latar belakang

Ramadhan #6 - #12 : Jangan Dulu Menyerah

Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!

Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.

Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.

Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.

Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.

Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.

Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.

Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.

Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya :)

1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi

Freeday: Perlukah Masa Lalu Datang Kembali?

Ketika malam minggu kamu cuma tidur-tiduran, tapi di sana mantanmu sedang bobo bersama pacar barunya be like..

                                                       ===

.

Berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini sepulang kelas pemrograman di kampus, gue nggak langsung pulang ke rumah. Gue malah nyempatin mampir dulu ke kostan temen gue, sebut saja Ciko. Belakangan ini kostan Ciko selalu gue sambangi lantaran di antara seluruh kostan kepunyaan temen yang lain, Ciko adalah salah satu orang yang paling beduit untuk nyewa kostan dengan ruangan cukup gede. Segede tempat sholat akhwat di Masjid Istiqlal.

Ketika teman-teman gue yang lain ngekost hanya sekitar 500-800 ribu sebulan, Ciko beda sendiri, mentang-mentang bapaknya punya toko bumi dan bangunan, dia berani ngambil kostan yang harganya 1,3 sebulan. Kamar mandi di dalem, tapi tidurnya di luar.

Maka dari itu gue paling demen mampir di kostan temen gue yang satu itu. Selain karena kamernya paling besar, alasan lain yang buat gue sering mampir adalah karena kostan ciko ini kostan campur. Mantep banget kalau lagi nongkrong depan pintu terus ada cewek-cewek sliweran dari kamar sebelah dengan celana gemes dan tangtop pergi ke gerbang sambil nenteng mangkok buat nyegat mamang bubur.

Kalau gini caranya, gue abis lulus kuliah jadi tukang bubur daerah kampus aja deh. Tiap hari bisa liat paha. Paha ayam maksudnya.

Ayam kampus :((((

Siang ini gue memilih untuk tidur-tiduran di kasurnya Ciko sementara dia asik nongkrong di depan tv buat mantengin FTV dengan judul Pacarku Mantan Copet Cantik. Untuk membunuh waktu, tak lupa gue sesekali memainkan gitar klasik kepunyaan Ciko dan menyanyikan lagu-lagu gereja kepunyaannya. Ciko tidak keberatan ketika gue melakukan itu.

Namun tiba-tiba, gitar-gitaran gue ini terhenti.
Ciko pun langsung menengok ke belakang.

“Napa lu berhenti dah? Gue lagi menghayati nih.”

Gue menatap pelan ke arah Ciko dengan tatapan ketakutkan.

“Wuih kenapa lu? Dapet hidayah buat pindah agama?” Tanya Ciko lagi.

Gue geleng-geleng, “Mantan gue ngajak ketemu, Cik.”

JLEGAR!
Seketika itu juga langit mendung. Petir menyambar-nyambar. Temen-temen kostan Ciko yang pahanya kemana-mana itu langsung meluk gue.

Terkadang, masa lalu itu brengseknya kebangetan. Setelah dia melukai dengan cara pergi dan membiarkan kita sendirian kesakitan untuk mengingat hal-hal bahagia yang terasa seperti luka, ia juga sering kembali di saat-saat kita sudah bahagia atau di saat kita sudah mampu untuk hidup tanpanya.

Lalu dengan sapaannya yang sedikit itu, ia meruntuhkan semua tembok-tembok tinggi yang telah kita bangun sebelumnya. Benih harapan yang sudah dikubur begitu dalam tiba-tiba menunjukkan tunas baru, tunas yang sering kita namakan dengan,

“Harapan bahwa ternyata dia masih cinta sama gue.”

Bahaya banget.

Kenapa gue sebut bahaya? Karena selain dia akan menarikmu kembali ke tempat-tempat yang seharusnya sudah kau tinggalkan itu, dia juga akan membuatmu kembali mengingat hal-hal yang sebenarnya selama ini sudah tidak begitu nyeri jika kau ingat.

Maka inilah beberapa teknik-teknik ala @mbeeer dalam menghadapi serangan mantan yang ngajak balikan lagi.

.

                                                          ===

.

QUESTION AND ANSWER

Sebut saja dia Sebastian, atau kerap dipanggil Sebats oleh teman-temannya. Seorang pria yang cukup tampan dengan brewok nempel di sekujur tubuh termasuk di selangkangan. Sebastian ini selain pandai mengaji dan membaca arab gundul, doi juga piawai sekali dalam bermain alat musik, terutama piano dan juga ketipung. Kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik seperti ini tidak ia dapatkan begitu saja. Percaya atau tidak, kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik ini ia dapatkan dari seorang wanita yang pernah mengisi hidupnya.

Bagaimana bisa?

Sebut saja dia Mia. Gadis yang bercita-cita menjadi aktris pemeran Srimulat ini digadai-gadai menjadi latar belakang kenapa Sebastian jadi menyukai Musik. Entah semesta sedang merencanakan apa, namun di suatu ketika, Mia dipertemukan dengan Sebastian. Mia yang saat itu sedang gundah karena tak kunjung menemukan lelaki yang tepat dan Sebastian yang sedang menjalin hubungan tanpa status dengan sabun kecrotan di kamar mandi itu, pada akhirnya menjadi alasan kenapa mereka berdua bisa jatuh cinta di saat yang bersamaan.

Hidup mereka bahagia. Mia yang berprofesi sebagai aktris ini menasihati Sebastian bahwa musik adalah esensi dari sebuah kehidupan. Maka dari itu Mia mengajarkan Sebastian untuk bermain musik. Dengan kemampuan membimbing Mia dan juga rasa cinta Sebastian yang begitu besar, pada akhirnya Sebastian dengan mudahnya terjun ke dunia yang baru baginya; Musik.

Namun seumpama lirik yang tak rampung, musik yang fals, dan nada yang salah komposisi. Bahtera rumah tangga Sebastian dan Mia tidak berjalan baik. Mereka harus dipisahkan oleh keadaan. Mia tiba-tiba pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak tanda tanya di kepala Sebastian.

Selain mabuk-mabukan dengan cara naik angkot tapi madep ke belakang, Sebastian juga melarikan diri dari galaunya dengan bermain musik lebih giat. Menurut Sebastian, hanya dengan cara inilah dia mampu mengingat Mia dalam bentuk Nada.

Beberapa tahun telah berlalu. Hingga tiba-tiba datang suatu saat ketika Sebastian sedang bermain musik di sebuah orchestra Dangdut Dorong di depan RW 03, Sebastian tak sengaja melihat Mia ada di sana. Di antara para ibu-ibu berdaster, bapak-bapak singletan doang, anak-anak bau matahari, dan tukang sayur, Mia sedang berdiri menatap Sebastian yang saat itu sedang bermain Rebana dan Ketipung bersama teman-teman Akapelanya yang membawakan lagu Alif-Bata-Sajimha karya Wali Band.

Ketika Sebastian sudah mulai bisa melupakan Mia, tiba-tiba Mia hadir kembali dalam hidupnya. Membuat segala pertanyaan yang sebenarnya sudah diikhlaskan oleh Sebastian tiba-tiba menyeruak lagi ke permukaan. Membuat kakinya goyah lagi di hadapan cinta yang membuat dirinya terjun ke dunia yang ia sukai.

Kisah Sebastian di atas itu kerap terjadi di kehidupan ABG di Negara Berkembang. Ketika kita sudah mampu melangkah, sudah lupa, sudah tidak terlalu sakit lagi dalam mengingat, tiba-tiba sang masa lalu datang untuk menawarkan sebuah jawaban.

Kita yang tadinya sudah tidak berharap lagi tiba-tiba menjadi was-was, kita yang bahkan sudah tidak butuh jawaban atas kepergiannya dulu itu menjadi penasaran lagi hanya karena merasa bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Q&A atau Question and Answer; Adalah suatu keadaan di mana kita dipisahkan oleh keadaan, oleh suatu ketidak-adilan sehingga ada begitu banyak tanda tanya di kepala. Kepergiannya membuat tanda tanya itu tidak terjawab, terbengkalai. Mau bertanya tapi takut disangka masih ngarep, mau bertanya tapi ternyata dia sudah punya pasangan yang baru, atau juga mau bertanya tapi tidak ada akses yang memungkinkan untuk berbicara dengannya.

Kemudian kau menyerah, berusaha menelan mentah-mentah semua tanda tanya. Menguburkannya jauh-jauh di dalam dada. Mencoba Ikhlas bahwa pertanyaan atas kepergiannya itu tidak akan terjawab untuk selamanya. Lalu kau mulai belajar menerima keadaan itu. Namun ketika kau sudah mampu menerima, tiba-tiba masa lalumu dengan brengseknya datang lagi. Memberikan sebuah harap bahwa jawaban yang selama ini kau cari itu mampu ia berikan.

Pertanyaan-pertanyaan yang kau kubur dalam-dalam dulu itu tiba-tiba menumbuhkan tunas.

Pertemuan seperti gue anggap sebagai sebuah keadaan paradox.
Boleh dilakukan, tapi lebih baik tidak.

Boleh dilakukan jika kau sudah yakin tidak akan baper lagi ketika berbicara dengannya. Tidak akan baper lagi atas semua jawabannya. Atau lebih baik tidak; Karena buktinya tanpa jawabannya itu pun kau sudah pernah bisa bertahan dan melanjutkan hidup dengan bahagia, kan?

Gue sarankan hati-hati dengan pertemuan yang seperti ini.
Sangat menggoda dan penuh tipu daya.

Kaya tengtop awkarin waktu naik kuda.

.

                                                           ===

.

PENASARAN

Ekspresi gue pas doi ngajak balikan.

 .

Bukan, gue bukan mau ngomongin setan. Penasaran di sini dalam arti kamu masih ingin meluruskan apa yang dulu sempat terbengkalai.

Sebut saja, Harambe. Seorang cowok nggak ganteng-ganteng amat yang sudah khatam Iqro 6 tapi ada aja cewek cakep yang nyantol sama dirinya. Sikapnya yang baik dan menyamankan ini membuat seorang wanita, Sebut saja Sanbe, jadi jatuh cinta.

Padahal kala itu Sanbe tengah patah hati berat. Ia baru saja putus dari hubungannya kemarin dengan seorang cowok brengsek. Sanbe hanya dimanfaatkan, tubuhnya dieskploitasi kaya saham Freepot. Sanbe disuruh jadi Manusia Silver untuk membuktikan cintanya, padahal mantan Sanbe hanya menginginkan uang hasil mengemisnya itu saja.

Patah hati yang begitu berat lantaran kulitnya menjadi warna abu-abu membuat Sanbe enggan masuk ke dalam suatu hubungan terlebih dahulu. Namun meski begitu, Harambe tetap mencintai Sanbe. Ia menyamankan Sanbe, menyembuhkan Sanbe dari segala luka yang padahal bukan disebabkan oleh Harambe.

Namun ketika Sanbe sudah mampu untuk jatuh cinta lagi, Harambe ditinggalkan begitu saja. Harambe tidak dipilih padahal selalu ada. Tidak dijadikan pilihan padahal selalu menomer-satukan Sanbe. Harambe dipaksa pergi dengan cara digantikan oleh orang lain.

Brengsek sekali.

Lalu beberapa tahun kemudian ketika Harambe sudah mengikhlaskan Sanbe dan memilih Fitnes sebagai pelampiasan patah hatinya, Sanbe datang lagi. Sanbe tertarik dengan otot-otot perut Harambe yang seperti tahu berjumlah 6 biji itu.

Dan bodohnya, Harambe tanpa pikir panjang langsung menerima Sanbe kembali tanpa mengingat bahwa dulu Sanbe pernah meninggalkan Harambe lebih dari satu kali. Ketika teman-teman Fitnes Harambe bertanya apa alasan Harambe kembali kepada masa lalunya, sambil menggoyang-goyangkan otot dadanya, Harambe menjawab dengan nada berat bak barbel,

“Aku masih penasaran sama dia.”

Yak!

Menurut gue, masih penasaran ini juga termasuk salah satu cara menengok masa lalu yang cukup berbahaya. Hubungan yang sudah usai sebelum dimulai, atau juga hubungan yang hampir berhasil tapi keburu selesai itu, kerap menjadi rasa penasaran di dalam dada. Hingga kemudian ketika masa lalu datang menawarkan proposal untuk kembali lagi, itu terasa seperti sebuah angin segar yang menghilangkan dahaga rasa penasarannya selama ini.

Karena rasa penasaran itu mampu membunuh syaraf logika.

Baiknya pertemuan ini dihindarkan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah tetaplah Fitness dan putuskan menjadi Gay. Aman.

Paling banter juga resikonya pantat lu bolong.

.

                                                          ===

.


MASIH CINTA

Aelah kagak usah gue jelasin lagi yang begini mah. Bikin kesel aja.


.

                                                              ===

.


WALKIE TALKIE

Wa cape mz..

.

Walkie Talkie adalah pertemuan yang dilaksanakan hanya untuk bercengkrama. Ingat, bercengkrama, bukan bersenggama. Tolong dibedakan ya Ukhti Ikhwan. Jangan sampai salah ucap, nanti kamu dimarahin ustad Hainan.

Baiknya teknik Walkie Talkie ini dilakukan hanya ketika kamu sudah cukup dewasa untuk menerima sebuah pendapat dan penjelasan dari sisi masa lalumu. Karena bisa dibilang teknik Walkie Talkie ini adalah gabungan dari ketiga teknik di atas. Ada pertanyaan yang belum di jawab, rasa penasaran untuk menuntaskan, juga ada sedikit rasa masih cinta. Maka apabila kamu belum cukup dewasa untuk sebuah pertemuan yang seperti ini, baiknya jangan dilakukan. Karena jika tidak, kamu akan jatuh dua kali di lubang yang sama.

Sebuah hubungan antara dua hati manusia kerap berakhir tanpa disangka-sangka dan tanpa direncakan sebelumnya. Tentu kedua belah pihak akan terluka juga, namun yang saat itu sedang sayang-sayangnya lah yang akan paling terluka. Selain meninggalkan banyak tanya, rasa penasaran karena masih cinta pun kerap melekat kuat-kuat di dalam dada.

Berbulan-bulan berlalu, bertahun-tahun berlalu, tetap rasa itu masih ada. Mungkin tidak membesar, tapi akan tetap ada. Membuatmu jadi merasa benci pada yang meninggalkan karena membuatmu tersiksa sendirian. Karena bagimu, ada beberapa luka yang tidak mungkin sembuh bahkan dalam hitungan tahun.

Lantas tanpa kau sangka-sangka sebelumnya, masa lalumu itu kembali. Menawarkan sebuah penjelasan. Sontak rasa yang melekat di dalam dadamu itu tiba-tiba membesar kembali. Membuatmu dengan mantap untuk bertemu dengannya.

Walkie Talkie adalah pertemuan untuk mendengarkan pendapat dari pihak yang meninggalkan. Karena terkadang orang-orang yang meninggalkan juga merasa bahwa merekalah yang disuruh pergi. Bahkan mungkin orang yang meninggalkan ini akan bilang bahwa sejatinya dialah yang tersakiti di perpisahan kalian yang kemarin itu.

Oleh sebab itu, seperti yang gue bicarakan di awal, jika lo belum dewasa untuk menerima pendapat dari sisi pandang masa lalu lo, baiknya pertemuan ini jangan dilakukan. Setelah bertahun-tahun rasa penasaran itu melekat lalu kemudian kau mendapatkan jawaban, namun jawabannya malah menuduh bahwa kamulah pihak yang salah, sontak pasti kau akan merasa begitu emosi atau bahkan hingga menjadi benci.

Kau yang selama ini tersiksa. Kau yang selama ini terluka sendirian. Ternyata di matanya, adalah kau yang bersalah. Tak ayal pertemuan ini malah mengubah apa rasa cinta menjadi rasa benci. Tiba-tiba seluruh perasaanmu, kekagumanmu, cintamu itu luluh lantah dan digantikan dengan rasa jijik serta benci.

Atau bahasa lainnya adalah Ilfeel.

Namun, bisa juga kebalikannya. Bisa jadi pertemuan ini malah menyembuhkan dan betul-betul menjawab seluruh pertanyaan yang mengganjal di hatimu selama ini. Mungkin apa yang akan ia jelaskan benar-benar membawa kalian ke sebuah jalan tengah. Ke penyelesaian yang begitu damai tanpa banyak helaan napas.

Bahkan, itu bisa membawamu kembali menjalin hubungan dengannya.

Baik buruknya, itu tergantung kedewasaan setiap orang yang hendak melakukan teknik Walkie Talkie ini. Tapi menurut gue, yang telah lalu itu biarlah berlalu. New is always better.

Mengutip salah satu lirik dari lagu mas Kodaline,

‘cause we don’t, we don’t need to talk about this now
Yeah, we’ve been down that road before
That was then and this is now

The crowds in my heart they’ve been calling out your name
Now it just don’t feel the same
Guess it’s over, yeah, we’re done

.

                                                             ===

.

Nah gaes,

Itulah ketiga teknik penting yang perlu diketahui ketika masa lalu datang kembali untuk menawarkan sebuah kerja sama ulang. Dia datang seperti ulangan Remedial, menawarkan dirimu kesempatan yang baru untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Tapi untuk siapapun yang sudah membiarkan waktu berharganya hilang begitu saja karena membaca tulisan nggak penting ini, baiknya ingatlah kata-kata gue ini,


Setelah kau gagal dan terus gagal, masa depan memang akan terlihat begitu menakutkan dan asing. Tapi kau tidak bisa berlari kembali ke masa lalu hanya karena merasa masa lalu itu terasa lebih familiar untukmu. Ya, masa lalu memang terlihat lebih menggoda, tapi itu tetaplah sebuah kesalahan.

Because new Is always better.

Dimana posisi kita (?)

Penting banget buat kita untuk tau dimana posisi kita setelah bersyahadat agar kita tidak menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Secara naluriah, manusia pasti bertanya “Siapa aku”, “Untuk apa kita hidup”, “Kemana setelah mati”.

Temen-temen HTI biasanya mengawali materinya dengan kajian Thariqul Iman untuk menjawab pertanyaan ini. Temen-temen tarbiyah biasanya membahas ini di bab Ahammiyatu Syahadatain. Tauhid itu pondasi paling dasar. Kita semua harus selesai dengan itu biar kita tidak bingung dan lantas kembali ke belakang.

Pernah ada yang nanya, kalau mau belajar filsafat, modalnya apa?

actually saya nggak pernah belajar filsafat secara formal. Saya cuma kadang-kadang suka menyelami pikiran-pikiran orang yang berfilsafat. Apakah filsafat rawan bikin kita nyasar?

Rawan kalau misal pemahaman kita tentang tauhid itu tidak utuh lantas kita menempatkan Al Qur’an sebagai bagian dari produk budaya dan memposisikan Al Qur’an sejajar dengan pemikiran manusia sehingga kita ngerasa bisa mengkritik nash dalam Al Qur’an dengan argumentasi yang berasal dari pemikiran manusia.

Kita boleh mengkritik tafsir yang disampaikan mufassir tentang suatu ayat asal kita punya bekal ilmu yang cukup untuk memahami Al Qur’an. Tapi sebagai muslim, kita tidak bisa menyebut Al Qur’an irrelevant karena syahadat kita menuntut kita untuk mengimani Al Qur’an dan mengambilnya sebagai petunjuk hidup. Bila kita masih menanyakan relevansi Al Qur’an, berarti kita bersyahadat tanpa mengetahui konsekuensinya.

Islam tidak melarang kita untuk menggunakan akal atau melakukan critical thinking. Hanya saja, critical thinking itu harus dilakukan di tempat yang tepat. Saya pernah posting tentang dibutuhkannya critical thinking untuk menjabarkan hukum fiqih. Fuqoha itu harus kritis dan visioner. Idealnya, fuqoha harus bisa menjawab permasalahan kontemporer sebelum ummat bingung dengan perkara itu.

Terkait ini, saya jadi inget kata-kata pak Mahfud MD sewaktu mengomentari peristiwa taksi online vs taksi konvensional”

“Ahli hukum itu harus visioner. Dia harus bisa merumuskan regulasi sebelum masyarakat ribut”

Kita tau bahwa akar permasalahan Taksi Online vs Taksi Konvensional dulu adalah karena regulasi belum ada sementara bisnis taksi online sudah menjamur sehingga driver taksi konvensional merasa diperlakukan secara tidak adil.

Nah, disinilah posisi ahli hukum yang visioner untuk menyelesaikan permasalahan ummat. Adapun dalam masyarakat Islam, Fuqoha juga dibutuhkan untuk berada di tempat yang sama. Visioner dan bisa memperkirakan arah perkembangan zaman sehingga ketika ada banyak fenomena baru bermunculan, islam bisa dengan lincah menjawabnya.

Kita berislam bukan untuk menjadi bodoh dan takut untuk berpikir. Tapi arah pikiran kita bukan lagi untuk mempertanyakan relevansi Al Qur’an dan Sunnah. Mestinya kita bisa lebih jauh lagi berpikir tentang bagaimana menjabarkan Al Qur’an dan Sunnah sehingga bisa dinikmati dalam kehidupan sehari-hari. Meminjam istilah yang biasa dipakai Prof Quraish Shihab….membumikan Al Qur’an.

Mengapa kita tidak boleh mempertanyakan relevansi Al Qur’an?

Judul tulisan ini adalah dimana posisi kita. Saya ingin membicarakan, ketika kita memilih berislam, arah pikiran kita harusnya start darimana.

Kalau teman-teman hobi baca filsafat, teman-teman akan tahu bahwa filusuf punya teori sendiri tentang Tuhan. Karl Marx, Plato, Aristoteles….semua punya teorinya sendiri.

Begitupun dalam menyelesaikan permasalahan ummat manusia, para pemikir juga punya teori sendiri yang didasarkan pada kondisi masyarakat tempat dia tumbuh. Sosialisme yang lahir karena kesenjangan borjuis dan proletar, liberalisme yang lahir dari teokrasi yang semena-mena, feminisme yang lahir dari penindasan terhadap wanita, dll, dsb.

Tulisan ini bukan untuk membedah teori satu persatu lalu menyimpulkan bahwa “Islam against feminism, socialism or another -ism”, Islam hadir sebagai solusi. Bukan sekedar sebagai paham yang mengatakan…..ini salah dan itu benar.

Manusia memang punya kecenderungan untuk mencari Tuhan dan punya kecenderungan untuk menyelesaikan permasalahan ummat. Sejak ribuan tahun yang lalu, ada banyak orang yang telah berpikir tentang Tuhan dan tentang penyelesaian permasalahan ummat. Betapapun mereka jauh berpikir hingga lintas generasi, belum ada satupun metode yang menyelesaikan permasalahan ummat secara menyeluruh dan komprehensif seperti Islam. Sosialisme bagi saya menarik tapi sisi tidak menariknya adalah….di sini proletar seolah dipaksa untuk selalu curiga dengan borjui. Begitupun dengan feminisme, wanita seolah dipaksa untuk selalu curiga kepada laki-laki ~XD ini hanya interpretasi kasar dari saya. ~XD Tapi memang benar, Islam itu utuh dan memperlakukan manusia sesuai fitrah. Kalau penasaran, silahkan belajar syumuliyatul islam karena kalau dibahas di sini, satu buku pun tidak akan habis.

Dengan kisah ratusan orang yang berfikir tentang Tuhan plus tentang penyelesaian masalah ummat tapi belum sampai menyentuh islam dan tidak menghasilkan teori yang seutuh islam, kita menginsyafi bahwa “Yang mencari tidak selalu ditakdirkan untuk bertemu”, maka di sini kita juga semakin menginsyafi bahwa mencari ilmu dibutuhkan rasa tawadhu dan selalu memohon taufiq dari Allah agar kita senantiasa diberi petunjuk.

Thariqul iman dan ahammiyatush syahadatain adalah materi dasar yang memberi kita semacam short cut agar kita tidak sampai terjebak pada jalan “para pencari yang tidak bertemu”. Belajar materi ini kita akan memahami jati diri kita sebagai manusia ciptaan Allah yang kelak akan pergi ke akhirat. Di dunia ini, kita hanya mengabdi kepada Allah. Allah tidak meninggalkan kita dalam kebingungan. Dia memberikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk agar kita bisa memulai menyelesaikan masalah ummat dengan menjabarkan Al Qur’an dan Sunnah ke dalam kehidupan. Bukan memulai dari nol.

Dengan memahami ini, kita akan menerima Al Qur’an, Sunnah dan Islam dengan sepenuh syukur tanpa rasa benci yang berlebihan terhadap -isme yang ada di luar Islam. Kita memaklumi -isme itu sebagai pikiran manusia yang tidak sempurna lalu kita tawarkan Islam sebagai jalan yang lebih baik. Kita kritik satu persatu isme yang ada dengan santun hingga kita mampu membawa mereka pada kesimpulan bahwa Islam itu bukan hadir sebagai lawan dari sosialisme, feminisme atau -isme yang lain. Islam hadir sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan yang menjadi latar belakang dari -isme yang ada. Islam lebih komprehesif dari -isme yang dikarang manusia. Jika kita sampai pada kesimpulan ini, kita tidak akan tertarik untuk berpulang kepada pemikiran manusia setiap kali menemukan masalah ummat.

Islam itu menuntut Al Wala’ wal Bara’ . Al Wala’ bermakna loyal kepada ideologi islam dan berlepas dari ideologi yang diluar islam. Islam juga menuntut tajarrud yaitu pemurnian gerak dari ideologi yang di luar islam. Tapi Al Wala wal Bara serta tajarrud kita bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa didasari pemahaman syumuliyatul islam. Kita tidak bisa menyuruh orang lain berhijrah kepada Islam jika kita tidak mengenal islam itu sendiri.

Cukuplah pemahaman tentang “Yang mencari tidak selalu bertemu” membuat kita berempati lebih dan semakin bersemangat untuk membuka jalan-jalan hidayah kepada ummat.

Mengapa kita tidak boleh mempertanyakan relevansi Al Qur’an? Mungkin saya perlu meluruskan pertanyaan menjadi: Mengapa kita tidak perlu mempertanyakan relevansi Al Qur'an? Karena nyatanya andaipun mempertanyakan relevansi Alqur'an diperbolehkan, kalau kita benar-benar mengenal islam, kita tidak akan merasa perlu mempertanyakan relevansi Al Qur'an. Sungguh bukan karena islam mengajarkan kebodohan tetapi Islam melindungi kita dari kesia-siaan berpikir. Syahadat itu mestinya sudah sepaket dengan pemahaman bahwa Allah itu Rabb kita yang menciptakan kita, yang mengurusi kita dan mengetahui dengan utuh kebutuhan-kebutuhan kita. Maka ketika Allah memerintahkan kita untuk memperlakukan Al Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk hidup, sudah pasti Allah tidak salah memberi perintah.

Sangat sia-sia bila kita kembali lagi mempertanyakan relevansi Al Qur’an sebagai sumber pengetahuan. Seolah kita dipaksa lagi untuk kembali pada fase sebelum bersyahadat.

13. menjadi baik

berulang kali ibu bercerita bahwa di ujung sholat, ibu sering berkaca-kaca mengingat kedua orangtua ibu. kedua orangtua ibu tidaklah seberuntung ibu perihal pendidikan agama. begitu pula ibu sendiri, tidak seberuntung anak-anaknya. semakin ke atas generasi kami, semakin sedikit pendidikan agama yang terkenyam. semua karena keterbatasan pengetahuan, juga karena susahnya menemukan “guru agama”, sulitnya akses terhadap pendidikan agama.

dulu waktu ibu kecil, tidak banyak TPA seperti sekarang. untuk belajar mengaji di surau, ibu harus berjalan sangat jauh di tengah kegelapan, membawa obor sambil memeluk mushaf yang usang. perjuangannya luar biasa, tidak seperti saya yang sejak kecil sampai SMA punya guru mengaji yang datang ke rumah seminggu sekali.

mendengarkan kisah ibu, saya selalu teringat akan cerita eksperimen “melempar kertas” di sebuah kelas. seorang dosen meletakkan tong sampah di depan kelas, kemudian meminta seluruh mahasiswa melemparkan bola kertas ke dalam tong–tanpa berpindah dari tempat duduk masing-masing. tentu saja, mereka yang duduk di depan lebih mudah untuk memasukkan bola, daripada mereka yang duduk di belakang. seperti itulah pendidikan, mereka yang memiliki kelebihan (atau dukungan lingkungan) berarti memiliki kesempatan yang lebih besar untuk “menang”.

kabar baiknya, kita semua–terlepas dari latar belakang keluarga kita tentang pemahaman agama–saat ini sebenarnya berada pada barisan terdepan. sungguh belajar agama dapat dilakukan di mana-mana. lingkaran-lingkaran majelis ada di mana-mana. ceramah ada di mana-mana. bahkan kita bisa belajar hanya dari ponsel kita. kita tidak perlu berjuang sekeras generasi sebelum kita, untuk mendapatkan pendidikan yang sama.

kabar buruknya, mungkin tidak sedikit dari kita, termasuk saya, yang taking these matters for granted. belajar sangat mudah, sehingga kesempatan belajar sering disia-siakan. nanti deh baca Alqurannya, kan udah bisa. nanti sajalah ikut taklimnya, besok kan ada lagi. nanti deh mendengarkan ceramahnya, sebentar lagi bisa lihat di YouTube.

salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya adalah–ketika saya sedang berada pada usia emas menghafal dan belajar, saya lebih banyak menghafal lagu-lagu Britney Spears, Westlife, Steps, dan teman-temannya daripada menghafal Alquran. jangan sampai saya menyesal dua kali, usia yang masih cukup muda ini harus dimanfaatkan untuk belajar sebanyak-banyaknya.

menjadi baik tidak pernah semudah hari ini. kalau masih susah, yang harus diperiksa adalah diri kita sendiri. mungkin selama ini kita berminat tapi belum berniat. mungkin selama ini kita berniat tapi belum cukup giat. belajar itu wujudnya satu: harus ada yang berubah dari diri kita, bertumbuh kepada kebaikan. kalau kita tidak bertumbuh, artinya kita belum belajar.

semoga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. semoga kita selalu diberikan hidayah untuk menuju kepada kebaikan, berjalan di atas kebaikan.

Sekedar Membayangkannya Saja, Ia Tidak Berani

Gadis itu dari dulu memang tak pernah berani mengatakannya. Ia simpan dalam-dalam perasaannya. Karena ia khawatir hal itu akan membuat pikiran dan hatinya meliar tanpa arah tanpa kendali.

Perasaan gadis itu memang sudah sangat  jauh. Tapi fisiknya tidak sama sekali dekat. Sebut saja, lelaki pencuri setengah hatinya–belakangan ini.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan pagi yang cerah di emperan belakang rumah. Menyiapkan kopi hangat dan sepiring pisang goreng  lalu ditambah perbincangan hangat bersama dengan lelaki itu, ia tak pernah berani sedikitpun.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan ia sedang merapalkan kalam-kalam  Allah, huruf demi huruf. Ayat demi ayat. Lembar demi lembar.  Bahkan juz demi juz, untuk disimak oleh lelaki itu. Membenarkan jika ada yang kurang benar. Sambil bareng-bareng mentadabburi kemudian diaplikasikan bersama dalam kehidupan sehari-hari, pun tak pernah berani ia coba.

Jangankan  mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berdua memuthola’ah kitab-kitab yang telah dipelajari dari kyai-kyai dan guru-guru masing-masing–yang satu membacakan kemudian yang satu mendengarkan sambil mencatat. Lalu bergantian, sambil bercanda sesekali. Samasekali ia tak berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berjalan kaki berdua ditrotoar diwaktu senja, sambil bergandengan tangan dengan harapan dosa-dosa kecil berdua akan luruh satu demi satu, tidak sama sekali ia berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Membayangkan menjadi model kamera kebanggaan si lelaki itu dengan latar belakang pantai, gunung ataupun rerumputan dilapangan saja, ia tak berani.

Intinya, gadis itu benar-benar tidak berani membayangkan akan menjadi lebih dari sekedar pertemanan biasa selama ini.

Meski kebaikan-kebaikan selama ini masih membekas. Basa-basi yang paling basi masih tertempel direlung. Canda tawa yang-meskipun tidak sering dan terkadang garing-masih terngiang. Harapan-harapan tak pasti itu masih melekat. Juga rasa yang bercampur aduk layaknya rujak dengan berbagai rasa buah.

Ia benar-benar tak ingin menelan kekecewaan atas manusia.

Lelaki yang sedari awal sudah ia prediksi akan mengusik ketenangan-ketenangannya. Lelaki yang sedari awal sudah ia duga akan membuatnya tersenyum tak mempedulikan sekitar setiap kali kebaikan si lelaki muncul secara tiba-tiba–tanpa ia nanti sebelumnya. Lelaki yang didalam doanya tak pernah absen untuk disebutkan.

Yang ia berani harapkan sekarang hanya satu. Lelaki itu memberikan kabar setiap hari. Tidak harus lewat sms atau telepon. Tidak harus lewat pembicaraan singkat. Juga tidak harus lewat titipan salam dari teman. Bisa jadi lewat semilir angin, hembusan udara malam yang dingin, air-air hujan yang turun dari langit bersama malaikat penjaganya. Juga balasan do’a-doa. Mungkin jika seperti itu bisa lebih terjaga.

Jangan tidak ada kabar, do’amu sepertinya sampai. Do’aku sampai kan?

Batinnya menyeruak lembut, sekali lagi.

anonymous asked:

Halo, sy ingin bertanya. Sy benar2 tdk tahu apa yg harus sy lakukan. Sy tau suami sy pernah smp menuentuh drugs dimasa lalunya (diawal blg hnya smp miras&sy mrs dibohongi)Awalnya sy pikir sy bisa menerimanya.Tuhan sj pemaaf. Tp trnyt hati srg menolak. Smp suatu hari, trnyt ktk sy brtnya apa pernah lbh dr drugs, dia blg dia tdk bs mnjwb.Dan itu membuat sy smkn sakit. Sakit skl mendengarnya. Apa yg hrs sy lakukan ka. Mmg kini sdh jauh lbh baik, tp ttp sll terngiang hal2 yg membuat sakit, sekali.

Bismillah. Halo anonymous. Dari cerita tersebut tentu kita semua mengetahui hikmah penting yakni mengenal latar belakang dan masa lalu dari calon pasangan sebelum kemudian dinikahi. Kalaupun dulu memilih untuk menutup mata terhadap masa lalunya, sudah seharusnya itu dilakukan secara berkelanjutan. Saat muncul godaan untuk menelusuri masa lalu seseorang, bisa jadi ada keyakinan masa kini yang goyah karenanya.

Maka, ada dua hal penting yang mungkin sebaiknya perlu kamu lakukan. Pertama, kalaulah memang ada niatan untuk mengetahui lebih masa lalu pasangan, sudah sepantasnya kamu melapangkan dada seluas-luasnya. Apalah guna penelusuran hal yang telah terjadi di masa lampau kalau realitanya malah membuatmu menyakiti diri sendiri? Bukannya kamu ingin mengetahuinya? Ambillah risiko untuk bersakit hati demi kebenaran dan kenyataan. Kalau tak sanggup, jangan mengorek masa lalunya yang kelam.

Kedua, jangan menghakimi masa kini dan masa depan seseorang berdasarkan masa lalunya. Saat kamu melakukannya, artinya kamu tengah mendakwakan seluruh kekurangan seekor ulat padahal ia telah menjadi kupu-kupu. Semua orang berhak mendapatkan hidayah, sama seperti halnya semua orang berhak untuk berhijrah. Semua orang berhak terhindarkan dari pendakwaan atas masa lalunya, sama seperti halnya semua orang pernah melakukan kesalahan yang ditutup-tutupi oleh-Nya.

Pilihannya ada padamu. Mau hidup pada masa lalunya saja atau hidup pada masa kini sekaligus masa depannya. Semoga membantu, maaf kalau ada kekurangan dan kekhilafan.

Kata Lelaki tentang Lelaki

Mungkin, beberapa dari kita mengklasifikasikan laki-laki berdasar pada apa yang mereka pahami selama ini. Ada pula karena bentukkan pertemanan atau lingkungan. Ada pula karena dari bacaan mereka.

Laki-laki tetaplah laki-laki sekalipun kita menyebutnya “ikhwan”, “akhi”, “boys”, “cowok”, dan segala jenis bentuk kata yang telah memiliki arti dalam benak masyarakat. Laki-laki baik adalah laki-laki yang baik, titik. Tidak peduli bagaimanapun bentuk kata menyebut mereka.

Jika kita hidup dalam lingkungan yang homogen. Dimana segala bentuk pemahaman yang kita anggap paling benar adalah apa yang kita terima selama ini. Mungkin kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan laki-laki baik dengan baju compang-camping yang bekerja setiap hari mengais sampah yang kita buang, demi keluarganya di rumah. Karena untuk membeli baju putih bersih seperti bentuk laki-laki idaman itu tidak akan pernah ada dalam dunia mereka. Hidup mereka sudah cukup berat untuk mencari makanan, bukan untuk menghamburkan uang demi pakaian kekinian.

Laki-laki yang bertanggungjawab adalah laki-laki yang bertanggungjawab, titik. Tidak ada definisi lainnya. Kita hidup dalam masyarakat yang beragam. Mereka yang bertanggungjawab adalah mereka yang berhasil membuat kita kagum, tidak peduli bagaimanapun bentukannya. Laki-laki yang berhasil mengejawantahkan sikap tanggungjawab menjadi perbuatan-perbuatan terpuji dalam hidupnya.

Kita terkungkung pada kata-kata. Sebuah label yang kita definisikan secara egois oleh kita sendiri, kemudian kita berikan kepada orang lain tanpa kita benar-benar tahu bagaimana hidupnya dan latar belakang yang membuatnya menjadi seperti itu.

Begitu banyak perempuan yang ingin mendapatkan laki-laki yang baik. Sayangnya, jarang yang berani memberikan pintu lebih luas tentang kebaikan-kebaikan itu agar bisa masuk ke dalam hidupnya. Kebaikan telah dipersempit menjadi sebuah amalan tertentu.

Kadang, saya khawatir tentang bagaimana sebuah diksi (pilihan kata) yang hidup di masyarakat kita menjadikan kehidupan ini tidak seimbang. Bahagia menjadi semakin sulit diraih. Dan silaturahim menjadi semakin terbatas pada sekat kata-kata.

Semoga kita selalu menjadi orang yang lebih hati-hati, lebih jeli, juga lebih terbuka dalam berlaku. Selama kita berpegang pada tali Allah (sebab saya adalah muslim), kita tentu bisa mengenali betul mana yang baik, mana yang tidak.

©kurniawangunadi | 25 Februari 2017

Buku yang tepat.

“…kamu cuma perlu ketemu buku yang tepat.”

Gitu…kata siapa ya…hahaha

Kedatangan Bapak Ibuk di rumah selalu me jadi ajang beres-beres terbesar se-Indonesia Raya. Kemarin ada beberapa tumpuk buku yang biasanya di meja kecil di sampinh sofa, Ibu tanya, “Ini taruh mana? Buku baru semua ini dek?”

Ada sekitar 4 buku, memang baru semua. Belum dibaca maksudnya wkwkwkwk.

Semua buku yang entah kapan dibelinya, asal belum dibaca, namanya buku baru aja. Wkwk.

Satu buku karena sampulnya bagus.
Satu buku karena “kata teman” bagus.
Satu buku pemberian dari seseorang.
Satu lagi aku beli sendiri karena bosan.

Semua hanya di baca beberapa halaman pertama saja.
Atau beberapa halaman depan, loncat ke tengah, kemudian langsung lihat paling akhir.

Aku emang bukan orang yang begitu suka baca buku.
Dan gak semua buku mampu menarik orang membuka tiap lembarnya, penasaran akan lembaran setelahnya. Kan?

“Kamu cuma belum nemu buku yang tepat aja.”

Kayaknya sih.

Dilan aku habiskan dalam satu kali pegangan.
Aku rela beli buku Critical Eleven lebih dari satu kali karena yang satu aku berikan ke orang.
Aku menangis di part yang sama ketika baca Sabtu Bersama Bapak bahkan untuk yang entah keberapa kalinya.

Errr…Happy Little Soul aku baca dalam satu kali pegangan dan menangis di hampir tiap babnya. Bahkan ketika membaca kata pengantar saja, udah mulai kayak ada backsound, macam di bioskop, yang menandakan film sudah akan dimulai. Eh, promosi. Wkwk.

Bacaanku memang belum begitu banyak. Mungkin banyaaaak sekali buku bagus di luar sana, hanya saja aku belum menemukannya. Atau dia belum menemukanku.

Kadang membaca buku lebih gampang ketika kita kenal siapa dibalik buku tersebut.
Kadang membaca buku lebih menarik, ketika kita tahu latar belakang atau sebab buku itu ada.
Kadang membaca buku juga bisa karena terpaksa.

Wkwk.

Kalau semisal sekarang aku sedang di toko buku, aku sedang berdiri di depan rak buku, dengan satu buku di tanganku. Buku yang aku baca langsung kebagian tengahnya.
Buku yang dulu sempat aku baca, tapi tidak kulanjutkan karena takut akhirnya mengecewakan.
Buku yang sebenarnya aku pun penasaran akan halaman selanjutnya.
Buku yang ku pegang tadi akhirnya perlahan aku bawa ke meja kasir.
Membawa buku ke meja kasir adalah keputusan yang besar.
Pertanda bahwa kamu menginginkannya. Entah karena apa alasannya.
“Baiklah, mungkin aku harus membacanya perlahan. Membacanya seksama. Duduk di rumah. Bukan sekedar membaca sambil berdiri di toko buku.”

Akankah kali ini buku yang ku bawa adalah buku yang tepat?
Akankah buku yang kali ini aku beli aku baca sampai halaman terakhirnya?

Buku yang dahulu ku kira ceritanya akan mengecewakan.
Buku yang ternyata…halaman terakhirnya pun belum ada tulisan.

Berbeda dalam Mengeja

Hari ini saya tidak membawa kotak bekal makan siang seperti biasanya karena tadi pagi pergi terburu-buru saat masakan di rumah belum matang. Saya pun menitip kepada seorang teman di kantor untuk dibelikan makan siang. Dengan bersemangatnya, ia mempersuasi saya untuk membeli bakso, katanya, “Teh, mau coba aku beliin bakso yang di dekat masjid itu engga? Itu enaaaak banget! Beda sama bakso yang biasanya anak-anak beli. Ini lebih enak. Pokoknya teteh harus coba.” Akhirnya, saya pun mengangguk setuju, “Hmm, oke, aku coba itu deh!” sambil membayangkan betapa akan enaknya makan siang saya hari ini.

Bakso pesanan saya pun datang. Masih dengan gaya semangatnya, teman saya bilang, “Teh, ini ada baksonya. Cobain cepetan, teh. Ini enak banget!” Saya pun langsung mengambil mangkuk di dapur dan makan bersama teman-teman yang lain. Setelah saya rasa-rasa, ternyata … jauh dari perkiraan! Tanpa bermaksud mencela makanan, rasanya memang sulit untuk dijelaskan hingga saya berjalan ke lemari mencari lada, garam, dan bumbu-bumbu lain yang bisa ditambahkan meski ternyata rasanya tetap tak banyak berubah. Bagaimana pun, bukan salah teman saya, hanya saya dan teman saya mengeja ‘enak’ dengan cara yang berbeda.

Ini baru soal makanan. Bagaimana dengan yang lain? Sudah tentu, manusia memiliki perbedaan cara dan persepsi dalam ‘mengeja’ sesuatu. Sebabnya bisa apa saja: pola berpikir, latar belakang, pengalaman, kebiasaan, pendidikan, keinginan, dan masih banyak yang lain-lainnya.

Tak sama. Sebab, tiap-tiap manusia mengeja rasa dengan ejaan-ejaan yang berbeda. Bagi sebagian orang, manis itu enak dan membahagiakan, tapi tidak bagi yang lain karena katanya tak ada tantangan. Bagi sebagian orang, pedas tak bisa ditinggalkan, tapi tidak bagi yang lain karena katanya rasa yang seperti itu bukanlah rasa, tapi sakit. Ah ya, dan begitulah seterusnya!

Tak sama. Sebab, manusia mengeja bahagia dengan ejaan yang berbeda, meski bisa saja serupa. Sebagian orang mengeja bahagia sebagai kelimpahan harta, tapi, di sisi lain, yang hanya punya beberapa lembar uang dalam koceknya ternyata seringkali lebih bahagia. Ada orang-orang yang mengeja bahagia sebagai kepemilikan pencapaian yang luar biasa, tapi, di sisi lain, orang-orang yang hidup dalam kebijaksanaan dan kesederhanaan seringkali jauh lebih bahagia. Hmm, dan begitulah seterusnya!

Manusia selalu berada dalam ruang persepsinya masing-masing. Tapi, apakah semua hal boleh kita eja dengan cara yang berbeda-beda? Apakah semua hal mendasar boleh bebas kita definisikan sekehendak hati kita? Tidak, sahabatku! Banyak hal dalam hidup ini yang tak bisa kita definisikan sendiri, sebab standar-Nya ada di puncak tertinggi, tempat dimana kita bisa mencari referensi tentang segala benar-salah, baik-buruk, juga boleh-tidak boleh. 

Sahabatku, standar utama kita semua sama, yaitu apa yang disampaikan-Nya dalam Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah dalam sunnah, bukan rasa-rasa yang ada di dalam hati. Bagaimana pun, ibadah adalah tentang iman, bukan tentang perasaan. Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Memudahkan, maka mudahkanlah kami untuk dapat mengeja iman dengan cara yang benar, yaitu dengan ketaatan, bukan dengan perasaan.

“Nov, melaksanakan ibadah itu bukan soal perasaan, bukan soal suka-tidak suka pada perintah-Nya, hingga membuatmu mengerjakannya jika suka dan meninggalkannya jika tidak suka. Ini semua tentang bagaimana kamu mengupayakan ketaatan, di luar batas-batas ruang perasaan.” - DM

Sebelum Nanti Saat Itu Datang

Sebelum nanti saat itu datang, tentu aku harus tahu dulu kenapa alasanku untuk seserius itu untuk mendatangimu, memintamu dengan seutas janji yang akan kubela sampai mati. Dari sekian ribu kali pergolakan pikiran dan batin, tentu derap langkah menujumu nanti adalah sebuah pertaruhan sekaligus pengorbanan yang rasanya tak ingin kuulang lebih dari sekali. Cukuplah kau, sekali untuk selamanya, kiranya. 

Tapi, apa alasan kuatku untuk memilihmu? 

Adalah yang kurasa selama ini, bahwa aku harus lebih dulu benar-benar mengenali diriku sekaligus juga mengenali dirimu. Mengenali kedua bentuk dalam dimensi yang berbeda, menyelaraskan spektrum perspektif dari diri kita yang tentunya juga tak berasal dari latar belakang yang sama akan jadi tugas yang tidak mudah. Menggali fakta tentang diriku maupun dirimu tentu akan menjadi landasan terkuat yang dapat kukawinkan dengan intuisiku nanti, hingga suatu saat semua harapan itu dapat terjadi ketika semesta sudah merestui. 

Sungguh, tidak mudah mengenali diri sendiri. Butuh beberapa kali aku meyakinkan hati, bahwa memang suatu saat aku takkan bisa berlama-lama hidup sendiri. Sebagaimanapun aku bertahan, beranjak, hingga melompat sekalipun, akan selalu ada titik buta yang menjadi pusat kelemahanku. Yang kurasakan betul kalau kelemahan itulah yang entah kenapa selalu kulakukan berulang-ulang karena aku tak dapat mengontrol diriku sendiri. Karenanya, aku butuh seseorang yang dapat meluruskanku kembali, yang dapat melihat dengan jelas dimana posisi titik buta itu berada sehingga aku takkan lagi terjerembab di kejatuhan yang sama. 

Disitulah mula dimana nanti aku akan menceritakannya pada seseorang yang kiranya betul-betul kupercayai. Tahukah, menceritakan kekurangan diri sendiri itu tidak mudah. Alih-alih serampangan mengatakannya pada seseorang, maka harga diri bisa terjun bebas, hancur tak berbekas. Naluriahnya, siapa kiranya orang yang rela secara eksplisit menceritakan kelemahannya? Entah, mungkin tidak ada, kecuali pada orang yang betul-betul dipercayainya. Bahkan, bukan hanya sekedar jadi orang terpercaya saja, melainkan juga orang itu harus dapat menjadi penglipur lara. Bukankah begitu?

Ya. Harapanku, semoga orangnya itu kau. Ketika aku tahu betul bahwa kau dapat membantuku untuk jadi manusia yang lebih baik lagi. Kalau memang betul itu dirimu, tak usah lagi kau ragukan aku untuk nantinya juga akan membantumu, memahami apa kekuranganmu, sehingga pada akhirnya tersenyum ketika mengetahui apa alasan terbaikmu untuk mau menerimaku. 

Disalah kita dapat saling melengkapi. Juga, karena itulah alasan kita untuk nanti saling mencintai. 

Semoga.

Akal

hari ini sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Tapi pas di twitter nemu obrolan dengan topik bagus.

sering banget sih ada yang nanya, sebatas apa akal diizinkan untuk digunakan dalam beragama?

Akal, nafsu, hati dan indera itu semuanya alat yang dikasih Allah buat kita. Tentunya semua harus dimanfaatkan sesuai fitrahnya. Tulisan ini mungkin nggak sesuai judul. Saya cuma pengen sharing untuk nambah wawasan.

Tadi temen saya ada yang bilang kalo era emas keilmuan islam ada di Dinasti Abbasiyah. Di lain waktu, ada temen saya yang lain bilang kalo Islam di era Dinasti Umayyah itu jumud. Setelah ngobrol lama, keluarlah anggapan….

Dinasti Abbasiyah maju karena berani berfilsafat dan membebaskan akal. Sementara Dinasti Umayyah itu nggak maju karena jumud, konservatif dan tidak mengizinkan akal berperan.

Apakah benar demikian? tunggu dulu.

Tiap peradaban itu punya budaya dan corak keilmuan masing-masing. Kalo kita runut, di antara empat imam madzhab yang kita kenal, dua orang aktif di era dinasti Umayyah (Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah). Dua orang lagi aktif di era dinasti Abbasiyah (Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’i).

Kalau kita menilik fatwa beliau semuanya, kita akan menemukan corak yang berbeda. Imam Malik, bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Kalau dalil mengenai perkara tersebut tidak ditemukan, beliau akan mengatakan “Aku tidak tahu”. Sementara Imam Syafi’i bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Bila tidak ditemukan, beliau akan mengqiyaskan dengan dalil yang ada hingga terbentuklah suatu ijtihad.

Ustadz Salim A Fillah pernah menjelaskan hal yang mendasari perbedaan cara berfatwa Imam Syafi’i dan Imam Malik. Imam Malik hidup di Madinah di era tabi’in. Beliau dekat dengan sumber ilmu tentang Al Qur’an dan Hadits. Jadi kalau ditanya tentang suatu perkara, referensi beliau banyak.

Pas di twitter saya nyebut Imam Syafi’i lahir di Irak dan sewaktu besar, hijrah ke Mekkah. Tapi saya tiba-tiba keinget tentang kisah Imam Syafi’i yang ditanya tentang tafsir hadits “Biarkan burung tetap pada sarangnya”, saya jadi agak rancu. Bagaimana Imam Syafi’i yang besar di Irak memahami tradisi Quraisy?

Pas saya cek catatan saya lagi, ternyata Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Makkah kemudian aktif di Baghdad. Di Baghdad beliau produktif berkarya Karya-karya beliau selama di Baghdad kita kenal dengan Qoul qodim. Selanjutnya beliau pindah ke Mesir, di sana beliau terus memperbarui karya beliau. Fatwa yang dikeluarkan di Mesir ini kita kenal sebagai Qoul Jadid.

Imam Syafi’i dikenal sebagai Ahli Ra’yu. Ketersediaan referensi di Baghdad semasa Imam Syafi’i aktif tidak sebanyak di Makkah atau Madinah sehingga kondisi ini menuntut beliau untuk lincah berijtihad.

Tapi kita perlu tahu bahwa Imam Syafi’i adalah keturunan suku Quraisy sehingga beliau sangat mengenal budaya Quraisy yang menjadi latar belakang asbabun nuzul Al Qur’an dan Asbabul Wurud sebuah hadits. Beliau juga sudah hafal kitab Al Muwatha sebelum usia 9 tahun. Di usia 15 tahun beliau sudah dinilai layak memberi fatwa. Maka akal imam syafi’i adalah akal yang sangat mumpuni untuk berijtihad.

Kita cuma muqollid, nggak sampe di level ijtihad ~XD Pencarian kita tentang hokum suatu perkara masih harus mereferensi pandangan ulama. Tidak bisa langsung dari Al Quran dan Hadits.

Kalo ada yang bilang ulama di era Dinasti Umayyah konservatif sebenernya nggak juga. Di era tersebut, tantangannya berbeda dengan era Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah itu dekat dengan era khulafaur rasyidin. Masih banyak sahabat dan tabiin. Penyakit ummat masih didominasi perkara cinta dunia. Maka karya ulama di era itu beberapa berkaitan dengan Tazkiyatun Nafs.

Di era Dinasti Abbasiyah, Islam banyak bersentuhan dengan budaya luar termasuk budaya Yunani yang punya banyak filusuf. Wajar kalau akhirnya bermunculan ilmuwan islam yang menulis karya tentang filsafat dan ilmu sosial. Bukan karena ilmuwan kita genit untuk ikut-ikutan pemikiran para filusuf Yunani. Tapi karena ilmuwan kita merasa wajib menjawab tantangan zaman dimana.

Salah satu karya filsafat yang terkenal adalah Hayy bin Yaqdzan yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Hayy bin Yaqdzan berbicara tentang proses belajar dari seseorang yang terisolasi dari dunia luar. Orang yang suka filsafat dan baca novel ini, pasti bakal langsung membandingkan dengan pemikiran Plato dan Aristoteles.

Saya sempet su’uzon dan mikir kalo ulama di era abbasiyah ini mungkin hidup di zaman yang nyaman jadi tidak ada masalah yang dipikirkan makanya kajiannya merembet ke filsafat. Tapi ternyata tidak demikian.

Di era Abbasiyah banyak bermunculan faham-faham yang keliru. Muta’zilah dan Jabbariyah juga subur di era Abbasiyah. Imam Ahmad bahkan pernah dipenjara dan disiksa oleh khalifah Al Watsiq Billah karena waktu itu sang Khalifah menganut faham muta’zilah sementara Imam Ahmad menolak faham tersebut.

Muta’zilah itu faham yang menganggap Al Qur’an sebagai makhluk sehingga bisa bisa salah dan bisa pula benar. Mirip liberal zaman sekarang yang menganggap Al Quran sebagai produk budaya.

Kita diizinkan untuk mengkritik tafsir seseorang tentang Al Qur’an, dengan catatan kita punya bekal yang memadai dari segi wawasan serta kita menggunakan metode tafsir yang sesuai. Namun kita tidak diizinkan mengkritik ayat Al Qur’an karena syahadat mengandung konsekuensi untuk beriman pada Al Qur’an sepenuhnya. Tafsir manusia bisa salah. Sementara ayat Al Qur’an tidak.

Liberalisme dan mutakzilah menempatkan akal di atas Al Qur’an. Di titik ini, mutakzilah dan liberalism mirip. Tapi kalo di zoom out lagi akan terlihat perbedaannya.

Dari narasi ini, kita tentu bisa dapat gambaran bahwa di dinasti Abbasiyah yang kita anggap lebih maju dari dinasti Umayyah sebenernya bukan karena ulama Abbasiyah mampu menggabungkan akal dengan wahyu sementara ulama di era dinasti Umayyah tidak. Kalo kita lihat dari sudut pandang lain, tantangan dari sisi Aqidah dan pemikiran itu tumbuh subur di era Abbasiyah, bisa ditarik mundur pula tentang kemungkinan di era itu ada banyak ummat Islam yang belum memahami agamanya sehingga tergoda untuk belajar pemikiran di luar Islam lalu ulama kita bekerja keras untuk meluruskannya.

Di titik ini kita mungkin akan bingung menyimpulka, dinasti Abbasiyah itu sebenernya “maju dari sisi sains?” atau “mundur dari sisi akidah?”. Tidak usah dipusingkan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk luwes dengan zaman namun tetap memegang teguh aqidah kita.

Karya ulama banyak dibuat untuk menjawab tantangan ummat di eranya. Di Era Abbasiyah, kita mengenal Ibnu Rusyid atau Averroes (seorang filusuf, hakim sekaligus fisikawan), Ibnu Sina atau Avicena (seorang filusuf sekaligus dokter), Ibnu Khaldun (Sosiolog, Antropolog dan Ahli Ilmu Politik) serta Khalifah Harun Al Rasyid dengan baitul hikmahnya.

Khalifah Harun Al Rasyid ini memimpin tepat setelah Al Watsiq Billah. Kalau Al Watsiq menganut pemikiran mutakzilah dan menyiksa ulama yang bersebarangan, Harun Al Rasyid sangat menghormati ilmu dan ulamanya. Baitul Hikmah adalah prototype universitas di zaman sekarang. Ia merupakan tempat diskusi tentang ilmu.

Kita perlu belajar sejarah sebab ada pepatah yang bilang: “Tidak ada hal yang baru di bawah matahari”

Tantangan ummat di setiap zaman bisa berulang. Dengan mengetahui sejarah, kita akan belajar bagaimana cara menghadapi zaman ini.

Di era milenial ini, budaya kita melahirkan banyak bentuk muamalah yang baru sehingga ulama fiqih harus lincah mengkaji hal-hal kontemporer. Di sisi lain, ada banyak -isme di luar islam yang menuntut kita membedahnya sampai dalam. Selain itu….kita juga punya pilihan belajar sains untuk merancang teknologi yang memudahkan ummat.

Ada banyak ladang amal yang menunggu kita untuk berperan. You choose.

NB: tulisan ini hanyalah gambaran helicopter view yang kalau di zoom out mungkin saja kita menemukan anomali yang berbeda. Mari belajar.

Cerpen: The Way I Lose Her

Hai gaes..
What up~

Awalnya gue nggak pernah nganggep bahwa tumblr ini adalah sebuah blog, karena dari segi fitur dan efisiensitas, tumblr kayaknya lebih cocok disebut sebagai sosial media dan lebih menarik ketimbang blog dan wordpress.

Tapi, berhubung dulu gue sempet iseng menulis sebuah cerita pendek perihal latar belakang tumblr ini dalam sebuah cerpen yang berjudul, “My Beautiful Mistake” akhirnya gue jadi agak senang menulis tentang apa yang telah gue laluin semasa SMA hingga Kuliah kemarin.

Nggak berhenti begitu saja, gue yang emang pada dasarnya cuma iseng ngisi waktu sambil nulis akhirnya memotong beberapa kejadian-kejadian kecil di masa SMA dan Kuliah pada satu kesatuan cerita yang nggak terlalu spesifik. Seperti pada cerpen “Hujan Kala Itu” Dan “Sedekat Detik dan Detaknya”

Namun, entah kenapa rasa-rasanya jadi asik aja nulis kembali pecahan-pecahan cerita yang emang sebenarnya lucu kalau gue inget-inget lagi. Betapa tololnya gue yang dulu, betapa nggak pekanya gue yang dulu, betapa sering patah hatinya gue yang dulu, dan masih banyak lagi.

Maka dengan hadirnya cerpen “The Way I Lose Her” ini, semoga itu bisa menjadi penghubung cerita cerpen-cerpen sebelumnya. Dan semoga juga bisa menjawab dari beberapa pertanyaan-pertanyaan perihal Geby, Laras, Nala, Ikhsan, dan seluruh peran yang pernah datang, berteduh, lalu kemudian pergi lagi. 

So, this is “The Way I Lose Her” index..

  1. [TWILH: Tulisan Satu] -> Pilot: Im Adult
  2. [TWILH: Tulisan Dua] -> School At First Sight
  3. [TWILH: Tulisan Tiga] -> Ibu
  4. [TWILH: Tulisan Empat] -> Gue Bosnya Di Sini
  5. [TWILH: Tulisan Lima] -> Judgment Day
  6. [TWILH: Tulisan Enam] -> Happy Hunting
  7. [TWILH: Tulisan Tujuh] -> Gue Salah Apa Kak?!
  8. [TWILH: Tulisan Delapan] -> Atribut Seragam
  9. [TWILH: Tulisan Sembilan] -> Perihal Dada
  10. [TWILH: Tulisan Satu Nol] -> Boys Talk Part 1
  11. [TWILH: Tulisan Satu Satu] -> Boys Talk Part 2
  12. [TWILH: Tulisan Satu Dua] -> Ular Tangga
  13. [TWILH: Tulisan Satu Tiga] -> Mrs. Curiosity
  14. [TWILH: Tulisan Satu Empat] -> I Hate Her So Much!
  15. [TWILH: Tulisan Satu Lima] -> Is That You?
  16. [TWILH: Tulisan Satu Enam] -> Do You Remember Me?
  17. [TWILH: Tulisan Satu Tujuh] -> Di Antara 2 Hati
  18. [TWILH: Tulisan Satu Delapan] -> Tanda Tanya
  19. [TWILH: Tulisan Satu Sembilan] -> Game On
  20. [TWILH: Tulisan Dua Nol] -> Pass The Ball!
  21. [TWILH: Tulisan Dua Satu] -> You Hear Me Wisely. I Love It
  22. [TWILH: Tulisan Dua Dua] -> Kamu Dimana?
  23. [TWILH: Tulisan Dua Tiga] -> Who Are We?
  24. [TWILH: Tulisan Dua Empat] -> Shock Therapy
  25. [TWILH: Tulisan Dua Lima] -> Ikhsan
  26. [TWILH: Tulisan Dua Enam] -> Sad-True-Day Night
  27. [TWILH: Tulisan Dua Tujuh]-> Did I Ask Too Much?
  28. [TWILH: Tulisan Dua Delapan] -> I’m Giving Up On You
  29. [TWILH: Tulisan Dua Sembilan]-> Pertanyaanku
  30. [TWILH: Tulisan Tiga Nol]-> Matematika Buku Cetak Hal.17
  31. [TWILH: Tulisan Tiga Satu]-> Choice
  32. [TWILH: Tulisan Tiga Dua]-> Last Hug
  33. [TWILH: Tulisan Tiga Tiga]-> Gentleman Dignity’s
  34. [TWILH: Tulisan Tiga Empat]-> Keluarga Cemara
  35. [TWILH: Tulisan Tiga Lima]-> Fix The Broken
  36. [TWILH: Tulisan Tiga Enam]-> Welcome To My Humble Home
  37. [TWILH: Tulisan Tiga Tujuh]-> How I Met Everyone Else
  38. [TWILH: Tulisan Tiga Delapan]-> Truth or Dare
  39. [TWILH: Tulisan Tiga Sembilan]-> Pickup Lines
  40. [TWILH: Tulisan Empat Nol]-> Big Day
  41. [TWILH: Tulisan Empat Satu]-> Boyfriend
  42. [TWILH: Tulisan Empat Dua]-> Confession
  43. [TWILH: Tulisan Empat Tiga]-> On My Way
  44. [TWILH: Tulisan Empat Empat]-> I’m Belong To You
  45. [TWILH: Tulisan Empat Lima]-> One Special Night
  46. [TWILH: Tulisan Empat Enam]-> Centrum
  47. [TWILH: Tulisan Empat Tujuh]-> Karate. Fight!
  48. [TWILH: Tulisan Empat Delapan]-> Ten Sessions of Cakwe
  49. [TWILH: Tulisan Empat Sembilan]-> Tempur Sepekan
  50. [TWILH: Tulisan Lima Nol]-> Pertempuran Hati
  51. [TWILH: Tulisan Lima Satu]-> Remedial Day
  52. [TWILH: Tulisan Lima Dua]-> Pamer Kebodohan Part 1
  53. [TWILH: Tulisan Lima Tiga]-> Pamer Kebodohan Part 2
  54. [TWILH: Tulisan Lima Empat]-> Hantu Usus Kucing
  55. [TWILH: Tulisan Lima Lima] -> Half Semester, Half Heart
  56. [TWILH: Tulisan Lima Enam]-> Stranger By The Day
  57. [TWILH: Tulisan Lima Tujuh]-> Something Blue
  58. [TWILH: Tulisan Lima Delapan]-> The Hardest Part
  59. [TWILH: Tulisan Lima Sembilan]-> Why We Dont’ Talk
  60. [TWILH: Tulisan Enam Nol]-> Bad Feeling
  61. [TWILH: Tulisan Enam Satu]-> Backstage
  62. [TWILH: Tulisan Enam Dua]-> End of Story
  63. [TWILH: Tulisan Enam Tiga]-> Boys Don’t Cry
  64. [TWILH: Tulisan Enam Empat]-> Escape Plan
  65. [TWILH: Tulisan Enam Lima]-> Transisi
  66. [TWILH: Tulisan Enam Enam]-> Job Description
  67. [TWILH: Tulisan Enam Tujuh]-> Home (not) Sweet Home
  68. [TWILH: Tulisan Enam Delapan]-> Awkward Moment
  69. [TWILH: Tulisan Enam Sembilan]-> Museum Rusuh! Part 1
  70. [TWILH: Tulisan Tujuh Nol]-> Museum Rusuh! Part 2
  71. [TWILH: Tulisan Tujuh Satu]-> Museum Rusuh! Part 3
  72. [TWILH: Tulisan Tujuh Dua]-> Museum Rusuh! Part 4
  73. [TWILH: Tulisan Tujuh Tiga]-> Matematika Buku Cetak Return
  74. [TWILH: Tulisan Tujuh Empat]-> Crazy Afternoon
  75. [TWILH: Tulisan Tujuh Lima]-> Cloudy
  76. [TWILH: Tulisan Tujuh Enam]-> The Woman I Love
  77. [TWILH: Tulisan Tujuh Tujuh]-> Please, Don’t Tell Her
  78. [TWILH: Tulisan Tujuh Delapan]-> Gloomy October
  79. [TWILH: Tulisan Tujuh Sembilan]-> What Men Must Do.
  80. [TWILH: Tulisan Delapan Nol]-> Hujan di Bulan Oktober
  81. [TWILH: Tulisan Delapan Satu]-> Pelangi di Bulan Oktober
  82. [TWILH: Tulisan Delapan Dua]-> Start From Here…
  83. [TWILH: Tulisan Delapan Tiga]-> Dimas’s Boys
  84. [TWILH: Tulisan Delapan Empat]-> 1 Day Before Disaster
  85. [TWILH: Tulisan Delapan Lima]-> She’s On Her Way
  86. [TWILH: Tulisan Delapan Enam]-> Disaster Begin
  87. [TWILH: Tulisan Delapan Tujuh]-> Sibuk Sibuk Sibuk
  88. [TWILH: Tulisan Delapan Delapan]-> Princess Diaries
  89. [TWILH: Tulisan Delepan Sembilan]-> White Flag
  90. [TWILH: Tulisan Sembilan Nol]-> Hanifah’s
  91. [TWILH: Tulisan Sembilan Satu]-> Wrong Side of Heaven
  92. [TWILH: Tulisan Sembilan Dua]-> Promise, I Won’t
  93. [TWILH: Tulisan Sembilan Tiga]-> Ngamen!
  94. [TWILH: Tulisan Sembilan Empat]-> Tim Hura-Hura v.s Tim Tuan Putri
  95. [TWILH: Tulisan Sembilan Lima]-> Countdown
  96. [TWILH: Tulisan Sembilan Enam]-> Final Countdown
  97. [TWILH: Tulisan Sembilan Tujuh]-> Broken Vow
  98. [TWILH: Tulisan Sembilan Delapan]-> Dana Usaha
  99. [TWILH: Tulisan Sembilan Sembilan]-> Filosofi Donat
  100. [TWILH: Tulisan Satu Nol Nol!]-> The Legend of Teh Kotak - Help Him or Help Her
  101. [TWILH: Tulisan Satu Nol Satu]-> The Legend of Teh Kotak - Especially For You
  102. [TWILH: Tulisan Satu Nol Dua]-> The Legend of Teh Kotak - Déjà Vu
  103. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tiga]-> The Legend of Teh Kotak - … End in Here
  104. [TWILH: Tulisan Satu Nol Empat]-> The Legend of Teh Kotak - Kembali ke Titik Awal
  105. [TWILH: Tulisan Satu Nol Lima]-> The Legend of Teh Kotak - Nona Teh Kotak vs Putri Aqua
  106. [TWILH: Tulisan Satu Nol Enam]-> Berdua Saja
  107. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tujuh]-> A Night To Remember
  108. [TWILH: Tulisan Satu Nol Delapan]-> A Night To Remember (2)
  109. [TWILH: Tulisan Satu Nol Sembilan]-> Almost Is Never Enough
  110. [TWILH: Tulisan Satu Satu Nol]->Stand Tiket
  111. [TWILH: Tulisan Satu Satu Satu]-> Catastrophic Morning
  112. [TWILH: Tulisan Satu Satu Dua]-> Falling In Love With People We Can’t Have

I know sometimes people said that’s my life is full of surprise and so fantastic. But you know? That’s bullshit.. it’s not easy to be me.

MUROTTAL KARYA (19/02)

(In Frame, @hiperbolakata @miftahulfikri @eleftheriawords @dimazfakhr @ourmetime)

Pagi kawan-kawan Bandung. Dalam postingan kali ini, kami selaku rekan-rekan panitia Murottal Karya ingin memberikan review tentang acara yang telah diselenggarakan dengan penuh bahagia kemarin.

Acara yang berjalan sejak pukul 10 pagi di Taman Fotografi, Bandung itu di awali dengan berkumpul bersama membentuk lingkaran agar lebih akrab. Sebelumnya pun para peserta maupun panitia saling berkenalan antara satu dan yang lainnya.

Setelah MC @miftahulfikri datang, acara kemudian dibuka oleh ketua acara Murottal Karya yaitu ibu @rinaaha

Bapak @miftahulfikri memperkenalkan diri dan mempersilakan para peserta yang lainnya untuk memperkenalkan diri juga. Nama, serta nama akun Tumblr-nya jika punya. Setelah selesai saling berkenalan satu dan yang lainnya, maka sekarang giliran bapak Fikri untuk memperkenalkan para Tamu Pembicara. Yang pertama melakukan ceramah singkatnya kali ini adalah mas @dimazfakhr

Tema yang diambil oleh mas Dimas kali ini adalah tentang bagaimana membuat karyamu menjadi dikenal di dunia maya dan mengubah sebuah hobby menjadi sesuatu yang menghasilkan uang. Sesi pertama berjalan cukup lama disambung dengan tanya jawab di tengah acara. Para peserta terlihat begitu antusias ketika mas Ganteng ini berbicara. Brewok dan Jambangnya bikin para Ukhti jadi lepas fokus.

Mas Dimas tidak lupa membahas tentang hal-hal sensitif yang sering terjadi di hidup kita juga seperti salah jurusan atau mengikuti pilihan orang tua padahal kita tidak minat di bidang itu. Dengan ciamiknya, mas Dimas berhasil memberikan tips and trick bagaimana bertahan di bidang yang tidak kamu suka hanya karena itu pilihan orang tuamu. Dan bagaimana cara menjadikan apa yang selama ini diragukan oleh orang-orang yang kamu percaya itu, menjadi sesuatu yang mereka puji-puji nantinya.

Dengan sesi tanya jawab yang cukup panjang, akhirnya bincang-bincang pertama hari itu di tutup tepat ketika Adzan Dzhuur berkumandang. Pak Fikri selaku MC memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menunaikan ibadah Sholat maupun untuk makan siang terlebih dahulu.

Acara dilanjutkan lagi pukul setengah satu siang. Ketika cuaca taman Bandung sedang adem-ademnya, kini pembicara selanjutnya malah jauh lebih HOT. Siapa lagi kalau bukan abang brewok Syahid Muhammad a.k.a iid a.k.a @eleftheriawords

Seperti apa yang pak Fikri lakukan di awal, beliau juga tidak lupa untuk memperkenalkan mas Iid terlebih dahulu mengenai latar belakang dan calon tema yang akan dibicarakan olehnya.

Para wanita langsung terpana begitu mas Iid mulai berbicara dengan tema Traveling. Dalam ceramah singkatnya, mas Iid juga tidak tanggung-tanggung untuk membagikan seluruh pengalamannya. Tentang baik buruknya travelling. Tentang jalan-jalan dengan uang yang seadanya.

Tidak lupa, mas Iid juga memberikan beberapa motivasi kepada teman-teman yang lain terutama tentang keberanian untuk melangkah, melakukan perjalanan, bergerak ke tempat baru, mengalahkan ketakutan, dan beberapa tanggapannya tentang Introvert yang ingin jalan-jalan sendirian.

Sesi pembicaraan mas Iid ditutup dengan sedikit tanya jawab dan shareing dari para peserta juga mengenai pengalaman pribadi travelingnya. Kemudian sebelum acara ditutup oleh MC, ibu Rina selaku ketua acara memberikan sebuah kenang-kenangan berupa sertifikat kepada dua pembicara ganteng kita ini.

Dengan mengucapkan Hamdallah, akhirnya acara Murottal karya resmi ditutup. Terima kasih kepada seluruh peserta, panita, pembicara, anak kucing, mbak-mbak kasir Morning Glory yang ngizinin untuk ikut sholat, beserta seluruh pihak yang membantu jalannya acara ini.

Sampai jumpa di acara Cerita Bandung selanjutnya!!

Mengelola Sikap (1)

Barusan saya membaca tulisan seorang kawan dengan judul Hari Berduka Akhwat Nasional. Yang menjadi latar belakang gagasan ini adalah momen ‘hari jadi’ dua seleb Hafidz internasional, Fatih dan Muzammil. Di mana banyak kita temukan emoticon menangis dan hati retak bermunculan di kolom-kolom komentar salah satu akun mereka. “Patah hati Ade, Bang”, “Duh, kok sakit ya?” kira-kira begitu ungkapannya.

Meski sebagian pembaca menilai tulisan tersebut berkesan berlebihan dan seakan semua akhwat melakukan demikian. Namun menjadi catatan bagi para perempuan, akhwat atau ikhwit, ini bukan saja perihal ‘status’, tapi juga bagaimana kita menerapkan pesan Nabi, dan berkatalah dengan perkataan baik atau diam.

Mungkin maksud hati bercanda. Toh, media maya di sebagian kalangan menjadi tempat seru-seruan. Tidak pandang peduli siapa yang menilai. Kembali lagi saya jadikan ini catatan bagi kita perempuan, seberapa penting menampakkan kepatahan, kelukaan, kekecewaan di hadapan mereka, dan mengorbankan kemuliaan kita sebagai wanita?

Percayalah rasa yang kita anggap suka hanya sampai pada batas kekaguman. Kagum dengan nilai-nilai baik yang mereka sampaikan. Bukan berarti kita mau atau siap mendampingi perjuangan selanjutnya. Dan nilai-nilai itu yang kemudian harusnya kita kagumi sebagai wasilah mencintai kebaikan.

Demikian rasa yang kita kira sayang. Jika kita meraba dasar rasa, semua berlandas kepedulian akan orang-orang baik. Orang-orang yang menginspirasi kita. Mereka yang mungkin mengubah putus asa kita menjadi harapan, hampa menjadi cahaya, penat menjadi semangat, pada mereka yang menunjukkan kita kepada jalan kerahmatan, tentu manusiawi jika kita tak ingin kehilangan. Namun bukan kemudian kita sanggup hidup menemani masa tuanya. Apalagi menampakkan kesakitan hati yang sebetulnya tak bernanah.

Allah sering menjawab permintaan hamba bukan pada keinginannya. Seperti kisah Hajar yang berupaya penuh mencari air di antara Shafa-Marwah, tapi Allah justru mengucurkannya dari pasir tempat kaki mungil Ismail berpijak. Begitu pula pada kebaikan, tak mengharuskan berbalas dari tempat kebaikan itu kita benih. Allah semaha luas rahmatnya menyiapkan beribu pintu dan tangan sebagai jalan balasan kebaikan-kebaikan. Hanya perlu yakin demi yakin meyakininya.

Jika kita mengaku sayang fillah kepada mereka, lantas mengapa duka? Sepatutnya kita senang menerima kabar gembira serta merajutkan doa-doa agar berbalas segala kebaikan yang selama ini mereka sampaikan dengan sebaik-baik balasan, salah satunya mempertemu-satukan mereka dengan pasangan yang baik. Dan semoga Allah berkahi.

Kembali pada reaksi kita sebagai perempuan di media sosial, setelah meraba perasaan sebenarnya, cukupkan kejujuran rasa itu pada doa. Jika memang sakit, adukan pada Allah Pembolak-balik hati. Tidak perlu mengumbarnya di khalayak umum. Di samping menyingkap kehormatan kita, lalu bagaimana jika pesan tersebut sampai kepada mereka? Walau bisa jadi mereka tak peduli, mendoa keberkahan bagi mereka jauh lebih baik dari pada mengaku patah. Toh pengakuan itu tetap tak akan mengubah keputusan yang bahkan permusyawarahannya melibatkan Tuhan.

Saya pribadi bukan perempuan sempurna dan masih jauh dari kata sholihah. Tulisan ini juga tak lain sebagai renugan diri. Semoga Allah terus menguatkan hati para wanita, menjaga perasaan sayang-sayang mereka, dan membimbing kepada kesantun-anggunan lahir dan jiwa.


|| Keterbatasan, 040717

[REMAKE]

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Oleh: Salim A. Fillah

“Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman Ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya, “Masya Allah,” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!” Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar di baliknya dan bergumam, ”Demi Allah, benarlah Dia dan Rasul-Nya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki. ‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah Bani Makhzum nan keras dan Bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawabdan ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.“ ‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki”

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga Bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman senantiasa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman.

Rasa malulah yang menjadi akhlak cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah dan dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas. “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasihat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat, tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasihat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan, tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu, teapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar,” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai, dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaannya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Namun caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, pahamilah dalam-dalam tiap pribadi.

Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi, tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya. Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah.

“Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran.”

hadapi sebisanya

dulu gue berharap jadi orang yang bener-bener tertata. Hidup dengan schedule yang baik. Seperti temen-temen gue yang sudah merencanakan kesuksesan.

but this life is just like a roller coaster. Apa yang gue rencanakan selalu meleset. Dan kebaikan-kebaikan lain justeru hadir tanpa diduga.

Senin kemarin adalah hari ketiga gue insomnia. 72 jam tapi tidurnya cuma 4 jam. Kepala gue migrain. Akhirnya belom berani iktikaf karena takut ngedrop. Alhamdulillah target khatam sudah selesai. Jadi ga gupuh.

Selasa malem, kelelahan gue sebenernya udah sampe puncak. Tapi tiba-tiba ada ajakan bikin proposal PUPT yang ga bisa gue tolak dan deadlinenya mestinya hari ini. Gue nyetok 2 tuna puff dan susu buat sahur. Qadarullah gue malah ketiduran dari jam 1 sampe jam 3. Ba’da subuh sampe jam 8. Kalo ditotal udah 6 jam. Cukup banget. Tapi badan masih lemes.

Hal yang gue syukuri sekaligus ketar ketir karena pas gue bangun, proposal baru sampe latar belakang.

Pas ngecek WA dan ngelihat pesen dari temen yang ngajak bikin proposal, gw langsung ngerasa bersalah dan mikir macem-macem. Pas dibuka ternyata isinya:

“Alhamdulillah, deadline diundur lagi jadi tanggal 6. Selamat mudik dengan tenang :)″

Then otak gue tiba-tiba ngerasa dapet penjelasan:

hadapi sebisa kamu. Rezeki itu urusan Allah”

Minggu lalu Tumblr ngobrol dengan Stefani Bella, penulis buku “Sebatas Mimpi”. Buku yang bercerita tentang harapan, kebahagiaan dan cinta itu berawal dari posting-posting Tumblr-nya. Selamat membaca!

Tumblr – Halo Stefani! Ceritakan sedikit tentang dirimu.

Stefani – Halo. Aku biasa dipanggil Stefani atau Belle, tapi, pengikut Tumblr lebih mengenalku dengan nama hujanmimpi atau Janpi. Bulan Mei 2017 ini usiaku tepat 21 tahun. Aku sudah lulus kuliah dan saat ini bekerja di perusahaan swasta di Tangerang.

T “Sebatas Mimpi” berkisah tentang apa?

S – "Sebatas Mimpi" berkisah tentang perjalanan seseorang yang memiliki impian dan cita-cita. Dalam mewujudkannya, ia menghadapi banyak kendala, mulai dari disepelekan oleh lingkungan sekitar, diremehkan oleh teman-teman, hingga dihabisi oleh rasa kepercayaan diri sendiri. Buku ini berisikan kumpulan prosa liris dan kutipan singkat. Beberapa di antaranya berasal dari posting Tumblr-ku yang telah disunting. Mungkin untuk beberapa pembaca, buku ini hanya tentang kisah cinta, tapi sebetulnya lebih daripada itu. Ada banyak pesan tentang kehidupan yang dapat diambil darinya.

T – Bagaimana proses perjalanan posting-posting Tumblr-mu hingga akhirnya menjadi buku?

S – Pada akhir tahun 2016, salah satu penerbit besar di Indonesia melalui editornya, Kak Ry Azzura, mengajakku untuk membukukan tulisan-tulisanku yang selama ini hanya kutampilkan di Tumblr. Aku mulai menulis di Tumblr dengan nama @hujanmimpi pada tahun 2014. Alhamdulillah sekali aku mendapatkan kesempatan untuk dipinang langsung oleh penerbit besar. Tapi bagiku, menerbitkan buku karena mendapatkan tawaran dari penerbit atau melalui cara konvensional itu perjuangannya sama saja. Yang terpenting adalah konsistensi.

T – Bisa ceritakan sedikit keterlibatanmu dalam dunia sastra (atau industri perbukuan) di Indonesia?

S – Latar belakang pendidikanku sebenarnya bukan dari bidang sastra, tapi aku begitu menyukai dunia sastra. Aku mulai tertarik untuk membaca dan menulis sejak SMP. Budaya membaca dan menulis di sekitarku masih cukup rendah. Orang-orang lebih senang membaca kutipan atau tulisan singkat yang mewakili perasaan mereka. Karena itu, aku mulai membiasakan diriku menulis sebuah tulisan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari agar dapat lebih dekat dengan pembaca.

T – Ada rencana untuk bukumu selanjutnya?

S – Untuk buku selanjutnya, tentu Insya Allah ada. Buku keduaku, yaitu “KALA” sedang dalam proses cetak dengan sebuah penerbit besar. Aku juga sempat mengadakan pemungutan suara untuk pemilihan sampulnya di Tumblr. “KALA” adalah novel bergenre roman yang merupakan hasil kolaborasiku dengan pengguna Tumblr lain, @eleftheriawords.

T – Terima kasih banyak, Stefani! Semoga kamu tetap konsisten!

Foto: @eleftheriawords

anonymous asked:

Assalamualaikum Mas quraners, afwan mau tanya sedikit dan mohon penjelasannya, Mengenai ODOJ, menurut antum itu bagaimana? sebab kmrn smpat baca artikel yg menjelaskan bahwa itu adalah bid'ah, Dan tidak ada asal muasal yg menjelaskan tentang kegiatan tsb. Jazakallahu khairan ...

Wa’alaykumussalaam wr wb. Iya, beberapa tahun yang lalu saat gencar-gencarnya ODOJ saya pun membaca berita tentang pendapat bid’ahnya ODOJ.

Ya sudahlah bagi yang tidak setuju dan menganggap itu bid’ah karena tidak ada contohnya yo wes monggo. Yang setuju dan masih bersemangat untuk mengikuti ODOJ juga monggo tidak masalah.

Pembahasan masalah fiqh dan penarikan kesimpulan atas sebuah hukum itu ada kaidah-kaidahnya dan panjang bahasannya. Sering kita harus mengkombinasikan dan melihat kaidah-kaidah yang lain, bukan hanya satu kaidah saja.

Lho tapi ini kan fatwa ulama? Bahwa ODOJ itu bid’ah begini begitu…

Ulama itu beda-beda. Ada yang terlalu longgar dalam amalan sehingga kebablasan, ada yang terlalu berlebihan dalam menyikapi fenomena yang sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan atau dibesar-besarkan. Pendapat seorang ulama juga bisa dipengaruhi oleh latar belakang dimana dia belajar, siapa gurunya dan bagaimana kerangka berpikirnya.

Lalu bagaimana? Saya tidak mempermasalahkan siapapun srek dan belajar dengan ulama siapa dari golongan atau harakah apa, backgroundnya apa, selama Aqidahnya lurus silakan. Nah jika sudah merasa cukup belajar di satu guru, coba lihat pemahaman yang lain seperti apa. Agar kita memahami dan mengerti dasar seseorang melakukan sesuatu. Agar kita bisa menghargai saudara muslim lain yang mungkin berbeda pegangan dalam masalah fiqih.

Lalu kemudian jika ada yang bersikeras dengan pendapatnya dalam hal ini saya kira wajar. Atau mencoba mendebat yang berbeda pendapat dengannya. Tentunya dia akan membawa dalil yang mendukungnya dan yang berbeda pun akan membawa dalil pendukungnya yang insyaAllah juga bisa dipertanggung jawabkan. 

Akhirnya hasilnya apa? Pembahasan terlalu panjang dan tidak selesai-selesai, energi dan waktu tersita dalam satu masalah yang sifatnya furu’.

Itulah kenapa saya sebenernya agak tidak tertarik memperdebatkan sesuatu yang sifatnya khilafiyah seperti ini. Karena akhirnya nanti kembalinya juga pada pilihan masing-masing. Sampai hari kiamat gak akan habis dibahas. Mari belajar untuk melihat pendapat lain.

Jika menganggap itu bid’ah ya sudah terserah. Jika berpendapat itu hanyalah sebuah sarana dakwah itu juga sah.

Yang salah itu yang hanya sibuk berdebat tapi bacaan Qur’an masih belum benar, tilawah jarang-jarang tapi sombong, Qur’an belum hafal dan belum paham makna kandungannya tapi sudah merasa paling yes dan paling tau.

kita tahu bahwa memilih teman hidup kriteria utama yang baik adalah yang agamanya baik. sejak dulu, saya pikir, kita sebagai perempuan yang akan memilih imam, harus punya definisi yang lebih spesifik mengenai karakteristik agama yang baik.

saya percaya, definisi umumya sangat luas. ada yang ibadah wajibnya sangat baik, lebih mengutamakan ibadah tersebut dibanding ibadah dalam hidup bermasyarakat; ada yang hafalan qurannya baik, mengajinya sesuai dengan ilmu tajwid, merdu: bagai qori; ada yang ah yang penting rukun islam saja tetapi bisa bergaul dengan banyak orang; ada yang maunya suami rajin salat malam; atau yang lain-lain. menurut saya: apapun definisi yang dipilih silakan saja, karena kemungkinan besar kita tidak akan mendapatkan semuanya.

saya pribadi sederhana saja, karena tahu diri saya pun bukan ((belum)) jadi perempuan yang baik agamanya dan lantas pantas dijadikan teman hidup karena agama. saya hanya berharap laki-laki yang mudah saja baginya melangkahkan kaki ke masjid di lima waktu salat dan memiliki ‘ilmu’ atas ibadah-ibadah yang dilakukan..

maksudnya: saya butuh seseorang yang benar-benar tahu dasar-latar belakang-tujuan-rukun-adab dari setiap ibadah yang dilakukan.. saya memilih imam yang lebih banyak membaca buku-buku agama, terjemahan dan tafsir Al Quran, fiqih, dan sirah.. sehingga nantinya ketika ia mengajak saya melakukan sesuatu atau menghimbau saya untuk tidak melakukan sesuatu, ia dapat menyampaikan 'alasan’ yang jelas. yang tidak hanya mengutamakan: nurut sama suami.

well, itulah cara yang saya pilih dan saya tahu sepertinya akan ampuh menghadapi sikap keras kepala, ditambah kebodohan-kebodohan, dikali sikap sok tahu saya :D

kalau kamu? kira-kira definisi spesifik apa yang kamu pilih?

Panik

Gw panik, karena teman - teman panik besok UTS Operational Management dan cuma gw yang ga panik. Gw panik karena gw gak panik sendirian. 

Gw panik, karena ada tugas kelompok buat dua minggu lagi, dan cuma gw yang panik. Sedangkan teman - teman lain bersantai. *ya iyalah gw kebagian edit 2 video*

Gw panik karena bikin laporan latar belakang yang detail, sedangkan pembahasan yang penting malah seadanya.

Gw ga panik ketika belum beres nugas padahal menjelang deadline, dan masih asyik memperindah laporan pake Adobe Illustrator (padahal isi laporan belum lengkap), sementara teman - teman udah panik.

Gw panik karena hal - hal ga penting, dan bersantai pada hal - hal yang membuat orang lain panik.

Yah, jalanin aja lah, semua akan selesai pada waktunya jika kita berusaha. Hazeeek.