lautane

Perempuan bukanlah pelabuhan. Yang disinggahi sebentar, lalu ditinggal berlayar. Perempuan adalah lautan, tempat pelaut hebat dilahirkan dan tempat sejati mengarungi ujian
tenggelam

jika rindu adalah air, barangkali ia telah menjelma danau.

tak satu hari pun kulewati tanpa memikirkanmu. bekerja, membaca buku, mendengarkan musik, menonton film, duduk di kedai kopi, berkumpul bersama teman-teman, pelarian yang sia-sia karena kenanganmu selalu datang tanpa mengenal waktu. tanpa mengenal hari libur. jika saja di dalam kepalaku terdapat seseorang layaknya HRD di perusahaan, aku ingin mengajukan cuti dari memikirkanmu. sehari saja. cukup sehari.

jika rindu adalah air, kuharap ia tak menjelma lautan.

ia hanya hujan yang jatuh di musim kemarau. sesekali datang menghibur manusia yang menyukai aroma tanah bercampur hujan, petrichor, lalu kembali menghilang. seperti kesedihan yang datang sebelum mata memejam lalu menghilang ketika terjaga. kuharap rinduku kepadamu tak menjelma lautan. aku takut tenggelam di dasarnya. sendiri. kesepian.

Bukan aku tak mau berusaha, hanya saja aku sadar diri. Untuk apa menyelam ke dalam lautan ketika aku sendiri memang tak mampu berenang. Usaha perlu, tapi sepertinya sadar diri lebih perlu.

Aku pernah setuju-setuju saja bila kamu menyuruhku melakukan ini dan itu
Aku pernah langsung mengiyakan apa-apa yang kamu larang untuk aku lakukan
Aku pernah untuk selalu ada di sekitar meski keluhan sebetulnya sudah terlalu memuncak
Dan aku pernah, tenggelam pada lautan curigamu hingga sama sekali tak bisa bernafas

Tapi kali ini aku biarkan diriku menghirup udara sebebas mungkin dengan cara yang aku sukai
Tanpa perlu kamu ikut campur tangan
Tanpa perlu kamu turut mengatur ini dan itu
Meski aku tahu, selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang aku pilih
Meski aku mengerti, setelahnya mungkin akan ada yang berbeda atau bahkan menjadi hilang

*gambar lutjunya kepemilikan @mengudara

Tidak Pernah Tahu

Kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan membawa kita ke surga. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian perbuatan yang baru kuanggap baik, masih belum tentu Penghuni Langit menganggapnya layak untuk dihitung.

Kita tidak pernah tahu, hati mana yang pernah tersakiti akibat ulah kita. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian ulahku yang sering membuat banyak hati terluka, dari lidahku yang begitu tajam, hingga tingkahku yang merusak.

Kita tidak pernah tahu, sahabat mana yang akan memanggil dan menuntun kita ke surga. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian pertemanan yang kuciptakan sendiri, hingga pergaulanku yang tidak berbatas.

Kita juga tidak pernah tahu, dosa kita yang mana yang hingga nanti kita dipanggil masih belum diampuni. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian dosa-dosaku, yang kecil hingga yang besar, yang kulakukan sendiri, bahkan hingga membuat orang sekitarku menangis karenanya.

Aku masih mencari tahu.

Andai cara itu benar-benar ada, aku akan tetap mencarinya, meski harus membelah seisi lautan, meski harus meraba seisi langit, dan meski aku harus menggali isi bumi paling dalam.

Aku masih mencari.

Adakah cara untuk mengetahuinya?

Bogor, 6 Januari 2017 | Seto Wibowo

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Rupanya dia menutup kekurangannya tanpa perlu berkeluh kesah.

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan,
Rupanya dia pandai menutup dukanya dengan bersyukur dan redha.

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Rupanya dia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya.

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Rupanya dia berbahagia dengan apa yang dia ada.

Aku melihat hidup jiran tetanggaku sangat beruntung,
Ternyata dia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..
Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat Allah..
Bahawa di satu sudut dunia lain masih ada yang belum beruntung memiliki apa yang aku ada saat ini.

Dan satu hal yang aku ketahui, bahawa Allah tak pernah mengurangkan ketetapan-Nya.
Hanya akulah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi.

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain.

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku. Tapi rezekiku tahu dimana diriku berada.

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya menuju kepadaku.

Allah menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.
Kerana bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran dan gelisah dengan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.

Mereka lupa bahawa hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya.

Siti Hajar berulang alik dari Safa ke Marwah, tapi air Zam-zam muncul dari kaki anaknya, Ismail.

Ikhtiar itu perbuatan. Rezeki itu kejutan.
Dan yang tidak boleh dilupakan, setiap hakikat rezeki akan ditanya kelak, “Dari mana dan digunakan untuk apa”

Kerana rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”…

Halalnya dihisab dan haramnya diazab.
Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain.

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.

Satu

Suatu ketika, Rasulullah kelelahan dan berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur. Kemudian khadijah menangis dan airmatanya jatuh ke pipi Rasulullah. Rasulullah terbangun dan bertanya, “Wahai Khadijah, kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? Dulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Tetapi hari ini engkau telah di hina orang. Semua orang telah menjauh darimu. Seluruh harta kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?”

Khadijah berkata, “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul Nya. Dulu aku punya kebangsawanan. Kebangsawanan itu pun aku serahkan untuk Allah dan Rasul Nya. Dulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh harta kekayaan itu pun telah aku serahkan kepada Allah dan Rasul Nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Maka sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, lalu suatu saat engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, engkau hendak menyebrangi sebuah sungai, dan engkau tak memperoleh rakit ataupun jembatan, maka engkau galilah lubang-lubang kuburku. Kau galilah kuburku, engkau ambillah tulang belulangku, kau jadikanlah jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu agar berjumpa manusia. Ingatkan mereka kepada kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang haq. Ajak mereka kepada islam wahai Rasulullah”.

Bayangkan, seorang nabi yang agung, seorang istri yang agung, suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini.

Sementara lihatlah kita, para ummat yang telah ditinggal pergi Rasulullah. Lihat kita sekarang. Terlalu sibuk mengurusi hal hal remeh lalu kita beralasan bahwa itu baik. Padahal, gara gara itu, sunnah pun mulai malas dilakukan, buku buku agama tidak ada yang melekat dikepala. Jangankan melekat, dibaca saja tidak. Shalatpun keteteran, berdoa buru buru, alquran jarang ditadabburi, perasaan baper nomor satu.

Sementara nanti, ketika hari akhir, Rasulullah memintakan ampunan sampai ruku di hadapan Allah, demi kita ummatnya. Lalu ternyata kita begini. Cinta kita palsu. Cinta kita buat Rasulullah pura pura.

Mau sampai kapan?

Semoga Allah membantu kita memperbaiki perasaan cinta kita kepada yang lebih patut terlebih dahulu.

Dibandingkan.

“Mbak, ada orang tv nghubungin aku. Katanya mau masukkan Kirana ke nominasi Mom and kids awards gitu. Menurut kau? Aku dah bilang kemungkinan kau dak mau sih.”
“Oo…siapa aja yang ikut?”
“Balita yang di sosmed.”
“Oo…ya, bilang aja dakpapa.”
“Hah? Serius kau? Dakpapa? Nanti dibanding-bandingkan lagi kayak kemarin.”
“Hmm…tapi kalau dak masuk, ribut pulak orang nanya kok Kirana dak masuk.”
“Eh ya pulak.”
“Dak abis kalau mikirin orang.”
“Iyasih.”

Jadi kira-kira begitu.
Sebelumnya sudah pernah aku tulis juga. Cukuplah yang kita bandingkan harga gula di warung A dan warung B. Janganlah kita bandingkan yang ada heartbeat-nya.

Banding badminton.
Eh
Tanding…….tanding badminton.

Banding lautan api.
Eh
Bandung………lautan api.

Banding gajah.
Eh
Gading…………..

Ah udah ah.

Di sebuah geladak menjelang sore, sepi dan angin berkawin. Mereka mengejekku dengan dingin yang mulai menghasut pikiran untuk kembali ingat pada seseorang di seberang lautan.

HELLO NOVEMBER!

Berkat dorongan teman-teman semua, insyaAllah kami akan membuka pemesanan kembali terutama untuk buku MENENTUKAN ARAH. Buku tersebut telah kami remake. Diperbaiki ulang isinya, dipercantik wajahnya, dan ditambah dengan beberapa tulisan pelengkap yang melengkapi isi sebelumnya.

Menentukan Arah, dan dua judul sebelumnya bisa dipesan mulai 14 November 2016. Informasi tentang harga, timeline pemesanan, dan lain-lain akan kami rilis bertahap.

Simak terus info-info tentang buku dari Langitlangit di

Instagram : @langitlangit.yk | @kurniawan_gunadi

Tumblr : kurniawangunadi.tumblr.com

Pre Order akan dibuka serentak untuk INDONESIA dan MALAYSIA.

INFORMASI : +62 857 7272 4343 (IND) | +60 13216 7518 (MY)

"ANA INGIN KELUAR DARI JAMAAH"

“Ustadz, dulu Ana merasa semangat dalam Dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan Ana melihat ternyata banyak pula yang aneh-aneh.”

Begitu keluh kesah seorang santri kepada ustadznya di suatu hari.

Sang Ustadz hanya terdiam, mencoba menggali semua kecamuk dalam diri santrinya.

“Lalu, apa yang ingin Antum lakukan setelah merasakan semua itu?” sahut sang ustadz setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari jamaah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa teman yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi Dakwah yang Ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja…” jawab santri itu.

Sang ustadz termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Akhi, bila suatu kali Antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan Antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” tanya sang Ustadz dengan kiasan bermakna dalam.

Sang santri terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

“Apakah Antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” Sang ustadz mencoba memberi opsi.

“Bila Antum terjun ke laut, sesaat Antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat.

Berapa kekuatan Antum untuk berenang hingga tujuan?

Bagaimana bila ikan hiu datang?

Darimana Antum mendapat makan dan minum?

Bila malam datang, bagaimana Antum mengatasi hawa dingin?”

Serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan santri.

Tak ayal, Sang santri menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian.

Kekecewaannya kadung memuncak, namun Sang ustadz yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah Antum masih merasa bahwa jalan Dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?” Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa Sang santri. Ia hanya mengangguk.

“Bagaimana bila temyata mobil yang Antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok?

Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya Sang ustadz lagi.

Sang santri tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup Ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan Ana. Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata Ana diperhatikan…”

“Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam Dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan Ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang Ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa Ana”,

Sang santri berazzam di hadapan ustadz yang semakin dihormatinya.

Sang ustadz tersenyum.
“Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan.

Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berDakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah.”

“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan Antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata Antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap Dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu Antum lebih baik dari mereka.”

“Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal.

Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah Dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” sambungnya panjang lebar.

“Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah Da'i. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi.

Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.”

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”

Sang santri termenung merenungi setiap kalimat ustadznya. Azzamnya memang kembali menguat.

Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

“Tapi bagaimana Ana bisa memperbaiki organisasi Dakwah dengan kapasitas Ana yang lemah ini?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“Siapa bilang kapasitas Antum lemah?

Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum?

Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!” sahut Sang ustadz

“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman.

Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga Antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala Ghil (dengki, benci, iri hati) Antum terhadap saudara Antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya.”

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya.

Hari itu, Sang santri menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan Dakwah. Pencerahan diperolehnya.

[3/12 17:42] ‪+62 838-7476-6589‬: UPDATE AKSI BELA ISLAM 212

SEMERBAK HARUM SAAT HUJAN TURUN JAMAAH SHOLAT JUM'AT MONAS

kesaksian Arik S. Wartono

Aku datang longmarch bersama tak kurang 3000 (tiga ribu) jamaah dari kawasan Harmony, memasuki kawasan Monas melalui arah barat patung kuda bundaran HI. Mendapat info bahwa Monas sudah penuh. Tapi aku butuh membuat liputan kebenarannya.

Maka aku memotret dan membuat video di bundaran HI sebentar, kemudian menerobos masuk mendekati panggung utama orasi di Monas, yang sekaligus lolasi panggung imam jamaah sholat jumat.

Langkahku terhenti sekitar 25 meter dari panggung orasi, sebab lautan umat sudah mustahil aku belah lagi untuk lebih dekat.

Dari titik itulah aku membuat liputan kesaksianku, sambil menggelar sajadah.

Selama tak kurang tiga jam berdiam di titik Barat Monas tepat kiri imam yang sekaligus lokasi panggung utama orasi, cuaca tak sedetikpun panas.

Matahari muncul sedikit tanpa membakar terik, selebihnya mendung.

Drone terus beterbangan di atasku, hellykopter mengelilingi Monas dalam hawa sejuk angin semilir.

Saat aku memejamkan mata sambil bersila di atas sajadahku sambil mendengarkan orasi Aa Gym, aku bahkan merasa sauasananya seperti sedang di pinggir pantai, adem-semilir. Padahal kabarnya ini aksi demonstrasi.

Setelah orasi beberapa tokoh, tiba saatnya Muadzin mengumandangkan adzan sebagai tanda dimulainya ibadah Jumat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim lelaki akil balikh.

Saat itulah hujan mulai turun, seolah Allah sengaja mengirim air wudhu untuk kami semua 7,4 juta jamaah.

Untuk orang sebanyak itu, coba pikir berapa ton kubik air yang dibutuhkan untuk berwudhu sekalipun dalam situasi paling darurat?

Allah memahami kebutuhan kami, maka diturunkannya hujan yang tidak deras untuk kami berwudhu.

MasyaAllah, jamaah pun diliputi rasa syukur dan haru.

Sekitar 5 menit hujan turun, indra penciumanku mengindera bau semerbak harum.

Aku berpikir sejenak, bau parfum siapakah ini yang sanggup semerbak dalam guyuran hujan?

Bukankah kami berkumpul 7,4 juta orang? Mestinya kan pengab bau keringat di bawah hujan? Normalnya kan bau apag (tak sedap) pakaian kotor berkeringat yang terbasahi air?

Tapi ini malah bau harum semerbak.

Aku coba berpikir lain: apakah ada yang sedang membakar dupa?

Ah mana mungkin ada dupa di bawah guyuran hujan? Lagipula ini bukan bau dupa, dan mana mungkin ada jamaah sholat jumat yang membakar dupa?

Aku coba berpikir lain, dan harum semakin semerbak, lebih dari 5 menit sudah harum ini.

Apakah ada sesorang yang menyemprotkan parfum mahal dalam jumlah besar ?

Aku lihat sekeliling, nihil. Di sisi kiri belakangku sekitar 50 meter memang ada mobil tangki, tapi jelas bertuliskan Air Minum (untuk Wudhu).

Harum semerbak bahkan kian jelas. Maka aku coba bertanya pada orang-orang di sekelilingku dengan suara lumayan keras, sebab memang belum Adzan kedua sebagai tanda dimulainya khutbah Jumat :

“Bapak-bapak dan Abang di sini semua apakah mencium bau harum yang kuat?”

semua menjawab

“Ya, benar. Bau harum, wangi.”

Aku lihat tadi ada seorang bapak usia 50an yang batuk saat hujan mulai turun. Mungkin bapak ini sedang pilek. Aku langsung tanya:

“Apakah bapak juga mencium bau harum?”

beliau tegas menjawab: “Ya, benar bau harum !”

Aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras pada semua jamaah di sekelilingku:

“Apakah semua yang di sini mencium bau harum yang kuat?”

Semua serempak menjawab

“Ya”, sambil mengangguk. Sampai aku mengulagi 3x pertanyaanku pada jamaah, jawabnya pun sama: YA.

Aku melanjutkan pertanyaan:

“Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?”

Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan pertanyaanku.

Tidak ada jawaban.

Akun lanjutkan:

“Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang semua kenali dengan bau harum begini?”

Semua mengeleng, kembali tak ada jawaban.

Aku lanjutkan lagi:

“Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran hujan begini?”

Kali ini pertaanku melemah, bahkan sedikit tersekat.

Dan beberpa jamaah aku lihat mulai berubah raut mukanya, mereka mulai berlinang air mata.

Tiba-tiba saja kami para lelaki telah menangis di bawah hujan.

“MasyaAllah… Subhanallah.. apakah Kau sedang mengutus malaikatmu untuk kami ya Allah, dengan hujan ini?”

Seorang bapak berwajah keturunan Arab (tampaknya seorang ustsdz, atau mungkin habib) spontan hampir berteriak sambi menangis.

Kami semua pun kian berlinang, tak kurang 100 orang saat itu di dekatku yang memberi kesaksian tentang fenomena alam yang tak biasa ini.

Muadzin pun mengumandangkan adzan kedua, Habib Rieziq mulai berkhutbah sebagai khatib sholat Jumat, dan bau harum tak tercium lagi, hujan terus merintik.

Kami tetap khitmad menyimak khutbah Jum'at yang menggetarkan.

Dan aku menjadi saksi di antara 7,4 juta jamaah.

Itu jamaah sholat jumat terbesar yang pernah aku ikuti seumur hidup, di bawah guyuran hujan.

Allahuakbar.

Jakarta, 2 Desember 2016

Apakah diantara yang hadir kemarin merasakan harum yg sama?

The Untold Story of Red Sea

Dulu ketika masih sekolah dasar, saya mengira laut merah berwarna merah, laut hitam berwarna hitam, dan laut mati banyak orang mati, hehe. Lalu semakin gemar mempelajari geografi dan sadar bahwa penamaan itu sekedar nama, mungkin kawan-kawan yang paham sejarah bisa menyingkap masing-masing alasannya.

Laut Merah terbentang memisahkan Afrika dan jazirah Arabia. Jika kawan ingat kisah Nabi Musa membelah laut, nah laut itulah laut Merah; ketika 450.000 rakyat Israel pimpinan Nabi Musa, menyelamatkan diri dari keganasan Firaun, lautan menjadi jalan panjang tuk sampai ke daratan, sementara pasukan Firaun -dikatakan mencapai 1.000.000 pasukan- tenggelam bersama kereta perang dan harta bendanya.

Laut Merah pula menjadi saksi hijrah pertama Umat Islam menuju Negeri Habasyah. Kaum Muslimin dijuru bicarai oleh Jafar bin Abu Thalib singgah di Ethiopia nan makmur kala itu, di bawah lindungan Raja Najasyi yang bijaksana.

Laut Merah pula menjadi bentangan kegagahan sejarah Umat Islam di masa jayanya. Tatkala Kekhalifahan Utsmani menguasi dunia kelautan, mereka melarang kapal-kapal Eropa untuk melewati Laut Merah selama 300 tahun lamanya. Mengapa? Sebagai sebuah penghormatan pada Makkah dan Madinah, dua kota suci milik Umat Islam.

Seingat saya, Victor Hugo pernah bilang, “jika sesuatu engkau lihat dua kali, engkau akan dapatkan nilai baru.” Kita melihat lautan sekali, mungkin sekadar melepas penat dan meregangkan syaraf. Namun lihat tuk kedua kali, maka kita mulai bertanya-tanya dan merenungi kemegahannya, menafakkuri dan mengolahnya menjadi sepih-serpih hikmah.

Segala sesuatu menyimpan nilai. Kita hanya mesti lebih rajin mengasah matahati. Selamat bertadabbur, selamat mengumpulkan hikmah terserak! 😃 “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Yunus : 6]

@edgarhamas Laut Merah, Semenanjung Sinai 11 Februari 2017
Buta

Apakah dengan menjadi sungai, aku bisa bertemu denganmu di samudra? Apakah dengan menjadi lautan, aku bisa bertemu denganmu di langit biru?

Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah api yang berniat membakar hidupmu? Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah angin yang berniat meluluh lantakan hatimu? Padahal aku tidak pernah berniat menjadi seperti itu, meskipun aku adalah api, atau angin yang kamu sangka badai.

Kalau saja kamu bersedia mendengar dan melihat lebih jauh. Bukankah selama ini aku adalah mata air yang kamu cari-cari? Bukankah selama ini aku adalah cahaya yang kamu butuhkan?

Hanya saja, hatimu tertutup oleh angan-angan kosong. Dipenuhi oleh impian yang tidak pernah menjadi nyata.

© kurniawangunadi

Untukku

….dan, andaikan dosa itu berbau kupastikan tak ada satupun yang mau dekat denganku.

Maha Baik Allaah, yang cinta Nya selalu jauh lebih luas dari murka Nya menutupi aib hamba dengan begitu rapi.

Maha Baik Allaah, yang tak bosan menanti hamba untuk kembali bertaubat mengakui dosanya yang mungkin telah melampaui batas.

Maha Baik Allaah, yang berulang-ulang kali dalam Al-Qur'an juga hadist yang disampaikan Rasul-Nya menyatakan bahwa Allaah Maha Pengampun. Sekalipun dosa hamba sebanyak buih di lautan, Ampunan Nya lebih luas lagi.

Maha Baik Allaah, yang berjanji akan mengganti kesalahan hamba yang mentaubati masalalunya dengan kebaikan kebaikan di masa depannya.

Allaah, segala puji bagimu.

Semoga, hamba Mu tahu diri.

Muhasabah untukku, 23:27.
Diyah Maya Lestari.

[Surat 1] To: RF

Dear RF,

Apa kabar kamu? Mungkin ini pertama kalinya aku benar-benar berani menulisimu sesuatu tanpa harus menyamarkannya dalam kata-kata yang bisa jadi orang akan menganggapnya bukan tentangmu. Mungkin, hanya di sini sejauh keberanian itu.

Surat ini kutuliskan di tengah malam; waktu yang tepat untuk menyelami lautan kenangan. Di antara samudra yang kutatapi, hanya kamulah yang akhirnya kuseberangi. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Pada akhirnya hanya aku yang bertahan sementara kamu sudah melangkah ke mana saja.

Kamu tahu enggak? Saat kuceritakan tentangmu ke beberapa sahabatku, mereka mengatakan hal yang sama, loh. Mereka bilang aku bodoh untuk menunggu seseorang yang yah sudah membakar namaku dari dalam dadanya dan menganggap apa yang terjadi berikutnya sebagai lelucon.

Aku berkilah bahwa aku tak menunggu. Memang nyatanya begitu. Enam tahun, dan aku baik-baik saja. Menurut mulutku begitu. Pada nyatanya, aku teralihkan ke seseorang lain, walaupun sama seperti kamu, akulah yang bertahan dan dia—juga kamu, entah pergi ke mana.

Tapi, ya sudahlah. Masa bodoh. Ini bukan surat terakhir. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja hari ini.


Salam kalender,

MAR


Bogor
2 Januari 2017

RIWAYATKAN KEPADA ANAK-ANAKMU TENTANG MEREKA

oleh : Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc M.H.I.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang kepahlawanan khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, melalui tangannya nabi-nabi palsu diberantas dan kaum murtaddin ditundukkan.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang khalifah Umar bin Khatthab al-Faruq, di zamannya Mesir, Syam dan Persia (Majusi penyembah api) ditaklukkan dan Baitul Maqdis pun dibebaskan.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang kepahlawanan khalifah Utsman bin Affan Dzun Nurain, di zamannya Islam terbentang dari persia sampai Afrika utara… di zamannya negeri2 Transoxania: Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, Tajikistan, Bukhara Dan Samarkand ditaklukkan dan penghuninya di Islamkan.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang Kepahlawanan khalifah Ali Bin Abi Thalib, pemuda Qurays yang tidaklah seorang kafir berhadapan dengannya di medan perang kecuali ditebas dengan pedangnya.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang Kepahlawanan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, di zamannya angkatan laut Islam menyebrangi lautan, dimulai invasi besar-besaran ke ibu kota Bzantium, Konstantinopel (Romawi Timur), di zamannya eropa gemetaran menghadapi Islam.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang Kepahlawanan Khalifah Abdul Malik bin Marwan al-Umawy, di bawah komandonya tentara Islam menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan. Di zamannya mata uang romawi dan persia dihapus dan diganti mata uang Islam.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang khalifah Al-Walid bin Abdul-Malik al-Umawy. Di zamannya Islam mengalami masa kejayaan dan kemakmuran, beliau menunjuk panglima Islam Tariq bin Ziyad menyebrangi selat Gibraltar memasuki Gerbang Eropa, mengekspansi Spanyol, kota Cordoba, Selville dan Toledo pun ditaklukkan.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang khalifah Umar bin Abdul Aziz al-Umawy, di zamannya kaum muslimin hidup dengan kemakmuran kesejahteraan dan keadilan, mengekspansi perancis, menyerang kota Bordeaux, Poitiers di bawah komando panglima Islam al-Ghafiqi rahimahullah.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang khalifah Harun al-Rasyid al-Abbasy.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang sulthan Shalahuddin aal-Ayyubi, yang mengusir kaum salib, merebut kembali baitul maqdis, dan memberantas kaum zindiq dinasti fathimiyyah Ubaidiyyah syiah.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang sultan Dhohir bibirs dan panglima Saifuddin Quthuz, yang berhasil menantang dan memberhentikan gelombang besar invasi bangsa Tatar Mongol.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang khalifah Muhammad al-Fatih al-Utsmani, penakluk konstantinopel Romawi Timur, pembuka Eropa.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang Sultan King Sulaiman al-Qanuni al-Utsmany, yang menaklukkan kawasan balkan, Belgrade, Rhodes, dan sebagian besar Hongaria.

Riwayatkan kepada anak-anakmu tentang Sultan Abdul Hamid al-Utsmany, yang menolak permohonan Inggris dan Eropa menyerahkan tanah palestina ke tangan kaum Yahudi.

Kabarkan…..
Riwayatkan…..
dan tancapkan pada hati anak-anakmu kecintaan kepada mereka

“SINGA-SINGA ISLAM …. MUTIARA ZAMAN” -

Semoga Allah meridhoi dan merahmati mereka.

M U H A S A B A H D I R I

● Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya _*tanpa berkeluh kesah..*_

● Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan _*mensyukuri..*_

● Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, Ternyata ia begitu _*menikmati*_ badai ujian dlm kehidupannya..

● Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, Ternyata ia hanya berbahagia _*“menjadi apa adanya”..*_

● Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, Ternyata ia selalu tunduk pada _*Allah untuk bergantung..*_

● Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku.. Tapi _*rejekiku tahu di mana diriku..*_

● Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya _*menuju kepadaku.*_

● Allah yang Maha pengasih _*menjamin rejekiku*_, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..

● Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai _dari hasil bekerja.._ Karena bekerja adalah _*ibadah*_, sedang _*rejeki itu urusan-Nya..*_

● Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah _*kekeliruan berganda..*_

● Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan _*ditinggal mati..*_

● Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang _*telah dinikmatinya..*_

● Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya.. Ikhtiar itu perbuatan.._*Rejeki itu kejutan..*_

● Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak.._*“Darimana dan digunakan untuk apa” Karena rejeki hanyalah “Hak Pakai”, bukan “Hak Milik”…*

Semoga kita senantiasa menjadi bagian dari orang yg bersyukur…. Aamiin