepadamu lalu mengajakmu untuk berjalan ke sebuah sudut persembunyian. Tanpa diduga, beliau jauh-jauh hari telah membeli sepeda itu. Kamu pun bahagia, bahkan jauh lebih bahagia karena sepedamu, meski datangnya seolah terlambat, ternyata tak kalah cantik dengan milik teman-temanmu.

Tanpa terbayangkan sebelumnya, ternyata tak mudah untuk mengayuh sepeda. Tapi ayah dan ibumu jauh lebih bersemangat daripada dirimu sendiri untuk mengajarimu mengemudikan kendaraan kecil itu: dipeganginya kamu dari belakang, didorong sesekali, dan diawasinya agar kamu tidak sampai jatuh ke kubangan. Tak mudah, berkali-kali kamu terjatuh, sepeda itu pun mulai lecet di banyak sisi, lalu kakimu biru-biru tersebab pedal sepeda yang keras membenturmu. Menangis? Tentu saja, tapi ternyata kegigihanmu untuk terus mengayuh sepeda mengalahkan segalanya.

“Sakit sedikit engga apa-apa, ya, Nak? Ibu obati, ya. Ini akan perih, tapi obatnya baik karena akan membuat lukamu cepat kering. Kamu boleh menangis sebentar sambil peluk Ibu kalau memang kesakitan, ya!” dengan lembutnya tanpa berbohong Ibu pun mengobatimu: membersihkan lukamu dan menyiramnya dengan alkohol. Saat itu, kamu menangis hebat. Ah tentu saja, anak kecil mana yang akan tahan jika lukanya disiram alkohol. Kalau saja saat itu kamu sudah besar, mungkin kamu akan berpikir, “Mengapa obat menyakitkan dan bukan menyembuhkan sejak pertama?” Tapi ternyata Ibu benar, keesokan harinya luka itu sudah tidak terasa, hingga kamu pun bermain sepeda lagi, seperti biasa.

***

Bertahun-tahun kemudian, tepat ketika kamu beranjak dewasa, kamu mulai paham mengapa tak mudah bagi ayahmu dulu untuk membelikan sepeda. Ternyata, saat itu ayahmu sedang ingin mengajarkanmu tentang makna berjuang, menunda kepuasan, dan bersabar terhadap apa-apa yang diinginkan. Ah, kalau saja kamu dulu mengetahuinya, pasti hatimu tidak akan memilih untuk marah, bersedih, apalagi kecewa.

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menggerakkanmu untuk kembali berjuang, menunda kepuasan, dan bersabar terhadap apa yang kamu inginkan?

Bertahun-tahun kemudian, ketika sesuatu terjadi pada hatimu, kamu mulai paham mengapa dulu kamu kecil bisa begitu bersemangat mengayuh sepeda. Ternyata, semua itu adalah karena tak ada rasa soal batas-batas ketidakmungkinan, hingga terus belajar dengan gembira membuat hatimu lapang untuk terus mencoba: mengayuh sepedamu hingga jauh ke tepian. 

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menggerakkan jiwamu untuk tahan banting terhadap kegagalan-kegagalan lantas kembali bergerak untuk mengayuh pedal agar roda hidupmu kembali berputar?

Bertahun-tahun kemudian, ketika lukamu menganga dan berdarah, kamu mulai paham mengapa dulu rasanya sesakit itu ketika ibu mengobati luka-lukamu. Ternyata, semua itu adalah karena ibu ingin lukamu selesai. Sama seperti nasehat-nasehat baik yang kamu terima ketika hidup membenturkanmu pada banyak kejadian yang menyisakan luka, mungkin nasehat-nasehat itu membosankan, klise, dan seolah tidak berpihak pada apa yang kamu rasakan. Tapi nyatanya semua benar

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menjadi obat bagi luka-lukamu hingga kamu mengerti bahwa setiap ketetapan adalah baik dan menumbuhkan?

Selamat kembali ‘mengayuh sepeda’ dan menyelesaikan setiap lengkung perjalanan. Jangan berhenti, kumohon jangan, sebab di depan sana ada kejutan. Sebentar lagi, atas seizin-Nya, insyaAllah kamu akan segera sampai. Ya, sebentar lagi sampai :”)

_____

Picture: Pinterest

Retorika Tanpa Suara

Aku adalah pendengar yang baik bagimu, atau mungkin yang terbaik? Karena aku mendengarkan dengan hati, aku mendengarkan tanpa menyela, bahkan seringnya mendengarkan tanpa didengarkan.

Tak masalah bagiku, karena di ujung ceritamu selalu terlukis garis lengkung nan manis. Sebuah senyum simpul karena sedihmu terurai di depanku. Sesederhana itu bahagiaku.


Aku adalah penolong yang hebat untukmu, atau mungkin yang terhebat? Karena aku rela berubah menjadi apa yang kau butuh, aku bahagia menjadi orang lain untuk memastikan bahagiamu utuh.

Tak masalah untukku kehilangan diri sendiri, karena setidaknya akulah satu-satunya yang menemanimu meski singkatnya hari. Sejenak yang terasa lama, sebentar yang terasa manis.


Aku adalah seseorang yang ingin menuntutmu bertanggungjawab atas lakumu selama ini. Atas pencurian hatiku olehmu. Sebuah tuntutan yang ternyata tak pernah bisa dilayangkan.

Karena kamu memang tak pernah mencuri hatiku, karena pada kenyataannya akulah yang menyerahkannya. Sukarela tanpa dipaksa.


Pada akhirnya, semua yang kulakukan ini bagimu hanyalah sebuah retorika tanpa suara. Sebuah nyanyian tanpa nada, sebuah intonasi tanpa kata. Sebuah perjuangan yang tak kau sadari, atau sebuah pengharapan yang olehku terlampau tinggi. Karena bagimu aku ada, namun hanya untuk sekedarnya saja.

Entah sampai kapan aku memperjuangkanmu dalam-dalam, entah berapa lama aku bertahan dalam diam.


Tapi percayalah, aku bukannya belum menemukan waktu yang tepat untuk menyatakan isi hati, aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk patah hati.

Saya tidak perlu banyak alasan untuk memutuskan jatuh cinta padamu. Karena dengan menatap lekat matamu dan lengkung senyum di bibirmu saja, saya sudah jatuh cinta.

Jarak dan rindu

Malam ini aku bercengkerama dengan gerimis, yang rintiknya sejak tadi seolah memuisikan sebuah rasa yang membersamai jarak. Rindu.

Bicara soal jarak, bagi sebagian orang terdengar tak menyenangkan. Mungkin juga bagiku. Tetapi itu dulu, sebelum akhirnya kamu datang dan memberiku alasan untuk merindu.

Detik itu, masih terekam jelas di kepalaku, kali pertama aku mulai mengabadikan lengkung senyummu dalam pigura sederhana di ponselku. Senyum yang dengannya aku merasa bahagia, melantarkan mataku seolah enggan beranjak untuk luput memandanginya. Namun, lagi dan lagi semua perihal jarak, yang membatasi ruang pandangku terhadap sosokmu yang berada dalam radius tak dekat.

Terkadang bahkan seringnya aku merenungkan satu hal. Bagaimana bisa rindu memegang peran seperti itu, ia meluluhlantakkan jarak yang nyatanya terbentang di antara kita. Ia melipatnya dengan rapi tepat pada tiap sisi serta sudutnya. Lalu meniadakan ragu, yang kerap merutuk menghiasi prasangka yang sulit diredam, sebab raga tak mampu saling mendekap untuk menenangkan batin satu sama lain.

Karena jika jarak adalah suara paling lantang yang pernah ada, maka rinduku adalah bahasa kalbu paling bisu adanya. Bagaimana tidak? Ia paham betul perihal rasa antara dua manusia yang tak bisa saling bertatap netra. Ketika jarak menghadirkan jeda, maka rinduku menjelma kata yang tak memerlukan tanda tanya pada akhir kalimatnya.

Rindu ini terus menjalar, menyisir aliran jarak inci demi inci tanpa alpa. Masing-masing dari kita tak menjanjikan bahagia yang sempurna, tetapi kita percaya bahwa setia dan doa mampu meleburkan segala kegundahan jiwa. Jika rindu ini mampu dikirimkan bersama untai bait-bait doa, maka temu dan hidup bersama kelak akan jadi sebuah muara, hingga jarak antara kita hanyalah sejauh dua tatap mata yang bertemu di satu titik yang sama.

Tangerang - Yogyakarta
26 Februari 2017
@hujankopisenja & @duatigadesember

#kolaborasi #prosa #jarak #rindu #hujankopisenja #duatigadesember

Foto-foto di Instagram, dari akun (si)apapun itu, semakin memantapkan keyakinanmu, bahwa: lengkung alis sempurna ialah yang seperti “itu”, bentuk tubuh ideal ialah yang seperti “itu”, hubungan yang amat spesial–dengan pasangan maupun teman– ialah yang seperti “itu”, jalan-jalan paling paripurna ialah yang seperti “itu”, makan-makan paling haqiqi ialah yang seperti “itu”, prestasi paling patut dibanggakan ialah yang seperti “itu”, mazhab yang harus diperjuangkan mati-matian ialah yang seperti “itu”, dan, resepsi pernikahan yang afdol beserta calonnya, ya…, yang seperti “itu”.

Seperti itu, kan?

Bahagialah Kau Bersamanya

Entah kenapa, rasanya aku pernah mengalami malam yang sama seperti hari ini. Ada getar dan firasat yang membawaku pada benang-benang kenangan bersamamu yang sekian lama sudah usang. 

Teringat pada lisanmu yang ketika itu berkata sungguh ingin menungguku, namun maaf, aku sendiri tak rela membuatmu terlalu lama menunggu. Sementara, belum kuat aku menahan beban harap yang kau percayakan padaku kala itu. Aku masih belum mendapatkan kata kunci, masih meraba-raba mencari jati diri.

Maafkan aku, oh, duhai kau. 

Meskipun, ya, akhirnya kusingkirkan rasa kecewa dan kuantarkan kau pergi dengan sukarela. Sakit memang rasanya, takkan bisa kulupa betapa banyaknya linangan air mata. Kau, yang sempat kucinta, berhak mendapat yang lebih baik dan lebih dewasa, pun mampu membersamaimu dengan secinta-cintanya jiwa dan raga. 

Sedangkan aku, bila tak melepaskanmu, tentu takkan tega terus membuat kau meluapkan luka yang sulit terungkapkan. Aku rasa kau benar-benar bisa membunuhku saat itu dengan aksi bungkammu bila terus menunggu kepastianku. Karenanya, dengan penuh kesadaran, pada sosok yang lain saja cintamu kupersilakan. Belumlah terlalu lama benih cinta itu mengakar, lebih baik dicabut saja sebelum ia terlampau mencapai dasar.

Meskipun ya, sisanya luka cabik yang, oh Tuhanku, tak tertahankan perihnya. Kau dan aku, sama-sama saja. Bukankah memang karena cinta itu dijalin oleh dua jiwa? Mestilah sakitnya sama terasa dan setara.

….

Perlahan, segala kebiasaan itu pun hilang hingga kita pergi ke penjuru mata angin yang bertolak belakang. Kita tahu, kita sama-sama ingin menyembuhkan luka ; kita tentu paham bahwa segalanya akan berdamai pada waktunya, bukan?

Hingga hari ini,

Berita bahagia itu datang, bagimu. 

Dari sini aku turut mendoakan, semoga setelah ini luka bagimu berganti sukacita, bagai titik hujan di awal penghujan yang menghapus samsara keringnya kemarau yang melanda. Bahagialah kau bersamanya, pada ia yang kau pilih untuk menopangkan harap dengan begitu siap. 

Maaf, nanti aku takkan datang. Tetapi ya, kurestui kalian dalam sepenuh-penuhnya kesadaran dan hati yang lapang. 

Kukirimkan sepucuk surat rindu untuk bila suatu waktu kita dapat bertemu dan kembali tersenyum seperti masa lalu. Hingga kini, memang kita belum bicara lagi. Tapi semoga suatu saat, dengan lengkung senyum yang lain, semoga bungkam ini dapat berganti dengan senyum-sapa yang melegakan

Semoga, di lain waktu, ya. Berbahagialah dengannya, sebagaimana yang kurasa ketika kita dulu pertama kali bertemu.


Happy Wedding!

Kamu
— 

Telah kucari segala keburukanmu, telah ku koleksi segala bukti bahwa kau pantas ku biarkan pergi.

Namun, lagi-lagi aku kalah dengan butanya hati. Ia sudah tak bisa diracuni. Sebaliknya, hanya dengan lengkung bibirmu aku terjungkal sangat dalam.

Tuan, kau membuatku kesal!
Sayap-Sayap Patah

“Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin itu. Semua perkara yang dialaminya selalu baik. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan jika mengalami kesulitan ia bersabar. Hal seperti ini jelas hanya ada pada diri seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Tanpa disadari, kita memiliki ‘sayap-sayap’ yang tak kasat mata. Sayap-sayap itulah yang bisa kita gunakan untuk menyusuri setiap lengkung-lengkung perjalanan dalam hidup, tanpa peduli jarak, musim, atau medan perjalanan. Apakah itu? Adalah sabar dan syukur, keduanya bagai sayap kanan dan kiri yang bisa membawa kita terbang merendah dan meninggi. Ketika ujian-ujian menjadikan kita merasa kecil dan rendah, kepak sabar dan syukurlah yang mengangkat kita untuk tetap tegak hingga bisa tetap terbang menuju pada keridhoan-Nya. Sebaliknya, keduanya juga bisa menerbangkan kita ke arah yang lebih rendah guna menahan kita yang meninggi karena nikmat-nikmat yang didapat.

Umar bin Khaththab pernah mengatakan, “Andaikan sabar dan syukur adalah tunggangan, aku jadi tak peduli mana yang harus aku kendarai.” Seharusnya memang demikian, sebab, sabar dan syukur adalah ciri khas kehidupan seorang mukmin. Jika tidak sedang bersabar, pastilah ia sedang bersyukur. Jika tidak sedang bersyukur, pastilah ia sedang bersabar. Tapi, apakah hal itu terjadi pada diri kita dalam keseharian yang kita jalani, dalam peran hidup yang kita lakoni, dan dalam ujian-ujian yang kita hadapi?

Aku tidak tahu apa yang persis terjadi pada kalian, aku hanya tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri. Entahlah, sayap-sayap itu seringkali patah, kawan! Bukan dipatahkan keadaan, tapi aku yang sengaja atau tanpa sengaja mungkin mematahkannya sendiri. Betapa tidak, ujian kerap kali menggodaku untuk melupakan sabar, pun kebahagiaan yang juga menggodaku untuk longgar terhadap syukur. Aku kalah, pantas saja jika mungkin ternyata aku memang tidak terbang kemana-mana, sebab sayapku patah oleh ulahku sendiri. Bagaimana denganmu? 

Bagaimana pun, semoga kita terus berupaya untuk menyediakan ruang dan waktu agar bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga dalam bentuk apapun ujian itu datang, entah kesedihan atau kebahagiaan, kita tetap bisa terbang dengan dua sayap dalam genggaman. Sabar dan syukur, semoga sayap-sayap itu tak patah berkali-kali.

Penghujung Sunyi

Kugariskan malam dengan ujung sunyi yang runcing,
gambar lengkung senyum manismu menyatu pada kerlip bintang.

Rinduku lantak, berteriak, tapi takberontak,
hanya terdiam, dalam gelap yang kelam.

Hanya satu yang kutakutkan, bila aku terjaga dari lelap,
maka, selesailah mimpiku pada cintamu yang selalu tetap.

_________
Serang, 8 Februari 2017

Risna Sanbe Days ( @risnasanbe )

Sepenggal waktu yang tersisa diantara bibir sore iyalah senja.
Iya tak lebih indah dari fajar sebenarnya, dan fajar juga tak lebih indah dari kelopak matamu yang menyilaukan pandang.
Selamat hanyalah ucap.
Dan semoga adalah harap dari doa yang mendekap.
Jadilah baik diantara hati-hati yang kau jadikan rumah. Nyamanlah hingga kau terlelap dan lupa kelak kau kan menua seperti mereka.
Bahagia selalu ya sanbe~

( @sitimasruroh )

Semburat jingga ialah binar matamu kali ini. Teduh menatap rona masa pada penapakan usia. Kala hanya sebatas angka ketika lapang menyeruak bersama takdir. Bak surya yang enggan padam meski tenggelam. Sebab esok kan datang lagi bersama sejuta mimpi yang akan kau arungi. Selamat bertambah usia kak Risna semoga puisi-puisi indahmu akan selalu kubaca dan mewarnai RA.

( @duatigadesember )

Nuansa langit merah saga menghantar batara pulang ke peraduan. Di detak waktu yang sama, alunan melodi rindu mengiringi dedaunan kering yang bergemirisik disapa angin. Raut wajah penuh suka cita tergambar jelas dari lengkung senyummu, tetap indah meski waktu tak sedikit pun melambat atau bergerak mundur. Bersama rotasi lini masa, kau tapaki jejak-jejak usia. Menggantung asa setinggi bumantara, merapal doa seluas jagat raya. Selamat mendewasa, Risna. Bersama udara yang melingkupi atmosfer semesta, kuaminkan jutaan kata semoga, yang terbaik dari rumpunan doa-doa mulia. Selamat berbahagia 😊

( @hujankopisenja )

Di setiap hadir mentari yang terus berjanji bersinar lagi. Menumbuhkan harapan-harapan sang pemimpi.
Selamat berjuang petualang sejati. Ribuan hari yang kau lalui. Dimulai fajar menyingsing hingga berganti malam yang hening. Usia bukanlah hanya sebuah angka. Tetapi juga tahap-tahap di mana dunia memintamu mendewasa. Menambahkan hal-hal luarbiasa setiap harinya. Selamat menempuh usia yang baru. Dunia yang lebih seru ka RISNA SANBE. SEmoga puisimu menjadi saksi indah dari hidupmu. Tetaplah menjadi rendah hati dalam segudang prestasi yang kau miliki.

( @rizadwi )

Hidup ibarat sebuah jalan. Ada yang lurus dan bebas hambatan, ada yang berkelok-kelok dan bergelombang, bahkan ada jalan buntu yang juga sempit. Untuk menuju suatu tempat, terkadang kau harus melewati semuanya, yang suatu waktu bisa menyesatkanmu tanpa tau arah. Selamat berulang waktu, tetaplah berjalan dalam keyakinanmu. Apapun rintanganmu, seberapapun sulitnya jalan yang kau tempuh, tetaplah bersabar dan lalui dengan penuh kesungguhan. Semoga perjalanmu selalu dimudahkan, sesuai dengan peta impianmu.

( @ibnufir )


Common @rayuanhujan @biashujan @kotak-nasi @ahmedfauzyhawi @wangsadiredja @gelangkaret @arian @putrawhillyam @tigapuluhnovember

(Can't) Let You Go

Ada sebuah langkah yang rapuh dan kenangan yang luruh. Bibirku bergetar. Di hadapan pualammu, aku kembali merapalkan penyesalan. Tujuh tahun sudah kamu pergi dan kita tetap dibatasi oleh tanah dan udara.

Di bawah sana, bersemayam jasadmu yang takmampu lagi kurengkuh. Dadaku sesak. Tanah yang memelukmu telah kering, tetapi tidak dengan kelopak mataku. Masih kerap digenangi lautan nestapa, yang tenang dalam ruang kesedihanku.

Dan kini, ratusan hujan sudah kulewati dan rasanya masih saja sama; mengandung kenangan tentangmu. Tentang momen-momen yang dulu kita semayamkan di dalam dada namun kini pelan-pelan memudar.

Hingga di detik ini, kutapaki jalan basah berpayung langit gelap. Senada dengan warna parka yang melekat di tubuhku, memeluk gemetarnya. Membahasakan pilu yang belum rampung seperti kala kuantar pergimu.


Aku … takbisa berkata apa-apa. Ingin rasanya memaki diri sendiri berkali-kali. Mungkin sampai mati. Sampai aku menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang begitu sayat. Mengapa … mengapa aku sepatah ini kehilanganmu? Mengapa aku selemah ini takbisa melepas kepergianmu?


Ribuan kalimat tanya terkurung dalam kepalaku, membelenggu. Takbisakah sebentar lagi kamu berada di sini, menjelaskan padaku perihal menerima sebuah kepergian. Aku, masih menunggu di sini, menagih janjimu untuk kembali. Akrab dengan sunyi, yang setia menjadi teman semenjak lengkung senyummu taklagi ada bersamaku.

Dan ketika hujan kian menderas, rinduku padamu selalu terjun bebas. Hunjam dan bertubi-tubi. Aku selalu terbada tetiap malam. Perlahan mencoba untuk melepaskan. Tuhan, ajari aku cara melakukannya.

Merelakan memang takpernah mudah. Terlebih perihal kamu yang pergi tibatiba, tanpa mengajarkan aku membiasa. Tuhan, sekali lagi kumohon, ajari aku cara melakukannya. Melepas segala yang memang sudah taklagi ada.

Namun, pada akhirnya, kala hujan mereda, jawaban itu tak kunjung kutemukan. Detik demi detik bergulir, kenanganmu seakan terus menarikku. Seperti deburan ombak yang menjauh melawan kehendak semesta; kian lama, aku terus tertelan. Hingga senyap menyelimuti diriku seutuhnya.

Mungkin jawaban yang aku cari ialah pergi menggapaimu atau bertahan di perasaan yang dalam tentangmu.

Bogor - Tangerang
April 2017
@ariqyraihan - @hujankopisenja

Dan pada akhirnya, senja yang selalu ku tunggu itu semakin menjauh lalu hilang dan tenggelam. Namun, sejatinya ia tidak untuk meninggalkan. Ia hanya mempersilahkan dewi malam untuk menebarkan senyuman kepada para penduduk bumi dengan lengkung sabitnya yang begitu menawan.
Untukmu yang pernah membahagiakan ku sebelum Kesedihanku, aku sangat bahagia bisa mengenalmu, menunggu kabar darimu adalah hal yang selalu aku suka dan lengkung senyum di bibir ku terukir ketika notifikasi dari mu tertera pada ponsel pintarku. Dan untuk mu yang pernah menerbangkan ku pada cerah nya langit sebelum kau menjatuhkan ku pada gelap nya jurang. Aku berterima kasih untuk hari-hari yang pernah kita lalui bersama. Atas segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang pernah kau berikan, aku masih sangat mengingatnya. Perlahan tapi pasti. Perhatian itu kian pudar, kasih sayang darimu tak pernah aku dapatkan lagi . Hingga aku tak pernah menemukan lagi notifikasi darimu dalam ponsel pintarku. Untuk mu masa laluku, dimana pun kau berada dan dengan siapa kau bersama satu hal yang perlu kau tahu aku tidak akan pernah melupakan mu aku pun berharap kau begitu. Biar bagaimanapun kita pernah saling membahagiakan, bukan kah begitu?.
SELFIE2 #3: Hidup Kita Geje (?)

Kalau sedang merasa bosan, beberapa orang seringkali memilih untuk pergi dari rumah dan berjalan-jalan tanpa tujuan. Entah itu dengan alasan mencari udara segar, melihat pemandangan, atau apapun, perjalanannya nyatanya memang tanpa tujuan. Ujung-ujungnya bisa jadi membeli sesuatu yang padahal tidak ingin dibeli, pergi ke tempat yang sebenarnya tidak ingin dituju, dan merasa menyesal ketika kembali pulang ke rumah karena ternyata perjalanannya melelahkan dan menghabiskan banyak uang. Ya memang begitu kalau tanpa tujuan, akhirnya geje alias engga jelas! Hayoooo, apakah kamu pernah merasakannya?

By the way, bagaimana kalau ternyata masalah geje karena tanpa tujuan itu juga terjadi di hidup kita? Coba dicek, apakah tujuan hidupmu di dunia ini?

Saat tingkat akhir dulu, orientasi masa depan selalu menjadi topik menarik yang tak bosan diperbincangkan oleh sesama mahasiswa. Perbincangan itu dibicarakan di berbagai tempat dalam berbagai kesempatan: di ruang kelas, di lorong-lorong fakultas, di kantin, di perjalanan pulang kuliah, atau bahkan dimana saja. Seolah-olah, mahasiswa-mahasiswa yang paling jelas tujuan hidupnya adalah yang mampu menentukan apa yang akan dilakukan atau ditempuh setelah lulus.

Tepat beberapa hari sebelum sidang akhir, dosen pembimbing saya bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?” Saat itu, saya dengan percaya dirinya langsung menjawab, “Ada tiga hal yang ingin saya lakukan setelah lulus: bekerja, menikah dan kuliah. Saya belum tau mana yang akan saya lakukan terlebih dulu, tapi kalau boleh memilih, saya lebih ingin kuliah dulu.” Standar, bukan? Rasanya setiap mahasiswa tingkat akhir yang ditanya pertanyaan serupa pun akan memberi jawaban serupa: bekerja, menikah atau kuliah. Saat itu saya bangga sebab merasa memiliki tujuan.

Kemudian obrolan pun semakin memanas ketika dosen saya bertanya, “Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin melanjutkan kuliah? Aneh, bukankah profesi ini memang menuntut akademisinya untuk melanjutkan kuliah agar bisa membuka ruang prakteknya secara pribadi? Saya yakin beliau paham akan ini, tapi mengapa masih ditanyakan? Saya pun menjawab, “Saya ingin menjadi Psikolog dan membuka klinik pribadi.” Jawaban saya ini ternyata memunculkan pertanyaan yang lain, “Wah menarik, apa yang membuatmu ingin membuka klinik pribadi?” Ini tidak sulit untuk dijawab, kemudian saya berkata, “Saya tidak ingin bekerja dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Jika membuka klinik pribadi, saya akan dapat mengontrol waktu kerja saya sendiri. Dengan begitu, saya akan bisa optimal dalam mengabdikan diri dan kehidupan saya untuk suami dan anak-anak kelak.”

Nampaknya obrolan ini belum cukup selesai, dosen saya bertanya lagi,

“Lalu, jika nanti suamimu sudah bangga memiliki isteri yang rela mengabdi sepertimu dan anak-anakmu pun sudah bangga memiliki ibu idaman sepertimu, apa lagi yang akan kamu lakukan?”

Saya pun melirik ke atap, mencoba memikirkan jawabannya, “Tidak ada.” Dosen saya tersenyum simpul seraya kembali bertanya, “Memangnya apa yang akan kamu rasakan jika semua itu sudah terjadi dan sudah kamu miliki? Saya yang semakin bingung dengan arah obrolan pun menjawab, “Ketika semuanya sudah tercapai, saya tentu akan merasa bahagia.

Saya berharap pertanyaan itu selesai, tapi nyatanya belum, saya ditanya lagi, “Jadi, apakah saya bisa menyimpulkan bahwa hidupmu pada akhirnya adalah untuk mencari bahagia? Saya hanya mengangguk-angguk perlahan sambil menjawab, “Hmm, sepertinya begitu.” Dosen saya tersenyum lagi, “Kamu yakin?” Dengan berpura-pura percaya diri, saya menjawab, “Iya. Tentu saja!” Dalam hati, sebenarnya saya merasakan kebingungan yang luar biasa. Apakah memang hidup saya adalah untuk mencari bahagia? Hmm, sepertinya ada yang salah, tapi apa? Ah, sudahlah!

Sejak hari itu, saya mulai memikirkan baik-baik tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup saya. Tapi, tidak ada jawaban lain yang saya temukan selain semua jawaban yang sudah saya utarakan. Hingga sampailah satu minggu kemudian ketika saya bertemu dengan dosen saya dan kembali ditanya, “Bagaimana, sudah terpikirkah tentang apa yang akan kamu lakukan setelah mencapai bahagia? Malu-malu saya menjawab, “Belum, Bu. Setelah bahagia, saya bingung saya mau apa lagi …”

Dosen saya pun membetulkan posisi duduknya dan lebih dekat mengarah pada saya seraya menjelaskan,

“Hidupmu bukanlah semata-mata untuk memastikan kamu jadi magister atau tidak, melanjutkan buka klinik atau tidak. Semua itu tidak akan dipertanyakan ketika nanti kamu pulang ke akhirat. Kelak, yang harus kamu pertanggungjawabkan adalah tentang bagaimana penyikapanmu ketika keduanya terjadi dan bagaimana juga penyikapanmu ketika keduanya ditakdirkan tidak terjadi. Apakah kamu akan semakin mendekat kepada Allah atau sebaliknya? Manusia boleh saja memiliki tujuan-tujuan hidup di dunia, tapi tidak boleh lupa bahwa hanya ada satu tujuan yang Allah kehendaki untuk setiap manusia.

Air mata saya mulai menggumpal di pelupuk, “Satu? Apa itu?” Sambil menunjukkan salah satu lembar yang ada di Al-Qur’an, beliau menjelaskan, “Allah menciptkan kita dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya. Itu saja.” Ah, saat itu rasanya seperti banyak petir yang menyambar! Bagaimana bisa saya tidak mengetahui bahwa ternyata hanya ada satu tujuan hidup yang dikehendaki-Nya? Saya kemudian yakin bahwa tujuan hidup yang selama ini saya kira sudah jelas adalah tujuan yang hampa, samar dan sementara. 

Eh gimana doooong? Hidup kita sebelum-sebelumnya ini ternyata geje! Kita hanya seperti orang yang menempuh perjalanan jauh sampai lelah, melewati lengkung-lengkung jarak yang sangat jauh, tapi tidak pernah tahu hendak kemana dan apa yang dituju.  Padahal, Allah telah berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Q.S Al-Bayyinah (98) : 5)

Kawan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Tenang, muslim itu hidupnya engga galau. We have to move up!  Ayo kita perbaiki semua ke-ge-je-an ini. Atas semua tujuan-tujuan dunia yang dimiliki dan (sedang) diupayakan, semoga dapat dipastikan bahwa landasannya adalah untuk menjalankan satu-satunya tujuan hidup yang dikehendaki-Nya: beribadah kepada-Nya.

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

You’re Worth It

Suatu siang menjelang sore, di kantor….

“Menurut kamu, kenapa aku layak untuk mendapatkan beasiswa ini?”

“3B”

“Apa itu?”

“Brain, Beauty, and Behavior.”

“Haha. Kayak acara di universe aja. Serius atuh, buat daftar beasiswa ini loh!”

“Iyaa. Alasannya karena kamu itu bla…bla…bla…bla”

“Serius?”

“Yaudah kalau enggak percaya”

“Hmm…hmm. Aku tulis gitu ya, thank you”

Ada banyak persyaratan yang harus dilengkapi untuk mengajukan beasiswa. Selain IELTS, tenyata untuk menyiapkan surat rekomendasi juga butuh usaha lebih. Untuk meminta surat rekomendasi ini, seharusnya tinggal mengontak dosen yang kita kenal lalu kirim form dari penyelenggara beasiswanya dan menunggu balasan dari beliau. Namun, beberapa dosen akan meminta form yang telah diisi terlebih dahulu. Agar beliau bisa mereview, mengedit untuk menambahkan atau mengurangi sesuatu, dan selanjutnya menandatanganinya.

Sebenarnya gampang untuk mengisinya, hanya saja beberapa hari lalu terhambat oleh sebuah pertanyaan, yang buat diri ini jadi enggak efektif.

“Why should the applicant be considered for a scholarship?”

Bingung nulisnya, karena selalu kepikiran,

“Layak gak yaa? Pantes gak ya? Bisa amanah enggak ya? Se-worth it apa diri ini?”

Terus enggak jadi nulis, nutup leptop lagi. Yasalam. Gitu terus sampai deadline.

Terus semua mimpi terkubur dalam karena alasan enggak layak, dan enggak pantas!

(Alhamdulillahnya deadlinenya masih lama. Masih ada kesempatan berbenah. Jangan siakan)

***

Dalam sebuah video yang (kalau enggak salah) dibuat oleh Jubilee Project. Ada suatu cerita yang menarik.

Pada suatu hari ada seorang pelukis yang ingin membuat sketsa wajah seseorang tanpa melihat orang itu sendiri. Ia melukis appearance seseorang hanya berdasarkan cerita yang dipaparkan. Ia menggerakkan pensilnya berdasarkan apa yang ia dengar, bukan berdasarkan apa yang ia lihat.

Datanglah seseorang dihadapan sang pelukis. Antara pelukis dan orang itu hanya berbatas selehai kain yang tidak tembus pandang.

Pelukis tersebut mulai membuat sketsanya.

Orang tersebut menceritakan bagaimana lengkung bibirnya ketika tersenyum, bentuk matanya, alisnya, pipinya, hidungnya, rambutnya dan semuanya. Hingga selesailah sebuah sketsa wajah yang dibuat oleh sang pelukis.

Selanjutnya, datanglah orang lain lagi. Orang baru ini bisa bertemu dengan orang sebelumnya dan mereka diberikan waktu beberapa menit untuk bertegur sapa. Lalu, ketika orang yang pertama pergi, orang yang baru datang ini diminta untuk menceritakan tentang appearance orang pertama yang ia temui sebelumnya. Lalu sang pelukis membuat sketsa baru berdasarkan cerita dari orang baru itu.

Kemudian, setelah selesai barulah sang pelukis meminta dia menceritakan tentang dirinya sendiri.

Bagaimana rambutmu, matamu, hidungmu, pipimu, bibirmu?

Begitu terus hingga terkumpulah beberapa sketsa. Kemudian sang pelukis menyandingkan dua sketsa wajah untuk setiap orang. Pertama, sketsa wajah yang dibuat berdasarkan ceritanya sendiri. Kedua, sketsa wajah yang dibuat berdasarkan cerita dari orang lain.

Hasilnya sungguh mengesankan.

Ternyata, sketsa wajah berdasarkan cerita orang lain sangat tampak lebih baik dari pada sketsa berdasarkan cerita diri sendiri.

Ternyata, orang lain mampu melihat kita dengan lebih baik daripada diri kita sendiri.

Pernah gak sih? Kita berburuk sangka pada diri sendiri? Merasa enggak pantas gitu, merasa enggak layak untuk memperjuangkan sesuatu. Merasa enggak mampu padahal belum berjuang lebih. Merasa enggak bisa padahal belum mencoba.

Padahal orang lain aja menganggap diri kita bisa, pantas, layak dan mampu.

Tapi kenapa diri kita sendiri enggak bisa?

Terus kalau Allah melihat kita begni lama-lama, bagaimana? Kayaknya Allah enggak akan suka.

Padahal Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya. Allah sudah menciptakan kita dengan segala karuniaNYA. Masa’ sih kita mau menyia-nyiakan karunia Allah itu?

aahh, sudah saatnya berhenti berprasangka buruk terhadap diri sendiri. saatnya berhenti buat Allah enggak suka. Saatnya berbenah!

Teruntuk kamu yang istimewa, namun sedang merasa tidak layak, tidak pantas,

Teruntuk kamu yang istimewa, namun  sedang dirundung prasangka tidak baik terhadap diri sendiri,

Yuk, bangkit dan berbenah!

Because you’re worth it all, keep going :)

Bandung, 11 April 2017

Kedai Kopi

Riuh suasana kotaku yang istimewa. Sabtu malam bak primadona bagi kaum yang baru saja merdeka, termasuk aku. Bedanya aku lebih suka merayakan bersama seseorang yang disebut diri sendiri. Kedai kopi; tempat sepi beraroma sunyi. Di sini aku bisa dengan leluasa tenggelam dalam secangkir kelembutan. Pun biasa menikmati potret kopi melalui celah renik bernama lensa. Kali ini, manuverku terhenti pada rona wanita di meja dua tiga. Puan Ayu dengan buku kecil dan secangkir coffee latte di tangannya. Pandanganku tak kuasa lepas bergerak meski hanya sejenak.

Titik-titik air langit berjatuhan mengecup sekujur jalan kota istimewa tempatku merantau. Sabtu malam, gerimis tak mengurungkan kawula muda untuk keluar rumah, bercengkerama bersama orang-orang tercinta. Aku … sudah kali ketiga menyambangi kedai kopi di sudut kota. Ada yang berbeda kali ini, retinaku menangkap sosok tenang di meja nomor tujuh belas. Tuan berjaket cokelat tua, dengan secangkir mocca frappe di hadapannya. Ada degup yang tak biasa saat aku memandangnya. Netraku enggan beranjak, pun mengerjap dalam sekejap.

Kepada Puan, aku di sini memperhatikanmu dari kejauhan. Duduk tenang selisih beberapa meja di seberangmu. Di meja nomor dua tiga, kamu bersama buku kecil, pensil dan garis-garis asa. Kamu begitu ayu ketika sibuk dengan duniamu. Sedang kopi dimejamu itu seperti aku; diam-diam memperhatikan berharap bisa bertautan.

Kepada Tuan, aku mencuri celah-celah udara untuk dapat menatapmu. Apalah aku yang tak punya cukup keberanian untuk sekadar melempar senyuman. Pada jarak antara kita yang hanya sekian depa, aku khusyuk memperhatikanmu yang berkutat dengan kamera dan secangkir kopi yang masih mengepulkan uapnya. Sementara aku, tergugu selaiknya meja-meja kosong di sekelilingmu.

Wahai puan, tahukah kamu sekitarku mendadak mati beku. Mata yang sedari tadi sibuk mengamati sekilas tak lagi berfungsi. Lensa kamera pun tak kuasa mengabadikan lengkung indah itu. Sebab tampaknya sekarang dunia sedang mulai berotasi padaku. Ah puan, andai kamu mengerti laki-laki ini yang ingin datang menghampiri. Duduk bersama dan berbicara meski tak berkata-kata.

Duhai Tuan, aku masih terus memperhatikanmu lekat-lekat. Hingga tetiba jantungku nyaris terlepas dari tempatnya, ketika kau menyorotkan sinar matamu tepat di netraku. Aku terpaku, dengan gugup aku berpura-pura sibuk kembali dengan buku dan penaku. Ah, andai saja kamu tahu. Ingin sekali aku berada di sampingmu, menunjukkan padamu bahwa sejak tadi lembar-lembar bukuku berisi larik yang memujimu. Tapi apalah daya, aku tak punya nyali mewujudkan itu.

Lalu siapa sangka, pertemuan kita di sebuah kedai kopi sudut kota ternyata adalah konspirasi semesta. Aku tuan dan kamu puan yang dulu segan untuk menyapa kini duduk bersama. Bukan tujuh belas atau dua tiga tapi dua satu seperti dua hati yang akhirnya menyatu. Akulah tuan yang akan mengisi seluruh lembar buku kecilmu dan kamu puan ayu yang takan bosan untuk kuabadikan.

Kini, puluhan purnama telah berlalu. Meja tujuh belas tak lagi ada sosokmu yang menyendiri. Sebab kamu telah bersama seorang puan, di meja dua satu. Entah (si)apa yang mengawali, yang ku tahu saat ini setiap inci tubuh kota istimewa ini telah kutapaki, bersamamu wahai Tuanku. Akulah puan, yang mendapat kejutan bahagia dari semesta yaitu bercengkerama dengan tuan di meja dua satu.

Semesta, April 2017 @duatigadesember & @hujankopisenja