legasi

telegraph.co.uk
Princes William and Harry tell of their regret over their last conversation with their mother
Duke of Cambridge and Prince Harry have spoken of their enduring regret over their last conversation with their mother, disclosing they had been desperate to rush off the telephone and get back to playing instead.
Orang Turki: Allah.. Allah..

Untuk kita, orang Indonesia, nama Allah itu merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan makna tunggal. Maksudnya maknanya ya nama Dia, Allah SWT. Jadi kita akan menggunakan nama tersebut pada tempatnya sesuai dengan konteks pelibatan Allah SWT dalam setiap pembicaraan.

Namun, semenjak saya tinggal di Turki, ada yang menarik dari orang-orang di sini terkait penggunaan nama Allah ini. Orang Turki itu suka sekali menggunakan nama Allah untuk banyak hal. Tidak hanya merujuk kepada makna tunggal, tetapi juga terkait sesuatu yang di luar kuasa manusia seperti kaget, terpukau, atau bahkan marah-marah. Semua orang Turki pasti sering bilang; “Allah.. Allah…” Nama Allah SWT disebut dua kali. 

Sebagai informasi saja, seperti yang disampaikan oleh teman saya, orang Turki tidak punya nama lain untuk tuhan selain Allah. Ada sih, yaitu tanrı (baca: tanre, “e” pada “enam”). Artinya tuhan. Tapi orang Turki teramat jarang menggunakan kata itu. Bahkan saya diomeli oleh kawan saya itu saat buat kalimat pakai “tanrı”, karena hanya digunakan oleh mereka yang non-muslim. 

Nah, kembali ke penggunaan kata “Allah.. Allah…” Menurut pengamatan sederhana saya, setidaknya ada beberapa kondisi di mana orang Turki sering mengucapkan “Allah.. Allah…”:

Saat mendengar berita yang membuat takjub, kaget, heran, sedih, duka.

Misalnya ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang lagi santai sambil minum teh, lalu mereka ngobrol sesuatu. Nah, misalnya, saat ada yang cerita kemarin terjadi tabrakan begini begitu di depan rumah. Biasanya yang mendengar langsung bilang “Allah.. Allah..” Atau saat dosen bertanya kenapa terlambat, lalu sang mahasiswa menyebutkan alasan terlambat karena salah transfer uang kuliah, dsb. Sang dosen biasanya langsung bilang “Allah.. Allah…” Berita sedih, kaget, takjub, dsb. 

Saat bercanda, ekspresi tidak percaya.

Kadang kalau lagi bercanda, orang-orang Turki menyampaikan ketidakpercayaannya dengan menggunakan kata “Allah.. Allah…” Misal anak-anak muda lagi ngobrol seru, lalu ada yang ngecengin temannya, biasanya juga ada selipan, misal “Duh, lo ini, udah mandi jarang, ga punya pulsa, jomblo pulak. Allah.. Allah.. mau dibawa ke mana hidup lo?” Atau kadang saya juga begitu, misalnya ada teman sms, “Herriy, lagi ngapain? Masih hidup, kan?” Maksudnya saking lamanya tidak kontakan dan sambil bercanda. Nah, saya jawab, “Allah.. Allah…” 

Saat marah-marah.

Nah, ini bagian yang paling sering saya dengar. Hehe. Orang Turki itu kan temperamental. Kapan saja, di mana saja mereka mudah sekali marah. Saya sebenarnya ada satu tulisan khusus tentang ini. Mungkin segera rilis nanti. Jadi, saat ngomel-ngomel, mereka paling sering nyebut “Allah.. Allah..” Biasanya sehabis ngomel, gerutu, atau maki-maki orang, selalu ada selipan “ Allah.. Allah…” Misal, ada yang turun dari tramvay, lalu ada juga yang masuk. Biasanya orang Turki juga tidak terlalu rapi seperti di Jepang. Jadi tabrakan di pintu masuk. Yang keluar dan tertabrak tadi langsung ngomel sambil bilang begini begitu, lalu disertai dengan “Allah.. Allah…” Kalau dalam bahasa Indonesia saya tidak paham asosiasinya bagaimana. Tapi, bagian marah-marah ini yang paling sering saya temukan. Kecipratan becek, “Allah.. Allah…” Ada bus ngetem di depan, sambil klakson, “Allah.. Allah…” Kesenggol orang di jalan, “Allah.. Allah..”

Mungkin ini adalah legasi yang masih tersisa dari peradaban Islam di Turki. Bagaimana Allah SWT menjadi sentral dari aktivitas masyarakat dan kekhalifahan. Sebab itu, dalam setiap kondisi nama Allah SWT selalu disebut. Bahkan berkembang menjadi kata yang tidak lagi mengandung makna tunggal. Terkadang bahkan orang yang tidak pernah shalat pun pakai kata itu. Mereka yang kalah judi bola juga pakai kata itu. Sambil kesal karena kalah, dia sebut “Allah.. Allah…” Yang sama sekali tidak shalat seperti atheis atau sosialis komunis pun pakai kata “estaghfurullah”, “insyaAllah”, dsb. Nama Allah mengalami pelebaran makna. Namun selain itu, nama Allah tetaplah menjadi nama untuk satu-satunya tuhan yang diakui: tetap merujuk kepada Allah SWT. Tidak ada tuhan lain. 

Semoga bermanfaat.

aku tahu aku bukan orang baik-baik,
karena itulah aku harus,
bersama orang baik-baik,
biar ada yang membantu,
menuju destinasi yang satu.

syurga

—  GENG SURAU Legasi II