lautane

Jika punya masalah baru
Bersyukur dulu
Itu tandanya masalah yang lalu
Sudah habis waktu
Berarti sudah lulus dilevel kemarin
Sekarang tarik nafas sambil banyak renungan
Renungan dosa, barangkali dari sana
Renungan ujian, barangkali keistiqomahan sedang diuji.

Sebelum mengeluh lagi
Masalah yang dulu sudah bisa dilewati
Berarti yang baru akan segera mendapat titik temu
Selamat berjuang
Semoga diberikan keikhlasan yang berlimah
Serta kesabaran seluas lautan
Yang tak habis diminum ikan ikan.

Nanti.

Kita tak tahu berapa lama kita hidup di dunia.
Tuhan tak pula nyuruh kita melulu diam dipojokan rumah, berdoa padaNya.
Teringat pesan kawan, yang mengingatkan bahwa masih banyak keindahan di bawah lautan.
Terngiang cerita kawan, indahnya bumi dari dataran tinggi, bahkan ketika tertutup awan.
Masih banyak keinginan mengunjungi negara seberang.
Masih banyak angan-angan menjelajahi bagian dunia bak petualang.

Ternyata kita (errr aku sih) yang membatasi diri sendiri.
Alasan keuangan.
Perhitungan waktu luang.
Izin dari orang-orang tersayang.

Alasan terlalu jauh, terlalu tinggi, terlalu bahaya, ketakutan lainnya yang dimulai dengan kata “terlalu” lainnya.

Ketika yang lain sibuk mengumpulkan memori bersama para kawan, bolehlah aku diizinkan untuk merasakannya bersama orang tersayang nanti ya, Tuhan?

Bukan sekarang.
Nanti saja kalau sudah ada teman halal.
Jangan pas sendiri.
Nanti saja kalau sudah ada sang pendamping hati.

Berdua saja.
Menikmati indahnya bawah lautan.
Mengagumi bumi dari ketinggian.
Hingga yang terlalu jauh, menjadi dekat pada kenangan.
Hingga yang dikira terlalu tinggi, ternyata tak seberapa ketika kami sampai pada puncaknya.
Hingga yang terlalu bahaya pun terasa aman ketika bersamanya.

Boleh ya, Tuhan?
Ya?

Belajarlah Mencintai Layaknya Seorang Nelayan Lakukan

Bila diibaratkan lautan luas, begitulah kiranya perjuangan untuk mencintai. Ada kalanya arus dan ombak sedang pasang, ada saatnya pun arus dan ombak benar-benar tenang.

Maka, belajarlah dari seorang nelayan tentang kewajibannya mengarungi lautan. Seperti itu pulalah laiknya kita belajar mencintai seseorang. 

Nelayan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti ketika laut telah diarungi, kapan waktunya Ia akan kembali dan seberapa banyak tangkapan yang akan Ia bawa pulang. Hanya berbekal sedikit peralatan, lalu bagian terbesarnya Ia pasrahkan pada takdir Tuhan. 

Begitupun kita pada awalnya. Kita tak tahu siapa yang akan kita cintai dan perjuangkan itu. Kita hanya dibekali sedikit keberanian, lalu kisah akhirnya baik itu bahagia atau kecewa mau tak mau kita serahkan pada kuasaNya.

Nelayan akan selalu maklum akan resiko yang ia hadapi nanti. Bagaimanapun, tak ada pekerjaan yang gampang. Bilapun ombak tenang, tak ada yang akan memberitahunya kalau angin kencang akan datang, atau justru perahunya tersangkut di karang. Bila telah maju, maka pantang berpulang di setengah jalan. 

Begitupun mestinya keberanian kita dalam menjemput cinta. Bagaimanapun, takkan ada perasaan cinta yang datang dengan cuma-cuma. Kita tak bisa terus menerus berdiam kala semua yang didapatkan haruslah diusahakan. Karenanya, bila telah ada segenggam niat, maka pantanglah untuk berbalik badan.

Namun, suatu saat juga nelayan harus tahu kalau lautan sedang tak nyaman. Angin dan gemintang suatu kali memberi kabar kalau nelayan tak perlu datang. Tugasnya hanyalah menunggu dan bersabar, bagaimanapun segalanya akan perlu perhitungan. Akan ada hari baik setelah hari buruk itu berlalu, bukan?

Begitupun bila suatu kali kita perlu tahu dan sadar untuk tak perlu memaksakan diri. Memang ada waktunya, kita tak perlu mencari siapa-siapa. Maka bersabarlah, tunggulah, karena bagaimanapun hati seseorang tak sembarang bisa dipikat, pun akhirnya tak jarang sulit pula untuk diikat. Akan ada saat yang terbaik setelah sekian lama menunggu, bukan?

Oleh karenanya, belajarlah mencintai sebagaimana nelayan melakukan tugasnya.

Kurang Sibuk

“Tau gak yang bikin cewek cewek tuh pada baper apa?” tanya Bu Liha, seorang Dosen FK yang ku temui beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, berderai-derai ku jelaskan bagaimana sibuknya para perempuan remaja dengan hal percintaan ini.

Galau nikah lah, ta'aruf gadungan lah, adik-kakak, hubungan tanpa status, galau mau mutusin pacar, kagum diam-diam, dan serentetan masalah hati lainnya.

Pokoknya masalah hidup jadi serasa percintaan doang. Duh, ribet deh bu..

“Anak-anak muda yang sering galau gitu tuh kurang sibuk,” jawab bu Liha singkat.

Kurang sibuk?

“Iya, dulu tuh waktu saya muda sibuuuk banget.. Jadi gak ada waktu buat mikirin kek gituan”

Singkat, tapi mengena.

Yaampun, Bu Liha benar sekali. Jawaban ini tercermin dalam pribadinya. Bu Liha menamatkan gelar doktornya di Jepang. Suaminya pun juga punya gelar doktor di Jepang dalam bidang IT. Berderai derai daftar penelitian yang sudah mereka lakukan. Keren lah!

Mereka kurang sibuk hingga banyak sekali waktu luang untuk nonton drama korea. Kurang sibuk hingga banyak sekali waktu untuk kongkow ngomongin masalah hati.

Terlalu banyak waktu luang. Itu ancaman yang nyata!

Percayalah, perempuan keren di luar sana tidak menjadikan masalah percintaan sebagai masalah utamanya. Perempuan keren tau benar cara memanfaatkan waktu menunggunya dengan baik.

Sibuk lah kawan! Ikut organisasi, les ini itu, buat proyek bermanfaat, hafalkan Quran, cobain wirausaha, baca buku, dan masih banyak segudang aktivitas yang bisa buat kita jadi keren.

“Sibuk lah hingga saat kamu tidur lebih dari enam jam sehari, rasanya seperti membuang sekoper berlian ke lautan!” ujar Bu Liha.

Lalu nanti akan kau sadari. Yaampun, ternyata kewajibanku lebih banyak dari waktu yang aku miliki.

Dari postingan Line @ Farah Qoonita

Masihkah Allah Bersama Kita?

Innallaaha ma’anaa…

Sesungguhnya Allah bersama kita…

Kalimat yang diucapkan Rasulullah tersebut diabadikan di dalam QS. At-Taubah: 40. Pertanyaannya, dimanakah beliau shalallaahu ‘alayhi wasallam ketika mengucapkan kalimat tersebut? Dalam keadaan yang bagaimanakah? Ternyata kalimat tersebut beliau ucapkan dalam keadaan nyawa terancam di dalam gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dua orang mulia tersebut berada di tengah kepungan kafir Quraisy.

Sekarang, mari kita bandingkan apa yang disampaikan Rasulullah di peristiwa yang menjadi puncak keberhasilan perjuangan beliau, yaitu Fathu Mekkah. Apa yang beliau seru di tengah lautan manusia yang mengelilingi beliau? Ternyata bukan kalimat sebagaimana potongan ayat di atas, melainkan kalimat tasbih dan istighfar, sebagaimana yang diabadikan di dalam QS. An-Nashr.

Fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirhu…

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, dan mohonlah ampunan kepada-Nya…

Pertanyaannya, mengapa ketika dalam kondisi terjepit Rasulullah justru menyampaikan kebersamaan Allah, sedangkan pada saat mendapatkan kemenangan, beliau shalallaahu ‘alayhi wasallam justru bertasbih dan memohon ampun, seolah-olah khawatir jika Allah meninggalkannya?

Sungguh, hal ini menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita bahwa…

Semakin tinggi hasil yang kita capai, semakin luas target yang kita jangkau dan semakin banyak yang membersamai dan mendukung kita, seharusnya membuat kita semakin sensitif untuk bertanya,

“Apakah Allah masih bersama kita?“

Sebab dengan segala pencapaian yang kita dapatkan, boleh jadi hal itu justru mengikis rasa butuh kita akan pertolongan Allah. Padahal, satu-satunya sandaran terbaik di saat kita sedang dalam kondisi terjepit dan lemah tak berdaya hanyalah Allah. Bahkan dalam kondisi apapun, kita selalu membutuhkan petunjuk dan pertolongan-Nya.

والله اعلم

Disadur dari artikel di FP Naungan Qur’an

Ketika kamu bersujud, resapi…

Engkau sedang menunduk dalam tempat terdekat dengan Tuhan-mu; ketika segunung dosa luntur bersama puji-pujian dan tasbihmu.

Engkau terpilih untuk bersujud bersama 1 miliar Umat Islam, ketika 6 miliar yang lain gundah kemana harus sampaikan gundah mereka; jenuh tak tahu kemana harus mengadu. Akhirnya mereka sujud pada batu dan kayu, meronta di hadap lautan dan awan mendung. Mengira bahwa sesembahan itu akan membantu.

Jika Allah mau, engkau bisa saja dijadikan-Nya penyembah sungai dan danau, atau penyujud pada rumah berhantu dan kastil kuno. Namun Allah memilihmu tuk bersujud pada-Nya, sebab kasih sayang-Nya dan taufiq dari-Nya.

Resapi sujudmu, karena bisajadi ia yang terakhir…

—  @edgarhamas
Sampai Padamu

Seperti cahaya yang masih saja dapat ditemui di ujung mataku, pagi tanpa cahaya ini aku selalu ingin menghabiskannya dengan memasukanmu dalam lamunanku, hingga seolah aku dapat berbicara berdua denganmu. Dan aku semakin jelas melihatmu, bagai cahaya pertama, yang kemudian bergeser pada beningnya embun yang menggantung manja.

Seperti matahari yang menusuk kulit tepat di atas tempatku berdiri, siang dengan peluh ini tidak akan pernah menghentikan suara-suara yang ingin aku sampaikan untukmu. Hingga aku tidak pernah hentinya menghentikan suara ketukan kakiku, hanya agar sisa-sisa suaramu tidak menciptakan rindu yang menghantam dadaku keras-keras. Dan sampai pada waktu ini, ingatanku selalu tertuju padamu.

Seperti ilalang yang beradu dengan angin menuju senja ini, tidak ada yang ingin kulakukan selain mengingatmu ke dalam tulisanku. Dan akan selalu membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintamu, hingga mungkin kamu tidak akan mempercayainya. Maka, jika nantinya cinta masih menjadi sebuah pertanyaan besar untukmu, maka jawaban itu sederhana saat aku yang sanggup merawat cintamu.

Seperti hujan yang beradu dengan suara adzan, merdunya tidak akan kalah dengan percikan tampias rumah. Rinduku tak pernah ada tandingannya, tidak apa jika kamu mau membandingkannya dengan yang lain di luar sana. Toh, itu hanya akan semakin membuktikan bahwa cintaku yang paling tepat untukmu. Maka, kupeluk saja tiap air yang nantinya dijatuhkan oleh matamu. Dan biarkan aku mendekap seluruh resah dalam do'amu yang acapkali malu-malu untuk diadukan.

Seperti sisa-sisa hujan yang menciptakan irama tepat di atas langit-langitku, malam adalah waktu terakhir aku bisa memikirkanmu. Sisanya, aku ingin bersenandung lirih, dan menangis hingga lelah lalu tertidur. Pada jeda mimpi, aku selalu menciptakanmu di sana. Sebab, rinduku tidak pernah habis padamu, hingga aku ingin selamanya berada di dekatmu.

Kiranya suara kita dapat tersampaikan hingga ke ujung dunia tanpa ada sedikit yang menghilang, mungkin saja do'a-do'a yang kutitahkan telah sampai padamu. Kiranya ketulusan itu dapat kutuliskan padamu, maka tinta seisi lautan tidak akan pernah cukup untuk kuceritakan padamu. Kiranya hati bisa di dengar, yang tidak tahu tempat berbicara dan mengadu, mungkin akan bising juga telingamu olehku.

Tidak pernah habis kubisikkan pada kesempatan tiap malamnya saat namamu bergema sepanjang lorong malam sampai tak bisa kupalingkan dari ingatanku. Allah begitu baik, tidak habisnya kesabaranku ditenun, termasuk dititipkanku seseorang yang begitu tabah sepertimu.

Kini hanya tinggal tersisa keyakinan dan do'a-do'aku yang tak pernah patah pada lima waktuku. Maka aku selalu mengucapkannya penuh dengan rasa khawatir. Agar kemanapun nantinya langkahmu berlari kencang, biarkan kaki-kaki mungil itu berbalik padaku.

Apakah sampai padamu?

Pada sisa-sisa waktuku, ingin kuhabiskan untuk membuktikan segalanya untukmu. Sebab, ia sebegitu hangat sampai ke hatiku, begitu lembut menyentuh rasaku. Sampai-sampai hatiku sedetikpun tak ingin berpaling dari indahnya cintamu.

Apakah sampai padamu?

Maka, aku akan sangat bersyukur, sebab orang itu adalah kamu.

Sangat beryukur.

Menjemput Kolokium, 28 Februari 2017 | Seto Wibowo

Perempuan bukanlah pelabuhan. Yang disinggahi sebentar, lalu ditinggal berlayar. Perempuan adalah lautan, tempat pelaut hebat dilahirkan dan tempat sejati mengarungi ujian
NICE HOMEWORK #1 “ADAB MENUNTUT ILMU”

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap orang yang bisa dipelajari dimana saja, tidak mengenal batas waktu dan tempat dan bisa dari siapa saja. Luasnya ilmu Allah itu, seluas lautan. Hingga apa yang dipelajari pun bagaikan setetes air dijari tangan yang dicelupkan di samudera luas. Maka, agenda menuntut ilmu itu harus menjadi prioritas setiap waktu. Agar  bisa menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi pribadi yang berdaya guna, tangguh dan tidak hanya menjadi buih-buih di lautan.

Ada banyak ilmu yang bisa dipilih untuk menjadi fokus diri, ada ilmu dunia dan ilmu akhirat. Namun yang saya pahami, walaupun ilmu dunia yang menjadi fokus diri, tetap bisa bermanfaat untuk kehidupan akhirat juga. Asalkan, ketika menutut ilmu itu diniatkan hanya untuk mencari ridha Allah, lalu mengamalkannya karena Allah lagi. Kemudian senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dan berusaha menebarkan manfaat seluas-luasnya. Semoga apapun ilmu yang dipelajari dan diniatkan untuk mencari ridha Allah semata itu, bisa mendatangkan cintanya Allah pada diri ini hingga ke akhirat nanti.

Dalam hidup ini, saya ingin mempelajari lebih dalam tentang “ilmu menulis” di universitas kehidupan ini. Sebab, menulis itu bisa mengantarkan pada ilmu-ilmu yang lainnya, baik dunia dan akhirat. Lewat kegiatan menulis, saya berharap cintanya Allah dapat bertambah dijalan tersebut. Untuk menjadi seorang penulis, ada banyak sekali dialog yang akan tercipta, dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan bahkan benda mati. Lalu dari dialog itu, diolah lewat hati dan logika, agar mampu menghasilkan sebuah tulisan yang bisa menjadi nadi-nadi di pembuluh darah peradaban. Sensitivitas hati ini harus dilatih setiap hari. Mata hati ini harus digerakkan terus untuk mengumpulkan hikmah-hikmah yang Allah sampaikan pada diri. Semoga tulisan-tulisan yang ada nantinya, mampu menggerakkan semesta ke arah yang lebih baik. Menjadi pemicu detak jantung peradaban para generasi yang mencintai Rabb-Nya.

Adapun stategi yang saya lakukan dalam menuntut ilmu, yaitu:

1.  “Meluruskan niat setiap waktu”, menuntut ilmu hanya untuk mencari ridha Allah.

2. “All out”, mengusahakan yang terbaik dan tidak setengah-setengah dalam menuntut ilmu.

3. “Open minded”, rela belajar apa saja asalkan bisa bermanfaat untuk umat dan menggarahkan pada perubahan yang baik.

4. “Proaktif dan kritis”, rela mencari dan menemui sumber-sumber ilmu dengan semangat yang tak terbatas dan memfilter ilmu tersebut sebelum ditanamkan didalam hati.

5. “Selalu berdoa”, memohon pada Allah semoga setiap langkah digerakan menuju pada hal-hal yang baik, dan dilindungi dari ilmu yang salah, serta dilindungi dari penyakit hati yang mungkin datang ketika Allah menitipi ilmu-Nya pada diri.

Selain itu, untuk menambah keberkahan ilmu yang akan dipelajari, maka saya memilih untuk komitmen dalam menjalan adab-adab dalam menuntut ilmu itu yang diajarkan dalam matrikulasi institut ibu profesional ini. Baik adab menuntut ilmu pada diri sendiri: iklash dan mau membersihkan hati dari hal-hal yang buruk, selalu bergegas, menjadi gelas kosong yang tak bocor, menuntaskan ilmu yang dipelajari, dan bersungguh-sungguh. Adab terhadap guru: menghargai guru, mendengarkan ilmu yang disampaikan dengan baik, meminta keridhaan guru apabila ingin menyebarluaskan ilmu yang beliau sampaikan. Adab terhadap sumber ilmu: tidak sembarangan meletakkan sumber ilmu, misalnya Al-qur’an dan buku-buku, tidak plagiat, asal copy-paste, dan tidak mudah percaya dengan menerapkan sikap “sceptical thinking” dalam menerima informasi khususnya didunia online.

Semoga diri ini masih diberi waktu untuk terus menuntut ilmu, diberi kesempatan untuk menjadi pembelajar yang baik dan tak kenal lelah, dan semoga diri ini bisa menjadi pembelajar yang dipenuhi cinta dan ridha-Nya.

Bandung, 20 Mei 2017

Photo : Pinterest

"Lautan Biru"

Alhamdulillah.

Explore IG udah mulai “biru” semua ya. Wkwkwk
Sudah mulai banyak yang beli dan baca bukunya Mbak No.

Alhamdulillah.

Dengan segala perjuangan yang Mbak No tempuh selama proses menulis, buku biru itu akhirnya sampai juga ke tangan para pembaca.

Semoga bermanfaat, bagi pembaca maupun penulisnya.
Semoga pesan yang Mbak No selipkan diantara kata-katanya, sampai kepada kalian.
Semoga harapan yang Mbak No tanam ditiap lembar yang kalian bolak balik itu, sampai kepada tiap pemiliknya.
Semoga niat baik yang Mbak No beri, ditanggap baik pula.

Kepada kalian, terimakasih.
Terimakasih banyak, banyak sekali!

Tidak Pernah Tahu

Kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan membawa kita ke surga. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian perbuatan yang baru kuanggap baik, masih belum tentu Penghuni Langit menganggapnya layak untuk dihitung.

Kita tidak pernah tahu, hati mana yang pernah tersakiti akibat ulah kita. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian ulahku yang sering membuat banyak hati terluka, dari lidahku yang begitu tajam, hingga tingkahku yang merusak.

Kita tidak pernah tahu, sahabat mana yang akan memanggil dan menuntun kita ke surga. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian pertemanan yang kuciptakan sendiri, hingga pergaulanku yang tidak berbatas.

Kita juga tidak pernah tahu, dosa kita yang mana yang hingga nanti kita dipanggil masih belum diampuni. Adakah cara untuk mengetahuinya? Dari sekian dosa-dosaku, yang kecil hingga yang besar, yang kulakukan sendiri, bahkan hingga membuat orang sekitarku menangis karenanya.

Aku masih mencari tahu.

Andai cara itu benar-benar ada, aku akan tetap mencarinya, meski harus membelah seisi lautan, meski harus meraba seisi langit, dan meski aku harus menggali isi bumi paling dalam.

Aku masih mencari.

Adakah cara untuk mengetahuinya?

Bogor, 6 Januari 2017 | Seto Wibowo

Aku & Bapa Mertuaku

Ini Blog Cerita Bogel - Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Lucah Berahi Panas dewasa

Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Cerita Lucah Berahi Cerita Panas Cerita dewasa Aksi lucah ghairah Aksi lucah budak sekolah Berahi lucah Video Lucah Cerita lucah melayu Blog lucah Seri lucah Kisah lucah Cerita kisah lucah cikgu

Ini Blog Cerita Lucah|
Ini Blog Cerita Lucah 2
Ini Blog Cerita Nafsu|
Ini Blog Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 
Ini Blog Cerita Awek 2016|
Ini Blog Cerita Stim 2016|
Ini Blog Cerita Sangap|
Ini Blog Cerita Sex|
Ini Blog Cerita Panas|
Ini Blog Cerita Sundal |
Ini Blog Cerita Awek|
Ini Blog My Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 2016|
Ini Blog Cerita Hijab|

Aku Dan Bapa Mertuaku

“Untung you Kiah. Minggu lepas kakak perhatikan tiga hari Aznam tak ada di rumah, bapa mertua you sanggup tinggalkan rumahnya untuk datang temankan you di sini. I nampak you ceria betul bila Pak Man tu ada di sini,” Kak Rahmah menegur aku ketika sama-sama menyiram pokok bunga di perkarangan rumah masing-masing.Jam masa itu 6.30 petang. Sebagai jiran sebelah rumah, jalinan hubungan tetangga aku dan Kak Rahmah amat baik sekali. Aznam, suamiku. Dan Abang Rosli, suami Kak Rahmah, juga berkawan rapat, selalu mereka keluar memancing bersama. Sekali-sekala pergi berjemaah di masjid bersama. Kak Rahmah dan Abang Rosli mempunyai dua orang anak perempuan. Kedua-duanya masih menuntut di sekolah berasrama penuh, seorang Tingkatan 3 di utara manakala seorang lagi Tingkatan 1 di selatan Semenanjung Malaysia. Mereka kepinginkan anak lelaki tetapi tiada rezeki setakat ini.Aku tahu Kak Rahmah, seperti aku juga, selalu tinggal keseorangan kerana suaminya kerap tiada di rumah, mungkin kena bertugas outstation macam suamiku juga agaknya. Aku tak tahu apa sebenarnya kerja suaminya. Aku segan nak tanya mereka, takut-takut mereka bilang aku ini busy body. Yang aku dengar dia bekerja di sebuah syarikat swasta ‘import-export’. Aku tak tahu berapa umur Kak Rahmah, tetapi rasanya tidak melebihi 35 tahun.

Dia seorang yang pandai jaga badan. Walaupun sudah berumur dan badannya sudah agak berisi, dia selalu kelihatan bergaya, cantik, kemas dan masih seksi. Rendah sedikit daripada aku.Warna kulitnya hampir-hampir sama denganku. Saiz ponggong dan buah dadanya.. Agak besar juga, tetapi tak boleh lawan aku punya daa! “Tak tahulah Kak. Sebenarnya, I tak ajak bapak tu datang temankan I bila Aznam tiada di rumah. Dia saja suka nak datang temankan I,” jawabku dengan tenang dan selamba saja.”Agaknya dia rasa bosan dan kesunyian duduk seorang diri di rumahnya sejak emak Aznam meninggal.””Tentulah dia kesunyian tinggal seorang di rumah. Kakak nampak Pak Man tu masih kuat, sihat dan cergas, elok kalau dia kahwin lagi agar ada orang boleh menemani dan menjaga keperluannya,” kata Kak Rahmah sambil ketawa melebar.”Betul kata kakak tu. Esok mungkin bapak I tu datang lagi ke sini. Jam 6.00 petang esok Aznam akan bertolak ke Kota Baru. Empat hari dia kat sana nanti.””Tak apalah Kiah… you dah ada tukang teman yang boleh diharapkan.. Aznam pergi outstation lama pun you tak perlu risau, Kiah.”Melalui ketawa dan nada suaranya aku nampak Kak Rahmah seolah-olah macam mengusik-ngusik aku.”Alah… dia tak datang temankan I pun tak apa Kak, I tak risau. Kalau ada apa-apa hal pun, kakak kan ada sebelah rumah..

Saya boleh minta tolong kakak, ya tak?”Aku menyampuk dengan tujuan menunjukkan betapa pentingnya dia kepada aku sebagai jiran yang baik, terdekat dan boleh diharapkan. Kak Rahmah tersenyum lebar mendapat kata-kata pujian daripada aku. Suka benar dia mengetahui yang dia mampu menjadi orang yang boleh diharapkan oleh jirannya.”I teringin benar hendak join you all duduk-duduk makan, minum, tengok TV dan berborak-borak dengan you dan bapa mertua you tu bila dia berada di rumah you, tapi I seganlah.. Dia tu baik dan peramah orangnya, selalu menegur sapa bila nampak I kat halaman rumah ni.”Tergamam juga aku sebentar mendengar keluhan dan rayuan Kak Rahmah.”Dia ni minat nak bersembang dengan aku ke atau bapa mertua ku?” Terbit satu persoalan dalam hati kecilku.”Apa nak disegankan Kak… datanglah.. Kakak duduk seorang kat rumah pun bukan buat apa-apa…” tanpa was-was dan syak wasangka aku mempersilakannya berbuat seperti yang dihajatkannya. Tidak berdaya aku cuba menyekat keinginannya.”Terima kasihlah Kiah, tengoklah nanti.. Oh ya, kalau bapa mertua you sudilah, esok malam apa kata kita bertiga pergi dinner somewhere, ambil angin dan tukar-tukar selera..” balas Kak Rahmah dengan suatu senyuman yang manis dan rasa keseronokan.”Takkanlah dia tak mahu kalau kita ajak. Dia pun nampaknya suka pada kakak,” semacam giliran aku pula mengusiknya.”Tapi, esok malam Abang Rosli tak balik lagi ke?” aku minta kepastian daripadanya.”Tiga hari lagi baru dia balik, itu pun belum tentu,” jelas Kak Rahmah sambil menyudahkan siraman pokok bunganya.”Kalau gitu, no problem lah Kak,” balas ku sambil menyudahkan juga siraman ke atas pokok bungaku.Selepas itu kami dengan girangnya melangkah masuk ke dalam rumah masing-masing.

Sebelum tidur malam itu, fikiranku mengacau-ngacau. Aku langsung tidak teringatkan Aznam yang tidak berada di sisiku. Aku sudah teringat-ingatkan bapa mertuaku yang akan datang esok petang. Aku terbayang-bayangkan segala babak dan peristiwa aku dengan bapa mertuaku pada minggu lalu. Aduh.. Seronoknya! Dalam sedikit waktu saja, nafsuku sudah naik teransang, lantas aku mulalah ‘bermain-main’ dengan nonok dan buah dadaku. Aku mengenang-ngenangkan kembali betapa enaknya aku mengangkang dan menonggengkan pukiku agar nonokku yang tembam dan gatal dapat dibedal oleh butuh bapa mertuaku yang besar, keras dan panjang itu. Aku membayangkan semula betapa seronoknya aku menonggeng dan mengangkang agar nonok ku dapat dijilat sempurna oleh bapa mertuaku semahu-mahu dan sepuas-puasnya.Aku terpandang-pandang bagaimana kemasnya bapa mertuaku meramas-ramas dan menghisap-hisap tetekku yang besar. Sekonyong-konyong, tidak semena-mena aku sempat terbayangkan bapa mertuaku sedang mengepam nonok Kak Rahmah dengan hebat sekali. Aku terbayangkan Kak Rahmah sedang mengelitik, melenguh kesedapan, mengangkat dan mengangkangkan puki dan nonoknya selebar-lebarnya untuk dipam oleh bapa mertuaku. Aku terbayangkan betapa enaknya bapa mertuaku meramas-ramas dan menyonyot-nyonyot buah dada Kak Rahmah yang besar juga itu. Oh… a dirty imagination! A dirty mind! Bagaimana aku tiba-tiba boleh ada ‘instinct’ membayangkan ‘perilaku’ Kak Rahmah dengan bapa mertuaku aku tidak tahu.

Aku terlelap tidur dalam keadaan nonokku sudah lekit berair..”Bapak, lepas Maghrib nanti Kak Rahmah kat sebelah rumah tu ajak kita pergi dinner kat luar, bapak nak pergi tak?”Aku bertanya bapa mertuaku sambil meletakkan secawan teh halia, dua keping roti bakar dan dua biji pisang ambun di hadapannya. Aku tahu jawapan daripada bapa mertuaku tentu positif kerana dia pernah memuji kecantikan dan keseksian Kak Rahmah pada ku. Dia pernah memberitahu aku yang dia simpati kepada Kak Rahmah yang selalu ditinggal keseorangan. Kemungkinan besar dia juga ada menaruh hati kepada Kak Rahmah tu. Kemungkinan besar dia juga dah lama geramkan buah dada dan nonok Kak Rahmah tu.. Jantan biang! Jantan gatal! Bapa mertuaku baru saja sampai ke rumahku kira-kira setengah jam. Dia tak sempat menemui anaknya, Aznam, yang telah bertolak ke Kota Baru lebih awal daripada yang dijangkakan.Bagaimanapun, Aznam telah tahu yang bapanya akan datang untuk menemani aku lagi. Dia tidak risaukan keselamatan aku. Dia langsung tidak mengesyakki sesuatu telah berlaku ke atas diriku. Dia tidak tahu nonok bininya telah dikerjakan sepuas-puasnya oleh ‘monster’ bapanya.

Dia tidak sedar tetek besar bininya telah diramas dan dihisap semahu-mahunya oleh bapanya yang terror. Kasihan… dia tidak tahu pagar yang diharapkan telah memakan padinya. Dia tidak tahu nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak sedar yang nonok dan seluruh jasad bininya bukan lagi milik syarikat peseorangan (sole-proprietorship) nya. Dia tak tahu saham syarikat bininya telah jadi milik perkongsian (partnership). Tak betul-betul jaga, akan jadi milik syarikat sendirian berhad atau lebih maju lagi jadi syarikat berhad.Sekembalinya dari Penang minggu lalu, aku telah beri Aznam ‘makan’ secukup-cukupnya.. Cukup pada dialah! Walaupun aku telah penat ‘kerja keras’ bersama bapa mertuaku, bahkan lima jam sebelum dia tiba ke rumah masih lagi bertungkus lumus mengharungi samudera yang bergelombang dalam bilik tidur tetamu, aku cepat-cepat hidangkan ‘jamuan’ sewajarnya kepadanya. Aku tunjukkan pada dia yang aku sungguh-sungguh kelaparan dan kehausan semasa dia tiada di rumah. Aku nak buktikan kepadanya yang aku amat ternanti-nantikan dia punya. Lakonanku sungguh sepontan dan berkesan sekali. Ibarat kata, setidak-tidaknya mampu mendapat ‘nomination’ untuk menjadi pelakon utama wanita terbaik.Namun layanan dan response yang aku perolehi daripadanya seperti biasa juga. Beromen sekejap, cium sini sikit sana sikit, ramas sana sikit sini sikit, pam nonokku lebih kurang 5-6 kali air maninya sudah terpancut. Nasib baik meletup kat dalam rahimku. Dia letih dan penat katanya. Betullah tu! Baru balik dari jauhlah katakan..

Dia tak tahu aku juga penat, baru balik daripada berlayar, lebih jauh daripadanya..! Dia tak tahu. Aku harap dia selama-lamanya tidak akan tahu.”Boleh juga,” bapa mertuaku dengan senyuman melebar menyatakan kesanggupannya.”Pergi dinner kat mana?” Dia bertanya dengan nada yang beria-ia benar mahu pergi.Bukan main girang gelagatnya. Sebenarnya aku telah dapat menyangka reaksi dan jawapan daripada bapa mertuaku. Tidak akan ada jawapan lain. Bak kata orang, sekilas ikan di air aku dah tahu jantan betinanya. Bukankah jauhari yang mengenal manikam?”Kiah tak tahu ke mana dia nak ajak kita pergi, kita ikut sajalah nanti, Pak. Kalau restoran tu kat tengah lautan bergelora pun Kiah tahu bapak nak pergi… ya tak?”Secara terus terang aku mengusiknya. Percayalah, aku tidak bertujuan mempersendakannya. Aku kan sayang padanya.. Bergurau senda kan baik.. Hidup lebih harmoni dan ceria.”Ha, ha, ha..” Dia ketawa meleret dan mengilai-ngilai menampakkan kegirangan yang amat sangat.Sukanya seolah-olah macam orang kena loteri nombor satu lagi. Bagimanapun, aku tidak menaruh syak wasangka yang bukan-bukan terhadapnya dengan Kak Rahmah.”Takkanlah bapa mertuaku mahukan Kak Rahmah. Aku kan ada. Dah lebih daripada cukup…” bisik hati kecilku.

Tanpa membuang masa, aku menelefon Kak Rahmah untuk memberitahunya yang bapa mertuaku mahu ikut pergi dinner kat luar lepas Maghrib nanti.”Baguslah.. Jam 8.00 nanti kita bertolak. Pakai kereta bapak mertua you ya Kiah.. Kalau dia memandu lebih selamat..”Kak Rahmah ketawa mengilai dalam telefon. Nampak benar dia cukup gembira menerima berita baik daripada aku. Sebaik saja aku meletakkan gagang telefon..”Diner kemudianlah Kiah, bapak dah lapar ni. Bapak nak makan sekarang..”Bapa mertuaku lantas bangun meninggalkan kerusinya dan berjalan menghampiri aku yang masih tercegat berdiri di sudut telefon.”Tunggulah Pak, lepas Maghrib nanti kita pergilah keluar makan.. Bukannya lama lagi..””Bapak bukan nak makan nasi, bapak nak makan.. Kiah… Kiah punya…”Bapa mertuaku merengek umpama kanak-kanak yang kehausan menagih susu daripada ibunya. Namun mesejnya sudah cukup jelas kepada ku membuat interpretasi sewajarnya. Yang bagusnya, dia sudah berterus-terang, dia bilang apa dia mahu, tanpa berselindung. Aku lebih daripada faham apa yang diingininya.Kucing jantan sudah biang! Dia sudah kehausan dan ketagih untuk memerah dan menghisap ‘susu’ ku. Aku tahu dia bukan sahaja haus bahkan lapar untuk memakan kuih apam ku yang tembam. Aku tahu. Aku tahu, lebih daripada tahu.

Sebenarnya aku juga sudah ‘haus’ dan ‘lapar’.Kucing betina ni pun sudah miang juga! Cuma kucing betina bila biang tidak buat bising seperti kucing jantan. Mulut ku yang kat bawah itu sudah lima hari tidak dapat makanan. Tetapi, bagimana gatal sekali pun aku, takkanlah aku yang nak meminta-minta daripadanya. Perasaan malu tetap bersemarak di sanubari. Perempuanlah katakan.. Lagi pun aku tidak mahu jadi lebih sudu daripada kuah. Aku tidak sempat membalas kata-kata rengekan bapa mertuaku. Dia dengan rakusnya memeluk aku dan terus ‘French-Kiss’ aku dengan begitu ghairah dan geram sekali.Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Mulut dan lidahku tanpa dipaksa memberikan immediate response kepada mulut dan lidahnya. Mulut dan lidah kami berjuang hebat. Umpama dua ekor ‘Naga Di Tasik Chini’ (Sebuah filem Melayu lama) sedang beradu kekuatan. Kami berpeluk-pelukan dengan erat, macam dah lama benar tidak bertemu, pada hal baru seminggu lebih berpisah. Aku terasa benar dadanya menghenyak-henyak gunung berapiku yang sudah mula menegang.

Aku terasa benar butuhnya sudah naik mencanak dalam seluarnya, menghenyak-henyak dan menggesel-gesel paha dan kelengkangku. Dengan tidak melepaskan mulutnya yang bertaut rapat dengan mulutku, tangan kiri bapa mertuaku memaut bahu kananku manakala tangan kanannya mula meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku.Aku melenguh dan bersiut keenakan. Sesak nafasku dibuatnya. Kedua-dua kakiku tergigil-gigil dan terangkat-angkat menikmati kelazatan yang dihadiahkan kepadaku. Sebagaimana yang pernah aku bilang dulu, nafsuku cepat terangsang bila tetekku kena raba dan ramas, meskipun masih terletak kemas dalam sampulnya. Nonokku sudah mula terasa gatal mengenyam. Tangan kananku juga mula bekerja. Mula menjalar-jalar dan menyusur-nyusur mencari.. Apa lagi kalau tidak butuhnya.. Aku raba dan urut butuhnya dengan ‘slow motion’ saja. Huuh, uuh..

Walaupun masih dalam seluar, sudah terasa besar, panjang dan tegangnya. Kalau tak sabar dan ikutkan geram, aku rasa macam nak tanggalkan seluarnya di situ juga. Berlaku adil, bapa mertuaku menukar kerja tangannya. Kini tangan kanannya memahut bahu kiriku manakala tangan kirinya meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku. Eer, eer, sedapnya.. Tetek kena ramas! Aku turut menukar tangan membelai kepala butuhnya. melenguh dan mengerang kesedapan. Tangan kanan bapa mertuaku menjelajah ke belakangku untuk mencari kancing coli ku. Aku pasti dia hendak membuka coli ku untuk melondehkan tetekku keluar daripada sampulnya agar dapat dilumat dengan lebih sempurna. Ketika itulah aku tersedar dan lantas memisahkan mulutku daripada cengkaman mulutnya.”Not now, not here, bapak… we haven’t got much time to do it now…” aku bersuara perlahan ke cuping telinganya.”Balik dinner nanti, kita ada banyak masa.. Semalam-malaman kita boleh buat.””Okay, okay.. Kiah. Sorry, sorry, I’m sorry.. I just couldn’t…”Bapa mertuaku memohon maaf dengan suara terketar-ketar sambil melepaskan aku daripada pelukannya. Kecewa benar dia nampaknya, tetapi dia bisa mengalah bukan kalah. Dia mudah menurut kata-kata dan kemahuan ku.

Dia juga sayang padaku. Bukankah aku demikian juga? Tidak dihabiskan kata-katanya, aku tidak berapa pandai untuk mengagak apa yang nak diperkatakannya lagi. Mungkin pembaca yang lebih bijaksana dapat menekanya dengan lebih tepat. Aku melangkah meninggalkannya untuk pergi ke bilik ku.”Bapak masuk bilik bapak ya… jam 8 nanti kita keluar…”Aku menyuruhnya umpama ‘Cleopatra’ mengeluarkan arahan kepada ‘Mark Anthony’. Kalau anda sekalian ingat, sekuat-kuat dan segarang-garang Mark Anthony tu, kena penangan Cleopatra, dia mati kuman dan menyerah. Negara dan bangsanya pun sanggup dipinggirkannya.

Di sebuah geladak menjelang sore, sepi dan angin berkawin. Mereka mengejekku dengan dingin yang mulai menghasut pikiran untuk kembali ingat pada seseorang di seberang lautan.
Cerpen: Peduli

Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Drrrrrt. Drrrt.

Getar notifikasi Whatsapp diponselku. Ada satu pesan masuk. Eh, ternyata dari dia. Aku memanggilnya, Mas Kafa. Ka-fa-bi-hi.

“Ara, kamu bisa bantuin saya? Saya sedang butuh bantuan.“

"Iya Mas, bantuan apa?”

“Saya ada tugas Reliability. Ada lima soal yang harus saya selesaikan. But, im freez. Sepertinya kepala saya sudah tertahan. Kamu sudah expert materi ini, kan? Bisa minta tolong bantuin mengerjakan? Nanti minta penjelasan sekalian via telepon. Bagaimana?”

Duh, lagi pusing berat nih, Mas. Nggg. Tapi, gapapa deh. Kapan lagi aku bisa bantuin kamu, Mas? Hehehe.

“Boleh. Mana soalnya?”

Kemudian dia mengirim foto-foto tugasnya. Satu persatu.

“Untuk kapan?”

Besok.”

"Nanti malam ya. Sekalian ngerjain tugasku yang lain. Sekarang aku mau istirahat dulu. Pilek berat. Pusing. Demam.”

“Okay!”

Hah? Gitu aja? Iya… Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Aku menutup ponsel dengan muka terlipat. Dia selalu begitu, terlihat tidak peduli. Bahkan ketika aku demam seperti ini. Kadang aku bertanya, kenapa aku masih saja menaruh rasa kepadanya? Yang jelas-jelas tidak mau tau semuanya tentang aku? Yang sejak dulu tak pernah menampakkan sama sekali kepedulian. Yang sejak dulu selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh. Kenapa? Hah?

Toh seandainya dia peduli sama aku, paling bakal bilang, “Nggak usah manja! Latihan menguji mentalitas diri. Beli obat sendiri dong!”

Hafal. Aku sampai sebegitu hafal dengan sikap-sikap khasnya. Ah, sudahlah.

Aku menepuk angin di depan muka.

Kubuka ponselku kembali. Mengetik pesan lagi,“Nanti malem ambil saja sekitar jam setengah sembilan. Aku titipin Pak Man. Biasanya jam segitu beliau masih jaga di gerbang kost,”

Setelah agak reda pusingku, aku mulai mengerjakan tugasnya. Juga tugasku sendiri untuk besok.

Beberapa menit terlewat. Kepalaku mulai pening lagi. Duh, padahal baru menyelesaikan satu nomor. Yaudahlah, ya. Tak ada jalan lain selain: aku memutuskan untuk tidur lagi karena semakin parah peningnya. Aku tak sempat makan, tak sempat ke kamar mandi, tak membuka ponsel samasekali. Kalau sakit seperti ini, seolah semuanya tidak berarti kecuali kesehatan. Kapok, deh, nyepelein penyakit flu. Ternyata flu saja bikin produktifitas menurun drastis.

“Aku selesaiin abis ini deh.” Gumamku sambil menutup buku-buku.

Aku merebahkan diri diatas kasur. Kupejamkan mata. Tidak bisa tidur. Kumembuka mata kembali. Menatap kosong langit-langit kamar. Air-air tak jelas mulai tertahan pada binar mataku. Kemudian tumpah. Terbawa perasaan. Berandai-andai. Pikiran meliar. Andai dirumah, mamah pasti sudah beliin obat. Diambilin makan. Dibelai-belai rambutnya. Didoain supaya cepat sembuh. Huhuhu. Disini kosong, tak pernah ada yang benar-benar peduli. Hanya mamah yang peduli.

Pun dia. Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.

Pukul setengah sembilan malam tiba-tiba, “Mbak Ara, dapet titipan dari Pak Man,” Seorang teman kamar lain menyodorkan kresek putih berisi sesuatu.

Karena penasaran, aku segera membuka tas kresek putih itu. Ada sepaket obat. Ada sebungkus nasi padang. Ada sebotol susu penambah daya tahan tubuh dan sebotol air mineral. Ada sekotak tisu. Terakhir, ada sesobek kertas coklat bertinta merah menyembul dari dasar kresek bertuliskan seperti ini:

Yang tablet warna silver obat demam sama pusing, diminum sehari tiga kali. Yang tablet warna kuning obat pilek. Juga diminum sehari tiga kali. Sebelum diminum, makan dulu nasinya. Terus tisunya buat lap ingusmu. Pasti mbeler terus, kan?  Hahaha. Cepat sembuh, ya.

(Kafabihi)

Aku tidak mampu menahan lagi air-air tak jelas dari mata. Menetes lembut pada pipi tembamku. Ternyata ada yang masih mempedulikanku ditengah lautan manusia yang mengandalkan keegoisan-keegoisannya sendiri. Ternyata ada yang masih mau memahamiku disaat aku merasa tak ada satupun yang mempedulikanku. Ada.

Aku membuka ponselku. Niatnya ingin berterimakasih banyak-banyak ke dia. Eh, ternyata ada pop-up pesan Whatsapp darinya. Dikirim barusan tadi waktu pukul delapan lewat beberapa menit. Sebelum ada titipan kresek putih dari Pak Man.

“Nggak usah ngerjain tugas saya. Biar saya sendiri yang ngerjain. Mudah-mudahan saya bisa. Saya tau kamu pening. Istirahat gih.”

Sesegera mungkin kubalas pesannya.

“Beneran Mas? Hahaha. Terimakasih, ya. Peningnya sudah agak mendingan kok.” Aku berusaha menghibur diri sendiri. Dan entah kenapa semangatku tiba-tiba melesat drastis. Tiba-tiba saja aku senyum.Tiba-tiba saja perasaanku bahagia.

Tuhkan. Perempuan mudah sekali diganti perasaannya, ya?

"Oh iya, kata mbak-mbak apotek tadi, kamu tidak boleh makan gorengan sama minum es dulu. Kan pilek,”

Aku benar-benar tidak mampu menahan air-air tak jelas ini lagi.

“Iya. Makasih, ya?”

“Oh iya. Eskrimnya ditunda dulu, kamu sembuh dulu aja.”

Eh. Ternyata Mas Kafa masih ingat. Kukira lupa.

Tumpah. Air air tak jelas dimata tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Kini aku tau, dia peduli.

**

Lima hari setelah kejadian ini. Aku membuka akun twitterku–yang dari dulu memang jarang-jarang kubuka. Seperti biasa. Hal pertama yang kulakukan adalah membuka timeline twitternya. Membaca kicauan-kicauannya–yang walaupun isinya kebanyakan catatan-catatan kampus yang tak kupahami maksudnya. Sejauh ini, ia belum tau kalau ternyata salah satu followernya adalah aku. Yang memakai nama lain. Hahaha.

Sekrol-sekrol-sekrol. Hey, ada tiga kicauan terpencil yang membuatku merasa nggg… GR. Tertanggal tepat setelah aku dititipi obat dan makanan sama dia.

“Dingin bukan berarti tak ingin, Nona.”

“Ada yang diam-diam bahagia disebabkan karena kehadiranmu disaat kamu merasa tidak ada satupun yang mempedulikanmu.”

“Cepat sembuh, ya. :)”

Buru-buru aku menutup laptopku. Lalu menggigit bibir.

Aduh, bagaimana ini? Mas Kafa benar-benar peduli, ya, ternyata?

**

Cerpen ini ditulis untuk memenuhi tugas dari Kak @prawitamutia​ pada Kelas Menulis Literaturia, 15 September 2016 yang lalu di Surabaya.

(Can't) Let You Go

Ada sebuah langkah yang rapuh dan kenangan yang luruh. Bibirku bergetar. Di hadapan pualammu, aku kembali merapalkan penyesalan. Tujuh tahun sudah kamu pergi dan kita tetap dibatasi oleh tanah dan udara.

Di bawah sana, bersemayam jasadmu yang takmampu lagi kurengkuh. Dadaku sesak. Tanah yang memelukmu telah kering, tetapi tidak dengan kelopak mataku. Masih kerap digenangi lautan nestapa, yang tenang dalam ruang kesedihanku.

Dan kini, ratusan hujan sudah kulewati dan rasanya masih saja sama; mengandung kenangan tentangmu. Tentang momen-momen yang dulu kita semayamkan di dalam dada namun kini pelan-pelan memudar.

Hingga di detik ini, kutapaki jalan basah berpayung langit gelap. Senada dengan warna parka yang melekat di tubuhku, memeluk gemetarnya. Membahasakan pilu yang belum rampung seperti kala kuantar pergimu.


Aku … takbisa berkata apa-apa. Ingin rasanya memaki diri sendiri berkali-kali. Mungkin sampai mati. Sampai aku menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang begitu sayat. Mengapa … mengapa aku sepatah ini kehilanganmu? Mengapa aku selemah ini takbisa melepas kepergianmu?


Ribuan kalimat tanya terkurung dalam kepalaku, membelenggu. Takbisakah sebentar lagi kamu berada di sini, menjelaskan padaku perihal menerima sebuah kepergian. Aku, masih menunggu di sini, menagih janjimu untuk kembali. Akrab dengan sunyi, yang setia menjadi teman semenjak lengkung senyummu taklagi ada bersamaku.

Dan ketika hujan kian menderas, rinduku padamu selalu terjun bebas. Hunjam dan bertubi-tubi. Aku selalu terbada tetiap malam. Perlahan mencoba untuk melepaskan. Tuhan, ajari aku cara melakukannya.

Merelakan memang takpernah mudah. Terlebih perihal kamu yang pergi tibatiba, tanpa mengajarkan aku membiasa. Tuhan, sekali lagi kumohon, ajari aku cara melakukannya. Melepas segala yang memang sudah taklagi ada.

Namun, pada akhirnya, kala hujan mereda, jawaban itu tak kunjung kutemukan. Detik demi detik bergulir, kenanganmu seakan terus menarikku. Seperti deburan ombak yang menjauh melawan kehendak semesta; kian lama, aku terus tertelan. Hingga senyap menyelimuti diriku seutuhnya.

Mungkin jawaban yang aku cari ialah pergi menggapaimu atau bertahan di perasaan yang dalam tentangmu.

Bogor - Tangerang
April 2017
@ariqyraihan - @hujankopisenja

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Rupanya dia menutup kekurangannya tanpa perlu berkeluh kesah.

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan,
Rupanya dia pandai menutup dukanya dengan bersyukur dan redha.

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Rupanya dia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya.

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Rupanya dia berbahagia dengan apa yang dia ada.

Aku melihat hidup jiran tetanggaku sangat beruntung,
Ternyata dia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..
Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat Allah..
Bahawa di satu sudut dunia lain masih ada yang belum beruntung memiliki apa yang aku ada saat ini.

Dan satu hal yang aku ketahui, bahawa Allah tak pernah mengurangkan ketetapan-Nya.
Hanya akulah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi.

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain.

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku. Tapi rezekiku tahu dimana diriku berada.

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya menuju kepadaku.

Allah menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.
Kerana bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran dan gelisah dengan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.

Mereka lupa bahawa hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya.

Siti Hajar berulang alik dari Safa ke Marwah, tapi air Zam-zam muncul dari kaki anaknya, Ismail.

Ikhtiar itu perbuatan. Rezeki itu kejutan.
Dan yang tidak boleh dilupakan, setiap hakikat rezeki akan ditanya kelak, “Dari mana dan digunakan untuk apa”

Kerana rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”…

Halalnya dihisab dan haramnya diazab.
Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain.

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.

Inginnya, kalau malam-malam begini itu duduk berdua saja denganmu. Tanpa aku minta lagi, pastinya kamu sudah buatkan aku teh manis kesukaan. Kita sama-sama tahu kalau hari ini udah masuk tanggal tua, jadi cemilan sudah mulai habis sedangkan uang bulanan sudah mulai menipis. 

Tidak apa-apa sayang, bahkan kalau teh ini kehabisan gula pun senyum ikhlas kamu sudah lebih dari cukup, aku harus tahu diri untuk tidak minta apa-apa lagi. Harusnya aku yang malu, tidak bisa mencukupimu lebih dari ini… hingga kadang sambil merutuk aku berjanji untuk berusaha lebih keras lagi esok hari.

Bicara apa kita hari ini? Sudah berapa lama kita tidak melihat lagi lautan bintang di langit nun jauh disana? Mari kita duduk saja di beranda depan, berdua. 

Atau kalau kau mau, aku bisa petikkan satu dua nada dengan gitar tuaku. Sudah lama aku tak mendengarkan kau bersenandung, maukah kau?


Penceritamu,