lc9: rasa

Salam Dini Hari

Sengaja, dini hari aku cumbui. Dinginnya menjalar ke urat nadi, demi menuntaskan apa pun yang hari ini terlanjur menjadi bagian dari yang tak mungkin terulang.

Untukmu lelaki dengan jam di pergelangan tangan kiri, diam bukan berarti aku tak paham. Kadang-kadang diam artinya memendam; mengunci kelam pada dasar hati yang paling dalam.

Jika kamu ingat, sekali lagi, jika kamu ingat, aku pernah memasrahkan ini pada waktu yang hanya menurut pada Yang Maha Satu, pada aliran takdir yang mengalir di antara empat kaki kita.

Tak berniat mengikat, ini justru membuat kita semakin jauh terjerembap. Kamu dengan ringan kaki mulai bangkit, sementara aku, tak kunjung sembuh dari sakit; lunglai terbengkalai persis apa pun yang disebut bangkai.

Lelaki dengan jam di pergelangan tangan kiri, yang menjadikanku salah satu alasan untuk tersenyum, diamku, diam kita apa membuatmu lara dan luka-luka? Aku iya. Apa ia membuatmu rindu luar biasa? Hingga lumer ke jarimu, pundakmu, dadamu? Aku iya. Rasanya rata melata di luar kira-kira.

Tapi, biarlah kamu duduk saja. Tenang saja, tak sampai aku mengatakan ini semua. Karena diam, masih ingin aku jadikan ruh untuk merindukanmu jauh lebih dalam.

Aku memang sudah lama mengerti. Kita adalah dua yang sama-sama punya banyak cerita. Sayang, tak ada satu pun cerita yang tokoh utamanya kita berdua. Hingga dramaku ini entah sampai episode berapa.

Saat ini, aku hanya ingin merasakan, selagi rasa untukmu masih membuat pipi merona. Nikmati selama peduliku lahir tanpa harus dibeli dengan logam berpeti-peti.

Lelaki dengan jam di pergelangan tangan kiri, ini bukan tentangmu, ini masih tentang aku yang tahu kamu tahu bahwa rinduku selalu padamu.

Salam dini hari, peluk dia. Karena dinginnya sama persis dengan aku kini.