lancar

kemudahan

saya punya kebiasaan baru sekarang: jalan-jalan sore keliling komplek. kata bidan dan dokter, sebaiknya saya berjalan satu jam per hari–supaya bersalinnya mudah dan lancar kelak.

hampir setiap sore, saya bertemu atau berpapasan dengan para tetangga. karena Ibu dan Ayah saya punya hobi mengundang tetangga ke rumah juga mengikuti kegiatan-kegiatan RT RW, saya ikut-ikutan kenal dan dikenal hampir semua tetangga kami. kalau bertemu tetangga, nggak cukup hanya senyum saja. pasti ada ngobrolnya.

ada komentar yang selalu sama dari para ibu itu. “mbak udah berapa bulan sih? kok langsing? kok perutnya kecil? oh kirain Tante masih 6 bulanan,” dan lain-lain. menurut mereka, sejak bertemu saya pada pengajian 4 bulanan hamil, saya hamilnya “cantik”.

“mbak uti hamil-hamil malah jadi cerah ya wajahnya, terus seger. Tante dulu mah waktu hamil jerawatan, jadi kusem banget.”
“ini nih kalau kata orang sunda, hamil cantik.”
“mbak uti mah pipinya nggak ikut gendut, hanya perutnya aja yang maju. naiknya berapa kilo mbak? pasti nggak sampai 10 kilo ya? Tante dulu naik sampai 22 kilo tapi bayinya keciiil banget. 2,5 kilo juga kurang.”
kenyataan: saya naik 14 kilo. menurut perhitungan dokter, bayi saya sudah hampir 3 kilo beratnya.

di dalam hati, saya sejujurnya semacam bahagia sekali disebut-sebut hamil cantik. setiap kali disebut cantik, saya mengamini sambil berdoa semoga jika bayi saya perempuan, dia pun berparas cantik, berakhlak cantik. Ibu saya bilang, saya memang mendapat banyak sekali kemudahan soal kehamilan. kemudahan-kemudahan itu yang harus saya syukuri.

dan benar sekali kata Ibu. walaupun saat trimester pertama saya mengalami morning sickness yang dahsyat, walaupun bayi saya sempat terlalu besar, walaupun beberapa kali saya jatuh sakit–demam, darah rendah, anemia, dan lain-lain–walaupun banyak walaupun lain, ada jauh lebih banyak kemudahan yang datang kepada saya, daripada kesusahannya.

Kakak selalu sehat di perut. kata dokter, gerakannya aktif sekali. sejak usia kandungan 7 bulan, Kakak sudah berada pada posisi akan lahir. tidak sungsang, tidak terlilit tali pusar. saat ini Kakak sudah masuk panggul dan siap lahir.

waktu saya pindahan ke Bogor karena mas yunus akan tugas luar negeri, saya sempat khawatir sebab saya akan sendirian. ternyata, saya malah dapat dokter kandungan yang adalah senior mas yunus di FK UI–yang akhirnya mengurusi saya seperti keluarga sendiri.

masih banyak lagi kemudahan lain yang tak akan habis jika disebut. awal kehamilan saya pun adalah kemudahan, sampai-sampai usia janin saya lebih tua 2 minggu daripada usia pernikahan.

saya bertanya pada Ibu apakah dulu saat hamil, Ibu juga selalu mudah seperti saya. kata Ibu, pertama kemudahan akan datang pada orang yang suka memudahkan orang lain. kedua, kemudahan datang pada orang yang pasrah–yang menyerahkan segala urusan pada Allah.

tulisan ini saya buat bukan dalam rangka menunjukkan bahwa saya suka memudahkan orang lain atau bahwa saya sudah cukup pasrah. tulisan ini adalah penyemangat untuk diri sendiri agar saya pasrah, sepasrah-pasrahnya. mulai minggu ini, usia kandungan saya sudah cukup untuk lahir. insyaAllah mulai minggu depan, saya sudah masuk waktu-waktunya melahirkan.

saya berdoa dan memohon doa dari teman-teman semua. semoga Allah memberikan kemudahan sekali lagi kepada saya. semoga Kakak bisa lahir dengan normal, dengan lancar dan sehat. semoga walaupun ada kemungkinan (besar kemungkinan) saya melahirkan tanpa ada mas yunus di samping saya, saya tetap punya kekuatan. semoga saya bersabar.

saya selalu menganggap bahwa momen melahirkan adalah momen paling indah yang bisa dialami seorang perempuan. lebih indah daripada momen menikah atau dilamar. itulah mengapa ending Teman Imaji saya tulis dengan adegan kica akan melahirkan. bagaimana tidak? momen melahirkan adalah momen yang nilai ibadahnya–jika meninggal–sama dengan syahid. meskipun, sakitnya setara dengan 22 tulang patah.

tentang kepasrahan: ternyata, segala jenis perasaan tak nyaman akan semakin tak nyaman hanya jika kita melawan. jangan dilawan, niscaya menjadi lebih ringan. jangan dilawan, niscaya Allah memberikan kemudahan.

Mengontrol Hati.

Ada yang bilang, dia uninstall IG karena susah mengontrol hati.

Ngeliat temen-temennya yang kuliah di luar negeri bikin iri.

Ngerti sih.

Scrolling timeline IG atau Path bisa bahaya juga. Gak munafik, kadang terselip sedikit rasa cemburu di hati. Entah tentang kuliahnya, kerjanya, atau kehidupan percintaannya (eh).

Pernah suatu siang, di rumah Uthi, aku bilang, “Tik! Kenapa ya, idup orang ni lancar-lancar aja. Lurus-lurus aja. Abis kuliah, langsung dapat kerja. Dapat kerja, langsung nikah.”
Uthi jawab dari dapur, “Hidup orang yang mana yang kamu bilang ini? Hah?”

Ohiya.

Hidup itu kan sawang sinawang.

Dibalik foto mereka di depan gedung kampus kebanggaannya pasti ada cerita.
Dibalik foto mereka di ruang kerjanya juga pasti ada perjuangannya.
Kita gak tahu aja kisahnya.

Karena gak semua kisah dapat diceritakan. Dan gak semua cerita bisa dikisahkan. Kita gak harus tahu semua. Dan gak semua kisah harus kita ceritakan.

Aeeehh belibet.

Aku sempat berpendapat kalau bangga tidaknya seseorang tentang sesuatu, dilihat dari seberapa banyak dia ngepost hal itu di media sosialnya. Ini pendapat pribadi sis, gak ada penelitiannya wkwk

Tapi gak jugak sih, ada juga yang postingannya mengeluh terus tentang kerjaannya. Padahal di sisi lain, ada orang yang berharap bisa dapat kerjaan yang sama.

“Someone else is praying for the things you take for granted” kalau kata quote di pinterest, yang beberapa kali menggema dipikiran. Makanya, bersyukur dong bro sis. Bersyukur dengan apa yang kita punya. Wkwk

Beberapa kali Putri mengingatkan kalau nanti udah nikah atau udah punya suami, jangan sering-sering posting kemesraan, karena pas kita zomblo kita ngerti rasanya gimana ngeliat pasangan halal yang bermesraan. Wkwk.
Atau ketika Mas Kus mengingatkan untuk menjadikan IGku yang sudah 20K itu (eh), sebagai media dakwah. Selipkan sedikit demi sedikit sebagai self reminder. Tapi apa pantas? Apa kata orang nanti?

Tuh kan, mikirin apa kata orang lain. Kalau kata Yosi, “Alangkah damainya hidup ini mbak kalau kita menjadikan Allah alasan kita untuk melakukan sesuatu.”
Kalau kata Mae, “Kalau ngurusin terus apa kata orang, gak kelar-kelar urusan dunia.”

Jadi, kalau aku, aku nih, aku yang masih harus banyak banget belajar ini, melihat banyak postingan tentang kehidupan yang menjangkit penyakit hati, seperti iri dan dengki, memang sebaiknya dihindari.

Daripada dalam hati nyinyirin, “Heleh, pacaran aja pun, fotonya mesra-mesraan. Kalau putus hayolah.” Atau “Ndeh, enak kali dia kerja disitu, pasti gajinya besar kali, jalan-jalan terus, makan-makan terus…”

Tapi kalau semisal sudah terlanjur terlihat, aku lagi berusaha keras menyetir segala nyinyiran di hati menjadi sesuatu yang positif. Seperti, “Ya, semoga jodoh. Semoga segera nikah. Ya, dia bisa dapat kerjaan bagus gitu pasti karena sudah rejekinya. Rejeki sudah ada yang atur.”

Ingat, kita gak bisa mengontrol orang lain, yang bisa kita kontrol adalah diri kita sendiri.

Ingat juga bahwa hidup itu sawang sinawang. Apa itu sawang sinawang? Silahkan di cari sendiri ya. Jangan manja.

Kini, kubiarkan apa pun engkau simpan sendiri: do'a, luka, atau kata maaf yang kupinta. Tiada pengaruh mereka semua pada keinginanku untuk selalu terbuka, terutama padamu, yang kurasa belum begitu lancar membacaku.

untukmu yang baru saja diwisuda~
selamat menempuh masa dimana buku-buku tak lagi disampingmu~
teman-teman semua tersenyum riang menatapmu~
seakan kau melayang diatas awan
berbahagia~
satu langkah menuju mimpi berikutnya
ku doakan kau selalu~
taklukkan mimpi indahmu~
selamat mengenakan toga dan piagam~
selamat kedua orang tua tersenyum bangga~
selamat hari ini ku panggil dirimu @hujanmimpi SARJANA~

Yang beberapa jam lagi bakal make toga, semoga lancar terus segala urusannya dan selamat atas kelulusannya. Tetap mengagumkan~ XoXo

Made with SoundCloud

Setiap kali saya merasa dekat dengan seseorang maka tiap-tiap itulah saya mengkhawatirkan soal siapa saya dan siapa dia.

Bukan karena saya ingin semuanya berjalan lancar tanpa kendala, bukan karena saya manja atau apa, tapi ada kekhawatiran yang membekas dari kejadian dulu.

Saya tidak berdiri di samping seseorang tapi di hadapan seseorang. Di tengah kami ada sumur dalam, kelam, dan sunyi.

Words (2)

Di sisi lain, kata-kata juga dapat mencuri hati. Membuat hati terbuai. Mendatangkan perasaan tenang. Membahagiakan.

Contoh: ketika kita kejedut sesuatu, kemudian merasa sakit, Ibuk datang, meniup bagian yang sakit lalu bilang, “Dah. Dah hilang sakitnya. Dah sembuh.” kemudian rasa sakit tadi benar-benar hilang.

Atau ketika, your crush say “Hai” to you, dan senyum di wajahmu gak hilang seharian.

Atau disaat lagi ragu, atau gugup ketika mau maju sidang skripsi, kemudian salah satu teman mendekat, menepuk bahu lalu bilang, “Bismillah. Semoga lancar. Kamu pasti bisa.” Kemudian rasa gugup tadi hilang walau masih ada sisanya.

Atau ketika Bapak bilang, “Terimakasih, Nak.” Saat kopinya aku dekatkan dengan beliau.

Dan ketika sedang gusar, tak tenang, sedih, dan hati terguncang, kita ingat, “Laa Tahzan, Innallaha ma'ana.”

Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Wadaaawhh…sedappphh kata-kata penutupnyaahhh…

Pernikahanmu, Semoga Selalu Indah Walaupun Tak Selamanya Mudah

Alhamdulillah, kali ini dua orang teman saya ternyata berjodoh. Saya mengenal mereka berdua ketika mengikuti pelatihan Forum Indonesia Muda angkatan 16 tahun 2014.

Kala itu, Sabtu, 18 Maret 2017 di Mesjid Al-Khabii, Kopo. Rintik hujan yang lembut penuh berkah menemani suasana khidmat pengikraran janji suci itu. Semua berjalan lancar sehingga jarak yang sangat jauh diantara mereka hilang seketika, saat kata “sah” menggema di mesjid itu.

Selamat Menempuh hidup baru, @yulialatifah dan Dwi Bremani, Semoga pernikahan kalian bersemi sampai surga-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cinta-Nya pada keluarga kalian berdua.

Berikut ini adalah catatan singkat khutbah nikah mereka yang saya rangkum dengan bantuan seorang teman, Aji Nur Affifah. Yuk kita resapi bersama! Semoga bisa menjadi pembelajaran baharga untuk kita kedepannya ya.

Adakah yang galau nikah? Hehe….

Galau nikah boleh banget, asalkan dibarengi dengan semangat menuntut ilmu, terus memperbaiki diri, dan yang gak kalah penting adalah terus menjaga diri. Agar sesuatu yang fitrah ini menjadi berkah. Semangat dan selamat berjuang ya!

Begini isi khutbah nikah mereka :

Jika diambil tema besarnya, nasehat yang disampaikan kala itu mengandung sebuah tanda tanya “Bagaimana memaknai pernikahan agar cinta tak lekang oleh waktu dan terus bersemi hingga ke Surganya?”

aahh yaa, setiap hati yang bertaut karena Allah tentu saja mendamba cinta hingga surga. Namun, untuk mencapai hal itu, ada beberapa makna yang harus ditanamkan pada mitsaqon ghaliza ini. Sebelum ia bertumbuh lebih tinggi, maka fondasinya harus diperkuat terlebih dahulu, agar ketika angin menerpa lebih kuat, maka ia tak mudah rapuh dan tak gampang rubuh.

Ialah perjanjian yang kuat, perjanjian yang agung, dan perjanjian yang disaksikan langsung oleh Allah SWT, yang apabila sepenggal kalimat itu di ucapkan maka para malaikatpun akan memenuhi seisi ruangan seraya mengaminkan doa-doa yang bertebaran disana.

Jadi, apakah yang harus ditanamkan, ditumbuhkan dirawat hingga ia bersemi sepanjang waktu?

Tolong tanamkanlah beberapa makna ini didalam hatimu, ya!

Pernikahan adalah rahmat Allah, pasangan kamu adalah yg terbaik dunia akhirat. Terimalah ia dengan segala rasa penuh kesyukuran. Terimalah ia, baik kebaikannya maupun apa-apa yang tidak ada padanya. Sadarkah jika, di antara miliyaran manusia di bumi ini, tapi Allah telah memilihkan dia untuk melengkapi agamamu. Maka, janganlah biarkan dia pudar. Karena pernikahan itu amanah bagimu, hanya ia yang dititipkan Allah pada kamu. Muliakakan ia dengan sebaik-baiknya cara. Lalu berlomba-lombahlah menjadi seseorang yang mulia dengan cara memuliakan pasangan kamu.

Pernikahan adalah jembatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka setiap waktu yang kamu habiskan bersamanya akan bernilai ibadah. Luruskan setiap niat yang mengawali setiap harimu, setiap langkahmu hanya untuk Allah. Menata setiap satuan tangga surga bersama dan senantiasa menanti ridha-ridha Allah.

Pernikahan adalah dakwah. Dakwah adalah merangkul dan dirangkul. Menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk pasangan. Kamu tak harus memberikan khutbah didepan banyak orang, karena dengan memberikan teladan yang baik dalam rumah tangga maka akan menjadi jalan dakwah bagimu. Hadirkanlah perbuatan, perkataan dan sikap yang baik, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian,berpegang teguhlah pada alqur'an dan sunnah, maka tidak akan ada perpecahan keluarga dan tidak ada perceraian diantara kalian. Dengan mengajarkan one day one ayat, one day one hadist maka rumah tangga itu akan dipenuhi cahaya dan hati akan ditumbuhi iman yang berlipat-lipat pula.

Pernikahan adalah sebuah kepercayaan dari Allah. Allah akan meminta pertanggungjawaban nanti. Untuk apa waktu yang kamu habiskan bersama, kemana tujuan kamu menempuh perjalanan berdua dan kontribusi apa yang dibangun saat bersama. Karena pernikahan adalah jalan menuju surga bersama-sama. Jadi, pastikan apa-apa kepercayaan ini dijaga dengan sebaik-baiknya.

Pernikahan adalah taklim. Ia merupakan awal dari pembelajaran. Perbedaan yang ada dalam pernikahan adalah pelajaran berharga. Setiap kejadian yg terjadi dalam pernikahan adalah bagian untuk kita menjadi manusia yg lebih baik. Sikapi perbedaan itu dengan penuh rasa cinta.

Begitulah beberapa makna tentang pernikahan yang bisa dijadikan fondasi untuk menjadi keluarga yang dirindukan surga. Pernikahan adalah rahmat, ibadah, dakwah, amanah, dan taklim.

Semangat berbenah, dan semoga diberi kesempatan untuk mengamalkannya ya!

Bandung, 22 Maret 2017

Pada tau fifty shades of grey, kan? yang dari awal isinya udah ciuman, bisikan pelan disekitar telinga yang bikin geli gak ketahan, kecupan kecupan manja, sampe sisi gelap si pemain utama pria yang gak bisa dicerna kepala. 

Tau, kan?

Sekarang ada lanjutannya fifty shades of darker, malah. 

Yang gue serap…..

…..kalau mau ena ena di luar negeri aja. Di Indonesia mah yaAllah

  • beloman ena udah kepergok ibu kost
  • beloman ena udah dirazam
  • beloman ena udah keluar di dalem
  • ena dikit langsung bunting
  • ena dikit ngelahirin kriminal lalu buang bayi sembarang
  • sekalinya gak ngelahirin, aborsi ato bunuh diri. Phew ‘-’)/

Kalo di luar negeri ena ena lancar aja. Gak pernah pernahnya tuh cerita cem fifty shades of grey, lalala nanana sampe american pie ada perkara perkara gituan. Bikin dosa di luar negeri mah gampang ~~~\o/

Tar neraka isinya bule semua ya apa?

Saya sebenarnya kurang tahu dengan pasti. Bagaimana seorang laki-laki bisa dikatakan sebagai “calon imam yang baik”. Sebab penilaian dan pemikiran dari setiap perempuan memiliki standarnya masing-masing. Menurut saya, laki-laki yang ringan melangkahkan kakinya untuk sholat jama’ah di masjid, sudah termasuk calon imam yang baik. Laki-laki yang bacaan Al-qur’annya bagus, lancar, makhroj, tajdwidnya, juga calon imam yang baik. Printilan-printilan kejelekan atau sifat buruk yang ia punya, bukankah masih bisa untuk direduksi? Diperbaiki, diperbaharui, dengan proses yang disebut pendewasaan. 

Dan, yang lebih penting adalah bukan hanya soal menilai laki-laki mana yang pantas untuk disebut sebagai calon imam yang baik. Namun, bukankah memperbaiki diri untuk dapat menjadi calon istri yang baik adalah yang lebih penting?


Malang, 19 Mei 2016.

Jadi begini loh ya, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Tidak bisa disamaratakan.

Pada umur sekian ia lulus kuliah. Setelah sekian hari wisuda seharusnya ia sudah memiliki pekerjaan, tidak lebih dari sekian tahun harusnya sudah menjadi pegawai tetap. Pada usia sekian ia menikah. Setelah sekian bulan menikah ia harusnya sudah memilki anak. Di usia pernikahan sekian tahun seharusnya ia sudah memiliki rumah layak huni beserta dengan kendaraan minimal roda empat. Tidak bisa dipeta-petakan demikian, karena seperti kalimat pertama saya tadi; waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. 

Okelah di usia sekian kamu sudah lulus kuliah, esoknya setelah wisuda langsung mendapatkan pekerjaan, dua tahun bekerja sudah diangkat menjadi pegawai tetap, tidak lama dari itu kamu sudah bisa menikah, beberapa bulan kemudian kamu memilki anak, rezekimu lancar hingga kemapaman sudah kamu punya. Namun sayang, tidak semua orang waktu yang tepatnya sama dengan kamu. Bisa saja waktu tepatnya sedikit terlambat dibandingkan kamu, tetapi baginya tetap saja tepat karena ada beberapa hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu sebelum ia mengambil suatu keputusan dan baru terselesaikan di usia sekian–mungkin saat kamu sudah memiliki anak yang sangat lucu.

Itu satu yang harus kamu ketahui.

Yang kedua, menyuruh atau saya perhalus mengiming-imingi–atau apa ya bagusnya (saya bingung sendiri)–orang lain untuk segera mengikuti jejakmu, saya rasa tidaklah perlu berlebihan. Maksudmu mungkin mengingatkan. Tapi mengingatkan mana yang seolah memojokkan? 

Kamu tidak tahu saja banyak sekali kendala atau halangan yang harus orang lain damaikan sebelum ia bisa mengikuti jejakmu. Mungkin saja ia terbentur masalah sehingga perkuliahannya sedikit molor, mungkin ia harus berkompromi dengan rasa percaya diri agar ia bisa lolos di setiap interview pekerjaan, mungkin ia belum bertemu dengan jodohnya, mungkin ia sudah menemukan seseorang yang ‘klik’ namun belum kunjung mendapat restu kedua orang tuanya, mungkin ia terlalu diforsir dalam bekerja sehingga ia terhambat dalam mendapatkan keturunan, dan yang pasti, mungkin memang belum waktunya. 

Sudahkah kamu cari tahu mengenai latar belakangnya mengapa ia tidak bisa semudah jalanmu mendapatkan sesuatu? Sudahkah kamu melapangkan kepekaanmu untuk itu semua? Sudahkah kamu cek bagaimana caramu beretenggangrasa dengan sesama?

Saya rasa, tidak perlu mendorong-dorong seseorang untuk menyegerakan apa yang baik–sedangkan ia belum berdamai dengan diri dan segala urusan di belakangnya. Karena seperti yang saya bahas pertama, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Jika kamu beres dengan segalanya di usia sekian, selamat. Jika ia belum beres dengan segala yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan, ya jangan dikucilkan, jangan dipojokkan. Jika kamu mengatakan dirimu teman, maka berlakulah selayaknya teman. 

Cinta Kelar dalam Dua Bulan.

CIIEEEEEHH YANG CINLOKAN PAS KKN. WAKAKAKA.

Eh.

Sudah jadi hosyip hawt kalau KKN adalah masa-masa rawan cinlok.

Dulu, aku KKN di Sewon, Bantul. Bukannya browsing lokasinya kayak gimana, tapi aku lebih sibuk ngepo anggota laki-lakinya. MBAHAK!! Dua bulan tidak boleh sia-sia!

Jadi gini, aduh, jadi malu. Tapi karena ini sudah lewat, dan cerita sudah berakhir, gapapalah ya.

Dari awal pertemuan pertama, mata ini tahu harus menatap siapa. Sebut saja namanya Didi. Didi ini menarik sekali, bukan wajahnya, tapi suaranya. Konon Didi memang seorang penyanyi. Wadawh, impianku sekali punya pasangan yang bisa nyanyi. Wokwokwok.

Singkat cerita yah, KKN berjalan lancar tapi tidak dengan kisah percintaannya. Sempet digosipin dan sempat tertarik satu sama lain, tapi mengingat akan panjang urusan jika terus dilanjutkan, akhirnya kita pilih untuk saling menghindar.

Pacaran bukan solusi, teman. Sedangkan menikah masih terlalu jauh di depan mengingat kami berdua masih kuliah.

“Toh, kalau jodoh dak kemana.” Menjadi alasan kita semua.

Tapi Didi udah punya pacar sih sekarang. Bye bye Didi. Semoga bahagia. Hahaha

Nah, kenapa tiba-tiba keinget KKN? Karena kemarin aku baru aja datang ke nikahan teman kuliahku dengan teman KKNnya.

Omg! It’s real!!!!!! Hahaha

Vidya dan suami bertemu pertama kali di momen KKN itu, mereka satu Unit tapi beda sub-unit, beda desa gitu. Orang kayak Vidya bukan tipe-tipe yang pacaran, nah, yang aku lewatkan adalah kisah bagaimana mereka akhirnya bersatu dalam pernikahan. Weseehh…nanti aja untuk Tak Kenal Maka Ta'aruf (5).

Luar biasa. Bermula dari KKN, kemudian akhirnya sekitar 4 tahun kemudian menikah. Aduh, Didi, andai saja kita bersabar lebih lama, kalau saja kamu menunggu sebentar lagi saja. HAHAHA gak ding, becanda, dia juga kayaknya udah mau nikah sih.

Nah, buat kalian yang pernah ada rasa, kemudian harus menahan diri karena belum waktunya, sekarang mungkin bisa kalian ciptakan kesempatan kedua. Tahun ini pasti kalian sudah sama-sama lulus. Sudah mapan. Maka kejarlah apa yang dulu kalian lepaskan. Aku dukung kalian.

Kamu tahu aku berbicara padamu kan, Al?

Wkwkwk

Pis. Laf. En gawl.

anonymous asked:

Assalamu'alaikum mas Angga.. mas boleh konsul ? sy kan bacaan Qur'an nya belum lancar dan belum mempunyai hapalan karena baru belajar , tapi sudah dapet PR dari guru tahsin nya untuk khatam Qur'an, tapi di samping itu sy pun punya niat ingin hapal minimal juz 30 dulu.. menurut mas Angga sy dahulukan yg mana ya? khatam atau hapalan? atau barangkali mas Angga punya tips agar sy bisa mengatur wwaktu yg baik utk melakukan keduanya.. terimakasih mas jika brkenan menjawab

Wa’alaykumussalaam wr wb, untuk bisa ngasih saran dalam hal ini harus lihat dan mendengar secara langsung kelayakan bacaan Qur’annya. Kalau memang sudah masuk pada ambang batas layak, maka yaa gak apa2 lah dikit-dikit nyicil juz 30. Nah kalau belum, prioritasnya ada pada membaguskan kualitas bacaannya dahulu…

Masalahnya sebagai yang ditanya, saya ndak tau bagaimana menilainya klo ndak dengar bacaannya..

Sebuah Pengakuan
— 

25 tahun, aku tidak pernah mengucapkan “selamat hari ibu, mah”.

Ibuku tak pernah berkata “mama sayang kamu,nak”
Ibu hanya sering bertanya “kamu sudah makan? Tidurmu yang bener, jangan sering begadang”, “Solatmu gimana? Jangan lupa mengaji juga”, “Usahamu lancar? Jangan lupa sedekah”.

Ibuku tak pernah berkata “Ibu rindu kamu, nak. ”
Ibu hanya sering bertanya “kamu berapa lama disana? Jika sudah selesai cepatlah pulang”

Satu-satunya yang patut dirayakan dariku untuk ibu adalah, setiap Ibu masih selalu bertanya tentang aku.

Begitulah orang tua

Dulu saat SMP, SMA dan kuliah seringkali pertanyaan keluar dari mulutku pada ayah dan mamaku.
A: nanti mau masuk jurusan apa?
B: mungkin kedokteran atau arsitektur. Tapi, ayah maunya aku jadi apa?
A: yang penting selalu lancar ngajinya jadi apapun juga ga masalah.
B: ooh.. (sambil tersenyum)
….
B: ma, kalau mama maunya aku jadi apa?
M: sebisa mungkin yang bisa memprioritaskan kehidupan agamanya dan nanti kalau udah berumah tangga bisa keatur.
B: intinya jadi guru?
M: jadi apapun yang penting barokah :)
B : ooh.. (sambil tersenyum)

Kenapa seringkali ku tanyakan hal itu, setiap akan melanjutkan jenjang selanjutnya? Karena percayalah aku tidak akan ada tanpa mereka.

Tujuan hakiki kita hidup untuk mati, tapi membahagiakan keduanya adalah tujuan sebelum aku mati.

Nias Selatan, Lolomatua 21maret 2017
2

setiap pagi selepas sholat Dhuha bersama di sekolah, Kakak didoakan oleh lebih dari seribu siswa Wikrama (Bogor). Pak Guru selalu menyebutkan, “juga mari kita doakan keluarga kita yang sedang mengandung, yaitu mbak Uti, semoga janinnya sehat, lancar persalinannya, dan kelak menjadi anak sholeh(ah) yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”

belum lagi dengan doa-doa setiap selepas sholat dari Bapak-Ibu dan Ayah-Ibu. tidak pernah putus pada sepertiga malam, sebelum fajar, sepenggalan siang, semenjelang petang, di waktu hujan, di antara adzan dan iqomah, di setiap waktu.

(akan) menjadi orangtua mengajarkan saya betapa setiap manusia pernah dan dulunya adalah doa-doa. tidak ada seorang anak pun yang dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa yang tidak baik. termasuk kita.

bertumbuh dan menjadi dewasa seharusnya juga menyadarkan bahwa kita punya pilihan–untuk menjadi jawaban doa-doa. siapa yang tahu, di belahan dunia entah yang mana, ada orang-orang yang senantiasa mendoakan kita dengan tulusnya. mana tega kita mematahkannya(?).

*sehat selalu ya, Nak. doa Ibu dan Bapak bersamamu.
**terima kasih Ayah, Ibu, Bapak, Ibu, kami tak ada apa-apanya tanpa doamu.

Hal yang paling penting dari sebuah hubungan itu ada dua. Kepercayaan dan komunikasi. Lancar tidaknya suatu hubungan, dapat di lihat dari bagaimana kita merawat keduanya.
A Little Deeper about LPDP

Alhamdulillaah, saya diterima menjadi bagian dari keluarga besar Beasiswa Pendidikan lndonesia LPDP, per Maret tahun ini dan telah diresmikan lewat kesertaan saya dalam program Persiapan Keberangkatan angkatan 33 (PK 33).

Sebelum lebih lanjut bercerita. Kamu mesti tahu dulu dong apa itu LPDP. LPDP stands for Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. LPDP bergerak sebagai sebuah Badan Layanan Umum (BLU) yang mengelola anggarannya sendiri, tanpa birokrasi seperti acc anggota DPR atau dirjen atau menteri. Asal sudah dapat acc dari Direktur Utama, Bapak Eko Prasetyo, semua lancar jaya.

LPDP hadir untuk membantu anak-anak muda Indonesia meningkatkan kapasitas keilmuan mereka untuk belajar di kampus-kampus terbaik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kalau Beasiswa Dikti atau Unggulan adalah untuk calon dosen, LPDP adalah untuk semua! Dengan catatan, para penerima beasiswa adalah orang yang punya visi yang sejalan atau masih dalam satu sekerangka dengan visi besar LPDP.

Pada hakikatnya, kecocokan “siapa yang berhak atas apa” memang kembali ke pribadi. LPDP mencari orang-orang yang mau bikin Indonesia lebih baik dengan ilmu dan keringat mereka. Terlepas kamu sekarang kerja di BUMN, berstatus PNS, dosen, pegawai swasta, pebisnis, atau lainnya, LPDP mencari orang yang mau menguatkan pondasi kemajuan Indonesia di 2045.

Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Hari ini Indonesia belum sepenuhnya berdaulat. Masih kita sama-sama tahu bahwa impor produk dan impor teknologi dan bahkan SDM masih deras arusnya. Ini bukti kita belum bisa independen dari negara lain. Kita belum sepenuhnya berdaulat. LPDP ingin mencicil kedaulatan yang hakiki untuk Indonesia di 2045.

Memang investasi SDM itu besar jumlahnya dan tidak langsung “return"nya. Sehingga dengan kacamata yang kini-sentris, membayarkan kuliah ratusan juta buat per kepala menjadi cukup absurd sebenarnya. Tapi itulah konsekuensi jika kita ingin melejit menyusul bangsa-bangsa lain yang sudah berdaulat penuh atas bangsanya. Oleh karena itu, LPDP tidak butuh orang yang masih belum bisa menyinkronisasi mimpi pribadinya dengan cita-cita komunal untuk Indonesia.

Setelah kamu merasakan bahwa menyekolahkan anak-anak muda dan para dosen ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan di kampus-kampus terbaik itu sangat penting in the long run, kamu bisa menakar apakah beasiswa ini cocok buatmu.

Berikut tips buat pendaftar beasiswa ini.

1. Know yourself

Tentu saran ini tidak lazim. Tapi saya menyadari betul bahwa mengenal diri adalah bagian yang kurang dilakukan para pendaftar. Mengenal diri bisa dimulai dari "recount” pilihan hidup apa saja yang sudah kamu ambil, prestasi yang sudah kamu ukir, kesalahan apa yang pernah kamu perbuat. Kemudian berlanjut mengenal minat, bakat, passion, dan mimpi. Soal mimpi, dia bisa sangat sederhana atau malah sangat kompleks. Jika kompleks, pastikan kamu sudah mencoba memecah-mecahnya menjadi pointers atau langkah-langkah konkret dan terukur dalam kerangka waktu tertentu.

2. Research the right program for you

Setelah mengenal diri, maka kamu sudah mulai bisa mengatakan bidang keahlian dan kualifikasi macam apa yang kamu butuhan dari tempat studimu nantinya. Bekerjalah dengan ceklis. Mulai seleksi beragam bidang minatmu menjadi 2-3 bidang. Setelah itu search ketersediaan program di 200 kampus yang “diakui” LPDP. Akhirnya, mungkin kamu akan menemukan 10-20 program prioritas dari beberapa kampus atau negara incaran. Baca kurikulum program-program tersebut. Dari sini kamu sudah punya bayangan apa kekuatan satu program dari yang lain, atau bagaimana style, mindset, atau konten disajikan dalam program 1-2 tahun buat S-2 dan 3-4 tahun buat S-3.

3. Tentukan dengan bijak

Sekarang saatnya mempersempit pilihan menjadi 3-5 program saja. Kenapa cuma disarankan sejumlah itu? Menulis aplikasi beasiswa takes time. Di luar tes bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) atau tes TPA seperti GRE dan GMAT, menulis esai atau “personal statement” untuk masing-masing aplikasi butuh alokasi waktu yang tidak sedikit. Mulai dari membuat kerangka tulisan, meriset data untuk dijadikan argumen tulisan, menulisnya, dan terakhir editting. Tiap kampus punya “pertanyaan” berbeda untuk masing-masing esai. Dan tentu saja, tiap program “butuh” esai dengan nada yang berbeda pula.

Seorang teman pernah berkata, pada akhirnya yang lebih penting adalah apa yang ditawarkan sebuah kota atau negara tempat belajar. Kamu bisa setuju atau tidak. Kita hidup di kampus cuma sekitar sepertiga waktu kita. Lalu bagaimana dengan dua pertiganya dan akhir pekan? Kamu bisa mempertimbangkan sebuah kota atau negara tempat belajar karena budayanya, alamnya, atau manusianya.

Soal mindset yang tersebut di atas, mungkin tidak banyak yang tahu. Pada umumnya kita bisa melihat arah/visi keseluruhan kampus dari outputnya dan kurikukumnya. Output itu seperti publikasi, program keluaran, publikasi, serta kebijakan. Ada kampus yang sangat teoritis. Kampus ini sangat peduli dengan validitas teori daripada implementasi dan data riil di lapangan. Ada juga kampus riset yang befokus pada kebaruan dan kemutakhiran ilmu dan teknologi. Kampus ini berfokus pada keluaran publikasi dan biasanya punya dana dan infrastruktur riset yang jauh di atas rata-rata. Lalu ada kampus entrepreneurship yang sangat menggalakkan transfer teknologi. Di sini inovasi, start ups, dan komersialisasi jadi jargon penting. Kemudian, cari tahu kekuatan masing-masing kampus dari konteks keilmuannya. Misalnya, kalau di Inggris, bidang material yang bagus itu di U of Manchester, biomedis mungkin di Imperial, fisika teoritis ya di Oxford-Cambridge, teori ekonomi mungkin di LSE, and so on.

4. Tanya orang di sekitar

Kenyataan mungkin tidak sama dengan apa yang ada di brosur atau website kampus. Cari tahu orang yang sedang atau pernah berkuliah di kampus tujuanmu. Cross-check data yang kamu punya ke mereka. Semakin dekat sumber informasi kita dengan kondisi riil di lapangan, semakin valid masukan dan komentar mereka. Mungkin saja mereka akan menguak hal yang tidak lazim diketahui orang lain.

5. Isi formulirnya

Sekarang statusmu sudah mendaftar kampus/program yang sudah kamu pilih dan validasi di poin 3 dan 4. Kamu sedang menunggu hasil seleksi kampus. Sekarang saatnya mengisi formulir LPDP. Isi dengan baik, jujur, dan serius. Baik artinya mengeluarkan semua kemampuan. Jujur artinya tidak mengada-ada. Dan serius artinya siap dikritik orang lain dan terus memperbaiki isian aplikasi. Di sini saya menyarankan meminta masukan dan kritik dari teman-teman yang sudah lolos LPDP: Does my essay sound firm and convincing? Do I need to add more details? What dos and don'ts to add on the writings?

Akhir kata, proses mengenal diri, menentukan mimpi, dan memilih program yang sesuai sudah lebih dari setengah jalan pengisian aplikasi bessiswa LPDP. Orang yang punya cita-cita yang jelas akan mudah menuliskan aplikasinya dan nantinya mudah meyakinkan interviewer. FYI, sekarang ada kebijakan-kebijakan baru untuk pendaftaran LPDP seperti academic writing on the spot. Pas batch saya sih belum ada. Keep updated and prepared ya!

Take a part in shaping better Indonesia :’)

Pesan Mbah Arwani Kudus Buat Para Penghafal Qur’an

1. Jadilah orang yang pandai bersyukur.

2. Ndak usah maksa diri sendiri. Yang penting berusaha. Jadi ndak usah maksa maksa diri sendiri buat harus dapet segini segitu, ndak usah mikir lancar apa nggak, ndak usah mikir dapet banyak atau dikit. yang penting usahanya. Yang penting usahanya udah maksimal. Perkara lancar apa nggak, biar jadi urusan Allah.

3. Ndak usah banyak bercanda. Ndak usah banyak ketawa tawa apalagi sampe ngakak ngakak. Nanti hatinya jadi keras, akhirnya susah masuk ayat ayat-Nya.

4. Jangan gampang ngeluh. Cobaan orang beda beda. Ada yang dikasih lancar, ada yang dikasih lambat. Intinya, kalo Allah ngasih cobaan pasti itu yang terbaik buat kita. Ndak usah khawatir, semuanya akan mulia dengan porsi yang beda beda. Sesuai cobaannya.

5. Ojo mburu cepete, tapi mburu lanyahe. In other words, ngajinya jangan cepet cepet, yang penting lancar.

6. Sholatnya hati hati. Hati hati banget. Mulai dari wudhlunya, takbirnya, bacaannya, sujud rukuknya, hadirnya hati. Dan semua semuanya. Harus ada bedanya antara sholatmu dengan sholat orang lain. Sholatmu harus lebih istimewa.

7. Kalau punya hajat tertentu hati hati. Maksudnya kalo berdo’a hati hati. Jangan salah ya, kadang do’a aja kita bisa salah lho isinya. Tidak semua orang bisa berdo’a. Tidak semua orang mahir meminta kepada Allah. Jadi, hati hati banget kalo mau do’a.

8. Sayangi orang tua, selalu minta do’a orang tua. Selalu sertakan orang tua dalam setiap do’a. Jangan pernah sia siakan orang tua. Suatu saat kita akan menyadari kalo sukses yang kita dapatkan adalah berkat dari orang tua disepertiga malamnya.

9. Do’ain kyaimu, do’ain gurumu, do’ain ustadzmu, do’ain ustadzahmu. Sertakan mereka dalam setiap panjatan do’a do’amu yang melangit. InsyaAllah akan barokah hidupmu.

10. Kalo nderes (muroja’ah) yang tartil. Ndak usah cepet cepet. Nikmati ayat per ayatnya. Pahami maknanya, masukkan dalam hati, rasakan.

Ketika Hafalan Perlahan Hilang

Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an. Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan). Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan. Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih? Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks. 

Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, ada frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan. Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya. Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

Self reminder

©Quraners 
Surabaya, 11 Desember 2015