lancar

TAKUT KEHILANGAN

Ada orang yang sesungguhnya, dari perilakunya saja, seluruh dunia sudah tahu, ia menyukaimu.

Dari cara menyapamu, cara memandangmu, cara memperlakukanmu, nampak jelas, bahwa ia menyimpan rasa padamu.

Namun, tak pernah sedikitpun ia mengucapkan atau mengutarakan perasaannya sama sekali, bahkan jika ditanya urusan hati, ia lebih senang mengelak atau menghindar.

Percayalah wahai kaum hawa, pria ini bukannya tidak menyukaimu, hanya saja ia takut, takut kehilanganmu.

Ia takut, jika ia mengucapkan lebih dahulu, perasaannya tertolak. Ia takut, jika ia mengutarakannya, kau justru mungkin akan mengselatankannya. Ia takut, jika ia mengeluarkan segala isinya, selesai pula perjalanannya malam itu. Ia takut, ia kehilanganmu.

Bukan tidak berani, bukan, ia hanya lebih berhati-hati, bergerak lebih perlahan, tidak terburu-buru, seperti orang yang sedang uji konsentrasi, setiap gerak-gerikmu ia perhatikan, setiap postinganmu ia pikirkan, setiap apapu yang kau lakukan tak pernah ia lewatkan.

Bukan tidak ingin segera, ia hanya tidak mau ceroboh, ia ingin memastikan bahwa memang, apa yang akan ia lakukan, pasti berbalas dengan baik, tanpa ada penolakan.

Ia paham, betapa berharganya kehilangan orang sepertimu, maka ia tidak masuk sembarang. Andai kau adalah orang asing yang tidak ia kenal sama sekali, mungkin ia akan datang lebih dulu, memintamu, lantas jika ditolak, ia akan melenggang seperti biasa, karena tidak ada perasaan yang ia libatkan. Namun kali ini, berbeda. Kisahnya, terjadi denganmu, yang mungkin kamu adalah kawannya, teman kerjanya, atau sahabatnya.

Ada, ada pria seperti ini. Yang mungkin berbicara begitu lancar, namun begitu gagu ketika membicarakan tentang perasaan.

Wahai kaum hawa, jika kau menyukai pria seperti ini, dan ingin menyegerakannya agar tidak terjerumus dalam dosa, cukup ucapkan padanya

“Mas, mas mau serius sama aku?”

Jika sudah begitu, lantas, apalagi yang bisa menghalangi dua perasaan yang saling mengasihi.

TAKUT KEHILANGAN
Bali, 18 September 2017 | ©Choqi_Isyraqi 

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

gadis-dusun  asked:

Rukun nikah teh cuma ada 5 kang Pengantin lelaki (Suami),Pengantin perempuan (Isteri), Wali ,Dua orang saksi lelaki , Ijab dan kabul (akad nikah). rizki mah sudah diatur

Tapi nggak bisa datang ke orang tua calon tanpa modal duit kan? Mana ada orang tua yang mau melepas anaknya ke anak orang yang untuk makan sendiri aja masih gak gablek.

Ya, gue percaya ada rejeki isitri ada rejeki anak. Tapi Tuhan hanya akan membantu orang-orang yang mau membantu dirinya sendiri. Jadi daripada nekat, terus terlalu bergantung sama apa yang namanya Rejeki Anak dan Rejeki Istri sih mending usaha dulu dari awal.

Kumpulin duit.

Sholat doang gak mendatangkan duit.
Sholat sama usaha yang mendatangkan duit.

Usaha nanti aja pas udah nikah?
Kalau usahanya gak lancar? Kalau bangkrut dengan modal yang masih mangkrak terus tabungan gak ada?

Anakmu mau dikasih makan indomie tiap hari?

Intinya, apabila mulut sendiri udah bisa dikasih makan, baru deh ngasih makan mulut orang lain. Kalau untuk mulut sendiri aja masih susah, jangan nyusahin orang lain dulu deh.

 Iya emang istri/suami harus mau merintis dari 0, tapi merintis dari 0 itu bukan dari 0 banget. Minimal kamu punya modal untuk jalan.

Seperti, kalau mau lomba lari, ya minimal punya kaki dulu sama stamina baru deh ikut lomba. Itu namanya merintis dari 0.

Tapi kalau kaki aja masih belum punya dan ente punya asma, mau ikut lomba bagaimana caranya?

Please girl. 
Buat kalian, emang nikah butuh cepet2 karena kepentok umur. Tapi buat laki-laki, dia harus membuktikan dulu sama dirinya sendiri kalau dia bisa hidup dan bangga pada dirinya sendiri.

Ngebuktiin sama orang tua. Ngebuktiin sama adek-adeknya. Ngebuktiin sama masa lalunya. Karena laki-laki itu dibentuk dari harga diri. Maka sebab itu laki-laki banyak yang nikah setelah punya kerjaan/usaha yang steady.

#random thought

Tadi gue nonton film Posesif dan masih berasa shock. Dari film itu, gue jadi ngerti kenapa ada banyak orang yang memilih bertahan dalam Toxic Relationship. Ada ibu-ibu yang tetep bertahan dalam KDRT karena takut kehilangan. Ada temen-temen gue yang ga mau pisah sama pacarnya meskipun hubungan mereka creepy banget mirip Lala sama Yudhis di film posesif.

Dalam novel 9 dari Nadhira, Leila S Chudori, kita menemukan sosok Nadhira dan Utara Bayu. Dua orang yang sama-sama independen dan mungkin saking independennya sampai nggak sanggup memperjuangkan orang yang dicintainya.

Nadhira menikah dengan Niko dan kisahnya berakhir dengan perceraian meskipun sebenernya masih saling mencintai. Bagi orang yang independen, cinta aja kadang nggak cukup. Sama kayak Utara Bayu yang endingnya menikahi orang lain meskipun dia sebenarnya mencintai Nadhira. Menyedihkan karena di novel, diceritakan kalo di hari pernikahannya, tatapan mata Tara tidak bercahaya.

Baik Posesif ataupun 9 dari Nadhira sama-sama menceritakan kisah cinta yang banyak terjadi di dunia nyata, meskipun sebagiannya mungkin agak di luar jangkauan kita.

Posesif menggambarkan kisah cinta orang-orang yang tumbuh di lingkungan yang menciptakan lubang di hati masing-masing (entah itu bullying, keluarga yang over demanding, keluarga broken home, etc…etc…). Sehingga mereka memaklumi sikap saling menyakiti karena mereka takut kehilangan orang yang terlanjur dicintai dan terlanjur mengisi lubang di hatinya.

Meanwhile 9 dari Nadhira menggambarkan kisah cinta manusia independen yang terlanjur menganggap dirinya lengkap sehingga cinta dan kebersamaan dengan orang yang dia cintai tidak lagi menjadi prioritas. Orang-orang semacam ini biasanya agak susah invest banyak waktu dan tenaga demi cinta doang. Bukan karena takut disakiti. Tapi lebih karena takut attached dengan perasaannya sehingga mereka tidak lagi merasa bebas mengejar apa yang mereka cita-citakan.

Dulu pas masih kuliah, gue suka ngomentarin kisah hidup banyak orang. Sok tau ngasih advice macem-macem. Tapi semakin kesini gue semakin sadar bahwa kita nggak bisa sok tahu dalam menanggapi kisah orang lain.

Sebab dalam sebuah kisah tentang seseorang, yang terlibat bukan cuma orang tersebut. Tapi juga budaya, background keluarganya, masa lalunya, sifatnya, wawasan yang dia miliki, pengalaman dan banyak hal yang semuanya membentuk alur dan ritme dalam sebuah kisah.

Maka nggak heran kalo ada orang-orang yang lancar banget. Ta’aruf hari ini, tiga hari kemudian langsung nikah. Ada juga yang rumit macem Lala-Yudhis, ato Niko - Nadhira - Utara Bayu.

Gue sebenernya ga lagi bahas tentang kisah cinta sih. Tetapi lebih ke gimana budaya, background keluarga, masa lalu, wawasan, dan pengalaman bisa mempengaruhi kepribadian seseorang beserta jalan hidupnya.

Manusia itu menarik sekaligus rumit. Mereka punya banyak sisi yang tak bisa diamati dengan utuh hanya dalam sekali pandang. Pun juga sebenernya bukan tugas kita untuk memaksa orang lain menampakkan sisi yang tidak ingin mereka perlihatkan.

Gue punya temen macem-macem. Ada yang coming out sebagai LGBT, ada yang kena KDRT berkali-kali dari suaminya, ada juga temen gue yang semangat banget cerita tentang konsep open marriage dan polyamorous. Sesuatu yang sebenernya menurut nurani gue udah jahiliyah. Dan sialnya, ini realita yang ada di hadapan gue.

Ga gampang buat kita kalo udah kejebak dalam situasi kayak gini. Tapi balik lagi bahwa kisah tentang seseorang nggak cuma melibatkan orang tersebut, tapi juga segala hal yang membentuk kepribadiannya. Maka menyelesaikan kisah yang rumit dan abnormal seperti yang gue sebut sebelumnya, nggak cukup hanya dengan pendekatan “dosa dan pahala”, kita perlu sedikit berempati pada apa yang menyebabkan seseorang berperilaku demikian.

Kemarin, gue baca artikel yang ditulis ustadz Fauzil Adhim tentang Paradoks Pernikahan. Kita sering banget bicara tentang nikah muda, memperbaiki diri demi jodoh yang baik, dll, dsb. Tapi tak banyak yang berbicara tentang bagaimana mempersiapkan kematangan. Bagaimana kita berusaha selesai dengan ego masing-masing. Bagaimana kita berusaha lepas dari hantu masa lalu, dll, dsb.

Sebab pernikahan yang tidak diawali dengan kematangan, nantinya bakal menghadirkan pernikahan yang toxic dan menghasilkan anak-anak yang toxic juga. Fenomena kisah cinta di film Posesif, 9 dari Nadhira dan kisah cinta temen gue yang aneh-aneh, umumnya di awali dengan lingkungan dan keluarga yang nggak sehat.

Serem banget kalo misal indonesia beneran punya bonus demografi tapi toxic semua :(

Harapan gue sih kalo misal temen-temen nulis perkara nikah dan jodoh, selain tulisan tentang pengendalian perasaan yang menye-menye, ada tulisan-tulisan yang membahas bagaimana untuk mematangkan diri bagi orang-orang yang kehidupan masa lalunya terlanjur tidak ideal. Biar lingkaran setan antara keluarga toxic, anak-anak toxic dan kisah cinta toxic bisa terputus.

Keluarga itu pilar peradaban, sebuah lingkungan kecil yang harus kita bangun dengan sehat

DI BAGIAN MANA?

“Bagaimana hubunganmu dengan keluargamu, apakah baik?”

“Bagaimana hubunganmu dengan Tuhanmu, apakah baik?”

“Bagaimana urusan akademikmu, apakah gemilang?”

“Bagaimana urusan karirmu, apakah cemerlang?”

“Bagaimana hubunganmu dengan tetangga-tetanggamu, apakah lancar?”

“Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman dan sahabatmu, apakah baik?”

“Bagaimana tentang hidupmu kepada orang lain, apakah bermanfaat?”

“Bagaimana tentang kebahagiaan orangtuamu, sudahkah terlaksana?”

“Bagaimana tentang ibadah-ibadahmu, sudahkah berjalan baik?”

Jika pada akhirnya, diri kita lebih banyak menjawab “tidak”, lantas di bagian mana yang berjalan dengan baik?

Jika pada akhirnya tiada satupun yang belum kita lakukan? Kapan kita akan memperbaikinya?


DI BAGIAN MANA?
Palu, 25 Oktober 2017

Bye-bye Spring Semester, welcome Autumn Semester!

Suatu keputusan besar (dan juga nekat haha) untuk pergi ke Negeri Sakura dengan kondisi hanya mendapat beasiswa parsial. Iya, saya datang dan hidup di Negeri ini gak mendapat full scholarship. Untuk biaya perkuliahan, Alhamdulillah saya gak perlu membayar lagi, 0 rupiah muehehe, tapi untuk kehidupan sehari-hari saya harus merogoh kantong sendiri untuk membiayai semuanya.

Apakah orang tua cukup mampu untuk mengirimkan kisar uang 8 juta/bulan (ukuran minimal beasiswa JASSO)?? hehe tentu engga, sama sekali engga :D Saya punya banyak adik yang harus menjadi prioritas karena kepergian saya ke Negeri Sakura ini adalah keputusan saya sendiri. Saya merasa harus siap menanggung resiko apapun yang akan terjadi atas pilihan saya sendiri.

Dan, akhirnya saya berada disini..

Sampai detik ini. Alhamdulillah.

Cerita ini dimulai dari diterimanya saya bekerja di Toko halal sejak hari ke 3 saya di Kagoshima. Dan 3 April 2017 lalu, hari ke 5 saya berada di Kagoshima, saya sudah mulai bekerja.

Alhamdulillah, saya bisa bekerja di sebuah toko makanan halal, menjadi kasir, juga sekaligus membersihkan toko, berberes, menyusun makanan, menimbang bahan-bahan makanan, membungkus makanan, membungkus daging dan semua pekerjaan yang ada di toko. Karena pekerja sore-malam hanya saya, sehingga saya harus mengerjakan semua.

Saya merasa bersyukur sekali karena bisa bekerja di toko makanan halal, dengan pemilik toko seorang Muslim asal Pakistan. Alhamdulillah, saya bisa sholat dengan mudah di waktu bekerja. FYI, untuk bekerja dengan orang Jepang agak sulit untuk meminta izin sholat di tengah-tengah bekerja.

Kuliahnya  kapan  ya? Hehe :p
Saya menghabiskan waktu di kampus dari pagi hingga siang/sore, lalu setiap sore hari senin-selasa-kamis-jumat (4 hari kerja) sekitar pukul 4 sore sampai malam saya bekerja di Toko halal, tokonya berada di samping Masjid Kagoshima. Kalau main ke Kagoshima dan mampir ke Masjid Kagoshima jangan lupa ke Toko Halal samping Masjid ya! Nanti ketemu saya wkwk *malah promosi

Pekerjaan lainnya, saya mencoba mengajar bahasa Indonesia di kampus, alhamdulillah murid nya ada 3 orang :D Setiap hari rabu sore setelah selesai kuliah pukul 4 sore, 4 lewat 10 menit saya mulai mengajar Bahasa Indonesia. Mengajar materi bahasa Indonesia ternyata gak semudah yang saya bayangkan haha. karena mereka terkadang menanyakan soal-soal dasar yang memang sebagai pengguna bahasa Indonesia sejak kecil itu gak terpikirkan :D

Lainnya, kalau ada English camp anak-anak sekolah juga biasanya saya mendaftar untuk menjadi tutor bahasa Inggris (meskipun jujur bahasa inggris saya gak lancar-lancar banget haha-serius) pernah suatu waktu saya mengajar dari jam 11 siang sampai jam 3 sore, mendapat  gaji 7.000 yen, transport, makan siang dll kalau semua di uangkan satu juta rupiah. Alhamdulillah ya, jadi tutor English camp ini dengan bekal “yang penting PD aja” wkwk :D

Di lain hari saya pun juga mengajar anak-anak SD tentang budaya Indonesia. juga bermain bareng anak-anak TK, juga ke tempat penitipan anak-anak, untuk mengajar tarian Indonesia *ala firas, juga lagu-lagu Indonesia dan kebudayaan Indonesia lain. Kalau yang ini terkadang ada yang memang kerja part time ataupun memang kegiatan volunteer. Untuk aktifitas yang ini saya seneng banget karena ketemu bocil-bocil yang lucu nya bikin pengen dibawa pulang muehehehe.  XD

Sabtu-minggu pun kalau sedang ada seseran kerja part time sehari full, biasanya saya ambil. Misal di salah satu Festival kota Kagoshima tempo hari, seharian saya jadi penyedia jus sama kare, alhamdulillah dari jam 11 siang sampai 6 sore, bisa dapet sangu 800 ribuan ditambah dibawain banyak oleh-oleh sama Ibunya. Ibunya baik banget :’) memang besar bayarannya, tapi juga kerjanya gak main-main, selama kurun waktu 7 jam saya nyaris gak duduk kecuali sholat dan makan siang total sekitar 20 menit (ini keadaan yang sangat biasa kalau kerja dengan orang jepang). Kalau lagi kerja dengan orang sini ngerasa totalitas dalam bekerja itu di uji banget, tapi satu sisi saya jadi iri, betapa mereka bisa totalitas dengan ‘bener-bener totalitas’ ketika bekerja, lalu sebagai muslim apakah saya udah begitu? saya sering nanya ini ke diri sendiri kalau sedang cape kerja ehehe. Padahal bekerja juga salah satu bentuk ibadah kan ya..

Balik  keawal.

Jadi selama satu bulan bekerja, jumlah normal keuangan saya perbulan kisar 43.000x122, jumlahnya adalah nominal yang di rupiahkan. Dari itu semua, saya bertahan hidup di negeri ini. “Apa cukup?” banyak yang bertanya saat saya sebutkan nominal keuangan saya perbulan, sahabat saya orang jepang pun bilang, “sonna…. giri-gigi  janai? daijoubu? Itu keuangannya mepet sekali kan? kamu gak papa?” Saya kadang cuma nyengir. :D

Alhamdulillah dicukupkan dan selalu di bantu oleh Allah lewat cara-caraNya.

Suatu hari ada yang bertanya apakah keuangan dibantu orang tua juga?

Saya jadi inget, di awal-awal di Jepang, saya sedang gak berduit-cukup (ada, tapi mepet sekali) mau makan dan beli kebutuhan lain, saya coba cek kartu ATM Indonesia, barangkali masih ada sisa-sisa keuangan saya di Indonesia. Eh? kok error. Esoknya saya coba lagi, saya minta tolong teman orang Indonesia yang biasa mengambil uang memakai kartu ATM M*ndiri Indonesia untuk menemani saya, barangkali saya salah memencet layar yang tulisannya kanji semua itu. Tapi… ternyata tetap gak bisa..
Sejak pertama kali disini hingga sekarang kartu ATM itu gak bisa di pakai. Saya kadang berpikir, mungkin ini cara Allah supaya saya pun gak punya alasan untuk gak bekerja keras membiayai hidup saya sendiri, mungkin kalau kartu ATM itu masih oke, saya mungkin saja punya alasan untuk tidak begitu bekerja keras dan merasa bahwa aman, semepet-mepetnya mungkin saya bisa mengubungi orang rumah untuk sekedar meminta sedikit bantuan. Hehe.

Namun setelah kejadian itu, akhirnya saya memutuskan untuk gak memiliki sedikitpun alasan untuk meminta bantuan orang rumah. Bukan karena merasa mampu membiayai sendiri hidup di Negeri orang (karena justru diawal saya khawatir gak bisa membiayai hidup sendiri), tapi karena saya merasa bahwa, saya gak mungkin untuk terus menyusahkan orang tua saya lagi atas pilihan-pilihan hidup saya- atas mimpi-mimpi dan impian-impian saya, dan lagi biaya hidup disini mahal sekali. Dari gaji perbulan, saya harus menyisahkan uang (nominal tergantung musim) sekitar 1,3 juta untuk biaya listrik, air, gas dan asrama. Belum lagi harus membayar uang tagihan nomer HP Jepang, internet hp, wifi asrama, asuransi kesehatan, buku kuliah pegangan wajib, buku-buku penunjang belajar dan lain-lainnya.

Kalau kadang terpikir tentang itu, saya mungkin gak bisa bertahan hidup di negeri ini…. tapi saya nyoba untuk membuang pikiran-pikiran itu, oke mari kita jalani! Yareba  dekiru! *kalau di lakukan pasti bisa. Yosh! Bismillah, selalu ada jalan, pasti bisa!
dan… alhamdulillah akhirnya bisa! satu semester terlewati :’)

Apakah dulu di awal dateng ke Jepang gak ada ‘drama’ kaya sinetron di TV  dengan judul film “Merasa Tak Sanggup”?

Tentu  ada. Wkwk. Ada bangeeeet! Tapi, Ada Allah kan? :)
Saya suka sekali potongan ayat ini.

 “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyirah 5-6)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah 286)

 :’)

Alhamdulillah, akhirnya terlewati satu tahap!  

dan.. semua pelajaran-pelajaran hidup selama satu babak ini tak akan mampu terbayar oleh apapun.. :)

Mulai Oktober, Autumn semester, yosh semangats! 

Ahya, mulai oktober nambah lagi kerja part time saya jadi penyiram bunga di salah satu apartment milik orang Jepang (ciee, kata salah satu temen saya disini, bakal jadi tukang kebun XD)
alhamdulillah dulu masih kecil suka disuruh Ibu nyiram bunga depan rumah meskipun dengan males-malesan ngerjainnya sekarang ngerasa beruntung pernah latihan nyiram bunga banyak tiap sore hari di masa kecil hahaha. Ternyata, keterampilan apapun itu kalau disuruh Ibu pasti akan berujung kebaikan dimasa depan ya :D

 

Kagoshima, 6 Agustus 2017

*saya nulis ini 2 bulan lalu, awal liburan summer kemarin, baru sempet buka ulang file ini. dan udah mau selesai liburannya, besok mulai masuk kuliah semester baru :D

oh ya, saya nulis tentang ini sekedar nulis diary, dan sedikit berbagi pengalaman kalau semua orang yang pernah, akan, atau sedang belajar di Luar Negeri bukan berarti mereka hidupnya lebih mudah, atau hanya senang-senang, jalan-jalan, hidup makmur dapet beasiswa tiap bulan atau hanya mikir tentang kuliah. ehehehe (mungkin karena yang terlihat di sosmed nya yang enak-enak aja ya wkwk) Tapi, percayalah dibelakang foto dan postingan mereka, ada banyak kisah yang bahkan kata pun sulit mendeskripsikan dan saya yakin masing-masing orang punya kisah perjuangan yang panjang buat mencapai itu. Gak mungkin langsung ‘cling’ jadi kan muehehehe.

Suatu hari temen saya ada yang bilang saat saya mosting foto di IG, “Enak ya cuma kuliah di luar negeri, gak banyak mikirin ini itu, tinggal kuliah aja, bisa jalan-jalan kemana-mana.” Hihihi

Enggak, serius gak semudah itu. Perlu perjuangan kan buat semua hal. Termasuk buat jalan-jalan ahahaha :p

Saya yakin semua kisah punya cerita masing-masing. Dan tentu, tanpa berjuang-maka habislah cerita itu. 

Kagoshima, 8 Oktober 2017, 20:08 JST

 

chocociz  asked:

Hai.. Sepertinya kita sama, sama2 menjelang umur 30 dan blm menikah. Sya membaca tulisanmu ttg jangan khwatir dengan kesendirian. Ya inginnya tdk khawatir hnya saja terkadang bahkan seringnya sya merasa khawatir, selalu merasa sedih. Padhal teman2 saya bilang "wah enak ya lo bisa nongki sana sini, bisa jalan sana sini bebas, gw kadang iri malah pengen punya karir" . Ya mungkin mereka hanya melihat dr sisi luar tp mereka tdk melihat bhwa jauh didalam sini, hati saya merasa tidak punya tujuan.😞

KESEDIHAN KARENA MASIH SINGLE

Hai @chocociz  positif thinking sih, bahwa teman2mu memberi semangat dengan menyebutkan sisi ‘enaknya’, it’s better than membully atau menganggapmu menyedihkan.Ehehehe. Cewek mandiri banget ya yang seakan2 ga butuh laki? Sama, padahal mah butuh pundak buat sandaran yak? Wkwkwk.

Yes saya mengerti, pasti sedih dan khawatir, semuanya pasti begitu. I’ve been there, ngerasa ga punya tujuan. Mau kerja di sini dan di sana bingung juga karena ga ngerti ke depannya mau tinggal di mana, lupa pada visi misi serta tujuan hidup karena menggantungkan pada ‘nanti aja deh bikin tujuan hidup lagi  kalo udah nikah, karena belum tahu bakal hidup dengan orang seperti apa.’ Akhirnya cari kerja karena ambisi pribadi, prestis perusahaan, cari uang dan ilmu dunia, yang mungkin semakin menjauhkan dari jodoh dan hanya membuat lelah.

Tapi ketika gw kuliah lagi, gw bertemu dengan banyak orang dan gw jadi inget cita2 gw sejak remaja. Akhirnya gw inget idealisme gw. Gw membalikkan logika yang tadinya ‘gw akan membuat tujuan sesuai suami’ menjadi ‘in syaa Allah gw akan dipertemukan dengan laki2 yang punya tujuan sejalan lalu saling mendukung, walaupun gw masih fleksibel dan bisa mengikuti dia.’ Sebab kalau tujuan hidup gw belum jelas, gw takut akan ‘asal menikah’. 

Pasti sedih, gw juga kok. Yang bikin sedih sebenarnya bukan karena kita belum menikah, tapi karena hati kita masih kotor dan belum sepenuhnya ridho pada apa yang ditakdirkan. Pun di persoalan2 lain, bukan hanya soal jodoh, kalau hati kita begitu terluka atau sempit karena suatu masalah, itu bukan karena masalahnya tapi karena hati kita belum sepenuhnya sabar. Apakah boleh? Ya,,,dimaklumi, manusia. Namun yang penting kita banyak2 belajar melatih hati, berbaik sangka pada Tuhan, dan terus memperjuangkan kebaikan / hikmah yang kita ambil dari kondisi yang sepertinya tidak menyenangkan ini.

MENGALAHKAN SEDIH ADALAH IBADAH HATI

Jalani aja terus, meskipun sedih dan khawatir. Gw baru denger tentang ibadah hati. Jadi, bersabar dan bertaubat atas kejadian di luar yang kita inginkan adalah salah satu bentuk ibadah yang tak terlihat. Barangkali di sinilah letak pahala buat kita, bersabar dalam kesedihannya. In syaa Allah kalau kita mau menerima ini, hati akan menjadi bahagia. 

CARI BERKAH PERNIKAHAN BAHKAN KETIKA KITA BELUM MENIKAH

Lho kok bisa? Bisa. Beribadah itu harus cerdas. Meskipun belum menikah, kita harus memperjuangkan cipratan berkahnya. Caranya dengan menjadi bagian dari pernikahan orang lain. Itulah mengapa 2 tahun ini melalui postingan tumblr gw menawarkan bantuan pada setiap yang mau menikah, bantuan apapun yang gw bisa (undangan, suvenir, konsultasi). Postingan tentang tawaran bantuan itu gw buat ketika gw sedang sangat bersedih loh, sungguh. Gw tahu yang paling dibutuhkan mempelai ya uang, sayangnya gw tidak punya banyak uang, jadi hanya bisa memaksimalkan apa yang gw miliki. INTINYA GW PELIT

Berharapnya, dengan ikut terlibat di proses pernikahan orang lain, meski gw belum menikah Allah bersedia mencipratkan berkah pernikahan mereka buat gw. Karenanya, ketika gw melayani yang minta bantuan, sebenarnya gw lah yang butuh mereka, in syaa Allah mereka mah pasti akan lancar acaranya walaupun tanpa gw. 

Ga gampang juga bantuin nikahan orang terus padahal kita belum nikah. Sedih ciiiyyn, tapi in sya Allah disitulah letak berkahnya. Siapa tahu dari proses melawan kesedihan hati sendiri itu, Allah makin jatuh cinta sama kita? Itu yang paling penting menurut gw. Dan melalui proses itu, hati kita bisa dilapangkan dan berujung pada bahagia tanpa sebab. 

BERDOA

Terakhir, jangan lupa mendoakan hal yang paling penting. Berdoa untuk dapat jodoh? Bukan. Doa yang paling kita butuhkan saat ini adalah minta untuk dikuatkan hati agar tidak sempit; minta untuk dibuat lapang dan ridho; minta dibuat untuk bahagia apapun yang terjadi. minta untuk dibuat agar tidak kehabisan prasangka baik pada Allah.      

Kalau kata @deamahfudz barusan banget, “ Masa-masa kayak gini itu masa latihan. Kalau kita nggak bisa menenangkan diri kita karena masalah demikian, gimana ntar mau nenangin suami dan anak kalau mereka ada masalah? “

Selamat berbahagia sebagai single fighter.

tawar

“Generosity is giving more than you can and pride is taking less than you need”

Di awal Juni kemarin, saya berangkat ke Surabaya untuk menemani istri pulang ke kampung halamannya. Sepasang sepatu keds yang jahitan bagian depannya mulai terlepas saya bawa di dalam koper. Lubangnya cukup menganga memang, tapi enggak apa-apa. Toh untuk pertama kali, saya mau menggunakan merk jasa servis sepatu yang gerainya hadir di di mal-mal besar.

Setibanya di sana pada malam hari, saya langsung masuk ke dalam gerainya untuk menemui staf pelayanan yang sedang bertugas. “Mas, saya mau jait sepatu ini. Sol depannya kaya mau lepas nih” ucap saya kepada staf pelayanan yang mengiyakan permintaan tersebut dengan ramah. Lalu ia menyarankan supaya penjahitan dilakukan pada kedua sepatu yakni sebelah kanan dan kiri. Saya sepakat dengan sarannya. Biar lebih awet ke depannya.

“Jadi berapa biayanya, mas?” tanya saya. “Totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah” jawabnya kalem. Saya tercekat dan kalah kalem waktu mengetahui harganya. Seratus lima puluh ribu untuk mengesol sepasang sepatu? Tapi ya, namanya juga jual-beli di pusat perbelanjaan modern. Tak kenal istilah tawar menawar. Lagipula, saya masih perlu sepatu keds itu walau harga servisnya melebihi harga barangnya. Akhirnya, saya pun mengeluarkan kartu debit dari dompet untuk digesekkan pada gawai elektronik toko.

Hal serupa jadi pengalaman yang hampir sebagian besar dari kita pernah alami saat berbelanja di mal atau plaza. Biarpun mahal, kita tau kalau harga yang tertera bukan untuk ditawar - tapi dibayar. Beda ceritanya saat sekali-dua kali kita mencoba berbelanja di pasar tradisional atau pada pedagang kecil. Rasanya kalau enggak nawar tuh enggak afdol. Rasanya kalau berhasil nawar, seolah lebih cerdas sebagai pembeli.

Padahal jelas kalau mereka yang menjajakan barang dagangannya sendiri di pasar tradisional ataupun pedagang kecil yang berkeliling mengetuk pagar demi pagar rumah bukan pebisnis padat modal selayaknya mereka yang membuka gerai terang benderang di mal ataupun plaza. Ada hal yang terasa ironis di sana: kita rela membayar lebih puluhan hingga ratusan ribu Rupiah tanpa negosiasi kepada mereka yang lebih mampu ketimbang kepada mereka yang uang makannya bersumber dari keuntungan dagang di hari yang sama.

Hal ironis tersebut, membuktikan kebiasaan bermurah hati yang mungkin terlihat enggak menarik lagi buat sebagian besar dari kita. Pernah muncul meme yang populer di linimasa dua taun lalu. Bunyi kutipan di gambarnya,  “Saat kamu membeli sesuatu dari bisnis kecil, kamu tidak membantu seorang direktur membeli rumah liburannya yang ketiga. Tetapi kamu membantu seorang gadis kecil agar bisa belajar menari, seorang anak laki-laki mendapatkan kaos timnya, seorang ibu menghidangkan makanan di atas meja, sebuah keluarga membayar utang atau seorang siswa membayar iuran sekolahnya”

Saat kita bertransaksi dengan para pedagang kecil di lingkungan sekitar, maka kita tengah berurusan langsung dengan kakek, nenek, ayah atau ibu dari sebuah keluarga yang betul-betul menumpukan hidupnya dari keuntungan berjualan. Dengan merelakan seratus lima puluh ribu keluar malam itu, saya merasa bersalah karena dulu pernah menawar harga jasa perbaikan sepatu dari seorang tukang sol keliling yang cuma seperlimanya.

Ternyata, keseringan nawar bisa bikin kepekaan hati menghambar.

Kalaupun ada jumlah yang harus dibayarkan untuk memperbaiki sepasang sepatu, maka seratus lima puluh ribu Rupiah akan melahirkan dampak yang lebih nyata bagi anak-istri tukang sol keliling di rumahnya. Jangankan seratus lima puluh ribu, selisih uang kurang dari Rp10.000 yang diikhlaskan sewaktu kita membayar ongkos ojek atau becak, kadang membuahkan doa baik buat kita. “Terima kasih banyak ya, dek. Semoga mudah rejekinya dan lancar urusannya”. Artinya, memang senyata dan sebesar itu dampaknya bagi mereka.

Maka, menghidupkan kembali tradisi bermurah hati perlu diawali dari kebiasaan sederhana dalam bertransaksi yang bisa kita lakukan mulai hari ini dengan para pedagang kecil. Beri mereka lebih banyak uang dari yang harus kita bayar atau ambil lebih sedikit kembalian dari yang seharusnya kita terima. Kita berharap semoga keringanan dalam bermurah hati juga bisa mendatangkan kemudahan atas limpahan rahmat-Nya.

Generasi Muzzammil dan Sonia

Di timeline bersliweran foto-foto Muzzamil dan Sonia yang (katanya) bikin baper para gadis dan mamak-mamak. Bagian mana yang paling bikin baper mak?
Waktu Muzzammil megang kening Sonia seraya mendoakannya?
Waktu Muzzammil ngelap keringat Sonia saat di pelaminan?
Atau waktu Muzzammil (nyoba) nggendong Sonia?

Apa? Semuanya bikin baper? *Puk-puk*
Sebagai sesama wanita, saya pahamlah perasaan patah hati itu. Akhwat jomblo mana yang ga pengen dapet imam masjid bersuara merdu dan berprestasi pula. Jauh lebih berasa patah hatinya ketimbang ketika mas Siapa itu namanya dan mbak Endless love mengumumkan resepsi pernikahannya. Dan sebagai emak-emak, saya juga bisa ikut menjiwai patah hatinya para emak yang kehilangan calon mantu.

Baca undangan Muzzammil dan Sonia aja bikin merinding. Undangannya sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan akad nikah. Untuk bisa bikin kita baper sebaper-bapernya seperti ini, Muzzammil engga kaya tahu bulat yang digoreng dadakan, jadi imam masjid Salman ITB yang memikat hati semua orang. Ada proses panjang sebelum itu. Ayah Muzzammil adalah seorang kepala sekolah, ibunya seorang guru MAN. Dua-duanya pendidik, bahkan ibunya adalah seorang pendidik ilmu agama. Muzzammil belajar ngaji dari umur 4 tahun. TK udah tamat iqro’. Masuk SD (Muzzammil masuk MIN) udah bisa baca quran. SD, SMP, SMA selalu ranking satu bahkan juara umum. Jadi ga heran klo bisa masuk ITB (alumni ITB mana suaranya, kenalkan saya alumni UNS.xixixi). Jadi imam masjid Salman ITB dari semester satu. Masyaalloh….

Coba lihat anak kita mak. Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil. Atau kita pengen anak kita bisa mengikuti jejak Muzzammil. Lihat prosesnya mak. TK udah tamat iqro’. Anak saya mau masuk SD iqro’ aja belum tamat. Klo lagi ngajarin iqro’ emaknya ga sabaran. Pengennya diajarin sekali si anak langsung bisa baca quran lancar jaya.

Jadi imam masjid itu berarti hafalannya banyak mak. Ngga cukup juz 30 yang juga ngga lengkap-lengkap itu. Kita ngajarin anak buat hafalan sehari eh seminggu berapa kali? Atau biar belajar di sekolah aja lah. Emak udah capek dengan tugas domestik.

Jangankan ngajarin anak, tilawah sendiri aja belepotan. Niat tilawah, kepikiran piring kotor. Nyuci dulu. Anak numpahin susu. Ngepel dulu. Anak minta makan.nyuapin dulu. Udah sore, waktunya mandi. Mandiin anak. Nemenin belajar sambil kutak-katik hp, ngobrol seru di grup. Anak tidur, suami pulang. Nemenin suami. Tidur. Bangun udah pagi. Tilawah? Eh iya, belum jadi tilawah ya. Ibu Muzzammil udah pasti ngga kaya gitu mak.

Dan Sonia, siapa dia? Sonia adalah salah satu admin ODOLA (one day one line akhwat). Sehari ngapalin ayat quran satu baris mak. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Alloh milihin Sonia buat Muzzammil karena mereka sekufu. Satu level gitu.

Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil, maka anak kita juga harus kaya Sonia yang sekufu dengan Muzzammil. Untuk bisa punya anak seperti Muzzammil dan Sonia, kita harus kerja keras mak, ga cukup dengan mimpi dan harapan.

Lawan kantuk demi nyimak bacaan quran anak-anak. Lawan capek demi nyimak murojaah anak-anak. Klo kita juz 30 aja ilang-ilangan, maka anak kita harus bisa hafal 30 juz. Aamiin.
Berat mak. Siapa bilang enteng? Kalo enteng, akan banyak bertebaran Muzzammil-muzzammil di dunia ini dan kita ga bakalan baper hanya karena Muzzammil menemukan tulang rusuknya. Memang berat mencetak generasi Muzzammil dan Sonia. Tapi Alloh udah naruh surga di telapak kaki kita mak. Ga mungkin kan Alloh naruh surga yang diimpikan semua orang begitu aja di kaki kita. Ada harga yang harus dibayar.

Minta mak, minta sama Alloh agar kita dimampukan mencetak generasi Muzzammil dan Sonia.

Jangan lelah mak, jangan lelah mengenalkan quran ke anak-anak kita. Meskipun jalannya tak mulus, meskipun di bangku SD anak kita masih berkutat di iqro’ jilid 2, jangan lelah, Alloh melihat semua usaha kita. Jangan lelah…

*Menasihati diri sendiri di akhir liburan

anonymous asked:

Assalamualaykum kang, insha Allah baru-baru ini saya sdg proses 'hijrah' dalam memperbaiki diri. Kemudian saya memiliki kecenderungan hati kpd teman dekat saya dulu, dan sebetulnya sampai sekarang kami masih dekat krn dipertemukan di beberapa event. Setelah istikharah saya berniat ingin maju, jadi mohon saran kang choqi bagaimana sebaiknya cara mengutarakan propose ke teman saya yg sudah terlanjur 'brozone' atau 'siszone'?

Waalaykumsalam. Alhamdulillah atuh yah.

STEP BY STEP TO MENIKAHI SANG CALON

ini teori step by stepnya dari berbagai kisah serta yang sempat saya jalani yah. Jadi kalau nyari di buku buku, mungkin gak nemu. Tapi insyaallah bermanfaat

1. PASTIKAN NIAT SERTA RESTU ORTU
Pastikan dulu niat anon, sudah untuk ibadah? sudah untuk Allah? sudah mantap? sudah mempersiapkan segalanya? Sudah minta izin orangtua? Sudah didiskusikan? Jangan lupa, minta doa sama orang tua, biar dilancarkan.

2. HILANGKAN KERAGUAN
Hilangkan segala keraguan. Kalau masih ada keraguan, tanya lagi rekan-rekan dekatnya. Tapi tetep inget, yang paling tau aslinya calon tersebut, adalah si calon sendiri. Maka, jika masih ada yang mau ditanyakan, dipersiapkan dalam proses taaruf.

3. MENANYAKAN AVALAIBILITAS
Okeh, kalau sudah mantap dengan pilihan, maka langsung kepada pertanyaan paling mendasar sebelum menikahi sang calon. Tanyakan terlebih dahulu “Apakah beliau mau menikah?”

Kalau beliau belum mau menikah, ada 2 pilihan. Yang pertama, jika kamu memang sudah menginginkan ibadah untuk menikah, maka bisa mundur dari doi dan kamu bisa mencari orang lain. Yang kedua, jika kamu memang pingin sama beliau, tanyakan alasannya. Jika bisa dikondisikan dan lanjut ke proses berikutnya, monggo lanjut. Tapi kalau ternyata alasannya membuat kamu harus menunggu, maka menunggu saja selama kamu bisa “puasa”. Kalau enggak bisa puasa, maka kembali ke pilihan pertama.

Tapi kalau ternyata calon mau menikah dan sudah ada pasangan, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana” 

Tapi kalau calon mau menikah dan belum ada yang mengajak menikah, maka bisa langsung ke proses berikutnya. Bismillah.

4. MENANYAKAN KESEDIAAN UNTUK BERTAARUF.
Sebelum lanjut, sedikit mengingatkan kembali, terkait taaruf (untuk mengingatkan pembaca lainnya juga)

Taaruf artinya adalah mengenal, maka tujuannya memang mengenali si calon, mengetahui segala hal detail terkait sang calon, mulai dari visi besar hidup, sampai ke pertanyaan kalau hiburan senang ke tempat seperti apa. Ya, karena kita sedang mengenali calon pasangan yang akan menemani kita hingga maut memisahkan. Taaruf, better than pacaran.

Ada 2 hal yang bisa dilakukan. Pertanyaannya, apakah anon kenal dekat dengan calon? Mengetahui visi hidup? Kebiasaan hidup? Rencana setelah menikah calon? Dan siap menanggung apapun konsekuensinya bersama calon? Kalau siap, maka bisa langsung mendatangi saja orangtuanya. Minta izin untuk meminang sang calon. Tapi kalau belum, maka bisa lanjut ke cara berikutnya, Taaruf.

Jika mau taaruf, maka anon bisa mengutarakan niat anon untuk bertaaruf dengan beliau, melalui perantara (murabbi) anon kepada perantara calon, dan perantaranya ini harus yang sudah menikah yah. Atau bisa juga, kalau anon sama calon punya teman yang sudah sama-sama menikah dan paham konsep taaruf, maka bisa minta tolong melalui beliau.

Setelah calon tahu niat anon, kalau calon tidak berkenan dengan anon, maka ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana” . Tapi kalau calon mau lanjut dengan anon, lanjut ke tahap berikutnya. Yeah!

5. BERTUKAR CV
Anon silahkan bikin CV yang memperkenalkan biodata anon sebaik-baiknya. (Saya ada kalau mau, minta emailnya saja). Setelah itu, nanti silahkan bertukar CV.

Setelah mendapat CV calon, silahkan baca segala detailnya. Bicarakan juga dengan orangtua. Tentunya, banyak hal baru yang akan anon ketahui yang tidak nampak dari luar. Seperti misalnya golongan darah (karena golongan darah kan gak keliatan dari cara dia jalan, harus ditanya. hehehe)

Setelah itu, kalau setuju, dan tidak ada yang perlu ditanyakan tentang CV nya. Maka bisa langsung ke orangtuanya.

Tapi kalau masih ada yang harus ditanyakan terkait CV nya, dan masih perlu ada yang dikenali lebih dalam, maka lanjut ke proses taaruf. Ingat, taaruf itu mengenal, jadi kita menggali pasangan.

Untuk lanjut taaruf, perlu persetujuan dari dua pihak. Kalau calon tidak mau lanjut setelah melihat CV anon, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”. Tapi kalau bersedia, maka langsung saja lanjut ke tahap berikutnya. Well, semakin dekat.

6. TAARUF
Anon nanti ketemuan sama calon, juga sama perantara. Kalau berduaan doang, nanti dianggap pacaran. Ketika pertemuan, anon dan calon saling bertukar pertanyaan yang saling mengenali lebih dalam, terutama jika ada hal-hal yang kurang jelas atau belum tercantum di CV.

Ingat, ini bukan ujian hapalan, jadi sehari sebelumnya tidak usah menghapal apapun, cukup jadi diri sendiri saja.

7. MENANTI HASIL
Setelah taaruf, maka tinggal anon dan calon tinggal menentukan pilihan. Apakah mau lanjut atau tidak. Jika salah satu pihak ternyata tidak setuju setelah mengetahui lebih dalam, ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”

Tapi, jika kedua pihak setuju, maka, congratulation, barakallah, Anon bisa langsung lanjut untuk Khitbah dan juga akad. Semoga ini yang terjadi, aamiin.


THERE IS NO SUCH THING AS BRO/SISZONE

Jangan pernah takut sama istilah Bro/siszone. Sebetulnya itu hanya sebutan bagi orang yang enggan kehilangan kalau maju, dan akhirnya memilih nyaman walau berjarak. Ini adalah saatnya penentuan, maju atau tidak sama sekali. Maju atau orang lain yang akan maju. Lanjut atau orang lain yang akan melanjutkan. Coba dan beruntung, atau orang lain yang akan mencoba dan orang lain yang akan beruntung.


BUT REMEMBER

Apapun keputusan di akhirnya, apapun yang terjadi, entah itu lanjut atau tidak, tentu itu adalah yang terbaik dari Allah. Anon sudah menentukan maju ini dengan Istikharah, dengan melibatkan Allah, maka jelas, segala keputusan yang ada nanti, Allah pun terlibah di dalamnya.

Jangan sedih jika tak berlanjut, jangan terlalu bahagia jika pun jadi. Syukuri seperlunya, sabarlah sekuatnya, karena segala segala hal yang terjadi ini adalah skenario terbaik dari Allah.

Tentunya saya doakan agar lancar jaya, baik bagi anon, maupun semua masyarakat jagat tumblr yang sedang atau berniat untuk maju melamar calon. Bismillah. Allah itu Maha baik bagi hambanya.

Kalau kelak ditinggalkan gebetan,  ingatlah “La Tahzan, innallaha ma’ana”

Bahagia itu; ketika bertemu pak sopir bis, beliau cerita dengan bangga anaknya akan sekolah di SD Islam Terpadu. Kita doakan moga lancar pendidikannya.

Bahagia itu; bersua dengan bapak pencukur rambut, yang baru saja memulai karirnya “Pangkas Rambut Barokah” setelah dulunya rumahtangganya hancur karena gaya hidupnya yang suka mabuk. Kita doakan moga lancar rezekinya.

Bahagia itu; ketika bertemu teman lama, dan dia memutuskan memanjangkan jenggot, mempelajari ilmu agama, dan tidak putus shalat berjamaah di masjid. Kita doakan moga istiqomah kebaikannya.

Melihat orang-orang di sekeliling kita makin baik pemahamannya tentang Islam, itu rasanya, ada yang menumpahkan salju di hati setelah panas dengar berita kasus-kasus mengernyitkan dahi.

“Apa yang zionis yahudi takutkan? Rudal Turki? Pesawat-pesawat Saudi? Tidak! Yang mereka takutkan adalah; seorang pemuda di ujung jawa yang memutuskan belajar agama Islam setelah lama tak punya tujuan hidup.”

—  @edgarhamas
Curhat : Koran

Waktu itu aku sedih, sedihhhh aja. Karena sesuatu hal. Kaya hari itu berat gitu.

Terus aku berhenti di lampu merah. Ada bapak-bapak penjual koran, ceriaaa banget. Sumringah mukanya. Padahal gerimis, tapi beliau tetap jalan di antara kendaraan. Nggak cuma menawarkan koran, tapi juga menawarkan keramahan. Keikhlasan terpancar disitu.

Kayanya, hari beratku nggak ada apa-apanya dibanding bapak-bapak itu. Udah paruh baya. Bapak itu pasti punya keluarga yang dinafkahi di rumah. Bapak itu pasti kerja keras seharian dan belum tentu cukup. Bapak itu, bisa jadi setelah berjualan koran masih harus bekerja entah ngojek, jadi satpam, bantu istri jualan, ah pasti bapak tadi banting tulang dan energi yang beliau keluarkan masih nggak habis-habis padahal beliau senyum nggak berhenti.

aku, senyum aja males hari ini. Padahal aku nggak harus banting tulang sebegitunya buat makan. Padahal aku nggak harus kepanasan kalau matahari pas sengit, aku nggak harus lari ngelidungin koran-koran jualan itu kalau hujan. Padahal aku punya banyak sumber kebahagiaan yang bisa aku syukuri.

Nggak malu sedih gini?

Lihat bapak itu…

Meski sepanjang dari lampu merah depan belum ada yang beli korannya, air mukanya tetap bahagia. Syukurnya tampak lebih besar daripada keluhnya.

Nggak malu ?

Pak. Semoga rezeki bapak lancar hari ini. Terimakasih, saya belajar banyak dari senyum bapak.

MENUJU KESEJIWAAN

Menikah adalah peristiwa bersatunya dua jiwa, dua hati, dua pikiran, dua fisik dalam satu ikatan.

Kendatipun ada banyak perbedaan karakter, sifat dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan, namun mereka harus berusaha untuk menemukan rumus kimia (chemistry) penyatuan jiwa yang membuat suami dan istri berada dalam suasana sejiwa.

Suasana kesejiwaan inilah yang membuat kehidupan berumah tangga menjadi nyaman, tenang, tenteram, damai, dan bahagia.

Suasana kesejiwaan ini yang membuat berbagai persoalan hidup mudah diselesaikan dan dicarikan jalan keluar.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri mudah berkomunikasi dan tidak kesulitan untuk mengekspresikan harapan serta keinginan.

Mereka berinteraksi dengan nyaman, tanpa ada sekat psikologis. Merasa demikian dekat satu dengan yang lain, tanpa ada jarak yang memisahkan mereka berdua.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri saling bisa berbagi kebahagiaan tanpa ada keinginan untuk mengalahkan dan menjatuhkan pasangan.

Yang mereka lakukan adalah usaha untuk memenangkan kebersamaan, sehingga masing-masing telah rela untuk menundukkan ego demi kebahagiaan bersama.

Bukan hanya berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri dengan melukai pasangan, bukan pula hanya membahagiakan pasangan dengan melukai diri sendiri.

Pada dasarnya suasana kesejiwaan itu didapatkan dengan proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Bukan tiba-tiba apalagi bim salabim. Tidak pernah berhenti untuk saling mengenali dan memahami diri sendiri serta pasangan.

Kadang dijumpai seseorang yang bingung dengan dirinya sendiri. Tidak mengerti kemauannya sendiri. Tidak bisa mendefinisikan keinginan diri.

Jangankan mengerti pasangan, bahkan diri sendiri pun tidak dikenali. Kondisi ini membuat semakin lama untuk mencapai kesejiwaan bersama pasangan.

Yang diperlukan adalah usaha tanpa henti untuk belajar mengerti, memahami, mencintai, menerima apa adanya, serta memberikan yang terbaik bagi pasangan tercinta.

Yang diperlukan adalah upaya terus menerus untuk menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, sepanjang harapan itu tidak bertentangan dengan aturan agama dan kepatutan sosial.

Yang diperlukan adalah usaha untuk bisa menerima pengaruh dari pasangan, sepanjang pengaruh itu positif atau tidak membahayakan diri sendiri maupun keluarga. Ketika suami dan istri belum menemukan kesejiwaan, sebenarnya sangat mudah mereka kenali gejalanya.

Mereka akan menemukan suasana saling asing, suasana berjarak, suasana bersekat, yang membuat tidak nyaman dalam interaksi sehari-hari. Walau sudah lima tahun atau sepuluh tahun menikah, jika titik kesejiwaan belum ditemukan, maka bukan kebahagiaan yang didapatkan dalam pernikahan. Yang ditemukan justru suasana saling asing dan dalam kasus tertentu sampai muncul perasaan ketersiksaan dan penderitaan.


LIMA ELEMEN KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

Agar komunikasi suami istri bisa lancar dan menyenangkan, perlu memperhatikan elemen-elemen pentingnya.

Komunikasi suami istri memerlukan lima elemen dasar (Laswell, 1991), sebagai berikut:

1. Keterbukaan diantara suami dan istri / openness

2. Kejujuran terhadap pasangan / honesty

3. Kemampuan untuk saling mempercayai / ability to trust

4. Sikap empati terhadap pasangan / empathy

5. Kemampuan menjadi pendengar yang baik / listening skill.


ANDA INGIN MENANG ATAU INGIN MEMPERBAIKI KEADAAN?

Marc Feitelberg, seorang psikolog menyatakan, dalam sebuah hubungan antarmanusia, semakin erat hubungan satu orang dengan orang lainnya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik di antara mereka.

Marc menjelaskan, konflik atau pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah suatu hal yang natural, wajar, dan bahkan menyehatkan.

Sayangnya kita tidak diajari bagaimana mengatasi beda pendapat itu, “Maka kita harus mempelajarinya,“ ungkap Marc.

Marc memberikan cara bertengkar yang sehat, yakni pertengkaran yang bisa menghasilkan solusi akhir paling melegakan kedua belah pihak atau biasa dikenal sebagai win-win solution.

Hendaknya kedua belah pihak memaparkan semua masalah, kemudian berusaha menegosiasikan keinginan masing-masing. Dengan cara ini mereka telah bertengkar lebih baik.

Semestinya suami dan istri bisa lebih menempatkan diri secara tepat dan tenang. Bukankah mereka ingin mendapatkan solusi terbaik? Mereka ingin mendapatkan penyelesaian yang melegakan bagi kedua belah pihak?

Masing-masing pihak bisa bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ingin menjadi benar, atau ingin menang?” ungkap Marc.

Jika kedua belah pihak bersepakat untuk mencari solusi terbaik, agar semua menjadi terselesaikan, maka pertengkaran bisa lebih konstruktif dan mudah terselesaikan.

Namun jika kedua belah pihak ingin menang dan mengalahkan pasangan, maka suasana pertengkaran semakin rumit.

Saat bertengkar, jangan berbicara bersamaan apalagi saling tidak mendengarkan. Tapi lakukan pembicaraan dengan bergantian dan saling mendengarkan pendapat pasangan.

Saat pasangan berbicara, jangan memotong pembicaraannya, menginterupsi dan jangan langsung memutuskan jalan keluar secara sepihak.

Berikan kesempatan yang sama kepada pasangan untuk berbicara, sebagaimana Anda juga ingin berbicara dan ingin didengarkan.

Setelah mendengar argumen pasangan, perjelas maksud pernyataannya dan ulangi lagi keinginan Anda agar tidak ada kesalahpahaman, sebelum mengambil keputusan.


Cahyadi Takariawan
Sumber : grup wa parenting islami

Begini lho. Menghafal cepat itu bukan prestasi. Menghafal lambat juga bukan kelemahan. Tapi yang terpenting ada pada keistiqomahan dalam menghafal.
— 

Misalnya:

Kalau sehari setor hafalan satu kaca, yaudah seterusnya satu kaca. Jangan sampai ada yang bolong. Kalau dilebihkan misal 2 kaca ya gapapa. Cuma pokoknya yang satu kaca itu diistiqomahin aja terus tiap hari. Disuruh ngulang gegara ga lancar? Yasudah ngulang aja. Namanya juga lagi mendawamkan istiqomah yakan?

Terus kalau misal kita sudah hafal 5 juz keatas nih. Sehari misal komitmen dideres 1 juz, yasudah 1 juz terus tiap hari. Jangan sampai seharipun kelewat ga deres minimal 1 juz itu. Lebih lebih kalau sehari 2,3 atau 4 juz. Nanti abis subuh 2 juz, abis dhuhur 1 juz, malemnya mau tidur 1 juz, misalnya. Misal hafal sejuz, berarti komitmen sehari harus nderes 3 lembar. Ya pokoknya seharipun jangan lewatin 3 lembar itu.

Ini bukan soal keren enggaknya. Juga bukan soal berat mudahnya. Ini cuman soal kebiasaan. Kalo kerasa berat itu cuma masalah belum biasa doang kayaknya. Asli. Nanti juga kebiasa sendiri kok. Allah selalu nolong insyaAllah.

Yang terpenting, selalu bumikan hati. Seterbang apapun pujian. Sedalam apapun jatuh bangun didalam tanah. Kalau lancar jangan banggain diri berlebih lebih. Kalau ga lancar juga jangan berkecil hati. Menghafal Qur'an bukan soal sebanyak apa hafalan kita. Serius deh.

Jadi kalau mau ngafalin, yaudah ngafalin aja. Ngaji aja tiap hari. Gausah mikir lancar enggaknya. Mikir istiqomahnya aja. Yang penting tuh tiap hari ngaji aja gitu. Nanti tau tau udah 30 juz sendiri deh.

Target sih sangat perlu banget. Cuman jangan dipikir targetnya. Think about target less, do more and keep istiqomah yakan?

Kadang nih, kadang berkahnya kita bukan terletak pada banyaknya hafalan atau banyaknya deresan lho. Tapi dari keistiqomahan. Sama aja kan tiap seminggu nderes 5 juz tapi ada hari bolong yang nggak dibuat nderes?

Dan yang paling utama adalah, ikhlas. Kalau menghafal itu ikhlas buat Allah doang, pasti, dijamin seratus persen utuh, akan baik, berkah dan hasilnya keren. Dunyo akhirot insyaAllah. Begitulah.

Aku dan Masamu yang Lalu

Aku tidak tahu, apa yang terjadi denganmu di masa lalu. Aku tidak tahu, berapa berat perjuanganmu pada masa itu untuk bisa bertahan menghidupkan hatimu yang sekarang. 

Aku tidak bisa membaca, aku tidak pandai menerka. Apa yang mereka lakukan padamu saat itu, hingga kini; dirimu, pola berpikirmu, bahkan hatimu tidak lagi kamu rasakan utuh.

“Aku mencintaimu, tapi aku tidak mau lagi merasakan sakit lagi di masa nanti.” kalimat itu jelas meluncur keluar dengan lancar dari bibir tipismu. “Aku tidak mau menangis lagi, jika suatu saat ternyata kamu akan pergi lagi. sama seperti mereka-mereka sebelum kamu.”

Mendengar kalimatmu, telingaku mendadak tuli. otakku kosong. atau justru terlalu penuh hingga aku sendiri tidak yakin hal mana yang aku pikirkan? Yang jelas, hatiku merasakan ada sedikit hentakkan.

Begitu kah kamu mempersiapkan sakit hatimu yang bahkan hatimu aku jaga dengan sangat hati-hati? Seperti itu kah caramu mempersiapkan kepergianku, yang bahkan justru kamu yang menjaga jarakmu, agar tidak terlalu terpaut padaku?

“Tetaplah di sini, seberat apapun jalannya nanti.” begitu pintamu, benar begitu yang kamu mau? akankah kamu berlaku sama? akan tetap ada untukku, walau jalan yang akan kamu tempuh akan sangat menguras tenagamu? menguras hati, pikiran, dan waktumu? 

Masih kah bayang-bayang kekecewaanmu dimasa lalu menghantuimu? Hingga bersamaku, kamu pukul rata. Aku kelak juga akan pergi, aku juga kelak akan mengecewakanmu. Sekotor itu aku di masa depanmu?

Tidak, sayang. aku tahu. Aku sangat hapal rasanya ditinggal begitu saja, rasanya dikecewakan berkali-kali. Dan untuk memperlakukanmu seperti itu, aku tidak sampai hati.

Kuharap, tidak aku yang akan pergi. Juga bukan kamu yang meninggalkanku. Tidak bisa kah kita tetap seperti ini saja? tanpa memikirkan sesuatu yang nanti-nanti. Sesuatu yang menakutkan, yang menyakiti bahkan sebelum hal itu terjadi.

Percayalah, bila dengamu aku sudah mampu menemukan bahagia, lantas mengapa aku harus pergi?

NICE HOMEWORK #8 : MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bismillah…Ini nulisnya sambil merasakan detak jantung  yang bergerak lebih cepat. Karena memikirkan judul dari NHW ini, Misi spesifik hidup dan produktvitas.Fine, selamat berjuang! Semoga setelahnya enggak bakal bingung lagi tentang bagaimana caranya menjadi hamba yang bermanfaat, yang manfaatnya luas untuk banyak orang. Aamiin.

Alhamdulillah, sudah sampai NHW 8, insyaAllah minggu depan akan sampai pada materi kelas terakhir. Masih berkaitan dengan NHW 7, harus diingat dengan baik bahwa “Rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita tidak selalu diukur dengan besarnya rupiah yang kita dapatkan, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Be Professional, bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Rejeki will Follow, rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kebermanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguhtidaknya seseorang menjalan apa yang dia BISA dan SUKA. Uang akan mengikuti kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

maka sekarang, kuatkan niat dihati untuk terus menjalankan aktivitas-aktivitas yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang. Karena kalau terlamu lama berfikir, kemungkinan waktu kita akan habis tanpa karya. Allah sudah punya maksud tertentu ketika memberikan kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus-menerus kemungkinan itu adalah misi hidup kita.

Bahagia seseorang yang telah menemukan misi hidupnya. Jika ia menjalankan aktivitas produktifnya maka akan terasa begitu bermakna. Bagaimana ciri seseorang yang telah menemukan misi hidupnya?

Selalu bersemangat dengan mata yang berbinar-binar

Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.

Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajarnya tinggi.

Imunitas tubuhnya naik, sehingga jarang sakit, karena kebahagian itu imunitas yang paling tinggi.

Ada tiga elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

Kita ingin menjadi apa (Be)

Kita ingin melakukan apa (Do)

Kita ingin memiliki apa (Have)

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebenarnya saya sudah lebih banyak merenung sejak sebulan yang lalu. Dan Alhamdulillah, ternyata NHW kali ini sejalan dengan perenungan tersebut. Saya ingin menjadi muslimah cendikia yang penuh dengan karya-karya untuk agama, bangsa dan negara. Jadi yang ingin saya lakukan adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya, seluas-luasnya, dimanapun, kapanpun dan dari siapapun hingga dengan ilmu-ilmu tersebut saya bisa menjadi muslimah yang bermanfaat. Hingga akhirnya dimanapun Allah menempatkan saya, saya mampu beradaptasi dengan cepat dan terus istiqomah menjaga semangat berkarya. Yang ingin saya miliki dalam hidup ini mungkin sesuatu yang abstrak, yaitu keberkahan dari Allah atas segala aktivitas yang saya lakukan. Bagaimana agar Allah ridha? Hal sederhananya adalah dengan tidak menyia-nyiakan waktu dan tidak banyak berkeluh kesah.

Dari 3 aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (Lifetime purpose)

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan (Strategic plan)

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (New year resolution)

Lifetime purpose saya adalah berbagi lewat tulisan. Melalui proses membuat tulisan adalah salah satu cara saya untuk memparipurnakan apa-apa yang saya pelajari dalam kehidupan ini. Sehingga nantinya, saya ingin terus berkarya lewat tulisan seiring dengan fase-fase kehidupan yang akan saya jalani. Untuk membuahkan tulisan yang baik maka saya harus bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap fase kehidupan tersebut. Dan semoga karya tersebut bisa diwariskan kepada anak cucu saya dan bisa menjadi jalan untuk menambah amal jariyah hingga hari akhir kelak. Semoga Allah mampukan.

Untuk itu, strategi plan yang ingin saya bangun selama 5 tahun kedepan adalah :

Lulus S2 (2020) dengan beasiswa

Menulis buku-buku (Pranikah, Parenting, Catatan Perjalanan, scholarship hunter,tentang kuliah, bisnis, projek-projek dakwah, membangun masyarakat madani)

Umrah

Menjadi istri dan ibu yang Handal (Sholihah, Cerdas, mampu mengelola finansial keluarga, Jago Masak, Stay beautiful, Stay Awesome, penuh kasih sayang)

Menjadi Ibu rumah tangga yang profesional, fokus mendidik anak sesuai fitrahnya

Memiliki bisnis yang menghasilkan dan bisa dikontrol dari rumah dan dari mana saja

Memastikan Pendidikan adik-adik lancar dan dapat menjalani harinya dengan baik. Menemani proses ke-5 adik saya menjadi sarjana

Membantu orang  membuat peternakan, dan memastikan semuanya berjalan lancar

Start short course dalam bidang menulis dan bisnis

Dan terakhir, berikut ini adalah hal-hal yang akan saya perjuangkan untuk menjalani hari selama setahun kedepan.

Menikah

Jadi Asisten Pribadi suami

Daftar Kelas Matrikulasi Bunda Sayang dan aktif di komunitas IIP

Mendapatkan beasiswa dan bisa kuliah ke LN

Bisa Masak

Menambah hafalan minimal 1 juz

Fokus Belajar dan diskusi untuk membangun pondok penghafal Al-qur’an

a.       Cari referensi

b.      Cari role model

c.       Menambah Jaringan

d.      Menambah Ilmu

e.      Belajar jadi Ibu Asuh

Nulis Tumblr pakai bahasa Inggris yang baik

Jadi relawan minimal 2 kali, daftar di indorelawan.com

Buat projek kebaikan- Dakwah kreatif

Merintis bisnis, membangun jejaring, mencari role model dan mentor bisnis

Menemukan misi spesifik hidup dan produktivitas adalah jalan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan menuju jannah. Dengan siapa kita berlomba? Dengan diri sendiri, mengalahkan ia yang malas dimasa lalu. Dan juga cara berlomba untuk mendapat perhatian Allah dengan orang-orang setujuan. Berlomba bukan untuk saling mengalahkan, tapi berlomba untuk bersama-sama membangun diri dan saling menginspirasi.

Mungkin ada perasaan dihati kecil kita (atau mungkin hanya saya), apakah kita mampu dan layak mewujudkan setiap mimpi-mimpi kita? Jawabannya, mulailah dengan perubahan. Karena pilihannya hanya satu, BERUBAH atau KALAH.  Semoga Allah memampukan dengan karunia-Nya yang begitu luas. Ar-rahmaan, Ar-rahiim semoga engkau mengenggam mimpi itu dengan erat.

Salam sepenuh cinta,

Bandung, 24 Juli 2017

Mari Belajar

Kepada : Penduduk Dashboard Biru Tua

Subjek : Pesan Dari Salman Al-Farisi Radiallahu’anhu

Selama ini kita mungkin hanya selalu mendengar tentang kemuliaan cinta Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra. Cinta dalam diam yang dilakukan Ali membuahkan hasil. Ali berhasil mengajarkan kepada para lelaki tentang bagaimana membuktikan cinta, ialah mengambil kesempatan atau hanya terus diam saja.

Kita juga mungkin tahu bagaimana kisah cinta Zulaikha yang begitu sabar dan akhirnya memilih mencintai Allah, sehingga membuat Allah tersentuh dan membawa Nabi Yusuf ke sisinya. Atau kisah dipertemukannya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah berpisah sekian lama.

Kita tahu beragam kisah cinta itu, belajar dari kisah cinta itu, namun sebenarnya kita tidak benar-benar belajar. Kita justru salah mengartikan semua yang orang-orang mulia zaman dulu ajarkan kepada kita.

Hari ini sengaja ku tuliskan surat ini kepada kalian untuk belajar, belajar tentang ikhlas yang sesungguhnya, belajar tentang berbesar hati. Karena hari ini entah kenapa saya merasa lelah membaca semua tulisan tentang sakit hati.

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Dia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekkah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu Rasulullah Shallahu‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin dalam perang Khandaq.

Kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu terjadi ketika hijrah ke kota Madinah bersama Rasulullah. Diam – diam Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu menaruh perasaan cinta kepada seorang wanita muslimah Madinah nan sholihah (dari kalangan Anshar). Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita tersebut. Sayangnya, dia bingung tentang tradisi melamar wanita di Madinah seperti apa. Maka di ajaklah sahabatnya Abu Darda untuk pergi melamar wanita tersebut.

Singkat cerita, Salman Al Farisi dan Abu Darda mengunjungi rumah wanita tersebut. Mereka di terima dengan sangat baik oleh ibu dan ayah wanita tersebut. Abu Darda mulai menjelaskan maksud kedatangannya.

“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman Al Farisi dari Persia yang telah berhijrah ke Madinah karena Allah dan Rasul-Nya. Allah telah memuliakan Salman Al Farisi dengan Islam. Salman Al Farisi juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai ahlul bait (keluarga) nya. Saya datang mewakili saudara saya, Salman Al Farisi, untuk melamar putri anda”, ujar Abu Darda’ Radhiallahu’anhu menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.

“Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat. Namun, jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” kata ayah si wanita.

Si Ayah lalu meminta istrinya untuk menemui putrinya dan menanyakan bagaimana jawaban putrinya. Tidak berapa lama ibu dari wanita itu datang dengan pesan dari putrinya.

“Mohon maaf kami perlu berterus terang”, Sahut ibu wanita tersebut yang membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda tegang.

“Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman”  ibu si wanita sholihah idaman Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu melanjutkan ucapannya.

(Andai di jaman sekarang ini, sudah pasti pemuda yang ditolak sedemikian rupa akan sangat patah hati. Ngurung diri, update status “kenapa kau tega berbuat demikian?” Muter lagu patah hati sampai hafal semua lirik lagunya, nulis kegalauan dan bla, bla, bla.)

Namun berbeda dengan Salman Al Farisi. Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru menjawab, “Allahu Akbar!”. Tak hanya itu, Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan akan aku berikan kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian”.

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sosok lelaki sholih, pejuang Islam, yang ketika masa kejayaan Islam, ketika banyak timbunan harta negara di baitul maal yang berlimpah ruah, ketika peluang jabatan – jabatan pemerintahan terbuka lebar, dia memilih menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang untuk dijualnya, padahal dia diberikan tunjangan oleh negara empat sampai enam ribu dirham setahun, tetapi semuanya disumbangkan habis, satu dirhampun tidak diambil untuk dirinya dan keluarganya.

Ia begitu faham bahwa cinta, betapa pun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan.

Mencintai itu bukan tentang membuat diri kita terjebak oleh perasaan sakit yang kita timbulkan sendiri. Mencintai lebih ke berbesar hati menerima semua ketetapan yang Tuhan tuliskan. Kita di pertemukan dengan orang yang salah untuk belajar, agar berikutnya tidak mengulang kesalahan. Sayangnya manusia, makhluk terlalu sok tahu. Sehingga kembali mengulang dan mengulang kesalahan dengan mengikutsertakan Tuhan pada perbuatan yang Tuhan sendiri pun melarangnya.

(Lebih sakit hati mana, kamu atau Salman Al Farisi yang jelas-jelas menanggung 2 rasa jika beliau hidup dijaman ini. Malu dan Sakit Hati. Jelas-jelas dia sudah datang melamar, yang dilamar wanita idaman pula dan lalu di tolak).

Belajarlah untuk berbesar hati dalam mencintai. Bukan karena ingin memiliki semata melainkan mencari ridha Allah. Semoga ada manfaat.

Best Regards,

Orang Aneh

Lucunya, ada yang lebih baik memilih menulis saja daripada mengucapkan langsung lewat mulutnya. 

Menulis, memiliki jeda. Pilihan kata yang baik bisa dipilih dan diramu hingga seindah-indahnya, pun bisa dicatat bila sempat lupa. 

Sedangkan berucap tentu tidak begitu. Bisa jadi apa yang ia katakan tak sebagus tulisannya. Bisa jadi ia yang lancar merangkai kata di jemarinya ternyata tergagap menyebutkan kata.

Terlebih, bila itu soal cinta. 

Ada Semuanya

Selamat datang di dunia paradoks yang superheterogen!

Di sini matamu akan lebih sering menjumpai warna abu-abu pada setiap sudut tempat kamu bepijak dan beranjak lalu berpijak lagi. Kamu akan jarang menemukan yang hitam saja, apalagi putih saja.

Ada yang mencacimu habis-habisan. Ada yang memujimu habi-habisan. Ada yang mencacimu habis-habisan, pada waktu yang sama ada yang memujimu habis-habisan. Ada yang memuji semanis itu, tapi beberapa waktu kemudian tiba-tiba mencacimu sekeji itu. Ada pula yang memujimu didepan, tapi mencacimu dibelakang.

Ada yang hanya ada ketika kamu sedih saja. Ada yang hanya ada ketika kamu bahagia saja. Ada pula yang selalu hadir tak peduli kamu sedang sedih ataupun bahagia. Yang lebih perih, ada yang tak pernah peduli kepadamu sekalipun kamu sudah tiada.

Ada yang berdalil untuk berdalil. Ada yang berdalih untuk berdalih. Ada pula yang berdalil untuk berdalih.

Ada yang membumikan hati sekaligus cakrawala. Ada yang melangitkan hati sekaligus cakrawala. Ada pula yang melangitkan cakrawala lalu memilih untuk membumikan hati. Lucunya, ada yang bercakrawala bumi tapi melangitkan hati. 

Ada yang kaku idealis dan berprinsip. Ada yang bak karet, begitu pandai menyesuaikan diri tapi terombang-ambing tak memiliki prinsip. Ada pula yang luwes tapi idealis sekaligus berprinsip kuat.

Ada yang begitu lihai memberimu nashihat tapi tak pandai memberimu teladan. Ada yang tak samasekali lihai memberi nashihat tapi ia selalu memberi teladan. Ada juga yang begitu lihai memberimu nashihat sekaligus pandai dalam memberi teladan. Bahkan ada yang samasekali tak memberi nashihat apalagi teladan.

Ada yang seutuhnya lembut. Ada yang seutuhnya kasar. Ada pula yang terlihat lembut tapi hatinya keras. Kejutannya, ia yang terlihat paling sarkas ternyata ia yang paling lembut hatinya.

Ada yang hanya mencintai. Ada yang hanya dicintai. Ada pula yang mencintai juga dicintai. Bahkan ada yang seolah mencintai tapi hanya berpura-pura. Kejutannya, ada yang terlihat tak mencintai samasekali tapi kenyataannya ia yang paling mencintai. Lebih kejutan lagi, yang paling mencintai dalam sunyi ternyata juga yang dincintai dalam sunyi.

Ada yang menjadikanmu satu-satunya. Ada yang menjadikanmu prioritas terakhirnya. Ada yang seolah-olah menjadikanmu satu-satunya, tapi pada kenyataannya kamu hanya pelarian saja. Ada pula yang awalnya dijadikan pelarian saja tetapi pada akhirnya malah dijadikan satu-satunya.

Ada yang hanya penasaran saja kepadamu. Ada yang benar-benar mempedulikanmu. Ada yang seolah tak mempedulikanmu tapi pada rapal do’anya namamu disebut di urutan pertama. Ada pula yang terlihat selalu peduli menghadirkan fisiknya, tapi tak pernah menghadirkan hatinya.

Ada yang menjanjikanmu masa depan tapi malah putus di tengah jalan. Ada yang tak samasekali berjanji apa-apa kepadamu tapi tiba-tiba datang memintamu kepada ayahmu. Adalah sebuah keberuntungan, yang menjanjikanmu masa depan dan yang datang memintamu kepada ayahmu berkumpul dalam satu badan.

Ada yang terlihat nyata tapi fatamorgana .Ada pula yang fatamorgana tapi ternyata  ialah senyata-nyatanya.

Ada semuanya.

Selamat kuliah di Universitas Kehidupan! Semoga seminar proposal sukses, seminar hasil lancar, kemudian lulus cumlaude dan akhirnya euforia wisuda dengan bahagia lalu masuk surga.

Bakar!