layared

krama

Manners are probably rare items in these days”

Kalimat itu jadi judul untuk gambar yang dirilis dosen saya ke linimasa media sosial. Gambar yang dimaksud adalah tampilan layar dari obrolan beliau dengan mahasiswa bimbingan skripsinya lewat aplikasi percakapan. Menariknya, bahasa tulis yang digunakan oleh sang mahasiswa terasa kurang elok dibaca. Tanyanya “Gimana, pak? Hari ini bisa ketemu?” dan “Kira-kira bapak di bdg lagi kapan yah? Besok saya sudah rencana pulang ke jakarta soalnya”. Kontan. Tanpa salam pembuka apalagi embel-embel “maaf”, “permisi” atau “barangkali”.

Buat saya, enggak heran kalau beliau cukup risau dengan tabiat anak didiknya. Kesenjangan sopan santun memang kerap hadir sebagai kisah klasik antar angkatan. Nyatanya, ada tiga generasi yang hidup membaur di jaman sekarang dan masing-masing berlaku dengan tata kramanya. Sikap yang dulu terbilang tabu, kini jadi amat biasa. Ditambah lagi, pola didik keluarga dan adat istiadat tiap daerah yang beranekaragam. Ada yang terampil berlemah lembut dengan sesama, enggak sedikit yang meninggikan nada sewaktu berbicara dengan ibu-bapak.

Cerita di atas mirip dengan pengalaman lama seorang sahabat yang ngirim SMS ke dosennya untuk bimbingan. Kekeliruannya sepele tapi berbuntut ceramah panjang-lebar tentang kesantunan dari sosok yang memang terkenal tegas di kampus. Ketik sahabat saya dari ponselnya, “Assalamu’alaikum, Bu. Maaf udah di kampus belum, ya? Hehe”. “Hehe” penutup itulah yang kemudian dijadikan bulan-bulanan oleh sang dosen karena dirasa mengesankan orang tua sebagai rekan sebaya.

Lebih dari satu dekade ke belakang, pada masa dimana harga untuk sebuah percakapan dibanderol lebih mahal, para mahasiswa di jurusan tetangga terbiasa untuk menyimpan rancangan pesan singkat di kotak draf-nya sebelum dikirim ke dosen. Mereka khawatir isi pesannya enggak sedap dibaca dan membikin ibu/bapak dosen ogah merespon  - apalagi ketemu. Dieditlah pesan itu berkali-kali supaya redaksinya ciamik. SMS dulu yang direvisi sebelum kemudian tugas akhir. Dulu mah segitunya.

Tolak ukur tata krama memang kerasa berubah dari masa ke masa. Tolak ukur itu senantiasa bergerak mengikuti perkembangan etika pergaulan yang dianggap lebih kekinian. Di SD dulu, saya pernah dapet mata pelajaran Budi Pekerti selama hampir tiga taun. Mungkin menurut para guru terdahulu, etika sedemikian penting makanya kenapa sampai dibikin jadi bidang khusus. Saking istimewanya, bapak kepsek turun langsung sebagai pendidik. Materinya enggak jauh dari kewarganegaraan, tapi cenderung lebih praktis dan mendasar semisal adab saat berjalan melewati orang tua. Sederhana namun lumayan mengena untuk menambah ajar siswa-siswi biar enggak kurang ajar. 

Tapi, dari pelajaran sesimpel itu ada banyak makna yang bisa dipetik untuk tradisi yang menomorsatukan tata krama. Saya jadi inget gimana cara bapak mertua berjalan melewati kami kalau lagi kumpul di ruang keluarganya. Di depan anak-anaknya yang tengah asyik menonton TV, beliau membungkukkan badannya sambil berlalu perlahan. Waktu pertama kali ngeliat, saya terkesima sendiri. Enggak cuma dikhususkan untuk para sepuh, ternyata kesantunan juga membeli hati kami yang belia.

“If you want, I will tell you what the highest knowledge is, which raises people in rank: it is humility”

Inti dari tata krama enggak jauh dari kata kunci yang itu-itu lagi, kerendahan hati. Saat jadi yang lebih muda, kita mau memandang mereka yang tua sebagai pendahulu yang padat ilmu dan amal. Saat jadi yang lebih tua, kita mau menempatkan mereka yang muda sebagai penerus yang penuh semangat dan cita-cita. Setiap orang berharga dan mungkin menyembunyikan kebaikan yang enggak kita tau. Mereka yang abai bersopansantun mungkin lupa tentang cara paling sederhana untuk membahagiakan sesama: membuat orang lain merasa penting dan dihargai.

Tiada penghormatan tanpa kerendahan hati. Tiada kesantunan tanpa kelembutan hati. Kesan semanis apapun bisa menggetir seketika kalau kita luput menyertakan tata krama. Maka, maaf, bersopansantun itu perlu.

Mereka yang tidur larut malam, mereka yang membenamkan wajah di layar ponsel, mereka yang terlihat menyendiri dikeramaian, mungkin mereka cukup kesepian hingga menciptakan ramainya sendirian. Sebagian dari mereka seperti itu.
Asa - Bagian 1

Terdengar bunyi notifikasi sebuah email masuk ke dalam ponsel. Aku buru-buru merogoh ponsel yang ada di dalam tas. Agak kesulitan menjangkaunya. Menatap layar ponsel dengan sedikit mengerutkan dahi. 

“Tara, klien minta desain ruang keluarga diganti lagi. Sore ini dimeja saya. Thanks,”. Sambil mendengus pelan, kukirim jawaban singkat. “Baik, Pak”. Standar. Sudah ada templatenya, jadi tinggal kirim. Entah apa maunya klien satu ini. Seminggu ini sudah empat kali desain dia minta ganti. Sedikit kesal aku dibuatnya. Membuatku berharap bus yang sedang aku naiki saat ini bisa melaju lebih cepat. Tinggal satu tikungan lagi aku sampai di kantor. Ada presentasi penting hari ini. “Ini bus nya nggak bisa lebih cepet lagi apa ya..”, gumamku sedikit panik.

Jarak kantor dari rumah jika ditempuh dengan kendaraan umum semacam ini bisa sampai setengah jam lebih. Tapi, kalau berangkatnya naik motor, dua puluh menit juga bisa sampai di kantor. Rute bus yang aku lalui ke kantor adalah rute jalan yang selalu padat dan sibuk setiap harinya, bahkan setiap paginya. Dan mengingat ini adalah satu-satunya rute bus menuju kantor, jadi aku tidak punya pilihan lain selain melewatinya dengan penuh kesabaran.

“ASTAGA!”, tanpa sadar aku berteriak sambil menepuk dahi. Keras sekali. Membuat beberapa penumpang bus menengok kearahku seakan dikomandoi. “Materi presentasinya tertinggal di rumah!”, pekikku. Aku pun segera berdiri menembus kerumunan penumpang. Memohon kepada sopir untuk segera mengentikan laju bus. Tidak ada pilihan lain. Aku harus kembali lagi kerumah. “Tara bodoh!”, tak hentinya mengutuki diri sendiri saat lompat turun dari bus. Sepagi ini ada masalah. Pertanda apa?

Halo, namaku Utara. Kamu bisa memanggilku Tara. Kenapa dengan namaku? “Agar kamu selalu bisa menemukan jalan pulang, Nak”, begitu jawab Ibuku saat aku masih kecil merengek minta ganti nama. Taukah kamu, Bintang Utara atau Bintang Polaris adalah bintang yang paling terang di rasi Ursa Minor, dan sudah lama digunakan manusia sebagai penunjuk arah? Belum tahu? Nah, sekarang kamu sudah tahu.

Aku melirik jam tangan yang jarum jamnya sepakat menunjukkan pukul sembilan pagi. “Sial, terlambat lagi!”, batinku setengah berlari menuju lobi. “Tolong tahan lift nya!”, kataku setengah berteriak. Aku bergegas memasuki lift, dan mengucapkan terima kasih. “Selamat pagi, Tara. Kamu terlambat lagi pagi ini?”, tanya seseorang yang suaranya terdengar amat familiar. Seketika aku menengok. Leherku tercekat. “Jalanan macet, Pak.”, jawabku serak. Pasrah. Jawaban yang seadanya, atau lebih tepatnya asal saja. Dialah Pak Bagaskoro, orang yang mengirimiku email tadi pagi. Ya! Sekaligus CEO tempat dimana aku bekerja. Kakiku lemas seketika.

==============================================================

Catatan : Ini merupakan proyek kolaborasi coba-coba antara @spidertazmo dan @karinawinss Ditulis bersambung dengan minim pembicaraan tentang scene, kegiatan tokoh dan lain-lainnya. Dipublish sedatangnya ilham saja. Karena cukup ilham yang datang, kalau kenangan jangan!

Ini adalah Asa - Bagian Pertama

Bagian Kedua ada di Asa - Bagian 2  @spidertazmo

Bagian ketiga ada tunggu waktunya ya….

Selamat Hari Anak Nasional 2016

Kini, anak-anak lebih senang menonton film kartun daripada membaca atau mendengar dongeng. Padahal tidak semua film kartun itu memberikan pesan moral yang jelas dan sebagian besar hanya menyuguhkan hiburan saja. Contohnya: demam game Pokemon Go yang kini sedang menjadi fenomena di Indonesia, baik di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Kenapa orang dewasa? Karena game Pokemon Go merupakan perwujudan kecil dari serial film kartun asal Jepang yang dikemas untuk me-recall memori para penontonnya yang dulu masih kecil saat film ini ditayangkan pertama kalinya di layar televisi.

Nah, kalau sebuah film kartun mampu memanggil kenangan masa lalu seseorang, bagaimana dengan dongeng? Dongeng selalu menarik untuk diceritakan dan didengarkan, bukan? Bahkan dongeng bisa menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak.

Jadi, di perayaan Hari Anak Nasional ini, mari ikut berkontribusi menghadirkan kembali literasi berkualitas untuk anak-anak dengan menuliskan dongeng melalui kompetisi menulis #DongengStorial!

Mau ikut kompetisi menulis #DongengStorial? Silakan ikuti ketentuan menulis berikut:

  1. Tulisan berupa cerita FIKSI.
  2. Tema: NUSANTARA. Cerita wajib menggunakan setting Nusantara (misal: lokasi, flora, fauna, budaya, dsb). Tidak diperkenankan mengambil setting di luar Nusantara.
  3. Panjang tulisan maksimal 2.000 kata.
  4. Tulisan harus asli, bukan terjemahan atau saduran, atau mengambil ide dari orang lain yang sudah ada. Selain itu, tulisan tersebut belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam kompetisi lain.
  5. Submit tulisan dengan membuat dan menerbitkan BUKU BARU di storial.co dan harus dimuat pada BAB BARU. Tidak diperkenankan menulis isi cerita di kolom SINOPSIS/KETERANGAN BUKU. Masukan kata kunci ‘DONGENGSTORIAL’.
  6. Sertakan biodata penulis (ceritakan siapa dirimu dan bubuhkan akun twittermu) dalam maksimal 300 kata (TIDAK BOLEH LEBIH), dituliskan dalam BAB TERPISAH dan diberi judul sesuai dengan nama lengkap penulis. Contoh judul bab di bab biodata penulis: Ines Fajriani Lestari.
  7. Sisipkan FOTO paling keren dalam format JPG atau JPEG dengan resolusi yang cukup tinggi di bab biodata.
    Cara menyisipkan FOTO dalam bab; unggah foto yang ingin kamu sisipkan di akun media sosialmu,  kemudian copy image address foto tersebut dan paste ke dalam tombol/ikon GAMBAR yang dapat kamu temukan saat membuat BAB BARU di web storial.co.
  8. Promo link bukumu di twitter dengan format:
    [Kalimat promosi] [link buku] @StorialCo #DongengStorial

Peserta:

UMUM. Kompetisi ini bersifat terbuka tanpa batasan usia bagi seluruh Warga Negara Indonesia.

Timeline:

  • Periode kompetisi: 23 - 31 Juli 2016
  • Deadline: 31 Juli 2016
  • Periode penjurian: 1 - 7 Agustus 2016
  • Pengumuman pemenang: 8 Agustus 2016

Kriteria penilaian terdiri atas:

  1. Tema cerita.
  2. Keaslian ide/ide orisinil cerita.
  3. Pesan moral dalam cerita.
  4. Keruntunan cerita.
  5. Keterkaitan cerita dengan tema.
  6. Penggunaan bahasa.
  7. Memenuhi poin-poin 'ketentuan menulis’ yang diberikan.

Ohya, kamu boleh submit 2 atau lebih cerita yang berbeda asalkan dibuat dan diterbitkan pada BUKU yang berbeda yah! Semakin banyak BUKU yang kamu submit, semakin besar kesempatan menangmu!

Dengan ikut berkontribusi dalam kompetisi menulis #DongengStorial ini, kamu berkesempatan memenangkan hadiah: 2 Paket Mewarnai (Adult Coloring Book + Pensil Warna) untuk 2 orang pemenang, loh!

Anyways, have a great weekend Storialis!

Simfoni Cinta Dua Nirwana


Sebuah senyuman menyeringai indah dihadapanku. Memasungku menikmati sunyi malam tanpa terasa tabu. Terdengar sebuah alunan nada-nada hangatkan kalbu. Bersama secangkir cappuccino hangat menemani aku yang sedang khayalkan kamu. Kamu yang sedang asik dengan layar duniamu. Aku yang sedang asik memperhatikanmu dengan khayal imajinasiku. Disini, di sebuah kafe kecil ini, aku menulis tentangmu.


Malam tiba. Aku langkahkan kaki dan tubuh ini menjemput yang aku rindukan dalam rasa. Setelah aku lewati detik-detik hanya sebatas mengkhayalkanmu tanpa bisa menatapmu dihadapanku nyata. Hari ini tiba. Rasa ini kembali bergejolak dalam sukma. Di kota ini, di malam yang menurutku sangat spesial ini, aku duduk dihadapanmu nyata.


Disebuah kafe pinggiran ibukota. Sebuah kafe favorit kita, corak interior coklat, dan aroma biji kopi langsung menyeruak diseluruh sudut kafe. Suasana sepertinya sudah cocok dengan setelan coklat kayu muda jaketku. “sepertinya kamu akan memakai sweater abu-abu favoritmu” gumamku.


Awan berarak jauhi pandanganku akan langit. Gelap. Kelabu. Aku ternyata jatuh hati saat bulan membisu. Bukanlah tentang masa lalu. Namun tentang kamu yang selalu menatap bintang bagai candu. Mimpi jeratkan hadirmu. Seolah keinginanku terpenuhi. Namun aku belum puas. Mungkin sampai kamu terus tersenyum untukku tiap hela nafasmu. Aku kagum akan senyumanmu.


Detik kembali berirama. Sebuah rasa kini menari indah dalam daya khayalku seperti suara ber nada. Hanya aku rasakan bahagia kala aku berada di dekatnya. Seperti menikmati senja dan segala keindahan yang terkandung didalamnya. Senyumannya, raut wajahnya, ahhh… begitu mampu mempermainkan imajinasiku lalu mengubahnya menjadi kata-kata indah layaknya puisi dan prosa.


Mungkin aku bukanlah yang pertama diruang terindah hatimu. Mungkin aku yang kesekian kalinya. Tapi aku yakin. Ada ruang yang sempurna didalam hati terdalammu. Bukan berakhir sebagai kenangan. Tapi berakhir sebagai yang terindah. Kamu terlalu sempurna untuk aku rengkuh. Untuk aku rasakan pesona kehadiranmu.


Seperti biasa. Aku memesan secangkir cappuccino hangat yang aku suka. Menikmati tiap tegukkan dan menikmati juga sebuah indah senyuman yang kini berada di hadapanku nyata. Ya, nyata dan begitu memasungku untuk menyimpan untuk tetap aku khayalkan kala nanti malam aku mulai bermimpi dan tak lagi bertemu dengannya. Dalam kepulan-kepulan asap dan foam lembut yang siap untuk aku teguk di bibir cangkir, tanpa sadar aku mulai menabung rindu, rinduku padanya. Rindu yang akan penuhi hari, hingga aku bertemu kembali dengannya.


Cahaya terlalu terang untuk terangkan sisi gelapku. Biarkan aku menjamahmu semakin dalam dan sayang. Tak pernah terfikirkan olehku kini. Saat perbedaan menyatukan gejolak cinta dua jiwa. Walau sempat menyinggung prahara. Kehadiranmu telah lama kunanti.


“akankah kamu datang untuk menemuiku? Sekedar 5-10 menit saja.” gumamku.

Jangan biarkan rindu ini penuh, hingga berubah menjadi sesak dan sakit didadaku.


Alunan musik bernada romansa. Simfoni getarkan rasa kala hati ini mulai menyambut pancaran keanggunan dan keindahan dari pesonanya. Meski prahara membisu, namun khayal ini masih sangggup temani hari dengan rindu yang segera ingin terbasuh dengan pertemuan dengannya. Aku tidak peduli meski hanya sedetik saja. Karena bagiku, sedetik bersamanya adalah sedetik yang sempurna.


Ada sebuah rasa

Menemaniku sejak aku mulai mengenal dia

Mengajariku untuk melupakan sepi saat aku mengkhayalkan dia

Mencontohkanku untuk menghapus luka saat aku bersama dia

Rasa itu tidak nampak namun ada

Rasa itu tidak mempunyai rasa namun membekas dalam prahara

Inikah rasa yang banyak orang rindukan bila hati terketuk olehnya?


Ada sebuah rasa

Menemaniku sejak aku membuka mata kala pagi tiba

Mengajariku untuk selalu tersenyum saat memikirkan dia

Mencontohkanku untuk menikmati tiap inci keanggunan di balik dunia nya

Rasa itu tidak nampak namun nyata

Rasa itu tidak mempunyai rasa namun terpatri dengan nyata

Inikah rasa yang banyak orang ingin miliki tuk lengkapi hari nya?


Ku selesaikan senandungku sembari menunggu kamu datang. Kumohon, jangan biarkan waktu menambah rinduku kepadamu. Jangan biarkan rindu menjadi luka, kumohon, sayang.


Perlukah aku mencari alasan? Untuk hanya sekedar tunjukkan alasan bahwa kamulah jawaban? Aku yang hingga kini terus bertahan untuk tetap mengenalmu. Karena aku tahu, kamu adalah satu hati yang akan menggenapkan satu hati lainnya. Ya, satu hatimu yang bernama jatuh, dan satu hatiku yang bernama cinta. Jatuh cinta.


Alunan musik bernada romansa. Simfoni getarkan rasa kala hati ini mulai menyambut pancaran keanggunan dan keindahan dari pesonanya. Meski prahara membisu, namun khayal ini masih sangggup temani hari dengan rindu yang segera ingin terbasuh dengan pertemuan dengannya. Aku tidak peduli meski hanya sedetik saja. Karena bagiku, sedetik bersamanya adalah sedetik yang sempurna.


Sebuah senyuman menyeringai indah dihadapanku. Memasungku menikmati sunyi malam tanpa terasa tabu. Terdengar sebuah alunan nada-nada hangatkan kalbu. Bersama secangkir cappuccino hangat menemani aku yang sedang khayalkan kamu. Kamu yang sedang asik dengan layar duniamu. Aku yang sedang asik memperhatikanmu dengan khayal imajinasiku. Disini, di sebuah kafe kecil ini, aku menulis tentangmu.


Terima kasih untukmu, untuk segala perhatian sederhanamu, untuk segala senyumanmu yang istimewa nemun tetap terasa sederhana, sesederhana aku menyukaimu, sesimpel aku mencintaimu. Sesimpel “Aku Sayang Kamu.”


Selamat malam, selamat terlelap untukmu, selamat bertemu kembali dunia mimpi indahmu. Semoga kelak aku berada didalam mimpi indahmu.


“Aku sayang kamu, dan aku akan selalu tetap begitu…”


Jakarta, Juli 2016

“kau dan aku tenggelam, dalam dekapan cinta. Tanpa suara, berbincang, dua jiwa.” - Romansa by KLa Project

cc @krisanyuanita @katakakiku @menatapmu @tentangkamudanrindu @menuliskan @ihrdn @nurulfadhilahkdr @sketsarindu @jambangcosmic @vinotm @aporsiapsika @tersesatrasa @pemudabiasa @bebraveyou @ranauliya @narasibulanmerah 

Selamat hari lahir, Ibu.

Seumur-umur baru malam ini bilang ke ibu kalo hari ini ulang tahunnya. Cuma bilang, nggak ngucapin. Masih agak malu-malu juga. Ibu juga begitu—keliatan dari responnya.

Belum sempet nyebut rentetan doa, kami sama-sama hening sejenak di telepon maghrib tadi. Malah debat kecil karena ibu bilang ultahnya kemarin, karena hari ini tanggal 27, bukan 26. Hahaha, agak lucu ya. Mungkin ibu salting.

Ibu bilang makasih setelah keheningan sejenak itu. Kemudian rentetan doa yang udah kubuat daftarnya di otak beberapa detik sebelum jempol nyentuh tombol telpon di layar hp, keluar. Ibu keliatan masih salting, malah balik mendoakan. Atau memang ibu mau mendoakan buat semuanya… entahlah.

Dan yang awkward lagi, waktu aku salah ngomong, “empat satu ya?” (maksudnya umur ibu sekarang). Untung berbarengan dengan itu, ibu juga ngomong sesuatu. Jadi kami sama-sama nggak denger jelas apa yang kami ucap barusan. Walaupun ibu sempet bilang “hah?” beberapa saat setelah bentrok itu, tapi kayanya ibu beneran nggak denger sih. Semoga, haha. Maafin anakmu yang sempet lupa sama tahun lahir ibunya ya, bu. Anggap aja salting juga.

Semoga kita sama-sama tau ya—walau keliatannya sama-sama nggak tau—bahwa dalam diamnya kita masing-masing, ada doa luar biasa yang hanya diri dan Allah yang tau. Selalu.

Semoga ibu termasuk orang yang di akhirat kelak terkejut, mengapa derajat ibu di surga bisa sedemikian. Yang kemudian dijawab Allah, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.

Tempo lalu, hanya dapat melihat piramida dalam layar laptop. Alhamdulillah, saat ini Allah beri izin untuk dapat melihatnya secara langsung. Piramida terletak di sebuah daerah di Kairo bernama Giza. Terletak di antara gurun pasir yang maha luas. Yang seharusnya mampu menyadarkan ; betapa kecilnya manusia.

Mengutip sebuah buku ; kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri.

Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Cukuplah hembuskan nafas kebaikan tersebut.

Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu?

Kairo, M Farras M

Bimala

Hujan mulai menderas, sederas rasaku yang tak terbendung. Layar imajinasiku mulai terbentang menembus langit gelap di hadapanku. Jika hati ini adalah bendungan, memiliki palang-palang pintu yang menahan air—sebagai rasaku—sedemikian rupa, kurasa banjir takkan terelakkan lagi, rumah-rumah terendam, pohon-pohon tergenang, motor-mobil tertahan di jalanan. Ah, ternyata rasa yang membuncah itu bisa merusak ya, gumamku. Kuhapus layar imajinasi itu, kutarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Kukira hanya itu cara terbaik menenangkan diri saat ini. Kusandarkan punggungku yang lelah setelah seharian bekerja, membiarkan udara lembap yang terbawa hujan deras menampar-nampar wajahku. Terhanyut.

“Mal, bangun. Ponselmu dari tadi bunyi, tuh,” seru seseorang tepat di telingaku. Aku tahu betul siapa dia, gaya membangunkannya sudah sangat familiar bagiku. Aku mengerjap sambil meraih ponselku di atas kasur. Duh, Emak!

“Assalamu’alaykum, Mak,” sapaku.

“Wa’alaykumussalam. Dari mana, Neng? Ditelepon dari tadi, baru diangkat,” Emak menggerutu gemas. Aku hanya terkekeh, “ketiduran, Mak. Ada apa? Mak sehat?”

“Sehat. Kapan kemari, Neng? Bapak sudah resah,” seperti biasa, Emak tidak menanyakan kabarku, firasatnya selalu tepat. Pasti ia tahu tubuhku sehat, tapi hatiku sedang tidak sehat, maka dari itu ia meneleponku. Aku mengetuk-ngetuk kepalaku dengan pulpen. Sebentar, tadi aku tidur sambil menggenggam pulpen?

“Ada apa lagi, sih, Mak? Mala lagi sibuk,” jawabku sekenanya.

“Sibuk kok sempat-sempatnya ketiduran!” aku terkejut. Ah, aku salah memberi jawaban, “kamu lupa, atau pura-pura lupa? Ilham anaknya Kiyai Rofa sudah menunggu jawabanmu selama dua minggu. Segera jawablah, jangan digantungkan begitu, kasihan anak orang! Anak Kiyai pula!” lanjutnya.

Alamak, dia lagi, dia lagi. Sudah hampir lupa aku dengannya.

“Ampun, Mak. Mala lupa. Jawab saja tidak.”

“BIMALA!” teriak Emak begitu keras, aku sampai benar-benar terkejut, “sudah istikharah belum kamu?!”

“Mala belum mau menikah, Mak…” jawabku. Aku tidak berbohong, saat ini aku memang belum mau menikah dengan siapapun selain dirinya. Sakit di kepalaku semakin menjadi. Apa aku salah? Durhakakah aku?

“Usiamu 25 tahun, Neng,” kata Emak sedikit melunak, “dan Ilham itu orang baik, mau ditaruh di mana muka Emak jika alasanmu menolaknya karena kamu belum mau menikah?”

Aku terdiam, merenung. Aku butuh berpikir jernih. Maka kukatakan pada Emak, “besok pagi Mala telepon ya, Mak. Mala harus merenungkannya.”

“Besok pagi. Jangan ditunda lagi. Jamu racikan Emak diminum, Neng. Biar pusing mendadakmu itu gak kambuhan lagi. Assalamu’alaykum!” tanpa memberiku kesempatan bicara Emak sudah menutup teleponnya. Wa’alaykumussalam, lirihku. Kepalaku seperti ditusuk-tusuk jarum sebesar gagang sapu. Selalu seperti ini, sejak kecelakaan besar yang menimpaku dan adikku satu-satunya 10 tahun silam, sakit kepala ini mulai sering hadir di setiap bingungku, di setiap takutku. Walaupun teknologi canggih di dunia medis memberikan bukti otentiknya bahwa tidak ada hal buruk apapun yang menimpa kepalaku, dari luar hingga dalamnya.

“Ilham, Ilham, ILHAAAAAM!” teriakku. Welan, sahabatku sekaligus tetangga kamarku seperti tergopoh-gopoh berlari dari kamarnya, melongok dengan wajah kagetnya, “siapa itu Ilham, Mal? Kamu gak pernah cerita..”

Aku terpaku, “bukan siapa-siapa,” jawabku cepat. Kuambil handuk dan alat mandiku, bergegas ke kamar mandi, sore sudah hampir berakhir. Mentari yang sejak tadi tertutup awan tebal sepertinya sudah tenggelam di ufuk barat. Kulewati Welan yang masih mengerutkan dahinya di samping pintu kamarku. Setelah lima meter aku berlalu, ia berkata, “aku gak mau tahu perasaan kamu lagi gimana, pokoknya malam ini harus cerita!”

***

Kita seperti remaja tanggung jika topik tentang ini muncul, ya, tentang sosok lelaki. Saya dan Welan sebenarnya bukan teman lama, kita bertemu baru tiga tahun yang lalu, ketika aku sudah hampir lulus dari studiku. Ia yang bernasib sama denganku, mahasiswa tingkat akhir, yang tempat nongkrong-nya pindah ke Perpustakaan Daerah, menyapaku di suatu siang. Jadilah perpustakaan ini menjadi tempat bersejarah bagi kita, permulaan singkat yang mengantarkan kita pada perjalanan panjang nan menantang. Kini ia sedang menunggu ceritaku, sambil mengaduk-aduk coklat panasnya. Aku menyeduh coklatku, menghembuskan napas pelan, dan mulai bercerita.

“Ilham itu tetanggaku. Lebih tepatnya tetangga RT. Sejujurnya aku jarang sekali bertemu dengannya, ia sudah disekolahkan di pondok pesantren sejak sekolah dasar. Itu kata Bapakku, aku tidak pernah mencari tahu tentangnya. Nah, sebulan yang lalu ia baru pulang dari Malaysia setelah satu tahun kelulusan magisternya. Jangan tanya aku apa konsentrasi studinya, aku tidak berkeinginan menanyakan itu, yang kutahu ia sudah diterima bekerja di Kalimantan, di bagian pertambangan. Ya, bisa disimpulkan konsentrasinya tidak jauh-jauh dari tambang, tho?” kugantungkan kalimatku sambil mengunyah makanan ringan yang menggiurkan di hadapanku. Welan mengerjap, menungguku mengunyah.

Gak ada yang mau ditanyain dulu?” tanyaku.

“Belum apa-apa, Maaal! Lanjut!” jawabnya, aku terkekeh.

“Iya, Bapaknya itu Kiyai, Lan. Ya, meskipun aku tinggal di perumahan di pinggir kota, perumahanku itu taat-taat, lho, orangnya. Maksudnya suka ngaji, menghormati Kiyai, malam-malam baca puji-pujian, shalawatan gitu. Kalau lebaran yang wajib dikunjungi dan sungkem ya Kiyai,” jelasku mencoba meyakinkan. Welan mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya ia tidak begitu tertarik pada bagian itu. Aku tersenyum sebelum melanjutkan, “nah, karena beliau adalah orang yang sangat dihormati di perumahan, Bapak dan Emakku gak sampai hati menolak kedatangan serta niat baik Ilham untuk meminangku.”

“NAH! Mulai seru, nih!” seru Welan dengan mata berbinar dan posisi duduk yang lebih bersemangat. Aku jadi malas melanjutkannya, “jadi yang tadi-tadi belum seru?”

“Belum. Lanjut!” jawabnya sekenanya.

Aku melihat ponselku sejenak, membuka notifikasi. Lalu kututup kembali. Sekarang aku sedang tidak tertarik pada notifikasi apapun jika tidak berhubungan dengannya. Semoga tidak ada yang urgent dibalas, batinku.

“Lanjut, ya. Ilham datang ke rumahku dua pekan yang lalu, Kamis malam. Nyaris saja, nyaris yang aku sesali. Karena jika ia datang ke rumahku esok paginya, aku pasti sudah tidak di rumah. Aku sudah memanjakan mata melihat pemandangan di sepanjang rel kereta,” lanjutku.

“Oh, jadi itu terjadi tepat sebelum kamu sampai di sini dua pekan yang lalu?” tanyanya. Aku paling malas menjawab pertanyaannya yang macam ini, karena ia hanya mengulang pernyataanku, dibalik menjadi sebuah kalimat tanya. “Iya,” jawabku. Tapi aku tahu persis dia sedang menunjukkan perhatian penuhnya pada ceritaku. Aku tersenyum.

“Kamu memendam cerita itu dua pekan, Mala! Parah kamu!” kata Welan tanpa kuduga. Kupikir ia hanya sok bertanya seperti biasa, ternyata ia sedang memastikan bahwa aku terlalu lama menyembunyikan ceritaku. Kuberikan wajah memelasku, meminta belas kasihan. Kali ini aku tidak bisa mengelak, aku memang menyembunyikan cerita itu.

“Maaf, yaaaa…” pintaku. Welan memutar bola matanya, menghela napas dan mengisyaratkan dengan kepalanya agar aku melanjutkan ceritaku.

“Ih, cantiknyaaa, kamu,” rayuku sambil mencubit kedua pipinya pelan. “Baik, aku lanjutkan. Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihatnya sejelas itu, di bawah lampu ruang tamuku yang entah mengapa sangat menyilaukan bagiku malam itu. Bapak dan Emak duduk berdampingan, sementara aku duduk sendiri, dan si Ilham itu datang sendiri! Secara to the point, ia menyampaikan niat baiknya. Katanya, ia sudah dapat restu dari kedua orang tuanya. Agak berlebihan memang menurutku, ia menceritakan bagaimana respon Kiyai Rofa ketika mendengar penuturan anaknya tentang niatan itu. Mau tahu bagaimana ia menceritakannya?” tanyaku memancing rasa penasaran Welan. Tanpa basa-basi ia menjawab, “mau lah! Pakai nanya!”

“Hehehe, begini, ‘kata Ayah, Bapak Rano dan Ibu Sarah adalah sahabat karib Ayah dulu, Ayah benar-benar mengenal budi pekerti Bapak dan Ibu yang harum seantero desa. Terlebih anak pertama sekaligus satu-satunya itu adalah seorang dokter yang shalihah, taat pada kedua orang tuanya, suka menyantuni anak yatim. Jika dia adalah orang yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu, Ayah sangat setuju, dan akan mendukung dengan sepenuh hati.’” Aku menghentikan ceritaku sejenak, memasang wajah paling datar sedunia. Sementara Welan, wajahnya sudah seperti buah jambu.

“BUAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!” dan meledak juga. Sudah kuduga, ia akan terbahak. Aku tahu karena wajahnya selalu menunjukkan kejujuran. Kutunggu sampai dia selesai tertawa.

“Hahahah, hahah, oke, oke lanjut, Mal…” katanya di ujung tawa. Tangannya masih memegangi meja, terlihat ia sangat berusaha mengondisikan dirinya sendiri.

“Hmmmm, yaaaa, bagiku itu juga lucu. Tapi yang aku tidak habis pikir, mengapa ia begitu yakin padaku? Well, sebelum ia menyampaikan niatnya itu kepada Ayahnya pastilah ia sudah menguatkan tekadnya, bukan?” tanyaku.

“Kamu gak pernah ngobrol langsung sama dia?” Welan balik menanyaiku dengan ekspresi serius. Aku menggeleng mantap.

“Kamu pernah gak kepeleset di depan dia, atau barangmu jatuh di depan dia? Ataaau, kamu pernah shalat sendirian di masjid dan dia ngeliat kamu?” tanyanya secara beruntun. Dasar korban sinetron. Aku kembali menggeleng mantap, kali ini disertai penegasan dari mulutku, “menurut kesadaranku, tidak.”

Sebelum Welan bertanya lagi aku melanjutkan ceritaku, “kemudian, Bapak dan Emak meminta agar aku diberikan waktu untuk berpikir. Ilham menyetujui. Salahnya, saat itu tidak ada kesepakatan waktu, dan, ya, kamu tahu sendiri bagaimana kesibukanku. Aku benar-benar lupa dengan hari itu. Selama dua pekan ini Emak sudah meneleponku tiga kali. Tapi aku selalu belum siap menjawabnya. Dan kali ini Emak benar-benar memaksa. Aku khawatir diamku dianggap iya.”

“Apa yang menghambatmu, Mala?” tanya Welan pelan. Aku sampai tersentuh, dadaku bergetar mendengar pertanyaan lirihnya. “Aku belum siap.”

Welan menggeleng, “kamu belum siap menghapus lelaki itu dari ingatanmu? Ini sudah hampir setahun, Mala. Aku yang tidak habis pikir, kenapa perasaanmu bisa sekuat itu padanya, padahal kalian jarang sekali bertemu. Jarang sekali!” Welan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Sementara aku masih terpaku, merenungkan kata-katanya. Entah, entahlah. Bagaimanapun aku harus memberikan jawabanku besok. Aku malas melanjutkannya lagi, kukatakan pada Welan bahwa aku ingin menenangkan diri agar dapat memberikan keputusan yang bijak. Aku ingin shalat istikharah malam ini. Welan mengerti, ia beranjak pergi meninggalkan kamarku setelah mengucapkan doa-doa kecilnya.

***

Pagi ini terasa dingin. Aku menjalani rutinitas pagiku dengan perasaan gelisah. Sepagi ini Gedung Olahraga sudah ramai, karena ini hari Sabtu. Aku baru berlari dua putaran, ponselku berdering. Kulihat layarnya. Hah? Sepagi ini?

“Halo, Assalamu’alaykum, Mak,” sapaku.

“Wa’alaykumussalam. Gimana, Neng? Jawabannya sudah ada?” tanya Emak tanpa basa-basi. Aku jadi kikuk. Aku duduk di bawah tribun sambil mengatur napas.

“Mak, Mala belum mantap,” jawabku singkat.

“Kapan pulang, Neng? Pulang dululah, biar Bapakmu tenang.”

“Ya, Mak. Sore ini Mala pulang,” aku segera mengakhiri pembicaraan. Kurasa ini akan menjadi hari yang panjang bagiku. Kupesan tiket kereta secara online untuk sore ini.

***

“Neng, ayo segera dijawab! Mantapkan saja, Bismillah…” seru Bapak. Aku menunduk dalam-dalam, entah mengapa aku selalu takut ketika berhadapan dengan ketegasan Bapak. Tapi saat ini aku seperti sulit berbicara, ingin membantah segan, menurut pun enggan. Ada apa dengan diriku?

“Kalau kamu tidak punya keputusan, biar Bapak yang memutuskan,” kata Bapak lagi. Aku mengangkat wajah, “Pak, Mala tidak siap…”

“Mala, menolak orang baik itu gak baik. Takut fitnah!” tambah Emak. Aku kembali menunduk. Air mataku sudah mendesak keluar. Tapi aku tak bisa menangis di depan Bapak. Setegas-tegasnya Bapak, sekeras-kerasnya Bapak, jika anak perempuan satu-satunya ini menangis, ia akan ikut menangis. Terlebih setelah meninggalnya adik lelakiku di suatu kecelakaan lalu lintas yang menimpa kita berdua. Bapak jadi cepat tersentuh. Kutahan kuat-kuat tangisku.

“Sudah, jangan dipaksa,” kata Bapak sambil bangkit dari duduknya.

“Mala…terserah Bapak saja,” kataku akhirnya. Kalimat itu mengalir begitu saja. Aku sendiri terkejut dengan ucapanku sendiri. Aku bicara apa…bagaimana ini? Kulihat Bapak terdiam. Menatap lantai rumah yang berwarna putih pualam. Berpikir. Dua menit lamanya ia terpaku, hingga akhirnya melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur. Aku tertunduk, tak kuat lagi menahan air mata yang semakin banyak menggenang. Sampai isakku terdengar, Emak menepuk-nepuk pundakku, mencoba menenangkan.

Dan malam itu berakhir tragis. Aku tak pernah tau keputusan Bapak hingga dua malam berikutnya. Ketika Ilham dan keluarganya datang, membawa banyak bingkisan. Tak sanggup aku menatap wajah dua keluarga bahagia itu. Aku sendiri tak sebahagia itu. Gerimis di hatiku semakin deras. Siapa yang tahu perasaanku? Aku tidak pernah membayangkan kisah cintaku akan berakhir dan bermula seperti ini. Rumah tanggaku akan terbentuk dengan cara se-lempeng ini. Kupejamkan mata sampai segala proses berlalu, dan kudengar satu pernyataan yang membuat mataku membelalak.

“Saya mohon izin kepada Bapak Rano dan Ibu Sarah untuk menikahi putri Bapak dan Ibu esok hari.”

Aku berdiri. Sebelum jawaban itu keluar dari mulut Bapakku, aku berlari keluar melalui pintu belakang. Berlari tanpa henti. Menaiki angkutan umum yang kebetulan lewat. Turun di tempat yang tanpa sadar diarahkan oleh naluriku sendiri. Stasiun. Tempat bersejarah kita. Ponselku bergetar.

Hai, Bimala :)

***

DUARR!!

Kepalaku tersentak. Mataku berat. Kuraih ponselku, 17.40.

Pukul 17.41, aku mengerjapkan mata. Langit gelap tak berhias, hujan masih menderas, dan petir menyambar-nyambar keras.

Ah, mimpi…

Teruntuk kamu yang katanya sedang sibuk mencari…

Akhir bulan depan untuk ketiga kalinya mereka akan menyambangi batas negeri, Kak. Dan kita, kembali gagal ikut serta. Setelah gagal ke pulau paling selatan dan utara, kini kita gagal lagi mengeksplor pulau paling barat negeri ini. Tak apa, masih ada tujuh kali kesempatan lagi dan semoga salah satunya masih berpihak pada kita.

Teringat dua tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya ekspedisi batas negeri ini akan dilaksanakan. Saat itu tujuannya adalah Pulau Ndana, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur - pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Benua Australia. Kita sibuk menjadi bagian yang menyukseskan acara. Segala persiapan materi, fisik, akomodasi dan keilmuan kita rinci secara mendetail. Kita persiapkan sebaik-baiknya, meminimalisir segala celah yang mungkin akan mengurangi nilai ekspedisi ini. Padahal saat itu kita tahu betul, kita tak akan berangkat. Tapi menjadi bagian dari suksesnya acara, meski hanya di balik layar, selalu menyenangkan, bukan?

Melepas kepergian tim ke lapangan dan menjemputnya kembali adalah bagian yang paling haru. Di satu sisi kita bahagia karena mereka jadi berangkat dan pulang dengan selamat. Di sisi lainnya, kita sedih karena tak berkesempatan mengalami sendiri euforia di lapangan, yang oleh siapapun pasti akan dirindukan. Dan ketika itu, saat haru masih menemani kta yang tertinggal, jika saja kau masih ingat, kita pernah berjanji. Atau kau yang lebih tepatnya memaksaku untuk berjanji. Bahwa kita, di tahun 2017 harus ikut Ekspedisi ini. 

Janji itu selalu aku semogakan dari dua tahun lalu hingga kini.
Semoga tahun depan akan menjadi jodoh kita ikut serta. Menajdi bagian yang merasakan euforia mengeksplor keanekaragaman hayati dan budaya di batas negeri ini. Semoga kita mampu menepati janji kita tahun depan ya, Kak. Amiin

Salam Rindu
Dari aku, partner kerja tim~

PS: lekas kembali. Kutunggu pulangmu di kota kenangan.

Jakarta, Juli 2016

Random yang sering terjadi

Malam yang sunyi, mungkin hening..
Aku menyalakan layar ponselku.
Membuka sebuah aplikasi chatting, mencari sebuah nama.
Aku menulis beberapa huruf, tapi aku merasa kalimat yang aku tulis kurang pas. Aku menghapusnya.

Aku menulis lagi, menghapusnya.
Lalu munculah kemungkinan-kemungkinan dikepalaku tentang apa yang kau pikirkan dikepalamu jika membaca tulisanku.

Mungkin jariku sudah berada 0,5cm diatas layar hape untuk menekan tombol ‘kirim’

Tapi tiba-tiba terlintas dipikiranku, sesuatu yang menyakitkan.

Aku membatalkan niatku, aku mematikan layar hape. Menarik napas dalam. Persaanku berkecamuk.

Abid

abid : abid ark a tidak berkesudahan; kekal; abadi

Bungkam antara penyiksa dan anugerah.
Awal aku berdiri di kalimat ini.
Lautan satu ruang bersama kata demi kata.
Diam bersama lantunan rima manusia.
Ah, ini hanya beberapa waktu saja.

Aku bertahan dengan semua ancaman.
Seperti bukan ancaman namun perhatian.
Kala hujan telah berhenti, aku bersama membuat duka.
Delusi karena perbedaan mungkin alasan.
Palsu karena ekspresi jadi ulasan.

Kenyataan kadang menyakitkan.
Manusia penuh dusta.
Tak semuanya bermuka dua.
Berbaik karena ada maunya.

Aku melihat suara.
Indra berhenti mendengar, berlaku semestinya.
Distraksi antar manusia disini sungguh nyata.
Aku bersama orang yang bukan seharusnya.

Karena mungkin takdir atau apa.

Bentangkan layar bersama angin senja.
Jauh dari kata suara.
Jala berlumur api kulempar bersama.
Mereka mungkin mati seketika—sebuah rencana.
Samudra mulai menunjukkan biasnya.
Air mengalir berganti darah.
Darah berganti derita.

Akhir derita para pendusta tentunya.

Aku terlalu banyak bersandiwara.
Mula tulisan aku bersuara.
Hanya beberapa memahaminya, aku tidak memaksa.
Berhenti berdoa untuk semua.
Teruslah bertingkah seperti orang tak berdunia, mereka tidak berguna.
Kau terlalu buta untuk melihat indah.
Atau karena intuisi mereka kurang sempurna.

Jauh dari kata sempurna—sebenarnya.

(Surabaya, 18 Juli 2016)