lautane

Bagaimana jika aku hanya mampu menjadi telaga, bukan lautan yang mampu mengirimkan ombaknya untuk sejenak menyapamu dan memanjakanmu?

Bagaimana jika aku hanya mampu menjadi telaga yang tersembunyi di balik tebing-tebing, bukan air laut yang menyuguhkan senja romantis untukmu?

Tapi sayang, sekalipun aku boleh memilih biar saja aku menjadi telaga.
Tak apa aku tak melihat tawamu atau raut muka berseri-seri milikmu menyaksikan senja atau ombak yang menggulung-gulung indah.
Biar saja aku menjadi telaga. Menjadi tempatmu kembali setelah terik matahari di laut sana membakarmu.
Pulanglah padaku, pada air telagaku kau boleh menghilangkan dahaga sepuasmu.
Pulanglah padaku, di balik tebing-tebing yang mengelilingiku kau boleh menunjukkan raut muka paling menyedihkan. 
Pulanglah padaku, jika kau butuh tempat tenang untuk menyendiri.
Karena, mencintaimu dengan diam aku telah terbiasa.

Made with Instagram

Pernahkah difikiranmu terlintas antara orang tua dan calon belahan jiwa?
Bukankah calon belahan jiwa masih dirahasiakan olehNya, dan itupun belum tentu akan dipertemukan serta dipersatukan di dunia?
Sedangkan orang tua sudahlah tentu nyata adanya?
Yang sewaktu waktu salah satu dari mereka, atau bahkan keduanya bisa meninggalkanmu selamanya?

Tak pernahkah kau memikirkan usia mereka yang semakin renta?
Tak pernahkah kau melihat keriput diwajah serta tumbuhnya uban pada rambut mereka karena dimakan usia?
Tak pernahkah kau membayangkan kapankah hari terakhir mereka hidup didunia?
Sudahkah kau memuliakan mereka?
Memuliakan kedua orang tua yang sudah terlebih memuliakanmu dari kau terlahir ke dunia hingga kau dewasa

Sempatkah terlintas di hatimu untuk sejenak memikirkan betasa besar dan betapa luasnya cinta tulus yang mereka berikan?
Sudahkah kau membayangkan apa yang akan kau berikan pada mereka sebagai balasan?
Walau sebanyak apapun kau berkorban, hingga nyawa kau berikan
Semua itu takkan mampu mengimbangi besar dan luasanya lautan cinta kasih tulus yang mereka berikan

Lalu pernahkah kau berfikir,
Mengapa kau lebih memilih untuk terus memikirkan dia, calon belahan jiwa yang belum tentu kau lihat di dunia
Calon belahan jiwa yang belum kau ketahui sebesar apa cintanya
Calon belahan jiwa yang belum kau lihat pengorbanannya
Pernahkah kau fikirkan itu?
Pernahkah kau bandingkan dengan orang tua yang kalian punya?
Kau takkan hadir di dunia tanpa adanya mereka

Bisakah kau memuliakan mereka selagi mereka ada di dunia?
.
.
Kontribusi oleh @remajabangkit

#duniajilbab
#remajabangkit #berbagisemangat #orangtua #keepsmile #parents #loveparents #inspirasihidup #motivasihidup #muhasabahdiri

Made with Instagram
Manifestasi Kecewa

Kita harus sangat berhati-hati atas rasa kecewa seseorang. Sepertinya tidak apa-apa, padahal ada apa-apa. Seperti yang baik-baik saja, padahal tidak sedang baik. Sepertinya senang-senang saja, padahal terluka. Seperti yang bahagia, padahal menahan nelangsa. Sepertinya tertawa, padahal tersakiti oleh kata-kata. 

Manifestasi kecewa itu menakutkan. Jika ia pandai menutupinya akan nampak seperti gunung di lautan. Kita tidak tahu gunung itu sebesar apa di dasar sana, yang kita tahu hanya puncaknya saja, yang bisa dikatakan kecil jika kita melihatnya dari daratan. Kaki gunung, badan gunung sebesar apa, tidak kita ketahui sebelum kita mencoba menyelam lalu melihatnya sendiri. Barangkali setelah berenang ke dasar, kita akan tercengang mendapati gunung tidak sekecil yang terlihat di atas sana.

Manifestasi kecewa itu menakutkan. Bagaikan dedaunan yang jatuh, jika tidak disapukan akan menggunung dengan sendirinya. Tidak bagaikan daun yang jatuh ke tanah, lambat laun mungkin berbulan atau bertahun dedaunan itu akan menghilang karena diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai. Begitu pula dengan rasa kecewa. Jika sudah bertumpuk tidak terselesaikan, bisa jadi kecewa yang menggunung. Jika tidak termaafkan dan tidak termaklumkan, tidak akan hilang dengan sendirinya.

Kita seringkali tidak menyadari sudah melukai. Kita acapkali menganggap orang lain sudah memaafkan kesalahan-kesalahan kita yang tidak kita sadari. Kita tidak tahu, seringan apa bercanda sedalam itulah orang lain tersakiti. Kita tidak pernah bisa menerka apa yang ada di hati seseorang. Maka, mulai dari hari ini cobalah lebih berhati-hati atas segala tindak, atas segala ucap. Manifestasi kecewa itu benar-benar menakutkan.

Hidup ini tak seindah macam novel. Tak secantik dalam drama. Tak segembira dalam filem. Setenang-tenang air di lautan, ada masanya mesti bergelora juga.

Sebab itu, harus berpegang pada Yang Satu.

Manusia datang dan pergi. Sentiasa meninggalkan atau ditinggalkan. Jatuh bangun kita, hanya Allah yang tahu.

Bilang Cinta Bangsa, Tapi Munafik?

Barangkali, diantara kita adalah pecinta bangsa yang paling munafik. Bilang cinta, tapi dibelakang masih saja menghina. Bilang cinta, tapi setahun sekali saja. 300an hari lain hanya diam tak bergerak sambil menyuarakan sumpah serapah tak berguna. Dasar begitu karena ikut-ikutan saja, orang bilang cinta eh dia ikut bilang cinta. Giliran orang hina dia juga ikut hina. 

Tapi memang setimpal. Orang-orang munafik yang katanya cinta bangsa dan negara takkan pernah mendapat tempat di sejarah republiknya. Munafik itu banyak tapi receh, seperti buih di lautan rupanya. Yang nantinya akan tampak di permukaan justru seperti karang, ikhlas menjadi tameng bagi setiap daratan yang dilindunginya, menjadi pelindung dari terjangan ombak zaman. 

Orang-orang munafik hanya ongkang-ongkang kaki, ikut-ikutan dan hanya menyelinap fleksibel demi keuntungan pribadinya, seperti buih di pantai yang datang dan pergi. Namun, ada juga orang-orang ikhlas yaitu dia yang jadi garda terdepan demi membela bangsanya, rela bersakit-sakit demi menjunjung nama baik negerinya, namun tetap diam dan tenang layaknya setangguh karang di lautan.

Munafikkah kita?

Apa yang sudah kita sumbangkan?

Apa yang kita sumbang, selain hanya suara-suara sumbang?

Oh, tidak. Memang, yang munafik takkan pernah tertuliskan dalam sejarah, tak akan pernah. Setimpal, toh munafik hanya receh. Tuhan pun tahu.

….

Hingga harusnya kita tahu, kalau kita memang menolak untuk disebut munafik, maka dari sekarang mulailah untuk menutup suara-suara sumbang yang didengungkan, lalu mulai bergerak dari hal yang paling kecil untuk memajukan bangsa. Sumbangan sekecil apapun akan berarti, bila semua warganegara sadar akan sumbangsihnya. Tuhan pun tahu, bila kita sudah seoptimal mungkin, ganjaran terbaik akan terlihat di masa depan. Negara ini akan maju, bila rakyatnya juga berpikiran maju.

Mari!

Ayo!

Siapa lagi kalau bukan kita?

…..

Mau jadi munafik terus? Cih!


——–

17 Agustus 2016. Dirgahayu yang ke-71, Indonesiaku!

Aku rindu caramu membuatku tertawa. Semisal rentetan pesan singkat berisikan namaku yang kau kirim puluhan kali. Kau tak akan peduli aku akan marah pun jengkel. Kau akan terus mengirimkannya sampai aku bertanya dengan kesal

“Apaan sih, ganggu banget deh!”

“Siapa suruh gak jawab pesan aku ….”

“Pesan kamu gak jelas, kayak kamu!”

“Tapi sayang, kan?”

Sepuluh menit kemudian, kamu udah depan rumah, dengan senyum bodohmu itu.

Cks, Kamu apa kabar? Masih suka berbagi cerita bersama lautan? Kali ini, siapa yang duduk di sampingmu?

Rasa Syukur Ini Karena Bersamamu

Kalau aku merindukanmu nanti, aku akan mengingat sore saat kita duduk di atas karang, memandang ke lautan. Langit kelabu, tapi hujan sudah berhenti, bahkan gerimis pun sudah tak lagi turun. Pantai Tanjung Tinggi terlihat tenang dan teduh. Batu-batu granit di sekeliling kita nampak begitu pendiam. Kita hanya mendengar deru ombak dan pekik camar yang sesekali.

Ini sore terakhir kita di pulau ini. Dan kita sudah melihat banyak, termasuk melihat bagaimana pulau ini terluka karena anak-anak mudanya kehilangan mimpi.

Sore itu aku menyadari satu hal: betapa kita sudah begitu saling terbiasa. Kesunyianmu tak lagi meresahkanku, dan langkahku yang kadang tak terencana menjadi wajar bagimu.

Sunguh, bagi kita, bersama saja sudah cukup.

Cukup.

Walaupun hanya duduk di bawah pepohonan di tepi pantai, di warung sederhana yang menjual es kelapa muda. Kita hanya sekilas-sekilas saja bercakap. Kau lebih banyak membaca sementara aku berbaring sambil memejamkan mata. Waktu itu hujan belum turun. Matahari tepat berada di atas kepala dan panasnya terasa menyengat. Kadang aku meninggalkanmu, sendiri berjalan ke pantai, sambil menyenandungkan lagu yang tadi kita nyanyikan sepanjang perjalanan.

Walau makan susah/ Walau hidup susah / Walau ‘tuk senyumpun susah /
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan

Apa itu namanya? Ketika bersama seseorang sudah cukup menjadi alasan untuk rasa syukur?

Begitu sederhana, begitu bahagia….

***

Kau selesai membaca bukumu selepas hujan turun. Kita beranjak menuju ke pantai, berjalan di tepiannya, membuat jejak kaki di atas pasir yang sebentar lenyap terhempas ombak. Sore itu, kadang kita berjalan ke arah yang berbeda, menunduk memandang kaki kita sendiri, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi selalu ada waktu kita tertawa bersama, entah menertawakan tiga ekor anjing yang sok sibuk, sampai menebak-nebak bentuk batu karang.

“Coba cari kura-kura berkepala dua!” kataku.

Kau memandang berkeliling. “Mana ada?” sahutmu. Aku hanya menaik-naikkan alis, sampai akhirnya kau menyerah. Aku menunjuk ke karang di sebelah kanan kita. “Ah, iya, memang seperti kura-kura berkepala dua…” katamu.

Di pantai Tanjung Tinggi, waktu berlalu tanpa terasa. Angin bertiup semakin kencang ketika kita akhirnya duduk di atas karang. Mendung tak juga tersibak. Ia berkeras hati menyembunyikan matahari yang sedang beranjak tenggelam. Tapi kita masih saja memandang ke cakrawala. Pantai semakin sunyi dan teduh. Sore itu kau bercerita tentang buku-buku biografi yang kau baca, tentang Hatta, tentang Habibie, tentang Soekarno.

“Yang paling aku tidak habis pikir adalah Soekarno. Bagaimana mungkin dia melamar istri orang, disaat dia belum jadi siapa-siapa. Dia cuma anak kos! Dan dia melamar istri Bapak kosnya, langsung kepada si Bapak kos itu. Gila!”

“Yang lebih gila adalah si Bapak kos itu,” kataku. “Kenapa dia tidak mempertahankan istrinya? Jangan-jangan dia memang sudah tidak menginginkan istrinya itu.”

Melewatkan waktu denganmu selalu seperti ini, potongan-potongan percakapan yang entah datang dari mana. Begitu acak, begitu menyenangkan.

***

Beberapa bulan lagi, mungkin aku akan berada tepi sebuah pantai yang jauh. Ada rindu yang dibawa buih-buih ombak. Waktu itu, aku akan mengingat puisi yang kau bacakan untukku sore itu, ketika matahari masih begitu terik di Pantai Tanjung Tinggi. Puisi dari Ikal untuk Aling, yang kau bacakan dengan menyebut namaku.

“Gadis Musim Semi, lihatlah ke langit. Jauh tinggi di angkasa. Awan-awan putih yang berarak itu. Aku mengirim bunga-bunga krisan itu untukmu…”

Dan di tepi pantai manapun itu, hatiku pasti dipenuhi rasa syukur.

Di tengah lautan asa dan rasa. Ada rindu yang buncah pecah. Badai, kata hatiku. Kupungut lagi kepingan rindu. Kususun lagi. Kulihat sekali lagi, namamu tertulis dari keping rindu. Dimana aku harus berlabuh? Sedang kau tak terlihat. Sedang dia bukan pilihan. Dermaga lain kupilih, sajadah panjang.
Selamat Tinggal

senyuman itu
sudut bibir manismu
mata yang hitam
wajah serupa tenang lautan
hal terbaik yang bisa kulakukan untukmu adalah
jatuh cinta

Saya dan 2045

(jolkona.org)

Saya sangat terinspirasi sekali bila mendengar hal-hal berbau 2045. Apa spesialnya? Tepatnya, pada 2045 nanti Indonesia akan tepat berusia 100 tahun, bila memang panjang umur. Umur yang matang sebagai sebuah bangsa yang berdikari di tengah-tengah percaturan bangsa-bangsa maju lain di dunia. Bagi saya pribadi, 2045 juga menyimpan momentum historis karena andaikan Saya berumur panjang, maka saya juga akan berada di umur yang matang untuk menjadi seseorang yang penting bagi Republik ini nanti. Umur 100 tahun kiranya momentum yang besar Saya dan kalian semua demi untuk membuat negara ini lebih digdaya. 

Bangsa ini tidak hanya besar, tetapi juga luas dan membentang. Ingat, hanya kita bangsa besar yang terpisahkan daratannya oleh lautan. China, Amerika Serikat, India adalah ketiga bangsa besar yang berada di satu daratan, namun Indonesia sebagai bangsa terbesar ke-4 di dunia satu-satunya yang berbentuk kepulauan membentang. Tentu saja, berbalap-balapan untuk menjadi negara maju dengan sejumlah negara diatas tentu penuh tantangan karena negara tersebut diatas itu mudah sekali membuat jejaring dan mobilitas, menghubungkan kota satu dengan yang lain tidak seribet Indonesia yang dikit-dikit dipisahin selat dan laut. Seperti yang kita tahu, infrastruktur terbaik cuma berkutat di Pulau Jawa, sementara 80% luasan ibu pertiwi ini masih pincang infrastrukturnya. Dari infrastruktur saja bisa dilihat berbagai kemajuan dari segi pendidikan, ekonomi, hingga tingginya harapan hidup. Itulah kenapa alasannya hampir 60% orang Indonesia berdesakan hidup di pulau Jawa yang cuma memegang 20% luasan Indonesia, ya karena memang segala-galanya lebih baik dibandingkan pulau lain. Itulah tantangan utamanya, yaitu pemerataan.

Amerika Serikat lahir pada 1776, 200 tahun lebih untuk menancapkan kukunya sebagai negara digdaya. China memang baru sah pada 1967 tapi sudah punya landasan historis yang lama sekali sebagai satu bangsa. Praktis, kita sama satu landasan pacu dengan India yang baru-baru ini juga ngajak balapan untuk jadi negara maju. Itu bila dilihat dari sudut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nya, ngga mudah memang menjadi negara yang isi rakyatnya itu diatas 300 juta orang. Dipikir gampang mendidiknya? Dikira gampang meratakan infrastrukturnya?  Ngga kan? Makanya secara logika, kalau dibandingkan negara maju tapi penduduknya tidak sebanyak Indonesia, tentu agak timpang sebenarnya. Memang, kita tertinggal sekali dengan Korea Selatan, yang umur negaranya tidak berbeda jauh dengan republik ini. Dengan asumsi IPM yang rata, maka sebenarnya satu Pulau Jawa dibandingkan dengan Korea Selatan itu mungkin bisa sama indeks kemajuannya. Apalagi negara maju mikroskopis macam Monaco, rasanya satu pulau Bali saja rasanya sudah cukup menandingi kemajuannya. Tetapi kan tidak begitu, Indonesia ngga cuma pulau Jawa dan Bali, ada ribuan pulau baik skala besar hingga kecil yang patut dimasukkan kedalam perhitungan. Lagi-lagi itulah tantangannya, yaitu pemerataan.

Masih banyak lagi bahasan lain yang menjadi tantangan untuk bangsa ini, saya mungkin mencoba membuat listnya untuk mempermudah 

- Kita adalah bangsa terbesar ke-4, diatas 300 juta orang dan kemungkinan bertambah lebih banyak pada 2045. Menuju 2045, kita akan menerima bonus demografi berupa banyaknya angka hidup usia produktif kerja (17-40 th) yang mana bisa menjadi dua mata pisau, bisa memajukan negara atau malah jadi beban negara. Tentu kita harus jadi bagian yang memajukan negara, ya kan?

- Pemerataan infrastruktur masih terkonsentrasi di pulau Jawa. Inilah kesulitan utamanya terutama bila menerapkan pemerataan. Namun sekarang sudah ada titik pacu untuk meratakan infrastruktur. Pulau-pulau lain juga sedang sama berpacu meningkatkan indeks kemajuannya. Bagi kita nanti, tantangan terbesar adalah membangun di selain Pulau Jawa. Masih banyak lahan perawan untuk kita bangun bersama-sama, bumi pertiwi ini masih terlalu luas untuk hanya puas membangun pulau Jawa yang selama ini jadi sentris Indonesia. Indonesia ngga cuma Jawa, kan?

- Kita juga harus tahu bahwa setiap tantangan juga memiliki potensi. Bahwa selat, laut dan samudera yang kadang menjadi halangan untuk terkoneksi antarpulau justru menyimpan potensi besar. Jalesveva Jayamahe, Di laut kita jaya, itulah motto yang paling tepat mungkin untuk mengungkap potensi yang dikira selama ini kelemahan. Kita adalah negara maritim terkuat, dengan posisi geopolitik terkuat menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, jadi perlintasan penting di dunia. Nenek moyang kita juga besar karena maritim, contohnya Kerajaan Banten, Sriwijaya, Gowa Tallo hingga Majapahit, semuanya kuat di maritim. Nenek moyang kita lebih dulu menaklukkan lautan dan main-main keluar negeri menggunakan kapal, menyeberangi lautan dalam. Tak kurang apalagi karunia Tuhan pada lautan Indonesia, segala macam kekayaan dan sumberdaya yang ada disana. Tugas kitalah untuk nanti mengoptimalkannya, kan? 

Uh, tulisan ini bisa jadi lebih panjang lagi dan belum selesai sampai disini, tentunya. Hanya saja, rasanya masih saja kurang ilmu untuk nanti bersiap-siap memegang tampuk estafet negeri. Berapa umur kalian nanti bila panjang umur sampai 2045? Rasanya sudah cukup matang kan untuk berbuat sesuatu demi kemajuan negara ini?

Saya pribadi bermimpi, suatu saat nanti, untuk siap berada di posisi penting republik, yang bersiap jadi penyambung hajat orang banyak. Menjadi saksi sekaligus pembeda bangsa Indonesia di umurnya yang genap seratus tahun nanti. 2045 nanti, bila diberikan umur oleh Tuhan, Saya tak ingin hanya jadi orang tua yang bisa mengkritik, mengoceh dan mati membusuk tanpa menyumbangkan apa-apa. Saya siap menjadi seperti idola dan role model bangsa yang lebih dulu menginspirasi kita semua.

Ada yang bermimpi sama seperti Saya? Semoga tulisan ini akan selalu mengingatkan, hingga nanti.

Dari sekarang, ayo bersiap!

BERBEDA BUKAN BERARTI KARMA

Melawan sama, jadilah bangga

Meninggi sekuat pohon jati
Tegar hati sebesar gunung tinggi
Sabar diri seperti lautan bumi

Berbeda, bukan berarti karma

Tenanglah dirimu sampai akhir tua
Hiduplah dirimu dengan selalu bahagia
Tenanglah dirimu jadilah berbeda

Jangan ingin mau disamakan

Berani ke kanan saat yang lain ke kiri
Jangan pernah mencoba untuk bunuh diri
Kuatkan diri mari nikmati mekdi atau indomi

Made with Instagram
📗 MENGENAL ALLĀH SEBAGAI PEMBERI REZEKI

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

Di antara nama Allāh 'Azza wa Jalla adalah Ar Razzāq yang artinya Yang Maha Memberi Rezeki.

✓Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan makhluk dan memberikan rezeki kepada mereka.

✓Bahkan Allāh 'Azza wa Jalla telah menulis rezeki makhluk-Nya sebelum Allāh menciptakan mereka.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

قدر الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة

“Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menentukan (telah menulis) takdir bagi makhluk-makhlukNya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan rezeki tersebut dan menyampaikannya kepada makhluk sesuai dengan waktu yang sudah Allāh tentukan sebelumnya.

Dan tidak akan meninggal seseorang sampai dia mendapatkan rezeki yang terakhir, meskipun rezeki tersebut ada di puncak gunung atau bahkan ada di bawah lautan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada suatu binatang yang melata yang ada di permukaan bumi ini melainkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang akan memberikan rezekinya.” (QS Hūd: 6)

Siapa sesembahan selain Allāh yang bisa melakukan yang demikian?

Adakah selain Allāh sesembahan yang bisa memberi makan sekali saja untuk seluruh makhluk yang ada di bumi ini mulai dari manusia, jin, hewan dan juga tumbuhan?

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia, hendaklah kalian mengingat nikmat Allāh atas kalian. Adakah yang mencipta selain Allāh, yang memberikan rizki kepada kalian dari langit maupun dari bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu kenapa kalian dipalingkan? (QS Fāthir: 3)

sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu,

'Abdullāh Roy

Di kota Al Madīnah An Nabawiyyah

✒️Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS (bimbinganislam.com)

____________________________

⬇ Download Audio: https://goo.gl/jGST6U

Karena Perjuangan Belum Usai

Selama ratusan tahun bersimbah darah, ada yang tak pernah menyerah, tak rela tanahnya dijamah oleh bedebah. Tanpa kenal lelah atas bakti terhadap Bumi Pertiwi, akhirnya 17 Agustus 1945 menjadi penanda kemenangan sejati.

71 tahun bukanlah masa yang singkat untuk membangun negara yang beradab. Negeri dengan ribuan pulau yang terikat dalam luasnya bentangan lautan, menjadi tanah air bagi sekumpulan manusia yang menyebut dirinya sebagai rakyat Indonesia.

Dahulu kala, yang disebut pejuang adalah yang memiliki laras panjang di tangan. Atau yang tak gentar kala letusan dan ledakan datang beriringan. Namun sekarang, siapakah yang pantas memegang estafet perjuangan saat ancaman dari luar tak lagi datang?

Indonesia berada dalam genggaman pemuda. Terlebih beberapa tahun yang akan datang, Indonesia akan mendapat bonus demografi atas meledaknya jumlah penduduk dengan usia produktif. Usia terbaik untuk berkarya, memperbaiki rusaknya sebagian penjuru negeri, dan mendatangkan kembali cahaya yang mulai hilang.

Tapi lihatlah, generasi mendatang terancam menjadi manusia tak berguna bila ia tak henti melihat kawan dari layar yang mengumbar lekuk tubuhnya. Pergerakan cepat di dunia maya yang tak seimbang dengan lambat gerak kakinya membuat ia bingung harus berjalan kemana. Ia hanya mengikuti arus tanpa kuasa melawannya. Tanpa kesadaran dan dukungan, ia akan menjadi bumerang yang semakin merusak negara.

Generasi penerus akan semakin cemerlang bila ia melangkah tumbuh bersama Alquran. Ayat-ayat yang akan menuntunnya menjadi insan mulia, cendekia yang sesungguhnya. Karena Rasul yang bersabda, bahwa beliau tak meninggalkan dinar dan dirham sebagai harta, melainkan ilmu yang berguna bagi sesama.

Para penjaga Alquran di dalam hatinya akan menjadi kirana, penerang bagi semesta. Yang mewujudkan asa dan cita bangsa. Yang akalnya menjadi pelita, perangainya bagai keteduhan kala senja.

Tak mudah menumbuhkan cinta kepada anak tentang Alquran saat orang tua bahkan jarang menyentuhnya. Menjadi hal yang sulit bagi lingkungan sebagai tempat ia akan disemai kala sejawatnya justru menyeret pada lubang kerusakan yang dalam. Maka kesadaran perlu ditanam dan dipupuk, sehingga ia teramut.

Dengan kesadaran semakin dewasanya negara kita berkembang, maka terbukalah wawasan dan kembalinya harapan agar negeri bisa kembali berseri. Karena mencintai Alquran berarti menyayangi seluruh alam, menjadikannya kuat dengan penuh rahmat.

Mari bersama mendorong Indonesia untuk semakin maju, saling bekerjasama dalam Bhinneka Tunggal Ika. Alquran akan menjadi sahabatmu, yang akan memuliakan kini dan nanti. Entah saat kau menang, atau kalah dalam berjuang.

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus: 57).

17 Agustus 2016
Posted by Ummu Ziad for @sahabathaq

Originally posted by onemillionobrienfans

Dengki, penyakit hati yang tersembunyi. Terkadang tidak diketahui, terkadang diketahui. Kenapalah harus mendengki akan teman sendiri sedangkan kau tahu betapa penuhnya onak duri pada jalan yang telah dia dilalui? Kenapalah harus mendengki pabila usaha yang mereka lakukan tidak seperti yang kau kerjakan? Kau sangka kau patut menerima lebih daripada dia, bukan? Kau rasa kau lebih hebat daripada dia, bukan? Sudah sudahlah. Rezeki itu datangnya dari Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Mengetahui. Yang Maha Mengetahui lebih tahu apa yang bermain dalam isi hati. Kau belum pernah mengenal cahaya. Kerana hatimu gelap gelita. Gosoklah hatimu yang kotor, berdaki-daki. Sungguh, bila sudah bersih, kau akan menangis tak henti-henti kerana bila kau sudah melihat cahaya, kau akan lebih kenal diri, lebih kenal Tuhan Maha Pemberi…kau akan tahu betapa pemurahnya Sang Pencipta dan betapa kerdil dan hinanya sang diri. Sesungguhnya tenggelam dalam lautan tangisan pilu adalah lebih baik daripada tenggelam dalam lautan api yang membara menyala. #peringatan

Made with Instagram
Sajak Perpisahan

Ku lihat mentari mulai condong ke barat
Beserta bayangmu yang perlahan tak terlihat
Aromamu menguar bersama angin darat
Mengantarkan kepergianmu ke seberang lautan
Menjauh dari jangkauan
Menghilang dari pandangan
Bersatu dengan jarak

Pada malam ku lihat gemintang
Berbentuk senyuman hantarkan kepergian
Pada lautan ku rasa gigil
Gemetar rasa ingat perpisahan
Pada diri kurasai sepi
Satu wajah perlahan memudar

Tidak ada kamu esok hari
Adakah kamu kemudian?
Yang ku tahu jarak semakin membentang
Sedang temu tak lagi terbayang
Rindukah kau pada pertemuan?

Tak ada selamat jalan untukmu
Tak ada selamat datang untukmu
Sampai jumpa di persimpangan


-kereta | 190816-


NB: kutunggu kepulanganmu dari Newcastle

“Memang tak semua yang kita ingat akan kita kenang, Key, tetapi semua yang kita kenang terlanjur tersimpan baik dalam ingatan. ”

(JODOH, halaman 122)


“Orang yang meredakan segala keinginannya, bagai air yang reda di dalam lautan, meskipun diisi olehnya namun tak pernah meluap - orang yang demikian inilah yang menemukan kedamaian, bukab orang yang menuruti keinginan hatinya. ”

(KEI, halaman 37)

*ps: Selasa bersama Buku

#nohastag #banyakbanyak

Made with Instagram