lancar

Sering kali lisan ini tak sadar saat ia berkhianat.
Terucap kata yang tak perlu, melukai sampai menyayat.
.
Tanpa sadar, kata itu dengan lancar terucap.
Tanpa sadar, di anggap biasa sebagai sebuah Khilaf.
.
Setelahnya baru diri ini sadar,
bahwa tak mungkin kembali kata yang telah keluar.
.
Yang hatinya sakit sudah terlanjur sakit.
Lidah, tak bertulang tapi mampu menggigit.
.
Ya semakin jelas kalau kita masih harus belajar bicara.
Tentang yang keluar dari mulut juga tata krama.
.
Agar lisan membiasa berucap yang seharusnya.
Agar tak ada yang terucap sia-sia apalagi sampai buat luka.
.
Akan lebih bijak dan baik untuk memikirkan terlebih dahulu setiap kata yang ingin diucapkan.
.
Berharap lisan ini bukan hanya menyampaikan.
Tapi juga menyebar manfaat dan kebaikan.
.
Berkata yang baik atau diam
Tentunya pilihan baik adalah diam.
Seperti kata pepatah diam adalah emas.
Namun Bicara yang baik adalah mutiara.
.
Karena yang bijak..
Diamnya bersahaja, bicaranya menginspirasi.

Semoga renungan ini bermanfaat..
.
.
Kontribusi oleh @hana5118

#duniajilbab

Made with Instagram
Tulisan : Mereka Sama, Hanya Saja

Mereka mengalami keresahan yang sama, sama-sama resah tentang hal-hal yang kamu resahkan setiap hari. Dosen yang tiba-tiba hilang, skripsi yang sulit melihat jalan keluarnya, pertanyaan kapan nikah dari orang tua dan tetangga, pertanyaan dari teman sebaya mau kerja dimana atau S2. Ada begitu banyak keresahan yang sama. Hanya saja mereka memilih tempat ekspresi yang tepat atas keresahannya.

Mereka adalah orang-orang yang memainkan waktunya dengan baik, memberikan pikiran dan tenaganya untuk bergerak di tempat-tempat baik. Dalam lingkaran rumah belajar, membantu mengajar di jalanan. Mengurus berbagai kegiatan sosial yang sama sekali tidak memberikan keuntungan materi itu. Mereka ringan membantu begitu banyak urusan orang lain.

Jangan dikira bahwa hidupnya seolah terlihat lancar mulus saja tanpa tantangan. Jangan dikira di usianya yang terus bertambah, mereka tidak resah hatinya karena melihat undangan muncul tiap pekan sepanjang tahun. Juga berita kelahiran bayi yang berlalu lalang. Jangan dikira mereka tidak ingin berjalan keluar negeri untuk sekolah lagi.

Keresahan itu sama, hanya saja mereka lebih memilih berjuang di tempat yang terus memberikan manfaat. Tempat yang selama ini mungkin kamu malas ke sana, lebih enak tidur di kamar dengan internet lancar. Ya, ironi memang.

Selamat merenung :)

Yogyakarta, 27 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

Ketika Hafalan Perlahan Hilang

Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an. Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan). Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan. Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih? Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks. 

Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, ada frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan. Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya. Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

Self reminder

©Quraners 
Surabaya, 11 Desember 2015

Ada orang yang solat dhuha, baca surah al-waqi'ah, dan rajin istighfar kerana ingin rezekinya lancar, murah dan kaya raya.

Ada juga orang yang solat dhuha, baca surah al-waqi'ah, dan rajin istighfar kerana ingin menampung kembali dan menyempurnakan solat-solat wajibnya dan tertarik dengan pahala setiap huruf al-qur'an yang dibalas dengan 10 kebaikan, serta ingin semua dosa-dosanya diampuni.

Dua niat ini sangat jauh berbeza nilai dan visinya. Yang pertama ingin memperbaiki dunianya. Sedangkan yang kedua ingin memperbaiki akhiratnya.

Dan ketahuilah, akhirat itu jauh lebih baik daripada dunia serta lebih kekal.

Namun apa yang pasti, istiqamahlah dlm melakukan solat sunat dhuha kerana ia ada banyak kelebihannya. Wallahu a'lam.

—  Zonkuliah
3

MENENTUKAN ARAH

Inilah alasan #ArahMusim ditunda rilisny, insyaAllah #MenentukanArah akan rilis pada 23 September 2016. Buku ini dibuat secara khusus dan terbatas. Saya dan Aji Nur Afifah bersama menulis buku sejumlah 102 Halaman ini untuk merayakan niat baik kami untuk menikah yang insyaAllah akan kami ikrarkan dalam waktu dekat.

Buku Menentukan Arah akan tersedia di situs milik teman kami di FORUM INDONESIA MUDA yaitu uda @alfatihtimur : www.kitabisa.com pada tanggal 23 September 2016, bisa DIBELI DENGAN HARGA BERAPAPUN-SEIKHLASNYA dan 100% hasil dari buku akan kami donasikan untuk kegiatan amal dan sosial.

Buku ini berisi catatan sudut pandang kami tentang kehidupan. Juga tentang bagaimana kami memandang hal-hal yang selama ini menjadi kekhawatiran-juga harapan.

Kami ingin merayakan kebahagiaan kami dengan berbagi. Juga mengajak siapapun yang ingin merayakan kebaikan bersama-sama. Semoga menjadi pahala yang baik untuk kita semua.

Kami mohon doanya semoga niat baik kami bisa berjalan dengan lancar, memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

Dan bagi teman-teman yang tak sabar ingin memiliki  #HujanMatahari, #LautanLangit, #TemanImaji, ketiga buku ini bisa dipesan pada 1 September 2016 via kurniawangunadi.com dan bisa dipesan untuk teman-teman di Indonesia dan Malaysia.

Informasi :
Indonesia +62-857-7272-4343
Malaysia +60-13-216-7518

instagram :

@langitlangit.yk

?

Jadi begini loh ya, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Tidak bisa disamaratakan.

Pada umur sekian ia lulus kuliah. Setelah sekian hari wisuda seharusnya ia sudah memiliki pekerjaan, tidak lebih dari sekian tahun harusnya sudah menjadi pegawai tetap. Pada usia sekian ia menikah. Setelah sekian bulan menikah ia harusnya sudah memilki anak. Di usia pernikahan sekian tahun seharusnya ia sudah memiliki rumah layak huni beserta dengan kendaraan minimal roda empat. Tidak bisa dipeta-petakan demikian, karena seperti kalimat pertama saya tadi; waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. 

Okelah di usia sekian kamu sudah lulus kuliah, esoknya setelah wisuda langsung mendapatkan pekerjaan, dua tahun bekerja sudah diangkat menjadi pegawai tetap, tidak lama dari itu kamu sudah bisa menikah, beberapa bulan kemudian kamu memilki anak, rezekimu lancar hingga kemapaman sudah kamu punya. Namun sayang, tidak semua orang waktu yang tepatnya sama dengan kamu. Bisa saja waktu tepatnya sedikit terlambat dibandingkan kamu, tetapi baginya tetap saja tepat karena ada beberapa hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu sebelum ia mengambil suatu keputusan dan baru terselesaikan di usia sekian–mungkin saat kamu sudah memiliki anak yang sangat lucu.

Itu satu yang harus kamu ketahui.

Yang kedua, menyuruh atau saya perhalus mengiming-imingi–atau apa ya bagusnya (saya bingung sendiri)–orang lain untuk segera mengikuti jejakmu, saya rasa tidaklah perlu berlebihan. Maksudmu mungkin mengingatkan. Tapi mengingatkan mana yang seolah memojokkan? 

Kamu tidak tahu saja banyak sekali kendala atau halangan yang harus orang lain damaikan sebelum ia bisa mengikuti jejakmu. Mungkin saja ia terbentur masalah sehingga perkuliahannya sedikit molor, mungkin ia harus berkompromi dengan rasa percaya diri agar ia bisa lolos di setiap interview pekerjaan, mungkin ia belum bertemu dengan jodohnya, mungkin ia sudah menemukan seseorang yang ‘klik’ namun belum kunjung mendapat restu kedua orang tuanya, mungkin ia terlalu diforsir dalam bekerja sehingga ia terhambat dalam mendapatkan keturunan, dan yang pasti, mungkin memang belum waktunya. 

Sudahkah kamu cari tahu mengenai latar belakangnya mengapa ia tidak bisa semudah jalanmu mendapatkan sesuatu? Sudahkah kamu melapangkan kepekaanmu untuk itu semua? Sudahkah kamu cek bagaimana caramu beretenggangrasa dengan sesama?

Saya rasa, tidak perlu mendorong-dorong seseorang untuk menyegerakan apa yang baik–sedangkan ia belum berdamai dengan diri dan segala urusan di belakangnya. Karena seperti yang saya bahas pertama, waktu yang tepat setiap orang itu berbeda. Jika kamu beres dengan segalanya di usia sekian, selamat. Jika ia belum beres dengan segala yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan, ya jangan dikucilkan, jangan dipojokkan. Jika kamu mengatakan dirimu teman, maka berlakulah selayaknya teman. 

Adakah yang lebih menyenangkan dan mengharukan hati daripada saat kita mampu mengikuti, menyimak, dan mengingat dengan lancar ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang kita dengar?

Dan adakah yang lebih menyedihkan dan menyesakkan hati daripada saat kita tak mampu melanjutkan ayat-ayat yang pernah melekat dalam ingatan?


Al-Qur'anmu adalah cermin bagi hatimu.

—  ©Quraners
2

setiap pagi selepas sholat Dhuha bersama di sekolah, Kakak didoakan oleh lebih dari seribu siswa Wikrama (Bogor). Pak Guru selalu menyebutkan, “juga mari kita doakan keluarga kita yang sedang mengandung, yaitu mbak Uti, semoga janinnya sehat, lancar persalinannya, dan kelak menjadi anak sholeh(ah) yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”

belum lagi dengan doa-doa setiap selepas sholat dari Bapak-Ibu dan Ayah-Ibu. tidak pernah putus pada sepertiga malam, sebelum fajar, sepenggalan siang, semenjelang petang, di waktu hujan, di antara adzan dan iqomah, di setiap waktu.

(akan) menjadi orangtua mengajarkan saya betapa setiap manusia pernah dan dulunya adalah doa-doa. tidak ada seorang anak pun yang dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa yang tidak baik. termasuk kita.

bertumbuh dan menjadi dewasa seharusnya juga menyadarkan bahwa kita punya pilihan–untuk menjadi jawaban doa-doa. siapa yang tahu, di belahan dunia entah yang mana, ada orang-orang yang senantiasa mendoakan kita dengan tulusnya. mana tega kita mematahkannya(?).

*sehat selalu ya, Nak. doa Ibu dan Bapak bersamamu.
**terima kasih Ayah, Ibu, Bapak, Ibu, kami tak ada apa-apanya tanpa doamu.

Tidak semua orang boleh berperangai dan bersifat seperti yang kita harapkan.

Tidak mungkin semua orang akan sentiasa setia dan menjaga hati kita, seperti kita menjaga perasaan mereka.

Apa yang kita harus sedar, hidup ini tidak seindah cerekarama mahupun telenovela.

Belajar daripada segala kesilapan dan kekurangan. Perbaiki diri untuk jadi yang terbaik.

Berharaplah yang terbaik, tetapi jangan letak harapan yang tinggi. Dan ingatlah, kekuatan kebahagiaan kita berkait secara langsung dengan pandangan dan bagaimana kita berfikir tentang sesuatu perkara.

Dan walaupun sesuatu perhubungan itu tidak berlangsung dengan lancar, mungkin ada satu dua perkara yang berbaloi, yang mengajar kita sesuatu dan perkara yang baru.

Tanamkan dalam hati sendiri ‘pasti ada hikmah di sebalik semua ini’.

Semoga Allah memelihara kita dalam mencari keredhaanNya, Wallahhu Ta'ala A'lam.

#thedaiegraphy #abuhanifah #muhasabahdiri #life #ikutcarakita #harinidahingatmati #dakwahituseni #dakwahmudah #my_genggua #tribulasi365hari #positive #moveon (at Taipan)

Made with Instagram
Ramadhan #17 : Ayah dalam Shaf Terdepan

Berbeda dengan ramadhan tahun lalu dimana aku harus memperlambat langkahku, mengikuti langkah kaki ayah.

“Ayah malu deh, mau ke masjid aja harus dituntun segala.” Katanya setelah kami melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di ujung gang rumah.

“Harusnya mereka yang malu, yah. Masih muda dan sehat tapi gak solat tarawih ke masjid.” Hiburku menimpali.

Alhamduillah aku sudah lancar mengendarai motor. Ayah adalah salah satu motivasiku berani mengendarai motor (lagi). Ramadhan tahun ini aku membonceng ayah menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sesampainya di masjid, ayah dibantu menuju tempat solat oleh tetanggaku. Hijab masjid yang terbuat dari kaca memudahkanku melihat ayah dalam barisan jama’ah laki-laki di depan.

“Koq tadi ayah solatnya di shaf belakang sih, padahal kan tadi datengnya duluan?” tanyaku sesampainya kami di rumah.

“Ayah cuma gak mau ganggu kekhusyuan orang yang solat di samping ayah.”

Ayah yang sudah empat tahun di vonis mengidap gagal ginjal, tahun ini sudah tidak sanggup solat berdiri. Tapi semangatnya untuk tetap berjama’ah di masjid memang juara. Meski harus sebaris dengan anak-anak kecil di shaf belakang, ayah tetap memilih solat teraweh berjama’ah di masjid dengan kondisi solat duduk. Malam berikutnya, ayah berada di baris kelima dekat jendela. Malam berikutnya lagi di baris ketiga, tetap baris terakhir. Baru pertengahan bulan, tapi sejak hari pertama jama’ah solat tarawih semakin menurun. Jama’ah perempuan pun sekarang bisa ikut masuk ke ruang solat utama.

Malam ini ayah tidak memintaku mengantarnya ke masjid.

“Ayah boleh istirahat di rumah aja gak, ya? Simpan tenaga buat jum’atan ke masjid besok,”

“Boleh, Yah.”

“Besok ayah harus di shaf depan.” Katanya menambahkan.

Akupun memutuskan solat tarawih di rumah, menemani ayah. Hari yang di tunggu ayah pun tiba. Kali ini aku tak mengantarnya seorang diri. Dan ayah benar-benar berada di shaf paling depan. Sendirian. Ayah benar, perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masid, perjalanan menuju Rabbnya

Semoga Allah menghitung setiap langkahmu menuju masjid, yah.

Pengirim Tulisan :

Lisdha Nurakida

Dibalik Tiga Jendela

Saidina Umar al-Khattab pernah berkata kepada sahabatnya yang lain: “Marilah kita perbaharui iman kita.” Pada ketika yang lain, Muaz bin Jabal berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk kita beriman sesaat.”

Perkataan Muaz itu bukan menunjukkan mereka tidak beriman sebaliknya dia mengajak sahabatnya bersama meningkatkan keimanan selepas seharian disibukkan dengan pelbagai urusan dunia yang ada di kala menyebabkan kita lalai & leka seketika pada keadaan iman.

Maksud memperbaharui iman ialah menilai & menghidupkan kembali kefahaman & amalan umat Islam berdasarkan ajaran al-Quran & as-Sunnah kerana kefahaman atau amalan umat Islam boleh jadi terpesong daripada landasan Islam sehingga menuntut pembaharuan kefahaman sebenar.

Dalam erti kata lain, memperbaharui iman adalah amalan penting dilakukan khususnya umat Islam pada masa ini yang berdepan dengan pelbagai dugaan hebat seperti cabaran globalisasi serta kecanggihan media massa.

Iman bagi Muslim ibarat enjin kereta, jika baik jagaannya, maka lancar pemanduannya. Jika baik iman seseorang Muslim itu & sentiasa digilap akan baiklah tingkah laku serta keperibadiannya yang menjurus ke arah melakukan ketaatan, menjauhi larangan Ilahi.

Jelas, memperbaharui iman penting kerana iman boleh bertambah & berkurang. Proses memperbaharui iman dapat dilakukan dengan mempertingkatkan kuantiti & kualiti ibadat kepada Allah s.w.t di samping memperbanyakkan amal kebajikan sesama manusia.

Selanjutnya, Rasulullah s.a.w menganjurkan umatnya memperbanyakkan ucapan La Ilaha illallah sebagai usaha memperbaharui iman. Walau bagaimanapun tidak memadai sekadar menggerakkan bibir, sebaliknya perlu dihayati serta diyakini dengan hati untuk mendapatkan kesan yang diharapkan.

Memperbanyakkan ucapan zikir membuktikan keteguhan hati melakukan segala-galanya kerana Allah dalam persoalan ibadat, hubungan keluarga, makanan, minuman, akhlak, ekonomi, pendidikan & lain-lain aspek kehidupan.

Marilah bersama kita memperbaharui & mempertingkatkan keimanan kepada Allah.

Wallahhu'alam.
#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #muslimvolunteermalaysia

Made with Instagram
Percakapan Sepintas di Tempat Parkir
  • A:Kenapa ya penghasilan gue nggak sebesar temen-temen yang lain? Padahal tiap hari doa lancar terus rasanya.
  • Gue:Mungkin Tuhan tau kalau gaji lo gede lo bisa sombong, takabur, orang lain kalau banyak duit beli rebana nah elo malah beli gesper Soneta. Atau mungkin untuk saat ini pemasukan segitu tuh cukup buat elo, kalau dikasih lebih takutnya nanti lo pake buat yang gak bener. Beli sabun kecrotan misalnya.
  • A:Lah kan gue juga pengen nabung.
  • Gue:Nanti juga kalau lo dah siap mah dateng sendiri. Yang tau lo udah siap apa kagak bukan elo, noh Tuhan noh.
  • A:Tapi iri ya rasanya liat mereka yang duitnya banyak.
  • Gue:Kalau kata Karizunique sih 'Kecil tetapi disyukuri, ialah kecil yang akan kian membesar.'
  • A:Hmm..
  • Gue:Lo ngeliat mereka dari luarnya aja mungkin. Siapa tahu dengan gaji mereka yang gede, mereka sebenarnya banyak pengeluaran. Harus bayar pulsa, indihome, bayar cicilan ABC, bayar kostan, bayar pijet++, bayar selingkuhan. Dan jatuhnya hasil bersih yang mereka dapet ya sama kaya yang lo dapet sekarang. Beda di nominal doang sih kata gue mah, tapi hasil akhirnya tetap sama. Pelit-pelit keneh.
  • Coba deh liat tadi aja di Cafe, yang udah gede pemasukan tetep ngeliat harga dulu daripada nama makanan. Duit parkir aja kemarin masih rebutan. Jangankan duit parkir, bayar pajak PPN aja masih pura-pura pake acara lupa segala.
  • A:Iya juga ya.
  • Gue:Elo penghasilan ada, makan rumah listrik air internet gak nanggung apa-apa. Cuma modal bensin doang. Sama kan jatuhnya?
  • A:Masuk akal.
  • Gue:Nah gitu cuy, btw uang parkir hari ini elo yang bayarin kan?
  • A:Ah jembut sotong!
MENDING MANA?

“Alasan lu nunda pake kerudung kenapa sis?”
“Gue mau benerin kelakuan gue dulu. Kan malu, di kerudung, tapi kelakuannya gak bener.”
“hmmm”
“coba, mending mana? gak dikerudung tapi kelakuannya baik , atau di kerudung, tapi kelakuannya gak bener?”

Pertanyaan itu selalu ada di sekitar kita, membandingkan antara persandingan kebaikan dengan keburukan. Padahal, bagi saya, tidak begitu adanya.

Mending mana?

Ya, kata itu selalu menjadi kata andalan untuk membandingkan kebaikan.

coba

Mending mana, Baik tapi jarang ibadah, atau sering ibadah tapi kelakuannya gak baik?
Mending mana, Suka sedekah tapi suka ngomongin orang, atau jarang ngomongin orang tapi gak pernah mau berbagi?
Mending mana, Rajin maksiat tapi juga ngajinya lancar, atau gak pernah ngaji tapi juga gak pernah maksiat?
Mending mana, Berkerudung tapi akhlaknya buruk, atau gak berkerudung tapi kelakuannya baik?


Untuk menjadi makhluk yang diridhoi Allah SWT, kita diberikan banyak ujian dalam hidup ini. Baik pria dan wanita, dia diberikan ujian, ada yang sama, ada juga yang menjadi urusan sesuai kodratnya masing-masing. Untuk pria, dia diberi ujian untuk memberi nafkah, dia diberi ujian untuk menyempurnakan shalat, dia diberi ujian untuk menjadi imam keluarga dan lainnya. Sedang wanita, dia diberi ujian lainnya, ujian untuk menutup aurat, ujian untuk taat pada suami, ujian untuk tidak bergibah, dan lainnya.

Pertanyaannya, apa bisa kita lulus ujian di dunia ini jika kita hanya mampu mengerjakan salah satu ujian saja?

Bagi saya, ujian di dunia ini tak berbeda jauh dengan ujian UN SMA. Untuk lulus SMA saja, kita tidak hanya bicara tentang 1 nilai ujian. Kita bicara banyak sekali ujian, mulai dari ujian matematika, ujian fisika, ujian ekonomi, ujian sejarah, ujian geografi, dan ujian mata pelajaran lainnya. Dan masing-masing ujian, harus memiliki nilai minimal 40 untuk lulus. Apa bisa saya lulus SMA jika nilai saya maksimal di 1 ujian dan buruk di 1 ujian lainnya?

Apa bisa saya lulus SMA jika nilai matematika saya 100 tapi nilai fisika saya 0? Apa bisa saya lulus jika nilai sejarah saya 100 tapi nilai ekonomi saya 0? Apa bisa saya lulus jika nilai biologi saya 100 tapi nilai kimia saya 0?

Maka, menjadi baik, akan jauh lebih baik jika kita mencoba semuanya secara perlahan. Sembari sedikit-sedikit memperbaiki akhlak, sembari sedikit-sedikit mencoba pakai kerudung, sembari sedikit-sedikit mencoba menjadi imam yang baik. Sedikit-sedikit saja, tak usah terburu-buru jika memang tak mampu. Tuhan tidak meminta kita berlari, tuhan meminta kita konsisten.

Saya jadi teringat kata-kata imam salat jumat beberapa waktu lalu, yakni

Tuhan tidak meminta ibadah yang sempurna dari manusia, tapi tuhan meminta manusia untuk berusaha menyempurnakan ibadah. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT

Maka, jika saya ditanya, Mending mana? Wanita dikerudung tapi akhlaknya buruk, atau kelakuannya baik tapi belum dikerudung?

hmm, yaa, mending kita coba berhenti bertanya dan mulai memperbaiki diri saja sedikit demi sedikit. Itu nampak lebih baik.



MENDING MANA?
Bandung, 19 September 2016