lary chan

The Way I Lose Her: Pertempuran Hati

 Sejenak engkau terdiam, berselimut tanda tanya. Ada apa, kenapa, mengapa. Kau di ambang kebimbangan, tepi jurang keraguan. Jalan mana yang harus kau tempuh. - Netral

                                                            ===

.

Pukulan pertama yang gue layangkan pada anak SMA itu membuat 2 orang teman gue yang lain langsung ikut melakukan hal yang sama. Baku hantam pun terjadi, saat itu keadaan cukup sepi sehingga tawuran kecil-kecilan ini berlangsung cukup lama.

Nurhadi yang mempunyai badan paling besar di antara anak-anak yang lain tampak menjadi sebuah keuntungan untuk dirinya sendiri. Nurhadi ini kalau berantem termasuk tipe-tipe tahan badan. Kalau di game RPG (Role Playing Game), Nurhadi adalah seorang warrior dengan tipe status STR (strength) dan VIT (vitality). Beberapa kali kena pukul di area badan dan paha, Nurhadi tetap tidak goyah, gerakannya memang tidak terlalu cepat, tapi apabila musuhnya terkena pukulan, gue masih belum pernah melihat sampai sekarang ada orang yang bisa berdiri bertahan dari pukulan Nurhadi.

Wajar maka apabila Nurhadi mengatakan bahwa 5 orang anak SMA pernah roboh melawan dia sendirian. Wong dikeroyok 3 orang aja dia masih bisa berdiri. Kayaknya tuh tiap dia dipukul rasanya kaya digigit semut, cenut-cenut doang. Gue dan Ikhsan semakin yakin kalau Nurhadi adalah keturunan Gapura yang biasanya mejeng di depan rumah-rumah jaman dulu sambil pegang palu gada. Keras banget! Ketika dipukuli oleh dua orang, tangan kanan Nurhadi masih terus menghajar muka orang di depannya, sedangkan tangan kirinya secara otomatis mencengkram baju anak SMA lainnya dan langsung menghempaskannya.

Buset, ngeliat si Rambo berantem kaya begini, gue jadi inget game PS1 Smackdown. Gue merasa beruntung punya temen seperti Nurhadi, dan gue juga cukup beruntung karena tidak harus terlahir menjadi musuh Nurhadi.

Sedangkan Ikhsan berbeda, badan Ikhsan yang satu ukuran sama gue ini membuat dia tidak bisa mengikuti jejak Nurhadi yang berantem dengan menggunakan strategi tahan badan. Ikhsan gerakannya lebih cepat dan membabi buta. Dan jujur saja, gue itu paling males kalau lagi berantem bareng Ikhsan dari dulu sampe sekarang, dia kalau lagi berantem sering buta mata. Lupa mana temen mana musuh.

Pernah dulu kita lagi berantem bareng ngelawan beberapa orang dari SMA lain karena masalah sepele, eh si Ikhsan malah nabok gue yang ada di sebelahnya. Sontak kita berdua malah jadi sama-sama berantem. Terus anak SMA yang lain malah jadi cuma ngeliatin aja sambil tepuk tangan. Dongo emang temen gue yang satu itu. Makanya sekarang kalau lagi berantem bareng kaya gini, gue lebih seneng jauh-jauh dari si Monyet.

Ada satu strategi Ikhsan yang paling gue suka dari dulu sampe sekarang kalau doi lagi berantem. Ikhsan itu kalau berantem identik sambil nunduk terus berdiri, mukul muka anak orang, terus nunduk lagi. Sehingga orang yang mau membalasnya dengan memukul pun pukulannya selalu saja meleset. Ikhsan menganut strategi berantemnya Muhammad Ali. Float Like Butterfly, Sting Like Bee. 

Banyak gerak, banyak ngelak, tapi sekalinya mukul pasti tepat sasaran. Namun karena memang badannya tidak terlalu besar, Ikhsan kadang tetap saja kena pukul. Bajunya ditarik oleh anak SMA lain yang berada di belakangnya sehingga Ikhsan kehilangan keseimbangan dan jatuh. Lalu dikeroyoklah dia saat sedang tidak mempunyai pertahanan sama sekali.

Dan gue? Gaya barantem gue beda lagi. Badan gue sama Ikhsan walau sama dan seukuran, namun gaya berantem kita beda. Dari kecil gue dididik untuk naik pohon dengan cepat, adu cepat lari, dan juga olahraga skipping. Melatih tubuh gue untuk bisa bergerak fleksibel lebih cepat. Kalau Nurhadi adalah Warrior tipe STR dan VIT, gue bisa dibilang Rogue tipe AGI (agility) dan DEX (dexterity). Gue lebih memilih kecepatan dan ketepatan ketimbang kekuatan. Mungkin pukulan gue nggak bisa membuat orang sekali pukul jatuh, tapi ketika Nurhadi berhasil melayangkan satu pukulan, gue bisa melayangkan 3-4 pukulan lebih banyak.

Dari kecil gue memang paling suka dengan olahraga gerak atau pliometrik, dulu waktu gue masih kuliah, gue sempat ikut panjat tebing dan bahkan sempat gabung juga sama Parkour ITB bareng Ikhsan. Karena ya itu, gue paling suka lari-lari, loncat kiri kanan, udah mirip kaya anak monyet. Tak ayal sampai sekarang gue sering diledek dengan sebutan ‘Kunyuk’ sama si Ikhsan, yang berarti anak monyet dalam bahasa Jawa.

Gue kalau lagi berantem pasti nggak bisa diam di tempat kaya Nurhadi yang tahan badan, atau Ikhsan yang menunduk di satu tempat yang sama. Gue sering mukul orang, menghindar atau lari kebelakangnya, pukul, nunduk, lari lagi, mukul lagi, lari, cari orang lain, mukul orang lain dulu, orang lainnya jatuh, lari lagi, baru mukul orang yang sama sekali lagi. Gitu aja terus. Walau kelihatannya aneh, tapi enaknya berantem kaya gini adalah lo bisa membuat stamina musuh lo abis tanpa dia sadari. Sehingga kalau suatu saat ada pukulan yang masuk ke arah muka atau badan, pukulannya nggak akan terlalu bertenaga karena tenaganya sudah habis. Orang yang sempoyongan karena lelah itu jauh lebih mudah dikalahkan. Bahkan orang sebesar Nurhadi saja kalau sedang lelah dan staminanya habis, bisa hanya dengan sekali pukul untuk merobohkannya. Ini dikarenakan ketika kita sedang lelah, segala otot untuk bertahan dari pukulan mendadak mengendor, mengakibatkan damage yang dihasilkan dari pukulan biasa bisa terasa seperti damage pukulan yang dilayangkan oleh Nurhadi.

Ikhsan sendiri paling males kalau berantem sama gue. Dia capek karena harus ngejar gue, dan dia terpaksa nggak bisa menggunakan strategi nunduk sehingga dengan mudah gue bisa masuk untuk memukul mukanya. Sewaktu ikut Karate dan Taekwondo semasa SD/SMP, gue mendapat pengalaman tentang titik-titik fatal di daerah tubuh manusia. Di wilayah muka, ada 4 titik fatal yang apabila dipukul dengan tepat, sebesar apapun badannya, dia akan langsung sempoyongan. Salah satunya adalah telinga. Sehingga kerap apabila gue sedang berhadapan satu lawan satu dengan musuh, gue selalu bergerak dengan cepat ke kiri dan kanan hanya untuk menghantam bagian telinganya dengan keras.

Asal kalian tahu saja, saraf telinga itu adalah saraf yang paling dekat dengan otak, dan saraf keseimbangan manusia terbagi ke dalam beberapa tempat di dalam tubuh kita, selain jempol kaki, telinga juga mempunyai jabatan paling besar untuk memberikan keseimbangan pada tubuh. Apabila telinga dihantam dengan keras, otomatis gendang telinga akan berdengung dengan kencang sehingga mengaburkan penglihatan. Suara di sekitar kalian akan mendadak menjadi kacau, indra pendengaran dan indra penglihatan akan langsung terganggu. Otak akan mengirimkan sinyal rasa sakit kepada telinga. Itu sebabnya telinga kita sering merah kalau tertutup lama, terpukul sesuatu, atau kepanasan. Karena saraf telinga itu saraf yang cukup sensitif. Mirip sama klitoris.

#halah

Dan 3 area fatal lainnya nggak akan gue jelasin di sini. Jangan ya, nanti dipake yang nggak-nggak lagi. Nah, maka dengan itu gue senang bergerak cepat, memukul dengan tepat, lalu bergerak lagi. Walau kekuatannya tidak lebih besar ketimbang pukulan Nurhadi, tapi jika itu dilayangkan kepada area yang tepat, maka hasilnya akan lebih hebat ketimbang pukulan Nurhadi di area pipi.

Masa kelam gue waktu SMP membuat gue mengerti beberapa hal tentang pertahanan diri. Dan pembekalan dari 3 cabang olahraga bela diri– Karate, Taekwondo, dan AA Boxer– membuat gue jadi senang berkelahi. Ya namanya juga anak cowok, jaman SMP pula, masih menggebu-gebu, sama kaya lagu Rhoma Irama yang judulnya Darah Muda.

Badan gue yang kecil ini sering menjadi alasan utama kenapa musuh seneng banget memilih gue sebagai lawan latih tanding. Awalnya gue juga minder, sebelum pada akhirnya gue tahu bahwa tubuh kecil itu bisa membuat gue bergerak lebih cepat, lebih reflex dalam menghalau pukulan, dan membuat stamina musuh terkuras habis untuk mengikuti gerakan-gerakan tidak beraturan gue.

Tidak usah jauh-jauh deh, kalian kenal Bruce Lee? Lihat badannya, tipikal badan orang Asia yang kecil dan kurus, tapi gerakan Bruce Lee yang luar biasa cepat itu mampu membuat orang sebesar Chuck Noris terkapar langsung apabila menghadapinya. Lalu selanjutnya ada Jackie Chan. Salah satu artis Martial Art paling kecil tapi paling luar biasa yang pernah ada. Jackie Chan kalau lagi berantem selalu loncat ke sana kemari. Jackie Chan jarang banget berdiri satu lawan satu, dia pasti naik ke atas tangga, kabur-kaburan, memukul, terus kabur lagi, mengambil panci, melempar, menendang meja, melempar tepung, melempar ikan dan masih banyak lagi.  

Jackie Chan memang selalu menjadi idola gue dari dulu sampai sekarang. Dari kecil bokap sama nyokap emang paling doyan nonton film-film Jackie Chan, sehingga mau tidak mau cara berkelahi Jackie Chan yang lari-larian itu mendarah daging di otak gue sampai sekarang.

.

                                                          ===

.

Ikhsan tersungkur jatuh. Dia dikeroyok oleh dua orang. Melihat hal ini gue langsung berlari ke arahnya dan menghajar dua orang yang sedang memukulnya itu. Satu pukulan berhasil masuk ke muka gue sehingga bibir gue berdarah. Ikhsan yang sadar bahwa dirinya sudah tidak dikeroyok lagi langsung berdiri dan membantu gue untuk menghajar 2 orang tersebut. Melihat Ikhsan sudah berdiri, gue langsung berpindah untuk menghajar dua orang musuh yang gue pukul dari awal tadi.

Lalu Nurhadi yang masih sibuk itu mendadak menarik lengan musuhnya dan menghempaskannya ke arah Ikhsan. Ikhsan mengelak hingga musuh tersebut menimpa teman musuh yang lainnya. Ikhsan sontak ceria melihat musuhnya rubuh. Dia langsung menduduki perut musuhnya tersebut dan menghajar membabi buta muka musuhnya. Gue yang melihat hal itu juga jadi pengin ikut-ikutan mukulin anak orang. Gue datangi Ikhsan, gue tendang muka orang yang sedang Ikhsan duduki itu, lalu gue pergi untuk berantem lagi sama musuh gue yang lain.

Lagi asik-asiknya berantem, tiba-tiba ada satu orang yang mengambil balok kayu dan menghajar pipi Nurhadi dengan keras. Nurhadi sempoyongan, namun masih tetap berdiri. Udah mirip kaya mesin ATM. Mengetahui bahwa musuhnya bertindak tidak fair dan menggunakan alat bantu, Nurhadi semakin mengamuk, dia berteriak kaya gorila, mengejar orang yang menghajar pipinya tadi, lalu merebut kayu batangan tersebut. Keadaan kini berbalik, Nurhadi yang menggenggam kayu batangan tersebut. Satu ayunan balok kayu menghantam musuh yang masih berdiri dan membuatnya langsung tak sadarkan diri. Lalu kemudian Nurhadi menghajar perut orang yang sempat memukulnya tadi dengan kayu. Melihat Nurhadi lagi kalap, gue langsung berlari mendekatinya sehingga orang yang lagi berantem sama gue tanpa sadar mengikuti gue mendekat ke arah Nurhadi.

“Di, lawan tuh Di.” Ucap gue menarik baju Nurhadi dan menunjuk ke arah dua orang yang sedang mengejar gue.

Nurhadi menengok, dia melihat ke arah dua orang tersebut, dia diam sebentar, lalu berteriak sambil berlari menghampiri mereka. Melihat ada Gorila Nigeria menghampiri mereka sambil mengayun-ayunkan balok kayu, sontak musuh langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Nurhadi mengejar mereka dan kini meninggalkan gue bersama 4 orang. 2 orang sedang terkapar karena Nurhadi, satu masih memukuli Ikhsan, dan satu lagi yang sedang dipukuli Ikhsan sambil duduk di perutnya.

Melihat sahabat gue yang satu itu tengah dipukuli tanpa balas, gue langsung berlari dan menghempaskan Flying Kick ke arah orang yang lagi mukulin Ikhsan. Tendangan gue kena telak, orang itu terkapar. Kini gue mengikuti gaya Ikhsan, menaiki perut orang tersebut, dan menghajar mukanya dengan membabi buta.

dulu sih bisa ngelakuin Flying Kick kapan aja di mana aja, kalau sekarang mah udah kemakan umur. Sekali ngelakuin Flying Kick, besoknya manggil tukang urut.

.

Selang 5 menit, kita berdua kelelahan. Gue berdiri lalu menarik kerah baju Ikhsan dari belakang yang masih saja memukul dengan membabi buta. Nah ini nih jeleknya Ikhsan, kalau lagi kalap dia suka nggak melihat keadaan. Dia nggak tahu kapan harus berhenti dan kapan harus melanjutkan. Yang dia tahu ya hajar terus sampai puas. Untung saat itu dia nggak bunuh anak orang. Gue tarik kerahnya untuk menjauh dari orang yang sudah tidak sadarkan diri itu.

“Udah nyet, udah!” gue tampar mukanya sekali.

Ikhsan hanya ngos-ngosan karena kelelahan. Nafasnya tak beraturan.

“Ayo cabut, keburu temen-temen mereka dateng.” Kata gue.

Muka kita saat itu sudah babak belur, Ikhsan paling babak belur karena dihajar oleh satu orang yang menghajarnya terus menerus sewaktu Ikhsan masih menduduki perut orang yang sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan gue, mata gue picek satu dan bibir gue berdarah. Kalau Nurhadi? masih kinclong. Kaga kegores sedikitpun.

Mungkin kulitnya dilapisi anti gores gorilla glass.

.

                                                          ===

.

Gue dan Ikhsan saling memapah berjalan menuju salah satu warung mie ayam yang masih buka di area parkir mobil GOR Padjajaran. Stamina kita sudah habis, ditambah muka yang remedial total karena kena pukul orang. Maksud hati mau numpang istirahat di tukang Mie Ayam sambil minum, eh sesampainya di sana gue malah secara tak sengaja mendapati ada kak Hana dan gengnya sedang makan di warung Mie Ayam.

Melihat gue yang memapah Ikhsan dengan muka penuh darah, Kak Hana langsung teriak dan menghampiri gue. 

“Dimas!! Dimas ngapain?! Kamu berantem di mana?! Sama siapa aja?! Kenapa bisa kaya gini?!” kak Hana terus saja menggoyangkan muka gue ke kiri dan kanan untuk melihat di mana saja letak luka yang ada di muka gue. Pipi gue dia tekan menggunakan kedua tangannya sehingga mulut gue monyong dan nggak bisa ngomong.

“Gue nggak papa kok! Ini mendingan temen gue tolongin dulu, dia lebih parah. Please tolongin dia.” Ucap gue menepis tangan kak Hana dan meminta pertolongan ke arah teman wanita kak Hana yang lain.

Walaupun mereka kakak kelas, tapi mereka tetaplah wanita, setidaknya mereka tahu cara pertolongan pertama menyembuhkan luka. Dan karena gue tahu teman kak Hana ini wanita semua, gue meminta mereka untuk menolong Ikhsan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung mengosongkan bangku panjang dari kayu yang mereka duduki untuk merebahkan Ikhsan. 

Ikhsan sekarang sudah mirip raja, dianyomi oleh banyak wanita. Dari jauh gue sempat melihat Ikhsan tersenyum ke arah gue. Tai emang tuh anak, lagi sekarat aja malah tetep mesum otaknya.

Ketika teman-teman kak Hana yang lain masih sibuk mengobati luka Ikhsan, kak Hana sendiri malah lebih memilih mengobati luka gue sendirian. Ia mengambil sepotong kecil es batu dari tempat Teh Botol tukang Mie Ayam, memasukannya ke dalam plastik, dan mengompres luka memar di pipi gue.

Kak Hana menarik gue untuk pergi menjauh dari warung Mie Ayam, mungkin kak Hana ingin mengobati luka gue secara pribadi, nggak mau dilihat oleh teman-temannya yang tampaknya tahu bahwa saat itu kak Hana sudah mempunyai pacar. Gue ditarik ke belakang tenda, dan dipaksa untuk duduk di sebuah tembok batu yang ada di bawah pohon.

“Sudah aku bilang kan nggak boleh berantem!” Ucap kak Hana kesal.

“Nggak berantem kok!” Gue berdalih.

“Terus ini apa?!” Kak Hana menempelkan es batu itu keras-keras ke arah luka gue. Sontak gue kesakitan.

“Aduuuuh duh duh duh, sakit oi!!” Gue protes.

“Abisnya! Kok bisa gini sih?!”

“Tadi lagi pulang dari Sholat, eh kita dicegat. Ya mau nggak mau deh harus ngelawan.” Jawab gue.

“Liat, jadi nggak ganteng lagi kan. Bibir sampe sobek gini.” Tukasnya kesal.

“Kenapa? jadi nggak bisa dicium ya?” Jawab gue bercanda.

“IH OTAKNYA!!!” Kak Hana menekan dengan keras luka gue sekali lagi.

“Aduuuuh ampunn. Canda, Na. Canda..” Gue kesakitan.

“Dulu perasaan waktu di Warnet nggak sampe babak belur gini deh.”

“Ya dulu kan gue nggak berantem. Temen gue yang mukulin pacar lo.”

“Menang nggak tadi berantemnya?” Tanya kak Hana penuh khawatir.

“Ya mana gue tahu, kaga ada wasitnya.”

“Astaga ngeselin nih bocah!”

“Biarin weeee!!”

“…”

Kita berdua sempat terdiam cukup lama, sebelum kemudian kak Hana memulai percakapan lagi.

“Jangan gini lagi ya, Dim..” Mendadak suara kak Hana menghalus.

“…” Gue terdiam.

“Aku bukannya nggak suka cowok yang berantem. Cowok yang berantem itu gagah sih sebenarnya, tapi kalau melihat kamu dipukulin gini, aku jadi sedih tahu nggak.” Mata kak Hana mulai berair.

“…”

“Janji ya jangan gini lagi.” Kak Hana mengelus pipi gue dengan lembut menggunaka es batu.

“Iya, iya. Maaf ya. Nggak lagi-lagi deh. Janji.” Gue menggenggam tangannya yang menempel di pipi gue.

Kita berdua tersenyum. Senang rasanya kalau seperti ini, di saat gue lagi membutuhkan seseorang setelah lelah karena kejadian naas ini, ada seseorang yang gue cinta hadir di depan gue. Memapah gue, dan menangisi gue karena khawatir. Baru kali ini gue merasakan hangatnya sebuah perhatian, manisnya sebuah perjuangan, dan indahnya kemenangan dalam sebuah kekalahan.

Gue rela setiap minggu harus babak belur begini apabila di akhir cerita kak Hana akan selalu ada dan mengobati segala luka gue. Karena dari usapannya, bukan luka di muka saja yang perlahan hilang, tapi perlahan-lahan luka menganga di dalam hati pun sembuh dengan sendirinya.

Beberapa saat yang lalu gue pernah mengatakan bahwa kembali ke masa lalu adalah sebuah kesalahan. Tapi, bukankah kesalahan itu bisa diperbaiki? gue mulai gundah di dalam hati, mulai mendebat pendapat gue sendiri. Setiap usapan kak Hana yang lembut membuat hati gue semakin nyaman. Sebelum tiba-tiba, secara mendadak ada teriakan yang menganggetkan kita berdua.

“DWI!!”

Ah! Gue kenal suara ini! Gue langsung menengok ke arah sumber suara, dan ternyata benar. Orang ini, orang yang dulu pernah dihajar oleh Dodo–temen warnet gue– sampai terkapar. Pacar kak Hana. Tangan kak Hana saat itu masih menempel di pipi gue dan tangan gue juga sedang menggenggamnya. Sontak kejadian ini pastilah menimbulkan kesalah-pahaman di setiap benak orang yang melihatnya, apalagi jika dilihat oleh pacar kak Hana sendiri.

“KAMU NGAPAIN ITU!!” Ucapnya geram.

Cowok tersebut menarik tangan kak Hana dengan paksa sehingga kak Hana teriak kesakitan. Melihat hal itu, gue langsung berdiri. Hati gue yang saat itu masih mendidih karena pertempuran yang baru saja gue lalui, kini bergejolak lagi. Tangan gue mengepal. Gue mulai kalap.

‘anjing, baru aja beres berantem, harus berantem lagi’ gumam gue dalam hati.

Gue tahu lo siapa! Lo yang dulu di warnet itu kan. Anjing emang lo, nggak ada kapok-kapoknya.” Pacar kak Hana mulai terlihat mengambil ancang-ancang untuk memukul.

Namun tiba-tiba.

“WOI!! ADA APA NIH!!”

Mendadak gue mendengar ada suara Nurhadi. Dan setelah gue menengok ke arah kanan, IYA!! Ternyata ada Nurhadi yang baju seragamnya sudah terbuka, mukanya berdarah, badannya berasap karena keringetan, dan di tangan kanannya ada seonggok balok kayu bekas menghajar orang.

Sebenarnya melihat Nurhadi yang seperti ini tuh gue pengen ketawa ngakak. Bentuknya sudah mirip kaya Budi Anduk soalnya. Tapi gue harus tetap Ja’im dan tetap serius dalam menghadapi keadaan genting seperti ini.

Nurhadi mendatangi gue, dia berdiri di sebelah gue dan memasang wajah galak. Walaupun dia masih kelas satu SMA, tapi tampangnya mirip kaya pejuang veteran tahun 1832. Sontak melihat Nurhadi yang membawa-bawa balok kayu, pacar kak Hana langsung takut, dia langsung mundur beberapa langkah.

Kak Hana yang melihat hal ini hanya terdiam, ia menarik-narik tangan pacarnya untuk segera pergi dari tempat ini. Gue menatap kak Hana, kak Hana menatap gue. Ada rasa tak ingin melepaskan yang terlepas mentah-mentah dari benak kita berdua. Ada rasa masih ingin bersama dan menghabiskan waktu lebih lama dalam tatapan kita masing-masing.

Sekali lagi, keadaan memaksa kita untuk tidak bisa berlama-lama bahagia. Mungkin maksud Tuhan baik, Tuhan menjawab pertanyaan gue perihal apakah kembali ke masa lalu itu adalah pilihan yang baik atau tidak?

Pacar kak Hana pergi meninggalkan gue dan Nurhadi sambil terus-terusan berteriak, “Awas lo anjing, sini lo kalau berani” tapi malah pergi menjauh. Dan Nurhadi yang melihat hal ini juga turut membalasnya, “Sini lo anjing, ngomong gitu tapi pergi menjauh. Cemen lo kantong menyan!!”

Sedangkan gue cuma bisa berdiri melihat kak Hana yang masih menatap gue dari kejauhan. Hari ini telah terjadi dua pertempuran sengit dalam hidup gue, pertempuran fisik, dan pertempuran hati. Tapi ntah kenapa pertempuran hati jauh terasa lebih menyakitkan ketimbang pertempuran yang membuat muka gue berdarah-darah.

Hmm mungkin, karena luka di hati tak bisa disembuhkan dengan mudah semudah menyembuhkan luka fisik yang nyata.

.

.

.

.

                                                              Bersambung

Previous Story: Here