leherer

MENILAI

“Hmm, kayaknya dia orang jahat deh”
“Kok bisa?”
“Liat aja kelakuannya”

Manusia adalah makhluk yang senang untuk melakukan penilaian pada seseorang. Bisa jadi, menilai seseorang adalah langkah untuk membuat kita lebih waspada. Membuat kita menjadi lebih paham karakter orang. Membuat kita mampu memutuskan, apakah orang ini cocok untuk menjadi teman kita, atau tidak.

Namun, seringkali, kita malah larut dan begitu senang untuk memberi penilaian orang lain. Bahkan terkadang, hanya karena sebuah perilaku, kita langsung melakukan cap kepada orang tersebut.

Di rumah saya terdahulu, ada seorang orang tua, dia memiliki tato di sekujur tubuhnya. Dari pergelangan kaki, hingga leher, nampak jelas sekali terdapat tato menuputi permukaan tubuhnya.

Sekarang, pertanyaannya, apakah dia orang yang buruk atau tidak?

Jika kamu melihat sekilas, maka kamu akan menyebut dia orang yang buruk. Jangan untuk mengobrol, menatap matanya saja pasti kamu sudah enggan.

Tapi ternyata, beliau ini adalah orang yang paling rajin shalat. Bahkan ketika shalat jumat, dia adalah orang yang hadir pada awal waktu. Dia datang dengan pakaian putihnya, tak nampak lagi tato di tubuhnya, tertutup oleh gamis putih serta sarungnya.

Tanpa bertanya, terkadang kita menentukan, keburukan seseorang atas apa yang ada pada dirinya, atau apa yang ia lakukan. Celakanya, kita juga senang memberitahu orang betapa buruknya orang lain dari penilaian kita yang begitu awam.

Padahal bisa jadi, apa yang ada pada dirinya, itu adalah masa lalu yang tak bisa ia hapus. Padahal bisa jadi, keburukan yang dia lakukan, adalah kebiasaan yang sedang dia coba hilangkan namun tak sengaja dia lakukan.

Kita tidak tahu, dia yang pernah menghina, adalah yang rajin membantu orang. Kita tidak tahu, dia yang mungkin sering terlambat ke kantor, adalah yang tak pernah terlambat bayar sedekah. Kita tidak tahu, dia yang berbaju kusam itu, adalah yang tak membeli baju baru, sedang menabung untuk membelikan anaknya hadiah ulang taun. Kita tidak tahu, dia yang jomblo, adalah yang paling menghormati wanita dibanding yang lain.

Maka, jangan terlalu menikmati memberi penilaian buruk kepada orang. Jangat terlalu cepat pula. Bisa jadi, orang yang terlihat jatuh itu, mungkin ia hanya sedang terpeleset sejenak.

Tugas kita bukan memberi penilaian, tugas kita adalah mengingatkan yang buruk, memantapkan yang baik. Toh, manusia mana yang sempurna?

MENILAI
Bandung, 5 Desember 2016

Hari Wedding

Aku ni penggemar wedding…sbbnya bila wedding org akan pakai yg cntik2 dgn kemas2….
X kira lar ko makcik ke atau isteri org ke…pakaian
Mesti xnk kalah….hari ni je tetek pengantin perempuan bape kali
Aku buat2 terlanggar….mmg sedap bro….
Pilih je sesiapa yg kau nak pastu kau langgar…xde sape kisah..
Penah skali aku hampir2 tercium leher perempuan sbb nk terjatuh….
Tp mmg xde org marah…gitu lar aku…
Penggemar tetek perempuan….kene plak yg mmg taste aku…
Thank semua yg x kisah tetek die kena raba atau kena
langgar berulang kali…huhuhu
Tuk suami die,maaf bro..tetek wife bro best…hahaha
Nk je aku ckp terang2..bos swap gambar naked wife nk….
Klo lar die pun sporting…kan best….

“Ikhlas itu tak harus merasa ringan..

Adalah Ibrahim AS, pemilik sebaik-baik keikhlasan.
Mengurbankan Ismail, putra yang dinanti-nantinya, yang akhirnya bisa ia temui setelah ditinggalkan sendirian di gurun yang gersang.

Berat terasa olehnya..
Dipejamkan matanya seraya mulai menggerakkan pisau ke leher Ismail..

Lepaskanlah..
Maka bila taat terasa berat, pejamkan mata..
Dan Allah akan sempurnakan semuanya dengan cara-Nya..”

(Salim A. Fillah)

Hari ini baca lagi berita seorang ibu yang menghabisi nyawa anak kandungnya. Di cengkareng ya, kemarin kejadiannya. Ibu yang dikenal pendiam dan tanpa masalah membunuh dan memutilasi anak keduanya yang berusia satu tahun. Suaminya anggota provost di polda metro jaya. Gak ada yang aneh, kehidupan bertetangga berjalan normal saja.

Peristiwa ini membuat aku teringat Maria Ayama. Pada tanggal 30 Mei 1990, dia menggunakan pisau dapur untuk menggorok leher keempat anaknya yang berumur 3 sampai 11 tahun. Atau kasus psikologi ekstrem yang mendunia, Andrea Yates, tanggal 3 Mei 2001, dia menghabisi nyawa kelima anaknya dengan cara menenggelamkan di bath tup. 14 Mei 2001 dia didiagnosis menderita depresi berat pasca melahirkan (psikosis post partum) dan kasus ini ramai diperbincangkan para psikiater termasuk pemberian Haldol (obat keras antipsikopatik) untuk diresepkan ke pasien.
Oiya pernah juga aku baca seorang ibu di bandung yang membunuh ketiga anaknya dengan cara persis seperti Andrea, ditenggelamkan di bath tup. Ibu itu berjilbab lebar, suami berjenggot dan baik2 saja sama tetangga. Maksud aku, kehidupan spiritual dan sosial mereka baik2 saja. Semua peristiwa memilukan ini dilakukan ketika suami2 mereka sedang bekerja.

Hmm, ada beberapa ilmu yang harus digunakan untuk menguraikan kasus ini. Psychoanalysis, Archetype, Field Theory, Genetics, Innate, Determination dan Existentialism. Deretan ini bisa diperpanjang dan aku capek nulis panjang2 hihihi..

Ok, kembali ke laptop..
Depresi pasca melahirkan terdengar menyeramkan ya? Tahukah kita faktanya hampir 70% ibu melahirkan mengalaminya. Mulai dari yang levelnya paling rendah, baby blues syndrome sampai psikosis seperti Andrea dan Ayama. Kenapa wanita begitu rapuh? Plis dong ah, wanita itu agamanya kurang dan akalnya cuma setengah, itu kata agama. Tentu butuh sosok yang bisa menambah agama dan bisa menggenapkan akal kan? Siapa? Tentu saja orang terdekat yaitu suami. Jangan tuduh wanita cengeng kalo kamu belum pernah ada di posisinya. Kesusahan selama hamil hampir 10 bulan dan kesakitan saat melahirkan bahkan Alloh sebutkan dalam Alquran. Menyusui selama 2 tahun, mengatur uang belanja, memastikan anak dan suami makan, lantai mengkilat, dapur bersih, kasur nyaman. Deretan ini bisa diperpanjang…

Wahai para suami, hentikan sejenak aktivitas social mediamu, mancingmu, berkuda, naik gunung, memanah, ngopi di warkop. Deretan ini bisa diperpanjang…

Pulang, peluklah istrimu, pandanglah wajahnya yang lelah tidak secantik dulu waktu pertama kali kau lihat. Sekali2 gantikanlah tugasnya sebentar, buatkan dia teh manis hangat dan belai lembut rambutnya. Ucapkan terima kasih untuk jihadnya selama ini. Anak2mu sehat dan aman bersamanya. Kamu pun tenang dalam bekerja mencari nafkah. Ucapkan terima kasih, dia bertaruh nyawa melahirkan keturunan yang kau banggakan. Meninggalkan kenikmatan bersama orang tuanya demi merajut hidup bersamamu.

Maafkan kekurangannya
Luangkan waktumu
Cintai dan berterima kasihlah.
Coba aja praktekin, aku yakin istrimu akan menangis haru diperlakukan demikian.

Istri dan ibu yang bahagia adalah asset anak2 untuk bahagia.

Facebook Pipit Sophia

Dheg!

Iya. Berita tentang ibu yang mutilasi anaknya berusia 1 tahun itu ngegeleser di hati. :’’((. Sebagai manusia biasa, yang dirasakannya pastiiiiii berat. Tekanan yang tidak terlihat bahkan oleh orang terdekat (suami), baik-baik saja dari luar nyatanya berantakan, ingin bicara (mengeluh) tapi ada ketakutan dan keengganan, dan lain-lain.

Jika ini dikatakan sebagai sebuah penyakit, ini pasti ada obatnya. Komunikasi yg baik antara suami dan istri salah satunya. Wanita butuh sekali teman bicara, didengar, dimengerti. Seringlah bertanya ada apa, kenapa, lalu dengarkan. Sesederhana itu bisa menebus kelelahannya, bisa mengurangi tekanan yang dirasakannya. Jangan dicap drama, melankolis, cengeng, lemah, karena memang begitu kebutuhannya.

Duh ya…. kita beruntung gak bernasib sama dengan adek bayi itu. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat semua, mas-mas yg sudah jadi suami dan ayah, mbak-mbak yg sudah jadi istri dan ibu, calon-calon istri dan calon-calon suami. Menikah bukan mudah, tapi pasti tidak juga sesulit yg dibayangkan: selama pikiran mau terbuka, hati mau menerima, dan Allah yang ada di antara keduanya.

  • Akang tukang warnet yang baik hati punya lesung pipi : yah, buat lamaran lagi teh?
  • Uni nya : iya Kang. Hiks.
  • Akang tukang warnet yang baik hati punya lesung pipi : yang kemaren kumaha?
  • Uni nya : *geleng2 sambil miringin bibir tangannya nebas leher
  • Akang tukang warnet yang baik hati punya lesung pipi : waah jadi teteh nganggur lg donk?
  • Uni nya : *manggut-manggut sambil angkat angkat alis
  • Akang tukang warnet yang baik hati punya lesung pipi : hmmm sementara mau bantuin saya ga? Ngerapihin warnet sama bantuin fotokopian. Hehe. Ntar saya upahin per hari deh.
  • Uni nya : *mata membelalak, senyum lebar, manggutnya makin kenceng
  • Lumayan. Alhamdulillah : ))))))
3

Penampilan Wanita dengan kaos ketat lengan pendek seperti ini selalu membuat kontol aku ngaceng , lekuk liuk tubuhnya begitu menggoda , dengan toket tak terlalu besar tp juga tak terlalu kecil yang bulat menantang membuat rasa penasaran ini menjadi nafsu sex. Kubayangkan mendekapnya dr belakang sambil aku remas kedua toketnya serta kuciumi dan kujilati leher dan bahunya. Ku gosok2an kontolku di pantatnya….oooohhh pasti sangatlah nikmat sekali…,namanya Vita penampilanya penampilan seorang wanita yg aku idam2kan…memakai kaos ketat berlengan pendek dengan tubuh yg tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk atau di sebut sintal padat dan berisi…,meskipun aku sudah beristri , jika aku lihat fotonya…atau foto wanita lain yg memakai kaos ketat dengan bagian lengan pendek….aku selalu ngocok sambil berfantasi…,dan kebetulan saudara sepupu istriku yg tinggal di dekat rumah kami , meski wajahnya jauh jika di bandingkan dng istriku dan kulitnya agak gelap dia sering sekali memakai kaos ketat dng lengan pendek hingga kontolku ngaceng jika melihat dia tampak dr jendela rumahku..,pernah juga waktu malam dan cuaca hujan seharian hingga membuat seluruh jemuran tak dapat kering…,kulihat BH dia di jemur di depan teras rumahnya…,kebetulan hujan membuat seluruh penghuni rumah dia tidur pulas…saat itu juga aku ambil BH sepupu istriku…,lalu aku intip dr jendela rumah milik sepupu istriku…,kulihat suaminya sudah tertidur pulas di kursi…lalu kulihat sepupu istriku tidur dengan anaknya , dan dia tetap memakai kaos ketat berlengan pendek…,sambil memandanginya dr luar jendela…aku kocok kontol aku sambil aku ciumi BH sepupu istriku….waaaaaoooow sensasi yg kurasakan sungguh luaaaarr biasa….hingga waktu pejuhku muncrat…BH'nyalah yg aku jadikan tempat menampung cairan pejuhku…pikirku jika BH di pakai pasti toketnya terkena pejuhku….,fantasi yg sangat luar biasa nikmatnya

Dengar, patuh dan terpaku tunduk
Selesakan di bawah, sujudnya rujuk telunjuk
Tenagamu kencanaku katanya fitrah gawai
Kedanamu ketawaku dekahnya hingga sawai
Berontak, dongak, lembayung ku ternampakkan
Si hering menyorak, ngoyak awan canggung dan berantakan
Dah diragut total, cinta resiprokal
Bila dipersoal kekal equivokal
Katanya tanggal tali leher itu
Cukuplah seharian digembala
Lupuskan logarithma yang menghantui kepala
Dalam tafakur, akur, sadur mimpi yang dikabur
Karektor kartun kantor dan karikatur diktator
Dikabur takbur shabab yang bermusim
Tak punya tempat di benak jiwaku jemaah mereka bermukim
Al-Malik, Al-Kudus, As-Salam, Al-Mukmin
Ubat gementar senja suara ngekor roh ke kasur
Masyghur, runsing… jah

(Dayang Nurfaizah)
Pejamkan mata
Mata yang lesu itu
Dan mimpikan yang indah
Mimpikan aku
Biarkan gelita
Menghapus derita
Pejamkanlah matamu

(Malique)
Aku terdengar suara itu lagi
Dari tenggara namaku diseru
Disuruh hembusnya lilin di setiap empat penjuru
Katanya mata penamu tak mencoret solusi
Kata magismu takkan mampu cetus revolusi
Manusia kan sentiasa menyakiti
Yang tak membunuh buatmu kebal sehari lagi
Masa untuk koktel lorazepam, ambien, risperdal
Semoga afdal bertemu di astral
Selamat tiba kita ke republik cinta
Lagenda dimensi ruang dan waktu tak bersempadan
Halaman terbentang suci, dicuci noda dan nista
Terhapus dogma dan stigma, kepincangan dan kehilangan
Arasy yang tiada penghuni mengugut buli
Tak perlukan runut bunyi, sembunyi, bersunyi sakan
Di hati dan pituitari menarinya tanpa bumi
Menyanyinya tanpa bunyi, keghaibannya kita raikan

(Dayang Nurfaizah)
Pejamkan mata
Mata yang lesu itu
Dan mimpikan yang indah
Mimpikan aku
Biarkan gelita
Menghapus derita
Pejamkanlah matamu

(Malique)
(Hakikatnya nirvana di sana
Di sini masih lagi samsara
Cuba tak diperhambanya dunya
Sukar tapi aku cuba
Sukar tapi aku cuba ya)

(Dayang Nurfaizah)
Kembalikan senyuman
Serimu yang dulu
Kembali ke dakapan
Ku perlindunganmu
Walaupun gerhananya
Seakan tak berakhir
Selagi ku di sisi
Tak usah khuatir

(Dayang Nurfaizah)
Pejamkan mata
Mata yang lesu itu
Dan mimpikan yang indah
Mimpikan aku
Biarkan gelita
Menghapus derita
Pejamkanlah matamu

directions :   you can tell a lot about a person by the music they listen to. put your mp3 player, itunes, spotify, etc. on shuffle & list the first 10 songs & then tag 10 people ———  everybody, no skipping!

1. Sail / AWOLNATION

2. C’est Moi / Camelot Musical

3. Lick it / God-des and She (hhhhh)

4. The Righteous and the Wicked / TRHCP

5. The Masochism Tango / Tom Leher (oh god why)

6. Go Kart Racing / Garfunkel and Oates

7. Merry Happy / Kate Nash

8. Love Me Tender / Elvis Presley

9. Wide Shut / Myrath

10. Fear & Delight / The Correspondents 

tagged by : @majcrandre
tagging :  uuuum @iuriis @riisorgimento @wehrmxcht @facilitati @gritsbitch anyone else

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kaumasih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat?

Lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita.

Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?

Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu.

Manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969


Soe Hok Gie 

Setiap selesai Ibunya mengucapkan dua salam sebagai tanda penyelesaian sembahyang mungkijo kecil akan berlari menghampiri ibunya, kadang mungkijo kecil datang dari arah belakang untuk mendekap punggung ibunda, kadang ia berlari dari arah depan dan menenggelamkan diri ke pangkuan ibu yang tengah duduk bersila sembari berdoa. Mungkijo kecil lalu akan menyingkap telekung putih ibunya yang dibordir motif motif bunga, lalu masuk ke dalam mukena, dalam pangkuan bercengkrama dengan dada dan perut ibunda yang pernah dulu sejenak jadi tempat tinggalnya.

Dari dalam telekung ibunya yang tengah khusyuk mengingat Tuhannya, tubuh kecil mungkijo bagaikan seorang bayi di dalam rahim. Kecil telapak tangan mungkijo meraba raba leher ibunda, terkadang turun hingga ke dada karena dulu urusan lapar pernah begitu mudah diselesaikan dengan menangis. Mungkijo pernah senang bersarang dalam peluk ibunda yang mengenakan telekung.

Jika mungkijo nakal, Si Ibu sering pura pura mati. Bagi anak sekecil mungkijo yang saat itu baru berusia sekitar 4 tahunan kematian apalah artinya, mungkijo merengek, ibunya pura pura meninggal, berbaring seperti mayit di atas ranjang, si ibu tak bergeming, merapatkan bibir dan kedua kelopak matanya, mungkijo kecil yang terkadang nakal merengek minta Ibunya hidup kembali.

Suatu ketika, mungkijo kecil diantarkan si Ibu berangkat belajar ke taman kanak kanak, di hari pertama mungkijo kecil bersekolah dirinya menangis sejadi jadi, minta pulang ke rumah, air matanya tumpah, menarik narik baju kurung ibunya, mata mungkijo kecil bengkak dan sembab, merah. Tapi ibunya tak marah, diturutinya kemauan mungkijo kecil yang menolak disekolahkan di taman kanak kanak, entah apa yang mungkijo kecil takutkan dari sekolah kanak kanak yang berada di jalan menanjak di kaki suatu gunung itu.

Deadline sudah didepan mata, orderan caption romantis yang diorder seorang lelaki mesti mungkijo selesaikan.

Mungkijo teringat dulu mendiang ibunya lah yang mengajarinya membaca, menghapalkan al lahab sebagai surah pertamanya, yang mengajarkan Mungkijo kecil menulis surat cinta pertama nya di kala masih balita, kata kalimat di atas secarik kertas yang lebih pantas disebut corat coret.

Katamu, jatuh selalu menyisakan sakit. Tetapi, sesakit apapun itu, aku akan tetap memilih jatuh. Jatuh hati kepadamu, berkali-kali. Selamat mendengarkan! :)

Aku Terjatuh

Ada yang terjatuh, serupa hujan rindu. ia mengalir pada anak-anak ingatan yang mulai gersang, tak lagi menjelma airmata sebab mengering bersama musim yang digugurkan:
serupa itulah aku mencintaimu yang garing.

Dik, Februari kembali merona namun ia masih menyisakan perit gigil yang menjerit. Seperti hangat yang terabaikan, atau justru seperti aku yang diam-diam kaudiamkan.

Barangkali, kita tak pernah dengan sengaja menabur benih-benih rindu, menyemainya dalam pot-pot cemburu, yang kelak tumbuh mekar mewangi sekalipun berduri, atau kita tak lebih dari mimpi-mimpi yang sebenarnya kerap menanggung gelisahnya sendiri. Meski imajiku mulai merayu–mengajakmu bercengkrama di antara rerimbun bait-bait paling sunyi.

Kadangkala, aku ingin berlari mencarimu, kemudian menghadiahi ciuman pada leher-leher resahmu, menyeduh kecupan di rebah dadamu yang patah, atau meniduri apa-apa yang tak semestinya kita sebut saling menyakiti.

Sementara, reput-reput ini kembali membeli retak: serupa musim-musim gelisah, beberapa sisa resah yang menggigilkan, atau justru rasa yang tak lagi kauhiraukan.

Dik, jika kelak kau kembali setuju, jalan pulang begitu mudahnya kautemukan, atau jika aku harus menjemputmu kembali, berikanlah beberapa kedip di salah satu kelopak matamu. Agar aku pun tak memberi ragu pada langkahku untuk memelukmu.

Bekasi, 2016

- ditulis oleh @tehjeruk

- dibacakan oleh @symphonykalbu & @narasibulanmerah

- cover oleh @filosofihujan

- mixing & mastering oleh @narasibulanmerah

Made with SoundCloud
Alangkah beruntung Sayyidina Hasan radhiyallahu ‘anhuma yang di masa kecilnya tidak dihardik karena menaiki leher kakeknya saat shalat. Padahal ia menaiki lama sekali sehingga membuat para shahabat yang menjadi makmum gelisah, sebagian mengira Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam sedang menerima wahyu.

Alangkah berbahagia Sayyidina Hasan dan Husain yang saat kanak-kanak berjalan di hadapan kakeknya, lalu terjatuh, sehingga kakeknya turun dari mimbar, menggendong keduanya dan membawanya naik ke mimbar, lalu melanjutkan khutbah dengan diawali perkataan:

صَدَقَ اللهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيْعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيْثِي وَرَفَعْتُهُمَا

“Maha benar Allah…"Hanyalah harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah”, aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya.“ (HR. Thirmidzi).

Alangkah beruntungnya seorang anak kecil yang menangis di kala Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam sedang memimpin shalat berjama’ah. Ia tidak dimarahi disebabkan tangisannya. Justru Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam memendekkan shalat.
—  Mohammad Fauzil Adhim
sekarang–
manusia ni makin menakutkan.

mana tak nya–
bila cinta tak berbalas;
kelar leher.
tikam.
belum lagi kes cemburu/dengki sebagainya.

bila cinta manusia dah lebih dari cinta Tuhan,
bila iman dah kemana,
bila marah dah kuasai diri,
astaghfirullahaladzim..
—  mintak di jauhkan lah benda yang tak baik ni.

Faris Odeh, 14 y.o. Standing alone without fear.

Hari ini, 8 November 2015, adalah 15 tahun martirnya Faris ditembak oleh Yahudi Israel di bagian leher saat ia melancarkan aksi intifadah pada tgl 8 November 2000. Foto ini diambil pada aksi sebelumnya tgl 29 Oktober 2000. Sampai hari ini, aksi heroik Faris menjadi ikon perlawanan intifadah global. Mereka para manusia bengis bisa memiliki senjata, tapi keberanian ada pada anak-anak Palestina.

Tentang Faris bisa dibaca di sini: klik.

Cinta adalah perihal rasa. Butuh dua raga untuk berpelukan, yang melingkar di leher, adalah yang membutuhkan sandaran. Yang melingkar di pinggang, adalah yang membutuhkan keseimbangan. Dua-duanya saling membutuhkan.
—  Source “Cinta Adalah Rasa, Bukan Asa”
#11: You're My Kryptonite

Hari ini aku mengintipmu kembali dari sela-sela dunia maya. Lima menit yang lalu, aku hanya ingin memastikan apakah kamu masih berpijar atau malah meredup.

Yang tidak dapat kupastikan adalah apakah aku sanggup untuk berdiri sejajar denganmu lagi, lalu membicarakan hal-hal yang sudah tertinggal di belakang. 

Karena kini pemandangan yang kudapatkan hanya punggungmu yang terbalut jaket abu-abu, rambut yang tersisir rapi, dan kerah kemejamu yang agak berantakan di leher. Dalam genggamanmu, ada iPod yang selalu tersambung pada telinga kirimu.

Aku kangen, kangen ketika kamu lebih memilih tanganku dibanding iPodmu. Setengah gila sudah, aku bertahan. Hanya boleh mengenal postur tubuhmu. Aku tidak boleh kemana-mana, cuma boleh ada disini. Sebab jika kamu berbalik, maka hatiku akan terperosok…dalam sekali, sekali lagi.

Karena aku cuma boleh ada disini;

…beberapa langkah di belakangmu.