layared

Patah Hati Biasa Saja

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling telepon genggammu mendadak sepi. Tidak ada pesan yang setiap saat datang. Tidak ada telepon yang masuk bertanya, “lagi apa, sayang?”

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu terasa sepi. Tidak ada yang memperhatikan keseharian. Tidak ada yang sekedar mengingatkan jangan sampai terlambat makan.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu bingung mau menghabiskan waktu. Tidak ada lagi yang mengajak makan di luar, atau nonton film-film terbaru di layar lebar.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu kesulitan tidur setiap malam. Ada beberapa potongan-potongan kejadian menyenangkan, atau suara dan wajah yang sangat familiar mengisi kepalamu. Memaksamu untuk tetap terjaga.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu gelisah dengan setetes dua tetes air mata, karena ada rasa rindu yang tertahan. Jika biasanya, kalau rindu ya bilang saja. Ingin bertemu ya datangi saja.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu sedikit panas dan geram. Kalau tiba-tiba dia memasang foto berdua dengan kekasih baru pada sosial medianya. Padahal sebelumnya, di sebelahnya melekat erat pada bahunya adalah tempatmu.

Patah hati itu biasa saja.
Ia tidak akan membunuhmu. Paling-paling hatimu terasa mati. Sulit terhibur, karena seseorang yang mampu menghiburmu, mematahkan hatimu lalu memilih pergi.

Patah hati itu biasa saja.
Percaya. Nanti juga akan datang orang lain yang mampu memperbaikinya.
Jadi, ya biasa saja.

Berumah Tangga

23 September 2016 - 3 Mei 2017

Baru beberapa bulan, belum ada setahun. Tapi, perjalanannya terasa panjang. Mengingat berumah tangga, pada semua hal di dalamnya membutuhkan komitmen, juga konsistensi.

Kita konsisten pada apa yang pernah diikrarkan sejak awal. Menjaga perasaan agar tetap pada tempat yang tepat, yaitu kepada pasangan. Juga bagaimana menjaga ritme rumah tangga agar tetap stabil ditengah perjalanan.

Mengapa kehidupan rumah tangga, kalau dalam masyarakat kita sering diberi istilah dengan “bahtera rumah tangga”. Karena memang barangkali “kapal” ini adalah kiasan yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kondisi rumah tangga, dibanding dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor, pesawat, kereta api, apalagi KRL.

Jalannya tidak pernah mulus seperti aspal, atau tidak juga terus berlubang seperti aspal (lagi). Laut adalah analogi yang paling bijaksana untuk menggambarkan kondisi perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, ada tenangnya, ada badainya, ada ombak kecil, ada ombak besar, ada hujan, ada terik. Dan satu hal yan paling bijaksana dari gambaran ini, adalah bahtera itu sendiri. Bahtera menjadi pagar yang membuat orang-orang di dalamnya, mau tidak mau, harus berada di dalamnya. Bekerja sama agar kapal tetap berlayar, tidak tenggelam. Bahu membahu untuk saling berbagi peran. Juga semua yang berada di kapal dituntut untuk saling percaya satu sama lain.

Tidak menyenangkan kan kalau ada satu saja awak yang berkhianat, melubangi kapal, atau ketika badai tidak bertugas menurunkan layar, atau membelokkan kapal ke arah yang keliru. Saya pikir, masyarakat kita benar-benar bijaksana ketika mengkiaskan rumah tangga sebagai bahtera.

Memang tepat kalau dikatakan, ilmu sebelum amal. Untuk menjalani perjalanan jauh, dengan peran-peran yang penting, dan setiap peran memang penting. Perlu ada ilmunya. Penting untuk mempelajarinya, terutama bekal-bekal utama. Meski nanti di tengah perjalanan kita juga bisa sambil belajar, tentu saja ada modal pertama yang harus dimiliki. Minimal ilmu-ilmu dasarnya. Berumah tangga pun demikian, penting untuk memiliki ilmu-ilmu dasarnya.

Kalau kita paham. Kita tidak akan buru-buru menaikan jangkar, melaut. Padahal cuaca masih badai, atau arah angin masih berbalik. Kita akan tahu, kapan waktu terbaik kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk itu, jangan buru-buru. Pahami betul tentang kapan waktunya, karena kalau kita tahu ilmunya, kita akan siap kapan pun untuk berlayar seketika kesempatan itu tiba.

Selamat belajar, memperbanyak pengetahuan. Lupakan tentang apa kata orang. Karena bahtera mu nanti itu ada dalam tanggungjawabmu. Mereka tidak akan bertanggungjawab bila nanti bahteramu tenggelam, atau salah haluan.

Pahamkan itu baik-baik :)

Yogyakarta, 3 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

seryus

“Love is about finding courage inside of you that you didn’t even know was there” 

Waktu puber dulu, anggota keluarga yang senior sering mewanti-wanti kami yang remaja dengan larangan pacaran. Kalimat yang diulang, begitu khas sampai redaksinya masih menempel di ingatan. Bunyinya, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!”. Kami yang waktu itu masih maraton film kartun di ahad pagi dibuat bergidik dengan ancaman “dikawinkan” yang terdengar mengerikan.

Sebetulnya, nilai yang diperkenalkan lewat larangan pacaran mengandung prinsip yang mendasar, jangan main-main kalau belum bisa serius. Sementara anak-anak ingusan tadi tumbuh jadi muda-mudi yang mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis, watak main-main mereka masih terbawa sebagai bekal karakter untuk menghadapi banyak hal baru. “Why so serious? Pacaran kan enggak mesti nikah” pikirnya. Akhirnya pantangan pun terlanggar karena rasa penasaran untuk coba-coba mengalahkan kengerian terhadap larangan tadi.

Dimulailah masa dimana muda-mudi (termasuk saya waktu itu) menggelorakan cinta monyet. Masa dimana semua upaya dikerahkan supaya gelora asmara yang tengah bernyala makin kuat kobarannya. Duile. Tapi ya seindah-indahnya cinta monyet, banyak yang berakhir percuma karena sifat hubungan yang dijalin masih coba-coba dan penuh asas “siapa-tau”. Siapa tau awet, siapa tau cocok, siapa tau memang jodohnya - tanpa ada kesiapan apapun.

Jadi, harusnya enggak perlu senewen kalau mereka yang udah nikah memandang drama romantika cinta monyet yang begitu menyita pikiran, tenaga, uang dan waktu dengan sebelah mata. Enggak heran juga sebetulnya kalau dulu nasihat, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” umumnya diucapkan oleh orang yang udah menikah karena mereka telah mengalami sendiri perbandingan antara berpacaran dengan berumahtangga yang bagaikan langit dan bumi. 

Misal waktu seorang laki-laki menyatakan perasaan pada perempuan yang ingin dipacari dengan pertanyaan, “Kamu mau enggak jadi pacarku?”, maka pria yang ingin menikah menindaklanjuti keberaniannya kepada bapak dari perempuan idamannya dengan pertanyaan, “Permisi, pak. Apa sudah ada laki-laki yang melamar anak bapak sebelumnya?”.

Atau saat laki-laki yang ingin berpacaran mengemukakan perasaan, penyampaiannya dilakukan di hadapan pujaannya semata. Lain halnya dengan pria yang ingin berumahtangga, pengucapan ikrarnya harus dilakukan di hadapan orang tua, keluarga juga petugas KUA agar hubungannya bisa disahkan secara hukum. Di saat hakikat dari kasih sayang adalah menemukan keberanian, maka harusnya muda-mudi di luar sana menyalurkan keberanian yang ditemukan pada sebaik-baik muara hubungan.

Wejangan, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” belasan taun lalu punya hikmah yang mendalam buat saya setelah berkeluarga. Ternyata, laki-laki dianggap serius menyayangi seorang perempuan dengan menikahinya dan bertanggung jawab dengan dunia-akhiratnya. Kalau ada yang mengaku sayang tapi enggak berani menikahi, jelas dia main-main. Sampai kapanpun, kata “pacaran” enggak pernah cocok disandingkan dengan kata “serius”. Lagipula, siapa yang mau disayangi dengan main-main?

Kalau ingin berkasihsayang secara utuh, dewasalah dan menikahlah. Romansa layar lebar paling indah sekalipun akan terasa picisan saat kita menjalani kisah rumahtangga sendiri yang tingkat keseruannya lebih menakjubkan.

Kalau bayangan suami atau istri teladan mutlak bersumber dari pengalaman pacaran, semua orang tua akan mewajibkan anak-anaknya untuk berpacaran sebelum menikah. Nyatanya, mereka yang enggak pernah pacaran sekalipun dan memilih untuk menjaga debar perasaannya sampai akhirnya menikah, juga bisa menjadi suami dan istri teladan karena enggak ada kaitan yang berarti antara pacaran dengan berumahtangga. 

Hal sederhana ini penting untuk disampaikan seiring terus mewabahnya pemahaman yang salah tentang hakikat hubungan pra-menikah di kalangan anak muda. Dengan gambaran yang sama, di masa depan nanti, saya akan berbicara kepada anak-anak saya, “Waktu muda dulu, Ayah pernah nyoba pacaran dan nyeselnya luar biasa sampai Ayah enggak rela kamu ngulangin kesalahan yang sama. Jangan rugiin orang lain. Jangan main-main dengan perasaan sebelum kamu berani untuk serius. Hidupi hidupmu dan hidupkan mimpimu sebaik-baiknya selagi muda. Pengalaman pacaran enggak akan masuk CV, juga enggak akan layak disebut pencapaian apalagi dibanggakan”

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

saya membenamkan muka di balik bantal. saya nggak ingin nangis. tapi toh, saya nangis juga. malam itu adalah malam terakhir kami bersama. besok paginya mas yunus akan berangkat ke Jepang dan saya akan pulang ke Bogor. dua bulan lamanya mas yunus akan belajar di sana. tidak tahu apakah saat pulang Kakak sudah lahir atau belum. tidak tahu sampai kapan kami akan tinggal berjauhan–karena setelah Kakak lahir, saya akan menetap di Bogor sementara mas yunus sekolah di Surabaya.

di antara hal-hal yang paling saya takuti, sendirian adalah salah satunya. saya takut sendirian dan takut merasa kesepian. jadilah saya menangis, membuang muka, sedangkan mas yunus mengusap-usap punggung saya.

setiap akhir minggu selama di Jepang, mas yunus mengirimi saya banyak sekali foto sambil bercerita. juga, berbagai foto barang-barang untuk bayi yang dibelinya. setiap hari kami ber-video-call. dan adalah saat-saat yang menenangkan ketika kami hanya menatap satu sama lain, tidak bicara apa-apa, melepas kangen diam-diam.

ternyata dua bulan tidak berjalan selama itu. mas yunus pulang dan memberikan saya kejutan, berkunjung sebentar ke Bogor sebelum harus kembali belajar. Kakak? ternyata Kakak belum menunjukkan tanda-tanda akan lahir. saya pun diajak mas yunus tamasya ke Taman Safari–kami menyebutnya bulan madu. ini adalah kali pertama kami bisa punya waktu bersama seperti ini. tidak bisa lama, mas yunus harus segera ke Surabaya.

saya kontraksi hebat dan saat itulah mas yunus datang lagi. mas yunus ada di sana, menemani persalinan, mengadzani mbak yuna, ikut mendengar tangisnya yang pertama. keesokan harinya, mas yunus (lagi-lagi) harus segera ke Surabaya.

semalam mas yunus selesai operasi jam 1. saat memberi kabar, saya tengah mengganti popok mbak yuna. mas yunus lalu menelepon (video-call), menemani saya. matanya lelah, tapi hangat sekali. mas yunus tidak berkata banyak, hanya menemani. sampai mbak yuna disusui, sampai mbak yuna tertidur lagi.

dan begitulah. kadang dan sering, kami berdua hanya saling melihat satu sama lain melalui layar kecil, menahan sekaligus melepas kangen. perasaan itu tidak lagi dibicarakan agar tidak lagi menambah beban. lima sepuluh detik saling menatap, sampai-sampai air mata saya keluar sendiri. sampai-sampai kami mencari bercandaan supaya tertawa, atau memilih menyudahi video-call-nya, agar tidak usah menjadi-jadi.

entah siapa yang sesungguhnya lebih tersiksa. seorang Bapak yang harus pergi belajar meninggalkan keluarganya, tinggal sendirian di rantau sana–atau seorang Ibu yang ditinggal suaminya, sendirian mengurus anaknya. sambil dua-duanya, menahan kangen setiap hari dan setiap malam.

bagi kami ini tetap anugerah. bisa saling menyabarkan dan saling menguatkan adalah anugerah. kami beruntung harus menjalani ini, kami yakin ini akan menguatkan kami. mas yunus selalu hadir untuk saya. jauh atau dekat, dirinya ada di samping saya, bersama saya. saya pun demikian.

semoga Allah selalu menjaga hati kami berdua, bertiga. semoga Allah menjadikan setiap rindu sebagai pahala.

layar telepon genggam semakin jarang menampilkan namanya. percakapan berlangsung satu arah, ia hanya menjawab, tak lagi bertanya, tak lagi peduli, hanya membalas seadanya. ini mengingatkanku beberapa bulan lalu, ketika pesan-pesan darinya berkurang, lalu menghilang. ia akan menghilang (lagi) dari hidupku. tanpa pamit. tanpa menjelaskan apa-apa.
—  sekali lagi, ia memilih pergi.
Mengintip Masa Lalu.

“Apa kabarnya sekarang ya?” adalah bisikan syaiton paling menggoda.
Akhirnya, di Minggu pagi yang cerah ini iseng ngetik nama yang udah lama banget ga muncul di pikiran. Sampai lupa ID Line nya apa bahkan.

Dan yang tersebut setelah melihat foto profilenya adalah… “Alhamdulillah.”

Karena fotonya…sudah berdua, pakai jas profesi yang sama.

Ah. Baiklah.

*nyerutup kopi*

Pasti ada satu orang di masa lalu, yang akan selalu berakhir dengan tanda tanya di hidup kita. Seseorang yang sempat kita “simpan” untuk nanti di masa depan, ketika kita rasa sudah waktunya. Tapi ternyata masa depan yang tak terasa sudah menjadi “saat ini”, tidak seperti apa yang kita bayangkan.

Sebut saja namanya Joni.
Joni adalah bagian dari perjuangan tahun akhir perkuliahan. Menjadi teman adalah satu-satunya pilihan, karena pacaran bukan hal yang dapat memastikan kita akan menjadi lebih baik di masa depan.
Sebagai senior yang menawarkan diri membantu juniornya untuk melewati masa-masa menyenangkan yang kita sebut skripsi, ternyata menjadi jalan bertukar cerita yang lain.

Oh, dan kamu, yang merasa lelaki itu “seksi” ketika punya badan bagus dan wajah mulus tanpa pori-pori, kamu harus lihat bagaimana mata seseorang yang menggebu-gebu menceritakan cita-citanya, rencananya menyusun masa depan.
Tahu kan, ketika orang dihadapan kita bercerita tentang sesuatu dengan semangat, terus kita jadi ikutan semangat, dan berharap ikut terlibat di dalamnya. Eh, kok ngelunjak. Wkwk

Joni menceritakan rencana rapinya tentang masa depan. Kenapa dia melalukan ini sekarang, apa yang akan dia lakukan di masa mendatang, dan banyak lagi.
Hana was being Hana at that time, mendengarkan dengan seksama tanpa sadar sambil tersenyum lebar, dalam hati merasa…minder.

Singkat cerita, Joni harus keluar kota, melanjutkan bagian dari studinya. Jarak sangat membantu untuk mengalihkan pikiran dan perasaan. Ya kan?

Joni selalu menjadi teman lama yang namanya hadir sekali setahun di layar handphone, saat lebaran. Selebihnya, teman yang selalu dalam pantauan, yang lama kelamaan menghilang.

Tapi Jogja selalu menjadi tempat pulang untuk siapapun.
Joni kembali dua tahun yang lalu, “Aku bakal di Jogja loh, mulai tahun ini sampai lima tahun mendatang.”
Dan Jogja tidak sesempit yang kalian kira, Tuhan tidak menuliskan skenario “kebetulan” sehingga aku dan Joni berpapasan di jalan. Dan Tuhan tidak menggerakkan hati hambaNya untuk saling bertukar sapa di dunia maya kemudian mengatur rencana untuk ketemuan.

Joni adalah bagian manis dari tahun terakhir perkuliahan.
Joni adalah sepotong kisah romantis, yang datang dan pergi tanpa permisi.
Kisah yang kita bingung mulainya dari mana, dan lupa berakhirnya seperti apa.

Joni hadir seperti kopi hangat yang wanginya menggoda sampai kita merasa tidak perlu tahu rasanya.
Joni pergi seperti segelas bekas kopi tubruk, sebagian hilang, sebagian tertinggal.

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.

surut

“Time flies over us, but leaves its shadow behind”

Penghitungan waktu jadi bagian yang enggak terpisahkan dari pertandingan sepakbola di layar kaca. Makin dekat dengan injury time, pemain yang berlaga di lapangan makin gesit memaksimalkan peluang. Ekspresi sesal sering tertangkap kamera saat operan-operan ciamik harus berakhir nihil karena sebuah keteledoran. Pemain, pelatih, tim ofisial hingga penonton bergulat dengan rasa tegang sejak enggak ada yang tau dalam kondisi apa pertandingan berakhir. Suka atau duka?

Andai setiap orang tau kapan injury time di hidup mereka, enggak akan ada satu peluang pun yang dibuang percuma. Berbanding terbalik dengan pertandingan di layar kaca, kita yang makin dekat dengan injury time masing-masing belum termotivasi untuk selalu menyegerakan perbuatan baik. Mungkinkah kita masih menjadi bagian dari mereka yang menikmati pengurangan waktu dan terburu-buru mengejar ketertinggalan di akhir?

Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita berlalu pada linimasa usia menuju titik surut. Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita mengabaikan kelapangan di masa kini untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu datang dan meratapi masa lalu yang enggak bisa diraih lagi.

Ada dalih-dalih yang terucap saat kita menunda perbuatan baik semisal, “Santai, masih ada besok” atau “Nantilah, kalau sempet”. Padahal, sepotong hikmah dari Hasan Al-Bashri berbunyi, “Manusia adalah kumpulan hari-hari. Kalau satu hari kamu bepergian hingga mentari tenggelam di ufuk barat, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Tinggal menanti dimana pada suatu saat, hari-hari milikmu tinggal sedikit”.

Guru saya pernah bercerita tentang ponakannya yang baru beranjak dewasa dan beberapa kali diajak mengaji. Bujukan, “Ngaji yuk” selalu berbalas “Nanti, kang. Kalau udah punya motor”. Hingga kemudian motor berhasil dimiliki, ajakan yang sama digulirkan kembali. Responnya berubah, “Nanti, kang. Kalau udah beres ngelamar calon. Dua bulan lagi ya”. Sebulan berlalu, selepas lembur dari tempat kerjanya, laki-laki muda itu merasa kepalanya pusing sekali. Beberapa saat sehabis menelan sebutir obat pereda, ia pun tidak sadarkan diri - selamanya. Sayang, ajalnya tak tertunda dengan ucapan “Nanti, kang”.

Kalau inget cerita itu, saya nyesel pernah bersukacita melepas perginya waktu lewat perayaan-perayaan yang enggak penting beberapa taun ke belakang. Seolah momen-momen temporer itu sepadan dengan hilangnya begitu banyak waktu. Bukankah berlalunya hari demi hari jadi pengingat paling sederhana bahwa kita makin dekat dengan injury time? Bukankah sewajarnya kita lebih sering bersedu atas kepergian sebagian dari diri kita yang enggak bisa kembali lagi?

Kita masih terlena dengan keberlimpahan waktu hingga ia terasa tak istimewa lagi. Suatu hari kita akan tersadar bahwa dari apa yang tengah dinikmati saat ini, ada prinsip trade off di dalamnya. Saat muda, kita punya banyak waktu. Namun banyak yang dibuang percuma. Di masa dewasa, kita punya sedikit waktu untuk terlalu banyak urusan. Di masa tua, kita punya keleluasaan tapi sisa waktu enggak banyak lagi.

Imam Syafi’i pernah mendapatkan nasihat dari seorang sufi, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”

Dengan begitu ringannya ungkapan klasik “Time flies, ya” selalu terucap dari lisan kita, ada baiknya kita melongok sejenak ke belakang untuk mencermati jejak-jejak yang kita pijakkan di masa lalu. Jejak apa yang ditinggalkan selepas “pertandingan” kita berakhir nanti? Akankah kita bersukacita atau berdukacita karenanya?

anonymous asked:

Terus yayangnya jawab, "Lha kan sekarang aku kerja di kantor, Mas. Mas pecat aku jadi yayang?" Indirectly, inti jawabannya kurang pro ya Mas sama akhwat kantoran :p

Jadi karena saya sedang dalam rangka belajar bercerita, saya reply pake cerita aja ya. Meskipun mungkin ceritanya masih imajinatif dan agak geli-geli gimana bacanya, tapi gak apa-apa ya :)

***
Hari itu hari Sabtu, display jarum jam tangan ala smart watch Samsung Gear S3 Classic yang ku beli beberapa waktu lalu itu menjukkan sudut 90 derajat  ke arah barat daya, jarum pendeknya mendekati angka enam.

Sambil menunggu di meja makan kecil berbahan kaca berbentuk lingkaran yang diameternya kira-kira 1 meter, ku teruskan mengetik kata-kata yang masih terus melintas di pikiran, aku fokus melihat kursor pada layar sementara jari jemariku bermesraan dengan tuts tablet hybrid ASUS J-200TA warna hitam elegan hasil buruan di Hi Tech Mall Surabaya bersama kawan karibku.

Dahiku mengernyit, alis hitamku berdekatan seakan saling menyapa satu sama lain. Aku memang seperti itu saat sedang serius mengerjakan sesuatu. Namun itu tak berlangsung lama, setelah kulihat sesosok bidadari dengan gamis merah marun datang dari arah depanku membawa nampan dengan dua cangkir putih bertuliskan namaku dan namanya.

Seorang bidadari yang biasa ku panggil adinda atau kadang dinda, sering juga kupanggil sayang atau yayang ini memang paling ngerti kalau partnernya, sekaligus ustadznya, sekaligus bodyguardnya, sekaligus temen hunting buku, temen makan, temen belanja, sekaligus supir dan tukang ojeknya ini paling demen kalau dibuatin wedang jahe atau coklat panas pagi-pagi.

“Ini mas coklat panasnya, tapi udah agak hangat kok mas, bisa langsung diminum.” Ia meletakkan cangkir itu dengan perlahan di sampingku.
“Makasih sayang,” balasku sambil menyeruput secangkir coklat hangat yang sehangat sayang dan perhatian bidadari yang membuatnya.

Sluurrp
“Yang, kayaknya coklatnya kurang manis deh, gak kayak biasanya..”
“Ah masa sih mas, takarannya sama kok. Ya udah aku ambil gula dulu ke dapur ya…”
“Eehh nggak usah, tambahin pake senyum kamu dikit boleh nggak? Biar manis, hehe.”
“Ihh mas ih, kirain serius.”
“Yee, mas dua rius kok ini,” timpalku. Dan dia pun tersenyum.
Alamak, aku selalu kehilangan fokus di bagian itu. Putaran waktu dan detak jantung seakan berhenti sekian detik saat melihat senyumnya. Every see her smile, I always lose my mind.

“Mas, aku mau nanya deh,”
“Iya sayang, tanya apa?”
“Nah mumpung ini masih di awal hari-hari kita, aku mau nanya sama mas. Kalau dilihat dari tanyaku kemarin kan mas kurang pro kalau aku kerja kantoran sementara aku sampai saat ini masih kerja di kantor sejak sebelum nikah sama mas, ya meskipun ini masih cuti sih. Mas kurang suka ya?”

Ku beri jeda sejenak seruputan coklat itu.
“Oh yang kemarin itu?” Tak lupa, sebisa mungkin aku berusaha untuk mengawali dengan senyum sebelum menjawab setiap pertanyaan dari adindaku itu.

“Hemm jadi begini adindanya mas yang paling cantik, paling imut dan paling emesh. Sebenernya, bukan tanpa alasan mas jawab itu kemarin.”

 “Terus mas?”

“Begini sayang, semenjak sebelum mas memintamu dari ayah, mas sudah berencana dan berjanji untuk senantiasa menghabiskan waktu berkualitas bersama seseorang yang kelak Allah jadikan sebagai partner. Mas ingin hidup sebenar-benar hidup denganmu, mas ingin ada sebenar-benar ada di sisimu, mas ingin jadi imam sebenar-benar imam buat kamu.”

“Terus mas..”
“Kok kamu jadi kayak tukang parkir mobil sih dari tadi ngomong terus mas, terus mas..”
“Nyimak atuh mas, ih mas mah ngeselin.”
“Hahaha, ya ya, ojo manyun.”
“Lanjut mas..”

“Mas tidak semata-mata berniat melarang yayang untuk berkarir di kantor, sehingga membuat yayang mungkin jadi bingung jika nanti tidak di kantor, apa yang yayang bisa kasih buat ayah ibu yang ada di rumah, begitukah?”

“Hemm iya ada bagian itunya juga sih mas..”
  
“Tenang aja kok yang, seseorang yang betul-betul mencintai kamu, dia juga akan berusaha mecintai keluargamu, apalagi ayah dan ibumu yang juga sudah mas anggap seperti ayah dan ibu mas sendiri. Mas ngerti kok kalau kamu masih ingin bisa betul-betul berbakti dan memberi yang terbaik untuk ayah dan ibu di tengah tanggung jawabmu sebagai seorang istri di hadapan mas, right?”
“Iya mas..”

“Boleh kok kalau adinda masih kerja di kantor untuk beberapa waktu jika memang sangat perlu untuk belajar beberapa hal dan menggali ilmu. Jangan lama-lama ya tapi, setelah itu mending kita buat kantor sendiri, kita manage dan handle berdua. Mas pilotnya, adinda co-pilotnya.
Kita manfaatkan apa yang sudah didapat dari proses belajar kita masing-masing. We two have networking, have ability to manage since we were student in our college, right? So lets practice them, building and executing the big plan together. First step, it’s about us, between me and you in a team.

“Lanjut mas…”
“Ciyeee, sekarang jadi lanjut mas ya? Gak pake terus mas lagi. Pensiun jadi tukang parkir mobil ya?”
“Iyaaa, masku yang rese bin bawel.” Dia nampak mulai kesal.
“Hahaha, maaf yaa adindaku yang imut tapi gampang ngambekan.” Balasku.

“Kamu tau nggak kenapa mas prefer kita kerja bareng aja daripada kamu kerja di tempat lain kalau memang kamu pengen bener-bener berkarir di kantor orang?”

“Kenapa sih mas?”

“Mas pengen sebelum kita memulai aktivitas harian, kita punya waktu khusus untuk sekedar ngaji bareng setelah subuh. Mas ingin nyimak bacaan Al-Qur’an dan hafalanmu. Mas ingin bisa menyampaikan satu dua hikmah, cerita atau nasihat di tengah perjalanan kita bekerja. Mas pengen urusan manage waktu benar-benar kita yang punya. Pun kita gak perlu repot-repot ijin ini itu jika suatu saat kamu lagi homesick pengen pulang ke rumah ayah ibu atau pas lagi ada sesuatu.

Pengen kemana kita bisa agendakan, gak perlu terlalu repot cari waktu untuk anter kamu jalan-jalan. Belum kalau nanti ditambah hadirnya mujahid atau mujahidah kecil kita. Mas pengen kita berdua hadir disana untuk membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang kita punya, ya dunia ya agama, biar nggak timpang. Apalagi di masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangannya. Ilmu dan hikmah yang beneran, utamanya Al-Qur’an.

Mas gak pengen kalau anak-anak nanti cuma tau tentang gerakan sholat, tapi gak ngerti esensinya. Cuma bisa baca syahadat, tapi nggak ngerti kandungan dan konsekuensinya hanya karena kita yang gak sempet menanamkannya. Mas pengen mereka bisa baik bacaan Al-Qur’annya sejak kecil dan menyetorkan hafalan pertamanya dengan fasih dari bimbingan langsung ayah atau ibunya. Mas pengen mereka bisa betul-betul meresapi pelajaran dari ayah dan ibunya sejak masa kecilnya.

Bagi masmu ini sayang, dunia ini terlalu sebentar untuk dihabiskan tanpa waktu-waktu yang sesungguhnya untuk orang-orang yang tercinta hanya karena kesibukan pekerjaan. Dunia ini terlalu sebentar jika terhabiskan tanpa punya banyak waktu dan kenangan yang kita lewati berdua, yang mas lewati sama kamu. Nah mumpung si kecil belum hadir, kita siapkan semua rencana itu dari sekarang ya.

Adinda sudah paham?”

***
©Quraners
Di tengah beduk sahur anak-anak kecil

Surabaya, 30 Mei 2017

Skandal Kilang

Hamidi geram melihat wanita yang bekerja bersamanya itu. Tubuh wanita bertudung yang berbaju blouse coklat dan berkain skirt merah marron itu sedang menyusun makanan di rak hidangan. Tangan Hamidi rancak membancuh air di gelas tetapi matanya tajam merenung tubuh wanita itu. Lentikan punggung wanita itu kelihatan sungguh jelas meskipun ditutupi oleh blouse coklat yang labuh. Pekerja-pekerja kilang yang tadinya ramai memenuhi kantin kembali surut sebaik masa bekerja semakin hampir tiba.

“Kak Sal, balik nanti hantarkan saya balik boleh tak? Motor saya rosaklah kak.” Hamidi bertanya kepada wanita itu.

“Boleh. Rumah kau tak jauhkan?” tanya kak Sal.

“Dekat je..” Jawab Hamidi kembali.

Sebaik waktu kerja habis, Hamidi sudah siap menunggu di sebelah kereta kak Sal. Kereta Mazda berwarna biru metalik itu menjadi pengangkutan harian kak Sal untuk pergi kerja di kantin kilang elektronik tersebut. Suami kak Sal seorang pemandu lori dan sekiranya dia pulang pun lebih gemar menunggang motorsikal.

Di dalam kereta, Hamidi menjeling peha kak Sal yang kelihatan ketat di dalam skirt merah maroon tersebut. Rasa geram semakin menebal dihati Hamidi. Pandangan matanya naik ke wajah kak Sal yang sedang leka memandu keluar dari kawasan kilang. Wajah isteri orang berusia 45 tahun itu sungguh seksi dimata Hamidi. Tambahan pula ketika itu kak Sal memakai tudung satin berwarna putih yang kilat dan licin membaluti kepalanya. Teringin rasanya anak muda itu melihat kepala isteri orang itu bergerak hebat mengolom batang kemaluannya yang keras merodok kerongkong wanita itu.

“Apasal tengok akak macam tu?” kak Sal bertanya kepada Hamidi sambil melihatnya sebaik menyedari dia diperhatikan oleh lelaki itu.

“Akak ni cantiklah… tak padan dah 45 tahun.” kata Hamidi.

“Alah… tua dah akak ni Midi. Mana ada cantiknya.” kata kak Sal merendah diri sambil menekan brek sewaktu tiba di traffic light merah.

“Betul kak… kalau la akak ni bujang lagi, atau janda ke… memang sayalah orang pertama yang nak kat akak..” kata Hamidi lagi.

“Mmm… rumah kau simpang tu kan? ” kak Sal bertanya kepada Hamidi menukar tajuk cerita.

“Ye kak… terus masuk simpang tu, lepas tu rumah bujang no 5 dari kanan.” jelas Hamidi.

Kak menekan brek sebaik tiba di hadapan rumah sewa Hamidi. Kelihatan motor Hamidi tersadai di sebelah kereta kancil merah.

“Bila rosaknya motor kau tu Midi?” tanya kak Sal.

“Pagi tadi kak, ingatkan nak bawak kereta, tapi kawan saya nak pinjam pulak. Itu yang tumpang Ajis pagi tadi.” jawab Hamidi.

“Itu kereta kau ke?” tanya kak Sal.

“Ha'ah kak.. tu jelah yang saya mampu kak.. err kak Sal… nak tanya sikitlah” Hamidi agak gementar namun terus bersikap selamba.

“Apa dia?” tanya kak Sal.

“Malam esok kita keluar nak?” tanya Hamidi.

“Nak ke mana?” tanya kak Sal.

“Tengok wayang. Saya belanja. Laki akak pun belum balikkan?” tanya Hamidi.

“Belum tu memang la belum. Lagi 3 hari lagi dia baru balik. Ni kenapa tetiba nak ajak akak ni?” tanya kak Sal pula.

“Saja nak belanja akak. Camne ye kak?” tanya Hamidi ingin kepastian.

“Nantilah akak tengok camne.” jawab kak Sal.

“Alah kak… please… jomlah.. lagi akak bukan ada pun kat rumah… please…” pinta Hamidi sambil sengaja memegang peha kak Sal hingga jari-jemarinya dapat menekan tundun tembam kak Sal.

Kak Sal terdiam sejenak. Dia cuma mengukir senyuman sambil melemparkan pandangan kosong di hadapan.

“Oklah… tapi janji jangan bagi tau sesiapa. Nanti apa-apa hal akak mesej Midi.” jawab kak Sal.

“Ok, jadi ye kak… terima kasih sebab tumpangkan saya.” kata Hamidi sambil melepaskan pegangannya pada peha kak Sal lalu keluar dari kereta.

Esoknya, selepas Hamidi mengambil kak Sal, mereka terus menuju ke panggung wayang di bandar. Di dalam panggung wayang, mereka diam tidak berkata apa-apa. Khusyuk menonton cerita yang dipamerkan di layar. Tetapi sebaik kak Sal mengeluh kesejukan, Hamidi sudah berkira-kira bahawa peluangnya sudah terbuka.

“Sejuk ye kak..” tanya Hamidi.

“Ha'ah… sejuk sangat.. Kau tak sejuk ke Midi?” tanya kak Sal.

“Sejuk jugak” jawab Hamidi sambil terus memegang tangan kak Sal.

“Hmmm.. sejuknya tangan akak… takpe kak, saya ada..” kata Hamidi dan terus melilitkan tangannya ke pinggang kak Sal yang duduk di sebelahnya sambil merapatkan tubuhnya menyentuh tubuh wanita itu.

Kak Sal pula seakan tidak kisah tubuhnya rapat bersatu dengan lelaki muda disebelahnya. Setidak-tidaknya dia dapat menghangatkan tubuhnya di dalam suasana yang serba dingin ketika itu. Namun fikiran Hamidi tidak sepenuhnya kepada cerita filem yang ditayangkan. Sebaliknya dia sebenarnya sedang asyik membelai dan mengelus pinggul kak Sal yang begitu empuk sekali dirasanya itu. Melihatkan kak Sal langsung tidak kisah pinggulnya di belai, Hamidi semakin berani untuk memulakan langkah seterusnya. Dia mula menggerakkan tangannya sehingga tapak tangannya tiba di peha kak Sal. Peha empuk isteri orang berkain sarung biru tua yang licin itu tanpa ragu-ragu lagi terus di usapnya dengan lembut. Sesekali jarinya mengikut bentuk corak ala matahari berwarna emas di kain kak Sal. Jelas sekali kak Sal tidak kisah dan membiarkan.

Semakin lama usapan tangan Hamidi semakin naik menghampiri tundun kak Sal. Tanpa segan silu, Hamidi menyeluk tangannya masuk ke dalam baju kurung kak Sal dan terus melekap tapak tangannya di tundun tembam kak Sal. Kelihatan kak Sal bergerak sedikit tubuhnya namun masih tiada tanda-tanda penolakan darinya. Itu membuatkan Hamidi semakin berani meraba tubuh kak Sal dibahagian tundunnya. Hangat sekali Hamidi rasakan sebaik tangannya masuk ke belahan kelangkang kak Sal. Meskipun masih dilindungi oleh kain sarungnya, Hamidi masih dapat merasakan kehangatan tundun kak Sal yang tersembunyi di belahan kelangkangnya. Hamidi cuba bertindak semakin nakal dengan cuba menguis bahagian bawah tundun kak Sal, terdapat sedikit respon dari badan kak Sal yang seakan terkujat kecil sewaktu jari Hamidi menyentuhnya. Hamidi cuba cuit lagi dan kali ini lebih kuat, sehingga dapat Hamidi rasakan jarinya seperti tenggelam di pangkal belahan cipap kak Sal.

“Ish… Midi… janganlah…” kata kak Sal sambil menarik tangan Hamidi dan diletakkan kembali di atas pehanya.

Hamidi diam seketika, namun dia tidak berputus asa. Sekali lagi Hamidi menyeluk tangannya ke dalam baju kurung kak Sal. Tangannya terus mengusap peha kak Sal. Terasa sungguh ketat dibaluti kain sarungnya yang licin. Hamidi meraba-raba perut kak Sal yang sedikit buncit itu. Rabaan Hamidi semakin naik ke atas hingga tiba ke bukit berkembar isteri orang yang bercoli. Kak Sal diam membiarkan. Melihatkan kak Sal tidak kisah, Hamidi terus menyeluk tangannya masuk ke dalam coli kak Sal dan memekup buah dadanya. Perlahan-lahan Hamidi meramas buah dada kak Sal. Lembut dan empuk sekali meskipun saiznya hanyalah sederhana sahaja, hinggalah dia dapat menggentel punat segar yang dirasakan semakin keras dan tegang.

Kak Sal kelihatan biasa sahaja pada mulanya namun lama kelamaan Hamidi dapat merasakan ombak nafas kak Sal semakin kuat bergelombang di dada wanita itu. Hamidi terus menggentel puting buah dada kak Sal sehingga dia dapat melihat tangan kak Sal kuat meramas kusyen yang didudukinya.

“Kak Sal… saya stim la kak..” bisik Hamid di telinga kak Sal namun kak Sal tidak mengendahkan.

Hamid menurunkan tangannya dari buah dada kak Sal, lalu keluar dari baju kurung wanita itu. Dia memegang tangan kak Sal lalu diangkat dan diletakkan di bonjolan batangnya yang keras membonjolankan seluar jeans yang dipakainya. Seakan kelihatan agak malu pada mulanya, tangan kak Sal akhirnya memegang erat batang Hamidi meskipun dari luar seluar. Kemudian kak Sal meramas-ramas batang keras Hamidi dan membiarkan Hamidi menyeluk tangan ke kelangkang hangatnya demi membelai cipapnya yang sudah hampir seminggu tidak dibenihkan.

Hamidi gembira kerana kali ini tiada lagi halangan dari kak Sal. Dia pun mengusap lembut cipap kak Sal dan dia semakin ghairah kerana selain dapat meraba cipap tembam isteri orang yang licin berkain sarung satin biru tua itu, dia juga menikmati ramasan-ramasan geram di batangnya dari tangan kak Sal. Semakin lama kak Sal semakin tidak boleh tahan. Lebih-lebih lagi apabila Hamidi asyik bermain-main di biji kelentitnya yang semakin berkembang itu. Air nafsu isteri orang beranak dua itu juga semakin melimpah hingga Hamidi dapat merasakannya semakin membasahi kain sarung licin wanita itu.

“Midi… kita keluar jom…” pinta kak Sal.

“Ok.. jom…” jawab Hamidi sambil terus bangun dari dan menarik tangan kak Sal.

Sewaktu menghampiri pintu keluar panggung wayang yang gelap, Hamid sempat memegang tangan kak Sal yang jalan dahulu di hadapannya dan memberhentikannya. Dia terus rapat berdiri di belakang wanita itu dan menekan bonjolan keras batangnya di belahan punggung tonggek kak Sal yang licin itu.

“Kita cari hotel ye kak..” bisik Hamidi di telinga kak Sal.

Kak Sal tidak menjawab sebaliknya dia melentikkan punggungnya membuatkan bonjolan keras batang Hamidi semakin kuat menekan belahan punggung wanita itu. Hamidi semakin geram dan tidak sabar untuk menikmati tubuh subur isteri orang itu.

Hotel bajet menjadi pilihan mereka. Sesungguhnya Hamidi sememangnya tidak sabar lagi untuk menikmati tubuh wanita 45 tahun itu. Meskipun sayup-sayup terdengar laungan azan isyak, dia sudah tidak menghiraukannya lagi lalu terus sahaja memeluk tubuh kak Sal dari belakang. Tubuh ramping kak Sal di peluknya erat. Bonjolan keras di seluarnya di tekan berkali-kali di punggung kak Sal. Hamidi bernafas penuh nafsu di leher kak Sal yang ditutupi tudung berwarna putih. Tangan Hamidi mengusap perut kak Sal yang gebu membuncit. Empuk sekali daging perut isteri orang beranak dua itu. Kelicinan baju kurung satin berwarna biru tua yang bercorak mentari berwarna emas itu membuatkan Hamidi bernafsu sekali meraba tubuh wanita itu. Sebelah tangannya naik ke buah dada dan sebelah lagi turun ke tundun tembam. Kedua-dua tangannya tidak henti meraba tubuh kak Sal hingga wanita itu sendiri mengeluh menandakan dirinya semakin ditakluki nafsu.

Kak Sal melingkarkan tangan ke belakang tubuhnya mencari batang Hamidi yang keras membonjol menekan-nekan punggungnya. Batang keras Hamidi di genggam kuat dan sempat dia meramas batang lelaki muda yang berahi kepadanya itu. Kak Sal membuka zip seluar Hamidi dan menarik batang kemaluan lelaki muda itu dengan mudah kerana Hamidi tidak memakai seluar dalam. Hamidi mengeluh nafsu apabila dia merasakan batangnya digoncang perlahan dan penuh kelembutan oleh tangan kak Sal.

“Emmm… saya stim la kat akak…” bisik Hamidi.

Kak Sal diam tanpa bicara. Dia sendiri semakin bernafsu apabila rabaan Hamidi semakin hebat menggosok cipapnya yang semakin terangsang. Kak Sal lantas berpusing dan berdiri berhadapan dengan Hamidi. Dia mendongakkan wajahnya memandang Hamidi sambil mengocok batang keras Hamidi di perutnya. Hamidi semakin ghairah apabila kak Sal berkali-kali menekan batang kerasnya di permukaan perutnya yang ditutupi oleh baju kurung yang licin. Mereka berdua pun berkucupan dan saling bermain lidah. Nafas kak Sal semakin kuat dirasai Hamidi.

Kemudian kak Sal turun berlutut di hadapan Hamidi. Wajahnya yang bertudung itu manis tersenyum melihat batang kemaluan Hamidi yang digenggam di hadapan wajahnya. Kak Sal lantas menjilat kepala kembang Hamidi. Hamidi mengeluh kesedapan tatkala lidah kak Sal menjilat seluruh kepala kembangnya, termasuklah lubang kencingnya. Kemudian kak Sal menyumbat batang Hamidi masuk sepenuhnya ke dalam mulut. Bibirnya rapat menyentuh bulu kemaluan Hamidi dan dia membiarkan batang Hamidi terendam dengan agak dalam hingga mencecah anak tekaknya sendiri.

Hamidi tunduk melihat batangnya hilang di dalam mulut kak Sal. Kemudian kak Sal mula menghenjut mulutnya maju mundur hingga batang keras Hamidi keluar masuk mulutnya yang berbibir mungil itu. Lidahnya seringkali bermain-main di batang Hamidi membuatkan Hamidi begitu asyik sekali menikmatinya. Hamidi mengusap kepala kak Sal yang bertudung. Nafsunya semakin ghairah melihat kepala kak Sal yang bertudung putih itu bergerak mengolom batang kemaluannya. Hamidi tidak tahu kenapa dia benar-benar tidak mampu membendung rasa berahinya. Dia tahu air maninya bila-bila sahaja akan meletus keluar. Namun kesedapan batangnya dikolom mulut kak Sal membuatkan dia seakan teragak-agak untuk memberhentikan hisapan nikmat wanita itu.

Semakin lama Hamidi semakin tidak tahan. Segera dia menarik batangnya keluar dari mulut kak Sal. Air maninya hampir sahaja mahu memancut keluar ke dunia. Kak Sal yang seakan tergamam kerana keasyikannya menghisap batang lelaki terganggu terus sahaja berdiri membelakangi Hamidi dan menekan punggungnya ke batang kemaluan lelaki itu. Sebaik sahaja Hamidi merasakan batang kerasnya yang masih berlumuran dengan air liur kak Sal menyentuh rapat punggung kak Sal yang menonggek dan dibaluti kain yang licin itu, nafsunya serta merta tidak tertahankan lagi. Menyembur air maninya di punggung kak Sal yang masih berbaju kurung licin itu.

“Kak Salll… ohh… ” rengek Hamidi sambil menahan air maninya dari terpancut lagi sambil menarik tubuhnya agar batangnya tidak menyentuh tubuh kak Sal.

Kak Sal menoleh dan melihat lubang kemaluan batang Hamidi menitik beberapa titisan air mani. Dia lantas melentikkan punggungnya dan menarik bahagian belakang bajunya dan terlihat terdapat sisa air mani Hamidi yang dilepaskan ada di punggung baju kurungnya, tepat di tengah-tengah corak mentari berwarna emas. Tidak berapa banyak nampaknya.

“Dah keluar tu macam mana?” tanya kak Sal.

“Tak pe kak… saya dapat tahan dari keluar semua… ” jelas Hamidi ringkas.

“Tak tahan sangat nampak…” sindir kak Sal yang merangkak naik ke atas katil.

Hamidi ikut naik ke atas katil dan terus memeluk kak Sal.

“Memang tak tahan kak…. dah lama saya stim kat akak tau…” kata Hamidi.

Mereka berpelukan dan berkucupan lagi. Hamidi sempat menanggalkan seluar jeans dan menarik tangan kak Sal memegang batangnya yang masih keras. Kak Sal melancapkan Hamidi menggunakan baju kurungnya yang licin dan itu membuatkan nafsu Hamidi semakin ghairah ingin menyetubuhi kak Sal. Hamidi menyelak kain sarung kak Sal ke atas dan mengusap peha kak Sal yang mulus itu. Kemudian tangannya mula meraba cipap kak Sal. Seluar dalam kak Sal ternyata semakin lembap. Jelas sudah bahawa wanita itu juga sudah semakin ghairah ingin disetubuhi.

Hamidi melorotkan seluar dalam kak Sal. Tundun tembam milik kak Sal kelihatannya kemas berbulu nipis. Hamidi terus naik ke atas tubuh kak Sal yang terlentang dan tanpa dipinta, kak Sal terus memegang batang keras Hamidi dan dipandu agar menuju ke belahan cipapnya yang sedia menanti. Sebaik Hamidi merasakan hujung batangnya memasuki muara lubang cipap kak Sal, dia terus menekan batangnya masuk secara keseluruhannya.

“Ouhhhh…. Midi….” kak Sal merengek bernafsu apabila lubang kemaluannya dijolok dalam oleh Hamidi.

Tubuhnya melentik sewaktu menerima kemasukan batang Hamidi yang keras itu. Hamidi terus sahaja menjolok lubang cipap kak Sal yang licin dan basah itu. Henjutan demi henjutan pun mula menghanyutkan mereka berdua di alam persetubuhan yang melazatkan. Kak Sal merasakan sungguh nikmat di jolok batang keras Hamidi yang meneroka sungguh dalam. Hamidi pula merasakan sungguh nikmat sekali menjolok lubang licin kak Sal sambil dapat melihat wajah kak Sal yang masih bertudung dan terlentang di atas katil.

Sesekali Hamidi menekan kuat batangnya agak dalam dan diam beberapa ketika sambil memeluk tubuh wanita itu dan menciumi bahu serta lengan kak Sal yang berbaju kurung licin. Hamidi dapat merasakan kak Sal mengemut batangnya kuat. Hamidi menyambung kembali menghenjut lubang kemaluan kak Sal sehingga dia merasakan erangan kak Sal menjadi semakin kuat dan juga tindak balas kak Sal juga semakin ganas.

Kak Sal akhirnya mencapai kemuncak persetubuhan. Perutnya mengempis dan tubuhnya mengejang sambil memeluk Hamidi. Dapat Hamidi rasakan lubang kak Sal semakin licin dan ianya membuatkan Hamidi semakin goyah dalam pelayaran. Segera Hamidi menekan batangnya di dalam cipap kak Sal sedalam-dalamnya dan menciumi tengkuk dan bahu wanita itu.

Sebaik kak Sal kembali tenang, Hamidi pun mengeluarkan batangnya yang bukan sahaja berlumuran, malah berciciran dengan cairan likat dari lubang cipap kak Sal. Kak Sal tersenyum melihat Hamidi yang berlutut di sisinya. Batang Hamidi tegak mengeras, tanda masih belum puas menikmati tubuhnya. Bagaikan faham apa kehendak lelaki itu, kak Sal terus mengiring membelakangi Hamidi. Dia terus menyelak kainnya ke pinggang dan mempamerkan punggung lebarnya yang gebu membulat kepada Hamidi. Kak Sal menarik batang Hamidi menuju ke belahan cipapnya. Hamidi bagaikan terpukau melihat punggung kak Sal. Sedar-sedar batangnya sudah disumbatkan oleh kak Sal memasuki lubang persetubuhan tadi. Tangan Hamidi terus berpaut pada pinggul kak Sal. Kelembutan daging pinggulnya yang empuk dan lentikan pinggangnya yang ramping mendorong Hamidi untuk memacu batangnya memasuki tubuh isteri orang itu sekali lagi dengan ghairahnya.

Merengek kak Sal sewaktu dihenjut batang kemaluan Hamidi yang keras menjolok lubang cipapnya. Dalam keadaan mengiring itu, dia melihat Hamidi yang sedang menikmati pemandangan tubuhnya yang seksi itu sambil bergerak tanpa henti menghenjut tubuhnya. Dia ghairah sekali kerana batang Hamidi masih keras dan dalam meneroka lubang kelaminnya.

Hamidi pula begitu ghairah sekali melihat tubuh kak Sal yang masih berbaju kurung satin berwarna biru tua itu. Wajah kak Sal manis sekali dalam keadaan bernafsu begitu, walau pun tudung dikepalanya kelihatan tidak sekemas mula-mula tadi.

Seterusnya Hamidi meminta kak Sal menonggeng. Kain sarung kak Sal di selak ke pinggang. Punggung kak Sal yang melebar itu di usapnya geram

“Geram saya kat punggung akak..” kata Hamidi.

“Akak tau…” kata kak Sal pula.

Hamidi pun memasukkan batangnya ke dalam cipap kak Sal. Melentik pinggang kak Sal sebaik batang Hamidi menorobos masuk lubang kemaluan kak Sal. Sementara Hamidi pula semakin tidak tahan melihat lentikan pinggang ramping kak Sal yang melentik membuatkan punggung wanita itu semakin menungging dengan seksi. Air maninya semakin hampir hendak keluar meskipun dia baru sahaja menghenjut punggung kak Sal yang tonggek berlemak itu. Demi menyelamatkan keadaan agar tidak terpancut dan mampu bermain lebih lama, Hamidi mencabut batangnya keluar. Namun malangnya, sebaik batangnya dicabut keluar, air maninya memancut keluar dengan kuat dan laju tepat ke belakang tubuh kak Sal.

“Oooohhh Kak Salllll….. Ahhhhhh….” Hamidi mengeluh penuh nafsu sambil menggoncang batangnya yang sedang kuat memuntahkan segala isi kantung maninya.

Kak Sal pula dapat merasakan air mani Hamidi yang hangat bagaikan hujan menimpa belakang tubuhnya. Dapat dia merasakan air mani lelaki itu meresap dan menembusi baju kurungnya yang licin itu. Kak Sal membiarkan Hamidi memuaskan nafsunya menembak tubuhnya dengan air maninya.

“Kak… hari ni motor saya tak rosak. Tapi rumah saya tak ada orang. Jadi balik nanti akak singgah rumah saya kejap boleh tak?” tanya Hamidi kepada kak Sal yang sedang berdiri memerhatikan para pekerja-pekerja kilang sedang menjamu selera di ruang makan kantin.

“Boleh…” jawab kak Sal sambil tersenyum menoleh kepada Hamidi.

Hamidi tersenyum sendiri, pasti hari ini dia bakal menikmati lagi persetubuhan seperti malam semalamnya. Tubuh kak Sal yang berbaju T biru lengan panjang dan berkain skirt coklat yang sendat di punggung itu bagaikan menggamit nafsunya untuk menyetubuhi wanita itu di situ juga. Hamidi berdiri dari kerusi dan melalui belakang kak Sal sambil sempat meramas punggung isteri orang itu.

Kak Sal tersenyum dan membiarkan. Dia tahu, beberapa jam sahaja lagi dia akan bersetubuh dengan lelaki itu. Kak Sal tersenyum penuh makna.

Jupri (2)

Tulisan Jupri tidak bertambah.

Dimanapun.

Terkadang bulatan foto Jupri berwarna merah. Ada apdetan igstory maksudnya…wkwk

Oh, aku gak follow Jupri, tapi aku tetap ngeklik lingkaran merah itu, jadi, igstory kan bisa ketauan tuh siapa yang ngeliat, dan Jupri ternyata ngecek, dan…ketauanlah kalau aku kepo.

Ketahuan jilid dua.

Ga bakat kepo sih kayaknya.

Jupri sapa lewat…igstory.

Background hitam, tulisan putih, kecil disalah satu ujung layar.

“Untukmu…”

Wkwk.

Kemudian disusul tulisan, sebait dua bait, kadang manis kadang pahit.

Jadi, pernah ada satu fase dimana akhirnya kita berkomunikasi lewat igstory. Sempat berlangsung beberapa kali.

Sampai akhirnya Jupri tulis begini,

“Mau sampai kapan, dik?”

Tampaknya Jupri benar-benar ingin mengakhiri hubungan yang bahkan belum dimulai ini.

Jupri uninstall IGnya.
Pamit di foto terakhirnya.

Aku paham. Aku coba lupakan.

Bayangkan seberapa sering aku ketik namanya di kolom search, sampai-sampai saat aku ketik huruf J, nama Jupri paling atas.

Ternyata tak cukup lagi kekuatan untuk mengabaikan.

Perempuan menunggu, tapi menunggu terkadang tercekik oleh rasa penasaran, Jup.

Aku klik namanya, dan Oh!! Ada lingkaran merah!

Lah, piye Jup? Katanya uninstall IG. Ternyata komentar dalam hatiku sudah disalurkan oleh beberapa temannya di kolom komentar foto terakhirnya.

Lingkaran merah tak pernah begitu menggoda, dan tentu saja Jupri tahu.

Jupri sapa lagi, “Masih?”

Kemudian Jupri bantu aku dengan benar-benar menghilang.

Jupri hapus akun instagramnya.

Tak perlulah sampai segitunya Jup.
Anggaplah aku orang asing, bukan siapa-siapa.
Perempuan sukanya mengira-ira Jup, coba jelaskan, siapa yang berusaha melupakan siapa.
Tapi tampaknya doa kita sama, agar hati kita tidak dipautkan pada orang yang bukan Allah siapkan untuk kita.
Kita cuma manut Allah ya Jup. Tampaknya kita pun tak se-kufu dalam satu hal, susah ya Jup?
Lebih baik menghindar daripada susah di depan, kan?
Kadang kita memilih begitu ya Jup?
Menghindar daripada memperjuangkan.

Beberapa bulan setelah benar-benar hilang, aku baru paham maksud pesan terakhir di tulisannya.
Aku tanya, kata Jupri, “Buat apa, tulisan itu udah gak relevan lagi buat sekarang.”

Sekarang kalian tahu siapa yang tidak lebih baik dari hujan.

Hujan yang memberi aba dengan mendung sebelum ia datang.
Hujan yang rintiknya mengecil kemudian perlahan mereda.
Tidak seperti Jupri, yang melakukan semuanya dengan tiba-tiba.

Eh dia ga tiba-tiba juga sik…tapi…ya gitulah.

Jupri tinggal cerita sekarang.
Atau mungkin Jupri diantara kalian,
Membaca cerita ini diam-diam.

Membaca sambil menyalahkan pemahamanku,
Membaca sambil ingin menjelaskan apa maksud dari tulisanmu,
berusaha meluruskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi sudah tidak perlu lagi.

Ya kan Jup?

Cerpen : Menanti Tulisanmu

Aku selalu menanti tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. Itu pun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini. Teruslah menulis, karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang. 

Rumah, 10 Mei 2015 | ©kurniawangunadi

ambek

“Strong is the one who can control his anger”

Bulan lalu, kami kedatangan seorang remaja lugu yang melamar kerja sebagai asisten rumah - sebut saja Mira. Karena saat itu kami sedang membutuhkan jasa asisten rumah, harapan Mira sebagai gadis perantau pun bak gayung bersambut. Kesepakatan segera dibuat supaya ia bisa mulai mengerjakan beberapa pekerjaan rumah seperti menyetrika juga mencuci pakaian di keesokan harinya.

Enggak lama berselang, ponsel kakak saya raib hingga berhari-hari kemudian. Di satu kesempatan, pegawai kami yang lain mendapati ponsel tersebut sedang digunakan oleh Mira dalam kondisi berbeda. Pelindung layar dilepas, cangkang luar dicopot dan punggung ponsel ditempel stiker. Pada saat diminta baik-baik ponsel yang dimaksud, ternyata nomor serinya persis dengan nomor yang tertera pada dus bawaannya. Jelas, Mira khilaf dengan mengambil barang yang bukan miliknya.

Saat itu, seisi rumah hampir dibuat meradang karena Mira berkelit dengan perbuatannya. Setelah jelas terbukti lewat pencocokan nomor seri pun, ia masih mengelak dengan berkilah bahwa ia tidak bermaksud mencuri dan mengulangi kalimat, “Keluarga saya enggak punya apa-apa” sembari tersedu-sedu. Pertanyaan yang muncul di benak kami saat menyaksikan hal tersebut ialah seberapa layakkah kami harus marah?

Andai ponsel tersebut terus digunakan oleh Mira tanpa sepengetahuan kami atau bahkan dijual sebagai ponsel bekas tanpa kelengkapan, harganya enggak akan menembus satu juta rupiah. Layakkah amarah kami tertumpah untuk barang yang mungkin nilainya enggak seberapa? Layakkah kami marah untuk hasil curian yang telah ditemukan lagi? Syukurlah kami memilih untuk tidak memarahinya. Kami hanya menyerahkan sisa gajinya dan memberhentikannya per sore itu juga.

Demi beragam ketidaksesuaian yang kita temui sehari-hari, ada satu-dua hal yang entah mengapa sedemikian mudah memantik amarah kita untuk bernyala. Ibarat api yang melahap benda apapun yang ada di hadapannya, amarah sering menghasilkan kerusakan yang sedemikian berbekas. Hal yang seringkali kita dapati setelah meluapkan amarah adalah hadirnya penyesalan di kemudian hari. Sebetulnya kita bisa menahan emosi, tapi nyatanya kita sering kalah bertarung dengan diri sendiri.

Namun, bukan berarti kita dilarang marah sama sekali. Hanya saja, kita perlu mengelola luapannya sehingga tetap menyamankan orang lain. Bila harus marah kepada seseorang, tak perlulah mengungkapkannya di depan umum apalagi sampai menyakiti fisik. Bedakan secara jernih antara marah yang mendidik dengan marah yang menjatuhkan harga diri orang lain. Kalau dengan meluapkan amarah tujuan yang kita inginkan belum tentu tercapai, mungkin bisa jadi kita memang enggak perlu marah.

Jelas bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang dari setiap tindak-tanduknya menghasilkan kebaikan. Saat kita tau bahwa amarah yang tengah dirasakan bisa dipadukan dengan akal sehat untuk menghasilkan kebaikan, ungkapkanlah dengan perangai yang santun. Karena kalaulah orang baik diibaratkan sebagai pohon yang kuat akarnya lagi tinggi cabangnya, maka belum lengkap kebaikan tersebut tanpa buah yang munculnya tak mengenal musim. Tak sempurna keyakinan yang kuat dan ketaatan yang utuh tanpa mulianya kepribadian.

Saat seseorang yang mudah tersenyum akan disebut murah senyum, maka tentu mereka yang mudah marah layak disebut murah marah. Kita tau bahwa siapapun akan dinilai sesuai dengan reaksi alami yang tampak sebagai cerminan karakternya. Kebaikan atau keburukankah yang lebih mudah dan murah tercermin dari karakter kita?

Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridai.” Jadi, jangan marah, jangan marah, jangan marah.

Belum ada judul (Prolog)

Bagaimana jika seseorang yang telah lama ingin kau hilangkan dari pikiran dan dada datang kepadamu? seseorang yang pernah menempati relung hatimu bertahun-tahun, lalu bertahun-tahun kemudian juga kau berusaha keras untuk membiasakan perasaanmu tanpanya, tanpa mengingatnya, tanpa mencari tahu tentangnya. Kau telah berusaha keras menghilangkan perasaan tak biasa tersebut dengan berbagai cara seperti melakukan hobimu, mendaki gunung, menonton drama, memperbanyak pekerjaanmu, kau menyibukkan diri untuk tak mengingatnya, dan disaat kau telah berhasil tak mengingatnya bahkan rasamu padanya memudar, hingga semakin pudar, semakin pudar, dan semakin pudar. Tetapi disaat semakin pudar itu, entah sengaja atau tidak, semesta memertemukanmu kembali dengannya?

Dia sama sekali tak salah, dia tak pernah menyakitimu, dia bahkan tak tahu kau menyimpan rasa padanya, dia tidak tahu bahwa selama apa kau pernah menunggunya, dia tak pernah tahu semenyesakkan apa kau pernah merindukannya, dia tidak tahu sekeras apa kau berusaha menghilangkannya, dia tak pernah tahu karena kau tak pernah memberitahunya. Tetapi suatu hari semesta mengejutkanmu. Kau tak tahu kata-kata apa yang dapat melukiskan perasaanmu, senang atau sedih atau marah atau yang lainnya yang kau sendiri tak mengerti. Mungkin otakmu mengatakan kau sudah tak memiliki apapun untuknya, kau bahkan telah menemukan sesorang yang menyayangimu dan kau menyayanginya. Kau bahagia bersamanya, kau merasakan indahnya cinta yang berbalas. Tetapi sejak hari kau bertemu dengannya kembali, hatimu masih jelas mengingatnya, hatimu terus membawamu menelusuri kenangan.

Kau pernah berharap dipertemukan kembali dengannya, namun kau juga lebih sering berharap untuk tidak kembali dipertemukan dengannya karena kau tak ingin goyah dan melukai seseorang yang ada untukmu saat ini. Memikirkan dia yang telah kau pudarkan saja membuatmu merasa bersalah, tetapi hatimu tak bisa diatur, ia terus saja membuatmu mengingatnya kembali. Hatimu berkata ada yang harus kau selesaikan dengannya, entah itu rasa penasaran atau kembalinya memang takdir dari semesta. Kau terus memikirkannya dan tak sadar kau telah kehujanan atau terlalu banyak menuangkan air minum ke gelas.

Tring. Satu pesan masuk ke ponselmu.

Hai, sibuk gak?

Tiga kata tersebut membuatmu kehilangan logika. Kau hanya menantap layar ponsel. Bukan, bukan dari kekasihmu, melainkan dari sesorang yang sejak bebrapa waktu kembali menghantui pikiran dan hatimu.

Aku harus jawab apa?………

di layar telepon genggam:

huruf demi huruf dihapus. kalimat yang belum rampung, menyusut, tak akan benar-benar rampung untuk dikirimkan pada seseorang. hanya tersisa satu kata, ‘kangen’. dengan jemari bergetar, dada yang sesak, kata itu harus ia hapus. tak mudah menghapus pesan yang sangat ingin disampaikan pada seseorang yang dirindukan. tak mudah menghapus rindu di dalam dada. pesan-pesan yang ia ketik tak berani ia simpan di dalam draft telepon genggamnya. ia menghapusnya agar rindu tak tumbuh subur. agar ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa tersiksa dengan rindu yang semakin menyala. malam ini, ia merasa menang sekaligus kalah. menang karena berhasil menahan dirinya mengirim kembali pesan pada mantan kekasihnya. kalah karena untuk rindu saja, ia tak berani menyampaikannya.

kemarin saya kembali ke kantor untuk pertama kali–berhubung empat puluh hari pasca partum sudah selesai. sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar meninggalkan kantor. saat masih tinggal di surabaya semasa hamil, satu bulan saya bagi menjadi dua minggu di bogor untuk menjadi wanita karir dan dua minggu di surabaya untuk menjadi ibu rumah tangga. sejak cuti melahirkan (alias work from home karena akan melahirkan), ada staf ids yang setiap hari datang ke rumah menemani saya bekerja. begitu pun setelah saya melahirkan.

percobaan kembali ke kantor ini menyenangkan dan lumayan menegangkan. sebab, sesuai amanah mas yunus untuk menyusui langsung terus, saya membawa mbak yuna (dan sebagasi perintilan bayi) menempuh 40 km pulang pergi jika harus ngantor. dan sesuai amanah mas yunus untuk terus mengasuh mbak yuna langsung, saya tidak punya baby sitter. jadilah di kantor, saya pun tetap menyusui, menggantikan popok, menenangkan mbak yuna jika menangis, juga memompa susu.

seru dan penuh syukur. alhamdulillah saya bekerja di perusahaan keluarga sendiri, sehingga bisa lebih fleksibel mengatur waktu. alhamdulillah saya diizinkan oleh mas yunus untuk tetap berkarya begitu begini, sehingga saya tetap bisa mengaktualisasi diri sambil sementara menjadi single parent. alhamdulillah, saya ketemu caranya agar bisa tetap menjadi ibu rumah tangga dan tetap menjadi wanita karir.

ternyata caranya adalah dibalik. sebisa mungkin seluruh pekerjaan yang tidak bersentuhan langsung dengan bayi diserahkan kepada orang lain. sebaliknya, sebisa mungkin seluruh pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan bayi, saya sendiri yang melakukan.

jadilah saya tidak perlu punya baby sitter, tapi punya manajer ASI. karena dalam sehari saya harus memompa ASI enam sampai tujuh kali, dan upacara menyiapkan dan merapikan peralatan memompa sangatlah panjang, Rea saya tunjuk pula menjadi manajer ASI saya. jadilah saya tidak punya baby sitter, tapi punya sekretaris sendiri. seringkali saat bekerja, saya menggendong dan menyusui mbak yuna sementara Rea yang berada di depan layar sekaligus menghubungi staf-staf lain untuk mendelegasikan pekerjaan. saya tinggal “ngomong doang”.

alhamdulillah. bersyukur sekali rasanya. saya jadi semakin percaya: kemudahan itu selalu ada, asalkan kita mengusahakannya.

tentu saja ada satu yang paling saya rindukan: menulis buku, merampungkan proyek menulis yang masih mangkrak. semoga untuk yang ini saya segera ketemu caranya dan waktunya. rasanya, menulis selalu adalah hadiah bagi diri saya sendiri–jalan sekaligus tujuan yang layak diperjuangkan, dimenangkan.

Q: Bagaimana kamu bisa tahu kamu sedang jatuh cinta?

A: Aku tahu aku sedang jatuh cinta, ketika;
~aku bisa tertawa hanya karena mendengar suara tawanya.
~aku gembira ketika mendapati namanya di layar ponselku.
~aku memikirkannya setiap kali aku mendengar lagu favoritku.
~aku merindukannya saat kabarnya terlambat tiba padaku.
~aku menjadikan dia sebagai definisi kata bahagiaku.
~aku melibatkannya di keseharianku, karena bagiku dia penting.
~ketika hal-hal sederhana dan segalanya hanya membuatku teringat padanya.

Kalau kamu?

Rayakan Idul Fitri di Dunia Nyata

Handphone berdering-dering, sahut-sahutan chat masuk melalui aplikasi WhatsApp, LINE, Messanger seolah berebut urutan untuk tampil di layar perangkat yang menjadi media minta maaf dan ucapkan selamat Idul Fitri di era saat ini.

Ada nama yang dikenal, namun tak sedikit pula nama tak dikenal. Bermacam model ucapan selamat yang masuk, entah di copy paste atau berbentuk gambar dalam sekali broadcast. Yang jelas, tidak banyak yang sepertinya benar-benar ucapan maaf yang dicustomized berbeda, melainkan hampir semuanya seragam.

Alih-alih membaca, tombol pada layar handphone juga diarahkan untuk melakukan copy jawaban. Sang penerima pesan melakukan hal serupa. Alhasil terjadilah saling berbalas copy paste ucapan “selamat hari lebaran”.

Di satu sisi, semua orang di ruang tamu sibuk menunduk. Menunduk bukan berzikir melainkan sibuk masing-masing melihat handphone. Kue-kue dianggurin, minuman diliatin, dan tamu tamu datang hanya diberi sebuah senyum sambil menoleh sedikit. Pikiran masih tersita ke handphone.

Silaturahmi sudah bergeser ke dunia virtual, alih-alih tegur sapa di dunia nyata. Salam-salaman tak lagi lama dan melekat karena jemari terlalu sibuk mencatat kata pada layar. Kata-kata mengalir melalui speaker handphone bukan lagi dalam kata-kata langsung

Apakah ini model Idul Fitri yang kita inginkan?
Model Idul Fitri yang lebih menyita perhatian di dunia maya dibanding dunia nyata?
Semoga saja tidak.

Silaturahmi melalui dunia maya tentu tidak salah, akan tetapi janganlah sampai melebihi interaksi di dunia nyata.

Mari tetap peduli dengan tamu yang datang ke rumah,
Mari tetap menatap kue lebaran yang tersaji dengan gembira,
Mari tetap lebih peduli keluarga di depan mata, sembari tetap menjaga silaturahmi dalam dunia maya

Selamat Idul Fitri 1438 H.
Mohon maaf lahir dan bathin.


Faldo Maldini dan Keluarga