lancar

KITAsulawesi di Sokola Pesisir

Halo gaes, apa kabar harimu? Wah kok Miming rindu? Sudah bertahun-tahun sepertinya Miming tak bersapa, Miming lagi agak nganu (abaikan).

Oh yah kali ini Miming mau bercerita tentang KITAsulawesi yang pada hari Minggu tanggal 4 Desember kemarin, berkunjung ke Sokola Pesisir Mariso untuk berbagi bersama adik-adik di sana. Di sokola ini, terdapat kurang lebih 50 orang anak dengan rentang usia pendidikan dari TK sampai SMP.

Tanggal 4 kemarin diawali dengan pagi dan hujan deras yang membuat teamwork galau apa kegiatan ini akan berjalan lancar atau tidak. Tapi seperti kata-kata yang pernah Miming dengar entah di mana, jika kamu berniat baik pasti ada saja jalannya.

Kami tiba di Sokola Pesisir pukul 09.00, molor 1 jam dari yang direncanakan. Di sana sebagian besar anak-anaknya sudah berkumpul dan sepertinya telah diberitahu bahwa kami akan datang.

Kelas dimulai dengan perkenalan nama adik-adik oleh kak @littlecarnation

Setelah adik-adik menuliskan namanya di kertas, kelas “cara menyikat gigi yang baik dan benar” dimulai dan dibawakan oleh @ikrayuni

Lalu ada games balon yang dipimpin oleh @widyastutimansuari

Setelah diselingi dengan permainan, kelas sastra dibawakan oleh @littlecarnation dan @coretangaje

Pembagian oleh-oleh untuk adik-adik di sana juga ada loh…

Waktunya foto dengan adik-adik… yeay…

Penyerahan ucapan terima kasih dari Ketua @kitasulawesi @senjahitam, kepada pihak Sokola Pesisir.

Setelah itu, @kitasulawesi berfoto dengan kakak-kakak pengurus Sokola Pesisir.

Akhir kata, Miming mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang ikut ambil bagian sehingga kegiatan ini bisa berjalan dengan baik.

Terima kasih kepada semua yang kemarin menyempatkan diri untuk hadir, @senjahitam @littlecarnation @widyastutimansuari @malesngetik @duaapuluhtiga @coretangaje @ikrayuni @hikmaaltafunnisa @kantongplastik. Terima kasih @spasihuruf @abhiihabibi @mqmk-mariyal @tehitam @farahfzyahmad dan semua keluarga @kitasulawesi yang mendukung dan mendoakan kegiatan ini.

Sampai jumpa di KITAsocialproject selanjutnya…

Karena hidup bukan hanya tentang diri sendiri, kita juga dibutuhkan dan membutuhkan orang lain..

Salam KITAsulawesi berbagi..

cc: @tumbloggerkita @hujanmimpi

Tulisan : Mereka Sama, Hanya Saja

Mereka mengalami keresahan yang sama, sama-sama resah tentang hal-hal yang kamu resahkan setiap hari. Dosen yang tiba-tiba hilang, skripsi yang sulit melihat jalan keluarnya, pertanyaan kapan nikah dari orang tua dan tetangga, pertanyaan dari teman sebaya mau kerja dimana atau S2. Ada begitu banyak keresahan yang sama. Hanya saja mereka memilih tempat ekspresi yang tepat atas keresahannya.

Mereka adalah orang-orang yang memainkan waktunya dengan baik, memberikan pikiran dan tenaganya untuk bergerak di tempat-tempat baik. Dalam lingkaran rumah belajar, membantu mengajar di jalanan. Mengurus berbagai kegiatan sosial yang sama sekali tidak memberikan keuntungan materi itu. Mereka ringan membantu begitu banyak urusan orang lain.

Jangan dikira bahwa hidupnya seolah terlihat lancar mulus saja tanpa tantangan. Jangan dikira di usianya yang terus bertambah, mereka tidak resah hatinya karena melihat undangan muncul tiap pekan sepanjang tahun. Juga berita kelahiran bayi yang berlalu lalang. Jangan dikira mereka tidak ingin berjalan keluar negeri untuk sekolah lagi.

Keresahan itu sama, hanya saja mereka lebih memilih berjuang di tempat yang terus memberikan manfaat. Tempat yang selama ini mungkin kamu malas ke sana, lebih enak tidur di kamar dengan internet lancar. Ya, ironi memang.

Selamat merenung :)

Yogyakarta, 27 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

Ketika Hafalan Perlahan Hilang

Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an. Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan). Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan. Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih? Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks. 

Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, ada frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan. Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya. Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

Self reminder

©Quraners 
Surabaya, 11 Desember 2015

Ada orang yang solat dhuha, baca surah al-waqi'ah, dan rajin istighfar kerana ingin rezekinya lancar, murah dan kaya raya.

Ada juga orang yang solat dhuha, baca surah al-waqi'ah, dan rajin istighfar kerana ingin menampung kembali dan menyempurnakan solat-solat wajibnya dan tertarik dengan pahala setiap huruf al-qur'an yang dibalas dengan 10 kebaikan, serta ingin semua dosa-dosanya diampuni.

Dua niat ini sangat jauh berbeza nilai dan visinya. Yang pertama ingin memperbaiki dunianya. Sedangkan yang kedua ingin memperbaiki akhiratnya.

Dan ketahuilah, akhirat itu jauh lebih baik daripada dunia serta lebih kekal.

Namun apa yang pasti, istiqamahlah dlm melakukan solat sunat dhuha kerana ia ada banyak kelebihannya. Wallahu a'lam.

—  Zonkuliah
Cerpen : Suara Itu

Aku pernah merekam, lebih tepatnya menjadi saksi perjalanan hidup seseorang. Suatu hari, sewaktu kami sekeluarga selesai menghadiri acara reuni di kampus istriku. Aku duduk di pelataran kampus di dekat gerbang utama, menemani si kecil yang asik bermain balon udaranya. Istriku sedang bercengkerama dengan rekan-rekan semasa kuliahnya tak jauh dari kami.

Sesekali rekannya itu berkenalan dengan kami, terutama putri kecil kami.

“Duh manisnya, siapa namanya?” tanya salah seorang dari mereka.

“Karismaning Mentari, Tante.” aku menyuarakan jawaban dari putri kecil kami yang memang belum lancar berbicara.

“Cantik sekali namanya,” ujar salah satu dari mereka. Istriku meraih putri kecil kami dan mencandainya.

Aku memerhatikan sekitar pelataran itu, bermaksud membeli sedikit makanan ringan yang dijual oleh kaki lima. Aku melihat temanku keluar, artis yang kini menjadi penyanyi yang naik daun. Teman lama yang ku kenal di organisasi kepemudaan semasa kuliah beberapa tahun yang lalu. Kami berpelukan dan saling sapa.

Aku yang memang sedang mengantri beli makanan ringan. Dia mengeluarkan uangnya untuk bersedekah ke bapak-bapak yang dari tadi duduk di sebelah gerobak jualan itu. Temanku berjongkok dan hendak memberikan sedekahnya.

“Terima kasih Nak, apakah kamu tadi yang menyanyi di panggung itu?” tanya bapak itu.

“Iya, Kek.” Jawab temanku.

“Siapa namamu?” tanya bapak-bapak itu.

“Utara, Kek.” Jawab temanku sambil tersenyum.

“Masyaallah, indah sekali suaramu itu Nak. Bayangkan betapa indahnya suaramu itu bila digunakan untuk melantukan ayat suci.” ujar bapak-bapak itu dengan ringannya. Sambil menepuk bahu temanku itu.

Temanku tidak menjawab sama sekali. Diam seribu bahasa. Aku yang sedang menunggu pesananku selesai pun ikut diam. Aku melihat raut muka temanku, semacam ada petir yang menyambar.

Hidayah itu memang datang dari hal-hal yang sederhana, lebih sering tidak terduga.

Ketahuilah, sejak hari itu aku tidak pernah mendengar lagi temanku itu bernyanyi. Tidak ada lagi penampilannya di panggung-panggung festival. Namanya hilang dari popularitas dunia hiburan. Namanya tenggelam seiring hilangnya dia dari peredaran. Sesekali dia main ke rumah kami, kalau aku minta menyanyi dia menjawabnya malu-malu. Saat Mentari sudah cukup besar, aku seringkali bercerita tentang paman Utara dan perjalanan hidupnya yang berubah besar hanya karena hari itu. Hari dimana ada orang yang tidak dikenal, berkata satu kalimat, dan segalanya berubah.

Paman Utara saat ini terkenal karena bacaan tartilnya yang indah. Beliau menjadi guru untuk bidang itu. Banyak orang belajar kepadanya. Aku termasuk salah satu muridnya yang payah.

Hati orang memang dalam kendali dan kuasa-Nya.

Yogyakarta, 17 Februari 2016 | ©kurniawangunadi

Jadi begini loh ya, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Tidak bisa disamaratakan.

Pada umur sekian ia lulus kuliah. Setelah sekian hari wisuda seharusnya ia sudah memiliki pekerjaan, tidak lebih dari sekian tahun harusnya sudah menjadi pegawai tetap. Pada usia sekian ia menikah. Setelah sekian bulan menikah ia harusnya sudah memilki anak. Di usia pernikahan sekian tahun seharusnya ia sudah memiliki rumah layak huni beserta dengan kendaraan minimal roda empat. Tidak bisa dipeta-petakan demikian, karena seperti kalimat pertama saya tadi; waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. 

Okelah di usia sekian kamu sudah lulus kuliah, esoknya setelah wisuda langsung mendapatkan pekerjaan, dua tahun bekerja sudah diangkat menjadi pegawai tetap, tidak lama dari itu kamu sudah bisa menikah, beberapa bulan kemudian kamu memilki anak, rezekimu lancar hingga kemapaman sudah kamu punya. Namun sayang, tidak semua orang waktu yang tepatnya sama dengan kamu. Bisa saja waktu tepatnya sedikit terlambat dibandingkan kamu, tetapi baginya tetap saja tepat karena ada beberapa hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu sebelum ia mengambil suatu keputusan dan baru terselesaikan di usia sekian–mungkin saat kamu sudah memiliki anak yang sangat lucu.

Itu satu yang harus kamu ketahui.

Yang kedua, menyuruh atau saya perhalus mengiming-imingi–atau apa ya bagusnya (saya bingung sendiri)–orang lain untuk segera mengikuti jejakmu, saya rasa tidaklah perlu berlebihan. Maksudmu mungkin mengingatkan. Tapi mengingatkan mana yang seolah memojokkan? 

Kamu tidak tahu saja banyak sekali kendala atau halangan yang harus orang lain damaikan sebelum ia bisa mengikuti jejakmu. Mungkin saja ia terbentur masalah sehingga perkuliahannya sedikit molor, mungkin ia harus berkompromi dengan rasa percaya diri agar ia bisa lolos di setiap interview pekerjaan, mungkin ia belum bertemu dengan jodohnya, mungkin ia sudah menemukan seseorang yang ‘klik’ namun belum kunjung mendapat restu kedua orang tuanya, mungkin ia terlalu diforsir dalam bekerja sehingga ia terhambat dalam mendapatkan keturunan, dan yang pasti, mungkin memang belum waktunya. 

Sudahkah kamu cari tahu mengenai latar belakangnya mengapa ia tidak bisa semudah jalanmu mendapatkan sesuatu? Sudahkah kamu melapangkan kepekaanmu untuk itu semua? Sudahkah kamu cek bagaimana caramu beretenggangrasa dengan sesama?

Saya rasa, tidak perlu mendorong-dorong seseorang untuk menyegerakan apa yang baik–sedangkan ia belum berdamai dengan diri dan segala urusan di belakangnya. Karena seperti yang saya bahas pertama, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Jika kamu beres dengan segalanya di usia sekian, selamat. Jika ia belum beres dengan segala yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan, ya jangan dikucilkan, jangan dipojokkan. Jika kamu mengatakan dirimu teman, maka berlakulah selayaknya teman. 

Ramadhan #17 : Ayah dalam Shaf Terdepan

Berbeda dengan ramadhan tahun lalu dimana aku harus memperlambat langkahku, mengikuti langkah kaki ayah.

“Ayah malu deh, mau ke masjid aja harus dituntun segala.” Katanya setelah kami melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di ujung gang rumah.

“Harusnya mereka yang malu, yah. Masih muda dan sehat tapi gak solat tarawih ke masjid.” Hiburku menimpali.

Alhamduillah aku sudah lancar mengendarai motor. Ayah adalah salah satu motivasiku berani mengendarai motor (lagi). Ramadhan tahun ini aku membonceng ayah menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sesampainya di masjid, ayah dibantu menuju tempat solat oleh tetanggaku. Hijab masjid yang terbuat dari kaca memudahkanku melihat ayah dalam barisan jama’ah laki-laki di depan.

“Koq tadi ayah solatnya di shaf belakang sih, padahal kan tadi datengnya duluan?” tanyaku sesampainya kami di rumah.

“Ayah cuma gak mau ganggu kekhusyuan orang yang solat di samping ayah.”

Ayah yang sudah empat tahun di vonis mengidap gagal ginjal, tahun ini sudah tidak sanggup solat berdiri. Tapi semangatnya untuk tetap berjama’ah di masjid memang juara. Meski harus sebaris dengan anak-anak kecil di shaf belakang, ayah tetap memilih solat teraweh berjama’ah di masjid dengan kondisi solat duduk. Malam berikutnya, ayah berada di baris kelima dekat jendela. Malam berikutnya lagi di baris ketiga, tetap baris terakhir. Baru pertengahan bulan, tapi sejak hari pertama jama’ah solat tarawih semakin menurun. Jama’ah perempuan pun sekarang bisa ikut masuk ke ruang solat utama.

Malam ini ayah tidak memintaku mengantarnya ke masjid.

“Ayah boleh istirahat di rumah aja gak, ya? Simpan tenaga buat jum’atan ke masjid besok,”

“Boleh, Yah.”

“Besok ayah harus di shaf depan.” Katanya menambahkan.

Akupun memutuskan solat tarawih di rumah, menemani ayah. Hari yang di tunggu ayah pun tiba. Kali ini aku tak mengantarnya seorang diri. Dan ayah benar-benar berada di shaf paling depan. Sendirian. Ayah benar, perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masid, perjalanan menuju Rabbnya

Semoga Allah menghitung setiap langkahmu menuju masjid, yah.

Pengirim Tulisan :

Lisdha Nurakida

Dibalik Tiga Jendela

Saidina Umar al-Khattab pernah berkata kepada sahabatnya yang lain: “Marilah kita perbaharui iman kita.” Pada ketika yang lain, Muaz bin Jabal berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk kita beriman sesaat.”

Perkataan Muaz itu bukan menunjukkan mereka tidak beriman sebaliknya dia mengajak sahabatnya bersama meningkatkan keimanan selepas seharian disibukkan dengan pelbagai urusan dunia yang ada di kala menyebabkan kita lalai & leka seketika pada keadaan iman.

Maksud memperbaharui iman ialah menilai & menghidupkan kembali kefahaman & amalan umat Islam berdasarkan ajaran al-Quran & as-Sunnah kerana kefahaman atau amalan umat Islam boleh jadi terpesong daripada landasan Islam sehingga menuntut pembaharuan kefahaman sebenar.

Dalam erti kata lain, memperbaharui iman adalah amalan penting dilakukan khususnya umat Islam pada masa ini yang berdepan dengan pelbagai dugaan hebat seperti cabaran globalisasi serta kecanggihan media massa.

Iman bagi Muslim ibarat enjin kereta, jika baik jagaannya, maka lancar pemanduannya. Jika baik iman seseorang Muslim itu & sentiasa digilap akan baiklah tingkah laku serta keperibadiannya yang menjurus ke arah melakukan ketaatan, menjauhi larangan Ilahi.

Jelas, memperbaharui iman penting kerana iman boleh bertambah & berkurang. Proses memperbaharui iman dapat dilakukan dengan mempertingkatkan kuantiti & kualiti ibadat kepada Allah s.w.t di samping memperbanyakkan amal kebajikan sesama manusia.

Selanjutnya, Rasulullah s.a.w menganjurkan umatnya memperbanyakkan ucapan La Ilaha illallah sebagai usaha memperbaharui iman. Walau bagaimanapun tidak memadai sekadar menggerakkan bibir, sebaliknya perlu dihayati serta diyakini dengan hati untuk mendapatkan kesan yang diharapkan.

Memperbanyakkan ucapan zikir membuktikan keteguhan hati melakukan segala-galanya kerana Allah dalam persoalan ibadat, hubungan keluarga, makanan, minuman, akhlak, ekonomi, pendidikan & lain-lain aspek kehidupan.

Marilah bersama kita memperbaharui & mempertingkatkan keimanan kepada Allah.

Wallahhu'alam.
#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #muslimvolunteermalaysia

Made with Instagram
2

setiap pagi selepas sholat Dhuha bersama di sekolah, Kakak didoakan oleh lebih dari seribu siswa Wikrama (Bogor). Pak Guru selalu menyebutkan, “juga mari kita doakan keluarga kita yang sedang mengandung, yaitu mbak Uti, semoga janinnya sehat, lancar persalinannya, dan kelak menjadi anak sholeh(ah) yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”

belum lagi dengan doa-doa setiap selepas sholat dari Bapak-Ibu dan Ayah-Ibu. tidak pernah putus pada sepertiga malam, sebelum fajar, sepenggalan siang, semenjelang petang, di waktu hujan, di antara adzan dan iqomah, di setiap waktu.

(akan) menjadi orangtua mengajarkan saya betapa setiap manusia pernah dan dulunya adalah doa-doa. tidak ada seorang anak pun yang dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa yang tidak baik. termasuk kita.

bertumbuh dan menjadi dewasa seharusnya juga menyadarkan bahwa kita punya pilihan–untuk menjadi jawaban doa-doa. siapa yang tahu, di belahan dunia entah yang mana, ada orang-orang yang senantiasa mendoakan kita dengan tulusnya. mana tega kita mematahkannya(?).

*sehat selalu ya, Nak. doa Ibu dan Bapak bersamamu.
**terima kasih Ayah, Ibu, Bapak, Ibu, kami tak ada apa-apanya tanpa doamu.

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tidak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang. Pasaran. Bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi, dan selama itu, silahkan kamu menunggu.

Kamu selalu bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Mengerti bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya tidak ingin menyakiti. Kata yang satu tidak pernah membenci kata yang lain, mereka hanya ingin ada jeda, supaya mereka punya makna. Pucuk pohon tak pernah membenci akar, mereka hanya ingin bersinergi untuk menjadi berdaya.

Jarak  dicipta, tiada lain agar ia punya makna. Maka stop. Berhentilah di sana.

Adanya rasa bukan untuk diterka, jadi biarlah ia tetap indah sebagai sesuatu yang tidak disangka. Suka tidak suka.

~

Untuk kamu yang percaya bahwa jarak dicipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup

—  Azhar Nurun Ala
Twittering through traffic

[caption id=“” align=“alignnone” width=“597” caption=“info lalu lintas”]

External image
[/caption]

If you happened to live in Indonesia, have a twitter account (mobile preferably), and always stuck into traffic (especially jakarta). You better check this one. @noitusan responsible for all the fuss, then another friend of mine at neurodesigns , @bellamy is doing the web, along with other friends (@snydez, @aulia, @gromps, myself @theandira) as the early adapters.

www.infolalulintas.com is a service that help you to foresee the traffic you are going to get or to avoid (if anyone tweet about it just before you). Lets say, you got a chance to get out the (thamrin) office early, around 3ish perhaps? and you need to pick up a glass of Iced Coffee Mocha at Pondok Indah Mall’s Starbucks. But hey, you’re not familiar with sudirman, radio dalam, pi traffic during this hour (because you are used to go home at 7pm, right after 3in1). Go to infolalulintas, and search for the traffic info, type in “sudirman”, and hit “Go”. Hope that you lucky enough that the traffic is clear enough for you.

Well, you have to give and get, right? Now you are stuck in Kuningan, go help the others, by tweeting from your cool mobile phone, and tell the others about the traffic that you are in. For instance; @infoll #jkt traffic at kuningan on the way to jakarta pusat, gerobak bakpao smashed into pieces in front of Australian Embassy… (for instaancceee!!).

@infoll<space>#jkt<space>your info goes here

Interested? go find @infoll at twitter, and follow it. as simple as that. and it’s available for indonesia’s big citie;, jakarta (#jkt), bandung (#bdg), surabaya (#sby), medan (#mdn), and denpasar (#dps). I do wish you can separate all the cities, i can’t imagine who crowded it would be if millions of people twittering the traffic. oh and to be sorted by date (you dont want to know yesterday’s traffic right?)

The project is in its beta version, all the best for you guys! Next step is apps for iPhone and blackberry, also not forgetting widget, and badge for blog (hahahaa, hard work eh?).

note: for you who’s not into traffic, there’s always the foodfeed.us (yep, tweet up your meal, everybody!)

External image