lemaris

Sesekali aku ingin berlibur di dalam kepalamu.
Menelisik setiap sisi, bermain-main di ruang pribadi, membuka-buka laci dan lemari, hanya untuk mencari;
apakah setitik tentangku masih kau simpan rapi?
Romantis.

Dulu, dulu banget sampai sekitar bulan lalu, aku kira yang namanya romantis itu dibawain satu ikat bunga, atau dinyanyiin satu lagu diiringi petikan suara gitar, atau sekedar makan malam diantara cahaya lilin yang sedikit bergoyang karena ketiup angin.

Atau deep conversation tentang kehidupan, menerawang masa depan, atau bercerita tentang angan-angan, hal yang tak mungkin dilakukan atau bahkan berbagi kisah pedih di masa lalu, kemudian berujung dengan saling tatap yang seakan-akan menguatkan dan berjanji hal seperti itu tak akan terjadi lagi.

Tapi aku pernah lihat yang lebih romantis lagi. Bagaimana tangan kiri Pakde Eko merangkul istrinya, sementara tangan kanannya memegang payung. Pakde dekap Bude, tangan kirinya sebagai batasan jangan sampai Bude kena tetesan hujan sekalian menghangatkan dengan setengah pelukan.

Atau ketika Bapak membuka tudung saji kemudian tersenyum lebar melihat masakan Ibuk sambil bilang “Wow, menu yesterday…”, kemudian duduk, sementara Ibuk mengambil nasi untuk Bapak. Kemudian mereka makan di kursi yang sama seperti kemarin-kemarin seakan di belakang kursinya sudah ada nama pemiliknya.

Tapi romantis tak harus berdua.

Berkumpul dengan teman-teman, kemudian menertawakan hal yang bahkan kalau diceritakan ulang kita bingung dimana letak lucunya. Tertawa sampai mata menyipit. Perut sakit. Pipi pegal. Kemudian hening. Semua menghela nafas panjang. Menatap ke bawah. Atau mengetukkan jari ke meja. Hening yang tak seberapa lama, tapi menyimpan campuran emosi di dalamnya.

Dan romantis juga bisa ketika sendiri.

Romantis itu bisa jadi berteduh di depan toko yang tutup, terpaksa menunggu hujan agak reda karena lupa bawa jas hujan. Memeluk diri sendiri sambil menahan dingin. Sesekali mendongak ke atas, melihat mendungnya langit. Atau sekedar menjulurkan tangan merasakan air hujan. Kemudian berdiri, sedikit berjinjit, mengayunkan badan kedepan dan kebelakang. Menggerakkan jemari kaki yang ikut basah. Menatap motor yang terpaksa terguyur hujan, kasihan.

Hujan selalu mendramatisir keadaan. Membuat pikiran liar. Tapi tak jarang menjadi kesempatan kita berbicara dengan Tuhan.

Ada lagi.

Aku baru menemukan hal yang lebih romantis dari seikat bunga.

Buku dengan catatan kecil di halaman pertamanya.

Catatan kecil yang menunjukkan kalau buku itu untuk kita. Dan ada nama pemberinya.

Bunga akan layu, tapi buku tidak.

Kecuali bunganya bunga plastik. Atau kristal. Wuih…kristal. Mahal dong? Mahal ga sih? Kayaknya ya. Soalnya aku liatnya di rumah-rumah orang kaya, di dalam lemari kaca.

Menuliskanku

Kamu boleh menulisku bila mau. Kamu boleh menjadikanku kalimat tanya, sekaligus menulis jawabannya. Boleh juga kamu menjadikanku sebagai kalimat pernyataan, meski berupa majas-majas yang maknanya tak pernah lelah kita artikan.

Kamu pun boleh menulisku menjadi angka-angka. Seperti menjadikanku sebagai jumlah hari atau tahun disaat kamu berjuang untuk menjadi diri sendiri. Atau menjadi angka yang menunjuk pada waktu-waktu tertentu saat kamu merasa kesepian.

Kamu bisa menulisku menjadi kalimat puisi atau pantun. Atau jika kamu menjadikanku sebagai lirik lagu sunyimu, yang sering kamu nyanyikan sendirian dengan gitar tua yang kamu gantung di samping lemari. Aku bersedia.

Kamu boleh menulisku. Tapi tolong jangan menghapusnya. Biar tulisan itu menjadi kenangan dan pelajaran. Biar kita sama-sama tahu bahwa kita pernah memiliki cerita yang kita mainkan bersama.

©kurniawangunadi

Berbeda dalam Mengeja

Hari ini saya tidak membawa kotak bekal makan siang seperti biasanya karena tadi pagi pergi terburu-buru saat masakan di rumah belum matang. Saya pun menitip kepada seorang teman di kantor untuk dibelikan makan siang. Dengan bersemangatnya, ia mempersuasi saya untuk membeli bakso, katanya, “Teh, mau coba aku beliin bakso yang di dekat masjid itu engga? Itu enaaaak banget! Beda sama bakso yang biasanya anak-anak beli. Ini lebih enak. Pokoknya teteh harus coba.” Akhirnya, saya pun mengangguk setuju, “Hmm, oke, aku coba itu deh!” sambil membayangkan betapa akan enaknya makan siang saya hari ini.

Bakso pesanan saya pun datang. Masih dengan gaya semangatnya, teman saya bilang, “Teh, ini ada baksonya. Cobain cepetan, teh. Ini enak banget!” Saya pun langsung mengambil mangkuk di dapur dan makan bersama teman-teman yang lain. Setelah saya rasa-rasa, ternyata … jauh dari perkiraan! Tanpa bermaksud mencela makanan, rasanya memang sulit untuk dijelaskan hingga saya berjalan ke lemari mencari lada, garam, dan bumbu-bumbu lain yang bisa ditambahkan meski ternyata rasanya tetap tak banyak berubah. Bagaimana pun, bukan salah teman saya, hanya saya dan teman saya mengeja ‘enak’ dengan cara yang berbeda.

Ini baru soal makanan. Bagaimana dengan yang lain? Sudah tentu, manusia memiliki perbedaan cara dan persepsi dalam ‘mengeja’ sesuatu. Sebabnya bisa apa saja: pola berpikir, latar belakang, pengalaman, kebiasaan, pendidikan, keinginan, dan masih banyak yang lain-lainnya.

Tak sama. Sebab, tiap-tiap manusia mengeja rasa dengan ejaan-ejaan yang berbeda. Bagi sebagian orang, manis itu enak dan membahagiakan, tapi tidak bagi yang lain karena katanya tak ada tantangan. Bagi sebagian orang, pedas tak bisa ditinggalkan, tapi tidak bagi yang lain karena katanya rasa yang seperti itu bukanlah rasa, tapi sakit. Ah ya, dan begitulah seterusnya!

Tak sama. Sebab, manusia mengeja bahagia dengan ejaan yang berbeda, meski bisa saja serupa. Sebagian orang mengeja bahagia sebagai kelimpahan harta, tapi, di sisi lain, yang hanya punya beberapa lembar uang dalam koceknya ternyata seringkali lebih bahagia. Ada orang-orang yang mengeja bahagia sebagai kepemilikan pencapaian yang luar biasa, tapi, di sisi lain, orang-orang yang hidup dalam kebijaksanaan dan kesederhanaan seringkali jauh lebih bahagia. Hmm, dan begitulah seterusnya!

Manusia selalu berada dalam ruang persepsinya masing-masing. Tapi, apakah semua hal boleh kita eja dengan cara yang berbeda-beda? Apakah semua hal mendasar boleh bebas kita definisikan sekehendak hati kita? Tidak, sahabatku! Banyak hal dalam hidup ini yang tak bisa kita definisikan sendiri, sebab standar-Nya ada di puncak tertinggi, tempat dimana kita bisa mencari referensi tentang segala benar-salah, baik-buruk, juga boleh-tidak boleh. 

Sahabatku, standar utama kita semua sama, yaitu apa yang disampaikan-Nya dalam Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah dalam sunnah, bukan rasa-rasa yang ada di dalam hati. Bagaimana pun, ibadah adalah tentang iman, bukan tentang perasaan. Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Memudahkan, maka mudahkanlah kami untuk dapat mengeja iman dengan cara yang benar, yaitu dengan ketaatan, bukan dengan perasaan.

“Nov, melaksanakan ibadah itu bukan soal perasaan, bukan soal suka-tidak suka pada perintah-Nya, hingga membuatmu mengerjakannya jika suka dan meninggalkannya jika tidak suka. Ini semua tentang bagaimana kamu mengupayakan ketaatan, di luar batas-batas ruang perasaan.” - DM

Aku ingin melebur bersama udara. Menguap ke langit dan menyatu bersama awan. Lalu menangis melalui hujan yang jatuh ke hamparan laut. Tak ada satu orang pun akan tahu. Sebab tak ada satu orang pun yang mengerti.

Orang-orang hanya ingin hidup dengan kesenangan mereka. Selalu ingin menang dan takut dan gamang. Gemar menjadi bayang-bayang.

Aku ingin mencair seperti air yang beku dalam lemari pendingin tanpa aliran listrik. Meleleh dan mengalir. Lalu hilang tersapu angin.

—boycandra

anonymous asked:

Who would you have Superman end up with if it couldn't be Lois? (Or, please justify my Saturn Girl/Superboy ship;))

On the understanding that I don’t *really* think another romance could work: Lana seems like the immediate obvious choice, but she’s too much of a symbol of Smallville and how that time in his life is behind him, so it feels off. Cat Grant’d never happen. Wonder Woman’s a whole article unto itself (maybe I’ll write it soon now that Jurgens confirmed on Twitter they’ve never been together in the currently operating timeline), but no. Maxima’s clearly off the table, even in spite of that hilariously mean cover where she and Superman make out on top of Lois’s grave. Assuming he was bi, Jimmy’s his pal and I feel like it’d be more weird than anything else, Batman isn’t exactly relationship material, and much as Smallville popularized it, Lex kinda sorta really wants to murder him all of the time. Historically he’d be fine with Lyla Lerrol or Luna Lynai, but they have the problem of being super dead and unbearably creepy, respectively.

The first option that strikes me as being at least kind of possible is Lori Lemaris. Yeah, it’d be hard for a lot of fans to swallow, but the idea of Superman dating a mermaid has always been a winner. Specifically I like the idea of Clark dating her, and everyone just shrugging it off their dorky coworker’s girlfriend being a mermaid as totally normal, because Jimmy nearly married the princess of the 5th dimension that one time and Lois dated Hercules once or twice. The tradeoff though is that her world would become an inherent part of his mythology, and unless you Brave-and-the-Boldified him and made him the goofy in-law, Superman’s already shaky rep can’t afford to have Aquaman as a fundamental aspect of his world. I know Saturn Girl and Zatanna are brought up by fans fairly often - I know he’s kissed Saturn Girl once or twice in the comics - and I guess I don’t have anything strongly against that. Sally Selwyn would probably be fine, assuming she and “Jim White” ever found each other again. If I really had to pick though - cheap as I acknowledge it is, given clearly her original purpose was at least in part as a Lois stand-in - I’d go with Chloe Sullivan. I always liked her on Smallville until her faux-Whedon wordplay reached a ghoulish critical mass in the last couple seasons, and she deserved better than Jimmy Olsen’s identical older brother and dimestore lime-flavored Batman.

Remorse

Perkenalkan namaku Zainanda, atau Zain–begitu Ibu dan adikku biasa memanggil saat menyuruhku keluar kamar untuk makan. Aku tidak terlalu suka dengan kehidupan di luar kamar. Bagiku, kamar serupa semesta di mana aku baik-baik saja.

Karena di luar sana aku takpernah baik-baik saja. Sewaktu kecil, aku dan keluarga harus pindah karena rumah kami terbakar. Pun melewati masa SD hingga SMP. Aku takpernah punya banyak teman.


Kehidupan ekonomi keluargaku takpernah berjalan dengan baik. Ibuku bekerja sendirian, terutama setelah ayah pergi dengan wanita lain.

Persetan dengan hidup! Kehidupan remajaku benar-benar neraka. Adikku memilih bunuh diri setahun kemudian karena malu dengan keadaan keluarga ini. Ibu bekerja dari subuh sampai subuh lagi. Rasanya aku ingin menyusul adikku saja. Tak ada yang mengerti! Sejak saat itu aku mulai mudah sekadar menggebrak sesuatu atau melempar barang jikalau hati ini begitu kalut.

Aku muak. Aku ingin bebas. Sekolah tidak sekolah sama saja. Aku ingin menyendiri sampai mati. Lalu aku berpikir, sepertinya menulis sesuatu bisa menolong. Dan ketika SMA aku begitu jengah dan aku benar-benar berbuat onar dan sengaja membuatku di drop out. Dengan begitu aku bisa bebas menulis–yang ternyata memang sungguh menolong sesak di dadaku ini.

Sampai seseorang seumuranku, tetangga baru, taksengaja bertemu di halaman rumah dan menemukanku sedang membawa buku. Empat bulan kami bertetangga, dia tahu aku suka menulis dan betapa gelapnya hidupku. Aku sungguh lebih nyaman bercerita padanya dibanding ibu sendiri. Ozzy acap mengajakku memancing, atau berburu buku, dia pula yang mengenalkanku pada Haruki Murakami. Dia bilang bahwa dengan menulis aku bisa mengendalikan beban hidupku.

Aku mencoba dan berhasil. Tapi tidak untuk waktu lama. Suatu malam aku lepas kendali. Aku takbisa melihat Ibu seperti ini. Dan Ibu terus saja menyindirku yang takmau bekerja. Ibu taktahu rasanya menjadi aku! Dan ya, tak ada yang peduli. Ya, mungkin ozzy, sahabatku. Ibu masih saja mengomeliku dan aku pun mulai menggebrak meja dan melempar apa pun yang ada di sana. Ibu menangis. Pun aku. Entahlah. Tetiba rasanya aku tak ada di sini

Hingga tetiba aku mendengar suara langkah sepatu dari arah depan ke dalam kamarku. Ozzy. Dia berteriak sesuatu. Aku takbisa mendengarnya. Namun perlahan, aku bisa memfokuskan semua inderaku.

“Hei, hei, kau baik-baik saja? Aku tadi sampai sini dan ibumu menangis. Lalu aku menemukanmu terkulai, bersandar di lemari ini.”

“Aku ….”

“Okey, ayo bangun dan selesaikan permasalahan ini dengan ibumu.”

Aku takpernah menyangka jika Ozzy pindah ke sini karena dia ingin memulai hidup yang baru. Dari kecil dia takkenal siapa orang tuanya. Hanya menikmati hari di panti. Sampai sebuah keluarga mengadopsinya dan pindah ke mari.


“Aku tahu, bebanmu sungguh berat. Dengan menulis kamu bisa mengendalikan emosi. Salurkan tiap emosi menjadi katakata. Marahlah dalam sebuah cerita. Tapi ternyata, kau mesti belajar pelan-pelan.”

“Mungkin ….”


“Percayalah, aku tahu bagaimana rasanya hidup sendirian. Kamu masih punya Ibu. Aku tidak tahu siapa ibu dan ayahku. Jangan kamu sia-siakan kehidupanmu dengannya. Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu sadar ibumu takkuat terus bekerja, maka seharusnya itu tugasmu.”


Aku menatap ibu penuh haru. Penyesalan terus mendera.

“Ibu, maafkan aku. Insyaa Allah, aku ingin keluarga kita jadi lebih baik lagi.”


Ibu tersenyum. Pun aku. Entah bagaimana mengatakan terima kasih untuk sahabatku, Ozzy. Bagaimana jika ia takdatang malam itu?

Mungkin aku masih di kamar, membusuk bagai kotoran takberguna.

Yogyakarta - Bogor
7 Maret 2017
@duatigadesember & @ariqyraihan

Ps: terima kasih pula kepada @hujankopisenja @manifestasirasa yang turut membantu dalam prosesnya.

Kalau ditanya ini foto apa, ini merupakan foto polisi. Bukan bakwan. Senyum ramah, melayani masyarakat, menaungi yang lemah, meniadakan yang serakah, —cerminan seharusnya sih kayak gitu. Atau se-simpel “keren” kayak polisi polisi di 86. Atau se-konyol chaiyya chaiyya Norman Kamaru. 

Tapi pagi ini, gue dihadapkan pada peribahasa ternama “karena nila setitik rusak susu sebelangga”

Kena tilang. Bukan karena melanggar, peralatan nggak lengkap, nggak bawa stnk, sim apalagi nggak bawa motor. Cuman karena sial. Dan ini bukan wujud pembelaan. Serius, kalo salah, I’ll admit it. Tapi ini beneran nggak salah. Pure lagi sial.

Jadi ceritanya, gue sedang pada situasi yang buruburu. Lalu lewat jalan tikus biar nggak kena macet dan tumpukan lalu lintas. Giliran mau masuk lagi jalan besar, ada polisi yang suruh puter balik. Padahal nggak ada tanda dilarang belok, forbidden atau apa. Cuman gara-gara dia lagi jaga aja. Biasanya belok situ gada masalah. Iseng

Nah, karena lagi buru-buru, gue kekeuh mau tetep nyebrang. Yakali harus muter, terus biar apa gue lewat jalan tikus cape cape 

(╮°-°)╮┳━┳ (╯°□°)╯ ┻━┻

Gue kekeuh, polisinya juga sudah lelah jaga disitu dari jam 6 pagi. Rajin amat. Besok gue usulin ba’da shubuh. Tepat setelah iqomah, hhhh. Polisinya marah. Lalu kasih surat tilang.

Gapapa.

Gue rela dibentak karena gue disitu ngeyel. As I said, kalo salah I’ll admit it.

Sampe tiba saatnya, polisinya ganti. Yang ngasih surat tilang bukan polisi yang negor di jalanan. Hemat kata, gue dibawa ke pos polisi. Seketika gue merasa narapidana. Merasa hina, kotor dan tak berdaya. Halah

To be honest, yang ditilang si Aunty, gincumerah. Mukanya emang muka gangster kali ya. Gue cuma ikut ikut aja. Tapi, walaupun muka Aunty gangster parah, gue respect sama dia. Ada perasaan lebih dari sekedar untuk mejaga. Hormat. 

Meanwhile gue menghormati Aunty, respect lalala nanana…….

……pas gue masuk pos, Aunty lagi dibentak-bentak. Doi pake pose mohon mohon biar nggak ditilang. !@#$%^&*()_+ what the……..YA KENAPA HARUS BENTAK BENTAK, KAN NGOMONG BIASA JUGA BISA. MASIH KEDENGERAN. 

Gue kesel. Gue bentak balik. Persetan deh tuh mau tua, mau muda, kalo udah ngga ada take and give buat saling hormat, jangan harap gue juga bisa jaga sikap

“I’m a nice person. So, if i’m bitch to you, you need to ask your self why”

Lalu ya, polisinya marah-marah. Sampe bentak teriak-teriak padahal nggak ada keperluan. Dia bilang, perkara gue sama dia adalah ngga ada. Yang ada urusan itu cuman si Aunty sama dia dan polisi yang negornya tadi. Well, yeah~ siapa yang akan diem aja liat orang yang biasanya dijaga, lalu jadi sampah dipijak-pijak padahal nggak salah. Kiddin me bruh ‘-’)/

Dia suruh gue untuk manggil polisi yang tadi negor. Tapi jarak untuk mencapai polisi tadi tuh lumayan jauh. Harus nyebrang. Dan jalanan beneran ngebut. Gue bisa jadi wasted tertabrak, kalo gue harus nurutin dia

“PANGGIL TUH BAPAK YANG TADI PANGGIL!”

“INI KAN HARUS NYEBRANG, BAPAK DONG JADI POLISI SEBRANGIN, KALO SAYA KETABRAK GIMANA?”

“KAMU GA ADA URUSAN SAMA SAYA, URUSAN KAMU SAMA POLISI YANG ITU, SANA PANGGIL!”

“YA SEBRANGIN!”

“KAMU GA ADA URUSAN SAMA SAYA! PANGGIL!!!!”

“YEH GAMAU, SIAPA LU MERINTAH MERINTAH”

Polisinya marah, gue juga nggak se-easy itu buat diperintah. Emak gue aja nih, udah gedein gue 20tahun, nyuruh nyuci piring yang aman sentausa cuma di rumah, masih kadang gue bantah. Pakabar polisi yang baru ketemu. Mana nyuruh nyebrang. Mimpi kali

Lalu tiba-tiba Bapaknya berdiri. Mukul lemari keras banget. Gue kaget. Tapi sedikit banyak gue ngarepin biar dipukul. Biar dunia tau, polisi citranya kayak gini. Biar kasusnya gue gede-gedein. Mayan. Social Clymbing~!

Ngeliat polisinya marah banget, gue bukannya takut malah makin tertantang. Rasanya pengen gue bawain papan dan batu bata. Gue suruh pukul juga. Pecahin sekalian. Debus deh lu disitu. Sirkus

Ya, gitu. Nggak semua polisi kayak si beliau yang cuman bisa marah dan menggunakan bentak-bentak nggak pada tempatnya. Tegas boleh, tapi tegas ya, bukan berantem teriak teriak adu mulut. Kan malu. Seragam aja gagah polisi, eh bela dirinya kayak banci. Ternajis

Gue marah karena dia salah nempatin otoritasnya. Nggak sekonyong-konyong karena dia polisi gue akan respon dengan baik. Kalo dia semena-mena, kenapa gue harus malah kebalikannya?

“kill em with kindness” —sepik tai. Aturan idup gue nggak gitu. Take and give. Kalo mau dibaikin even udah ngejahatin, sana lu idup jaman nabi. Jaman sekarang mah kejam. Yang jahat pen dibaikin does exist cuman di bawang merah bawang putih. Jadi jangan harap dibaikin padahal udah jahat.

Pada akhinya, polisi yang tadi negor dipanggil sama si polisi debus. Perkara terselesaikan dengan cara baik-baik. Yang negor pun ngomongnya kekeluargaan. Nggak bentak. Ramah, menyelipkan unsur-unsur edukatif dan nasihat-nasihat. Kan enak. Gue juga cuman manggut manggut. Nggak ada kepengen buat bentak apa nggak hormat. Kalo lu sopan, gue juga akan segan. Intinya gitu

Tapi begonya, polisi yang ramah ini bilang 

Tapi mau nggak mau bayar, dek. Soalnya ini udah ditulis. Ini juga kan e-tilang. Jadi datanya udah masuk. Masa mau saya yang bayar”

Dan dengan swag, gue sama Aunty bitches banget cuman diem nggak ada yang mau ngeluarin sepeserpun. Lagi gak logic wk. Gue kan nggak bego-bego amat ya. Secanggih canggihnya sesuatu yang elektronik di Indonesia, rasanya belom ada tuh, nulis di secarik kertas, lalu datanya langsung ter-record pada sistem berbasiskan komputer. Pengen sarapan aja dia tuh~

Akhir kata, nila setitik rusak susu sebelangga tuh beneran ada, if you know i mean. Dan…selamat beraktivitas, Pak Polisi yang terhormat. Maaf anda gagal mengisi pundi pundi dari dopet kami



Sincerely,



Tami dan Aunty; —anak kostan akhir bulan

“Bolpoin di mana ya tadi? Perasaan baru aku pake buat nulis deh”

Mulai membongkar kotak pensil sampai taspun ikut jadi korban. Dan ternyata bolpoin ada di sebelah tas.


“Nis, tadi bajuku kamu taruh mana?”

“Disana tuh, di kamar mandi.”

“Hah, Gak salah??”

“Loh, emangnya aku tadi ngomong apa, di lemari, kan?”


Ada lagi dan ini yang paling sering murojaah surah Maryam yang dibaca surah Ali-Imran. Terkadang akan lebih sering ketuker lagi yang di murojaah juz 30. Yang di baca surah At-Takwir hasilnya surah Al-Infitar.

Dan yang paling bikin gemes ketika naik tangga ke lantai tiga, sudah ngos-ngosan, tapi sampai di atas lupa mau ngapain

Dan kejadian yang terkadang saya sendiri tidak menyadarinya mengapa begitu. Tiba-tiba mengalami semacam amnesia mendadak atau amnesia sesaat. Tidak bisa mengingat dengan baik apa saja yang baru saya alami beberapa menit yang lalu, lupa tujuan, lupa mau ngapain, lupa mau ngomong apa, lupa abis ngomong apa dan melupakan semua to do list yang bahkan sudah dicatat rapi dalam pikiran saya.

Pernah mengalami seperti demikian?

Jika pernah, maka selamat! Itu artinya anda sedang mengalami gejala yang disebut ‘brain fog’. Kondisi otak yang sedang diselimuti kabut sehingga sulit untuk berpikir jernih.

Sebagian orang mungkin awam atau bahkan belum akrab dengan istilah ‘brain fog’. Namun bagi mereka yang menderita penyakit autoimun istilah ini tidak asing lagi bagi mereka. Dan sudah menjadi makanan rutin mereka.

Bagi penderita autoimun serangan brain fog yang datang tanpa izin ini akan mengakibatkan si penderita menjadi linglung seketika, sulit mengungkapkan apa yang ingin disampaikan, otak tidak bisa berpikir jernih seakan tidak terhubung dengan sensor motorik tangan, kaki, dan mulut. Dunia benar-benar diselimuti kabut.

Jika sudah begini maka saya pribadi biasanya akan lebih banyak diam. Jika teman mengajak ngobrol, atau sedang terlibat diskusi maka biasanya saya akan merespon ringan bahkan ala kadarnya. Terkadang bisa menjadi sulit itu ketika saya harus menyelesaikan deadline pekerjaan, atau ketika sedang mengajar sementara brain fog ini datang tanpa diundang. Meski faktor lainnya juga mempengaruhi seperti mudah sekali lelah, bawaannya ingin tidur saja.

Saya juga sering sekali tersesat jika saya berpergian sendiri. Bahkan dulu saya pernah tersesat saat pulang kantor. Kantor saya di daerah Tunjungan. Rumah saya di daerah Ampel dan sekitarnya. Nyatanya saya malah menuju daerah Darmo. Menuju rumah juga enggak, mau ngampus juga enggak, mau ngajar juga enggak. Padahal jalanan itu harusnya sudah saya hafal diluar kepala karena saya melaluinya setiap hari.

Menurut Dr. Marian Rissenberg (dalam tulisannya yang saya kutip dari artikelnya dengan judul multiple sclerosis) seorang neuropsikolog, secara medis ‘brain fog’ dikenal sebagai Immune Mediated Cognitive Dysfunction (IMCD). Biasanya gejala ini terjadi pada penderita penyakit infeksius seperti Lyme disease, dan juga pada penderita penyakit autoimun seperti multiple sclerosis, lupus, dan rhematoid arthritis.

 

Proses di otak yang terkena dampak paling serius oleh IMCD adalah Sistem Eksekutif yang melibatkan konsentrasi, memori kerja dan kelancaran memori. Pada IMCD, sistem kekebalan tubuh mematikan fungsi otak dan tubuh yang tidak esensial, menempatkan otak dalam mode “energy saver” untuk menghemat energi guna melawan infeksi. Inilah juga yang menyebabkan kita merasa lelah dan ingin tidur serta hilang nafsu makan ketika sedang sakit.

Kesulitan kognitif serupa terjadi ketika kita sangat lelah. Bayangkan mencoba membaca artikel berita atau editorial ketika kita sangat lelah. Mata terus menatap halaman tetapi tidak ada informasi yang masuk ke otak. Jangankan bacaan yang berat, yang ringan saja seperti membaca komik maka reaksinya pun sama. Tidak ada informasi yang di dapat. Seperti itulah rasanya ketika mengalami brain fog.

Pada penderita autoimun, brain fog tidak bisa diduga kapan datangnya. Seandainya bisa pastilah saya sudah mengajaknya untuk janjian kapan waktu yang pas harus mengalami brain fog -__-

Lantas bagaimana kita harus mengatasi sisi kelebihan ini (hahaha saya menyebutnya ini sebagai kelebihan). Maka saya mencoba mencari tahu sendiri sampai ketika saya menemukan tulisan dari Dr. Marian Rissenberg yang mana kita bisa mengatasinya dengan baik jika kita mau mendisplinkan diri. Berdasar pengalaman, ketika penyakit sedang mengalami flare atau menuju flare. Maka ada baiknya kita mengikuti tips berikut, yaitu:

  1.  Sering-seringlah menulis.

Yap, sering-seringlah menulis, apapun itu. Mungkin bagi yang tidak terbiasa akan malas untuk memulainya. Namun aktivitas ini sangat membantu ketika diri mengalami brain fog. Menulislah apapun itu sebagai pengingat ketika kita sudah mulai putus asa akibat kesulitan mengingat. Kita akan merasa capek, lelah, marah di awal. Namun hal itu semua tidak akan pernah bisa selesai dan berakhir ketika kita banyak protes dan menyerah di awal. Menulislah apapun yang dirasa penting di agenda atau jurnal pribadi. Jika ingin mengingat seseorang yang berharga pun bisa dilakukan dengan menuliskannya di buku diary (begitu saya menyebutnya). Jika belum punya, segera buat. Karna ini akan sangat membantu. Benar-benar akan sangat membantu.

2. Luangkan waktu sejenak

Cobalah luangkan waktu sejenak setiap harinya untuk merencanakan dan meriview kegiatan di hari itu. Kalau saya semacam muhasabah sebelum tidur. Ini juga penting untuk melatih otak kita agar tidak malas dan mudah menyerah.

3. Buatlah rutinitas reguler harian.

Nah untuk tips yang ketiga ini saya dapatkan dari seorang kawan yang kini sedang menempuh pendidikan di kedokteran. Dimana dia juga tengah berdamai dengan autoimun. Untuk tips yang ketiga ini saya belum bisa menerapkannya, pasalnya saya sendiri sering lupa jika harus membuat draft rutinitas reguler harian -__-

Catatan kecil:

Belilah kertas post it atau notes kecil yang bisa dibawa kemana-mana hal ini cukup membantu dalam menulis sesuatu agenda atau janji yang penting.

Jangan lupa pasang alarm di gadget atau tulis di kalender harian agar tidak terlupa kapan untuk rutin ke dokter, rutin minum obatnya, rutin makan, dan pastinya tidak terlambat saat waktu sholat.

*untuk janji-janji yang terlewat, untuk janji-janji yang belum tertunaikan, untuk perubahan sikap sering berubah, untuk perubahaan mood yang naik turun, untuk pertanyaan-pertanyan yang belum terjawab, untuk deadline yang belum terselesaikan, dan untuk pertemuan-pertemuan yang belum terlaksana. Terima kasih untuk udzur yang diberikan..

Saya tidak ingin menjanjikan banyak akan membahas autoimun dan berbagi cerita mengenainya. Karena saya tidak berkompeten dibidang ini, saya bukan dokter ataupun tenaga ahli kesehatan. Namun saya mengapresiasi teman-teman yang berkirim surel dan berbagi cerita di email mengenai perjuangannya berdamai dengan kelebihan yang diberikan oleh Tuhan pastinya. Jika ada waktu dan jika di izinkan, maka saya akan memperpanjang mengenai pembahasan autoimun. Bagaimana harus berjuang ketika semua orang memandang kita sebagai seorang pemalas, manja, pemilih-milih makanan dan pelupa akut ;D

Surabaya di September dua ribu enam belas || 19.19 || @andromedanisa

Jan 13th : Gunung atau Pantai?

Aku suka pantai.

Pasir putih yang menggelitik jemari. Gradasi warna tepian garis antara daratan dan lautan yang indah. Karang-karang dan hiruk pikuk bawah air yang transparan, disinari kemilau pantulan cahaya matahari. Pohon bakau, pohon kelapa di atas pulau. Angin laut yang membuat kamu ingin duduk dan memanggil lapisan-lapisan ombak ke atas pasir. Warna langit saat matahari terbenam yang seperti lukisan. Air laut yang berwarna semakin biru menandakan semakin jauh dari daratan. Jangan lupa ikan segar yang dibakar langsung di pinggir pantai, nikmat tiada tara. Ah.

Aku juga suka gunung.

Nuansa sejuk yang memaksa untuk terus bergerak, dan memakai jaket tebal. udara segar yang menelusup ke dalam paru-paru. Air minum yang mendadak dingin tanpa kulkas, tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Pepohonan hijau, tanah yang hitam dan suara tonggeret bergema di seluruh penjuru perjalanan menuju puncak. Apa kamu juga mendengar desau angin dan membuat gemerisik daun-daun di atas pohon? Juga rasa puas yang terasa setelah mencapai puncak. Warna langit saat matahari terbit, awan yang berarak, dunia yang terasa luas dan lapang. Melegakan. Dan menakjubkannya, makanan sederhana yang dibawa bisa terasa sangat nikmat saat dimakan di atas gunung.

Kamu bisa membawaku kemana saja, diantara keduanya.

Ajak aku berlayar sejauh apapun, menelusuri indahnya pantai demi pantai. Ajak aku mendaki setinggi apapun, menggapai ujung puncak demi puncak.

Karena yang lebih aku sukai sebenarnya bukan antara gunung atau pantai, tapi diatasnya. Jika ada di pantai atau gunung, cobalah mendongak ke atas saat malam hari. Saat kita jauh dari keramaian, kita akan bisa melihat gemerlap bintang berkilauan seperti taburan gula di atas langit.

Dan gemerlap bintang itu, yang sebenarnya selalu aku rindukan :)

  • Orang mah malem malem, anaknya disuru tidur, khawatir sakit, kena insom atau apa kek.
  • Emak gue: sana cuci piring
  • Gue: Siap, apalagi?
  • Emak: Sekalian masukin piring keringnya ke lemari
  • Gue: Siap, apalagi?
  • Emak: Meja makan rapiin
  • Gue: Siap, apalagi?
  • Emak: Sayur masukin kulkas
  • Gue: O, siap. Gak sekalian suru buka catring?
6

The Chronological Superman 1960:

The most monumental development in the character of Superman’s longtime foe, Luthor, takes place in Adventure Comics vol.1 No.271, in which the teenage incarnation of the Man of Steel’s most deadly and implacable enemy gains not only his first origin story, but a first name - Lex. Prior to this, he’d only ever been referred to by his ominous surname.

Considering the number of the adult Superman’s supporting cast who, retroactively, met the Man of Steel when he was an aspiring adolescent hero (which is to say Bruce Wayne, Lois Lane, Mxyzptlk, Jimmy Olsen, Perry White, and Oliver “Green Arrow” Queen, just to name a few who’ve already appeared in the Boy of Steel’s assorted adventures), the appearance of teen Luthor shouldn’t really have been considered anything of particular importance. Youthful incarnations of existing characters crossing paths with Superboy is par for the course. Luthor’s won’t even be the last intersection, by a long shot.

And yet, it has more impact on both Superman AND Luthor than any of those other tales, most of which were partially or completely ignored almost immediately after publication. By contrast, the newly penned origin of Lex Luthor continues to provide the motivation between the two characters’ long-running feud for, effectively, the rest of their careers. Superboy and Lex once having been best friends often falls out of continuity, but you can always count on some writer or editor to pick it back up again.

The secret of the longevity may simply be that it gives Luthor a sympathetic backstory – he is, in his own way, as much a victim of his megalomania and ambition as Superman or any of Luthor’s other victims. Additionally there’s the implication that it’s not just the seeming betrayal of his closest friend which turns him evil – Lex inhaled a lot of weird fumes in that lab explosion, after all.

One of the intriguing elements of Superman’s Silver Age is that it’s defined, more or less, not only by Superman’s wondrous world but also his failures. His romances with Lori Lemaris and Lyla Ler-Rol, the Bottle City of Kandor, Mon-El ending up trapped in the Phantom Zone, his endless experiments to make himself invulnerable to Kryptonite, his shattered friendship with Lex Luthor – all the result of Superman failing to protect, rescue, cure, innovate or save someone when the stakes were at their highest.

And here’s Lex Luthor, now, the embodiment of the limitations of Superman’s amazing abilities. 

Besides humanizing Luthor, the story also humanizes Superman – the Man of Tomorrow must now contend with his lifelong foe as an enemy for whom salvation is a possibility, rather than as a relentless and inconsolable menace. It adds tragedy and depth to a contest which had previously, largely, only been about fantastic stunts and schemes. 

Not to go on forever about the implications of this story – although they shouldn’t be underestimated in the grand scheme of Superman stories – but this returns to Superman something that had long been missing from the character; the desire to reform villains rather than merely defeat them. It was a hallmark of the character in the Thirties and Forties that the many corrupt and venal baddies against whom he pitted his might were, very often, only vile because they hadn’t been shown the consequences of their selfish acts. Superman would very often save not only their victims but the wrongdoers themselves, setting them back on the path to good citizenship and common humanity. 

The return of this peculiar angle to the Superman universe at large gives the character a purpose from which he’d idly ambled away over the last decade and a half, or so. The writer who returned that missing component? Naturally, the author of this tale was Superman’s co-creator, Jerry Siegel …

Kecoa Terbang

Kecoa terbang itu gak sehat. Karena dapat membangunkan kembali sisi gelap diri yang sudah kita paksa untuk mati.

Contohnya, tadi aku main ke tempat sepupuku. Seorang perempuan berusia 26 tahun, sedang mengandung anak laki-laki, 6 bulan, jalan sudah mulai susah, tapi tetap lemah dan lembut seperti biasanya. Kulitnya putih bersih, karena emang ada darah Palembang. Jarinya lentik, parasnya cantik.

Tiba-tiba…

Ada kecoa terbang dan hinggap di belakang kotak di meja. Kecoanya udah gak keliatan. Tapi antenanya yang panjang menungul (eh, apa ya…keliatan gitu lah. Nongol gitu.)

Kita berteriak histeris.

Sepupuku lari keluar ruangan. Aku diam terpaku. Sepupuku masuk lagi dengan semprotan serangga di tangan. Tapi, di dekat kotak itu ada makanan. “Mbak! Jangan! Ada makanan! Tahan mbak! Jangan! Hentikan!” Aku bergegas ambil sapu lidi kecil yang biasanya buat ngebut kasur (eh, kok kesannya kasurnya lari gitu ya. Maksudnya tu buat mukul-mukul, bersihin kasur gitu.)

“Aku aja mbak. Serahkan padaku!” Aku arahkan sapu lidi kecil kearah sang kecoa. Tapi ternyata dia lebih sigap dari yang kita kira. Dia terbang!!!!! Oh my God!!!! Terbang dia!!!!!!!!!! Ke bawah lemari “Fak!” Teriakku. “Eh, maaf mbak…” takut anak di dalam kandungannya denger. Sepupuku masih sibuk ternyata, kayaknya dia gak denger aku bilang apa. Sepupuku langsung nyemprot bawah lemari. “Die you b*tch!!!!! Die!!!!! B*tch!!!”

………

Emmm…

Aku kembali terpaku.

Barusan…itu…siapa? Mbak? Kamu…siapa?

Akhirnya aku pamit pulang. Membawa tanda tanya besar sepanjang perjalanan.

Nb: bukan untuk ditiru.
Kenangan

Kenangan selalu memaksa perasaan untuk kembali pada waktu-waktu yang tidak diinginkan. Aku sendiri dan tidak denganmu dalam keningku. Jalan-jalan menemukanku tapi bayanganmu selalu pergi dan hendak sirna. Segala catatan soal selamat tinggal selalu membuatku takut dengan keterpisahan.

Suaramu adalah penantian yang belum habis untuk ditunda. Langit dan kesepian menandakan engkau masih serupa cahaya panas yang pantas untuk tetap diperjuangkan.

Ada saatnya aku tidak kuasa melakukan apa-apa dan wajahmu masih saja memburu pada lemari bajuku; tempat aku menyimpan segala sajak-sajak tentang sifat keibuanmu.

Hari tidak bergerak seperti biasanya. Siklus terhenti dan menyisakan bahaya. Udara tidak menerima hujan sebagai obat karena tanah telah menyerah; ia menerima gerimis sebagai suara tangisan yang paling membahana.

Cakrawala menyimpan cahaya sebagai azimatmu. Seluas itu aku melindungi engkau dari keterasingan; dan dari segala perkataan orang yang selalu menyudutkan engkau ke ruang paling tepi.

Jika tidak ada aku, maka siapa laki-laki yang selalu mampu mendekap segala tangismu?

Tapi engkau selalu membela diri dengan tidak berkata apa-apa. Katamu, berkata-kata hanya akan menjerumuskan engkau pada lubang yang lebih dalam. Aku tidak percaya dengan katamu walau aku yakin engkau adalah perempuan tegar yang tidak terbantahkan dalam hidupku.

Ingatlah ingatan soal cinta yang tidak pernah usai mengurai perasaan. Maka, aku akan di sana: menantikan sukmamu; tempatku mengasah hidup dan jiwa yang dulu kosong karena senantiasa menyelimuti ketiadaan bahasa dan tanda tanya.

Lautan terdalam hanya untuk orang-orang yang berani menyerahkan nyawanya pada tekanan yang tidak terukur oleh apapun. Aku dan keberanianku belum kehilangan udara untuk bernafas dalam sehari-hari; untuk memastikan engkau tetap dalam lingkaran dan dekap nyalang tubuhku.

Sambutlah segala kenang dan tempat-tempat di mana kita mampu bersatu; membuat abu dari api yang menjingga atau membiru, atau dalam hening kata-kata tempat aku menyimpan segala bau tubuh dan pangkuan matamu.

Maka, siapakah yang akhirnya pantas mencintaimu dari jarak sejauh ini?

(G)

30/5/17

Kuliah 2: Memahami Karakter Anak ala Rasulullah

“Pendidikan yang keras dan kasar hanya akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menumbuhkan kemalasan dan karakter dusta, sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan sikap licik. Jika hal ini menjadi kebiasaan dan akhlaknya, niscaya rusaklah nilai kemanusiaannya.”

– Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah

Bismillaahirrahmanirrahim…

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Kuliah 1. In syaa Allaah akan ditulis berkesinambungan. Semoga bermanfaat. :)


Pada dasarnya, metode Nabawiyah menekankan aspek dasar pendidikan adalah dengan kelembutan. Meski demikian, pendidikan Nabawiyah pun tidak menafikan adanya hukuman, bahkan dengan pukulan. Hal ini agaknya berseberangan dengan teori psikologi Barat yang bahkan “mengharamkan” mengucapkan kata “jangan” pada anak-anak. Padahal Al-Qur’an telah berkali-kali merangkumkan kalimat larangan dan penegasan yang diawali dengan kata “jangan”.

Namun, penetapan hukuman dalam pendidikan pun harus dilakukan dengan tahapan. Jelas tidak dapat dibenarkan ketika ada anak yang berbuat salah, kemudian tanpa tedheng aling-aling sang guru maupun orangtua memukulnya dengan dalih mengikuti sunnah Rasul. Jelas tidak dapat dibenarkan menghukum dengan keras tanpa mempertimbangkan karakter anak maupun tingkat kesalahannya. (Tentang tahapan menghukum ini, in syaa Allaah akan saya ringkaskan pada artikel selanjutnya).

Pada artikel ini, in syaa Allaah pembahasannya mengerucut pada cara Rasulullah dalam memahami karakter anak. Rasulullah adalah suri teladan final dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya begitu terkesima ketika mendengar kisah-kisah Rasulullah yang begitu lembut ketika membersamai anak-anak. Sungguh, beliau adalah seorang panglima dan punggawa di medan perang, namun di sisi lain, beliau pun telah menjadi pemenang di hati seluruh umat manusia. Maa syaa Allaah. Shalaatu wassalaam ‘alayk yaa Rasulullaah… :’)


Setidaknya ada 5 hal yang perlu kita perhatikan, sebagai orangtua, calon orangtua, maupun orang yang menggeluti dunia anak-anak; para pendidik misalnya.

1. Menjaga perasaan anak

Pernah dengar kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya saat Hasan atau Husein sedang asyik menaiki punggung beliau? Kemudian ketika para shahabat bertanya mengapa sujud beliau lebih lama dari biasanya, apa jawaban beliau?

“Sesungguhnya tadi cucuku sedang menaiki punggungku. Aku hanya tak ingin mengganggunya hingga mereka puas melakukan itu.”

Bagaimana? Terkesima? Sabar dulu. Itu baru contoh pertama di poin pertama. :)

2. Memeluk dan mencium anak

Rasulullah, sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, tentu saja beliau adalah orang yang dianugerahi kecerdasan dan keluasan ilmu yang luar biasa. Namun, di hadapan anak-anak, beliau tak pernah merasa “jaim” untuk “menurunkan derajat” keilmuannya itu. Beliau tak pernah jaim untuk berbaur bersama anak-anak. Beliau tak pernah bermuka masam kepada anak-anak. Beliau tak pelit dalam menyatakan rasa sayang. Bahkan beliau adalah orang yang paling murah dalam mengulurkan tangannya untuk menggendong, memeluk, atau sekadar mengelus kepala anak-anak.

Saya kutipkan sebuah hadits berisi cuplikan kisah yang dibawa oleh Anas bin Malik, asisten kesayangan sekaligus orang kepercayaan Rasulullah.

"Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak daripada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Nabi pun berangkat (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap, karena suami ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabi pun segera mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali.” (HR. Muslim)

Atau dalam kisah yang lain, Rasulullah di tengah kesibukannya dalam tugas kenabian ternyata sempat meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Usamah bin Zaid pernah bercerita, “Rasulullah pernah mendudukkanku di satu pahanya dan mendudukkan Hasan di paha yang satunya. Kemudian beliau merangkul kami berdua sambil berdoa,

"Ya Allah cintailah keduanya, sungguh aku mencintai mereka berdua.” (HR. Bukhari)

3. Melayani imajinasi anak

Pikiran anak-anak ibarat lemari yang berisi segudang imajinasi. Ada sebuah kisah menarik lainnya yang kali ini terjadi antara Rasulullah dan salah seorang istri tercintanya; Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kisah ini diceritakan oleh ‘Aisyah sendiri.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.”

Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?”

‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud)

Lihat, bagaimana Rasulullah menanggapi imajinasi ‘Aisyah yang kala itu masih berusia belia. ‘Aisyah berimajinasi bahwa boneka kuda memiliki sayap (dalam siroh dijelaskan bahwa imajinasi ini ternyata dibenarkan dengan dalil bahwa kuda Nabi Sulaiman memang memiliki sayap). Beliau mendengarkannya dengan seksama, bahkan menimpalinya dengan tawa. Tak sedikitpun mematahkannya.

4. Jangan pernah berbohong pada anak

Rasulullah telah mengajarkan bahwa ternyata memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersebut dinilai sebagai sebuah kedustaan, dan itu dilarang. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Ibuku pun memanggilku, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu benar-benar ingin memberinya sesuatu?”

Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.”

Rasulullah pun bersabda, “Jika saja kamu tidak memberinya apa-apa, niscaya dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Daud).

5. Menjaga lisan terhadap anak

Termasuk bentuk menjaga lisan terhadap anak adalah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak menggunakan bahasa “alay”, dan lebih baik menggunakan bahasa baku. Sebab Rasulullah telah menjadi teladan bagi kita sebagai seorang yang memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik.

(Materi ini disampaikan oleh Ust. Galan Sandy; Manajer Kuttab Al-Fatih)

Sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan disebarkan. Allaahu a’lam. :)