lemaris

READ IT FORWARD Y'ALL

TECH BOOKS

RAISE YO’ VIRTUAL HAND IF YOU HATE BUYING TEXTBOOKS! (THINK AGAIN)

I just arrived in France for a semesta’ abroad at SORBONNE.   For those of you that know me, I have ALWAYS dreaded textbook shoppin’, but this year I’m feelin’ different.

The latest trend is a “TECH BOOK”

I believe in SCHOOL.

YES. SCHOOL IS COOL.

I mean that’s what got me to France RIGHT?

(I’m sure most of you saw my last post on STATE BAGS, which is dedicated to donating a backpack to a child in need, for everyone that is SOLD).

FASHION FORWARD= READ IT FORWARD

Imagine – what if every virtual textbook you bought, a book was given to a child in need?

What if you made a difference by bein’ #trendy?

YOU CAN.

McGraw Hill has started his UNREAL initiative called READ IT FORWARD.

You buy a #trendy virtual textbook

McGraw Hill donates a book to a child in need.

I GOT MY MARKETING BOOK FROM MCGRAW  &  THEY GAVE A BOOK TO A CHILD IN NEED. If you’re buying’ schoolbooks, you mine as well do it before October 13, so a kiddo can get a book too :).

HOW MUCH DOES THAT ROCK?!

Xo,

Larz

instagramtwitta’|  facebook youtubepinterest

READ IT FORWARD Y’ALL was originally published on Livin Like Larz

Superman #139 (DC, 1960) / Curt Swan cover [***

Σούπερμαν: Αντίο Λόις! Μεταμορφώθηκα σε γοργόνο, ούτως ώστε να ακολουθήσω την αγαπημένη μου γοργόνα και τον Λαό της στα βάθη της θαλάσσης!

Λόις [σκέπτεται]: Ο Σούπερμαν και η Λόρι θα ευτυχήσουν μαζί στον υδάτινο κόσμο της Ατλαντίδος! Τον έχασα για πάντα!

anonymous asked:

Who do you think are some underrated designers? I'd have to say Chalayan

Bouchra Jarrar, Francesco Scognamiglio, Lemarie and Undercover. I’ll certainly agree about Chalayan too. What he’s done back in the day was absolutely incredible.

Halooo.. belum semua buku karangan Tere Liye sudah saya baca. Beberapa masih berdiri tegak di lemari dan terbungkus plastik dengan rapi 😂 Ini yang sudah saya baca : 1. Ayahku (bukan) Pembohong 2. Negeri Para Bedebah 3. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 4. Bidadari-bidadari Surga 5. Dua kumcer yang aku lupa apa judulnya, namun aku tidak terlalu suka. Baru sedikit. Lainnya menunggu dibaca. :)

Selamat hari buku (-ngawur)

Namaku tak akan pernah tertera di dalamnya.
Buku milikmu, yang mungkin kini telah kau simpan rapi dalam laci lemari di kamarmu.

Selamat Hari Buku Sedunia. 23 April.
Palu. 17.46 Wita.

Jangan sembarangan menaruh hati di meja. Nanti kalo ada yang ngambil bahaya.

Simpan hati baik-baik di lemari kaca. Kuncinya jangan diletakan sembarang juga. Kalo ada yang nyuri bagaimana.

Tanta Saru Warna Biru

Biru ?

Biasanya dipakai teman temanku menghadap guru

Takbanyak yang tahu pekerjaannya dulu


Biru ?

kadang mereka pakai untuk bersorak sorai sambil memegang batu

takbanyak yang menggunakannya sebagai hal yang tabu


Biru ?

biasanya menjadi kesukaan kaum kaum borjuis yang ingin menikmati keindahan baru

Tapi takbanyak yang mengais ngais demi menikmati indahnya masa itu


Lalu ada apa dengan biru ?

beberapanya membubuhi dengan tag tag baru

tak sedikit yang menambahinya dengan benderaku


Lalu apa peduliku dengan biru ?

kadang aku memakainya untuk berteriak menyeruka suara baru

tak sedikit yag memakainya untuk menonton acara acara saru


Lalu..

Sampaikan ku gantung si biru di lemari penuh baju baju ?

Apakah si biru tak bosan memandangiku dengan wajah palsu ?

Ketika dulu, entah…

Kembali, dengan adanya luka..
“Lagi nyari apa?” tiba-tiba, melihat ku yang tengah asyik mengacak-ngacak lemari
“Nyari hansaplast Bah!” jawab ku singkat
“Buat?” tanyanya lagi meminta penjelasan
“Jangan kepo!” jawab ku sambil pergi
“Eeeeeh sakeudap!” panggilnya menghentikan ku
“Hmm? Apalagi?” mulai gusar
“Itu kenapa jalannya jinjit-jinjit?” tanyanya lagi yang lebih kesal
“Ouh ini!” tunjuk ku ke kaki sebelah kiri, “Kayanya ada beling deh yang masuk ke sepatu. Baru kerasanya tadi pas nyampe rumah hahaha!” lagi-lagi, heran dalam kondisi itu masih aja bisa ketawa
“Apanya yang lucu? Apanya yang harus diketawain?” tanya abah yang benar-benar marah “Sana bersihin lukanya!” lanjutnya sambil berlalu
“Heueum!” jawab ku
Beberapa menit kemudian … .
“Nih!” menyodorkan hansaplast, kapas dan obat merah
“Ga sekalian dipakein Bah?”
“Is yah pake sendiri lah!”
“Iya….lagian ika juga ga minta abah beliin itu ih.. ika bisa beli sendiri!” kata ku sewot
“Yank… yank.. hobi yah kalo kaya gini? Kalo ga luka di tangan, pasti di kaki, di dagu, lutut atau apalagi?” tanyanya
“Hehehehe!”
“Malah cengengesan!” katanya sambil mengelus kepala

*Dia tahu cara memperlakukan seseorang, tanpa seseorang itu merasa lemah, mungkin itu satu dari berjuta alasan irrasional yang membuat mamah klepek-klepek hahahaha “Hei bah, cariin satu yang kaya gini.. yang kaya Abah!” :D

rencana-rencana baca buku-nulis resensi belum berjalan sesuai harapan :D
ini beneran banyak yang keluar jalur alias melenceng

buku tebel-tebel masih diem di lemari, bookmarknya masih di bab 1 :D
belum pindah-pindah
malah mesen buku gak tau besok bakalan dibaca kapan
re-stok dulu :D

gajeba :D
hahaha

bentar lagi uts
rasa-rasa masih belum puas belajar
pun mau belajar juga pengen ditemenin
maksudnya gak mau belajar sendiri, kalo ada temen kan bisa diskusi, nanya-jawab ato apah gitu u,u
fufufu

tugas mini project belum jelas
ngebut belajar aljabar linear sama data mining
ada yang bisa bantu?

ini sebenernya moodboster-nya belum dapat
pengennya belajar di perpustakaan tapi gak bisa leyeh-leyeh + gegoleran
*alesanterselubung xD

ayeyyyy ^^)9
Allah Maha Pemberi Semangat

Seperempat (Jam)

Sial! Kenapa alarmnya tidak berbunyi? Ini sudah pukul sembilan dan wawancara kerjanya dimulai satu jam lagi. Tidak ada lagi yang bisa mencegahku untuk segera berlari menuju kamar mandi. Aku berusaha mempercepat ritual pagi ini, bagaimanapun caranya. Aku menyikat gigiku sambil buang air besar, keramas sambil buang air kecil, menggosok badan dengan sabun sambil mencuci muka. Hingga memasuki fase bilas, semua menjadi gelap.  Listrik padam di waktu yang sangat tidak tepat. Ku putar-putar keran shower, ternyata airnya berhenti mengalir. Sial, sial!

Aku sempat menampung air di sebuah ember, namun hanya setengah yang tersisa. Dengan terpaksa aku membilas seluruh tubuhku yang penuh busa dengan air seadanya. Tubuhku masih lengket, tapi tidak ada lagi yang bisa aku harapkan. Aku menyeka sisa air bilasan tidak bersih ini dengan handuk sambil berjalan menuju lemari, membukanya dengan terburu-buru. Mataku berputar-putar mencari sesuatu yang tidak dapat aku temukan. Emosiku makin meledak dan akhirnya aku tumpahkan semua baju-bajuku ke atas lantai. Aku tidak melihat sepasang kemeja putih dan celana hitam. Kesialan apa lagi ini?

Ya Tuhan, aku lupa mengantar baju kotorku ke laundry beberapa hari lalu. Keranjang baju kotor akhirnya menjadi sasaranku berikutnya. Aku menemukannya dalam keadaan kusut dan bau apek. Masa bodoh dengan jamur-jamur yang menempel, aku menyetrikanya secepat kilat dan menyemprotnya dengan pewangi sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin seleksi tahap akhir ini gagal begitu saja hanya karena seragam hitam putih yang sekedar formalitas saja. Akhirnya dengan bekas sabun masih menempel di tubuh dan baju yang sedikit bau keringat ini, aku siap menyongsong karirku.  

15 menit berlalu dan aku tidak menemukan satu bis yang sesuai dengan jalur tujuanku. Persetan dengan hari ini, mengapa aku begitu sial. Gerimis jatuh membasahiku dan jalanan sesak ini perlahan-lahan. Aku berteduh di bawah jembatan penyebrangan dan menyerahkan harapanku pada taxi yang juga tidak berhenti satupun saat aku melambaikan tangan. Tidak menemukan jalan keluar, aku menghampiri pangkalan ojek beberapa meter dari tempatku berteduh. Wahai hari yang penuh sial, aku tidak akan menyerah begitu saja padamu. Ojek yang kutumpangi melaju menembus padatnya lalu lintas.

“Waduh mas, ini hujannya makin deras nih, berhenti dulu ya, pakai jas hujan dulu,” ujar si tukang ojek.

“Oke pak, tapi agak cepetan yah,” jawabku dengan sedikit panik.

Dia memberikan jas hujan yang agak kebesaran padaku. Aku tidak tahu lagi rupaku seperti apa dibonceng oleh bapak ini. Aku duduk dengan sangat tidak nyaman, penuh waspada karena khawatir air hujan merembes masuk melalui celah-celah jaket dan membasahi pakaianku. Moodku hancur berantakan diombang-ambing oleh keadaan, tapi aku berusaha keras untuk tetap bisa fokus.    

“Terimakasih banyak bapak,” aku tersenyum lega sambil memberikan sejumlah uang kepada tukang ojek yang berhasil mengantarku tepat waktu.  Aku sudah berada di lobi sebuah gedung perkantoran, tempatku melakukan interview dengan calon bosku nantinya. Aku kembali melihat jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh tepat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Segelas kopi hangat dan sebatang rokok mungkin bisa menjadi solusi tepat untuk mengumpulkan semangatku lagi. Terlambat 15 menit tidak apa-apa, pasti bosku datang terlambat juga. Aku melangkah dengan santai menuju kedai kopi di samping lobi, memesan segelas kopi hitam, duduk di smoking area, dan mempersiapkan jawaban dari kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh calon bosku nanti.

Pukul sepuluh lebih 15 menit, aku sudah berada di depan meja resepsionis kantor tempat tes kerjaku. “Silahkan Mas, lewat sini,” kata seorang perempuan seumuranku, sambil mengarahkanku ke sebuah ruangan. Aku melihat seorang pria paruh baya dengan wajah oriental sudah berada di situ, mungkin sejak lima menit yang lalu. Menyadari aku telah masuk, dia langsung berdiri dengan senyum yang ramah dan menyapaku antusias.          

“Hai, kenalkan nama saya Li Qiang, I’m from Malaysia but don’t worry, I can speak bahasa Indonesia as well,” pria itu memperkenalkan dirinya.

Oh, that’s good!” Aku meresponnya dengan semangat. Kita berdua saling berjabat tangan, dan duduk berhadapan di antara sebuah meja panjang.

“Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak atas partisipasinya untuk mengikuti tes seleksi kerja di perusahaan ini sampai pada tahap akhir,” Pak Li Qiang memulai percakapan, logatnya masih kental dengan aksen melayu, tapi aku dapat memahami jelas maksudnya. “Pada final test ini, tersisa dua kandidat dan anda adalah kandidat yang terkuat. Kandidat satunya baru saja selesai wawancara dengan saya, kemampuannya hanya rata-rata. Sayapun tidak perlu lagi mewawancarai anda, karena saya sudah membuat keputusan,” lanjutnya lagi. Aku tersenyum simpul atas pujiannya, firasatku mengatakan pekerjaan ini adalah milikku. Jelas kali, penjelasan Pak Li Qian ini adalah tanda bahwa aku telah diterima. “Ehm, mohon maaf, anda tidak lolos pada proses rekruitmen ini, artinya anda belum diterima untuk bekerja di perusahaan kami,” senyum di wajahnya menghilang, begitupun aku.

“Maaf Pak, apakah tidak salah Pak? Barusan Bapak bilang saya adalah kandidat terkuat, kenapa malah tidak diterima Pak?” Tanyaku penuh heran.  

“Ya, your skill and knowledge sangat memenuhi requirement kami, tapi sikap anda tidak menunjukkan anda benar-benar siap untuk bekerja,” jawabnya. Aku sadar, pasti ini karena keterlambatanku.

“Tapi pak, saya hanya terlambat 15 menit. Itupun bukan karena kesalahan saya Pak. Trafficnya lebih macet dari biasanya, ditambah hujan, bapak sendiri tahu …” belum sempat aku selesaikan penjelasanku, Pak Li Qiang mengangkat tangannya, menghimbauku untuk berhenti mengoceh.

“Anda sudah paham jalanan Jakarta sangat unpredictable, kenapa anda tidak siap-siap lebih awal? Wake up at 6 am, may be.”

I did sir,” jawabku dengan mengiba, “saya sudah bangun lebih awal, tapi Bapak tahu perjuangan saya? Saya harus mandi dalam gelap, karena mati lampu, belum lagi airnya ikutan mati. Baju ini kotor pak, saya terpaksa repot-repot setrika lagi biar rapi. Belum lagi bisnya penuh semua, taxi gak ada yang mau ngantar saya pak.” Ah aku akhirnya berterus-terang tentang drama yang terjadi padaku pagi ini. Dia menggelengkan kepalanya.

“Intinya adalah semua itu tidak akan terjadi kalau anda sudah mempersiapkan semuanya dari awal. Asal anda tahu, saya tadi melihat anda masih duduk-duduk santai di coffee shop sambil merokok. Kenapa anda tidak langsung naik ke kantor saya saja tadi?”

Aku terdiam membisu.

“Menurut anda saya bisa menerima jika anda terlambat 15 menit, begitu? Itulah yang membuat anda, dan manusia lain yang tinggal di Jakarta tidak siap hidup dengan kemajuan yang diciptakan kota ini. Sekali lagi terimakasih banyak.”

Saya mengucapkan salam perpisahan sambil menjabat tangannya dengan lesu. Aku berharap tidak ingin mengunjungi tempat ini lagi. Aku sudah mempermalukan diriku sendiri, bahkan negaraku, di hadapan orang asing. Aku menatap kosong koridor menuju pintu keluar sambil bergumam dalam hati, “sial aku menyia-nyiakan seperempat jam yang berharga dalam hidupku.”

Surat Pendek Buat Ibu di Kampung

Setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku mungkin ada disana menemaninya. Ketika ibuku berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, rahasiaku barangkali yang menggenggam cermin untuknya.

Ibuku masa lampau. Kenangan. Dia selalu mampu mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang cuma mampu menunggu dikecup. Kata-kataku selalu ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka tidak punya jemari.

Puisi ini sama belaka. Sekumpulan batang-batang pohon mati, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding. Semata memiliki jendela, pintu dan sesuatu yang memeluki keduanya.


Disadur & sedikit di sunting dari puisi “Menyeberang Jembatan” karya M. Aan Mansyur
Anak Laki-Laki

Masa kanak-kanak adalah masa paling bahagia bagi umat manusia. Dimasa ini segala hal yang tak mungkin menjadi mungkin, tak ada kata mustahil dan tak ada batasan bagi alam pikirmu. Tidak hanya aku, kamu, kita, tapi juga mereka. Hanya ada kata bermain dan bahagia. Kalaupun ada kesedihan, semua akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berakhirnya tangis dan air mata. Gembira dan bahagia meskipun pada kenyataannya senyum dan tawa bukanlah suatu hal yang sederhana.

Ini adalah kisah tentang anak laki-laki yang terlahir dengan mata sipit dan berkulit sipit. Kelahirannya membawa kebahagian tersendiri bagi keluarganya yang sejak lama mendamba seorang anak laki-laki. Begitu pula bagi sang kakak yang sejak lama mendamba kehadiran seorang adik. Anak laki-laki yang selayaknya anak pada umumnya dengan memori dan kenangan bahagia. Album foto yang tersimpan di lemari usang berkayu jati dirumahnya menjadi saksi senyum dan tawa gembira dari bayi berumur setengah tahun hingga anak laki-laki berumur lima tahun. Tak lupa wajah-wajah bahagia berparas serupa bernama keluarga disekelilingnya.

Kehidupan anak laki-laki ini begitu sempurna. Menjadi anak laki-laki satu-satunya keluarga dan anak bungsu kala itu, belum lagi prestasinya yang membanggakan membuatnya menjadi anak mas yang begitu dimanja. Namun, setiap anak kecil selalu berfantasi dan memimpikan kehidupan layaknya tokoh hero di layar kaca. Power Ranger, Kamen Rider, superman dan spiderman, mereka semua memiliki musuh bernama monster yang harus dilenyapkan. Tanpa tokoh antagonis tersebut, maka takkan jadilah para pahlawan tersebut. Maka sang anak laki-laki tersebut mulai menari monster di kehidupannya. Dan terpilihlah sang kakak perempuan yang menjadi saudara kandung satu-satunya kala itu.

Tak ayal sang kakak menjadi korban dari fantasi-fantasinya menjadi pehlawan dirumahnya. Perbedaan umur lima tahun nyatanya tak membuat sang kakak menjadi lebih dewasa, mungkin juga karena lelah terus menjadi sasaran fantasi dari sang adik, membuat sang kakak larut dalam peran seorang monster. Bahkan saat tontonan anak-anak berubah dari tokoh hero menjadi pegulat-pegulat tangguh, pertarungan mereka berdua pun demikian tak akan selesai sampai satu orang terluka atau berhasil terkunci selama selang hitung 10 detik. Bahkan jurus-jurus dari pegulat profesional seperti John Cena, Undertaker, Ken, dan Rey Mysterio yang tenar kala itu menjadi tak luput menjadi referensi yang harus mereka praktekkan satu sama lain.

Tapi ada satu hal yang aneh, meskipun kerap saling melukai, tapi sang kakak merasa sedih kala sang adik sakit ataupun tersakiti oleh orang lain. Pengalaman yang paling diingatkanya adalah saat bulan Ramadhan sang adik berumur sekitaran delapan tahun. Bagi orang dewasa, bulan Ramadhan identik dengan memperbanyak amal dan ibadah. Tapi bagi anak-anak, Ramadhan adalah bulan kesenangan dimana petasan menjadi mainan yang mengasyikkan dan masjid menjadi taman bermain dalam sekejab. Si anak laki-laki bermain dan berlari dengan asyiknya di taman bermain yang menjadi tempat ibadah bagi orang dewasa. Larangan sang ibu tak diindahkannya hingga membuat sang ibu murka dan berkata bahwa si anak laki-laki akan celaka jika masih tak mengindahkan perkataannya. Dan benar saja. Doa ibu selalu dimujabah oleh Sang Maha Kuasa.

Malam harinya usai melaksanakan salat Tarawih, sang kakak perempuan dihampiri oleh segerombolan temannya yang mengatakan bahwa adiknya terjatuh saat berlari di masjid dan mengalami kebocoran dikepalanya. Saat itu sang kakak tak merespon sama sekali laporan dari temannya. Teman-temannya berkata bahwa ia kejam karena tak merespon musibah yang menimpa adiknya, bahkan tak bergegas melihat kondisi si adik. Yang sebenarnya terjadi kala itu adalah sang kakak sangat kaget hingga ia bahkan tak bisa merasakan dirinya sendiri. Membayangkan apa yang terjadi kepada sang adik yang menjadi lawan gulatnya selama ini, belum lagi laporan darah yang mengalir dari kepala si adik begitu deras, membuat sang kakak benar-benar tak bisa bergeming dari dirinya sendiri. Ia takut akan apa yang menimpa adiknya. Ia takut kalau ia tidak akan punya teman bermain lagi. Sesampainya dirumah, hal yang pertama kali dilakukannya bukan melihat kondisi adiknya, tetapi menghampiri dan marah kepada ibunya karena telah menyumpah adiknya. Ibunya hanya tersenyum dan membalas tawa kemudian berkata bahwa mereka bisa bernafas lega karena ternyata si adik baik-baik saja meski harus menerima beberapa jahitan dikepalanya. Seiring beranjak dewasa, perkelahian sang kakak dan anak laki-laki tak lagi seperti tontonan gulat live streaming. Meski tak lagi bertarung layaknya tokoh tokoh hero dan monster, perkelahian mereka tetap berlanjut berupa adu mulut yang tak pernah ada habisnya. Tapi hal paling unik adalah saat mereka tidak bertemu, mereka saling menanyakan dan merindukan satu sama lain.  

Mungkin benar kata orang-orang, anak laki-laki selamanya akan menjadi anak laki-laki. Meski telah kesekian kali terjatuh hingga kepala harus meneria jahitan, anak laki-laki tidak akan pernah jera. Berkali-kali masuk ruang badan konseling disekolahnya karena perkelahian, berkali-kali pula harus mengadu pada kakaknya untuk menggantikan sang ayah datang ke sekolah karena takut akan kemarahan ayahnya, tetap pula tak jera. Anak laki-laki itu kini tak lagi berkulit putih, namun tetap bermata sipit. Kulitnya berubah menjadi cokelat seperti buah sawo yang telah matang karena seringnya berteman dengan matahari. Tak lagi berprestasi seperti dulu karena sudah lelah dan bosan menjadi seorang good boy. Tak lagi menjadi anak bungsu dan anak laki-laki satu-satunya. Tak pula berkelahi dengan sang kakak karena sang kakak telah jauh darinya dan memahami pentingnya arti mengalah. Kenakalan demi kenakalan remaja satu demi satu dilakukannya, mulai dari perkelahian, pulang larut malam hingga hal-hal lain yang membuat sang kakak kini sadar bahwa ia telah gagal mendidik sang adik, yang membuat sang kakak sadar bahwa ia telah gagal menjadi kakak yang baik.

Kini sang kakak tidak lagi marah, hanya menasehati dan berusaha sedikit memaklumi. Sang kakak sadar bahwa anak laki-laki memang butuh masa pencarian jati diri yang lebih lama daripada anak perempuan. Sang kakak sadar bahwa kenakalan sang adik mungkin karena ketidaksempurnaan kehidupan yang harus dipikulnya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar Allah senantiasa melapangkan dan menjaga sang adik agar selalu berada di jalan lurus-Nya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar sang adik mengingat masa kecilnya yang begitu bahagia kala kesedihan menghampirinya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar sang adik bisa menemukan sisi kanak-kanak yang kini dilupakannya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar sang adik dapat menjadi kakak laki-laki yang berhasil bagi kedua adik laki-lakinya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar sang adik bisa membuktikan pada Tuhan dan orang-orang sekelilingnya juga kakaknya bahwa ia adalah insan yang senantiasa memberi kebahagiaan, kebanggaan dan menjadi pahlawan sebenarnya bagi keluarga, negara dan agamanya. Sang kakak hanya bisa berdoa dari jauh agar sang adik yang sekarang menjadi anak laki-laki bisa berubah menjadi pria dewasa yang tangguh dan bijaksana.

Selamat mencari jati diri, adikku. Selamat berumur enam belas tahun. Bersegeralah mencari arti kedewasaan, meskipun kakakmu ini pun mungkin tidak jua mengerti. Selamat ulang tahun adik yang tak pernah memanggilku kakak.