lancar

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

gadis-dusun  asked:

Rukun nikah teh cuma ada 5 kang Pengantin lelaki (Suami),Pengantin perempuan (Isteri), Wali ,Dua orang saksi lelaki , Ijab dan kabul (akad nikah). rizki mah sudah diatur

Tapi nggak bisa datang ke orang tua calon tanpa modal duit kan? Mana ada orang tua yang mau melepas anaknya ke anak orang yang untuk makan sendiri aja masih gak gablek.

Ya, gue percaya ada rejeki isitri ada rejeki anak. Tapi Tuhan hanya akan membantu orang-orang yang mau membantu dirinya sendiri. Jadi daripada nekat, terus terlalu bergantung sama apa yang namanya Rejeki Anak dan Rejeki Istri sih mending usaha dulu dari awal.

Kumpulin duit.

Sholat doang gak mendatangkan duit.
Sholat sama usaha yang mendatangkan duit.

Usaha nanti aja pas udah nikah?
Kalau usahanya gak lancar? Kalau bangkrut dengan modal yang masih mangkrak terus tabungan gak ada?

Anakmu mau dikasih makan indomie tiap hari?

Intinya, apabila mulut sendiri udah bisa dikasih makan, baru deh ngasih makan mulut orang lain. Kalau untuk mulut sendiri aja masih susah, jangan nyusahin orang lain dulu deh.

 Iya emang istri/suami harus mau merintis dari 0, tapi merintis dari 0 itu bukan dari 0 banget. Minimal kamu punya modal untuk jalan.

Seperti, kalau mau lomba lari, ya minimal punya kaki dulu sama stamina baru deh ikut lomba. Itu namanya merintis dari 0.

Tapi kalau kaki aja masih belum punya dan ente punya asma, mau ikut lomba bagaimana caranya?

Please girl. 
Buat kalian, emang nikah butuh cepet2 karena kepentok umur. Tapi buat laki-laki, dia harus membuktikan dulu sama dirinya sendiri kalau dia bisa hidup dan bangga pada dirinya sendiri.

Ngebuktiin sama orang tua. Ngebuktiin sama adek-adeknya. Ngebuktiin sama masa lalunya. Karena laki-laki itu dibentuk dari harga diri. Maka sebab itu laki-laki banyak yang nikah setelah punya kerjaan/usaha yang steady.

Bahagia itu; ketika bertemu pak sopir bis, beliau cerita dengan bangga anaknya akan sekolah di SD Islam Terpadu. Kita doakan moga lancar pendidikannya.

Bahagia itu; bersua dengan bapak pencukur rambut, yang baru saja memulai karirnya “Pangkas Rambut Barokah” setelah dulunya rumahtangganya hancur karena gaya hidupnya yang suka mabuk. Kita doakan moga lancar rezekinya.

Bahagia itu; ketika bertemu teman lama, dan dia memutuskan memanjangkan jenggot, mempelajari ilmu agama, dan tidak putus shalat berjamaah di masjid. Kita doakan moga istiqomah kebaikannya.

Melihat orang-orang di sekeliling kita makin baik pemahamannya tentang Islam, itu rasanya, ada yang menumpahkan salju di hati setelah panas dengar berita kasus-kasus mengernyitkan dahi.

“Apa yang zionis yahudi takutkan? Rudal Turki? Pesawat-pesawat Saudi? Tidak! Yang mereka takutkan adalah; seorang pemuda di ujung jawa yang memutuskan belajar agama Islam setelah lama tak punya tujuan hidup.”

—  @edgarhamas
Curhat : Koran

Waktu itu aku sedih, sedihhhh aja. Karena sesuatu hal. Kaya hari itu berat gitu.

Terus aku berhenti di lampu merah. Ada bapak-bapak penjual koran, ceriaaa banget. Sumringah mukanya. Padahal gerimis, tapi beliau tetap jalan di antara kendaraan. Nggak cuma menawarkan koran, tapi juga menawarkan keramahan. Keikhlasan terpancar disitu.

Kayanya, hari beratku nggak ada apa-apanya dibanding bapak-bapak itu. Udah paruh baya. Bapak itu pasti punya keluarga yang dinafkahi di rumah. Bapak itu pasti kerja keras seharian dan belum tentu cukup. Bapak itu, bisa jadi setelah berjualan koran masih harus bekerja entah ngojek, jadi satpam, bantu istri jualan, ah pasti bapak tadi banting tulang dan energi yang beliau keluarkan masih nggak habis-habis padahal beliau senyum nggak berhenti.

aku, senyum aja males hari ini. Padahal aku nggak harus banting tulang sebegitunya buat makan. Padahal aku nggak harus kepanasan kalau matahari pas sengit, aku nggak harus lari ngelidungin koran-koran jualan itu kalau hujan. Padahal aku punya banyak sumber kebahagiaan yang bisa aku syukuri.

Nggak malu sedih gini?

Lihat bapak itu…

Meski sepanjang dari lampu merah depan belum ada yang beli korannya, air mukanya tetap bahagia. Syukurnya tampak lebih besar daripada keluhnya.

Nggak malu ?

Pak. Semoga rezeki bapak lancar hari ini. Terimakasih, saya belajar banyak dari senyum bapak.

anonymous asked:

Assalamualaykum kang, insha Allah baru-baru ini saya sdg proses 'hijrah' dalam memperbaiki diri. Kemudian saya memiliki kecenderungan hati kpd teman dekat saya dulu, dan sebetulnya sampai sekarang kami masih dekat krn dipertemukan di beberapa event. Setelah istikharah saya berniat ingin maju, jadi mohon saran kang choqi bagaimana sebaiknya cara mengutarakan propose ke teman saya yg sudah terlanjur 'brozone' atau 'siszone'?

Waalaykumsalam. Alhamdulillah atuh yah.

STEP BY STEP TO MENIKAHI SANG CALON

ini teori step by stepnya dari berbagai kisah serta yang sempat saya jalani yah. Jadi kalau nyari di buku buku, mungkin gak nemu. Tapi insyaallah bermanfaat

1. PASTIKAN NIAT SERTA RESTU ORTU
Pastikan dulu niat anon, sudah untuk ibadah? sudah untuk Allah? sudah mantap? sudah mempersiapkan segalanya? Sudah minta izin orangtua? Sudah didiskusikan? Jangan lupa, minta doa sama orang tua, biar dilancarkan.

2. HILANGKAN KERAGUAN
Hilangkan segala keraguan. Kalau masih ada keraguan, tanya lagi rekan-rekan dekatnya. Tapi tetep inget, yang paling tau aslinya calon tersebut, adalah si calon sendiri. Maka, jika masih ada yang mau ditanyakan, dipersiapkan dalam proses taaruf.

3. MENANYAKAN AVALAIBILITAS
Okeh, kalau sudah mantap dengan pilihan, maka langsung kepada pertanyaan paling mendasar sebelum menikahi sang calon. Tanyakan terlebih dahulu “Apakah beliau mau menikah?”

Kalau beliau belum mau menikah, ada 2 pilihan. Yang pertama, jika kamu memang sudah menginginkan ibadah untuk menikah, maka bisa mundur dari doi dan kamu bisa mencari orang lain. Yang kedua, jika kamu memang pingin sama beliau, tanyakan alasannya. Jika bisa dikondisikan dan lanjut ke proses berikutnya, monggo lanjut. Tapi kalau ternyata alasannya membuat kamu harus menunggu, maka menunggu saja selama kamu bisa “puasa”. Kalau enggak bisa puasa, maka kembali ke pilihan pertama.

Tapi kalau ternyata calon mau menikah dan sudah ada pasangan, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana” 

Tapi kalau calon mau menikah dan belum ada yang mengajak menikah, maka bisa langsung ke proses berikutnya. Bismillah.

4. MENANYAKAN KESEDIAAN UNTUK BERTAARUF.
Sebelum lanjut, sedikit mengingatkan kembali, terkait taaruf (untuk mengingatkan pembaca lainnya juga)

Taaruf artinya adalah mengenal, maka tujuannya memang mengenali si calon, mengetahui segala hal detail terkait sang calon, mulai dari visi besar hidup, sampai ke pertanyaan kalau hiburan senang ke tempat seperti apa. Ya, karena kita sedang mengenali calon pasangan yang akan menemani kita hingga maut memisahkan. Taaruf, better than pacaran.

Ada 2 hal yang bisa dilakukan. Pertanyaannya, apakah anon kenal dekat dengan calon? Mengetahui visi hidup? Kebiasaan hidup? Rencana setelah menikah calon? Dan siap menanggung apapun konsekuensinya bersama calon? Kalau siap, maka bisa langsung mendatangi saja orangtuanya. Minta izin untuk meminang sang calon. Tapi kalau belum, maka bisa lanjut ke cara berikutnya, Taaruf.

Jika mau taaruf, maka anon bisa mengutarakan niat anon untuk bertaaruf dengan beliau, melalui perantara (murabbi) anon kepada perantara calon, dan perantaranya ini harus yang sudah menikah yah. Atau bisa juga, kalau anon sama calon punya teman yang sudah sama-sama menikah dan paham konsep taaruf, maka bisa minta tolong melalui beliau.

Setelah calon tahu niat anon, kalau calon tidak berkenan dengan anon, maka ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana” . Tapi kalau calon mau lanjut dengan anon, lanjut ke tahap berikutnya. Yeah!

5. BERTUKAR CV
Anon silahkan bikin CV yang memperkenalkan biodata anon sebaik-baiknya. (Saya ada kalau mau, minta emailnya saja). Setelah itu, nanti silahkan bertukar CV.

Setelah mendapat CV calon, silahkan baca segala detailnya. Bicarakan juga dengan orangtua. Tentunya, banyak hal baru yang akan anon ketahui yang tidak nampak dari luar. Seperti misalnya golongan darah (karena golongan darah kan gak keliatan dari cara dia jalan, harus ditanya. hehehe)

Setelah itu, kalau setuju, dan tidak ada yang perlu ditanyakan tentang CV nya. Maka bisa langsung ke orangtuanya.

Tapi kalau masih ada yang harus ditanyakan terkait CV nya, dan masih perlu ada yang dikenali lebih dalam, maka lanjut ke proses taaruf. Ingat, taaruf itu mengenal, jadi kita menggali pasangan.

Untuk lanjut taaruf, perlu persetujuan dari dua pihak. Kalau calon tidak mau lanjut setelah melihat CV anon, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”. Tapi kalau bersedia, maka langsung saja lanjut ke tahap berikutnya. Well, semakin dekat.

6. TAARUF
Anon nanti ketemuan sama calon, juga sama perantara. Kalau berduaan doang, nanti dianggap pacaran. Ketika pertemuan, anon dan calon saling bertukar pertanyaan yang saling mengenali lebih dalam, terutama jika ada hal-hal yang kurang jelas atau belum tercantum di CV.

Ingat, ini bukan ujian hapalan, jadi sehari sebelumnya tidak usah menghapal apapun, cukup jadi diri sendiri saja.

7. MENANTI HASIL
Setelah taaruf, maka tinggal anon dan calon tinggal menentukan pilihan. Apakah mau lanjut atau tidak. Jika salah satu pihak ternyata tidak setuju setelah mengetahui lebih dalam, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”

Tapi, jika kedua pihak setuju, maka, congratulation, barakallah, Anon bisa langsung lanjut untuk Khitbah dan juga akad. Semoga ini yang terjadi, aamiin.


THERE IS NO SUCH THING AS BRO/SISZONE

Jangan pernah takut sama istilah Bro/siszone. Sebetulnya itu hanya sebutan bagi orang yang enggan kehilangan kalau maju, dan akhirnya memilih nyaman walau berjarak. Ini adalah saatnya penentuan, maju atau tidak sama sekali. Maju atau orang lain yang akan maju. Lanjut atau orang lain yang akan melanjutkan. Coba dan beruntung, atau orang lain yang akan mencoba dan orang lain yang akan beruntung.


BUT REMEMBER

Apapun keputusan di akhirnya, apapun yang terjadi, entah itu lanjut atau tidak, tentu itu adalah yang terbaik dari Allah. Anon sudah menentukan maju ini dengan Istikharah, dengan melibatkan Allah, maka jelas, segala keputusan yang ada nanti, Allah pun terlibah di dalamnya.

Jangan sedih jika tak berlanjut, jangan terlalu bahagia jika pun jadi. Syukuri seperlunya, sabarlah sekuatnya, karena segala segala hal yang terjadi ini adalah skenario terbaik dari Allah.

Tentunya saya doakan agar lancar jaya, baik bagi anon, maupun semua masyarakat jagat tumblr yang sedang atau berniat untuk maju melamar calon. Bismillah. Allah itu Maha baik bagi hambanya.

Kalau kelak ditinggalkan gebetan,  ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”

tawar

“Generosity is giving more than you can and pride is taking less than you need”

Di awal Juni kemarin, saya berangkat ke Surabaya untuk menemani istri pulang ke kampung halamannya. Sepasang sepatu keds yang jahitan bagian depannya mulai terlepas saya bawa di dalam koper. Lubangnya cukup menganga memang, tapi enggak apa-apa. Toh untuk pertama kali, saya mau menggunakan merk jasa servis sepatu yang gerainya hadir di di mal-mal besar.

Setibanya di sana pada malam hari, saya langsung masuk ke dalam gerainya untuk menemui staf pelayanan yang sedang bertugas. “Mas, saya mau jait sepatu ini. Sol depannya kaya mau lepas nih” ucap saya kepada staf pelayanan yang mengiyakan permintaan tersebut dengan ramah. Lalu ia menyarankan supaya penjahitan dilakukan pada kedua sepatu yakni sebelah kanan dan kiri. Saya sepakat dengan sarannya. Biar lebih awet ke depannya.

“Jadi berapa biayanya, mas?” tanya saya. “Totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah” jawabnya kalem. Saya tercekat dan kalah kalem waktu mengetahui harganya. Seratus lima puluh ribu untuk mengesol sepasang sepatu? Tapi ya, namanya juga jual-beli di pusat perbelanjaan modern. Tak kenal istilah tawar menawar. Lagipula, saya masih perlu sepatu keds itu walau harga servisnya melebihi harga barangnya. Akhirnya, saya pun mengeluarkan kartu debit dari dompet untuk digesekkan pada gawai elektronik toko.

Hal serupa jadi pengalaman yang hampir sebagian besar dari kita pernah alami saat berbelanja di mal atau plaza. Biarpun mahal, kita tau kalau harga yang tertera bukan untuk ditawar - tapi dibayar. Beda ceritanya saat sekali-dua kali kita mencoba berbelanja di pasar tradisional atau pada pedagang kecil. Rasanya kalau enggak nawar tuh enggak afdol. Rasanya kalau berhasil nawar, seolah lebih cerdas sebagai pembeli.

Padahal jelas kalau mereka yang menjajakan barang dagangannya sendiri di pasar tradisional ataupun pedagang kecil yang berkeliling mengetuk pagar demi pagar rumah bukan pebisnis padat modal selayaknya mereka yang membuka gerai terang benderang di mal ataupun plaza. Ada hal yang terasa ironis di sana: kita rela membayar lebih puluhan hingga ratusan ribu Rupiah tanpa negosiasi kepada mereka yang lebih mampu ketimbang kepada mereka yang uang makannya bersumber dari keuntungan dagang di hari yang sama.

Hal ironis tersebut, membuktikan kebiasaan bermurah hati yang mungkin terlihat enggak menarik lagi buat sebagian besar dari kita. Pernah muncul meme yang populer di linimasa dua taun lalu. Bunyi kutipan di gambarnya,  “Saat kamu membeli sesuatu dari bisnis kecil, kamu tidak membantu seorang direktur membeli rumah liburannya yang ketiga. Tetapi kamu membantu seorang gadis kecil agar bisa belajar menari, seorang anak laki-laki mendapatkan kaos timnya, seorang ibu menghidangkan makanan di atas meja, sebuah keluarga membayar utang atau seorang siswa membayar iuran sekolahnya”

Saat kita bertransaksi dengan para pedagang kecil di lingkungan sekitar, maka kita tengah berurusan langsung dengan kakek, nenek, ayah atau ibu dari sebuah keluarga yang betul-betul menumpukan hidupnya dari keuntungan berjualan. Dengan merelakan seratus lima puluh ribu keluar malam itu, saya merasa bersalah karena dulu pernah menawar harga jasa perbaikan sepatu dari seorang tukang sol keliling yang cuma seperlimanya.

Ternyata, keseringan nawar bisa bikin kepekaan hati menghambar.

Kalaupun ada jumlah yang harus dibayarkan untuk memperbaiki sepasang sepatu, maka seratus lima puluh ribu Rupiah akan melahirkan dampak yang lebih nyata bagi anak-istri tukang sol keliling di rumahnya. Jangankan seratus lima puluh ribu, selisih uang kurang dari Rp10.000 yang diikhlaskan sewaktu kita membayar ongkos ojek atau becak, kadang membuahkan doa baik buat kita. “Terima kasih banyak ya, dek. Semoga mudah rejekinya dan lancar urusannya”. Artinya, memang senyata dan sebesar itu dampaknya bagi mereka.

Maka, menghidupkan kembali tradisi bermurah hati perlu diawali dari kebiasaan sederhana dalam bertransaksi yang bisa kita lakukan mulai hari ini dengan para pedagang kecil. Beri mereka lebih banyak uang dari yang harus kita bayar atau ambil lebih sedikit kembalian dari yang seharusnya kita terima. Kita berharap semoga keringanan dalam bermurah hati juga bisa mendatangkan kemudahan atas limpahan rahmat-Nya.

MENUJU KESEJIWAAN

Menikah adalah peristiwa bersatunya dua jiwa, dua hati, dua pikiran, dua fisik dalam satu ikatan.

Kendatipun ada banyak perbedaan karakter, sifat dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan, namun mereka harus berusaha untuk menemukan rumus kimia (chemistry) penyatuan jiwa yang membuat suami dan istri berada dalam suasana sejiwa.

Suasana kesejiwaan inilah yang membuat kehidupan berumah tangga menjadi nyaman, tenang, tenteram, damai, dan bahagia.

Suasana kesejiwaan ini yang membuat berbagai persoalan hidup mudah diselesaikan dan dicarikan jalan keluar.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri mudah berkomunikasi dan tidak kesulitan untuk mengekspresikan harapan serta keinginan.

Mereka berinteraksi dengan nyaman, tanpa ada sekat psikologis. Merasa demikian dekat satu dengan yang lain, tanpa ada jarak yang memisahkan mereka berdua.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri saling bisa berbagi kebahagiaan tanpa ada keinginan untuk mengalahkan dan menjatuhkan pasangan.

Yang mereka lakukan adalah usaha untuk memenangkan kebersamaan, sehingga masing-masing telah rela untuk menundukkan ego demi kebahagiaan bersama.

Bukan hanya berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri dengan melukai pasangan, bukan pula hanya membahagiakan pasangan dengan melukai diri sendiri.

Pada dasarnya suasana kesejiwaan itu didapatkan dengan proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Bukan tiba-tiba apalagi bim salabim. Tidak pernah berhenti untuk saling mengenali dan memahami diri sendiri serta pasangan.

Kadang dijumpai seseorang yang bingung dengan dirinya sendiri. Tidak mengerti kemauannya sendiri. Tidak bisa mendefinisikan keinginan diri.

Jangankan mengerti pasangan, bahkan diri sendiri pun tidak dikenali. Kondisi ini membuat semakin lama untuk mencapai kesejiwaan bersama pasangan.

Yang diperlukan adalah usaha tanpa henti untuk belajar mengerti, memahami, mencintai, menerima apa adanya, serta memberikan yang terbaik bagi pasangan tercinta.

Yang diperlukan adalah upaya terus menerus untuk menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, sepanjang harapan itu tidak bertentangan dengan aturan agama dan kepatutan sosial.

Yang diperlukan adalah usaha untuk bisa menerima pengaruh dari pasangan, sepanjang pengaruh itu positif atau tidak membahayakan diri sendiri maupun keluarga. Ketika suami dan istri belum menemukan kesejiwaan, sebenarnya sangat mudah mereka kenali gejalanya.

Mereka akan menemukan suasana saling asing, suasana berjarak, suasana bersekat, yang membuat tidak nyaman dalam interaksi sehari-hari. Walau sudah lima tahun atau sepuluh tahun menikah, jika titik kesejiwaan belum ditemukan, maka bukan kebahagiaan yang didapatkan dalam pernikahan. Yang ditemukan justru suasana saling asing dan dalam kasus tertentu sampai muncul perasaan ketersiksaan dan penderitaan.


LIMA ELEMEN KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

Agar komunikasi suami istri bisa lancar dan menyenangkan, perlu memperhatikan elemen-elemen pentingnya.

Komunikasi suami istri memerlukan lima elemen dasar (Laswell, 1991), sebagai berikut:

1. Keterbukaan diantara suami dan istri / openness

2. Kejujuran terhadap pasangan / honesty

3. Kemampuan untuk saling mempercayai / ability to trust

4. Sikap empati terhadap pasangan / empathy

5. Kemampuan menjadi pendengar yang baik / listening skill.


ANDA INGIN MENANG ATAU INGIN MEMPERBAIKI KEADAAN?

Marc Feitelberg, seorang psikolog menyatakan, dalam sebuah hubungan antarmanusia, semakin erat hubungan satu orang dengan orang lainnya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik di antara mereka.

Marc menjelaskan, konflik atau pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah suatu hal yang natural, wajar, dan bahkan menyehatkan.

Sayangnya kita tidak diajari bagaimana mengatasi beda pendapat itu, “Maka kita harus mempelajarinya,“ ungkap Marc.

Marc memberikan cara bertengkar yang sehat, yakni pertengkaran yang bisa menghasilkan solusi akhir paling melegakan kedua belah pihak atau biasa dikenal sebagai win-win solution.

Hendaknya kedua belah pihak memaparkan semua masalah, kemudian berusaha menegosiasikan keinginan masing-masing. Dengan cara ini mereka telah bertengkar lebih baik.

Semestinya suami dan istri bisa lebih menempatkan diri secara tepat dan tenang. Bukankah mereka ingin mendapatkan solusi terbaik? Mereka ingin mendapatkan penyelesaian yang melegakan bagi kedua belah pihak?

Masing-masing pihak bisa bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ingin menjadi benar, atau ingin menang?” ungkap Marc.

Jika kedua belah pihak bersepakat untuk mencari solusi terbaik, agar semua menjadi terselesaikan, maka pertengkaran bisa lebih konstruktif dan mudah terselesaikan.

Namun jika kedua belah pihak ingin menang dan mengalahkan pasangan, maka suasana pertengkaran semakin rumit.

Saat bertengkar, jangan berbicara bersamaan apalagi saling tidak mendengarkan. Tapi lakukan pembicaraan dengan bergantian dan saling mendengarkan pendapat pasangan.

Saat pasangan berbicara, jangan memotong pembicaraannya, menginterupsi dan jangan langsung memutuskan jalan keluar secara sepihak.

Berikan kesempatan yang sama kepada pasangan untuk berbicara, sebagaimana Anda juga ingin berbicara dan ingin didengarkan.

Setelah mendengar argumen pasangan, perjelas maksud pernyataannya dan ulangi lagi keinginan Anda agar tidak ada kesalahpahaman, sebelum mengambil keputusan.


Cahyadi Takariawan
Sumber : grup wa parenting islami

Lucunya, ada yang lebih baik memilih menulis saja daripada mengucapkan langsung lewat mulutnya. 

Menulis, memiliki jeda. Pilihan kata yang baik bisa dipilih dan diramu hingga seindah-indahnya, pun bisa dicatat bila sempat lupa. 

Sedangkan berucap tentu tidak begitu. Bisa jadi apa yang ia katakan tak sebagus tulisannya. Bisa jadi ia yang lancar merangkai kata di jemarinya ternyata tergagap menyebutkan kata.

Terlebih, bila itu soal cinta. 

Karena Kita Telah Diberkahi

“Mereka yang tidak bersyukur, besar kemungkinan akan lupa bagaimana mudah dan sederhananya berbahagia. Atau setidaknya, memilih untuk berbahagia.”

-

Kita pernah berada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tentu saja, manusia adalah tempatnya ketidaksempurnaan. Kita pernah berduka karena ditinggalkan. Kita pernah bersedih karena disakiti. Kita pernah kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita mau. Kita pun pernah merasa jadi manusia paling malang di dunia. Hanya karena kita menganggap dunia ini tempat yang tidak layak huni. Dan yang terburuk, pernah terlintas di pikiran kita, bahwa Tuhan tidak adil. Ia hanya menyayangi segelintir orang, bukan semuanya.

Seandainya kita sempat bertanya pada diri sendiri, beberapa pertanyaan ini.

“Pernahkah aku menghitung berapa banyak oksigen yang kuhirup setiap harinya? Pernahkah aku menghitung berapa kali kulitku disinari mentari dan sisi yang mana saja? Pernahkah aku mau sibuk menghitung rintik hujan yang jatuh sekitarku? Pernahkah aku hendak menghitung butir beras yang masuk dalam mulutku dan menjadi energi untuk tubuhku? Pernahkah aku menghitung banyaknya cinta yang kuterima selama aku hidup di dunia? Pernahkah aku menghitung berapa banyak sentuhan sayang kuterima dari kedua orangtua?

Pernahkah, bahkan, aku memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan sederhana itu? Pernahkah?”

Karena niscaya, jikalau kita sejenak saja sempat memikirkannya, kita akan menggeleng-gelengkan kepala. Tersadar bahwa selama ini kita sudah terlalu sombong. Tersadar atas fakta bahwa Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Pemberi, Tuhan Maha Segalanya.

Maka, lihatlah menggunakan hatimu. Syukuri fakta bahwa kau diberkahi, kau disayangi, kau dilindungi.

Lalu bersyukurlah. Bersyukur karena kau telah mampu bersyukur. Bersyukur karena kau telah tersadarkan.

: Syukur yang lancar, sumber ketenangan batin yang benar.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 30 Mei 2017

Hana di Bandung.

“Nun, aku mau ke Bandung. Jemput bisa Nun?”
“Bisalah…”
“Nginap sana juga ya Nun.”
“Siaap…”
“Nun, bawa aku ke kajian ust. Hanan ya Nun.”
“Oke.”
“Nun, pinjam baju. Hahaha”

(Nun, dari kata Hanun. Sama-sama manggil gitu, entah kenapa.)

Perjalanan tanpa rencana yang matang bisa jadi perjalanan yang berkesan.

Berawal dari satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas, kami lanjutkan komunikasi hingga saat ini. Berawal dari minta ajarin matematika hingga sampai ilmu agama. Hana Adha selalu jadi teman yang bisa diandalkan.

Errrr ada dua kemungkinan sih. Hana memang teman yang baik atau aku yang gak tahu diri. Wkwkwk. Tapi Hana senang tuh aku repotin. Hehe.

Lebaran tahun lalu Hana bilang pengen ke Jogokariyan. Ke masjidnya ust. Salim A Fillah. Ustadz yang kata-katanya bikin meleleh itu. Ustadz yang mengumpamakan senyum istrinya bagai sepotong surga tersiram madu. Ustadz yang mengingatkan kita untuk meneladani Matahari yang mencintai Bumi, tapi mendekat pada Bumi justru membinasakannya. Eh, belum sempat menyambut Hana di Jogja, malah disambut oleh Hana di Bandung. Wkwk.

Hana dari TK sampai SMP sekolah di sekolah islam gitu. Jadi dari jaman piyik udah kerudungan. Yaaaa menurutku ilmu agamanya udah jauh banget diatasku. Tapi masih aja ngerasa kurang. Eh, harusnya emang gitu ya.

Sebagai seseorang yang fakir ilmu dan niat belajarnya masih harus terus diperbarui karena kadang hilang di tengah jalan, melihat Hana yang semangat belajarnya membara bikin aku cemburu.

Bahkan Hana yang baca Al-Qurannya begitu lancar masih berburu guru tahsin.
Kata Hana, umur kita ni kan nanti bakal dipertanggungjawabkan. Selama ini kita hidup masa dak dipakai buat belajar. Sedangkan bahasa Arab dan membaca quran dengan baik dan benar itu semua bisa dipelajari. Kalau kita bisa belajar bahasa inggris berarti kita juga bisa belajar bahasa arab.

Hana bilang, Allah tu baik kali. Semua Allah kasih. Tapi sayangnya kita masih terbiasa dengan ibadah yang diiming-imingi. Padahal Allah baik kali loh sama kita.
Pernah suatu saat Hana dak terbangun pas tahajud, kebangunnya pas adzan subuh. Hana sedih kali. Hana ngerasa ada yang salah sama dirinya sampai-sampai Allah dak bangunkan dia pas tahajud. Tapi Allah baik kali, masih bangunin Hana pas adzan subuh, dak terlewat subuhnya. Hana merasa rugi kalau Senin dan Kamisnya berlalu begitu saja tanpa puasa. Dan Hana selalu sempatkan dhuha lebih dari dua rakaatnya.

Hana kenalkan Bandung sebagai kota yang tenang. Kota yang gemerlap lampu masjidnya. Hehe. Kata Hana, “Disini ni Nun, masjid tu tempat yang keren gitu Nun. Banyak anak mudanya. Anak muda disini tu nongkrongnya di masjid Nun.”

Jadilah aku diajak ke Masjid Salman, Masjid Raya Bandung, Daarut Tauhid, dan tentunya Masjid Trans Studio Bandung wkwk. Oh! Belum Al-Lathiif ya??? Yodah ntar sana lagi. Belum foto di depan gedung sate jugak pun. Wkwk

Duh, Bandung, sudah boleh rindu belum?

Sering banget cek koneksi, bolak-balik buka aplikasi chat, khawatir koneksinya nggak memadai chatmu buat masuk. Udah berkali-kali di cek, koneksinya baik-baik aja. Di pake streaming juga lancar……

….sadly, bukan perkara koneksi; —emang belom di bales aja. He ehe he ehe :(

Dibanjiri doa-doa baik adalah hal yang patut disyukuri. Sebab siapa tau salah satu di antara itu ada yang doanya tidak tertolak. Maka jangan segan meminta doa-doa baik.
—  Minta didoain semoga rezekinya banyak, lancar, dimudahin urusannya dan bisa tahun ini, misalnya.
.
.
Ada Aamiin? Aamiin.

“Bagi saya menjadi laki-laki itu tidak mudah, harus punya pekerjaan, tanggung jawab dan yang dipegang perkataannya. Usaha saya sering tidak lancar, selalu karena teman sendiri. Padahal teman dekat. Lebih baik buka usaha sama orang yang tidak dikenal sekalian atau teman jauh, kalau buka usaha sama teman dekat biasanya dia sering meremehkan hal-hal kecil. Tidak disiplin, tidak bisa tepat janji, dan lainnya. Akhirnya saya harus mundur dan mulai usaha dari awal lagi. Saya tidak pernah membeda-bedakan teman, tapi saya sekarang ingin maju, jadi saya cari teman yang juga ingin maju. Bukan yang susah diajak maju.

Kata teman bapak saya, laki-laki itu ada dua pilihannya. Sukses dalam karir atau rumah tangganya, mungkin bisa sukses di keduanya, tergantung yang menjalaninya. Kerja itu juga bukan sekadar supaya dipandang orang lain sukses. Harus merasa cukup, kalau tidak merasa cukup nanti akhirnya menenggelamkan diri sendiri.”

Cerita Syok

Setubuh Hangat Dengan Ayah

Namaku Ana.. Pertama kali aku berhubungan seks adalah tak lain dan tak bukan bersama ayah kandungku sendiri. Ceritanya begini. Saat itu umurku baru 14 tahun.. Ibuku telah meninggalkan kami sejak aku kecil lagi untuk mencari kehidupan mewah bersama lelaki lain. Ayahku pula seorang peniaga alat sukan. Aku seorang anak tunggal. Ketika umurku 14 tahun aku menpunyai tubuh seperti perempuan dalam lingkungan umur 20an. Aku mempunyai dada yang mampat. Saiz coliku pada waktu itu adalah 38C. Pinggangku masih dalam 24inch dan punggungku saiz 36. Sepanjng hidup kecilku sentiasa dengan ayah. segala permintaanku, dia akan cuba turuti memandangkan aku adalah anaknya seorang dan disayangiku bagai menatang minyak yang penuh. Saat umurku 12 tahun ayah pernah cuba berdating dengan perempuan lain tapi tak ada jodoh… ada mak janda, ada mak dara… sampai tiba masanya dia kata padaku; ‘Ana… Ana tak rasa sunyi ke tak ada Ibu atau adik beradik?'tanya Ayah 'Tak pun.. Ana happy camnie.. Kenapa Ayah taknak kahwin ngan orang lain? tanyaku balik 'Entahlah.. barangkali tak ada perempuan yang boleh ganti ibu kamu… Ayah pun lebih ok camnie.. Ada anak dara satu pon dah pening kepala..’ seloroh Ayah. Ayahku orangnya tinggi lampai dan mempunyai badan yang tegap.. maklumlah bekas seorang bodybuilder tempatan saat mudanya. Kini dia masih menjaga badannya dengan baik sebab dia menpunyai alat gym yang lengkap di rumah. Segala tentang dirinya masih lagi kelihatan muda. Setakat rambut putih kelihat sedikit. Dia mempunyai senyuman yang cukup menawan. Teman2 sekolahku pun pernah menyatakan bahawa Ayahku handsome orangnye.. Kadang aku juga berasa megah menpunyai ayah seperti Ayahku.. Sebelum hari lahirku yang ke 16, Ayah bertanya apa aku inginkan untuk hadiah.. Aku hanya meminta Ayah mengajak aku bercuti di Langkawi and seutas beg LV kerana kebetulan hari lahirku jatuh pada cuti sekolah. Ayah menyatakan semuanaya sudahpun diatur seperti yang ku mahu.. Sejak aku baligh, aku sentiasa ada teringin tahu apakah rasanya seorang berhubungan seks.. Adakah seperti buku novel romance yang aku baca di khutubkhanah? Aku sering bermimpi membayang diriku sedang hangat bersetubuh bersama lelaki yang tak ku kenali… Aku sering terasa basah seluar dalamku pada esok pagi kerana mimpiku. Tak pernahpun aku meceritakan tentang mimpiku itu pada Ayah. Pada hari lahirku kami berdua beranak tiba di Casa Del Mar.. Sangat romantis dan cantik hotel itu..Seperti yang aku bayangkan. Kami tiba di waktu senja dan just in time for makan malam. Aku dihadiahi beg idamanku dan juga kek hari jadiku yang indah.. Aku berasa sangat gembira.Di saat itu aku memakai baju off shoulder hitam yang pendek yang kelihatan seksi dibeli sebelum hari lahirku. Setelah makan malam aku dan ayah berjalan di taman open air itu sambil berbual 'Ana.. happy tak hari ni? 'Happy ayah… rasa macam puteri kayangan’ kataku ’ Ana, you have always been my princess.. Ana istimewa pada diri ayah’ kata ayahku sambil memelukku. Di saat pelukkan Ayah; aku mula dadaku berdegup dengan kuat..Seperti kejutan elektik.. Aku tak tahu mengapa. Ayah terus mencium pipiku.. Aku rasa terpegun.. Ciuman itu bukan seperti ciuman saat kecilku tapi ciuman seperti seorang lelaki dan perempuan.. Aku hanya tersenyum tapi hatiku seperti inginkan sesuatu. 'Ayahh.. ana rasa ngantuk nak tidur la ayah.. 'Mari kita pulang ke bilik masing2’ kata Ayahku Bilikku dan Ayahku adalah adjoining suite. maksudnya ada pintu antara dua bilik. Aku masuk ke bilikku laku mula membuka baju dan berbogel untuk mandi..Saat aku mula membuka shower, tiba2 aku terasa tangan memegangku.. aku berpaling dan alagkah terkejutnya apabila Ayah yang berseluar pendek datang memelukku lagi… Kali ini perasaanku tidak boleh terbendung lagi… Ayah mula mencium leherku… Aaahhh. sensitifnya tempat itu… 'Ayah… kenapa kita rasa begini…’ aku berdesah 'Ayah sendiri tidak tahu… Ana terlalu cantik seperti ibumu..Maafkan Ayah tapi Ayah tidak boleh terbendung perasaan Ayah terhadap Ana.. kata Ayahku sambil memeluk mendakap dan mencium pipiku..Tangannya mula rasa liang tubuhku yang basah.. Ayah… Ana tak tahan.. dengan ciuman Ayah nie.. Ana… Ayah sayangkan Ana.. 'Ana juga Ayah.. Ayah tak sanggup… Ana anak Ayah.. tapi… Tapi apa Ayah..?? ’ aku mengeluh… Ayah terus mendukungku lagi membaringkanku atas katilku.. Dia terus mencium mulutku bertubi- tubi… hairannya aku turut menciuminya.. Tanganya meraba buah dadaku yang montok ini.. Ayah…. I think I am in love with you Ayah!!! Ana love Ayah.. I want to be your lover Ayah… Sambil mengisap buah dadaku; ayah berkata.. Are you sure Ana??? Apa yang Ayah lakukan, there is no turning back.. Ana sanggup ayah… Ana nakkan Ayah!! Aku terus merangkul Ayah lalu menjilat lehernya.. Ayah terus membuka seluar pendeknya… Alangkan terkejutnya aku melihat senjata Ayahaku… untuk pertama kalinya.. Ana… Ana takkan menyesal.. Ayah akan bahagiakan Ana.. Ayah takkan tinggalkankan Ana.. “Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh lebih berisi.., mmpphh..”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang ‘jack’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat, kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Ayah… show me your love please… Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan koneknya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong koneknya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Tiba2 aku macam sudah rasa mcm seorang professional sedang ini kali pertama… Ayah serperti tahu apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang koneknya dalam pukiku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat kagum dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku sanggup membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. Ayah…. cepat… 'Cepat apa sayang?…. Cepatlah…. Ana nak ayah buat apa? CEPAT MASUKKAN KONEK AYAM DALAM PUKI ANA!!!!! Aku macam tak percaya dengan kata2ku itu.. Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya// inikan kali pertama Ana, kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. Aku menunggu cukup lama gerakan konek ayah memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, konek ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mampat di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat konek ayah keluar masuk dengan ketatnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Sakit mula terasa.. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku mengisi penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa pedih di seluruh dinding vaginaku. “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..”, aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Sedap tak terhingga… Ayah sedapnya rasa konek ayahhh…. Hentaklah kuat2! Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mencecah pertahananku. Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang konek yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencuba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritikal, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. “Ayah.., oohh.., Yaahh..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami”, bisik ayah dengan mesranya. “Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melepaskan kerinduan yang tersimpan selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantik. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri? Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan tenunganku kembali gairahku. Aku masih gian dengannya. Sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah dia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa diriku menjadi ghairah untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. “Akh sayang!” pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang pukiku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda liar yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya gelek bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri! Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dicubit2. Ayah lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski hotel menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lekat satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Ayahhhh….. hentakkan lagi…. Sedappppppp…. Ooohhh Anaaaa….. Katil dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeria. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina liar yang sedang birahi. “Eerrgghh.. oouugghh..!” ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Pancutan begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan bersenggama dengan ayahku. Tubuh kami bergulingan di atas katil sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari katil Untunglah katil itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terluka… Nikmatnya tak terkata…. Selama tiga hari kami di hotel… kami bersetubuh tanpa henti seperti pasangan yang berbulan madu.. Hingga sekarang aku masih bersetubuh dengan ayahku… .. Kami sudah berpindah ke laur negara agar boleh hidup sebagai sepasang suami isteri… Kami kahwin secara sivil.. Belum lagi dikurniai anak.. Aku tidak menyesal atas perbuatan kami… malah aku recommend it.. Sayng ayah tak sama seperti jejaka mcm mat rempit etc… Konek ayah sangat fantastik… Bye… Ayah sudah panggil untuk bersetubuh lagi..

Tips Anti Ngantuk dan Efisisensi Waktu Tidur (Based on Exp)

“ Adakah diantara jomblo warrior sekalian yang punya tips nahan kantuk dan efisiensi waktu tidur yang jitu wal ampuh serta teruji? Share dimari kalau ada, akang doain enteng jodoh… “


Terimakasih untuk saran-saran yang masuk.
Berikut hasil survey kemarin : 

@dokterarsitek​ : “ Kalau saya sendiri memang jika tujuan itu begitu menggebu-gebu, kantuk akan mudah untuk dilawan. Yang pasti hal itu kita nikmati. Sebagaimana jika kita main game dan tahan berjam-jam, mengapa kita tidak menikmati masa-masa kita saat belajar dan ngaji? ^^ “ ((Zupeerrr))

@dewiningtias​ :  “ Kalau saya biasanya melakukan pemanasan kan, bergerak entah geleng angguk angguk kepala, muter muter tangan atau lari di tempat biar jantung nya berdetak lebih keras jadi gak ngantuk lagi sama di kopi in juga biasanya ..” ((Saya sepakat pemanasan adalah cara bagus jugaBoleh kombinasi pake senam poco-poco gak? ))

@ildiscente​ : “ Stop gula “ ((Alasan kebanyakan karbohidrat ya? Kopi dikasih gula sudah biasa, saatnya dikasih garam biar setrong))

@ummurazzan​ : “ Tips nahan kantuk dimana dulu nih? Pas di masjid atau di rumah?😂 Kalo di rumah.. pas mau ngantuk coba pemanasan, gerak2 dikit, ato buka hp bentaar heheh biasanya org jaman sekarang liat hp langsung melek ._. itu sih sarannya 😁 “ ((Buka hp paling bentar seringnya jadi berapa menit :( ))

@arionsea​ : “ Tips nahan kantuk versi saya adalah minum kopi 😁 atau biasanya tidur jam 9 malam trus bangun jam 1 malam 😌 “ ((Ini kaya jadwal pas SMA))

@maharlikaigarani​ : “ Tips nahan kantuk : tidur ” ((Jawaban polos dan jujur tapi bener, tipikal anak baru lulus SMA hehe, piss dek))

@atomicdestinymoon​ : “ Tahan jangan kedipin mata beberapa menit. Belum teruji sih.. Tapi pas aku gabisa tidur, aku ngedipin mata cepet berkali2 selama beberapa menit. Alhasil jadi ngantuk ” ((Lucu, baca sarannya udah lumayan bikin gak ngantuk, terimakasih ya :D ))

@hanifaizzati​ : “ Efisiensi waktu tidur sih tidur dengan keadaan bahagia, jadi bangunnya cepet dan semangat heheh ” ((Kalau terlalu bahagia jatuhnya malah gak bisa tidur :( ))

@yumar3​ : “ Cari teman bang. Teman hidup. Teman buat nemenin ga tidur.  Udah jangan jadi warrior mulu. Hahahaah ”
((Jawaban yang ditunggu-tunggu nih, red. Liat senyumnya aja pasti capek-capek, stress, lelah, pegel linu ilang))

@catatanmahasantri​ : “ Ambil air wudhu. Minum air putih. “ ((Nice, untung nulis ulangnya pas lagi nggak ngantuk, takutnya ketuker, Ambil air putih minum air wudhu))

@haceel​ : “ Coba nonton film kesukaan/horror dulu. Dijamin nanti pasti melek. “ ((Film vampire atau drakula sekarang seringnya malah pacaran ketimbang horrornya :( ))

@kucingmengeong​ : “ Ini nahan kantuk jangka pendek atau kontinuitas biar badan selalu fresh? Nahan kantuk: wudhu/ cuci muka
->> fokus sama hal yg lg dihadapi/ dikerjain (misal lg dengerin lecturer atau ngerjain tugas di laptop, dll) ->> stretching biar peredaran darah lancar
->> dopping kafein + sediain air putih yg banyak (urinasi mengurangi kantuk krn memaksa tubuh bergerak ke toilet, hehe)
->> tidur efisien 5-15 menit kalo kantuk tak tertahankan, dijamin bangun2 fresh lagi :)

Badan selalu fresh: atur jadwal istirahat dan berkegiatan, harus tau jam biologis kamu, kebutuhan istirahat brp jam, tiap orang beda2 sih. Kalo jam biologis kamu kacau berarti harus diset ulang dan butuh pembiasaan. Hitung jam tidur malam butuh brp lama, mau mulai aktivitas di jam brp, set alarm, lakuin minimal 3 minggu buat pembiasaan. Hihi, met lamet mencoba! “ ((Jawaban lengkap ala tabib kekinian, good))

@siswantopacek-blog​ : “Ngapain nahan ngantuk kang, kalau ngantuk ya tidur aja, ohehe kalau saya (sudah teruji sih, tapi sekarang sudah nggak bisa ngelakuin terus, soalnya kerja shif 2), buat efisiensi jam tidur, pokoknya habis isya tet langsung tidur, jangan lupa wudhu sebelumnya, soalnya kalo nggak wudhu bangunnya mesti nelat. Kalo tidur jam segini bangunnya tengah malam, itu nggak ngantuk loh kalo abis wudhu lagi, beneran. lah jam ini sampai jam 3 bisa buat beraktifitas apapun.

Kalo udah jam 3 pagi, tidur lagi, tapi kasih timer cuma 10-15 menit (gak boleh banyak2), trus subuhan dan jalani aktifitas pagi sampai siang, lah pas siang sekitar dhuhur itu tidur lagi, 10-15 menit lagi. kalo bisa istiqomah kayak gini, pasti seger rasanya. (sumber: ceramah ust Budi Ashari - keseharian rasulullah & telah dipraktekkan sendiri)
((Sipp kang))

@ceritaagenneptunus :  “  Kunyah permen karet ~ “ ((Capek di pipi te))

@siasly​ : “ Menghirup nafas sampai hitungan 10 habis itu keluarkan perlahan sampai kantuknya hilang.. “ ((Ini baru tau))

@keretas​ : “ Biar efisien ya tidur di awal, habis sholat isya gituu, Insya Allah sebelum tengah malam bakal kebangun. “ ((Right))

 @negasikita​ : ” Mata dikasih fresh care 😂” ((Pernah mau nyoba, tapi rada ngeri. Ada tutorialnya nggak?”))

Beberapa saran sudah dilaksanakan sejak lama. Anjuran dan contoh dari Nabi dan para ulama biasanya memang berwudhu sebelum tidur, berdoa, tidur awal, bangun awal, serta ambil wudhu ketika mengantuk atau istirahat sejenak. Sepakat.

Namun terkadang juga ada beberapa kondisi dimana itu tidak bisa dilaksanakan, sebab-sebab yang menyebabkan kita tidak bisa tidur di awal waktu.

Entah sedang ada tamu, event, deadline, target khusus, punya pokemon rewel malem-malem dan hal-hal lain di luar jadwal tidur atau bangun biasanya.Nah, saat itu otomatis diperlukan jurus menahan kantuk yang jitu dan gokil yang meski waktu tidurnya sebentar dan saat ngantuk menyerang, mata masih bisa tetep melek dan konsentrasi masih fokus.

Ada tambahan?

TELAT NIKAH | KISAH NYATA

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka’bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”.

(An Nisa’: 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.

(Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.
Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun.
Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang.
Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga.
Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya.
Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah.
Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya:

“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

| Copas dari sebuah note facebook

Mari Belajar

Kepada : Penduduk Dashboard Biru Tua

Subjek : Pesan Dari Salman Al-Farisi Radiallahu’anhu

Selama ini kita mungkin hanya selalu mendengar tentang kemuliaan cinta Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra. Cinta dalam diam yang dilakukan Ali membuahkan hasil. Ali berhasil mengajarkan kepada para lelaki tentang bagaimana membuktikan cinta, ialah mengambil kesempatan atau hanya terus diam saja.

Kita juga mungkin tahu bagaimana kisah cinta Zulaikha yang begitu sabar dan akhirnya memilih mencintai Allah, sehingga membuat Allah tersentuh dan membawa Nabi Yusuf ke sisinya. Atau kisah dipertemukannya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah berpisah sekian lama.

Kita tahu beragam kisah cinta itu, belajar dari kisah cinta itu, namun sebenarnya kita tidak benar-benar belajar. Kita justru salah mengartikan semua yang orang-orang mulia zaman dulu ajarkan kepada kita.

Hari ini sengaja ku tuliskan surat ini kepada kalian untuk belajar, belajar tentang ikhlas yang sesungguhnya, belajar tentang berbesar hati. Karena hari ini entah kenapa saya merasa lelah membaca semua tulisan tentang sakit hati.

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Dia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekkah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin dalam perang Khandaq.

Kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu terjadi ketika hijrah ke kota Madinah bersama Rasulullah. Diam – diam Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu menaruh perasaan cinta kepada seorang wanita muslimah Madinah nan sholihah (dari kalangan Anshar). Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita tersebut. Sayangnya, dia bingung tentang tradisi melamar wanita di Madinah seperti apa. Maka di ajaklah sahabatnya Abu Darda untuk pergi melamar wanita tersebut.

Singkat cerita, Salman Al Farisi dan Abu Darda mengunjungi rumah wanita tersebut. Mereka di terima dengan sangat baik oleh ibu dan ayah wanita tersebut. Abu Darda mulai menjelaskan maksud kedatangannya.

“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman Al Farisi dari Persia yang telah berhijrah ke Madinah karena Allah dan Rasul-Nya. Allah telah memuliakan Salman Al Farisi dengan Islam. Salman Al Farisi juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai ahlul bait (keluarga) nya. Saya datang mewakili saudara saya, Salman Al Farisi, untuk melamar putri anda”, ujar Abu Darda’ Radhiallahu’anhu menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.

“Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat. Namun, jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” kata ayah si wanita.

Si Ayah lalu meminta istrinya untuk menemui putrinya dan menanyakan bagaimana jawaban putrinya. Tidak berapa lama ibu dari wanita itu datang dengan pesan dari putrinya.

“Mohon maaf kami perlu berterus terang”, Sahut ibu wanita tersebut yang membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda tegang.

“Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman”  ibu si wanita sholihah idaman Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu melanjutkan ucapannya.

(Andai di jaman sekarang ini, sudah pasti pemuda yang ditolak sedemikian rupa akan sangat patah hati. Ngurung diri, update status “kenapa kau tega berbuat demikian?” Muter lagu patah hati sampai hafal semua lirik lagunya, nulis kegalauan dan bla, bla, bla.)

Namun berbeda dengan Salman Al Farisi. Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru menjawab, “Allahu Akbar!”. Tak hanya itu, Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan akan aku berikan kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian”.

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sosok lelaki sholih, pejuang Islam, yang ketika masa kejayaan Islam, ketika banyak timbunan harta negara di baitul maal yang berlimpah ruah, ketika peluang jabatan – jabatan pemerintahan terbuka lebar, dia memilih menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang untuk dijualnya, padahal dia diberikan tunjangan oleh negara empat sampai enam ribu dirham setahun, tetapi semuanya disumbangkan habis, satu dirhampun tidak diambil untuk dirinya dan keluarganya.

Ia begitu faham bahwa cinta, betapa pun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan.

Mencintai itu bukan tentang membuat diri kita terjebak oleh perasaan sakit yang kita timbulkan sendiri. Mencintai lebih ke berbesar hati menerima semua ketetapan yang Tuhan tuliskan. Kita di pertemukan dengan orang yang salah untuk belajar, agar berikutnya tidak mengulang kesalahan. Sayangnya manusia, makhluk terlalu sok tahu. Sehingga kembali mengulang dan mengulang kesalahan dengan mengikutsertakan Tuhan pada perbuatan yang Tuhan sendiri pun melarangnya.

(Lebih sakit hati mana, kamu atau Salman Al Farisi yang jelas-jelas menanggung 2 rasa jika beliau hidup dijaman ini. Malu dan Sakit Hati. Jelas-jelas dia sudah datang melamar, yang dilamar wanita idaman pula dan lalu di tolak).

Belajarlah untuk berbesar hati dalam mencintai. Bukan karena ingin memiliki semata melainkan mencari ridha Allah. Semoga ada manfaat.

Best Regards,

Orang Aneh

Pernikahanmu, Semoga Selalu Indah Walaupun Tak Selamanya Mudah

Alhamdulillah, kali ini dua orang teman saya ternyata berjodoh. Saya mengenal mereka berdua ketika mengikuti pelatihan Forum Indonesia Muda angkatan 16 tahun 2014.

Kala itu, Sabtu, 18 Maret 2017 di Mesjid Al-Khabii, Kopo. Rintik hujan yang lembut penuh berkah menemani suasana khidmat pengikraran janji suci itu. Semua berjalan lancar sehingga jarak yang sangat jauh diantara mereka hilang seketika, saat kata “sah” menggema di mesjid itu.

Selamat Menempuh hidup baru, @yulialatifah dan Dwi Bremani, Semoga pernikahan kalian bersemi sampai surga-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cinta-Nya pada keluarga kalian berdua.

Berikut ini adalah catatan singkat khutbah nikah mereka yang saya rangkum dengan bantuan seorang teman, Aji Nur Affifah. Yuk kita resapi bersama! Semoga bisa menjadi pembelajaran baharga untuk kita kedepannya ya.

Adakah yang galau nikah? Hehe….

Galau nikah boleh banget, asalkan dibarengi dengan semangat menuntut ilmu, terus memperbaiki diri, dan yang gak kalah penting adalah terus menjaga diri. Agar sesuatu yang fitrah ini menjadi berkah. Semangat dan selamat berjuang ya!

Begini isi khutbah nikah mereka :

Jika diambil tema besarnya, nasehat yang disampaikan kala itu mengandung sebuah tanda tanya “Bagaimana memaknai pernikahan agar cinta tak lekang oleh waktu dan terus bersemi hingga ke Surganya?”

aahh yaa, setiap hati yang bertaut karena Allah tentu saja mendamba cinta hingga surga. Namun, untuk mencapai hal itu, ada beberapa makna yang harus ditanamkan pada mitsaqon ghaliza ini. Sebelum ia bertumbuh lebih tinggi, maka fondasinya harus diperkuat terlebih dahulu, agar ketika angin menerpa lebih kuat, maka ia tak mudah rapuh dan tak gampang rubuh.

Ialah perjanjian yang kuat, perjanjian yang agung, dan perjanjian yang disaksikan langsung oleh Allah SWT, yang apabila sepenggal kalimat itu di ucapkan maka para malaikatpun akan memenuhi seisi ruangan seraya mengaminkan doa-doa yang bertebaran disana.

Jadi, apakah yang harus ditanamkan, ditumbuhkan dirawat hingga ia bersemi sepanjang waktu?

Tolong tanamkanlah beberapa makna ini didalam hatimu, ya!

Pernikahan adalah rahmat Allah, pasangan kamu adalah yg terbaik dunia akhirat. Terimalah ia dengan segala rasa penuh kesyukuran. Terimalah ia, baik kebaikannya maupun apa-apa yang tidak ada padanya. Sadarkah jika, di antara miliyaran manusia di bumi ini, tapi Allah telah memilihkan dia untuk melengkapi agamamu. Maka, janganlah biarkan dia pudar. Karena pernikahan itu amanah bagimu, hanya ia yang dititipkan Allah pada kamu. Muliakakan ia dengan sebaik-baiknya cara. Lalu berlomba-lombahlah menjadi seseorang yang mulia dengan cara memuliakan pasangan kamu.

Pernikahan adalah jembatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka setiap waktu yang kamu habiskan bersamanya akan bernilai ibadah. Luruskan setiap niat yang mengawali setiap harimu, setiap langkahmu hanya untuk Allah. Menata setiap satuan tangga surga bersama dan senantiasa menanti ridha-ridha Allah.

Pernikahan adalah dakwah. Dakwah adalah merangkul dan dirangkul. Menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk pasangan. Kamu tak harus memberikan khutbah didepan banyak orang, karena dengan memberikan teladan yang baik dalam rumah tangga maka akan menjadi jalan dakwah bagimu. Hadirkanlah perbuatan, perkataan dan sikap yang baik, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian,berpegang teguhlah pada alqur'an dan sunnah, maka tidak akan ada perpecahan keluarga dan tidak ada perceraian diantara kalian. Dengan mengajarkan one day one ayat, one day one hadist maka rumah tangga itu akan dipenuhi cahaya dan hati akan ditumbuhi iman yang berlipat-lipat pula.

Pernikahan adalah sebuah kepercayaan dari Allah. Allah akan meminta pertanggungjawaban nanti. Untuk apa waktu yang kamu habiskan bersama, kemana tujuan kamu menempuh perjalanan berdua dan kontribusi apa yang dibangun saat bersama. Karena pernikahan adalah jalan menuju surga bersama-sama. Jadi, pastikan apa-apa kepercayaan ini dijaga dengan sebaik-baiknya.

Pernikahan adalah taklim. Ia merupakan awal dari pembelajaran. Perbedaan yang ada dalam pernikahan adalah pelajaran berharga. Setiap kejadian yg terjadi dalam pernikahan adalah bagian untuk kita menjadi manusia yg lebih baik. Sikapi perbedaan itu dengan penuh rasa cinta.

Begitulah beberapa makna tentang pernikahan yang bisa dijadikan fondasi untuk menjadi keluarga yang dirindukan surga. Pernikahan adalah rahmat, ibadah, dakwah, amanah, dan taklim.

Semangat berbenah, dan semoga diberi kesempatan untuk mengamalkannya ya!

Bandung, 22 Maret 2017